Anda di halaman 1dari 18

Pengertian Analisis Break Even dan Asumsi Break Even (BE)

Oleh Hendra Poerwanto

Dalam dunia bisnis, Informasi merupakan alat yang penting bagi


manajemen untuk membantu menggerakkan dan mengembangkan kegiatan
perusahaan. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan suatu perusahaan
tergantung pada sistem informasi akuintansi manajemen (Mulyadi, 1993).
Dengan menggunakan informasi akuntansi manajemen maka, akan membantu
manajemen dalam pengambilan keputusan secara efektif, mengurangi ketidak
pastian dan mengurangi resiko dalam memilih alternatif. Dengan menggunakan
informasi manajemen ini, bisa dilakukan pengendalian manajemen. Hal ini
disebabkan informasi akuntansi manajemen menekankan hubungan antara
informasi keuangan dengan manajer yang bertanggung jawab terhadap
perencanaan dan pelaksanaannya.

Break even point yang biasa disingkat BEP, yang di Indonesia dikenal
dengan Titik Impas adalah salah satu bentuk dari sekian banyak informasi
akuntansi manajemen yang dipakai menganalisa hubungan anatara:
Revenue/Sales, Cost, Volume & Profit. Analisa break even point sangat penting
bagi pimpinan perusahaan untuk mengetahui pada tingkat produksi berapa
jumlah penjualan atau dengan kata lain dengan mengetahui break even point
kita akan mengetahui hubungan antara penjualan, produksi, harga jual, biaya,
rugi atau laba, sehingga memudahkan bagi pemimpin untuk mengambil
kebijaksanaan

Teknik analisis titik impas sudah umum bagi segenap pelaku bisnis. Hal ini
sangat berguna di dalam pengaturan bisnis dalam cakupan yang luas, termasuk
organisasi yang kecil dan besar. Ada 2 (dua) alasan mengapa para pelaku bisnis
menerima alasan ini :

Analisis ini berdasarkan pada asumsi yang lugas.


Perusahaan-perusahaan telah menemukan bahwa informasi yang didapat dari
metode titik impas ini sangat menguntungkan di dalam pengambilan keputusan.

Break Even Point adalah suatu keadaan dimana perusahaan dalam


operasinya tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita kerugian atau
dengan kata lain total biaya sama dengan total penjualan sehingga tidak ada

laba dan tidak ada rugi. Hal ini bisa terjadi apabila perusahaan di dalam
operasinya menggunakan biaya tetap dan biaya variabel, dan volume
penjualannya hanya cukup menutupi biaya tetap dan biaya variabel. Apabila
penjualan hanya cukup menutupi biaya variabel dan sebagian biaya tetap, maka
perusahaan menderita kerugian. Sebaliknya, perusahaan akan memperoleh
keuntungan, apabila penjualan melebihi biaya variabel dan biaya tetap yang
harus dikeluarkan.

Salah satu tujuan perusahaan adalah mencapai laba atau keuntungan


sesuai dengan pertumbuhan perusahaan. Untuk mencapai laba yang semaksimal
mungkin dapat dilakukan dengan tiga langkah sebagai berikut, yaitu :

Menekan biaya produksi maupun biaya operasional serendah-rendahnya


dengan mempertahankan tingkat harga, kualitas dan kunatitas.
Menentukan harga dengan sedemikian rupa sesuai dengan laba yang
dikehendaki.
Meningkatkan volume kegitan semaksimal mungkin.

Dari ketiga langkah-langkah tersebut diatas tidak dapat dilakukan secara


terpisah-pisah karena tiga faktor tersebut mempunyai hubungan yang erat dan
saling berkaitan. Pengaruh salah satu faktor akan membawa akibat terhadap
seluruh kegiatan operasi. Oleh karena itu struktur laba dari sebuah perusahaan
sering dilukiskan dalam break even point, sehingga mudah untuk memahami
hubungan antara biaya, volume kegiatan dan laba.

Menurut S. Munawir (2002) Titik break even point atau titik pulang pokok
dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana dalam operasinya perusahaan
tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (total penghasilan = Total
biaya). Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost
Volume Profit Analysis.

Arti penting analisis break even point bagi menejer perusahaan dalam
pengambilan keputusan keuangan adalah sebagai berikut, yaitu :

Guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan


tidak mengalami kerugian.

Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba


tertentu.
Penetapan seberapa jauhkan menurunnya penjualan bisa ditolerir agar
perusahaan tidak menderita rugi.

Menurut Purba (2002) Titik impas (break even) berlandaskan pada


pernyataan sedarhana, berapa besarnya unit produksi yang harus dijual untuk
menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut.

Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even point adalah suatu keadaan
impas yaitu apabila telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode
tertentu, perusahaan tersebut tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak
menderita kerugian.

Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana
perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh
biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi oleh
penghasilan penjualan. Total biaya (biaya tetap dan biaya variabel) sama dengan
total penjualan sehingga tidak ada laba tidak ada rugi.

Menurut Garrison dan Noreen (2004) Break even point adalah tingkat
penjualan yang diperlukan untuk menutupi semua biaya operasional, dimana
break even tersebut laba sebelum bunga dan pajak sama dengan nol (0).
Langkah pertama untuk menentukan break even adalah membagi harga pokok
penjualan (HPP) dan biaya operasi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya
Tetap merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi dari jumlah penjualan dan
biasanya ditetapkan berdasarkan kontrak, misalnya sewa gudang. Sedangkan
biaya variabel tergantung langsung dengan penjualan, bukan fungsi dari waktu,
misalnya biaya angkut barang.

Apabila perusahaan mempunyai biaya variabel saja, maka tidak akan


muncul masalah break even point dalam perusahaan tersebut. Masalah break
even point baru akan muncul apabila suatu perusahaan disamping mempunyai
biaya variabel juga mempunyai biaya tetap. Besarnya biaya variabel secara
totalitas akan berubah-ubah sesuai dengan volume produksi perusahaan,
sedangkan besarnya biaya tetap sacara totalitas tidak mengalami perubahan
meskipun ada perubahan volume produksi.

Karena adanya unsur biaya variabel disuatu sisi dan unsur biaya tetap disisi
lain maka suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu menderita
kerugian karena penjualan hanya menutupi biaya tetap. Ini berarti bahwa bagian
dari hasil penghasilan penjualan yang tersedia hanya cukup untuk menutupi
biaya tetap tetapi tidak cukup menutupi biaya variabelnya.

Volume penjualan dimana penghasilan total sama besarnya dengan biaya


totalnya, sehingga perusahaan tidak mencapai laba atau keuntungan dan tidak
menderita kerugian disebut Break Even Point.

Asumsi dari Analisa Break Even


Analisis Break Even Point berguna apabila beberapa asumsi dasar dipenuhi.
Asumsi-asumsi tersebut adalah :

Bahwa biaya pada berbagai tingkat kegiatan dapat diperkirakan jumlahnya


secara tepat. Dengan demikian perubahan tingkat produksi dapat dijabarkan
menjadi perubahan tingkat biaya.
Biaya yang dapat diperkirakan itu dapat dipisahkan mana yang bersifat
fariabel dan mana yang merupakan beban tetap (fixed cost). Analisa Break even
hanya dapat dihitung bilamana sebagian biaya merupakan bebean tetap.
Tingkat penjualan sama dengan tingkat produksi, artinya apa yang diproduksi
dianggap terjual habis. Dengan demikian tingkat persediaan barang jadi tidak
mengalami perubahan, atau perusahaan sma sekali tidak menyediakan stoc
barang jadi.
Harga jual produk perusahaan pada berbagai tingkat penjualan tidak
mengalami perubahan. Ini berarti pasarnya demikian sempurna atau bahwa
share pasaran perusahaan sedemikian kecilnyasehingga tidak akan mampu
merubah harga pasar yang terjadi.
Efesiensi perusahaan pada berbagai tingkat kegiatan juga tidak berubah,
sehingga biaya variable setiap unit produk sama untuk berbagai volume
produksi.
Tidak terdapat perubahan pada berbagai kebijakan pimpinan yang secara
langsung berpengaruh terhadap beban tetap keseluruhan. Dengan demikian
biaya tetap keseluruhan juga tidak berubah.
Perusahaan dianggap seakan-akan hanya menjual satu macam produk akhir.
Bilamana dalam kenyataannya produk yang dibuat lebih dari satu macam, maka
sales mix dipertahankan tetap sama.

Di dalam kenyataan yang sebenarnya lebih banyak asumsi yang tidak dapat
dipenuhi. Namun demikian perubahan asumsi ini tidak mengurangi validitas dan
kegunaan analisa BEP sebagai suatu alat bantu pengambilan keputusan. Hanya
saja diperlukan suatu modifikasi tertentu dalam penggunaannya.
ANALISA BREAK EVEN POINT A. Pengertian Analisi Break Even Analisa break even
adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap,
biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Adapun pengertian

pengertian Break Even Point menurut para ahli: 1. Menurut S. Munawir ( 2002)
Titik break even point atau titik pulang pokok dapat diartikan sebagai suatu
keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak
menderita rugi ( total penghasilan = total biaya) 2. Menurut Abdullah (2004)
Analisis Break even point disebut juga Cost volume profit analysis Arti penting
analisis break even point bagi manajer perusahaan dalam pengambilan
keputusan keuangan adalah sebagai berikut: a) Guna menetapkan jumlah
minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak mengalami kerugian b)
Penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba
tertentu c) Penetapan seberapa jauhkah menurunnya penjualan bisa ditolerir
agar perusahaan tidak menderita rugi 3. Menurut Purba (2002) Titik impas (break
even point) berlandaskan pada pernyataan sederhana, berapa besarnya unit
produksi yang harus dijual untuk menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
mengahsilkan produk tersebut. 4. Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even
point adalah suatu keadaan impas yaitu apabila

telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan
tersebut tidak mendapat keuntungan dan sebaliknya tidak menderita kerugiaan.
5. Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana
perusahaan tidak mengalami laba dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh
biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi oleh
penghasilan penjualan. Total biaya (biaya tetap dan biaya variabel) sama
dengan biaya total penjualan sehingga tidak ada laba atau rugi 6. Menurut
Garrison dan Noreen 92004) break even point adalah tingkat penjualan yang
diperlukan untuk menutupi semua biaya operasional, dimana break even
tersebut laba sebelum bunga dan pajak sama dengan nol (0). Langkah pertama
untuk menentukan break even adalah membagi harga pokok penjualan (HPP)
dan biaya operasi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap
merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi dari jumlah penjualan dan biasanya
ditetapkan berdasrkan kontrak, misalnya sewa gudang. Sedangkan biaya
variabel tergantung langsung dengan penjualan bukan fungsi dari waktu,
misalnya biaya angkut barang. B. Gambar Break Even (Break Even Chart) Dalam
gambar break even point dapat ditentukan, yaitu pada titik dimana terjadi
persilangan antara garis peenghasilan penjualan dengan garis biaya total.
Apabila dari titik tersebut kita garis lurus vertikal ke bawah sampai sumbu X
akan nampak besarnya break even dalam unit. Kalau dari titik itu ditarik lurus

horizontal ke samping sampai sumbu Y, akan nampak bsarnya break even dalam
rupiah. Dalam menggambarkan garis biaya tetap dalam gambar break even itu
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggambarkan garis biaya
tetap secara horizontal sejajar dengan sumbu X, atau dengan menggambarkan
garis biaya tetap sejajar dengan garis biaya variabel. Pada cara
yang kedua, besarnya contribution margin akan nampak pada gambar break
even tersebut.
Untuk jelasnya dapatlah diberikan contoh di bawah ini. Contoh: Suatu
perusahaan bekerja dengan biaya tetap sebesar Rp 300.000;. biaya variabel per
unit Rp 40;. Harga jual per unit Rp 100;. Kapasitas produksi maksimal 10.000
unit. Dengan dua cara dalam menggambarkan garis biaya tetap, atas dasar data
tersebut, kita dapat membuat dua gambar break even seperti nampak dibawah
ini: Garis biaya tetap digambarkan secara horizontal sejajar dengan sumbu X
Garis biaya tetap digambarkan dengan garis biaya variabel Dari gambar kedua
tersebut di atas nampak bahwa break even point tercapai pada volume
penjualan sebesar Rp 500.000; atau dinyatakan dalam unit sebanyak 5.000 unit.
Pada gambar
22.1.b adalah lebih baik karena pada gambar tersebut nampak konsep
contribution margin.
Dalam gambar tersebut break even point tercapai pada volume kegiatan di
mana contribution margin (yaitu penghasilan penjualan minus biaya variabel)
tepat sama besarnya dengan biaya tetap, yaitu pada volume penjualan Rp
500.000; atau dalam unit sebanyak 5.000 unit C. Perhitungan Break Even Point
Perhitungan break even point yang lebih tepat
dapat dilakukan dengan cara trial and error
(serba coba-coba) atau dengan menggunakan rumus-rumus aljabar

1. Perhitungan Break Even Point dengan Cara Trial and Error


Perhitungan break even point dapat dilakukan dengan cara coba-coba, yaitu
dengan menghitungkeuntungan operasi dari suatu volume produksi/penjualan
tertentu. Apabila perhitungan tersebut menghasilkan keuntungan maka
diambilvolume penjualan/produksi yang lebih rendah. Apabila dengan
mengambil suatu volume penjualan tertentu, perusahaan menderita kerugian
maka kita mengambil volume penjualan/produksi yang lebih besar. Demikan
dilakukan seterusnya hingga dicapai volume penjualan/produksi di mana
penghasilan penjualan tepat sama dengan besarnya biaya total. Misalkan dari
contoh 1 diambil volume produksi 6.000 unit. Dengan volume produksi 6.000
unit maka dapat dihitung keuntungan operasi sebagai berikut: =(6.000 x Rp 100)

Rp 300.000 + (6.000 x Rp 40) = Rp 600.000


(300.000 + Rp 240.000) = Rp 60.000 Pada volume produksi 6.000 unit
perusahaan masih mendapatkan keuntungan. Ini berarti bahwa break even
pointnya terletak di bawah 6.000 unit. Misalkan diambil 4.000 unit, dan hasil
perhitungannya adalah sebagai berikut =(4.000 x Rp 100)

Rp 300.000 + (4.000 x Rp 40) = Rp 400.000

(300.000 + Rp 160.000) = Rp 60.000 Pada volume produksi 4.000 unit ternyata


diderita kerugian sebesar Rp 60.000. Ini berarti bahwa break even pointnya
lebih besar dari 4.000 unit. Misalkan diambil 5.000 unit, dan hasil
perhitungannya adalah sebagai berikut =(5.000 x Rp 100)

Rp 300.000 + (5.000 x Rp 40) = Rp 500.000

(300.000 + Rp 200.000) = Rp 0 Ternyata pada volume produksi/penjualan 5.000


unit tercapai break even pointyaitu yang dimanakeuntungan netonya sama
dengan nol. 2. Perhitungan Break Even Point dengan Menggunakan Rumus
Aljabar Perhitungan break even point dengan menggunakan rumus aljabar dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu a) Atas dasar unit Perhitungan break even
point atas dasar unit dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Dimana P =
harga jual per unit V = biaya variabel per unit FC = biaya tetap Q = jumlah
unit /kuantitas produk yang dihasilkan dan dijual b) Atas dasar sales dalam
rupiah Perhitungan break even point atas dasar sales dalam rupiah dapat
dilakukan dengan menggunakan rumus aljabar sebagai berikut ..................

Break Even Point adalah kondisi dimana perusahaan tidak mengalami untung
dan tidak mengalami kerugian. Jadi dapat dikatakan bahwa perusahaan yang
mencapai titik break event point ialah prusahaan yang telah memiliki kesetaraan
antara modal yang dikeluarkan untuk proses produksi dengan pendapatan
produk yang dihasilkan.

B. Analisa BEP (Break Even Point)


Analisa BEP adalah alat yang digunakan untuk menentukan besaran harga dan
anggaran yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan untuk mencapai BEP. Dalam
melakukan analisa BEP, perusahaan akan meperoleh volume produksi,
penjualan, dan keuntungan yang akan diperoleh, serta waktu yang diperlukan
untuk mencapai BEP.

Note : semakin banyak barang yang diproduksi, semakin rendah nilai harga jual,
dan semakin lama proses mencapai BEP, namun semakin mudah untuk mengikat
konsumen. Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit barang yang diproduksi,
semakin tinggi nilai jual barang, dan semakin cepat untuk mencapai BEP.

Rumus analisa BEP :


BEP = Total Fixed Cost / (Harga perunit - Variabel Cost Perunit)

Contoh perhitungan :
Seseorang dengan modal Rp 10.000.000 ingin melakukan bisnis usaha makanan
martabak telor dengan harga jual per unitnya ialah Rp 15.000. Besar biaya
produksi martabak telor tersebut ialah Rp 10.000. Berapa buah kah martabak
telor yang harus diproduksi dengan harga Rp. 15.000 untuk mencapai titik BEP?
Jawab :

BEP = 10.000.000 / ( 15.000 - 10.000 )

BEP = 10.000.000 / 5.000

BEP = 2.000 buah

Jadi, untuk mencapai titik BEP, martabak yang harus diproduksi


ialah sebanyak 2.000 buah.

Asumsi - asumsi dalam mengadakan BEP :

Harga jual produk harus tetap


Tidak menggunakan lebih dari satu jenis produk, apabila menggunakan lebih
dari satu jenis produk maka menggunakan perhitungan analisa BEP tersendiri
Produksi haruslah konstan
Semua biaya besaran produksi dapat diukur secara realistik

C. Kegunaan Break Even Point


BEP sangat berguna bagi perusahaan untuk menentukan besaran jumlah
produksi yang akan dihasilkan dan nilai harga jual barang tersebut. Dengan
menerapkan analisa BEP, perusahaan dapat melihat laba, kerugian, harga jual,
produksi, keuntungan, dan lain sebagainya yang telah dapat diprediksi
sebelumnya, sehingga mempermudah bagi pemimpin perusahaan untuk
menentukan kebijaksanaan.

D. Kelemahan Break Even Point


Sekalipun Analisa break even ini banyak digunakan oleh perusahaan, tetapi tidak
dapat dilupakan bahwa analisa ini mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan
utama dari analisa break even point ini antara lain : asumsi tentang linearity,
kliasifikasi cost dan penggunaannya terbatas untuk jangka waktu yang pendek.
(Soehardi,2004).

1 Asumsi tentang linearityPada umumnya baik harga jual per unit maupun
variabel cost per unit, tidaklah berdiri sendiri terlepas dari volume penjualan.
Dengan perkataan lain, tingkat penjualan yang melewati suatu titik tertentu
hanya akan dicapai dengan jalan menurunkan harga jual per unit. Hal ini tentu
saja akan menyebabkan garis renevue tidak akan lurus, melainkan melengkung.
Disamping itu variabel operating cost per unit juga akan bertambah besar
dengan meningkatkan volume penjualan mendekati kapasitas penuh. Hal ini bisa
saja disebabkan karena menurunnya efesiensi tenaga kerja atau bertambah
besarnya upah lembur.

2. Klasifikasi biayaKelemahan kedua dari analisa break even point adalah


kesulitan di dalam mengklasifikasikan biaya karena adanya semi variabel cost
dimana biaya ini tetap sampai dengan tingkat tertentu dan kemudian berubahubah setelah melewati titik tersebut.

3. Jangka waktu penggunaan


Kelemahan lain dari analisa break even point adalah jangka waktu penerapanya
yang terbatas, biasanya hanya digunakan di dalam pembuatan proyeksi operasi
selama setahun. Apabila perusahaan mengeluarkan biaya-biaya untuk
advertensi ataupun biaya lainnya yang cukup besar dimana hasil dari
pengeluaran tersebut (tambahan investasi) tidak akan terlihat dalam waktu yang
dekat sedangkan operating cost sudah meningkat, maka sebagai akibatnya
jumlah pendapatan yang harus dicapai menurut analisa break even point agar
dapat menutup semua biaya-biaya operasi yang bertambah besar juga.

SHARE : BEP

Pada kali ini saya akan me-share tentang rumus BEP, salah satu teknik analisis
laporan keuangan adalah break even point, Sebetulnya masih banyak teknikteknik analisis laporan keuangan lainnya, seperti : Teknik analisis perbandingan
laporan keuangan, analisis trend, analisis common size, dan lain-lain. Dalam
artikel ini penulis memfokuskan untuk membahas teknik break even point untuk
menganalisis target suatu penjualan agar dapat memaksimalkan penjualan dan
meminimalisir resiko.

Ukuran yang sering dipakai menilai sukses tidaknya suatu manajemen


perusahaan adalah tercapainya target penjualan dalan arti laba yang maksimal.
Untuk mencapai penilaian tersebut di pengaruhi oleh tiga faktor, yaitu : biaya
produksi, harga jual, dan volume penjualan. Biaya akan menentukan harga jual,
harga jual akan mempengaruhi volume penjualan, volume penjualan akan
mempengaruhi volume produksi dan volume produksi akan mempengaruhi
biaya.

Tujuan dari suatu perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang


maksimal agar kelangsungan hidup perusahaan terus berjalan dari waktu ke
waktu, manajemen yang baik dan efisien adalah manajemen yang dapat
mengelola dan mengambil keputusan yang berguna bagi kelangsungan hidup
perusahaan guna untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu fungsi manajemen
adalah sebagai alat dalam membantu perencanaan (planning). Salah satu
pendekatan yang digunakan manajemen Hal 2 dalam perencanaan laba
adalah analisis titik impas (break even point).
Pengertian BEP (Break Even Point)

Pengertian BEP

Break even point adalah titik dimana Entity/company/business dalam keadaan


belum memperoleh keuntungan, tetapi juga sudah tidak merugi. Break Even
point atau BEP dapat diartikan suatu analisis untuk menentukan dan mencari
jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu
untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit.

BEP dapat diartikan suatu keadaan di mana dalam operasi perusahaan,


perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (penghasilan
yang dinilai menggunakan total biaya). Tetapi analisa BEP tidak hanya
semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan apakah mencapai titik
BEP, akan tetapi analisa BEP mampu memberikan informasi kepada
pinjaman perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta
hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat
penjualan yang bersangkutan.
Fungsi Analisis BEP

Rumus BEP/analisis break even point (Analisis balik modal) digunakan untuk
menentukan hal-hal seperti:

Jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak


mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi
minimum yang harus dibuat.
Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah
direncanakan atau dapat diartikan bahwa tingkat produksi harus ditetapkan
untuk memperoleh laba tersebut.
Mengukur dan menjaga agar penjualan dan tingkat produksi tidak lebih kecil
dari BEP.
Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan
atau tingkat produksi. Sehingga analisis terhadap BEP merupakan suatu alat
perencanaan penjualan dan sekaligus perencanaan tingkat produksi, agar
perusahaan secara minimal tidak mengalami kerugian. Selanjutnya karena harus
memperoleh keuntungan berarti perusahaan harus berproduksi di atas BEP-nya
(Prawirasentono : 1997).

Rumus BEP (Break Even Point)

Berikut beberapa model rumus BEP yang dapat digunakan dalam analisis Break
Even Point :

1) Pendekatan Matematis

Rumus BEP yang pertama adalah menghitung break even point yang harus
diketahui adalah jumlah total biaya tetap, biaya variabel per unit atau total
variabel, hasil penjualan total atau harga jual per unit. Rumus yang dapat
digunakan adalah sebagai berikut:

1. Break even point dalam unit.

rumus bep

Keterangan :

BEP : Break Even Point

FC : Fixed Cost

VC : Variabel Cost

P : Price per unit

2. Break even point dalam rupiah.

Berikut Contoh Kasus :

Diketahui PT. Gear Second memiliki usaha di bidang alat perkakas martil dengan
data sebagai berikut :

Kapasitas produksi yang mampu dipakai 100.000 unit mesin martil.


Harga jual persatuan diperkirakan Rp. 5000,- unit
Total biaya tetap sebesar Rp. 150.000.000,- dan total biaya variabel sebesar
Rp.250.000.000,-

Perincian masing-masing biaya adalah sebagai berikut :

Fixed Cost

Overhead Pabrik :

Biaya disribusi :

Rp. 60.000.000,-

Rp. 65.000.000,-

Biaya administrasi : Rp. 25.000.000,-

Total FC :

Rp.150.000.000,-

Variable Cost

Biaya bahan

Rp. 70.000.000,-

Biaya tenaga kerja : Rp. 85.000.000,-

Overhead pabrik :

Rp. 20.000.000,-

Biaya distribusi : Rp. 45.000.000,-

Biaya administrasi : Rp. 30.000.000,-

Total VC :

Rp.250.000.000,-

Penyelesaian untuk mendapatkan BEP dalam unit maupun rupiah.

Penyelesaian :

Kapasitas produksi

Harga jual per unit

100.000 unit

Rp. 5000,-

Total Penjualan 100.000 unit x Rp 5000,- = Rp. 500.000.000,-

Rumus bep 3

Untuk mencari BEP dalam unit adalah sebagai berikut :

rumus bep 4

Keterangan : Jadi perusahaan harus menjual 60.000 Unit perkakas martil agar
BEP.

Kemudian, mencari BEP dalam rupiah adalah sebagai berikut :

rumus bep 5

Keterangan : Jadi perusahaan harus mendapatkan omset sebesar Rp.


300.000.000,- agar terjadi BEP.

Untuk membuktikan kedua hasil tersebut dengan :

BEP = Unit BEP x harga jual unit

BEP = 60.000 unit x Rp.5000 = Rp.300.000.000,2) Pendekatan Grafik

Kemudian rumus BEP yang kedua yaitu pendekatan grafik menggambarkan


hubungan antara volume penjualan dengan biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaan serta laba. Selain itu juga untuk mengetahui biaya tetap dan
biaya variabel dan tingkat kerugian perusahaan. Asumsi yang digunakan
dalam analisis peulang pokok ini adalah bahwa harga jual, biaya variabel per
unit adalah konstan.

Dari grafik di bawah terlihat bahwa untuk tiap-tiap masing unit penjualan
terdapat informasi yang lengkap setiap rupiah penjualan, biaya tetap, biaya
variabel, total biaya maupun laba atau rugi. Jadi manajemen dapat melihat jika
akan memproduksi sekian unit, akan terlihat seluruh komponen di atas. BEP
melalui grafik tampak jelas ditunjukkan baik dari segi unit maupun rupiah yang
diperoleh.

Pendekatan grafik dilakukan dengan menggambarkan unsur-unsur biaya dan


penghasilan kedalam sebuah gambar grafik. Dalam gambar tersebut akan
terlihat garis-garis biaya tetap, biaya total yang menggambarkan jumlah biaya
tetap dan biaya variabel, dan garis penghasilan penjualan. Besarnya volume
produksi/penjualan dalam unit digambarkan pada sumbu horizontal (sumbu X)
dan besarnya biaya dan penghasilan penjualan digambarkan pada sumbu
vertikal (sumbu Y).

Untuk menggambarkan garis biaya tetap dalam grafik break even point dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggambarkan garis biaya tetap
secara horizontal sejajar dengan sumbu X, atau dengan menggambarkan garis
biaya tetap sejajar dengan garis biaya variabel. Pada cara yang kedua, besarnya
contribution margin akan tampak pada gambar break even point tersebut.

Penentuan break even point pada grafik, yaitu pada titik dimana terjadi
persilangan antara garis penghasilan penjualan dengan garis biaya total. dan
Apabila titik tersebut kita tarik garis lurus vertikal ke bawah sampai sumbu X
akan tampak besarnya break even point dalam unit. dan Kalau titik itu ditarik
garus lurus horizontal ke samping sampai sumbu Y, akan tampak besarnya break
even point dalam rupiah.

Baca Juga: Cara Berbisnis yang Baik Bagi Seorang Pemimpin


Kesimpulan

Demikian rumus BEP yang dapat saya paparkan, masih banyak yang kurang
karena jikalau di masukkan semua akan memakan banyak tulisan. Sekian dan
semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

Carter, William 2009. Akuntansi Biaya. Edisi 14. Dialihbahasakan oleh Krista.
Jakarta: Salemba Empat
2000. Manajemen Keuangan: Teori, Konsep dan Aplikasi. Penerbit EKONISIA,
Yogyakarta.
Kuswadi 2005, Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
Mulyadi 2001, Akuntansi Manajemen, EdisiKetiga, Salemba Empat, Jakarta.
1986. Analisa Laporan Keuangan, Yogyakarta.
1990. Akuntansi Biaya dan Analisis Laporan Keuangan, Andi Offset.
Hansen 2006, Akuntansi Manajemen, Buku Kesatu, Salemba Empat, Jakarta.
Kuswadi 2005, Akuntansi Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.
Matzh, Adolph 1997, Akuntansi Biaya, Jilid Kedua, PT Erlangga, Jakarta.

BUDIDAYA IKAN KONSUMSI