Anda di halaman 1dari 24

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1.

Tinjauan Pustaka
Menurut Hanna, (1999) sistem bekisting didefinisikan sebagai
sistem pendukung yang total untuk menempatkan beton segar termasuk
cetakan atau bidang yang kontak dengan beton beserta dengan
bagianpendukung cetakannya. Pekerjaan bekisting merupakan bagian
pekerjaan yang sangat penting didalam seluruh pelaksanaan pekerjaan
beton, karena pekerjaan ini akan menentukan posisi , ukuran serta
bentuk dari beton yang dicetak. Bekisting juga berfungsi sebagai struktur
penyangga sementara bagi seluruh beban yang ada sebelum struktur
beton berfungsi penuh. Beban tersebut bahan bahan, alat alat dan
pekerja yang bekerja (Istimawan Dipohusodo,1999).

2.2.

Landasan teori
Bekisting atau formwork adalah suatu konstruksi pembantu yang
bersifat

sementara

yang

merupakan

cetakan

mal

beserta

pelengkapnya pada bagian samping dan bawah dari suatu konstruksi


beton yang dikehendaki. Bekisting adalah cetakan sementara yang
digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk
sesuai dengan bentuk yang diinginkan (Stephens, 1985)
Acuan (bekisting) adalah suatu sarana pembantu struktur beton
untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa ataupun
posisi yang direncanakan. Karena bersifat sementara, bekisting akan
dilepas atau dibongkar setelah beton mencapai kekuatan yang cukup.
Pengertian dari bekisting konvensional adalah bekisting kontak
terdiri dari kayu papan dengan perkuatan kayu kaso. Bekisting
konvensional adalah bekisting yang terdiri dari papan dan kayu balok
yang dikerjakan di tempat. Bekisting jenis ini adalah bekisting yang
5

setiap kali setelah dilepas dan dibongkar menjadi bagian-bagian dasar,


dapat disusun kembali menjadi sebuah bentuk lain.
Penggunaan material pada sistem ini hanya beberapa kali
pengulangan dan untuk konstruksi yang rumit harus banyak diadakan
penggergajian sehingga pelaksanaan jenis bekisting ini akan memakan
waktu, bahan, dan ongkos kerja.
2.2.1. Syarat Bekisting.
Untuk memenuhi fungsinya, menurut American Concrete
Institute (ACI) dalam buku FORMWORK FOR CONCRETE
menyebutkan bahwa bekisting harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a. Kuat, dalam hal ini mampu menopang dan mendukung
bebanbeban yang terjadi baik sebelum ataupun setelah
masa pengecoran berton.
b. Stabil (kokoh), dalam hal ini maksudnya adalah tidak
terjadi goyangan dan geseran yang mampu mengubah
bentukan struktur ataupun membahayakan sistem
bekisting itu sendiri (ambruk).
c. Kaku, terutama pada bekisting kontak sehingga dapat
mencegah terjadinya perubahan dimensi, bunting atau
keropos pada struktur beton.
Adapun untuk persyaratan khusus dalam pembuatan
bekisting antara lain:
a. Kualitas : Bentuk dan ukuran sesuai dengan rencana
yang di buat dan diinginkan, posisi dan bentuk acuan
sesuai dengan rencana, hasil akhir permukaan beton
rata/ tidak kropos.
b. Keamanan : harus stabil pada posisinya, kokoh yaitu
harus

mampu
6

menahan beban-beban

khususnya

vertical/horizontal,

kekakuan

yaitu

harus

mampu menahan beban horizontal sehingga tidak


bergeser dari posisi seberanya.
c. Ekonomis : Mudah di kerjakan, tidak membutuhkan
banyak

tenaga

kerja, mudah

dipasang

sehingga

menghemat waktu, mudah dibongkar agar bahan


bisa digunakan kembali, mudah disimpan.
2.2.2. Spesifikasi Bekisting.
Pada
penopangnya

umumnya

sebuah

merupakan

bekisting

sebuah

konstruksi

serta
yang

alat-alat
bersifat

sementara dengan tiga fungsi utama (Farida fatmawati, 2013) ,


yaitu :
a. Untuk memberikan bentuk kepada sebuah konstuksi
beton.
b. Untuk

memperoleh

struktur

permukaan

yang

diharapkan.
c. Untuk memikul beton, hingga konstruksi tersebut cukup
keras untuk dapat memikul diri sendiri, peralatan dan
tenaga kerja
Konstruksi-konstruksi bekisting sebaiknya direncanakan
dan dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga konstruksi beton
yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan (Farida fatmawati,
2013) seperti:
2.2.2.1.

Kualitas
a. Ukuran harus sesuai dengan yang diinginkan.
b. Posisi letak acuan dan perancah harus sesuai
rencana.
c. Hasil akhir permukaan beton harus baik, tidak

2.2.2.2.

ada acuan yang bocor.


Keamanan

a. Acuan dan perancah harus stabil pada


posisinya.
b. Kokoh yang berarti acuan dan perancah harus
kuat menahan beban yang bekerja.
c. Acuan dan perancah harus kaku

tidak

bergerak dan bergeser dari posisinya.


2.2.2.3.

Ekonomis
a. Mudah

dikerjakan

dengan

tidak

banyak

membutuhkan tenaga kerja


b. Mudah dipasang atau dirangkai

untuk

menghemat waktu
c. Dapat menghemat biaya
Pada perencanaan sebuah bekisting hal yang
perlu

ditekankan

adalah

pembuatan

sebuah

bekisting ekonomis yang meliputi biaya kerja dan


biaya

peralatan

yang

diperlukan

pada

suatu

perencanaan bekisting tertentu. Untuk mencapai


keserasian

secara

ekonomis

sebuah

bekisting

(biaya kerja dan alat) maka kita perlu mengadakan


perbandingan antara biaya yang diperlukan untuk
metode bekisting yang berbeda-beda bagi sebuah
objek tertentu.
2.2.3. Faktor Penggunaan metode bekisting
(http://0pwt0.blogspot.co.id/2014/02/bekisting.html):
a. Kondisi struktur yang akan dikerjakan
Hal ini menjadi pertimbangan utama sebab sistem
perkuatan

bekisting

menjadi

komponen

utama

keberhasilan untuk menghasilkan kualitas dimensi


struktur seperti yang direncanakan dalam bestek.
Metode bekisting yang diterapkan pada bangunan
dengan dimensi struktur besar tentu tidak akan efisien
bila diterapkan pada dimensi struktur kecil.
b. Luasan bangunan yang akan dipakai
Pekerjaan bekisting merupakan pekerjaan yang
materialnya

bersifat pakai ulang (memiliki siklus


8

perpindahan material). Oleh karena itu, luas bangunan


ini menjadi salah satu pertimbangan utama untuk
penentuan berapa kali siklus pemakaian material
bekisting.

Hal

ini

juga

akan

berpengaruh

terhadap tinggi rendahnya pengajuan harga satuan


pekerjaan.
c. Ketersediaan material dan alat
Faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah
kemudahan atau kesulitan untuk memperoleh material
atau alat bantu dari sistem bekisting yang akan
diterapkan.
d. Work-Time
Waktu yang diperlukaan dalam membuat dan
memasang bekisting
e. Harga Bahan dan Upah Kerja
2.2.4. Dasar Perencanaan Bekisting
Perencanaan sebuah sistem serta metode kerja
bekisting menjadi sepenuhnya tanggung jawab dari pihak
pemborong kerja. Sehingga segala resiko dalam pekerjaan
tersebut sudah pasti menjadi hal yang harus ditekan
serendah mungkin. Tentunya hal ini dapat dilakukan
dengan perencanaan yang sematang mungkin dengan
memperhatikan segala faktor yang menjadi pendukung
atau yang malah menjadi kendala dalam pelaksanaan
nantinya. Pada pokoknya sebuah konstruksi bekisting
menjalani tiga fungsi (F.Wigbout ,1987):
a. Bekisting menentukan bentuk dari bekisting beton
yang akan dibuat. Bentuk sederhana dari sebuah
konstruksi

beton

menuntut

bekisting

yang

sederhana.
b. Bekisting harus dapat menyerap dengan aman
beban yang ditimbulkan oleh spesi beton dan
berbagai beban luar serta getaran. Dalam hal ini
9

perubahan bentuk yang timbul dan geseran-geseran


dapat diperkenankan asalkan tidak melampaui
toleransi-toleransi tertentu.
c. Bekisting harus dapat dengan cara sederhana
dipasang, dilepas dan dipindahkan.
Dalam menentukan sistem serta metode kerja yang
akan dipakai, dari beberapa alternatif yang ada pasti
terlebih dahulu dilihat kelemahan dan keunggulan dari
pada

masing-masing

lapangan,

faktor

metode.

pengambilan

Dalam

kenyataan

keputusan

di

mengenai

penentuan metode ini tergantung juga dari pengalaman


dan jam terbang dari si pemborong kerja tersebut.
Ada 3 tujuan penting yang harus dipertimbangkan
dalam membangun dan merancang bekisting (Edward G
Nawy,1997), yaitu:

a. Kualitas : Bekisting harus didesain dan dibuat


dengan kekakuan (stiffness) dan keakurasian
sehingga

bentuk,

penyelesaian

dari

ukuran,

posisi

pengecoran

dan
dapat

dilaksanakan sesuai dengan toleransi yang


diinginkan.
b. Keselamatan : Bekisting harus didirikan dengan
kekuatan yang cukup danfaktor keamanan yang
memadai

sehingga

sanggup

menahan

menyangga seluruh beban hidup dan mati tanpa


mengalami keruntuhan atau berbahaya bagi
pekerja dan konstruksi beton.
c. Ekonomis : Bekisting harus dibuat secara
efisien, meminimalisasi waktudan biaya dalam

10

proses pelaksanaan demi keuntungan kontraktor


dan owner (pemilik).
Ada beberapa beberapa faktor yang menjadi
pertimbangan untuk mengambil suatu keputusan
mengenai metode bekisting yang akan dipakai
(F.Wigbout ,1987), yaitu:
a. Kondisi struktur yang akan dikerjakan Hal ini
menjadi pertimbangan utama sebab sistem
perkuatan bekisting menjadi komponen utama
keberhasilan

untuk

menghasilkan

kualitas

dimensi struktur seperti yang direncanakan


dalam bestek. Metode bekisting yang diterapkan
pada bangunan dengan dimensi struktur besar
tentu tidak akan efisien bila diterapkan pada
dimensi struktur kecil.
b. Luasan bangunan yang akan dipakai Pekerjaan
bekisting

merupakan

pekerjaan

yang

materialnya bersifat pakai ulang (memiliki siklus


perpindahan material). Oleh karena itu, luas
bangunan ini menjadi salah satu pertimbangan
utama untuk penentuan n x siklus pemakaian
material

bekisting.

berpengaruh

Hal

terhadap

ini

juga

tinggi

akan

rendahnya

pengajuan harga satuan pekerjaan.


c. Ketersediaan material dan alat Faktor lainnya
yang perlu dipertimbangkan adalah kemudahan
atau kesulitan untuk memperoleh material atau
alat bantu dari sistem bekisting yang akan
diterapkan.
Selain

faktor-faktor

tersebut

masih

banyak

pertimbangan lain termasuk waktu pengerjaan


proyek (work-time schedule), harga material, tingkat
11

upah

pekerja,

sebagainya.

sarana

Setelah

transportasi

melakukan

dan

lain

pertimbangan

secara matang terhadap faktor-faktor tersebut maka


diambillah keputusan mengenai metode bekisting
yang akan diterapkan.
2.2.5. Jenis & Tipe Bekisting
Pada umumnya bekisting secara garis besar dibagi
menjadi 3 tipe (F.Wigbout ,1987) yaitu :
a. Bekisting tradisional
Yang
dimaksud
dengan

bekisting

tradisional adalah bekisting yang setiap kali


setelah dilepas dan dibongkar menjadi bagian
bagian dasar, dapat disusun kembali menjadi
sebuah bentuk lain. Pada umumnya bekisting
kontak terdiri dari kayu papan atau material
Balok, sedangkan konstruksi penopang disusun
dari kayu balok dan (pada lantai) dari stempelstempel

baja.

Bekisting

tradisional

ini

memungkinkan pemberian setiap bentuk yang


diinginkan pada kerja beton.
b. Bekisting setengah sistem
Yang
dimaksud

dengan

bekisting

setengah sistem adalah satuan-satuan bekisting


yang lebih besar, yang direncanakan untuk
sebuah obyek tertentu. Untuk ini mereka pada
prinsipnya digunakan untuk berulang kali dalam
bentuk tidak diubah. Pada umumnya bekisting
kontak terdiri dari material Balok. Konstruksi
penopang disusun dari komponen-komponen
baja yang dibuat di pabrik atau gelagar-gelagar
kayu yang tersusun. Setelah usai, komponenkomponen ini dapat disusun kembali menjadi
sebuah bekisting setengah sistem untuk sebuah
12

obyek yang lain. Sebagai contoh Elemen


elemen panel dinding.
c. Bekisting sistem
Yang dimaksud dengan bekisting sistem
adalah elemen elemen bekisting yang dibuat di
pabrik, sebagian besar komponen-komponen
yang

terbuat

dari

baja.

Bekisting

sistem

dimaksudkan untuk penggunaan berulang kali.


Ini

berarti

bahwa

tipe

bekisting

ini

dapat

digunakan untuk sejumlah pekerjaan. Bekisting


sistem dapat pula disewa dari penyalur alat-alat
bekisting.

Contoh

bekisting

panel

untuk

terowongan, bekisting untuk beton pre-cast.


2.2.6. Material Penyusun Bekisting.
Material yang umumnya digunakan dalam pekerjaan
bekisting (F.Wigbout ,1987) adalah sebagai berikut :
2.2.6.1. Kayu
Tidak ada jenis material yang lebih luas
penggunaannya

dibandingkan

dengan

kayu

dalam pembuatan bekisting dan perkuatannya.


Kayu memiliki sifat tidak mahal, kuat, fleksibel,
serba guna, tahan lama, ringan, dan mudah
pengerjaannya.
material

Penggunaan

bekisting

persyaratannya

diatur

dalam

kayu

sebagai

ketentuan

Peraturan

dan

Konstruksi

Kayu Indonesia (PKKI). Dalam peraturan PKKI


ini jenis-jenis kayu diklasifikasikan berdasarkan
berat jenis, kekuatan lentur serta kekuatan tekan
mutlaknya menjadi 5 (lima) kelas.
Tabel 2.1. Klasifikasi kayu di Indonesia

13

Material

kayu

memiliki

sifat-sifat

menguntungkan dalam fungsinya sebagai bagian


dari konstruksi yaitu :
a. Kekuatan

yang

besar

pada

suatu

massa volume yang kecil.


b. Harga yang relatif murah dan dapat
diperoleh dengan mudah.
c. Mudah
dikerjakan
dan

alat-alat

sambung yang sederhana.


d. Isolasi termis yang sangat baik.
e. Dapat
dengan
baik
menerima
tumbukan-tumbukan

dan

getaran-

getaran.
f. serta penanganan yang kasar di tempat
pendirian sebuah bangunan.
Dalam penggunaannya sebagai bagian dari
konstruksi banyak yang mempengaruhi sifat dan
kekuatan kayu tersebut. Oleh karena itu terdapat
faktor-faktor
kondisi

pengali

konstruksi

yang

disesuaikan

dimana

kayu

dengan
tersebut

ditempatkan (Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia,


1961) yaitu :
g. Faktor 2/3
- Untuk

konstruksi

terendam air.
14

yang

selalu

Untuk bagian konstruksi yang tidak


terlindung dan kemungkinan besar
kadar lengas kayu akan selalu

tinggi.
h. Faktor 5/6
- Untuk konstruksi kayu yang tidak
terlindung

tetapi

kayu

tersebut

dapat mengering dengan cepat.

i. Faktor 5/4
- Untuk

bagian

tegangannya
-

konstruksi

yang

diakibatkan

oleh

muatan tetap dan muatan angin.


Untuk bagian-bagian konstruksi
yang tegangannya diakibatkan oleh

muatan tetap dan tidak tetap.


d. Faktor 3/2
- Untuk pembebanan yang bersifat
khusus (getaran, dll).
Sebagai dasar perhitungan kekuatan kayu
dalam analisa perencanaan bekisting ini yang
ditinjau adalah properti tegangan tegangan ijin
serta modulus elastisitas dari material kayu yang
akan digunakan tersebut.
Tabel 2.2. Nilai nilai tegangan ijin kayu dan
modulus elastisitasnya.

15

2.2.6.2.

Multiplek
Tripleks terdiri sejumlah lapisan kayu finer
yang direkatkan bersilang satu di atas yang lain.
Pada umumnya lapisan-lapisan finer dikupas dari
sebatang kayu bulat; finer yang ditusuk akan
memperlihatkan

retakan-retakan

kecil

di

permukaannya. Ketebalan satu lapisan finer


berkisar antara 1,5 2,5 hingga 3 mm. Setiap
lapis finer dari satu Balok tidak harus sama tebal
dan dari jenis kayu yang sama. Jenis lem yang
digunakan untuk merekatkan lapisan finer-finer
tersebut harus tahan terhadap iklim luar selama
suatu jangka waktu yang terbatas dan terhadap
pencemaran oleh organisme mikro.
Dalam penggunaanya sebagai material
kontak, lapisan terluar daripada triplek ini harus
terbuat dari kualitas kayu yang lebih baik
daripada lapisan yang ada didalamnya dan yang
paling utama adalah tahan lama serta tahan aus.
Hal hal yang merugikan dengan menggunakan
triplek (multiplek) adalah sebagai berikut :
a. Harganya yang relatif tinggi.
b. Sudut dan tepi dari Balok-Balok mudah
rusak.

16

c. Permukaan dari Balok harus ditangani


dengan hati-hati.
2.2.7. Bekisting ULMA
Pada dasarnya, formwork ini merupakan sistem
formwork produk dari Ulma. Namun, perlengkapannya
telah disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Secara
visual, formwork jenis ini mirip dengan Paschal. Tipe ini
banyak digunakan pada wall struktur drainage box culvert.
Dimensi panel standarnya adalah tinggi : 8, 6and 4,
lebar : 24, 18, 12, 6, 4 dan 2. Pada bagian sudut
frame ini menggunakan cetakan khusus.
Pada sambungan antar panel digunakan klip
standar dari Ulma. Pemasangannnya cukup mudah, cukup
dimasukan

pada lubang

yang

telah

tersedian dan

dikencangkan dengan menggunakan palu. Lubang tie rod


juga telah tersedia pada tempat-tempat tertentu.
2.2.8. Rumus rumus yang digunakan
Adapun
perencanaan

rumus
bekisting

yang

akan

horizontal

digunakan
dan

vertikal

untuk
pada

basement 6 sampai basement 1 pada proyek Thamrin nine


antara lain:
2.2.8.1.

Rumus kombinasi beban


berat sendiri: berat bekisting dan shoring.
beban beton
beban hidup beton : dimana beton akan
diletakan,

tambahan

beban

hidup

yang

diizinkan akan diambil, total beban tambahan


sama dengan 10% dari berat sendiri. Beban
hidup sendiri tidak boleh kurang dari 0,75
kN/m2, dan tidak lebih dari 1,75 kN/m2.
17

Beban

hidup

kerja:

beban

hidup

kerja

minimum yang diijinkan yaitu 0,75 kN/m 2


harus

dihitung

untuk

akses

dan

area

pekerjaan
Tabel 2.3. Tabel pembebanan

Berat sendiri
beban beton
Beban hidup beton
Beban hidup kerja

Pembebanan
PP = tergantung bada tiap bagian
PH = kepadatan beton x ketebalan slab (kN/m)
SH = 0,75 < 10% beban beton < 1,75 kN/m
SR = 0,75 (kN/m)

Untuk

menghitung

struktur

maka

menghitung dua kombinasi beban:

Ultimate limit state (ULS).


Serviceability limit state (SLS).

Tabel 2.4. Case-1 tabel beban


Tindakan
Beban sendiri
Berat bekisting
sendiri
Beban beton
Beban hidup beton
Beban hidup kerja

ULS
1,35

SLS
1

1,35
1,5
1,5
1,5

1
1
1
1

Tabel 2.5. Case-2 tabel beban


Tindakan
Beban sendiri
Berat bekisting
sendiri
Beban beton
Beban hidup beton
Beban hidup kerja

18

ULS
1,2
1,2
1,35
1,35
1,35

SLS
1
1
1
1
1

harus

Penggunaan tabel case diatas harus berdasarkan


dari beberapa hal dibawah ini:

Case-1 :

Tindakan

selama

pelepasan

bekisting. Dalam case-1 dianggap struktur

dan beban bekisting sendiri


Case-2 :
Tidakan selama

penuangan.

Dalam case-2 beban beton dibutuhkan.

Tabel 2.6. Penggunaan case-1 dan case-2

Tindakan
Beban sendiri
Berat bekisting
sendiri
Beban beton
Beban hidup beton
Beban hidup kerja

Rumus

Case1
Yes

Case2
Yes

Yes
No
No
No

Yes
Yes
Yes
Yes

yang

digunakan

untuk

mendapatkan

kombinasi beban dapat dilihat dibawah ini :


SLS=( bw+ bc+ p+ q ) x 1
ULS=( bw+ bc+ p+ q ) x 1,35
Dimana :

2.1
2.2

bw

= berat sendiri papan (kN/m2)

Bc

= beban beton sendiri (kN/m2)

= beban hidup saat penuangan


(kN/m2)

q
19

= beban hidup kerja (kN/m2)

2.2.8.2.

Rumus perhitungan momen dan lendutan.


Perhitungaan perkuatan bekisting meliputi

perhitungan perkuatan pada masing-masing metode


bekisting yaitu perhitungan perkuatan kayu
metode

bekisting

konvensional

dengan

pada
sistem

ULMA (Farida Rahmawati, 2013).


Secara matematis rumus untuk perhitungan
momen, tegangan lentur dan lendutan dapat dilihat
sebagai berikut:

a. Perhitungan momen
Balok 2 tumpuan :
1
M = x q x L2
8
Dimana : M

= momen

= beban terbagi rata

= panjang bentang

Balok menerus :
M=

2.3

1
2
xqxL
10

2.4

Balok kantilever :
1
2
M= x q x L
8
b. Perhitungan tegangan lentur
Balok 2 tumpuan :
M
=
W
Dimana :
M
20

= tegangan lentur
= Momen

2.5

2.6

W
= Berat
Balok menerus :
M
=
W

2.7

Balok kantilever :
M
=
W

2.8

c. Lendutan
Balok 2 tumpuan :
5
L4
=
xqx
384
ExI

2.9

Dimana :
= lendutan
q
= beban terbagi rata
E
= elastisitas
I
= momen inersia
Balok menerus :
1
L4
=
xq x
2.10
145
ExI
Balok kantilever
1
L4
= x q x
8
ExI

2.11

d. Desain perkuatan
Adapun rumus yang digunakan
untuk desain perkuatan berdasarkan:
d=

3 xV
2x A

2.12

M
W

2.13

m ,d =

Dimana :
d = tegangan geser (kN/m2)
V = Gaya (kN)
A = Luas (m2)
21

Perkuatan

dapat

diterima

berdasarkan dari:
f v ,d =

k mod x f v
m

2.14

f m ,d =

k mod x f m
m

2.15

Dimana :
fv,d = desain kekuatan geser
(kN/m2)
kmod = faktor durasi bangunan
fv = tegangan geser (kN/m2)
fm,d = kekuatan pembengkokan
(kN/m2)
m = faktor material
2.2.9. Rumus kebutuhan triplek untuk bekisting
Untuk menghitung kebutuhan triplek pada bekisting
baik bekisting horizontal dan vertikal adalah:
Rumus kebutuhan triplek =

Luas bekisting
Luas triplek

2.16

2.2.10. Langkah langkah perhitungan volume sediaan bekisting.


Sediaan
bekisting
mempengaruhi
durasi
pelaksanaan. Semakin besar sediaan bekisting, maka
durasi pelaksanaan semakin singkat. Demikian pula
sebaliknya. Namun pada penambahan volume sediaan
22

bekisting tertentu, durasi pelaksanaan akan tetap dan tidak


berkurang. Hal ini berarti berlaku sifat optimum pada
jumlah sediaan bekisting. Dari sisi biaya pelaksanaan
seperti yang telah dibahas pada posting sebelumnya,
semakin besar volume sediaan bekisting, maka biaya
pelaksanaan akan semakin besar. Sehingga perencanaan
sediaan bekisting yang baik adalah apabila volume
sediaan sekecil mungkin dengan speed pelaksanaan
sesuai target pelaksanaan.
Sediaan bekisting yang menjadi dasar perencanaan
adalah sediaan bekisting horizontal. Ini didasarkan pada
asumsi bahwa sediaan bekisting vertikal harus bisa
mengikuti

speed

bekisting

horizontal.

Dalam

kenyataannya, bekisting vertikal lebih fleksibel mengikuti


speed

pelaksanaan

yang

didasarkan

oleh

sediaan

bekisting horizontal.
Sediaan bekisting horizontal dapat dihitung dengan
rumus pendekatan sebagai berikut:
S = Ds / Fr

2.17

dimana:
-

S adalah volume sediaan bekisting (lantai)


Ds adalah Durasi siklus 1 zone
Fr adalah speed pelaksanaan yang dinyatakan dalam
floor to floor (hari)
Bagi pelaksana konstruksi, tentu diharapkan sediaan

bekisting yang sedikit dengan pelaksanaan yang tepat


waktu. Berdasarkan rumus di atas dapat disimpulkan
bahwa dengan waktu pelaksanaan (speed pelaksanaan)
sesuai target, maka volume sediaan sangat terkait dengan
Ds (durasi pelaksanaan siklus 1 zone). Hal ini menjadi

23

faktor kunci untuk mendapatkan besaran sediaan bekisting


yang efisien.
2.2.11. Rencana Anggaran Biaya Bekisting.
Sebagai akibat dari relatif meningkatnya ongkos
kerja selama 20 tahun terakhir ini, perbandingan antara
biaya material dan ongkos kerja selalu mengalami
perubahan. Biaya bekisting biasanya berkisar antara 35
sampai 60% atau lebih daripada keseluruhan biaya
konstruksi struktur beton. Menyadari pengaruh harga
pekerjaan bekisting terhadap biaya keseluruhan, adalah
kritis bagi engineer struktur untuk memfasilitasi ekonomis
bagi bekisting, tidak hanya ekonomis bagi material beton.
Ada beberapa pertimbangan yang dijadikan acuan
dalam penentuan konstruksi bekisting yang ekonomis :
a. Biaya dan kemungkinan terhadap penyesuaian
material yang telah ada dibandingkan dengan
membeli atau menyewa yang baru.
b. Biaya dari tingkat kualitas material yang lebih
tinggi dibandingkan dengan tingkat yang rendah
plus keahlian pekerja yang lebih baik dalam
peningkatan kualitas dan kegunaan.
c. Pemilihan terhadap material yang lebih mahal
sehingga dapat menghasilkan daya tahan dan
kapasitas
material

pengunaan
yang

dibandingkan

lebih murah

dengan

penggunaan yang lebih pendek.


d. Penyetelan di lokasi dibandingkan

dengan
tingkat
dengan

penyetelan di toko atau pabrik; hal ini tergantung


dari kondisi lokasi serta lahan yang tersedia,
ukuran besar kecilnya proyek, jarak tempat
penyetelan, dan lain sebagainya.
24

Penggunaan yang berulang dari bekisting ditujukan


untuk mencapai nilai ekonomis maksimum dari material.
Panel-panel bekisting sebaiknya dirancang agar mudah
dipasang, dibongkar dan diperkuat sehingga keuntungan
maksimum dapat diperoleh tanpa mengeluarkan banyak
biaya perbaikan. Pekerjaan yang paling sulit sehubungan
dengan bekisting adalah mengestimasi biaya bekisting
tersebut.
Para estimator harus memperhatikan faktor-faktor
yang mempengaruhi dan berkaitan dalam menghitung
pembiayaan pekerjaan dan mencapai suatu efisiensi.
Faktor - faktor tersebut yaitu :
a. Jenis metode yang dipakai; Hal ini berhubungan
dengan pemilihan jenismaterial, alat bantu dan
penyangga perkuatan yang akan dipakai serta
jenis pengadaannya (beli atau sewa).
b. Pemilihan tenaga kerja; Keterampilan dan harga
upah menjadi pertimbangan.
c. Metode pabrikasi, pemasangan,

perkuatan,

pembongkaran dan pemindahan.


2.3.

Kerangka Pemikiran
Menurut Hanna, (1999) sistem bekisting didefinisikan sebagai
sistem pendukung yang total untuk menempatkan beton segar termasuk
cetakan atau bidang yang kontak dengan beton beserta dengan
bagianpendukung cetakannya. Pekerjaan bekisting merupakan bagian
pekerjaan yang sangat penting didalam seluruh pelaksanaan pekerjaan
beton, karena pekerjaan ini akan menentukan posisi , ukuran serta
bentuk dari beton yang dicetak. Bekisting juga berfungsi sebagai struktur
penyangga sementara bagi seluruh beban yang ada sebelum struktur
beton berfungsi penuh. Beban tersebut bahan bahan, alat alat dan
pekerja yang bekerja.
25

Acuan (bekisting) adalah suatu sarana pembantu struktur beton


untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa ataupun
posisi yang direncanakan. Karena bersifat sementara, bekisting akan
dilepas atau dibongkar setelah beton mencapai kekuatan yang cukup.
Pengertian dari bekisting konvensional adalah bekisting kontak terdiri
dari kayu papan dengan perkuatan kayu kaso. Bekisting konvensional
adalah bekisting yang terdiri dari papan dan kayu balok yang dikerjakan
di tempat. Bekisting jenis ini adalah bekisting yang setiap kali setelah
dilepas dan dibongkar menjadi bagian-bagian dasar, dapat disusun
kembali menjadi sebuah bentuk lain.
Pada umumnya sebuah bekisting serta alat-alat penopangnya
merupakan sebuah konstruksi yang bersifat sementara dengan tiga
fungsi utama (Farida fatmawati, 2013) , yaitu :
a. Untuk memberikan bentuk kepada sebuah konstuksi
beton.
b. Untuk

memperoleh

struktur

permukaan

yang

diharapkan.
c. Untuk memikul beton, hingga konstruksi tersebut cukup
keras untuk dapat memikul diri sendiri, peralatan dan
tenaga kerja
Perhitungaan perkuatan bekisting meliputi perhitungan perkuatan
pada masing-masing metode bekisting yaitu perhitungan perkuatan kaso
pada metode bekisting konvensional dengan sistem ULMA (Farida
Rahmawati, 2013).
Ada beberapa pertimbangan yang dijadikan acuan dalam
penentuan konstruksi bekisting yang ekonomis :
a. Biaya dan kemungkinan terhadap penyesuaian material
yang telah ada dibandingkan dengan membeli atau
menyewa yang baru.
b. Biaya dari tingkat kualitas material yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tingkat yang rendah plus keahlian
26

pekerja yang lebih baik dalam peningkatan kualitas dan


kegunaan.
c. Pemilihan terhadap material yang lebih mahal sehingga
dapat

menghasilkan

daya

tahan

dan

kapasitas

pengunaan dibandingkan dengan material yang lebih


murah dengan tingkat penggunaan yang lebih pendek.
d. Penyetelan di lokasi dibandingkan dengan penyetelan
di toko atau pabrik; hal ini tergantung dari kondisi lokasi
serta lahan yang tersedia, ukuran besar kecilnya
proyek, jarak tempat penyetelan, dan lain sebagainya.
Penggunaan yang berulang dari bekisting ditujukan untuk
mencapai nilai ekonomis maksimum dari material. Panel-panel bekisting
sebaiknya dirancang agar mudah dipasang, dibongkar dan diperkuat
sehingga keuntungan maksimum dapat diperoleh tanpa mengeluarkan
banyak biaya perbaikan. Pekerjaan yang paling sulit sehubungan
dengan bekisting adalah mengestimasi biaya bekisting tersebut.
Para

estimator

harus

memperhatikan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi dan berkaitan dalam menghitung pembiayaan pekerjaan


dan mencapai suatu efisiensi. Faktor faktor tersebut yaitu :
a. Jenis metode yang dipakai; Hal ini berhubungan
dengan pemilihan jenismaterial, alat bantu dan
penyangga perkuatan yang akan dipakai serta jenis
pengadaannya (beli atau sewa).
b. Pemilihan tenaga kerja; Keterampilan dan harga upah
menjadi pertimbangan.
c. Metode
pabrikasi,

pemasangan,

pembongkaran dan pemindahan.

27

perkuatan,

Gambar 2.1. Kerangka pemikiran

28