Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PTERIGIUM
1.

DEFINISI
Menurut Ivan R. Schwab dan Chandler R. Dawson (1995) dalam General

Ophthalmology, pterygium merupakan suatu pelanggaran batas suatu pinguicula


berbentuk segitiga berdaging ke kornea, umumnya di sisi nasal, secara bilateral.
Sedangkan menurut Sidharta Ilyas, Pterygium merupakan suatu pertumbuhan
fibrovaskular konjungtiva yang bersifat invasif dan degeneratif. Pertumbuhan ini
biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal maupun temporal konjungtiva
yang meluas ke daerah kornea. Pterygium berbentuk segitiga dengan puncak di
bagian sentral atau di daerah kornea.
Asal kata pterygium dari bahasa Yunani, yaitu pteron yang artinya wing atau
sayap. Hal ini mengacu pada pertumbuhan pterygium yang berbentuk sayap pada
konjungtiva bulbi.

Mata dengan pterygium


2. EPIDEMIOLOGI
Kasus pterygium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi,
tergantung pada lokasi geografisnya, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas
dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator.
Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan kering.
Di Indonesia yang melintas di bawah garis khatuliswa, kasus-kasus
pterygium cukup sering didapati. Apalagi karena faktor risikonya adalah paparan

sinar matahari (UVA & UVB), dan bisa dipengaruhi juga oleh paparan alergen,
iritasi berulang (misal karena debu atau kekeringan).
Insiden tertinggi pterygium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20
49 tahun. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterygium. Rekuren lebih
sering terjadi pada pasien yang usia muda dibandingkan dengan pasien usia tua.
Laki-laki lebih beresiko 4 kali daripada perempuan.
3. FAKTOR RESIKO
Faktor resiko yang mempengaruhi pterygium adalah lingkungan yakni radiasi
ultraviolet sinar matahari, iritasi kronik dari bahan tertentu di udara dan faktor
herediter .
1. Radiasi ultraviolet
Faktor resiko lingkungan yang utama timbulnya pterygium adalah paparan
sinar matahari. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan konjungtiva
menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Letak lintang, lamanya
waktu di luar rumah, penggunaan kacamata dan topi juga merupakan
faktor penting
2. Faktor Genetik
Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan
pterygium dan berdasarkan penelitian case control menunjukkan riwayat
keluarga dengan pterygium, kemungkinan diturunkan secara autosom
dominan.
3 . Faktor lain.
Iritasi kronik atau inflamasi terjadi pada area limbus atau perifer kornea
merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya
limbal defisiensi, dan saat ini merupakan teori baru patogenesis dari
pterygium. Yang juga menunjukkan adanya pterygium angiogenesis
factor dan penggunaan farmakoterapi antiangiogenesis sebagai terapi.
Debu, kelembapan yang rendah, dan trauma kecil dari bahan partikel
tertentu, dry eye dan virus papilloma juga penyebab dari pterygium.

4.

PATOFISIOLOGI
Etiologi pterygium tidak diketahui dengan jelas. Karena penyakit ini lebih

sering pada orang yang tinggal di daerah beriklim panas, maka gambaran yang
paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor
lingkungan seperti paparan terhadap sinar ultraviolet dari matahari, daerah kering,
inflamasi, daerah angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. Diduga
pelbagai faktor risiko tersebut menyebabkan terjadinya degenerasi elastis jaringan
kolagen dan proliferasi fibrovaskular. Dan progresivitasnya diduga merupakan
hasil dari kelainan lapisan Bowman kornea. Beberapa studi menunjukkan adanya
predisposisi genetik untuk kondisi ini.
Teori lain menyebutkan bahwa patofisiologi pterygium ditandai dengan
degenerasi elastik kolagen dan proliferasi fibrovaskular dengan permukaan yang
menutupi epitel. Hal ini disebabkan karena struktur konjungtiva bulbi yang selalu
berhubungan dengan dunia luar dan secara intensif kontak dengan ultraviolet dan
debu sehingga sering mengalami kekeringan yang mengakibatkan terjadinya
penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi sampai menjalar ke kornea. Selain
itu, pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang disebabkan kelainan tear
film menimbulkan fibroplastik baru. Tingginya insiden pterygium pada daerah
beriklim kering mendukung teori ini.
Teori terbaru pterygium menyatakan kerusakan limbal stem cell di daerah
interpalpebra akibat sinar ultraviolet. Limbal stem cell merupakan sumber
regenarasi epitel kornea dan sinar ultraviolet menjadi mutagen untuk p53 tumor
supressor gene pada limbal stem cell. Tanpa apoptosis, transforming growth
factor-beta diproduksi dalam jumlah berlebihan dan meningkatkan proses
kolagenase sehingga sel-sel bermigrasi dan terjadi angiogenesis. Akibatnya,
terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial
fibrovaskular. Pada jaringan subkonjungtiva terjadi perubahan degenerasi elastik
dan proliferasi jaringan vaskular di bawah epitelium yang kemudian menembus
kornea. Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan membran Bowman oleh
pertumbuhan jaringan fibrovaskular yang sering disertai inflamasi ringan. Epitel
dapat normal, tebal, atau tipis dan kadang terjadi displasia. Pada keadaan
3

defisiensi limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada


permukaan kornea.
Pemisahan fibroblast dari jaringan pterygium menunjukkan perubahan
phenotype, yaitu lapisan fibroblast mengalami proliferasi sel yang berlebihan.
Pada fibroblast pterygium menunjukkan matriks metalloproteinase, yaitu matriks
ekstraselular

yang

berfungsi

untuk

memperbaiki

jaringan

yang

rusak,

penyembuhan luka, dan mengubah bentuk. Hal ini menjelaskan penyebab


pterygium cenderung terus tumbuh dan berinvasi ke stroma kornea sehingga
terjadi reaksi fibrovaskular dan inflamasi.
5.

KLASIFIKASI

Pterygium dibagi menjadi tiga bagian yaitu :


Body, bagian segitiga yang meninggi pada pterygium dengan dasarnya
ke arah kantus
Apex (head), bagian atas pterygium
Cap, bagian belakang pterygium
A subepithelial cap atau halo timbul pada tengah apex dan membentuk
batas pinggir pterygium.

Apex
Body
Cap

Pterigyum terbagi berdasarkan perjalanan penyakit menjadi 2 tipe, yaitu :


- Progressif pterygium

: memiliki gambaran tebal dan vascular dengan


beberapa infiltrat di kornea di depan kepala
pterygium

- Regressif pterygium

: dengan

gambaran

tipis,

atrofi,

sedikit

vaskularisasi, membentuk membran tetapi


tidak pernah hilang
Pterygium juga dibagi dalam 4 derajat yaitu :
1. Derajat 1

: Jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea

2. Derajat 2

: Jika pterygium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak


lebih dari 2 mm melewati kornea

3. Derajat 3

: Jika pterygium sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak


melebihi pinggiran pupil mata, dalam keadaan cahaya
normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3 4 mm)

4. Derajat 4

: Jika pertumbuhan pterygium sudah melewati pupil


sehingga mengganggu penglihatan.

Pterigium stadium 1

Pterigium stadium 2

Pterigium stadium 3

Pterigium stadium 4

Pembagian lain pterygium, yaitu :


Tipe 1 : Meluas kurang dari 2 mm di atas kornea. Timbunan besi
(ditunjukkan dengan Stockers line) dapat terlihat di epitel
kornea bagian anterior/depan pterygium. Lesi/jejas ini
asimtomatis, meskipun sebentar-sebentar dapat meradang
(intermittently inflamed). Jika memakai soft contact lens,
gejala dapat timbul lebih awal karena diameter lensa yang
luas bersandar pada ujung kepala pterygium yang sedikit
naik/terangkat dan ini dapat menyebabkan iritasi.
Tipe 2 : Melebar hingga 4 mm dari kornea, dapat kambuh (recurrent)
sehingga perlu tindakan pembedahan. Dapat mengganggu
precorneal tear film dan menyebabkan astigmatisme.
Tipe 3 : Meluas hingga lebih dari 4 mm dan melibatkan daerah
penglihatan (visual axis). Lesi/jejas yang luas (extensive), jika
kambuh, dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva
dan meluas hingga ke fornik yang terkadang dapat
menyebabkan keterbatasan pergerakan mata.

Perbedaan pterygium dan pinguecula serta klasifikasi pterygium


6.

MANIFESTASI KLINIK
Pterygium biasanya terjadi secara bilateral, namun jarang terlihat simetris,

karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk kontak dengan
sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Kira-kira 90% terletak di daerah nasal
karena daerah nasal konjungtiva secara relatif mendapat sinar ultraviolet yang
lebih banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain. Selain secara
langsung, bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet secara tidak
langsung akibat pantulan dari hidung.
Pterygium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi secara bersamaan
walaupun pterygium di daerah temporal jarang ditemukan. Perluasan pterygium
dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu penglihatan
dan menyebabkan penglihatan kabur.
Secara klinis muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva
yang meluas ke kornea pada daerah fissura interpalpebra. Biasanya pada bagian
nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian temporal. Deposit besi dapat dijumpai
pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterygium (stokers line).
Gejala klinis pterygium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa
keluhan sama sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien
antara lain:

- mata sering berair dan tampak merah


- merasa seperti ada benda asing
- timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterygium
- pada pterygium derajat 3 dan 4 dapat terjadi penurunan tajam
penglihatan.
- Dapat terjadi diplopia sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan
mata.
7.

DIAGNOSIS

Anamnesis
Pada anamnnesis didapatkan adanya keluhan pasien seperti mata merah, gatal,
mata sering berair, ganguan penglihatan. Selain itu perlu juga ditanyakan adanya
riwayat mata merah berulang, riwayat banyak bekerja di luar ruangan pada daerah
dengan pajanan sinar mathari yang tinggi, serta dapat pula ditanyakan riwayat
trauma sebelumnya.
Pemeriksaaan fisik
Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada permukaan
konjuntiva. Pterigium dapat memberikan gambaran yang vaskular dan tebal tetapi
ada juga pterigium yang avaskuler dan flat. Perigium paling sering ditemukan
pada konjungtiva nasal dan berekstensi ke kornea nasal, tetapi dapt pula
ditemukan pterigium pada daerah temporal.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah topografi
kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa astigmtisme ireguler
yang disebabkan oleh pterigium.
8.

PENATALAKSANAAN
1. Konservatif

Penanganan pterigium pada tahap awal adalah berupa tindakann konservatif


seperti penyuluhan pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar
ultraviolet dengan menggunakan kacamata anti UV dan pemberian air mata

buatan/topical lubricating drops. Untuk pterygium derajat 1-2 yang mengalami


inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid
3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid
tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau
mengalami kelainan pada kornea.
2. Tindakan Operatif
Pada pterygium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterygium.
Sedapat mungkin setelah avulsi pterygium maka bagian konjungtiva bekas
pterygium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari
konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama
pengangkatan pterigyum yaitu memberikan hasil yang baik secara kosmetik,
mengupayakan komplikasi seminimal mungkin, angka kekambuhan yang rendah.
Penggunaan Mitomycin-C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterygium yang
rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.
Indikasi Operasi
-

Pterygium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus

Pterygium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil

Pterygium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau
karena astigmatismus

Kosmetik, terutama untuk penderita wanita

Teknik Pembedahan
Pada prinsipnya, tatalaksana pterigium adalah dengan tindakan operasi. Tantangan
utama dari terapi pembedahan pterygium adalah kekambuhan, dibuktikan dengan
pertumbuhan fibrovaskular di limbus ke kornea. Banyak teknik bedah telah
digunakan, meskipun tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat
kekambuhan yang variabel.

Terlepas dari teknik yang digunakan, eksisi

pteryigium adalah langkah pertama untuk perbaikan. Banyak dokter mata lebih
memilih untuk memisahkan ujung pterygium dari kornea yang mendasarinya.
Keuntungan termasuk epitelisasi yang lebih cepat, jaringan parut yang minimal

dan halus dari permukaan kornea. Teknik lain yang bisa digunakan pada
pembedahan pterygium, yaitu :
a. Teknik Bare Sclera
Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium, sementara memungkinkan sklera
untuk epitelisasi. Bertujuan untuk menyatukan kembali konjungtiva dengan
permukaan sclera. Tingkat kekambuhan tinggi, antara 40 75 %, telah
didokumentasikan dalam berbagai laporan.
b. Teknik Autograft Conjungtiva
Memiliki tingkat kekambuhan antara 2 40 % pada beberapa studi prospektif.
Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft, biasanya dari konjungtiva bulbi
bagian superior, dieksisi sesuai dengan ukuran luka kemudian dipindahkan dan
dijahit atau difiksasi dengan bahan perekat jaringan (misalnya Tisseel VH, Baxter
Healthcare, Dearfield, Illionis). Komplikasi jarang terjadi, dan untuk hasil yang
optimal ditekankan pentingnya pembedahan secara hati-hati jaringan Tenon's dari
graft conjungtiva penerima, manipulasi minimal jaringan dan orientasi akurat dari
graft tersebut. Lawrence W. Hirst dari Australia merekomendasikan penggunaan
sayatan besar untuk eksisi pterygium dan telah dilaporkan angka kekambuhan
sangat rendah dengan teknik ini.

10

c. Cangkok Membran Amnion


Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah
kekambuhan pterygium. Meskipun keuntungkan dari penggunaan membran
amnion ini belum teridentifikasi, sebagian besar peneliti telah menyatakan bahwa
membran amnion berisi faktor penting untuk menghambat peradangan dan
fibrosis dan epitelialisasi. Sayangnya, tingkat kekambuhan sangat beragam pada
studi yang ada, antara 2,6 -10,7 % untuk pterygia primer dan 37,5 % untuk
kekambuhan pterygia. Sebuah keuntungan dari teknik ini yaitu selama autograft
konjungtiva terjadi regenerasi bulbar konjungtiva. Membran Amnion biasanya
ditempatkan di atas sklera, dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma
menghadap ke bawah. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan
lem fibrin untuk membantu cangkok membran amnion menempel jaringan
episkleral dibawahnya. Lem fibrin juga telah digunakan dalam autografts
conjungtiva.
3. Terapi Tambahan
Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi masalah,
sehingga terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan pterygia. Studi

11

telah menunjukkan bahwa tingkat rekurensi telah cukup menurun dengan


penambahan terapi ini, namun ada komplikasi dari terapi tersebut.
MMC
MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena kemampuannya
untuk menghambat fibroblas. Efeknya mirip dengan iradiasi beta. Namun, dosis
minimal yang aman dan efektif belum ditentukan. Dua bentuk MMC yang saat ini
digunakan adalah aplikasi intraoperative MMC langsung ke sklera setelah eksisi
pterygium,

dan

penggunaan

obat

tetes

mata

MMC

topikal

setelah

operasi. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya


intraoperatif untuk mengurangi toksisitas.
Beta Iradiasi
Digunakan untuk menghambat mitosis pada sel dengan cepat dari pterygium,
meskipun tidak ada data yang jelas dari angka kekambuhan
tersedia. Namun,

efek

buruk

dari

radiasi

termasuk

nekrosis

yang
sklera,

endophthalmitis dan pembentukan katarak, telah mendorong dokter untuk tidak


merekomendasikan

terhadap

penggunaannya.

Untuk

mencegah

terjadi

kekambuhan setelah operasi, maka penggunaannya dikombinasikan dengan


pemberian :
- Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5
hari, bersamaan dengan pemberian dexamethasone 0,1% 4x1
tetes/hari kemudian tappering off sampai 6 minggu.
- Mitomycin C 0,04% (o,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari,
diberikan bersamaan dengan salep mata dexamethasone.
9. KOMPLIKASI
Komplikasi dari pterygium meliputi sebagai berikut:
- Gangguan penglihatan
- Mata kemerahan
- Iritasi

12

- Gangguan pergerakan bola mata.


- Timbul jaringan parut kronis pada konjungtiva dan kornea
- Pada pasien yang belum di eksisi terjadi distorsi dan penglihatan sentral
berkurang
- Timbul jaringan parut pada otot rektus medial yang dapat menyebabkan
diplopia
- Dry Eye sindrom
- Keganasan epitel pada jaringan epitel di atas pterygium
Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut:
- Rekurensi
- Infeksi
- Perforasi korneosklera
- Jahitan graft terbuka hingga terjadi pembengkakkan dan perdarahan
- Korneoscleral dellen
- Granuloma konjungtiva
- Epithelial inclusion cysts
- Conjungtiva scar
- Adanya jaringan parut di kornea
- Disinsersi otot rektus
Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigyum adalah kekambuhan.
Eksisi bedah memiliki angka kekambuhan yang tinggi, sekitar 50-80%.
Angka ini bisa dikurangi sekitar 5-15% dengan penggunaan autograft dari
konjungtiva atau transplantasi membran amnion pada saat eksisi.
10. DIAGNOSIS BANDING
Secara klinis pterygium dapat dibedakan dengan dua keadaan yang sama
yaitu pinguecula dan pseudopterygium.
A. Pinguecula

13

Pinguecula adalah selaput kekuningan yang merupakan penumpukan


lemak pada konjungtiva mata (terlihat pada bagian mata yang berwarna
putih), di sisi kiri maupun kanan dari bagian hitam mata. Bentuknya kecil
dan meninggi, merupakan massa kekuningan berbatasan dengan limbus
pada konjungtiva bulbi di fissura intrapalpebra dan kadang terinflamasi.
Tindakan eksisi tidak diindikasikan pada kelainan ini. Prevalensi dan
insiden meningkat dengan meningkatnya umur. Pingecuela sering pada
iklim sedang dan iklim tropis. Angka kejadian sama pada laki laki dan
perempuan. Pinguekula dibedakan dengan pterigium menggunakan slit
lamp. Pinguekula hanya sebatas limbus dan konjungtiva. Pinguekula tidak
mencapai kornea.
B. Pseudopterygium
Pertumbuhannya mirip dengan pterygium karena membentuk sudut miring
atau Terriens marginal degeneration. Selain itu, jaringan parut
fibrovaskular yang timbul pada konjungtiva bulbi pun menuju kornea.
Namun berbeda dengan pterygium, pseudopterygium merupakan akibat
inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti pada trauma, trauma
kimia, konjungtivitis sikatrik, trauma bedah atau ulkus perifer kornea.
Pseudopterigium dapat diselipkan sonde (muscle hook) di bawahnya.
Sedangkan pterigium tidak. Pada pseudopteyigium tidak didapat bagian
head, cap dan body dan pseudopterygium cenderung keluar dari ruang
interpalpebra fissure yang berbeda dengan true pterigium.
11. PROGNOSIS
14

Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Rasa tidak
nyaman pada hari pertama postoperasi dapat ditoleransi. Sebagian besar
pasien dapat beraktivitas kembali setelah 48 jam postoperasi. Pasien
dengan rekuren pterygium dapat dilakukan eksisi ulang dengan
conjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion. Umumnya
rekurensi terjadi pada 3-6 bulan pertama setelah operasi. Pasien dengan
resiko tinggi timbulnya pterygium seperti riwayat keluarga atau karena
terpapar sinar matahari yang lama dianjurkan memakai kacamata sunblock
dan mengurangi intensitas terpapar sinar matahari.

BAB II
STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. M

Umur

: 42 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Status

: Menikah

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Tanggal masuk

: 12 Juli 2016

No CM

: 0059xx

II. SUBYEKTIF
Autoanamnesis tanggal 12 Juli 2016

15

Keluhan Utama
Mata sebelah kiri terasa ada yang mengganjal sejak 2 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan mata sebelah kiri terasa ada yang
mengganjal sejak 2 tahun yang lalu. Terdapat selaput pada mata kiri, selaput
ini berbentuk segitiga. Pada awalnya, pasien mengatakan munculnya selaput
ini tidak mengenai bagian hitam mata, lalu selaput yang tumbuh ini semakin
menjalar ke bagian hitam mata pasien. Keluhan mata merah dan terasa kering
diakui hilang timbul dengan sendirinya. Pasien pernah berkonsultasi dengan
dokter mata dan dianjurkan untuk operasi. Keluhan mata gatal dan keluarnya
kotoran mata yang banyak disangkal. Rasa nyeri dan bengkak disangkal.
Gangguan pada penglihatan juga disangkal oleh pasien. Keluhan pandangan
menjadi kabur, berbayang ataupun berkabut disangkal.
Riwayat trauma pada mata disangkal. Riwayat mata terkena bahan
kimia disangkal. Penggunaan kacamata ataupun kontak lens disangkal.
Riwayat penyakit mata sebelum muncul selaput disangkal. Pasien
mengaku belum pernah mengalami hal yang serupa.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Pasien menyangkal pernah mengalami riwayat trauma pada mata.


Pasien menyangkal menggunakan kacamata sebelumnya.
Pasien menyangkal memiliki riwayat penggunaan lensa kontak

sebelumnya.
Riwayat diabetes mellitus: disangkal
Riwayat hipertensi: disangkal
Riwayat alergi makanan atau obat: disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang mengeluh adanya keluhan yang sama
seperti yang dirasakan pasien.

16

Riwayat Kebiasaan:
Pasien merupakan pengguna kendaraan bermotor, yang biasanya
menggunakan helm tanpa kaca pelindung mata sehingga sering terpapar
sinar matahari dan matanya sering terkena debu. Pasien tidak
menggunakan topi ataupun kacamata.
III. OBJEKTIF ( 12 Juli 2016 )
Status Present
Kesadaran

: Composmentis

GCS

: 15 (E4.M6.V5)

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/ menit

Respirasi

: 18 x/ menit

Suhu

: 36,7 oC

Status Oftalmologi
Pemeriksaan eksternal
Visus
Kedudukan bola mata
Gerakan bola mata

Tekanan intraokular
Palpebra superior

OD
5/5 E
Ortoforia

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Hiperemis (-) ; edema (-) ; Hiperemis (-) ; edema (-) ;
nyeri tekan (-) ;benjolan (-)

Palpebra inferior

OS
5/5 E

nyeri tekan (-) ; benjolan

(-)
Hiperemis (-) ; edema (-) ; Hiperemis (-) ; edema (-) ;
nyeri tekan (-) ;benjolan (-)

nyeri tekan (-) ; benjolan


(-)

17

Konjungtiva tarsalis superior

Hiperemis (-) ; papil (-) ; Hiperemis (-) ; papil (-) ;


folikel (-) ; sikatriks (-) ; folikel (-) ; sikatriks (-) ;

Konjungtiva tarsalis inferior

sekret (-)
sekret (-)
Hiperemis (-) ; papil (-) ; Hiperemis (-) ; papil (-) ;
folikel (-) ; sikatriks (-) ; folikel (-) ; sikatriks (-) ;

Konjungtiva bulbi

sekret (-)
sekret (-)
Injeksi konjungtiva (-) ; Terdapat
injeksi

siliar

perdarahan (-)

(-)

; fibrovaskular

jaringan
berbentuk

segitiga melewati limbus


namun belum mencapai
pupil.

IV. Resume
Seorang wanita, 42 tahun, datang dengan keluhan mata sebelah kiri
terasa ada yang mengganjal sejak 2 tahun yang lalu. Terdapat selaput pada
mata kiri, selaput ini berbentuk segitiga. Pada awalnya, pasien mengatakan
munculnya selaput ini tidak mengenai bagian hitam mata, lalu selaput yang
tumbuh ini semakin menjalar ke bagian hitam mata pasien. Keluhan mata
merah dan terasa kering diakui hilang timbul dengan sendirinya.
Pasien merupakan pengguna kendaraan bermotor, yang biasanya
menggunakan helm tanpa kaca pelindung mata sehingga sering terpapar sinar
matahari dan matanya sering terkena debu. Pasien tidak menggunakan topi
ataupun kacamata.

18

Pada pemeriksaan oftalmologis, pemeriksaan eksternal pada oculi


sinistra ditemukan adanya selaput berbentuk segitiga dibagian nasal yang
sudah melewati limbus kornea lebih dari 2 mm namun belum mencapai pupil.
Pemeriksaan visus tidak ada kelainan.
V. Diagnosis Banding
Pseudopterigium
VI. Diagnosis Kerja
Pterigium Grade III OS
VII.Tatalaksana
Rujuk ke spesialis mata RSAD Robert Wolter Monginsidi
VIII. Rencana edukasi

Anjuran untuk memakai topi dan kacamata saat beraktivitas diluar


ruangan atau sewaktu bekerja.

Anjuran untuk mengurangi aktivitas diluar ruangan.

IX. Prognosis
Ad vitam

: ad bonam

Ad fungsionam

: ad bonam

Ad sanationam

: ad bonam

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Bag. SMF Ilmu Penyakit Mata. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi.
Edisi III. Airlangga. Surabaya. Hal: 102 104.
2. Ilyas, Sidharta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. FKUI. Jakarta.
Hal:2-6, 116 117.
3. Jerome P Fisher, Pterygium. [online]. 2011 [cited 2011 July 24]
http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview
4. Suharjo. Ilmu kesehatan Mata. edisi 1. Yogyakarta. Bagian Ilmu Penyakit
Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.2007. hal 40-41
5. Vaughan, G. 2000. Oftalmologi Umum Edisi 14. Widya Medika. Jakarta.
6. Wijaya, Nana. 1993. Ilmu Penyakit Mata. Abdi Tegal. Jakarta.

20