Anda di halaman 1dari 13

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Diagram Alir Penelitian


Metode penelitian adalah urutan-urutan kegiatan penelitian yang meliputi
pengumpulan data, pengujian sampel dan diteruskan dengan penarikan kesimpulan.
secara umum, penelitian yang dilakukan dapat dibagi menjadi 4 tahap, yaitu tahap
pengumpulan data (studi literatur), tahap persiapan (preparasi, sampel, alat dan bahan
serta prosedur kerja adsorpsi) dan tahap penentuan Lama waktu tinggal berdasarkan
konsentrasi, data tahap analisis dan kesimpulan. Seperti pada Gambar 2. berikut ini :
Studi Literatur
Metode penelitian

Preparasi Adsorben : Pembuatan


arang ampas tebu (SNI 06-37301995) meliputi :
-Pembersihan ampas tebu
-Pengeringan
-Pembakaran hingga terbentuk arang
-Aktivasi dengan HCl 2 N
-Pembilasan hingga pH netral
-Pengeringan arang aktif

Prosedur Adsorpsi
dilakukan dengan
metode kolom

Persiapan Alat
dan Bahan

pembuatan larutan baku Cd (SNI


6989.16:2009 dan Cr (dan SNI 066989.17-2004)

36

A
Pengambilan Data

Variasi konsentrasi larutan logam : - Cd 5 ppm


-

Cd 2 ppm
Cr 5 ppm
Cr 2 ppm

Kesimpulan Dan Saran

Analisa Dan Pembahasan

Gambar 3. Diagram Alir Kerangka Penelitian


B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental, yaitu melakukan pengujian
eksperimen di laboratorium terhadap objek yang diteliti, yang bertujuan menganalisis
tingkat adsorpsi logam Cd dan Cr dengan memanfaatkan arang ampas tebu sebagai
biosorben.
1. Waktu dan Lokasi
Penelitian berlangsung dalam waktu kurang lebih dua bulan, yang meliputi
persiapan alat dan bahan, analisis laboratorium dan penulisan laporan. Tempat
Larutan Logam 25 L

pelaksanaan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyehatan Rekayasa


Inlet

Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar yang sekarang


telah berganti nama menjadi Laboratorium Kualitas Air Fakultas Teknik
Universitas Hasanuddin
Gowa.
40 cm
2. Alat dan Bahan
a. Alat
- Kolom / wadah

37

Arang
ampas
tebu 250

Pipa 3 inci

30 cm

Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.

outlet

Tinggi pipa 40 cm
Tinggi adsorben 30 cm
Berat adsorben 250 gram
Debit pengaliran 50
ml/menit
Pengambilan sampel
dilakukan setiap 30
menit pertama dan setiap
jam selanjutnya.

Gambar 4. Kolom Adsorpsi


- Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
- Kertas saring
- Neraca analitik
- Saringan / ayakan
- oven
- Furnace
- Wadah
- Erlenmeyer 1000 ml
- botol sampel

b. Bahan
- Ampas Tebu
- Larutan Cadmium
- Larutan Chromium
- Aquadest
- Larutan HCl 2 N

C. Prosedur Penelitian
1. Preparasi Adsorben
a. Persiapan ampas tebu
1.) Ampas tebu diperoleh dari salah satu penjual air tebu di daerah
Tamalanrea. Ampas tebu yang diambil segera dicuci dengan air mengalir
untuk menghilangkan kotoran dan partikel lain.

38

(sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 5. Proses pecucian ampas tebu


2.) Selanjutnya ampas tebu ditiriskan dan dikeringkan di bawah sinar
matahari. Ampas tebu yang telah dikeringkan kemudian di potong-potong
dengan ukuran tertentu dan diarangkan ke dalam tanur (furnace) pada
suhu 300 0C selama 1,5 jam. Arang ampas tebu tersebut lolos pada
saringan 6 mesh. pengayakan ini dimaksudkan agar ukuran arang lebih
homogen dan memiliki permukaan yang lebih luas. Ukuran partikel ini
akan mempengaruhi luas permukaan karbon aktif yang dihasilkan.
b. Proses aktivasi arang ampas tebu
1.) Pada saat proses aktivasi arang ampas tebu direndam dalam larutan HCl 2
N selama 1 hari. Arang yang telah teraktivasi selanjutnya dicuci dengan
aquadest untuk menghilangkan sisa HCl yang masih terdapat dalam
karbon aktif.

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

39

Gambar 6. Proses persiapan pengaktifan arang menggunakan HCl


2.) Arang aktif tersebut selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 250
0

C selama 4 jam. Setelah itu karbon aktif yang didapatkan kemudian

disimpan didalam desikator untuk menjaga agar karbon aktif tetap dalam
kondisi kering. Kemudian arang ampas tebu tersebut dapat digunakan
dalam percobaan adsorpsi. Arang ampas tebu tersebut dibagi menjadi 4
bagian dan ditimbang dengan berat masing-masing 250 gram.
c. Pembuatan Larutan Baku Cd dan Cr
1) Pembuatan Larutan Baku Cd
Larutan baku Cadmium (Cd) dengan konsentrasi standar 1000 ppm
dibuat dengan cara memasukkan kedalam aquades hingga 25.000 mL.
Larutan Cadmium (Cd) dengan konsentrasi 5 ppm diperoleh dengan cara
memipet 125 ml larutan Cd murni dan dicampurkan kedalam Aqudes
hinggga mencapai volume air 25.000 ml.
konsentrasilarutan yang diinginkan
x Volume air
konsentrasi larutan standar
5 ppm
x 25.000 ml=125 ml
1000 ppm
(sumber Rumus :Gunawan,2004)

Larutan Cadmium (Cd) dengan konsentrasi 2 ppm diperoleh dengan


memipet 50 ml larutan Cd dan dicampurkan kedalam aquades hingga
mencapai volume air 25.000 ml.

40

konsentr asi larutan yang diinginkan


x Volume air
konsentrasilarutan standar
2 ppm
x 25.000 ml=50 ml
1000 ppm
(sumber Rumus :Gunawan,2004)

2)

Pembuatan Larutan Baku Cr


Larutan baku Chromium (Cr) dengan konsentrasi standar 1000 ppm

dibuat dengan cara melarutkan Chromium kedalam aquades hingga


25.000 ml. Larutan Chromium dengan konsentrasi 5 ppm diperoleh
dengan cara memipet 125 ml larutan Chromium dan dicampurkan
kedalam aqudest hingga mencapai volume air 25.000 ml.
konsentrasilarutan yang diinginkan
x Volume air
konsentrasi larutan standar
5 ppm
x 25.000 ml=125 ml
1000 ppm
(sumber Rumus :Gunawan, 2004)

Larutan Chromium (Cr) dengan konsentrasi 2 ppm diperoleh dengan cara


memipet 50 ml larutan Chromium dan dicampurkan kedalam aquades
hingga mencapai volume air 25.000 ml
konsentrasilarutan yang diinginkan
x Volume air
konsentrasi larutan standar
2 ppm
x 25.000 ml=50 ml
1000 ppm
(Sumber Rumus :Gunawan, 2004)

41

Larutan logam dengan konsentrasi rendah yaitu 2 ppm dan 5 ppm digunakan
sebagai perbandingan dimana pada penelitian sebelumnya telah dilakukan
pengujian dengan larutan yang berkonsentrasi tinggi seperti 20, 40, bahkan
sampai 100 ppm namun dengan metode yang berbeda (Apriliani,2010).
2.

Penentuan Lama waktu jenuh


Sebanyak 25.000 ml larutan logam Cd dimasukkan kedalam wadah atau

kolom pipa berukuran 3 inci, pemilihan ukuran ini disesuaikan dengan banyak
dan tingginya adsorben, dimana kolom atau pipa berisi arang ampas tebu
sebanyak 250 gram atau dengan tinggi 30 cm, larutan yang mengalir melewati
arang ampas tebu tersebut dilewatkan sesuai dengan pengaturan debit bukaan
keran 50 ml/menit dengan variasi waktu pengambilan hasil filtrat 30 menit, 1
jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 7 jam, 8 jam, 9 jam dan 10 jam untuk
konsentrasi 2 ppm sedangkan 30 menit, 1 jam, 2 jam sampai 5 jam untuk
konsentrasi 5 ppm. Hasil filtrat yang keluar kemudian ditampung dan akan
diukur menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Selanjutnya
Percobaan kemudian diulangi dengan menggunakan larutan dan konsentrasi
yang berbeda yaitu larutan Cd dengan pengambilan hasil filtrat sesuai dengan
prosedur diatas.
Skema penentuan lama waktu jenuh adsorpsi oleh logam Cd dan Cr dapat
dilihat pada Gambar 3. dibawah ini :
Adsorben ampas tebu yang berada dalam tabung diisi dengan larutan
logam hingga adsorben basah secara homogen.

Larutan Logam sebanyak 25.000 ml diatur dengan debit (Q) 50 ml / menit.

42

Dimasukkan ke dalam wadah atau kolom yang berisi 250 gr arang ampas tebu
dengan ketinggian 30 cm

Arang ampas tebu yang dialiri larutan logam kemudian dilewatkan secara
kontinyu dengan pengambilan hasil filtrat pada waktu 30 menit pertama, dan
setiap jam berikutnya sampai 10 jam untuk konsentrasi 2 ppm sedangkan untuk
konsentrasi 5 ppm 30 menit pertama dan setiap jam berikutnya sampai 5 jam.
A

Residu

Filtrat
Penentuan lama waktu kontak dianalisis dengan SSA

Gambar 7. Skema penentuan lama waktu tinggal adsorpsi ion logam Cd dan Cr oleh
arang ampas tebu
D. Kerangka pikir
Ampas tebu merupakan salah satu bahan yang cukup potensial dikembangkan di
Indonesia karena ketersediaannya yang melimpah. Pemilihan ampas tebu dalam
penelitian ini selain memiliki harga yang ekonomis juga memiliki kemampuan dalam
penyerapan logam berat sebagai adsorben.
Adanya berbagai kegiatan industri saat ini membuat dampak yang cukup besar
bagi lingkungan, seperti hasil buangan industri yang dibuang ke badan air sehingga
dapat mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas air tersebut. Oleh sebab itu
43

melalui penelitian ini akan dilakukan salah satu alternatif dalam menurunkan logam
berat pada air limbah yaitu menggunakan proses Adsorpsi dengan menggunkan
ampas tebu menjadi arang aktif sebagai adsorben dengan tujuan dapat mengurangi
kadar logam yang terdapat pada air limbah dan mengurangi pencemaran kualitas air.

Kerangka pikir penelitian dapat dilihat pada gambar 2. dibawah ini :

Logam berat
Sumber
pencemar :
Hasil buangan
Kegiatan
Industri

Badan air tercemar

Penurunan
kualitas air

Pemanfaatan bahan
baku alam dalam
penurunan logam berat

Adsorpsi
Mengurangi
kandungan
Logam berat Cr
dan Cd yang
mencemari
lingkungan

Ampas tebu

Metode Kolom

Penentuan lama
waktu tinggal
44

Gambar 8. Kerangka pikir penelitian

E. Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Analisis eksperimental yaitu salah satu teknik penjaringan data melalui pengujian
eksperimen di laboratorium terhadap objek yang diteliti. Data yang diperoleh
dengan cara ini disebut data primer.
2. Kepustakaan (Library Research) yaitu cara pengumpulan data dan informasi
dengan jalan membaca atau mengumpulkan literatur, laporan, majalah, bahanbahan seminar dan literatur-literatur pendukung lainnya. Data yang diperoleh
dengan cara ini disebut data sekunder.
F. Pengolahan data
Konsentrasi ion Cd dan Cr yang diadsorpsi dapat dihitung dengan rumus :
Ket :
Cadsorpsi = (Cawal Cakhir)
(11)
Cadsorpsi = konsentrasi setelah proses adsorpsi (ppm)
Cawal
= konsentrasi air limbah sebelum proses adsorpsi
Cakhir
= konsetrasi air limbah setelah proses adsorpsi

45

Untuk memperoleh kinetika adsorpsi dapat dilakukan dengan persamaan


Thomas. Persamaan Thomas merupakan turunan dari rumus Bohart Adams. Model
Thomas merupakan salah satu model yang paling banyak diaplikasikan dalam
menentukan konsentrasi ion. Data hasil eksperimen disesuaikan dengan model

Thomas ditunjukkan dari nilai R2 hasil plot data antara ln(

C0
Ct -1) terhadap waktu

operasi. Nilai R2 yang tinggi menandakan model Thomas sesuai dengan data-data
hasil eksperimen, sehingga dapat digunkan sebagai parameter acuan desain. Nilai R 2
merupakan koefisien korelasi yang menandakan ada atau tidaknya hubungan data
satu dengan data yang lain. Apabila nilai R 2 mendekati nilai 1 maka data yang
diperoleh telah cocok untuk digunakan pada model prediksi Thomas, apabila nilai R 2
jauh mendekati 1 maka, kemungkinan data yang diperoleh tidak sesuai dengan model
Thomas namun sesuai dengan model prediksi lainnya.
Parameter kinetik model Thomas dapat ditentukan dengan cara menyamakan
persamaan regresi hasil plot dengan persamaan linear yang dijelaskan sebagai
berikut:
y = ax + b

ln (

C0
Ct -1) =

kthq0 x
kTh cot)
Q

(12)

sehingga, untuk menentukan parameter kinetik model Thomas berupa kTh dan
q0 dapat diperoleh memlalui persamaan berikut:
KtChCC 0
slope = a = 1000
kTh = -

ax 1000
C0

(13)
(14)

46

intercept = b =
q0 =

kThq 0 x
Q

b xQ
kThX

(15)
(16)

Parameter yang diperoleh kemudian digunakan untuk memperoleh data Ct/C0


untuk membuat kurva breaktrough
Persamaan model Thomas dapat dilihat sebagai berikut :
(17)
Keterangan :
C
=
Co
=
K1
=
qo
=
M
=
V
=
Q
=

konsentrasi solut keluar kolom


konsentrasi solut masuk kolom
konsentrasi laju
konsentrasi solut teradsorpsi, misal gr solut/gr karbon
massa adsorben
volume yang dilewatkan
laju alir

PENGUJIAN PENDAHULUAN (PRA PENELITIAN)


Tujuan : Mengetahui seberapa besar penyerapan Logam menggunakan arang ampas
tebu dengan skala kecil
Alat dan Bahan :
-

Buret
Botol penyimpanan sampel
47

Corong
5 gram Arang ampas tebu
Larutan logam dengan konsentrasi 5 ppm

Hasil setelah melakukan percobaan :

Waktu

Konsentrasi

30 Menit

2,417

60 menit

2,253

90 menit

2,094

120 menit

1,954

180 menit

1,966

3,000
2,500
2,000
1,500
1,000
500
0

48