Anda di halaman 1dari 16

Kliping

LEMPAR
LEMBING
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada
Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani

DISUSUN OLEH :
NAMA

: MELINDA SELVIANA

KELAS

: VIII

SMP NEGERI 3
TRISNOMULYO
LAMPUNG TIMUR
TP. 2015/2016

LEMPAR LEMBING

A. Pengertian Lempar Lembing


Lembing adalah olahraga yang merupakan keturunan dari
banyak bentuk kompetisidiperebutkan di berbagai bagian dunia kuno
yang melibatkan melemparkan dari peluru. Lembing adalah salah
satu peristiwa yang membentuk bagian dari Olimpiade kuno, dan itu
termasuk dalam perdana Olimpiade modern pada tahun 1896.
Lembing akhirnya diatur oleh lintasan dan lapangan payung tubuh,
Federasi Atletik Amatir Internasional (IAAF).
Javelin kompetisi paling dikenal melalui pemaparan yang
diberikan olahraga pada Olimpiade, di mana lembing adalah kejadian
terpisah diperebutkan oleh laki-laki dan perempuan. Javelin juga
merupakan bagian dari dua tahunan Atletik Dunia kejuaraan atletik
dan berbagai daerah bertemu. Javelin kompetisi adalah bagian dari
National Collegiate Athletic Association (NCAA) tahunan kejuaraan
trek dan lapangan. Ini juga merupakan salah satu peristiwa yang
meliputi baik dasalomba dan heptathlon.
Beruang lembing sejumlah kesamaan teknis ke lapangan
olahraga

tradisional

lainnya

yang

mengharuskan

atlet

untuk

melempar peluru sejauh mungkin. Yang menembak, melempar palu,


dan cakram semua memerlukan atlet untuk mempertimbangkan
berbagai faktor fisik, termasuk efek angin, sudut di mana objek
dilepaskan, ketinggian di mana objek dilepaskan, dan kecepatan
objek pada rilis. Ini adalah pertimbangan aerodinamis spesifik
lembing itu sendiri yang memisahkan olahraga ini dari peristiwa
melempar lain.
Proyektil yang digunakan dalam lembing terdiri dari tiga bagian
yang berbeda-kepala, dibangun dari logam ringan; batang, yang
terbuat dari serat karbon atau komposit lain bahan sintetis dan
cengkeraman, porsi lembing di mana objek dipegang oleh pelempar
sebelum pengiriman.
Berbeda dengan gerak kaki dan tubuh resultan posisi yang
dicari oleh seorang atlet untuk menghasilkan peluru yang sukses
melempar atau rilis cakram, lembing aturan melarang spin atau
memutar dari tubuh pelempar sebelum pelepasan lembing (bagian
belakang pesaing mungkin tidak menghadapi garis melemparkan
setiap saat sebelum pelepasan lembing).

B. Sejarah Terciptanya Lempar Lembing


Sejarah lempar lembing berawal jauh di zaman kuno dan sangat
erat hubungannya dengan beraneka ragam teknik melempar. Zaman
dahulu lemparan dilakukan dengan berbagai cara, seperti berdiri,
dengan ancang - ancang, dengan satu atau dua tangan untuk
mengenai suatu sasaran. Dari lembing ringan untuk berburu pada
zaman primitif, tombak berat untuk berperang di seluruh dunia dan

lembing dari abad pertengahan selama berabad - abad hingga


terbentuklah lembing untuk perlombaan seperti sekarang ini.

Lembing lama terbuat dari kayu dengan ujung dari besi dan
sosok. Kemudian diganti dengan kayu ringan dari Swedia. Setelah
itu, berubah lagi menjadi lembing modern yang terbuat dari logam
dan serat kaca (fiberglass). Salah satu nomor atletik adalah lempar
lembing. Sama halnya dengan nomor atletik lainnya, seperti lari,
nomor lempar lembing juga memiliki teknik - teknik sendiri dalam
melakukan suatu lemparan sehingga menghasilkan lemparan yang
baik.

Lempar lembing diikutsertakan dalam pesta olimpiade sejak


tahun 1908 sebagai nomor perorangan untuk putra dan putri.
Sekarang nomor ini dimasukkan dalam dasar lomba dan sapta lomba.
Dua perkembangan telah mempengaruhi pelaksanaan lempar lembing.
Pertama adalah usaha untuk menggunakan putaran jenis cakram
untuk melempar. Walaupun metode ini menghasilkan jarak yang baik,
tetapi sering kali tidak diperbolehkan. Kedua adalah adanya
peraturan yang melarang atlet membelakangi arah lemparan. Dengan
demikian peraturan ini telah memantapkan jenis lempar lembing
tradisional.

C. Teknik Dasar Lempar Lembing


Teknik dasar lempar lembing hanya dibagi menjadi 4 hal saja,
jadi tidak ada alasan seorang siswa yang sedang mempelajari lempar
lembing tidak bisa melakukannya dengan baik. 4 Teknik dasar
lempar lembing adalah :
Cara memegang lembing dalam olahraga lempar lembing bisa
dipelajari dan dipraktekkan dengan sangat mudah. Untuk bisa
melakukannya, ada 3 cara dalam memegang lembing, yaitu :
1. Cara Amerika (Pemain memegang lembing di antara jari telunjuk
dan jempol yang berada tepat di belakang tali lilitan pada
pegangan lembing.
2. Cara Finlandia (Pemain memegang lembing antara jari tengah dan
jempol yang berada tepat pada belakang lilitan tali pegangan
lembing. Sementara itu, letak jari telunjuk lurus ke arah
belakang di bawah lembing.

3. Cara Pegangan Tang. Pemain memegang lembing dengan telunjuk


dan jari tengah menjepit lembing tepat di belakang pegangan
(lilitan)
Memegang lembing gaya Amerika, Finlandia, ataupun gaya
pegangan tang bisa dilihat pada gambar di bawah ini :
Cara Memegang Lembing

Cara Membawa Lembing


Cara membawa lembing juga dibagi menjadi tiga cara yang sangat
mudah dipraktekkan, 3 cara membawa lembing adalah :
1.

Tangan harus lurus ke belakang dan serong ke bawah,


pembawa

lembing

memegang

lembing

segaris

dan

menempel pada lengan, sedangkan ujung lembing di

samping dada mengarah ke depan atas selurus dengan


lengan.
2.

Tangan harus ditekuk 90, pembawa lembing memegang


lembing setinggi telinga atau tepat di atas bahu. Posisi
lembing dapat horizontal, serong ke atas atau bawah.

3.

Tangan mengangkat lembing lebih tinggi dari kepala.

Cara membawa lembing di atas bisa dipahami dengan melihat


gambar di bawah ini

Cara Melempar Lembing


Atlet berlari dengan membawa lembing di atas kepala
dengan lengan ditekuk, siku menghadap ke depan dan telapak
tangan menghadap ke atas. Posisi lembing berada sejajar di atas
garis paralel dengan tanah. Panjang awalan rata-rata 30 m. Awalan
pendahuluan biasanya dimulai ketika atlet tiba di tempat yang
telah diberi tanda sebelumnya (check mark).
Pada prakteknya, cara melempar lembing memiliki dua gaya,
yaitu lempar lembing gaya Finlandia dan lempar lembing gaya
jingkat (Hop step), meskipun ada juga gaya American Hop, namun
ke dua gaya tersebut jika bisa dipraktekkan dengan baik akan
menghasilkan lemparan yang jauh.

Lempar Lembing Gaya Finlandia (Cross Step)


Cross Step adalah langkah sebelum melempar lembing,
teknik ini lebih dikenal dengan cara lempar lembing gaya Finlandia.
Cara ini bisa dilakukan dengan :
1.

Dengan permulaan berlari, lembing dibawa setinggi kepala


dengan lengan bengkok, siku menghadap ke depan dan telapak
tangan menghadap ke atas.

2.

Lembing
lebih

sejajar

30

dengan tanah,

termasuk

langkah

lintasan

awalan kurang

silang, langkah akhir

dimulai sejak pelempar sampai pada tanda (check mark) yang


dipasang sebelumnya.
3.

Kaki

kanan

melompat

kuat

dibantu

dengan

kaki

kiri

mengangkat panggul ke depan atas disertai dengan panggul


dan badan diputar ke kiri. Lengan kiri dari posisi terangkat di

muka dada lalu digerakkan ke samping kiri. Kepala menghadap


ke arah lemparan agak menengadah, pandangan agak ke atas.
4.

Didahului siku kanan, lembing dilemparkan sekuatkuatnya


dengan sudut lemparan kurang lebih 40 Derajat disertai
dengan badan yang dicondongkan ke depan mengikuti ayunan
lengan melempar lembing, lepasnya lembing kira-kira di atas
depan dari bahu kanan.

5.

Lepasnya lembing diikuti dengan kaki kanan melangkah di


muka. Gerakan ini merupakan langkah yang kelima gaya
Finlandia. Bersamaan dengan mendaratnya kaki kanan, kaki
kiri ditegakkan ke belakang dan
memberikan

tetap

terangkat

untuk

keseimbangan pada kaki kanan yang harus

berjingkat-jingkat dalam usahanya mengerem lajunya awalan.


6.

Keluar dari lintasan setelah lembing yang dilempar jatuh. Dari


posisi berdiri ia meninggalkan lintasan. Lemparan dianggap
tidak sah kalau setelah melempar dan lembing belum jatuh ke
tanah, ia telah meninggalkan lintasan.
Untuk lebih jelas mengenai gaya silang ini, lihat gambar

lempar lembing gaya Finlandia di bawah ini :

1) Awalan
Awalan berlari sambil membawa lembing di atas kepala
dengan lengan ditekuk, sikut menghadap ke depan dan telapak
tangan menghadap atas. Posisi lembing berada sejajar di atas
garis paralel dengan tanah. Bagian terakhir awalan terdiri
atas langkah silang (cross step). Pada bagian akhir dapat
dilakukan langkah dengan beberapa cara berikut.
1. Dengan jingkat (hop step)
2. Dengan langkah silang di depan (cross step)
3. Dengan langkah silang di belakang (rear cross step)

Proses peralihan (cross step) dilakukan saat kaki


diturunkan. Kedua bahu diputar perlahan ke arah kanan
(bukan kidal), lengan kanan mulai bergerak dan diluruskan ke
arah belakang dengan tubuh bagian atas condong ke belakang.
Pandangan selalu melihat lurus ke depan

2) Lemparan

Pada gerak melemparkan lembing, tarik bahu kanan dan


lengan melakukan gerakan melempar melalui poros bahu
dengan kuat ke depan-atas. Badan bergerak melewati kaki
depan, lalu melepaskan lembing.

3) Akhiran

Gerak akhir lemparan dilakukan dengan melangkahkan


kaki ke depan untuk menyeimbangkan gerak agar tidak
terjatuh dan tidak melebihi garis batas lemparan.

C.

Bentuk Latihan Lempar Lembing


Berikut ini adalah bentuk-bentuk latihan yang dapat digunakan
untuk melatih lempar lembing. Mintalah pengawasan dari guru Anda
saat berlatih.
a. Melempar dari berdiri menghadap ke depan
1. Pelempar berdiri menghadap ke depan dengan kaki terpisah
selebar bahu.
2. Lembing ditarik dan dipegang di atas kepala, menunjuk ke
tanah dengan sudut runcing.
3. Lembing dilemparkan untuk menancap di tanah 34 meter ke
depan.

b. Melempar berdiri menghadap ke samping


1. Pelempar berdiri dengan kaki 6090 cm terpisah dengan kaki
menunjuk lurus ke depan.
2. Berat badan ada di belakang, pada kaki kanan.
3. Kepala menghadap ke depan, sedangkan pinggang dan bahu
menghadap ke samping.
4. Lembing ditarik di mana mata lembing dekat dengan mata
pelempar sebelah kanan.
5. Telapak tangan kanan menghadap ke atas dan di atas garis
bahu.
6. Memulai gerakan dengan mengangkat sedikit kaki dari tanah,
dan berat badan ada pada kaki kanan yang dibengkokkan
sedikit.

7. Dorong kaki kanan dengan kuat, berporos pada telapak kaki


dan meletakkan kaki kiri di tanah dengan tumit lebih dulu.
8. Pinggang akan memutar ke depan membentuk punggung
melengkung, dengan bahu, lengan, dan tangan mengikuti.
9. Selama melakukan seluruh gerakan melempar, siku harus
dipertahankan selalu dekat dengan lembing.
D. Peraturan Perlombaan Lempar Lembing
Berikut ini beberapa peraturan yang diberlakukan dalam
perlombaan lempar lembing.
a. Lembing

Lembing terbuat dari bambu dengan bagian ujung runcing


yang terbuat dari logam. Lembing terdiri atas tiga bagian, yaitu
mata lembing, badan lembing, dan pegangan lembing. Ukuran
lembing yang digunakan untuk putra memiliki panjang 2,62,7
meter dan beratnya 800 gram. Sementara itu, lembing yang
digunakan oleh putri memiliki panjang 2,22,3 meter

b. Lapangan Lempar Lembing

Berikut ini penjelasan tentang lapangan lempar lembing.


1. Lintasan awal dibatasi oleh garis 5 cm dan terpisah 4 meter.
Panjang lintasan minimal 30 m dan maksimal 36,5m.
2. Lengkung lemparan dibuat dari kayu atau logam dan dicat
putih selebar 7 cm. Lengkungan ini datar dengan tanah dan
merupakan busur dari lingkaran yang berjari-jari 8 meter.
Garis 1,5 meter terletak melilit titik pusat gravitasi lembing.
3. Sudut lemparan dibentuk dari dua garis yang dibuat dari titik
pusat lengkung-lemparan dengan sudut 29 derajat memotong
kedua ujung lengkung lemparan, dengan tebal garis sektor 5
cm.
c.

Aturan Melempar

Setiap atlet berhak melempar sebanyak 3 kali. Lemparan


dilakukan

dengan

menggunakan

satu

tangan.

Atlet

akan

didiskualifikasi karena hal-hal berikut.


1. Lembing tidak dipegang pada pembalutnya.
2. Setelah dipanggil 2 menit belum melempar.
3. Menyentuh besi batas lemparan sebelah atas.
4. Setelah melempar keluar lewat garis sektor lempar.
5. Lembing jatuh di luar garis sektor lempar.
6. Ujung lembing tidak membekas pada tanah.

Beberapa catatan penting :


1. Pada saat melempar lembing, sejak dari gerakkan pertama
sampai akhir harus dilakukan dengan lancar dan countineu (tidak
terputus).
2. Saat membawa/mengangkat lembing kedepan harus melalui
bidang atau bahu. Jadi jangan terlalu keluar samping kanan atau
turun lebih rendah dari bahu.
3. Lembing tidak semata-mata didorong dari belakang , tetapi
harus juga diangkat tinggi lewat diatas bidang bahu.
4. Agar diusahakan pada saat mengangkat/membawa lembing dari
belakang, batang lembing tidak terlampau jauh dari lengan
bawah. Pada awalan lemparan, sikap siku kanan harus ditekuk.
5. Pergelangan tangan harus berfungsi untuk melecut pada akhir
lemparan
6. Saat melepas lembing, kedua kaki tidak boleh didalam keadaan
melayang.
7. Jadi gerakkan melempar itu mulai dari ujung kaki kanan-kaki
kanan merambat kepinggul-otot perut-dada terus kebahu-lengan
atas-lengan bawah-pergelanngan tangan dan terakhir pada ujung
jari tangan