Anda di halaman 1dari 19

TUGAS RESUME MATERI PRA UJIAN TENGAH SEMESTER

MODEL PERMUKAAN DIGITAL


(disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Model Permukaan Digital)

Disusun oleh:
Diqja Yudho Nogoro

21110113120002

Diana Nukita

21110113120012

Humaira Qanita

21110113120024

Wiwik Levitasari

21110113120035

Fida Wulan Istiaji

21110113120046

PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang Telp. (024) 76480785, 76480788
email: jurusan.geodesi@undip.ac.id
2016

BAB I
MODEL
Model adalah sebuah objek atau sebuah konsep yang digunakan untuk merepresentasikan
sesuatu. Biasanya ukurannya di perkecil dan dikonversi unuk membentuk sesuatu yang bisa
dibandingkan (Meyer 1985)
Jenis Model Matematis (Saaty dan Alexander)
1.
2.
3.
4.

Kuantitatif berdasar angka)


Kualitatif (berdasarkan perbandingan/ tingkatan)
Fungsional, berdasarkan sifat deterministik
Stokastik, berdasarkan sifat probabilistik

Fungsi Model
1. Sebagai abstraksi berdasarkan bentuk logis untuk visualisasi sekaligus memudahkan
komunikasi (konseptual)
2. Memudahkan pembahasan dan perhatian pada bagian-bagian penting dari suatu objek
(fisik)
3. Memungkinkan penerapan teknis pada objek yang sama secara keseluruhan
(matematis)
4. Memungkinkan evaluasi terhadap objek tanpa berhadapan langsung dengan objek
tersebut
5. Terkait dengan Real World, merupakan alat untuk memahami hukum alam
Karakteristik Model
1. Akurasi
2. Deskriptif
3. Presisi

: Mendekati kebenaran
: Asumsi yang sesuai dengan kenyataan
: Kondisi model dapat diprediksi berdasarkan angka, fungsi, atau

bentuk geometrik
4. Robustness : Ketahanan relatif terhadap kesalahan data masukan (bukan proses dan
output)
5. Generality
: Dapat diaplikasikan dalam berbagai situasi dan kondisi
6. Fruitfullness : Bermanfaat dan dapat dijadikan sumber dari analisis atau model
lainnya
7. Simplicity

: Jumlah parameter terkecil yang masih memungkinkan untuk

membangun suatu model


Objek yang terkait dengan model permukaan:
1. Landforms : Elevasi, slope, dan objek lain yang memodelkan relief dari permukaan
2. Unsur Alam : Sungai, danau, garis pantai, jaringan jalan, pemukiman, batas
administrasi (misal punggungan bukit)
3. Lingkungan dan sumber daya alam : soil, vegetasi, geologi dst.
4. Data sosio -ekonomi : distribusi penduduk, zona industri dan pertanian, dst.
Keunggulan Data terrain dalam bentuk digital:

1. Variasi representasi, data yang ada dapat divisualkan dalam beragam bentuk seperti
kontur, profil, 3D view
2. Tidak berkurang kualitasnya seiring waktu atau dalam proses duplikasinya
3. Mudah dimodifikasi
4. Representasi multi-scale, dapat disajikan dalam berbagai skala
Aplikasi MPD
1.
2.
3.
4.

Perencanaan dan desain konstruksi sipil & pertambangan


Simulasi & analisis Hidrologi
Animasi 3D untuk militer, desain lansekap, serta perencanaan kota
Analisis visibilitas dan cakupan sinyal telekomunikasi

BAB II
INTERPOLASI
Pembentukan permukaan topografi dapat dilakukan dengan sejumlah titik baik dari distribusi
titik yang teratur maupun acak. Sehingga diperlukan harga z pada dan pola distribusinya
(grid, profil).
Interpolasi merupakan aproksimasi harga ketinggian pada titik-titik antara, dari titik-titik
yang diketahui ketinggiannya.
Teselasi
1. Teselasi merupakan proses penutupan permukaan oleh ojek geometris tanpa adanya
pertampalan.
2. Hasil proses teselasi membentuk poligon veronoi
3. Apabila objek geometris yang menutup permukaan berbentuk segitiga disebut
Delaunay triangulation/ Triangular Irregular Network (TIN)
Beberapa metoda interpolasi yang umum digunakan diantaranya:
1.
2.
3.
4.

Interpolasi Linier
Interpolasi Polynomial
Moving average
Interpolasi Kuadrat terkecil

Interpolasi Linier
1. Membentuk segitiga bidang datar dari titik titik acak.
2. Garis vertikal ditarik dari x,y tertentu (perpotongan garis grid).
3. Nilai l diperoleh dari perpotongan garis vertikal dengan bidang datar yang dibentuk
segitiga di atas merupakan harga tinggi interpolasi dari x,y tertentu.
Interpolasi Moving Average
Interpolasi suatu titik dengan menghitung harga rata-rata titik-titik sekitarnya yang masuk
pada batas jarak/ radius yang ditentukan
Interpolasi Moving Average dengan Berat
Moving average dapat pula diterapkan dengan memberikan berat kepada titik-titik referensi
yang masuk pada batas jarak/ radius berdasarkan fungsi jarak atau radius (jarak dari setiap
titik referensi terhadap titik yang akan diinterpolasikan). Metoda ini dikenal dengan sebutan
interpolasi berdasarkan rata-rata berberat (weighted mean interpolation).
Bilinier Interpolasi
Pada Interpolasi Bilinear menggunakan permukaan yang mempunyai karakteristik linier ke
arah x dan y (twisted plane)

BAB III
SAMPLING DATA
A.

Pengertian Sampling
Sampling adalah suatu cara atau metode untuk menyajikan permukaan terain secara
memadai menggunakan jumlah titik tinggi yang terbatas dan menyajikan permukaan
terain pada derajat akurasi dan kehandalan tertentu. Sampling ini diperlukan karena
permukaan terain itu terdiri dari beberapa titik yang tidak terhingga, oleh karena itu
sebuah titik yang diukur pada suatu permukaan mewakili tinggi suatu luasan tertentu

B.

pada terain tersebut.


Strategi Sampling
Sebuah permukaan terain berasal dari sejumlah titik yang berhingga, sedangkan
kandungan informasi titik-titik tersebut bervariasi sesuai dengan posisinya. Strategi
Sampling ada 4 yaitu:
1. Selective Sampling
Yaitu digunakan pada aplikasi survei terestris dimana titik-titik penting (very
important points-VIP) diukur. Jumlah titik yang diambil biasanya relatif sedikit,
namun telah mewakili kondisi terain yang sebenarnya. Strategi ini sulit dilakukan
dalam metode fotogrametri karena membutuhkan proses interpretasi yang lama
dengan operator yang terlatih. Dan strategi ini sulit untuk diotomatiskan.
2. Sampling dengan 1Dimensi tetap
Yaitu digunakan pada fotogrametri analog, pengukuran kontur secara langsung
merupakan metode yang paling sering digunakan. Nilai titik untuk setiap kontur
adalah tetap. Titik apung (floating mark) digerakan pada model stereo kearah X
dan Y menggunakan roda mekanis. Pada aplikasi dahulu, model stereo hanya
digunakan untuk menggambar garis kontur, kemudian ketika fotogrametri
numerik berkembang maka untuk keperluan DTM yang direkam adalah koordinat
(x,y) sepanjang garis kontur. Nilai ketinggian adalah tetap untuk satu garis kontur.
Perekaman data titik dapat dilakukan secara selektif sepanjang garis kontur. Pada
contouring, nilai Z adalah tetap pada saat mengukur sepanjang garis kontur. Jika
yang dijaga tetap adalah komponen X maka pergerakan titik apung adalah pada
bidang YZ. Hasil yang diperoleh adalah berupa profil .pada bidang XZ, dimana
proses ini disebut dengan profiling.

Contouring
3. Sampling dengan 2Dimensi tetap
Pada stategi sampling ini terdapat 2 metode yaitu regular grid dan progressive
sampling. Pada regular grid, data ukuran diperoleh dari titik-titik yang terletak
pada grid yang teratur. Interval pada arah X dan Y dibuat tetap. Semua titik pada
pojok grid diukur. Metode ini kurang menjamin keterwakilan dari terain jika
ukuran grid kurang kecil. Sebaliknya, jika ukuran grid terlalu kecil, representative
ness akan terpenuhi; namun akan terdapat redudansi data pada banyak daerah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Makarovic (1973) mengusulkan sebuah teknik yang
disebut progressive sampling. Pada progressive sampling, proses sampling
dilaksanakan dengan pola grid yang berubah secara progressive dari kasar kehalus
pada suatu area. Beberapa sistem fotogrametri (analytical plotter) menggunakan
metode ini. Kekurangan metode ini adalah sebagai berikut:
a. Terdapat redudansi yang tingggi pada area yang mengalami perubahan drastis
pada terain.
b. Terdapat feature penting yang hilang pada sampling yang pertama, yang tidak
dapat diperoleh pada sampling berikutnya.
c. Efisiensinya kurang karena proses yang lama.

Sampling dengan 2Dimensi tetap


4. Composite Sampling
Yaitu gabungan dari regular grid dan selective sampling. Pada metode ini, regular
grid sangat efisien sedangkan selective sampling sangat baik dapat mewakili

kondisi terain. Perubahan yang drastis pada surface (seperti ridges, breaklines)
diukur secara selective. Hasilnya ditambahkan pada data hasil sampling secara
regular grid.

Composite Sampling
C. Karakteristik Sampling
Titik FS merupakan local extrema pada permukaan terain, seperti peak, pit, dan
passes. Titik-titik ini tidak hanya memberi informasi ketinggiannya, tetapi juga
memiliki informasi topografi daerah sekitarnya.
Peak merupakan puncak dari gunung atau bukit, sehingga memiliki sekumpulan titik
yang elevasinya lebih rendah di sekitarnya Pit merupakan dasar dari lembah (atau
lubang) sehingga terdapat titik-titik yang lebih tinggi disekitarnya. Nilai penting titik
FS adalah adanya kandungan informasi (secara implisit) tentang lingkungan
sekitarnya. Garis yang menghubungkan titik-titik F-S tertentu disebut sebagai featurespecific line. Contohnya adalah: ridge lines, course line (rivers, valley, etc), break
lines. Ridge line merupakan garis yang menghubungkan pasangan titik-titik yang
mana titik tersebut merupakan local maxima. Course line merupakan garis yang
menghubungkan titik-titik yang didefinisikan sebagai local minimal. Titik-titik
perpotongan 2 jenis garis tersebut dinamakan sebagai passes. Pada passes, titiktitiknya dapat berperan sebagai local maxima, sekaligus sebagai local minima.

Karakteristik Sampling
D.

Format Data MPD


Format data model permukaan digital yaitu meliputi :
1. Spot Height
2. Digital Contour
3. Raster Grid
4. TIN (Triangulated Irrengular Network)

Spot Heigt

Contour

Raster

BAB IV
COLLECTING DATA
Digital Elevation Model ( DEM )
Informasi tentang ketinggian suatu tempat (elevasi) merupakan elemen yang fundamental
dari suatu data Geospatial dan digunakan oleh hampir sebagian besar pengguna. Data Elevasi
tersebut digunakan pada banyak aplikasi, misalnya: pemetaan luas genangan banjir,
perencanaan wilayah, perencanaan jaringan jalan, jaringan irigasi, pembuatan peta jaringan
sungai, dll. Data elevasi tersebut umumnya disimpan dalam bentuk Digital Elevation Model
(DEM). DEM selanjutnya dapat diintegrasikan dengan data Geospasial lainya di dalam GIS
untuk berbagai keperluan.
Digital Surface Model ( DSM )
Informasi ketinggian semua fitur di permukaan bumi menliputi: vegetasi, gedung-gedung dan
fitur lainnya.
Digital Terrain Model ( DTM )
Hanya memuat informasi ketinggian permukaan tanah (bareearth surface) tanpa terpengaruh
oleh vegetasi atau fitur buatan manusia lainnya. Sepanjang dasawarsa terakhir, penelitian dan
aplikasi menunjukkan bahwa DEM telah memberikan hasil yang cukup signifikan dan dapat
diterima secara ilmiah. Contoh aplikasi yang menggunakan DEM, misalnya: pemodelan
Daerah Aliran Sungai, perencnaan teknik sipil, penempatan titik-titik korodinat untuk antena
BTS, simulasi dan training dibidang militer, penerbangan dan perencaan tata kota, kartografi
dan pembuatan peta dasar, dan pertambangan.
Sumber data Utama DEM

Peta topografi

Foto udara dan Citra satelit

Data pengukuran lapangan : GPS

Radar SAR dan InSAR

Airborne Laser Detection & Ranging (LIDAR)

1. Peta Topografi
Sebelum melakukan pengambilan data dari Peta topografi maka dilakukan Digitasi.
a. Digitasi Kartografis
Digitasi merupakan proses pembuatan peta digital dari hard copy menjadi
soft copy.
b. Digitasi Berbasis Vektor

Terdiri dari Line following yang menelusuri dan merekam seluruh titik
penyusun garis kontur, dan Stream mode yang merekam garis dengan
interval waktu tertentu.
Data yang dapat diambil dari peta meliputi :
a. Kontur
Kontur dibuat dari digitasi garis kontur yang disimpan dalam format seperti DLGs
(Digital Line Graphs koordinat (x, y) sepanjang tiap garis kontur yang menunjukkan
elevasi khusus. Kontur paling banyak digunakan untuk menyajikan permukaan bumi
dengan simbol garis.
b. Posisi Titik Tinggi
Nilai Tingginya Diinputkan ke Z atau propertis elevasi nya.
2. Foto Udara dan Citra satelit
Perolehan data untuk pembuatan MPD dari foto udara dan citra satelit umumnya
berdasarkan prinsip fotogrametri.
Proses fotogrametri melalui teknik tertentu (misalnya: stereo-plotting) dapat
digunakan untuk menghasilkan DEM dari teknik foto udara. DEM dengan teknik
ini dapat mencakup wilayah yang lebih luas dan ketelitian spasial yang lebih tinggi,
sehingga permukaan bumi yang dimaksud dapat digambarkan dengan lebih detail.
Teknik stereo menggunakan citra satelit juga sudah sumum digunakan untuk
memproduksi DEM. Beberapa satelit dengan ketelitian spasial tinggi (misalnya:
GeoEye-1, WorldView-1, WorldView-2, Pliades 1A, Pliades 1B dan IKONOS)
mampu menghasilkan DEM untuk lokasi tertentu dengan ketelitian spasial tinggi,
menggunakan teknik citra staelit stereo (Stereo Satellite Imagery). Satelit lain,
misalnya: SPOT-6, ALOS, dan ASTER mampu menghasilkan DEM dengan
ketelitian sedang.
3. Data pengukuran lapangan: GPS
Pengukuran langung di lapangan menggunakan GPS akan menghasilkan data titiktitik ketinggian dengan koordinat lokasi-nya. Selanjutnya, data tersebut diimport ke
dalam software GIS dan dilakukan interpolasi data untuk menentukan ketinggian
titik-titik lain yang tidak terukur pada wilayah yang dimaksud. Banyak metode
interpolasi telah digunakan untuk proses pembuatan DEM. Umumnya proses
pembuatan DEM membutuhkan layer: kontur, datum dan jaringan sungai. Informasi
lain dapat ditambahkan untuk menghasilkan DEM yang lebih baik dan hal ini
tergantung pada software atau cara yang dipakai dalam proses pembuatan DEM.

4. Radar SAR dan InSAR


Synthetic aperture radar ( SAR )
Radar merupakan sensor aktif yang memancarkan gelombang mikrowave dan
merekam pantulannya. Terkait dengan tinggi, maka pantulan objek yang dekat
atau lebih tinggi akan terekam lebih lebih dulu. Pada sistem Radar (konvensional)
resolusi azimuth x bergantung pada nilai L (ukuran antenna). Pada sistem SAR
(konvensional) resolusi azimuth x diemulasi dengan memproses data sebelum dan
sesudah target perekaman.
Interferometric SAR ( InSAR )
Dua citra hasil Rekaman SAR yang mencakup area yang sama, dari posisi sensor
yang berbeda dapat digunakan untuk membuat citra interferogram. Secara teknis,
InSar merupakan proses pengolahan data, bukan instrumentasinya.
5. Airborne Laser Detection & Ranging (LIDAR)
Pada pendekatan berbasis Laser, digunakan tipe pulse laser dan continous wave
(CW) laser. Hasil dari laser ranging berupa point cloud yang merekam keseluruhan
permukaan bumi. Diperlukan proses tambahan filtering untuk mendapatkan
hanya bagian permukaan tanahnya.
Struktur Data DEM
a. Grid
Grid atau Lattice menggunakan sebuah bidang segitiga teratur, segiempat, atau
bujursangkar atau bentuk siku yang teratur grid. Perbedaan resolusi grid dapat
digunakan, pemilihannya biasanya berhubungan dengan ukuran daerah penelitian dan
kemampuan fasilitas komputer. Data dapat disimpan dengan berbagai cara, biasanya
metode yang digunakan adalah koordinat Z berhubungan dengan rangkaian titik-titik
sepanjang profil dengan titik awal dan spasi grid tertentu (Moore et al., 1991).
b. TIN
TIN adalah rangkaian segitiga yang tidak tumpang tindih pada ruang tak beraturan
dengan koordinat x, y, dan nilai z yang menyajikan data elevasi. Model TIN disimpan
dalam topologi berhubungan antara segitiga dengan segitiga didekatnya, tiap bidang
segitiga digabungkan dengan tiga titik segitiga yang dikenal sebagai facet. Titik tak
teratur pada TIN biasanya merupakan hasil sampel permukaan titik khusus, seperti
lembah, igir, dan perubahan lereng (Mark 1975)
c. Kontur

Kontur dibuat dari digitasi garis kontur yang disimpan dalam format seperti DLGs
(Digital Line Graphs koordinat (x, y) sepanjang tiap garis kontur yang menunjukkan
elevasi khusus. Kontur paling banyak digunakan untuk menyajikan permukaan bumi
dengan simbol garis.
Interpolasi
Interpolasi adalah proses penentuan dari nilai pendekatan dari variabel f(P) pada titik antara
P, bila f(P) merupakan variabel yang mungkin skalar atau vektor yang dibentuk oleh harga
f(P1) pada suatu titik P1 dalam ruang yang berdimensi r (Tempfli, 1977).
Penentuan nilai suatu besaran berdasarkan besaran lain yang sudah diketahui nilainya,
dimana letak dari besaran yang akan ditentukan tersebut di antara besaran yang sudah
diketahui. Besaran yang sudah diketahui tersebut disebut sebagai acuan, sedangkan besaran
yang ditentukan disebut sebagi besaran antara (intermediate value). Dalam interpolasi
hubungan antara titik-titik acuan tersebut didekati dengan menggunakan fungsi yang disebut
fungsi interpolasi.

BAB V
TIN DAN REPRESENTASI PERMUKAAN
1. DTM (Digital Terrain Model)
DTM (Digital Terrain Model) adalah bentuk digital dari terrain (permukaan tanah,
tidak termasuk objek diatasnya) DTM menampilkan data yang lebih lengkap dari
DEM. DTM digambarkan sebagai tiga representasi dimensi permukaan medan yang
terdiri dari X,Y, Z koordinat disimpan dalam bentuk digital yang tidak hanya
mencakup ketinggian dan elevasi unsur unsur geografis lainnya dan fitur alami
seperti sungai, jalur punggungan, dll. DTM secara efektif DEM yang telah ditambah
dengan unsur-unsur seperti breaklines dan pengamatan selain data asli untuk
mengoreksi artefak yang dihasilkan dengan hanya menggunakan data asli.
Pola data DTM tersaji dalam bentuk regular dan irregular. Regular direpesentasikan
dalam bentuk segiempat grid. Sedangkan irregular didasarkan pada jaringan segitiga
dari ukuran tidak beraturan, bentuk dan orientasi. DTM juga dapat dipresentasikan
dalam format yang berbeda seperti raster quadtree, DEM, multiresolution dan TIN.
2. DEM (Digital Elevation Model)
DEM adalah data digital yang menggambarkan geometri dari bentuk permukaan bumi
atau bagiannya yang terdiri dari himpunan titik titik koordinat hasil sampling dari
permukaan dengan algoritma yang mendefenisikan permukaan tersebut menggunakan
himpunan koordinat. Tingginya sampling menunjukkan interval garis bujur dan garis
lintang reguler.

Struktur data DEM dibagi menjadi 3 yaitu :


1. Grid
Grid atau Lattice menggunakan sebuah bidang segitiga teratur, segiempat, atau
bujursangkar atau bentuk siku yang teratur.

Kelebihan Data Grid adalah sebagai berikut :


a. Struktur Data Penyimpanan dan Algoritma Sederhana
b. Data Mudah untuk diaplikasikan
c. Mudah direlasikan dengan data raster yang lain.
d. Untuk ruang dari point yang yang tidak beraturan dan kosong dapat dikonversi ke
regular dengan interpolasi.
Kekurangan Data Grid adalah sebagai berikut :
a. Transformasi dari dan ke model yang lain diperlukan komputasi matematis yang
rumit.
b. Butuh memory yang besar untuk resolusi tinggi.
c. Untuk model linear tidak direpresentasi dengan baik
d. Tidak sesuai untuk variabilitas topografi.
2. TIN (Triangulated Irregular Network)
TIN adalah rangkaian segitiga yang tidak tumpang tindih pada ruang tak beraturan
dengan koordinat x, y, dan nilai z yang menyajikan data elevasi. Berbasis Vektor dan
dibentuk dari ketidak teraturan titik dan garis dalam 3 Dimensi. Vertek dikoneksikan
dengan garis untuk membentuk jaringan segitiga.

Kelebihan TIN adalah sebagai berikut:


a. Slope dapat teridentifikasi dengan jelas.
b. Efisen pada pembentukan Segitiga untuk daerah yang datar
c. Lebih mudah dalam melakukan analisa terhadap slope, aspek dan volume
Kelemahan TIN adalah sebagai berikut :
a. Analisis dengan layer yang lain sulit dilakukan.
Prinsip Dasar Pembuatan TIN
Beberapa alternatif pembentukan data jaring permukaan tinggi dari sekumpulan data tinggi
yang terdistribusi acak, yaitu:

a. Metode Statik : Semua data digunakan untuk proses single pass


b. Metode Dinamik : Semua data digunakan untuk proses multiple pass.
Triangulasi Delauny
Merupakan proses menghubungkan (dalam konteks triangulasi) titik-titik dengan sebaran
tertentu dan memiliki aturan-aturan penentuan hubungan titik-titik koordinat dalam
pembentukan jaring segitiga.
Aturan Triangulasi Delauny
a. Setiap set segitiga dapat membangun satu lingkaran.
b. Tidak ada data lain dalam suatu lingkaran yang terbentuk dari 3 titik.
c. Equangularity lokal (lawson 72), dimana sudut yang bersebelahan memiliki besar
sama.
d. Diperlukan penukaran garis hubung pada jaring (a) agar sudut tiap sisi yang
bersebelahan relatif sama (b).

Tahapan-tahapan proses pembuatan triangulasi delauny (dapat melalui pemrograman)


berikut:
a. Penentuan titik start dan basis segitiga
b. Pencarian titik tetangga untuk mendapatkan basis baru
c. Iterasi a. dan b.
Karakteristik data tinggi
Berdasarkan karakteristik datanya, model permukaan dapat dibagi menjadi
a. Local (sub) Surfaces, terkait dengan kompleksitas data yang tinggi sehingga diproses
bagian per bagian kecil
b. Global Surfaces, terkait dengan informasi umum yang ingin diperoleh dari
keseluruhan area, sehingga data diproses dari keseluruhan area
c. Regional Surfaces proses pemodelan di antara local dan global surfaces
Model permukaan dapat dibagi menjadi
a. Permukaan Diskontinu, dimana variasi tinggi permukaan dianggap bersifat acak.

b. Permukaan Kontinu, dimana batas antar permukaan lokal terdapat fungsi ketinggian
dengan orde yang berbeda
c. Permukaan Smooth, antar permukaan lokal atau regional , fungsi yang digunakan
memiliki orde yang sama.

Geometri Fungsi Ketinggian


Secara geometrik, semakin tinggi ordenya, variasi dalam satu unit ketinggian akan semakin
besar
Jenis Data
Distribusi (sumber data) Regular
a. Menggunakan data yang sudah tersusun dalam grid

Distribusi (sumber data) Irregular


a. Dari data yang tersusun secara acak (random points) dapat digunakan untuk
menentukan ketinggian dengan metode interpolasi

Jenis model fungsional


Berdasarkan modelnya, permukaan dapat dibagi menjadi:
1. Pemodelan berbasis susunan
a. titik (Regular Point)
b. Grid (Regular Grid)
2. Berbasis Segitiga
a. Pemodelan berbasis segitiga teratur (Triangle-Regular based)
b. Pemodelan berbasis acak - segitiga (Triangle-Irregular based)
3. Pendekatan Hybrid atau gabungan dua dari tiga metode di atas
Akurasi Model
a. Dinyatakan dalam nilai Derajat Kepentingan suatu titik (degree of significance)
b. Merupakan turunan kedua dari fungsi tinggi terhadap jarak

X : jarak pada bidang XY


AC : error pada Xi
(H : Z di bidang XY)
c. Dengan tambahan nilai ambang batas (threshold) dari degree of significance, dapat
ditentukan titik2 mana saja yang dapat digunakan (atau dihilangkan)
: Akurasi data

: Akurasi model

: Akurasi pemodelan
Proses Pemodelan
Berdasarkan prosesnya, pemodelan permukaan dapat dibagi menjadi :
a. Konstruksi Langsung dari hasil pengukuran, dimana model dapat dibangun secara
langsung dari data-data lapangan, misalkan tinggi dari laser scanning
b. Konstruksi tidak langsung dari data ketinggian yang diambil dari peta topografi atau
model stereo.
Tahap Pemodelan Fungsi Ketinggian
Penentuan posisi 2D (x-y) antara data sampel dan model, dimana terdapat hubungan
a. Eksplisit (sudah tertentu. Misal: regular-grid) dan
b. Implisit (melalui perhitungan, misal : triangular)
Setelah posisi planimetris 2D ditentukan, dilanjutkan dengan penentuan tinggi model
permukaan
Penentuan posisi 2D (x-y) antara data sampel dan model, dimana terdapat hubungan
a. Eksplisit (sudah tertentu. Misal: regular-grid) dan
b. Implisit (melalui algoritma pencarian, misal: delaunay triangulation)

Data Kontur dapat dijadikan sumber data permukaan. Untuk dapat dijadikan jaring grid,
kontur dapat dipandang sebagai:
a. Titik yang terdistribusi acak, terutama dari sisi verteksnya
b. Sebagai model triangulasi titik

Sumber data Kontur


Dengan metode interpolasi berbasis titik terdekat yang terdiri dari :
a. Interpolasi dari sepanjang sumbu koordinat
b. Interpolasi dari titik pada slope tercuram

Distribusi (sumber data) Regular


Pencuplikan (resampling) tinggi dari data grid yang bersifat general dari data grid yang rapat
misalkan grid 5x5 dari grid 3x3

Dalam proses pembentukan grid baru dikenal metode interpolasi (mirip dengan resampling
citra):
a. Nearest Neighbour, mengambil tinggi titik terdekat
b. Bilinear Interpolation, mengambil tinggi dari 2x2 set titik
c. (Bi)Cubic Convolution, menghitung tinggi dari 3x3 atau 4x4
d. Inverse distance weighting
Berbasis jarak
e. Kriging
Berbasis karakteristik variogram dari jarak.