Anda di halaman 1dari 28

REFERAT BEDAH

HERNIA INGUINALIS

Penyusun:
Setiadi Winata
(406148069)

Pembimbing:
dr. Adi Purnomo, Sp.B
dr. Suryo Adji, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK STASE BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
TARUMANAGARA
PERIODE 28 MARET 4 JUNI 2016
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA, SEMARANG
1

Daftar Isi
Lembar
Persetujuan..
..

Kata
Pengantar
.

ii

Daftar
isi..
.

iii

Bab I Pendahuluan
I.1

Latar

Belakang.
................
1
I.2

Epidemiologi.

...
3

Bab II Tinjauan Pustaka


II.1 Hernia Inguinalis
II.3.1
Definisi
2

...
7
II.3.2
Anatomi
..
8
II.3.3
Etiologi
....
9
II.3.4 Klasifikasi..
.
10
II.3.5 Gejala

Klinik

11
II.3.6 Pemeriksaan

Fisik

..

.
12
II.3.7 Penatalaksanaan
..
13
II.3.8 Komplikasi.
.
20
II.3.9 Prognosis.

22

Bab

III

Ringkasan.

..................

23

Daftar
Pustaka..
..

BAB I
Pendahuluan
II.1 Latar Belakang
Hernia adalah protrusi atau penonjolan organ dan isi
rongga lainnya akibat kelemahan struktur dinding rongga
tersebut.1,2,3 Pada hernia abdomen, isi perut menonjol
melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo
aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri dari cincin, kantong,
dan isi hernia.3,4
Hernia

diklasifikasikan

menjadi

berbagai

macam

berdasarkan cara terjadinya, letak, dan sifatnya :


1. Hernia menurut cara terjadinya
a. Hernia kongenital
Merupakan hernia yang terjadi sejak lahir akibat
adanya

defek

atau

malformasi

anatomi

maupun

fisiologi secara kongenital.3


b. Hernia akuisita
Hernia yang umumnya terjadi pada usia dewasa
dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang meningkatkan
tekanan intra abdomen seperti batuk kronis dan
kebiasaan mengedan.3
4

2. Hernia menurut letaknya


a. Hernia umbilikal
b. Hernia diafragma
c. Hernia inguinal
d. Hernia femoral

Gambar . Lokasi hernia5


3. Hernia menurut sifatnya
a. Hernia reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk melalui pintu masuk
hernia. Organ yang mengalami hernia biasanya keluar
pada posisi berdiri atau terjadi peningkatan tekanan
intra abdomen, dan dapat masuk lagi pada posisi
berbaring atau didorong ke dalam rongga abdomen.3
Pada hernia reponibel tidak

ada keluhan nyeri

ataupun tanda-tanda adanya obstruksi usus.3


b. Hernia ireponibel
Isi hernia tidak dapat masuk lagi meskipun telah
diusahakan reposisi dengan mendorongnya ke rongga
abdomen.

Biasanya

disebabkan

karena

terjadi

perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong


hernia atau biasa disebut hernia akreta.3
5

Meskipun isi hernia tidak dapat masuk lagi, hernia


ireponibel

juga

tidak

memberikan

keluhan

nyeri

ataupun tanda obstruksi usus.3

c. Hernia inkarserata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia dan tidak dapat
kembali ke rongga perut sehingga isi hernia yang
biasanya usus akan mengalami gangguan pasase dan
menimbulkan gejala obstruksi.3
d. Hernia strangulata
Penjepitan

isi

hernia

oleh

cincin

hernia

mengakibatkan gangguan vaskularisasi pada organ


yang mengalami hernia. Gangguan vaskularisasi dapat
terjadi dalam berbagai tahap, mulai dari bendungan
hingga terjadi nekrosis.3
Selain karena adanya defek pada dinding abdomen,
hernia

dipengaruhi

oleh

peningkatan

tekanan

intra

abdomen. Faktor yang mempengaruhi peningkatan tersebut


antara lain batuk kronis, kebiasaan mengejan saat buang air,
atau aktivitas mengangkat barang berat.4
I.2 Epidemiologi
Berdasarkan data penelitian di Amerika Serikat, dalam 1
tahun terdapat setidaknya 1 juta kasus hernia dinding
abdomen

yang

dilakukan

tindakan

operatif.

75%

di

antaranya merupakan hernia yang terjadi pada daerah


sekitar lipat paha.4

Hernia umbilikal merupakan hernia yang paling banyak


terjadi pada anak-anak, terutama dari ras Afrika. Insiden
hernia umbilikal pada anak kulit hitam 8x lebih besar
dibandingkan anak kulit putih.5
Hernia diafragma kongenital terjadi pada 1 dari 2.000
3.000 kelahiran hidup dan merupakan 8% dari keseluruhan
kasus malformasi kongenital. Hanya sekitar 61% janin
dengan hernia diafragma yang dapat lahir hidup. Dan
setelah kelahiran, angka mortalitas mencapai 40 62%.5
Hernia inguinal merupakan hernia yang paling banyak
ditemukan, yaitu sekitar 75% dari seluruh kasus hernia
dinding abdomen.

/3 nya merupakan hernia inguinalis

indirek dan 1/3 nya hernia inguinalis direk. Umumnya lebih


banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita. Insiden hernia
inguinalis pada anak adalah 4,4% dari seluruh kelahiran
hidup.1
Hernia femoralis hanya merupakan 3% dari seluruh kasus
hernia dan 15% nya terjadi bilateral. Hernia femoralis lebih
banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria karena bentuk
anatomi tulang pelvis yang berbeda. Namun wanita secara
umum

masih

lebih

sering

terkena

hernia

inguinal

inkarserasi

maupun

dibandingkan hernia femoralis.1


Perkembangan

hernia

menjadi

strangulasi biasanya terjadi pada anak, yaitu sekitar 10


20%. 50% nya terjadi pada anak berusia di bawah 6 bulan.1

BAB II
Tinjauan Pustaka
II.1 HERNIA INGUINALIS
II.1.1 Definisi
Hernia inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian
usus masuk ke dalam kanalis inguinalis akibat kelemahan
pada

dinding

abdomen.4,3 Hernia

inguinalis

merupakan

hernia yang paling sering terjadi pada orang dewasa, dan


yang

kedua

tersering

pada

anak-anak

setelah

hernia

umbilikalis.3

Gambar 16. Hernia inguinalis4


II.1.2 Anatomi
Kanalis inguinalis merupakan sebuah terowongan pada
abdomen anterior bagian bawah. Terowongan ini terbentuk
oleh :
-

Bagian atap

: aponeurosis m. oblikus eksternus

Bagian dasar

: ligamentum inguinalis pouparti

Batas kraniolateral :

anulus inguinalis internus bagian

terbuka

dari

fasia

tranversa

dan

aponeurosis m. transversus abdominis


-

Batas medial bawah

anulus inguinalis eksternus

bagian terbuka dari aponeurosis m.


oblikus eksternus.4
Kanalis inguinalis berisi ligamentum inguinalis dan korda
spermatika, pada pria atau ligamentum rotundum pada
wanita.4

Gambar 17. Kanalis inguinalis3


Trigonum Hasselbach merupakan suatu segitiga anatomis
di dareah inguinal yang digunakan untuk membedakan
hernia inguinalis lateral dan medial. Trigonum tersebut
terbentuk dari :
- Bagian atap : m.oblikus internus
- Bagian dasar : fasia

transversa

dan

aponeurosis

m.transversus abdominis
- Batas medial : tepi m.rektus abdominis
- Batas lateral : vena epigastrika inferior
- Batas inferior: ligamentum inguinale3

Gambar 18. Trigonum Hasselbach3


10

II.1.3

Etiologi
Hernia terjadi jika bagian dari organ abdomen menonjol

melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada dinding


otot yang menahan organ tersebut pada tempatnya.4
Hernia inguinalis dapat terjadi karena kelainan kongenital
atau karena sebab yang didapat. Banyak faktor yang
berperan dalam pembentukan pintu masuk hernia, yaitu
anulus inguinalis internus, yang cukup lebar sehingga dapat
dilalui oleh kantong dan isi hernia. Selain itu ada pula faktor
yang

berperan

mendorong

isi

hernia

melewati

pintu

tersebut.4
Hernia inguinalis yang terjadi sejak lahir disebabkan oleh
prosesus

vaginalis

yang

masih

terbuka

akibat

proses

turunnya testis untuk masuk ke dalam skrotum. 90%


prosessus vaginalis pada neonatus tetap terbuka dan 30%
masih tetap belum menutup hingga usia 1 tahun.4
Sementara hernia inguinalis yang terjadi pada orang
dewasa terjadi akibat peningkatan tekanan intra secara
kronik

seperti

pada

pasien

dengan

hipertrofi

prostat,

konstipasi, asites, atau batuk kronis.4


Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur
mungkin
penunjang

karena
yang

kekuatan

struktur

semakin

berkurang.

otot

dan

Anulus

jaringan
inguinalis

internus pada usia lanjut sudah kendur sehingga membuat


pintu masuk hernia semakin mudah dilalui oleh organ
abdomen. Kelemahan otot dinding perut juga bisa terjadi
akibat kerusakan n.ilioinguinalis dan n.iliofemoralis setelah
apendektomi.4
II.1.4 Klasifikasi

11

Berdasarkan lokasi keluarnya organ abdomen ke kanalis


inguinalis, maka hernia inguinal dibedakan menjadi :
1. Hernia inguinalis lateralis / indirek
Penonjolan berada di lateral dari pembuluh darah
epigastrika inferior. Disebut juga hernia indirek karena
organ yang mengalami hernia tidak langsung ke anulus
inguinalis

eksternus,

melainkan

masuk

ke

anulus

inguinalis internus terlebih dahulu dan masuk ke dalam


kanalis inguinalis. Bila organ yang mengalami hernia
cukup panjang maka akan menonjol keluar dari anulus
inguinalis eksternus.4
Tonjolan pada hernia inguinalis lateralis umumnya
berbentuk lonjong. Pada bayi dan anak disebabkan
karena tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum
saat penurunan testis ke skrotum.4
2. Hernia inguinalis medialis / direk
Penonjolan berada di medial dari pembuluh darah
epigastrika inferior. Disebut juga hernia direk karena
organ yang mengalami hernia tidak melalui kanalis
inguinalis,

melainkan

langsung

menuju

ke

annulus

inguinalis eksterna melalui kelemahan dinding posterior,


yaitu trigonum Hasselbach.4
Tonjolan pada hernia inguinalis medialis umumnya
berbentuk bulat dan dapat terjadi bilateral. Hernia ini
hampir selalu disebabkan oleh peninggian tekanan intra
abdomen

kronik

dan

kelemahan

dinding

trigonum

Hasselbach. Karena tidak melalui kanalis inguinalis dan


cincin hernia yang longgar, jarang terjadi inkarserasi dan
strangulasi.4

12

3. Hernia pantalon
Merupakan hernia ingunalis lateralis dan medialis yang
terjadi

secara

bersamaan.

Kedua

kantong

hernia

dipisahkan oleh pembuluh darah epigastrika inferior


sehingga

berbentuk

seperti

celana.

Keadaan

ini

ditemukan pada 15% dari keseluruhan kasus hernia


inguinalis.4
II.1.5 Gejala Klinik
Pada awalnya pasien akan mengeluh adanya rasa seperti
terbakar

di

daerah

inguinal

yang

mendahului

adanya

benjolan yang dapat teraba. Rasa terbakar ini mungkin tidak


hanya dirasakan di daerah inguinal tetapi menyebar ke
daerah panggul, punggung, kaki, dan genital. Penyebaran
nyeri ini disebut nyeri alih atau reffered pain.4
Pasien akan datang ke dokter bila mulai terasa adanya
benjolan di daerah lipat paha paha yang semakin membesar
secara progresif dan terkadang disertai rasa nyeri. Tonjolan
dan rasa nyeri tersebut biasanya semakin nyata dan hebat
saat bekerja, batuk, atau mengejan. Keluhan akan berkurang
saat malam hari saat pasien berbaring dan istirahat. Pada
hernia yang sudah mencapai skrotum, daerah tersebut akan
mengalami mati rasa.4
Nyeri yang disertai keluhan lain seperti mual dan muntah
biasanya

terjadi

pada

hernia

yang

sudah

mengalami

strangulasi akibat nekrosis atau inkarserasi akibat ileus. 4


Pada bayi dan anak-anak tonjolan akan terlihat semakin
jelas dan membesar saat menangis, mengejan, batuk, dan
saat buang air kecil.4

13

II.1.6

Pemeriksaan Fisik
Tonjolan

kenyal

yang

terdapat

di

lipat paha

perlu

diperiksa lebih teliti untuk memastikan tonjolan tersebut


adalah hernia. Titik yang tepat untuk meraba hernia adalah
dengan meletakkan jari telunjuk di lateral kulit skrotum dan
dimasukkan sepanjang funikulus spermatikus sampai ujung
jari tengah mencapai anulus inguinalis internus. Jika jari
tangan tak dapat melewati anulus inguinalis internus karena
adanya

massa,

maka

umumnya

diindikasikan

adanya

hernia.4
Pemeriksaan tonjolan dilakukan pada posisi berdiri dan
tidur untuk membedakan dengan tonjolan yang disebabkan
oleh limfadenopati. Pada hernia, tonjolan berkurang dengan
posisi tidur. Sementara pada limfadenopati, ukuran tonjolan
tidak berubah dengan perubahan posisi.4
Dalam memeriksa tonjolan yang terdapat pada lipat
paha, perlu dicoba untuk mereposisi organ yang mengalami
hernia dengan mendorongnya kembali ke rongga abdomen
untuk menilai apakah hernia masih reponibel atau sudah
ireponibel.4
Untuk membedakan hernia inguinalis direk dan indirek,
dilakukan penekanan pada kedua anulus inguinalis. Hernia
inguinalis

indirek

dapat

direposisi

dengan

melakukan

penekanan pada anulus inguinalis internus, sementara


hernia direk dapat direposisi dengan melakukan penekanan
pada annulus inguinalis eksternus.3

14

Gambar 19. Hernia indirek dapat direposisi dengan


penekanan pada anulus inguinalis internus3

Gambar 20. Hernia direk dapat direposisi dengan


penekanan pada anulus inguinalis eksternus3
Auskultasi

dilakukan

membedakannya

dengan

pada

hernia

tonjolan

lain.

inguinalis
Bila

untuk

terdengar

adanya bising usus, maka penonjolan tersebut adalah


hernia. Bila hernia sudah turun hingga ke skrotum, maka
perlu

dilakukan

pemeriksaan

transiluminasi

untuk

membedakannya dengan hidrokel. Pada hernia didapatkan


hasil transiluminasi yang negatif.4
II.1.7

Penatalaksanaan

1. Konservatif
15

Awalnya perlu dicoba untuk mereposisi organ yang


mengalami hernia. Reposisi dilakukan secara bimanual,
yaitu tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong
sementara tangan kanan mendorongnya ke arah cincin
hernia dengan tekanan lambat dan menetap sampai
terjadi reposisi.4
Bila

melakukan

reposisi

hernia

pada

anak-anak,

sebaiknya diberikan sedatif terlebih dahulu dan kompres


es di atas hernia untuk mengurangi edema. Bila reposisi
tidak berhasil dalam waktu 6 jam, maka operasi harus
segera dilakukan.4
Selain melakukan reposisi, tindakan konservatif untuk
hernia

inguinalis

adalah

dengan

menggunakan

alat

penyangga. Penyangga harus diletakkan dengan tepat


untuk

memberikan

tekanan

eksternal

yang

cukup

terhadap defek dinding abdomen. Penyangga dipasang


pagi hari sebelum pasien beraktivitas dan dilepas pada
malam hari saat menjelang tidur.4
Pemakaian bantalan penyangga hanya untuk menahan
hernia yang telah direposisi dan tidak menyembuhkan
sehingga harus dipakai seumur hidup. Kerugian dari
penggunaan alat penyangga adalah merusak kulit dan
tonus otot dinding perut di daerah yang tertekan. Pada
anak-anak, cara ini dapat menimbulkan atrofi testis
karena

tekanan

pada

funikulus

spermatikus

yang

mengandung pembuluh darah testis.4

16

Gambar 21. Alat penyangga untuk terapi


konservatif3
2. Operatif
Tindakan pembedahan pada hernia bertujuan untuk
mengeliminasi kantong peritoneum dan menutup defek
pada fasia yang merupakan dasar kanalis inguinalis.
Prinsip dasar langkah operasi hernia adalah herniotomi
dan hernioplasti.4
Herniotomi adalah tindakan membebaskan kantong
hernia

sampai

ke

jaringan

lemak

pre

peritoneal.

Kemudian kantong hernia dibuka agar isi hernia dapat


dibebaskan dari perlekatan yang ada dan kemudian
direposisi. Setelah dilakukan reposisi, kantong hernia
dijahit kembali dengan ikatan setinggi mungkin.4
Hernioplasti

adalah

tindakan

memperkecil

anulus

inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang


kanalis inguinalis. Tindakan ini sangat berperan dalam
mencegah terjadinya residif. Dikenal berbagai metode
hernioplastik :
a. Metode Bassini
Metode ini memperkecil anulus inguinalis internus
dengan

cara

menutup

dan

memperkuat

fasia
17

transversa. Awalnya aponeurosis m.oblikus eksternus


dibuka

sampai

kemudian
funikulus

ke

fasia

anulus

inguinalis

m.kremaster

spermatikus

dapat

eksternus,

direseksi

terlihat.

sampai

Setelah

itu

dinding kanalis inguinal posterior dibuka agar rongga


pre peritoneal dapat terlihat dengan jelas, kemudian
dilakukan diseksi dan ligasi kantong peritoneum ke
fossa iliaka.3
Dinding posterior kanalis inguinalis direkonstruksi
dengan 3 lapisan. Awalnya aponeurosis m.oblikus
internus,

m.transversus

transversa

abdominis,

diaproksimasikan

ke

dan

fasia

bagian

tepi

ligamentum inguinal dengan jahitan terputus. Isi


kanalis inguinal diletakkan di atas dinding yang sudah
diperkuat

tersebut,

kemudian

ditutup

dengan

aponeurosis dari m.oblikus eksternus di atasnya.4


Kelemahan

metode

Bassini

adalah

adanya

regangan berlebihan dari otot dan fasia yang dijahit


sehingga

menyebabkan

tidak

tertutupnya

sarung

femoral yang dapat mencetuskan hernia femoralis.


Namun risiko ini dapat dikurangi dengan penggunaan
mesh yang dapat memperkuat fasia transversa yang
membentuk dasar kanalis inguinalis tanpa menjahit
otot-otot ke ligamentum inguinal.4

18

Gambar 22. Metode Bassini3


b. Metode Shouldice
Prinsip metode ini adalah memperkuat dinding
posterior kanalis inguinal dengan 4 lapis jahitan
kontinu menggunakan benang monofilamen yang tidak
diserap. Pada beberapa rumah sakit digunakan kawat
stainless untuk menjahit setiap lapisan, termasuk lapis
subkutan.3
Awalnya dilakukan insisi pada fasia transversa,
kemudian fasia ini diaproksimasi ulang ke ligamentum
inguinal.

Untuk

mencegah

terlepasnya

jahitan,

conjoint tendon dan m.oblikus internus dipertemukan


dengan menggunakan benang yang tidak diserap dan
teknik jahitan kontinu.4
Kelemahan metode ini adalah sering merusak
berkas kremaster lateral yang terdiri dari pembuluh
darah spermatika eksterna dan cabang genital dari
n.genitofemoralis. Namun hingga kini belum ada
laporan kondisi tersebut menimbulkan efek yang
merugikan pada pasien. Terjadinya ptosis testis dapat
19

dicegah dengan memperbaiki pedikel distal dari fasia


kremaster ke m.oblikus eksternus.3
Metode ini sebenarnya dapat menurunkan angka
rekurensi, tetapi kini sudah tidak banyak digunakkan
karena membutuhkan diseksi yang luas dan keahlian
yang tinggi.4

Gambar 23. Metode Shouldice3


c. Metode McVay
Metode ini memandang bahwa ligamentum pubis
superior

merupakan

merekonstruksi

tempat

dinding

yang

posterior

baik

kanalis

untuk
inguinal

karena berasal dari derivat jaringan yang sama


dengan fasia transversa.3
Prinsipnya adalah mempertemukan conjoint tendon
ke ligamentum Cooper dari tuberkulum pubis lateralis
melewati ligamentum inguinal sampai ke kanalis
femoralis.4
Kerugian metode ini adalah pasien sering mengeluh
adanya nyeri dan pemulihan pasca operasi yang lama.
Namun

keuntungannya,

operator

dapat

menilai

kekuatan ligamentum pubis superior secara langsung


untuk memperbaiki hernia.3
20

Metode McVay biasanya dilakukan pada hernia


inguinalis yang besar, hernia inguinalis direk, hernia
yang mengalami rekurensi, dan hernia femoralis. Bila
digunakan untuk memperbaiki hernia femoralis, maka
sarung femoral harus dipersempit.4

Gambar 24. Metode McVay3


Teknik operasi yang lebih canggih adalah dengan cara
prosedur laparaskopi. Prinsipnya adalah meletakkan mesh
yang lebar pada seluruh dinding bawah inguinal. Pada
metode ini, rongga peritoneal dijangkau dengan teknik
Trans Abdominal Preperitoneal Procedure (TAPP) atau
Totally Extra Peritoneal (TEP).4
Pada teknik TAPP, rongga peritoneal dijangkau dengan
laparaskopi

konvensional

pada

umbilikus.

Kemudian

peritoneum yang menjadi dasar inguinal dilakukan diseksi


menjadi flap. Keuntungan teknik TAPP adalah lebih
luasnya lapangan operasi sehingga gambaran anatomi
tampak lebih jelas dan dapat mendeteksi adanya hernia
yang tersembunyi.4

21

Gambar 25. Metode laparaskopi TAPP3


Sementara
dikembangkan

pada

teknik

dengan

TEP,

rongga

menggunakan

peritoneal

balon

yang

dimasukkan di antara m.rektus posterior dan peritoneum


sehingga semua alat dapat masuk ke rongga peritoneal. 4
Keuntungan teknik TEP adalah memberikan efek nyeri
yang lebih minimal dan masa pemulihan lebih cepat.4

Gambar 26. Metode laparaskopi TEP3


22

Untuk memperkuat dinding yang mengalami defek


biasanya digunakan mesh yang dilekatkan ke dinding
abdomen secara permanen. Penggunaan mesh ini dapat
mengurangi

risiko

terjadinya

kekambuhan

hernia.

Keuntungan penggunaan mesh antara lain :


a. Aman

digunakan

pada

pasien

dengan

penyakit

penyerta yang kronik


b. Efektif dan kuat
c. Penyembuhan lebih cepat
d. Nyeri pasca operasi minimal
e. Jarang menimbulkan komplikasi.4

Gambar 27. Penggunaan mesh4

II.1.8 Komplikasi
Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami
oleh penderita dan isi hernia. Komplikasi yang biasa terjadi
antara lain :
1. Strangulasi
Jepitan cincin hernia terhadap isi hernia menyebabkan
gangguan perfusi pada isi hernia tersebut. Pada awalnya
terjadi bendungan vena yang menyebabkan edema dari
organ

yang

mengalami

hernia.

Edema

organ

akan

memperberat jepitan cincin hernia sehingga peredaran


23

darah ke isi hernia menjadi terganggu dan lama kelamaan


mengalami nekrosis.4
Bila

telah

terjadi

strangulasi

akibat

gangguan

vaskularisasi maka dapat terjadi keadaan toksik akibat


gangren. Pasien akan mengeluh nyeri hebat di tempat
hernia yang menetap karena rangsangan peritoneal.4
2. Inkarserasi
Isi hernia terperangkap sedemikian rupa sehingga
terjadi obstruksi usus dan memberikan gejala ileus
obstruktif. Pada anak, inkarserasi sering terjadi pada
umur di bawah 2 tahun. Hernia pada anak jarang
mengalami gangguan vitalitas dari isi hernia karena
cincin hernia lebih elastis dibandingkan orang dewasa.4
Gejala
dimulai

klinik
dengan

hernia

yang

tanda-tanda

mengalami
obstruksi

inkarserasi

usus

dengan

gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam


basa.4
Inkarserasi retrograd adalah suatu keadaan di mana 2
segmen usus terperangkap di dalam kantong hernia dan
1 segmen lainnya berada di dalam rongga peritoneum
sehingga berbentuk seperti huruf W.4

3. Perluasan ke skrotum
Sebagian

besar

hernia

inguinalis

lateralis

akan

mengalami pembesaran dan penekanan lebih lanjut


sehingga isi hernia dapat masuk sampai ke skrotum.
Skrotum

terlihat

tidak

simetris

di

mana

sisi

yang

mengalami hernia terlihat lebih besar, dan kadang


disertai rasa nyeri.4
24

II.1.9 Prognosis
Prognosis hernia inguinalis tergantung dari jenis dan
kemampuan

hernia,

serta

kemampuan

pasien

untuk

mengurangi faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan


perkembangan hernia.4
Bila

hernia

sudah

dilakukan

tindakan

pembedahan

dengan baik, maka angka rekurensi dapat diturunkan hingga


1 3% dalam waktu 10 tahun. Kekambuhan biasanya
disebabkan oleh tegangan yang berlebihan pada saat
perbaikan, jaringan yang kurang, hernioplasti yang tidak
adekuat,

dan

hernia

yang

terabaikan.

Hernia

direk,

khususnya hernia direk bilateral, biasanya lebih sering


mengalami kekambuhan dibandingkan hernia indirek.4

25

BAB III
Ringkasan
Hernia adalah penonjolan organ yang pada umumnya adalah
organ abdomen akibat kelemahan struktur dinding pembentuk
suatu rongga. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui
defek dari lapisan muskulo aponeurotik dinding perut. Hernia
terdiri dari cincin, kantong, dan isi.
Hernia dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya,
letak,

dan

menurut

sifatnya.

Hernia

yang

paling

banyak

ditemukan adalah di daerah lipat paha, yaitu hernia inguinal.


Diagnosis hernia pada umumnya dapat ditegakkan melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Sebagian besar
pasien tidak mengeluhkan gejala apapun selain adanya benjolan
yang sesuai dengan letak hernia. Nyeri biasanya terjadi bila
hernia sudah berkembang lebih lanjut.
Komplikasi hernia

yang paling sering adalah terjadinya

strangulasi dan inkarserasi dari isi hernia. Strangulasi berarti isi


hernia mengalami gangguan vaskularisasi akibat jepitan dari
cincin hernia dan dapat menjadi nekrosis. Sementara inkarserasi
berarti isi hernia yang pada umumnya adalah usus mengalami
obstruksi sehingga memberikan gejala seperti ileus obstruktif.
Prinsip

dasar

pembedahan

penatalaksanaan

adalah

hernia

membersihkan

melalui

tindakan

kantong

hernia,

26

mengembalikan organ yang mengalami hernia ke tempatnya


semula, kemudian memperkuat dinding yang mengalami defek.
Dengan kemajuan teknologi, pembedahan hernia kini dapat
menggunakan teknik laparoskopi sehingga tidak diperlukan insisi
yang terlalu besar.
Untuk memperkuat dinding yang mengalami defek, terutama
pada hernia yang besar, dapat digunakan mesh prolen yang
dilekatkan pada dinding tersebut.
Prognosis hernia pada umumnya baik, di mana jarang terjadi
kekambuhan. Namun prognosis ini ditentukan oleh kemampuan
pasien

untuk

mengontrol

faktor-faktor

risiko

yang

dapat

mencetuskan hernia kembali.

Daftar Pustaka
1. Jerry

Balentine.

Hernia.

Available

from

http://www.medicinenet.com/ hernia/article.htm. 2009


2. R Sjamsuhidajat, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.
EGC. Jakarta : 2004
3. Seputar Kefokteran.

Hernia

Inguinalis.

Available

from

http://medlinux. blogspot.com/2007/09/hernia-inguinalis.html.
6 September 2007
4. Stanley
L
Smith.

Hernia.

Available

from

http://www.stanleysmithsurgery. com/hernia_types.jpg. 2006

27

5. Bret

Nicks.

Hernias.

Available

from

http://emedicine.medscape.com/ article/775630-overview.

:
4

November 2008
6. Inguinal Hernia : Anatomy and Management. Available from :
http://cme.medscape.com/viewarticle/420354_3

28