Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN

Ulser merupakan suatu keluhan yang umum dikeluhkan pasien yang


jarang dikonsultasikan kepada ahli medis. Ulser dapat dikaitkan dengan kondisi
sistemik pasien, kesehatan emosi, atau efek samping dari pengobatan yang
dilakukan pasien. Pengobatan terhadap ulser akan lebih tepat sasaran apabila telah
ditemukan penyebabnya (Dental Nursing, 2012).
Keluhan pada bagian Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut
Sekeloa paling sering adalah ulser. Pasien biasa mengeluhkan adanya sariawan
pada mulut yang disebabkan oleh luka trauma, tergigit, atau sariawan yang rutin
terjadi setiap bulan. Jumlah dan lokasi ulser dapat beraneka ragam bergantung
pada faktor penyebab terjadinya ulser. Anamnesa secara teliti dan mendalam
diperlukan untuk dapat menegakkan diagnosa dan memberikan perawatan yang
terbaik.
Pada makalah ini akan dibahas mengenai traumatik ulser, yaitu lesi
ulseratif yang paling umum terjadi dan disebabkan oleh trauma cedera fisik pada
mukosa oral (Dental Nursing, 2012). Hal ini seringkali terjadi karena kecelakaan
atau trauma yang tidak disengaja seperti luka karena sikat gigi atau bibir yang
tidak sengaja tergigit (Sonis, 1995).
Penyembuhan ulser traumatik bisa terjadi dalam sepuluh sampai empat
belas hari (Dental Nursing, 2010). Ulser traumatik yang terasa sakit dapat
disembuhkan

secara

efektif

dengan

penggunaan

kortikosteroid

topikal,

penggunaan anestesi

topikal dan antimikrobial

(Marx,

2003). Kontrol

penyembuhan lesi dilakukan minimal 7 hari setelah perawatan untuk melihat


resopsi jaringan.

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Status Klinik IPM


Biodata Pasien
Tanggal

: 26 April 2016

Nama

: Nn. MAS

Agama

: Islam

Telepon

: 0812145753XX

Jenis Kelamin : Perempuan


Usia

: 23 tahun

Alamat

: Jl. Mekar Sugih Bandung

Pekerjaan

: Mahasiswi

Status

: Belum Menikah

NRM

: 2015-024XX

Anamnesis
Seorang pasien wanita berusia 23 tahun datang ke RSGM dengan keluhan
adanya sariawan pada bibir bawah samping kiri depan bagian dalam sejak hari
Jumat yaitu 4 hari yang lalu. Pada awalna pasien mengeluhkan adanya rasa
tidak nyaman pada daerah sekitar sariawan. Sariawan tersebut pertamakali
timbul hanya berupa dua titik kecil yang berdekatan yang kemudian menjadi
satu dan membesar karena tergigit oleh pasien pada saat pasien makan.

Setelah sariawan membesar, pasien mengeluhkan rasa perih dan nyutnyutan saat pasien makan dan menyikat gigi. Setelah merasa tidak nyaman
tersebut pasien akhirnya menggunaan albotyl untuk meredakan rasa sakitnya,
akan tetapi setelah menggunakan albotyl sariawan pasien semakin bertambah
besar dan terdapat selaput putih di atasnya. Pasien selama hari Jumat hingga
Senin masih menggunakan albotyl. Waktu kecil pasien mengungkapkan pernah
sariawan jika bibir atau lidahnya tergigit, dan pada saar dewasa pasien jarang
mengalami sariawan.
Terakhir kali pasien mengalami sariawan adalah sekitar 3 bulan yang lalu
di bagian dalam gusi rahang bawah karena terkena pelat ortho yang terlalu
kencang. Di keluarga pasien juga jarang mengalami sariawan, paling hanya
sesekali. Saat ini pasien sedang menjalani perawatan orthodonti lepasan dan
pasien ingin keluhannya diatasi.

Riwayat Penyakit Sistemik


Penyakit Jantung

: YA/TIDAK

Hipertensi

: YA/TIDAK

Diabetes Melitus

: YA/TIDAK

Asma/Alergi

: YA/TIDAK

Penyakit Hepar

: YA/TIDAK

Kelainan GIT

: YA/TIDAK (Gastritis)

Penyakit Ginjal

: YA/TIDAK

Kelainan Darah

: YA/TIDAK

Hamil

: YA/TIDAK

Kontrasepsi

: YA/TIDAK

Lain-lain

: YA/TIDAK

Riwayat Penyakit Terdahulu


Demam berdarah pada tahun 2015
Kondisi Umum
Keadaan Umum

: Baik

Tensi

: 120/80 mmHg

Kesadaran

: Compos Mentis

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: Afebris

Nadi

: 96 x/menit

Pemeriksaan Ekstra Oral


Kelenjar Limfe
Submandibula

Submental

Servikal

Mata

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Pupil

: Isokhor

Konjungtiva : Non-anemis
Sklera

: Non-ikterik

TMJ

Kliking pada sisi kanan dan kiri, deviasi penutupan


mandibula ke kanan

Bibir

Tidak ada kelainan, relasi normal, adekuat

Wajah

Simetri / Asimetri

Sirkum Oral

Bibir kering

Lain-lain

Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Intra Oral


Kebersihan mulut

: Baik, Kalkulus (-), Plak (+), Stain (-)

Gingiva

: Terdapat resesi pada regio 34 dan 44, sedikit odem di


regio 48 karena terdapat gigi yang erupsi

Mukosa bukal

: Teraan gigitan pada sisi kiri dari gigi 35 s/d 37 dan sisi
kanan dari gigi 45 s/d 47 dengan lapisan berwarna
keputihan

Mukosa labial

: Terdapat ulser berbentuk oval dengan pinggiran


irreguler berwarna putih dasar kekuningan dikelilingi
tepi eritem dengen diameter + 5 mm

Palatum durum

: Tidak ada kelainan

Palatum mole

: Tidak ada kelainan

Frenulum

: Tidak ada kelainan

Lidah

: Terdapat lapisan putih pada dorsal lidah

Dasar mulut

: Tidak ada kelainan

Status Gigi Geligi

Unerruption tooh

: 18, 28, 38

Partial erruption

: 48

Karies superficial

: 16, 26, 27, 36, 37, 47

Restorasi logam

: 46

Gambar 2.1 Ulser traumatik pada mukosa labial rahang bawah dalam sisi
kanan

Gambar 2.2 Cheek biting pada pasien di sisi kanan dan kiri

Gambar 2.3 Selaput putih pada dorsal lidah

Gambar 2.4 Bibir kering pada pasien

Pemeriksaan Penunjang
Radiologi

: Tidak dilakukan

Darah

: Tidak dilakukan

Patologi Anatomi

: Tidak dilakukan

Mikrobiologi

: Tidak dilakukan

Diagnosis
d/ Traumatic ulcer pada mukosa labial kanan bawah, et causa trauma mekanik
d/ Cheek biting pada kedua sisi
d/ Coated tongue
d/ Keilitis eksfoliatif
Differential Diagnosis
dd/ Recurrent apthous stomatitis

dd/ Linea alba


dd/ Oral candidiasis

Rencana Perawatan
Pro/ Oral Hygiene Instruction
-

Menyikat gigi minimal 2x sehari yaitu pagi saat sesudah sarapan, dan

malam sebelum tidur


Menyikat lidah 2x sehari sesaat setelah menyikat gigi atau penggunaan
tongue scrapper pada dorsal lidah

Pro/ Komunikasi Edukasi dan Informasi


-

Konsumsi makanan yang mengandung vitamin B kompleks dan zat besi


Minum air mineral 8 gelas sehari (2 Liter)
Instruksi penggunaan gliserin pada bibir atas dan bawah

Pro/ Resep
R/ Triamcynolone asetonida pasta 0,1% tube No. I
4.d.d 1 lit oris
R/ Clorhexidine gluconate 0,2% fls No. I
4.d.d 1 lit oris
Pro/ Kontrol 1 minggu

2.2 Laporan Kontrol I


Tanggal
: 03 Mei 2016
Nama
: Nn. MAS

NRM
: 2015-024XX
Jenis Kelamin : Perempuan

Anamnesis
Tujuh hari yang lalu terdapat sebuah sariawan pada bibir bawah bagian kanan
dalam. Sariawan tersebut terasa sakit dan mengganggu pada kunjungan

10

sebelumnya. Pasien telah diresepkan untuk menggunakan Triamcynolone


asetonida 0,1% dan Clorhexidine gluconate 0,2% 4 kali sehari. Setelah 6 hari
menggunakan obat tersebut, sariawan pasien tidak terasa sakit lagi dan mulai
menghilang.
Pemeriksaan Ekstraoral
Kelenjar Limfe
Submandibula

Submental

Servikal

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Bibir

Tidak ada kelainan

Wajah

Simetri / Asimetri

Sirkum Oral

Bibir kering

Lain-lain

Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Intra Oral


Kebersihan mulut

: Baik, Kalkulus (-), Plak (+), Stain (-)

Gingiva

: Terdapat resesi pada regio 34 dan 44, sedikit odem di


regio 48 karena terdapat gigi yang erupsi

11

Mukosa bukal

: Teraan gigitan pada sisi kiri dari gigi 35 s/d 37 dan sisi
kanan dari gigi 45 s/d 47 dengan lapisan berwarna
keputihan

Mukosa labial

: Terdapat ulser yang dalam proses penyembuhan.


Panjang + 4 mm

Palatum durum

: Tidak ada kelainan

Palatum mole

: Tidak ada kelainan

Frenulum

: Tidak ada kelainan

Lidah

: Terdapat lapisan putih pada dorsal lidah

Dasar mulut

: Tidak ada kelainan

Status Gigi Geligi

Unerruption tooh

: 18, 28, 38

Partial erruption

: 48

Karies superficial

: 16, 26, 27, 36, 37, 47

Restorasi logam

: 46

12

Gambar 2.4 Post traumatik ulser yang sedang dalam proses penyembuhan

Gambar

2.5 Teraan gigitan pada mokosa bukal


kanan dan kiri

13

Gambar 2.6 Selaput putih pada dorsal lidah

Gambar 2.7 Bibir atas dan bawah kering

Hasil Pemeriksaan Penunjang


Tidak dilakukan
Diagnosis
d/ Post ulcer pada mukosa labial kanan bawah, et causa trauma mekanik
d/ Cheek biting pada kedua sisi
14

d/ Coated tongue
d/ Keilitis eksfoliatif

Differential Diagnosis
dd/ Recurrent apthous stomatitis
dd/ Linea alba
dd/ Oral candidiasis

Rencana Perawatan
Pro/ Medikamen
Melanjutkan penggunaan Triamcynolone asetonida 0,1% dan Clorhexidine
gluconate 0,2% pada area ulser
Pro/ Oral Hygiene Instruction
-

Menyikat gigi minimal 2x sehari yaitu pagi saat sesudah sarapan, dan

malam sebelum tidur


Menyikat lidah 2x sehari sesaat setelah menyikat gigi atau penggunaan
tongue scrapper pada dorsal lidah

Pro/ Komunikasi Edukasi dan Informasi


- Konsumsi makanan yang mengandung vitamin B kompleks dan zat besi
- Minum air mineral 8 gelas sehari (2 Liter)
- Instruksi penggunaan gliserin pada bibir atas dan bawah
Pro/ kontrol 1 minggu
2.3 Laporan Kontrol II
Tanggal
: 17 Mei 2016
Nama
: Nn. MAS

NRM
: 2015-024XX
Jenis Kelamin : Perempuan

Anamnesis

15

Hari ke-21 sariawan pada bibir dalam bagian bawah kanan sudah sembuh dan
tidak ada keluhan lagi dan tidak terasa sakit sama sekali, setelah sebelumnya
melanjutkan memakai Triamcynolone asetonida 0,1% dan Clorhexidine
gluconate 0,2%.
Pemeriksaan Ekstraoral
Kelenjar Limfe
Submandibula

Submental

Servikal

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kiri

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Kanan

: Teraba + / - Lunak/Kenyal/Keras Sakit + / -

Bibir

Tidak ada kelainan

Wajah

Simetri / Asimetri

Sirkum Oral

Tidak ada kelainan

Lain-lain

Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Intraoral
Kebersihan mulut

: Baik, Kalkulus (-), Plak (+), Stain (-)

Gingiva

: Terdapat resesi pada regio 34 dan 44, sedikit odem di


regio 48 karena terdapat gigi yang erupsi

16

Mukosa bukal

: Teraan gigitan pada sisi kiri dari gigi 35 s/d 37 dan sisi
kanan dari gigi 45 s/d 47 dengan lapisan berwarna
keputihan

Mukosa labial

: Ulser telah tertutup sempurna (sembuh)

Palatum durum

: Tidak ada kelainan

Palatum mole

: Tidak ada kelainan

Frenulum

: Tidak ada kelainan

Lidah

: Terdapat lapisan putih pada dorsal lidah

Dasar mulut

: Tidak ada kelainan

Status Gigi Geligi

Unerruption tooh

: 18, 28, 38

Partial erruption

: 48

Karies superficial

: 16, 26, 27, 36, 37, 47

Restorasi logam

: 46

17

Gambar 2.8 Traumatik ulser pada mukosa labial rahang bawah dalam sisi
kanan yang sudah sembuh
Hasil Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
Diagnosis
d/ Post ulcer pada mukosa labial kanan bawah, et causa trauma mekanik
d/ Keilitis eksfoliatif

Differential Diagnosis
dd/ Recurrent apthous stomatitis

Rencana Perawatan
Pro/ Oral Hygiene Instruction
-

Menyikat gigi minimal 2x sehari yaitu pagi saat sesudah sarapan, dan
malam sebelum tidur

Pro/ Komunikasi Edukasi dan Informasi


-

Konsumsi makanan yang mengandung vitamin B kompleks dan zat besi


Minum air mineral 8 gelas sehari (2 Liter)

18

Instruksi penggunaan gliserin pada bibir bawah

19

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Lesi Ulseratif


Ulser atau ulkuse merupakan kondisi diskontinuitas jaringan yang meluas
hingga ke dermis dan subkutis dan selalu terjadi pada kondisinpatologis (Wolff
dan Johnson, 2009). Gambaran klinisnya menunjukkan defek pada lapisan
epithelium dengan batas jelas, yang menunjukkan adanya area inflamasi dan
jaringan ikat yang terpapar (Soames, 2005). Menurut Regezi dan Sciubba (2003),
berdasaan penyebabnya, ulser dikelompokkan menjadi 5,yaitu lesi reaktif, infeksi
bakteri, infeksi jamur, kondisi yang berhubungan dengan disfungsi immunologi
dan neoplasma menurut Birnbaum dan Dunne (2010), ulser dapat dikelompokkan
menjadi 5 berdasarkan penyebabnya, yaitu traumatik, infeksi, neoplasma,
sistemik, dan lain-lain.
Pada pembahasan makalah kali ini akan dijelaskan mengenai lesi ulseratif
yang disebabkan oleh trauma.
3.2 Ulser Traumatik
Ulser traumatik adalah lesi ulseratif yang disebabkan karena trauma
(Mosbys Dental Dictionary, 2008). Traumatik ulser dapat terjadi pada semua usia
dan pada kedua jenis kelamin. Penyebab dari ulser traumatik adalah trauma berupa
bahan-bahan kimia, panas, listrik, gaya mekanik (Langlais and miller, 2010). Selain
itu, ulser ini dapat bervariasi diantaranya trauma akibat gigi tiruan, tergigit, benda
tajam, ataupun luka yang diakibatkan karena alat dokter gigi. Ulser traumatik
merupakan ulser fokal yang paling sering terjadi (Eversole, 2011; Laskaris, 2006).

20

Lokasi ulser traumatik biasanya pada mukosa pipi, mukosa bibir, palatum, dan tepi
perifer lidah (Langlais and Miller, 2010).
Bentuk dari lesi ulser traumatik adalah lesi tunggal yang mengalami
kerusakan epitel dan ditutup oleh gumpalan fibrin yang terlihat putih kekuningan
dengan pinggiran eritem (Laskaris, 2006).
Ulser traumatik dapat dibagi menjadi dua, yaitu akut dan kronik. Ulser
traumatik akut lebih mudah utnuk didiagnosa karena pasien dapat memberikan
anamnesa yang jelas mengenai enyebab terjadinya ulser. Ulser yang menimbulkan
rasa sakit biasanya memiliki teri yang ireguler (Turner, 1980).
Lesi yang diakibatkan oleh iritasi ringan yang terus menerus dan
berkelanjutan disebut ulser traumatik kronis. Ulser tersebut bisa diakibatkan oleh
ujung gigi yang tajam atau gigi tiruan yang rusak. Pasien biasanya tidak
memperhatikan lesi hingga menjadi besar. Gambaran klinis lesi ini menyerupai
karsinoma dan ulser yang infeksius (Turner, 1980).

Gambar 3.1 Traumatik Ulser pada Bibir Bawah (Laskaris, 2006)

Gambar 3.2 Traumatik Ulser Akut (Regezi et al.,2003)


21

Gambar 3.3 Traumatik Ulser Kronis pada Palatum (Regezi et al.,2003)


3.2.1.
Etiologi
Traumatik ulser dapat terjadi karena iritasi dari benda tajam dan bisa juga
terjadi karena kecelakaan kerja dokter gigi saat melakukan prosedur dental
(Dunlap, 2009). Traumatik Ulser dapat terjadi karena beberapa faktor:
a. Trauma Mekanis atau Fisik
Lesi sering ditemukan pada mukosa labial,bukal, dan batas lateral lidah.
Biasnya disebabkan karena tergigit, luka dari penggunaan sikat gigi, tambalan
yang tajam, penggunaan alat orthodonti, gigi yang patah atau tajam, alat
kedokteran gigi, dan luka akibat penggunaan gigi tiruan (Regezi et al., 2003).
Menurut Greenberg et al., pada tahun 2008 penyebab trauma ulser jenis ini juga
dapat diakibatkan karena maloklusi, kesalahan pada pembuatan protesa,menyikat
gigi yang terlalu keras, kebiasaan pasien yang suka menggigit-gigit pipi atau bibir,
dan oral piercing. Menurut Brmbaum dan Dunne (2010), trauma mekanik dapat
disebabkan karena tergigit baik disengaja maupun tidak disengaja. Lokasinya bisa
bersebelahan dengan gigi yang karies atau patah, tepi plat gigi tiruan dan alat
orthodontik.
b. Trauma Kimia

22

Trauma kimiawi dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan yang


bersifat, seperti obat kumur dengan kandungan tinggi alkohol, kecelakaan kerja
pada prosedur dental oleh dokter gigi seperti terkena hidrogen peroksid, fenol,
etsa, dan obat aspirin yang digerus dan ditempelkan pada mukosa yang sakit
(Regezi et al., 2003). Selain itu, sodium perborate dan turpentin juga dapat
menyebabkan terjadinya ulkus (Neville, et al., 2009). Penggunaan aspirin baik
dalam tablet maupun yang digunakan secara topikal pada mukosa dapat
menyebabkan ulkus pada mukosa (Greenberg dkk., 2008). Luasnya lesi
bergantung pada durasi dan jumlah pengaplikasian bahan kimia tersebut (Regezi
et al., 2003).
Material Endodontik yang berfungsi sebagai bahan devitalisasi pulpa seperti
pasta arsen atau paraformaldehid dapat menyebabkan terjadinya nekrosis pada
gingiva yang diakibatkan oleh bocornya bahan devitalisasi dari kamar pulpa
menuju ke jaringan sekitar. Sodium hypochlorite juga dapat menimbulkan efek
yang sama apabila mengalir ke jaringan sekitar. Pada penggunaan cotton roll, juga
dapat menyebabkan tibulnya ulkus pada mukosa rongga mulut. Kejaian ini
disebut cotton roll burn atau cotton roll stomatitis (Neville et al., 2009).

23

Gambar 3.4 Traumatik Ulser Akibat Penggunaan Gigi Tiruan (Regezi et al., 2003)
c. Suhu Panas
Lesi yang terjadi karena makanan dan minuman yang sangat panas dan anakanak yang menggigit kabel peralatan listrik. Kontak instrumen dokter gigi yang
panas pada mukosa yang teranestesi, secara tidak sadar pasien mengalami luka
akibat instrumen panas (Regezi et al., 2003).

24

Gambar 3.5 Traumatik Ulser Akibat Suhu Panas Material Hidrokoloid (Regezi et
al., 2003)
d. Terapi Radiasi dan Kemoterapi
Lesi biasa terdapat pada pasien yang sedang menjalani perawatan radiasi
kanker pada kepala dan leher. Pada lesi keganasan tersebut, terutama squamous
cell carcinoma, yang membutuhkan dosis radiasi yang besar (60-70Gy), ulser
biasa terlihat pada lokasi penyinaran (Regezi et al., 2003). Pada kemoterapi,
mukosa yang terkena adalah mukosa non keratinisasi, seperti mukosa bukal,
ventrolateral lodah, palatum mole, dan dasar mulut. Manifestasi oral akibat terai
radiasi adalah oral mucositis yang timbul pada minggu kedua setelah terapi, dan
akan sembuh perlahan setelah 2-3 minggu setelah terapi dihentikan (Regezi et al.,
2003).
Pada lesi jenis ini, lesi awal berwarna kaputihan dengan sedikit deskuamasi
pada keratin, yang kemudian menimbulkan atrofi pada mukosa dengan gambaran
edematous dan eritematous. Selanjutnya ulkus akan ditutupi oleh membran
fibrinopurulen. Ulkus terasa nyeri dengan sensasi rasa terbakar serta tidak nyaman
(Neville dkk., 2009).
3.2.2.

Gambaran Klinis

25

Gambaran klinis dari ulser traumatik dapat bervariasi, namun biasanya


tampak sebagai ulser tunggal dengan membran fibrin purulen berwarna
kekuningan, dasar putih kekuningam dan pinggiran eritem, yang disertai dengan
timbulnya rasa nyeri (Regezi dan Sciubba, 2003). Menurut Neville et al (2009),
tepi ulkus traumatik ditandai dengan area berwarna kekuningan yang dikelilingi
oleh halo eritemathous, namun pada beberapa kasus,tepi ulkus dapat berwarna
putih karena adanya hiperkeratosis. Lesi tersebut apabila dipalpasi dan akan
sembuh tanpa bekas dalam waktu 6-10 hari secara spontan atau dengan
menghilangkan penyebab. Ulser traumatik kronis dapat dijadikan sebagai indikasi
indikasi karsinoma. Tempat predileksinya adalah lidah, bibir, dan mukosa bukal.
Penegakan diagnosis dapat dilakukan melalui sejarah dan gambaran klinis.
Apabila ulser tetap ada dalam waktu 10-12 hari sebaiknya dilakukan biopsi
(Laskaris, 2006).
Ulser akibat panas elektrik sering terjadi pada bibir anak dan ukuran lesinya
cukup lebar. Lesi awalnya akan tampak kering, namun dalam beberapa hari akan
tampak krusta disertai dengan perdarahan (Greenberg and Glick, 2003).

26

Gambar 3.6 Traumatik Ulser pada Lidah (Laskaris, 2009)


Luka karena trauma mekanis akan tampak adanya area pada mukosa dimana
hilangnya lapisan epitel. Lesi ini dapat disertai atau tidak disertai dengan rasa
sakir. Traumatik ulser biasanya berbentuk ovoid dan memiliki bagian tengah
nekrotik berwarna puih kekuningan yang dikelilingi tepi eritem. Lokasi ulser
nekrotik berdekatan dengan kausanya (Sonis, 1995).

3.2.3.
Patofisiologi
Gaya eksternal yang mengenai jaringan dapat menyebabkan trauma pada
ulser (DeLong and Buckhart, 2013). Mukosa oral terdiri dari lapisan epitel gepeng
berlapis yang tipis dan rapuh. Epitel mukosa mempertahankan integritas struktural
oleh proses pembaharuan sel terus-menerus. Pembaharuan sel yang cepat dapat
mempercepat pula proses penyembuhan luka. Namun demikian kemungkinan
mutasu dan kerusakan pada sel juga tinggi (Cunningham, 2002).

27

Gejala ulser traumatik adalah sakit, berupa panas dan nyeri setempat.
Ketidaknyamanan dalam 24-48 jam sesudah trauma terjadi. Gambaran lesi
bergantung pada iritan. Pada awalnya daerah eritematous dijumpai di daerah
perifer kemudian menjadi makula merah, dalam waktu singkat bagian tengah akan
berubah menjadi jaringan nekrotik dan ulser akan ditutupi oleh eksudat fibrin
kekuningan. Ulser akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 10-14 hari
apabila iritan peenyebab

dihilangkan. Hal tersebut biasanya ditandai dengan

perubahan warna dasar ulkus menjadi merah muda tanpa eksudat fibrin
(Cunningham, 2002).
3.2.4.
Histopatologi
Secara histopatologi, epitelium dapat memperlihatkan hiperkeratosis. Pada
jaringan ikat di bawahnya terdapat jaringa granulasi dengan infiltrasi neutrofil,
limfosit, histiosit, dan kadang sel plasma. Lesi ini akan sembuh alam beberapa
minggu setelah stimulus dihilangkan. Ulser kecil tidak akan meninggalkan bekas
(Saraf, 2006).
Pada gambaran mikroskopik, daerah permukaan ulserasi ditutupi oleh
membran fibrinopurulen yang terdiri dari sel inflamasi akut dengan fibrin. Epitel
skuamosa bertingkat dari permukaan yang berdekatan dapat hiperplastik dan
menunjukkan daerah atypia skuamosa reaktif. Dasar ulser terdiri dari proliferasi
jaringan granulasi dengan daerah edema dan infiltrasi sel inflamasi akut dan
kronis (Houston, 2009).
Gambar 3.7 Gambaran Histologi Ulser Traumatik (Regezi et al., 2003)
3.2.5.
Diagnosis Banding
a. Stomatitits Aphtous Rekuren

28

SAR merupakan suatu kelainan pada rongga mulut yang ditandai dengan lesi
ulserasi yang bersifat rekureni pada rongga mulut dan saluran orofaring dan SAR
tidak disertai tanda-tanda penyakit lainnya. SAR terdiri atas daerah ulser yang
berwarna putih kekuningan dengan dasar cekung dan disertai dengan margin
eritema (Field and Longman, 2003).
Penyebab dari SAR sampai saat ini belum diketahui, namun SAR dapat
timbul karena beberapa faktor, dengan keterlibatan sistemik, lokal, mikrobial, dan
faktor genetik.
Faktor-faktor perdisposisi pada SAR :
1.

Faktor Genetika
Miller mengemukakan bahwa dari 1.303 anak-anak yang berasal dari 530

keluarga menunjukkan bahwa kemungkinan anak tersebut terkena SAR lebih


besar apabila orang tuanya memiliki SAR. Penelitian Ship mengemukakan bahwa
pasien yang memiliki riwayat keluarga dengan SAR memiliki kemungkinan 90%
terkena SAR juga, dan pasien yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan RAS
memiliki kemungkinan 20% untuk terkena RAS (Greenberg and Glick, 2003).

2.

Defisiensi Nutrisi

29

Defisiensi vitamin B12, asam folat, dan zat besi juga merupaan penyebab
SAR, namun dalam jumlah yang kecil. Pasien dengan kondisi malabsorbsi seperti
penyakit celiac (gluten-sensitive enteropathy atau nontropical sprue) dan Crohns
disease memiliki kecenderungan menderita SAR. (Regezzi). Pada pasien yang
mengalami menstruasi juga dapat mengalami kekurangan zat besi .

3.

Alergi
Makanan yang diduga memicu alergi adalah susu, keju, mentega, dan

tepung. Deterjen yang terdapat pada pasta gigi, Sodium Lauryl Sulfate (SLS)
diduga menjadi etiologi pertumbuhan SAR, namun penelitian double-blind
crossover menunjukkan penggunaan pasta gigi bebas SLS tidak memiliki efek
signifikan pada perkembangan SAR.

4.

Stress
Stress diduga menjadi salah satu faktor predisposisi RAS. Orang yang

sedang stress cenderung memiliki trauma karena parafungsional kebiasaan buruk


menggigit bibir atau pipi sehingga menyebabkan ulserasi. Beberapa studi juga
menyebutkan bahwa terdapat korelasi antara tingkat stress dan kecemasan dengan
episode RAS karena stress psikologi dapat menjadi trigger terjadinya. Beberapa
peneliti

berspekulasi

bahwa

kecemasan

dapat

menyebabkan

kebiasaan

parafungsional, termasuk mengigit bibir dan pipi, dan trauma fisik dapat memulai
proses ulseratif pada individu yang rentan (Gallo, Mimura, and Sugaya, 2009)

30

Selain itu, terjadinya SAR karena faktor stress dihubungkan dengan hormon
kortisol. Pada keadaan stress, terjadi peningkatan sekresi hormon kortisol yang
akan mengakibatkan peningkatan level kortisol dalam plasma. Hal ini akan
menyebabkan

peningkatan

katabolisme

protein

menjadi

lambat

yang

mengakibatkan penyembuhan luka menhadi lambat. Pembentukan hormon


kortisol tersebut menghambat Ig-A yang ada dalam saliva yang merupakan sistem
imunitas dalam saliva (Greenberg and Glick, 2003; Gallo, Mimura and Sugaya,
2009).

5.

Gangguan Hormonal
Hormon

progesteron

yang

kadarnya

lebih

rendah

dari

normal

menyebabkan resiko terjadinya RAS yang lebih tinggi. Efek hormon progesteron
dalam jaringa periodontal adalah meningkatkan produksi prostaglandin (self
limiting process), meningkatkan polymorphonuclear leukocytes, mengurangi efek
anti-inflamasi dari glukokortikoid, mengubah sintesi protein kolagen dan non
kolagen serta metabolisme fibroblast, dan meningkatkan permeabilitas vaskuler.
Pada pasien RAS oleh karena progesteronnya rendah maka self limiting process
berkurang (Soetiarto, Maria, Utami, 2003).

6.

Perubahan Kebiasaan Merokok


Terdapat

hubungan

antara

meningkatnya

terkena

SAR

dengan

menghentikan kebiasaan merokok. Kandungan tembakau pada rokok dapat


menyebabkan peningkatan keratinisasi mukosa yang menyebabkan mukosa lebih

31

tahan terhadap ulser. Saat kebiasaan merokok berhenti, mukosa akan mengalami
penipisan karena penurunan keratinisasi mukosa sehingga mukosa lebih rentan
mengalami ulserasi. Selain itu, stress akibat menghentikan kebiasaan merokok
juga diduga dapat meningkatkan kemungkinan SAR (Field and Longman, 2003).

7.

Mikroorganisme
SAR dulu diasumsikan sebagai bentuk rekurensi dari infeksi HSV. Namun,

beberapa penelitian pada 40 tahun terakhir mengatakan bahwa SAR bukan


disebabkan oleh HSV karena terapi antiviral untuk infeksi HSV tidak efektif
digunakan untuk SAR. Penelitian selanjutknya mengatakan bahwa ada hubungan
antara

SAR

dengan

virus

lainnya

seperti

virus

varicella-zoster

atau

Cytomegalovirus (Greenberg and Glick, 2003).


Gambaran klinis dari SAR adalah lesi ulseratif yang rekuren ukurannya bisa satu
atau jamak, dangkal, ovoid, ulser yang disertai rasa sakit, terjadi pada interval
beberapa hari atau sampai 2-3 bulan. Onset SAR mayoritas terjadi pada usia
dekade kedua, biasanya disebabkan oleh trauma minor, menstruasi, infeksi saluran
pernapasan atas, atau adanya kontak dengan jenis makanan tertentu (Field and
Longman, 2003). Greenberg and Glick, 2003 membagi tahap perkembangan ulser
menjadi 5 fase, yaitu:
1

Fase Prodormal
Fase ini berlangsung 2-48 jam, ditandai dengan rasa ketidaknyamanan di
dalam mulut dan terkadang disertai dengan malaise. Namun, fase ini
jarang terjadi pada mayoritas pasien.

32

Fase Pre-ulseratif
Fase ini ditandai dengan adanya mukosa yang mengalami eritema dan
bengkak.

Fase Ulseratif
Fase ini merupakan fase yang dominan, pasien merasakan adanya nyeri
lokal pada mukosa mulut. Terlihat lesi cekung dengan margin yang tajam
dan jelas yang dikelilingi dengan daerah eritema dan edema. Pada SAR
lesi berbentuk oval atau bulat reguler, sedangkan pada ulkus traumatikus
lesi berbentuk irregular.

Fase Penyembuhan
Fase ini ditandai dengan menghilangnya rasa nyeri dan terlihat gambaran
granulasi serta pseudomembran.

Fase Remisi
Fase ini dapat berlangsung lama atau sebentar, regular atau irregular,
tergantung dari faktor etiologi.

Terdapat tiga tipe SAR, yaitu tipe mayor, minor, dan herpetiform.
Perbedaan dari ketiga tipe tersebut adalah derajat keparahannya. Perbedaan dari
masing-masing tipe akan dijelaskan pada tabel di bawah:

Gambaran

Prevalensi

Tipe SAR
Minor

Mayor

Herpetiform

75-85%

10-15%

5-10%

33

Puncak onset

1 dan 2

1-5

1-3

5-20 (bisa mencapai

(dekade)
Jumlah ulser per
episode

100)

Ukuran ulser (mm)


Durasi
Sembuh tanpa bekas
Lokasi

< 10

> 10

1-2

7-14 hari

2 minggu 3 bulan

7-14 hari

Ya

Tidak

Ya

Mukosa nonkeratin,

Mukosa berkeratin,

Mukosa nonkeratin,

terutama pada mukosa mukosa tidak

dasar mulut, dan

bukal dan labial,

permukaan ventral

berkeratin, palatum

permukaan dorsal dan lunak

lidah

lateral lidah

a. SAR Tipe Minor


Insidensinya mencapai 80% dari seluruh kasus SAR. Sekitar 56% terjadi pada
wanita. SAR tipe minor biasanya mengenai mukosa bukal, labial, dasar mulut,
dan lidah. Ulser lebih sering mengenai daerah anterior rongga mulut dan jarang
mengenai faring maupun tonsil. Fase prodormal pada SAR tipe minor biasanya
diikuti dengan sensasi terbakar pada lokasi ulser sebelum ulser tampak. Ukuran
ulser mencapai maksimum 10 milimeter dengan ukuran rata-rata 4-5 milimeter.

34

Gambar 3.8 Stomatitis Aftosa Rekuren Tipe Minor (Laskaris, 2006)


Dasar ulser berwarna abu-abu kekuningan dengan batas regular, sedikit
meninggi, dan berbentuk oval atau bundar. Ulser tersebut terasa sakit, dan
bertambah saat berbicara atau makan. Bila ulser mengenai bibir, seringkali disertai
dengan edema ringan sekitar ulser, namun hal ini jarang terjadi. Perbesaran
kelenjar limfe hanya terlihat apabila terjadi infeksi sekunder.
Ulser terjadi beberapa hari sampai maksimal 2 minggu. Pada fase
penyembuhan terjadi reepitelisasi pada daerah ulser dan akan sembuh dalam
beberapa hari. Ulser minor tidak meninggalkan bekas setelah sembuh. Periode
bebas ulser biasanya 3-4 minggu, namun pada beberapa kondisi bisa berbeda pada
setiap individu (Field and Longman, 2003; Greenberg and Glick, 2003).
b. SAR Tipe Mayor

35

Gambar 3.9 Stomatitis Aftosa Rekuren Tipe Mayor (Laskaris, 2006)


Ukuran ulser tipe mayor lebih besar dengan durasi yang lebih lama
dibanding tipe minor. Apabila terlihat lesi tunggal, lesi tersebut dapat bersifat
ganas. Setelah sembuh, lesi meninggalkan bekas disertai dengan destruksi
jaringan. SAR tipe mayor bisa terjadi diseluruh rongga mulut, termasuk bagian
palatum lunak dan tonsil, bahkan ulser dapat meluas ke orofaring. Keterlibatan
dari jaringan oral bagian posterior bisa menjadi karakteristik SAR, meskipun
awalnya ulser masih kecil. Pada SAR tipe mayor makan akan menjadi sangat sulit
dan akan mempengaruhi kesehatan umu dari pasien (Field and Longman, 2003;
Greenberg and Glick, 2003).
c. SAR Tipe Herpetiform

Gambar 3.10 Stomatitis Aftosa Rekuren Tipe Herpetiform (Laskaris, 2006)

Secara morfologi, SAR tipe herpetiform memiliki gambaran klinis mirip


dengan infeksi HSV. SAR tipe ini jarang terjadi, hanya sekitar 5-10% dari kasus
SAR. Ulser pada SAR tipe herpetiform berukuran kecil sekitar 1-3 milimeter dan

36

multipel bervariasi 5-100 ulser. Mukosa oral nonkeratinisasi bisa terlibat, secara
khusus bisasanya terdapat pada lateral margin dan permulaan sentral dari lidah
dan dasar mulut (Field and Longman, 2003; Greenberg and Glick, 2003).

b. Infeksi Virus Herpes Simplex


Terdapat dua tipe virus yang dapat menyebabkan herpes yaitu HSV 1 dan
HSV 2. Penyebab utama terjadinya herpes pada rongga mulut adalah HSV 1 virus
herpes identik dengan kondisi laten yang dapat aktif kembali ketika psien
mengalami penurunan imun (Scully, 1999). Masa inkubasi penyakitt ini berkisar
antara 2-5 hari. Gejala umum penyakit ini diantaranya demam, pusing, demam,
malaise, nausea, dan muntah. Lesi herpes oral timbul 1-2 hari setelah gejala
prodormal. Vesikel kecil muncul pada mukosa. Vesiket tersebut mudah pecah dan
meninggalkan ulser dangkal. Penegakan diagnosis didapatkan melalui anamnesis
yang teliti terhadap pasien (Greenberg and Glick, 2003).
Pada kasus primary herpetic stomatitis, timbul beberapa vesikel yang
menyebar dengan tepi irreguler dan menimbulkan rasa sakit. Gingiva mengalami
odem, eritem, dan tampak ulser. Lidah biasanya berselaput putih dan pasien
mengalami malaise serta demam (Scully, 1999).

37

Gambar 3.11 Ulser pada Herpes Simplex Primer (Regezi et al., 2003)

Gambar 3.12 Ulser Multipel pada Herpes Simplex di Palatum (Laskaris, 2006)
Infeksi herpes rekuren biasa terjadi disebabkan HSV-1 laten pada ganglion
trigeminal dan teraktivasi kembali. Faktor yang dapat memicu aktivasi tersebut
diantaranya demam, stress, temperatur dingin, resistensi yang rendah, cahaya
matahari, trauma, dan kondisi immunosupresan. Herpes ini bersifat self limited

38

dan akan sembuh dalam 2 minggu tanpa meninggalkan bekas luka (Scully, 1999;
Regezi et al., 2003). Sekitar 15% dewasa normal mengalami rekurensi HSV-1
yang tampak sebagai:
Lesi bibir pada perteuan mucocutaneus; berupa makula yang secara
cepat berubah menjadi papula, vesikel, kemudian berubah menjadi

pustula, keropeng, dan akan sembuh tanpa meninggalkan bekas luka.


Herpes intraoral rekuren pada pasien yang sehat biasa menyerang
bagian palatum keras atau gingiva berupa ulser kecil pada foramen
palatina. Lesi akan sembuh dalam 1-2 minggu.

Penegakan diagnosis untuk herpes dapat dilakukan melalui kultur virus,


immunodetecting, PCR (Polymerization Chain Reaction), atau penggunaan
mikroskop elektron. Penatalaksanaan herpes yaitu dengan diet lunak, konsumsi
analgesik, serta acyclovir (Scully, 1999).
c. Squamous Cell Carcinoma
Sebagian besar dari kanker mulut merupakan jenis kanker sel skuamosa.
Lesi karsinomaawal akan terlihat seperti lesi kronik eritroplakia, leukoplakia, atau
gabungan ekduanya. Squamous cell carcinomasering terdapat pada palatum lunak,
lidah, dan dasar lidah. Etiologi lesi malignan ini tidak dapat ditentukan dengan
pasti, namun rokok, minuman keras atau papiloma virus adalah faktor
predisposisi. Diagnosis lesi ini ditunjang dengan pemeriksaan radiografi dan
histologis (Dunlap, 2000).

39

Gambar 3.12 Squamous Cell Carcinoma pada Lidah (Laskaris, 2006)

Gambar 3.13 Squamous Cell Carcinoma pada Dasar Mulut (Laskaris, 2006)
3.2.6. Terapi dan Penatalaksanaan
Ulser traumatik dapat dihilangkan dengan menghilangkan penyebab
ataud engan steroid topikal untuk jangka waktu yang pendek (Laskaris, 2006).
Lesi kecil dan tidak ekstensif akan hilangn dengan sendirinya setelah penyebab
trauma dihilangkan dan kebersihan mulut tetap terjaga. Untuk menjaga kebersihan
rongga mulut, dianjurkan untuk menggunakan antiseptik seperti obat kumur.
Lesi yang luas harus diperhatikan proses penyembuhannya karena lebih
rentan meninggalkan bekas luka. Lesi yang tidak mengalami perubahan ke arah
sembuh dianjurkan untuk dilakukan bipsi dan pemeriksaan lebih lanjut (Jordan,
2004).

40

Untuk mempercepat proses penyembuhan, dapat diberikan covering


agent pad apermukaan ulkus, seperti aliclair pada permukaan ulkus. Aloclair
mengandung air, maltodextrin, proylene glycol, polyvinylpyrrolidone (PVP),
ekstrak aloevera, kalium sorbate, natrium benzoate, hydroxythylcellulose, PEG
40, hydrogenated glycyrretic aicd (MIMS, 2009). Kandungan PVP akan
membentuk lapisan protektif tipis di atas ulkus yang akan menutupi dan
melindungi akhiran saraf yang terbuka segingga mengurangi rasa nyeri dan
mencegah iritasi pada ulkus. Ekstrak aloe vera mengandung kompleks
polisakarida dan gliberillin. Polisakarida berkaitan dengan reseptor permukaan sel
fibroblast untuk memperbaiki jaringan

yang rusak, menstimulasi dan

mengaktivasi pertumbuhan fibroblast, sedangkan gliberillin mempercepat


penyembuhan ulkus dengan cara menstimulasi replikasi sel (Plasket, 2008).
Pilihan terapi lain pada ulser traumatik adalah pemberian triamcinolone
acetonide in orabase (lebih dikenal engan istilah kenalog orabase) yaitu
kortikosteroid sintetik yang secara umum mempunyai efek anti inflamasi, anti
gatal, dan anti alergi. Istilah orabase menunjukkan bahwa obat ini diaplikasikan ke
dalam mulut. Fungsi utama kenalog in orabase adalah untuk mengobati nyeri,
bengkak, peradangan, dan luka pada mulut atau gusi. Pemberian kenalog in
orabase diharapkan proses penyembuhan berlangsung lebih cepat. Kontrandikasi
penggunaan kenalog in orabase adalah pada pasien dengan riwayat hipersensitf
terhadap triamcinolone acetonida atau kortikosteroid lainnya dan pasien yang
menderita infeksi virus, bakteri, dan jamur di mulut atau tenggorokan (Paisal,
2014).

41

Gambar 3.14 Triamcinolone Acetonida 0,1% in orabase (www.sehat.com.pk)

Gambar 3.15 Clorhexidine Gluconate 0,2% (www.ukdentalsuplies.com)


3.2

Cheek biting
Lesi putih pada jaringan oral dapat dihasilkan dari iritasi kronis karena

penghisapan (sucking) berulang, gigitan, atau kunyahan. Hal-hal ini menghasilkan


area trauma yang semakin tebal, membekas, dan lebih pucat daripada jaringan
sekitarnya. Cheek chewing sering terjadi pada orang yang stress, atau dalam
gangguan fisiologis dimana memiliki kebiasaan menggigit pipi dan bibir.
Kebanyakan pasien dengan kondisi ini sedikit menyadari kebiasaannya tetapi

42

tidak mengetahui hubungannya dengan lesi yang terjadi. Lesi putih dari check
chewing ini terkadang membingungkan karena mirip dengan kelainan
dermatologis lainnya yang mengenai mukosa oral, sehingga bisa menyebabkan
kesalahan mendiagnosa. Kronik chewing pada mukosa labial (morsicatio
labiorum) dan batas lateral lidah (morsicatio linguarum) dapat terlihat sewaktu
adanya check chewing atau dapat menyebabkan lesi terisolasi. Prevalensi rata-rata
0,12-0,5% dilaporkan pada populasi di Scandinavia dan 4,6% di Afrika Selatan
pada sekolah anak-anak yang memiliki treatment kesehatan mental; rata-rata ini
didukung oleh peranan stress dan kecemasan sebagai etiologi dari kondisi ini
(Greenberg and Glick, 2003).

3.2.1. Gambaran Klinis Cheek Biting


Lesi ini biasanya ditemukan bilateral pada mukosa bukal posterior
sepanjang oklusal plane. Mungkin juga dapat terlihat kombinasi dengan lesi
traumatis pada bibir atau lidah. Pasien seringkali mengeluh adanya kekasaran atau
tanda kecil pada jaringan. Hal ini memproduksi tampilan klinis yang berjumbai
jelas. Lesinya sedikit dibatsi oleh lapisan keputihan yang dapat bercampur dengan
area yang erithema atau ulserasi. Lesi ini biasanya muncul 2x lebih banyak pada
wanita dan 3x lebih banyak pada umur 35 tahun ke atas (Greenberg and Glick,
2003).
3.2.2.

Pengobatan dan prognosis

Karena lesi dihasilkan dari kebiasaan yang tidak disadari, tidak ada
pengobatan

yang

diindikasikan.

Karena

43

tidak

adanya

pengobatan

dan

ketidakmungkinan menghentikan kebiasaan chewing ini, plastic occlusal night


guard dapat digunakan. Pengisolasian lidah yang terlibat, membutuhkan
pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan oral hairy leukoplakia terutama jika
faktor resikonya jelas untuk penderita HIV (Greenberg and Glick, 2003).

3.2.3.
Differential diagnosis Cheek Biting
(a) Linea alba
Linea alba merupakan lapisan horizontal pada mukosa bukal yang sejajar
dengan oklusal plane yang akan meluas ke geligi posterior. Hal ini sering
ditemukan dan seringkali berhubungan dengan tekanan, iritasi friksi atau trauma
menghisap (sucking trauma) dari permukaan fasial geligi (Greenberg and Glick,
2003).
Gambaran Klinis Linea Alba
Linea alba biasanya tampak bilateral dan mungkin terlihat tegas pada
beberapa individu. Linea alba ini terjadi lebih banyak pada individu dengan
pengurangan overjet pada geligi posterior. Biasanya berlekuk dan berbatasan
dengan area dentulous (Greenberg and Glick, 2003).

44

Gambar 3.16 Linea Alba pada Mukosa Bukal Kanan (Laskaris, 2006)

Perawatan Linea Alba


Tidak ada pengobatan yang diindikasikan untuk pasien linea alba. Lapisan
putih akan menghilang secara spontan pada kebanyakan individu (Greenberg and
Glick, 2003).

45

BAB IV
PEMBAHASAN

Traumatik
kasus

yang

ulser

merupakan

umum

dikeluhkan

pasien yang datang ke bagian Penyakit Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut,
Sekeloa. Pada kasus ini, pasien wanita berusia 22 tahun datang dengan keluhan
terdapat sariawan pada bibir bawah kanan bagian dalam akibat tergigit secara
tidak sengaja. Awal mula luka tampak kecil dan kemerahan, namun berubah
menjadi merah keputihan yang menimbulkan rasa sakit dan perih terutama saat
pasien makan. Pasien mengaku sering mengkonsumsi buah dan sayur setiap
harinya.
Pemeriksaan klinis pada pasien ditemukan ulser pada daerah labial kanan
bawah berdiameter +5 mm, menonjol, berwarna merah keputihan, dengan tepi
ireguler kemerahan.
Anamnesis dan pemeriksaan klinis merupakan tahap yang paling penting
dalam menegakkan diagnosis. Hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis
menunjukkan diagnosis oenyakit pasien adalah traumatik ulser. Traumatik ulser
merupakan ulser fokal yang paling sering terjadi dan basa disebabkan diantaranya
oleh trauma akibat gigi tiruan, tergigit, benda tajam, ataupun luka yang
diakibatkan karena alat dokte gigi (Eversole, 2011; Laskaris, 2006). Pada kasus
ini, ulser pada pasien disebabkan karena mukosa labial kanan bawah pasien
tergigit. Gambaran klinis meninjukkan ulser tunggal yang memilki dasar cekung

46

kedalaman dangkal yang berwarna putih keabuan dan tepi ireguler kemerahan,
tidak ada indurasi, serta lunak jika dipalpasi (Laskaris, 2006).
Menurut Cunningham (2002) gejala traumatik ulser adalah sakit, berupa
panas dan nyeri 24-48 jam sesudah trauma terjadi. Daerah lesi akan tampak
eritematous dan berubah menjadi makula merah. Bagian tengah akan berubah
menjadi jaringan nekrotik dan ulser akan ditutupi oleh eksudat fibrikn
kekuningan. Penjabaran tersebut sesuai dengan kasus yang dialami oleh pasien.
Diagnosis banding dari traumatik ulser adalah stomatitis apthous rekuren
(SAR), squomous cell carcinoma, dan herpes simplex virus. Hal yang
membedakan keempat kesi tersebut adalah faktor penyebab, angka kejadian
rekurensi, serta bentuk lesi. SAR disebabkan oleh berbagai faktor seperti stress,
trauma, hormon, atau faktor lain. Pada SAR bentuk cenderung lebih simetris
dibandingkan dengan ulser traumatik, angka kejadian juga berulang umumnya
seiap bulan. Ulser biasa terdapat di dasar mulut, mukosa bukal, mukosa labial,
atau lidah (Regezi et al., 2003); laskaris, 2006). Pada pasien HSV, terjadi demam
sebelum lesi muncul. Lesi yang timbul multipel dan ireguler. Tempat munculnya
lesi diantaranya pada bibir, lidah, palatum, dan gingiva. Herpes tipe sekunder
dapat terjadi akubat rekurensi HSV-1 yang laten pada ganglion trigeminal yang
dipicu oleh stress, paparan sinar matahari, temperatur dingin, dan trauma
(greenberg and Glick, 2003; Usri et al, 2003).
Terapi kasus ini adalah dengan pemberian OHI (Oral Hygine Instructions)
kepada pasien tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kemudian
pasien diresepkan obat Triamcynolone acetonida 0,1% in orabase Terapi tersebut

47

sesuai dengan teori Field dan Longman (2003), penatalaksanaan traumatik ulser
dengan menghilangkan penyebab dan menggunakan simple covering agent selama
fase

penyembuhan

dan

ulserasi.

Triamcynolone

acetonida

merupakan

krotikosteroid topikal yang diindikasikan untuk stomatitis apthous, ulser apthous


herpetiform,

traumatik

ulser,

ulser

karena

obat,

dan

lichen

planus.

Kontraindikasinya adalah pasien yang menderita infeksi virus, bakteri, dan jamur,
lesi herpetik karena virus atau lesi intraoral. Pasien juga diresepkan obat kumur
berupa clorhexidine gluconate

0,2% yang digunakan 4 kalis ehari sebelum

penggunakan Trimacynolone acetonida 0,1% pada ulser. Buah, sayur, dan vitamin
B kompleks dianjutkan untuk dikonsumsi pasien agar mempercepat proses
penyembuhan.
Pada saat kontrol seminggu, traumatik ulser pada pasien tampak
mengalami perbaikan yang cukup signifikan. Pasien baru dinyatakan sembuh total
setelah kontrol kedua, yaitu 21 hari sejak kunjungan pertama.

48

BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan intraoral dapat disimpulkan


diagnosis untuk pasien ini adalah traumatik ulser pada bagian labial bawah kanan
dalam. Etiologi traumatik ulser pada psaien ini adalah karena tergigit secara tidak
sengaja.
Perawatan yang diberikan pada psien adalah pemberikan OHI (Oral
Hygiene Insruction) mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut,
aplikasi Triamcynolone acetonida 0,1 % serta pemberian Clorhexidine gluconate
0,2 % pada kunjungan pertama dan kedua, dan vitamin B kompleks sebagai resep.
Pasien juga diinstruksikan untuk mengkonsumsi banyak sayur dan buah serta
memperbanyak minum air mineral dalam satu hari.
Pada kunjungan kedua yaitu seminggu setelah kedatangan pertama,
traumatik ulser mengalami perbaikan yang cukup signifikan. Pada kunjungan
kedua, yaitu dua puluh satu hari setelah kunjungan pertama, pasien dinyatakan
sembuh total. Bekas luka juga sudah terlihat normal tanpa bekas.

49

DAFTAR PUSTAKA

Birnbaum, W. Dan Dunne, S.M. 2010. Diagnosis Kelainan Dalam Mulut


Petunjuk Bagi Klinisi. Penerbit Buku Kedokteran, ECG, Jakarta.
Cunningham, S. J., F. B. Quinn, and M. W. Ryan. 2002.Ulcerative Lesions of The
Oral Cavity. Dept. Of Otolaryngologt: Grand Grounds Presentation.
DeLong, L. And N. W. Burkhart. 2013. General and Oral Pathology for The
Dental Hygienist. 2nd ed. Philadelphia: Woltrs Kluwer Health.
Denta Nursing. Ulcers: cause, identification, and management. 2012; 8: 784-786.
Available online at www.ebscohost.com
Dunlap C.Cl,. Barker B.F. 2009. A Guide to Common Oral Lesions. Departement
od Oral and Maxillofacial Pathology UMKC School of Dentistry Journals.
Eversole, L. R. 2011. Clinical Outline of Oral Pathology. 4th ed. USA: Peoples
Medical Publishing House.
Fields, A & Longman, L. 2004. Tyldesleys Oral Medicine.5th edition. New York:
Oxford.
Greenberg, M.S; M. Glick. 2003. Burkets Oral Medicine Diagnosis and
Treatment. 10th ed. Hamilton: BC Decker Inc.
Houston,
G.
2009.
Traumatic
http://emedicine.medscape.com/

Ulcers.

Available

online

at

Jordan, Richard, C. K., et al. 2004. A color Handbook of Oral Medicine. Thieme.
New York.
Langlais dan Miller. 2003. Color Atlas of Common Oral Diseases. 3rd Edition.
New York. Lippincott Williams & Wilkins.
Laskaris, G. 2006. Pocket Atlas of Oral Disease. 2nd ed. NewYork: Thieme.
Lynch MA, Brightman V.J and Greenberg, MS. 1994. Burket Ilmu Penyakit
Mulut, Diagnosis dan Terapi (Terj). Jakarta : Binarupa Aksara.
Marx E, Robert. 2003. Oral and Maxillofacial Pathology. Quinsteence Publishing
Company.
MIMS. 2009. Aloclair. Available online at http://mims.com/

50

Neville, B.W., Damm, D.D., Allen, C.M., Bouquot, J.E. 2009. Oral and
Maxillofacial Pathology. 3rd ed. Elsavier. India.
Paisal.
2014.
Kenalog
in
Orabase.
Available
http://www.kerjanya.net/faq/8037-kenalog-in-orabase.html/

online

at

Plasket. 2008. The healing Properties of Aloevera. Available online at


http://www.dietahoodia.com/
Regezi. J.A., JJ. Sciubba; and R.C.K. Jordan. 2003. Oral Pathology: Clinical
Pathologic Correlatons. 5th ed. St. Louis: Elsevier Inc.
Scully, C. 1999. Scully Handbook of Oral Disease. London: Martin Dunitz td.
Scully, C. 2013. Oral and Maxillofacial Medicine, The Basis of Diagnosis and
Treatment. Toronto : Elsevier.
Usri, K. dkk. Diagnosis dan Terapi Edisi 2. Bandung: LSKI.

51