Anda di halaman 1dari 2

Landasan Teori

Sinergi dan Komunikasi


Kita jelas menghargai perbedaan fisik antara pria dan wanita, suami dan istri.
Akan tetapi belum tentu kita dapat menghargai perbedaan sosial, mental, dan
emosional. Melalui perbedaan-perbedaan tersebut di harapkan kita bukannya
menciptakan permusuhan, keadaan yang protektif, dan keegoisan tetapi justru
menciptakan kehidupan baru yang menyenangkan, menciptakan lingkungan yang
benar-benar memuaskan untuk tiap orang, memelihara harga diri tiap orang,
menciptakan peluang bagi masing-masing untuk menjadi matang dalam
kemandirian dan kemudian secara bertahap menuju kesalingtergantungan. Untuk
menciptakan hal tersebut kita perlu sinergik dalam berkomunikasi.
Sinergi adalah intisari dari kepemimpinan yang berpusat pada prinsip. Sinergi
adalah intisari dari keorangtuaan yang berpusat pada prinsip. Sinergi berfungsi
sebagai katalisator, menyatukan dan melepaskan kekuatan terbesar dalam diri
manusia. Sinergi didefinisikan secara sederhana berarti keseluruhannya lebih besar
daripada jumlah bagian-bagiannya. Ketika berkomunikasi secara sinergik, kita
benar-benar membuka pikiran, hati, dan ekspresi kepada kemungkinan baru,
alternatif baru, dan pilihan baru.
Tingkat kepercayaan berhubungan erat dengan tingkat komunikasi.
terendah dalam komunikasi yang muncul dari situasi dengan kepercayaan
akan dicirikan dengan sikap defensif, protektif, dan sering menggunakan
hukum, yang meliputi semua dasar dan menguraikan penentuan dan
penggelakkan ketika keadaan menjadi tidak menyenangkan.

Tingkat
rendah
bahasa
klausa

Perilaku defensif merupakan suatu sikap bertahan. Sikap defensif memiliki 2


konotasi yang berbeda, yaitu konotasi positif dan negatif. Konotasi positif
merupakan kemampuan seseorang dalam mempertahankan dirinya dari serangan,
hantaman, godaan, atau jebakan dari luar (orang dan keadaan). Kemampuan ini
merupakan buah dari kematangan, ketangguhan, atau kedalaman. Ada juga
defensif dengan konotasi negatif, yaitu perilaku atau ekspresi sikap yang muncul
ketika seseorang itu mempersepsikan adanya ancaman atau untuk mengantisipasi
ancaman (ketakutan), contohnya adalah suka ngeyel, suka membantah, suka
membukan pintu perdebatan, suka menolak masukan dari orang lain, dan lain-lain.
Perilaku atau ekspresi sikap seperti ini pada umumnya didasari oleh motif supaya
kelihatan menang, supaya bisa terhindar dari penugasan atau hukuman, atau
supaya kelihatan "lebih jago". Komunikasi seperti ini hanya akan menghasilkan
Menang/Kalah atau Kalah/Menang. Komuniksi ini tidak efektif. Dalam keadaan ini
cenderung seseorang bersikap membela dan melindungi diri.
Posisi tengah adalah komunikasi penih respek. Ini adalah tingkat dimana
orang yang lumayan matang berinteraksi. Mereka memilih respek satu sama lain,
tetapi mereka ingin menghidari kemungkinan konfrontasi yang tidak

menyenangkan, sehingga mereka berkomunikasi dengan sopan, tetapi tidak


dengan empati. Mereka mungkin mengerti satu sama lain secara intelektual, tetapi
mereka tidak benar-benar melihat secara mendalam paradigma dan asumsi yang
mendasari posisi mereka sendiri dan tidak menjadi terbuka terhadap kemungkinankemungkinan baru. Jenis komunikasi ini memang baik dalam situasi yang bebas dan
mandiri, tetapi kemungkinan kreatif dan sinergiknya belum terbuka. Komunikasi
tidak defensif atau protektif atau marah atau manipulasi; komunikasi jujur dan tulus
dan penuh respek. Komunikasi ini menghasilkan bentuk yang rendag dari
Menang/Menang.
Posisi sinergistik dari kepercayaan yang tinggi menghasilkan solusi yang lebih
baik. Perilaku sinergis adalah kemampuan untuk menyatukan orang-orang yang
berbeda ke kedalam suatu sistem kerja sama yang terpadu guna, mencapai
keberhasilan atau kesuksesan bersama. Dalam berpikir sinergis, tidak boleh ada
yang merasa lebih unggul dibandingkan dengan yang lainnya, yang ada hanyalah
rasa kebersamaan. Dalam tidakan sinergis, sangat dikenal dengan menggunakan
pola team work. Menurut Stephen Covey, sinergis terjadi pada waktu pikiran kita
saling merangsang satu sama lain dalam sinergis kita juga harus mengembangkan
sikap saling menghargai. Budaya mini terbentuk untuk memuaskan diri dan di
dalam dirinya sendiri. Ada beberapa keadaan dimana sinergi mungkin tidak dapat
dicapai dan Tidak Sama Sekali malah lebih cocok. Akan tetapi, bahkan dalam
keadaan seperti ini, semangat usaha yang tulus biasanya akan dihasilkan dalam
kompromi yang lebih efektif.