Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Adsorben
Adsorben merupakan zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu dari
suatu fase fluida. Kebanyakan adsorben adalah bahan- bahan yang sangat berpori dan
adsorpsi berlangsung terutama pada dinding pori- pori atau pada letak-letak tertentu
di dalam partikel itu. Oleh karena pori-pori biasanya sangat kecil maka luas
permukaan dalam menjadi beberapa orde besaran lebih besar daripada permukaan
luar dan bisa mencapai 2000 m/g. Pemisahan terjadi karena perbedaan bobot molekul
atau karena perbedaan polaritas yang menyebabkan sebagian molekul melekat pada
permukaan tersebut lebih erat daripada molekul lainnya (Saragih, 2008).
Adsorben dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu adsorben tidak berpori (nonporous sorbents) dan adsorben berpori (porous sorbents) (Arfan, 2006).
1. Adsorben tidak berpori (non-porous sorbents)
Adsorben tidak berpori dapat diperoleh dengan cara presipitasi deposit
kristalin seperti BaSO4 atau penghalusan pada Kristal. Luas permukaan
spesifiknya kecil, tidak lebih dari 10 m 2/g dan umumnya antara 0.1 s/d 1 m 2/g.
Adsorben tidak berpori seperti filter karet (rubber filters) dan karbon hitam
bergafit adalah jenis adsorben tidak berpori yang telah mengalami perlakuan
khusus sehingga luas permukaannya dapat mencapai ratusan m2/g.
2. Adsorben berpori (porous sorbents)
Luas permukaan spesifik adsorben berpori berkisar antara 100 s/d 1000
m2/g. biasanya digunakan sebagai penyangga katalis, dehydrator dan penyeleksi
komponen. Adsorben ini umumnya berbentuk granular. Klasifikasi pori menurut
international union of pure and applied Chemistry (IUPAC) adalah :
7

Mikropori : Diameter < 2 nm


Mesopori : Diameter 2 < d < 50 nm
Makropori : Diameter d > 50 nm
Beberapa jenis adsorben berpori yang telah digunakan secara komersial antara
lain adalah silika gel, zeolit dan karbon aktif.
a. Silika gel
Silika gel merupakan cenderung mengikat adsorbat dengan energi yang relatif
lebih kecil dan membutuhkan temperatur yang rendah untuk proses desorpsinya,
dibandingkan jika menggunakan adsorben lain seperti karbon atau zeolit.
Kemampuan desorpsi silica gel meningkat dengan meningkatnya temperature
(Ginting, 2008).
b. Zeolit
Zeolit mengandung kristal zeolit yaitu mineral aluminosilicate yang disebut
sebagai penyaring molekul. Mineral aluminosilicate ini terbentuk secara alami.
Zeolit buatan dibuat dan dikembangkan untuk tujuan khusus, diantaranya 4A, 52,
10X dan 13X yang memiliki volume rongga antara 0,05 sampai 0,30 cm3/gram dan
dapat dipanaskan sampai 500 0C tanpa harus kehilangan mampu adsorpsi dan
regenerasinya (Ginting, 2008).
c. Arang Aktif (karbon Aktif)
Adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam larutan
adalah arang aktif atau karbon aktif. Selain karena harganya yang murah,
kegunaannya juga banyak. Karbon aktif atau arang aktif dibuat dengan cara
membakar tempurung kelapa, ampas tebu, sekam padi atau tongkol jagung dengan
kondisi udara (oksigen) yang terbatas (semi vakum). Arang aktif banyak di gunakan
dalam berbagai bidang baik bidang industri ataupun kesehatan. Arang aktif sangat
cocok untuk mengadsorpsi zat-zat organik.

Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85 95 % karbon


dan dihasilkan dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan pemanasan pada
suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi
kebocoran udara didalam ruang pemanasan sehingga bahan yang mengandung
karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi.
Arang aktif atau sering disebut karbon aktif merupakan material yang berbentuk
butiran atau bubuk yang berasal dari bahan-bahan yang mengandung karbon dengan
proses aktifasi seperti perlakuan dengan tekanan dan suhu tinggi, dapat diperoleh
arang aktif yang memiliki permukaan yang luas. Luas permukaan arang aktif
berkisar antara 300-3500 m2/gram dan ini berhubungan dengan struktur pori
internal. Arang aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa kimia tertentu
atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori-pori dan luas
permukaan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 251000 % terhadap berat
arang aktif (Sembiring, 2003).
Adapun komposisi atau kandungan zat dalam arang aktif berdasarkan analisa
dari beberapa jenis arang aktif dapat dilihat pada Tabel 1. berikut ini :

Jenis Bahan
Baku
Ampas tebu
Batang kelapa
sawit
Serbuk gergaji
kayu
Tempurung

Tabel 1. Komposisi Arang Aktif


Persen (%)
Senyawa
Senyawa
Karbon Hidrogen
Organik
anorganik
88.4
7.8
0.08
0.12

Abu
3.2

94.4

1.1

0.04

3.3

87.5

2.2

0.12

0.04

95.3

0.6

0.19

0.43

1.2

kelapa
Tongkol jagung

91.7

1.7

0.02

0.05

3.2

(Sumber : Sembiring, 2003)

Bahan baku yang berasal dari hewan, tumbuh-tumbuhan, limbah ataupun


mineral yang mengandung karbon dapat dibuat menjadi arang aktif. Bahan baku
tersebut antara lain sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa,
cangkang kelapa sawit, cangkang kopi, cangkang kemiri, ampas tebu, kulit durian,
serbuk gergaji, kayu keras, kayu campuran, kayu lunak, kayu jati, kayu karet dan
sebagainya. Dengan pemanfaatan limbah tersebut, maka akan dihasilkan produk yang
bernilai ekonomis dalam bentuk arang yang kemudian dapat diproses lebih lanjut
menjadi arang aktif.
Menurut Sembiring (1998), ada 2 macam metode pembuatan arang aktif yang
yaitu :
1). Metode Tradisional
Metode pembuatan arang aktif tradisional dapat dibuat dengan menggunakan
drum. Bahan yang akan dibakar dimasukkan kedalam drum yang terbuat dari plat
besi. Kemudian dinyalakan sehingga bahan baku tersebut terbakar. Pada saat
pembakaran, drum tersebut ditutup rapat dan hanya ventilasi yang dibiarkan
terbuka sebagai jalan keluarnya asap. Ketika asap yang keluar berwarna kebirubiruan, ventilasi ditutup dan dibiarkan selama kurang lebih 8 jam atau satu
malam. Dengan hati-hati tutup drum dibuka dan dicek apakah masih ada bara
yang menyala. Jika masih ada bara yang menyala, drum ditutup kembali. Perlu

10

diperhatikan tidak dibenarkan mematikan bara yang sedang menyala dengan


menggunakan air karena dapat menurunkan kualitas arang tersebut.
2) Metode Yang Telah Diperbaharui
Metode pembuatan arang aktif yang telah diperbaharui dapat dilakukan
dengan dua tahap yaitu:
a). Tahap Pengarangan atau karbonisasi
Pada tahap ini, bahan baku mengalami dekomposisi dan menghasilkan
arang yang memiliki keaktifan atau daya serap yang rendah dan luas
permukaan hanya beberapa mm2/gr karbon, sedangkan unsur-unsur nonkarbon, hidrogen, oksigen sebagian dilepaskan dalam bentuk gas untuk
melepaskannya.
b). Tahap Pengaktifan (Aktifasi)
Proses aktifasi merupakan hal yang penting diperhatikan disamping bahan
baku yang digunakan. Yang dimaksud dengan aktifasi adalah suatu perlakuan
terhadap arang yang bertujuan untuk memperbesar pori, yaitu dengan cara
memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul-molekul
permukaan sehingga mengalami perubahan sifat, baik sifat kimia maupun
sifat fisika yaitu luas permukaannya bertambah besar dan berpengaruh
terhadap daya adsorpsi. Metode aktifasi yang umum digunakan dalam
pembuatan arang aktif ada dua jenis yaitu aktifasi Kimia dan aktifasi fisika.
Aktifasi kimia merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa
organik dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Aktifator yang digunakan
11

adalah bahan-bahan kimia seperti hidroksida logam alkali, garam-garam


karbonat, klorida, sulfat, fosfat dari logam alkali tanah dan khususnya ZnCl 2,
asam-asam anorganik seperti H2SO4 dan H3PO4. Sedangkan Aktifasi fisika
merupakan proses pemutusan rantai karbon dari senyawa organik dengan
bantuan panas, uap dan CO2. Bahan baku terlebih dahulu dibuat menjadi
arang, kemudian arang tesebut digerus lalu diayak dan selanjutnya diaktifasi.
Pada aktifasi ini biasanya arang dipanaskan dalam furnace dengan temperatur
600 - 900 0C.

Menurut Standar Industri Indonesia (SlI No. 0258-79) persyaratan arang aktif
dapat dilihat pada Tabel 2. dibawah ini :
Tabel 2. Syarat Mutu Arang Aktif
No

Jenis Uji

Satua
n

Persyaratan

Bagian yang hilang pada


pemanasan 950C

Maksimum 15

Air

Maksimum 10

Abu

Maksimum 2,5

Bagian yang tidak


mengarang

Tidak ternyata

Daya serap terhadap


larutan I2

Maksimum 20

(Sumber : Sembiring, M.T., 2003)

12

Menurut Standard Nasional Indonesia (SNI 06-3730-1995 ) persyaratan arang


aktif dapat dilihat pada Tabel 3. dibawah ini :
Tabel 3. syarat mutu arang berdasarkan SNI
No

Jenis Persyaratan

Parameter

1 Kadar Air

Maksimum 15 %

2 Kadar Abu

Maksimum 10 %

3 Kadar Zat Menguap Maksimum 25 %


4 Kadar Karbon Terikat Minimum 65 %
5

Daya Serap Terhadap


Minimum 750 mg/g
Yodium

Daya Serap Terhadap


Minimum 25 %
Benzena

(sumber : Anonim 1995 ).


Arang aktif banyak digunakan oleh berbagai kalangan industri. Hampir 60%
produksi arang aktif di dunia ini dimanfaatkan oleh industri-industri gula,
pembersihan minyak dan lemak, kimia dan farmasi, juga sebagai penjernih air.
Adapun kegunaan arang aktif secara umum adalah sebagai berikut:
1. Industri Gula
Pemakaian arang aktif pada industri gula dimulai pada tahun 1974 di Inggris.
Selain dapat menghilangkan zat-zat warna, arang aktif juga dapat menyerap
senyawa-senyawa nitrogen, sehingga proses penyaringan menjadi lebih
sempurna. Basa yang timbul pada proses penguapan akan berkurang serta akan
mempercepat proses kristalisasi. Pada industri gula bit dan glukosa, ternyata

13

pemakaian arang aktif memberikan hasil lebih memuaskan dan operasionalnya


lebih fleksibel.
2. Industri Minyak dan Lemak
Pada pengolahan minyak nabati, hasil yang lebih ekonomis akan diperoleh
bila pada proses pemurniannya digunakan campuran arang aktif. Dalam hal ini
fungsi arang aktif adalah menghilangkan zat-zat warna dan feroksid. Untuk
minyak yang mengalami hidrolisa, pemakaian arang aktif berfungsi untuk
menghilangkan katalis yang masih tersisa pada minyak. Pada umumnya
pemurnian dengan arang aktif dilaksanakan pada temperatur 70 120 0C.
3. Industri Kimia dan Farmasi
Arang aktif digunakan untuk menyerap kotoran-kotoran yang tidak diingikan
yang berupa koloid, arang aktif dapat juga berfungsi sebagai filter sehingga
proses kristalisasi dapat dipercepat. Penggunaan karbon aktif dalam industri
kimia dan farmasi sering dijumpai dalam pembuatan kafein, asam sitrat, gliserin,
4.

asam laktat, dan antibiotika penisilin dan streptomysin.


Penjernih Air
Pemakaian klorin sebagai disinfektan pada penjernih air akan menimbulkan
bau dan rasa yang tidak enak, ini ditimbulkan oleh reaksi antara klorin dengan
mikro organisme. Untuk mencegah hal ini maka pada tahapan proses yang
terakhir dapat digunakan karbon aktif sebagai adsorben dari reaksi yang
ditimbulkan klorin dengan mikro organisme.

B. Adsorpsi

14

Adsorpsi merupakan sebuah proses yang terjadi ketika molekul dari zat cair
atau gas terakumulasi pada suatau permukaan padatan/cairan, sehingga membentuk
suatu lapisan tipis yang terbentuk dari molekul-molekul atau atom. Adsorpsi adalah
fenomena fisik yang terjadi saat molekul-molekul gas atau cair dikontakkan dengan
suatu permukaan padatan dan sebagian dari molekul-molekul tadi mengembun pada
permukaan padatan tersebut (Suryawan, 2004).
Zat yang terakumulasi pada permukaan disebut adsorbat, sedangkan material
permukaan padatan/cairan disebut adsorben. Proses adsorpsi berbeda dengan proses
adsorpsi, dimana proses adsorpsi merupakan reaksi kimia antara molekul-molekul
adsorbat dengan permukaan adsorben.
Molekul-molekul pada adsorben mempunyai gaya dalam keadaan tidak
setimbang dimana gaya kohesi cenderung lebih besar daripada gaya adhesi. Gaya
kohesi adalah gaya tarik menarik antar molekul yang sama jenisnya, gaya ini
menyebabkan antara zat yang satu dengan zat yang lainnya tidak dapat terikat karena
molekulnya saling tolak menolak. Gaya adhesi adalah gaya tarik menarik antara
molekul yang berbeda jenisnya, gaya ini menyebabkan antara zat yang satu dengan
zat yang lainnya dapat terikat dengan baik karena molekulnya saling tarik menarik.
Ketidaksetimbangan gaya-gaya tersebut menyebabkan adsorben cenderung menarik
zat-zat lain atau gas yang bersentuhan dengan permukaannya (Perwitasari, 2007).
a. Jenis Adsorpsi
Berdasarkan interaksi molecular antara permukaan adsorben dengan adsorbat,
adsorpsi dibagi menjadi menjadi 2 jenis, yaitu (hendra, 2008) :
15

1. Adsorpsi Fisik (physisorption)


Adsorpsi fisik merupakan adsorpsi yang terjadi karena adanya gaya Van Der
Waals, yaitu gaya tarik menarik yang relative lemah antara adsorbat dengan
permukaan adsorben. Adsorpsi ini terjadi apabila suatu adsorbat dialirkan pada
permukaan adsorben yang bersih. Pada adsorpsi fisik, adsorbat tidak terikat kuat
pada permukaan adsorben sehingga adsorbat dapat bergerak dari suatu bagian
permukaan kebagian permukaan lainnya, dan pada permukaan yang
ditinggalkan oleh adsorbat yang satu dapat digantikan oleh adsorbat lainnya
(multilayer).
b. Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimia merupakan adsorpsi yang terjadi karena terbentuknya ikatan
kovalen dan ion antara molekul-molekul adsorbat dengan adsorben. Ikatan yang
terbentuk merupakan ikatan yang kuat sehingga lapisan yang terbentuk adalah
lapisan monolayer. Perbedaan Adsorpsi Fisika dan Kimia dapat dilihat pada
pada Tabel 4. dibawah ini :
Tabel 4. Perbandingan Adsorpsi Fisika dan Kimia

Adsorpsi Fisika

Adsorpsi Kimia

Molekul terikat pada adsorben oleh gaya


Van der Walls

Molekul terikat pada adsorben oleh


ikatan kimia

Mempunyai entalpi reaksi -4 sampai


40 kJ/mol

Mempunyai entalpi reaksi -40 sampai


800kJ/mol

Dapat membentuk lapisan multilayer

Membentuk lapisan Monolayer


16

Adsorpsi hanya terjadi pada suhu


dibawah titik didih adsorbat

Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi

Jumlah adsorpsi pada permukaan


merupakan fungsi adsorbat

Jumlah adsorpsi pada permukaan


merupakan karakteristik adsorben dan
adsorbat

Tidak melibatkan energi aktivasi tertentu Melibatan energi aktivasi tertentu


Bersifat tidak spesifik

Bersifat sangat spesifik

(sumber : Atkins, 1999)


c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Adsorpsi
1. Waktu Kontak
Waktu kontak merupakan suatu hal yang sangat menentukan dalam proses
adsorpsi. Waktu kontak memungkinkan proses difusi dan penempelan molekul
adsorbat berlangsung lebih baik. Ukuran partikel merupakan syarat yang
penting dari suatu arang aktif untuk digunakan sebagai adsorben. Ukuran
partikel arang mempengaruhi kecepatan dimana adsorpsi terjadi. Kecepatan
adsorpsi meningkat dengan menurunnya ukuran partikel.
2. Luas Permukaan
Semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak adsorbat yang diserap,
sehingga proses adsorpsi dapat semakin efektif. Semakin kecil ukuran diameter

17

adsorben maka semakin luas permukaannya. Kapasitas adsorpsi total dari suatu
adsorbat tergantung pada luas permukaan total adsorbennya.
3. Kelarutan Adsorbat
Agar adsorpsi dapat terjadi, suatu molekul harus terpisah dari larutan.
Senyawa yang mudah larut mempunyai afinitas yang kuat untuk larutannya dan
karenanya lebih sukar untuk teradsorpsi dibandingkan senyawa yang sukar
larut. Akan tetapi ada perkeculian karena banyak senyawa yang dengan
kelarutan rendah sulit diadsorpsi, sedangkan beberapa senyawa yang sangat
mudah larut diadsorpsi dengan mudah. Usaha-usaha untuk menemukan
hubungan kuantitatif antara kemampuan adsorpsi dengan kelarutan hanya
sedikit yang berhasil.
4. Ukuran Molekul Adsorbat
Ukuran molekul adsorbat benar-benar penting dalam proses adsorpsi ketika
molekul masuk ke dalam mikropori suatu partikel arang untuk diserap. Adsorpsi
paling kuat ketika ukuran pori-pori adsorben cukup besar sehingga
memungkinkan molekul adsorbat untuk masuk.
Ukuran molekul yang sesuai merupakan hal penting agar proses adsorpsi
dapat terjadi, karena molekul-molekul yang dapat diadsorpsi adalah molekulmolekul yang diameternya lebih kecil atau sama dengan diameter pori adsorben.

18

5. pH
pH di mana proses adsorpsi terjadi menunjukkan pengaruh yang besar
terhadap adsorpsi itu sendiri. Hal ini dikarenakan ion hidrogen sendiri diadsorpsi
dengan kuat, sebagian karena pH mempengaruhi ionisasi dan karenanya juga
mempengaruhi adsorpsi dari beberapa senyawa. Asam organik lebih mudah
diadsorpsi pada pH rendah, sedangkan adsorpsi basa organik terjadi dengan
mudah pada pH tinggi. pH optimum untuk kebanyakan proses adsorpsi harus
ditentukan dengan uji laboratorium.
6. Temperatur
Temperatur di mana proses adsorpsi terjadi akan mempengaruhi kecepatan
dan jumlah adsorpsi yang terjadi. Kecepatan adsorpsi meningkat dengan
meningkatnya temperatur, dan menurun dengan menurunnya temperatur.
Namun demikian, ketika adsorpsi merupakan proses eksoterm, derajat adsorpsi
meningkat pada suhu rendah dan akan menurun pada suhu yang lebih tinggi.

d. Metode Adsorpsi

19

Metode Adsorpsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu statis (batch) dan
dinamis (kolom).
1. Cara statis yaitu ke dalam wadah yang berisi sorben dimasukkan larutan yang
mengandung komponen yang diinginkan, selanjutnya diaduk dalam
tertentu, kemudian dipisahkan dengan cara penyaringan atau

waktu

dekantasi.

Komponen yang telah terikat pada sorben dilepaskan kembali dengan


melarutkan sorben dalam pelarut tertentu dan volumenya lebih

kecil dari

volume larutan mula-mula.


2. Cara dinamis (kolom) yaitu ke dalam kolom yang telah diisi dengan adsorben
dilewatkan larutan yang mengandung komponen tertentu selanjutnya komponen
yang telah terserap dilepaskan kembali dengan mengalirkan pelarut sesuai yang
volumenya lebih kecil.
Karena selektivitasnya yang tinggi, proses adsorpsi sangat sesuai untuk
memisahkan bahan dengan konsentrasi yang kecil dari campuran yang
mengandung bahan lain yang berkonsentrasi tinggi. Bentuk lain dari adsorpsi
adalah pertukaran ion (ion exchange).
Kecepatan adsorpsi tidak hanya bergantung pada perbedaan konsentrasi dan
luas permukaan adsorben, melainkan juga pada suhu, pH larutan, tekanan
(untuk gas), ukuran partikel, dan porositas adsorben tetapi juga bergantung pada
ukuran molekul bahan yang akan diadsorpsi dan viskositas campuran yang akan
dipisahkan (Handojo, 1995).

20

C. Logam Berat
Kontaminasi logam berat pada lingkungan perairan merupakan masalah besar
dunia saat ini. Persoalan spesifik logam berat di lingkungan terutama karena
akumulasinya sampai pada rantai makanan dan keberadaannya di alam, serta
meningkatnya sejumlah logam berat yang menyebabkan keracunan terhadap tanah,
udara dan air meningkat. Proses industri dan urbanisasi memegang peranan penting
terhadap peningkatan kontaminasi tersebut. Suatu organisme akan kronis apabila
produk yang dikonsumsikan mengandung logam berat.
Logam berat adalah unsur alami dari kerak bumi. Logam yang stabil dan tidak
bisa rusak atau hancur, oleh karena itu mereka cenderung menumpuk dalam tanah
dan sedimen. Banyak istilah logam berat telah diajukan, berdasarkan kepadatan,
nomor atom, berat atom, sifat kimia atau racun. Logam berat yang dipantau meliputi:
Antimony (Sb), Arsenik (As), Cadmium (Cd), Cobalt (Co), Chromium (Cr), Copper
(Cu), Nickel (Ni), Lead (Pb), Mangan (Mn), Molybdenum (Mo), Scandium (Sc),
Selenium (Se), Titanium (Ti), Tungsten (W), Vanadium (V), Zinc (Zn). Besi (Fe),
Nikel (Ni), Stronsium (Sr), Timah (Sn), Tungsten (W), dan Vanadium (V).
Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul tinggi. Dalam kadar
rendah logam berat pada umumnya sudah beracun bagi tumbuhandan hewan,
termasuk manusia. Termasuk logam berat yang sering mencemari habitat ialah Hg,
Cr, Cd, As dan Pb (American.geolical.Institute, 1976). Tingginya kandungan logam

21

berat di suatu perairan dapat menyebabkan kontaminasi, akumulasi bahkan


pencemaran terhadap lingkungan seperti biota, sedimen, air dan sebagainya.
Berdasarkan kegunaannya, logam berat dapat dibedakan atas dua golongan,
yaitu (Laws, 1981) :
1. Golongan yang dalam konsentrasi tertentu berfungsi sebagai mikronutrien
yang bermanfaat bagi kehidupan organisme perairan, seperti Zn, Fe, Cu, dan
Co.
2. Golongan yang sama sekali belum diketahui manfaatnya bagi organism
perairan seperti Hg, Pb, dan Cd.
Menurut Hutagalung (1984) bahwa senyawa logam berat banyak digunakan
untuk kegiatan industri sebagai bahan baku, katalisator, biosida maupun sebagai
additive. Limbah yang mengandung logam berat ini akan terbawa oleh sungai dan
karenanya limbah industri merupakan sumber pencemar logam berat yang potensial
bagi pencemaran laut.
Dalam perairan logam-logam ditemukan dalam bentuk (Hamidah, 1980) :
1. Terlarut, yaitu ion logam bebas air dan logam yang membentuk kompleks
dengan senyawa organic dan anorganik.

22

2. Tidak terlarut, terdiri dari partikel yang berbentuk koloid dan senyawa
kompleks metal yang terabsorbsi pada zat tersuspensi.
Logam berat diketahui dapat mengumpul di dalam tubuh organisme, dan tetap
tinggal dalam tubuh dalam jangka waktu lama sebagai racun yang terakumulasi
(Fardiaz, 1992). Kondisi perairan yang terkontaminasi oleh berbagai macam logam
akan berpengaruh nyata terhadap ekosistem perairan baik perairan darat maupun
perairan laut.
D. Logam Kadmium (Cd)
Kadmium adalah logam berwarna putih perak, lunak, mengkilap, tidak larut
dalam basa, mudah bereaksi, serta menghasilkan Kadmium Oksida bila dipanaskan.
Kadmium (Cd) umumnya terdapat dalam kombinasi dengan klor (Cd Klorida) atau
belerang (Cd Sulfit). Kadmium membentuk Cd 2+ yang bersifat tidak stabil. Cd
memiliki nomor atom 40, berat atom 112,4, titik leleh 321 0C, titik didih 767 0C dan
memiliki masa jenis 8,65 g/cm3 (Widowati dkk, 2008).
Kadmium (Cd) merupakan salah satu logam yang dikelompokkan dalam jenis
logam berat non-esensial. Logam ini jumlahnya relatif kecil, tetapi dapat meningkat
jumlahnya dalam lingkungan karena proses pembuangan sampah industri maupun
penggunaan minyak sebagai bahan bakar. Di samping itu daerah pertambangan
seperti pertambangan seng (Zn), timbal (Pb) maupun tembaga (Cu) selalu
mengandung kadmium sebagai bahan sampingan. Baik kadmium maupun seng
mempunyai daya gabung yang tinggi terhadap sulfur (S), sehingga sumber kadmium

23

dan seng yang paling utama adalah mineral sulfida, dimana kandungan kadmium
dalam mineral tersebut dapat mencapai 5% (Winter, 1982).
Kadmium banyak digunakan untuk pelapisan logam, yang mutunya lebih baik
dari pada pelapis seng, walaupun harganya lebih mahal. Proses tersebut biasanya
dilakukan dangan cara elektrolisis, pencelupan atau penyemprotan. Dari proses
tersebut kemungkinan akan terbuang kadmium ke dalam alam lingkungan dan
terbawa melalui air, serta udara, sehingga menyebar luas ke daerah pertanian dan
permukiman, sehingga berpengaruh terhadap kehidupan tanaman, hewan maupun
manusia melalui rantai pakan (Darmono, 1999).
Kandungan kadmium dalam kerak bumi jumlahnya relatif kecil (sekitar 0,150,2 g/g), mencerminkan kondisi kadar kadmium dalam tanah di suatu lokasi. Di sisi
lain, kandungan kadmium dalam tanah dapat meningkat karena suatu proses alamiah
seperti peristiwa bencana alam (gunung meletus) dan oleh ulah manusia yang dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan maupun proses pemupukan yang berlebihan
(William, 1977).
Logam Kadmium akan mengalami proses biotransformasi dan biokumulasi
dalam organisme hidup (tumbuhan, hewan dan manusia). Dalam tubuh biota perairan
jumlah logam yang terakumulasi akan terus mengalami peningkatan dan dalam rantai
makanan biota yang tertinggi akan mengalami akumulasi kadmium (Cd) yang lebih
banyak (Palar, 2004).

24

Keracunan akut kadmium dapat disebabkan karena pemasukannya baik melalui


pernafasan maupun melalui oral. Efek keracunan yang umum adalah iritasi saluran
pernafasan bagian atas, mual, muntah, salivasi, mencret dan kejang pada perut.
E. Logam Kromium (Cr)
Logam krom adalah jenis logam berat yang termasuk ke dalam skala prioritas
beresiko medium terhadap lingkungannya. Unsur krom di dalam lingkungan terdiri
dari dua valensi utama yaitu krom (III) dan krom (VI). Krom dibutuhkan sebagai
nutrien yang esensial dan sangat dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit oleh
beberapa organisme, tetapi pada kadar yang tingggi krom dapat bersifat racun dan
mutagenic (Volesky, 1999).
Akumulasi krom yang tidak terkendali akan sangat membahayakan bagi
lingkungan dan makhluk hidup. Hal ini disebabkan karena makhluk hidup termasuk
mikroorganisme atau juga hewan laut termasuk ikan dapat menyerap logam berat
lewat lingkungan atau rantai makanan maka krom dapat terdeposit dalam bagian
tubuh makhluk hidup yang pada ukuran tertentu dapat bersifat racun. Konsentrasi
krom mencapai 0,1 mg/g berat badan di dalam tubuh manusia dapat menyebabkan
kematian.
a. Asal mula ditemukannya Kromium
Kromium pertama kali ditemukan pada tahun 1797 oleh Vauquelin, Ia
menemukan chromium yang berwarna kelabu kebiru-biruan. Sumber alami: hati,
ragi untuk membuat bir, lada hitam, daun kemangi, daging sapi, unggas, brokoli,
dedak dan beras/beras biji utuh.
b. Ciri-ciri dan sifat

25

Kromium adalah 21 paling banyak unsur dalam kerak bumi dengan


konsentrasi rata-rata 100 ppm. Senyawa Kromium terdapat di dalam lingkungan.
Karena erosi batuan yang mengandung kromium dan dapat didistribusikan oleh
letusan gunung berapi. Rentang konsentrasi dalam tanah adalah antara 1 dan 3000
mg/kg, dalam air laut 5-800 g/ liter, dan di sungai dan danau 26 g/liter dengan
5,2 mg/liter. Hubungan antara Cr (III) dan Cr (VI) sangat tergantung pada pH dan
oksidatif sifat lokasi.
c. Dampak Kromium bagi lingkungan
Ada beberapa jenis kromium yang berbeda dalam efek pada organisme.
Kromium memasuki udara, air dan tanah di krom (III) dan kromium (VI) bentuk
melalui proses-proses alam dan aktivitas manusia. Kegiatan utama manusia yang
meningkatkan konsentrasi kromium (III) yang meracuni kulit dan manufaktur
tekstil. Melalui kromium pembakaran batu bara juga akan berakhir di udara dan
melalui pembuangan limbah kromium akan berakhir di tanah. Kromium (VI)
adalah terutama racun bagi organisme, dapat mengubah bahan genetik dan
menyebabkan kanker.
F. Tanaman Tebu
Tanaman Tebu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang ditanam untuk
bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Umur
tanaman sejak ditanam sampai dapat dipanen mencapai kurang lebih satu tahun. Tebu
cocok pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 1-1300 meter diatas permukaan
air laut.
Apabila tebu dipotong, maka akan terlihat serat-serat dan didapatkan cairan
yang manis. Kandungan serat dan kulit yang biasanya disebut sabut umumnya sekitar
26

12,5 % dari bobot tebu keseluruhan. Sedangkan kandungan terbesar dari tebu adalah
cairan nira yang prosentasenya sebesar 87,5 % yang terdiri atas air dan bahan kering.
Bahn kering tersebut ada yang terlarut dan ada yang tidak terlarut.
Produk utama dari tebu adalah sukrosa. Akan tetapi, kandungan sukrosa pada
tebu hanya sekitar 5-10%, sedangkan sisanya adalah ampas tebu sekitar 90%, tetes
tebu dan air. Ampas tebu yang digunakan sebagai adsorben mengandung serat yang
terdiri atas lignin 19,7%, pentosan 27.5%, dan selulosa 50-60% (Syukur, 2006).
Ampas tebu umumnya digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan
energi yang diperlukan pada pembuatan gula. Selain itu, ampas tebu dapat juga
digunakan sebagai pakan ternak, bahan baku serat, papan, plastik, dan kertas (Witono,
2003). Kaur et al. (2008) mengemukakan bahwa ampas tebu juga dapat
dimanfaatkan sebagai adsorben logam berat seperti seng, kadmium, tembaga, dan
timbal dengan efisiensi adsorpsi berturut-turut sebesar 90, 70, 55, dan 80%.

G. Ampas Tebu (Bagasse)


Ampas Tebu adalah limbah berserat yang diperoleh dari hasil proses
penggilingan tanaman tebu. Ampas ini sebagian besar mengandung bahan-bahan
lignoselulosa. Bagasse mengandung air 48-52%, gula rata-rata 3,3%, dan serat ratarata 47,7%. Serat bagasse sebagian besar terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin
tidak dapat larut dalam air. Bagasse merupakan hasil samping proses pembuatan gula
tebu (sugarcane) mengandung residu berupa serat, minimal 50% serat bagasse
diperlukan sebagai bahan bakar boiler, sedangkan 50% sisanya hanya ditimbun

27

sebagai buangan yang memiliki nilai ekonomi rendah. Penimbunan bagasse dalam
kurun waktu tertentu akan menimbulkan permasalahan bagi pabrik. Mengingat bahan
ini berpotensi mudah terbakar mengotori lingkungan sekitar, dan menyita lahan yang
cukup luas untuk penyimpanannya. Potensi bagasse di Indonesia sangat melimpah
khususnya di luar pulau jawa. Menurut Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
(P3GI) tahun 2008, komposisi rata-rata hasil samping industri gula di Indonesia
terdiri dari limbah cair 52,9%, blotong 3,5%, ampas tebu (bagasse) 32,0%, tetes tebu
(molasses) 4,5%, dan gula 7,05% serta abu 0,1%. Besarnya jumlah baggase yang
belum dimanfaatkan mendorong para peneliti untuk mengembangkan potensi
bagasse agar memiliki nilai ekonomi.

(sumber : Dokumentasi pribadi)

Gambar 1. Hasil sisa penggilingan tebu


Ampas tebu memiliki sifat fisik yaitu berwarna kekunig-kuningan, berserat
(berserabut), lunak dan relatif membutuhkan tempat yang luas untuk penyimpanan

28

dalam jumlah berat tertentu. Secara kimiawi, komponen utama penyusun ampas tebu
adalah serat yang didalamnya terkandung selulosa, poliosa seperti hemiselulosa dan
lignin. Susunan terserbut dalam ampas tebu hampir sama dengan susunan yang ada
dalam tanaman monokotil berkayu lunak. Beberapa komponen penyusun serat ampas
tebu dapat dilihat pada Tabel 5. dibawah ini :
Tabel 5. Komponen penyusun serat ampas tebu

Komponen

Kandungan (%)

Selulosa

45

Pentosan

32

Lignin

18

Komponen lainnya

(Sumber : material handbook thirteenth edition, 1991)

Komponen Penyusun Serat Ampas Tebu Antara lain :


1. Selulosa adalah suatu polimer karbohidrat yang kompleks yang memiliki
persentase komposisi yang sama dengan tepung (kanji) dimana nilai glukosa
dapat ditentukan dengan hidrolisis menggunakan asam. Unit molekul penyusun
selulosa adalah glukosa yang merupakan gula. Banyak molekul glukosa yang
bergabung bersama-sama membentuk rantai selulosa.
2. Pentosan merupakan senyawa yang tergolong sebagai polisakarida yang apabila
dihidrolis akan pecah menjadi monosakarida yang mengandung 5 atomkarbon
yang disebut pentose. Bila hidrolis dilanjutkan dengan pemanasan dalam asam

29

sulfat atau asam klorida encer dalam waktu 2-4 jam maka akan terjadi dihidrasi
dan siklasi membentuk senyawa heterosiklik yang disebut furfural atau zat yang
tak berwarna dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan senyawa-senyawa
furan, tetrahidro furan, pural, pembuatan plastik, sebagai bahan pembantu dalam
industri karet sintetik dan lain-lain.
3. Lignin adalah polimer tri-dimensional phenylphropanoid yang dihubungkan
dengan beberapa ikatan berbeda antara karbon ke karbon dan beberapa ikatan lain
antara unit phenylprophane yang tidak mudah dihirolisis. Di alam lignin
ditemukan sebagai bagian integral dari dinding sel tanaman, terbenam di dalam
polimer matrik dari selulosa dan hemiselulosa (Gibbs, 1958).
Beberapa wilayah di Indonesia yang menjadi sentra atau pengembang komoditi
tebu dengan tingkat populasi ternak yang tinggi, selain meraup rupiah dari beragam
hasil tebu termasuk olahan seperti gula merah (saka), ampas tebu sendiri bisa
dimanfaatkan menjadi banyak hal berguna, bahkan bernilai ekonomis. Selain sebagai
sumber energi bahan bakar, ampas dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dan bila
skala besar, hal ini juga bahkan membuka satu lagi peluang bisnis dari komoditi tebu
yakni pakan ternak seperti halnya kompos.
Bagase adalah hasil samping industri gula yang merupakan residu berserat dari
tanaman tebu (Saccharum of ficinarum) setalah dilakukan ekstraksi dan pengempaan.
Bagase mempunyai komposisi yang hampir sama dengan komposisi kimia kayu daun
lebar, kecuali kadar airnya. Ampas tebu merupakan limbah lignoselulosa yang
dihasilkan oleh pabrik gula setelah tebu diambil niranya. Ampas tebu mengandung
30

kadar sellulosa yang tinggi sekitar 37,65 %. Dari besarnya kadar sellulosa yang
terdapat dalam ampas tebu tadi, maka dapat diambil suatu analisa bahwa ampas tebu
dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp yang sebelumnya harus
diketahui terlebih dahulu kondisi operasi pada proses pembuatannya. Banyak
alternatif lain untuk pemanfaatan ampas tebu baik untuk campuran bahan baku
industri, penghasil energi ramah lingkungan, maupun kegunaan lain untuk skala
rumah tangga. Dengan sedikit pengolahan ampas tebu dapat bermanfaat bagi
kehidupan manusia dan bernilai ekonomis tinggi.
Kelebihan ampas tebu (bagasse) tebu dapat membawa masalah bagi pabrik
gula, ampas bersifat bulky (meruah) sehingga untuk mnyimpannya perlu area yang
luas. Ampas mudah terbakar karena di dalamnya terkandung air, gula, serat dan
mikroba, sehingga bila tertumpuk akan terfermentasi dan melepaskan panas.
Terjadinya kasus kebakaran ampas di beberapa pabrik gula diperkirakan akibat proses
tersebut. Ampas tebu selain dijadikan sebagai bahan bakar ketel di beberapa pabrik
gula mencoba mengatasi kelebihan ampas dengan membakarnya secara berlebihan
(inefisien). Dengan cara tersebut mereka bisa mengurangi jumlah ampas tebu.

H. Kolom Unggun Tetap


Salah satu jenis operasi yang sering dijumpai di dalam industri, khususnya
industri kimia adalah industri yang melibatkan pengontakan antara zat padat dengan
suatu jenis zat fluida (zat cair atau gas), biasanya pengontakan ini dilakukan di dalam
suatu bejana atau tabung di mana ditempatkan zat padat dengan ukuran tertentu.
31

Fluidanya dialirkan melewati unggun tersebut (dari bawah ke atas atau


sebaliknya). Ada dua cara pengontakan zat padat fluida ini yaitu:
1. Unggun tetap (fixed bed) di mana fluida mengalir dari atas ke bawah (downflow)
atau dari bawah ke atas (upflow) melewati suatu unggun zat padat yang diam.
2. Unggun terfluidisasi (fluidized bed) di mana fluida mengalir melewati unggun
partikel partikel padat dengan kecepatan yang relatif tinggi sehingga partikel
partikel padatnya akan terangkat dan terpisahkan satu sama lain.
Studi sistem kolom dilakukan berdasarkan profil konsentrasi effluent terhadap
waktu yang disebut dengan kurva terobosan (Breakhtrough). Bentuk kurva ditentukan
oleh kesetimbangan isotherm dan proses transport pada kolom dan adsorben. Dilain
sisi, esisiensi kinerja biosorpsi diperoleh berdasarkan ketajaman kurva breaktrough.
Kurva breakthrough dapat diperoleh dengan cara melewatkan sejumlah larutan
logam dengan konsentrasi awal C0 (mg/l) pada kolom yang berisi dengan adsorben.
Mula-mula terjadi adsorpsi pada bagian atas unggun, yang dengan demikian pada
bagian atas mulai mulai terjadi penjenuhan adsorben oleh larutan, sedangkan pada
bagian bawah masih siap meyerap solut. Tinggi unggun yang bias menyerap solut
disebut sebagai zona sorpsi. Pada zona ini terjadi perpindahan solut sehingga zona ini
sering disebut sebagai

zona perpindahan massa (MTZ). MTZ terjadi sepanjang

kolom yang kecepatannya bergantung pada konsentrasi solute, kapasitas adsorben


dan kecepatan aliran inlet.

32

Gambar 2. Zona adsorpsi pada kolom unggun tetap


Massa total logam yang terserap (qtotal), persentase penhilangan logam (%R),
Volume effluent (Veff), kapasitas biosorpsi (qeq), zona perpindahan massa (MTZ),
dan standar waktu kontak (EBCT, empty-bed contact time), massa ion logam yang
melewati

kolom

(mtotal),

merupakan

parameter-parameter

penting

kurva

breakthrough yang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:


(sumber : Kumar,2006)

V eff =Q t e

(1)
t =t e

Q. A
Q
=
C ad dt
1000 1000 t=0

(2)

C0 .Q . t e
1000

(3)

q total
100
mtotal

(4)

q total =

mtotal=
%R=
q eq=

q total
X

(5)
tb
te

( )

MTZ=Z 1

(6)

33

VB=

EBCT =

(7)
Volume bed (VB)
flow rate(Q)

(8)

Dimana, Q adalah debit (mL/mnt), C0 adalah konsentrasi influent (g/L), X


massa biosorbent yang digunakan pada kolom (g), ttotal waktu jenuh total (menit), Z
tinggi unggun (cm), tb dan te waktu breakthrough 10% dan waktu jenuh 90% (menit),
densitas unggun (gr/mL), dan VB merupakan volume bed (mL).
Dalam studi adsorpsi sistem kolom juga diperlukan analisis parameter untuk
mengontrol waktu kontak. Debit aliran yang masuk akan mempengaruhi kinetika
adsorpsi oleh unggun. Semakin lama larutan berkontak dengan unggun, maka
semakin besar kesempatan terjadinya mekanisme adsorpsi.
Dengan peningkatan waktu, unggun adsorben akan menjadi jenuh dengan
adsorbat/solusi, konsentrasi akan meningkat secara bertahap pada outlet kolom.
Dalam hal ini, breakthrough operasi atau konsentrasi dapat dihentikan yang
tergantung dari toksisitas solusi. Pada umumnya pada konsentrasi 0,01 1 mg/l
breakthrough. Ketika konsentrasi larutan mencapai limitnya di aplikasi industri,
kolom harus diganti dari operasi aktif dengan kolom yang telah diregenerasi atau
aliran dialihkan pada kolom yang lain. Bagaimanapun, pada percobaan laboratorium,
operasi kolom diakhiri hanya ketika konsentrasi solusi inlet kurang lebih sama
dengan konsentrasi outlet. Hal ini dikarenakan kolom sudah sempurna.

34

I. Model Prediksi
Pemodelan memiliki peranan penting dalam peningkatan pilot plant dari
eksperimen laboratorium untuk skala industri. Pemodelan yang sesuai dapat
membantu menganalisis dan menjelaskan data eksperimen untuk mengidentifikasi
mekanisme yang relevan pada proses, untuk memprediksi perubahan yang
dikarenakan kondisi operasi yang berbeda, dan untuk mengoptimalkan produktivitas
keseluruhan proses (Borba et.al, 2006).
J. Model Thomas
Model Thomas merupakan model yang paling banyak digunakan diantara
model lainnya. Model ini mengansumsikan kesetimbangan adsorpsi mengikuti model
Langmuir dan tingkat daya penggerak mematuhi orde kedua reaksi kinetik reversibel
(Pagnanelli, 2011; Ghasemi et.al, 2011). Berikut persamaan model oleh Thomas:
Ct
=
C0

1
k q X C t
1+ exp T h 0 0
Q
1000

(9)

Atau dengan melinearkan menjadi persamaan berikut:


C
k q X
ln 0 1 = T h 0 k T h C0 t
(10)
Ct
Q

Dimana kTh adalah konstanta laju (ml/menit.mg); q0 adalah konsentrasi


maksimum solut pada fasa solid (mg/g); Veff volume effluent (ml), X massa absorben
(g); Q debit (ml/menit).

Beberapa acuan jurnal yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

35

1. Pemanfaatan Arang Ampas Tebu Sebagai Adsorben Ion logam Cd,Cr, Cu dan Pb.
Ade Apriliani. 2010. Menggunakan metode batch dengan berbagai variasi
perlakuan.
2. Uji Efektifitas Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu dan Serbuk Kayu sebagai
Adsorben Untuk Pengolahan Air Limbah Pewarnaan Jeans. Fitri Sutiyani. 2015.
3. Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu Sebagai Karbon Aktif untuk menurunkan
Kadar Besi pada Air Sumur. Asbahani. 2013
4. Pengaruh Konsentrasi arang Ampas Tebu terhadap daya Serapnya pada Limbah
Cair Kelapa Sawit. Sarwadi. 2014
5. Adsorpsi Kadmium dengan Biomassa Bekas Fermentasi Pabrik Alkohol. Nur.
2007
6. Modelling of Breaktrough curves of single and Binary mixture of Cu, Cd, Ni and
Pb sorpsion onyo grape stalk waste
7. Fixed bed colomn study for Cd removal from wastewater using treated rice husk.
Upendra kumar. 2005
8. Cr adsorption by waste acorn of quercus ithaburensis in fixed beds : prediction of
breaktrough curves. Emine Malkoc. 2006.
9. Breaktrough curves for adsoption and elution of rhenium in a colomn ion
exchange system. Mozammel. 2006.
10. Adsorption characteristics of reactive dyes in colomn of activated carbon.

36