Anda di halaman 1dari 24

Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS

Priscilia Lewerissa
102011093
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta

Pendahuluan
Angka kejadian HIV-AIDS semakin hari semakin memprihantinkan. Sampai dengan triwulan III
tahun 2014 jumlah kasus baru HIV 7335 kasus, infeksi tertinggi menurut golongan umur adalah
25-49 tahun mencapai 69,1%, 20-24 = 17,2%, umur >50 tahun = 5,5%. Rasia laki-laki :
perempuan = 1:1. Sementara itu kasus AIDS dari bulan juli sampai september 2014 telah
bertambah 176 orang. Persentase tertinggi kasus AIDS pada usia 30-39 tahun (42%) umur 20-29
tahun (36,9%) dan umur 40-49 (13,1%). Rasio AIDS laki-laki:perempuan adalah 2:1. Yang
menarik adalah adanya 4% kasus berasal dari ibu yang HIV positif yang menularkan kepada
anaknya. Pemerintah saat ini sedang melaksanakan program yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan perilaku masyarakat terhadap penyakit HIV AIDS ini, antara lain dengan
program VCT (voluntary, sounseling, and test).Diharapkan mampu menjaring sebanyak mungkin
kasus HIV-AIDS sedini menugkin untuk mencegah penularan lebih lanjut. Selain itu sasaran
lainnya adalah usia muda dan remaja agar mampu melaksanakan upaya promosi dan prevensi
terhadap penyakit ini.

Alamat Korespondensi:Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telephone: (021) 5694-2061 (hunting),
Fax: (021) 563-1731
Email: priscilia.lewerissa@gmail.com

Pada kasus terhadap cepat dan banyaknya jumlah kasus HIV-AIDS pada tahun 2014 diperlukan
sebuah program yang ditujukan untuk menanggulangi penularan penyakit tersebut. Salah satu
upaya yang dilakukan pada kasus ini adalah upaya promtif dan preventif dari puskesmas yang
dapat meningkatkan tingkat kepedulian masyarakat terhadap penularan penyakit HIV-AIDS,
namun sebelumnya juga harus dilakukan surveillance dan screening untuk mewaspadai tingkat
prevalensi dari HIV-AIDS.
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah mengerti dan mempelajari upaya puskesmas dalam
menangani suatu penyakit menular pada level promotif preventif, melakukan promosi
kesehatan terhadap masyarakat, analisa kejadian masalah dan inidkator surveilance penyakit,
menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah dan mengenli penyebabbnya, dan mampu
bekerja sama dengan unsur-unsur lain dalam rangka menyelesaikan masalah kesehatan.
Hipotesis: Prevalens HIV-AIDS yang tinggi dalam periode tahun 2014 tinggi karena program
penanggulangan penyakit ini belum bekerja secara maksimal.

Definisi HIV - AIDS


Definisi HIV AIDS
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yaitu sejenis virus yang menyerang
system kekebalan tubuh manusia. Virus HIV akan masuk ke dalam sel darah putih dan merusaknya,
sehingga sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi akan menurun jumlahnya.
Akibatnya system kekebalan tubuh menjadi lemah dan penderita mudah terkena berbagai penyakit.
Kondisi ini disebut AIDS.
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan gejala penyakit
(sindrom) yang didapat akibat turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.1
Epidemiologi HIV AIDS
Pada tahun 1992, sekurang-kurangnya 12,9 juta penduduk dunia terinfeksi dengan HIV termasuk anakanak, dan dari jumlah ini sebanyak 2,58 juta telah menjadi penderita AIDS dengan CFR sebesar 98,9%.
Berdasarkan laporan dari UNAIDS (2004), prevalensi pengidap HIV dewasa (15- 49 tahun) di wilayah
Sub Sahara Afrika sebesar 7,4%. Benua Afrika di diami oleh 10% jumlah populasi dunia, namun disaat
2

yang sama 60 % dari jumlah populasinya, telah mengidap AIDS. Demikian juga dengan prevalensi
pengidap HIV dewasa (15-49 tahun) di Amerika Utara sebesar 0,6% dan di Eropa Barat sebesar 0,3%.
Berdasarkan laporan dari Dirjen PP dan PL Depkes (2006), prevalensi kasus AIDS secara nasional 3,47
per 100.000 penduduk dengan prevalensi kasus tertinggi dilaporkan dari Propinsi Papua yaitu
sebesar 50,94 per 100.000 penduduk dan disusul dengan Propinsi Jakarta dengan prevalensi sebesar
28,73 per 100.000 penduduk.1
Berdasarkan Profil Kesehatan Nasional Tahun 2005 kasus AIDS tertinggi dilaporkan berada pada
golongan umur 20-39 tahun (79,98%) dan 40-49 tahun (8,47%) sedangkan berdasarkan data dari
Departemen Kesehatan RI (2007), rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 4,07:1.
Berdasarkan profil tersebut juga dinyatakan bahwa penularan HIV/AIDS terbanyak adalah melalui
hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik bersama pada IDU. Kelompok umur 20-49 tahun
merupakan kelompok umur yang aktif dalam aktivitas seksual dan pengguna IDU juga didominasi oleh
kelompok umur produktif.

Segitiga epidemiologi
Penyakit menular adalah penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Berbeda dengan
penyakit tidak menular yang biasanya bersifat menahun dan banyak disebabkan oleh gaya hidup
(life style), penyakit menular umumnya bersifat akut (mendadak) dan menyerang semua lapisan
masyarakat.2Penyakit menular merupakan hasil perpaduan berbagai faktor yang saling
mempengaruhi. Faktor tersebut yaitu lingkungan (environment), agen penyebab penyakit (agent),
dan pejamu (host).Ketiga faktor penting ini disebut segitiga epidemiologi (epidemiologic
triangle). Hubungan ketiga factor tersebut digambarkan secara sederhana sebagai tumbangan,
yaitu agen penyebab penyakit pada satu sisi dan pejamu pada sisi yang lain dengan lingkungan
sebagai penumpunya.2
Bila agen penyebab penyakit dengan pejamu berada dalam keadaan seimbang, maka seseorang
berada dalam keadaan sehat. Perubahan keseimbangan akan menyebabkan seseorang sehat atau
sakit. Penurunan daya tahan tubuh akan menyebabkan bobot agen penyebab penyakit menjadi
lebih berat sehingga seseorang menjadi sakit. Demikian pula bila agen penyakit menjadi lebih
banyak atau lebih ganas, sedangkan factor pejamu tetap, maka bobot agen penyebab menjadi
lebih berat. Sebaliknya bila daya tahan tubuh seseorang baik atau meningkat maka ia dalam
3

keadaan sehat. Apabila factor lingkungan berubah menjadi cenderung menguntungkan agen
penyakit, maka orang akan sakit. Pada prakteknya seseorang menjadi sakit akibat pengaruh
berbagai faktor berikut (gambar 1):2
Agen penyebab penyakit terdiri dari bahan kimia, mekanik, stress (psikologik),atau biologis.
Penyakit menular biasanya disebabkan oleh agen biologis seperti infeksi bakteri,virus, parasit,
atau jamur. Pengetahuan mengenai sifat-sifat agen sangat penting untuk pencegahan dan
penanggulangan penyakit. Sifat-sifat tersebut termasuk ukuran, kemampuan berkembang biak,
kematian agen, atau daya tahan terhadap pemanasan atau pendinginan.2 Salah satu sifat agen
penyakit adalah virulensi. Virulensi adalah kemampuan atau keganasan suatu agen penyebab
penyakit untuk menimbulkan kerusakan pada sasaran. Biasanya ynag diukur adalah derajat
kerusakan yang ditimbulkan.2
Host (Pejamu)
Hal yang perlu diketahui tentang pejamu meliputi karakteristik, gizi, atau daya tahan, pertahanan
tubuh, hiegene pribadi, gejala dan tanda penyakit, dan pengobatan. Karakteristik pejamu dapat
dibedakan sebagai berikut.
a. Umur. Umur biasanya berhubungan dengan daya tahan tubuh seseorang terhadap
penyakit. Seorang bayi masih memiliki kekebalan pasif dari ibunya. Namun dengan
bertambahnya usia kekebalan itu semakin berkurang. Asuhan gizi akan menggantikan
fungsi kekebalan dalam menghadapi penyakit. Keikutsertaan bayi dalam program
imunisasi dasar sangat berguna pada pencegahan penyakit yang dapat dicegaj dengan
imunisasi.
b. Jenis Kelamin. Sebagian

besar penyakit menular menyerang semua jenis kelamin.

Perbedaan prevalensi antara laki-laki dan wanita biasanya disebabkan oleh gaya hidup.
c. Pekerjaan. Pekerjaan dapat berhubungan dengan penyakit menular yang dialami
seseorang. Petani akan mudah terserang penyakit cacing yang penularannya melalui
tanah atau daerah persawahan.
d. Keturunan. Factor keturunan atau genetic berhubungan dengan konstitusi tubuh manusia,
daya tahan tubuh, kepekaan terhadap zat asing, termasuk agen penyebab penyakit.
e. Ras. Kecenderungan penyakit menular tertentu untuk menyerang ras tertentu masih
banyak diperdebatkan.

f. Gaya Hidup. Seorang yang sering keluar malam akan lebih mudah terkena malaria karena
lebih sering terkena gigitan nyamuk. Kebiasaan yang kurang higenis juga mempermudah
terjadinya infeksi.2
Lingkungan
Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan nonfisik. Lingkungan Fisik terdiri dari
a.
b.
c.
d.

Keadaan geografis (dataran tinggi/rendah, persawahan, dll)


Kelembaban udara
Temperatur
Lingkungan tempat tinggal. Sanitasi lingkungan perumahan sangat berkaitan dengan
penularan

penyakit.

Rumah

dengan

pencahayaan

yang

kurang

memudahkan

perkembangan sumber penyakit. Sinar matahari mengandung sinar ultraviolet yang bisa
membunuh kuman penyakit. Aliran udara (ventilasi) berkaitan degan penularan penyakit.
Rumah dengan ventilasi yang baik akan menyulitkan pertumbuhan kuman penyakit.
Pertukaran udara dapat memecah dan mengurai konsentrasi kuman di udara.2
Lingkungan non fisik meliputi sosial (pendidikan, pekerjaan), budaya (adat, kebiasaan turuntemurun), ekonomi (kebijakan mikro dan kebijakan local), dan politik (suksesi kepemimpinan
yang mempengaruhi kebijakan pencegahan dan penanggulangan suatu penyakit).2
Cara penularan

HIV dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak seksual, penggunaan jarum dan
syringes yang terkontaminasi, transfusi darah atau komponen-komponennya yang terinfeksi;
transplantasi dari organ dan jaringan yang terinfeksi HIV. Sementara virus kadang-kadang
ditemukan di air liur, air mata, urin dan sekret bronkial, penularan sesudah kontak dengan sekret
ini belum pernah dilaporan. Risiko dari penularan HIV melalui hubungan seks lebih rendah
dibandingkan dengan Penyakit Menular Seksual lainnya. Namun adanya penyakit yang ditarkan
melalui hubungan seksual terutama penyakit seksual dengan luka seperti chancroid, besar
kemungkinan dapat menjadi pencetus penularan HIV. Determinan utama dari penularan melalui
hubungan seksual adalah pola dan prevalensi dari orang orang dengan sexual risk behavior
seperti melakukan hubungan seks yang tidak terlindung dengan banyak pasangan seks. Tidak ada
bukti epidemiologis atau laboratorium yang menyatakan bahwa gigitan serangga bisa
5

menularkan infeksi HIV, Risiko penularan melalui seks oral tidak mudah diteliti, tapi
diasumsikan sangat rendah.3
Dari 15 30 % bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV (+) terinfeksi sebelum, selama atau
segera sesudah dilahirkan : pengobatan wanita hamil dengan antivirus seperti zidovudine
mengurangi kejadian penularan kepada bayi secara bermakna. Hampir 50 % dari bayi yang
disusui oleh ibu dengan HIV (+) dapat tertular infeksi HIV. Petugas kesehatan yang terluka oleh
jarum suntik atau benda tajam lainnya yang mengandung darah yang terinfeksi virus HIV, angka
serokonversi mereka < 0,5 %, lebih rendah dari risiko terkena virus hepatitis B (25%) sesudah
terpajan dengan cara yang sama.3
Masa inkubasi
Bervariasi. Walaupun waktu dari penularan hingga berkembang atau terdeteksinya antibodi, biasanya 1
3 bulan, namun waktu dari tertular HIV hingga terdiagnosa sebagai AIDS sekitar < 1 tahun hingga 15
tahun atau lebih. Tanpa pengobatan anti-HIV yang efektif, sekitar 50 % dari orang dewasa yang terinfeksi
akan terkena AIDS dalam 10 tahun sesudah terinfeksi. Median masa inkubasi pada anak-anak yang
terinfeksi lebih pendek dari orang dewasa. Bertambahnya ketersediaan terapi anti-HIV sejak pertengahan
tahun 90 an mengurangi perkembangan AIDS di AS dan di banyak negara berkembang secara bermakna. 3

Masa penularan
Tidak diketahui, Diperkirakan mulai berlangsung segera sesudah infeksi HIV dan berlangsung seumur
hidup. Bukti-bukti epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas meningkat dengan bertambahnya
defisiensi imunologis, tanda-tanda klinis dan adanya Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya. Studi
epidemiologis menyatakan bahwa infektivitas menjadi tinggi selama periode awal sesudah infeksi. 3

Voluntary Counselling and Testing


Pengertian konseling secara umum dikaitkan dengan tujuannya adalah proses membantu seseorang (klien)
yang bermasalah dengan seorang konselor dengan tujuan memberdayakan klien agar mampu menghadapi
dan mengambil keputusan yang paling baik bagi yang bersangkutan. 4

Konseling dalam AIDS disebut dengan istilah VCT (Voluntary Counselling and Testing).4

Menolong seseorang memperoleh pengertian yang benar tentang penyakit tersebut, bagaimana

mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moril bagi ODHA dan lingkungannya.
Konseling bukanlah percakapan tanpa tujuan
Konseling bukan berarti memberi nasehat atau instruksi pada orang untuk melakukan sesuatu
sesuai dengan kehendak konselornya (prinsipnya adalah client oriented)

Konseling adalah suatu bentuk dialog untuk menolong sesorang agar memperoleh pengertian yang
lebih baik mengenai dirinya dan permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga mampu mengambil
langkah-langkah untuk mengatasinya.

Pelaksanaan VCT
Tahap I : Pelaksanaan Konseling Pre Tes
Hasil wawancara dengan informan ditemukan bahwa dalam konseling pre tes hal-hal yang perlu
dilakukan adalah memperkenalkan diri dan menanamkan rasa nyaman, akrab, familiar kepada
klien sehingga tercipta kepercayaan dari klien bahwa apa yang dibicarakan merupakan rahasia
dan hanya konselor dan klien yang mengetahuinya. Hasil wawancara juga ditemukan dalam
konseling pre tes perlu ditekankan mengenai pemahaman klien tentang VCT, HIV, detail
penularan, pencegahan sampai bersedia untuk tes HIV, maka tugas konselor adalah memberikan
informasi, edukasi dan support yang benar kepada klien tentang HIV AIDS. 4
Penelitian ini terlihat bahwa proses konseling pre tes dimulai dengan membina hubungan saling
percaya antara konselor dan klien. Langkah-langkah dalam konseling pre tes adalah 1) Membina
hubungan yang baik dan saling percaya dengan klien. Pada tahap ini konselor mengidentifikasi
dan mengklarifikasi perannya serta menekankan pada klien bahwa konfidensialitas dan
kerahasiaan klien akan tetap terjaga; 2) Identifikasi latar belakang dan alasan untuk melakukan
tes termasuk perilaku berisiko klien dan riwayat medis klien yang dulu dan sekarang; 3)
Mengidentifikasi pemahaman klien tentang HIV AIDS dan tes HIV; 4) Menyediakan informasi
tentang safer sex practices dan healthy lifesyle practices; 5) Memastikan apakah klien bersedia
untuk melakukan tes antibodi HIV. 4
Tahap konseling pre tes konselor dituntut mampu menyiapkan diri klien untuk pemeriksaan HIV,
memberikan pengetahuan akan implikasi terinfeksi atau tidak terinfeksi HIV dan memfasilitasi
diskusi tentang cara menyesuaikan diri dengan status HIV. Dalam konseling didiskusikan juga
7

soal seksualitas, hubungan relasi, perilaku seksual dan suntikan berisiko dan membantu klien
melindungi diri dari infeksi. Hasil penelitian ini juga ditemukan bahwa konseling pre tes
dilakukan sebelum klien melakukan tes antibodi HIV. Konseling Pre tes mempunyai 5 prinsip :
1) Motif pelaksanaan hasil tes; 2) Interpretasi hasil tes yaitu mengenai penapisan, adanya gejala
atau tidak, pemahaman klien bahwa infeksi HIV dan dampak nya tidak dapat sembuh namun
ODHA dapat tetap produktif, infeksi oportunistik dapat diobati; 3) Estimasi hasil meliputi :
kesiapan mental emosional penerimaan hasil pemeriksaan, kajilah resiko bukan harapan akan
hasil, periode jendela (window period); 4) Membuat rencana jika didapatkan hasil; 5) Membuat
keputusan : melaksanakan tes atau tidak.4
Tahap II : Pelaksanaan Tes HIV
Hasil wawancara ditemukan bahwa tes HIV dilakukan setelah klien mendapat konseling pre tes
dan menandatangani informed consent. Klien yang menolak untuk tes HIV maka konselor tidak
boleh memaksakan kehendaknya kepada klien. Tes HIV hanya boleh dilakukan setelah klien
menandatangai informed consent sebagai bukti bahwa klien bersedia dan secara sukarela
melakukan tes HIV. Aspek penting didalam informed consent adalah 1) Klien telah diberi
penjelasan cukup tentang risiko dan dampak sebagai akibat dari tindakannya dan klien
menyetujuinya; 2) Klien mempunyai kemampuan menagkap pengertian dan mampu menyatakan
persetujuannya (secara intelektual dan psikiatris); 3) Klien tidak dalam paksaan untuk
memberikan persetujuan meski konselor memahami bahwa mereka memang sangat memerlukan
pemeriksaan HIV; 4) Untuk klien yang tidak mampu mengambil keputusan bagi dirinya karena
keterbatasan dalam memahami informasi maka tugas konselor untuk berlaku jujur dan obyektif
dalam menyampaikan informasi sehingga klien memahami dengan benar dan dapat menyatakan
persetujuannya.4
Tes yang digunakan untuk pemeriksaan HIV adalah rapid test dan ELISA. Pelaporan hasil
digunakan istilah reaktif dan non reaktif. Untuk menjaga kerahasiaan, hasil pemeriksaan
diserahkan kepada dokter/konselor, pengiriman dalam amplop tertutup melalui klinik VCT.
Strategi testing HIV yang direkomendasikan oleh WHO adalah semua darah yang diperiksa
pertama kali harus menggunakan satu tes ELISA atau rapid test. Semua darah yang diperiksa
8

pertama kali harus menggunakan satu tes ELISA atau rapid test. Semua serum yang ditemukan
reaktif dengan tes yang pertama harus diperiksa kedua kalinya dengan assay yang berbeda dari
pemeriksaan pertama. Serum yang reaktif pada kedua assay dinyatakan terinfeksi HIV sementara
serum yang non-reaktif pada kedua assay dinyatakan negatif. Adanya hasil discordant harus
diulang dengan assay yang sama. Jika hasil tetap berbeda setelah pengulangan, serumnya
dinyatakan indeterminate.4
Menurut UNAIDS, WHO dan Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) bahwa
seluruh hasil tes yang positif harus dikonfirmasi untuk tes ulang dengan menggunakan metode
tes yang berbeda. Standar minimum yang direkomendasikan oleh WHO untuk sensitifitas 99 %
dan untuk spesifisitas 95 %. Pemeriksaan hitung sel T CD4 juga sangat penting untuk
menegakkan diagnosa HIV klien. Cepatnya perkembangan AIDS dipengaruhi oleh muatan virus
dalam plasma (viral load) dan hitung sel T CD4. Makin tinggi viral load (jumlah virus dalam
badan) makin rendah hitung sel CD4 maka makin tinggi perubahan progresi ke AIDS dan
kematian. 4
Tahap III : Pelaksanaan Konseling Post Tes
Dari hasil wawancara dengan konselor ditemukan bahwa pelaksanaan konseling post tes
dilakukan setelah klien mendapatkan hasil pemeriksaan tes HIV. Sebelum melakukan konseling
post tes, konselor terlebih dahulu menanyakan kesiapan klien, ekspresi wajah, dan keadaan
psikologis klien. Penelitian ini terlihat bahwa sebelum melakukan konseling post tes konselor
terlebih dahulu menanyakan kesiapan klien untuk menerima hasil tes. Tujuan dari konseling post
tes adalah membuat klien mampu menerima hasil pemeriksaan status HIV nya dan
menyesuaikan diri dengan konsekuensinya dan risikonya, membuat perubahan perilaku menjadi
perilaku sehat, dilakukan oleh konselor yang memahami masalah psikologis / psikiatrik dan
pemeriksaan serta penilaian hasil pemeriksaan laboratorium HIV, penyakit dan terapi.4
Hasil tes yang reaktif, maka konselor menjelaskan makna hasil tes reaktif dan konselor
menanyakan siapa yang boleh tahu tentang hasil tes. Konseling yang diberikan kepada klien
yang reaktif antara lain memberikan dukungan, perubahan perilaku berisiko, kewajiban moral
untuk tidak menularkan, dan kesiapan klien dalam membuka statusnya serta kesiapan untuk
9

ARV. Konselor juga memberikan informasi tentang lembaga yang bisa diakses oleh klien sebagai
support group. Di RSUP Dr. Kariadi untuk klinik VCT melibatkan kerjasama dengan lembagalembaga lain diluar RS seperti LSM Rumah Damai dan Semarang Plus. Selain itu juga klien
langsung dikonsultasikan kepada dokter untuk penanganan medis termasuk pemeriksaan CD4. 4
Tindakan yang dilakukan konselor untuk hasil tes negatif adalah 1) Mendiskusikan tantangan
yang dihadapi untuk hasil tes negatif; 2) Reinforcement tindakan ABC; 3) Mendorong klien
untuk bernegosiasi dengan pasangannya untuk melakukan VCT; 4) Mendiskusikan keterampilan
safer sex; 5) Mempromosikan female condom jika memungkinkan; 6) Menyarankan melakukan
tes secara periodik.
Tindakan konselor dalam menyampaikan hasil tes positif : 1). Harus memberitahu klien sejelas
dan sehati-hati mungkin dan dapat mengatasi reaksi awal yang muncul; 2). Memberi cukup
waktu untuk memahami dan mendiskusikan hasil tes tersebut; 3). Memberikan informasi dengan
cara yang mudah dimengerti dan memberikan dukungan emosional; 4). Merujuk klien ke
lembaga dukungan masyarakat; 5). Mendiskusikan siapa yang mungkin ingin diberi tahu tentang
hasil tes itu; 6). Menjelaskan pada klien bagaimana menjaga kesehatannya; 7). Memberitahu
klien kemana mencari perawatan dan pengobatan jika dibutuhkan; 8). Mendiskusikan
pencegahan penularan HIV termasuk memberikan informasi tentang kondom dan hubungan seks
yang lebih aman.4
Program Pemberantasan Penyakit Menular di Puskesmas
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular merupakan program pelayanan kesehatan Puskesmas
untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit menular/infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta dll).
Tujuan dari program P2M ini yaitu untuk menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat
penyakit menular.5
Program pemberantas penyakit menular di puskesmas anatara lain adalah pengobatan infeksi menular
seksual, peningkatan gaya hidup sehat, promosi dan distribusi kondom dengan social marketing dan
meningkatkan akses kondom kepada WPS dan pelanggannya, serta dengan melakukan promosi perilaku
seksual aman. Penyuluhan memegang peranan penting dalam program pencegahan penyakit menular, dan
ini dapat dilakukan dalam berbagai macam bentuk dari strategi penyuluhan.
Prioritas penyakit menular yang akan ditanggulangi adalah Malaria, demam berdarah dengue, diare,
10

polio, filaria, kusta tuberkulosis paru, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Uraian tugas umum untuk koordinator unit pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular yaitu menyusun perencanaan dan evaluasi kegiatan di unit p2m, mengkoordinir dan berperan
aktif terhadap kegiatan di unitnya, dan ikut serta aktif mencegah dan mengawasi terjadinya peningkatan
kasus penyakit menular serta menindaklanjuti terjadinya KLB. Banyak sekali upaya yang dilakukan oleh
puskesmas untuk memberantas penyakit menular, setelah puskemas bekerja, kinerja p2m puskesmas
langsung dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan daerah tingkat II. 5

Program Pencegahan Penyakit


Winslow, Profesor Kesehatan Masyarakat dari Yale University pada tahun 1920 mengungkapkan bahwa
dalam mengatasi masalah kesehatan termasuk penyakit, ada tiga tahap penccegahan yang dikenal sebagai
teori five levels of prevention. Hal ini meliputi pencegahan primer, pencegahan sekunder dan pencegahan
tersier.5
Pencegahan primer dilakukan saat individu belum menderita sakit, meliputi hal-hal berikut : 1) promosi
kesehatan (health promotion) yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah
kesehatan; 2) perlindungan khusus (specific protection) berupa upaya spesifik untuk mencegah terjadinya
penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi dan peningkatan ketrampilan remaja untuk
mencegah ajakan menggunakan narkotik, penanggulangan stress. 5
Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit meliputi hal-hal berikut: 1) diagnosis
dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment). Tujuan utama tindakan ini adalah
mencegah penyebaran penyakit jika penyakit ini merupakan penyakit menular, mengobati dan
menghentikan proses penyakit, meyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat;
2) Pembatasan kecacatan (disability limitation). Pada tahap ini, cacat yang terjadi diatasi, terutama agar
penyakit tidak berkelanjutan hingga mengarah pada cacat yang lebih buruk. 5
Pencegahan tersier (rehabilitasi). Pada proses ini, diusahakan agar cacat yang diderita tidak menjadi
hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental dan sosial. 5
Strategi Health Promotion
Penerapan promosi kesehatan dalam program-program kesehatan pada dasarnya merupakan bentuk
penerapan strategi global, yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Strategi global promosi kesehatan

11

dari WHO dikenal dengan strategi ABG (A, Advokasi Kesehatan; B, Bina Suasana; G, Gerakan
Masyarakat).
Advokasi kesehatan. Upaya pendekatan kepada pada pimpinan atau pengambil keputusan supaya dapat
memberikan dukungan, kemudahan dan semacamnya pada upaya pembangunan kesehatan. 5
Bina suasana (social support). Upaya membuat suasana yang kondusif atau menunjang pembangunan
kesehatan sehingga masyarakat terdorong untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.
Gerakan masyarakat (empowerment). Upaya memandirikan individu, kelompok dan masyarakat agar
berkembang kesadaran, kemauan dan kemampuan di bidang kesehatan atau agar secara proaktif,
masyarakat mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat.5
Ketiga strategi diatas merupakan satu kesatuan meskipun masing-masing memiliki focus yang berbeda.
Menurut Depkes RI (2007) jenis kegiatan promosi kesehatan meliputi hal-hal berikut ini: 5
Pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya meningkatkan kemampuan dan
kemandirian semua komponen masyarakat untuk dapat hidup sehat
Pengembangan kemitraan. Pengembanga kemitraan adalah upaya membangun hubungan para mitra
kerja berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling memberi manfaat.
Upaya advokasi. Advokasi, yaitu upaya mendekati, mendapmpingi dan memengaruhi para pembuat
kebijakan secara bijak sehingga mereka sepakat untuk memberi dukungan terhadap pembangunan
kesehatan.
Pembinaan suasana. Pembinaan suasana adalah kegiatan untuk membuat suasana atau iklim yang
mendukung terwujudnya perilku sehat dengan mengembangkan opini publik yang positif melalui media
massa, tokoh masyarakat dan figure publik.
Pengembangan SDM (sumber daya manusia). Upaya ini meliputi kegiatan pendidikan, pelatihan dan
pertemuan. Untuk meningkatkan wawasan, kemauan dan ketrampilan baik petugas kesehatan maupun
kelompok-kelompok potensial masyarakat.
Pengembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Kegiatan yang bertujuan untuk selalu
mengembangkan iptek dalam bidang promosi, informasi, komunikasi, pemasaran dan advokasi yang
selalu tumbuh dan berkembang.

12

Pengembangan media dan sarana. Kegiatan yang bertujuan mempersenjatai diri dengan penyediaan
media dan sarana yang diperlukan untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan.
Pengembangan infrastruktur. Merupakan kegiatan penunjang promosi kesehatan, seperti secretariat,
tim promosi dan berbagai perangkat promosi kesehatan. 5
Puskesmas
Puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan,
pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat
pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan pada
suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu. Puskesmas merupakan unit
pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan. Tujuan dari puskesmas adalah
mendukung tercapainya pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas. 6

Kegiatan Pokok Puskesmas


Kegiatan pokok Puskesmas dikembangkan dari Basic Health Care Services (WHO) yang dikenal sebagai
Basic Seven yang terdiri atas :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mother and Child Health Care


Medical Care
Environmental Sanitation
Health Education
Simple Laboratory
Communicable Disease Control
Simple statistic

Pada Rakernas ke 111/1970, ditetapkan 6 Usaha Kesehatan Pokok seiring dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta keinginan program di Tingkat Pusat, maka berkembang menjadi 18
Usaha Kesehatan Pokok.
Upaya Kesehatan
Puskesmas bertangung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan masyarakat. Ada 2
Upaya :
13

a. Upaya kesehatan Wajib


Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmern nasional,regional dan global serta mempunyai
daya ungkit tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyrakat. Upaya ini harus
diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di Indonesia, meliputi:
- Upaya Promosi Kesehatan
- Upaya Kesehatan Lingkungan
- Upaya Kesehatan Ibu & Anak Serta Kb
- Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
- Upaya Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit Menular
- Upaya Pengobatan
b. Upaya Kesehatan Pengembangan
Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat
serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan ini meliputi:
- Upaya Kesehatan Sekolah
- Upaya Kesehatan Olahraga
- Upaya Kesehatan Kesehatan Masyarakat
- Upaya Kesehatan Kerja
- Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
- Upaya Kesehatan Jiwa
- Upaya Kesehatan Mata
- Upaya Kesehatan usia lanjut
- Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Stuktur Organisasi Puskesmas
-

Kepala Puskesmas

Unit Tata Usaha

Unit Pelaksana Teknis Fungsional

Upaya Kesehatan Masyarakat

Upaya Kesehatan perorangan

Jaringan Pelayanan

Puskesmas pembantu

Puskesmas Keliling

Bidan di Desa/Komunitas

Sistem Puskesmas
Dalam menangani sebuah kasus permasalahan, perlu dievaluasi ulang apa saja pembentuk unsur-unsur
daripada pelaksanaan suatu program. Dalam hal ini yang perlu ditinjau ulang ialah sistem daripada
permasalahan tersebut. Sistem adalah gabungan elemen yang dihubungkan oleh proses/struktur yang
berfungsi untuk menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan. Ciri-ciri sistem ialah:
14

Mempunyai tujuan
Terdiri dari beberapa elemen yang membentuk suatu kesatuan
Mengubah input menjadi output
Dipengaruhi oleh lingkungan
Mempunyai mekanisme pegendalian mengatur diri sendiri dan adaptasi

i. Planning (perencanaan)
Menurut Billy E. Goets, planning adalah kemampuan untuk memilih satu kemungkinan dari beberapa
kemungkinan yang tersedia yang dipandang paling tepat untuk mencapai tujuan. Dalam kehidupan seharihari dikenal beberapa istilah yang agak identik dengan perencanaan.Istilah yang dimaksud adalah: 7

Peramalan (forcasting)
Penyelesaian masalah (problem solving)
Penyusunan program (programming)
Penyusunan rancangan (designing)
Pengkajian kebijakan (policy analysis)
Proses pengambilan keputusan (decision making process)

Macam perencanaan ditinjau dari jangka waktu berlakunya rencana, tingkatan rencana maupun dari ruang
lingkup :
Ditinjau dari jangka waktu berlakunya rencana dalam waktu jangka panjang, jangka menengah atau
jangka pendek
1. Ditinjau dari tingkatan rencana dari aspek induk, operasional atau harian
2. Ditinjau dari ruang lingkup yang mencakupi
Strategik
Taktis
Menyeluruh
Terpadu
Unsur-unsur planning (perencanaan) antara lain adalah rumusan misi, rumusan masalah,
rumusan tujuan umum dan khusus, rumusan kegiatan, asumsi perencanaan, strategi
pendekatan, waktu, organisasi dan tenaga pelaksana, biaya dan metoda penilaian dan
kriteria keberhasilan
ii. Organization (pengorganisasian)
Pengorganisasian adalah pengelompokan berbagai kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan suatu
rencana sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan memuaskan.
Definisi lain menyebutkan pengorganisasian adalah pengaturan sejumlah personil yang dimiliki untuk

15

memungkinkan tercapainya suatu tujuan yang telah disepakati dengan jalan mengalokasikan masingmasing fungsi dan tanggungjawabnya. Unsur-unsur pokok dalam pengorganisasian antara lain:7

Hal yang diorganisasikan seperti kegiatan, tenaga pelaksana


Proses pengorganisasian
Hasil pengorganisasian.Prinsip pokok organisasi antara lain:
Mempunyai pendukung
Mempunyai tujuan
Mempunyai kegiatan
Mepunyai pembagian tugas
Mempunyai perangkat organisasi
Mempunyai pembagian dan pendelegasian wewenang
Mempunyai kesinambungan kegiatan, kesatuan perintah daerah.

iii. Actuating (penggerakkan/pelaksaanaan)


Actuating (penggerakkan/pelaksaanaan) adalah melaksanakan rencana yang telah dibuat dan yang telah
ditetapkan bentuk organisasi yang akan melaksanakan rencana tersebut. Sebagai seorang manager
didalam pelaksanaan rencana/program (kesehatan) harus mempunyai pengetahuan/ kemampuan.8

Motivasi (motivation)
Komunikasi (communication)
Kepemimpinan (leadership)
Pengarahan (directing)
Pengawasan (controlling)
Supervisi (supervision)

iv. Controlling (pengawasan)


Controlling adalah melakukan penilaian dan sekaligus koreksi terhadap setiap penampilan pelaksana
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana. Definisi lain menyebutkan controlling
(pengawasan) adalah suatu proses untuk mengukur penampilan suatu program yang kemudian dilanjutkan
dengan mengarahkannya sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Untuk melaksanakan
pengawasan perlu diperhatikan:7

Obyek pengawasan, yaitu hal-hal yang akan diawasi dari pelaksanaan program
Metoda pengawasan, yang merupakan mekanisme umpan-balik

16

Proses pengawasan, merupakan langkah langkah yang terdiri: merumuskan rencana, tujuan dan
standar pengawasan, mengukur penampilan, membandingkan hasil dengan standar, menarik
kesimpulan dan melaksanakan tindak lanjut.

Problem Solving Cycle


Problem Solving Cycle adalah suatu metode pemecahan masalah dengan mengidentifikasi masalah yang
paling diprioritaskan, kemudian mengidentifikasi solusi / jalan keluar dari masalah tersebut, baru
melakukan pelaksanaan terhadap pemecahan masalah tersebut.9
Karakteristik pokok dari Problem Solving Cycle yang harus dipenuhi, yaitu:
a. Berkesinambungan
b. Obyektif
c. Terpadu
d. Sistematis

Skema Problem Solving Cycle

Pengumpulan Data

Analisis Data

Masalah yang ditemukan

Evaluasi hasil
intervensi

Memilih masalah yang diprioritaskan

Melaksanakan kegiatan
penyelesaian masalah

Memilih cara penyelesaian masalah

Penyusunan rencana
penyelesaian masalah

Uji Coba

Menentukan tujuan dan menyusun cara penyelesaian


17

HIPOPOC (Hipotesis, Input, Process, Output, Outcome)


Tabel HIPOPOC

Environment :
Sistem lain di luar sistem yang diamati yang terpengaruh

Hipotesa

Input :
Man
Money
Material
Method

Process :
Perencanaan
Penggerakan
Pelaksanaan
Pengawasan

Outcome :Perubahan pd sasaran langsung


Output :
Kualitas
Kuantitas

Pengendalian
Penilaian

Impact :Perubahan pada sasaran tidak langsung


Feedback :
Penggunaan data Puskesmas sebagai masukan untuk menilai proses

Analisis SWOT
18

Berdasarkan pengambilan dan pengolahan data, ditetapkan beberapa masalah, kemudian dipilih satu
masalah utama. Setelah itu mengungkapkan beberapa alternatif pemecahan masalah, dan dari beberapa
alternatif tersebut dipilih satu, dengan menimbang efisiensi dan efektifitas
Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat, dilakukan kajian secara seksama
dengan analisis SWOT, dengan unsur-unsur sebagai berikut
a. Kekuatan
b. Kelemahan
c. Kesempatan
d. Hambatan8

Definisi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpada Puskesmas (SP2TP)


Adalah tata cara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengelolaan puskesmas meliputi keadaan
fisik, sarana, dan kegiatan pokok yang dilakukan serta hasil telah dicapai.Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan puskesmas secara
menyeluruh (terpadu)dengan konsep wilayah kerja puskesmas. Sistem pelaporan ini ini diharapkan
mampu memberikan informasi baik bagi puskesmas maupun untuk jenjang administrasi yang lebih tinggi,
guna mendukung.10
Tujuan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpada Puskesmas (SP2TP)
Tujuan SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas) adalah agar semua data hasil
kegiatan Puskesmas dapat dicatat serta dilaporkan ke jenjang diatasnya sesuai kebutuhan secara benar,
berkala dan teratur, guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat.
Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna melalui
pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yg menunjang.
Tujuan Khusus
1.

Sebagai dasar penyusunan perencanaan tingkat Puskesmas.

2.

Sebagai dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas (Lokakarya mini)
19

3.

Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas

4.

Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas 11

Jenis Pencatatan Terpadu Puskes


Pencatatan kegiatan harian progam puskesmas dapat dilakukan di dalam dan di luar gedung.
1. Pencatatan yang dibuat di dalam gedung Puskesmas
Pencatatan yang dibuat di dalam gedung Puskesmas adalah semua data yang diperoleh dari pencatatan
kegiatan harian progam yang dilakukan dalam gedung puskesmas seperti tekanan darah, laboratorium,
KB dan lain-lain. Pencatatan dan pelaporan ini menggunakan: family folder, kartu indek penyakit, buku
register dan sensus harian.10
2. Pencatatan yang dibuat di luar gedung Puskesmas
Pencatatan yang dibuat di luar gedung Puskesmas adalah data yang dibuat berdasarkan catatan harian
yang dilaksanakan diluar gedung Puskesmas seperti Kegiatan progam yandu, kesehatan lingkungan,
UKS, dan lain-lain. Pencatatan dan
Pelaporan ini menggunakan kartu register dan kartu murid. Pencatatan harian masing-masing progam
Puskesmas dikombinasi menjadi laporan terpadu puskesmas atau yang disebut dengan system pencatatan
dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP). SP2TP ini dikirim ke dinas kesehatan Kabupaten atau kota
setiap awal bulan, kemudian ke Dinas Kesehatan kabupaten atau kota mengolahnya dan mengirimkan
umpan baliknya ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan Pusat. Umpan balik tersebut
harus dikirimkankembali secara rutin ke Puskesmas untuk dapat dijadikan evaluasi keberhasilan progam.
Namun sejak otonomi daerah dilaksanakan puskesmas tidak punya kewajiban lagi mengirimkan laporan
ke Departemen Kesehatan Pusat tetapi dinkes kabupaten/kota lah yang berkewajiban menyampaikan
laporan rutinnya ke Departemen Kesehatan Pusat. 10

Jenis Pelaporan Terpadu Puskesmas


Ada beberapa jenis laporan yang dibuat oleh Puskesmas antara lain: 10
1. Laporan Tahunan
Yang meliputi : a) data penduduk, b)data pegawai, c) data fasilitas kesehatan, d) data sarana
kesehatan yang terdiri dari alat medis dan alat non medis
20

2. Laporan Semester
Laporan semester khususnya melaporkan : program UKS yang terdiri dari : S1.Data sekolah dan
S2. Jumlah murid sekolah
3. Laporan Bulanan
Laporan bulanan puskesmas terdiri dari : a) LB1, b) LB2, c) LB3, d) LB4.
a. LB1 : laporan bulanan data kesakitan mengandung laporan jumlah kasus baru dan laporan
kunjungan kasus. Dikelompokkan per umur :
Neonates
0-7 hari dan 8-28 hari
Bayi
1 bl - <1 th
Balita
1 th - 4 th
Anak
5 th 9 th
Remaja 10 th 14 th
Remaja 15 th -19 th
Dewasa 20 th 44 th
45 th 54 th
Pra lansia
55 th 59 th
Lansia
60 th - 69 th
b. LB2 : laporan bulanan data kematian berisi : identitas, riwayat penyakit, sebab kematian,
tanggal dan jam kematian, cara pemakaman, nama pemeriksa, nama penanggung jawab
c. LB3 : laporan LB3 gizi merupakan laporan kegiatan program terpadu di posyandu F1
posyandu yang dilaporkan puskesmas kelurahan menjadi F2 gizi kelurahan, kemudian
dilaporkan menjadi F3 gizi puskesmas kecamatan yang terdiri dari laporan gizi, KIA, KB,
Imunisasi, diare, dan kesehatan lingkungan
d. LB4 : laporan kegiatan program puskesmas terdiri dari kegiatan puskesmas dan laporan
pelayanan kesehatan jiwa terpadu
4. W2 Laporan Mingguan
Yaitu laporan penyakit-penyakit menular dan dapat menimbulkan KLB yang harus dilaporkan
mempunyai sifat segera maksimal 7 hari ke jenjang yang lebih tinggi agar segera dilaksanakan
penanggulangannya.
5. W1
Penyakit-penyakit menular yang mempunyai potensi menjadi wabah atau KLB dan harus
dilaporkan segera dalam waktu 24 jam ke jenjang yang lebih tinggi
Laporan-laporan khusus ke propinsi :
Laporan keuangan : bulanan, triwulan, semester, tahunan
Laporan pegawaian bulanan dan tahunan
Laporan inventaris bulanan dan tahunan

Prosedur Pengisian Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)

21

Prosedur pengisian SP2TP, yaitu:


1. formulir SP2TP mengacu pada formulir cetakan 2006 baik bulanan maupun tahunan.
2. pada formulir SP2TP diisi oleh masing-masing penanggung jawab program.
3. penanggung jawab program bertangung jawab penuh terhadap kebenaran data yang ada.
4. hasil akhir pengisian data di ketahui oleh kepala puskesmas.
5. didalam pengentrian ke komputer dapat dilakukan oleh petugas yang ditunjuk atau staf pengelola
program bersangkutan.
6. data pada formulir SP2TP agar diarsipkan sebagai bukti didalam pertangungjawaban akhir minimal 2
tahun.
7. semua data diisi berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh puskesmas 6

22

Kesimpulan
HIV( Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.
Dalam jangka waktu 5 -10 tahun, akan menjadi AIDS. Kejadian HIV AIDS setiap tahunnya semakin
meningkat dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara penularan, pencegahan dan
gaya hidup yang tidak bersih dan sehat. Oleh karena itu, program VCT pun seharusnya berjalan dengan
baik sebagai penanggulangan akan hal ini. Puskesmas pun mempunyai peranan yang sangat penting untuk
memberikan penyuluhan kepada masyarakat agara lebih mengetahui setiap detail tentang penyakit
HIV/AIDS ini agar kejadian setiap tahunnya dapat menurun.

23

Daftar Pustaka
1. Kurniawati ND, Nursalam. Asuhan keperawtan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS.
Jakarta; Salemba Medika, 2007.h.38 50.
2. Widoyono. Penyakit tropis:epidemiologi,penularan,pencegahan & pemberantasannya.
Jakarta: Erlangga; 2008.h. 3-19.
3.

Davis, Sarah LM. et. al. 2009. Harm Reduction journal Survey of abuses against injecting
drug users in Indonesia. Diunduh dari : http://www.harmreductionjournal.com. Diakses
pada tanggal 11 juli 2016.

4. Depkes R. I. Modul Pelatihan Konseling dan Tes Sukarela HIV( Voluntary Counselling
and Testing). Jakarta : Dirjen P2M dan Penyehatan Lingkungan. 2004
5. Maulana HDJ. Promosi kesehatan. Jakarta, EGC; 2009.h.18 31.
6. Kebijakan

Dasar

Puskesmas.Diunduh

dari

http://dinkessulsel.go.id/new/images/pdf/buku/

kebijakan % 20 dasar % 20 puskesmas. pdf. 11 Juli 2016.

7. Tjiptoherijanto, prijono, Said Z. Abidin, Reformasi Administrasi dan Pembangunan


Nasional. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.h.44-6.
8. Ferry Efendi,Makhfudli.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Penerbit Salemba Medika.Jakarta,2009.h. 274-85.
9. Azwar, A. Pengantar Administrasi Kesehatan. 3rd ed. Jakarta : Binarupa Aksara, 1996.
10. Depkes RI. 2006. Surveilans HIV Generasi Kedua Pedoman Nasional Surveilans Sentinel
HIV. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan. Diunduh dari : www.perpustakaan.depkes.go.id/cgi-bin/.../opac-search.pl?q...HIV,
diakses pada tanggal 11Juli 2016.
11. Adisasmito, Wiku. Sistem Kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada; 2010.h.57-60.

24