Anda di halaman 1dari 24

GROUP ASSIGNMENT

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Oleh:
Feby Ayuningtias
Muthia Rahma Dianti
Ufa Kriya Adiyaksa

Application Case Analysis


Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS ANDALAS
2016

A. Case Background
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru
Pada kilasan pertama, perusahaan dot-com adalah salah satu tempat terakhir yang
anda harapkan anda akan menemukan potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja atau
demikian juga menurut pemilik learning motion com. Diperusahaan tersebut tidak tedapat
bahaya mesin bergerak, tidak ada lini bertekanan tinggi, tidak ada pemotongan atau
pengangkatan barang berat, dan tentu saja tidak ada truk forklift. Akan tetapi, terdapat
permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja.
Terkait hal-hal menyebabkan kecelakaan, misalnya satu hal yang dimiliki perusahaan
dotcom adalah kabel dan kawat. Meskipun sudah menggunakan wifi dan bluetooth secara
ekstensif, masih saja terdapat kabel yang menghubungkan computer kelayar dan server, dan
dalam berbagai kasus, kabel menghubungkan beberapa computer kealat pencetak yang
berbeda. Terdapat 10 telepon dikantor ini, semua terhubung dengan kabel listrik sepanjang 15
kaki yang selalu tampak mengular disekitar kursi dan meja. Bahkan terdapat jumlah kabel
yang mencengangkan mengingat ini adalah sebuah kantor dengan koneksi nirkabel dan
jumlah karyawan kurang dari 10 orang. Ketika spesialis instalasi mengerjakan perkabelan
kantor tesebut (untuk listrik, kabel berkecepatan tinggi, saluran telepon, tanda bahaya
pencuri, dan komputer. Mereka memperkirakan bahwa mereka menggunakan lebihdari 5 mil
kabel, baik dari satu jenis maupun beberapa jenis kabel. Sebagian besar dari kabel tersebut
tersembunyi didinding atau langit-langit, tetapi banyak diantaranya mengular dari meja
kemeja,serta dibawah dan diatas pintu. Beberapa karyawan telah mencoba mengurangi
ketidaknyamanan akibat tersandung kabel saat mereka berdiri dengan cara meletakkan
bantalan kursi plastik diatas kabel yang terdekat dari mereka. Tetap saja, hal tersebut masih
menyisakan banyak kabel tidak terlindungi. Pada kasus lainnya, mereka membawa plester
mereka sendiri dan berusaha merekatkan kabel-kabel diruang tersebut terutama ditempattempat yang mengganggu, seperti saat melintasi pintu.
Kabel-kabel tersebut hanyalah salah satu dari berbagai kondisi yang jelas berpotensi
menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Sebelum pembuat program meninggalkan
perusahaan, ia berusaha memperbaiki server utamanya pada saat unit tersebut masih hidup
secara elektris. Hingga hari ini, mereka tidak yakin dimana tepatnya sipembuat program
memasukkan obeng tersebut, tetapi yang terjadi adalah ia terlempar melintasi ruangan seperti
yang digambarkan oleh seorang manager. Pembuat program tersebut tidak mengalami lukaProgram keselamatan dan kesehatan kerja yang baru
2

luka, tetapi kejadian itu tetap membuat takut. Meskipun perusahaan belum menerima klaim
apapun. Setiap karyawan menghabiskan waktu berjam-jam didepan komputernya, jadi
sindrom lorong karpal menjadi resikonya, demikian juga dengan beragam permasalahan lain
seperti kelelahan mata dan ketegangan punggung.
Sebuah kecelakaan yang terjadi baru-baru ini cukup membuat takut pemilik
perusahaan. Perusahaan tersebut menggunakan pemborong independen untuk mengirimkan
buku-buku dan mata pelajaran berbasis DVD milik perusahaaan tersebut di New York dan
dua kota lainnya. Seorang tenaga pengirim sedang menaiki sepedanya kearah timur pada
persimpangan Second Avenue dan East 64th Street di New York ketika ia ditabrak sebuah
mobil yang melaju kearah selatan dari Second Avenue. Beruntung ia tidak terluka, tetapi roda
depan sepeda tersebut ringsek, dan kejadian lolos dari kecelakaan tersebut membuat kedua
pemilik perusahaan, Mel dan Maria berpikir mengenai kurangnya program keselamatan kerja
mereka.
Tidak hanya kondisi fisik yang menjadi perhatian kedua pemilik tersebut. Mereka
juga memiliki kekhawatiran mengenai potensi masalah kesehatan seperti stress kerja dan
kejenuhan. Meskipun bisnis tersebut mungkin (relatif) aman dalam hal kondisi fisik, tetapi
juga relative penuh tekanan terkait tuntutan jam kerja dan tenggat waktu. Menjadi hal yang
lazim bagi karyawan untuk dating bekerja pada pukul 07.30 atau 08.00 di pagi hari dan
bekerja hingga pukul 23.00 atau 24.00 dimalam hari, minimalnya 5 bahkan terkadang 6 atau
7 hari per minggu.
Pada dasarnya, baik Maria maupun Mel merasa perlu melakukan sesuatu tekait
penerapan rencana kesehatan dan keselamatan kerja. Saat ini, mereka menginginkananda,
konsultan manajemen mereka. Untuk membantu melakukan hal tersebut. Berikut ini adalah
hal-hal yang harus anda lakukan untuk mereka.

B. Problem Statemen
1. Berdasarkan pada pengetahuan anda mengenai persoalan kesehatan dan
keselamatan kerja dan pengamatan aktual anda terhadap kegiatan operasi yang
serupa dengan kegiatan operasi mereka. Buatlah daftar mengenai kondisi yang
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

berpotensi menimbulkan bahaya yang harus dihadapi karyawan dan yang lainnya
di LearningMotion.com. Apakah yang harus mereka lakukan untuk mengurangi
potensi keseriusan dari lima bahaya teratas.
2. Apakah dapat disarankan agar mereka membuat prosedur untuk menyaring
individu yang rentan stress atau rentan kecelakaan? Mengapa ya atau mengapa
tidak? Jika ya, bagaimana mereka harus menyaring individu-individu tersebut?
3. Tulislah sebuah makalah pendek mengenai sikap anda terkait persoalan, apakah
yang harus kita lakukan untuk membuat semua karyawan kita berperilaku lebih
aman ditempat kerja?
4. Berdasarkan pada apa yang anda ketahui dan dilakukan oleh perusahaan dot.com
yang lain, tulislah sebuah makalah pendek mengenai sikap anda terkait persoalan
apakah yang dapat kita lakukan untuk mengurangi potensi masalah terkait stress
dan kejenuhan diperusahaan kita?
C. Literature Review
2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
ILO (International Labor Organitation) mendefinisikan K3 sebagai promosi dan
pemeliharaan derajat, fisik, mental, dan kesejateraan sosial yang tinggi dan semua pekerja
pada semua pekerjaan; pencegahan diantara para pekerja dari penurunan kesehatan yang
disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan pekerja terhadap risiko-resiko yang
dihasilkan oleh faktor-faktor buruk terhadap risiko-resiko yang dihasilkan oleh faktor-faktor
buruk terhadap kesehatan; penempatan dan pemeliharaan pekerja di dalam lingkungan
pekerjaan yang diadaptasi untuk peralatan fisiologi dan psikologi, dan untuk menyimpulkan
adaptasi pekerja terhadap manusia dan setiap manusia terhadap pekerjaan, sedangkan
menurut OSHA (occupational Health and Safety Administration) K3 diartikan sebagai
aplikasi atau penerapan prinsip-prinsip sains atau ilmiah di dalam memahami pola resiko
terhadap keselamatan orang dan benda baik dalam lingkungan industri maupun non-industri
(OSHA, 2004).
Menurut Lalu (2005), bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melindungi
pekerja/buruh guna mewujudkan kinerja yang optimal. Upaya tersebut dilakukan dengan
tindakan pencegahan untuk memberantas penyakit dan kecelakaan akibat kerja, bagaimana
upaya pemeliharaan serta peningkatan gizi dan juga bagaimana mempertinggi efisiensi dan
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

produktivitas manusia sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai dengan baik dengan tidak
meninggalkan masalah. Kemudian perlindungan terhadap masyarakat di sekitar lingkungan
perusahaan agar terbebas dari polusi dan limbah produksi.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus diterapkan dan dilaksanakan di setiap
tempat kerja (perusahaan). Tempat kerja adalah setiap tempat yang didalamnya terdapat 3
(tiga) unsur, yaitu :
1. Adanya suatu usaha, baik itu usaha yang bersifat ekonomi maupun usaha sosial.
2. Adanya sumber bahaya.
3. Adanya tenaga kerja yang bekerja di dalamnya, baik secara terus-menerus maupun hanya
sewaktu-waktu.

2.1.1 Keselamatan Kerja


Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata safety dan biasanya selalu
dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris
celaka (near-miss). Jadi pada hakekatnya keselamatan sebagai suatu pendekatan keilmuan
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

maupun sebagai suatu pendekatan praktis mempelajari faktor-faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan dan berupaya mengembangkan berbagai cara dan pendekatan untuk
memperkecil resiko terjadinya kecelakaan (Syaaf, 2007).
Sedangkan pendapat Leon C Meggison yang dikutip oleh Prabu Mangkunegara
(2000) bahwa istilah keselamatan mencakup kedua istilah yaitu resiko keselamatan dan
resiko kesehatan. Keselamatan kerja menunjukan kondisi yang aman atau selamat dari
penderitaan, kerusakan atau kerugian ditempat kerja. Resiko keselamatan merupakan aspekaspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik,
terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan, dan
pendengaran. Semua itu sering dihubungan dengan perlengkapan perusahaan atau lingkungan
fisik dan mencakup tugas-tugas kerja yang membutuhkan pemeliharaan dan latihan.
Kecelakaan industri ini secara umum dapat diartikan suatu kejadian yang tidak diduga
semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu
aktivitas. Ada 4 (empat) faktor penyebabnya yaitu:
1. Faktor manusianya.
2. Faktor material/bahan/peralatan.
3. Faktor bahaya/sumber bahaya.
4. Faktor yang dihadapi (pemeliharaan/perawatan mesin-mesin).
Menurut Lalu (2005) bahwa disamping ada sebabnya maka suatu kejadian juga akan
membawa akibat. Akibat dari kecelakaan industri ini dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu :
1. Kerugian yang bersifat ekonomis, antara lain :
a. Kerusakan/kehancuran mesin, peralatan, bahan dan bangunan
b. Biaya pengobatan dan perawatan korban
c. Tunjangan kecelakaan
d. Hilangnya waktu kerja
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

e. Menurunnya jumlah maupun mutu produksi


2. Kerugian yang bersifat non ekonomis pada umumnya berupa penderitaan manusia yaitu
tenaga kerja yang bersangkutan, baik itu merupakan kematian, luka/cidera berat maupun
luka ringan.
Menurut Glendon dan Literland (2001) indikator dari pengukuran keselamatan
kerja adalah:
1. Dukungan dan komunikasi
Dukungan dan komunikasi antara supervisiors dengan pekerja dapat dilakukan dengan
cara diskusi, pekerja bisa mengkomunikasikan masalah masalah yang berhubungan
dengan pekerjaan, dan komunikasi menganai faktor risiko diinformasikan kepada pekerja
pada saat pelatihan awal masuk bekerja.
2. Prosedur yang adekuat
Prosedur yang dikatakan adekuat adalah prosedur yang berisi berbagai informasi yang
lengkap, teknik yang akurat, menjelaskan hal-hal yang boleh dilakukan maupun yang
tidak boleh dilakukan beserta alasannya dan pekerja dapat dengan mudah menerapkan
prosedur pekerjaan mereka.
3. Beban kerja
Beban kerja yang tidak terlalu tinggi dapat diukur dengan masih adanya waktu bekerja
untuk beristirahat, target yang ditentukan masih realistis, dan pekerja memiliki cukup
waktu menyelesaikan tugasnya.
4. Alat Pelidung Diri
Alat pelindung diri digunakan pekerja untuk menghindari kecelakaan yang dapat
menggagngu pekerja saat bekerja, dan yang paling penting adalah APD yang digunakan
nyaman bagi pekerja.
5. Hubungan dengan perusahaaan
Hubungan dengan perusahaaan diukur dengan adanya hubungan yang baik antara
supervisiors dengan pekerja, pekerja dengan pekerja dan juga berhubungan dengan sikap
moral pekerja.
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

6. Peraturan keselamatan
Peraturan keselamatan harus selalu dilakukan dan peraturan keselamatan dapat diikuti
tanpa adanya konflik dengan praktek kerja.

Indikator Keselamatan Kerja


Menurut Moenir (2006:203) indikator keselamatan kerja adalah
a. Lingkungan Kerja Secara Fisik
Secara fisik, upaya-upaya yang perlu dilakukan perusahaan untuk meningkatkan keselamatan
kerja adalah:
1) Penempatan benda atau barang dilakukan dengan diberi tanda-tanda, batas-batas, dan
peringatan yang cukup.
2)

Penyediaan perlengkapan yang mampu untuk digunakan sebagai alat pencegahan,


pertolongan dan perlindungan. Perlengkapan pencegahan misalnya: alat pencegahan
kebakaran, pintu darurat, kursi pelontarbagi penerbangan pesawat tempur, pertolongan
apabila terjadi kecelakaan seperti: alat PPPK, perahu penolong di setiap kapal besar, tabung
oksigen, ambulance dan sebagainya.

b. Lingkungan Sosial Psikologis


Sedangkan jaminan kecelakaan kerja secara psikologis dapat dilihat pada aturan organisasi
sepanjang mengenai berbagai jaminan organisasi atas pegawai atau pekerja yang meliputi:
1) Aturan mengenai ketertiban organisasi dan atau pekerjaan hendaknya diperlakukan secara
merata kepada semua pegawai tanpa kecuali. Masalah-masalah seperti itulah yang sering
menjadi sebab utama kegagalan pegawai termasuk para aksekutif dalam pekerjaan. Hal ini
dijelaskan lebih lanjut oleh Dale dalam bukunya Manajemen Theori and Practice bahwa
kegagalan para pegawai dan eksekutif dalam pekerjaan disebabkan oleh kekurangan keahlian.
2) Perawatan dan pemeliharaan asuransi terhadap para pegawai yang melakukan pekerjaan
berbahaya dan resiko, yang kemungkinan terjadi kecelakaan kerja yang sangat besar.
Asuransi meliputi jenis dan tingkat penderitaan yang dialami pada kecelakaan. Adanya
asuransi jelas menimbulkan ketenangan pegawai dalam bekerja dan menimbulkan
ketenangan akan dapat ditingkatkan karenanya

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

2.1.2

Kesehatan Kerja
Selain faktor keselamatan, hal penting yang juga harus diperhatikan adalah faktor
kesehatan. Kesehatan berasal dari bahasa Inggris health, yang dewasa ini tidak hanya
berarti terbebasnya seseorang dari penyakit, tetapi pengertian sehat mempunyai makna sehat
secara fisik, mental dan juga sehat secara sosial. Dengan demikian pengertian sehat secara
utuh menunjukkan pengertian sejahtera. Menurut Lalu (2005), kesehatan kerja adalah bagian
dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang
sempurna baik fisik, mental, maupun sosial sehingga memungkinkan dapat bekerja secara
optimal. Pada dasarnya kesehatan itu meliputi empat aspek, antara lain :
1. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh
berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.

Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.

Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan


emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.

c. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur,
pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni
Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik
keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana
seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
3. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain
atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan,
status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti
mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap
hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial.
Menurut Gary Dessler (2013), indikator kesehatan kerja terdiri dari :
1.

Keadaan dan Kondisi Karyawan


Keadaan dan kondisi karyawan adalah keadaan yang dialami oleh karyawan

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

pada saat bekerja yang mendukung aktivitas dalam bekerja.


2. Lingkungan kerja adalah lingkungan yang lebih luas dari tempat kerja yang mendukung
aktivitas karyawan dalam bekerja.
3. Perlindungan karyawan merupakan fasilitas yang diberikan untuk menunjang
kesejahteraan karyawan
Tujuan kesehatan kerja menurut Lalu (2005) adalah:
1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya
baik fisik, mental, maupun sosial.
2. Mencegah dan melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
kondisi lingkungan kerja.
3. Menyesuaikan tenaga kerja dengan pekerjaan atau pekerjaan dengan tenaga kerja.
4. Meningkatkan produktivitas kerja.

2.1.3

Tujuan K3
Tujuan Pemerintah membuat aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
dapat dilihat pada Pasal 3 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja,
yaitu:
1. Suhu dan lembab mencegah dan mengurangi kecelakaan;
2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
4. Memberi kesempatan atau jalan menyelematkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya
5. Memberikan pertolongan pada kecelakaan
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

10

6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja


7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluaskan suhu, kelembaban, debu,
kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran
8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun
psikhis, peracunan, infeksi dan penularan;
9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
10. Menyelenggarakan udara yang baik
11. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
13. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerjanya
14. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau batang
15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
16. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan penyimpanan
barang
17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
18. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya
19. Angka kecelakaan turun
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan
kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah
pengendalian secara cermat dilakukan atau tidak.

Tujuan dari penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah (Direktorat


Pengawasan Norma K3, 2006):
1. Menempatkan tenaga kerja sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia
2. Meningkatkan komitmen pimpinan perusahaan dalam melindungi tenaga kerja
3. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja untuk menghadapi kompetisi
perdagangan global
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

11

4. Proteksi terhadap industri dalam negeri


5. Perlunya upaya pencegahan terhadap masalah sosial dan ekonomi yang terkait dengan
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.
Rivai (2006) menyatakan tujuan keselamatan kerja antara lain:
1. Manfaat lingkungan kerja yang aman dan sehat
Jika perusahaan dapat menurunkan tingkat dan beratnya kecelakaan-kecelakaan kerja,
penyakit, dan hal yang berkaitan dengan stres, serta mampu meningkatkan kualitas
kehidupan kerja para pekerjanya, perusahaan akan semakin efektif. Peningkatan
peningkatan terhadap hal ini akan menghasilkan :
a. Meningkatnya produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang
b. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih berkomitmen
c. Menurunnya biaya biaya kesehatan dan asuransi
d. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena
menurunnya pengajuan klaim
e. Fleksibilitas dan adaptibilitas yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya
partisipasi dan rasa kepemilikian
f. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan.
Perusahaan kemudian bisa meningkatkan keuntungannya secara substansial.
2. Kerugian lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak sehat
Jumlah biaya yang besar sering muncul karena ada kerugian kerugian akibat kematian
dan kecelakaan di tempat kerja dan kerugian menderita penyakit-penyakit yang berkaitan
dengan pekerjaan. Selain itu ada juga yang berkaitan dengan kondisikondisi psikologis.
Perasaan pekerja yang menganggap dirinya tidak berarti dan rendahnya keterlibatannya
dalam pekerjaan, barangkali lebih sulit dihitung secara kuantitatif, seperti gejalagejala
stress dan kehidupan kerja yang bermutu rendah.
2.1.4 Manfaat K3
Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan satu upaya pelindungan yang diajukan
kepada semua potensi yang dapat menimbulkan bahaya. Hal tersebut bertujuan agar tenaga
kerja dan orang lain yang ada di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat serta
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

12

semua sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien (Sumamur, 2004) .
Perhatian pada kesehatan karyawan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan dalam
melaksanakan pekerjaannya, jadi antara kesehatan dan keselamatan kerja bertalian dan dapat
mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja.
Menurut Sculler dan Jackson (Cantika, 2005), apabila perusahaan dapat
melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik maka perusahaan akan
dapat memperoleh manfaat sebagai berikut :
1. Meningkatkan produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang.
2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih komitmen.
3. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.
4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena
menurunnya pengajuan klaim.
5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari partisipasi dan rasa
kepemilikan.
6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan.
7. Perusahaan juga dapat meningkatkan keuntungannya secara substansial.
Menurut Siagian (2002) ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam
melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, yaitu:
1. Apa pun bentuknya berbagai ketentuan formal itu harus ditaati oleh semua organisasi.
2. Mutlak perlunya pengecekan oleh instansi pemerintah yang secara fungsional
bertanggung jawab untuk itu antara lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya
berbagai ketentuan lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya berbagai ketentuan
formal oleh semua organisasi.
3. Pengenaan sanksi yang keras kepada organisasi yang melalaikan kewajibannya
menciptakan dan memelihara Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
4. Memberikan kesempatan yang seluas mungkin kepada para karyawan untuk berperan
serta dalam menjamin keselamatan dalam semua proses penciptaan dan pemeliharaan
kesehatan dan keselamatan kerja dalam organisasi.
5. Melibatkan serikat pekerja dalam semua proses penciptaan dan pemeliharaan kesehatan
dan keselamatan kerja.

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

13

2.1.5 Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah pelatihan yang disusun
untuk memberi bekal kepada personil yang ditunjuk perusahaan untuk dapat menerapkan K3
di tempat kerja (www.sucofindo.co.id). Pelatihan K3 bertujuan agar karyawan dapat
memahami dan berperilaku pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, mengidentifkasi
potensi bahaya di tempat kerja, melakukan pencegahan kecelakaan kerja, mengelola bahanbahan beracun berbahaya dan penanggulangannya, menggunakan alat pelindung diri,
melakukan pencegahan dan pemadaman kebakaran serta menyusun program pengendalian
keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan (Putut Hargiyarto, 2010).

2.1.6 Jaminan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja para tenaga kerja harus diprioritaskan atau
diutamakan dan diperhitungkan agar tenaga kerja merasa ada jaminan atas pekerjaan yang
mereka lakukan, baik yang beresiko maupun tidak. Menurut Shafiqah Adia (2010), jaminan
keselamatan dan kesehatan dapat membuat para tenaga kerja merasa nyaman dan aman dalam
melakukan suatu pekerjaan, sehingga dapat memperkecil atau bahkan mewujudkan kondisi
nihil kecelakaan dan penyakit kerja.

2.1.7 Alat Pelindung Diri


Dasar hukum dari alat pelindung diri ini adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1970 Bab IX Pasal 13 tentang Kewajiban Bila Memasuki Tempat kerja yang berbunyi:
Barangsiapa akan memasuki sesuatu tempat kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk
keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.
Menurut Muhammad Sabir (2009), alat pelindung diri adalah kelengkapan yang wajib
digunakan saat bekerja sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan
orang di sekelilingnya. Pada umumnya alat-alat tersebut terdiri dari:
1.
2.

3.
4.

5.

Safety Helmet, berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai
kepala secara langsung.
Tali Keselamatan (Safety Belt), berfungsi sebagai alat pengaman ketika
menggunakan alat transportasi ataupun peralatan lain yang serupa (mobil, pesawat,
alat berat, dan lain-lain)
Sepatu Karet (Sepatu Boot), berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja di
tempat yang becek ataupun berlumpur.
Sepatu Pelindung (Safety Shoes), berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang
menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia,
dan sebagainya.
Sarung Tangan, berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di
tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan.

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

14

6.

Tali Pengaman (Safety Harness), berfungsi sebagai pengaman saat bekerja di


ketinggian.
7.
Penutup Telinga (Ear Plug/ Ear Muff), berfungsi sebagai pelindung telinga pada
saat bekerja di tempat yang bising.
8.
Kacamata Pengaman (Safety Glasses), berfungsi sebagai pelindung mata ketika
bekerja (misal mengelas).
9.
Masker (Respirator), berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja
di tempat dengan kualitas udara yang buruk (misal berdebu, beracun, berasap, dan
sebagainya).
10. Pelindung Wajah (Face Shield), berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan
benda asing saat bekerja (misal pekerjaan menggerinda).
11. Jas Hujan (Rain Coat), berfungsi melindungi diri dari percikan air saat bekerja
(misal bekerja pada saat hujan atau sedang mencuci alat).

D. Probelm Solving

1. Berdasarkan pada pengetahuan anda mengenai persoalan kesehatan dan


keselamatan kerja dan pengamatan aktual anda terhadap kegiatan operasi yang
serupa dengan kegiatan operasi mereka. Buatlah daftar mengenai kondisi yang
berpotensi menimbulkan bahaya yang harus dihadapi karyawan dan yang
lainnya di LearningMotion.com. Apakah yang harus mereka lakukan untuk
mengurangi potensi keseriusan dari lima bahaya teratas.
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

15

Setiap karyawan menghabiskan waktu berjam-jam didepan komputernya, jadi


sindrom lorong karpal menjadi resikonya, demikian juga dengan beragam
permasalahan lain seperti kelelahan mata dan ketegangan punggung.
1. Kesehatan

Mata

Mata adalah salah satu bagian tubuh yang sering dikeluhkan dalam persoalan K3.
Alasannya, banyak karyawan yang bekerja berjam-jam di depan komputer. Jika
sudah berhadapan dengan komputer selama dua jam berturut-turut, Anda sebaiknya
melihat ke hal lain selama lima belas menit. Tujuannya untuk menjaga agar lensa
mata kita tidak minus.
2. Kesehatan

Punggung

Keluhan lain yang mungkin dialami yakni sakit punggung karena duduk terlalu lama.
Sama dengan mata, jika Anda sudah duduk selama dua jam berturut-turut, cobalah
Anda berjalan lima belas menit untuk meregangkan punggung. Anda dapat
memanfaatkan waktu lima belas menit itu untuk istirahat di pantry atau mengunjungi
teman dari divisi lain
Terkait hal-hal menyebabkan kecelakaan, misalnya satu hal yang dimiliki perusahaan
dotcom adalah kabel dan kawat. Sebagian besar dari kabel tersebut tersembunyi
didinding atau langit-langit, tetapi banyak diantaranya mengular dari meja
kemeja,serta dibawah dan diatas pintu. Beberapa karyawan telah mencoba
mengurangi ketidaknyamanan akibat tersandung kabel saat mereka berdiri dengan
cara meletakkan bantalan kursi plastik diatas kabel yang terdekat dari mereka. Tetap
saja, hal tersebut masih menyisakan banyak kabel tidak terlindungi.
3. Rapikan

Kabel

Dalam mendekorasi atau menyusun ruangan kerja, perusahaan pun harus


memerhatikan penataan kabel-kabel listrik yang melintasi lantai atau dinding ruangan.
Tidak ada lagi ditemukan kabel-kabel yang mengular dari meja kemeja,serta dibawah
dan diatas pintu Dengan merapikan kabel-kabel listrik, perusahaan sudah berupaya
agar arrangemrnt layout kantor tertata dengan baik dan menhghindari terjadi
nyahubungan arus pendek. Tujuan lainnya, membuat suasana kerja yang aman dan
nyaman jika terjadi bahaya di dalam ruangan kantor, kabel listrik tersebut tidak
menghalangi karyawan untuk menyelamatkan diri.
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

16

Jaringan elektrik dan komunikasi (penting agar bahaya dapat dikenali) :

Internal
o

Over voltage

Hubungan pendek

Induksi

Arus berlebih

Korosif kabel

Kebocoran instalasi

Campuran gas eksplosif

Eksternal

Faktor mekanik.

Faktor fisik dan kimia.

Angin dan pencahayaan (cuaca)

Binatang pengerat bisa menyebabkan kerusakan sehingga terjadi


hubungan pendek.

Manusia yang lengah terhadap risiko dan SOP

Bencana alam atau buatan manusia.

Rekomendasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

17

Pengaturan tata letak jaringan instalasi listrik termasuk kabel


yang sesuai dengan syarat kesehatan dan keselamatan kerja.

Perlindungan terhadap kabel dengan menggunakan pipa


pelindung.

Disamping itu, kondisi lain yang berpotensi menimbulkan bahaya yang harus dihadapi
karyawan adalah
4. Beban Kerja
Beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh
suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu (Adil
Kurnia, 2010). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ginanjar Rohmanu
Mahwidhi (2007) terhadap perawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.Soeroto Ngawi,
menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh positif terhadap stres kerja. Semakin
berat beban kerja yang ditanggung, maka akan semakin besar risiko perawat yang
bekerja di tempat tersebut terkena stres. Sementara itu, hasil penelitian Heni Febriana
dan

Rossi Sanusi (2006) terhadap pegawai Akademi Kebidanan di Pemerintah

Kabupaten Kudus menunjukkan bahwa beban kerja berhubungan negatif dengan


kinerja karyawan.Semakin berat kelebihan beban kerja yang mereka terima, maka
kinerjanya akan semakin menurun.
5. Jam Kerja
Untuk karyawan yang bekerja 6 hari dalam seminggu, jam kerjanya adalah 7 jam
dalam satu hari dan 40 jam dalam satu minggu. Sedangkan untuk karyawan dengan 5
hari kerja dalam satu minggu, kewajiban bekerja mereka adalah 8 jam dalam satu hari
dan 40 jam dalam satu minggu. Hampir satu abad berlalu sejak standar internasional
jam kerja diberlakukan, sebuah studi yang dilakukan oleh Organisasi Buruh se-Dunia
International Labour Organisation (ILO) memperkirakan bahwa satu dari 5 pekerja di
berbagai penjuru bumi atau lebih dari 600 juta orang masih bekerja lebih dari 48 jam
per minggu. Studi bertajuk Working Time Around the World: Trends in Working
Hours, Laws and Policies in a Global Comparative Perspective itu mengungkapkan,
22% tenaga kerja global, atau 614,2 juta pekerja, bekerja di atas standar jam kerja.
Padahal, sedemikian studi tersebut mengingatkan, jam kerja yang lebih pendek bisa
mendatangkan konsekuensi-konsekuensi positif, seperti meningkatkan kesehatan

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

18

hidup karyawan dan keluarganya, mengurangi kecelakaan di tempat kerja dan


mempertinggi produktivitas.
2. Apakah dapat disarankan agar mereka membuat prosedur untuk menyaring
individu yang rentan stress atau rentan kecelakaan? Mengapa ya atau mengapa
tidak? Jika ya, bagaimana mereka harus menyaring individu-individu tersebut?
Prosedur untuk menyaring individu yang rentan stress atau rentan kecelakaan sangat
penting diterapkan , langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah:
a. KEMAMPUAN MENDETEKSI GANGGUAN PSIKOLOGIS
Faktor risiko psikologis dalam kecelakaan kerja adalah potensi pikiran, perasaan,
dan perilaku yang mungkin terjadi sebagai akibat dari peristiwa stres.
Karena banyak orang merasa tidak nyaman membahas masalah-masalah yang
mungkin mengganggu mereka, metode penelitian karyawan diperlukan untuk
mengetahui seberapa jauh seorang karyawan mengalami stress yang dapat
menjadi risiko kecelakaan. Penilaian dalam penelitian yang dilakukan yang
paling efektif berasal dari pengamatan perilaku atau tingkat kinerja.
Ketika seseorang terganggu, kinerja dan produktivitas turun. Stres memicu
perubahan perilaku. Beberapa perubahan ini dapat terlihat dan jelas, dan ada
yang tidak dapat terdeteksi . oleh karena itu diperlukan kesediaan untuk
mengenal karyawan dan untuk mempelajari kebiasaan mereka dalam rangka
untuk melihat perubahan dalam fungsi, cara bicara, kinerja pekerjaan, maupun
kebiasaannya. perubahan yang terus terjadi, semakin beresiko terhadap individu .
Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan
spiritual.
Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang

untuk

mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan


sebagainya.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan
rasa

syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di

luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

19

spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan


perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang
menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
b. KEMAMPUNAN MENDETEKSI DARI KINERJA KARYAWAN
Peninjauan terhadap
Kinerja serta penelitian terhadap sikap dan
kebiasaan tenaga kerja
memberikan alternatif perubahan Perilaku untuk berubah kearah yang
lebih baik
Negosiasi, keterampilan mediasi
Cross-training karyawan luntuk mengenalkan segala sesuatu yang penting
agar resiko kecelakaan dapat diminimalisir
c. KEBIJAKAN

memberikan

PERUSAHAAN
kebijakan

secara

tertulis

Memberikan kelas, informasi program Pelatihan dan kesehatan,


memberikan Pedoman untuk perilaku yang aman
3. Tulislah sebuah makalah pendek mengenai sikap anda terkait persoalan, apakah
yang harus kita lakukan untuk membuat semua karyawan kita berperilaku
lebih aman ditempat kerja?
Setiap perusahaan sewajarnya memiliki strategi memperkecil atau bahkan
menghilangkan kejadian kecelakaan dan penyakit kerja di kalangan karyawan sesuai
dengan kondisi perusahaan sehingga membuat semua karyawan berperilaku lebih
aman ditempat kerja. Strategi yang perlu diterapkan perusahaan meliputi:
1. Pihak manajemen perlu menetapkan bentuk perlindungan bagi karyawan dalam
menghadapi kejadian kecelakaan dan penyakit kerja. Misalnya melihat keadaan finansial
perusahaan, kesadaran karyawan tentang keselamatan dan kesehatan kerja, serta tanggung
jawab perusahaan dan karyawan, maka perusahaan bisa jadi memiliki tingkat
perlindungan yang minimum bahkan maksimum.
2. Pihak manajemen dapat menentukan apakah peraturan tentang keselamatan dan kesehatan
kerja bersifat formal ataukah informal. Secara formal dimaksudkan setiap peraturan
dinyatakan secara tertulis, dilaksanakan dan dikontrol sesuai dengan aturan. Sementara
secara informal dinyatakan tidak tertulis atau konvensi, dan dilakukan melalui pelatihan
dan kesepakatan-kesepakatan.
3. Pihak manajemen perlu proaktif dan reaktif dalam pengembangan prosedur dan rencana
tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Proaktif berartipihak manajemen
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru
20

perlu memperbaiki terus menerus prosedur dan rencana sesuai kebutuhan perusahaan dan
karyawan. Sementara arti reaktif, pihak manajemen perlu segera mengatasi masalah
keselamatan dan kesehatan kerja setelah suatu kejadian timbul.
4. Pihak manajemen dapat menggunakan tingkat derajad keselamatan dan kesehatan kerja
yang rendah sebagai faktor promosi perusahaan ke khalayak luas. Artinya perusahaan
sangat peduli dengan keselamatan dan kesehatan kerja para karyawannya.
Apakah suatu strategi efektif atau tidak, perusahaan dapat membandingkan insiden,
kegawatan dan frekuensi penyakit-penyakit dan kecelakaan sebelum dan sesudah strategi
tersebut diberlakukan. Berikut ini sumber dan strategi untuk meningkatkan keselamatan dan
kesehatan kerja menurut Schuler dan Jackson (2009):
Tabel. Sumber dan Strategi untuk Meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
SUMBER
1. Lingkungan Kerja Fisik
a. Kecelakaan kerja

STRATEGI
Catat kecelakaan tersebut
Rancang kembali lingkungan kerja
Bentuk panitia keselamatan kerja
Berikan pelatihan dan insentif keuangan
Catat penyakit tersebut

b. Penyakit akibat pekerjaan

Perbaiki lingkungan kerja


Komunikasikan informasi
Tentukan tujuan dan sasaran
Ciptakan program-program pengendalian

2. Lingkungan Kerja Sosiopsikologis

stres kerja

Stres dan kelelahan kerja

Tingkatkan partisipasi pekerja dalam


pengambilan keputusan
Ciptakan program pengendalian stress
pribadi Pastikan staf yang cukup
Berikan tunjangan cuti dan liburan yang
memadai
Dorong pekerja untuk mengikuti gaya
hidup sehat

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

21

Sumber : Schuler, Randall S. dan Susan E. Jackson. 1999. Manajemen Sumber Daya
Manusia Menghadapi Abad Ke-21.Jakarta:Erlangga
Sjafri Mangkuprawira dan Aida V. Hubeis (2007) juga mengemukakan pendapatnya
tentang pendekatan-pendekatan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja yang dilakukan
secara terintegrasi dan sistematis agar program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
berjalan efektif, yaitu:
1.

Pendekatan Keorganisasian
a.
b.
c.
d.

2.

Merancang pekerjaan,
Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan program,
Menggunakan komisi kesehatan dan keselamatan kerja,
Mengkoordinasi investigasi kecelakaan.
Pendekatan Teknis

a.
b.
c.
3.

Merancang kerja dan peraatan kerja,


Memeriksa peralatan kerja,
Menerapkan prinsip-prinsip ergonomik.
Pendekatan Individu

a.
b.
c.

Memperkuat sikap dan motivasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja,


Menyediakan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja,
Memberikan penghargaan kepada karyawan dalam bentuk program insentif.

4. Berdasarkan pada apa yang anda ketahui dan dilakukan oleh perusahaan dot.com yang
lain, tulislah sebuah makalah pendek mengenai sikap anda terkait persoalan apakah
yang dapat kita lakukan untuk mengurangi potensi masalah terkait stress dan
kejenuhan diperusahaan kita?

Usaha usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi potensi masalah terkait stress dan
kejenuhan kerja antara lain:
a. Analisis Bahaya Pekerjaan (Job Hazard Analysis)
Job Hazard Analysis adalah suatu proses untuk mempelajari dan menganalisa suatu
jenis pekerjaan kemudian membagi pekerjaan tersebut ke dalam langkah langkah
menghilangkan bahaya yang mungkin terjadi.
Dalam melakukan Job Hazard Analysis, ada beberapa lagkah yang perlu dilakukan:
1)

Melibatkan Karyawan.
Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

22

Hal ini sangat penting untuk melibatkan karyawan dalam proses job hazard analysis. Mereka
memiliki pemahaman yang unik atas pekerjaannya, dan hal tersebut merupakan informasi
yang tak ternilai untuk menemukan suatu bahaya.
2)

Mengulas Sejarah Kecelakaan Sebelumnya.


Mengulas dengan karyawan mengenai sejarah kecelakaan dan cedera yang pernah terjadi,
serta kerugian yang ditimbulkan, bersifat penting. Hal ini merupakan indikator utama dalam
menganalisis bahaya yang mungkin akan terjadi di lingkungan kerja

3)

Melakukan Tinjauan Ulang Persiapan Pekerjaan.


Berdiskusi dengan karyawan mengenai bahaya yang ada dan mereka ketahui di lingkungan
kerja. Lakukan brainstorm dengan pekerja untuk menemukan ide atau gagasan yang
bertujuan untuk mengeliminasi atau mengontrol bahaya yang ada.

4)

Membuat Daftar, Peringkat, dan Menetapkan Prioritas untuk Pekerjaan Berbahaya.


Membuat daftar pekerjaan yang berbahaya dengan risiko yang tidak dapat diterima atau
tinggi, berdasarkan yang paling mungkin terjadi dan yang paling tinggi tingkat risikonya. Hal
ini merupakan prioritas utama dalam melakukan job hazard analysis.

5)

Membuat Outline Langkah-langkah Suatu Pekerjaan.


Tujuan dari hal ini adalah agar karyawan mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam mengerjakan suatu pekerjaan, sehingga kecelakaan kerja dapat diminimalisir.

b.

Risk Management
Risk

Management

dimaksudkan

untuk

mengantisipasi

kemungkinan

kerugian/kehilangan (waktu, produktivitas, dan lain-lain) yang berkaitan dengan program


keselamatan dan penanganan hukum
c.

Safety Engineer
Memberikan

pelatihan,

memberdayakan

supervisor/manager

agar

mampu

mengantisipasi/melihat adanya situasi kurang aman dan menghilangkannya


d.

Ergonomika
Ergonomika adalah suatu studi mengenai hubungan antara manusia dengan
pekerjaannya, yang meliputi tugas-tugas yang harus dikerjakan, alat-alat dan perkakas yang
digunakan, serta lingkungan kerjanya.

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

23

Selain ke-empat hal diatas, cara lain yang dapat dilakukan adalah:
1.
2.
3.
4.

Job Rotation
Personal protective equipment
Penggunaan poster/propaganda
Perilaku yang berhati-hati

E. Kesimpulan
Kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk menciptakan
perlindungan dan keamanan dari resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun
emosional terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Jadi kesehatan dan
keselamatan kerja tidak melulu berkaitan dengan masalah fisik pekerja, tetapi juga
mental, psikologis dan emosional.
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang penting dalam
ketenagakerjaan. Meskipun banyak ketentuan yang mengatur mengenai kesehatan dan
keselamatan kerja, tetapi masih banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan
dan keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Masih
banyak pula perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja
sehingga banyak terjadi kecelakaan kerja.

F. Daftar Pustaka
Dessler, Gary. 2013. Human Resource Management Thirteenth Edition. United
States of America: Pearson.

Program keselamatan dan kesehatan kerja yang baru

24