Anda di halaman 1dari 34

Amin Nur Rasyid

mencoba untuk selalu tersenyum..

Skip to content

Home

Aku

Di Buang Sayang

Gallery

Teori Perencanaan
TOPIK :
Penelitian Aspek Perparkiran dalam Rencana Sistem Transportasi di Kota Bandung
Sebagaimana yang diketahui, topik diatas merupakan salah satu aspek dari sekian banyak aspek
yang berkaitan langsung dengan sistem transportasi di Kota Bandung. Sebelum kita masuk
kedalam materi topik yang ingin dibahas, maka kita akan membahas sedikit mengenai rencana
sistem transportasi di Kota Bandung beserta hal-hal yang terkait.
Namun sebelumnya, dalam setiap perencanaan dibutuhkan suatu teori yang seharusnya diketahui
dalam setiap proses perencanaan agar produk rencana tersebut dapat sesuai dengan keinginan
seluruh masyarakat. Dalam teori perencanaan menyebutkan bahwa tujuan dari perencanaan salah
satunya adalah membuat keputusan yang mengarahkan kegiatan di masa depan agar menjadi
lebih sejahtera dan baik. Selain itu, perencanaan merupakan salah satu upaya yang dilakukan
oleh seluruh stakeholders untuk membuat rencana yang lebih baik secara berkesinambungan.

Perencanaan pun mengharuskan stakeholders yang terkait senantiasa melakukan monitoring dan
evaluasi terhadap keberjalanan rencana.
Konsep dalam perencanaan yang memntingkan masa depan, khususnya dalam suatu rencana
adalah :

Kesejahteraan (wellbeing)

Keadilan sosial (social justice)

Kesetaraan (equity)

Berdasarkan teorinya pun, diketahui bahwa peran kepentingan publik dalam perencanaan
(merupakan salah satu konsep perencanaan yang sangat melibatkan peran masyarakat) adalah:
1. Melegitimasi perencanaan sebagai kegiatan pemerintahan / negara
2. Suatu norma dalam praktek perencanaan persepsi praktisi
3. Kepentingan publik sebagai kriteria utk mengevaluasi perencanaan dan produknya
(kebijakan, proyek, dan rencana)
Setelah kita melihat beberapa teori mengenai konsep perencanaan yang telah dikemukakan oleh
beberapa ahli maka dapat kita kaitkan dengan aplikasi dalam perencanaan itu sendiri yaitu
berupa produk perencanaan (RTRW dll).
Apabila dilihat dari rencana tata ruang wilayah kota bandung, khususnya dari segi sistem
transportasinya dapat dilihat dibawah ini :
Pada intinya, rencana pengembangan struktur jaringan transportasi yang disusun dalam RTRW
adalah untuk :
1. mewujudkan pelayanan aksesibilitas yang merata di seluruh wilayah Kota Bandung,
2. dan mengarahkan pertumbuhan wilayah dengan mempertahankan keseimbangan
lingkungan dan ketersediaan sumberdaya daerah.
Dari rencana sistem transportasi itu pula telah dibahas mengenai Rencana sistem transportasi
Kota Bandung yang terdiri dari :

Rencana pengembangan transportasi jalan

Rencana pengembangan angkutan umum

Rencana pengembangan bandar udara

Rencana pengembangan kereta api

Berdasarkan penjelasan diatas mengenai teori perencanaan dan rencana sistem transportasi Kota
Bandung ternyata sistem transportasi merupakan sistem yang sangat kompleks dengan berbagai
macam rincian permasalahannya. Oleh karena itu, diambil satu aspek yang cukup signifikan
dalam mempengaruhi rencana sistem transportasi di Kota Bandung.
1. Tujuan
Tugas ini dimaksudkan agar peneliti dapat membangun keterkaitan antara material substantif
perkuliahan dengan konsep dan praktek perencanaan di Indonesia. Secara khusus, riset makalah
ini bertujuan untuk :
1. Membandingkan antara konsep perencanaan versi teori perencanaan dengan praktek
perencanaan via dokumen perencanaan atau melalui rencana aksi yang dilakukan oleh
perencana.
2. Melakukan riset/pandangan dari sudut yang lebih spesifik mengenai produk Rencana Tata
Ruang Wilayah Kota Bandung pada sistem transportasi yaitu aspek perparkiran dalam
sistem transportasi secara luas serta dikaitkan dengan kondisi sesungguhnya dalam hal
penerapan rencana.
2. Justifikasi Pemilihan Topik
Berdasarkan rencana sistem transportasi pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung,
terdapat rencana pengembangan transportasi jalan yaitu :
1. Penetapan disinsentif berupa biaya dampak pembangunan bagi kegiatan-kegiatan yang
menimbulkan gangguan bagi kepentingan umum, seperti kemacetan, kebisingan,
keselamatan, keindahan, bau, dan gangguan lainnya.
2. Penyediaan lahan dan atau gedung parkir di pusat-pusat kegiatan.
3. Menghilangkan secara bertahap kegiatan parkir di badan jalan khususnya pada kawasankawasan rawan macet.

Dari beberapa rencana pengambangan transportasi jalan diatas terdapat hal yang menyinggung
mengenai masalah perparkiran di Kota Bandung. Oleh karena itu, hal ini merupakan salah satu
justifikasi yang membuat peneliti mengambil topik mengenai perparkiran.
Selain itu, peneliti juga menemukan beberapa masalah mengenai aspek perparkiran dalam hal
penerapannya di lapangan. Banyak sekali surat kabar yang memberitakan masalah mengenai
perparkiran di Kota Bandung seperti berita pada Inilah Jabar.
Kemudian, dari kebijakan sistem transportasi menyebutkan bahwa fasilitas parkir harus
disediakan secara memadai dan terintegrasi dengan pusat-pusat kegiatan. Dengan begitu, telah
menandakan bahwa masalah parkir juga merupakan salah satu masalah utama dalam hal sistem
transportasi di Kota Bandung.
3. Metode/Pendekatan yang Digunakan
Dalam riset makalah ini, metode penelitian yang digunakan adalah melakukan pencarian data
sekunder dari berbagai macam sumber seperti RTRW Kota Bandung, Undang-Undang serta
Peraturan Daerah yang terkait. Setelah mendapatkan data-data tersebut maka hal yang dilakukan
adalah :

Membaca dan memahami mengenai sistem transportasi Kota Bandung

Melakukan analisis perbandingan antara rencana sistem transportasi Kota Bnadung,


khususnya permasalahan perparkiran dengan konsep teori perencanaan serta dengan
kondisi realita yang ada pada tahap implementasi.

4. Deskripsi Diskusi
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya, salah satu masalah dalam
sistem transportasi adalah masalah perparkiran. Berdasarkan berita yang ada, akibat sistem
transportasi yang buruk, Kota Bandung setiap tahun mengalami kerugian Rp 2,46 triliun. Selain
kerugian materi, tingkat emisi gas buang kendaraan juga sangat mengkhawatirkan, mencapai
66,34 persen. Untuk memperbaiki buruknya transportasi di Kota Bandung, Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bandung sedang menyusun masterplan transportasi.
Masterplan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi semua pihak untuk melaksanakan perannya
masing-masing. Kaitannya dalam proses reformasi, untuk menciptakan sistem transportasi Kota
Bandung yang nyaman, kata Kasubbid Infrastruktur dan Prasarana Kota Bappeda Kota
Bandung, Gingin Ginanjar kepada wartawan, Rabu (5/8).
Ia mengatakan, masterplan transportasi dibuat untuk mewujudkan visi Kota Bandung sebagai
kota jasa yang bermartabat. Dukungan sistem transportasi yang andal dan bermartabat akan

mendorong terciptanya visi tersebut. Nantinya, reformasi sistem transportasi Kota Bandung
tidak hanya pada aspek fisik saja, seperti struktur jaringan jalan, manajemen lalu lintas, dan
pelayanan angkutan umum. Tapi, aspek non fisik seperti pengaturan, kelembagaan, pendanaan,
dan juga perilaku pengguna jalan, paparnya.
Berdasarkan hal diatas, dapat diketahui bahwa pada nantinya akan dilakukan manajeman lalu
lintas serta aspek non fisik seperti perilaku pengguna jalan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan
masalah perparkiran yang sudah sangat pelik di Kota Bandung. Ditambah lagi dengan minimnya
fasilitas umum serta luas jalan yang dapat dipakai oleh para pengguna jalan. Masalah-masalah ini
juga dibahas pada rencana tata ruang wilayah kota Bandung. Oleh karena itu, hal ini dapat
dilakukan diskusi secara mendalam.
Bahkan ada berita terbaru yang menyebutkan bahwa Kepala Dinas Kota Bandung Prijo
Subandiono mengambil keputusan untuk membersihkan area depan Pasar Baru dari PKL, becak,
dan parkir kendaraan. Dan dia pun tak peduli jika Kota Bandung kehilangan pendapatan asli
daerah (PAD) dari parkir. Minggu (5/12, inilah jabar)
Hal ini menjadi tamparan yang cukup keras bagi Dinas Perhubungan Kota Bandung dalam
melayani masyarakat kota Bandung dalam sistem transportasi ini. Kemacetan yang ada di daerah
pasar baru tersebut telah menggugah hati kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung untuk
bertindak secara tegas.
Dengan adanya beberapa berita mengenai masalah ini maka sebenarnya masalah perparkiran
merupakan hal yang cukup urgent dan harus segera diselesaikan oleh pemerintah Kota Bandung.
Dengan begitu, sebuah rencana yang telah disusun pun harus ditinjau kembali serta dilakukan
tindakan yang responsif terhadap masalah yang ada didalam masyarakat kota Bandung.
Oleh karena itu, selanjutnya akan dibahas pada bagian analisis bagaimana masalah perparkiran
ini benar-benar sesuai dengan masalah dalam konsep teori perencanaan dan pada produk
perencanaan tersebut yaitu RTRW Kota Bandung dan peraturan-peraturan lainnya.
5. Analisis
Apabila dilihat perbandingan antara antara rencana sistem transportasi Kota Bnadung, khususnya
permasalahan perparkiran dengan konsep teori perencanaan serta dengan kondisi realita yang ada
pada tahap implementasi. Maka dapat dilakukan analisis pandangan secara komprehensif melalui
konsep teori perencanaan yang telah menjabarkan bahwa parencanaan merupakan salah satu
upaya untuk membangun suatu rencana atau menyelesaikan masalah yang berorientasi pada
masa mendatang. Selain itu, perencanaan juga sangat memperhatikan selruh stakeholders yang
terkait dengan suatu rencana yang dibuat.

Dengan begitu, pada hakikatnya seluruh rencana harus mengikuti teori perencanaan
sesungguhnya sehingga dapat menghasilkan produk perencanaan yang berguna bagi selruh
warga masyarakat. Kemudian apabila ditinjau dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung,
rencana mengenai sistem transportasi ini setidaknya sudah melihat dokumen-dokumen
sebelumnya untuk dijadikan sebagai acuan. Akan tetapi, dalam kenyataannya masih ada
kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan dalam hal penerapan rencana.
Dan jika dilihat kaitannya antara salah satu permasalahan sistem transportasi yaitu perparkiran
dengan sistem transportasi itu sendiri sudah cukup berkaitan antara dokumen dengan kondisi
dilapangan. Namun, masih juga adanya ketidakserasian atau ketidakcocokan seperti yang telah
dicontohkan dalam pembahasan deskripsi diskusi diatas. Akan tetapi, hal itu memang sudah
menjadi kejadian yang cukup lumrah terjadi pada pemerintah kota di setiap daerah. Hal itu
disebabkan kerena seiring berubahnya seluruh kegiatan/aktivitas manusia pada setiap harinya.
6. Kesimpulan
Pada pembahasan mengenai kesimpulan ini, hal-hal yang diungkapkan merupakan statement
yang menjawab dari tujuan awal. Kesimpulannya adalah sebagai berikut :
1. Konsep perencanaan menurut versi teori perencanaan merupakan salah satu kondisi yang
ideal dalam melakukan suatu perencanaan. Akan tetapi, dalam penerapannya atau rencana
aksi dari suatu rencana yang telah disusun sebelumnya terkadang tidak mencerminkan
konsep/teori yang sebenarnya ada. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara
lain faktor legitimasi berupa pembuatan kebijakan yang sah dalam suatu pemerintahan,
biasanya berupa perda atau yang lainnya. Selain itu, masih banyaknya perilaku
masyarakat yang memang tidak sesuai dengan rencana yang telah dibuat oleh pemerintah.
2. Berdasarkan beberapa tinjauan literatur yang sudah dilakukan, salah satu masalah yang
cukup pelik dalam sistem transportasi di Kota Bandung adalah masalah perparkiran. Hal
itu ditandai dengan banyaknya pemberitaan mengenai permasalahan perparkiran
sebagaimana yang telah dibahas pada penjelasan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Slide Presentasi Kuliah Teori Perencanaan, TAA ITB Bandung, 2010
Slide Presentasi Kuliah Teori Perencanaan, BBS ITB Bandung, 2010
http://jabar.inilah.com/read/detail/1031352/dishub-rela-kehilangan-pad-parkir-pasar-baru

http://www.ahmadheryawan.com/lintas-kabupaten-kota/kota-bandung/6240-transportasi-burukbandung-rugi-rp-24-t-.html

teori perencanaan
Kategori: Welcome
Diposting oleh merry_maswarita pada Rabu, 05 Mei 2010
[3922 Dibaca] [5 Komentar]
TEORI PERENCANAAN

A. PENDAHULUAN
Perencanaan atau yang sudah akrab dengan istilah planning adalah satu dari
fungsi management yang sangat penting. Bahkan kegiatan perencanaan ini selalu
melekat pada kegiatan hidup kita sehari-hari, baik disadari maupun tidak. Sebuah
rencana akan sangat mempengaruhi sukses dan tidaknya suatu pekerjaan. Karena
itu pekerjaan yang baik adalah yang direncanakan dan sebaiknya kita melakukan
pekerjaan sesuai dengan yang telah direncanakan.
Karena lingkungan lembaga pendidikan selalu berubah seiring dengan
perkembangan zaman, maka diperlukan komunikasi dalam hal sistem perencanaan
pendidikan yang berhubungan dengan pengambilan keputusan, penyusunan
perencanaan, pengawasan, evaluasi, serta perumusan kebijakan yang sangat

memerlukan komunikasi sebagai bahan pendukung pada perencanaan pendidikan.


Dalam hal ini diperlukan suatu sistem pendekatan yaitu perencanaan pendidikan
partisipatori.
Dalam perencanaan pendidikan memerlukan beberapa konsep mengenai
perubahan lingkungan pendidikan, kebutuhan organisasi pendidikan akan
perencanaan akibat perubahan lingkungan, ciri-ciri sistem yang akan dipakai dalam
perencanaan, dan beberapa teori perencanaan. Hudson menunjukkan 5 teori
perencanaan yaitu radikal, advocacy, transactive, synoptik, dan incremental yang
dikatakan sebagai taxonomy.
Perencanaan partisipatori berarti perencanaan yang melibatkan beberapa
yang berkepentingan dalam merencanakan sesuatu yang dipertentangkan dengan
merencanakan yang hanya dibuat oleh seseorang atau beberapa orang atas dasar
wewenang kedudukan, seperti perencana di tingkat pusat kepala-kepala kantor
pendidikan di daerah. Perencanaan partisipatori banyak melibatkan orang-orang
daerah yang memiliki kepentingan atas obyek yang direncanakan. Karena itu
perencanaan partisipatori, memerlukan informasi dari masyarakat dalam arti perlu
pendekatan pada masyarakat untuk melaksanakan perencanaan pendidikan pada
satu tempat (daerah). Dalam arti hubungan lembaga pendidikan dengan
komunikasinya merupakan dasar untuk memudahkan pelaksanaan perencanaan
pendidikan partispatori seperti kebiasaan lembaga pendidikan dan masyarakat
bekerja sama membangun pendidikan. Komunikasi antara lembaga pendidikan
dengan masyarakat merupakan realisasi teori common sense dalam komunikasi,
bukan teori kompetisi atau teori kontrol.
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa masalah terkait dengan
perencanaan pendidikan partisipatori yang melibatkan beberapa teori perencanaan
seperti teori radikal, teori advocacy, teori transactive, teori sinoptik, teori
incremental dan teori star.

B. PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN , URGENSI DAN RUANG LINGKUP
Dalam investorword.com didefinisikan The process of setting goals, developing
strategies, and outlining tasks and schedules to accomplish the goals. Planning adalah proses
menetapkan tujuan, mengembangkan strategi, dan menguraikan tugas dan jadwal untuk
mencapai tujuan. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa sebuah planning atau
perencanaan adalah merupakan proses menuju tercapainya tujuan tertentu. Atau dalam istilah
lain merupakan persiapan yang terarah dan sistematis agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan
efisien.

Kaufman (1972) sebagaimana dikutip Harjanto, Perencanaan adalah suatu proyeksi


tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai. Bintoro
Tjokroaminoto mendefinisikan perencanaan sebagai proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan
secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Pramuji Atmosudirdjo
mendefinisikan perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan
dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, siapa yang melakukan, bilamana, dimana, dan
bagaiman melakukannya. SP. Siagiaan mengartikan perencanaan adalah keseluruhan proses
pemikiran dan penentuan secara matang menyangkut hal-hal yang akan dikerjakan di masa
datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Y.Dior berpendapat
perencanaan perencanaan adalah suatu proses penyiapan seperangkat keputusan untuk
dilaksanakan pada waktu yang akan datang , dalam rangka mencapai sasaran tertentu.
Berbagai pendapat diatas menyiratkan bahwa perencanaan merupakan proses yang berisi
kegiatan-kegiatan berupa pemikiran, perhitungan, pemilihan, penentuan dsb. Yang semuanya itu
dilakukan dalam rangka tercapainya tujuan tertentu. Pada hakekatnya perencanaan merupakan
proses pengambilan keputusan atas sejumlah alternative (pilihan) mengenai sasaran dan caracara yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki
serta pemantauan dan penilaiannya atas hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara sistematis
dan dan berkesinambungan.
Perencanaan memiliki urgensi yang sangat bermanfaat dalam hal antara lain;
1) Standar pelaksanaan dan pengawasan
2) Pemilihan berbagai alternatif terbaik
3) Penyusunan skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan
4) Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi

5) Membantu manager menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan


6) Alat memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait
7) Alat meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti
Manfaat yang lain dari perencanaan adalah;
1) Menjelaskan dan merinci tujuan yang ingin dicapai
2) Memberikan pegangan dan menetapkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan tersebut.
3) Organisasi memperoleh standar sumber daya terbaik dan mendayagunakan sesuai tugas pokok
fungsi yang telah ditetapkan.
4) Menjadi rujukan anggota organisasi dalam melaksanakan aktivitas yang konsisten prosedur
dan tujuan
5) Memberikan batas wewenang dan tanggung jawab bagi seluruh pelaksana
6) Memonitor dan mengukur berbagai keberhasilan secara intensif sehingga bisa menemukan
dan memperbaiki penyimpangan secara dini.
7) Memungkinkan untuk terpeliharanya persesuaian antara kegiatan internal dengan situasi
eksternal
8) Menghindari pemborosan
Dengan adanya standar pelaksanaan (SOP) dan pengawasan,skala prioritas, tujuan,
batasan wewenang, pedoman kerja dsb. memungkinkan seluruh personil yang terlibat dalam

organisisasi atau tim akan dapat bekerja lebih transparan dan penuh tanggung jawab, efektif dan
efisien.
Kegiatan perencanaan memiliki ruang lingkup yang sangat luas terkait demensi waktu,
spasial, dan tingkatan dan teknis perencanaannya. Namun demikian ketiga demensi tersebut
saling kait-terkait dan beriteraksi. Masing-masing demensi tersebut adalah sebagai berikut;
1. Perencanaan dari demensi waktu
Dari demensi waktu perencanaan mencakup; (a) Perencanaan jangka panjang (long term
planning) berjangka 10 tahun keatas, bersifat prospektif, idealis dan belum ditampilkan sasaransarana yang bersifat kualitatif. (b) Perencanaan jangka menengah (medium term planning)
berjangka 3 sampai 8 tahun, merupakan penjabaran dan uraian rencana jangka panjang. Sudah
ditampilkan sasaran-sasaran yang diproyksikan secara kuantitatif, meski masih bersifat umum.
(c) Perencanaan jangka pendek (sort term planning) berjangka 1 tahunan disebut juga
perencanaan jangka pendek tahunan (annual plan) atau perencanaan operasional tahuanan
(annual opperasional planning)
2. Perencaan dari demensi spasial
Perencanaan ini terkait dengan ruang dan batas wilayah yang dikenal dengan
perencanaan nasional (berskala nasional), regional (berskala daerah atau wilayah), perencanaan
tata ruang dan tata tanah (pemanfaatan fungsi kawasan tertentu).
3. Perencanaan dari demensi tingkatan teknis perencanaan
Dalam demensi ini kita mengenal istilah (a) perencanaan makro (b) perencaan mikro (c)
perencanaan sektoral (d) perencaan kawasan dan (e) perencaan proyek. Perencaan makro
meliputi peningkatan pendapatan nasional, tingkat konsumsi, investasi pemerintah dan
masyarakat, ekspor impor, pajak, perbankan dsb. Perencanaan mikro disusun dan disesuaikan

dengan kondisi daerah. Perencanaan kawasan memperhatikan keadaan lingkungan kawasan


tertentu sebagai pusat kegiatan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif. Perencanaan
proyek adalah perencanaan operasional kebijakan yang dapat menjawab siapa melakukan apa,
dimana, bagaimana dan mengapa.
4. Perencanaan demensi jenis
Menurut Anen (2000) sebagaimana dikutip Syaiful sagala meliputi ; (a) Perencanaan dari
atas ke bawah (top down planning), (b) perencanaan dari bawah ke atas (botton up planning), (c)
perencanaan menyerong kesamping (diagonal planning), dibuat oleh pejabat bersama dengan
pejabat bawah diluar struktur (d) perencanaan mendatar (horizontal planning), yaitu perencanaan
lintas sektoral oleh pejabat selevel (e) perencanaan menggelinding (rolling planning)
berkelanjutan mulai rencana jangka pendek,menengah dan panjang.(f) perencanaan gabungan
atas ke bawah dan bawah ke atas (top down and button up planning), untuk mengakomodasi
kepentingan pusat dengan wilayah/daerah.
Dalam kegitan pendidikan lingkup perencanaan meliputi semua komponen administrasi
sekolah dalam hal kurikulum, supervisi, kemuridan, keuangan, sarana dan prasarana, personal,
layanan khusus, hubungan masyarakat, media belajar, ketata usahaan sekolah dsb. Atau berupa
penentuan sasaran, alat, tuntutan-tuntutan, taksiran, pos-pos tujuan, pedoman, kesepakatan
(commitment) yang menghasilkan program-program sekolah yang terus berkembang

2. TEORI dan KONSEP PERENCANAAN

Menurut Hudson dalam Tanner (1981) teori perencanaan meliputi, antara lain; sinoptik,
inkremental, transaktif, advokasi, dan radial. Selanjutnya di kembangkan oleh tanner (1981)
dengan nama teori SITAR sebagai penggabungan dari taksonomi Hudson.
1. Teori Sinoptik
Disebut juga system planning, rational system approach, rasional comprehensive
planning. Menggunakan model berfikir system dalam perencanaan, sehingga objek perencanaan
dipandang sebagai suatu kesatuan yang bulat, dengan satu tujuan yang disbebut visi. Langkahlangkah dalam perencanaan ini meliputi ; (a) pengenalan masalah, (b), mengestimasi ruang
lingkup problem (c) mengklasifikasi kemungkinan penyelesaian, (d) menginvestigasi problem,
(e) memprediksi alternative, (f) mengevaluasi kemajuan atas penyelesaian spesifik.
2. Teori incemental
Didasarkan pada kemampuan institusi dan kinerja personalnya. Bersifat desentralisasi
dan tidak cocok untuk jangka panjang. Jadi perencanaan ini menekankan perencanaan dalam
jangka pendek saja. Yang dimaksud dengan desentralisasi pada teori ini adalah si perencana
dalam merencanakan objek tertentu dalam lembaga pendidikan, selalu mempertimbangkan
faktor-faktor lingkungan.
3. Teori transactive
Menekankan pada harkat individu yang menjunjung tinggi kepentingan pribadi dan
bersifat desentralisasi, suatu desentralisasi yang transactive yaitu berkembang dari individu ke
individu secara keseluruhan. Ini berarti penganutnya juga menekankan pengembangan individu
dalam kemampuan mengadakan perencanaan.
4. Teori advocacy

Menekankan hal-hal yang bersifat umum, perbedaan individu dan daerah diabaikan.
Dasar perencanaan tidak bertitik tolak dari pengamatan secara empiris, tetapi atas dasar
argumentasi yang rasional, logis dan bernilai (advocacy= mempertahankan dengan argumentasi).
Kebaikan teori ini adalah untuk kepentingan umum secara nasional. Karena ia
meningkatkan kerja sama secara nasional, toleransi, kemanusiaan, perlindungan terhadap
minoritas, menekankan hak sama, dan meningkatkan kesejahteraan umum. Perencanaan yang
memakai teori ini tepat dilaksanakan oleh pemerintah/ atau badan pusat.
5. Teori radikal
Teori ini menekankan pentingnya kebebasan lembaga atau organisasi lokal untuk
melakukan perencanaan sendiri, dengan maksud agar dapat dengan cepat mengubah keadaan
lembaga supaya tepat dengan kebutuhan.
Perencanaan ini bersifat desentralisasi dengan partisipasi maksimum dari individu dan
minimum dari pemerintah pusat / manajer tertinggilah yang dapat dipandang perencanaan yang
benar. Partisipasi disini juga mengacu kepada pentingnya kerja sama antar personalia. Dengan
kata lain teori radikal menginginkan agar lembaga pendidikan dapat mandiri menangani
lembaganya. Begitu pula pendidikan daerah dapat mandiri menangani pendidikannya.

6. Teori SITAR
Merupakan gabungan kelima teori diatas sehingga disebut juga complementary planning
process. Teori ini menggabungkan kelebihan dari teori diatas sehingga lebih lengkap. Karena
teori ini memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat atau lembaga tempat perencanaan itu

akan diaplikasikan, maka teori ini menjadi SITARS yaitu S terakhir adalah menunjuk huruf awal
dari teori situational. Berarti teori baru ini di samping mengombinasikan teori-teori yang sudah
ada penggabungan itu sendiri ada dasarnya ialah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi
lembaga pendidikan dan masyarakat. Jadi dapat kita simpulkan bahwa teori-teori diatas
mempunyai persamaan dan pebedaannya.
persamaannya:
1. Mempunyai tujuan yang sama yaitu pemecahan masalah
2. Mempunyai obyek perencanaan yang sama yaitu manusia dan lingkungan
sekitarnya.
3. Mempunyai beberapa persyaratan data, keahlian, metode, dan mempunyai
konsistensi internal walaupun dalam penggunaannya terdapat perbedaan
penitikberatan.
4. Mempertimbangkan dan menggunakan sumberdaya yang ada dalam pencapaian
tujuan
Sedangkan Perbedaannya adalah :
1. Perencanaan sinoptik lebih mempunyai pendekatan komprehensif dalam
pemecahan masalah dibandingkan perencanaan yang lain, dengan lebih
mengedepankan aspek-aspek metodologi, data dan sangat memuja angka atau
dapat dikatakan komprehensif rasional. Hal ini yang sangat minim digunakan dalam
4 pendekatan perencanaan yang lain.
2. Perencanaan incremental lebih mempertimbangkan peran lembaga pemerintah
dan sangat bertentangan dengan perencanaan advokasi yang cenderung anti
kemapanan dan perencanaan radikal yang juga cenderung revolusioner.
3. Perencanaan transactive mengedepankan faktor faktor perseorangan / individu
melalui proses tatap muka dalam salah satu metode yang digunakan, perencanaan
ini kurang komprehensif dan sangat parsial dan kurang sejalan dengan perencanaan
Sinoptik dan Incremental yang lebih komprehensif.
4. Perencanaan advocacy cenderung menggunakan pendekatan hukum dan obyek
yang mereka ambil dalam perencanaan adalah golongan yang lemah. Perencanaan

ini bersifat sosialis dengan lebih mengedepankan konsep kesamaan dan hal
keadilan social
5. Perencanaan Radikal seakan - akan tanpa metode dalam memecahkan masalah
dan muncul dengan tiba-tiba (spontan) dan hal ini sangat kontradiktif dengan
pendekatan incremental dan sinoptik yang memepertimbangkan aturan aturan
yang ada baik akademis/metodologis dan lembaga pemerintahan yang ada.

3. STRATEGI PERENCANAAN

Pendekatan (strategi) perencanaan pendidikan terkait erat dengan struktur penduduk. Ada
empat pendekatan dalam perencanaan pendidikan, yaitu ; (1) pendekatan kebutuhan sosial (social
demand approach), (2) pendekatan ketenagakerjaan (manpower approach), (3) pendekatan
untung rugi (cost and benefit), (4) pendekatan cost eefectiveness, dan (5) pendekatan terpadu.
Masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan.
1. Pendekatan kebutuhan sosial (sosial demand approach)
Pendekatan model ini didasarkan atas keperluan masyarakat saat ini dan menitik beratkan
pada pemerataan pendidikan seperti wajib belajar (wajar 9 tahun). Kekurangannya pendekatan
model ini adalah; (1) mengabaikan alokasi dalam skala nasional, (2) mengabaikan kebutuhan
perencanaan ketenagakerjaan, (3) cenderung hanya menjawab problem pemerataan dengan lebih
mengutamakan kuantitas daripada kualitas pendidikan.
2. Pendekatan ketenagakerjaan (manpower approach)
Pendekatan ini mengutamakan keterkaitan system pendidikan dengan tuntutan kebutuhan
tenaga kerja. Membengkaknya angka pengangguran misalnya menjadi pendorong untuk

mempertemukan gape antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Upaya untuk hal ini misalnya
diberlakukannya system link and match, magang, pendidikan profesi, pengembangan smk dsb.
3. Pendekatan untung rugi (cost and benefit)
Dalam pendekatan ini dibuat perhitungan perbandingan antara biaya yang dikeluarkan
untuk penyelengaraan pendidikan serta keuntungan yang akan siperoleh dari hasil pendidikan.
Pendekatan ini melihat pendidikan sebagai upaya investasi yang harus memberikan keuntungan
nyata pada saat nanti.
4. Pendekatan cost efectiveness
Pendekatan ini menitikberatkan pada pemanfaatan biaya secermat mungkin untuk
mencapai hasil pendidikan seoptimal mungkin, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Pendidikan ini diadakan jika benar-benar memberikan keuntungan yang relative pasti. Seperti
dibukannya program magister management, magister bisnis administrasi, kursus-kursus dsb.
5. Pendekatan terpadu
Yaitu dengan memadukan keempat pendekatan diatas sunaryo (2000)
Dalam hemat kami, pendekatan terpadu dapat digunakan untuk menjembatani berbagai
kepentingan akan tujuan output pendidikan. Apalagi dalam islam dikenal akan adanya dua
kebutuhan duniawi dan ukhrowi sehingga pendekatan yang digunakan untuk pendidikan tentu
semestinya mencakup kedua kebutuhan tersebut.

4. MODEL PERENCANAAN PENDIDIKAN

Beberapa model perencanaan pendidikan yang patut diketahui, antara lain:


a. Model Perencanaan Komperehensif
Model ini terutama digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan
dalamsystempendidikan secara keseluruhan. Di samping itu berfungsi sebagai
suatu patokan dalam menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik kea rah
tujuan-tujuan yang lebih luas.
b. Model Target Setting
Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun
memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam
persiapannya dikenal:
1. Model untuk menganalisis demografis dan proyeksi penduduk
2. Model untuk memproyeksikan enrolmen( jumlah siswa terdaftar ) sekolah
3. Model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.
c. Model Costing dan keefektifan biaya
Model ini sering digunakan untuk menganalisis proyek-proyek dalam criteria
efisien dan efektifitas ekonomis. Dengan model ini dapat diketahui proyek yang
paling fleksibel dan memberikan suatu perbandingan yang paling baik di antara
proyek-proyek yang menjadi alternative penanggulangan masalah yang dihadapi.
Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada pertimbangan
bahwa pendidikan itu tidak terlepas pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak
terlepas dari masalah pembiayaan. Dan, dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan
selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurun waktu tertentu dapat
memberikan benefit tertentu.
d. Model PPBS
PPBS (planning, programming, budgeting system) bermakna bahwa
perencanaan, penyusunan program dan penganggaran dipandang sebagai suatu
system yang tak terpisahkan satu sama lainnya. PPBS merupakan suatu proses
yang komprehensif untuk pengambilan keputusan yang lebih efektif. Beberapa ahli
memberikan pengertian, antara lain: Kast Rosenzweig (1979) mengemukakan
bahwa PPBS merupakan suatu pendekatan yang sistematik yang berusaha untuk
menetapkan tujuan, mengembangkan program-program, untuk dicapai,

menemukan besarnya biaya dan alternative dan menggunakan proses


penganggaran yang merefleksikan kegiatan program jangka panjang. Sedangkan
Harry J. Hartley (1968) mengemukakan bahwa PPBS merupakan proses
perencanaan yang komprehensif yang meliputi program budget sebagai komponen
utamanya.
Berdasarkan kedua pengertian tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa:
1. PPBS merupakan pendekatan yang sistematik. Oleh kaena itu, untuk menerapkan
PPBS di perlukan pemahaman teori dan praktek.
2. PPBS merupakan suatu proses perencanaan komprehensif. Penerapannya hanya
dimungkinkan untuk masalah-masalah yang kompleks dan dalam organisasi yang
dihadapkan pada masalah yang rumit dan komprehensif.Untuk memahami PPBS
secara baik, maka perlu kita perhatikan sifat-sifat esensial dari system ini. Esensi
dari PPBS adalah sebagai berikut:
1. Memperinci secara cermat dan menganalisis secara sistematik terhadap tujuan
yang hendak dicapai.
2. Mencari alternative-alternatif yang relevan, cara yang berbeda-beda untuk
mencapai tujuan.
3. Menggambarkan biaya total dari setiap alternative, baik langsung ataupun tidak
langsung, biaya yang telah lewat ataupun biaya yang akan dating, baik biaya yang
berupa uang maupun biaya yang tidak berupa uang
4. Memberikan gambaran tentang efektifitas setiap alternative dan bagaimana
alternative itu mencapai tujuan
5. Membandingkan dan menganalisis alternative tersebut, yaitu mencari kombinasi
yang memberikan efektivitas yang paling besar dari suber yang ada dalam
pencapaian tujuan ( Jujun S, 1980).

5. MISI, TUJUAN DAN PROGRAM PERENCANAAN

Setiap perencanaan pada umumnya memiliki satu tujuan perencanaan yang mencakup
langkah keseluruhan perencanaan, mulai perencanaan strategi sampai keperencanaan
operasional. Dengan demikian proses perencanaan melalui tahap-tahap seperti:
1. Menentukan kebutuhan dasar antisipasi terhadap perubahan lingkungan atau masalah yang
muncul.
2. Melakukan forecasting, menentukan program, tujuan, misi perencanaan.
3.Menspesifikasi tujuan.
4. Menentukan standar performan.
5. Menentukan alat/metode/alternatif pemecahan.
6. Melakukan implementasi dan menilai.
7. Mengadakan reviu.
Karena itu perencanaan pendidikan memerlukan akuntabilitas dan kontrol agar sesuai
dengan lapangan kerja dalam perencanaan pendidikan, sehubungan dengan usaha menciptakan
iklim organisasi pendidikan yang hangat. Dalam hal ini diperlukan kerjasama dengan
masyarakat. Sebab kegiatan perencanaan pendidikan pada umumnya tidak pernah bisa
dilepaskan dari masyarakat, terutama pada masyarakat yang ada di sekitarnya.
Itu sebabnya mengapa perlu komunikasi dengan masyarakat, semua itu ada hubungannya
di mana saling memberi, saling mendukung, dan saling menguntungkan antara lembaga
pendidikan dengan masyarakat. Karena masyarakat turut bertanggungjawab terhadap kemajuan
dan kelancaran proses pendidikan dalam lembaga pendidikan. Karena masyarakat sudah menjadi
bagian kegiatan yang penting dalam mengendalikan roda perjalanan organisasi pendidikan.

Sehingga masalah yang muncul baik dari lembaga sendiri maupun di masyarakat dapat
diselesaikan dengan mudah dan lebih tuntas.
Khusus para perencana pendidikan lebih-lebih perencanaan yang bersifat partisipatori
yang perencanaan dilakukan bersama di antara pecinta pendidikan yaitu lembaga pendidikan dan
warga masyarakat. Mereka yang dapat mempengaruhi pendidikan dan dapat dipengaruhi oleh
pendidikan yang di sebut stakeholder.

E. KESIMPULAN

Dari berbagai pemaparan diatas dapat kita ambil kesimpulan dan poit penting antara lain ;

Perencanaan adalah sangat penting baik ditinjau dari sisi management


maupun dari pandangan agama islam, mengingat adanya pesan nabi
Muhammad saw. Dan ayat al-quran yang menekankan hal tersebut.

Diantara pengertian perencanaan adalah suatu proses menetapkan tujuan,


mengembangkan strategi, dan menguraikan tugas dan jadwal untuk
mencapai tujuan.
Diantara urgensi perencanaan adalah akan memberikan guideline
(framework) untuk mencapai tujuan masa datang.
Ruang lingkup perencanaan mencakup berbagai demensi baik waktu,
spasial,tingkatan dan teknis perencanaan.
Teori perencanaan meliputi, antara lain; sinoptik, inkremental, transaktif,
advokasi, dan radial
Diantara teri-teori itu yang dipakai karena sejalan dengan konsep sistem
ialah teori synoptic atau analisis sistem dan teori incremental . Kedua teori
ini memakai pendekatan sistem, yang satu melaksanakan secara keseluruhan
dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Pendekatan (strategi) yang dapat digunakan dalam perencanaan pendidikan
antara lain pendekatan kebutuhan social (social demand approach),
pendekatan ketenagakerjaan (manpower approach), pendekatan untung rugi
(cost and benefit), pendekatan cost eefectiveness, dan pendekatan terpadu.
Perlu komunikasi dengan masyarakat, semua itu ada hubungannya di mana
saling memberi, saling mendukung, dan saling menguntungkan antara
lembaga pendidikan dengan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Harjanto. Perencanaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta. 2008


Sagala,syaiful. Managemen Strategik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Bandung : Alpabeta. 2007
Usman, Husaini, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan; Bumi Aksara, Jakarta.
2006

Pidarta, Made. Perencanaan Pendidikan Partisipatori Dengan Pendekatan Sistem.


Cet. 3 ; Jakarta : Rineka Cipta. 2005

Tuesday, March 30, 2010


Teori Perencanaan
TEORI PERENCANAAN

Menurut Ernest R Alexander, Teori merupakan kerangka yang harus dipergunakan


sehingga dapat membentuk suatu struktur yang baik. Apabila kita memiliki suatu
teori yang benar namun kita hanya menyimpannya saja dan tidak
mempraktekkannya, maka sebaik apapun teori tersebut tidak akan ada
manfaatnya, begitu pula sebaliknya sebuah praktek harus diterangkan dengan
teori.
Bagi seorang planner, hubungan antara teori dan praktek adalah sangat penting,
sebab perencanaan tidak seperti ilmu murni pada dasarnya perencanaan adalah
kegiatan preskripif, bukan deskriptif. Tujuan seorang planner bukanlah untuk
menguraikan apa yang ada di dunia ini tetap untuk mengusulkan cara-cara
bagaimana keadaan tersebut bisa diubah.
Perencanaan itu sendiri memerlukan suatu pengakuan rasional dan sosial: ia harus
dibenarkan sebagai suatu penerapan cara pengambilan keputusan yang rasional
pada masalah-masalah sosial. Karena perencanaan adalah suatu aktivitas yang
mempengarui masyarakat dan menyangkut nilai-nilai manusia, maka teori
perencanaan tidak dapat mengabaikan ideologi. Dalam kata-kata John Dyckman,
teori perencanaan haruslah mencakup beberapa teori tentang masyarakat di mana
perencanaan itu dilembagakan

Lingkup Teori Perencana


Inti dari teori perencanaan adalah proses perencanaan. Suatu proses perencanaan
jelas terlihat pada keputusan-keputusan individu mengenai karier pekerjaannya,
anggaran rumah tangga, program pembangunan fisik kota, pertahanan kota, dan
pelayanan umum.
Teori perencanaan mengamati komponen-komponen dalam proses perencanaan
yang mencangkup bentuknya, tahapannya, hubungannya dengan konteks daripada
proses perencanaan dan keluarannya. Teori Perencanaan juga menyangkut alasan
mengapa perencanaan itu diperlukan, yang kemudian menimbulkan permasalahan
mengenai etika dan nilai para perencana.
Definisi Perencanaan
Adapun beberapa definisi tentang perencanaan dari para ahli:
1.Menurut Conyers Diana, perencanaan adalah proses yang berjalan terus menerus
yang melibatkan (cyclical process decision-making) berbagai tahapan skematik dan
berurutan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik atau dengan kata lain
keputusan yang lebih rasional.
2.Menurut Anthony J. Catanese, Perencanaan merupakan suatu aktivitas universal
manusia, suatu keahlian dasar dalam kehidupan yang berkaitan dengan
pertimbangan suatu hasil sebelum diadakan pemilihan di antara berbagai alternatif
yang ada.
3.Menurut Ir. Mulyono Sadyohutomo, Perencanaan merupakan fungsi manajemen
pertama yang harus dilakukan oleh setiap manajer dan staf.
Dari ketiga pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan
adalah suatu proses pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai tahapan
skematik dan berurutan dengan mempertimbangkan berbagai batasan-batasan
sehingga dapat menghasilkan keputusan yang rasional.
Selain itu perencanaan memiliki empat tingkatan definisi yaitu,
1.Tingkatan pertama (tidak ada faktor pembatas), di mana suatu perencanaan
menetapkan suatu tujuan dan memilih langkah-langkah yang diperlukan untuk
mencapai tujuan tersebut.
2.Tingkatan kedua (ada faktor pembatas internal), di mana suatu perencanaan
menetapkan suatu tujuan yang dapat dicapai setelah memperhatikan faktor-faktor
pembatas dalam mencapai tujuan tersebut, memilih dan menetapkan langkahlangkah untuk mencapai tujuan tersebut.
3.Tingkatan ketiga (ada faktor pembatas internal, eksternal yang berpengaruh
dalam pencapaian tujuan tersebut), di mana suatu perencanaan menetapkan suatu
tujuan yang dapat dicapai setelah memperlihatkan pembatas internal dan

eksternal, memilih serta menetapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan


tersebut.
4.Tingkatan keempat (faktor pembatas ketiga internal, eksternal pengaruhnya
cukup besar serta kita tidak bisa mengendalikannya), di mana perencanaan untuk
mengetahui dan menganalisis kondisi saat ini, meramalkan perkembangan berbagai
faktor noncontrollable yang relevan, memperkirakan faktor pembatas, menetapkan
tujuan sasaran yang diperkirakan dapat dicapai, serta mencari langkah untuk
mencapai tujuan tersebut.
Unsur-Unsur Perencanaan
Kata perencanaan (planning) merupakan istilah umum yang sangat luas cakupan
kegiatannya. Para ahli telah mendefinisikan kata perencanaan dengan kalimatkalimat berbeda-beda, tergantung aspek apa yang ditekankan. Akan tetapi, dapat
disimpulkan bahwa di dalam perencanaan mencakup pengertian sebagai berikut.
a.Penentuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan
b.Penentuan serangkaian kegiatan untuk mencapai hasil yang diinginkan
Rencana (plan) adalah produk dari proses perencanaan yang dimaksudkan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu melalui tahap-tahap kegiatan. Setiap rencana
paling tidak memiliki 3 unsur pokok, yaitu
a.Titik Tolak
Merupakan kondisi awal dari mana kita berpijak di dalam menyusun rencana dan
sekaligus dan sekaligus nantinya menjadi landasan awal untuk melaksanakan
rencana tersebut
b.Tujuan (Goal)
Suatu keadaan yang ingin dicapai di masa yang akan datang. Tujuan yang jelas
akan mempermudah perencana dalam penyusunan perencanaan.
c.Arah
Arah rencana merupakan pedoman untuk mencapai rencana dengan cara yang
legal, efisien, dan terjangkau oleh pelaksana. Apabila suatu rencana tidak
dilengkapi pedoman yang jelas maka pencapaian tujuan tidak efektif dan terjadi
pemborosan pemakaian sumber daya dan waktu.
Serta beberapa beberapa unsur pendukung lainnya :
a.Whiseses (keinginan, cita-cita)
Perencanan dibuat oleh perencana untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Perencana memiliki keinginan dalam hasil yang akan dipacapai dan memiliki
perencanaan yang sesuai keinginan trsebut.
b. Resources (sumber daya alam, manusia, modal, dan informasi)
Sumber daya alam harus dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan untuk mendukung

suatu perencanaan. Perencana harus mampu mendayagunakan suber daya alam


dengan kemampuan sumber daya manusia yang bagus. Kelengkapan informasi juga
dibutuhkan dalam pentusunan perencanan sebab, informasi yang valid memberikan
masukan dalam pengambilan keputusan dalam perencanaan.
c. Effective and Efficient (hasil guna dan daya guna)
Perencanaan membutuhkan ketepatan dalam pengambilan keputusan yang sesuai
dengan tujuan.
e. Space, location (ruang)
Lokasi merupakan objek yang menjadi sasaran dalam suatu perencanaan. Lokasi
juga dianggap sebagai subjek perencanaan sebab, dalam merencanakan suatu
wilayah perencanan harus mengetahui kondisi lokasi tersebut dan
mengadaptasikan.
f. Time, future oriented
Hasil perencanaan tidak haya bertujuan untuk waktu sekarang tetapi juga
berorientasi untuk masa yang akan datang (sustainable).
Tiga unsur-unsur pokok rencana tersebut sifatnya wajib bagi setiap rencana. Apabila
salah satu unsur rencana tidak ada maka rencana menjadi tidak bermanfaat atau
sulit dilaksanakan. Seperti yang digambarkan pada ilustrasi dibawah ini:
Gambar 1. Rencana Tanpa Arah Gambar 2. Unsur pokok rencana lengkap
Pada gambar 1 menunjukkan rencana tanpa pedoman maka untuk menuju ke
tujuan akan dilakukan dengan cara coba-coba. Akibatnya, untuk mencapai tujuan
perlu jalur yang lebih panjang yang berarti pemborosan sumber daya. Dibandikan
dengan gambar 2, di mana ketiga unsur pokok (titik tolak, tujuan, dan arah)
rencana lengkap, sehingga tujuan dicapai dengan cara yang efisien. Untuk menuju
kondisi yang akan datang yang lebih baik hanya dapat dicapai melalui perencanaan,
hal tersebut disebabkan oleh:
a. Secara rasional, perencanaan disusun berdasarkan data yang cukup dan analisis
yang tepat akan memberikan keputusan dan hasil yang baik
b. Dari segi efisiensi, dengan perencanaan dapat meminimalkan biaya dan
memaksimalkan manfaat.
Aspek-Aspek Penting dalam Perencanaan
Berbagai aspek penting dalam perencanaan:
1. Perencanaan kota terutama berkaitan erat dengan masalah-masalah
kemasyarakatan yang di dalamnya tercakup sekelompok besar klien yang
mempunyai kepentingan berbeda-beda.
2. Perencanaan kota merupakan aktifitas yang benar-benar direncanaan dengan

matang yang biasanya ditangani oleh orang-orang yang terlatih secara professional
sebagai perencana.
3. Tujuan dan sasarannya, serta pranata-pranata untuk mencapainya, sering
teramat tidak pasti.
4. Para perencana kota sendiri jarang membuat keputusan, malahan
sebaliknyamereka membut berbagai alternative dan rekomendasi bagi pihak-pihak
yang dipilih dan ditunjuk untuk mengambil keputusan-keputusan tertentu.
5. Para perencana kota menggunakan berbagai macam alat bantu dan metodemetode khusus untuk menganalisis dan menyajikan berbagai alternatif.
6. Hasil dari hampir semua aktivitas perencanan hanya dapat dilihat setelah 5
sampai 20 tahun setelah keputusan diambil, sehingga menyulitkan umpan balik dan
tindakan perbaikan.
Tujuan Perencanaan
Perencanaan memiliki tujuan sebagai berikut.:
1. meningkatkan efisiensi dan rasionalitas. contoh gampang dari peningkatan
efisiensi adalah pengadaan publik transport. kan jadi lebih efisien tu dari segi bahan
bakar, jumlah kendaraan sampe polusi udara.
2. membantu/meningkatkan pasar, contoh adanya asuransi kesehatan, PLN, yang
menyediakan hal-hal esensial bagi masyarakat.
3. mengubah/memperlebar pilihan-pilihan, contohnya bisa dari public transport
juga, jadii ada berbagai macam pilihan moda transportasi yang bisa kita pake kalo
mau ke tempat2 tertentu.
4. Sebagai pedoman dalam pembangunan
5. Meminimalisasi ketidakpastian
6. Meminimalisasi inefisiensi sumber daya
7. Penetapan standard dan pengawasan kualitas
Jenis-Jenis Perencanaan
Perencanaan terdapat 8 jenis. Jenis-jenis perencanaan diantaranya adalah :
1. Perencanaan bertujuan jelas Vs perencanaan bertujuan laten
- Perencanaan bertujuan jelas menyebutkan tujuan dan sasaran yang dapat diukur
tingkat pencapaiannya.
- Perencanaan bertujuan laten tidak menyebutkan sasaran dan bahkan tujuannya
kurang jelas dan sulit diukur.
2. Perencanaan fisik Vs perencanaan ekonomi
- Perencanaan fisik lebih terfokus pada perencanaan sarana dan prasarana.
- Perencanaan ekonomi terfokus pada segi dana untuk pembangunan.
3. Perencanaan alokatif Vs perencanaan inovatif

- Perencanaan alokatif menyukseskan rencana umum yang telah disusun


- Perencanaan inovatif dimungkinkan adanya kebebasan.
4. Perencanaan bertujuan jamak Vs perencanaan bertujuan tunggal
- Perencanaan jamak bila tujuan dan sasaran bersifat jamak
- Perencanaan tunggal bila tujuan dan sasrannya bersifat tunggal
5. Perencanaan indikatif Vs perencanaan imperatif
- Perencanaan indikatif mempunyai output indikasi (tidak tegas) sedangkan
imperatif sudah diatur dengan tegas dan jelas dalam pelaksanaan di lapangan.
6. Top Down Vs Bottom up planning
- Top down adalah perencanaan yang langsung dari atas(pemerintah) ke bawah
(masyarakat)
- Bottom up adalah perencanaan yang mendengarkan aspirasi rakyat dan kemudian
menjadi pemikiran dalam perencanaan oleh pemerintah.
7. Vertical Vs Horizontal planning
- Vertical mengutamakan koordinasi antar berbagai jenjang pada sektor yang sama.
- Horizontal menekankan keterpaduan program antar berbagai sektor pada level
yang sama.
8. Perencanaan pertisipatif Vs perencanaan non partisipatif
- Perencanaan partisipatif menggunakan masyarakat sebagai subjek dan objek
dalam perencanaan.
Metodologi Perencanaan
Perencana perkotaan mengamabil metode dari berbagai bidang illmu dan
memodifikasikannya dan/atau mengembangkan metode-metode baru untuk
memperoleh dan menyaring berbagai sumber informasi. Jenis-jenis metode :
1. Proses Perencanaan
2. Perencanaan sebagai rekayasa pengetahuan
3. Perencanaan sebagai problem solving
4. Perencanaan sebagai proses produksi
Pengaruh Pemikiran Filsafat Dunia terhadap Teori Perencanaan
Pemiikiran filsafat dunia adalah pemikiran untuk mencari kebenaran menurut akal
manusia, di mana pemikiran tersebut selalu berkembang sejalan dengan
perkembangan perdaban manusia. Evolusi pandangan filsafat dunia berpengaruh
pula terhadap perkembangan teori perencanaan, dengan urutan perubahan sebagai
berikut.
a. Theosentrisme
- Pengaruh dalam perencanaan sebagai fungsi dari kekuatan monarki dan
keagamaan

- Model Perencanaan : Authoritarian Planning


b. Utopianisme
- Pengaruh dalam perencanaan sebagai tujuan ideal manusia
- Model Perencanaan : Romantic Planning
c. Positivisme
- Pengaruh dalam perencanaan sebagai fungsi dari rekayasa sosial melalui dominasi
ilmu teknik
- Model Perencanaan : Technocratic Planning
d. Rasionalisme
- Pengaruh dalam perencanaan sebagai fungsi rekayasa sosial melalui justifikasi
ilmiah
- Model Perencanaan : Rational Comprehensive Planning
e. Fragmatisme
- Pengaruh dalam perencanaan sebagai fungsi dari market
- Model Perencanaan : Utilitarian Planning and Pragmatic Planning
f. Fenomenologi
- Pengaruh dalam perencanaan sebagai fungsi peguatan ekstensi nilai-nilai budaya.
- Model Perencanaan : Organic Planning, Advocacy Planning, Social Planning.
Kekuatan Politik dalam Perencanaan
Kondisi politik menentukan arah penyusunan dan aplikasi perencanaan.
Perencanaan. Perencanaan kota dan wilayah erat kaitannya dengan politik. Hal itu
disebabkan oleh:
a. Perencanaan senantiasa melibatkan hal yang menyangkut emosi masyarakat
miskin.
b. Keputusan perencanaan adalah terlihat nyata sehingga kalau terjadi kesalahan
keputusan tidak dapat disembunyikan dan mudah menjadi isu politik.
c. Proses perencanaan harus melibatkanmayarakatsecara langsung karena
menyangkut kepentingan sehari-hari masyarakat banyak.
d. Masyarakat merasa mempunyai keahlian dan kedudukan yang sejajar dengan
perencana.
e. Keputusan perencana mempunyai dampak yang besar bagi masyarakat pemilik
tanah, terutama dampak ekonomis terhadap nilai tanah dan pemanfaatannya.
Berikut beberapa masalah politik yang menyebabkan perencanaan menjadi
bermasalah.
a. Sistem politik yang yang tidak demokratis
Kondisi politik yang otokratis, sentralistis, atau fanatisme akan menghasilkan
perencanaan yang tidak demokratis.
b. Stabilitas politik

Arah politik yang berubah-ubah akan mengakibatkan perencanaan yang berubahubah pula. Perencanaan yang berubah-ubah mengakibatkan pemborosan sumber
daya dan tidak terjadinya kesinambungan pembangunan.
c. Dominasi sistem politik
System politik yang terlalu mendominasi perencanaan akan mengalahkan
pertimbangan teknis, ekonomis, maupun legalitas. Hasil keputusan menjadi kurang
objektif, hanya menguntungkan kelompok tertentu dan kurang berkeadilan.
d. Kesadaran berpolitik masyarakat yang rendah, antara lain:
- tidak dapat menerima perbedaan pendapat
- emosional
- tidak rasional
- tidak mau mengalah
- tidak dapat menerima kekalahan dalam persaingan yang sehat
- fanatik
Dengan kesadaran berpolitik yang renndah maka dalam proses negosiasi di dalam
perencanaan akan sulit mencapai consensus. Keputusan yang telah di ambil tidak
dapat dijalankan karena tidak didukung oleh pihak yang tidak setuju walau telah
terlibat dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
e. Dominasi masyarakat awam
Keterlibatan masyarakat awam yang terlalu dominan dapat mengalahkan
pertimbangan teknis perencanaan. Akibatnya, rencana kurang dijamin keilmuannya.
f. Money politics
Keputusan rencana yang dipengaruhi oleh uang akan bersifat tidak adil karena
hanya akan menguntungkan pihak penyuap. Di samping itu, keadaan tersebut akan
menimbulkan frustasi pihak yang dirugikan atau yang memegang prinsip-prinsip
idealisme.
Peran perencana dalam sebuah proses politik didefinisikan sebagai berikut :
1. Sebagai teknokrat dan engineer
Peran ini dimainkan dengan mengambil posisi sebagai advisor bagi para pengambil
kebijakan dengan berporos kepada rasionalitas dan pertimbangan ilmiah. Informasi
dimanfaatkan sebagai sebuah landasan dalam membangun kekuasaan dan
kepentingan.
2. Sebagai birokrat
Perencana sebagai seorang birokrat memiliki fungsi menjaga stabilisasi organisasi
dan jalannya roda pemerintahan. Informasi dimanfaatkan sebagai sebuah alat
dalam menjaga kepentingan dan keberlangsungan organisasi. Peran ini biasanya
disertai oleh kekuasaan yang datang secara formal dan legal kepada perencana.
3. Sebagai Advokat dan Aktivis

Fungsi ini merupakan sebuah manifestasi dari usaha menjembatani masyarakat


terhadap hal-hal yang bersifat teknis dari sebuah produk rencana. Selain itu
terdapat peran dalam melakukan mobilisasi kekuatan dan potensi masyarakat
untuk melakukan perlawanan terhadap dominasi Pemerintah. Informasi dan proses
komunikasi diperlakukan sebagai usaha membangun pemahaman masyarakat dan
counter-opinion terhadap kebijakan yang merugikan masyarakat.
4. Sebagai Politikus
Politikus identik dengan tujuan pragmatis dan komunalis, sehingga perencana tidak
diharapkan untuk bergabung dengan dunia politik. Maksud dari peran ini adalah
seorang perencana tidak bisa lepas dari kepentingan dan dalam memperjuangkan
kepentingannya, perencana dituntut memiliki perspektif seorang politisi. Seorang
politikus memiliki insting dalam berkomunikasi dengan kelompok yang memiliki
kepentingan yang berbeda lebih baik.
Keempat peran diatas merupakan refleksi dari posisi perencana dalam proses
politik. Proses politik yang terjadi mendesak perubahan paradigma pada dunia
perencanaan di Indonesia. Tantangan dan perubahan paradigma di dunia
perencana, menuntut perencana untuk dapat meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam proses pengambilan kebijakan.
Dominasi pemerintah terhadap masyarakat hanya melahirkan sebuah sikap apatis
dari masyarakat terhadap pemerintah dan produk perencanaan. Sikap apatis yang
melahirkan ketidakefisienan dari pelaksanaan perencanaan karena tidak ada
dukungan dari masyarakat terhadap produk perencanaan.
Perencanaan Kota di Indonesia
Bila melihat evolusi perencanaan pembangunan kota di Eropa dan Amerika,
industrialisasi merupakan salah satu factor pendorong adanya perencanaan
pembangunan kota. Hal ini berbeda dengan konteks Indonesia. Terdapat beberapa
kondisi yang mempengaruhi factor-faktor dasar kota di Indonesia.
1. Perkembangan kota di Indonesia bukan disebabkan adanya industrialisasi,
melainkan karena kurang menguntungkannya kondisi di saerah pedesaan. Kondisis
ini mempengaruhi factor-faktor dasar kota di Indonesia, antara lain dalam struktur
basis perekonomiannya, di mana terjadi dualisme perekonomian kota, yakni
ekonomi modern dan ekonomi tradisional. Kondisi ini memperbesar sector informal
di kota, yang pada gilirannya berpengaruh pada struktur fisik kota
2. Keadaan masyarakat khususnya kondisi struktur pemerintah di Indonesia dan
organisasi masyarakat tingkat pengetahuan serta kebutuhan dasarnya, dan
sebagainya.
3. Keadaan struktur pemerintah di Indonesia yang menganut system perangkan
pemerintah daerah (desentralisasi) dan perwakilan daerah (dekonsentrasi)

4. Belum mantapnya bidang dan proses perencanaan kota di Indonesia, sehingga


mekanisme pendukungnya belum berjalan lancer
5. Beragamnya jenis kota di Indonesia, terutama menyangkut besaran serta
kompleksitas permasalahannya. Hal ini bias dilihat dari beragamnya kota-kota yang
ada di Indonesia
Kelima kondisi di atas berpengaruh terhadap model perencanaan yang diterapkan di
Indonesia, karena dari berbagai kondisi tersebut diupayakan penerapan model yang
sesuai.
Bila kita mengkaji perencanaan pembangunan kota di Indonesia, menurut Sudjana
Rochyat, paling tidak terdapat dua pandangan dasar yang dapat diterpkan untuk
mengupas permasalahan dan mengenali berbagai problematika perkotaan.
Pertama, memandang kota sebagai dimensi fisik dari kehidupan kegiatan usaha
manusia yang memberikan berbagai implikasi pada aspek-aspek pembangunan.
Kedua, kota dipandang sebagai bagian dari suatu sistem yang menyeluruh dari
kehidupan masyarakat yang saling terkait dengan upaya pada aspek-aspek
pembangunan lainnya.
Namun, dilihat dari fungsi dan peranan kota sebagai pusat pemukiman penduduk,
pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, dan sebagainya, menunjukkan bahwa
kota tidak hanya dipandang dari dimensi fisik semata, tetapi lebih merupakan
bagian dari suatu system yang menyeluruh, yang hal ini akan dilihat pada
perjalanan pembangunan kota di Indonesia.
Daftar Pustaka
Allafa. 2008. Teori Perencanaan. http://one.indoskripsi.com/node/6055 ( 9 Maret
2010 )
Catanese, A. & Synder, J. 1979. Introduction to Urban Planning. Diterjemahkan oleh
Susongko, Ir. dengan judul: Pengantar Perencanaan Kota. Jakarta: Erlangga.
____________, 1989. Urban Planning, Second Edition. Diterjemahkan oleh Susongko,
Ir. dengan judul: Perencanaan Kota, Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Conyers, Diana. & Hill, Peter. 1984. An Introduction to Development Planning in The
Third World. Scotland: The Pitman Press Ltd, Bath, Avon
Gallion, A & Eisner, S. 1997. Introduction to Urban Planning. Diterjemahkan oleh
Susongko, Ir. dengan judul: Pengantar Perencanaan Kota. Jakarta: Erlangga.
Micania, 2008. Teori Perencanaan. http://micania.blogspot.com ( 9 Maret 2010 )
Nurmadi, Achmad. 2006. Manajemen Perkotaan. Yogyakarta: Sinergi Publishing
Sadyohutomo, Mulyono. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah. Bandung: Bumi
Aksara
Soedjono, Rochyat. 1995. Perencanaan Kota di Indonesia. Bandung: PT Alumni.

Dalam Sadyohutomo, Mulyono. Manajemen Kota dan Wilayah. Bandung: Bumi


Aksara