Anda di halaman 1dari 141

KEPUTUSAN BUPATI KUTAI KARTANEGARA

NOMOR : 389 / SK - BUP / HK/ 2015


TANGGAL, 13 JULI 2015

nalisa tandar elanja


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

BAGIAN ADMINISTRASI PERLENGKAPAN


SEKRETARIAT KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
TAHUN ANGGARAN 2015

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

DAFTAR ISI

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

DAFTAR ISI

Bab I

Bab II

Bab III

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Permasalahan
1.3. Tujuan dan Sasaran
1.4. Output Yang Diharapkan
1.5. Sistematika Penyusunan

I1
I3
I3
I5
I5

DASAR HUKUM DAN KONSEP


PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR
BELANJA
2.1. Anggaran Berbasis Kinerja
2.2. Definisi Analisis Standar Belanja
2.3. Dasar Hukum Penyusunan ASB
2.4. Konsep Penyusunan ASB

II 1
II 4
II 4
II11

METODE PENGEMBANGAN ASB


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI
KARTANEGARA
3.1. Langkah-Langkah Penyusunan ASB
3.2. Pola Pikir Penyusunan ASB

III 1
III 8

~i~

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB)


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
ASB BAGI DINAS, BADAN, KANTOR, SEKRETARIAT,
INPEKTORAT DAN RUMAH SAKIT
PENYUSUNAN DOUMEN RUTIN UNTUK SKPD
I - 01
(RENSTRA SKPD RKA/DPA SKPD LAPORAN
KEUANGAN SKPD, LAPORAN CAPAIAN KINERJA
PEMELIHARAAN RUTIN / BERKALA BANGUNAN
I - 02
GEDUNG KANTOR YANG BERSIFAT RINGAN
ADMINISTRASI
KEGIATAN
REHABILITASI
I - 03
BANGUNAN YANG BERSIFAT SEDANG DAN BERAT
PEMELIHARAAN
KENDARAAN
DINAS
/
I - 04
OPERASIONAL
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN
I - 05
PAKAIAN
APRESIASI ATAU PENGHARGAAN YANG DIBERIKAN
I - 06
KEPADA PERSONAL
APRESIASI ATAU PENGHARGAAN YANG DIBERIKAN
I - 07
KEPADA LEMBAGA
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN
I - 08
MATERIAL
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA
I - 09
BARANG YANG AKAN DISERAHKAN KEPADA
MASYARAKAT

~ ii ~

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

I - 10
I - 11
I - 12
I - 13
I - 14
I - 15
I - 16
I - 17
I - 18
I - 19
I - 20
I - 21
I - 22

ADMINISTRASI KEGIATAN PEMBANGUNAN FISIK


(BELANJA MODAL)
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN TANAH
(BELANJA MODAL)
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA
BARANG (BELANJA MODAL)
ADMINISTRASI
KEGIATAN
YANG
BERSIFAT
PERENCANAAN
BIMBINGAN TEKNIS / PELATIHAN TEKNIS
MASYARAKAT
BIMBINGAN TEKNIS / PELATIHAN TEKNIS
PEGAWAI
FORUM
KOMUNIKASI
ATAU
KOORDINASI
LINGKUP DAERAH
FORUM
KOMUNIKASI
ATAU
KOORDINASI
INTERN SKPD
MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN
KEGIATAN DI LINGKUNGAN INTERN SKPD
MONITORING / PENGAWASAN / PENGENDALIAN /
PEMANTAUAN
DAN
EVALUASI
KEGIATAN
ANTARSKPD DI LINGKUP DAERAH
PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH
PENYUSUNAN DOKUMEN
SOSIALISASI
ATAU
PENYULUHAN
KEPADA
MASYARAKAT

~ iii ~

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

I - 23
I - 24
I - 25
I - 26
I - 27
I - 28
I - 29
I - 30
I - 31
I - 32
I - 33
I - 34

SOSIALISASI KEPADA PEGAWAI


KEGIATAN YANG BERSIFAT PERLOMBAAN
KEGIATAN YANG BERSIFAT FESTIVAL ATAU
PAMERAN
ADMINISTRASI
PENGEMBANGAN
SISTEM
INFORMASI ATAU PENYUSUNAN APLIKASI
ADMINISTRASI PEMELIHARAAN SISTEM INFORMASI
ATAU APLIKASI
PEMELIHARAAN WEB DESIGN (PENAMBAHAN
ATAU UPDATE HALAMAN WEB)
PENYELENGGARAAN OPERASIONAL KESEHATAN
BAGI MASYARAKAT
PENYELENGGARAAN OPERASIONAL KESEHATAN
BAGI MASYARAKAT (OPERASIONAL PUSKESMAS)
REHABILITASI LAHAN PERTANIAN
ADMINISTRASI PENYEBARLUASAN INFORMASI
ATAU PUBLIKASI ATAU PROMOSI
PEMBUKAAN LAHAN BARU UNTUK TANAMAN
PENYUSUNAN PERATURAN BUPATI

~ iv ~

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB)


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

II

II - 01
II - 02
II - 03
II - 04
II - 05
II - 06
II - 07
II - 08
II - 09

ASB BAGI SKPD KECAMATAN


PENDAMPINGAN ATAU PEMBINAAN ATAU
FASILITASI
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN FISIK
(BELANJA MODAL)
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN FISIK
(BELANJA BARANG YANG AKAN DISERAHKAN
KEPADA MASYARAKAT)
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA
BARANG (BELANJA MODAL)
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN
MATERIAL
FORUM KOMUNIKASI ATAU KOORDINASI
MONITORING / PENGAWASAN / PENGENDALIAN /
PEMANTAUAN
DAN
EVALUASI
KEGIATAN
KECAMATAN
PENYUSUNAN DOKUMEN
BIMBINGAN TEKNIS / PELATIHAN TEKNIS /
SOSIALISASI KEPADA MASYARAKAT

~v~

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

II - 10
II - 11
II - 12

PEMELIHARAAN RUTIN / BERKALA BANGUNAN


GEDUNG KANTOR YANG BERSIFAT RINGAN
KEGIATAN YANG BERSIFAT PERLOMBAAN
PEMELIHARAAN
KENDARAAN
DINAS
/
OPERASIONAL

~ vi ~

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB)


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

III

III - 01
III - 02
III - 03
III - 04
III - 05
III - 06
III - 07
III - 08
III - 09
III - 10

ASB BAGI SKPD KELURAHAN


ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA
MODAL FISIK KELURAHAN
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN FISIK
(BELANJA BARANG YANG AKAN DISERAHKAN
KEPADA MASYARAKAT)
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA
BARANG (BELANJA MODAL)
ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN
MATERIAL
FORUM KOMUNIKASI DAN KOORDINASI
PENYUSUNAN DOKUMEN
PENYULUHAN ATAU PELATIHAN ATAU SOSIALISASI
BAGI MASYARAKAT LINGKUP KELURAHAN
ADMINISTRASI
KEGIATAN
REHABILITASI
BANGUNAN YANG BERSIFAT SEDANG DAN BERAT
PEMELIHARAAN RUTIN / BERKALA GEDUNG
KANTOR YANG BERSIFAT RINGAN
KEGIATAN YANG BERSIFAT PERLOMBAAN

~ vii ~

BAB. I

PENDAHULUAN

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Upaya untuk terus melakukan perubahan dan perbaikan dalam tata

pengelolaan keuangan negara/daerah di Indonesia terus dilakukan, baik di


tingkat pemerintah melalui penyempurnaan berbagai regulasi di bidang
keuangan negara, maupun di daerah melalui penyediaan instrumen dan
infrastruktur pendukung dalam pengimplementasian manajemen keuangan
daerah. Tujuan yang ingin dicapai dari berbagai upaya, baik di tingkat
pemerintah maupun pemerintah daerah adalah dalam upaya untuk
menciptakan sistem dan manajemen keuangan daerah yang semakin
ekonomis, efisien, efektif, transparan, akuntabel, responsif dan demokratis.
Kebijakan otonomi daerah yang dilaksanakan semenjak tahun 2001
lalu, saat ini telah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan seiring
dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintahan Daerah. Hal ini membawa implikasi penyempurnaan subsistem otonomi daerah lainnya termasuk sistem perencanaan dan
pengelolaan keuangan daerah.

I-1

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Sistem pengelolaan keuangan daerah yang sebelumnya diatur


dengan Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah dan Kepmendagri Nomor 29 Tentang Tentang Pedoman
Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah
Serta Tata Cara Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan
Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD, diganti dengan paket
perundangan lain, diantaranya; Undang-Undang Nomor 17 Tentang
Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007
Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah serta PP Nomor 38
Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
Dalam perspektif teori manajemen anggaran publik (public
expenditure

management),

pemberlakuan

ketiga

payung

hukum

pengelolaan keuangan daerah tersebut dapat dilihat sebagai alat untuk


menciptakan keterpaduan pengelolaan keuangan negara disamping
memperkuat terciptanya outcome pengelolaan keuangan publik, berupa;
teralokasinya sumber pembiayaan publik pada bidang dan sektor
pembangunan yang strategis (strategic allocation), terciptanya efisiensi
pengelolaan keuangan daerah (technical efficiency) dan terciptanya disiplin
anggaran (Fiscal Discipline).
I-2

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Secara lebih spesifik, untuk

menciptakan ketiga

outcome

pengelolaan keuangan daerah tersebut maka diperlukan berbagai


instrumen kebijakan pengelolaan keuangan

yang mengatur siklus

manajemen strategis pengelolaan keuangan daerah mulai dari perencanaan


hingga evaluasi serta pertanggungjawaban.
Standar Kebijakan Pengelolaan Belanja Langsung dalam hal ini
berfungsi sebagai rambu-rambu yang mengatur penyusunan belanja
langsung kegiatan satuan kerja perangkat daerah sesuai dengan batasan
rekening-rekening yang rasional serta tidak bertentangan dengan aturan
hukum yang berlaku. Sedangkan, Analisis Standar Belanja (ASB) dianggap
penting dalam proses verifikasi anggaran yang selama ini cenderung belum
standar dan masih dilaksanakan secara manual serta sangat tergantung
pada penilaian individual pelaksana verifikasi anggaran daerah.
1.2.

PERMASALAHAN
Analisis Standar Belanja (ASB) sebagai suatu instrumen penilaian

kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan
suatu kegiatan menjadi sangat penting untuk disusun dan disiapkan oleh
pemerintah daerah, sehingga setiap rencana pengeluaran atas suatu kegiatan
didasarkan atas penilaian kewajaran. Hal ini menjadi semakin penting
mengingat proses verifikasi anggaran yang dilaksanakan oleh Tim Anggaran
Pemerintah Daerah (TAPD) selama ini, seringkali tidak didasarkan atas penilaian
I-3

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

yang wajar. Dengan tersusunnya Analisis Standar Belanja (ASB), TAPD memiliki
dasar yang kuat dalam melaksanakan proses verifikasi terhadap RKA-SKPD yang
diajukan oleh masing-masing SKPD.
Sejalan dengan hal tersebut, Analisis Standar Belanja (ASB) harus
mampu menjadi pedoman bagi tim anggaran pemerintah daerah dalam menilai
kewajaran anggaran yang diajukan dalam RKA-SKPD sehingga pada akhirnya
anggaran belanja daerah dapat dilaksanakan secara lebih efisien. Mengacu pada
Permendagri No. 13 tahun 2006, setidaknya terdapat 1.966 nama kegiatan
yang harus disusun ASB-nya oleh pemerintah daerah dan setiap tahun Analisis
Standar Belanja (ASB) tersebut harus dimungkinkan untuk di-update mengikuti
perkembangan kondisi perekonomian terkini.
1.3.

TUJUAN DAN SASARAN


Tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah:

tersusunnya instrumen pendukung guna menilai kewajaran biaya dan


beban kerja atas suatu kegiatan di setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD).
Sedangkan, Sasaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:
a. Teridentifikasinya besaran standar kebutuhan fisik dan nilai biaya
dari setiap item dan total belanja untuk melaksanakan suatu
kegiatan yang diusulkan oleh setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD);

I-4

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

b. Tersusunnya pedoman dan instrumen yang jelas bagi Pemerintah


Kabupaten Kutai Kartanegara (Tim Anggaran Pemerintah) dalam
menilai kewajaran atau memverifikasi biaya dan beban kerja atas
setiap kegiatan yang diusulkan oleh setiap SKPD.
1.4.

OUTPUT YANG DIHARAPKAN


Output yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah

tersusunnya instrumen Analisis Standar Belanja (ASB) Pemerintah


Kabupaten Kutai Kartanegara yang berisi dokumen Analisis Standar Belanja
yang memuat informasi mengenai:

1.5.

Pengertian masing-masing ASB;

Proporsi Objek Belanja per Aktivitas;

Total Biaya Rerata (min-max);

SISTEMATIKA PENYUSUNAN
Laporan Analisis Standar Belanja (ASB) Pemerintah Kabupaten
Kutai Kartanegara ini akan disusun dalam 5 bab sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN, Dalam bab ini diuraikan latar belakang
perlunya

penyusunan

ASB

Pemerintah

Kabupaten

Kutai

Kartanegara, permasalahan, maksud dan tujuan, kerangka berpikir


dan sistematika penyusunan laporan.

I-5

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

BAB II DASAR HUKUM DAN KONSEP PENYUSUNAN ANALISIS


STANDAR BELANJA, Pada bab ini akan diuraikan secara umum
dasar hukum dan konsep Analisis Standar Belanja yang digunakan
dalam upaya merumuskan ASB.
BAB III METODE PENGEMBANGAN ANALISIS STANDAR BELANJA,
Pada bab ini akan diuraikan metode yang digunakan dalam
merumuskan ASB.
BAB IV ANALISIS STANDAR BELANJA, Pada bab ini diuraikan hasil
pengolahan dan analisis data.
BAB V PENUTUP, Pada bagian ini akan diuraikan kaedah
implementasi ASB di Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

I-6

BAB. II
DASAR HUKUM DAN KONSEP PENYUSUNAN
ANALISA STANDAR BELANJA

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

BAB II
DASAR HUKUM DAN KONSEP PENYUSUNAN
ANALISIS STANDAR BELANJA
2.1.

ANGGARAN BERBASIS KINERJA


Berdasarkan kamus besar bahasa indonesia, kinerja memiliki

beberapa arti, seperti prestasi, tingkat capaian, realisasi dan pemenuhan.


Kebanyakan terminologi mengacu pada dampak tujuan tindakan publik,
tetapi beberapa berhubungan secara subyektif dengan tingkat kepuasan yang
dirasakan sebagai suatu hasil dari suatu tindakan. Perlu dipahami bahwa
konsep kinerja harus dianggap sebagai sebuah alat/instrumen untuk
mencapai tujuan dan bersifat relatif atau dapat diperbandingkan baik
terhadap waktu, terhadap daerah atau SKPD lain.
Anggaran dengan pendekatan prestasi kerja merupakan suatu sistem
anggaran yang mengutamakan hasil kerja dan output dari setiap program dan
kegiatan yang direncanakan. Setiap dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Daerah untuk melaksanakan program dan kegiatan harus didasarkan atas
hasil dan output yang jelas dan terukur. Ini merupakan pembeda utama
antara anggaran kinerja dengan anggaran tradisional yang pernah diterapkan
sebelumnya yang lebih mempertanggungjawabkan input yang direncanakan
dengan input yang dialokasikan.
Mengacu pada definisi di atas, penyusunan anggaran berdasarkan
prestasi kerja pada dasarnya sudah dilakukan sejak pemerintah daerah
mengajukan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas dan Plafon
Anggaran Sementara (PPAS) harus ditentukan secara tegas mengenai
II - 1

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

besaran hasil dan outputnya. Namun, penyusunan anggaran berdasarkan


prestasi kerja akan terlihat secara operasional pada saat setiap SKPD
mengajukan RKA-SKPD (Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja
Perangkat Daerah). Dalam Pasal 39 ayat (1) sampai (3) Permendagri No. 13
tahun 2006 secara jelas menyatakan bahwa Penyusunan RKA-SKPD
dengan pendekatan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan
keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan
dari kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan
hasil tersebut. Untuk mengimplementasikan anggaran berdasarkan prestasi
kerja, pemerintah daerah perlu melengkapi diri dengan instrumen lain seperti
capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan
harga, dan standar pelayanan minimal.
Terdapat beberapa indikator yang secara umum dijadikan ukuran
pencapaian

kinerja

dalam

pengelolaan

anggaran

daerah.

Dalam

Kepmendagri No. 29 Tahun 2002, indikator kinerja diukur berdasarkan


input, output, hasil, manfaat dan dampak. Namun berdasarkan Permendagri
No. 13 Tahun 2006, indikator kinerja dibatasi menjadi masukan (input),
keluaran (output) dan hasil (outcome). Input adalah seluruh sumberdaya
yang digunakan untuk menghasilkan output. Keluaran (output) adalah
barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk
mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Hasil
(outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran
dari kegiatan-kegiatan dalam satu program.

II - 2

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Indikator-indikator kinerja di atas, pada dasarnya tidak bisa


memberikan penjelasan yang berarti tentang kinerja melainkan semata
menjelaskan keterkaitan proses yang logis antara input, output dan outcome
atau yang biasa disebut kerangka kerja logis. Indikator yang digunakan tidak
mampu menjelaskan apakah kinerja kita sudah semakin baik ataukah
semakin buruk? Indikator yang digunakan bahkan tidak akan mampu
menjawab apakah program dan kegiatan tersebut menyentuh
kepentingan publik/masyarakat atau tujuan jangka menengah dan
jangka panjang lainnya. Indikator tersebut hanya mampu menjelaskan
bahwa untuk setiap input yang digunakan ada sejumlah output yang
dihasilkan dan sejumlah outcome pada level program.
Mengingat kinerja bersifat relatif, maka harus ada data pembanding
(benchmark). Dengan adanya data pembanding, memungkinkan untuk
menilai apakah program dan kegiatan yang direncanakan lebih efisien dan
lebih efektif dibandingkan dengan data pembanding tersebut atau program
dan kegiatan yang sama di tahun sebelumnya. Suatu program atau kegiatan
dikatakan semakin efisien jika untuk mencapai output tertentu diperlukan
biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan data dasar (benchmark) atau
dengan biaya tertentu akan diperoleh output yang lebih besar dibandingkan
data dasar dan sebaliknya. Efektivitas dapat dilihat dengan membandingkan
rencana output terhadap rencana hasil, jika dengan rencana output tertentu
akan mampu dicapai hasil yang lebih besar atau dengan target hasil tertentu
akan dicapai dengan output yang lebih kecil dibandingkan dengan data
dasar, maka program dan kegiatan tersebut dikatakan semakin efektif.

II - 3

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

2.2.

DEFINISI ANALISIS STANDAR BELANJA


Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen

yang harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam


penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. ASB adalah standar yang
digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap
program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja
dalam satu tahun anggaran.
Penerapan ASB pada dasarnya akan memberikan manfaat antara
lain: (1) Dapat menentukan kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu
kegiatan

sesuai

dengan

tupoksinya;

(2)

Meminimalisir

terjadinya

pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan inefisiensi anggaran; (3)


Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan Keuangan Daerah;
(4) Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas; dan
(5) Unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan
anggarannya sendiri.

2.3.

DASAR HUKUM PENYUSUNAN ASB


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan wujud

pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahun dengan Peraturan


Daerah. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan
pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Penyusunan APBD
berpedoman pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dalam rangka
mewujudkan tercapainya tujuan bernegara.

II - 4

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Arahan Peraturan dan Perundang-undangan yang terkait dengan


Analisis Standar Belanja (ASB), antara lain:
1) Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan
Daerah, Pasal 298 ayat 3 Belanja daerah untuk pendanaan
Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah selain
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada analisis
standar belanja dan standar harga satuan regional, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Penjelasan Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang

Pemerintahan Daerah, Pasal 298 ayat 3:


a. Yang dimaksud dengan Analisa Standar Belanja (ASB) adalah
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan
untuk melaksanakan suatu kegiatan.
b. Yang dimaksud dengan Standar Harga adalah harga satuan
setiap unit barang yang berlaku di suatu daerah.
c. Yang dimaksud dengan tolok ukur kinerja adalah ukuran
keberhasilan yang dicapai pada setiap satuan kerja perangkat
daerah.
d. Yang dimaksud dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM)
adalah standar suatu pelayanan yang memenuhi persyaratan
minimal kelayakan.
e. Termasuk dalam peraturan perundangan antara lain pedoman
penyusunan analisa standar belanja, standar harga, tolok ukur

II - 5

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

kinerja, dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh


Menteri Dalam Negeri.
3) Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2
Untuk mengukur kinerja keuangan Pemerintah Daerah,
dikembangkan standar analisa belanja, tolok ukur kinerja dan
standar biaya.
4) Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal
20 ayat 2:
a. Yang dimaksud dengan standar analisa belanja adalah
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap
suatu kegiatan.
b. Yang dimaksud dengan tolok ukur kinerja adalah ukuran
keberhasilan yang dicapai pada setiap unit organisasi
perangkat daerah.
c. Yang dimaksud dengan standar biaya adalah harga satuan
unit biaya yang berlaku bagi masing-masing daerah.
5) Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah Pasal 39 ayat 2, Penyusunan anggaran
berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis
standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan
minimal.
II - 6

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

6) Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah Pasal 41 ayat 3, Pembahasan oleh tim
anggaran pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD
dengan kebijakan umum APBD, prioritas dan plafon anggaran
sementara, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran
sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian
kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan
harga, dan standar pelayanan minimal.
7) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 :
Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman
penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup :
a. PPA yang dialokasikan untuk setiap program SKPD berikut
rencana pendapatan dan pembiayaan;
b. sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan
kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan
minimal yang ditetapkan;
c. batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD;
d. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari
SKPD terkait dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi,
efektifitas,

tranparansi

dan

akuntabilitas

penyusunan

anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja; dan


II - 7

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

e. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA, PPA, kode


rekening APBD, format RKA-SKPD, analisis standar
belanja dan standar satuan harga.
8) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 :
a. Penyusunan

RKA-SKPD

berdasarkan

prestasi

kerja

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan


pada indikator kinerja, capaian atau target kinerja, analisis
standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan
minimal.
b. Indikator kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program
dan kegiatan yang direncanakan.
c. Capaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai yang
berwujud kualitas, kuantitas, efisiensi dan efektifitas
pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan.
d. Analisis standar belanja sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan
biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.
e. Standar satuan harga sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa yang
berlaku disuatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan
kepala daerah.
II - 8

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

f.

Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan
capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan
urusan wajib daerah.

9) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang


Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2
Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD
dengan KUA, PPA, prakiraan maju yang telah disetujui tahun
anggaran sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta
capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan,
standar analisis belanja, standar satuan harga, standar pelayanan
minimal, serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD.
10) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun
2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89
ayat 2 : Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman
penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup :
a. prioritas pembangunan daerah dan program/kegiatan yang
terkait;
b. alokasi

plafon

anggaran

program/kegiatan SKPD;

II - 9

sementara

untuk

setiap

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

c. batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD;


d. dihapus;
e. dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA,
PPAS, analisis standar belanja dan standar satuan harga.
11) Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun
2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal
100 ayat 2 : Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah:
a. kesesuaian RKA-SKPD dengan KUA, PPAS, prakiraan
maju pada RKA-SKPD tahun berjalan yang disetujui tahun
lalu, dan dokumen perencanaan lainnya;
b. kesesuaian rencana anggaran dengan standar analisis
belanja, standar satuan harga;
c. kelengkapan instrumen pengukuran kinerja yang meliputi
capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran
kegiatan, dan standar pelayanan minimal;
d. proyeksi prakiraan maju untuk tahun anggaran berikutnya;
dan
e. sinkronisasi program dan kegiatan antar RKA-SKPD.
12) Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008
Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009, (Romawi III) Teknis
Penyusunan APBD No. 4 : Substansi Surat Edaran Kepala
II - 10

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Daerah tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD kepada


seluruh SKPD dan RKA-PPKD

kepada

SKPKD lebih

disederhanakan, hanya memuat prioritas pembangunan daerah


dan program/kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran
sementara untuk setiap program/kegiatan SKPD, batas waktu
penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD dan dokumen sebagai
lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA, PPAS, Analisis
Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.
2.4.

KONSEP PENYUSUNAN ASB

2.4.1.

POSISI ASB DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN


DAERAH
ASB memiliki peran yang penting dalam pengelolaan keuangan

daerah, yaitu :
a. Tahap Perencanaan
ASB dapat digunakan pada saat perencanaan keuangan daerah.
ASB dapat dipergunakan pada saat musrenbang, rencana jangka
panjang (renja), dan pada saat penentuan prioritas. Pada tahaptahap tersebut ASB digunakan untuk menentukan pagu indikatif
dari kegiatan-kegiatan yang diusulkan oleh masyarakat.
b. Tahap Penganggaran
ASB digunakan pada saat proses perencanaan anggaran. ASB
merupakan pendekatan yang digunakan oleh Tim Anggaran
Pemerintah Daerah untuk mengevaluasi usulan program,
kegiatan, dan anggaran setiap satuan kerja dengan cara
II - 11

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

menganalisis beban kerja dan biaya dari usulan program atau


kegiatan yang bersangkutan.
ASB digunakan pada saat mengkuantitatifkan program dan
kegiatan setiap SKPD menjadi RKA-SKPD. RKA-SKPD berisi
rencana program dan kegiatan yang akan dilaksanakan beserta
usulan anggaran yang akan digunakan. Untuk mengetahui beban
kerja dan beban biaya yang optimal dari setiap usulan program
atau kegiatan yang diusulkan, langkah yang dilakukan adalah
dengan menggunakan formula perhitungan ASB yang terdapat
pada masing-masing jenis ASB.
c. Tahap Pengawasan/Pemeriksaan
Pada

tahap

pengawasan/pemeriksaan,

pengawas/pemeriksa

dapat menggunakan ASB untuk menentukan batasan mengenai


pemborosan / kerugian negara. Apabila penganggaran belanja
melebihi ASB maka disebut pemborosan.
2.4.2.

PERILAKU BELANJA
Sebagian besar keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah

memerlukan informasi belanja yang didasarkan pada perilakunya. Oleh


sebab itu perlu diketahui penggolongan belanja atas dasar perilakunya. Yang
dimaksud dengan perilaku belanja adalah pola perubahan belanja dalam
kaitannya dengan perubahan target kinerja atau aktivitas pemerintah daerah (
misalnya, jumlah peserta dan jumlah hari dalam kegiatan bimbingan teknis).
Besar-kecilnya belanja dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja
kegiatan/aktivitas pemerintah daerah. Belanja dapat digolongkan atas belanja
II - 12

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

variabel, belanja tetap dan belanja semi variabel dan atau belanja semi tetap.
Berikut ini penjelasan masing-masing jenis belanja tersebut.
a.

Belanja Variabel
Belanja variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah
secara proporsional (sebanding) dengan perubahan target kinerja
kegiatan pemerintah daerah. Besar-kecilnya total belanja variabel
dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja. Contoh jenis belaja ini
antara lain belanja sewa stand per meter persegi, belanja sewa gedung
per hari, dan lain sebagainya.

Contoh
Untuk melatih peserta pelatihan teknis diperlukan belanja sebesar Rp 500,00
per orang/hari. Berdasarkan data tersebut belanja total untuk beberapa
jumlah peserta adalah sebagai berikut:
Jumlah Peserta

Belanja Per Peserta

Belanja Total

10

Rp 500,00

Rp 5.000,00

20

500,00

10.000,00

30

500,00

15.000,00

40

500,00

20.000,00

50

500,00

25.000,00

II - 13

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Hubungan antara peserta belanja total dengan jumlah peserta


tersebut dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :
Belanja Variabel Total
Rp25.000,00

Rp20,000,00

Rp15.000,00

Rp10.000,00

Rp5.000,00
0

10

20

30

40

50

Jumlah Peserta

Pada grafik tersebut nampak hubungan antara belanja total dengan


jumlah peserta. Pada saat jumlah peserta sama dengan nol, maka belanja
total sama dengan nol. Jika jumlah peserta 10 orang, maka belanja total
adalah Rp 5.000,00. Jika jumlah peserta bertambah menjadi 20 org, maka
belanja total menjadi Rp10.000,00. Demikian seterusnya belanja total akan
selalu berubah secara sebanding dengan perubahan jumlah peserta (yaitu
setiap perubahan satu orang jumlah peserta akan berpengaruh terhadap
belanja sebesar Rp500,00).

II - 14

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Dari contoh tersebut di atas belanja total selalu berubah sebanding


dengan jumlah peserta, akan tetapi belanja total setiap peserta jumlahnya
tetap (tidak berubah) pada setiap tingkat target kinerja. Dengan perkataan
lain, belanja variabel total mempunyai perilaku selalu berubah sesuai dengan
perubahan target kenrja, sedangkan belanja veriabel per unit mempunyai
perilaku tetap, meskipun target kinerja berubah.

b.

Belanja Tetap
Belanja tetap adalah belanja-belanja yang di dalam jarak kapasitas

(range of capacity) tertentu totalnya tetap, meskipun target kinerja


pemerintah daerah berubah-ubah. Sejauh tidak melampaui kapasitas, belanja
tetap total tidak dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja pemerintah
daerah. Contoh belanja tetap adalah belanja gaji pegawai pemerintah daerah.
Besar kecilnya belanja pegawai tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya
kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah
Jarak kapasitas adalah serangkaian tingkat target kinerja pemerintah
daerah yang dapat dicapai tanpa menambah kapasitas. Misalnya,
berdasarkan contoh di atas jarak kapasitas atau sering pula disebut jarak
relevan adalah beban kerja melatih dengan jumlah peserta antara nol peserta
sampai 50 peserta. Jika pemerintah daerah mengadakan bimbingan teknis
dengan peserta sampai dengan 50 orang, maka belanja honor panitia adalah
X rupiah. Berapapun jumlah peserta, selama berada pada rentang kapasitas
antara 1 sampai 50 orang maka belanja honor panitia adalah X rupiah.
Namun, jika peserta melebihi rentang kapasitas, misalnya 60 orang, maka

II - 15

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

belanja honor panitia akan lebih dari X rupiah karena pemerintah daerah
harus menambah jumlah panitia.

c.

Belanja Semi Variabel


Belanja Semi Variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu

berubah tetapi tidak proporsional dengan perubahan target kinerja kegiatan


pemerintah daerah. Berubahnya belanja ini tidak dalam tingkat perubahan
yang konstan. Belanja ini dapat dikelompokkan pada yang tingkat
perubahannya semakin tinggi dan tingkat perubahannya semakin rendah.
Dalam belanja semi variabel ini terkandung unsur belanja tetap dan unsur
belanja variabel.
2.4.3.

POLA PERILAKU DAN FUNGSI BELANJA


Perubahan belanja total sebagai akibat dari perubahan target kinerja

pemerintah daerah ada 3 macam pola yaitu :


a. Jumlah tetap, meskipun target kinerja kegiatan berubah (belanja tetap).
b. Jumlah berubah secara proporsional dengan perubahan target kinerja
kegiatan (belanja variabel).
c. Jumlah berubah tidak sebanding dengan perubahan target kinerja
kegiatan (belanja semi variabel).
Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian belanja, pemerintah
daerah harus mengetahui pola perilaku masing-masing belanja. Penentuan
pola perilaku belanja berkaitan dengan pemisahan belanja ke dalam unsur
belanja tetap dan belanja variabel. Dengan kata lain belanja yang dipisahkan
tersebut merupakan belanja yang semi variabel dan atau belanja semi tetap.
II - 16

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Untuk menggambarkan hubungan antara belanja total dengan target


kinerja kegiatan pemerintah daerah, pada umumnya dinyatakan dengan
fungsi belanja sebagai berikut:

Belanja Total = Belanja Tetap Total + Belanja Variabel Total

Belanja variabel total jumlahnya dipengaruhi oleh besar-kecilnya


target kinerja kegiatan. Dengan perkataan lain belanja variabel total
merupakan hasil perkalian antara belanja variabel per unit dengan target
kinerja kegiatan. Dengan demikian fungsi belanja tersebut di atas dapat pula
dinyatakan sebagai berikut :

Belanja
Total

Belanja
Tetap Total

Belanja Variabel per Unit x


target kinerja kegiatan

Jika,
Belanja Total

Dinyatakan dengan simbol Y

Target kinerja Kegiatan

Dinyatakan dengan simbol X

Belanja Tetap Total

Dinyatakan dengan simbol a

Belanja Variabel Per unit

Dinyatakan dengan simbol b

Maka fungsi belanja tersebut dapat diformulasikan sebagai Y = a + b.X

II - 17

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

2.4.4.

METODE PENENTUAN POLA PERILAKU BELANJA


Untuk menentukan pola perilaku belanja sebagaimana dinyatakan

dalam bentuk fungsi tersebut di atas ada berbagai metode/ pendekatan. Dari
metode yang sederhana sampai pada metode yang kompleks atau sulit. Dari
perhitungan yang paling sederhana sampai penggunaan statistik matematika
yang rumit dan bahkan dengan menggunakan komputer.
Secara umum ada tiga pendekatan dalam menentukan pola perilaku
belanja. Ketiga pendekatan itu adalah pendekatan intuisi, pendekatan analisis
enjinering, dan pendekatan analisis data belanja masa lalu.
Pendekatan intuisi merupakan pendekatan yang didasarkan intuisis
pembuat keputusan. Intuisi tersebut bisa didasari atas surat-surat keputusan,
kontrak-kontrak kerja dengan pihak lain dan sebagainya.
Pendekatan Analisis Enjinering merupakan pendekatan yang
didasarkan pada hubungan fisik yang jelas antara masukan (input) dengan
keluaran (output). Misalnya, jika pemerintah daerah melakukan kegiatan
bimbingan teknis maka diketahui bahwa akan memerlukan sebuah lima
orang panitia, dua buah komputer, 10 rim kertas, dan lain sebagainya.
Pendekatan ini memang teliti namun seringkali memerlukan waktu dan
belanja yang relatif tinggi.
Pendekatan Analisis Data Belanja Masa Lalu

merupakan

pendekatan yang didasarkan pada data belanja masa lalu. Pendekatan ini
berasumsi bahwa belanja di masa akan datang sama perilakunya dengan
belanja di masa yang lalu. Data belanja masa lalu dianalisis untuk
mengetahui perilaku masing-masing belanja.
II - 18

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Ada beberapa metode untuk menentukan pola perilaku belanja dangan


analisis perilaku belanja masa lalu, antara lain :
a. Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah (high-low method)
b. Metode Kuadrat Terkecil (least square method)
Berikut akan dikemukakan masing-masing metode tersebut.
a.

Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah (High and Low Point
Method)

Cara menentukan pola perilaku belanja dengan metode ini adalah


menganalisis belanja masa lalu pada target kinerja kegiatan yang tertinggi
dan target kinerja kegiatan yang terendah.
Contoh:
Belanja reparasi dan pemeliharaan kendaraan roda dua adalah sebagai
berikut :
Nama SKPD
SKPD A
SKPD B
SKPD C
SKPD D
SKPD E
SKPD F
SKPD G
SKPD H
SKPD I
SKPD J
SKPD K
SKPD L

Jumlah Kendaraan
(unit)
150
200
250
300
275
225
175
125
100
120
160
220

Belanja Reparasi &


Pemeliharaan (000)
Rp 175.000,00
Rp 200.000,00
Rp 225.000,00
Rp 250.000,00
Rp 237.000,00
Rp 212.500,00
Rp 187.500,00
Rp 162.500,00
Rp 150.000,00
Rp 160.000,00
Rp 180.000,00
Rp 210.000,00

II - 19

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Berdasarkan data tersebut di atas, beban kinerja tertinggi adalah


SKPD D yaitu 300 unit dengan belanja Rp250.000.000 sedangkan beban
kinerja terendah adalah SKPD I yakni 100 unit dengan belanja
Rp150.000.000.
Selanjutnya beban kinerja dan belanja pada kedua titik tertinggi dan terendah
dianalisis

dengan

cara

menghitung

selisih

di

antara

keduanya.

Perhitungannya adalah sebagai berikut:

SKPD D

300 unit

Belanja Reparasi &


Pemeliharaan
Rp250.000.000

SKPD I

100 unit

150.000.000

Terendah

200 unit

Rp 100.000.000

Selisih

SKPD

Beban Kerja

Keterangan
Tertinggi

Selisih tersebut merupakan unsur variabel dari belanja yang


bersangkutan. Selisih per unit yakni dengan membagi selisih belanja dengan
selisih beban kerja merupakan belanja variabel per unit atau dalam fungsi
belanja tersebut di atas dinyatakan dengan simbol b. Dengan demikian:

b = Rp100.000.000

= Rp500.000

200
Untuk a (belanja tetap total) dihitung dengan cara menghitung
selisih antara total belanja dengan belanja variabel. Sebagai contoh untuk
belanja SKPD D maka akan dihitung sebagai berikut:

II - 20

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Total Belanja (Y)

= Rp250.000.000

Total Belanja Variabel = Rp 500.000x 300

Total Belanja Tetap (a)

= Rp100.000,00

150.000.000

Dengan demikian fungsi belanja reparasi dan pemeliharaan dapat


dinyatakan sebagai berikut:
Y = 100.000 + 500.000 . x

Dari perhitungan di atas dapat diketahui bahwa dalam metode titik


tertinggi dan titik terendah yang pertama kali ditentukan adalah belanja
variabel. Setelah belanja variabel per unit dapat ditentukan baru ditentukan
belanja tetapnya.
b.

Metode Kuadrat Terkecil (Least-Square Method)


Penentuan pola perilaku belanja menurut metode ini adalah dengan

menentukan total belanja tetap dan belanja variabel per unit dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
n xy - x y
b=
n x2 (x)2

y b x
a=
n

II - 21

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Dalam analisis yang lebih mendalam, sebelum sesuatu belanja


ditentukan sebagai suatu fungsi dari hal tertentu, terlebih dulu dilakukan
analisis regresi - korelasi. Bahkan dalam analisis regresi ada kemungkinan
menggunakan regresi berganda.

II - 22

BAB III

METODE PENGEMBANGAN ASB


PEMERINTAH KABUPATEN
KUTAI KARTANEGARA

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

BAB III
METODE PENGEMBANGAN ASB
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
3.1.

LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN ASB


Pengalokasian sumber daya dalam rangka menghasilkan kinerja

pengelolaan keuangan yang ekonomis, efesien dan efektif, sering


dihadapkan pada situasi dan pilihan yang sulit. Sering keputusan diambil
tidak berdasarkan data yang memadai dan mendukung, sebab hanya
menggunakan dasar feeling atau intuisi. Dalam situasi yang demikian,
tersusunnya Analisis Standar Belanja (ASB) sangat membantu para
pengambil kebijakan untuk menghasilkan keputusan yang logis dengan
didukung oleh fakta atau data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan penyusunan ASB di Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara dalam studi ini menggunakan beberapa metode. Metodemetode tersebut diselaraskan dengan beberapa kelompok belanja
berdasarkan Kepemendagri No. 29 tahun 2002. Dalam Kepmen tersebut
dikenalkan belanja administrasi umum atau sebelumnya belanja rutin dan
belanja

operasi

dan

pemerliharaan

atau

sebelumnya

belanja

pembangunan. Dan dalam Permendagri No. 13 tahun 2006 dan


Permendagri No. 59 tahun 2007 nama tersebut telah dihilangkan, seluruh
belanja tersebut diwujudkan dalam atau menjadi berbagai macam
kegiatan. Dalam studi ini, penyusunan ASB dirumuskan pada setiap jenis
III - 1

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kutai Kartanegara.


Selanjutnya bagaimana menentukan jenis kegiatan, menggunakan
metoda-metoda dalam penyusunan ASB dan pengolahan datanya untuk
menentukan besarnya ASB pada setiap jenis kegiatan, dijelaskan pada
sub-bab selanjutnya berikut di bawah ini.
A.

Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan dalam penyusunan ASB ini terdiri

dari 2 (dua) kelompok sumber data, yaitu:


1. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari bank data setiap SKPD terkait yang
ada di Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Data sekunder
dimaksud terdiri dari:
Data dasar ASB yang sudah disusun;
Kebijakan Umum Anggaran;
Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara;
Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DPA SKPD);
SK Bupati tentang Standar Biaya/Standar Harga;
RAPBD;
RKPD.

III - 2

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

2. Data Primer
Data primer diperoleh dengan menggunakan 2 metode, yaitu:

Kuesioner, Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dan


telah diidentifikasi dan dianalisis sesuai kebutuhan di
lapangan, tim ahli kemudian merumuskan kuesioner yang
dirancang sedemikian rupa untuk memperoleh informasi
tambahan yang tidak ditemui dalam data sekunder. Kuesioner
ini dimaksudkan untuk menggali tahap atau proses, volume
sumber daya fisik yang digunakan dalam setiap kegiatan.

FGD (Focussed Group Disscussion), Guna memverifikasi dan


klarifikasi data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan survei
lapangan, selanjutnya dilakukan FGD dengan melibatkan
orang-orang kunci yang mengetahui secara jelas terhadap
jenis kegiatan yang akan disusun ASB-nya. Dalam proses ini,
tim dan Staf Pemerintah Kutai Kartanegara yang mewakili
perumusan untuk jenis kegiatan tertentu akan mendiskusikan
secara lebih mendalam dan terfokus pada item-item yang
dianggap masih memerlukan penjelasan dan informasi lebih
lanjut.

III - 3

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

B.

Inisiasi Penyusunan ASB


Metode inisiasi penyusunan ASB dilakukan melalui beberapa

tahap sebagaimana yang ditampilkan pada gambar berikut:


Gambar 3.1.
Proses Inisiasi Data Dasar ASB
Data kegiatan eksisting
Pemda;
Data Kegiatan Permendagri
No. 13/2006

Diklasi
fikasi

Identifikasi VARIABELVARIABEL yang mempengaruhi


BELANJA (COST DRIVER) jenis
kegiatan tertentu

Lakukan regresi :
Yi=a+b1X1+b2X2++bnXn
Untuk memperoleh
FORMULA ASB

Lakukan uji statistik dan


simulasi terhadap model

Langkah I:

Identifikasi Jenis Kegiatannya


dengan melihat kesamaan
output dan cost drivernya.

Hitung kewajaran biaya per


jenis belanja

Identifikasi Kegiatan-Kegiatan SKPD Daerah

Langkah awal yang harus dilakukan dalam merumuskan ASB


adalah mengidentifikasi berbagai kegiatan yang dilakukan oleh SKPD.
Kegiatan-kegiatan dieksplorasi dari rekening program dan kegiatan yang
ada dalam Permendagri No 13 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan

III - 4

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Keuangan Daerah, serta kegiatan-kegiatan yang pernah dilaksanakan oleh


SKPD pada tahun-tahun lalu.
Hasil identifikasi kegiatan yang ada dalam kode rekening program
dan kegiatan Permendagri No 13 Tahun 2006 selanjutnya akan digunakan
sebagai basis kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) pada tahuntahun yang akan datang. Sedangkan hasil identifikasi hasil kegiatan pada
tahun-tahun yang lalu digunakan sebagai proxy untuk menemukan basis
biaya yang objektif.
Langkah II:Klasifikasi Kegiatan berdasarkan Jenis Kegiatan
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD pada dasarnya
dapat dikelompokkan berdasarkan jenis kegiatannya. Prinsip dasar
pengelompokkan kegiatan berdasarkan jenis kegiatannya dengan melihat
apakah kegiatan yang dilaksanakan memiliki kesamaan output yang
dihasilkan dan kesamaan cost driver untuk melaksanakannya. Dengan
demikian, sekalipun memiliki nama kegiatan yang berbeda-beda, namun
jika dilihat dari kesamaan output yang dihasilkan dan cost driver-nya,
sesungguhnya kegiatan dimaksud merupakan jenis kegiatan yang sama.
Sebagai misal, untuk kegiatan yang termasuk dalam kelompok
pelatihan, dapat dibagi menjadi:

Pelatihan teknis bagi aparatur;

Pelatihan fungsional bagi aparatur;


III - 5

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Pelatihan struktural bagi aparatur

Pelatihan teknis bagi masyarakat;

dan sebagainya.

Langkah III: Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan


sumber daya (detil) dan output sampel kegiatan
Berdasarkan kategori jenis kegiatan yang telah disusun,
selanjutnya dilaksanakan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
kebutuhan sumberdaya dan output per jenis kegiatan tersebut. Hal ini
dilakukan untuk memastikan penyebab munculnya biaya (cost driver) jenis
kegiatan tersebut. Untuk mengakomodasi variasi biaya antar kegiatan
dalam satu jenis kegiatan maka selanjutnya dirumuskan nilai range
minimal dan maksimal kebutuhan sumberdaya fisik untuk setiap rincian
belanja masing-masing jenis kegiatan. Secara teknis, Proses identifikasi ini
dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada pelaksana teknis di
lingkungan SKPD Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang dianggap
sebagai expert yang mempunyai pengalaman mendalam tentang
pelaksanaan kegiatan.
Langkah IV:

Hitung nilai belanja per-jenis kegiatan

Untuk memperoleh besaran nilai belanja untuk setiap volume


kebutuhan fisik untuk setiap item belanja (Q) yang telah diidentifikasi

III - 6

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

akan dikalikan dengan standar harga (P) masing-masing item belanja atau
belanja = Q x P.
Pengisian kuesioner ini akan dilakukan melalui survei lapangan ke
masing-masing SKPD pelaksana kegiatan dimaksud. Survei ini akan
dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan orang-orang kunci
yang mengetahui secara pasti kebutuhan sumberdaya fisik setiap kegiatan
yang ditanyakan.
Langkah V: Penentuan Range sumberdaya fisik (volume) per-jenis
kegiatan
Untuk mengakomodasi variasi biaya antar kegiatan dalam satu
jenis kegiatan maka selanjutnya dirumuskan nilai range minimal, tengah
dan maksimal kebutuhan sumberdaya fisik untuk setiap rincian belanja
masing-masing jenis kegiatan.
SD x NT = {NT-(SDxNT)} > NT < {NT + (SDxNT)}
Standar Deviasi = {(YRealisasi-YRencana)/YRencana} x 100%
SD = Standar Deviasi
NT = Nilai Tengah/Rata-rata (mean)

III - 7

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Langkah VI:

Penentuan Biaya Rata-Rata Per-output Kegiatan

Selanjutnya penentuan biaya rata-rata per-output kegiatan


dilakukan dengan membagi

nilai total belanja untuk jenis kegiatan

terhadap total output yang dihasilkan.


Biaya Rata-rata = Total Biaya / Total Output
Sebagai misal, suatu kegiatan pelatihan diikuti oleh 30 orang
selama 2 hari dengan total biaya sebesar Rp.75.000.000,-; maka biaya
rata-rata untuk melaksanakan kegiatan dimaksud adalah sebesar Rp.
1.250.000,-/orang/hari. Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk jenis
kegiatan-kegiatan lain seperti biaya rata-rata per m2 pembangunan
gedung sekolah, puskesmas dan sebagainya. Biaya rata-rata per kasus
jenis kegiatan pengawasan, dan sebagainya.
3.2.

POLA PIKIR PENYUSUNAN ASB


Sebagaimana yang sudah disinggung di atas, pada dasarnya

penyusunan ASB lebih difokuskan pada upaya untuk mencari kebutuhan


sumberdaya fisik dari setiap kelompok belanja daerah. Sacara garis besar,
pola pikir penyusunan ASB Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara
dapat diringkas dalam tabel berikut:

III - 8

ANALISA STANDAR BELANJA (ASB )


PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Tabel 3.1.
Pola Pikir Penyusunan ASB

PENDEKATAN DAN
METODOLOGI

DATA DASAR

Permendagri No. 13
Tahun 2006;
Dokumen Pelaksana
Anggaran Satuan Kerja
Perangkat Daerah (DPASKPD) Tahun Anggaran
2012;
Standar Harga;
Perda P3KD;
Akuntabilitas Kinerja
Institusi Pemerintah
(AKIP);
Perda Tentang Struktur
Organisasi dan Tata
Kerja Organisasi
Perangkat Daerah;
Daftar Aset.

LANGKAHLANGKAH

1.

Metode ABC (Activity


Based Costing) ;
Zero Based
Budgeting;
Performance Based
Budgeting;
Analisis Statistik;
Kuesioner;
Metode Focussed
Group Disscussion
atau Kelompok
Diskusi Terfokus;
Metode Least
Square.

2.

3.
4.

5.

6.

7.

III - 9

Identifikasi kegiatankegiatan yang


dilaksanakan;
Klasifikasi kegiatan2
sejenis berdasarkan jenis
kegiatannya dengan
melihat pada spesifikasi
output dan proses
penyediaan barang dan
jasa;
Identifikasi aktivitas setiap
kegiatan;
Berdasarkan aktivitas
tersebut diuraikan dengan
kebutuhan belanjanya
Kalikan volume fisik
dengan standar harga
untuk memperoleh nilai
anggaran per item belanja;
Penentuan range nilai
(minimal maksimal) ASB
per jenis kegiatan;
Hitung biaya rata-rata per
output kegiatan.

OUPUT

ANALISIS STANDAR
BELANJA
Dokumen Analisis Standar
Belanja Langsung Kegiatan
yang memuat informasi
mengenai:
1. Pengertian masingmasing ASB;
2. Proporsi Aktifitas masingmasing ASB;
3. Proporsi Objek Belanja
per Aktivitas;
4. Total Biaya Rerata (minmax);

LAMPIRAN ASB I
ASB BAGI DINAS, BADAN, KANTOR,
SEKRETARIAT, INPEKTORAT DAN RUMAH SAKIT

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB)


KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
TAHUN ANGGARAN 2015
1.1. ASB BAGI DINAS, BADAN, KANTOR, SEKRETARIAT, INSPEKTORAT DAN RS

ASB I-01

PENYUSUNAN DOKUMEN RUTIN UNTUK SKPD (RENSTRA SKPD RKA/DPA


SKPD LAPORAN KEUANGAN SKPD, LAPORAN CAPAIAN KINERJA)
Definisi
Penyusunan dokumen internal SKPD adalah kegiatan yang dilaksanakan
dalam rangka menyusun sebuah dokumen seperti Renstra SKPD, Renja
SKPD, RKA SKPD, DPA SKPD, LAKIP dan Laporan Keuangan yang digunakan
oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dalam pelaksanaan tugas pokok dan
fungsinya dalam sebagai penyelenggara pemerintahan.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim Penyusun Dokumen dan Lama Waktu Penyusunan (OB)
Rumusan ASB

Y = Rp. 14.432.500,- + ( Rp. 588.500,- X ) + Belanja Perjalanan Dinas


Luar Daerah
Dimana :
Y = Total Belanja
X = Jumlah Tim (Pegawai) x Lama Waktu (Bulan)
Belanja Tetap
= Rp. 14.432.500,Belanja Variabel
= Rp. 588.500,-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas Luar
Daerah

Nilai
Minimal
2%
0%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
23%
23%
77%
8%
12%
5%
17%
35%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
33%
10%
15%
15%
24%
54%

ASB I-02

PEMELIHARAAN RUTIN/BERKALA BANGUNAN GEDUNG KANTOR YANG


BERSIFAT RINGAN
Definisi
Pemeliharaan Rutin/Berkala pada Bangunan Gedung Kantor yang bersifat
ringan adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja perangkat daerah
dalam rangka mempertahankan nilai ekonomis dari bangunan tersebut.
Pengendali Belanja
Luasan Bangunan Yang Dipelihara (m2)
Rumusan ASB

Y = Rp. 2.976.250,- + ( Rp. 183.364,- X )


Dimana :
Y = Total Belanja
X = Luasan Bangunan Yang Dipelihara (m2)
Belanja Tetap
= Rp. 2.976.250,Belanja Variabel
= Rp. 183.364,Alokasi Objek Belanja
Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
JUMLAH

Nilai
Minimal
0%
0%
2%
0%
0%

Nilai
Rerata
9%
9%
91%
2%
50%
37%
2%
100%

Nilai
Maksimal
14%
14%
65%
44%
13%

ASB I-03

ADMINISTRASI KEGIATAN REHABILITASI BANGUNAN YANG BERSIFAT


SEDANG DAN BERAT
Definisi
Administrasi Kegiatan Rehabilitasi Bangunan yang bersifat sedang dan berat
adalah kegiatan yang bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka
menghadirkan belanja modal yang berupa rehabilitasi fisik yang digunakan
oleh satuan kerja perangkat daerah dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal (Rehabilitasi)
Rumusan ASB

Y = Rp. 71.676.700,- + ( 0,004 X ) + Nilai Belanja Modal (Rehabilitasi)


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal (Rp)
= Rp. 71.676.700,= 0,004

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
JUMLAH
Belanja Jasa Kantor
Belanja Modal

Nilai
Minimal
0.0%
0.0%
0.2%
0.0%
0.8%

Nilai
Rerata
6%
6%
94%
2%
3%
1%
5%
100%

Nilai
Maksimal
7%

3%
23%
100%
10%

Keterangan :
Kebijakan akuntansi diatas 20 Juta untuk banguan gedung jalan &
jaringan diletakan di Belanja Modal
Kebijakan akuntansi dibawah 20 Juta untuk banguan gedung jalan &
jaringan maka diletakan di Belanja Barang dan Jasa

ASB I-04

PEMELIHARAAN KENDARAAN DINAS/OPERASIONAL


Definisi
Kegiatan ini dimaksudkan memelihara kendaraan dinas baik operasional
maupun jabatan yang berbentuk roda 4 dan roda 2 dalam rangka
kelancaran pelaksanaan tugas keseharian kantor untuk menunjang
pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing SKPD.
Pengendali Belanja
Jumlah Kendaraan Roda 4
Jumlah Kendaraan Roda 2

Rumusan ASB

Y = ( Rp. 15.000.000,- X1 ) + ( Rp. 2.000.000,- X2 )


Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Kendaraan Roda 4
= Jumlah Kendaraan Roda 2
= Rp. 15.000.000,= Rp. 2.000.000,-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja

BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Perawatan Kendaraan
Bermotor
JUMLAH

Nilai
Minimal
0.0%
0.0%

Nilai
Rerata
2%
2%
98%
98%
100%

Nilai
Maksimal
4%

100%

ASB I-05

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN PAKAIAN


Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Bahan Pakaian adalah kegiatan yang
bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja
bahan pakaian yang digunakan oleh satuan kerja perangkat daerah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Bahan Pakaian
Rumusan ASB

Y = Rp. 443.100,- + ( 0,050 X ) + Nilai Belanja Pakaian


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel
Alokasi Objek Belanja
Objek Belanja

= Total Belanja
= Nilai Belanja Pakaian
= Rp. 443.100,= 0,050

BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
JUMLAH
Belanja Pakaian

Nilai
Minimal
6%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
45%
45%
55%
6%
17%
14%
18%

100%

Nilai
Maksimal
50%
9%
35%
20%
35%

ASB I-06

APRESIASI ATAU PENGHARGAAN YANG DIBERIKAN KEPADA PERSONAL


Definisi
Apresiasi atau penghargaan atas kinerja personal merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh suatu satuan kerja perangkat daerah untuk memberikan
penghargaan kepada orang-orang yang telah menunjukkan kinerja atau
prestasi. Pihak-pihak yang diberi penghargaan kinerja bisa merupakan
pegawai ataupun masyarakat umum.
Pengendali Belanja
Jumlah Yang Menerima Penghargaan atau yang Berprestasi
Rumusan ASB

Y = Rp. 163.532.200,- + ( Rp. 73.300,- X ) + Belanja Perjalanan Dinas


Dimana
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Penerima Penghargaan atau Apresiasi
= Rp. 163.532.200,= Rp. 73.300,-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN
JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Sewa
Perlengkapan dan
Peralatan Kantor
Belanja Makanan dan
Minuman
Belanja Pakaian
Belanja
Penghargaan/Hadiah
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal

Nilai Rerata
5%
5%

Nilai
maksimal

1%

95%

9%

0%
0%
0%

4%
2%
19%

12%
3%
36%

1%

1%

2%

0%

8%

21%

0%

10%

29%

0%

36%

47%

0%
0%

5%

10%

100%
Seijin TAPD

16%
28%

ASB I-07

APRESIASI ATAU PENGHARGAAN YANG DIBERIKAN KEPADA LEMBAGA


Definisi
Apresiasi atau penghargaan atas kinerja lembaga merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh suatu satuan kerja perangkat daerah untuk memberikan
penghargaan kepada orang-orang yang telah menunjukkan kinerja atau
prestasi. Pihak-pihak yang diberi penghargaan kinerja bisa merupakan
lembaga-lembaga yang ada dalam lingkup Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pengendali Belanja
Jumlah Lembaga Yang Menerima Penghargaan atau yang Berprestasi
Rumusan ASB

Y = Rp. 155.863.700,- + ( Rp. 519.500,- X ) + Belanja Perjalanan Dinas


Luar Daerah
Dimana
Y
X
Apresiasi
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Lembaga Penerima Penghargaan atau
= Rp. 155.863.700,= Rp. 519.500,-

10

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN
JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Belanja
Penghargaan/Hadiah
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal

Nilai Rerata

Nilai
Maksimal

0%

7%
7%
93%

0%
0%
0%

2%
32%
2%

5%
62%
4%

5%

38%

42%

0%
0%

3%

16%

100%
Seijin TAPD

12%

5%

33%

11

ASB I-08

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN MATERIAL


Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Bahan Material adalah kegiatan yang
bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja
bahan material yang digunakan oleh satuan kerja perangkat daerah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Bahan Material
Rumusan ASB

Y = Rp. 40.000.000,- + ( 0,013 X ) + Nilai Belanja Bahan Material +


Belanja Perjalanan Dinas Dalam Daerah
Dimana
Y
X

Belanja Tetap
Belanja Variabel
Alokasi Objek Belanja
Objek Belanja

= Total Belanja
= Nilai Belanja Pengadaan Bahan Material (Belanja
Bahan
Material/Belanja
Jasa
Pihak
Ketiga/Belanja Cetak dan Penggandaan)
= Rp. 40.000.000,= 0,013

BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
JUMLAH
Belanja Bahan Material
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah

Nilai
Minimal
14%
0%
5%
0%
5%

Nilai
Rerata
64%
64%
36%
14%
15%
15%
11%
100%

Nilai
Maksimal
77%
18%
19%
25%
16%

12

ASB I-09

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA BARANG YANG AKAN


DISERAHKAN KEPADA MASYARAKAT
Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Belanja Barang Yang Akan Diserahkan
Kepada Masyarakat adalah kegiatan yang bersifat administrasi atau
penunjang dalam rangka menghadirkan belanja barang yang digunakan
oleh satuan kerja perangkat daerah dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.
Ruang lingkup ASB ini ada administrasi dalam pengadaan belanja barang
yang akan diserahkan secara langsung kepada masyarakat ketika proses
kegiatan tersebut berjalan.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Barang Yang Akan Diserahkan Kepada Masyarakat
Rumusan ASB

Y = Rp. 15.000.000,- + ((0,017 X) + Nilai Belanja Barang Yang Akan


Diserahkan Kepada Masyarakat) + Belanja Perjalanan Dinas
Dimana
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Barang Yang Akan Diserahkan
Kepada Masyarakat
= Rp. 15.000.000,= 0,017

13

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
JUMLAH
Belanja Barang yang Akan
Diserahkan Kepada Masyarakat
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
0%

0%
1%
1%

Nilai
Rerata
85%
85%
15%
6%
4%
5%
100%

Nilai
Maksimal
100%
17%
8%
8%

14

ASB I-10

ADMINISTRASI KEGIATAN PEMBANGUNAN FISIK (BELANJA MODAL)


Definisi
Administrasi Kegiatan Pembangunan Fisik adalah kegiatan yang bersifat
administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja modal
berbentuk fisik bangunan yang digunakan oleh satuan kerja perangkat
daerah.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
Rumusan ASB

Y = Rp. 56.219.000,- + ( 0,002 X ) + X + Belanja Perjalanan Dinas Luar


Daerah
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total belanja
= Nilai Belanja Modal
= Rp. 56.219.000,= 0,002

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas Luar
Daerah

Nilai
Minimal
19%
0%
6%
0%
0%
9%

Nilai
Rerata
40.1%
40.1%
59.9%
0.9%
7.9%
8.4%
4.1%
38.6%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
61%
2%
10%
17%
14%
68%

15

ASB I-11

ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN TANAH (BELANJA MODAL)


Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Tanah Fisik adalah kegiatan yang bersifat
administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja modal
berbentuk tanah yang digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara sebagai penyelenggara pemerintahan di Daerah.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal Pengadaan Tanah
Rumusan ASB

Y = Rp. 57.492.600,- + ( 0,059 X ) + Belanja Modal Pengadaan Tanah


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal Pengadaan Tanah
= Rp. 57.492.600,= 0,059

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
JUMLAH
Belanja Modal

Nilai
Minimal
0%
0%
0%
0%
0%
6%

Nilai Rerata
19%
19%
81%
1%
34%
2%
4%
40%

100%

Nilai
Maksimal
38%
3%
87%
4%
9%
74%

16

ASB I-12

ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA BARANG (BELANJA


MODAL)
Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Belanja Barang adalah kegiatan yang
bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja
modal berbentuk barang atau peralatan dan perlengkapan kantor dan
bukan berbentuk bangunan yang digunakan oleh satuan kerja perangkat
daerah dalam pelaksanaan tugas kesehariannya.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal
Rumusan ASB

Y = Rp. 58.389.900,- + ( 0,002 X ) + X + Belanja Perjalanan Dina


Dimana
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal
= Rp. 58.389.900,= 0,002

17

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN
JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Sewa
Rumah/Gedung/Gudang/P
arkir
Belanja Makanan dan
Minuman
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal

Nilai Rerata

Nilai
Maksimal

0%

4%
4%
96%

0%
0%
0%

4%
82%
1%

20%
100%
3%

0%

3%

11%

0%

6%

100%
Seijin TAPD

8%

15%

18

ASB I-13

ADMINISTRASI KEGIATAN YANG BERSIFAT PERENCANAAN


Definisi
Administrasi Kegiatan Yang bersifat perencanaan adalah kegiatan yang
dimaksudkan sebagai langkah awal dalam proses pembangunan secara fisik,
jadi merupakan bagian dari keseluruhan proses pengadaan konstruksi.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Penyusunan Perencanaan (Belanja Modal)
Rumusan ASB

Y = Rp. 16.315.800,- + ( 0,013 X ) + X + Belanja Perjalanan Dinas


Dimana :
Y
X
Modal)
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Penyusunan Perencanaan (Belanja
= Rp. 16.315.800,= 0,013

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN
JASA
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal

Nilai
Maksimal

22%

Nilai
Rerata
67%
67%
33%

0%

15%

44%

0%

16%

100%
Seijin TAPD

100%

32%

19

ASB I-14

BIMBINGAN TEKNIS / PELATIHAN TEKNIS MASYARAKAT


Definisi
Bimbingan teknis /Pelatihan Teknis pada masyarakat adalah
menyelenggarakan dan memberikan pelatihan secara teknis pada
masyarakat dalam rangka memberikan keahlian bidang tertentu dan
dilaksanakan oleh SKPD yang bersangkutan sesuai TUPOKSI. Pelaksanaan 2
(dua) hari sampai dengan 5 (lima) hari.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 58.093.650,- + ( Rp. 116.200,- X ) + Belanja Sewa Gedung +


Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah + Tambahan Objek Belanja*)
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
= Rp. 58.093.650,= Rp. 116.200,-

20

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung
Belanja Sewa Sarana Mobilitas
Belanja Perjalanan Dinas Luar
Daerah
Tambahan Objek Belanja

Nilai
Minimal
1%

0%
14%
0%
3%
0%

Nilai
Rerata
8%
8%
92%
13%
41%
3%
15%
20%

100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
16%
28%
68%
5%
28%
41%

Seijin TAPD

Keterangan *) :
Tambahan Objek Belanja disesuaikan dengan jenis pelatihan yang akan
diberikan kepada masyarakat (dapat berupa Belanja Bahan Material, Barang
Yang akan diserahkan kepada masyarakat, Transportasi dan Akomodasi bagi
Peserta, Penghargaan bagi Peserta)

21

ASB I-15

BIMBINGAN ATAU PELATIHAN TEKNIS PEGAWAI


Definisi
Bimbingan atau Pelatihan Teknis bagi Pegawai adalah merupakan kegiatan
untuk memberikan bimbingan/ pelatihan kepada para pegawai di
lingkungan satuan kerja perangkat daerah untuk memperoleh keahlian
teknis tertentu. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan keahlian
teknis untuk masalah-masalah yang sifatnya operasional yang menjadi
kebutuhan utama. Kegiatan ini bukan hanya memberikan pelajaran tutorial
saja tetapi juga memberikan contoh dan panduan rinci pada tiap-tiap
peserta atas keahlian teknis yang dituju. Pelaksanaan 2 (dua) hari sampai
dengan 5 (lima) hari.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta dan Lama Waktu Pelaksanaan Pelatihan (OH)
Rumusan ASB

Y = 91.373.990,- + ( Rp. 630.200,- X ) + Belanja Sewa Gedung +


Belanja Sewa Peralatan dan Perlengakapan Kantor + Belanja
Perjalanan Dinas
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta dan Lama Waktu (OH)
= Rp. 91.373.990,= Rp. 630.200,-

22

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN
JASA
Belanja Bahan Pakai
Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung
Belanja Sewa Peralatan
dan Perlengkapan Kantor
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal

Nilai Rerata

Nilai
Maksimal

0%

20%
20%
80%

0%

5%

28%

0%

17%

37%

0%
0%
2%

7%
6%

45%

100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD

100%

55%
9%
56%

Seijin TAPD

23

ASB I-16

FORUM KOMUNIKASI ATAU KOORDINASI LINGKUP DAERAH


Definisi
Forum komunikasi atau koordinasi lingkup daerah adalah merupakan
kegiatan untuk menyelenggarakan komunikasi atau koordinasi dengan
lembaga atau instansi lain yang terkait dengan maksud dan tujuan tertentu.
Hasil dari kegiatan ini berupa kesepakatan dan kesepahaman tentang
masalah yang ingin dipecahkan dan tercapainya tujuan yang diharapkan.

Pengendali Belanja
Jumlah Peserta Rapat Koordinasi dan Lama Waktu Pelaksanaan Rapat
Koordinasi (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 33.999.700,- + ( Rp. 337.950,- X ) + Belanja Sewa Gedung +


Belanja Perjalanan Dinas
Dimana :
Y
X

Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta Rapat Koordinasi dan Lama Waktu
Pelaksanaan Rapat Koordinasi (OH)
= Rp. 33.999.700,= Rp. 337.950,-

24

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium
PNS
BELANJA BARANG
DAN JASA
Belanja Bahan Pakai
Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Honorarium
Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung
Belanja Perjalanan
Dinas

Nilai
Minimal

Nilai Rerata

Nilai
Maksimal

0%

13%
13%
87%

28%

0%

7%

21%

16%

47%

0%
0%

34%
3%

0%

27%

0%

81%
8%
67%

100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD

25

ASB I-17

FORUM KOMUNIKASI ATAU KOORDINASI INTERN SKPD


Definisi
Forum komunikasi atau koordinasi internal SKPD adalah merupakan
kegiatan untuk menyelenggarakan komunikasi atau koordinasi dalam SKPD
itu sendiri yang terkait dengan maksud dan tujuan tertentu. Hasil dari
kegiatan ini berupa kesepakatan dan kesepahaman tentang masalah yang
ingin dipecahkan dan tercapainya tujuan yang diharapkan.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta Rapat Koordinasi dan Lama Waktu Pelaksanaan Rapat
Koordinasi (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 82.533.120,- + ( Rp. 108.200,- X ) + Belanja Sewa Gedung +


Belanja Sewa Perlengkapan + Belanja Perjalanan Dinas
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta Rapat Koordinasi dan Lama Waktu
Pelaksanaan Rapat Koordinasi (OH)
= Rp. 82.533.120,= Rp. 108.200,-

26

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung
Belanja Sewa Perlengkapan
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal

Nilai
maksimal

0%
4%
0%

Nilai
Rerata
15%
15%
85%
8%
34%
3%

0%

20%

45%

0%

0%

19%

100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD
Seijin TAPD

33%
18%
65%
9%
41%

27

ASB I-18

MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN KEGIATAN DI LINGKUNGAN


INTERN SKPD
Definisi
Monitoring/evaluasi dan pelaporan adalah kegiatan untuk mengawasi
obyek atau titik amatan sesuai dengan tujuan yang digariskan dalam
kegiatan tersebut. Objek bisa berupa kegiatan dengan fokus pada suatu
lokasi baik yang bersifat abstrak ataupun berwujud fisik.
Monitoring/evaluasi dan pelaporan dan evaluasi tersebut dalam ruang
lingkup satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan dan tidak
melibatkan instansi lainnya.
Pengendali Belanja
Jumlah Objek atau Lokasi Yang Diamati
Jumlah Tim dan Lama Waktu Pengamatan (OB)
Rumusan ASB

Y = Rp. 67.280.950,- + ( Rp. 100.100,- X1 ) + ( Rp. 1.190.950,- X2)


Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Tim dan Lama Waktu Pengamatan (OB)
= Jumlah Lokasi
= Rp. 67.280.950,= Rp. 100.100,= Rp. 1.190.950,-

28

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN
JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Belanja Perjalanan Dinas
Dalam Daerah
Belanja Perjalanan Dinas
Luar Daerah

Nilai
Minimal

Nilai Rerata

0%

7%
7%
93%

0%
0%

1%
2%

0%

68%

0%
2%

4%

19%

100%

Nilai
Maksimal
13%
2%
4%

12%

100%
37%

29

ASB I-19

MONITORING/PENGAWASAN/PENGENDALIAN/PEMANTAUAN DAN
EVALUASI KEGIATAN ANTAR SKPD DI LINGKUP DAERAH
Definisi
Monitoring/pengawasan/pengendalian dan pemantauan adalah kegiatan
untuk mengawasi obyek atau titik amatan sesuai dengan tujuan yang
digariskan dalam kegiatan tersebut. Objek bisa berupa kegiatan dengan
fokus pada suatu lokasi baik yang bersifat abstrak ataupun berwujud fisik.
Monitoring/pengawasan/pengendalian dan pemantauan tersebut dalam
ruang lingkup Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan melibatkan
instansi lainnya.
Pengendali Belanja
Jumlah Objek atau Lokasi Yang Diamati
Jumlah Tim dan Lama Waktu Pengamatan (OB)
Rumusan ASB

Y = Rp. 9.111.600,- + ( Rp. 1.248.900,- X1 ) + ( Rp. 19.970.100,- X2) +


Belanja Perjalanan Dinas Luar Daerah
Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Tim dan Lama Waktu Pengamatan (OB)
= Jumlah Lokasi Yang Diamati
= Rp. 9.111.600,= Rp. 1.248.900,= Rp. 19.970.100,-

30

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN
JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Belanja Perjalanan Dinas
Dalam Daerah
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas
Luar Daerah

Nilai
Minimal

Nilai Rerata

0%

15%
15%
85%

0%
0%

2%
1%

0%

78%

0%

4%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
47%
8%
4%

11%

100%

31

ASB I-20

PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH


Definisi
Penyusunan dokumen berbentuk Peraturan Daerah (Perda) berdasarkan
usulan dari masing-masing SKPD berdasarkan kebutuhan dari Daerah.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyusun sebuah dokumen
dengan melalui kajian dan analisa. Hasil dari kegiatan ini dapat digunakan
oleh SKPD dalam pelaksanaan sebagai penyelenggara pemerintahan di
daerah.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim Penyusunan Dokumen dan Lama Waktu Penyusunan Dokumen
(OB)
Rumusan ASB

Y = Rp. 97.706.500,- + ( Rp. 786.400,- X ) + Belanja Perjalanan Dinas


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Tim dan Lama Waktu Penyusunan (OB)
= Rp. 97.706.500,= Rp. 786.400,-

32

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
13%
0%
1%
0%
0%
1%

Nilai
Rerata
26%
26%
74%
6%
12%
11%
10%
35%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
33%
9%
72%
28%
17%
56%

33

ASB I-21

PENYUSUNAN DOKUMEN
Definisi
Penyusunan dokumen dalam ASB ini adalah berdasarkan usulan dari
masing-masing SKPD berdasarkan kebutuhan. Kegiatan yang dilaksanakan
dalam rangka menyusun sebuah dokumen dengan melalui kajian dan
analisa. Hasil dari kegiatan ini dapat digunakan oleh SKPD dalam
pelaksanaan sebagai penyelenggara pemerintahan di daerah.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim Penyusunan Dokumen dan Lama Waktu Penyusunan Dokumen
(OB)
Rumusan ASB

Y = Rp. 85.724.200,- + ( Rp. 426.200,- X ) + Belanja Perjalanan Dinas


Dimana :
Y
X
Penyusunan (OB)
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Tim Penyusun dan Lama Waktu
= Rp. 85.724.200,= Rp. 426.200,-

34

Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JAS
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
2%
0%
0%
0%
0%
9%

Nilai
Rerata
33.7%
33.7%
66.3%
3.6%
24.4%
8.3%
6.1%
23.9%

100.0%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
50.1%
12%
51%
20%
12%
39%

35

ASB I-22

SOSIALISASI ATAU PENYULUHAN KEPADA MASYARAKAT


Definisi
Kegiatan Penyuluhan adalah suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk
memberdayakan atau meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui
proses pembelajaran atau transfer pengetahuan, keahlian, pemahaman,
tujuan, tindakan dan kepercayaan. (Extension may be defined as the science
of making people innovative for sustainable improvement in their quality of
live, Ray, 1998).
Kegiatan sosialisasi adalah suatu kegiatan yang bertujuan memberikan
pemahaman atau transfer pengetahuan tentang satu atau beberapa topik
secara langsung kepada kelompok atau masyarakat.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 2.483.400,- + ( Rp. 499.950,- X ) + Belanja Sewa Gedung +


Belanja Sewa Perlengkapan + Belanja Perjalanan Dinas
Dimana :
Y
X
Jumlah Hari (OH)
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta Sosialisasi/Penyuluhan dan
= Rp. 2.483.400,= Rp. 499.950,-

36

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung
Belanja Sewa Perlengkapan
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
4%
0%
0%
0%
0%
0%
4%

Nilai
Rerata
21%
21%
79%
10%
9%
11%
7%
17%
25%

100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
41%
44%
22%
68%
12%
39%
50%

37

ASB I-23

SOSIALISASI KEPADA PEGAWAI


Definisi
Kegiatan Penyuluhan adalah suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk
memberdayakan atau meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui
proses pembelajaran atau transfer pengetahuan, keahlian, pemahaman,
tujuan, tindakan dan kepercayaan. (Extension may be defined as the science
of making people innovative for sustainable improvement in their quality of
live, Ray, 1998).
Kegiatan sosialisasi adalah suatu kegiatan yang bertujuan memberikan
pemahaman atau transfer pengetahuan tentang satu atau beberapa topik
secara langsung kepada pegawai dari Pemerintah Kabupaten Kutai
Kartanegara.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 140.254.900,- + ( Rp. 181.700,- X ) + Belanja Perjalanan Dinas


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta Sosialisasi dan Jumlah Hari (OH)
= Rp. 140.254.900,= Rp. 181.700,-

38

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Sewa
Rumah/Gedung/Gudang/Parkir
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
0%

3%
2%
2%
2%
7%
1%

Nilai
Rerata
19%
19%
81%
15%
5%
12%
5%

17%
17%
100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
36%

27%
25%
22%
10%
27%
41%

39

ASB I-24

KEGIATAN YANG BERSIFAT PERLOMBAAN


Definisi
Kegiatan ini merupakan perlombaan yang dilakukan oleh SKPD sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya dengan kriteria umum yang biasa
diberlakukan untuk setiap golongan ataupun tingkatan golongan.
Pengendali Belanja
Jenis/Kategori Perlombaan
Jumlah Peserta Lomba
Rumusan ASB

Y = Rp. 80.617.100,- + ( Rp. 254.200,- X1 ) + ( Rp. 4.166.100,- X2) +


Belanja Sewa Gedung + Belanja Sewa Mobilitas + Belanja Sewa
Perlengkapan + Belanja Pakaian + Belanja Perjalanan Luar Daerah +
Belanja Barang Yang Akan Diserahkan Kepada Masyarakat + Belanja
Penghargaan (Hadiah)
Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jenis atau Kategori Perlombaan
= Jumlah Peserta Lomba
= Rp. 80.617.100,= Rp. 254.200,= Rp. 4.166.100,-

40

Alokasi objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung
Belanja Sewa Sarana Mobilitas
Belanja Sewa Perlengkapan
Belanja Pakaian
Belanja Perjalanan Dinas Luar
Daerah
Belanja Barang Yang Akan
diserahkan Kepada Masyarakat
Belanja Penghargaan/Hadiah

Nilai
Minimal
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
6%
6%
94%
39%
1%
19%
1%
18%
4%
9%

100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD
Seijin TAPD
Seijin TAPD
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
20%

60%
4%
92%
1%
100%
9%
5%

Seijin TAPD
Seijin TAPD

41

ASB I-25

KEGIATAN YANG BERSIFAT FESTIVAL ATAU PAMERAN


Definisi
Mengikuti pameran adalah kegiatan satuan kerja perangkat daerah untuk
berpartisipasi dalam menampilkan kepada masyarakat luas tentang hasil
karya seni, tulisan, teknologi, dan berbagai karya lain yang dapat
diperlihatkan wujud fisiknya yang bertempat di suatu lokasi tetap
sementara waktu sampai kegiatan tersebut berakhir.
Pengendali Belanja
Jumlah Stand
Jumlah Tim dan Hari Pameran (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 39.121.900,- + ( Rp. 21.918.400,- X1 ) + ( Rp. 29.200,- X2) +


Belanja Perjalanan Dinas
Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total belanja
= Jumlah Stand
= Jumlah Hari Pameran
= Rp. 39.121.900,= Rp. 21.918.400,= Rp. 29.200,-

42

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Sewa
Rumah/Gedung/Gudang/Parkir
Belanja Sewa Sarana Mobilitas
Belanja Sewa Perlengkapan dan
Peralatan Kantor
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Barang yang Akan
Diserahkan kepada
Masyarakat/Pihak Lainnya
Belanja Penghargaan/Hadiah
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal

Nilai
maksimal

0%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
5%
5%
95%
8%
4%
34%
1%
6%

0%
0%

7%
5%

20%
10%

2%

1%
0%

0%
1%

3%
12%

11%
3%

100%
Seijin TAPD

7%

20%
10%
73%
3%
13%
4%
26%

23%
5%

43

ASB I-26

ADMINISTRASI PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI ATAU PENYUSUNAN


APLIKASI
Definisi
Kegiatan Administrasi Pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM)
adalah kegiatan dalam rangka menhadirkan sistem bersifat software yang
digunakan oleh satuan kerja perangkat daerah dalam melancarkan
pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya dalam memberikan layanan kepada
masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Penyusunan sistem Informasi
Rumusan ASB

Y = Rp. 60.356.700,- + ( 0,003 X ) + X + Belanja Perjalanan Dinas


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
=
Nilai
Belanja
Penyusunan
Sistem
Informasi/Aplikasi ( Belanja Honorarium Non
PNS/Belanja Jasa Pihak Ketiga)
= Rp. 60.356.700,= 0.003

44

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
0%
0%
0%
2%

Nilai
Nilai
Rerata Maksimal
40%
40%
100%
60%
20%
19%
15%
36%
25%
46%
100%
Seijin TAPD

Keterangan :
Yang dapat menggunakan ASB ini adalah kegiatan yang Nilai Belanja
Penyusunan Sistem Informasi/Aplikasi (Belanja Honorarium Non
PNS/Belanja Jasa Pihak Ketiga) diatas 50 juta

45

ASB I-27

ADMINISTRASI PEMELIHARAAN SISTEM INFORMASI ATAU APLIKASI


Definisi
Kegiatan ini dimaksudkan memelihara sistem informasi atau aplikasi yang
telah ada agar selalu ter up-date sesuai dengan kondisi terkini. Hal ini
dilakukan agar tercipta kelancaran pelaksanaan tugas keseharian kantor
untuk menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing
SKPD.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Pemeliharaan Sistem
Rumusan ASB

Y = Rp. 45.281.400,- + ( 0,297,- X ) + Belanja Pemeliharaan Sistem


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Pemeliharaan Sistem
= Rp. 45.281.400,= 0,297

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas
JUMLAH
Belanja Pemeliharaan Sistem

Nilai
Minimal
1%
0%
1%
2%
5%

Nilai
Rerata
30%
30%
70%
8%
7%
15%
40%
100%

Nilai
maksimal
37%
14%
16%
29%
50%

46

ASB I-28

PEMELIHARAAN WEB DESIGN (PENAMBAHAN ATAU UPDATE HALAMAN


WEB)
Definisi
Kegiatan ini dimaksudkan memelihara laman web yang telah dimiliki oleh
SKPD agar selalu ter up-date sesuai dengan kondisi terkini. Hal ini dilakukan
agar masyarakt dapat mengetahui informasi terbaru dari SKPD pada
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim Pemeliharaan dan Lama Waktu (OB)
Rumusan ASB

Y = Rp. 17.734.900,- + ( Rp. 750.100,- X )


Dimana :
Y
X
(OB)
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Tim Pemeliharaan Web dan Lama Waktu
= Rp. 17.734.900,= Rp. 750.100,-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH

Nilai
Minimal
8%

0%
6%
0%
0%
6%

Nilai
Rerata
38%
38%
62%
2%
23%
13%
3%
21%
100%

Nilai
Maksimal
57%
7%
41%
56%
6%
36%

47

ASB I-29

PENYELENGGARAAN OPERASIONAL KESEHATAN BAGI MASYARAKAT


Definisi
Penyelenggaraan operasional kesehatan bangi masyarakat adalah kegiatan
untuk menangani berbagai masalah kesehatan baik bayi, ibu hamil,
keluarga ataupun masyarakat. Aktivitas ini bukanlah bertujuan untuk
menangani atau mengobati penyakit tertentu yang diderita oleh orangorang namun hanya untuk memberikan bantuan jasa/pelayanan secara
kewenangan satuan kerja perangkat daerah.
Pengendali Belanja
Jumlah Masyarakat Yang Dilayani
Rumusan ASB

Y = Rp. 170.945.600,- + ( Rp. 57.800,- X ) + Belanja Sewa Sarana


Mobilitas
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Masyarakat Yang Dilayani
= Rp. 170.945.600,= Rp. 57.800,-

48

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Sewa
Rumah/Gedung/Gudang/Parkir
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Sarana Mobilitas

Nilai
Minimal

Nilai
Maksimal

0%
0%
0%
0%
1%

Nilai
Rerata
1%
1%
99%
7%
58%
9%
1%
2%

0%

3%

9%

0%

1%
2%

3%
16%

100%

3%

23%
70%
18%
5%
3%
5%
30%

49

ASB I-30

PENYELENGGARAAN OPERASIONAL KESEHATAN BAGI MASYARAKAT


(OPERASIONAL PUSKESMAS)
Definisi
Penyelenggaraan operasional kesehatan bagi masyarakat (Operasional
Puskesmas) adalah merupakan kegiatan operasional sehari-hari bagi
puskesmas yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai pelayan
masyarakat dalam bidang kesehatan.
Pengendali Belanja
Jumlah Masyarakat Yang Dilayani
Rumusan ASB

Y = Rp. 905.709.200,- + ( Rp. 9.250,- X ) + Belanja Honorarium Non


PNS
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Masyarakat Yang Dilayani
= Rp. 905.709.200,= Rp. 9.250,-

50

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
Belanja Honorarium PNS
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Perawatan Kendaraan
Bermotor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Sewa
Rumah/Gedung/Gudang/Parkir
Belanja Sewa Perlengkapan dan
Peralatan Kantor
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Pakaian Dinas dan Atributnya
Belanja Pakaian khusus dan hari-hari
tertentu
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi
dan Bimbingan Teknis PNS
Belanja Pemeliharaan
Belanja Barang yang Akan
Diserahkan kepada Masyarakat/Pihak
Lainnya
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
Belanja Modal
JUMLAH
Belanja Honorarium Non PNS

Nilai
Minimal
1%
8%
1%
11%
2%

Nilai
Rerata
2.1%
12%
3.4%
21%
4.9%

Nilai
Maksimal
3%
16%
6%
31%
8%

0%

0.8%

1%

0%
0%
4%
2%
1%

1.9%
0.4%
8%
3.4%
3.7%

12%
5%
6%

1.4%

2%

18%

28.1%

1%
0%

2.8%
0.7%

1%

2%
0%

4%
1%

3.8%

1.7%
100%
Seijin TAPD

38%
5%
1%
6%
4%

51

ASB I-31

REHABILITASI LAHAN PERTANIAN


Definisi
Rehabilitasi lahan untuk tanaman memuliki pengertian kegiatan untuk
merehab lahan yang telah digunakan untuk tanaman. Tujuan utama
kegiatan ini adalah untuk memberdayakan lahan yang telah digunakan
sebelumnya bukan pada jenis tanaman tertentu.
Pengendali Belanja
Jumlah Luasan Lahan (Ha) yang akan direhabilitasi
Rumusan ASB

Y = Rp. 276.331.600,- + ( Rp. 6.481.500,- X )


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Luas Lahan Yang Akan Di Rehabilitasi (Hektar)
= Rp. 276.331.600,= Rp. 6.481.500,-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas Luar
Daerah

Nilai
Minimal
1%
0%
0%
0%
0%
5%

Nilai
Rerata
1%
1%
99%
3%
2%
86%
1%
7%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
2%

8%
4%
100%
1%
11%

52

ASB I-32

ADMINISTRASI PENYEBARLUASAN INFORMASI ATAU PUBLIKASI ATAU


PROMOSI
Definisi
Kegiatan Promosi / publikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan
kerja perangkat daerah dalam memberikan layanan berupa promosi atau
publikasi kepada masyarakat secara luas, dimana masyarakat bukan hanya
dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara tetapi secara luas
pada umumnya melingkupi seluruh masyarakat indonesia.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Publikasi
Rumusan ASB

Y = Rp. 58.994.300,- + ( 0,002 X ) + X + Belanja Perjalanan Dinas +


Belanja Penghargaan
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Publikasi
= Rp. 58.994.300,= 0,002

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Uang Lembur
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Makanan dan Minuman
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas
Belanja Penghargaan

Nilai
Minimal
0%

1%
10%
0%

Nilai
Nilai
Rerata
maksimal
49%
49%
99%
51%
20%
39%
22%
35%
9%
34%
100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD

53

ASB I-33

PEMBUKAAN LAHAN BARU UNTUK TANAMAN


Definisi
Pembukaan lahan baru untuk tanaman memiliki pengertian kegiatan untuk
membuka lahan yang akan digunakan untuk tanaman. Tujuan utama
kegiatan ini adalah untuk memberdayakan lahan yang belum bermanfaat
menjadi lebih bermanfaat untuk di tanami. Kegiatan ini dimulai sejak
dipersiapkannya kegiatan sampai dengan selesainya proses tanam dan
pengawasannya serta diterbitkannya pertanggungjawaban laporan hasil
kegiatan.
Pengendali Belanja
Jumlah Luasan Lahan (Ha)
Rumusan ASB

: Rp. 93.571.200,- + (Rp. 3.772.550,- x jumlah luasan lahan) +


Belanja Jasa Kantor + Belanja Perjalanan Dinas

Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Luasan Lahan (Ha)
= Rp. 93.571.200,= Rp. 3.772.550,-

54

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Sewa
Belanja Makan dan Minum
JUMLAH
Belanja Jasa Kantor
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
0%
0%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Nilai
Rerata Maksimal
3%
3%
4%
97%
93%
6%
1%
100%
1%
2%
1%
2%
1%
2%
100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD

55

ASB I-34

PENYUSUNAN PERATURAN BUPATI


Definisi
Penyusunan Peraturan Bupati merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
satuan kerja perangkat daerah dalam rangka menyusun peraturan kepala
daerah, Aktivitas ini terhitung setelah adanya bahan pembahasan dan mulai
dibahasnya bahan sampai menjadi peraturan Bupati.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim dan Lama Waktu Penyusunan (OB)
Jumlah Dokumen Yang Diperbanyak (Buku)
Rumusan ASB

Y = Rp. 3.899.100,- + ( Rp. 5.366.950,- X1 ) + ( Rp. 458.750,- X2) +


Belanja Sewa Gedung
Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Tim dan Lama Waktu Penyusunan (OB)
= Jumlah Dokumen Yang Diperbanyak (Buku)
= Rp. 3.899.100,= Rp. 5.366.950,= Rp. 458.750,-

56

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Belanja Perjalanan Dinas
Dalam Daerah
Belanja Perjalanan Dinas Luar
Daerah
Honorarium
Narasumber/Tenaga Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung

Nilai
Minimal

Nilai
Maksimal

0%
0%
0%

Nilai
Rerata
18.7%
18.7%
81.3%
0.6%
0%
3.6%

0%

15.7%

31%

0%

34.1%

83%

11%

0%
0%

3.7%

23.4%

100%
Seijin TAPD

27%
3%
0%
7%
9%

47%

57

LAMPIRAN ASB II

ASB BAGI SKPD KECAMATAN

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

2.2.

ASB BAGI SKPD KECAMATAN

ASB II-01

PENDAMPINGAN ATAU PEMBINAAN ATAU FASILITASI


Definisi
Pembinaan/Fasilitasi/Pendampingan berdasarkan jumlah peserta adalah
kegiatan yang dilaksanakan oleh Kecamatan dalam rangka meningkatkan
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terhadap suatu topik tertentu.
Pembinaan merupakan upaya untuk memberikan pengarahan atau
bimbingan guna mencapai suatu tujuan tertentu. Pembinaan dilakukan
dalam upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, kecakapan pada
bidang yang dibina. Pembinaan lebih menekankan pada pendekatan yang
praktis, pengembangan sikap, kemampuan dan kecakapan. Dengan definisi
lain pembinaan merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar,
terencana, teratur, dan terarah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap
dan keterampilan subyek dengan tindakan pengarahan, dan pengawasan
untuk mencapai tujuan (Poerwadarminta, 1987).
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta dan
Pendampingan (OH)

Jumlah

Hari

Pelaksanaan

Bimbingan

atau

Rumusan ASB

Y = Rp. 15.476.800,- + ( Rp. 74.700,- X ) + Belanja Jasa Kantor


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Bariabel

= Total belanja
= Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
= Rp. 15.476.800,= Rp. 74.700,-

58

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
Belanja Jasa Kantor

Nilai
Minimal
18%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
45%
45%
55%
3%
9%
12%
30%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
73%
10%
24%
31%
88%

59

ASB II-02

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN FISIK (BELANJA MODAL)


Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Belanja Modal Fisik Kecamatan adalah
kegiatan yang bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka
menghadirkan belanja modal yang berupa fisik yang digunakan oleh satuan
kerja perangkat daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ruang lingkup kegiatan ini adalah dalam wilayah kerja Kecamatan.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Pengadaan Konstruksi
Rumusan ASB

Y = Rp. 1.478.489,- + ( 0,006 X ) + Belanja Modal


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal pengadaan Konstruksi
= Rp. 1.478.489,= 0,006

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
JUMLAH
Belanja Modal

Nilai
Minimal
62%
0%
0%

Nilai
Rerata
90%
90%
10%
5%
5%
100%

Nilai
Maksimal
100%
30%
14%

60

ASB II-03

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN FISIK (BELANJA BARANG YANG


AKAN DISERAHKAN KEPADA MASYARAKAT)
Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Fisik adalah kegiatan yang bersifat
administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja modal
yang berupa fisik yang digunakan oleh satuan kerja perangkat daerah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ruang lingkup kegiatan ini
adalah menyediakaan wujud fisik bangunan yang kemudian secara langsung
diserahkan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Barang Yang Akan Diserahkan Kepada Masyarakat
Rumusan ASB

Y = Rp. 1.238.300,- + ( 0,016 X ) + Belanja Barang yang Akan


Diserahkan Kepada Masyarakat
Dimana :
Y
X
Kepada Masyarakat
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Barang Yang Akan Diserahkan
= Rp. 1.238.300,= 0,016

61

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan
Penggandaan
Belanja Makanan dan
Minuman
Belanja Perjalanan Dinas
Dalam Daerah
JUMLAH
Belanja Barang yang Akan
Diserahkan Kepada
Masyarakat

Nilai
Minimal

Nilai
Maksimal

0%
0%

Nilai
Rerata
54%
54%
46%
1%
5%

0%

39%

100%

16%

0%

1%

100%

91%
9%
11%
5%

62

ASB II-04

ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA BARANG (BELANJA


MODAL)
Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Belanja Barang adalah kegiatan yang
bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja
modal berbentuk barang atau peralatan dan perlengkapan kantor dan
bukan berbentuk bangunan yang digunakan oleh satuan kerja perangkat
daerah dalam pelaksanaan tugas kesehariannya.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal
Rumusan ASB

Y = Rp. 1.156.500,- + ( 0,034 X ) + Belanja Modal


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal
= Rp. 1.156.500,= 0,034

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Modal

Nilai
Minimal
22%
0%

Nilai
Rerata
49%
49%
51%
51%
100%

Nilai
maksimal
76%

100%

63

ASB II-05

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN MATERIAL


Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Bahan Material adalah kegiatan yang
bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja
bahan material yang digunakan oleh satuan kerja perangkat daerah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Bahan Material
Rumusan ASB

Y = Rp. 1.366.400,- + ( 0.003 X ) + Belanja Bahan Material


Dimana
Y
X

Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Pengadaan Bahan Material (Belanja
Bahan
Material/Belanja
Jasa
Pihak
Ketiga/Belanja Cetak dan Penggandaan)
= Rp. 1366.400
= 0,003

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
JUMLAH
Belanja Bahan Material

Nilai
Minimal
0%

Nilai
Rerata
100%
100%
100%

Nilai
Maksimal
100%

64

ASB II-06

FORUM KOMUNIKASI ATAU KOORDINASI


Definisi
Forum komunikasi atau koordinasi untuk Kecamatan ini adalah merupakan
kegiatan pertemuan dua atau lebih instansi atau lembaga yang
dilaksanakan dengan maksud untuk menyamakan atau mensingkronkan
berbagai topik yang dibahas. Hasil dari kegiatan ini berupa kesepakatan dan
kesepahaman tentang masalah yang ingin dipecahkan dan tercapainya
tujuan yang diharapkan.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta Rapat Koordinasi dan Jumlah Hari Pelaksanaan Rakor (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 4.822.300- + ( Rp. 55.600,- X )


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
= Rp. 4.822.300,= Rp. 55.600.-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
JUMLAH

Nilai
Minimal

Nilai
Rerata

Nilai
Maksimal

0%

11%

23%

0%
0%
0%
0%

23%
3%
34%
29%

100%

100%
9%
82%
100%

65

ASB II-07

MONITORING/PENGAWASAN/PENGENDALIAN/PEMANTAUAN DAN
EVALUASI KEGIATAN KECAMATAN
Definisi
Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan lingkup wilayah kerja
Kecamatan adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengamati
perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi, serta
mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau mungkin akan timbul
untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin dalam wilayah kerja
Kecamatan. Kunjungan lapangan diperlukan dalam upaya untuk menunjang
pelaksanaan kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan dimaksud harus
diikuti dengan adanya kunjungan ke lokasi pelaksanaan kegiatan.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim Pelaksana Monitoring dan Lama Waktu Pelaksanaan Monitoring
(OB)
Rumusan ASB

Y = Rp. 22.021.800,- + ( Rp. 44.500,- X )


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Tim dan Lama Waktu (OB)
= Rp. 22.021.800,= Rp. 44.500,-

66

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
JUMLAH

Nilai
Minimal
6%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
14%
14%
86%
0%
1%
3%
82%
100%

Nilai
Maksimal
22%

2%
1%
7%
100%

67

ASB II-08

PENYUSUNAN DOKUMEN
Definisi
Penyusunan dokumen adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka
menyusun sebuah dokumen dengan melalui kajian dan analisa. Hasil dari
kegiatan ini dapat digunakan oleh Kecamatan dalam pelaksanaan tugas
pokok dan fungsinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim Penyusunan Dokumen dan Lama Waktu Penyusunan Dokumen
(OB)
Jumlah Dokumen Yang di perbanyak (Buku)
Rumusan ASB

Y = Rp. 1.151.850,- + ( Rp. 260.900,- X1 ) + ( Rp. 6.200,- X2) + Belanja


Perjalanan Dinas
Dimana :
Y
X1
Penyusunan (OB)
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Tim Penyusun dan Lama Waktu
= Jumlah Dokumen Yang di perbanyak (Buku)
= Rp. 1.151.850,= Rp. 260.900,= Rp. 6.200,-

68

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Perjalanan Dinas

Nilai
Minimal
3%
0%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
40%
40%
60%
7%
3%
38%
9%
3%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
77%

23%
12%
100%
18%
11%

69

ASB II-09

BIMBINGAN TEKNIS / PELATIHAN TEKNIS /SOSIALISASI KEPADA


MASYARAKAT
Definisi
Bimbingan teknis /Pelatihan Teknis /Sosialisasi pada masyarakat adalah
menyelenggarakan dan memberikan pelatihan/sosialisasi pada masyarakat
dalam rangka memberikan keahlian bidang tertentu dan dilaksanakan oleh
SKPD yang bersangkutan sesuai TUPOKSI.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 69.700,- + ( Rp. 229.600,- X ) + Belanja Sewa


Gedung
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
= Rp. 69.700,= Rp. 229.600,--

70

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Gedung

Nilai
Minimal
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
12%
12%
82%
12%
39%
3%
16%
4%
14%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
38%
33%
79%
7%
39%
10%
38%

71

ASB II-10

PEMELIHARAAN RUTIN/BERKALA BANGUNAN GEDUNG KANTOR YANG


BERSIFAT RINGAN
Definisi
Pemeliharaan Rutin/Berkala pada Bangunan Gedung Kantor yang bersifat
ringan adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja perangkat daerah
dalam rangka mempertahankan nilai ekonomis dari bangunan tersebut.
Pengendali Belanja
Luasan Bangunan Yang Dipelihara (m2)
Rumusan ASB

Y = Rp. 16.170.700,- + ( Rp. 39.500,- X )


Dimana :
Y = Total Belanja
X = Luasan Bangunan Yang Dipelihara (m2)
Belanja Tetap
= Rp. 16.170.700,Belanja Variabel
= Rp. 39.500,Alokasi Objek Belanja
Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
JUMLAH

Nilai
Minimal

Nilai
Rerata

Nilai
Maksimal

0%

3%

8%

0%
0%

29%
67%
100%

75%
100%

72

ASB II-11

KEGIATAN YANG BERSIFAT PERLOMBAAN


Definisi
Kegiatan ini merupakan perlombaan yang dilakukan oleh SKPD sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya dengan kriteria umum yang biasa
diberlakukan untuk setiap golongan ataupun tingkatan golongan.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta Lomba
Rumusan ASB

Y = Rp. 6.483.500,- + ( Rp. 58.100,- X ) + Belanja Sewa Sarana


Mobilitas
Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Alokasi objek Belanja
Objek Belanja

= Total Belanja
= Jumlah Peserta Lomba
= Rp. 6.483.500,= Rp. 58.100,-

BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN Jasa
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Perjalanan Dinas Dalam
Daerah
Belanja Penghargaan/Hadiah
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH
Belanja Sewa Sarana Mobilitas

Nilai
Minimal
0%
0%
0%
0%
6%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
18%
18%
82%
20%
8%
2%
23%
2%
9%
19%

100%
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
42%
54%
18%
3%
39%
7%
25%
61%

73

ASB II-12

PEMELIHARAAN KENDARAAN DINAS/OPERASIONAL


Definisi
Kegiatan ini dimaksudkan memelihara kendaraan dinas baik operasional
maupun jabatan yang berbentuk roda 4 dan roda 2 dalam rangka
kelancaran pelaksanaan tugas keseharian kantor untuk menunjang
pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing-masing SKPD.
Pengendali Belanja
Jumlah Kendaraan Roda 4
Jumlah Kendaraan Roda 2
Rumusan ASB

Y = Rp. 31.323.600,- + ( Rp. 16.638.800,- X1 ) + ( Rp. 1.212.200 X2 )


Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Kendaraan Roda 4
= Jumlah Kendaraan Roda 2
= Rp. 31.323.600,= Rp. 16.638.800,= Rp. 1.212.200,-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Perawatan Kendaraan
Bermotor
JUMLAH

Nilai
Minimal

Nilai
Rerata

Nilai
Maksimal

0%

100%

100%

100%

74

LAMPIRAN ASB II

BAGI SKPD KELURAHAN

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

2.3.

ASB BAGI SKPD KELURAHAN

ASB III-01

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA MODAL FISIK KELURAHAN


Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Belanja Modal Fisik Kelurahan adalah
kegiatan yang bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka
menghadirkan belanja modal yang berupa fisik yang digunakan oleh satuan
kerja perangkat daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ruang lingkup kegiatan ini adalah dalam wilayah kerja Kelurahan.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal Pengadaan Kosntruksi (Rp)
Rumusan ASB

Y = Rp. 1.213.650,- + ( 0,006 X ) + Belanja Modal


Di mana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal Pengadaan Konstruksi
= Rp. 1.213.650,= 0,006

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
JUMLAH
Belanja Modal

Nilai
Minimal
29%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
93%
93%
7%
1%
5%
1%
100%

Nilai
Maksimal
100%
6%
18%
7%

75

ASB III-02

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN FISIK (BELANJA BARANG YANG


AKAN DISERAHKAN KEPADA MASYARAKAT)
Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Fisik adalah kegiatan yang bersifat
administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja modal
yang berupa fisik yang digunakan oleh satuan kerja perangkat daerah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ruang lingkup kegiatan ini
adalah menyediakaan wujud fisik bangunan yang kemudian secara langsung
diserahkan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Barang Yang Akan Diserahkan Kepada Masyarakat
Rumusan ASB

Y = Rp. 221.800,- + ( 0,016 X ) + Belanja Barang Yang Akan


Diserahkan Kepada Masyarakat
Dimana :
Y
X
Kepada Masyarakat
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Barang Yang Akan Diserahkan
= Rp. 221.800
= 0,016

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Cetak dan Penggandaan
JUMLAH
Belanja Barang Yang Akan Diserahkan
Kepada masyarakat

Nilai
Minimal
0%
0%

Nilai
Rerata
97%
97%
3%
3%
100%

Nilai
Maksimal
100%
8%

76

ASB III-03

ADMINISTRASI KEGIATAN PENGADAAN BELANJA BARANG (BELANJA


MODAL)
Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Belanja Barang adalah kegiatan yang
bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja
modal berbentuk barang atau peralatan dan perlengkapan kantor dan
bukan berbentuk bangunan yang digunakan oleh satuan kerja perangkat
daerah dalam pelaksanaan tugas kesehariannya.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal
Rumusan ASB

Y = Rp. 288.600,- + ( 0,107 X ) + Belanja Modal


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal
= Rp. 288.600,= 0,107

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
JUMLAH
Belanja Modal

Nilai
Minimal
0%
0%

Nilai
Rerata
37%
37%
63%
63%
100%

Nilai
Maksimal
74%

100%

77

ASB III-04

ADMINITRASI KEGIATAN PENGADAAN BAHAN MATERIAL


Definisi
Administrasi Kegiatan Pengadaan Bahan Material adalah kegiatan yang
bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka menghadirkan belanja
bahan material yang digunakan oleh satuan kerja perangkat daerah dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Bahan Material
Rumusan ASB

Y = Rp. 1.609.400,- + ( 0,019 X ) + Belanja Bahan Material


Dimana
Y
X

Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Pengadaan Bahan Material (Belanja
Bahan
Material/Belanja
Jasa
Pihak
Ketiga/Belanja Cetak dan Penggandaan)
= Rp. 1.609.400,= 0,019

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
JUMLAH
Belanja Bahan Material

Nilai
Minimal
0%

Nilai
Rerata
100%
100%
100%

Nilai
Maksimal
100%

78

ASB III-05

FORUM KOMUNIKASI ATAU KOORDINASI


Definisi
Forum komunikasi atau koordinasi untuk Kelurahan ini adalah merupakan
kegiatan pertemuan dua atau lebih instansi atau lembaga yang
dilaksanakan dengan maksud untuk menyamakan atau mensingkronkan
berbagai topik yang dibahas. Hasil dari kegiatan ini berupa kesepakatan dan
kesepahaman tentang masalah yang ingin dipecahkan dan tercapainya
tujuan yang diharapkan.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta Rapat Koordinasi dan Lama Waktu Pelaksanaan Rapat (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 139.800,- + ( Rp. 99.400,- X )


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta dan Lama Waktu (OH)
= Rp. 139.800,= Rp. 99.400

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Honorarium Narasumber/Tenaga
Ahli
JUMLAH

Nilai
Minimal
8%

3%
0%
11%
0%

Nilai
Rerata
30%
30%
70%
14%
5%
36%
16%
100%

Nilai
Maksimal
51%
24%
10%
60%
40%

79

ASB III-06

PENYUSUNAN DOKUMEN
Definisi
Penyusunan dokumen adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka
menyusun sebuah dokumen dengan melalui kajian dan analisa. Hasil dari
kegiatan ini dapat digunakan oleh Kelurahan dalam pelaksanaan tugas
pokok dan fungsinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pengendali Belanja
Jumlah Tim Penyusunan Dokumen dan Lama Waktu Penyusunan Dokumen
(OB)
Jumlah Dokumen Yang di perbanyak (Buku)
Rumusan ASB

Y = Rp. 5.016.800,- + ( Rp. 104.200,- X1 ) + ( Rp. 138.800,- X2 ) +


Belanja Jasa Kantor + Honorarium Narasumber
Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Tim Penyusun dan Lama Waktu
Penyusunan (OB)
= Jumlah Dokumen Yang di perbanyak (Buku)
= Rp. 5.016.800,= Rp. 104.200,= Rp. 138.800,-

80

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
Uang Lembur
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
JUMLAH
Belanja Jasa kantor
Honorarium Narasumber

Nilai
Minimal
33%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Nilai
Rerata Maksimal
64%
62%
90%
2%
8%
36%
1%
5%
23%
48%
12%
30%
100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD

81

ASB III-07

PENYULUHAN ATAU PELATIHAN ATAU SOSIALISASI BAGI MASYARAKAT


LINGKUP KELURAHAN
Definisi
Kegiatan Penyuluhan adalah suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk
memberdayakan atau meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui
proses pembelajaran atau transfer pengetahuan, keahlian, pemahaman,
tujuan, tindakan dan kepercayaan. (Extension may be defined as the science
of making people innovative for sustainable improvement in their quality of
live, Ray, 1998).
Kegiatan sosialisasi adalah suatu kegiatan yang bertujuan memberikan
pemahaman atau transfer pengetahuan tentang satu atau beberapa topik
secara langsung kepada kelompok atau masyarakat.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
Rumusan ASB

Y = Rp. 6.000.000,- + ( Rp. 200.000,- X )


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Jumlah Peserta dan Jumlah Hari (OH)
= Rp. 6.000.000,= Rp. 200.000,-

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Makan dan Minum
JUMLAH

Nilai
Minimal
21%
6%
10%

Nilai
Rerata
39%
39%
61%
25%
36%
100%

Nilai
Maksimal
56%
20%
38%

82

ASB III-08

ADMINISTRASI KEGIATAN REHABILITASI BANGUNAN YANG BERSIFAT


SEDANG DAN BERAT
Definisi
Administrasi Kegiatan Rehabilitasi Bangunan yang bersifat sedang dan berat
adalah kegiatan yang bersifat administrasi atau penunjang dalam rangka
menghadirkan belanja modal yang berupa rehabilitasi fisik yang digunakan
oleh satuan kerja perangkat daerah dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat.
Pengendali Belanja
Nilai Belanja Modal (Rehabilitasi)
Rumusan ASB

Y = Rp. 676.300,- + ( 0,014 X ) + Belanja Modal


Dimana :
Y
X
Belanja Tetap
Belanja Variabel

= Total Belanja
= Nilai Belanja Modal (Rp)
= Rp. 676.300,= 0,014

Alokasi Objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Cetak dan Penggandaan
JUMLAH
Belanja Modal

Nilai
Minimal
29%
0%

Nilai
Rerata
91%
91%
9%
9%
100%

Nilai
Maksimal
100%
25%

83

ASB III-09

PEMELIHARAAN RUTIN/BERKALA BANGUNAN GEDUNG KANTOR YANG


BERSIFAT RINGAN
Definisi
Pemeliharaan Rutin/Berkala pada Bangunan Gedung Kantor yang bersifat
ringan adalah kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja perangkat daerah
dalam rangka mempertahankan nilai ekonomis dari bangunan tersebut.
Pengendali Belanja
Luasan Bangunan Yang Dipelihara (m2)
Rumusan ASB

Y = Rp. 4.735.500,- + ( Rp. 82.800,- X )


Dimana :
Y = Total Belanja
X = Luasan Bangunan Yang Dipelihara (m2)
Belanja Tetap
= Rp. 4.735.500,Belanja Variabel
= Rp. 82.800,Alokasi Objek Belanja
Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Jasa Kantor
JUMLAH

Nilai
Minimal
0%
0%

Nilai
Rerata
2%
2%
98%
98%
100%

Nilai
Maksimal
4%

100%

84

ASB III-10

KEGIATAN YANG BERSIFAT PERLOMBAAN


Definisi
Kegiatan ini merupakan perlombaan yang dilakukan oleh SKPD sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya dengan kriteria umum yang biasa
diberlakukan untuk setiap golongan ataupun tingkatan golongan.
Pengendali Belanja
Jumlah Peserta Lomba
Jenis Yang Dilombakan
Rumusan ASB

Y = Rp. 3.301.200,- + ( Rp. 222.500,- X1 ) + ( Rp. 627.500,- X2 ) +


Belanja Sewa Sarana Mobilitas + Belanja Sewa Peralatan
Dimana :
Y
X1
X2
Belanja Tetap
Belanja Variabel 1
Belanja Variabel 2

= Total Belanja
= Jumlah Peserta Lomba
= Jenis Yang Dilombakan
= Rp. 3.301.200,= Rp. 222.500,= Rp. 627.500,-

85

Alokasi objek Belanja


Objek Belanja
BELANJA PEGAWAI
Belanja Honorarium PNS
BELANJA BARANG DAN JASA
Belanja Bahan Pakai Habis
Belanja Bahan Material
Belanja Jasa Kantor
Belanja Cetak dan Penggandaan
Belanja Makanan dan Minuman
Belanja Pakaian khusus dan harihari tertentu
Belanja Barang yang Akan
Diserahkan kepada
Masyarakat/Pihak Lainnya
Honorarium Narasumber
JUMLAH
Belanja Sewa Sarana Mobilitas
Belanja Sewa Peralatan

Nilai
Minimal
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
0%

Nilai
Rerata
13%
13%
87%
14%
5%
10%
3%
25%
8%
14%

7%
100%
Seijin TAPD
Seijin TAPD

Nilai
Maksimal
27%
39%
26%
31%
8%
70%
23%
45%
26%

86

Analisa Standar Belanja (ASB)


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

B A G I A N A D M I N I S T R A S I P E R L E N G K A PA N
SEKRETARIAT KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
T A H U N
A N G G A R A N
2 0 1 5