Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kalimantan Barat merupakan daerah yang kaya akan tanah gambut yang berasal dari
pelapukan bahan organik. Air gambut bewarna hitam dan banyak mengandung bahan
organik serta dapat membentuk kompleks dengan logam seperti Fe, Pb, dan Mn
(Andayani dan Bagyo, 2011). Air gambut tidak bisa dimanfaatkan secara langsung
karena mengandung senyawa organik seperti zat humat, senyawa aromatik, tannin dan
lignin serta logam berat yang berbahaya bagi kesehatan. Pemanfaatan air gambut dapat
dilakukan dengan terlebih dahulu dilakukan pengolahan. Satu diantara metode
pengolahan air gambut adalah melalui fotokatalisis.

Prinsip pengolahan air gambut dengan fotokatalisis didasarkan pada proses penguraian
air gambut menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui reaksi fotolisis dengan
penambahan katalis pada air gambut (Jayadi, 2014). Katalis yang paling banyak
digunakan adalah TiO2 karena memiliki banyak kelebihan seperti memiliki sifat
semikonduktor, stabil secara kimia dan fisika, mempunyai aktivitas yang tinggi, tahan
gores, dan relatif murah (Rahmayeni, dkk., 2013). Katalis TiO 2 biasanya digunakan
dalam bentuk serbuk dan diaplikasikan pada air gambut. Namun, penggunaan serbuk
TiO2 memiliki kelemahan yaitu sulit dipisahkan setelah proses fotokatalisis air gambut
selesai serta menghasilkan endapan yang membuat air menjadi keruh (Zhang dan Lei,
2008). Oleh karena itu diperlukan modifikasi bentuk serbuh TiO 2 menjadi media
lembaran dengan melapiskan TiO2 pada suatu matriks padat berupa membran.

Membran merupakan material fleksibel

tipis yang biasanya terbuat dari selulosa,

polimer sintesis, dan aromatik poliamida (Daintith, 2005). Penggunaan membran untuk
pengolahan limbah sudah banyak digunakan dalam proses pemisahan. Teknologi
membran dipilih karena prosesnya yang sangat sederhana, menggunakan energi yang

rendah, tidak merusak material, dan tidak menghasilkan limbah baru sehingga tergolong
clean technology. Satu diantara clean technology tersebut adalah penggunaan membran
selulosa bakterial (Mulder, 1996).

Membran selulosa bakterial dapat dibuat melalui fermentasi bahan yang mengandung
glukosa seperti air kelapa, tetes tebu, limbah cair tahu, maupun ekstrak buah nanas
menjadi selulosa yang dibantu bakteri Acetobacter xylinum (Prambayun, 2002; Lapuz,
et al., 1976). Selain bahan tersebut, ada bahan lain yang dapat digunakan sebagai media
pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum yaitu jus kulit nanas. Nanas (Ananas
comosus L. Merr) adalah jenis tumbuhan tropis yang berasal dari Brazil, Bolivia, dan
Paraguay. Tanaman ini termasuk dalam famili nanas-nanasan (famili Bromeliaceae).
Nanas tergolong tanaman herba (menahun), daun yang panjang dan berujung tajam
(Kusumanto, 2013). Nanas merupakan satu diantara tanaman yang melimpah
keberadaanya di Kalimantan Barat. Bagian-bagian tanaman nanas terdiri dari mahkota,
bagian isi dan kulit nanas. Bagian nanas yang sering dimanfaatkan adalah bagian isinya,
sedangkan kulit nanas belum dimanfaatkan dengan optimal sehingga terbuang menjadi
limbah. Kulit nanas juga mengandung glukosa seperti pada bagian isi, meskipun dengan
persentase kandungan yang berbeda (Rosyidah, 2010; Wijana, dkk.,1991). Glukosa dari
kulit nanas dapat dikonversi menjadi selulosa dengan bantuan bakteri Acetobacter
xylinum. Oleh sebab itu kulit buah nanas berpotensi untuk digunakan sebagai sumber
membran selulosa bakterial. Membran selulosa bakterial dari kulit buah nanas
selanjutnya dimanfaatkan sebagai matriks TiO2 menghasilkan membran komposit TiO2/
selulosa bakterial melalui metode slip casting.

Membran komposit TiO2-selulosa bakterial akan dimanfaatkan sebagai fotokatalis


untuk pengolahan air gambut. Karakteristik fotokatalis TiO 2 dalam bentuk membran
komposit TiO2/selulosa bakterial akan memberikan performa yang lebih baik dalam
pengolahan air gambut. TiO2 berperan dalam mekanisme fotokatalisis air gambut,
sementara keberadaanya dalam bentuk lembaran membran akan mempermudah proses
pemisahan setelah fotokatalisis berlangsung. Selain itu, pengolahan dengan membran

komposit TiO2/selulosa bakterial tidak merusak lingkungan dan dapat mengurangi


pencemaran lingkungan. Dalam karya tulis ini akan dikaji dan dipaparkan lebih lanjut
mengenai pemanfaatan membran komposit TiO2/selulosa bakterial dari kulit nanas
sebagai fotokatalis untuk pengolahan air gambut.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas pada karya tulis
ini adalah:
1. Bagaimana potensi kulit nanas sebagai sumber glukosa untuk pembuatan membran
selulosa bakterial?
2. Bagaimana pemanfaatan membran komposit TiO2/ selulosa bakterial dalam
pengolahan air gambut?

1.3 Uraian Singkat

Air gambut di Kalimantan Barat tidak bisa dimanfaatkan secara langsung karena
mengandung senyawa organik sehingga perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
Berbagai metode telah banyak dilakukan dalam upaya pemecahan permasalahan air
gambut tersebut, satu diantaranya adalah melalui fotokatalisis. Pengolahan air gambut
dengan fotokatalisis didasarkan pada proses penguraian air gambut menjadi senyawa
yang lebih sederhana melalui reaksi fotolisis dengan penambahan katalis pada air
gambut seperti TiO2. Keunggulan pengolahan gambut dengan fotokatalisis adalah dapat
dilakukan reduksi logam berat dan oksidasi bahan organik air gambut secara simultan.
Katalis TiO2 biasanya digunakan dalam bentuk serbuk, namun memiliki kelemahan
dalam proses pemisahan pada tahapan akhir sehingga diperlukan modifikasi TiO 2
menjadi media lembaran berupa membran. Membran selulosa bakteri adalah satu
diantara jenis membran yang dapat digunakan sebagai matriks TiO2. Membran selulosa
bakteri dapat dibuat melalui fermentasi bahan yang mengandung glukosa menjadi
selulosa yang dibantu bakteri Acetobacter xylinum

Nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan satu diantara komoditi alam di


Kalimantan Barat yang tersedia melimpah dan ada sepanjang tahun (bukan musiman).
Bagian nanas yang sering dimanfaatkan adalah bagian isinya, sedangkan kulit nanas
belum dimanfaatkan dengan optimal sehingga terbuang menjadi limbah. Padahal kulit
nanas juga mengandung glukosa seperti yang terdapat pada bagian isi. Glukosa dari
kulit nanas dapat dikonversi dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum menghasilkan
selulosa bakteri. Selulosa bakteri selanjutnya dibentuk menjadi lembaran membran dan
digunakan sebagai matriks padat untuk fotokatalisator TiO 2 pada pengolahan air
gambut. Karakteristik fotokatalis TiO2 dalam bentuk membran komposit TiO2/selulosa
bakteri akan memberikan performa yang lebih baik dalam pengolahan air gambut. Hal
ini karena membran komposit unggul dalam mempermudah proses pemisahan setelah
fotokatalisis berlangsung. Selain itu, pengolahan dengan membran komposit
TiO2/selulosa bakteri tidak merusak lingkungan dan dapat mengurangi pencemaran
lingkungan. Dengan demikian pengolahan air gambut di Kalimantan Barat dapat diatasi
dengan proses fotokatalisis menggunakan membran komposit TiO 2/selulosa bakteri
yang bersumber dari kearifan lokal sumber daya alam Kalimantan Barat.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini antara lain:
1. Menjelaskan potensi kulit nanas sebagai sumber glukosa untuk dikonversi menjadi
membran selulosa bakterial.
2. Menjelaskan mekanisme membran komposit TiO2/ selulosa bakterial dalam
pengolahan air gambut.

Pemaparan dalam karya ilmiah ini diharapkan dapat memberi informasi ilmiah
mengenai potensi kulit nanas sebagai sumber glukosa untuk bahan baku pembuatan
membran komposit TiO2/selulosa bakterial yang digunakan dalam proses fotokatalisis
air gambut. Membran komposit TiO2/selulosa bakterial ini diharapkan dapat menjadi

alternatif dalam penekanan limbah kulit nanas dan menjadi variasi pengolahan air
gambut untuk meningkatkan kualitas air dan lingkungan.
1.5 Metode Penulisan

Penulisan makalah ini menggunakan proses studi dan telaah literatur. Literatur yang
digunakan dalam penulisan ini berupa literatur primer (journal), sekunder (buku dan
artikel) serta tersier (website). Selanjutnya kajian terhadap permasalahan ditempuh
melalui pendekatan secara ilmiah, terdiri dari empat tingkatan proses, yaitu deskripsi,
analisis, interpretasi dan pengambilan kesimpulan.

Usaha pemecahan masalah dilakukan dengan cara mempelajari teori-teori yang


berhubungan dengan pokok permasalahan. Melalui telaah pustaka kemudian dilakukan
pengajian terhadap permasalahan yang ada dan diketahui bahwa kulit nanas berpotensi
sebagai sumber glukosa untuk bahan baku pembuatan membran komposit TiO2/selulosa
bakterial yang digunakan dalam proses fotokatalis air gambut menjadi air bersih.
Setelah itu dilakukan penjabaran dalam bentuk makalah ilmiah yang logis, sistematis
dan objektif dengan judul Membran Komposit TiO2/Selulosa Bakterial dari Kulit
Nanas (Ananas comosus L. Merr) sebagai Fotokatalis dalam Pengolahan Air Gambut
sehingga kemudian diperoleh simpulan tentang pemecahan masalah secara keseluruhan.

BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1 Air Gambut

Air permukaan yang berada di daerah-daerah yang memiliki lahan gambut yang luas
(salah satunya Kalimantan Barat) umumnya berasal dari air gambut. Kandungan air
gambut didominasi oleh keberadaan bahan organik berupa senyawa humat di dalamnya.
Senyawa humat yang terdapat pada air disebut sebagai bahan organik terlarut/ dissolved
organic matter (DOM) atau bahan karbon terlarut/ dissolved organic carbon (DOC)
(Wershaw, 2004). Senyawa humat adalah molekul dengan berat molekul relatif yang
besar, berwarna kuning sampai dengan hitam, terbentuk dari reaksi sintesis sekunder
(Stevenson, 1994). Senyawa humat yang terdapat dalam air gambut menyebabkan air
permukaan di Kalimantan Barat berwarna coklat hingga hitam. Kondisi fisik air gambut
tersebut tidak menyurutkan peran air gambut dalam memenuhi kebutuhan masyarakat
untuk keperluan mandi, cuci dan kebutuhan lainnya. Selain kondisi fisik air gambut
yang tidak baik, kandungan kimia air gambut juga perlu diperhatikan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Parabi (2012) tentang air gambut yang ada
di Desa Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, diperoleh data
parameter fisika dan kimia air gambut yang kemudian dibandingkan dengan syarat air
bersih yang ditetapkan oleh Permenkes RI No. 816/Menkes/Per/IX/1990 sebagai
berikut:
a. Warna air hitam pekat dengan nilai warna mencapai 1088 PtCo (syarat batas 15
PtCo)
b. Kekeruhan yang tinggi dengan nilai 13,2 NTU (syarat batas 5 NTU)
c. Kadar besi mencapai 1,68 mg/L (syarat batas 0,3 mg/L)
d. Kadar kromium 0,093 mg/L (syarat batas 0,05 mg/L)
e. Keasaaman air rendah dengan pH air 4,32 (syarat batas: 6,5-8,5)
f. Kadar sulfat yang tinggi mencapai 744 mg/L (syarat batas: 250 mg/L)

Kandungan logam dalam air gambut sebenarnya tidak hanya besi (Fe) dan kromium
(Cr) saja, beberapa logam yang terkandung dalam air gambut antara lain kalsium (Ca),
magnesium (Mg), kalium (K), besi (Fe), mangan (Mn), aluminium (Al), tembaga (Cu),
seng (Zn), molibdenum (Mo), timbal (Pb), dan kadmium (Cd) (Laiho and Laine, 1995;
Stpniewska et al., 2010).

Keberadaan logam-logam dalam air gambut dapat disebabkan karena kemampuan


senyawa humat dalam air gambut untuk membentuk kompleks senyawa humat dengan
kation-kation logam polivalen yang terdapat di dalam tanah. Kompleks ini stabil,
bersifat larut maupun tidak larut dalam air. Faktor yang mempengaruhi kuantitas ion
logam yang terikat dengan senyawa humat tergantung dari pH dan gugus fungsional
senyawa humat. Kandungan oksigen pada gugus fungsional yang terdapat pada senyawa
humat (-COOH, -OH fenol,-OH enolik, dan gugus C=O) (Stevenson, 1994). Oleh
karena itu, keberadaan bahan organik (terutama senyawa humat sebagai organic
complexing agents) dalam air gambut memegang peranan penting dalam keberadaan
logam (logam berat) di dalam air gambut.

2.2 Fotokatalis TiO2

Fotokatalisis merupakan proses penguraian air gambut menjadi senyawa yang lebih
sederhana melalui reaksi fotolisis dengan penambahan katalis pada air gambut (Jayadi,
2014). Proses ini memerlukan cahaya dan katalis untuk melangsungkan reaksi kimia
(Hermann, 1999). Katalis yang paling banyak digunakan adalah TiO 2 karena memiliki
banyak kelebihan seperti memiliki sifat semikonduktor, stabil secara kimia dan fisika,
mempunyai aktivitas yang tinggi, tahan gores, dan relatif murah (Rahmayeni, dkk.,
2013). Menurut Dong, dkk (2005) proses aktivasi fotokatalitik TiO2 bekerja pada
panjang gelombang 388 nm atau kurang dari itu sehingga panjang gelombang cahaya
berpengaruh terhadap reaksi fotokatalitik. Pada tahun 2011, Andayani dan Bagyo telah
melakukan penelitian untuk menurunkan kadar humat dalam air gambut menggunakan
TiO2 dan sinar UV yang telah berhasil mendegradasi dan menurunkan intensitas warna.

Semikonduktor TiO2 banyak digunakan karena stabil terhadap cahaya, tidak beracun,
kemampuan untuk mengoksidasi yang tinggi serta tidak larut dalam kondisi eksperimen.
TiO2 yang sering digunakan dalam ukuran nano karena memiliki luas permukaan yang
besar sehingga proses penyerapan cahaya semakin baik. TiO2 memiliki beberapa fasa
yaitu anatase, rutile, dan brooklite, namun yang sering digunakan dalam proses
penjernihan air adalah fasa rutile karena sifat fotokatalisnya sangat tinggi dan stabilitas
fasa ini sangat tinggi (Amy, dkk., 1994).

TiO2 sering digunakan dalam bentuk serbuk, namun bentuk serbuk memiliki kelemahan
seperti timbul endapan yang menimbulkan kekeruhan serta sulit dipisahkan dari larutan
setelah proses fotokatalisis selesai (Zhang dan Lei, 2008). Kesulitan ini dapat diatasi
dengan menggunakan media untuk penempelan TiO2 seperti nilon. Material lain juga
dapat digunakan sebagai media penempelan TiO2 yaitu matriks padat membran selulosa
bakterial yang didapat dari proses

fermentasi bahan

yang mengandung glukosa

menggunakan bakteri Acetobacter xylinum.


2.3 Membran Selulosa bakterial

Perkembangan teknologi membran sebagai unit pengolah limbah saat ini sangat pesat
dan banyak digunakan dalam proses pemisahan. Teknologi membran dipilih karena
prosesnya yang sangat sederhana, konsumsi energi yang digunakan rendah, tidak
merusak material, tidak menggunakan zat kimia tambahan dan tidak menghasilkan
limbah baru sehingga tergolong sebagai clean technology. Operasi membran dapat
diartikan sebagai proses pemisahan dua atau lebih komponen dari aliran fluida melalui
suatu penghalang tipis yang sangat selektif diantara dua fasa, hanya dapat melewatkan
komponen tertentu dan menahan komponen lain (Mulder, 1996).

Membran selulosa bakterial murni tergolong dalam membran mikrofiltrasi yang


memiliki ukuran pori antara 0,1-10 m (Ardiansyah, 2005). Filtrasi menggunakan
membran mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan metode pemisahan secara
konvensional antara lain pemisahan dapat dilakukan pada suhu kamar dan tidak

memerlukan bahan kimia tambahan sehingga relatif hemat energi, lebih bersih, dan
ramah lingkungan. Kemampuan pemisahan dengan menggunakan membran sangat
dipengaruhi oleh sifat fisik, kimia, mekanis, dan struktur pori.

Penelitian mengenani pemanfaatan membran selulosa bakterial telah banyak


dikembangkan. Lindu dkk. (2008) melakukan sintesis dan uji kemampuan membran
selulosa asetat dari nata de coco sebagai membran ultrafiltrasi untuk menyisihkan zat
warna pada air limbah artifisial. Hasil sintesis yang dilakukan diperoleh membran ini
dikatergorikan

sebagai antar membran ultrafiltrasi dengan membran nanofiltrasi.

Kinerja kedua membran memberikan hasil yang cukup bagus dengan nilai fluks
membran CA-1 yaitu 4,54 L/m2.jam 22,21 L/m2.jam dan nilai permeabilitas 2,7553
L/m2.jam.bar 3,5657 L/m2.jam.bar.

Gustian dkk. (2013) melakukan uji kinerja membran selulosa bakterial yang disintesis
dari air kelapa. Dari sifat fisiko-kimia membran yang dihasilkan sangat mendukung
terhadap kinerja membran selulosa bakterial. Kinerja membran diperoleh permeabilitas
optimum pada tekanan 2 bar 14,35 L.m-2.h

-1

untuk suspensi kekeruhan dan 17,10 L.m -

.h-1 untuk in take PDAM. Sedangkan nilai permeable selektivitas membran selulosa

bakterial hingga 99 % untuk suspensi kekeruhan dan 91% untuk in take PDAM Kota
Bengkulu. Dengan demikian penggunaan membran selulosa bakterial berpotensi untuk
digunakan dalam pengolahan air.

Hasil kajian lain yang dikemukakan oleh Frenando et al. (2014) yang mengkaji
karakteristik membran selulosa bakterial Acetobacter xylinum hasil fermentasi daging
kulit buah semangka. Hasil yang diperoleh dari kajian tersebut adalah Morfologi
permukaan membran selulosa bakterial menunjukkan bentuk yang tidak rata dan
membentuk jalinan benang mikrofibril selulosa. Karakterisasi membran selulosa
bakterial dengan menggunakan fermentasi daging kulit semangka telah berhasil
dilakukan, membran selulosa bakterial dengan konsentrasi penggunaan kulit semangka
70% menghasilkan selektivitas paling tinggi (72,43%).

10

Berdasarkan kajian di atas, membran selulosa bakterial dapat disintesis dari bahan
organik yang memanfaatkan proses fermentasi glukosa menjadi selulosa. Membran
selulosa selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai matriks padat untuk mendukung
kinerja dari material serbuk dalam aplikasinya sebagai fotokatalisis.

2.4 Kulit Nanas

Nanas memiliki

nama

latin

Ananas cosmosus dan

termasuk dalam

devisi

Spermatophyta, sub devisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae. Tanaman nanas


memiliki ciri-ciri sebagai tanaman tahunan dengan tinggi antara 50 150 cm
dengan bunga majemuk. Nanas, nenas, atau ananas adalah sejenis tumbuhan tropis
yang berasal dari Brazil, Bolivia, dan Paraguay. Tumbuhan ini termasuk dalam
famili nanas-nanasan (Famili Bromeliaceae). Perawakan nenas (habitus) tumbuhannya
rendah, herba (menahun) dengan 30 atau lebih daun yang panjang, berujung tajam,
tersusun dalam bentuk roset mengelilingi batang yang tebal. Buahnya dalam
bahasa Inggris disebut sebagai pineapple karena bentuknya yang seperti pohon
pinus. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan
Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15, pada tahun 1599. Di
Indonesia

pada

mulanya

hanya

sebagai

tanaman

pekarangan,

dan

meluas

dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Tanaman ini kini
dipelihara di daerah tropik dan sub tropik (Kusumanto, 2013; Rosyidah, 2010).

Buah nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan salah satu jenis buah yang
terdapat di Indonesia, mempunyai penyebaran yang merata. Selain dikonsumsi
sebagai buah segar, nanas juga banyak digunakan sebagai bahan baku industri
pertanian. Hasil berbagai macam pengolahan nanas seperti selai, manisan, sirup, dan
lain-lain maka akan didapatkan kulit yang cukup banyak sebagai hasil buangan
atau limbah (Rosyidah, 2010). Limbah kulit nanas masih banyak mengandung
karbohidrat dan gula yang cukup tinggi. Menurut Wijana, dkk (1991) kulit nanas
mengandung 81,72% air; 20,87% serat kasar; 17,53% karbohidrat; 4,41% protein dan

11

13,65% gula reduksi. Sedangkan Komposisi limbah kulit nanas dapat dilihat pada
tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1 Hasil Analisis Proksimat Limbah Kulit Nanas Berdasarkan Berat Basah
(Wijana, dkk., 1991)
No
Komposisi
Rata-rata Berat Basah (%)
1
Air
6,7
2
Protein
0,69
3
Lemak
0,02
4
Abu
0,48
5
Serat Basah
1,66
6
Karbohidrat
10,54
Berdasarkan kandungan gula yang cukup tinggi tersebut, kulit nanas berpotensi untuk
dijadikan bahan baku pembuatan membran selulosa sebagai matriks komposit
TiO2/selulosa

bakterial.

BAB III
ANALISIS DAN SINTESIS

3.1 Potensi Kulit Nanas sebagai Sumber Glukosa untuk Pembuatan Membran
Selulosa Bakterial

Selulosa bakterial adalah selulosa yang diperoleh dari proses fermentasi oleh bakteri
Acetobacter xylinum.

Bakteri tersebut dapat berkembang biak dengan baik pada

medium yang sesuai dan menghasilkan produk selulosaberupa gel berwarna putih.

Kulit nanas memiliki kandungan glukosa yang tinggi dan berpotensi untuk dikonversi
menjadi selulosa oleh Acetobacter xylinum. Aktivitas biologis bakteri mampu
menginisasi polimerisasi glukosa membentuk selulosa.

Derajat polimerisasi pada

selulosa bakterial mencapai 2000-8000 (Klemm et al., 2005). Beberapa keunggulan


selulosa bakterial dibanding selulosa dari tanaman adalah kemurnian yang tinggi serta
dapat langsung digunakan tanpa proses delignifikasi terlebih dahulu, sehingga secara
tidak langsung lebih ramah lingkungan. Serat dari selulosa bakterial lebih halus dan
teratur serta kristalinitasnya lebih tinggi daripada selulosa tanaman. Kristalinitas pada
selulosa bakterial mencapai 60-90% (Klemm et al., 2005)
Keteraturan struktur selulosa bakterial berpengaruh pada sifat mekanik yang baik,
sehingga tidak mudah rusak ketika diaplikasikan sebagai membran filtrasi. Selain itu,
karakter mikropori yang dimiliki sangat sesuai untuk aplikasi dalam pengolahan air
gambut.
Pengolahan air gambut dapat dioptimalkan melalui modifikasi pada membran selulosa.
Modifikasi berupa komposit dengan material semikonduktor TiO 2 dapat meningkatkan
kinerja filtrasi. Membran TiO2/Selulosa Bakterial dapat berperan dalam fotokatalisis
dan filtrasi secara simultan di dalam reaktor.

13

3.2 Membran Komposit TiO2/ Selulosa Bakterial dalam Pengolahan Air Gambut

TiO2 berperan sebagai fotokatalis yang dapat digunakan dalam pengolahan air gambut.
Membran komposit TiO2/Selulosa bakterial dapat menghasilkan membran dengan sifat
mekanik baik, dan mampu menginisiasi reaksi fotokatalisis di air gambut sehingga
pengolahan menjadi lebih mudah.

Fotokatalisis oleh TiO2 diawali dengan fotoeksitasi akibat adanya paparan sinar UV
dengan energi yang lebih besar dari celah semikonduktor TiO 2, sehingga elektron akan
tereksitasi ke pita konduksi. Proses eksitasi akan menghasilkan elektron (e -) pada pita
konduksi dan hole (h+) pada pita valensi (tahap 1). Elektron (e -) yang sampai pada
permukaan partikel akan mendonasikan dirinya kepada molekul yang teradsorpsi
(adsorbat) di permukaan dimana molekul tersebut akan mengalami reduksi sehingga
dihasilkan radikal anion (oksidator) (tahap 2). Spesi hole (h+) yang sampai pada
permukaan akan menarik elektron dari adsorbat di permukaan sehingga adsorbat akan
mengalami oksidasi (tahap 3). Adsorbat menjadi bersifat sebagai donor elektron,
sehingga hasil penangkapan hole akan menghasilkan reduktor.

Gambar 4.1 Mekanisme fotokatalisis semikonduktor TiO2 terhadap polutan bahan


organik dalam air (P) (Chong, et al., 2010)
Mekanisme fotokatalisis pada gambar tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut (Chong,
et al., 2010):

14

Tahap1

Pembentukan pembawa muatan oleh foton sesuai reaksi:


TiOH + hv >TiOH (e- + h+)

Tahap 2 :

Elektron pada pita konduksi dapat bereaksi dengan adsorbat membentuk


oksidator: e- + A (ads) A- (ads).
Misal di permukaan katalis terdapat oksigen, maka hole akan bereaksi
dengan oksigen membentuk ion superoksida (reduktor) yang kemudian
dapat pula mengalami reaksi lanjutan dengan H2O membentuk radikal
OH-: e- + O2 O2- kemudian 2O2- + 2H2O 2OH- + 2OH + O2

Tahap 3 :

Di permukaan katalis, hole dapat bereaksi dengan adsorbat membentuk


reduktor: h+ + D (ads) D+ (ads)
Misal di permukaan katalis terdapat H2O, hole dapat bereaksi dengan air
(H2O) membentuk radikal OH: h+ + H2O OH-

Radikal hidroksil dan superoksida merupakan spesi yang sangat reaktif dan akan
menyerang bahan organik dalam air dan akan mendegradasinya dengan menjadi CO 2
dan H2O.

Pembuatan membran komposit TiO2/selulosa bakterial dilakukan dalam 2 tahap, yakni


pembuatan membran dan pelapisan dengan TiO2. Selulosa bakterial yang diperoleh di
tekan dengan hot press pada tekanan 14,71 Mpa dan suhu 80 C selama 5 menit. Proses
ini menghasilkan membran dengan ukuran ketebalan 0,035 hingga 0,06 mm (Radiman
dan Yuliani, 2008). Setelah diperoleh membran selulosa bakterial, dilakukan pelapisan
TiO2 pada salah satu sisi membran dengan metode slip casting. TiO2 yang digunakan
adalah produk komersil TiO2 P25 Degussa, yang dicampur dengan triton-X dan asam
asetat, untuk selanjutnya dilapisi di permukaan membran. Membran komposit
TiO2/Selulosa bakterial yang diperoleh diaplikasikan untuk pengolahan air gambut
menggunakan rancangan reaktor seperti pada Gambar 4.2.

Pengolahan air gambut dilakukan dengan proses fotokatalisis dan filtrasi. Membran
komposit TiO2/ selulosa bakterial diletakkan pada sel filtrasi dengan sisi yang terlapisi
TiO2 menghadap ke atas, dimana terdapat air gambut yang akan diproses. Sel filtrasi

15

diletakkan di dalam reaktor dengan lampu UV pada panjang gelombang 388 nm.
Tahapan pengolahan air gambut dimulai dengan proses fotokatalisis oleh TiO2 di dalam
reaktor. Air gambut diaduk di dalam sel filtrasi agar interaksi dengan TiO 2 efektif,
sehingga fotokatalisis dapat berjalan optimal. Pada proses fotokatalisis, logam-logam
berat mengalami reduksi dan senyawa organik mengalami oksidasi. Setelah mengalami
fotokatalisis, air gambut tersebut difiltrasi melewati membran komposit TiO 2/selulosa
bakterial, sehingga diperoleh air yang bersih setelah pengolahan.

Gambar 4.2 Reaktor pengolahan air gambut


Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kinerja TiO 2 sebagai
fotokatalis air gambut menunjukkan hasil yang baik. Kinerja fotokatalis TiO2 terhadap
air gambut dalam reaktor batch yang telah dilakukan oleh (Jayadi, 2014) menunjukkan
bahwa proses fotokatalis dalam reaktor batch selama 5 jam mampu mendegradasi bahan
organik dalam air gambut. Penurunan terbaik dalam degradasi air gambut dengan
pengukuran absorbansi pada proses fotokatalisis TiO2 sebesar 89,4% dan penurunan
bilangan permanganat sebesar 83,52%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Andayani dan Bagyo (2011) menunjukkan bahwa fotokatalisis asam humat dari tanah
dengan menggunakan TiO2 mampu menurunkan kadar COD dan intensitas warna tanah,
yang menunjukkan penurunan asam humat.
Mekanisme fotokatalisis air gambut dengan TiO2 merupakan proses fotooksidasi/
fotodegradasi bahan organik yang terkadandung dalam air gambut (senyawa humat)
sekaligus fotoreduksi logam berat yang terkandung dalam air gambut dengan

16

memanfaatkan elektron hasil eksitasi dari pita konduksi. Oksidasi fotokatalitik bahan
organik oleh membran komposit TiO2/ selulosa bakterial akan dimungkingkan
menghasilkan senyawa organik yang lebih sederhana berupa asam organik, karbon
dioksida, asam mineral dan air. Hasil akhir degradasi asam humat pada penelitian
tersebut adalah asam oksalat (Gambar 4.3) yang diketahui dari waktu retensi asam
oksalat (5,438 menit, waktu retensi untuk asam oksalat standar 5,61 menit) pada
kromatogram HPLC. Radikal OH berperan dalam proses degradasi cincin aromatik,
sehingga menghasilkan degradasi asam humat. Asam humat berlaku sebagai sensitizer
dan prekursor pembentukan spesi reaktif, seperti oksigen singlet, radikal peroksida
turunan humat, hidrogen peroksida, dan radikal OH. Degradasi asam humat diiradiasi
oleh sinar UV dengan kehadiran katalis TiO2 lebih cepat daripada tanpa TiO2. Dengan
perlakuan radiasi sinar UV dengan kehadiran TiO2 mampu mereduksi asam humat
80%. Keadaan ini menunjukkan bahwa spesies reaktif berasal dari asam humat itu
sendiri yang berperan sebagai sensitizer dan juga dari TiO2 sebagai katalis.

.
Gambar 4.3 Mekanisme degradasi fotokatalitik cincin aromatik pada molekul asam
humat

BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
1. Kulit nanas memiliki potensi sebagai sumber glukosa yang dapat dipolimerisasi oleh
bakteri Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa bakterial.
2. Membran komposit TiO2/selulosa bakterial memiliki sifat mekanik yang baik,
karakter mikropori dan aktivitas fotokatalisis sehingga dapat dimanfaatkan dalam
pengolahan air gambut.

4.2 Rekomendasi
Perlu kajian lebih lanjut mengenai komposisi TiO2 yang dilapiskan pada permukaan
membran selulosa bakterial agar dihasilkan proses pengolahan air gambut yang optimal.

18

DAFTAR PUSTAKA

Amy, L., Linsebigler, Guangquan Lu, and John, T. Yates, Jr., 1994, Photocatalysis on
TiO2 Surfaces: Principles, Mechanisms, and SelectedResults, Surface Science Center,
Department of Chemistry, University of Pittsburgh, Pittsburgh, Pennsylvania 15260.
Andayani, W. and Bagyo, A.N.M., 2011, TiO2 Beads for Photocatalytic Degradation of
Humic Acid in Peat Water, Indo. J. Chem., 11, 3, 253 257.
Chong, M.N., Jin, B., Chow , C.W.K., Saint, C., 2010, Recent developments in
photocatalytic water treatment technology: A review, water research: 44, 2997-3027.
Daintith, J., 2005, A Dictionary of Science, 5th Edition, Oxford University press, New
York
Dong, HK., Ha, SP, Sun, JK, Kyung, SL., 2005, The Photocatalitic Activity of2,5wt %
Cu-Doped TiO2 nano powder synthezied by mechanical alloying, JAlloy Compounds
2005:415:51-5.
Frenando, R., Dahliaty, A., Linggawati, A., 2014, Karakterisasi Membran Selulosa
Bakteri Acetobacter Xylinum Hasil Fermentasi Daging Kulit Buah Semangka, Kampus
Binawidya Pekanbaru.
Gustian, I., Adfa, M., Andriani, Y., Roza, E., 2013, Karakterisasi Kinerja Membran
Selulosa Bakteri Menggunakan In Take PDAM Kota Bengkulu sebagai Model,
Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung.
Hermann, J.M., 1999, Heterogenous Photocatalysis Fundamental and Aplication to
the Removal of Various Types of Aqueous Pollutans, Catalys Today, 53, 115-129.
Jayadi, S.F., 2014, Pembuatan Reaktor Fotokatalis dan Aplikasinya untuk Degradasi
Bahan Organik Air Gambut Menggunakan Katalis TiO2, JKK, 3,3, 54-57.
Klemm, D., Heublein, B., Fink, H.P., Bohn, A., 2005., Cellulose : Fascinating
Biopolymer and Sustainable Biomaterial, Angew.chem.int.ed., 44, 3358-3393.
Kusumanto, I., 2013, Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas untuk Pembuatan Produk Nata
De Pina Menggunakan Metode Eksperimen Taguchi, Kulubkhanah, Vol. 16, No. 1
Laiho, R. and J. Laine. 1995. Changes in mineral element concentrations in peat soils
drained for forestry in Finland, Scandinavian Journal of Forest Research, 10: 218-224.
Lapuz, M., Gallardo, E.G., dan Palo, M.A., 1976, The Nata Organism Cultural
Requirements, Characteristic, and Identity, Philippines Journal Sci., 96: 91 100.

19

Lindu, M., Puspitasari, T., dan Ismi, E., 2008, Jurnal Sintesis dan Uji Kemampuan
Membran Selulosa Asetat Dari Nata de Coco Sebagai Membran Ultrafiltrasi Untuk
Menyisihkan Zat Warna Pada Air Limbah Artifisial, Universitas Trisakti, Jakarta.
Mulder, M., 1996, Basic Principle of Membrane Technology, Kluwer Academic
Publisher, Netherland.
Pambayun, R., 2002, Teknologi Pengolahan Nata de coco, Penertbit Kanius,
Yogyakarta , Hal : 11-15
Parabi, A., 2012, Usaha Pemanfaatan Air Gambut untuk Kebutuhan Rumah Tangga
Masyarakat di Desa Rasau Jaya Umum Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan
Barat, Media Sains, 4, 1.
Radiman, C.L., dan Yuliani, G., 2008, Coconut water as a potential resources for
cellulose acetate membrane peparation, Polym. Int., 57, 502-508.
Rahmayeni, Setiadi, Y., Zulhadjri, 2013, Fotokatalis Komposit Magnetik TiO2MnFe2O4, Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013.
Rosyidah, 2010, http://rosyidah.com/2010/06/11/pt-great-giant-pinapple-ggpclumbungnanas-raksasa-di-indonesia/, Diakses tanggal 20 Oktober 2010.
Stpniewska, Z., Sochaczewska, A., Woliska, A., Szafranek-Nakonieczna, A. and M.
Paszczyk, M., 2010, Manganese release from peat soils, Int. Agrophys., 24, 369-374.
Stevenson, F. J., 1994, Humus Chemsitry :Genesis, Composition Reaction, 2nded,
John Wiley and Sons, Inc., Canada.
Wershaw, 2004, Evaluation of Conceptual Models of Natural Organic Matter (Humus)
From a Consideration of the Chemical and Biochemical Processes of Humification,
U.S. Geological Survey, Reston, Virginia.
Wijana, S., Kumalaningsih, A., Setyowati, U., Efendi, dan Hidayat, N., 1991,
Optimalisasi Penambahan Tepung Kulit Nanas dan Proses Fermentasi pada Pakan
Ternak terhadap Peningkatan Kualitas Nutrisi, ARMP (Deptan), Universitas
Brawijaya, Malang.
Zhang, X., Lecheng, Lei, 2008, One Step Preparation of Visible-LightResponsive
Fe-TiO2Coating Photocatalysts by MOCVD, Institute of Environtment Pollution
Control Technologies, Xixi Campus, Zheijang University, Hangzhou, 310028, China.