Anda di halaman 1dari 11

BAB II

N
O

TOPIK

AHLI
(Genifoam, 2010)
Kirk (dalam
Efendi, 2009, hlm.
2)

A.1

ABK

Hallahan &
Kauffman (dalam
Efendi, 2009,
hlm.2)

SINTESIS

(Somantri, 2006).

Salim (dalam
Somantri, 2006)
(Pratiwi &
Murtiningsih,
2013)
A.2

TUNARUNGU
(Departemen
Pendidikan
dan
Kebudayaan, 1984)

SINTESIS
B

MATEMATIKA

Johnson dan Rising


(Suherman, 2003,
hlm. 19)
Suherman (2003,
hlm. 253)
Johnson dan

TEORI
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik
khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu
menunjukkan ketidak mampuan mental, emosi, atau fisik
anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang dianggap memiliki
kelainan penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal pada
umumnya, dalam hal fisik, mental maupun karakteristik perilaku
sosialnya
...adalah anak yang berbeda dari rata-rata umumnya, dikarenakan ada
permasalahan dalam kemampuan berpikir, penglihatan, pendengaran,
sosialisasi, dan bergerak
anak dikategorikan memiliki kelainan dalam aspek fisik meliputi
kelainan indra penglihatan (tunanetra), kelainan indra pendengaran
(tunarungu), kelainan kemampuan berbicara (tunawicara), dan
kelainan fungsi anggota tubuh (tunadaksa). Anak yang memiliki
kelainan dalam aspek mental (supernormal) yang dikenal sebagai anak
berbakat atau anak unggul, dan anak yang memiliki kemampuan
mental sangat rendah (subnormal) yang dikenal sebagai tunagrahita.
Anak yang memiliki kelainan dalam aspek social adalah anak
memiliki kesulitan dalam menyesuaikan perilakunya terhadap
lingkungan sekitarnya. Anak yang termasuk dalam kelompok ini
dikenal sebagai tunalaras.
Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan
pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap
berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengarannya
anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau
kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan
atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran
sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya
Penyandang kelainan pendengaran atau tunarungu yaitu, seseorang
yang mengalami kehilangan kemampuan pendengaran, baik sebagian
(half of hearing) maupun kesuluruhan (deaf)
Anak dikatakan menderita kelainan pendengaran apabila anak itu
tidak mampu mendengar ataupun kurang mampu mendengar suara.
Ada orang yang tidak mampu mendengar detik jam, namun masih
dapat diajak bicara. Ada lagi yang sudah tidak mampu diajak
bercakap-cakap dengan suara biasa. Ia baru mendengar dengan suara
yang keras. Orang yang demikian disebut kurang pendengaran. Orang
yang sudah tidak mampu mendengar suara sama sekali, biarpun orang
lain bicara keras, disebut tuli
tunarungu adalah kondisi seseorang tidak dapat mendengar, baik
sebagian maupun total (tuli) sehingga menyebabkan terhambatnya
perkembangan diri yang berdampak pada fisik, psikis maupun
intelegensi, serta memerlukan inovasi khusus dalam penanganannya.
pola berpikir, pola mengorganisasi, pembuktian yang logik, bahasa
yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas,
dan akurat representasinya dengan simbol dan padat
Matematika adalah disiplin ilmu tentang tata cara berfikir dan
mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif
matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk

Myklebust dalam
Abdurrahman
(2002, hlm. 252)
SINTESIS
C

matematika adalah disiplin ilmu tentang pola pikir dan olah logika,
baik secara kuantitatif maupun kualitatif menggunakan istilah yang
didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, serta diekspresikan
dengan simbol-simbol.

BAHAN AJAR

Prastowo (2012)

National Center
for Competency
Based Training
(dalam
Triswardani, 2014)

Depdiknas (2009)
C.1

mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan


sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir

Pengertian

Pails Ache (dalam


Depdiknas, 2009)

SINTESIS

C.2

Jenis BA

C.3

Fungsi

Mulyasa (2006)

Prastowo (2012)

SINTESIS

Bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat maupun


teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh
dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan
dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk perencanaan dan
penelaahan implementasi pembelajaran
segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau
instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Bahan
yang dimaksud bisa berupa tertulis maupun tak tertulis

Bahan ajar merupakan seperangkat materi yang disusun secara


sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan
atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Depdiknas juga menambahkan bahwa bahan ajar merupakan
informasi, alat dan teks yang diperlukan guru atau instruktur untuk
perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah gabungan dari dua kata teaching materia.
Maknanya terdiri atas teaching yang berati mengajar dan material
yang berarti bahan. Jadi bahan ajar merupakan seperangkat materi
pembelajaran yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh
dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran
bahan ajar adalah segala sesuatu (baik informasi, alat maupun teks)
yang sengaja dibuat atau dikembangkan secara sistematis baik tertulis
maupun tidak tertulis yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi
yang akan dikuasai oleh peserta didik yang digunakan oleh instruktur
atau guru dalam proses belajar-mengajar untuk membantu peserta
didik menerima pelajaran yang diberikan
Mulyasa (2006) bentuk-bentuk bahan ajar atau materi pembelajaran
antara lain:
a Bahan ajar cetak (Printed)
b Bahan ajar dengar (Audio)
c Bahan ajar pandang dengar (Audiovisual)
d Bahan ajar interaktif (Interactive Teaching Material)
dua klasifikasi fungsi utama dalam bahan ajar:
a. Fungsi bahan ajar menurut pihak yang memanfaatkan
bahan ajar
b. Fungsi bahan ajar menurut strategi pembelajaran yang
digunakan
fungsi bahan ajar adalah sebagai alat untuk pendidik maupun peserta
didik dalam kegiatan pembelajaran, baik pembelajaran terbimbing
maupun pembelajaran individu. Selain itu, fungsi bahan ajar dapat
dibedakan berdasarkan kebutuhan pendidik, yakni untuk pedoman
bagi pendidik dalam memberikan materi dan menghemat waktu
belajar. Sedangkan bagi peserta didik, bahan ajar dapat berfungsi
sebagai alat belajar yang dapat dipelajari mandiri tanpa harus

Hamdani (2011)

Prastowo (dalam
Triswardani, 2014)

C.4

Unsur

Depdiknas (2009)

SINTESIS

C.5

Tujuan &
Manfaat

(Prastowo, 2012).

menggantungkan diri terhadap pendidik.


ruang lingkup bahan ajar:
a Identitas bahan ajar
b Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)
c Kompetensi yang akan dicapai
d Content atau isi materi pembelajaran
e Informasi pendukung
f Latihan-latihan
g Petunjuk kerja
h Evaluasi
i Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi
bahan ajar merupakan sebuah susunan atas bahan-bahan yang berhasil
dikumpulkan dan berasal dari berbagai sumber belajar yang dibuat
secara sistematis. Oleh karena itu, bahan ajar mengandung unsurunsur tertentu. Ada enam komponen yang perlu diketahui berkaitan
dengan unsur-unsur tersebut, yaitu:
a. Petunjuk belajar
b. Kompetensi yang akan dicapai
c. Informasi pendukung
d. Latihan-latihan
e. Petunjuk kerja atau lembar kerja
f. Evaluasi
dalam penyusunan bahan ajar cetak yang baik, beberapa hal yang
harus diperhatikan adalah:
Susunan tampilan,
Bahasa yang mudah,
Menguji pemahaman,
Stimulan,
Kemudahan dibaca,
Materi instruksional,
beberapa komponen yang harus ada dalam suatu bahan ajar adalah
sebagai berikut:
Identitas bahan ajar yang meliputi segala komponen
penyusunan bahan ajar;
petunjuk belajar yang mengarahkan peserta didik;
kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik;
informasi pendukung sebagai tambahan pelengkap bahan
ajar;
latihan-latihan dan lembar kerja untuk mengasah
kemampuan peserta didik, dan;
evaluasi sebagai bagian akhir untuk mengukur tingkat
penguasaan kompetensi peserta didik setelah mengikuti
pembelajaran;
Selain komponen di atas, dalam penyusunan suatu bahan ajar
cetak, hal yang harus diperhatikan antara lain: tampilan bahan ajar,
bahasa yang dipilih, teknik penyajian materi, keterbacaan (meliputi
pemilihan kata atau kalimat dan pemilihan jenis serta ukuran huruf),
materi instruksional dan relevansi dengan kondisi siswa.
Untuk tujuan pembuatan bahan ajar, setidaknya ada empat hal
pokok yang melingkupinya yaitu:
1) Membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu.
2) Menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar sehingga
mencegah timbulnya rasa bosan pada peserta didik.
3) Memudahkan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran.
4) Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik

Depdiknas (2009)

(Prastowo, 2012).

SINTESIS

C.6

Langkah
pembuatan

Prastowo (2012)

bahan ajar disusun dengan tujuan sebagai berikut:


1) Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan
kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik,
yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting
atau lingkungan sosial peserta didik.
2) Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan
ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.
3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.
manfaat atau kegunaan pembuatan bahan ajar dapat dibedakan
menjadi dua macam yaitu
1) Kegunaan bagi pendidik
a) Pendidik akan memiliki bahan ajar yang dapat membantu
dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.
b) Bahan ajar dapat diajukan sebagai karya yang dinilai untuk
menambah angka kredit pendidik guna keperluan kenaikan
pangkat.
c) Menambah penghasiln bagi pendidik jika hasil karyanya
diterbitkan.
2) Kegunaan bagi peserta didik
Apabila bahan ajar tersedia secara bervariasi, inovatif dan
menarik maka paling tidak ada tiga kegunaan bahan ajar bagi
peserta didik, diantaranya sebagai berikut:
a) Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
b) Peserta didik labih banyak mendapat kesempatan untuk
belajar secara mandiri dengan bimbingan pendidik.
c) Peserta didik mendapat kemudahan dalam mempelajari
setiap kompetensi yang harus dikuasainya.
tujuan dan manfaat penyusunan bahan ajar adalah memudahkan
peserta didik dalam belajar dan sebagai usaha untuk memvariasikan
pilihan bahan ajar agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
Selain itu, dengan penyusunan bahan ajar secara khusus, manfaat lain
yang diperoleh adalah terciptanya bahan ajar yang sesuai tuntutan
kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, pembelajaran
juga tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk
diperoleh, bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan
dengan menggunakan berbagai referensi, menambah khasanah
pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar, bahan
ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif
antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya
kepada gurunya.
langkah-langkah pokok pembuatan bahan ajar yang akan diuraikan di
bawah ini:
Tabel 2.2.
Langkah-langkah Pokok Pembuatan Bahan Ajar
Langkah

Proses

Kriteria

Langkah
Pertama

Langkah
Kedua

SINTESIS

D
D.1

LKPD
Pengertian

Triswardani (2014)

Menganalisis
kurikulum

Menganalisis:
a. Sandar Kompetensi
(SK)
b. Kompetensi Dasar
(KD)
c. Indikator
ketercapaian
d. Hasil belajar, materi
pokok, pengalaman
belajar

Menganalisis
sumber belajar

Berdasarkan:
a. Ketersediaan
sumber belajar
b. Kesesuaian dengan
tujuan pembelajaran
yang telah
ditetapkan
c. Mudah tidaknya
sumber belajar jika
digunakan

Sumber bela
ekonomis, p
mudah dipe
fleksibel

Tiga prinsip
dijadikan pe
a. Relevan
relasi de
pencapa
kompete
maupun
kompete
Bahan ajar harus
b. Konsiste
Memilih dan
menarik dan dapat
Langkah
ajar mem
menentukan bahan membantu peserta didik
Ketiga
keselara
ajar
untuk mencapai
kesamaa
kompetensi
(kompet
dan baha
c. Kecukup
ajar mem
untuk m
peserta d
menguas
kompete
Langkah-langkah pembuatan bahan ajar yang digunakan dalam
pembuatan bahan ajar dapat dikategorikan dalam tiga langkah, yaitu
(1) menganalisis kurikulum yang disesuaikan dengan kurikulum yang
diterapkan dalam pembelajaran; (2) menganalisis sumber belajar; (3)
memilih dan menentukan bahan ajar.
Lembar Kegiatan Peserta Didik atau Lembar Kerja Peserta Didik
(LKPD) yang banyak dikenal secara umum dengan istilah Lembar
Kerja Siswa (LKS) tentunya bukan hal asing lagi bagi peserta didik
maupun guru. Banyak penerbit yang telah menerbitkan buku dengan
sebutan LKS. LKS yang beredar juga memiliki berbagai macam
model dan beraneka ragam penataan isi materi sesuai kreativitas

(Prastowo, 2012)

SINTESIS

D.2

Pentingnya

Triswardani (2014)

SINTESIS

D.3

Unsur

(Prastowo, 2012)

SINTESIS

pengarangnya. Dalam Kurikulum 2013, penyebutan LKS mengalami


perubahan menjadi Lembar Kegiatan Peserta Didik atau Lembar Kerja
Peserta Didik seiring berkembangnya paradigma pendidikan terhadap
peserta didik dan guru. Dengan demikian antara LKS dan LKPD
adalah sama, hanya dalam penamaannya saja yang berbeda.
Lembar Kerja Peserta Didik adalah lembaran-lembaran berisi tugas
yang harus dikerjakan oleh peserta didik
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) alat berupa lembaran-lembaran
yang digunakan peserta didik sebagai pedoman dalam proses
pembelajaran, serta berisi tugas yang dikerjakan oleh peserta didik
berupa soal maupun kegiatan yang akan dilakukan peserta didik
sebagai suplemen untuk menunjang kegiatan pembelajaran.
a. Fungsi LKPD
LKPD memiliki setidaknya empat fungsi sebagai berikut:
1) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik,
namun lebih mengaktifkan peserta didik.
2) Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk
memahami materi yang diberikan.
3) Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih.
4) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik.
b. Tujuan penyusunan LKPD
Dalam hal ini, paling tidak ada empat poin yang menjadi tujuan
penyusunan LKPD yaitu:
1) Menyajikan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk
berinteraksi dengan materi yang diberikan.
2) Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan peserta
didik terhadap materi yang diberikan.
3) Melatih kemandirian belajar peserta didik.
Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada peserta didik.
pentingnya LKPD bagi kegiatan pembelajaran dapat dipandang dari
fungsi dan tujuannya. Fungsi LKPD sebagai bahan ajar yang
memudahkan kegiatan pembelajaran yang dialami peserta didik dalam
memahami materi dengan meminimalisir peran guru. Tujuan LKPD
dapat dinyatakan sebagai bahan ajar yang memaksimalkan
kemandirian peserta didik dalam belajar.
Unsur-unsur yang terkandung dalam LKPD sebagai bahan ajar
adalah sebagai berikut:
Tabel 2.3.
Unsur-unsur LKPD
LKPD Sebagai Bahan Ajar
Unsur-unsur LKPD
Format LKPD
1. Judul
1. Judul
2. Petunjuk belajar
2. Kompetensi dasar yang akan
3. Kompetensi dasar atau materi
dicapai
pokok
3. Waktu penyelesaian
4. Informasi pendukung
4. Peralatan atau bahan yang
5. Tugas atau langkah kerja
diperlukan untuk
6. Penilaian
menyelesaikan tugas.
5. Informasi singkat
6. Langkah kerja
7. Tugas yang harus dilakukan
8. Laporan yang harus dikerjakan
unsur-unsur yang terdapat di dalam LKPD adalah sebagai berikut: (1)

judul; (2) petunjuk belajar (termasuk Kompetensi Inti dan Kompetensi


Dasar); (3) materi pokok; (4) pendukung; (5) latihan dan tugas dan (6)
evaluasi.
Tabel 2.4.
Langkah-langkah Penyusunan LKPD
Kegiatan
Melakukan analisis
kurikulum

Diknas (dalam
Triswardani, 2014)

D.4

Langkah
membuat &
mengembangka
n

No
1

(Prastowo, 2012) 2

Penjabaran
Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan
materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar
LKPD. Analisis dalam memilih materi dilakukan
dengan cara melihat materi pokok, pengalaman
belajar, serta materi yang akan diajarkan.
Selanjutnya kompetensi yang harus dimiliki
peserta didik juga dicermati.
Menyusun peta
Langkah ini untuk mengetahui jumlah LKPD
kebutuhan LKPD
yang harus ditulis serta melihat keruntutan LKPD
yang akan dibuat. Urutan LKPD sangat
dibutuhkan
dalam
menentukan
prioritas
penulisan. Langkah ini biasanya diawali dengan
analisis sumber belajar.
Menentukan judulJudul LKPD ditentukan atas dasar kompetensijudul LKPD
kompetensi dasar, materi-materi pokok atau
pengalaman belajar yang terdapat dalam
kurikulum.
Menuliskan LKPD
1. Merumuskan kompetensi dasar.
2. Menentukan alat penelitian, penilaian
dilakukan terhadap proses kerja dan hasil
kerja peserta didik.
3. Menyusun materi, isi materi LKPD
tergantung pada kompetensi dasar yang akan
dicapai. Materi dapat diambil dari berbagai
sumber, seperti buku, majalah, internet,
jurnal hasil penelitian dan sebagainya.
4. Memperhatikan struktur LKPD
Tabel 2.5.
Langkah-langkah Pengembangan LKPD
Langkah-langkah Pengembangan LKPD
Langkah
Penjabaran
Penentuan tujuan
Tujuan pembelajaran disesuaikan dengan
pembelajaran yang akan
indikator yang akan dicapai peserta didik
dicapai dalam LKPD
serta tingkat kemampuan membaca peserta
didik dan pengetahuan peserta didik.
Pengumpulan materi
Dalam tahap ini yang kita lakukan adalah
menentukan materi dan tugas yang akan kita
masukkan ke dalam LKPD. Materi dan tugas
harus sejalan dengan tujuan pembelajaran.
Kumpulkan bahan atau materi dan buat
rincian tugas yang harus dilaksanakan oleh
peserta didik. Bahan yang dimuat dalam
LKPD dapat dikembangkan sendiri atau
memanfaatkan materi yang sudah ada.

SINTESIS

Penyusunan elemen atau


unsur-unsur

Pemeriksaan dan
penyempurnaan

Mengintegrasikan hasil dari langkah pertama


dengan hasil dari langkah kedua.

Sebelum LKPD diberikan kepada peserta


didik, perlu dilakukan pengecekan kembali
LKPD yang sudah dikembangkan. Ada
empat variabel yang harus dicerrmati
sebelum LKPD diberikan kepada peserta
didik:
a. Kesesuaian desain dengan tujuan
pembelajaran yang berangkat dari
kompetensi dasar.
b. Kesesuaian materi dan tujuan
pembelajaran.
c. Kesesuaian elemen atau unsur dengan
tujuan pembelajaran.
d. Kejelasan penyampaian.
pembuatan dan pengembangan bahan ajar LKPD dapat ditempuh
dengan berbagai langkah analisis (analisis kurikulum, analisis bahan
ajar yang digunakan, dan analisis karakteristik siswa), kemudian
pembuatan desain serta penyesuaian muatan unsur materi yang
dituliskan berdasarkan tujuan pembelajaran untuk kemudian diperiksa
oleh ahli dan disempurnakan atas dasar masukan dan perbaikan atas
LKPD yang dibuat. Langkah-langkah pengembangan LKPD mengacu
kepada penyesuaian yang dilakukan berdasarkan karakteristik siswa
yang akan menerima LKPD dalam pembelajaran. Proses
pengembangan didasarkan pada seluruh temuan yang ada agar LKPD
yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa.

BAB III
N
O

TOPIK

AHLI

Borg and Gall


(1989)

Sugiyono (2008,
hlm. 407)

Borg & Gall dalam


Setyosari, 2010)
A.1

Metode R&D

Sukmadinata
(2008)

SINTESIS

A.2

Prosedur

Borg & Gall


(dalam
Mulyatiningsih,
2012)

Triswardani, V.
Y. (2014)

TEORI
bahwa penelitian pengembangan pendidikan (R&D) adalah sebuah
proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi
produk pendidikan. Hasil dari penelitian pengembangan tidak hanya
pengembangan sebuah produk yang sudah ada melainkan juga untuk
menemukan pengetahuan atau jawaban atas permasalahan praktis.
Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan
untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk
tersebut. Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan
penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji
keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi di masyarakat
luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji keektifan produk
tersebut.
Penelitian pengembangan adalah suatu proses yang dipakai untuk
mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Penelitian ini
mengikuti suatu langkah-langkah secara siklus. Langkah-langkah
penelitian atau proses pengembangan ini terdiri atas kajian tentang
temuan penelitian produk yang dikembangkan, pengembangan produk
berdasarkan temuan-temuan tersebut, melakukan uji coba lapangan
sesuai dengan latar produk tersebut akan dipakai, dan melakukan
revisi terhadap hasil uji lapangan
penelitian dan pengembangan (R&D) merupakan pendekatan
penelitian untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan
produk yang telah ada. Produk yang dihasilkan bisa berbentuk
software maupun hardware. Produk software seperti program untuk
pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau
laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran
pelatihan, bimbingan, evaluasi, manajemen,dan sebagainya.
Sedangkan produk hardware seperti buku, modul, alat bantu
pembelajaran di kelas dan laboratorium, paket, atau program
pembelajaran. Penelitian dan pengembangan berbeda dengan
penelitian biasa yang hanya menghasilkan saran-saran bagi perbaikan,
penelitian dan pengembangan menghasilkan produk yang langsung
bisa digunakan
Metode penelitian dan pengembangan ini merupakan sebuah metode
dalam penelitian untuk menghasilkan suatu produk yang terdiri dari
beberapa tahap, yang biasanya diawali dengan analisis kebutuhan, lalu
dari analisis kebutuhan dilanjutkan dengan proses pengembangan dan
diakhiri dengan uji coba
Model pengembangan ini memiliki sepuluh tahap yang terdiri dari (1)
Research and information Collection (penelitian dan pengumpulan
data informasi awal), (2) Planning (perencanaan), (3) Development
preliminary Form of Product (pengembangan format produk awal),
(4) Preliminary Field Testing (uji coba awal oleh validitas ahli), (5)
Main Product Revision (revisi produk), (6) Main Field Testing (uji
coba lapangan skala kecil), (7) Operasional Product Revision (revisi
produk), (8) Operasional Field testing (uji coba lapangan skala luas),
(9) Final Product Revision (revisi produk akhir), dan (10)
Dissemination and implementation (diseminasi dan implementasi).
model pengembangan Borg & Gall yang telah mengalami penyesuaian
seperlunya:

(Astuti &
Trisnawati, 2013)
B

DESAIN
SINTESIS

secara umum bahan ajar ini dikembangkan dengan menggunakan


beberapa prosedur pengembangan yang meliputi (1) tahap penelitian
dan pengumpulan data informasi awal (studi pendahuluan dan
penentuan karakteristik bahan ajar), (2) tahap perencanaan, (3) tahap
pengembangan produk, (4) tahap uji validasi ahli, (5) tahap revisi
produk, (6) tahap implementasi, dan (7) tahap penilaian.

LOKASI &
SUBJEK
INSTRUMEN

KBBI

Hadjar (1996, hlm.


160)
Arikunto (2010)

Suryabrata (2008)
D

SINTESIS

(Departemen
Pendidikan
Nasional, 2009).
Ins. Keefektifan
(Tanzeh, 2009).

a. Research and Infomation Collection (penelitian dan


pengumpulan data informasi awal);
b. Planning (Perencanaan);
c. Develop preliminary form of Product (pengembangan format
produk awal);
d. Preliminary Field Testing (uji coba awal oleh validator ahli);
e. Main Product Revision (revisi produk);
f. Dissemination and implementation (diseminasi dan
implementasi).
BAGAN

Ins. Penilaian
PD
Met. Kump Dat

Sugiyono (2012,
134)
(Septiandari,
2013).

instrumen adalah alat yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu (seperti


alat yang dipakai oleh pekerja teknik, alat-alat kedokteran, optik, dan
kimia), perkakas, sarana penelitian (berupa seperangkat tes dan
sebagainya) untuk mengumpulkan data sebagai bahan pengolahan.
instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan
informasi kuantitatif tentang variasi karakteristik variabel secara
objektif
instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar
kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya
instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk merekam-pada
umumnya secara kuantitatif-keadaan dan aktivitas atribut-atribut
psikologis. Atibut-atribut psikologis itu secara teknis biasanya
digolongkan menjadi atribut kognitif dan atribut non kognitif. Sumadi
mengemukakan bahwa untuk atribut kognitif, perangsangnya adalah
pertanyaan, sedangkan untuk atribut non-kognitif, perangsangnya
adalah pernyataan
Secara singkat, instrumen dapat diartikan sebagai alat untuk mengukur
penilaian terhadap penelitian. Instrumen dalam penelitian ini terbagi
menjadi empat jenis yaitu (1) instrumen studi lapangan (studi
pendahuluan), (2) instrumen validasi ahli, (3) instrumen penilaian
peserta didik, dan (4) instrumen keefektifan bahan ajar.
Tes adalah pertanyaan yang harus dijawab, atau pernyataanpernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus
dilakukan oleh orang yang dites (tester) dengan tujuan untuk
mengukur suatu objek (perilaku) tertentu dari orang yang dites
Pengertian tes sebagai metode pengumpul data adalah serentetan atau
latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,
sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau
kelompok
skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang suatu fenoma.
Data kualitatif adalah data yang digambarkan dengan kata-kata atau
kalimat yang diperoleh dari hasil observasi, dipisahkan menurut
kategori tertentu untuk memperoleh kesimpulan. Data yang berupa

E.1

Tek. Analisis
Dat

Suprayogo (dalam
Triswardani, 2014)

kuantitatif adalah data yang diperoleh dari hasil verifikasi dan validasi
serta uji coba implementasi produk diproses dengan statistika
deskriptif serta visualisasi data seperti tabel atau grafik
Analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan,
sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena
memiliki sebuah nilai sosial, akademis dan ilmiah. Proses analisis data
dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai
sumber yaitu dari angket, wawancara, observasi dan tes.