Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU No. 41
Tahun 1999).
Hutan sebagai salah satu penentu ekosistem cenderung mengalami
degradasi dengan adanya campur tangan manusia. Sebagai salah satu ekosistem
yang sangat berkaitan dengan kehidupan makhluk hidup, fungsi hutan sangat
berkaitan dengan kemampuannya mempertahankan siklus hidrologi agar tetap
stabil. Diantara fungsi hutan adalah sebagai penjaga ekosistem, menjaga sifat
fisika tanah, dan menjaga tanah dari bahaya erosi, banjir dan longsor.
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian
tanah dari suatu tempat ketempat lain oleh media alami. Pada peristiwa ini, tanah
atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian
diendapan pada suatu yang lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut
terjadi oleh media alami yaitu air atau angin. Erosi merupakan salah satu
kontributor dalam degradasi tanah. Hal lain yang dapat ditimbungan oleh erosi
adalah degradasi sifat fisika tanah (Bermana, 1978; Seta, 1987; Arsyad, 1989;
Rahim, 2000; Hardjowigeno, 2007). Pemantauan laju erosi bertujuan untuk
mengetahui tingkat laju erosi. USLE merupakan salah satu

model prediksi

erosi yang telah banyak diaplikasikan di wilayah tropis, seperti Indonesia.


Hutan Harapan merupakan salah satu hutan sekunder di daerah dataran
rendah, yang terletak pada Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi. Hutan Harapan
merupakan salah satu hutan sekunder di daerah dataran rendah, yang terdapat di
Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.

Mengingat hal diatas, PT. Restorasi

Ekosistem Indonesia (PT.REKI) berinisiasi untuk mengembalikan (Restorasi)


kondisi ekosistem hutan dataran rendah yang telah terdegradasi di Sumatera.
Sebagian kecil dari keseluruhan wilayah hutan Sumatera yang telah terdegradasi
tersebut yang menjadi wilayah kelola PT. REKI terletak di Provinsi Jambi dan
Sumatera Selatan dengan luasan keseluruhan lebih kurang 100.000 ha. Dalam

usaha untuk mewujudkan restorasi ekosistem yang baik, maka salah satu langkah
awalnya adalah melakukan kajian atau studi awal terhadap ekosistem itu sendiri,
kajian atau studi tersebut meliputi tiga komponen penting dari suatu ekosistem
yaitu flora, fauna dan abiotik. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pengukuran
besar aliran permukaan, erosi, sedimentasi dan kualitas tanah perlu dilakukan. hal
ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hutan tersebut sebagai penjaga ekosistem.
1.2. Tujuan
1.
2.
3.
4.

Mengetahui besar aliran permukaan dan erosi di hutan harapan


Mengetahui daerah rawan erosi di hutan harapan
Mengetahui tebal tanah yang tererosi
Mengeluarkan rekomendasi untuk teknik konservasi tanah dan air

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan
partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep
pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi, atau oleh makhluk
hidup semisal hewan yang membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi
tidak sama dengan pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses
penghancuran mineral batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau
gabungan keduanya.
Menurut Kironoto dan Yulistiyanto (2000), erosi yang juga disebut sebagai
pengikisan atau kelongsoran tanah adalah merupakan proses penghanyutan tanah
oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin baik yang berlangsung secara
alamiah maupun sebagai akibat atau tindakan dari manusia.
Menurut Bennet, 1939 (dalam Yunianto,1994) erosi dibedakan menjadi
erosi normal yakni erosi geologi atau erosi natural dan erosi dipercepat atau erosi
tanah. Erosi dipercepat dibedakan lagi menjadi erosi dipercepat alami dan erosi
dipercepat manusia.
Erosi alami atau erosi geologi merupakan proses pengikisan yang berjalan
lambat dan tidak membahayakan. Kerusakan erosi yang hebat terjadi ketika
manusia atau faktor-faktor lain merusak keseimbangan alami dan tanah yang
terbuka menjadi mangsa kekuatan perusak hujan, angin dan sinar matahari.
Faktor-faktor penyebab erosi yang sangat beragam tersebut menyebabkan prediksi
mengenai laju erosi dan sedimentasi yang terjadi di lahan sangat sulit untuk
dilaksanakan.
Dua penyebab utama terjadinya erosi adalah erosi yang disebabkan
alamiah dan erosi yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat
terjadi karena proses pembentukan tanah dan proses erosi yang terjadi untuk
mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Erosi karena faktor alamiah
umumnya masih memberikan media yang memadai untuk berlangsungnya

pertumbuhan kebanyakan tanaman. Sedang erosi karena kegiatan manusia


kebanyakan disebabkan oleh terkikisnya lapisan bagian atas tanah akibat cara
bercocok tanam yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi tanah atau
kegiatan pembangunan yang bersifat merusak keadaan fisik tanah antara lain,
pembuatan jalan di daerah dengan kemiringan lereng yang besar (Seta, 1987).
Menurut Bermanah kusumah (1978) pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh erosi
adalah penurunan produktivitas tanah, penurunan luas areal produktif dan
percepatan pertambahan luas lahan kritis, pendangkalan waduk dan sungai dan
pencemaran lingkungan. Seta (1987) menambahkan akibat yang ditimbulkan oleh
erosi adalah tubuh tanah menjadi tipis, tanaman tidak dapat tumbuh secara normal
sehingga tanah menjadi tidak produktif karena lapisan atas sangat tipis, waduk,
sungai, danau dan saluran irigasi di daerah hilir menjadi dangkal sehingga daya
gunanya berkurang dan secara tidak langsung mengakibatkan banjir di musim
hujan dan kekeringan di musim kemarau.
Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian
atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan).
Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air
(infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah
akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di
sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada
akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat
tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan
mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran.
Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) merupakan metode yang
umum digunakan untuk memperediksi laju erosi. Selain sederhana, metode ini
juga sangat baik diterapkan di daerah-daerah yang faktor utama penyebab
erosinya adalah hujan dan aliran permukaan. Wischmeier (1976) dalam Risse et
al. (1993) mengatakan bahwa metode USLE didesain untuk digunakan
memprediksi kehilangan tanah yang dihasilkan oleh erosi dan diendapkan pada
segmen lereng bukan pada hulu DAS, selain itu juga didesain untuk memprediksi
rata-rata jumlah erosi dalam yang cukup panjang.
Prediksi erosi dengan metode USLE diperoleh dari hubungan antara
faktor-faktor penyebab erosi itu sendri yaitu:

A=R xKxLxS xCxP


Dimana :
A = Banyaknya tanah tererosi (ton ha-1 yr-1)
R = Faktor curah hujan dan aliran permukaan, yaitu jumlah satuan indeks erosi
hujan tahunan yang merupakan perkalian antara energy hujan total (E) dengan
intensitas hujan maksimum 30 menit (I30)
K = faktor erodibilitas tanah
LS = faktor panjang dan kemiringan lereng
C = faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman
P = faktor tindakan-tindakan khusus konservasi tanah

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan tempat
Kegiatan ini dilakukan pada bulan Juli 2016 sampai dengan bulan Agustus
2017. Pembuatan plot erosi dan pengambilan sampel tanah berada pada
lokasi Blok K kawasan PT.Restorasi Ekosistem Indonesia. Analisis tanah di
lakukan pada Laboratorium PT. Restorasi Ekosistem Indonesia.
3.2. Bahan dan alat
Adapun bahan dan alat yang akan di gunakan untuk menunjang penelitian
antara lain :

Bahan
1. Peta penelitian yang telah di overlay dari : peta jenis tanah, peta
kelerengan dan peta tutupa lahan.
2. Bahan kemikalia untuk analisis tanah
3. Tanah sampel yang diambil dari plot erosi setiap kejadian hujan

Alat
1. Perangkat komputer
2. Alat-alat lapangan survei tanah : plastik sampel ukuran 5 Kg, plastik
sampel ukuran 1 Kg, karet pengikat, spidol permanent, pulpen, buku
kerja lapangan, Bor Belgi, cangkul, Gps, kamrea, Meteran, plat
alumunium, talang air, drum, parang, ring sampel, klinometer, kertas
saring, ember, ayakan tanah.

3.3. Metode penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran erosi
langsung dilapangan menggunakan plot erosi. Pembuatan plot erosi
dilakukan pemilihan pada loksi penanaman. Perhitungan aliran permukaan
dan besar erosi berdasarkan perhitungan langsung dilapangan. Besarnya
aliran permukaan dan erosi tanah di ukur berdasarkan banyaknya air dan
tanah yang tertampung didalam wadah penampung pada setiap kejadian
hujan. Cara pengukuran tanah yang tererosi adalah dengan mengumpulkan
tanah dalam wadah penampung pada setiap kejadian hujan kemudian

ditimbang, dikeringkan dan konversikan dalam ton/ha. Berdasarkan tanah


yang terbawa erosi ditentukan berapa kandungan unsure hara yang terbawa
(N,P,K, C-organik,) dan tebal tanah yang tererosi/tahun. Data unsur hara dan
tebal tanah tererosi digunakan untuk mengkaji kualitas dampak tanah serta
menentukan teknik konservasi tanah yang akan dilakukan.
1. Pembuatan plot erosi di Lapangan
Plot erosi di lapangan dibuat dengan ukuran 22 m x 4 m . Gambar 1.

Gambar 2.1. Design plot erosi di lapangan


2. Pengamatan di lapangan meliputi pengamatan, pengukuran, parameter
yang berhubungan dengan erosi.
a) Jumlah aliran permukaan
Pengukuran jumlah aliran permukaan dilakukan setiap kejadian hujan.
Besarnya jumlah aliran permukaan adalah banyaknya air yang tertampung
di dalam wadah penampung. Besarnya jumlah aliran permukaan setiap
bulan, dihitung berdasarkan pengukuran jumlah aliran permukaan pada
bulan yang sama.
b) Jumlah tanah tererosi
Besarnya erosi tanah di ukur berdasarkan banyaknya tanah yang
tertampung didalam wadah penampung pada setiap kejadian hujan. Cara
pengukuran tanah yang tererosi adalah dengan mengumpulkan tanah
dalam wadah penampung pada setiap kejadian hujan kemudian ditimbang,
dikeringkan dan konversikan dalam ton/ha.

c) Analisis Tanah di Laboratorium

Dari sampel tanah yang tererosi dapat ditentukan


1. Bahan organik tanah yang terbawa erosi : metode walkley and
black
% C- Organik

= mg C- kurva x 100% x kka


mg contoh

% bahan organik

= 1,72 x % C-Organik

2. Jumlah N Total yang terbawa erosi dengan metode Kjeldahl


Perhitungan

: N total (%) = ( t-b ) x 0,05 x 14 x 100/500 x KKA

Dimana : t = ml H2SO4 untuk penitar contoh


b = ml H2SO4 untuk penitar blonko
0,1 = normalitas H2SO4 penitar
14 = bobot atom nitrogen
KKA = 1 + kadar air
3. P tersedia dengan metode Bray 2
15
1,5
4. Perhitungan : P tanah (ppm) = P terukur (ppm) x

x KKA

5. Penetapan K dapat ditukarkan dengan metode Amonium Asetat

K-dd (me/100g)

50 / 2,5 x ppm K
x KKA
10 x BE K