Anda di halaman 1dari 26

Presentasi Kasus Tutorial Klinik

Seorang Laki-laki 42 Tahun dengan Keluhan Mata Kiri Mblobok

Disusun Oleh :
Cahyanita Dyah Prabawaningrum G99152033
Agil Noviar Alvirosa

G99152034

Itsna Ulin Nuha

G99152035
Pembimbing

Djoko Susianto, dr., Sp.M


KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan penyakit ini
adalah penyakit mata yang paling umum di dunia. Karena lokasinya, konjungtiva
terpajan oleh banyak mikroorganisme dan faktor-faktor lingkungan lain yang
mengganggu (Vaughan, 2010). Penyakit ini bervariasi mulai dari hiperemia ringan
dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen
kental (Hurwitz, 2009).
Insidensi konjungtivitis di Indonesia berkisar antara 2-75%. Data perkiraan
jumlah penderita penyakit mata di Indonesia 10% dari seluruh golongan umur
penduduk per tahun dan pernah menderita konjungtivitis. Data lain menunjukkan
bahwa dari 10 penyakit mata utama, konjungtivitis menduduki tempat kedua
(9,7%) setelah kelainan refraksi (25,35%). Konjungtivitis dapat disebabkan oleh
bakteri, virus, klamidia, alergi atau imunologik, jamur, parasit, kimia atau iritatif,
etiologi yang tidak diketahui, bersama penyakit sistemik (Ilyas, 2000)

BAB II
STATUS PASIEN
I. IDENTITAS
Nama

: Tn. SNH

Umur

: 42 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: PNS

Alamat

: Mojolaban Sukoharjo Jawa Tengah

Tanggal periksa

: 21 Mei 2016

No. RM

: 01-05-76-XX

Cara Pembayaran : BPJS


II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama
Mata kiri mblobok sejak 2 hari yang lalu
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merupakan rujukan dari Bagian Interna RSUD Moewardi
datang ke Poliklinik Mata. Keluhan pasien sekarang adalah mata kiri
mblobok. Keluhan dirasa sejak sejak 2 hari yang lalu. Keluhan dirasa
memberat saat pagi bangun tidur. Mata pasien memerah. Pasien juga
merasakan sedikit gatal pada hari pertama serangan. Pasien tidak
merasakan pandangan kabur, pandangan dobel, silau, nyeri, cekot-cekot,
pusing. Pasien belum berobat ataupun menggunakan obat-obatan untuk
mengurangi keluhannya.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1.

Riwayat penyakit serupa

: ada

2.

Riwayat kencing manis

: disangkal

3.

Riwayat hipertensi

: ada

4.

Riwayat alergi

5.

Riwayat pemakaian kacamata: ada (kacamata positif)

: disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga


1.

Riwayat penyakit serupa

: disangkal

2.

Riwayat kencing manis

: disangkal

3.

Riwayat hipertensi

: ada

4. Riwayat alergi

: disangkal

5. Riwayat pemakaian kacamata

: ada

E. Kesimpulan
Anamnesis
OD
-

Proses
Lokalisasi
Sebab
Perjalanan
Komplikasi

OS
Inflamasi
Konjungtiva
Infeksi
Akut
Belum ditemukan

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Kesan umum
Keadaan umum : baik E4V5M6, gizi kesan baik.
Vital Sign :
- Tekanan Darah = 110/70 mmHg
- Nadi = 76 /menit
- RR = 20
- Suhu = 36oC
B. Pemeriksaan Subyektif
Visus sentralis jauh

OD
6/30

OS
6/30

Pinhole

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Koreksi Refraksi

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Pinhole

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Koreksi Refraksi

tidak dilakukan

tidak dilakukan

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Visus sentralis dekat

Lapang Pandang
Konfrontasi test

Tes Proyeksi Sinar dan Penglihatan Warna


Proyeksi sinar

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Persepsi warna

tidak dilakukan

tidak dilakukan

C. Pemeriksaan Objektif
C. Pemeriksaan Obyektif
1. Sekitar Orbitae
Tanda radang

tidak ada

tidak ada

Luka

tidak ada

tidak ada

Parut

tidak ada

tidak ada

Kelainan warna

tidak ada

tidak ada

Kelainan bentuk

tidak ada

tidak ada

Warna

hitam

hitam

Tumbuhnya

normal

normal

sawo matang

sawo matang

dalam batas normal

dalam batas normal

2. Supercilium

Kulit
Geraknya

3. Pasangan Bulbus Okuli dalam Orbita


Strabismus

tidak ada

tidak ada

Pseudostrabismus

tidak ada

tidak ada

Exophtalmus

tidak ada

tidak ada

Enophtalmus

tidak ada

tidak ada

Anopthalmus

tidak ada

tidak ada

Mikrophtalmus

tidak ada

tidak ada

Makrophtalmus

tidak ada

tidak ada

Ptisis bulbi

tidak ada

tidak ada

Atrofi bulbi

tidak ada

tidak ada

Buftalmus

tidak ada

tidak ada

4. Ukuran Bulbus Okuli

5. Gerakan Bulbus Okuli

Temporal superior

dalam batas normal

dalam batas normal

Temporal inferior

dalam batas normal

dalam batas normal

Temporal

dalam batas normal

dalam batas normal

Nasal

dalam batas normal

dalam batas normal

Nasal superior

dalam batas normal

dalam batas normal

Nasal inferior

dalam batas normal

dalam batas normal

dalam batas normal

dalam batas normal

6. Palpebra
Gerakannya
Lebar rima
Blefarokalasis

11 mm

10 mm

tidak ada

tidak ada

Margo Palpebra
Oedem

tidak ada

da

Margo intermarginalis

tidak ada

tidak ada

Hiperemis

tidak ada

ada

Entropion

tidak ada

tidak ada

Ekstropion

tidak ada

tidak ada

7. Sekitar Saccus Lakrimalis


Oedem

tidak ada

tidak ada

Hiperemis

tidak ada

tidak ada

8. Sekitar Glandula lakrimalis

9.

Oedem

tidak ada

tidak ada

Hiperemis

tidak ada

tidak ada

Oedem

tidak ada

ada

Hiperemis

tidak ada

ada

Sikatrik

tidak ada

tidak ada

Coble stone

tidak ada

tidak ada

Konjungtiva
Konjungtiva palpebra

Konjungtiva Fornix
Oedem

tidak ada

tidak ada

Hiperemis

tidak ada

ada

Sikatrik

tidak ada

tidak ada

Pterigium

tidak ada

tidak ada

Oedem

tidak ada

tidak ada

Hiperemis

tidak ada

ada

Sikatrik

tidak ada

tidak ada

Injeksi Siliaris

tidak ada

tidak ada

Injeksi Konjungtiva

tidak ada

ada

Konjungtiva Bulbi

Caruncula dan Plika Semilunaris


Oedem

tidak ada

tidak ada

Hiperemis

tidak ada

tidak ada

Sikatrik

tidak ada

tidak ada

putih

hiperemis

tidak ada

tidak ada

Ukuran

12 mm

12 mm

Limbus

jernih

keruh

10. Sklera
Warna
Penonjolan
11. Kornea

Permukaan
Sensibilitas

rata, mengkilat

rata, mengkilat

tidak dilakukan

tidak dilakukan

tidak ada

tidak ada

Keratoskop (Placido)

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Fluoresin test

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Arcus senilis

(-)

(-)

jernih

jernih

Oedem

12. Kamera Okuli Anterior


Isi

Kedalaman

dalam

dalam

Warna

cokelat

cokelat

Kripte

ada

ada

spongious

spongious

bulat

bulat

tidak ada

tidak ada

Ukuran Diameter

3 mm

3 mm

Bentuk

bulat

bulat

Tempat

sentral

sentral

Reflek direk

(+)

(+)

Reflek indirek

(+)

(+)

Kejernihan

jernih

jernih

Letak

sentral

sentral

tidak dilakukan

tidak dilakukan

13. Iris

Gambaran
Bentuk
Sinekia Anterior
14. Pupil

15. Lensa

Shadow test
17. Corpus vitreum
Kejernihan

tidak dilakukan

tidak dilakukan

18. Tekanan Intra Okuler


Palpasi

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Tonometri Sciotz

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Non C. Tonometri

tidak dilakukan

tidak dilakukan

IV. KESIMPULAN PEMERIKSAAN


Visus sentralis jauh
Pinhole
Sekitar mata
Supercilium
Pasangan bola mata dalam

OD
6/30
tidak dilakukan

OS
6/30
tidak dilakukan

dalam batas normal


dalam batas normal
dalam batas normal

dalam batas normal


dalam batas normal
dalam batas normal

orbita
8

Ukuran bulbus okuli


Gerakan bulbus okuli
Palpebra
Sekitar saccus lakrimalis
Sekitar glandula lakrimalis
Konjunctiva bulbi

dalam batas normal


dalam batas normal
dalam batas normal
dalam batas normal
dalam batas normal
dalam batas normal

dalam batas normal


dalam batas normal
dalam batas normal
dalam batas normal
dalam batas normal
Hiperemis, injeksi
konjungtiva

Konjungtiva palpebra

Dalam batas normal

Hiperemis

Sklera
Kornea
Camera oculi anterior
Iris
Lensa
Corpus vitreum

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Dalam batas normal
dalam batas normal
dalam batas normal
tidak dilakukan

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Dalam batas normal
dalam batas normal
dalam batas normal
tidak dilakukan

V. GAMBAR

Gambar 2.1 Okuli Dekstra


& Sinistra

Gambar 2.2 Okuli Sinistra

10

Gambar 2.3 Okuli Sinistra


etDextra
VI. DIAGNOSIS BANDING
1. Konjungtivitis bakteri
2. Konjungtivitis viral
3. Konjungtivitis alergi
4. Hematom subkonjungtiva
5. Skleritis
6. Episkleritis
VII.

VIII. DIAGNOSIS
OS konjungtivitis bakterial
IX . Terapi
-

X.

Farmakologis
Polydex ED 6 gtt 1 OS
Non farmakologis
Edukasi pasien untuk menjaga hygiene agar tidak menular

PROGNOSIS
OD
Ad vitam

OS
bonam
11

Ad sanam

bonam

Ad kosmetikum

bonam

Ad fungsionam

bonam

12

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Konjungtiva
A. Anatomi
Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang
transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak
mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan
posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus. Di tepi superior
dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks
superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi
konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke
septum orbital di forniks dan melipat berkali-kali. Adanya lipatanlipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar
permukaan konjungtiva sekretorik (Vaughan, 2010).

Gambar 2.1. Anatomi konjungtiva


B. Histologi
Secara histologis, lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga
lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal
(Junqueira, 2007). Selsel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet
bulat atau oval yang mensekresi mukus yang diperlukan untuk
dispersi

air

mata.

Sel-sel

epitel

basal

berwarna

lebih

pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan dapat mengandung pigmen


Vaughan, 2010).
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid
(superfisialis) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid

13

mengandung jaringan limfoid dan tidak berkembang sampai setelah


bayi berumur 2 atau 3 bulan. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan
penyambung yang melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar
pada mata (Vaughan, 2010).
C. Perdarahan dan Persarafan
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan
arteria palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan
bersama dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan
vaskular konjungtiva yang sangat banyak (Vaughan, 2010).
Konjungtiva juga menerima persarafan dari percabangan pertama
II.

nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit (Tortora, 2009).


Konjungtivitis
A. Definisi
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva dan
penyakit ini adalah penyakit mata yang paling umum di dunia.
Karena

lokasinya,

mikroorganisme

dan

konjungtiva
faktor-faktor

terpajan

oleh

lingkungan

banyak

lain

yang

mengganggu (Vaughan, 2010). Penyakit ini bervariasi mulai dari


hiperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat
dengan banyak sekret purulen kental (Hurwitz, 2009). Jumlah
agen-agen yang pathogen dan dapat menyebabkan infeksi pada
mata semakin banyak, disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
oat-obatan topical dan agen imunosupresif sistemik, serta
meningkatnya jumlah pasien dengan infeksi HIV dan pasien yang
menjalani transplantasi organ dan menjalani terapi imunosupresif
(Therese, 2002).
B. Tipe Konjungtivitis
1. Konjungtivitis Bakteri
a. Definisi
Konjungtivitis
konjungtiva

yang

Bakteri
disebabkan

adalah
oleh

inflamasi

bakteri.

Pada

konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan keluhan


mata merah, sekret pada mata dan iritasi mata (James,
2005).

14

b. Etiologi dan Faktor Resiko


Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat
bentuk, yaitu hiperakut, akut, subakut dan kronik.
Konjungtivitis bakteri hiperakut biasanya disebabkan
oleh

gonnorhoeae,

Neisseria

kochii

dan

meningitidis. Bentuk yang akut biasanya disebabkan oleh


Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptyus.
Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis
bakteri subakut adalah H influenza dan Escherichia coli,
sedangkan bentuk kronik paling sering terjadi pada
konjungtivitis sekunder atau pada pasien dengan
obstruksi duktus nasolakrimalis (Jatla, 2009).
Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata
kemudian mengenai mata yang sebelah melalui tangan
dan dapat menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya
terjadi pada orang yang terlalu sering kontak dengan
penderita, sinusitis dan keadaan imunodefisiensi (Marlin,
2009).
c. Patofisiologi
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh
flora normal seperti streptococci, staphylococci dan
jenis Corynebacterium. Perubahan pada mekanisme
pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora
normal tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis.
Perubahan pada flora normal dapat terjadi karena
adanya kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ
sekitar ataupun melalui aliran darah (Rapuano, 2008).
Penggunaan

antibiotik

topikal

jangka

panjang

merupakan salah satu penyebab perubahan flora normal


pada jaringan mata, serta resistensi terhadap antibiotik
(Visscher, 2009).
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi
adalah lapisan epitel yang meliputi konjungtiva
15

sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalah


sistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva,
lisozim dan imunoglobulin yang terdapat pada lapisan
air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan
berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada
mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi
pada konjungtiva (Amadi, 2009).
d. Gejala Klinis
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis
bakteri biasanya dijumpai injeksi konjungtiva baik
segmental ataupun menyeluruh. Selain itu sekret pada
kongjungtivitis bakteri biasanya lebih purulen daripada
konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus yang ringan
sering dijumpai edema pada kelopak mata (AOA,
2010).

Ketajaman

penglihatan

biasanya

tidak

mengalami gangguan pada konjungtivitis bakteri namun


mungkin sedikit kabur karena adanya sekret dan debris
pada lapisan air mata, sedangkan reaksi pupil masih
normal. Gejala yang paling khas adalah kelopak mata
yang saling melekat pada pagi hari sewaktu bangun
tidur. (James, 2005).
e. Diagnosis
Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan
meliputi

usia,

karena

mungkin

saja

penyakit

berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh pada


pasien yang lebih tua. Pada pasien yang aktif secara
seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular
seksual dan riwayat penyakit pada pasangan seksual.
Perlu juga ditanyakan durasi lamanya penyakit, riwayat
penyakit yang sama sebelumnya, riwayat penyakit
sistemik,

obat-obatan,

penggunaan

obat-obat

kemoterapi, riwayat pekerjaan yang mungkin ada

16

hubungannya dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi


terhadap obat-obatan, dan riwayat penggunaan lensakontak (Marlin, 2009).
f. Komplikasi
Blefaritis marginal kronik sering menyertai
konjungtivitis bateri, kecuali pada pasien yang sangat
muda

yang

bukan

sasaran

blefaritis.

Parut

di

konjungtiva paling sering terjadi dan dapat merusak


kelenjar

lakrimal

aksesorius

dan

menghilangkan

duktulus kelenjar lakrimal. Hal ini dapat mengurangi


komponen akueosa dalam film air mata prakornea
secara drastis dan juga komponen mukosa karena
kehilangan sebagian sel goblet. Luka parut juga dapat
mengubah bentuk palpebra superior dan menyebabkan
trikiasis dan entropion sehingga bulu mata dapat
menggesek kornea dan menyebabkan ulserasi, infeksi
dan parut pada kornea (Vaughan, 2010).

g. Penatalaksanaan
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung
pada temuan agen mikrobiologiknya. Terapi dapat
dimulai dengan antimikroba topikal spektrum luas.
Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai
disebabkan oleh diplokokus gram-negatif harus segera
dimulai terapi topical dan sistemik . Pada konjungtivitis
purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus
dibilas dengan larutan saline untuk menghilangkan
sekret konjungtiva (Ilyas, 2008).
2. Konjungtivitis Virus
a. Definisi
Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang
dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus, dan berkisar

17

antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat


hingga infeksi ringan yang dapat sembuh sendiri dan dapat
berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis bakteri
(Vaughan, 2010).
b. Etiologi dan Faktor Resiko
Konjungtivitis viral dapat disebabkan berbagai jenis
virus, tetapi adenovirus adalah virus yang paling banyak
menyebabkan penyakit ini, dan herpes simplex virus yang
paling membahayakan. Selain itu penyakit ini juga dapat
disebabkan oleh virus Varicella zoster, picornavirus
(enterovirus 70, Coxsackie A24), poxvirus, dan human
immunodeficiency virus (Scott, 2010). Penyakit ini sering
terjadi pada orang yang sering kontak dengan penderita
dan dapat menular melalu di droplet pernafasan, kontak
dengan benda-benda yang menyebarkan virus (fomites)
dan berada di kolam renang yang terkontaminasi (Ilyas,
2008).
c. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya konjungtivitis

virus ini

berbeda-beda pada setiap jenis konjungtivitis ataupun


mikroorganisme

penyebabnya

(Hurwitz,

2009).

Mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit ini


dijelaskan pada etiologi.
d. Gejala Klinis
Gejala klinis pada konjungtivitis virus berbeda-beda
sesuai dengan etiologinya. Pada keratokonjungtivitis
epidemik yang disebabkan oleh adenovirus biasanya
dijumpai demam dan mata seperti kelilipan, mata berair
berat dan kadang dijumpai pseudomembran. Selain itu
dijumpai infiltrat subepitel kornea atau keratitis setelah
terjadi konjungtivitis dan bertahan selama lebih dari 2
bulan (Vaughan, 2010).

18

Pada konjungtivitis ini biasanya pasien juga


mengeluhkan gejala pada saluran pernafasan atas dan
gejala infeksi umum lainnya seperti sakit kepala dan
demam. Pada konjungtivitis herpetic yang disebabkan
oleh virus herpes simpleks (HSV) yang biasanya
mengenai anak kecil dijumpai injeksi unilateral, iritasi,
sekret mukoid, nyeri, fotofobia ringan dan sering disertai
keratitis herpes. Konjungtivitis hemoragika akut yang
biasanya disebabkan oleh enterovirus dan coxsackie virus
memiliki gejala klinis nyeri, fotofobia, sensasi benda
asing, hipersekresi airmata, kemerahan, edema palpebra
dan perdarahan subkonjungtiva dan kadang-kadang dapat
terjadi kimosis (Scott, 2010).

e. Diagnosis
Diagnosis pada konjungtivitis virus bervariasi
tergantung

etiologinya,

karena

itu

diagnosisnya

difokuskan pada gejala-gejala yang membedakan tipetipe


menurut penyebabnya. Dibutuhkan informasi mengenai,
durasi

dan

gejala-gejala

sistemik

maupun

ocular,

keparahan dan frekuensi gejala, faktorfaktor resiko dan


keadaan lingkungan sekitar untuk menetapkan diagnosis
konjungtivitis virus (AOA, 2010). Pada anamnesis penting
juga untuk ditanyakan onset, dan juga apakah hanya
sebelah mata atau kedua mata yang terinfeksi (Gleadle,
2007). Konjungtivitis virus sulit untuk dibedakan dengan
konjungtivitis bakteri berdasarkan gejala klinisnya dan
untuk itu harus dilakukan pemeriksaan lanjutan, tetapi
pemeriksaan

lanjutan

jarang

dilakukan

karena

menghabiskan waktu dan biaya (Hurwitz, 2009).


f. Komplikasi

19

Konjungtivitis virus bisa berkembang menjadi


kronis, seperti blefarokonjungtivitis. Komplikasi lainnya
bisa berupa timbulnya pseudomembran, dan timbul parut
linear halus atau parut datar, dan keterlibatan kornea serta
timbul vesikel pada kulit (Vaughan, 2010).
g. Penatalaksanaan
Konjungtivitis virus yang terjadi pada anak di atas 1
tahun atau pada orang dewasa umumnya sembuh sendiri
dan mungkin tidak diperlukan terapi, namun antivirus
topikal atau sistemik harus diberikan untuk mencegah
terkenanya kornea (Scott, 2010). Pasien konjungtivitis
juga diberikan instruksi hygiene untuk meminimalkan
penyebaran infeksi (James, 2005).
3. Konjungtivitis Alergi
a. Definisi
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata
yang paing sering dan disebabkan oleh reaksi inflamasi
pada konjungtiva yang diperantarai oleh sistem imun
(Cuvillo et al, 2009). Reaksi hipersensitivitas yang paling
sering terlibat pada alergi di konjungtiva adalah reaksi
hipersensitivitas tipe 1 (Majmudar, 2010).
b. Etiologi dan Faktor Resiko
Konjungtivitis alergi dibedakan

atas

lima

subkategori, yaitu konjungtivitis alergi musiman dan


konjungtivitis alergi tumbuh-tumbuhan yang biasanya
dikelompokkan dalam satu grup, keratokonjungtivitis
vernal, keratokonjungtivitis atopik dan konjungtivitis
papilar raksasa (Vaughan, 2010). Etiologi dan faktor
resiko pada konjungtivitis alergi berbeda-beda sesuai
dengan subkategorinya. Misalnya konjungtivitis alergi
musiman dan tumbuhtumbuhan biasanya disebabkan oleh
alergi tepung sari, rumput, bulu hewan, dan disertai
dengan rinitis alergi serta timbul pada waktu-waktu
20

tertentu. Vernal konjungtivitis sering disertai dengan


riwayat asma, eksema dan rinitis alergi musiman.
Konjungtivitis atopik terjadi pada pasien dengan riwayat
dermatitis atopic, sedangkan konjungtivitis papilar rak
pada pengguna lensakontak atau mata buatan dari plastik
(Asokan, 2007).
c. Gejala Klinis
Gejala klinis konjungtivitis alergi berbeda-beda
sesuai dengan subkategorinya. Pada konjungtivitis alergi
musiman dan alergi tumbuh-tumbuhan keluhan utama
adalah gatal, kemerahan, air mata, injeksi ringan
konjungtiva, dan sering ditemukan kemosis berat. Pasien
dengan keratokonjungtivitis vernal sering mengeluhkan
mata sangat gatal dengan kotoran mata yang berserat,
konjungtiva tampak putih susu dan banyak papila halus di
konjungtiva tarsalis inferior. Sensasi terbakar, pengeluaran
sekret mukoid, merah, dan fotofobia merupakan keluhan
yang paling sering pada keratokonjungtivitis atopik.
Ditemukan jupa tepian palpebra yang eritematosa dan
konjungtiva tampak putih susu. Pada kasus yang berat
ketajaman

penglihatan

menurun,

sedangkan

pada

konjungtiviitis papilar raksasa dijumpai tanda dan gejala


yang mirip konjungtivitis vernal (Vaughan, 2010).
d. Diagnosis
Diperlukan riwayat alergi baik pada pasien maupun
keluarga pasien serta observasi pada gejala klinis untuk
menegakkan diagnosis konjungtivitis alergi. Gejala yang
paling penting untuk mendiagnosis penyakit ini adalah
rasa gatal pada mata, yang mungkin saja disertai mata
berair, kemerahan dan fotofobia (Weissman, 2010).
e. Komplikasi

21

Komplikasi pada penyakit ini yang paling sering


adalah ulkus pada kornea dan infeksi sekunder (Jatla,
2009).
f. Penatalaksanaan
Penyakit ini

dapat

diterapi

dengan

tetesan

vasokonstriktor-antihistamin topikal dan kompres dingin


untuk mengatasi gatal-gatal dan steroid topikal jangka
pendek untuk meredakan gejala lainnya (Vaughan, 2010).
4. Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh
Candida albicans dan merupakan infeksi yang jarang terjadi.
Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat
timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan keadaan sistem
imun yang terganggu. Selain Candida sp, penyakit ini juga
dapat disebabkan oleh Sporothrix schenckii, Rhinosporidium
serberi, dan Coccidioides immitis walaupun jarang (Vaughan,
2010).
5. Konjungtivitis Parasit
Konjungtivitis parasit dapat disebabkan oleh infeksi
Thelazia californiensis, Loa loa, Ascaris lumbricoides,
Trichinella spiralis, Schistosoma haematobium, Taenia solium
dan Pthirus pubis walaupun jarang (Vaughan, 2010).
6. Konjungtivitis kimia atau iritatif
Konjungtivitis kimia-iritatif adalah konjungtivitis yang
terjadi oleh pemajanan substansi iritan yang masuk ke sakus
konjungtivalis. Substansisubstansi iritan yang masuk ke sakus
konjungtivalis dan dapat menyebabkan konjungtivitis, seperti
asam, alkali, asap dan angin, dapat menimbulkan gejalagejala
berupa nyeri, pelebaran pembuluh darah, fotofobia, dan
blefarospasme. Selain itu penyakit ini dapat juga disebabkan
oleh pemberian obat topikal jangka panjang seperti dipivefrin,
miotik, neomycin, dan obat-obat lain dengan bahan pengawet
yang toksik atau menimbulkan iritasi. Konjungtivitis ini dapat

22

diatasi dengan penghentian substansi penyebab dan pemakaian


tetesan ringan (Vaughan, 2010).
7. Konjungtivitis lain
Selain disebabkan oleh bakteri, virus, alergi, jamur dan
parasit, konjungtivitis juga dapat disebabkan oleh penyakit
sistemik dan penyakit autoimun seperti penyakit tiroid, gout
dan karsinoid. Terapi pada konjungtivitis yang disebabkan oleh
penyakit sistemik tersebut diarahkan pada pengendalian
penyakit

utama

atau

penyebabnya

(Vaughan,

2010).

Konjungtivitis juga bisa terjadi sebagai komplikasi dari acne


rosacea dan dermatitis herpetiformis ataupun masalah kulit
lainnya pada daerah wajah. (AOA, 2008).

23

BAB IV
A. Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi, pasien didiagnosa
dengan konjungtivitis bakteri. Pada kasus ini diberikan pemberian tetes mata
antibiotik dan edukasi pasien untuk menjaga kebersihan.

B. Saran

Hendaknya pasien menghapus air mata dengan bahan yang bersih dari

kontaminasi.
Menghindari memegang mata yang sakit dengan tangan atau bahan yang
tidak bersih.

24

BAB V
Amadi, A., et al., 2009. Common Ocular Problems in Aba Metropolis of Albia
State, Eastern Nigeria. Federal Medical Center Owerri. Available from:
http://docsdrive.com/pdfs/medwelljournals/pjssci/2009/32-35.pdf. [Diakses
27 Mei 2016]
Asokan, N., 2007. Asthma and Immunology Care. Diplomate of American Board
of Allergy & Immunology and American Board of Pediatrics. Available
from:

http://www.trinityallergy.com/md-natarajan-asokan-trinity

allergyasthma-immunology-kingman-az.htm. [Diakses 27 Mei 2016]


Cuvillo, A del., et al., 2009. Allergic Conjunctivitis and H1 Antihistamines. J
investing Allergol Clin Immunol 2009; Vol. 19. Suppl. 1: 11-18.
Hurwitz, S.A., Antibiotics Versus Placebo for Acute Bacterial Conjunctivitis. The
Cochrane

Collaboration.

Available

at:

http://www.thecochranelibrary.com/userfiles/ccoch/file//CD001211.pdf.
[Diakses 27 Mei 2016]
Ilyas, S., 2008. Mata Merah. Dalam: Ilyas, S. (ed). Penuntun Ilmu Penyakit Mata.
Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 64-77.
Ilyas S, Sukardi I, Harmani B, Sudiro SH, Gondowiardjo TD. 2000. Prosedur
Diagnostik dan Penatalaksanaan Pengobatan di Sub Bagian Kornea, Lensa,
dan Bedah Refraktif. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUI. p23-31
James, B., Chew, C., Bron, A., 2005. Konjungtiva, Kornea, dan Sklera. Dalam:
Bruce, J., et al. (eds). Lecture Notes Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta: Penerbit
Erlangga, 6-66.
Jatla, K.K., 2009. Neonatal Conjunctivitis. University of Colorado Denver Health
Science

Center.

Available

http://emedicine.medscape.com/article/1192190-overview.

at:
[Accessed

March 2011].
Junqueira, L.C., Carneiro, J (ed). Histologi Dasar: Text & Atlas. Edisi 10. Jakarta:
EGC, 463.

25

Majmudar, P.A., 2010. Allergic Conjunctivitis. Rush-Presbyterian-St Lukes


Medical

Center.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/

article/1191467-overview. [Accessed 3 March 2011].


Quinn, C.J., et al., 2010. Care of Patient with Conjunctivitis. American
Optometric Association. Available from: http://doccpc.file/19007/2010/
pdfs.aoa. [Diakses 27 Mei 2016]
Rapuano, C.J., et al., 2008. Conjunctivitis. American Academy of Ophthalmology.
Available from: http://one.aao.org/asset.axd. [Diakses 27 Mei 2016]
Scott, I.U., 2010. Viral Conjunctivitis. Departement of Opthalmology and Public
Health Sciences: Available from: http://emedicine.medscape.com/article/
1191370-overview. [Diakses 27 Mei 2016]
Therese, L.K., 2002. Microbiological Procedures for Diagnosis of Ocular
Infection.

Available

from:

http://www.ijmm.org/documents/ocular.pdf.

[Diakses 27 Mei 2016]


Tortora, G.J., Derrickson, B.H., 2009. The Special Senses. In: Tortora, Gerard J.,
Derrickson, Bryan H. (eds). Principles of Anatomy and Physiology. 12th
edition. New York: John Wiley & Sons, Inc, 605-611.
Marlin, D.S., 2009. Bacterial Conjunctivitis. Penn State College of Medicine.
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1191370-overview.
[Diakses 27 Mei 2016]
Vaughan. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC, 97-118
Visscher, K.L., et al., 2009. Evidence-based Treatment of Acute Infective
Conjunctivitis.

Canadian

Family

Physician.

Available

from:

http://171.66.125.180/content/55/11/1071.short. [Diakses 27 Mei 2016]


Weissman, B.A., 2008. Giant Papillary Conjunctivitis. University of California at
Los

Angeles.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/1191641-overview. [Diakses 27 Mei


2016]

26