Anda di halaman 1dari 101

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belakangan ini sering kali terjadi kebakaran pada suatu bangunan baik rumah
ataupun gedung-gedung lainnya yang penyebabnya diduga karena hubung singkat atau secara
umum karena listrik. Pada suatu rumah pun banyak sekali ditemukan instalasi listrik yang
mengabaikan Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) dan Standard Nasional Indonesia
(SNI) dan tidak memperhatikan ketentuan dari keamanan dan teknologi modern dan juga
estetika keindahan.
Perencanaan sistem instalasi listrik pada suatu bangunan haruslah mengacu pada
peraturan dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan PUIL 2000 dan Undang-undang
ketenagalistrikan 2002. Pendistribusian listrik harus diperhitungkan sebaik mungki agar
energi listrik dapat terpenuhi dengan baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1.2 Tujuan Penulisan


Laporan ini merupakan sebagai pernyataan bahwa mahasiswa Politeknik Negeri
Jakarta telah melaksanakan mata kuliah Instalasi Domestik sesuai silabus. Penulisan laporan
ini juga merupakan indikasi mahasiswa di dalam melaksanakan tugas yang diberikan.
Dengan demikian tugas yang sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa sudah terbukti
dengan adanya makalah.
Tujuan penulisan dan praktek ini adalah :
1. Mahasiswa dapat membaca gambar rangkaian instalasi.
2. Mahasiswa dapat merangkai rangkaian instalasi sesuai gambar.
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Listrik ialah bahan bakar yang sempurna. Disebut demikian karena listrik dapat
dengan mudah diubah kedalam bentuk energi yang lain. Listrik ialah salah satu bentuk energi
yang mudah dan luas penggunaannya, misalnya untuk menghasilkan tenaga panas, tenaga
mekanik, cahaya / penerangan, pendinginan dan lain-lain. Untuk membangkitkan, penyaluran
dan pemakaian tenaga listrik, diperlukan adanya jaringan instalasi listrik. Instalasi berasal

dari kata INSTALLATION yang berarti memasang. Dalam buku Peraturan Umum Instalasi
Listrik (PUIL) disebutkan :
Instalasi listrik ialah jaringan perlengkapan yang membangkitkan, memakai, mengubah,
mengatur, mengalihkan, mengumpulkan atau membagikan tenaga listrik
Suatu jaringan instalasi listrik memerlukan perlengkapan untuk dapat bekerja sebagaimana
mestinya. Perlengkapan yang dimaksud ialah :
1. Kawat penghantar
2. Alat Kontrol
3. Alat Pengaman
4. Dan lain-lain
Untuk pelaksanaan pemasangan instalasi listrik tidak sembarangan orang dapat
melakukannya. Syaratnya harus masuk ke dalam anggota AKLI (Assosiasi Kontraktor Listrik
Indonesia). Secara umum anggota AKLI disebut INSTALATUR. Jadi Instalatur ialah orang
atau badan yang diberi wewenang oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk
melaksanakan pekerjaan instalasi listrik.

BAB II
PERSYARATAN UMUM INSTALASI LISTRIK (PUIL-2000)
2

2.1 Sejarah Singkat PUIL


Peraturan instalasi listrik yang pertama kali digunakan sebagai pedoman beberapa
instansi yang berkaitan dengan instalasi listrik adalah AVE (Algemene Voorschriften voor
Electrische Sterkstroom Instalaties) yang diterbitkan sebagai Norma N 2004 oleh Dewan
Normalisasi Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian AVE N 2004 ini diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1964 sebagai Norma Indonesia N16 yang
kemudian dikenal sebagai Peraturan Umum Instalasi Listrik disingkat PUIL 1964, yang
merupakan penerbitan pertama dan PUIL 1977 dan 1987 adalah penerbitan PUIL yang kedua
dan ketiga yang merupakan hasil penyempurnaan atau revisi dari PUIL sebelumnya, maka
PUIL 2000 ini merupakan terbitan keempat. Jika dalam penerbitan PUIL 1964, 1977 dan
1987 nama buku ini adalah Peraturan Umum Instalasi Listrik maka pada penerbitan
sekarang tahun 2000, namanya menjadi PERSYARATAN UMUMINSTALASI LISTRIK
dengan tetap mempertahankan singkatan yang sama yaitu PUIL.Penggantian kata
"Peraturan" menjadi "Persyaratan" dianggap lebih tepat karena pada kata "Peraturan" terkait
pengertian adanya kewajiban untuk mematuhi ketentuan dan sangsinya. Sebagaimana
diketahui sejak AVE sampai PUIL 1987 pengertian kewajiban mematuhi ketentuan dan
sangsinya tidak diberlakukan, sebab isinya selain mengandung hal-hal yang dapat dijadikan
peraturan juga mengandung rekomendasi ataupun ketentuan atau persyaratan teknis yang
dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan instalasi listrik.
2.2 Substansi Isi PUIL-2000
1. Bagian 1 dan bagian 2 tentang Pendahuluan dan Persyaratan Dasar yang merupakan
padanan dari IEC 364-1 Part 1 dan Part 2 tentang Scope, Object Fundamental Principle
and Definitions.
2. Bagian 3 tentang Proteksi untuk Keselamatan, banyak mengacu pada IEC 60364 Part 4
tentang Protection for Safety. Bahkan istilah yang berkaitan dengan tindakan proteksi
seperti SELV yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan tegangan ekstra rendah
pengaman digunakan sebagai istilah baku, demikian pula istilah PELV dan FELV. PELV
adalah istilah SELV yang dibumikan, sedang FELV adalah sama dengan tegangan ekstra
rendah fungsional. Sistem kode untuk menunjukkan tingkat proteksi yang diberikan oleh
selungkup dari sentuh langsung ke bagian berbahaya, seluruhnya diambil dari IEC dan
kode IP (International Protection). Demikian pula halnya dalam pengkodean jenis
3

pembumian. Kode TN mengganti kode PNP dalam PUIL 1987, demikian juga kode TT
untuk PP dan kode IT untuk kode HP.
3. Bagian

4 tentang

Perancangan

Instalasi

Listrik,

dalam

IEC

60364

Part

yaitu Assessment of General Characteristics, tetapi isinya banyak mengutip dari


SAA Wiring Rules dalam Section General Arrangment tentang perhitungan kebutuhan
maksimum dan penetuan jumlah titik sambung pada sirkit akhir.
4. Bagian 5 tentang Perlengkapan Listrik, mengacu pada IEC 60364 Part 5 yaitu Selection
and Erection of Electrical Equipment dan standar NEC.
5. Bagian 6 tentang Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) serta komponennya,
merupakan pengembangan Bab 6 PUIL 1987 dengan ditambah unsur-unsur dari NEC.
6. Bagian 7 tentang Penghantar dan Pemasangannya tidak banyak berubah dari Bab 7 PUIL
1987. Perubahan yang ada mengacu pada IEC, misalnya cara penulisan kelas tegangan
dari penghantar. Ketentuan dalam bagian 7 ini banyak mengutip dari standar VDE. Dan
hal-hal yang berkaitan dengan tegangan tinggi dihapus.
7. Bagian 8 tentang Ketentuan untuk Berbagai Ruang dan Instalasi Khusus merupakan
pengembangan dari Bab 8 PUIL 1987. Dalam PUIL 2000 dimasukkan pula klarifikasi
zona yang diambil dari IEC, yang berpengaruh pada pemilihan dari perlengkapan listrik
dan cara pemasangannya diberbagai ruang khusus. Ketentuan dalam bagian 8 ini
merupakan bagian dari IEC 60364 Part 7 yaitu Requirment for Special Instalation or
Locations.
8. Bagian 9 meliputi Pengusahaan Instalasi Listrik. Pengusahaan dimaksudkan sebagai
perancangan, pembangunan, pemasangan, pelayanan, pemeliharaan, pemeriksaan dan
pengujian instalasi listrik serta proteksinya. Di IEC 60364, pemeriksaan dan pengujian
awal instalasi listrik dibahas dalam Part 6 yaitu tentang Verification.
PUIL 2000 berlaku untuk Instalasi listrik dalam bangunan dan sekitarnya untuk tegangan
rendah sampai 1000V arus bolak balik dan 1500V arus searah dan gardu transformator
distribusi tegangan menengah sampai 35KV. Ketentuan tentang transformator distribusi
tegangan menengah mengacu pada NEC 1999.

2.3 Tujuan dan Ketentuan Umum Instalasi Listrik


2.3.1

Maksud dan Tujuan


4

1. Instalasi listrik dapat dioperasikan dengan baik.


2. Terjamin keselamatan manusia.
3. Terjamin keamanan instalasi listrik beserta perlengkapannya.
4. Terjamin keamanan gedung serta isinya terhadap kebakaran akibat listrik.
5. Terjamin perlindungan lingkungan.
6. Terjamin tujuan pencahayaan yaitu terwujudnya interior yang efisien dan nyaman.
2.3.2

Ketentuan Umum
1. Setiap instalasi harus ada rencana instalasi yang harus di setujui.
2. Instalasi listrik harus di rancang,di pasang dan di pelihara sedemikian,sehingga
tidak menimbulkan bahaya kebakaran dan mencegah penjalaran kebakaran.
3. Peralatan dan perlengkapan listrik yang di pasang pada instalasi,harus memenuhi
ketentuan :
a. STANDARD yaitu harus tercantum dengan jelas tanda kesesuaian standard
dan tanda pengenalnya antara lain : nama atau logo pembuat, tegangan, daya
dan atau arus pengenal,data teknis lain yang di syaratkan SNI atau standard
lain yang berlaku.
b. PUIL 2000 yaitu harus baik dan dalam keadaan berfungsi,di pilih sesuai
penggunaan dan tidak boleh di bebani melebihi kemampuannya.
4. Instalasi listrik harus di lengkapi proteksi untuk keselamatan :
a. Proteksi dari kejut listrik.
b. Proteksi dari efek termal.
c. Proteksi dari arus lebih.
d. Proteksi dari tegangan lebih.
5. Instalasi listrik yang baru di pasang atau mengalami perubahan harus di paksa,di
uji dan bila perlu di coba sebelum di operasikan.yang memenuhi ketentuan PUIL
2000,di beri sertifikat.
5

6. Perencana, pemasang, dan pemeriksa instalasi listrik "HARUS MEMILKI IJIN


DAN HARUS MENGGUNAKAN TENAGA TEKNIS YANG KOMPETEN"
sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya di bidang ketenaga listrikan.

2.4 Ketentuan Umum Kabel dan Pemasangannya


2.4.1

Ketentuan Peralatan
1. Perlengkapan listrik harus tidak berbahaya, tahan kerusakan dan kimiawi.
2. Selungkup dan rangka logam harus dilengkapi sekrup dan terminal untuk pembumian.
3. Penandaan sesuai SNI.

2.4.2

Ketentuan Pemasangan
1. Pemasangan harus memperhatikan kemudahan pelayanan, pemeriksaan, dan
2.
3.
4.
5.
6.

pemeliharaan.
Pemasangan tidak menyebabkan bahan mudah terbakar.
Selungkup dan rangka logam harus dibumikan.
Gagang pelayanan dari logam tidak boleh bertegangan.
Pengendalian perlatan harus melalui saklar.
Sakelar motor / mesin harus sedekat mungkin.

2.5 Ketentuan Umum Kabel dan Pemasangannya


2.5.1 Ketentuan Umum Kabel Instalasi
1. Memenuhi syarat sesuai penggunaannya.
2. Memiliki tanda-tanda yang jelas.
3. Tidak cacat/ rusak.
4. Jenis kabel menurut PUIL.
a. Kabel instalasi dalam gedung, warna selubung putih/ abu-abu.
b. Kabel tanah tegangan 600-1000 v warna selubung hitam.
c. Kabel udara tegangan 600-1000 v warna selubung hitam.
d. Kabel tegangan menengah/ tinggi diatas 1000 v warna selubung merah.
5. Ukuran harus sesuai beban.
6. Warna inti kabel sesuai PUIL.
a. Warna biru untuk penghantar netral.
b. Warna loreng untuk penghantar pembumian.
c. Warna merah untuk fase R.
d. Warna kuning untuk fase S.
e. Warna hitam untuk fase T.
2.5.2

Ketentuan Umum Kabel Fleksibel


6

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

2.5.3

Penggunaan terbatas.
Sesuai maksud penggunaannya.
Tidak boleh sebagai pengawatan tetap.
Hanya dalam satu kepanjangan yang utuh.
Memiliki kuat hantar arus yang sesuai.
Pada kondisi tertentu memiliki pengikat.
Kabel lampu tidak boleh kurang dari 0,5 mm2.

Ketentuan Umum Pembebanan Kabel


1. Pembebanan tidak boleh melebihi KHA.
2. Perhatikan suhu keliling dan suhu kabel.
3. Kabel dengan isolasi xlpe memiliki suhu penghantar lebih tinggi.
4. Bila suhu keliling melebihi normal harus dilakukan koreksi terhadap KHA.

2.6 Ketentuan Armatur Penerangan (Fitting, Lampu, dan Roset)


2.6.1 Pengamanan (Proteksi)
1. Pada waktu pemasangan penggantian lampu atau lampu terpasang aman dari
kemungkinan sentuhan.
2. Jika dihubungkan pada jaringan dengan penghantar netral yang dibumikan,
selubung ulir fiting lampu harus dihubungkan dengan penghantar netral.
3. Untuk tegangan kebumi diatas 300 volt armatur penerangan harus terisolasi dari
penggantung dan pengukuhnya, kecuali perlengkapan dibumikan dengan baik.
2.6.2

Pembumian (Grounding)
1. Pada sistem perkawatan dengan pipa logam yang dibumikan armatur penerangan
dari logam yang terhubung -pada kotak sambung harus dibumikan.
2. Pada tegangan kerja diatas 50 volt semua bagian dari armatur, trafo, selungkup
dari logam harus dibumikan.
3. Bagian logam yang terbuka harus dibumikan.

2.6.3

Syarat Kotak Sambung dan Kap Armatur


1. Pemasangan armatur penerangan ditempat lembab, basah sangat panas, korosi
harus dari bahan yang memenuhi syarat.
2. Bagian luar fiting lampu diruang berdebu, lembab, sangat panas, berisi bahan
mudah terbakar korosi harus dari bahan porselen atau yang sederajat. Demikian
juga bila tegangan lebih dari 300 V.
3. Penyimpangan di perkenankan jika fiting lampu dipasang diluar jangkauan dan
bagian logam yang tidak bertegangan dibumikan, kecuali untuk ruang
mengandung korosi.
7

4. Armatur penerangan didekat bahan mudah terbakar harus di buat, dipasang atau
dilindungi sedemikian rupa sehingga bagian yang bersuhu lebih 90 0c tidak
berhubungan dengan bahan yang mudah terbakar.
5. Armatur kedap debu, untuk ruang berdebu.
6. Armatur kedap gas, untuk ruang mengandung gas.
2.6.4

Penunjang Armatur
Pemasangan armatur dengan berat dan ukuran tertentu harus dipasang penunjang
yang kuat.

2.6.5

Pengawatan Armatur
1. Ukuran kawat/kabel minimum 0,75 mm2, bebas dari gaya tarik dan kerusakan
mekanik, bebas pengaruh suhu yang berlebihan.
2. Dalam armatur penerangan dengan tegangan 300 v, tidak boleh ada percabangan.

2.6.6

Roset
1. Roset yang dipasang dalam ruang lembab atau basah harus dari jenis yang
memenuhi syarat.
2. Roset harus mempunyai nilai nominal sekurang-kurangnya 660 W, 250 V dan
arus maksimum 6A.
3. Untuk pengkawatan yang tampak, roset harus mempunyai alas dengan sekurangkurangnya 2 lubang untuk tempat sekerup pengukuh, dan harus cukup tebal agar
kabel dan terminalnya berada pada jarak sekurang-kurangnya 1cm dari
permukaan dinding atau langit-langit.
4. Roset tidak boleh digunakan untuk menguhubungkan lebih dari satu saluran
kecuali bila roset dibuat khusus untuk penguhubung banyak.

2.7 Ketentuan Tusuk Kontak dan Kotak Kontak


2.7.1

Konstruksi Tusuk Kontak


Kotak kontak merupakan tempat untuk mendapatkan sumber tegangan listrik yang
diperlukan untuk pesawat atau alat listrik. Tegangan Sumber listrik ini diperoleh
hantaran fasa dan netaral yang berasal dari PLN.
Kontak tusuk digunakan untuk menghubungkan pesawat atau alat listrik yang
dipasang tetap ataupun dapat dipindah-pindahkan.
Penggunaan dan pemasangan kontak ada beberapa ketentuan antara lain :
8

1. Tusuk kontak harus dirancang demikian rupa sehingga ketika dihubungkan tidak
mungkin terjadi sentuhan tak sengaja dengan bagian aktif.
2. Tusuk kontak harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar, tahan lembab,
dan secara mekanik cukup kuat.
3. Tusuk kontak yang tidak terlindung tidak boleh terbuat dari bahan ynag mudah
pecah.
4. Sambungan antara tusuk kontak dan kabel fleksibel harus baik untuk
menghindarkan kerusakan mekanik.
5. Kotak-kontak dinding fasa satu harus dipasang hingga kontak netralnya ada
disebelah kanan.
6. Kotak-kontak dinding yang dipasang kurang dari 1,25 meter di atas lantai harus
dilengkapi dengan tutup.
7. Kotak-kontak yang dipasang dilantai harus tertutup.
8. Kotak-kontak dinding dengan pengaman harus dipasang hantaran pengaman.
9. Ruangan yang dilengkapi dengan kotak kontak dengan kotak pengaman, tidak
boleh dipasang kotak-kontak tanpa pengaman, kecuali kotak-kontak tegangan
rendah dan untuk pemisahan pengaman.
10. Pada satu tusuk kontak, hanya boleh dihubungkan satu kabel yang dapat
dipindahpindah.
11. Kemampuan kotak-kontak harus sekurang-kurangnya sesuai dengan daya yang
dihubungkan padanya, tetapi tidak boleh kurang dari 5 A.

2.7.2

Susunan Tusuk Kontak


1. Tusuk kontak untuk tegangan ke bumi diatas 50 V harus disusun untuk juga
melaksanakan pembumian. Rumah logam kotak-kontak dan/atau tusuk kontak
harus dihubungkan dengan kontak pembumian.
9

2. Kontak tusuk untuk tegangan ke bumi diatas 300 V harus disusun sedemikian
rupa sehingga semua bagiannya tidak dapat dimasukkan atau dilepaskan dalam
keadaan bertegangan.
3. Ketentuan tersebut tidak berlaku untuk kotak-kontak dalam ruang dengan lantai
berisolasi, yang disekitarnya tidak terdapat bagian konduktif yang dihubungkan
ke bumi dan dapat tersentuh, seperti instalasi air, gas, atau pemanas dan juga tidak
berlaku bagi kotak kontak untuk beban khusus, yang mempunyai isolasi
pengaman atau beban khusus yang dipasang diuar jangkauan tangan.
4. Kotak kontak yang ditempatkan pada lantai harus dari jenis tertutup dalam kotak
lantai yang khusus diijinkan untuk penggunaan ini.
5. Kotak kontak fase satu, baik yang berkutub dua maupun tiga harus dipasang
sedemikian hingga kutub netralnya berada disebelah kanan atau sebelah bawah
kutub bertegangan.
6. Kotak kontak harus dipasang tidak kurang setinggi minimum 1,25 m dari lantai.
Jika dipasang kurang dari 1,25 m kotak kontak harus dari jenis tertutup.

2.8 Ketentuan Penutup dan Pembuka Rangkaian Listrik


2.8.1

Sakelar
1. Sakelar berfungsi untuk menutup dan membuka sirkit listrik dalam keadaan
berbeban atau tanpa beban. Sakelar ini disebut juga sakelar beban.
2. Pada sakelar ini terdapat nilai arus dan tegangan kerjanya yang harus sesuai atau
lebih besar dari pada beban yang dilayaninya, tetapi tidak kurang dari 5 A.
3. Dari segi pemasngannya dibedakan sakelar jenis terpasang pada permukaan dan
jenis terpasang rata permukaan. Tergantung dari keadaan lingkungan terdapat pula
sakelar yang tahan cuaca atau kedap air. Pemasangan sakelar harus sesuai maksud
penggunaannya.

2.8.2

Pemutus Rangkaian Listrik


10

1. Pemutus sirkit terutama dimaksudkan untuk memutuskan sirkit dalam keadaan


gangguan atau keadaan tidak normal secara otomatis, misalnya jika arus yang
melaluinya melebihi nilai tertentu seperti pada keadaan hubung pendek.
2. Pemutus sirkit mini atau MCB yang dipasang di APP, tempat penyambungan
instalasi pelanggan sebelum PHB, berfungsi sebagai pembatas arus dan sebagai
pemutus sirkit. Peranan MCB menggantikan pasangan seri sakelar dan pengaman
lebur.
3. Pemutus sirkit harus memiliki kemampuan memutus arus hubung pendek sesuai
atau lebih besar daripada nilai arus hubung singkat yang mungkin terjadi di
tempat pemutus sirkit terpasang. Pemutus sirkit untuk perumahan mempunyai
kemampuan memutus sesuai ketentuan tidak kurang dari 6000 A.
4. Seperti halnya peralatan yang lain pemutus sirkit harus memenuhi ketentuan
standar yang berlaku yaitu SNI.
5. Pemilihan dan pemakaian serta pemasangan pemutus sirkit harus memenuhi
ketentuan PUIL.

2.8.3

Pemisah Rangkaian Listrik


1. Pemisah adalah alat penyambung sirkit dalam keadaan tanpa beban atua tanpa
arus. Pemutusan sirkit dilaksanakan oleh kontak sakelar pisah ini tanpa bantuan
pegas, oleh karenanya busur listrik yang timbul antar kontak alat ini tidak dapat
dikendalikan dengan baik seandainya digunakan untuk memutus beban.
2. Penggunaan utamanya untuk memisahkan bagian instalasi dari sumber, sehingga
bagian tersebut aman untuk personil yang sedang melakukan pemeliharaan/
perbaikan instalasi.
3. Sakelar pisah dipasang seri dengan pemutus sirkit dan ditempatkan sebelum
pemutus sirkit tersebut.
4. Sakelar pisah harus tidak dapat dibuka dalam keadaan pemutus sirkit menutup.
11

2.8.4

Pengaman (Sekering) Lebur


1. Pengaman lebur dimaksudkan untuk memutus surkut dalam keadaan gangguan
seperti halnya fungsi pemutus sirkit.
2. Pengaman lebur dapat juga berfungsi sebagai pemisah, yaitu dengan membuka
atau mencabut pemegang patron leburnya.
3. Pengaman lebur sering dipasang seri dengan sakelar beban yang digunakan
sebagai pemutus beban dan dengan membuka pemegang patron sirkit dipisah dari
tegangan.

2.9 Ketentuan Alat Pembatas dan Pengukur (APP)


2.9.1

Fungsi APP
Alat Pembatas dan Pengukur (APP) adalah tempat penyambungan penghantar saluran
masuk pelayanan ke instalasi konsumen. APP digunakan untuk pemakaian energy
listrik dan pembatasan daya sesuai dengan paket pelanggan. Energy listrik disalurkan
dari APP ke saluran utama konsumen menuju PHB Utama dan seterusnya
didistribusikan ke jaringan instalasi rumah.

2.9.2

Ketentuan APP
1. Di APP terdapat meter energy, terminal netral, dan pembatas arus yang
kemampuannya harus sesuai dengan paket daya pelanggan yang ditetapkan.
2. Bila jenis penghantar yang disambung berbeda, misalkan penghantar SMP dari
bahan aluminium, maka harus digunakan terminal bimetal.
3. Meter energy yang dipasang pada APP harus sudah ditera oleh instansi yang
berwenang. Kotak APP harus dalam keadaan tersegel selama dioperasikan.
4. Pada APP harus tersedia juga terminal untuk pembumian BKT karena umumnya
kotak APP terbuat dari logam.

12

5. APP harus dipasang dengan baik di tempat yang mudah dilihat dan dicapai untuk
kepentingan pencatatan rutin energy terpakai dan pemeriksaan.

2.10 Ketentuan PHB Utama


2.10.1 Fungsi PHB
PHB adalah peralatan yang berfungsi menerima energy listrik dari APP dan
selanjutnya mendistribusikannya dan sekaligus mengontrol penyaluran energy listrik
tersebut melalui sirkit cabang ke PHB cabang ata langsung melalui sirkit akhir ke
beban yang berupa beberapa titik lampu dan melalui kotak kontak ke peralatan
pemanfaat listrik yang berada di dalam bangunan.
2.10.2 Ketentuan Umum PHB
1. PHB harus mampu dibebani secara terus menerus dengan nilai arus,tegangan dan
frekuensi sesuai data pengenalnya lanpa mengalamaikerusakan dan pengurangan
umurnya.
2. PHB harus tahan terhadap arus hubung pehdek yang dapat timbul didalamnya
dengan

cara

memperhnungkan

kerja

gawai

proteksi

yangdipasang

di

depannya.Selungkup atau rumah PHB harus mampu menunjukkan untuk


kerjasesuai dengan tingkat perlindungan yang dinyatakan (tingkat IP).
2.10.3 Ketentuan Kemampuan PHB
2.10.4 Ketentuan Penempatan PHB
1. Ditata dan dipasang rapi dan teraturyang leluasa, sehingga memudahkan
pencapaian, pengoprasian, pemeriksaan, dan pemeliharaan.
2. Penyambungan saluran masuk dan keluar harus menggunakan terminal, sehingga
penyambungannya dengan komponen mudah, teratur, dan aman.
3. Terminal kabel kendali harus terpisah dari terminal saluran daya.

13

2.11

Komponen Instalasi Listrik


2.11.1 Penghantar (Kabel Listrik)
Kabel dalam bahasa Inggris disebut cable merupakan sebuah alat yang digunakan
untuk mentransmisikan sinyal dari satu tempat ke tempat lain. Kabel seiring
dengan perkembangannya dari waktu ke waktu terdiri dari berbagai jenis dan
ukuran yang membedakan satu dengan lainnya. Berdasarkan jenisnya, kabel
terbagi menjadi 3 yakni kabel tembaga (copper), kabel koaksial, dan kabel serat
optik.

2.11.2 Kotak Kontak (Stop Kontak)


Stop kontak adalah sebuah alat pemutus ketika terjadi kontak antara arus positif,
arus negatif dan grounding pada instalasi listrik. Dan yang lebih penting lagi
ELCB bisa memutuskan arus listrik ketika terjadi kontak antara listrik dan tubuh
manusia.

2.11.3 Kotak Hubung Bagi (PHB)


Perangkat hubung bagi menurut definisi PUIL, adalah suatu perlengkapan untuk
mengendalikan dan membagi tenaga listrik dan atau mengendalikan dan
melindungi sirkit dan pemanfaat tenaga listrik. Adapun bentuknya dapat berupa
box, panel, atau lemari.
Perangkat hubung bagi ini merupakan bagian dari suatu sistem suplai. Sistem
suplai itu sendiri pada umumnya terdiri atas : pembangkitan (generator), transmisi
(penghantar), pemindahan daya (transformator).

2.11.4 Fitting Lampu


Fitting adalah sebuah tempat untuk menaruh sebuah lampu bohlam, yang
berbentuk bulat dengan lubang di tengahnya yang digunakan untuk menaruh
bohlam. Dalam fiting lampu bohlam dan saluran listrik berpadu.
14

Zaman sekarang ada dua jenis fiting yang sering dipakai:


1. fiting berulir.
2. fiting 'sumpit', di sini lampu tidak diulirkan tetapi ditusukkan ke tempatnya.

2.11.5 Pengaman (Sekering)


Sekering adalah suatu alat yang digunakan sebagai pengaman dalam suatu
rangkaian listrik apabila terjadi kelebihan muatan listrik atau suatu hubungan arus
pendek.
Cara kerjanya apabila terjadi kelebihan muatan listrik atau terjadi hubungan arus
pendek, maka secara otomatis sekering tersebut akan memutuskan aliran
listrik dan tidak akan menyebabkan kerusakan pada komponen yang lain.

2.11.6 Sakelar
Saklar adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memutuskan jaringan
listrik, atau untuk menghubungkannya. Jadi saklar pada dasarnya adalah alat
penyambung atau pemutus aliran listrik. Selain untuk jaringan listrik arus kuat,
saklar berbentuk kecil juga dipakai untuk alat komponen elektronika arus lemah.
Secara sederhana, saklar terdiri dari dua bilah logam yang menempel pada suatu
rangkaian, dan bisa terhubung atau terpisah sesuai dengan keadaan sambung (on)
atau putus (off) dalam rangkaian itu.

2.12

Peralatan Pelindung
2.12.1 Pipa Instalasi
Dalam instalasi listrik dikenal dengan 3 (tiga) macam pipa jenis, yaitu Pipa
Union, Pipa paralon atau PVC dan Pipa fleksibel
a. Pipa Union
15

Pipa union adalah pipa dari bahan plat besi yang diproduksi tanpa menggunakan
las dan biasanya diberi cat meni berwarna merah. Pipa union dalam
pengerjaannya mudah dibengkok dengan alat pembengkok dan mudah dipotong
dengan gergaji besi. Jika lokasi pemasangannya mudah dijangkau tangan, maka
harus

dihubungkan

dengan

pentanahan,

kecuali

bila

digunakanuntuk

menyelubungi kawat pentanahan (arde). Umumnya dipasang pada tempat yang


kering, karena untuk menghindari terjadi korosi atau karat.
b. Pipa Paralon / PVC
Pipa ini dibuat dari bahan paralon / PVC. Jika dibandingkan dengan pipa union,
keuntunganpipa PVC adalah lebih ring-an, lebih mudah pengerjaannya (dengan
pemanasan) dan merupakan bahan isolasi, sehingga tidak akan mengakibatkan
hubung singkat antar penghantar. Disamping itu penggunaannya sangat cocok
untuk daerah lembab, karena tidak me-nimbulkan korosi. Namun demikian, pipa
PVC memiliki kelemahan yaitu tidak tahan digunakan pada temperatur kerja
diatas 600 C.
c. Pipa Fleksibel
Pipa fleksibel dibuat dari potongan logam / PVC pendek yang disambung
sedemikian rupa sehingga mudah diatur dan lentur. Pipa ini biasa digunakan
sebagai pelindung kabel yang berasal dari dak standar ke APP, atau juga
digunakan sebagai pelindung penghantar instalasi tenaga yang menggunakan
motor listrik, misalnya mesin press, mesin bubut,mesin skraf, dan lain-lain.
2.12.2 Rol Isolator
2.12.3 Sengkang (Klem)
Klem atau sering disebut juga sengkang adalah komponen untuk menahan pipa
yang dipasang pada dinding tembok atau dinding kayu atau pada plafon. Klem
dibuat dari bahan besi atau PVC dan mempunyai ukuran yang sesuai dengan pipa
yang digunakan. Pemasangannya dengan menggunakan sekrup kayu.

16

2.12.4 Kotak Sambung (Doos)


Menurut peraturan, penyambungan kawat tidak boleh dilakukan didalam pipa.
Oleh karena itu untuk pemasangan saklar / stop kontak, menyambung kawat atau
untuk percabangan saluran diperlukan kotak sambung. Bentuk kotak sambung ada
4 macam, sesuai dengan keperluan sambungan yaitu :
1. Kotak sambung cabang satu untuk tempat penyambungan kawat dengan saklar
atau stop kontak.
2. Kotak sambung cabang dua untuk sambungan lurus.
3. Kotak sambung cabang tiga untuk sambungan percabangan.
4. Kotak sambung cabang empat untuk sambungan cross / cabang empat.

17

BAB III
HASIL PRAKTEK
JOB I Memasang Instalasi KWH Meter, Kotak Sekering
A. Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Mampu memasang instalasi KWH meter 1 phase.


Mampu memasang instalasi kotak sekering.
Mampu memasang pipa instalasi.
Mampu memasang kotak sambung dan inbow doos.
Mampu memasang roset.

B. Alat dan Bahan


1.

Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Water pass.
c. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
d. Penitik.

2. Bahan :
a.

KWH meter 1 phase.

b.

Miniature circuit breaker (MCB) 2 Ampere.

c.

Kotak sekering 1 group.

d.

Sekering.(pengaman lebur) 4 Ampere.

e.

Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.

f.

Kabel NYM 3 x 2,5 mm2.

g.

Tusuk kontak (steaker) 1 phase.

h.

Pipa PVC 5/8 inchi.

i.

Sengkang (klem) 5/8 inchi.

j.

L bow 5/8 inchi.


18

k.

Kotak tarik 3 jalan (T Doos).

l.

Inbow doos.

m.

Roset.

n.

Paku sekerup

o.

Lasdop.

p.

Sakelar tunggal.

q.

Kotak-kontak fase.

r.

Fitting lampu.

s.

lampu pijar.

C. Keterangan :
1.

Memasang pengkawatan KWH meter dan kotak sekering harus sesuai petunjuk/teori yang
telah dipelajari.

2.

Pengkawatan KWH meter dan kotak sekering dipasang dari input KWH meter sampai output
kotak sekering.

3. Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan kepada
instruktur/pengawas praktek.

Fase

Netral

Pentanahan

5 Cm
35 Cm

125 Cm dari

Gambar Kerja :
KWH
meter
lantai

D.

19

Gambar Instalasi KWH meter dan kotak sekering


E.

Langkah Kerja :
1. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah ditentukan.
2. Buatlah tanda pada papan (dengan kapur tulis) untuk penempatan KWH meter dan kotak sekering
serta pipa
3. Pasangkan KWH meter dan kotak sekering pada papan sesuai ketentuan.
4. Potong pipa sesuai ukuran dan haluskan potongan pipa agar tidak tajam.
5. Pasangkan pipa dan elbow pada papan instalasi
6. Pasang pengkawatan mulai dari input KWH meter sampai kotak sekering.
7. Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya benar.
8. Periksakan instalasi
telah saudara
instruktur
setelah
saudara merasa yakin ada
19 Cm yang
19 Cm
19 Cm pasang
19kepada
Cm
19 Cm
19 Cm
15 Cm

kesalahan.

meter

25 Cm

KWH

25 Cm

15 Cm

JOB II : Memasang Pipa Instalasi, kotak sambung, inbow doos dan roset

20

Gambar Pemasangan pipa instalasi


A. Tujuan
6. Mampu memasang pipa instalasi.
7. Mampu memasang kotak sambung dan inbow doos.
8. Mampu memasang roset.
B. Alat dan Bahan
1. Alat :
a.
a.
b.
c.
2.

Obeng (-) dan (+).


Water pass.
Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
Penitik.

Bahan :
a.

KWH meter 1 phase.

b.

Miniature circuit breaker (MCB) 2 Ampere.

c.

Kotak sekering 1 group.

d.

Sekering.(pengaman lebur) 4 Ampere.

e.

Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.

f.

Kabel NYM 3 x 2,5 mm2.


21

E.

g.

Tusuk kontak (steaker) 1 phase.

h.

Pipa PVC 5/8 inchi.

i.

Sengkang (klem) 5/8 inchi.

j.

L bow 5/8 inchi.

k.

Kotak tarik 3 jalan (T Doos).

l.

Inbow doos.

m.

Roset.

n.

Paku sekerup

o.

Lasdop.

p.

Sakelar tunggal.

q.

Kotak-kontak fase.

r.

Fitting lampu.

s.

lampu pijar.

Langkah Kerja :
1.
2.
3.
4.

Potong pipa sesuai ukuran dan haluskan potongan pipa agar tidak tajam.
Pasangkan pipa dan elbow pada papan instalasi
Potonglah pipa sesuai dengan ukuran dan haluskan potongan pipa agar tidak tajam.
Pasanglah pipa instalasi secara mendatar dan tegak lurus, pasangkan juga T doos, inbow doos

serta L bow untuk belokan pipa


5. Pasangkan roset untuk dudukan lampu.
6. Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya benar.

22

JOB III Memasang instalasi Sakelar Tunggal dan Kotak-kontak

A. Tujuan

Mampu membuat gambar pelaksanaan hubungan sakelar tunggal dan kotak kontak.

Mampu memasang instalasi Sakelar Tunggal.

Mampu memasang Instalasi kotak kontak.

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
23

2. Bahan :
a.
Inbow doos.
b.
Roset.
c.
Paku sekerup.
d.
Lasdop.
e.
Sakelar tunggal.
f.
Kotak-kontak fase.
g.
Fitting lampu.
h.
lampu pijar.
i.

Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.

j.

Kabel NYM 3 x 2,5 mm2.

C. Keterangan:
1. Instalasi ini biasa dipasang pada rumah tinggal, contoh dipasang pada ruang tamu, ruang keluarga,
kamar tidur dsb.
2. Sakelar tungal dipakai untuk mengoperasikan beban dimana saluran phase yang menuju ke beban
dihubung/diputus oleh sakelar tunggal.
3. Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian dengan sumber
tegangan sebelum saudara memulai pekerjaan.
4. Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik dan tidak boleh
dilakukan di dalam pipa.
5. Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek memotongnya, berilah
spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung maka tutuplah dengan lasdop dan
tempatkan secara melingkar ke dalam kotak sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan
petutupnya agar kelihatan rapih serta sambungan kawat dapat terlindungi.
6. Setelah selesai memasang instalasi lakukan pengecekan untuk memastikan bahwa instalasi sudah
benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.
7. Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan kepada
instruktur/pengawas praktek.

24

D.

Gambar Kerja :

IEC

25

JIS

E.
Diagram
Kerja

F.

Langkah Kerja :
1. Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya buatlah gambar
pelaksanaannya.
2. Periksakan gambar pelaksanaan saudara kepada Instruktur
3. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah ditentukan.
4. Pasanglah KWH meter, kotak sekering, pipa instalasi, kotak sambung, inbow doos serta roset
pada papan sesuai job yang akan dikerjakan. Selanjutnya pasanglah pengkawatan instalasi sakelar
tunggal dengan beban lampu pijar dan kotak-kontak
5. Lakukanlah pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya benar dan tidak
ada kesalahan hubung singkat sebelum dihubung pada sumber tegangan
6. Operasikan instalasi dengan dihubungkan pada sumber tegangan, dan amati kerjanya apakah
sudah benar atau masih terdapat kesalahan.
7. Jika instalasi masih terdapat kesalahan maka lakukan perbaikan hingga benar
26

8. Periksakan instalasi kepada instruktur setelah saudara merasa yakin sudah benar.

G.

K3:

1. Saat melakukan pemasangan instalasi pastikan tidak ada arus listrik yang terhubung pada instalasi
yg kita pasang.
2. Pastikan anda mengerti job instalasi yang akan anda kerjakan.
3. Pastika anda mengerti cara menggunakan alat yang akan anda pakai agar tidak terjadi kecelakaan
kerja.
4. Berhati hati saat menggunakan Meteran pastikan anda mengunci (lock) meteran saat anda telah
mendapatkan ukuran yang di inginkan. Hal ini di lakukan untuk mencegah meteran masuh
kembali ke dalam wadah secara tiba tiba yang dapat menyebabkan tergoresnya bagian tubuh.
5. Apa bila anda menggunakan tangga, pastikan anda telah memasang tangga dengan benar agar
tangga tidak goyah saat di gunakan.
H.

Masalah dan Solusi pada Praktek Pengerjaan :


Masalah:
Lampu tidak menyala saat arus sudah di alirkan
Solusi:
Saklar pada sekring belum berada di posisi ON

I.

Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek, saya dapat memahami gambar, memasang sakelar tunggal,
memasang kotak kontak.
Rangkaian listrik paralel mempunyai semua input yang berasal dari sumber yang sama
jadi beda potensial masing-masing cabang sama. Jika 1 lampu mati yang lain tetap
menyala terang karena 1/R1 + 1/R2 +...+ 1/Rn sedangkan seri apabila salah satu mati,
maka yang lain akan mati pula karena R1 + R2 +...+ Rn.

27

JOB IV : Memasang instalasi kotak kontak dan saklar seri


dengan beban lampu pijar dan lampu TL
A. Tujuan
1. Mampu membuat gambar pelaksanaan hubungan sakelar seri dan kotak kontak
2. Mampu memasang instalasi sakelar seri
3. Mampu memasang instalasi kotak kontak
4. Mampu memasang fitting lampu pijar
5. Mampu memasang instalasi lampu TL
B. Alat dan Bahan
1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Sakelar seri.
f. Kotak-kontak.
g. Fitting lampu.
h. lampu pijar.
i. Satu unit Lampu TL.
j. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
k. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .
l. Sakelar tombol / tombol bel

C. Keterangan :

28

1. Instalasi ini biasa dipasang pada rumah tinggal, contoh dipasang pada ruang tamu, ruang keluarga,
kamar tidur, dsb.
2. Sakelar seri dipakai untuk mengoperasikan satu kelompok lampu dari satu tempat
3. Sakelar tombol / tombol bel digunakan untuk melakukan pembuktian percobaan pengganti stater
pada lampu TL
4. Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian dengan sumber
tegangan sebelum memulai pekerjaan.
5. Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik dan tidak boleh
dilakukan di dalam pipa.
6. Jangan terlalu pendek memotong kawat yang akan disambung pada kotak sambung, berilah
spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung maka tutuplah dengan lasdop dan
tempatkan secara melingkar ke dalam kotak sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan
petutupnya agar kelihatan rapih serta sambungan kawat dapat terlindungi.
7. Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukan pengecekan untuk memastikan bahwa
instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.
8. Jika ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan kepada
instruktur/pengawas praktek.

D.

Gambar Kerja :

29

JIS

IEC

30

JIS

IEC

31

JIS

IEC

32

E.

Diagram Kerja

F.

Langkah Kerja :
1. Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya buatlah gambar
pelaksanaannya.
2. Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepada Instruktur.
33

3. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah ditentukan.
4. Pasanglah pengkawatan instalasi kotak-kontak dan sakelar seri dengan beban lampu pijar dan
lampu TL sesuai gambar.
5. Lakukanlah pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya benar dan tidak
ada kesalahan hubung singkat sebelum dihubung pada sumber tegangan.
6. Operasikan instalasi dengan dihubungkan pada sumber tegangan, dan amati kerjanya apakah
sudah benar atau masih terdapat kesalahan.
7. Periksakan instalasi kepada instruktur setelah merasa yakin sudah benar.
G.

K3
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1.

Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan


setelah dipakai agar tidak terjadi kehilangan.

2.

Memastikan alat dan bahan yang digunakan


aman/ tidak berbahaya bagi si pengguna.

H.

3.

Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung


pipa telah dihaluskan agar tidak melukai si pengguna.

4.

Saat memasang rangkaian, pastikan tidak


ada arus agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.

5.

Saat memegang alat jangan sampai melukai


jari atau terjatuh sehingga melukai pengguna.

6.

Saat mengupas isolasi dan tembaganya,


diusahakan jauh dari mata agar tidak melukai mata.

Kesimpulan :
Setelah melakukan peraktek ini, saya dapat memahami gambar rangkaian saklar
seri, dan dapat meracang lampu TL dengan menggunakan lampu pijar sebagai pengganti
balast ataupun saklar bel sebagai pengganti setarter.

JOB V : Memasang Instalasi Sakelar Tukar (Hubungan Hotel I)


A. Tujuan
1. Mampu membuat gambar pelaksanaan hubungan sakelar tukar.(hubungan hotel I).
2. Mampu memasang instalasi sakelar tukar.(hubungan hotel I).

34

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Sakelar Tukar 2 buah.
f. Kotak-kontak.
g. Fitting lampu.
h. lampu pijar.
i. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
j. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1.

Instalasi ini biasa dipasang pada rumah bertingkat maupun di hotel, contoh
dipasang pada ruang tangga.

2.

Dengan memakai 2 buah sakelar tukar kita dapat mengoperasikan satu buah /
kelompok lampu dari dua tempat.

3.

Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian


dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.

4.

Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik


dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.

5.

Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.

6.

Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukan pengecekan untuk


memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.

7.

Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja :
35

Gambar satu garis

KWH

a. Bagan

JIS

36

IEC

E. Diagram Kerja

37

F. Langkah Kerja
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Periksakan gambar pelaksanaan yang telah saudara buat kepada Instruktur

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

4.

Pasanglah pengkawatan instalasi sakelar tukar (Hubungan Hotel I) .

5.

Lakukanlah pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat sebelum dihubung pada sumber
tegangan.

6.

Operasikan instalasi dengan dihubungkan pada sumber tegangan, dan amati


kerjanya apakah sudah benar atau masih terdapat kesalahan.

7.

Jika instalasi masih terdapat kesalahan maka lakukan perbaikan hingga benar.

8.

Periksakan instalasi kepada instruktur setelah saudara merasa yakin sudah


benar.

G. K3
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1.

Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan


setelah dipakai agar tidak terjadi kehilangan.

2.

Memastikan alat dan bahan yang digunakan


aman/ tidak berbahaya bagi si pengguna.
38

3.

Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung


pipa telah dihaluskan agar tidak melukai si pengguna.

4.

Saat memasang rangkaian, pastikan tidak


ada arus agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.

5.

Saat memegang alat jangan sampai melukai


jari atau terjatuh sehingga melukai pengguna.

6.

Saat mengupas isolasi dan tembaganya,


diusahakan jauh dari mata agar tidak melukai mata.

H. Kesimpulan :
Dengan dilaksanakannya peraktek ini saya dapat memahami gambar saklar tukar,
dan dapat memasang instalasi saklar tukar.

JOB VI : Memasang Instalasi Sakelar Silang


A. Tujuan

Mampu membuat gambar


pelaksanaan sakelar silang.

Mampu memasang instalasi sakelar


silang.
39

B. Alat dan Bahan


2. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
3. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Sakelar Tukar 4 buah.
f. Saklar silang.
g. Kotak-kontak.
h. Fitting lampu.
i. lampu pijar.
j. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
k. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .
C. Keterangan :
1.

Instalasi sakelar silang


biasa dipakai dalam gang-gang, ruangan tangga serta ruangan yang besar.

2.

Instalasi sakelar silang


ini dipakai untuk melayani lamu dari 3 tempat atau lebih. Jika lampu dilayani
lebih dari 3 tempat maka sakelar yang pertama dan terakhir menggunakan
sakelar tukar, sedang penghubung-penghubung diantaranya adalah penghubung
silang.

3.

Jangan bekerja pada


instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian dengan sumber tegangan
sebelum memulai pekerjaan.

4.

Sambungan kawat hanya


boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik dan tidak boleh dilakukan
di dalam pipa.

5.

Kawat
yang
akan
disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek memotongnya, berilah
spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung maka tutuplah dengan
lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak sambung lalu tutuplah
40

kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih serta sambungan kawat
dapat terlindungi.
6.

Sebelum
mencoba
rangkaian untuk dioperasikan lakukanlah pengecekan untuk memastikan bahwa
instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.

7.

Jika merasa ada hal yang


maka konsultasikan kepada

kurang jelas tentang pekerjaan


instruktur/pengawas praktek.

ini

D. Gambar Kerja :

S.1

L.2

L.1

S.2

S.3
L.3

Denah Situasi

IEC
KWH
meter

L.1

P N P

S.1

S.2

L.3

a. Bagan

41

L.2

S.3

Pengawatan Rangkaian 1

b. Pelaksanaan

JIS

KW
H
met
er

L.1 L.2

L.3

P NP

S.1

S.2

S.4
Pengawatan rangkaian 2

S.3

Gambar : Instalasi hubungan sakelar silang

IEC
b. Pelaksanaan

42

E. Diagram Kerja

F. Langkah Kerja :
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

3.

pasanglah pengkawatan hubungan sakelar silang.

4.

Lakukanlah pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat sebelum dihubung pada sumber
tegangan
43

5.

Operasikan instalasi dengan dihubungkan pada sumber tegangan, dan amati


kerjanya apakah sudah benar atau masih terdapat kesalahan.

6.

Jika instalasi masih terdapat kesalahan maka lakukan perbaikan hingga benar

7.

Periksakan instalasi kepada instruktur setelah merasa yakin sudah benar.

G. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1.

Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai


agar tidak terjadi kehilangan.

2.

Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak


berbahaya bagi si pengguna.

3.

Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah


dihaluskan agar tidak melukai si pengguna.

4.

Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak


terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.

5.

Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh


sehingga melukai pengguna.

6.

Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari


mata agar tidak melukai mata.

H. Analisa
1. Pada rangkaian 2 digunakan dua buah saklar tukar yang dijadikan fungsinya seperti saklar
silang
2. Rangkaian ini dapat ditambahkan saklar untuk pengoprasiannya, cukup dengan
menambahkan saklar silang diantara kedia saklar silang.
3. Rangkaian ini memudahkan kita untuk mengoprasikan lampu dari berbagai tempat.
I. Kesimpulan :
Setelah melakukan peraktek ini, saya dapat memahami gambar rangkaian saklar
silang, dan dapat memasang saklar silang.

JOB VII : Memasang Instalasi (Hubungan Hotel II)


A. Tujuan

Mampu membuat gambar pelaksanaan instalasi hubungan hotel II


44

Mampu memasang instalasi hubungan hotel II

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Sakelar Tukar 3 buah.
f. Kotak-kontak.
g. Fitting lampu.
h. lampu pijar.
i. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
j. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .
C. Informasi Singkat :
1.

Instalasi ini biasa dipasang pada rumah bertingkat maupun di hotel, contoh
dipasang pada ruang tangga.

2.

Seperti gambar kerja di bawah, pada posisi tertentu dari S. 1 maka semua lampu
padam (tidak dapat dioperasikan dari S.2 dan S.3). Pada posisi yang lain dari S.1
maka lampu dapat dioperasikan dari S.2 dan S.3 (pada posisi tertentu dari S.2 dan
S.3 maka L.1 dan L.2 menyala dan pada posisi yang lain dari S. 2 dan S.3 maka L.1
dan L.2 padam)

3.

Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian


dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.

4.

Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik


dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.

5.

Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.

45

6.

Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukan pengecekan untuk


memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.

7.

Jika ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan kepada
instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja:

L.1

KWH

S.1

S.2

L.2

S.3

JIS
KWH
mete
r

a. Bagan

IEC

P N P
h
E

Gambar : Instalasi Hubungan Hotel II

46
b. Pelaksanaan

E. Diagram Kerja :

F. Langkah Kerja :
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Periksakan gambar pelaksanaan pada Instruktur.


47

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

4.

Pasanglah inbow doos serta roset pada papan sesuai job yang akan dikerjakan
selanjutnya pasanglah pengawatan instalasi Hubungan Hotel II sesuai gambar.

5.

Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.

6.

Operasikan rangkaian dan amati kerjanya.

7.

Jika masih terdapat kesalahan pada rangkaian maka lakukan perbaikan hingga
rangkaian menjadi benar.

8.

Periksakan instalasi yang telah saudara pasang kepada instruktur/pengawas


praktek setelah saudara merasa yakin pekerjaan sudah benar dan tidak ada
kesalahan hubung singkat.

G. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1.

Hitunglah jumlah alat saat ingin


dipakai dan setelah dipakai agar tidak terjadi kehilangan.

Memastikan alat dan


bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya bagi si pengguna.

Saat memakai pipa


instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan agar tidak melukai si
pengguna.

Saat
memasang
rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak terjadi sesuatu yang
tidak diinginkan pada si pengguna.

Saat memegang alat


terjatuh sehingga melukai

jangan sampai
pengguna.
6

melukai

jari

atau

Saat
mengupas
isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata agar tidak
melukai mata.

48

H. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian hubungan hotel II, dan dapat memasangnya.

JOB VIII : Memasang Instalasi Hubungan Kelder I


A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Hubungan Kelder I
Mampu memasang instalasi Hubungan Kelder I

B. Alat dan Bahan


49

1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tunggal.
f. Sakelar Tukar .
g. Kotak-kontak.
h. Fitting lampu.
i. lampu pijar 4 buah.
j. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
k. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .
C. Informasi Singkat :
1. Instalasi ini biasa dipasang pada rumah bertingkat maupun di hotel, contoh dipasang
pada ruang tangga.
2. Seperti gambar kerja di bawah, saat S. 1 pada posisi off S.2 tidak dapat melayani semua
lampu (semua lampu padam). Pada posisi S.1 on dan S.2 pada posisi 1 maka L. 1 da. L.2
menyala sedang L.3 dan L.4 padam. Pada posisi S.1 on dan S.2 pada posisi 2 maka L.1
dan.L.2 padam sedang L.3 dan L.4 menyala.
3. Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian dengan
sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.
4. Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik dan
tidak boleh dilakukan di dalam pipa.
5. Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek memotongnya,
berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung maka tutuplah dengan
lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak sambung lalu tutuplah kotak
sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih serta sambungan kawat dapat
terlindungi.

50

6. Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukan pengecekan untuk


memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.
7. Jika ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan kepada
instruktur/pengawas praktek.
D. Gambar Kerja :

L.1

KWH

S.1

L.2

L.3

L.4

S.2

JIS
KWH
mete
r
L.1

IEC

P N P
h
E

L.2

L.3

L.4
a. Bagan

S.1

S.2

Gambar : Instalasi Hubungan Kelder I

51

b. Pelaksanaan

E. Diagram Kerja :

F. Langkah Kerja :
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Periksakan gambar bagan yang telah saudara buat kepada Instruktur.

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.
52

4.

Pasangkan roset pada papan sesuai rangkaian Kelder I.

5.

Pasang pengkawatan instalasi Hubungan Kelder I dengan beban 4 buah lampu


pijar .

6.

Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.

7.

Operasikan instalasi dan amati kerjanya.

8.

Jika instalasi masih salah, maka perbaikilah hingga instalasi benar.

9.

Jika sudah benar periksakan instalasi kepada Instruktur untuk dicek


kebenarannya.

G. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya
bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.

H. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian hubungan Kelder I, dan dapat memasangnya.

JOB IX : Memasang Instalasi Hubungan Kelder II

53

A. Tujuan

Mampu membuat gambar pelaksanaan Hubungan Kelder II.


Mampu memasang instalasi Hubungan Kelder II.

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tunggal.
f. Sakelar Tukar 3 buah.
g. Kotak-kontak.
h. Fitting lampu.
i. lampu pijar 3 buah.
j. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
k. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
54

1.
2.

Instalasi ini biasa dipakai untuk instalasi gudang di bawah tanah dan instalasi
ini biasa juga disebut dengan instalasi gudang bawah tanah..
L.

3
2
L.1
Seperti gambar
kerja di bawah,L.dapat
diterangkan prinsip
kerjanya sbb :

a. Saat S.1 pada posisi off maka semua lampu padam (tidak dapat dinyalakan).
b. Pada posisi S.1 menghubung dan posisi tertentu S.2 maka hanya lampu L.1
S.1
S.2
3
yang
menyala dan yang
lainnya padam, S.selanjutnya
dari kondisi ini jika S. 2
dipindah ke posisi yang lain maka hanya lampu L.2 yang menyala.

KWH

c. Dari kondisi lampu L.2 yang menyala, maka jika S.3 dipindah ke posisi
yang lain maka hanya lampu L.3 yang menyala
d. Saat ada lampu yang menyala jika S.1 dikondisikan pada posisi off maka
lampu akan padam (tidak ada lampu yang bisa menyala).

KWH

3.

Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian


dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.

4.

Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik


dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.

5.

Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung laluL.1tutuplah kotak L.sambung
denganL.3petutupnya agar kelihatan rapih
2
serta sambungan kawat dapat terlindungi.

6.

Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukan pengecekan untuk


memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.S.

meter

Ph N PE

a. Bagan

S.2

S.3

Gambar : Instalasi Hubungan Kelder II

D. Gambar Kerja :
b. Pelaksanaan

55

JIS

IEC

56

57

E. Diagram Kerja :

F. Langkah Kerja :
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Periksakan gambar bagan yang telah dibuat kepada Instruktur.

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

4.

Pasanglah rangkaian pengawatan instalasi Hubungan Kelder II.

5.

Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat

6.

Operasikan instalasi dan amati kerjanya.

7.

Jika instalasi masih salah maka lakukan perbaikan hingga instalasi benar.

8.

Jika sudah benar dan sesuai cara kerjannya periksakan instalasi kepada
Instruktur untuk dicek kebenarannya.

G. K3 :
58

Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :


1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya
bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.
H. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian hubungan Kelder II, dan dapat memasangnya.

JOB X : Memasang Instalasi Hubungan Dalam Kamar Tidur


A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Hubungan Dalam Kamar Tidur.
Mampu memasang instalasi Hubungan Dalam Kamar Tidur..

59

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Sakelar Tukar 3 buah.
f. Kotak-kontak.
g. Fitting lampu.
h. lampu pijar 3 buah.
i. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
j. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1.

Instalasi ini biasa dipasang pada kamar tidur atau ruang belajar.

2.

Seperti gambar kerja dibawah, Lampu L.1/L.2 dapat dinyalakan/dimatikan oleh


S.1 dan S.2, sedang S.3 berfungsi untuk memilih salah satu lampu mana yang
dikehendaki menyala. Saat semua lampu padam maka S.3 tidak dapat
melayani/menghidupkan L.1 atau L.2
60

3.

Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian


dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.

4.

Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak

5.

sambung/kotak tarik dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.

6.

Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.

7.

Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukanlah pengecekan untuk


memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.

8.

Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja :

S.1

S.2

TEMPAT TIDUR

61

L.2

MEJA

L.1

BELAJAR

S.3

a. Bagan

Gambar 2.18 : Instalasi hubungan dalam kamar tidur

KWH
meter

L.1

Ph N PE

S.1

S.2

S.3

IEC

62

L.2

b. Pelaksanaan

E. Diagram Kerja :

F. Langkah Kerja :
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepada Instruktur.

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

63

4.

Pasanglah inbow doos serta roset pada papan sesuai job yang akan dikerjakan
selanjutnya pasanglah pengkawatan instalasi Hubungan Dalam Kamar Tidur.

5.

Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.

6.

Operasikan instalasi dan amati kerjanya.

7.

Jika instalasi masih salah, maka lakukan perbaikan hingga instalasi benar

8.

Periksakan instalasi kepada Instruktur untuk dicek kebenarannya.

H. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya
bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.
I. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar rangkaian hubungan
Kamar Tidur, dan dapat memasangnya.

JOB XI : Memasang Instalasi Hubungan Gelap I


A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Hubungan Gelap I
Mampu memasang instalasi Hubungan Gelap I
64

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tunggal.
f. Sakelar Tukar .
g. Kotak-kontak.
h. Fitting lampu.
i. lampu pijar 2 buah.
j. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
k. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1.

Instalasi Hubungan Gelap I biasa dipakai untuk instalasi penerangan di rumah


sakit supaya tidak mengganggu pasien yang sedang tidur.

2.

Prinsip kerja instalasi Hubungan Gelap I, pertama satu lampu menyala pada
tegangan penuh (terang), dan pada kondisi lain lampu terhubung seri satu sama
65

lain sehingga nyala redup. Seperti gambar kerja di bawah ini dapat dijelaskan
sbb :
a.Kondisi S.1 pada posisi tidak hubung maka semua lampu padam.
b.Kondisi S.1 pada posisi terhubung dan posisi tertentu dari S. 2 maka lampu L.1
nyala terang, sedang lampu L.2 padam.
c.Kondisi S.1 pada posisi hubung dan posisi yang lain dari S. 2 maka lampu L.1
dan L.2 nyala redup secara bersama-sama.
3.

Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian


dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.

4.

Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik


dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.

5.

Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.

6.

1
Sebelum mencoba rangkaian
dioperasikan,
L.untuk
L.2 lakukanlah pengecekan untuk
1
memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.

7.

TEMPAT
Jika merasa ada
yang TIDUR
kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
S.hal
2
kepada instruktur/pengawas praktek.

S.

KWH
meter

D. Gambar Kerja :

a. Bagan
L.1

Ph N PE
S.1

S.2

66

Gambar : Instalasi Hubungan Gelap I

L.2

b. Pelaksanaan

JIS

IEC

67

E. Langkah Kerja :
68

1. Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya buatlah
gambar pelaksanaannya.
2. Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepada Instruktur.
3. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.
4. Pasanglah inbow doos serta roset pada papan sesuai job yang akan dikerjakan
selanjutnya pasanglah pengawatan instalasi Hubungan Gelap I.
5. Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya benar dan
tidak ada kesalahan hubung singkat.
6. Operasikan instalasi dan amati kerjanya.
7. Jika instalasi masih salah, maka lakukan perbaikan hingga instalasi benar.
8. Periksakan instalasi kepada Instruktur untuk dicek kebenarannya.
F. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya
bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.
G. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami
rangkaian Hubungan Gelap I, dan dapat memasangnya.

JOB XII : Memasang Instalasi Hubungan Gelap II

69

gambar

A. Tujuan

Mampu membuat gambar pelaksanaan Hubungan Gelap II.

Mampu memasang instalasi Hubungan Gelap II.

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tunggal
f. Saklar Ganda.
g. Kotak-kontak.
h. Fitting lampu.
i. lampu pijar 3 buah.
j. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
k. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1

Instalasi Hubungan Gelap II biasa dipakai dalam kapal-kapal penumpang.

Prinsip kerja instalasi Hubungan Gelap II, pertama semua lampu menyala pada
tegangan penuh (terang), dan pada kondisi lain lampu terhubung seri satu sama
70

lain sehingga nyala redup. Seperti gambar kerja dibawah ini dapat dijelaskan
sbb :
a.

Kondisi S.1 pada posisi tidak hubung maka semua lampu padam.

b.

Kondisi S.1 pada posisi hubung dan posisi tertentu dari S.2 maka
semua lampu nyala terang.

c.

Kondisi S.1 pada posisi hubung dan posisi yang lain dari S.2 maka
semua lampu nyala redup

Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian


dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.

Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik


dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.

Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.

Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukanlah pengecekan untuk


memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.
7

Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja :

S.1
L.1

S.2
L.2

71

L.2

a. Bagan

JIS
KWH
meter

L.1

L.1

L.2

Ph N PE
S.1

S.2

Gambar : Instalasi Hubungan Gelap II

b. Pelaksanaan

IEC

72

E. Langkah Kerja :
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepada Instruktur.

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

4.

Pasanglah inbow doos serta roset pada papan sesuai job yang akan dikerjakan
selanjutnya pasanglah pengkawatan instalasi Hubungan Gelap II.

5.

Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.

6.

Operasikan instalasi dan amati kerjanya.

7.

Jika instalasi masih salah, maka lakukan perbaikan hingga instalasi benar.

8.

Periksakan instalasi kepada Instruktur untuk dicek kebenarannya.

F. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya
bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
73

4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.

G. Analisa :
Jika watt lampu berbeda maka tingkat keterangan lampu saat rangkaian seri pun akan
berbeda. Berdasarkan hukum ohm maka:
Diketahui :

Lampu L.1 = 25 watt


Lampu L.2 = 25 watt
Lampu L.3 = 40 watt
Tegangan sumber = 220 Volt

Maka :

= E/ = 220/5010 = 0.044 A

R1=

/P =

/25 = 1936

R1=

/P =

/25 = 1936

R1=

/P =

/40 = 1210

V1 = I.R1 = 0.044. 1936 = 85.184 Volt


V2 = I.R2 = 0.044. 1936 = 85.184 Volt
V3= I.R3 = 0.044. 1210 = 53.25 Volt

Jadi tegangan yang masuk ke Lampu L.3 lebih kecil dibandingkan L.1 dan L.2, sehingga
lampu L.3 lebih redup dibanding kedua lampu lainya.
H. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar rangkaian
Hubungan Gelap II, dan dapat memasangnya

JOB XIII : Memasang Instalasi Hubungan Pemeriksa


74

A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Hubungan Pemeriksa
Mampu memasang instalasi Hubungan Pemeriksa

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tunggal
f. Saklar Ganda 2 buah.
g. Saklar tukar.
h. Kotak-kontak.
i. Fitting lampu.
j. lampu pijar 3 buah.
k. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
l. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1

Instalasi Hubungan Pemeriksa dapat dipakai pada asrama-asrama sekolah.


Melalui ruang tertentu (ruang penjaga) kita dapat mengecek apakah semua
75

lampu padam pada waktu yang ditentukan, selain itu untuk memeriksa apakah
kita lupa memadamkan lampu.
2

Dari gambar rangkaian pertama di bawah dapat diterangkan

prinsip kerjanya sbb :


a.

b.

Sakelar S.2 untuk mengoperasikan L.2 dan sakelar S.3 untuk


mengoperasikan lampu L.3.
Sakelar S.1 dipakai untuk mengecek apakah lampu di tiap-tiap kamar
(L.2 / L.3) ada yang menyala. Lampu L. 1 hanya akan menyala jika S.1 pada
posisi hubung dan ada lampu kamar (L.2/ L.3) yang menyala.

Dari rangkaian kedua dapat diterangkan:


a. Sakelar S.2 bekerja maka lampu L.3 menyala dan lampu L.1 da[pat
dinyalakan.
b. Saklar S.3 bekerja maka Lampu L.4 menyala dan lampu L.2 dapat
dinyalakan.
c. Saat S.2 dan S.3 kontak maka Lampu L.3 dan L.4 menyala dan salah satu
antara lampu L.1 dan L.2 menyala.

Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian


dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.

Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik


dan tidak boleh dilakukan
di dalam pipa.
L.1
L.2
L.3

Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya,
berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
KWH
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplahSkotak
sambungSdengan
petutupnya agar
S3kelihatan rapih
1
2
serta sambungan kawat dapat terlindungi.

Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukanlah pengecekan untuk


memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
Diagram Satu Garis
singkat.

Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

KWH
meter

D. Gambar Kerja :
RUANG PENJAGA

ASRAMA

L.1

L.2

ASRAMA

L.3

a. Bagan
P N PE

76

S.1

S.2

S.3 Pertama
Rangkaian

b. Pelaksanaan

KWH
meter

P N PE

Rangkaian Kedua

77

Gambar : Instalasi Hubungan Pemeriksa

b. Pelaksanaan

E. Langkah Kerja :
1.

Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.

2.

Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepada Instruktur.

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

4.

Pasanglah inbow doos serta roset pada papan sesuai job yang akan dikerjakan
selanjutnya pasanglah pengkawatan instalasi Hubungan Pemeriksa.

5.

Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.

6.

Operasikan instalasi dan amati kerjanya.

7.

Jika instalasi masih salah, maka lakukan perbaikan hingga instalasi benar.

8.

Periksakan instalasi kepada Instruktur untuk dicek kebenarannya.

9.

Periksakan instalasi kepada Instruktur untuk dicek kebenarannya.

F. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
78

2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya


bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.
G. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian Hubungan Pemeriksa, dan dapat memasangnya.

JOB XIV : Memasang Instalasi Ruangan Besar


A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Hubungan Ruangan Besar
Mampu memasang instalasi Hubungan Ruangan Besar

B. Alat dan Bahan


79

1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tukar tiga buah.
f. Kotak-kontak.
g. Fitting lampu.
h. lampu pijar 4 buah.
i. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
j. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1. Instalasi Hubungan Ruang besar biasanya digunakan di ruangan yang besar
seperti aula, pendopo, dll.
2. Dari gambar rangkaian pertama di bawah dapat diterangkan prinsip kerjanya
sbb :
a.

Saklar S.1 pada posisi awal maka L.1 dn L.2 menyala.


80

Saklar S.2 dan S.3 digunakan untuk mengoperasikan L.3 dan L.4.
Saat posisi lain dari S.1 Maka Keempat lampu dapat dioperasikan
c.
dari S.2 dan S.3.
3. Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian
dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.
b.

4. Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik


dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.
5. Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.
6. Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukanlah pengecekan untuk
memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.
7. Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja :

L.2

81
KWH

S.1

S.2

S.3

L.1

L.3

L.4

a. Bagan

JIS

KWH
mete
r

P N P
h
E

Gambar : Instalasi Ruangan Besar

b. Pelaksanaan

82

E. Langkah Kerja :
1. Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.
2.

Periksakan gambar bagan yang telah saudara buat kepada Instruktur

3.

Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.

4.

Pasangkan inbow doos serta roset sesuai kebutuhan instalasi ruangan besar.

5.

Pasang pengkawatan instalasi Hubungan Kelder I dengan beban 4 buah lampu


pijar .

6.

Lakukan pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya


benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.

7.

Operasikan instalasi dan amati kerjanya, jika instalasi masih salah, maka
perbaikilah hingga instalasi benar.

8.

Periksakan instalasi kepada Instruktur untuk dicek kebenarannya.

F. K3 :
83

Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :


1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya
bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.
G. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian Instalasi Ruangan Besar, dan dapat memasangnya.

JOB XV : Memasang Instalasi Hubungan Bank I

84

A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Instalasi Bank 1.
Mampu memasang instalasi Bank 1.

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tukar 2 buah.
f. Kotak-kontak.
g. Fitting lampu.
h. lampu pijar 4 buah.
i. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
j. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1. Instalasi ini biasa dipasang di bank.
2. Dari gambar rangkaian pertama di bawah dapat diterangkan prinsip kerjanya
sbb :
85

1. Saklar S.1 digunakan ontuk mengoperasikan lampu L.1 sedang saklar


S.2 digunakan untuk mengoperasikan lampu L.2 , L.3 dan L.4.
2. Pada posisi tertentu dari S.1 maka lampu L.1 padam. Pada posisi ini
lampu L.2, L.3 dan L.4 dapat di operasikan oleh S.2 .
3. Pada posisi lain dari S.1 maka lampu L.1 menyala begitu juga dengan
lampu L.2, L.3 dan L.4 ikut menyala dan tidak dapat dimatikan dari S.2.
3. Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian
dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.
4. Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik
dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.
5. Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.
6. Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukanlah pengecekan untuk
memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.
7. Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja :

L.2

L.1

L.3

L.4

86
KWH

S.1

S.2

Diagram Satu Garis

a. Bagan

KWH
meter

Ph N PE

Diagram Pengawatan

b. Pelaksanaan

IEC

87

E. Langkah Kerja :
1. Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.
2. Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepa Instruktur.
3. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.
4. Pasanglah inbow doos serta roset pada papan kerja sesuai job yang akan
dikerjakan.
5. Lakukanlah pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya
benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat sebelum dihubung pada sumber
tegangan
6. Operasikan instalasi dengan dihubungkan pada sumber tegangan, dan amati
kerjanya apakah sudah benar atau masih terdapat kesalahan.
7. Jika instalasi masih terdapat kesalahan maka lakukan perbaikan hingga benar
8. Periksakan instalasi kepada instruktur setelah merasa yakin sudah benar

F. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
88

2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya


bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.
G. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian Instalasi Hubungan Bank I, dan dapat memasangnya.

JOB XVI : Memasang Instalasi Hubungan Bank II

A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Instalasi Bank 2.
Mampu memasang instalasi Bank 2.
89

B. Alat dan Bahan


1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar tukar 3 buah.
f. Saklar silang 2 buah.
g. Kotak-kontak.
h. Fitting lampu.
i. lampu pijar 4 buah.
j. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
k. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1. Instalasi ini biasa dipasang di bank.
2. Dari gambar rangkaian pertama di bawah dapat diterangkan prinsip kerjanya
sbb :
90

a. Saklar S.1 dan S.2 dipakai untuk mengoperasikan lampu L.1 dan sakelar
S.3, S.4 dan S.5 untuk mengoperasikan L.2, L.3 dan L.4.
b. Pada posisi tertentu dari S.1 dan S.2 dan lampu L.1 padam. Pada posisi
ini lampu L.2 dapat dioperasikan dari S.3, S.4 dan S.5.
c. Pada posisi lain dari S.1 dan S.2 Lampu L.1 menyala dan otomatis L2,
L.3 dan L.4 ikut menyala dan tidak dapat dimatikan dari S.3, S.4 dan
S.5.
3. Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian
dengan sumber tegangan sebelum memulai pekerjaan.
4. Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik
dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.
5. Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.
6. Sebelum mencoba rangkaian untuk dioperasikan lakukanlah pengecekan untuk
memastikan bahwa instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung
singkat.
7. Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja :

L.1

L.2

L.3

L.4

91
KWH

S.1

S.2

S.3

S.4

S.4

Diagram Satu Garis (tidak dapat memenuhi instruksi)

a. Bagan

JIS

L.1

KWH

S.1

S.2

L.2

S.3

S.4

L.3

L.4

S.4

Diagram Satu Garis (ralat)

KWH
mete
r

a. Bagan

P N P
h
E

Diagram Pengawatan

IEC

Gambar : Instalasi hubungan bank 2

92

b. Pelaksanaan

E. Langkah Kerja :
1. Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.
2. Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepa Instruktur.
3. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.
4. Pasanglah inbow doos serta roset pada papan kerja sesuai job yang akan
dikerjakan.
5. Lakukanlah pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya
benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat sebelum dihubung pada sumber
tegangan
6. Operasikan instalasi dengan dihubungkan pada sumber tegangan, dan amati
kerjanya apakah sudah benar atau masih terdapat kesalahan.
7. Jika instalasi masih terdapat kesalahan maka lakukan perbaikan hingga benar
8. Periksakan instalasi kepada instruktur setelah merasa yakin sudah benar.

F. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
7. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
93

8. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya


bagi si pengguna.
9. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
10. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
11. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
12. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari
mata agar tidak melukai mata.
G. Analisa
Pada instruksi pertama digunakan saklar tukar pada S.3, namun setelah pengujian rangkaian tidak
dapat memenuhi deskripsi kerja. Sehingga perlu dilakukan ralat pada saklar S.3 yang awalnya
menggunakan saklar tukar diganti menjadi saklar silang agar dapat memenuhi deskripsi kerja
diatas.
H. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian Instalasi Hubungan Bank II, dan dapat memasangnya.

JOB XVII : Memasang Instalasi Hubungan Bank III


A. Tujuan
Mampu membuat gambar pelaksanaan Instalasi Bank 3.
Mampu memasang instalasi Bank 3.

B. Alat dan Bahan


94

1. Alat :
a. Obeng (-) dan (+).
b. Tang potong, tang buaya, tang kombinasi.
c. Tang mata itik.
2. Bahan:
a. Inbow doos.
b. Roset.
c. Paku sekerup.
d. Lasdop.
e. Saklar silang.
f. Saklar tunggal 2 buah.
g. Saklar tukar 2 buah.
h. Kotak-kontak.
i. Fitting lampu.
j. lampu pijar 4 buah.
k. Kabel NYA 2,5 mm2 hitam, biru dan loreng hijau-kuning.
l. Kabel NYM 3 x 2,5 mm2 .

C. Keterangan :
1. Instalasi ini biasa dipasang pada pada Bank.
2. Dari gambar rangkaian pertama di bawah dapat diterangkan prinsip kerjanya sbb :
1. Saklar S.1 dipakai sebagai pengunci. Jika S.1 off maka semua lampu tidak
dapat dioperasikan. Jika S.1 on lampu dapat doperasikan.
95

2. Saklar S.1 dan S.2 pada posisi on maka semua lampu menyala dan tidak
dapat dimatikan dari S.3, S.4 dan S.5.
3. Saklar S.1 pada posisi on dan S.2 pada posisi off maka lampu dapat
dioperasikan dari S.3, S.4 dan S.5.
3. Jangan bekerja pada instalasi yang bertegangan listrik. Putuskan rangkaian
dengan sumber tegangan sebelum saudara memulai pekerjaan.
4. Sambungan kawat hanya boleh dilakukan di dalam kotak sambung/kotak tarik
dan tidak boleh dilakukan di dalam pipa.
5. Kawat yang akan disambung pada kotak sambung jangan terlalu pendek
memotongnya, berilah spare/cadangan secukupnya. Setelah kawat disambung
maka tutuplah dengan lasdop dan tempatkan secara melingkar ke dalam kotak
sambung lalu tutuplah kotak sambung dengan petutupnya agar kelihatan rapih
serta sambungan kawat dapat terlindungi.
6. Setelah selesai memasang instalasi lakukan pengecekan untuk memastikan bahwa
instalasi sudah benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat.
7. Jika merasa ada hal yang kurang jelas tentang pekerjaan ini maka konsultasikan
kepada instruktur/pengawas praktek.

D. Gambar Kerja :

L.1

KWH

S.1

S.2

S.3

96

S.4

L.2

L.3

S.4

Diagram Satu Garis

a. Bagan

JIS
KWH
meter

Ph N PE

Diagram Pengawatan

Gambar : Instalasi hubungan bank 3

b. Pelaksanaan

97

E. Langkah Kerja :
1. Bacalah gambar bagan instalasi pada gambar kerja dengan seksama selanjutnya
buatlah gambar pelaksanaannya.
2. Periksakan gambar pelaksanaan yang telah dibuat kepada Instruktur.
3. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan melalui prosedur yang telah
ditentukan.
4. Pasanglah inbow doos serta roset pada papan kerja sesuai job yang akan
dikerjakan.
5. Lakukanlah pengecekan pada instalasi untuk memastikan bahwa hubungannya
benar dan tidak ada kesalahan hubung singkat sebelum dihubung pada sumber
tegangan
6. Operasikan instalasi dengan dihubungkan pada sumber tegangan, dan amati
kerjanya apakah sudah benar atau masih terdapat kesalahan.
7. Jika instalasi masih terdapat kesalahan maka lakukan perbaikan hingga benar
8. Periksakan instalasi kepada instruktur setelah merasa yakin sudah benar.

F. K3 :
Sebelum melakukan praktek, hal yang harus diperhatikan adalah :
98

1. Hitunglah jumlah alat saat ingin dipakai dan setelah dipakai agar
tidak terjadi kehilangan.
2. Memastikan alat dan bahan yang digunakan aman/ tidak berbahaya
bagi si pengguna.
3. Saat memakai pipa instalasi, pastikan ujung pipa telah dihaluskan
agar tidak melukai si pengguna.
4. Saat memasang rangkaian, pastikan tidak ada arus agar tidak
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada si pengguna.
5. Saat memegang alat jangan sampai melukai jari atau terjatuh
sehingga melukai pengguna.
6. Saat mengupas isolasi dan tembaganya, diusahakan jauh dari mata
agar tidak melukai mata.
G. Kesimpulan :
Setelah melakukan praktek ini, saya dapat memahami gambar
rangkaian Instalasi Hubungan Bank III, dan dapat memasangnya.

BAB IV
PENUTUP
99

4.1 Kesimpulan
Setelah pekerjaan pada instalasi listrik selesai dan mengetahui dasar dari instalasi
listrik tersebut, selama didalam instalasi listrik para mahasiswa mendapatkan ketermpilan
dasar tentang instalasi listrik itu sendiri dan dapat mengaplikasikannya secara langsung pada
suasana kerja yang menyerupai lapangan kerja.Mahasiswa ditanamkan rasa tanggung jawab,
ulet, gigih dan pantang menyerah dalam bekerja. Sehingga mendapatkan hasil pekerjaan
yang maksimal. Dan dari pengalaman itulah dibuat suatu laporan hasil kerja selama didalam
bengkel instalasi.
Praktek kerja pada instalasi listrik, seperti memasang kabel, memasang lampu, dll,
merupakan praktek instalasi yang biasa dilakukan sehari-harinya dan juga banyak dilakukan
pada lapangan pekerjaan. Untuk itulah perlu adanya pelatihan, agar menjadi terbiasa dan
dapat membentuk keahlian di dalam penggunaan alat-alat kerja instalasi listrik.
4.2 Saran
1.

Dalam hal pratek, harus memperhatikan K3, agar tidak

terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


2.

Perhatikan dengan seksama instruktur/dosen, ketika sedang


menyampaikan teori atau mempraktikan sesuatu bentuk kerja.

3.

Perhatikan job sheet dan fokus terhadap benda kerja.

4.

Gunakanlah alat-alat kerja dengan benar dan tepat sesuai


dengan fungsi alat kerja tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://irmanduniakelistrikan.blogspot.com/2012/04/sejarah-puil.html

100

http://cv-nusantarateknik.blogspot.com/2010/10/tujuan-dean-ketentuan-umuminstalasi.html

http://hendik-jitu.blogspot.com/

http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/19740716200112
1-HASBULLAH/INSTALASI_LISTRIK/KOMPONEN_INSTALASI_LISTRIK.pdf

http://id.scribd.com/doc/216290516/Puil-2000

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabel

http://id.wikipedia.org/wiki/Stop_kontak

http://riochandra42.blogspot.com/2010/10/phb-perangkat-hubung-bagi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Fiting

http://id.wikipedia.org/wiki/Sekering

http://id.wikipedia.org/wiki/Sakelar

101