Anda di halaman 1dari 73

Jam dinding di atas pintu ruang guru menunjukkan

pukul delapan kurang lima menit. Sebentar lagi


jam pelajaran pertama akan dimulai. Sambil
nyengir malu sporty masuk ke kelas 9b, lalu berdiri
di depan teman-temannya. Ia terpaksa bertepuk
tangan untuk menarik perhatian mereka.
Sekitar tiga puluh pasang mata menoleh ke
arahnya. Aha! Sang ketua kelas akan membuat
pengumuman. Oskar duduk sambil menopang
dagu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan sport.
Thomas membetulkan letak kacamatanya. Petra
nampak heran ketika melihat sport berdiri di depan
kelas.
Ehm.. begini, ujar sporty, hari ini tidak ada
pelajaran menggambar, soalnya Hubi sedang
sakitt. Ehm... hmmm.
Pengumuman itu ternyata tidak menimbulkan
gelombang protes seperti yang dibayangkan oleh
sporty, tetapi para murid kelihatannya agak
kecewa. Hubi, alias Pak Hubert Knot, merupakan
guru muda yang sangat disukai oleh anak didiknya.
Sakit? tanya Eugen Glattmann, yang duduk di
baris keenam. Sakit apa? Kemarin aku lihat dia
masih segar bugar.
STEFAN WOLF
STOP PENGKHIANATAN DI LEMBAH
NERAKA
Buku : Nurhastuti Soni
Scanned by Tirta
OCR by Raynold

Tangannya patah, jawab sporty. Hubi


mengalami kecelakaan waktu berlatih judo
semalam. Kalian semua kan sudah tahu bahwa
Hubi seorang pejudo yang tangguh. Kejadian itu
sama sekali tidak disengaja. Aku benar-benar
menyesal.
Dalam keheningan yang menyusul, beberapa anak
mulai menyadari arti kata-kata terakhir yang
diucapkan sporty.

1 HUBI TERTIMPA BENCANA


Mereka pasti akan membantai aku, pikir sporty
dengan kecut. Paling tidak, aku akan dimaki-maki.
Mereka pasti kesal sekali. Tapi, namanya juga
kecelakaan. Hmmm... bagaimana aku akan
menjelaskannya pada mereka? Mudah-mudahan
saja anak-anak mau percaya bahwa aku benarbenar tidak sengaja.

Kemudian petra mewakili yang lain, dan bertanya,


Maksudmu, KAU yang mematahkan tangan dia?
Ya, tapi aku tidak sengaja.
Sporty menatap sudut ruangan, seakan-akan
melihat pemandangan menarik di sana.
Sebentar lagi mereka akan mengamuk, ia berkata
dalam hati. Dan petra akan menganggapku sebagai

tukang pukul yang kasar. Pasti tidak akan ada yang


ingat bahwa dua jam pelajaran terakhir jadi
kosong. Tapi benar juga, sih. Apa jadinya kalau
cara seperti ini sempat jadi mode? Ya, segala
sesuatu ada untung ruginya. Tergantung dari mana
kita melihatnya.
Namun tanggapan teman sekelas sporty ternyata
tidak seperti dugaannya.
Apakah cederanya parah? Eugen Glattmann
kembali bertanya.
Kelihatannya begitu, jawab Sporty. Hubi
sempat dibawa ke rumah sakit semalam. Tangan
kirinya terpaksa digips sampai ke bahu.
Oh, berarti dia masih bisa menyetir, ujar
Thomas. Mobil sport pun bisa dikemudikan
dengan sebelah tangan. Kami semua percaya
bahwa kau tidak sengaja. Aku yakin bahwa kau
tidak bisa disalahkan.
Memang,
Sporty
membenarkan
ucapan
sahabatnya. tapi aku benar-benar terpukul oleh
kejadian itu. Hubi sampai tidak sempat
memperhatikan rasa nyeri pada lengannya. Dia
terlalu sibuk menghiburku.
Petra meniup rambut yang menutupi keningnya.
Ini adalah bukti bahwa olahraga bela diri
merupakan olahraga yang berbahaya, katanya.
Selalu ada yang dicekik, didorong, atau dibanting.
Coba bandingkan dengan tenis meja! Atau dengan
renang gaya punggung!
Kau belum pernah berenang di Sungai Nil, sih!
Oskar berkomentar sambil nyengir. Di sana kau
harus balapan dengan buaya.
Pertama aku hanya berenang di tempat-tempat
yang bebas dari binatang buas, balas petra. Dan
kedua, kaulah yang lebih pantas sebagai santapan
buaya.
Betul, mereka akan bisa berpesta pora selama
seminggu, Eugen Glattmann memancing gelak
tawa seluruh kelas.

Dengan demikian pembicaraan itu diakhiri.


Pak Walzmann, yang mengajar selama jam
pertama, muncul di ambang pintu. Dengan nada
serius ia mengumumkan bahwa pelajaran
menggambar hari ini terpaksa dibatalkan.
Penyebabnya adalah kecelakaan yang dialami Pak
Knot.
Anak-anak
kelas
9b
menanggapi
pengumuman itu dengan senyum simpul. Namun
Pak Walzmann salah paham. Melihat sikap muridmuridnya, ia menyangka bahwa mereka gembira
karena bisa pulang lebih cepat. Dalam hati ia
merasa prihatin terhadap generasi muda, yang
sepertinya hanya mementingkan diri sendiri.
Petra menyadari hal ini. Langsung saja ia melotot
ke arah Sporty.
Betulkan kesalahpahaman ini! Tersirat dalam
pandangan matanya. Buka mulut, dong! Untuk apa
kau dipilih sebagai ketua kelas.
Sporty segera bertindak. Ia menjelaskan bahwa
teman-temannya hanya tersenyum karena mereka
telah mendengar berita mengenai kecelakaan
Hubi.. ehm... maksudnya Pak Knot, dan bahwa ia,
sporty, adalah penyebab kecelakaan itu.
Semalaman ia dihantui oleh perasaan bersalah.
Pak Walzmann menarik napas panjang. Diam-diam
ia merasa lega karena dugaannya ternyata keliru.
Kemudian pelajaran pun dimulai.
Karena Hubi sedang cidera, maka seusai jam
keempat kelas 9b diperbolehkan pulang.
Sementara yang lainnya membubarkan diri, petra
malah memanggil ketiga sahabatnya.
Bagaimana sekarang? Kelihatannya kalian sudah
tidak sabar untuk berakhir pekan. Padahal Hubi
terpaksa duduk di rumahnya dengan tangan dibalut
gips. Menurut aku ini tidak benar. Hubi termasuk
guru yang paling disukai di sekolah ini. Dan dia
pun tahu bahwa dia merupakan guru favorit kita.
Bisa-bisa dia frustrasi kalau tak seorang murid pun
mengurusnya.
Mengurusnya? tanya Oskar sambil mengerutkan
kening. Seperti seorang perawat? Membantunya

sikat gigi, dan menggaruk sisi punggung sebelah


kiri, yang tak terjangkau oleh tangan kanan? Tapi
kalau...
Jangan ngawur! petra menjawab dengan ketus.
Hubi bukan bayi yang tak berdaya. Meskipun
demikian tak ada salahnya kalau kita mengunjungi
dia. Jelas?
Ketiga sahabatnya mengangguk.
Sporty melirik jam tangannya. Mestinya dia
sudah kembali dari rumah sakit, dan gips-nya juga
sudah kering.
Kalau menjenguk orang sakit, kita wajib
membawa sesuatu untuk orang itu, thomas
mengingatkan.
Bunga! ujar oskar dengan wajah berseri-seri.
Petra menggelengkan kepala.
Bunga! Apakah kau senang kalau dibawakan
bunga sewaktu sedang sakit?
Dalam keadaan sakit hanya ada satu yang bisa
menghiburku, yaitu coklat! kata oskar.
Masalahnya, Hubi tidak suka coklat. Dia suka
anggur. Tapi dalam perjalanan ke rumahnya kita
bisa mampir ke supermarket. Kebetulan lagi ada
obral anggur satu botol harganya 1,95 Mark.

Cuaca di awal bulan September masih cerah.


Tetapi panasnya sudah tidak begitu menyengat
seperti pada bulan-bulan sebelumnya. Musim
gugur sudah di ambang pintu. Suhu udara di
malam hari semakin turun, dan daun-daun sudah
mulai berubah warna.
Berbeda dengan para guru bujangan yang tinggal
di asrama. Hubert Knot - guru muda, pejudo, serta
pengemudi Porsche (mobil sport buatan Jerman)
tinggal di kota. Ia tidak ingin meninggalkan
apartemen yang telah ia diami sejak masih kuliah.
Setiap pagi ia datang ke sekolah dengan
mengendarai mobil sportnya yang berwarna perak.
Mobil itu baru dibelinya empat setengah bulan
yang lalu.
Semua guru dan murid di sekolah asrama sudah
tahu bahwa Hubi seorang penggemar mobil.
Seandainya bisa, ia akan memarkir Porsche-nya di
samping tempat tidur. Namun itu tidak mungkin,
sebab Hubi tinggal di lantai teratas sebuah gedung
berlantai enam.
Keempat sahabat STOP sudah pernah berkunjung
ke sana. Ketika itu Hubi mengundang mereka dan
beberapa murid lain untuk minum teh. Guru muda
itu memang akrab sekali dengan anak didiknya.
Anak-anak STOP berhenti di supermarket, dan
thomas membeli sebotol anggur. Harganya
ternyata agak lebih tinggi dari pada yang mereka
bayangkan.

Dasar pelit! Sporty berkomentar. Kalau kita


memang mau membawakan anggur untuk Hubi,
maka sudah sepantasnya kalau kita cari anggur
yang lumayan bagus. Bukannya yang paling
murah. Kita beli saja yang harganya 3,95 Mark.
Anggur yang diusulkan oskar tadi sudah dicampur
dengan air.

Oskar rupanya lupa membawa coklat sebagai


ransum darurat. Ia nyaris panik ketika
menyadarinya. Langsung saja ia menyusul thomas,
dan membeli dua keping makanan kegemarannya.
Baru setelah itu keempat sahabat meneruskan
perjalanan.

Hal itu diketahui Sporty dari sebuah majalah,


karena seumur hidup ia belum pernah minum
alkohol.

Bagaimana kalau Hubi tidak ada di rumah?


tanya thomas. Seharusnya kita telepon dulu
sebelum berangkat tadi.

Petra dan thomas mengangguk. Oskar pun tidak


keberatan. Kemudian mereka berangkat. Mereka
mengambil sepeda masing-masing, lalu melewati
gerbang sekolah dan mulai menyusuri jalan raya
yang menuju ke kota.

Sekarang sudah terlambat. Tapi mereka beruntung.


Ketika sampai di ujung Jalan Sperling, mereka
melihat mobil Hubi di parkir di depan rumahnya.
Itu saja sebenarnya belum berarti apa-apa. Mereka

baru yakin ketika Sporty meraba kap mesin, lalu


mengatakan bahwa mesinnya masih panas.
Dia baru pulang, anak itu menyimpulkan.
Awas, Thomas! Botol anggurnya hampir jatuh.
Jalan Sperling terletak di pinggir kota lama lama,
agak jauh dari kampus universitas. Daerah itu
masih menyimpan sisa-sisa kemegahan masa lalu,
yaitu rumah-rumah kuno yang dibangun sekitar
pergantian abad ini. Jalan Sperling sendiri cukup
lebar dan berkelok-kelok. Sayangnya tidak ada
tempat parkir. Menjelang malam, mobil-mobil para
penghuni mulai berderet-deret di sepanjang trotoar.
Keempat sahabat STOP turun dari sepeda masingmasing, lalu memasang kunci pengaman. Setelah
itu mereka masuk ke gedung apartemen nomor 63.
thomas memegang botol anggur. Dinding di lantai
dasar dilapisi dengan keramik. Di ujung selasar ada
lift. Tetapi papan pengumuman yang tergantung
pada pintunya mengatakan bahwa lift itu sedang
rusak.
Oskar langsung menggerutu dengan kesal, karena
terpaksa naik tangga sampai ke lantai enam. Pada
setiap lantai ia berhenti sambil bersandar pada
pegangan tangga.
Aku... ehm... aku Cuma berusaha untuk mengatasi
rasa gamang, katanya sambil tersengal-sengal.
Aku takut pusing kalau tidak berhenti dulu.
Ah, alasan saja, Sporty menanggapinya sambil
ketawa.

Haaah???
Petra langsung menggenggam lengan Sporty dan
berusaha untuk memuntirnya. Sporty diam saja,
sementara thomas dan oskar hanya tersenyum.
Wah, sekarang tanganku cukup panjang untuk
mengikat tali sepatu tanpa perlu membungkuk,
ujar Sporty. Dengan latihan terarah, Petra, kau
bisa jadi jagoan di arena judo.
Petra benar-benar lelah. Untuk sesaat ia
menyandarkan diri pada Sporty. Kemudian mereka
berdiri di depan pintu apartemen Hubi. Thomas
menekan bel.
Dari balik pintu terdengar bunyi gaduh.
Hubert Knot membuka pintu.
Lho? pikir Sporty. Kenapa tampangnya jadi kusut
begini? Ada apa dengan Hubi?
Hubert Knot nampak lesu. Padahal biasanya ia
selalu berpenampilan gagah. Ia mengenakan kaus
buntung. Lengan kirinya dibalut dengan gips,
mulai dari pergelangan tangan sampai ke bahu.
Wajahnya berkesan ramah. Namun kali ini ia
nampak agak pucat.
Dengan mata terbelalak ia menatap keempat
sahabat yang berdiri di depan pintu. Oh, kalian
rupanya! ia mendesah. Silahkan masuk.
Sporty dan teman-temannya saling bertatapan.
Kemudian mereka melangkah ke dalam.

Akhirnya mereka sampai juga di lantai enam.


Apartemen di sebelah apartemen Hubi didiami
oleh seorang pelukis. Itulah yang terbaca pada
papan nama di samping pintu : Nicole Tepler
Pelukis.
Menurut gosip yang beredar di sekolah, bisik
petra, Hubi jatuh cinta pada dia. Cocok sekali,
bukan? Hubi guru menggambar, tetangganya
pelukis. Mereka diikat oleh minat yang sama.
Aku pun gembira karena kau begitu tertarik pada
olahraga judo, ujar Sporty sambil nyengir.

Apartemen Hubi cukup unik. Langit-langitnya


miring karena mengikuti bentuk atap di luar.
Cahaya masuk melalui dua jendela yang terpasang
pada langit-langit. Jendela lebih kecil bisa dibuka
dari dalam. Sporty langsung memandang ke atas,
dan melihat sebuah pesawat terbang di langit yang
biru.
Perabot yang dimiliki Hubi berasal dari zaman
ketika ia masih duduk di bangku kuliah. Semuanya
agak berantakan, tapi cukup nyaman.

Kami datang untuk melihat bagaimana keadaan


anda, ujar petra. Oh ya, kami juga membawakan
sebotol anggur.

Saya... saya seorang bajingan busuk, Hubi


berbisik. Seorang pembohong. Bah, memalukan!
Saya benar-benar muak terhadap diri saya sendiri.

Wah, kalian baik sekali. Terima kasih! Silakan


duduk. Hem! Kalian pilih anggur yang enak, kata
Hubi sambil meraih botol yang disodorkan thomas.
Saya suka anggur ini.

Keempat sahabat STOP nampak kaget bercampur


heran. Belum pernah mereka menghadapi guru
yang membuat pengakuan seperti itu. Para guru
biasanya bersifat tertutup bila itu menyangkut
masalah pribadi mereka, dan tidak mau
memperlihatkan perasaan terutama di depan
murid-murid. Tapi Hubert Knot rupanya berbeda.

Ucapan itu diikuti oleh desahan panjang.


Kemudian Hubi berusaha memasang senyum.
Tetapi ia buka pemain sandiwara yang baik.
Anak-anak STOP agak terkejut. Apakah rasa nyeri
di lengannya begitu hebat? Jangan-jangan
tangannya harus diamputasi?
Anda nampak seperti mayat hidup, Sporty
berkomentar. Saya benar-benar menyesal atas
kejadian semalam. Saya berharap cedera anda
tidak terlalu parah.

Barangkali dia termasuk generasi guru yang baru,


pikir Sporty, generasi yang menyadari bahwa
mereka pun bisa membuat kesalahan.
Ah, kami tidak sependapat, ujar petra. Anda
bukan bajingan ataupun pembohong. Kami sudah
cukup lama mengenal anda, dan anda bisa
mempercayai penilaian kami. Betul tidak, temanteman?

Cedera? Oh, lengan saya maksudmu? Tidak,


cideranya tidak begitu parah, jawab Hubi sambil
menggeleng. Kata dokter, dalam empat minggu
lagi saya sudah boleh berlatih kembali. Awas saja,
Sporty. Pada kesempatan pertama saya akan
membuat perhitungan denganmu. Ia ketawa.

Gadis itu menatap ketiga sahabatnya. Mereka


mengangguk dengan sungguh-sungguh.

Namun nadanya kurang menyakinkan.

Siapa bilang? balas Hubi, sambil memperhatikan


karpetnya yang sudah perlu dibersihkan. Tapi...
saya tak berhak untuk membebani kalian dengan
masalah-masalah pribadi saya. Persoalan-persoalan
itu harus saya selesaikan sendiri.

Jadi cidera anda tidak berbahaya? Sporty


mencari kepastian.

Oskar begitu bingung, sehingga tanpa sadar sudah


menghabiskan setengah keping coklat untuk
menenangkan diri.

Sama sekai tidak.


Wah, syukurlah! Saya sempat kalang kabut. Tapi
sekarang saya sudah bisa senyum lagi. Lain halnya
dengan anda, Pak Knot. Kelihatannya anda sedang
menunggu seseorang. Anda nampak lega sekali
ketika anda menyadari bahwa kami yang datang.
Apakah ada yang bisa kami bantu?
Hubi menatap Sporty dengan pandangan kosong.
Matanya mulai merah. Hanya dengan susah payah
guru muda itu berhasil menahan air mata.
Kepalanya menunduk dengan lesu. Lengannya
yang sehat menggantung seakan-akan tak
bertenaga.

Ucapan seperti tidak bisa diterima oleh petra.


Rasanya ingin tahunya sudah terusik, dan ia siap
untuk membantu.
Kami akan membantu anda! Petra berseru.
Apapun masalah yang anda hadapi. Anda tahu
bahwa kami bisa menyimpan rahasia. Jadi, ada apa
sebenarnya?
Hubi nampak ragu-ragu. Ia menyadari bahwa
dalam kebingungannya, ia telah bercerita terlalu
banyak. Kini ia tidak bisa mundur lagi.
Kalian harus berjanji untuk tidak menceritakan
urusan ini pada siapa pun juga, katanya. Saya

hanya mengungkapkannya agar kalian jangan


membuat kesalahan yang sama. Membohongi ayah
kalian sendiri adalah tindakan yang nista. Apalagi
karena hubungan saya dengan ayah saya sangat
baik. Ibu saya sudah lama meninggal. Dan ayah
saya benar-benar seorang ayah yang baik.
Anak-anak STOP diam seribu bahasa. Petra nyaris
tak berani bernapas.
Hubi bersandar dan menyilangkan kaki.
Kalian pasti pernah melihat mobil saya, bukan?
ia mengawali ceritanya. Mobil itu saya beli dari
pedagang mobil bekas. Pada waktu itu saya masih
mahasiswa, dan sedang menghadapi ujian akhir.
Terus terang saja, kiriman uang dari ayah saya
lebih dari memadai untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Tapi porsche itu ditawarkan pada saya
dengan harga 20.000 Mark. Kalian perlu tahu
bahwa ayah saya dokter gigi. Dia kaya raya, tetapi
selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang
dianutnya. Dia berpendapat bahwa seorang calon
guru belum pantas memiliki mobil seperti itu.
Antara lain karena penghasilan guru tidak terlalu
tinggi. Tapi dan inilah awal dari semuannya
saya tetap ngotot. Saya tetap ingin membeli mobil
itu.

mendengar seorang pasien mengerang kesakitan di


latar belakang. Rupanya giginya sedang dibor.
Ayah tidak tega untuk meninggalkan pasiennya
lama-lama, sehingga langsung menyetujui rencana
saya. Ia memang selalu mencari cara untuk
menanamkan uang secara menguntungkan.
Singkatnya, ayah mengirimkan uang itu, dan saya
membeli mobil idaman saya. Saya pikir bahwa
penipuan saya tak bakal terbongkar. Sudah tiga
tahun saya tinggal di sini. Dan selama itu ayah
belum sekali pun mengunjungi saya. Kalau perlu,
suatu waktu saya kan membuat lukisan sendiri,
atau kalau ada kesempatan membeli lukisan
lain.
Gawat! ujar Oskar.
Petra, Sporty dan thomas tidak memperhatikannya.
Saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi
selanjutnya, kata Sporty. ada pepatah yang cocok
dengan situasi yang anda hadapi. Sudah jatuh
tertimpa tangga.
Hubi mengangguk. Kemarin tangan saya patah.
Dah hari ini... hari ini ayah saya akan berkunjung
ke sini.
Jam berapa? tanya Sporty.

Aha! ujar Oskar.


Langsung saja ia dipelototi oleh ketiga sahabatnya.
Namun oskar berlagak tidak tahu. Dengan tenang
ia menggigit sepotong coklat.
Pada waktu itu saya membayangkan bahwa saya
pasti akan ditertawakan oleh ayah jika berterus
terang padanya. Karena itu saya menyusun siasat.
Kalian mungkin sudah tahu bahwa saya berasal
dari Jerman bagian utara. Kota kelahiran saya
cukup jauh dari sini. Saya pikir semuanya amanaman saja. Kemudian saya menelepon ayah. Saya
mengatakan padanya bahwa saya memperoleh
kesempatan emas menanamkan uang. Seorang
kenalan saya membutuhkan uang, dan karena itu
terpaksa menjual beberapa lukisan dari koleksinya.
Sebagai mahasiswa seni rupa, saya bisa menilai
bahwa lukisan-lukisan itu memang berharga. Kalau
saja saya punya uang, maka lukisan-lukisan itu
takkan saya lepaskan lagi. Kemudian saya

Hubi menatap jam tangannya yang kini melingkari


pergelangan tangan sebelah kanan.
Satu jam lagi. Dia datang naik pesawat terbang.
Tapi ayah tidak bisa tinggal lama-lama. Dia harus
berangkat lagi ke Bad Wiesentau untuk menghadiri
sebuah kongres. Bukan kongres dokter gigi,
melainkan... ehm, begini, ayah adalah ketua sebuah
perkumpulan hebat. Organisasi itu bernama
Warga Melindungi Hutan dan Lingkungan.
Anggota-anggota perkumpulan itu semuanya orang
terpandang.
Mereka
berusaha
untuk
menyelamatkan dunia dari polusi yang semakin
meningkat. Ya, ayah memang menaruh perhatian
besar pada masalah lingkungan. Dia senang sekali
bahwa dia sekaligus bisa mengunjungi saya di sini.
Baru saja dia menelepon untuk memberitahukan
bahwa dia akan datang. Saya langsung kaget
setengah mati.

Uih, pikir Sporty. Hubi benar-benar terjepit.


Ayahnya pasti ingin melihat lukisan-lukisan yang
dulu dibiayainya.
Pandangannya menyapu seluruh apartemen, dan
akhirnya berhenti pada tiga buah lukisan abstrak
yang tergantung di dinding.
Barang kali penglihatan ayah anda sudah agak
kabur? oskar bertanya pada saat yang sama.
kalau begitu, mungkin saja dia percaya bahwa
ketiga lukisan pada dinding sana berharga 20.000
Mark. Atau dia mengerti seni lukis?
Ucapan oskar hampir saja berhasil memancing
hubi untuk tersenyum.
Penglihatan ayah saya masih baik. Dia memang
bukan ahli seni lukis, tetapi ketiga lukisan itu tak
akan bisa mengelabuinya. Masalahnya, saya telah
menyalahgunakan kepercayaan yang diberikannya.
Sekarang kalian mungkin mengerti kenapa saya
membenci diri saya sendiri. Tak ada alasan yang
bisa membenarkan tindakan saya. Saya benarbenar buta karena terlanjur jatuh cinta pada mobil
itu. Sebuah mobil! Hah! Sebuah mesih! Sebuah
benda tak bernyawa! Tak ada artinya dibandingkan
dengan hubungan antara dua manusia, apalagi
dibandingkan dengan kepercayaan seorang ayah
terhadap anaknya. Ini pertama kalinya saya
membohongi ayah. Saya tidak ingin dia kecewa.
Bukan karena saya seorang pengecut, melainkan
demi kebaikan ayah! Ya Tuhan, saya bersedia
membakar mobil saya sekarang juga, seandainya
ini bisa menyelesaikan masalah.
Mobil anda tidak bersalah, Sporty bergumam.
Bukankah paling baik kalau anda berterus terang
saja pada ayah anda?
Hubert Knot menggeleng. Sekarang... belum
saatnya, ia berbisik. Mungkin nanti, kalau... tapi
apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya
belum menemukan jalan keluar dari persoalan ini.
Pinjam! Sporty berseru. Tiba-tiba saja ide itu
terlintas di kepalanya. Kenapa anda tidak
meminjam tiga, atau empat lukisan? Lukisan yang
memang berharga! Anda pasti punya kenalan di
kalangan kolektor lukisan, bukan? Lagi pula anda

membutuhkan lukisan-lukisan itu hanya selama


dua jam.
Kedua mata hubi nampak bersinar. Namun
kegembiraannya segera meredup kembali.
Idemu bagus, Sporty. Tapi saya tidak punya
kenalan yang bisa meminjamkan lukisan.
Coba anda ingat baik-baik! Anda pasti mengenal
seseorang. Kita masih punya waktu satu jam.
Gurunya menggeleng dengan lesu. Percuma saja.
Rasanya lebih mudah untuk mencuri lukisan dari
museum nasional.
Thomas berdiri dari tempat duduknya. Dengan
sebelah tangan ia mencopot kacamata. Sedangkan
tangan yang satu lagi menunjuk ke arah dinding.
Semua terkejut. Kejadian itu terlalu mendadak.
Petra dan Sporty, yang duduk membelakangi
dinding, segera menoleh. Namun ternyata tidak ada
pa-apa.
Pelukis di sebelah! thomas berseru. Tangga
anda kan seorang pelukis. Barangkali saja dia
menyimpan lukisan di balik dinding ini, Pak Knot.
Lukisan-lukisan yang harganya tidak bisa dinilai
oleh ayah anda. Apakah wanita itu ramah? Jika
anda menjelaskan kesulitan yang anda hadapi, saya
yakin dia pasti mau membantu.
Ide yang cemerlang! Sporty memuji sahabatnya.
Untuk apa harus pergi ke museum nasional, Pak
Knot? Seni bermutu berada begitu dekat dengan
anda, yaitu di apartemen sebelah. Bagaimana kalau
kita berkunjung ke sana?
Wajah hubi menjadi merah, lalu pucat, kemudian
merah lagi, dan akhirnya kembali pucat. Dengan
tangan kanan ia mengusap-usap rambutnya.
Begini... hmmm... secara teoritis ide thomas
memang cemerlang. Tapi terus terang saja, saya
tidak bisa dikatakan berteman akrab dengan nona
Tepler. Dia masih muda. Paling-paling baru 20
tahun. Saya pernah mendekatinya sebagai sesama
pecinta seni lukis. Tapi sepertinya dia tidak

berminat untuk berkenalan dengan saya. Orangnya


cantik sekali. Dia belum bisa mengantungkan
hidupnya pada seni lukis. Karena itu dia bekerja
dari pagi sampai sore. Saya tidak tahu di mana.
Pagi-pagi dia sudah berangkat. Dan baru
menjelang malam dia pulang ke apartemennya.
Sekarang dia sedang pergi. Kalau dia ada, saya
pasti akan minta tolong padanya.
Gagal lagi, ujar Oskar. Kemudian ia mulai
menggigit keping coklat kedua untuk mengobati
kekecewaannya.
Sporti berdiri. Ia mengatakan bahwa ia akan
kembali dalam sekejap, lalu keluar dari apartemen
hubi. Di depan pintu apartemen Nona Tepler ia
berhenti. Kunci pintu diperiksanya dengan
seksama. Namun ternyata pintu itu dilengkapi
dengan kunci khusus yang sukar dibongkar.
Dengan lesu Sporty kembali. Empat pasang mata
menatapnya penuh harap.
Kita tidak bisa masuk lewat pintu depan, ia
melaporkan, lalu menggeser sebuah kursi ke
bawah jendela di langit-langit. Kait besi yang
digunakan untuk mengunci jendela terletak di
bawah lapisan karet penyangga kusen.
Jika dicongkel dari luar, maka...
Apartemen sebelah pasti juga memiliki jendela
seperti ini, ujar Sporty. Itulah jawabannya! Kita
bisa masuk lewat jendela di langit-langit. Tapi
sebelumnya kita harus naik ke atap dulu untuk
mengintip ke apartemen Nona Tepler. Janganjangan dia sudah lama tidak aktif dan tidak
menyimpan lukisan sama sekali.
Kau... kau mau masuk lewat... lewat atap? tanya
petra sambil terheran-heran.
Kenapa tidak? Kalau memang ada lukisan di
sebelah, maka tak ada salahnya kalau kita
meminjam beberapa selama dua jam. Setelah ayah
Hubi... ehm... nanti lukisan-lukisan itu langsung
kita kembalikan ke tempat semula. Nona Tepler
tak akan mengetahui apa-apa.

2 MENGELABUI SEORANG DOKTER GIGI


SUDAH beberapa jam ia duduk di belakang
kemudi. Perjalanannya tidak mempunyai tujuan
tertentu yang penting menjauh dari daerah di
mana polisi sedang mencarinya. Tapi ia tidak
terlalu khawatir. Mereka toh tidak akan
mengerahkan seluruh mobil patroli yang tersedia,
sebab ia tidak membunuh siapa-siapa. Sedangkan
hasil rampokannya hanya berjumlah12.700 Mark.
Jumlah yang takkan mengakibatkan pencarian
besar-besaran. Lagi pula tidak yang tahu bahwa ia
yang merampok bank itu.
Kejahatan telah mendarah daging dalam diri
Ottmar Lohmann, seorang bajingan yang tidak
berkeluarga. Ia telah terlibat dalam tindak kriminal
di hampir semua negara di benua Eropa. Dan
hanya dua kali ia tertangkap: dulu, ketika ia baru
mulai meniti kariernya; kemudian 21 tahun yang
lalu, ketika ia merampok mobil pembawa uang di
Berlin.
Kini ia sudah tua dan terpaksa harus puas dengan
kejahatan kelas teri. Nasibnya mirip dengan nasib
seekor harimau pemakan manusia yang sudah
kehilangan gigi.
Ottmar Lohmann sadar sepenuhnya bahwa ia telah
mendekati hari-hari terakhir dalam kariernya. Ia
pun tahu bahwa ia tidak akan memperoleh uang
pensiun. Pihak berwenang di tempat tinggalnya di
Itali menganggapnya sebagai orang tua yang hidup
dari harta
warisan yang pernah ia peroleh.
Lohmann merasa prihatin akan masa depannya.
Apakah ia akan terpaksa menghabiskan hari tuanya
dalam kemiskinan?
Hal itu takkan kubiarkan terjadi! Ia sudah ratusan
kali berjanji pada diri sendiri. Sekali lagi ia akan
beraksi. Kemudian ia akan mengundurkan diri dari
dunia hitam. Lohmann telah menyiapkan sebuah
rencana hebat. Menurut dia, rencana dengan bom
berjalan itu tidak mungkin gagal.
Sebenarnya Lohmann hendak menuju tempat
persembunyiannya. Ia bermaksud menghilang dari
peredaran selama beberapa waktu. Namun jalan
raya ini kebetulan menuju kota di mana ia akan
melancarkan aksinya.

Sudah lama ia berusaha menghindari kota ini.


Busyet, kapan ia terakhir kali datang ke sini? 19,
20, mungkin bahkan 21 tahun yang lalu. Persis
sebelum ia tertangkap di berlin.
Lohmann mengerutkan kening. Sel-sel otaknya
berusaha mengingat kejadian-kejadian di masa
lampau. Namun ia tidak ingat lagi. Ah, soal itu toh
tidak penting sekarang.
Ia mengumpulkan semua keterangan yang
diperlukannya. Ia tahu bahwa PT. Nosiop, sebuah
perusahaan bahan kimia, bermarkas di kota ini.
Perusahaan itulah yang menjadi sasarannya.
Gnaski telah mempelajari segala sesuatu.gnaski
akan membantunya dalam melancarkan aksi ini.
Gnaski adalah satu-satunya teman yang bisa
dipercaya. Dan yang lebih penting, Gnaski punya
rumah di sini.
Kenangan lama muncul di benak Lohmann ketika
ia mendekati batas kota. Kenangan manis bersama
Magda Telpler!
Aneh, setelah sekian lama ia masih ingat namanya.
Wajah wanita itu masih terbayang dengan jelas.
Padahal puluhan wanita sebelum dan sesudah
Magda sama sekali tidak berbekas di hatinya.
Magda Teler memang berbeda dari yang lainnya.
Apakah dia masih hidup?
Tanpa sadar, lohman telah melewati batas kota.
Menara-menara gereja, menara TV, dan gedunggedung bertingkat terlihat di hadapannya.
Beberapa pesawat udara mendarat dan mengudara
secara bergantian.
Lohmann berhenti, lalu mempelajari peta yang
dikirim Gnaski. Aha! Ia harus membelok ke jalan
lingkar. Ternyata sudah banyak perubahan sejak ia
terakhir kali menjejakkan kaki di sini. Kota telah
semakin melebar. Beberapa desa yang dulu terletak
jauh di luar kota, kini sudah dicaplok. Kota yang
padat ini merupakan lahan pekerjaan yang cocok
baginya.
Dalam setengah jam aku pasti sudah menemukan
sasaran untuk memperoleh uang saku, Lohmann
berkata dalam hati.

Ia memang membutuhkan uang tunai. Gnaski baru


mau membantunya setelah memperoleh uang
smuka. Uang muka itulah kata kesukaannya.
Baiklah, kalau itu yang diinginkannya. Tapi maaf
saja, dia tidak akan memperoleh apa-apa dari hasil
rampokan Lohmann. Lebih baik mencari sasaran
baru saja.
Lohmann nyengir lebar ketika ia melewati daerah
pertokoan yang cukup ramai di pinggiran kota.
Berbagai macam toko berjejer di kedua sisi jalan
utama. Beberapa kedai minum dan restoran
nampak penuh dengan pengunjung. Tapi suasana
di jalan-jalan lain tidak begitu ramai. Memang
tidak sesunyi suasana di kuburan pada waktu hujan
lebat, tetapi jauh lebih sepi dibandingkan jalan raya
tadi.
Fiat tua yang dikemudikan Lohmann melewati
beberapa mobil yang diparkir di tepi jalan. Dan
akhirnya ia menemukan sasaran yang sesuai
dengan seleranya: sebuah toko perhiasan.
Toko itu kecil dan agak tak terurus. Lohmann tahu
persis bahwa ia bisa memperoleh berkilo-kilo
perhiasan murahan di toko seperti itu belum lagi
uang kecil yang ada di kassa. Ia juga tahu bahwa
perhiasan murahan jauh lebih mudah dijual
dibandingkan berlian-berlian milik ratu Inggris.
Lohmann memutar kendaraannya, kemudian
menuju ke arah batas kota. Tidak lama setelah itu
ia berhenti di belakang sebuah truk pengangkut
sampah yang besar. Lohmann mematikan mesin,
dan memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya.
Ia memperhatikan dirinya di kaca spion. Wajahnya
berbentuk lancip, dengan bibir tipis.
Seperti biasa kalau hendak beraksi, Lohmann
mengenakan wig warna pirang untuk menutupi
rambutnya yang sudah mulai beruban. Mengubah
wajah merupakan tugas yang lebih sulit. Namun
dengan bantuan kumis palsu dan kacamata hitam,
ia menjadi tidak mudah dikenali.
Sebuah pistol berkaliber besar terselip di bawah
ketiak sebelah kiri. Kantong dada sebelah kanan
berisi amplop surat yang penuh uang.

Setelah yakin bahwa semuanya beres, ia kembali


ke toko perhiasan tadi.
Jam makan siang. Semua orang sibuk mengisi
perut atau istirahat dengan santai. Suasana di jalan
semakin sepi.
Lohmann berhenti di dekat toko yang diincarnya,
turun dari mobil, lalu berjalan ke kaca etalase.
Ternyata tidak ada pembeli di dalam.
Satu-satunya penjaga toko, seorang wanita muda,
sedang membelakanginya sambil mengatur letak
kalung-kalung di sebuah kotak kaca.
Mari kita mulai! Lohmann berkata pada diri
sendiri.
Dengan yakin ia membuka pintu masuk.
***
Aku tidak setuju! Petra memprotes. kau tidak
boleh mencongkel jendela di apartemen Nicole
Tepler. Itu adalah tindakan kriminal. Kau bisa
dituntut untuk itu. Aku bukannya sok suci - tapi
aku putri tunggal komisaris Glockner. Dan dalam
hal pelaksanaan KUHP aku seratus persen
sependapat dengan ayahku.
Apa sih arti KUD itu? tanya Oskar.
KUHP, ujar Thomas, adalah singkatan untuk
Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Petra ingin
mengatakan bahwa ia tidak setuju kalau Sporty
melakukan suatu tindak kriminal. Tapi, Petra, ia
berpaling pada gadis itu, sebelum ini kita kan
sudah sering menempuh jalan yang tidak lazim
untuk mencapai tujuan, dan kau tidak pernah
mengatakan apa-apa. Aku mendukung rencana
Sporty. Apalagi di sini tidak ada yang dirugikan.
Kita justru bisa membantu Pak Knot dan
terutama ayahnya, yang harus berhati-hati terhadap
penyakit tekanan darah tinggi. Ayah Pak Knot
harus
menyimpan
tenaga
agar
dapat
memperjuangkan hutan dan lingkungan kita. Siapa
lagi yang mau melakukannya? Semua orang
mengeluh bahwa kadar polusi semakin meningkat.
Tapi tanpa seorang seperti ayah Pak Knot, takkan
ada pemilik pabrik yang ambil peduli. Kita

membutuhkan tokoh seperti itu seorang dokter


gigi yang bukan hanya berjuang memerangi gigi
berlubang, tetapi juga berjuang untuk masyarakat
luas. Apakah kau tega kalau dia kehilangan
kepercayaan pada putranya?
Oskar tersentak kaget ketika Thomas menyinggung
soal gigi berlubang. Ia teringat pada ayahnya.
Sebagai pemilik pabrik coklat, ayah Oskar secara
tidak langsung menjamin bahwa para dokter gigi
tidak akan pernah kekurangan pasien. Baru kemari
guru biologi 9b mengajarkan arti istilah simbiose,
yaitu kerja sama yang saling menguntungkan
antara dua makhluk hidup.
Ah, pikir Oskar, istilah itu tidak cocok untuk
situasi seperti ini. Ayah Pak Knot mungkin
mendapat lebih banyak keuntungan. Jumlah
pasiennya bertambah, karena coklat bisa merusak
gigi. Sedangkan ayahku... hmmm! Gigi sehat
memang bisa menghabiskan banyak coklat. Jadi...
Ah, untuk apa aku capek-capek memeras otak?
Thomas toh hanya omong kosong saja.
Namun ucapan Thomas berhasil meyakinkan Petra.
Paling tidak gadis itu berhenti memprotes.
Kejahatan tetap kejahatan, tapi... ya, satu hal
harus kuakui; untuk tujuan yang baik, ayahku juga
sering menggunakan cara-cara yang tidak biasa.
Tapi ia bertanggung jawab penuh atas semua
tindakannya.
Aku juga, kata Sporty cepat-cepat.
Kedengarannya seperti menganggap enteng.
Sporty memang sudah mulai gelisah. Ia sudah
tidak sabar untuk naik ke atap. Anak itu tidak ingin
membuang-buang waktu, sebab masih banyak
yang harus dikerjakan.
Jangan gitu dong! Petra berseru. masalah
tanggung jawab bukan urusan sepele. Seseorang
yang mengambil jalan yang tidak biasa, lalu gagal,
harus... harus bersedia menerima sanksinya.
Petra, ujar Sporty, aku sama sekali tidak
bermaksud menyepelekan urusan tanggung jawab.
Kau kan tahu bahwa kami semua sangat
menghormati ayahmu. Dan sekarang aku akan naik

ke atap. Jangan-jangan kita sudah berdebat panjang


lebar, padahal di apartemen sebelah tidak ada
lukisan sama sekali.

Kemudian Sporty membuka jendela, dan turun


dengan hati-hati.
Ia berhasil masuk ke studio Nona Tepler!

Ya Tuhan! bisik Hubi. Tindakan


berpengaruh jelek pada kalian. Saya
membohongi ayah saya, tapi sekarang
malah bersedia mengambil resiko besar
membantu
saya.
Kalian
bahkan
memperdulikan bisikan hati nurani kalian!

saya
telah
kalian
untuk
tidak

Sporty hanya nyengir. Kemudian ia naik ke atas


kursi, membuka jendela yang lebih kecil. Dan
menarik badannya ke atas.
Genteng-genteng di atas atap terasa membara. Tapi
itu tidak menghalangi niat Sporty.
Atap di atas apartemen Hubi tidak terlalu terjal.
Sporty berhenti sejenak, dan menoleh ke depan. Di
sana, di depan talang air, ada jurang sedalam enam
tingkat yang siap menelannya jika ia tidak berhatihati.
Sambil menempel pada genteng, Sporty merayap
ke jendela di apartemen sebelah.
Ternyata dugaannya benar : jendela itu sama
seperti jendela di apartemen Hubi.
Melalui kaca yang penuh debu Sporty mengintip
ke bawah.
Astaga! Apartemen Nona Tepler benar-benar
merupakan studio seorang pelukis berantakan
dan tak teratur. Tapi apakah isinya benda-benda
seni berharga, atau hanya rongsokkan, tak bisa
dipastikan dari atas atap.
Sporty mengeluarkan pisau lipatnya dari kantong
celana.
Ia terpaksa membuat lima lubang pada karet yang
mengelilingi lubang jendela. Tapi itu saja belum
cukup. Untung Sporty menemukan sepotong kawat
tergeletak di sebelah jendela. Ia memasukan kawat
yang sudah berkarat itu melalui lubang nomor
lima, lalu menggunakannya untuk menarik kait
pengunci sampai ke posisi tegak lurus.

Sporty menemukan dua penyangga kanvas,


puluhan tube berisi cat minyak, sejumlah kaleng
bekas yang penuh dengan berbagai jenis kuas,
botol-botol berisi vernis, dan perlengkapan melukis
lainnya.
Di salah satu pojok ruangan, empat lukisan
bersandar pada dinding.
Nah, ini yang kucari, Sporty berkata pada diri
sendiri. Untuk tiga jam berikutnya kalian akan
menjadi tamu Hubi, dan...
Senyum yang tersungging di bibirnya mendadak
lenyap.
Lukisan-lukisan yang bersandar pada dinding...
astaga! Lukisan-lukisan itu belum lama ini
ditunjukkan oleh Hubi pada waktu ia mengajarkan
sejarah seni lukis Jerman. Bukan aslinya, tapi hasil
reproduksi. Tapi yang ini Ya Tuhan! - lukisanlukisan ini dibuat oleh pelukis-pelukis Jerman
sekitar tahun 1500. semua dibuat di atas papan
kayu.
Apakah benda-benda seni bernilai jutaan Mark ini
memang milik Nicole Tepler? Kalau ya, kenapa
dia membiarkan lukisan-lukisan antik ini tergeletak
begitu saja? Atau...
Sporty seperti tersambar petir. Bagaimana kalau
lukisan-lukisan ini merupakan barang curian?
Apakah Nona Tepler seorang pencuri yang
mengkhususkan diri pada pencurian benda-benda
seni?
Sporty mendekat. Dengan meniru gaya para
penggemar seni lukis, ia setengah memejamkan
mata lalu mengamati lukisan-lukisan itu dari dekat.
Satu lukisan sudah selesai, tapi catnya masih agak
basah.
Pada ketiga lukisan lain masih ada detil-detil yang
belum ditambahkan.

Meskipun demikian, Sporty menyadari bahwa


dibutuhkan keterampilan tinggi untuk
memalsukan lukisan-lukisan itu.
Aha! Jadi itu masalahnya. Pantas saja Nicole
Tepler tidak berminat untuk berkenalan dengan
Hubi. Wanita muda itu tahu bahwa Hubi pasti
ingin melihat lukisan-lukisan yang telah di
hasilannya. Dan sebagai pemalsu lukisan, justru
itulah yang ingin dihindarinya.
Gila! Pikir Sporty. Aku masuk ke sini untuk
meminjam lukisan, tahu-tahu aku menemukan
sesuatu yang seharusnya tidak boleh kuketahui.
Tapi satu hal yang harus diakui: Nona Tepler
sangat berbakat! Dan lukisan-lukisannya akan
membantu kita.
Ia melirik jam tangannya.
Kalau perhitungan Hubi tepat, maka mereka masih
punya waktu 46 menit.
Sporty meraih salah satu lukisan, naik ke atap, lalu
mengoper lukisan itu melalui jendela di langitlangit apartemen Hubi.
Hati-hati!
Thomas yang menyambut lukisan itu.
Masih ada tiga lagi, ujar Sporty. Tolong
gantungkan dengan baik. Dan perhatikan sudut
datangnya cahaya.
Dalam waktu singkat empat lukisan telah
berpindah ke apartemen Hubi. Sporty turun dari
atap.
Semuanya terdiam. Kesunyian di ruangan itu bisa
menyaingi kesunyian di luar angkasa.
Petra nampak terheran-heran. Menurut Sporty
gadis itu jadi kelihatan semakin manis.
Thomas menggosok-gosok kacamata.
Hubi memelototi lukisan-lukisan di hadapannya.

Seharusnya saya kuliah di jurusan geografi saja,


guru muda itu bergumam. atau di jurusan kimia.
Dengan begitu saya takkan mengetahui bahwa
lukisan-lukisan ini palsu.
Orang yang buta huruf pun bisa melihat bahwa
lukisan-lukisan ini palsu, Sporty berkomentar.
Dan bukan hanya karena catnya masih basah.
Lucu sekali, hahaha! Tanpa sengaja kita telah
memergoki seorang pemalsu lukisan.
hahaha, ujar Hubi dengan nada seolah-olah
bukan hanya sebelah, tetapi kedua tangannya yang
patah. saya benar-benar tidak menyangkanya.
Nicole Tepler ternyata seorang pemalsu lukisan
mahal.
Belum tentu dia sejahat yang anda bayangkan,
Petra menanggapinya. Menurut saya, dia bahkan
cukup berbakat. Kalau ada orang bodoh yang mau
membeli lukisan seperti ini dengan harga tinggi,
lalu menganggap bahwa ia telah memiliki lukisan
asli, maka biarkan saja orang itu merasa gembira
dan bangga. Semua orang berhak menikmati seni
lukis, bukan hanya kelompok tertentu saja.
Pak Knot nampak terkejut. Petra, bukan begitu
maksud saya ketika mengatakan bahwa semua
orang berhak menikmati seni lukis. Memang, seni
lukis seharusnya terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat, dan melengkapi koleksi pribadi
mereka. Tapi itu berlaku untuk seni. Seni! Bukan
untuk pemalsuan seperti ini! Seorang pemalsu
hanya memerlukan keterampilan tangan. Dan seni
sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan hak
milik. Benda-benda seni di museum bisa dinikmati
oleh semua orang.
Petra tersenyum. Maksud saya juga bukan seperti
itu. Saya hanya ingin membela tetangga anda. Tapi
sekarang sudah waktunya untuk menggantungkan
lukisan-lukisan ini. Setengah jam lagi ayah anda
akan tiba.
Oskar pun ikut membantu. Dengan mengorbankan
kuku jempol kiri, ia akhirnya berhasil
menancapkan sebuah paku di dinding.

Bantuan Hubi terbatas pada dukungan moril.


Cidera yang ia derita memaksanya untuk tidak ikut
bekerja.
Ketika semua lukisan telah tergantung di dinding,
ia memperhatikan keempat-empatnya sambil
tersenyum bahagia.
Wah apartemen saya sudah berubah jadi istana!
Petra, Sporty Thomas, Oskar saya takkan pernah
melupakan bantuan kalian.
Ah itu kan soal biasa, kata pertra. Saya justru
lebih pusing memikirkan bagaimana kita harus
bersikap terhadap Nona Tepler. Kalau kita
melaporkannya ke polisi, maka kita harus
menjelaskan dari mana kita tahu bahwa ia
memalsukan lukisan. Dengan demikian semuanya
terbongkar, dan kita pun akan mengalami
kesulitan.
Bagaimana kalau kita memikirkan masalah itu
setelah ayah Pak Knot pergi lagi? Sporty
mengusulkan. Yang penting lukisan-lukisan itu
sudah tergantung di dinding. Sebaiknya kita pulang
saja, lalu...
Nanti dulu! Hubi langsung memotong. Masa
kalian sudah berusaha payah tapi tidak ikut
menikmati hasilnya? Sudahlah, kalian tidak usah
pulang. Ayah saya sangat menyukai anak-anak
muda. Dia pasti senang sekali karena bisa
berkenalan dengan kalian. Petra dan Thomas,
kalian bisa menelepon orang tua kalian dari sini,
untuk memberi tahu mereka bahwa saya
mengundang kalian makan siang. Setelah itu saya
akan menelepon petugas piket di asrama dan minta
izin untuk Sporty dan Oskar.
Semuanya bergembira. Hanya Oskar yang agak
menahan diri. Diam-diam ia menyenggol Sporty.
Eh, apa sih makan siang di asrama hari ini? ia
bertanya.
Sayur kol dengan kentang rebus, ujar Sporty,
sebab ia tahu persis bahwa sahabatnya yang gendut
itu paling tidak suka masakan itu.

Kalau begitu lebih baik kita makan di sini saja,


balas Oskar sambil mengangguk.
Petra segera menuju dapur untuk menyiapkan meja
bukan untuk ketiga sahabatnya, melainkan untuk
ayah Pak Knot.
Namun ia hanya menemukan setumpuk piring
kotor. Thomas lalu membantu cuci piring.
Sporty diberi sejumlah uang oleh Hubi, Kemudian
pergi ke toko terdekat untuk membeli beberapa
potong kue keju. Ayah Pak Knot paling suka kue
keju. Anggur, cognac dan kopi sudah tersedia.
Petra terpaksa menggunakan piring dan cangkir
seadanya. Ia menata lima piring dengan lima motif
yang berbeda di atas meja. Kelima cangkir pun
masing-masing berasal dari tempat yang lain.
Bahkan ada yang menampilkan logo sebuah hotel
terkenal.
Hubi hanya tersenyum malu. Kemudian ia
menjelaskan bahwa beginilah kehidupan seorang
mahasiswa.
Petra telah selesai membuat kopi. Bau harum
memenuhi seluruh apartemen.
Sambil terkagum-kagum Hubi mengamati keempat
lukisan
yang
kini
menghiasi
dinding
apartemennya.
Kita tidak bisa melaporkan Nona Tepler pada
polisi, katanya kemudian. Itu tidak adil. Kita
harus memberikan kesempatan padanya. Apakah
kalian keberatan kalau saya berbicara dengan dia?
Saya akan menjelaskan bahwa cara ini tidak benar.
Saya berani bertaruh bahwa Nona Tepler akan
menyadari
kesalahannya,
kemudian
menyumbangkan beberapa lukisan untuk panti
jompo, dan tidak akan mengulangi perbuatannya.
Tentu saja kami tidak keberatan, jawab Petra
tanpa bertanya pada ketiga sahabatnya. Yang
penting nona Tepler sadar bahwa ia telah membuat
kesalah.

Lagi pula, Hubi menambahkan,dia pasti hanya


suruhan orang lain. Orang yang menyuruhnya
itulah yang harus diketok.
Ya, pakai palu, Oskar berkomentar, supaya
tidak lupa lagi.
Ayah Pak Knot tiba sepuluh menit lebih awal dari
yang diperhitungkan. Orangnya agak gemuk, tetapi
gesit sekali. Hanya rambutnya yang telah memutih
yang memperlihatkan bahwa ia telah memasuki
usia senja.

mengambil sepotong kue keju untuk ketiga


kalinya.
Ah! ujar Pak Knoth tua pada saat yang sama.
Itu lukisan-lukisan yang kauceritakan dulu, ya?
Ia berdiri, menukar kacamata baca dengan
kacamata untuk melihat jauh, lalu mengamati
keempat lukisan di samping pintu. Lukisan
Brueghel pelukis Belanda itu? Hebat!
Lukisan itu bukan karya Brueghel, kata Hubi.
masa?

Ia datang naik taksi. Kemudian ia menggotong


kopernya sampai ke lantai enam dan menekan bel.
Hubi langsung merangkul ayahnya.
ini murid-muridku, ia lalu memperkenalkan
anak-anak STOP. Mereka duduk di kelas 9b dan
selalu siap... ehm... siap membantuku.
Coba senyum agak lebar, ayak Pak Knot berkata
pada Petra. Wah, gigimu bagus sekali!

Pelukisnya tidak terkenal. Tetapi dia meniru gaya


Cranach. Lukisan itu dibuat sekitar tahun 1500.
sayangnya aku tidak punya surat keterangan dari
seorang ahli seni lukis. Kalau ada, lukisan-lukisan
ini tak ternilai harganya.
Pak Knoth tua tersenyum puas, kemudian kembali
duduk. Di samping cangkir kopinya ada segelas
cognac kesukaannya. Hubi telah menuangkan
minuman itu.

Sporty nyengir lebar ketika bersalaman.


Luar biasa! Pak Knoth tua memuji. Seandainya
semua orang merawat gigi seperti kalian, maka aku
terpaksa mencari pekerjaan lain. Ia menepuk
lengan Hubi yang dibalut gips. Bagaimana, masih
sakit?

Meskipun telah dilarang keras oleh dokternya, Pak


Knoth tua menyalakan sebatang cerutu dan
menikmati cognac-nya bersama Hubi.

Sudah mendingan.

Sporty agak salah tingkah. Siasat mereka ternyata


berhasil dengan gemilang. Namun ia merasa
bahwa orang yang seramah Pak Knoth tua tidak
seharusnya dikelabui.

Pak Knoth tua sudah mengetahui kecelakaan yang


dialami putranya. Hubi memberitahunya lewat
telepon.

Tapi memang lebih baik begitu, ujar Sporty dalam


hati. Siasat STOP adalah membantu Hubi dan
secara tidak langsung juga ayahnya.

Mereka duduk di ruang tamu, dan Petra segera


menghidangkan kue dan kopi. Pak Knoth tua tak
henti-hentinya bercerita mengenai keadaan di kota
kelahiran Hubi.

Sampai saat itu pak Knoth tua belum mengatakan


jam berapa ia harus berangkat lagi untuk
menghadiri kongres di Bad Wiesentau. Janganjangan dia tidak perlu terburu-buru. Bagaimana
kalau dia masih di sini pada waktu Nicole Tepler
kembali?

Oskar menyenggol Sporty, yang duduk di


sebelahnya, lalu menunjuk lukisan-lukisan yang
tergantung pada dinding.
Sporty langsung menyeringai dan memelototi
Oskar. Sahabatnya itu mengangguk perlahan, lalu

Oh! Pikir Sporty. Ini bisa kacau balau. Bagaimana


kalau nona Tepler jatuh pingsan? Atau
menghubungi polisi? Mudah-mudahan saja Pak
Knoth tidak terlalu lama di sini. Soalnya aku masih
harus mengembalikan keempat lukisan itu.

Apakah... ehm... apakah ibu anda bernama... ehm...


Magda Tepler?
3 KEJUTAN UNTUK LOHMANN
SAMBIL menggumamkan Selamat siang
Lohmann memasuki toko perhiasan. Dengan suatu
gerakan terlatih ia mengganjal pintu dengan sebuah
pasak kecil yang terbuat dari besi, sehingga pintu
tidak bisa dibuka dari luar.

Kening wanita muda itu semakin berkerut.


Bagaimana anda bisa mengenal ibu saya?
Lohmann tidak menjawab. Perlahan-lahan ia
menurunkan pistol. Ia begitu terkejut, sehingga
tidak bisa berkata apa-apa.

Si penjaga toko berbalik. Ia tersenyum ramah.


Namun senyum itu hanya bertahan selama
beberapa detik saja.

Suasana di jalan telah kembali sepi. Kemudian


terdengar suara anjing menggonggong. Tapi bukan
di depan toko, melainkan di seberang jalan.

Dengan mata terbelalak ia menatap moncong pistol


di tangan Lohmann yang terarah padanya.

Busyet! Dalam hati lohmann ingin membentukan


kepalanya ke tembok. Ternyata aku benar-benar
mimpi! Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Wanita muda itu benar-benar mirip Magda!

Jangan teriak! Ikuti segala perintah saya, dan anda


takkan...

Ia mendehem sambil terus memperhatikan Nicole.


Tiba-tiba Lohmann terdiam. Sambil terbengongbengong ia memandang wanita muda di balik meja
layan.
Itu kan Magda! Magda Tepler, persis seperti dulu
20 tahun yang lalu! Wajahnya yang bulat! Matanya
yang sayu! Rambutnya yang pirang...
Ah, tidak mungkin! Lohmann berkata dalam hati.
Aku pasti bermimpi!
Wanita muda itu tidak bergerak. Ia membalas
tatapan Lohmann tanpa memperlihatkan rasa takut.
Wajahnya membersitkan kesan keras kepala
persis seperti Magda dulu.

Oh, anda mengenakan rambut palsu, Nicole tibatiba menyadari. Dan itu membuat penampilan
anda jadi lebih muda. Usia anda sebenarnya sekitar
60 tahun. Oh, saya tahu sekarang. Anda.. Ottmar
Lohmann!
Lohmann seperti tersambar petir. Ia menoleh ke
belakang, ke jalan. Ternyata tidak ada siapa-siapa.
Pasaknya masih mengganjal pintu.
Kau datang untuk merampok toko ini! Lohmann
berkata pada diri sendiri. Kenapa kau jadi raguragu begini?

Siapa... siapa nama Anda? Lhomann bertanya.

Jawaban terhadap pertanyaan itu berdiri di


hadapannya. Nicole Tepler, putri Magda Tepler.

Sebuah truk gandengan lewat di luar. Lantai terasa


bergetar.

Anda tahu nama saya. Rupanya Magda pernah


menyinggung-nyinggung nama saya, ya?

Saya? suara wanita muda itu jernih sekali.


Nama saya Nicole... Nicole Tepler.

Sering, bahkan sering sekali. Ibu saya


menceritakan segala sesuatu yang ia ketahui
mengenai anda. Ia tidak pernah sangsi bahwa suatu
hari akan kembali kepadanya. Dulu, tuan Ottmar
Lohmann, dulu anda meninggalkan ibu saya begitu
saja. Ibu saya tahu bahwa anda... bahwa anda
seorang penjahat, dan bahwa anda takkan berubah.
Meskipun demikian, Nicole menambahkan sambil
mendesah, Ia tetap mencintai anda.

Nicole Tepler mengerutkan kening. Sebenarnya ia


ingin tahu mengapa pria itu menanyakan namanya.
Lohmann menarik napas dalam-dalam. Saya
pernah mengenal seseorang bernama Tepler.

Lohmann menelan ludah. Apakah Magda masih


hidup?
Ibu saya meninggal lima tahun yang lalu. Karena
kanker. Sepanjang hidunya ia tidak pernah
bahagia. Ia tidak pernah menikah. Siapa yang
berminat pada wanita yang punya anak di luar
nikah? Ya, sayalah anak itu! Dan saya juga tahu
bahwa ayah saya seorang... seorang perampok
bank.
Lohmann terbelalak.
Sudah puluhan tahun ia tidak pernah merasa
gelisah pada saat beraksi. Tapi kali ini jantungnya
berdetak dengan kencang dan keningnya mulai
dibasahi keringat.
Maksudnya... saya... ia tergagap-gagap.
Maksudnya, Tuan Ottmar Lohmann, anda-lah
ayah saya, jawab Nicole Tepler. Kedua matanya
nampak berapi-api. Kenapa, kaget? Anda telah
meninggalkan ibu saya tanpa mengatakan apa-apa.
Ia tidak pernah menerima kabar dari anda. Dasar
penjahat! Memang anda tidak tahu apa-apa
mengenai kehadiran saya di dunia ini. Tapi jangan
harap bahwa saya mau memanggil anda dengan
sebutan ayah! Kedatangan anda pun untuk
merampok toko ini, bukan? Silakan, jangan malumalu! Saya hanya pegawai biasa di sini. Dan mulai
bulan depan saya toh akan diberhentikan. Saya
tidak tahu apa yang harus saya lakukan setelah
itu.

bagian, oke? Maaf kalau saya tidak pernah


mengurusmu selama ini. Mengenai Magda... ehm...
saya akan meletakkan bunya di atas makamnya.
Ibu saya tidak dimakamkan di sini.
Tidak?
Makamnya berada di Leiningen di samping
makam kakek dan nenek saya.
Lohmann tidak tahu apa-apa mengenai kedua
orangtua Magda.
Ia menyimpan pistolnya, kemudian menghampiri
Nicole. Amplop berisi uang diserahkannya pada
wanita muda itu.
Uang ini untuk saya? tanya Nicole, seakan-akan
tidak percaya.
Masih akan ada lagi, anakku. Kau tidak perlu
khawatir mengenai masa depanmu!
Lohmann berbalik, menuju pintu, lalu mencabut
pasak besinya.
Namamu tercantum di buku telepon?
Nicole mengangguk.
Kalau begitu
secepatnya.

saya

akan

menghubungimu

Nicole menggigit bibir, dan menundukkan kepala.


Selama beberapa menit lohmann menatap wanita
muda di hadapannya. Matanya mulai berair.
Seandainya saya tahu bahwa Magda... bahwa saya
punya anak, katanya terbata-bata, maka jalan
hidup saya mungkin berbeda. Saya... saya... Nih,
ini untukmu!
Ia meraih kantong baju dan mengeluarkan amplop
berisi uang.
Ambil saja, Nicole! Isinya 12.700 Mark. Hanya
itu yang saya miliki sekarang. Tapi tidak lama
lagi... pokoknya, saya akan memperoleh uang yang
banyak dalam waktu dekat ini. Kau akan mendapat

Lohmann keluar dari toko. Ia membelok ke kanan,


berjalan tiga langkah sampai ke pojok bangunan,
kemudian menyandarkan bahunya pada dinding.
Apa salahku? Ia bertanya dalam hati. Apakah
sikapku begitu menggelikan? Nicole seperti
menahan tawa tadi. Kenapa?
Sebagai seorang penjahat profesional, Ottmarr
Lohmann segera menyadari bahwa ada yang tidak
beres.

Antara rumah ini dan bangunan sebelah terdapat


jalan mobil yang menuju ke pekarangan belakang,
kedua jendela berjeruji pada isi pendek, termasuk
di toko tempat nicole bekerja. Lohmann tidak bisa
melihat ke dalam. Pandangannya terhalang kaca
susu. Tetapi kedua jendela itu terbuka sedikit.
Ketika mendengar suara nicole, ia segera
menghampiri salah satu jendela. Sambil
merapatkan badan ke tembok, ia pun memasang
telinga.
Wanita muda itu telah selesai menghitung uang di
dalam amplop. Isinya memang 12.700 Mark.

Jawaban Magda Tepler tidak terdengar oleh


Lohmann. Matanya berkunang-kunang.
Brengsek! Ia nyaris tidak bisa percaya bahwa
wanita muda di toko itu telah menipunya.
Selama tiga menit, ia berkata dalam hati, aku
merasa seperti seorang ayah. Dan kau, manis,
sempat menggenggam uang sejumlah 12.700 Mark
tapi juga hanya tiga menit.
Ia menoleh ke belakang.
memperhatikannya.

Tak

ada

yang

Sambil ketawa cekikikan, Nicole memasuki ruang


kantor dan mengangkat gagang telepon.

Lohmann melepas rambut dan kumis palsunya,


serta menyimpan kacamata hitamnya di kantong
baju. Sambil tersenyum sinis ia kembali ke toko.

Ia memutar sebuah nomor. Seorang wanita


terdengar menyahut.

Darahnya terasa seperti mendidih. Ia merasakan


urat nadi di lehernya berdenyut-denyut.

Aku punya kejutan untuk ibu! kata Nicole


sambil menahan taawa. Ibu takkan bisa menebak
siapa yang baru saja datang ke sini. Ottmar
Lohmann! Ya, bekas pacar ibu dulu! Orangnya
sudah tua sekarang. Dia masih mirip foto yang
pernah ibu perlihatkan padaku. Tapi tadi dia
menggunakan kumis dan rambut palsu. Aku bisa
membayangkan betapa gagahnya dia 20 tahun
yang lalu. Sampai sekarang pun masih ada sisasisanya. Aku mengenalinya karena dia hendak
merampok di sini. Ya, rupanya dia masih seperti
dulu. Tapi kemudian dia membatalkan niatnya.
Soalnya dia langsung menyadari bahwa aku
anakmu. Tidak percuma wajah kita mirip sekali,
bukan?

Dasar licik! Lohmann mengumpat dalam hati.


Magda ternyata masih hidup. Dan kemungkinan
besar dia pun menertawakan ketololanku.

Nicole kembali ketawa cekikikan. Dengan sebelah


tangan dia menyingkirkan rambut yang jatuh
menutupi keningnya.

Selamat siang! Apa yang bisa saya...

Dia benar-benar terharu tadi. Ibu tahu apa yang


aku ceritakan padanya? Aku mengatakan bahwa
dia ayahku hahaha! Dan dia percaya lagi!
Sebelum pergi, dia bahkan sempat memberi hadiah
padaku. 12.700 Mark! Seluruh uang yang ada di
kantongnya. Tapi dia berjanji bahwa aku akan
memperoleh lebih banyak lagi. Ini berarti bahwa
dia sudah punya rencana tertentu di kota ini.

Oh! Jadi begini tampang anda... tanpa rambut


palsu.

Ia membuka pintu dan melangkah masuk. Hampir


saja ia mengganjal pintu dengan pasak besinya.
Kebiasaan itu telah mendarah daging dalam
dirinya.
Nicole keluar dari ruang kantor.
Wajahnya nampak cerah ceria. Matanya masih
berair karena kebanyakan ketawa. Karena itu ia
tidak begitu jelas melihat siapa yang baru saja
masuk.

Kemudia ia mengenali pria di hadapannya.

Ya, beginilah tampang saya. Saya terpaksa


kembali lagi ke sini. Saya terpukul sekali ketika
mendengar bahwa Magda telah meninggal.
Tolong, ceritakan sedikit mengenai dia. Apa yang
menyebabkan dia meninggal?

Ibu saya meninggal karena... ya, karena kanker.


Kan sudah saya katakan tadi?
Tadi kau mengatakan bahwa dia meninggal
karena jantungnya tidak kuat lagi.
Tidak kuat lagi? Ehmmm... ya, akhirnya memang
begitu. Tapi penyebab sesungguhnya... jantung?
Saya tidak mengatakan apa-apa mengenai sakit
jantung.
Air mata Nicole telah
pandangannya lebih jelas.

mengering.

Kini

Mana uangku tadi, he? Lohmann tiba-tiba


menghardiknya. kalau kau memerlukan seorang
ayah, cari saja orang lain. Seenaknya saja kau
mencoba menipuku! Dasa mata duitan. Rupanya
bukan kecantikanmu saja yang kau warisi dari
Magda. Dari dulu dia memang licik dan tidak bisa
dipercaya. Tapi sebagian besar orang keburu
terpesona oleh wajahnya. Aku memang tidak
pernah berniat untuk mengajak dia. Dan sekarang
terbukti bahwa keputusanku dulu benar, benar,
benar! Walaupun demikian, aku ingin bertemu
dengannya. Di mana aku bisa menemui dia? Tapi
sebelumnya kembalikan dulu uangku.
Nicole langsung gemetar. Ia tidak berpura-pura.
Berpisah dengan uang itu memang sangat berat
baginya.
Lohmann, kau jangan keburu emosi. Kau kan
sudah menyusun rencana besar. Kami bisa
membantumu. Ya, ibuku dan aku. Kami bukan
orang suci meskipun penampilan kami tidak
menunjukkannya. Kami mengenal orang-orang
yang tepat. Dan mengenai uang itu, kita pasti bisa
mencapai kata sepakat, bukan? Wanita muda itu
berkata cepat-cepat.
Aduh, kenapa tadi aku mengatakan bahwa aku
akan memperoleh yang banyak dalam waktu dekat
ini? Pikir Lohmann dengan kesal. Ternyata
ucapanku diartikan dengan tepat oleh dia. Sekarng
bagaimana? Aku harus berhati-hati. Kalau gadis ini
jadi lawan, maka rencanaku terancam gagal. Dia
tinggal menghubungi polisi, lalu tamatlah
riwayatku. Jangan cari gara-gara, Ottmar! Ini
bukan waktu yang tepat untuk menambah musuh.

Lagi pula, siapa tahu mereka berdua memang


berguna? Asal diberi imbalan yang pantas, mereka
pasti mau bekerja sama. Hem, Gnaski juga sudah
mulai tua.
Kata sepakat? Hmmm, Lohmann bergumam
pelan.
Ia melangkah ke pintu dan melihat ke jalan.
Jam istirahat makan siang telah habis. Suasana di
jalan mulai rami lagi. Memang belum seramai
Fifth Avenue di New York, namun orang-orang
yang lalu lalang sudah semakin banyak.
Seorang wanita lanjut usia berhenti di depan toko,
lalu mengamati sebuah kalung mutiara imitasi
yang terpajang di kaca etalase.
Tua-tua masih genit! Pikir Lohmann dengan kesal.
Ayo kembali saja ke panti jompo!
Namun nenek di luar nampaknya berminat pada
kalung itu. Dan sepertinya ia bawa cukup uang
untuk membelinya.
Dimana kita bisa bicara tanpa terganggu?
Lohmann bertanya pada Nicole. Aku tidak mau
kelihatan oleh para langgananmu.
Tangan Nicole menunjuk ke pintu ruang kantor.
Di sana bahkan ada sebotol wiski untukmu.
Mereka pindah ke sebelah. Ruang kantor itu
dilengkapi dengan perabot murahan, kertas pelapis
dinding yang sudah mulai bulukan, serta lemari
besi yang kelihatannya dibuat sekitar tahun 1920.
pesawat telepon berada di atas meja tulis.
Lohmann menutup jendela.
Aha! ujar Nicole. rupanya kau menguping
ketika aku bicara dengan ibuku, ya?
Mana uangnya?
Dengan berat hati Nicole membuka tasnya.
Lohmann segera menyambar amplop itu lalu
memasukkannya ke kantong baju tanpa

menghitung isinya. Ia yakin bahwa Nicole belum


mengambil selembar pun.
Jadi, Nicole melanjutkan pembicaraan, kalau
kau...

Rupanya anda belum mengerti, Komisaris Dolp


memotong. Kami tidak tertarik pada toko ini.
Apartemen anda yang ingin kami periksa. Anda
tinggal di sebuah apartemen di Jalan Sperling,
bukan?

Ia terdiam. Pintu toko membuka, dan seseorang


terdengar melangkah masuk.

Suara Nicole bergetar. Ya.. ta... tapi kenapa anda


ingin menggeledah tempat tinggal saya?

Nenek tadi! Pikir Lohmann.

Seorang pedagang lukisan telah melaporkan anda.


Bukan Franz-Anton Klacksi, atasan anda. Nama
orang yang melaporkan anda untuk sementara
belum perlu kami kemukakan. Orang itu rupanya
telah mengawasi gerak-gerik anda. Dia
menyatakan bahwa anda memalsukan lukisanlukisan kuno. Anda seorang pelukis, bukan?

Namun yang terdengar adalah suara langkah pria


dan bukan hanya seorang saja.
Nicole mengangkat bahu. Ketika kembali ke toko,
ia menarik pintu ruang kantor sampai setengah
menutup.
Lohmann meraih botol wiski yang masih setengah
penuh di samping pesawat telepon. Wiski adalah
minuman kegemarannya. Sayang botol ini berisi
wiski murahan.
Nona Nicole Tepler? ia mendengar seorang pria
bertanya dengan suara serak.
Ya, saya sendiri.
Saya Komisaris Dolp, pria itu memperkenalkan
diri. Dan itu inspektur Schanarowski. Kami
anggota kepolisian, bagian reserse. Saya membawa
surat perintah penggeledahan. Ini suratnya! Silakan
anda baca sendiri.

Ya... ya! Nicole menarik napas dalam-dalam.


Tapi... saya tidak memalsukan lukisan. Saya...
saya melukis sebagai hobi saja.
Suara wanita muda itu jelas-jelas menunjukkan
bahwa ia sedang berbohong.
Saya minta agar anda menemani kami ke
apartemen anda, ujar Komisaris Dolp dengan
tegas.
Nicole tidak kembali ke ruangan kantor. Tasnya
dibiarkan saja tergeletak di atas meja.
Dia sengaja tidak ke sini agar kedua polisi itu tidak
mengetahui kehadiranku, pikir Lohmann. Dalam
hati ia sangat berterima kasih pada Nicole.

Suasana menjadi hening.


Lohmann berdiri seperti patung.
Dengan erat tangannya menggenggam botol wiski.
Jangan sampai jatuh! Jangan sampai jatuh, ottmar!
Su.. surat peng.. penggeledahan? Nicole
bertanya dengan gugup. Siapa... apa.. apa yang
hendak anda geledah? Toko ini bukan milik saya?
wanita itu mulai menguasai diri. Saya hanya
bekerja di sini. Pemiliknya adalah Franz-Anton
Klacksi. Dia juga pemilik galeri K. Kalau anda ada
perlu dengan dia, maka...

Ia mendengar bahwa ketiga orang itu


meninggalkan toko, dan bahwa Nicole mengunci
pintu depan.
Untuk sesaat Lohmann masih terbengongbengong. Kemudian ia mereguk wiski langsung
dari botol.
Nicole seorang pelukis? Wah, hebat juga! Tapi
apakah tuduhan para polisi memang beralasan?
Hanya satu orang yang bisa menjawab pertanyaan
ini, pikir Lohmann, dan orang itu adalah Magda.

Ia keluar lewat pintu belakang, lalu mengunci


pintu. Kuncinya ia lemparkan melalui jendela
kedua, yang masih terbuka.
*****
Hubi mulai bisa menenangkan diri. Ayahnya
sedang gembira, dan terus berbicara mengenai
topik kegemarannya: pelestarian hutan dan
lingkungan. Anak-anak STOP mendengarkannya
dengan penuh perhatian.
Dalam rangka pelestarian lingkungan, pemerintah
dan masyarakat harus bekerja sama, dokter gigi
itu berkata. "Usaha untuk menanamkan pengertian
mengenai pentingnya pelestarian alam dan
lingkungan harus pergiat lagi. Semua orang
berkepentingan untuk memelihara flora dan fauna
di bumi. Kalau umat manusia melalaikan tugas ini,
maka dalam waktu singkat wajah planet kita akan
menyerupai permukaan bulan."
Saya setuju sekali," ujar Sporty. "Menurut saya
masalah pelestarian lingkungan memang terlalu
penting untuk diabaikan begitu saja.
Ketiga sahabatnya pun sependapat. Oskar lalu.
berkomentar bahwa ia akan memberikan perhatian
khusus pada tanaman coklat.
Pak Knoth tua tidak menyadari arti terselubung
dari ucapan Oskar. Ia memang mengetahui latar
belakang keluarga anak itu maupun kegemarannya
terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan
coklat.

Petra membereskan meja. Thomas membantu


secara sukarela. Oskar harus dipaksa sedikit.
"Untung semuanya berjalan dengan lancar," kata
Sporty. "Hubungan Hubi dengan ayahnya tetap
langgeng. Dalam waktu dekat akan terjadi
kebakaran di apartemen ini, dan keempat lukisan
itu musnah dimakan api. Yang tersisa hanya
setumpuk abu."
"Hubi bisa juga mengatakan bahwa ada pipa air
yang bocor, dan bahwa lukisan-lukisan itu hanyut
dibawa banjir!" Oskar berseru.
"Dasar bandit semua," ujar Petra. "Pokoknya aku
tidak mau terlibat lebih jauh dalam urusan ini."
Sporty mencopot keempat lukisan, menyandarkan
semuanya ke dinding di bawah jendela pada langitlangit, kemudian menarik kursi.
Dengan napas tersengal-sengal Hubi muncul di
pintu pintu. "Sst! Sst!" .
Ia membiarkan pintu tetap terbuka, menoleh ke
belakang, dan mendengarkan suara-suara di ruang
tangga.
Dalam sekejap keempat sahabat, STOP sudah
berada di sarnpingnya.
Di bawah, pintu masuk terdengar menutup.
Suara langkah menggema di ruang tangga langkah-langkah seorang wanita dan beberapa pria.

Karena itu ayah Hubi mengangguk saja. Tapi ia


juga merasa bertanggung jawab atas jenis-jenis
tanaman lain, sehingga ia menambahkan,
"Tanaman coklat hanya salah

Mereka menaiki tangga.

4. Akibat Perbuatan Sporty

Ucapan itu merupakan usaha terakhir untuk


mencairkan suasana. Tetapi kedua pria yang
menyertai wanita itu sama sekali tidak ketawa.

Dengan nada mengiba-iba wanita itu berkata,


"Sungguh! Saya mengulanginya sekali lagi.
Tuduhan ini adalah fitnah! Saya... saya memang
pernah memperbaiki beberapa lukisan kuno. Tetapi
kecuali itu saya hanya melukis dengan gaya
abstrak. Karya-karya saya begitu abstrak, sehingga
orang awam takkan menyadari bahwa itu memang
lukisan.

"Kami hanya menjalankan tugas, Nona Tepler,"


salah satu dari rnereka berkata.
Oskar mulai membuka mulut.
Sporty segera menyekap mulut sahabatnya itu,
sebelum ia sempat berkata apa-apa.
Hubi mundur selangkah, kemudian menutu pintu
sampai tinggal celah sempit untuk mengintip.
Wajahnya pucat pasi.

penyair terkenal dari Jerman-kelihatan seperti juru.


masak. Tapi Nicole Tepler ternyata tidak seperti
yang kubayangkan. Sikapnya kelewat angkuh dan
hak sepatunya terlalu tinggi.
Nicole Tepler membuka pintu apartemennya,
kemudian melangkah masuk bersama kedua polisi.
Suasana di ruang tangga kembali hening.
Perlahan-lahan Hubi menutup pintu.
Tibatiba saja Oskar bertepuk tangan.

"Terlambat!" bisik Sporty. "Kita takkan sempat


mengembalikan keempat lukisan itu ke tempat
semula. Palingpaling saya bisa melemparkan
semuanya lewat jendela. Tapi gunanya bagi Nona
Tepler? Itu justru akan memperburuk keadaannya."
"Sstf" Hubi mendesis. Butir-butir keringat dingin
mulai muncul pada keningnya.
Petra segera memelototi Sporty. Ia heran mengapa
sahabatnya sama sekali tidak memperhatikan
perasaan Hubi.
Nicole Tepler serta kedua polisi yang
menyertainya telah sampai di lantai enam. Polisi
yang lebih tua nampak tersengalsengal.
Sedangkan rekannya, yang jauh lebih muda,
kelihatan agak salah tingkah. Rupanya masa
dinasnya belum cukup lama untuk membuatnya
kebal terhadap daya tarik seorang wanita cantik.
Nicole Tepler sendiri tampak pucat.
Jadi itu orangnya, pikir Sporty. Hmm, cantik juga!
Tapi itu tergantung selera. Dibandingkan dengan
Petra sih, tidak ada apa-apanya. Kalau Hubi jatuh
cinta padanya... ah, itu urusan dia sendiri.

"Kita... kita sebenarnya sama sekali tidak perlu


mengkhawatirkan dia," ia menjelaskan penuh
semangat. "Bukti-bukti mengenai pemalsuan
lukisan yang ia lakukan berada di sini!"
"Wah, benar juga," Thomas menanggapinya sambil
nyengir. "Hal itu sama sekali tidak terpikir olehku.
Untung saja kau mengemukakannya, Oskar.
Lukisan-lukisan palsu itu memang berada di sini.
Dengan demikian kita telah membantu Nicole
Tepler.
Tanpa sengaja. Berarti secara tidak langsung kita
bersekongkol dengannya. Kecuali kalau kita
menjelaskan duduk perkaranya pada kedua polisi
di apartemen sebelah."
"Kalau begitu kita juga harus menjelaskan
bagaimana lukisan-lukisan itu bisa pindah ke sini,"
ujar Sporty. "Daripada begitu, lebih aku
bersekongkol dengan wanita itu saja hanya kita
yang mengetahuinya."

Jadi itu orangnya, Petra pun berkata dalam hati.


Dia memang sangat cantik. Tapi penampilannya
lebih mirip pelayan bar ketimbang seorang pelukis.
Ah, penampilan seseorang tidak berarti apa-apa.
Picasso-

"Nicole Tepler harus diberi kesempatan," Hubi


bergumam. "Saya yakin bahwa saya bisa
membimbing dia agar dia kembali ke yang benar.
Barangkali
saja
saya
bahkan
bisa
mempengaruhinya untuk melaporkan diri pada
polisi. Tindakan seperti itu menimbulkan kesan
yang positif. Rasa penyesalan seorang wanita
muda pasti mampu melunakkan hati hakim yang
paling

pelukis kenamaan berkebangsaan Spanyol-

keras sekalipun."

juga lebih mirip direktur hotel, clan Goethe-

Hubi berjalan ke meja dan menuangkan segelas


cognac.

Mereka menunggu. Tak seorang pun berbicara.


Semuanya memasang telinga untuk mengetahui
kejadian di apartemen sebelah.

"Maaf kalau kami telah mengganggu Anda, Nona


Tepler," polisi yang lebih tua berkata, "Sampai
jumpa. Ehm... Maksud saya, lebih baik jangan."

Tapi suasana di sana pun sepi-sepi saja. Kedua


polisi memeriksa apartemen Nicole tanpa
membongkar dinding ataupun lantai. Apakah
mereka berhasil menemukan sesuatu yang
memperkuat tuduhan terhadap wanita muda itu?

Kali ini ketiganya ketawa. Tapi tawa Nicole Tepler


terdengar seperti dipaksakan. Rupanya jantungnya
masih terlalu berdebar-debar.

Bagaimana polisi berhasil melacak jejaknya?


Sporty bertanya dalam hati.

Hubi membuka pintu, lalu menunggu sampai yakin


bahwa mereka benar-benar sudah pergi.

Sementara yang lainnya menunggu dengan


perasaan tegang, Oskar malah menghabiskan
potongan-potongan kue yang masih tersisa.

"Saya mau ke sebelah sebentar," katanya dengan


tegas. "Saya... saya perlu menjelaskan semuanya."

Thomasa berlutut dan mengamati keempat lukisan


dari dekat. Wah, memang benar! katanya dalam
hati. Lukisan-lukisan ini dibuat dengan meniru
gaya Cranachpersis seperti yang dikatakan Hubi.
Hmm, rasanya aku perlu memberikan sedikit
penjelasan mengenai kedua pelukis bernama
Cranach. Habis, Hubi tidak mengatakan apa-apa,
padahal pengetahuannya mengenai merekat pasti
mendalam sekali.
Petra duduk di samping Sporty sambil
menyandarkan kepala pada bahu sahabatnya itu.
Kejadian-kejadian yang begitu bertubi-tubi
membuat gadis cantik itu merasa agak lelah.
Waktu berjalan lambat. Menit demi menit berlalu
pelan.
Untuk mengatasi ketegangan, Hubi terpaksa
mengisi gelasnya untuk kedua kali.
Sporty memperhatikannya sambil mengerutkan
kening. Seorang pejudo yang tidak bisa latihan
seharusnya tetap menjaga kesehatannya. Minuman
beralkohol sama sekali tidak membantu dalam hal
ini.

Kedua polisi mulai menuruni tangga.

"Cepat!" Oskar berseru. "Sebelum dia melaporkan


kehilangannya pada polisi."
"Apakah kau tidak bisa memikirkan lelucon lain?"
tanya Pak Knoth sambil menatap Oskar.
Ia melangkah ke selasar dan menutup pintu
apartemennya.
Thomas segera membukanya kembali.
Keempat sahabat STOP mendengar guru mereka
menekan bel apartemen sebelah.
Beberapa detik kemudian Nicole Tepler membuka
pintu.
Aku yakin, wanita muda itu sedang berlinang air
mata, ujar Sporty dalam hati. Dia
pasti bingurxg sekali.
"Kelihatannya Anda masih beruntung kali ini,"
suara Hubi terdengar.
"Oh, Pak Knoth? Apa... apa maksud Anda?"

Pintu apartemen sebelah terdengar membuka.

"Apakah". apakah Anda bersedia datang ke


apartemen saya?" Hubi bertanya dengan kikuk.

Dalam sekejap Hubi dan keempat sahabat STOP


telah kembali ke pos pengintaian mereka.

Thomas segera membuka pintu lebar-lebar.


Hubi muncul sambil menyeringai tak keruan.

Dugaanku ternyata meleset jauh, pikir Sporty


ketika melihat Nona Tepler. Matanya sama sekali
tidak sembab. Dia justru nampak agak curiga.
Nicole Tepler berhenti. Ia menatap keempat
sahabat STOP yang berdiri di ambang pintu.
"Ini murid-murid saya," kata Hubi. "Mereka sudah
tahu semuanya. Tapi, silakan masuk dulu, Nona
Tepler. Kita bicara sambil minum kopi saja. Saya
juga masih punya beberapa potong kue."
Ucapan Hubi yang terakhir sebenarnya tidak sesuai
dengan kenyataan. Oskar telah menyikat
semuanyatanpa merasa bersalah.
"Halo!" Nicole Tepler menegur Sporty dan
kawankawan, lalu memaksakan diri untuk
tersenyum.
Ia melangkah masuk, kemudian berhenti di ruang
tamu. Pandangannya terarah pada keempat lukisan
palsu.

Tapi jendela di langit-langit Anda tidak terkunci,"


jawab Sporty. "Apakah Anda tidak memperhatikan
bahwa jendelanya sedikit terbuka ? Maaf, saya
terpaksa melubangi karet penyangganya. Tapi
lubang-lubangnya kecil-kecil. Apartemen Anda
takkan bocor karena itu."
Nona Tepler nampak gemetar. Cepat-cepat ia
duduk di sofa. Hubi memanfaatkan kesempatan ini
untuk memperkenalkan keempat muridnya.
Oskar lalu berkata, "Saya gembira sekali karena
bisa berkenalan dengan seorang pelukis yang
begitu berbakat. Tapi seandainya saya punya bakat
sebesar Anda, saya tidak akan memalsu lukisan
orang lain. Saya pasti akan melukis dengan gaya
saya sendiri. Kenapa Anda tidak menampilkan
gaya Nicole Tepler saja, sih?"
Dengan penuh perasaan, seperti biasanya, Oskar
membelokkan pembicaraan ke tema yang hendak
dibahas.
Akibatnya semua orang terdiam.

"Anda bahkan tidak bisa menghubungi polisi."


ujar Hubi sambil tersenyum, setelah menutup pintu
apartemennya. "Tapi jangan khawatir. Kami akan
mengembalikan
lukisan-lukisan
itu.
Atau,
bagaimana kalau saya beli saja semuanya? Hanya
saja saya terpaksa mencicil. Kecuali kalau Anda
mau melepaskan lukisan-lukisan itu dengan harga
miring."

Nicole mempermainkan jari-jarinya. Kemudian ia


mengedipkan mata dan menatap Hubi. "Ya, saya
memang telah memalsukan lukisan-lukisan itu..
Justru karena itulah saya selalu berusaha
menghindari Anda, Pak Knoth. Saya takut, Anda
akan ingin membicarakan hasil karya saya."

Anda tidak akan melaporkan saya pada polisi?

"Sekarang kita akan membicarakannya," ujar Petra.


"Apa yang Anda kerjakan selama ini adalah
penipuan."

Dengan hati-hati Hubi meraih tangan Nona Tepler,


lalu mencium jari-jarinya.
"Saya mengagumi Andabaik sebagai pelukis
maupun sebagai wanita."
Nicole tersenyum malu, lalu menarik tangannya.

"Saya... saya sebenarnya sudah lama ingin


berhenti. Tapi... saya perlu uang. Bayaran yang
saya peroleh tidak terlalu besar. Hanya saja... saya
mengakui bahwa saya memang suka meniru
lukisan-lukisan kuno. Tapi itu sudah berlalu. Saya
berjanji, saya tidak
akan mengulangi perbuatan
saya."

Oskar, yang berdiri di belakang Hubi, diam-diam


meniru gurunya. Tingkahnya mirip orang gila
ketika mencium jari-jari yang tidak nampak.

Petra hendak
mendahuluinya.

Saya tidak mengerti," Nicole berbisik.


"Bagaimana... bagaimana Anda bisa masuk ke
apartemen saya? Pintunya kan terkunci."

"Pertama-tama saya merasa perlu menjelaskan


bagaimana keempat lukisan Anda bisa berpindah
ke apartemen saya," katanya. Hubi memberikan

berkomentar,

namun

Hubi

penjelasan dengan serius, lalu melanjutkan,


"Karena itulah kami mengetahui kegiatan Anda.
Kami memutuskan untuk tidak melaporkan Anda
pada polisi. Sebaiknya Anda sendiri yang
melakukan itu, untuk menunjukkan rasa
penyesalan Anda. Kecuali itu, kami beranggapan
bahwa
Anda
hanya
diperalat.
Penjahat
sesungguhnya adalah orang yang memberi tugas
pada Anda. Sebenarnya dialah yang bersalah."
Sporty memperhatikan wanita muda di hadapan
mereka.
Wanita itu nampak gemetar. Matanya berkedipkedip, dan wajahnya menunjukkan penyesalan
yang mendalam. Tetapi sorot matanya tetap
sedingin es. Rupanya ia sedang mencari jalan
keluar, namun mulai sadar bahwa ia takkan bisa
mengelabui anak-anak STOP.
Ya, ia mendesah. "Dia memang memaksa saya.
Dia..." Ia terdiam sejenak. "Tapi kalau saya
mengatakannya...."
"Anda harus
mendesak.

mengatakannya,"

Pak

Knoth

"Dia atasan saya. Franz-Anton Klacksl, pemilik


Galeri K. Dia... dia... selalu berhasil menemukan
orang-orang bodoh yang tidak bisa membedakan
lukisan asli dengan lukisan palsu."
"Klacksl?" tanya Oskar. "Apakah dia juga seorang
pelukis?"

"Itu ide, yang baik, Thomas!" Pak Knoth memuji tanpa melepaskan pandangan dari Nicole. Wanita
muda itu menyadarinya, lalu membalas dengan
tersenyum lembut.
"'Kalian benar," Nicole mengakui. "Tapi... masih
ada". Begini, saya kira saya harus memberitahukan
rencana ini pada atasan saya.
Klacksl, si bajingan! pikir Sporty. Keterangan yang
diberikan Nona Tepler tadi memberikan kesan
bahwa dia tidak menyukai boss-nya. Tapi sekarang
dia merasa tidak enak kalau belum menghubungi
pemilik galeri itu. Apa maksudnya ini?
"Saya setuju sekali," ujar Hubi. "Anda memang
harus memberi tahu dia. Apakah Anda mau
meneleponnya?"
Sebenarnya memang itu cara yang paling mudah.
Tapi nanti kesannya seakan-akan saya takut
menghadapinya. Padahal saya sama sekali tidak
gentar untuk bertatap muka. Meskipun... Orangnya
agak berangasan. Kadang-kadang dia tidak bisa
menguasai diri. Terus terang saja, saya merasa
agak ngeri. Apakah Anda keberatan kalau saya
minta Anda untuk menemani saya?"
Oh sama sekali tidak!" Hubi berseru penuh
semangat. "Dengan senang hati kami akan
menemani Anda. Kita bisa naik mobil saya... Ah,
mobil saya terlalu sempit! Tapi kalau tidak salah
Galeri K dekat sini, bukan?
Betul," jawab Nicole dengan wajah bereri-seri.

"Bukan. Dia seorang pedagang. Dia sama sekali


tidak memiliki bakat seni," ujar Nicole sambil
menundukkan kepala. "Bajingan itu menjadi kaya
berkat lukisan-lukisan yang i saya buat. Tapi saya
sendiri hanya kebagian sedikit sekali."
"Berarti Anda tidak begitu bersalah," Thomas ikut
berkomentar. "Saya kira Anda tidak akan dijatuhi
hukuman penjara. Tapi dengan syarat bahwa Anda
segera melaporkan diri pada polisi. Ayah Petra
adalah Komisaris Emil Glockner. Anda pasti akan
diterima dengan penuh pengertian, jika Anda
menghubungi Pak Glockner."

Bagaimana, kalian ikut juga?" Pak Knoth


bertanya pada anak-anak STOP.
Tentu saja!" balas Petra cepat-cepat.
Sporty mengangguk seperti teman-temannya. Tapi
dalam hati ia merasa heran. Sorot mata Nona
Tepler membuatnya curiga. Apa rencana wanita
muda itu? Apa yang diharapkannya?

5. Berusaha Menyuap

PULUHAN merpati bertengger di atap rumahrumah pada kedua sisi Jalan Sperling. Burungburung itu seakan-akan menikmati matahari sore,
yang membuat bulu-bulu mereka kelihatan
berkilau.

menunjuk ke arah GaleriK. Galeri itu terletak di


lantai dua.

Suasana di jalan itu sepi-sepi saja. Para ibu rumah


tangga yang tinggal di daerah yang sekitar nampak
membawa barang belanjaan, atau mengobrol di
tepi jalan.

"Ini bakalan ramai," bisik Petra. "Kedok si Klacksl


akan terbongkar. Tapi kelihatannya Nona Tepler
merasa kikuk."

Hubi dan Nicole berjalan mendului anak-anak


STOP.
Dia pasti lagi kalang kabut, pikir Sporty sambil
memperhatikan Nona Tepler yang melangkah
pelan. Itu salahnya sendiri. Kenapa dia mau
disuruh memalsu lukisan untuk si Klacksl? Semua
orang juga perlu uang. Itu tidak bisa dijadikan
alasan.
Ia berjalan tepat di belakang keduanya. Tangan
kanannya merangkul bahu Petra.
Oskar dan Thomas merupakan buntut hifi
rombongan kecil itu. Ketika mereka melewati
sebuah toko kecil yang menjual bahan makanan,
Oskar langsung menghilang sejenak. Sewaktu
muncul kembali, ia sudah sibuk mengunyah. Selain
itu, dua keping coklat nongol dari kantong
celananya.
Thomas mempertimbangkan apakah ini saat yang
tepat untuk memulai ceramah mengenai kedua
pelukis bernama Cranach. Tapi sebelum ia sempat
berkonsentrasi, mereka sudah sampai di tempat
tujuan.
Rombongan kecil itu berdiri di depan gedung
pertokoan modern yang terletak di tepi sebuah
jalan yang ramai. Mobil-mobil nampak berlalu
lalang. Kantor-kantor baru tutup, tapi tidak semua
orang langsung pulang ke rumah masing-masing.
Banyak di antara mereka yang mampir dulu ke
cafe-cafe.
Gedung pertokoan itu agak sempit. Lantai
dasarnya ditempati oleh sebuah toko karpet.
Sebuah tanda panah yang terbuat dari kuningan

Nicole mendului yang lain. Hubi menyusul tepat di


belakangnya.

Nicole menunggu di depan sebuah pintu kaca yang


bertulisan huruf-huruf emas. Melalui pintu ini,
mereka bisa melihat ke dalam ruang pamer galeri.
Ruangan itu dihiasi beberapa cermin dengan
bingkai mewahserta sekitar dua lusin lukisan
bergaya Cranach
Apakah semua lukisan itu hasil karya Anda,
Nicole?" tanya Hubi sambil terbengong-bengong.
Ehm... ya. Tapi... saya pernah mengalami masa
kreatif, di mana segala sesuatu berjalan dengan
lancar. Bos saya saja sampai tercengang, karena
pesanannya selesai begitu cepat. Namun belum
banyak yang sempat dijualnya."
Rupanya Anda sempat bekerja keras pada masa
kreatif itu," Sporty menanggapinya dengan dingin.
Komentar Sporty kurang berkenan di hati Nicoe.
Itu terlihat jelas pada wajahnya. Tetapi ia tidak
menjawab, melainkan langsung membuka pintu
dan melangkah masuk.
Franz-Anton Klacksl muncul dari ruang sebelah.
Pasti itu orangnya. Sporty memiliki indra keenam
dalam urusan seperti ini. Sorot mata pria itu ketika
melihat Nona Tapler juga mengungkapkan
berbagai hal. Misalnya: Apakah mereka calon
pembeli? Atau ada apa sebenarnya?
Ini Tuan FranzAnton Klacksl," ujar Nicole
dengan kaku.
Atasannya segera mengerti. Sambil nyengir ia
membungkuk di hadapan Pak Knoth.
"Saya gembira bahwa Anda bersedia mengunjungi
galeri saya. Anda pasti mendapat rekomendasi. Ya,
Nona Tepler memang ahli dalam hal seni lukis."

Hubi sama sekali tidak tersenyum. Namun sebelum


ia sempat membuka mulut, Nicole telah berkata,
"Ehm... urusannya agak berbeda. Perbuatan kita
telah terbongkar. Pak Knoth dan murid-muridnya
sudah tahu bahwa saya... ehm... memalsukan
lukisan-lukisan kuno, Mereka sempat masuk ke
apartemen saya dan yang lebih gawat lagi, Pak
Klacksl, salah seorang saingan Anda telah
melaporkan saya pada polisi. Tadi siang apartemen
saya digeledah oleh dua polisi. Tapi mereka tidak
menemukan apa-apa. Saya terpaksa memberitahu
Pak Knoth bahwa saya bekerja untuk Anda.
Namun saya juga menekankan bahwa Anda...
ehm... bahwa Anda menggunakan cara ini untuk
lebih memasyarakatkan seni lukis. Dan
ehm...Anda sangat dermawan"."
Nicole Tepler tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia
hanya mendesah perlahan, lalu mengusap
rambutnya. Dalam hati ia berdoa agar Klacksl
mengambil langkah yang tepat. Dan itulah yang
dilakukan oleh si pemilik GaleriK. Franz-Anton
Klacksl langsung memahami duduk perkaranya. Ia
tidak kelihatan terkejut. Senyumnya bahkan
bertambah lebar.
...sangat dermawan...! pikir Sporty. Nona Tepler
telah menyebutkan kata kunci. Ya, itu dia.
Sekarang akan terlihat rencana apa yang telah ia
susun. Kemungkinan besar, boss-nya akan
mencoba menyuap kami.
Franz-Anton Klacksl berbadan pendek dan gendut.
Tetapi gerak-geriknya lincah sekali. Rambutnya
sudah mulai menipis, dan tersenyum terus. Namun
itu tidak berarti apa-apa, sebab sorot matanya tetap
dingin. Klacksl adalah pengusaha yang tidak
segan-segan melakukan penipuan. Yang penting, ia
bisa meraih keuntungan.
Aneh! pikir Sporty. Orangorang seperti itu
semuanya berwatak sama. Penampilan mereka
memang
berbedabeda,
tetapi
semuanya
memancarkan kesan serakah.

seakan-akan baru memperoleh berita baik dari


Nicole.
Sebaiknya kita langsung membicarakan pokok
permasalahan saja, Pak Knoth. Penampilan Anda
bukan seperti seseorang yang bergelimangan harta.
Saya bersedia membantu Anda, asal Anda mau
melupakan urusan ini. Katakan saja berapa jumlah
yang Anda inginkan. Dan mengenai rombongan
anak muda ini, saya rasa tambahan uang saku pasti
diterima dengan tangan terbuka. Bukan begitu?" ,
Sambil tersenyum lebar,
menatap Thomas.

pemilik

galeri

itu

Thomas langsung berkata, "Satu kata lagi, dan saya


akan meludahi Anda!"
"Saya sudah mengumpulkan ludah dalam mulut!"
seru Oskar dengan sengit. "Ludah saya bercampur
coklat. Pakaian Anda pasti belepotan kalau kena,
Pak Klacksl."
Pemilik galeri itu langsung mundur beberapa
langkah.
Pak Klacksl!" Nicole Tepler berkata cepat-cepat.
"Apa-apaan ini? Sepertinya Anda ingin menyuap
Pak Khoth dan murid-muridnya. Itu tidak benar!
Anda dan saya telah menempuh jalan yang salah.
Tapi sekarang saya sudah tobat. Saya akan
melaporkan diri pada polisi, dan berharap agar
mereka mau mengerti keadaan saya. Saya
menyesal sekali bahwa saya terpaksa melibatkan
Anda."
Menggelikan! pikir Sporty. Rupanya Nona Tepler
menyangka bahwa kami akan tergoda dengan
tawaran bos-nya. Dari luar dia memang kelihatan
menyesal tapi hanya karena tidak ada jalan lain.
Hubi tidak menyadarinya. Dia sudah telanjur jatuh
cinta pada Nona Tepler.
Namun Klacksl belum memahami situasi yang
dihadapinya.

"Anda tidak keberatan, bukan?" .


Kiacksl melangkah maju dan mengunci pintu dari
dalam.
Kemudian
ia
membalik
sambil
menyeringai. Ia bahkan menggosok-gosok tangan,

"Diam, Nicole!" ia menghardik wanita muda itu.


"Gara-gara kau perbuatan kita terbongkar. Biar
saya saja yang membereskan urusan ini. Heh, Pak

Knoth! Saya akan memberikan 5000 Mark, tunai!


Bagaimana?"

Oskar
segera
mendekatdengan
pipi
menggembung. Ia mendengar ucapan Klacksl, dan
kini hendak melaksanakan ancamannya tadi.

"Jangan main-main!" ujar Hubi dengan tegas.


"Telan saja ludahmu," ujar Sporty.
Klacksl salah mengerti. "Baiklah, 7000 Mark. Dan
bocah-bocah ingusan ini akan..."
"Keterlaluan! Sekarang aku akan meludahinya,"
seru Oskar dengan geram.
Tapi Sporty menahan sahabatnya. "Kita tidak perlu
repot-repot karena Tuan ini. Nona Tepler, di sana
ada telepon. Petra akan menghubungi ayahnya.
Dan Anda harus mengakui segala perbuatan Anda.
Sepuluh menit lagi Komisaris Glockner sudah akan
berada di sini. Sementara itu, Pak Klacksl bisa
memamerkan koleksi benda seninya pada kami."
Pada detik berikutnya si pemilik galeri kehilangan
kesabaran. Wajahnya menjadi merah padam.
Sambil berteriak ia menyerang Nicole.
Hubi segera bertindak. Dengan sebelah tangan ia
membanting pria gendut itu. Tapi Klacksl hanya
berguling seperti bola, berdiri lagi, lalu bergegas
pergi ke dinding. Seperti kesetanan ia menurunkan
lukisan-lukisan palsu yang dipajang.
Ia sudah berhasil mencopot tiga lukisan, ketika
Sporty turun tangan dan melumpuhkannya dengan
satu teknik cekikan.
"Jangan macam-macam," si pemimpin kelompok
STOP berkata dengan ketus. "Enak saja!
Mengumpulkan barang bukti, lalu kabur lewat
pintu belakang. Petra! Coba giring Nona Tepler ke
telepon. Sudah waktunya keadilan ditegakkan
usaha penyuapan mereka toh tidak berhasil."
Nicole Tepler memahami sindiran Sporty. Sebelum
menghampiri pesawat telepon, ia masih sempat
memelototi anak itu.
Klacksl bermandikan keringat dingin.
Sementara Petra menelepon, ia berbisik, "Lepaskan
saya! Saya akan memberimu 8000 Mark, kalau kau
membiarkan saya kabur lewat pintu belakang."

Delapan menit kemudian Komisaris Glockner telah


tiba. Ia memang selalu beraksi dengan cepat.
Lebih-lebih kalau Petra yang minta tolong, maka ia
akan bergerak secepat roket. Ketiga sahabat Petra
pun menganggapnya sebagai sekutu yang paling
bisa diandalkan.
Ditemani dua rekannya, Komisaris Glockner
memasuki Galeri-K.
Dengan cekatan mereka memeriksa setiap sudut.
Pak Knoth ikut membantu. Sebagai ahli sejarah
seni, ia menyatakan bahwa hampir setiap benda
yang ditawarkan dengan harga tinggi, sebenarnya
merupakan barang tiruan. Bagian Nicoleuntung
sajahanya terbatas pada beberapa lukisan. Tetapi
Klacksl terbukti sebagai penipu besar.
Ia langsung ditahan.
Tidak demikian halnya dengan Nicole.
Wanita muda itu hanya diminta untuk ikut ke
kantor polisi. Tetapi setelah memberikan
keterangan, ia boleh pulang ke apartemennya
begitulah Komisaris Glockner berjanji pada Pak
Knoth. Guru muda itu memang sudah kalang
kabut. Hampir saja
menghubungi seorang
pengacara untuk mendampingi Nona Tepler.
Dia hanya memegang peran kecil dalam masus
ini," Pak Glockner menenangkan Hubi. "Jadi Anda
tidak perlu repot-repot. Nona Tepler memang
harus tampil di pengadilan. Tapi para hakim takkan
menjatuhkan hukuman berat padanya."
Thomas, yang ikut mendengarkan pembicaraan
antara ayah Petra dan Hubi, mengangguk dengan
puas. Ternyata ramalannya tepat sekali.
Sebelum Komisaris Glockner kembali ke kantor,
Petra buru-buru buru mencium pipi ayahnya.
GaleriK ditutup. Para polisi membawa FranzAnton Klacksl, yang kini kelihatan pucat pasi.

Nicole
Tepler
menyusul.
Ia
berusaha
memperlihatkan bahwa ia berada di pihak para
polisi. Anak-anak STOP memperhatikan mobil
patroli menghilang di ujung jalan. Hubi mendesah
perlahan. Belum apa-apa ia sudah merasa
kehilangan Nicole.
Mudah-mudahan tidak ada kesulitan bagi Nona
Tepler," katanya.
Terus terang saja," ujar Sporty. "Bagi saya, dia
tidak terlalu menarik. Saya yakin, dia menyimpan
udang di balik batu."
"Nona Tepler adalah wanita yang sangat menarik.
Dia hanya terdesak oleh keadaan," Hubi membela
pujaan hatinya.
Kasihan, pikir Sporty. Gara-gara cinta, Hubi jadi
buta terhadap kenyataan. Mudah-mudahan saja dia
tidak terlalu kecewa nanti.

Ya, itu yang akan saya lakukan," kata Hubi


sambil mengangguk. "Saya sangat berterima kasih
pada kalian. Bantuan kalian sangat berarti."
Tidak lama kemudian mereka tiba di apartemen
Hubi. Tak seorang pun mengutak-atik sepedasepeda anak-anakanak STOP, maupun mobil Hubi,
selama mereka pergi.
Keempat sahabat itu berpamitan. Sporty dan Oskar
harus segera kembali ke asrama.
Kita tidak boleh telat untuk makan malam, kata
Oskar dengan wajah serius.
"Aku masih harus ke toko swalayan untuk
membeli makanan untuk Bello," ujar Petra.
Hubi telah menghilang
apartemen itu.

ke

dalam

gedung

Thomas sudah duduk di atas sepedanya.


Mereka kembali ke Jalan Sperling.
Dalam perjalanan Hubi berkata, "Nona Tepler
telah mengakui kesalahannya. Dia menyesal, dan
karena itu melaporkan diri pada polisi. Saya pun
harus melakukan hal yang sama. Kalian telah
berkenalan dengan ayah saya. Saya merasa
bersalah sekali karena kejadian tadi siang. Tekanan
darahnya belum begitu parah. Ayah saya pun harus
menerima kenyataan bahwa anaknya tidak sehebat
yang dibayangkannya. Saya hanya manusia biasa.
Saya tergoda oleh mobil Porsche itu. Itu kesalahan
saya,
dan
saya
harus
mempertanggungjawabkannya. Saya sudah siap
sekarang. Nanti saya akan menelepon ayah saya
lalu mengakui semuanya."
"Jangan terburu-buru," ujar Thomas. "Maksud
saya, berita seperti ini sebaiknya disampaikan
secara hati-hati. Barangkali saja beliau ketawa jika
mendengar
bagaimana
Anda
berusaha
memperindah apartemen Anda dengan lukisanlukisan kuno. Apalagi kalau dia mendengar bahwa
berkat usaha Anda, seorang penipu berhasil
ditangkap polisi, dan seorang pemalsu lukisan...
ehm... biar Anda saja yang menjelaskannya."

Oskar membuka sekeping coklat. Ia membutuhkan


tambahan tenaga agar bisa mencapai sekolah
asrama.
Sampai besok, ya." Dengan mesra Sportyr
merangkul Petra.
Thomas dan Oskar cepat-cepat mengalihkan
pandangan, ketika Sporty mencium pipi gadis itu.
Matahari telah condong ke barat. Bayang-bayang
semakin panjang.
Anak-anak STOP sebenarnya enggan berpisah
terutama Petra dam Sporty. Tapi mereka agak
terhibur karena besok akan bertemu lagi. .

6. Sampanye dan Bunga Mawar


KOMISARIS GL0CKNER memenuhi janjinya.
Pemeriksaan di kantor polisi tidak berlangsung
lama. Nicole hanya diminta mengulangi
keterangannya. Ia melemparkan semua kesalahan
pada Klacksl, lalu menandatangani surat
pengaduan. Setelah berjanji bahwa ia tidak akan

mengulangi
pulang.

perbuatannya,

ia

diperbolehkan

Begitu keluar dari kantor polisi, wanita muda itu


langsung memanggil taksi. Ia hendak pergi ke
rumah ibunya.
Magda Tepler tinggal di suatu daerah di pinggir
kota, di mana garasi merupakan barang langka.
Setiap malam mobil-mobil tampak berderet-deret
sepanjang jalan. Rumah-rumah kecil berdempetan
di sebuah jalan sempit. Di satu sisi jalan terdapat
sembilan rumah, di sisi seberang ada dua belas.
Magda mendiami rumah pojok pada sisi dengan
sembilan rumah.
Nicole membayar ongkos taksi, lalu berjalan ke
rumah ibunya. Setelah dua kali menekan bel,
pintunya membuka.
Ibu! Nicole hampir saja berseru, tapi apa yang
dilihatnya menyebabkan ia mengerutkan kening.
"Halo, anakku!" Ottmar Lohmann menyambutnya
sambil nyengir lebar.
"Wah, ini baru kejutan," balas Nicole dingin.
"Rupanya kau lebih ngotot dari yang kuduga."
"Seandainya kau memang anakku, maka aku akan
mengajarkan sopan santun padamu. Ayo, masuk
dulu. Aku dan ibumu sedang mengingat-ingat
kenangan di masa lalu.
Magda Tepler duduk di ruang tamu. Ia sedang
menghabiskan segelas minuman keras. Di atas
meja masih ada satu gelas lagi.
Mereka merayakan pertemuan ini, pikir Nicole.
Ternyata cinta pertama tidak mudah padam.
"Ibu!" ia berseru, lalu merangkul Magda. "Ibu pasti
tidak bisa menebak dari mana aku."
"Pasti bukan dari kantor polisi," ujar Magda sambil
ketawa. "Soalnya aku sudah menelepon ke sana.
Aku menanyakan mengapa putriku dijemput dari
tempat kerjanyatanpa alasan sama sekali.
Seorang polisi bernama Komisaris Dolp lalu
menjelaskan bahwa kau menjadi korban fitnah

fitnah yang kemungkinan besar dilancarkan oleh


saingan bosmu. Komisaris Dolp minta maaf
padaku, kemudian menambahkan bahwa kau
memang tidak bersalah dan..."
"Ah, berita itu sudah basi," Nicole memotong.
"Aku baru saja dari kantor polisi. Klacksl sudah
masuk bui. Hanya karena memasang tampang tak
berdosa, aku tidak ikut ditangkap. Aduh! Tasku
ketinggalan di toko!
"Kalian terlalu banyak berurusan dengan polisi,"
Lohmann menggerutu.
"Untuk apa sih, dia datang ke sini?" Nicole
bertanya pada ibunya. "Apakah dia mencoba
memeras lbu?"
Magda Tepler kembali ketawa. Ia sudah
menghabiskan beberapa gelas minuman keras.
Lohmann sengaja membawa botol minuman yang
mahal. Namun yang mahal cuma botolnya. Isinya
telah ditukar dengan minuman murahan.
"Dia ternyata masih seperti dulu," ujar Magda.
"Hanya tidak segagah 20 tahun yang lalu. Tapi
menurut dia, aku sama sekali tidak berubah. Ah,
ia menambahkan sambil menatap Lohmann,
"sebenarnya aku pun berubah, Ottmar. 20 tahun
bukan waktu yang singkat."
Sambil nyengir Lohmann menuangkan minuman
ke dalam gelasnya.
Magda dan Nicole memang mirip sekali, ia berkata
dalam hati. Bedanya, Magda sudah 20 tahun lebih
lama menanggung akibat polusi udara. Tapi wajah
mereka bagaikan pinang dibelah dua.
"Jadi?" Magda bertanya pada putrinya. "Kau
berurusan lagi dengan polisi?"
"Pengalamanku kali ini benar-benar tidak masuk
akal, jawab Nicole. Kemudian ia mulai bercerita.
Lohmann mendengarkan sambil geleng-geleng
kepala.
"Kau beruntung sekali," ujar Lohmann setelah
Nicole selesai. "Kelihatannya polisi percaya bahwa

kau benar-benar r sudah kapok. Tapi untuk


sementara kau harus berhenti melukis. Aku
memang kagum melihat bakat yang kaumiliki, tapi
apa gunanya? Lukisan tidak membawa keuntungan
besar. Seandainya kau memalsukan uang, maka..."
"...maka aku sekarang sudah meringkuk dalam
penjara," Nicole memotong. "Lagi pula aku merasa
sebagai seniman. Kemampuanku hanya belum
diakui oleh masyarakat luas."
"Menurut aku sih, kau hanya membuang-buang
waktu," ujar Lohmann. "Aku lebih tertarik pada
usaha yang bisa mendatangkan uang banyak dalam
waktu singkat."
"Sejak dia datang," kata Magda, "aku berusaha
mengorek keterangan mengenai rencananya. Apa
yang dikatakannya padamu tadi, Nicole? Kita akan
menerima uang banyak? Nah, Ottmar," ia
berpaling pada benas pacarnya, "terus terang
sajalah. Apa rencanamu sesungguhnya?"
"Kalian pasti berminat membantuku, kan?" tanya
Lohmann sambil tersenyum simpul.
"Aku kan sudah mengatakan bahwa kami punya
banyak kenalan," Nicole menjelaskan. Barangkali
saja salah seorang dari mereka berguna untuk
melaksanakan rencanamu."
Lohmann menatap pesawat TV yang membisu di
pojok
ruangan.
Modelnya
sudah
kuno,
kemungkinan besar masih hitam-patih, dan penuh
debu. Magda memang bukan tipe wanita yang
mengutamakan kebersihan. Ia lebih suka
menenggak minuman keras daripada mengerjakan
tugas-tugas ibu rumah tangga.
Kelihatannya mereka bisa dipercaya, pikir
Lohmann. Lagi pula aku sudah terlalu banyak
membuka rahasia. Aku tidak bisa mundur lagi.
Mungkin ada baiknya kalau aku menjelaskan
rencanaku pada mereka. Tanpa menyebutkan
nama-nama, tentu saja.
"Oke, dengarkan baik-baik," katanya. "Di sini ada
sebuah
perusahaan
bahan
kimia
yang
menghasilkan limbah beracun. Satu gelas saja bisa
membunuh sepuluh orang. Kalau cairan itu sempat

masuk ke air tanah, maka kota ini akan mengalami


krisis air bersih."
"Oh ya, berita seperti ini sudah sering masuk
koran," Magda berkomentar. "Kalau tidak salah
ada hubungannya dengan hujan asam."
"Hmm." Lohmann sebenarnya tidak sependapat.
Tetapi ia langsung melanjutkan penjelasannya,
"Rencanaku menyangkut limbah beracun itu.
Perusahaan tadi menggunakan mobil tangki untuk
membawa cairan itu ke tempat pemusnahan
limbah. Itu kata mereka. Mungkin juga mereka
membawanya ke tempat sepi, lalu membuangnya
ke salah satu sungai. Pokoknya, cairan itu dibawa
dengan mobil tangki."
"Di koran memang pernah ada artikel mengenai
itu," Magda menanggapinya.
Rupanya dia sering membaca koran, pikir
Lohmann. Kemudian ia kembali berkata, "Aku
merencanakan untuk membajak salah satu mobil
tangki itu. Mobil itu akan kusembunyikan. Aku
sudah menemukan tempat yang cocok. Setelah itu
aku akan menghubungi perusahaan kimia tadi.
Mereka harus membayar setengah juta Mark.
Kalau tidak, maka aku akan menguras isi mobil
tangki itu."
Dengan bangga Lohmann menatap kedua wanita di
hadapannya.
"Lho, cairan itu kan sudah tidak dipakai lagi,
bukan?" tanya Nicole.
Lohmann mengangguk.
"Kalau begitu, mana mungkin perusahaan itu mau
mengeluarkan uang agar kau mengembalikan
limbah mereka?"
"Bukan limbahnya yang penting, Nicole! Tapi
akibat-akibat yang mungkin timbul, Aku akan
mengancam akan meracuni air tanah, kebunkebun buah-buahan, ladang pertanian, tempat
bermain anak-anak, rumput di stadion sepak
boladan entah apa lagi. Bencana yang mungkin
timbul tidak kalah hebatnya dengan akibat
serangan bom atom terhadap kota ini. Mengerti?

Ancamanku memang agak berlebihan. Tapi tunggu


saja sampai pers mendengarnya

Nicole menatap Lohmann seakan-akan merasa


kasihan padanya.

Para kuli tinta akan menggembar-gemborkannya


sebagai kiamat bagi seluruh Eropa Barat. Pemilik
perusahaan bahan kimia itu takkan berani
mengambil risiko. Percayalah!"

"Ya, dia mau main rahasia-rahasiaan."

Kenapa kau begitu yakin?" tanya Magda.

Kini giliran Nicole untuk mengedipkan mata pada


ibunya. "Bagaimana kalau kita main tebaktebakan, Bu? Aku berani bertaruh, si Gaek ini pasti
akan kalang kabut."

"Soalnya, sekarang saja dia sudah diserang segala


penjuru. Industri penghasil limbah beracun sangat
dibenci oleh masyarakat. Mereka dianggap sebagai
sekutu setan. Pemilik perusahaan kimia itu pasti
menyadarinya Dia pasti akan menempuh segala
cara untuk mencegah berita itu menyebar. Dia
takut bahwa masyarakat akan mencapnya sebagai
perusak lingkungan. Kalau sudah begitu, dia pasti
akan kehilangan subsidi yang diberikan oleh
pemerintah. Karena itulah aku yakin, pemilik
pabrik itu pasti akan memenuhi semua tuntutan
yang kuajukan."
Magda menatap gelas di tangannya. "Rasanya sih,
rencanamu bisa berhasil."

"Tenang saja," Lohmann menggerutu. "Pokoknya


kalian akan memperoleh bagian yang pantas."

"Aku yang mulai," ujar Magda sambil ketawa.


"Tapi sebelumnya aku mau minum segelas lagi.
Kau juga mau, Nicole?"
Nicole menolak. Ia masih agak tegang karena
kejadian tadi siang.
"Aku mengenal daerah ini sejak masih kanak
kanak," kata Magda. "Karena itu aku sudah punya
bayangan. Ottmar, bagaimana pendapatmu tentang
PT Nosiop?"
Lohmann langsung membelalakkan mata.

Nicole nampak bersemangat sekali. "Tentu saja!


Tapi kenapa kau hanya minta setengah juta Mark?
Kenapa tidak sejuta saja sekalian?"
"Aku tidak mau terlalu serakah," jawab Lohmann
cepat-cepat. Ia sengaja tidak menyinggungnyinggung bahwa sebenarnya ia berniat minta satu
juta Mark. Dengan merahasiakan keuntungan yang
akan ia peroleh, maka sebagian besar uang akan
masuk ke kantongnya sendiri.
Hal-hal seperti itu masih bisa kita bicarakan
nanti," kata Magda. "Yang ingin kutanyakan,
perusahaan kimia mana yang kauincar, Ottmar?"

"Hah? Ada apa dengan perusahaan itu?"


"Hahaha, berarti tebakanku tepat," kata Magda
riang. "Tapi kau takkan bisa menebak
siapa
sumber informasi kami."
"Memang," Lohmann mengakui.
Kami tahu banyak sekali mengenai limbah
beracun yang dihasilkan oleh PT. Nosiop," Nicole
melanjutkan sambil ketawa cekikikan. "Dari bibi
ibuku."
Apakah dia bekerja di sana?"

"Maaf saja, tapi itu rahasiaku," ujar Lohmann


sambil nyengir kuda.
"Kau dengar itu, Nicole? Rupanya dia tidak
percaya pada kita."
Ia mengedipkan sebelah mata pada putrinya.

Nicole dan ibunya langsung ketawa.


Agatha Tepler adalah wanita tua yang kaya raya,"
Magda menjelaskan. "Kami adalah saudarasaudaranya yang hidup dalam kemiskinan. Agatha
sama sekali tidak menduga bahwa Nicole dan aku
menggemari hal-hal yang... ehm... agak
menyerempet bahaya. Orangnya memang agak

aneh. Kadang-kadang dia memberikan sejumlah


uang pada kami. Misalnya pada hari Natal. Dia
suka sekali pada Nicole."

Ia menatap Magda dan Nicole seakan-akan


mengharapkan uluran tangan mereka. Tetapi kedua
wanita itu diam saja.

"Apa hubungannya dengan PT Nosiop?" tanya


Lohmann.

Magda kembali menghabiskan minumannya.


Kemudian ia bertanya, "Di mana kalian akan
menyembunyikan mobil tangki itu?"

"Sabar, dong! Agatha mewarisi sebuah rumah


mewah, serta setumpuk uang, dari seorang laki-laki
bernama Georg von Hummel. Sebenarnya mereka
tidak pernah menikah. tapi berdasarkan undangundang yang baru, Agatha memang berhak
mendapat warisan itu. Tapi rumah itu sudah
dijualnya. Kini dia tinggal serumah dengan
seorang sahabatnya, seorang wanita tua yang
cerewet dan berbahaya. Namanya Emma GisenHapplich. Kalau kau tahu sedikit saja tentang PT
Nosiop, maka kau seharusnya sudah mengerti
sekarang. Emma Gisen-Happlich adalah ibu
Direktur Gunter Gisen-Happlich. Nenek tua itu
memang tidak punya jabatan resmi, tapi dia masih
suka ikut campur dalam perusahaan anaknya.
Kecuali itu, dia menceritakan segala sesuatu
mengenai perusahaan itu pada Agatha. Sedangkan
Agatha menceritakannya pada kami, soalnya dia
tidak punya bahan pembicaraan lain Maklum saja,
namanya juga nenek-nenek Kalau tidak bercerita
mengenai acara TV kemarin, mereka pasti
mengungkit-ungkit kehebatan zaman dulu."
"Aha!" kata Lohmann. "Lalu bagaimana? Apakah
rencanaku mungkin berhasil?"

Lohmann menyadari bahwa tak ada gunanya kalau


ia masih berusaha merahasian kan rencananya.
Karena itu ia memutuskan untuk membeberkan
semuanya.
"Di Lembah Neraka. Kalian pasti tahu tempatnya.
Lembah itu mudah dicapai dari jalan bebas
hambatan. Gnaski mengenal daerah itu. Di sana
ada sebuah terowongan tua yang tidak pernah
diselesaikan. Pekerjaan membuat terowongan itu
dihentikan karena keburu ada jalan bebas
hambatan. Menurut Gnaski, terowongan itu
menjorok sekitar 80 meter ke dalam batu cadas.
Terowongan itu cukup tinggi dan cukup lebar
untuk menampung sebuah mobil tangki. Mulut
terowongan ditutupi dengan papan kayukarena
kemungkinan bahaya runtuh. Pemerintah mungkin
takut kalau-kalau terowongan itu dijadikan tempat
bermain oleh anakanak kecil. Gnaski dan aku
akan membongkar papan-papan itu, lalu
menyembunyikan mobil bajakan kita di dalamnya.
Kemudian mulut terowongan akan kita tutup
lagibahkan lebih rapat dari sebelumnya. Baru
setelah itu aku akan menghubungi PT Nosiop, dan
pada hari berikutnya kita semua sudah kaya raya."

Magda mengangguk. "Aku rasa bayanganmu


tentang Direktur Gisen-Happlich sudah tepat.
Limbah beracun merupakan masalah yang sangat
peka bagi dia."

"Kalau semuanya berjalan lancar," ujar Magda,


"maka Nicole dan akulah yang pertama-tama akan
mengucapkan selamat pada Gnaski dan kau."

Lohmann nampak puas sekali. Ia mencium isi


gelasnya, lalu menenggaknya sampai habis.

"Terima kasih sebelumnya," jawab Lohmann


sambil menuangkan minuman ke dalam gelasnya.

"Jadi kau bermaksud membajak salah satu mobil


tangki pengangkut limbah beracun," ujar Magda.
"Tentu saja kau tidak akan beraksi seorang diri,
bukan?"

Magda dan Nicole bertukar pandangdengan


kecepatan secepat cahaya. Tanpa perlu membuka
mulut, mereka telah menyusun rencana. Mereka
sudah tahu apa yang sama-sama mereka inginkan.

"Tepat sekali. Seorang kenalan lama sudah


mempersiapkan segala sesuatu. Bert Gnaski dulu
merupakan orang yang bisa diandalkan. Tapi
sekarang... Ah, semuanya pasti beres."

"Sayangnya Gnaski sekarang sudah agak pikun,"


Lohmann mengomentari rekannya. "Kalau kalian
punya kenalan yang cocok, maka aku bersedia

mengajaknyatentu saja dengan imbalan yang


pantas. Bagaimana?"
Magda menggeleng. "Wah, siapa, ya?" ia berlagak
bingung.
"Rencanamu benar-benar kelas berat," ujar Nicole.
"Kenalan-kenalanku takkan berani ikut dalam
urusan sebesar ini."
Lho? Ada apa ini? Lohmann menatap kedua
wanita itu sambil terheranheran. Tadi mereka
mendesak-desak minta dilibatkan. Kenapa mereka
sekarang tiba-tiba mundur lagi? Lohmann
memeras otak, namun ia tidak bisa menerka apa
yang sedang dipikirkan oleh Magda dan Nicole.
Tidak apa-apa! Kalau mereka tidak berminat, maka
ia pun tidak mau memaksa. Malah kebetulan!
Dengan demikian ia tidak perlu membagi
keuntungan.
Kini Lohmann tinggal memastikan bahwa mereka
tidak akan membocorkan rahasianya. Dan cara
yang paling tepat untuk itu adalah dengan memberi
uang.
"Berapa jumlah yang kalian minta?" Lohmann
bertanya. "Bagaimanapun juga, kalian sudah
mengetahui rencanaku. Kau, Magda, sejak dulu
punya tempat khusus di hatiku. Dan Nicole mirip
sekali denganmu. Dengan senang hati aku akan
memberikan sebagian dari keuntunganku pada
kalian. Asal jangan terlalu banyak saja, ia
menambahkan dalam hati.
Kali ini Magda dan Nicole bahkan tidak perlu
bertukar pandang.
"Astaga, Ottmar!" Magda pura-pura tersinggung.
"Mana mungkin kami menuntut bagian? Kami
bukan pemeras. Kau tidak perlu memikirkan kami.
Apa yang terjadi antara kau dan aku adalah bagian
dari masa lalu. Kalau kau memang ingin
memberikan sesuatu pada Nicole dan aku setelah
berhasil, maka itu hakmu. Tapi jangan berlebihan.
Seikat bunga atau sebotol sampanye pun sudah
cukup."

Lohmann merasa seperti sedang bermimpi. Apakah


ia tidak salah dengar? Magda dan anaknya tidak
mengharapkan apa-apa?
Ini adalah puncak ketololan! Tapi kalau memang
itu yang mereka kehendaki, maka ia pun tidak
keberatan.
"Kalau rencanaku berhasil," Lohmann berjanji
dengan napas memburu, "maka aku akan
membawa sepeti sampanye dan memborong semua
mawar di toko bunga."
Magda hanya tersenyum.
Nicole berdiri, lalu mengatakan bahwa ia akan
pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan siang.
"Sampai ketemu," ia berkata pada Lohmann, yang
nampak terheran-heran. Ia sama sekali tidak
menawari agar Lohman ikut makan siang.
Magda sendiri masih kenyang, karena kebanyakan
minum.
Setelah menghabiskan isi gelasnya, Lohmann pun
mohon diri. Ia berdiri dan mencium kening
Magdanamun tidak semesra seperti dulu.
"Besok aku datang lagi," pria itu berkata. "Kalian
berdua begitu mempesona. Kalian membuat aku
merasa seperti seorang suami dan seorang ayah.
Baru sekarang aku sadar bahwa aku merindukan
kehangatan sebuah keluarga. Kalau saja aku
memiliki istri dan anak seperti kalianwah, itu
merupakan cita-cita yang tidak mungkin terkabul."
Ia ketawa. "Kalian ternyata tidak termasuk jenis
manusia yang mata duitan. Cuma sampanye dan
bunga mawar? Orang lain pasti sudah mencoba
mengeruk keuntungan dariku."
Setelah Lohmann pergi, Nicole segera keluar dari
dapur.
"Daun bawangnya habis ya, Bu?"
"Kenapa tidak pakai bawang saja?"
"Nanti napasku berbau tidak enak, dong!"

"Ah, si Fred mana peduli."


Yang dimaksud adalah Friedrich Petullje, alias
Fred, seorang bajingan kelas kakap. Sejak awal
tahun ini Nicole sudah menganggap Fred sebagai
tunangannya.
Tempat tinggal Fred tidak jauh dari rumah Magda.
Nicole menghubunginya lewat telepon dan dalam
waktu kurang dari lima menit lelaki itu sudah
berdiri di depan pintu.
Penampilan laki-laki itu lebih tua dari usianya
yang baru 26 tahun. Ia berbadan tinggi besar dan
selalu berpakaian perlente. Menurut Fred, dalam
keadaan gelap gulita pun matanya masih bisa
melihat. Rambutnya yang coklat dan berombak
setiap tiga minggu sekali dirapikan oleh salah
seorang tukang cukur yang paling terkenal di kota
ini. Tapi jenggotnya dibiarkan agak tak terurus,
Maksudnya supaya penampilannya lebih sangar.
Hanya lima tahun Fred duduk di bangku sekolah.
Kemudian ia bekerja sebagai pengurus binatang di
sebuah sirkus keliling. Pekerjaan itu ditekuninya
selama sepuluh tahun. Kini Fred telah menjadi
pengusaha. Ia memiliki tiga tempat biliar di kota
ini, yang sekaligus merupakan tempat berkumpul
para penjahat dan calon bajingan.
Tanpa berkomentar Fred mendengarkan laporan
Magda dan Nicole.
"Kedengarannya menarik juga," ia berkata
kemudian. "Hebat, benar-benar hebat. Sekarang
tinggal menentukan kapan kita mulai beraksi."
"Biar saja si Tolol itu yang repot," Magda
mengusulkan. "Kita baru mulai bergerak kalau
uang itu sudah sampai ke tangannya."
"Barangkali bisa diatur agar Lohmann ketangkap
polisi setelah kita merebut uangnya," Nicole
menyumbangkan saran. "Dengan demikian polisi
pun merasa puas dan tidak akan memperpanjang
urusan. Paling-paling mereka akan mencari uang
yang hilang itu. Tapi semuanya akan beranggapan
bahwa Lohmann yang menyembunyikannya.
Peranan kita sama sekali tidak akan diketahui.
Bahkan Lohmann pun takkan tahu bahwa kita yang

menyikat uangnya. Itu urusanmu, Fred! Coba kau


putar otak sedikit."
Fred mengerutkan kening. Ia tidak suka diatur oleh
wanitatermasuk oleh Nicole. Tapi di pihak lain,
ia tahu bahwa usulan tunangannya itu masuk akal.
"Kita lihat saja nanti,"g katanya. "Yang penting,
uang itu harus jatuh ke tangan kitaQ Kalian harus
tetap berhubungan dengan si Gaek itu. Kita harus
tahu kapan, bagaimana, dan di mana dia akan
melaksanakan rencananya. Selain itu masih ada
berita baru lagi?"
"Oh, aku sekarang sudah berhenti melukis," ujar
Nicole sambil tersenyum. "Gara-garanya..."

7. Siapa yang Mencuri Tempat Bedak Emma?


SUASANA di toko swalayan mirip suasana di
sarang lebahterutama saat ini, sepuluh menit
sebelum tokonya tutup. Para karyawan sudah
kepingin pulang ke rumah masing-masing. Para
kasir sudah tidak bisa tersenyum lagi.
Petra menggotong kantong plastik berisi makanan
anjing. Berat kantong itu hanya sepuluh kilo, tetapi
bagi Petra rasanya seperti setengah kuintal. Tapi
demi Bello, gadis itu rela bekerja keras.
Ratusan pembeli nampak berlalu-lalang. Antrean
di kassa semakin panjang. Semua orang membawa
belanjaan masing-masing. Petra sudah selesai
membayar, dan segera menuju ke pintu keluar.
Thomas tadi mengantarkannya ke sini, lalu
langsung meneruskan perjalanan. Kegelapan
malam memang sudah menyelimuti kota, tetapi
Petra hanya perlu melewati jalan-jalan yang ramai
untuk pulang ke rumahnya.
"Oh, maaf!" gadis itu tiba-tiba berkata.
Tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita berusia
lanjut. Wanita itu nyaris terjatuh, namun masih
berhasil menjaga keseimbangan, lalu kembali
berjalan tanpa menoleh sama sekali.

Percuma saja aku minta maaf, pikir Petra. Rupanya


sopan santun sudah mulai tidak dihargai lagi.
Terheran-heran ia memperhatikan wanita itu dari
belakang. Wanita itu berpakaian anggun. Ia
mengenakan sarung tangan berwarna putih. Tas
yang ditentengnya terbuat dari kulit buaya.
Sambil berjalan, Petra memeriksa kantong plastik
berisi makanan Bello.
"Aduuuhitu kan Petra Glockner!" seseorang
tiba-tiba berseru.

Astaga! pikir Petra. Aku hampir tidak kuat


menenteng makanan Bello, tapi dia membawa
kantong itu seakan-akan hanya berisi kapas.
"Saya tidak melihat siapa-siapa, Bu GisenHapplich. Kecuali. Ya, tadi ada seorang wanita
yang terburu-buru sekali. Dia menabrak saya
waktu bergegas ke pintu keluar. Di mana pencurian
itu terjadi? Di kamar kecil?"
"Ya," jawab Emma. "Apakah wanita itu datang
dari arah sana?"
"Saya rasa ya."

Petra mengerutkan kening. Suara itu ternyata milik


seorang wanita yang berdiri di dekat pintu.
Ini baru kejutan! pikir Petra. Tadi kami masih
membicarakan dia. Tahu-tahu aku bertemu
dengannya di toko swalayan. Padahal biasanya aku
jarang-jarang melihat dia. Paling-paling pada hari
Natal, kalau dia datang memberikan sumbangan
untuk perkumpulan renang.
"Selamat malam, Bu Gisen-Happlich," kata Petra.
"Anda juga habis belanja?"
Wajah Emma Gisen-Happlich mirip prajurit
Indian, dan sikapnya pun serupaselalu siap
bertempur. Usianya sudah mendekati 50 tahun,
namun kesehatannya masih baik sekali. Kecuali
itu, ia juga masih mengikuti perkembangan mode.
Hal ini sering membuat putranya, Direktur GisenHapplich, geleng-geleng kepala.
"Belanja? Tidak! Saya tidak pernah belanja di sini,
Petra. Saya hanya numpang ke kamar kecil.
Ternyata saya malah jadi korban pencurian!
Keterlaluan! Tapi urusan ini belum selesai. Kau
pasti melihat pencuri itu! Seperti apa
tampangnya?"
"Pencuri? Di sini?"
Emma menghampiri Petra, merangkul gadis itu,
lalu meraih kantong plastik yang digotongnya.
"Kita harus menemui manajer toko ini," katanya
dengan ketus. "Sini, kantong itu terlalu berat
untukmu. Jadi kau sempat melihat si pencuri?"

"Kalau begitu pasti dia orangnya. Kalau semua


jalan di sekitar sini ditutup polisi dan... Tapi
sebelumnya kita harus menemui manajernya dulu."
Suara gong terdengar melalui pengeras suara.
Seseorang mengumumkan bahwa para pengunjung
harus segera keluar karena toko sebentar lagi sudah
mau tutup. Namun tentu saja orang itu
menggunakan bahasa yang lebih sopan.
Petra menemani Emma, yang tetap ngotot untuk
menemui manajer toko swalayan. Caranya kurang
lazim, tetapi sangat efektif: ia menggaet seorang
pramuniaga, kemudian memerintahkan agar ia
diantar ke kantor manajer. Karyawan toko
swalayan itu sama sekali tidak sempat membantah.
Kemudian Emma menyerbu ke ruang manajer.
Orang itu sedang duduk-duduk di balik mejanya. Ia
kaget sekali ketika dilabrak oleh seorang wanita
tua.
"Izin operasi toko Anda seharusnya dicabut,"
Emma langsung membentaknya. "Nama saya
Emma Gisen-Happlich, dan saya tidak mengadaada. Apa gunanya Anda duduk di kantor ini, kalau
Anda tidak bisa mencegah kejadian seperti yang
baru saja saya alami? Pencurian di kamar kecil!
Bah! Tas saya terbuat dari kulit ular, dan
bentuknya seperti ini!"
Ia menyerahkan kantong berisi makanan Bello
pada Petra, agar bebas menggunakan kedua
tangannya. Penuh semangat ia menggambarkan
bentuk tasnya yang hilang.

"Tas itu berisi kunci rumah, KTP, dan sejumlah


uang. Sekarang saya tidak bisa pulang!"

"Sayangnya tidak," si pramuniaga menjawab. "Tas


ini ditemukan di WC wanita. Di tempat sampah."

Pria di hadapannya memaksakan diri untuk


tersenyum. "Maaf, Bu. Maksud Ibu, tas Ibu dicuri
di toko kami?"

Si manajer toko mulai cengar-cengir, tapi pada


detik berikutnya ia langsung menyesal.

Emma menatap Petra. "Astaga, orang seperti ini


ditempatkan sebagai pimpinan di sini. Sebentar
lagi dia akan minta maaf atas nama perusahaan,
lalu mengatakan bahwa orang-orang semakin tidak
bisa dipercaya. Padahal dalam hati dia
menganggap saya sebagai nenek cerewet yang
tidak tahu diri. Tapi saya tidak akan menyerah
begitu saja."
"Bukan begitu, Bu..." Si manajer berseru sambil
berusaha menahan diri.
"Tanpa kunci, saya bahkan tidak bisa membuka
pintu mobil saya!" ujar Emma dengan ketus. "Saya
harus telepon dulu, Bung! Petra tahu ciri-ciri si
pencuri. Dia sempat melihatnya. Petra adalah putri
Komisaris Glockner. Sini teleponnya!"
Tanpa menunggu dipersilakan, Emma langsung
mengangkat gagang. Si manajer toko tidak bisa
berbuat apa-apa lagi.

"Jangan ketawa!" Emma menghardiknya. "Saya


tahu apa yang Anda pikirkan. Anda pasti
beranggapan bahwa saya sudah pikun, dan tanpa
sadar membuang tas saya ke tempat sampah....
Enak saja! Tas saya ada di pinggir tempat cuci
tangan. Ketika saya membalik, tasnya tiba-tiba
sudah lenyap. Coba, saya lihat dulu!"
Tanpa ragu-ragu Emma menumpahkan isi tasnya
ke atas meja.
"Nah!"
Dengan senyum penuh kemenangan ia menunjuk
bagian meja yang kosong.
"Tempat bedak saya hilang! Tempat bedak itu
terbuat dari emas 22 karat. Apakah Anda percaya
sekarang?"
"Saya tidak pernah menyangsikan kebenaran
ucapan Ibu. Apakah uang Ibu masih lengkap?"

"Anda saja putar nomornya," Emma memerintah,


lalu menyebutkan tujuh angka. "Itu nomor telepon
putra saya. Dia juga pemimpin perusahaan. Tapi di
tempat kami tidak ada pencuri. Gunter memang
sudah mandiri, tapi ini adalah kesempatan untuk
membalas budi pada ibunya. Dia harus mengantar
saya pulang ke rumah. Dia memang terlalu jarang
mengunjungi saya. Saya... Lho, itu dia."

Emma langsung menghitung setumpuk lembaran


seratus Mark. "Aneh, uangnya sama sekali tidak
disentuh," katanya kemudian.

Gagang telepon di kantor PT Nosiop baru saja


diangkat, tetapi Emma sudah tidak tertarik lagi.
Tanpa mengatakan apa-apa ia meletakkan gagang.

"Oh!" Emma berseru. "Rupanya Anda juga


menggunakan bedak, ya?"

Kemudian ia melewati Petra dan meraih tas kulit


ular yang baru saja dibawa masuk oleh seorang
pegawai.
Adaada saja, pikir Petra sambil menahan tawa.
"Kalian berhasil menangkap si pencuri?" tanya
Emma.

"Apakah Ibu yakin bahwa Ibu memang membawa


tempat bedak? Barangkali saja ketinggalan di
rumah. Manusia kan sering lupa. Saya pun
demikian."

"Bukan begitu maksud saya. Sebagai contoh, saya


pernah kehilangan tempat rokok yang juga terbuat
dari emas. Saya pikir tempat rokok itu berada di tas
kerja saya. Waktu diperiksa ternyata tidak ada!
Hilang, saya berkata dalam hati. Sayang sekali!
Tapi kemudian," ia menambahkan dengan wajah
berseri-seri, "saya menemukan tempat rokok itu
tertinggal di rumah."

"Saya mengerti. Karena Anda sudah pikun, Anda


menganggap bahwa saya pun seperti itu. Pantas
saja toko Anda tidak beres. Berapa batang yang
Anda isap setiap hari?"

semacam ini tidak boleh dibiarkan tanpa


penyelesaian, begitu pendapatnya. Lalu ia berganti
tema, seakan-akan tempat bedak itu sama sekali
tidak berarti baginya, dan menanyakan ketiga
sahabat Petra.

"Bagaimana? Oh, saya tidak merokok."


"Aha! Berarti tempat rokok Anda juga sekadar
contoh saja, ya? Ayo, Petra! Kita hanya
membuang-buang waktu di sini. Pencuri itu pasti
sudah kabur."
Kali ini Petra dibiarkannya menggotong kantong
berisi makanan Bello. Emma terlalu sibuk dengan
tasnya. Suasana di toko swalayan ternyata sudah
sepi. Para pembeli yang masih tersisa bergegas
menuju pintu keluar. Petra harus setengah berlari
agar bisa mengimbangi kecepatan langkah Emma.
"Saya memarkir mobil saya di daerah larangan
parkir," ujar Emma. "Tapi biara saja, deh. Pasti
sudah ada polisi yang menempelkan surat tilang.
Ke mana kita sekarang? Ke Istana Es Krim atau ke
restoran? Kau bisa menceritakan bagaimana
tampang si pencuri sambil makan."
"Terus terang saja," kata Petra, "saya tidak sempat
melihat wajahnya. Wanita itu menyusul saya. Dan
tanpa sengaja kami bertabrakan. Saya hanya
sempat melihatnya dari belakang. Orangnya sudah
agak tua, dan tidak terlalu tinggi. Ia mengenakan
mantel dan topi berwarna terang, serta membawa
tas dari kulit buaya. Hanya itu yang saya ketahui."
"Hmm, keteranganmu tidak banyak membantu.
Tapi tidak apa-apa. Bagaimana, kita minum teh
dulu? Kita kan sudah lama tidak ketemu. Kau
semakin tinggi dan semakin cantik saja. Apakah
kau masih suka berenang?
"Tentu saja," jawab Petra sambil ketawa. "Baiklah,
sepeda saya toh ada di dekat Cafetaria. Tapi saya
tidak bisa lama-lama."
Mereka menyeberang jalan. Setelah masuk ke
Cafetaria, mereka menempati meja di dekat
jendela, dan Emma segera memesan teh.
Ia masih harus pergi ke kantor polisi, katanya,
untuk melaporkan pencurian ini. Kejadian

Petra bercerita panjang lebar mengenai mereka.


Sepuluh menit kemudian, Emma menyimpulkan,
"Jadi, Thomas semakin pintar, Oskar semakin
gendut, dan Sporty sibuk memecahkan rekor-rekor
olahraga. Apakah dia sekarang sudah resmi
menjadi pacarmu, atau masih malu-malu seperti
dulu?"
Petra langsung tersipu-sipu. "Dari dulu Sporty
memang sudah pacar saya. Dia hanya agak
menahan diri karena saya begitu berarti baginya.
Sporty benar-benar
berwatak ksatria. Tapi
sekarang... ehm... kami sudah benar-benar
berpacaran."
"Mudah-mudahan saja saya masih sempat
mengalami pernikahan kalian. Awas kalau kau
tidak mengundang saya. Saya ingin sekali
berkenalan dengan dia. Karena itu" Emma
menambahkan sambil mengedipkan mata, "saya
sudah punya rencana untuk kalian. Saya pernah
mendengar bahwa kalian merupakan empat
detektif yang tangguh. Nah, sekarang saya
memerlukan jasa kalian. Besok kan Sabtu. Kalian
pasti punya waktu. Bagaimana kalau saya
mengundang kalian semua? Setuju?"
"Teman-teman saya pasti datang kalau mereka
punya waktu. Apa yang bisa kami bantu?" .
"Saya ingin agar kalian mencari tempat bedak
saya. Dengan imbalan, tentu saja Ada seseorang
yang saya curigai."
"Siapa itu?" tanya Petra sambil menghirup tehnya.
"Sulit sekali untuk membuktikannya," ujar Emma,
"tapi saya curiga pada... ehm... sahabat saya. Kami
tinggal serumah. Dia di lantai atas, aku di lantai
satu. Barangkali saja kau besok mengenali Agatha
Teler sebagai wanita yang bertabrakan denganmu.
Tapi kalaupun..."

"Tepler?"
Tepler?"

Petra

berseru

terkejut.

"Namanya

Emma mengangguk.

seekor kucing tiba-tiba menyeberang jalan. Dengan


kecepatan tinggi ia lalu membelok ke garasinya.
Lima senti sebelum menabrak dinding, mobil
berhenti.

Tadi siang saya bertemu dengan seorang pelukis


bernama Nicole Tepler," Petra menjelaskan.

Emma meraih tasnya,


menyeberangi pekarangan.

Oh, ya, saya juga mengenalnya. Nicole adalah


putri kemenakan Agatha. Tepatnya ibu Nicole,
Magda Tepler, adalah keponakan Agatha.
Orangnya agak... ehm... kurang bisa dipercaya.
Untung saja Agatha tidak seperti itu. Dia hanya
agak kekanak-kanakan. Karena itu dia tidak pernah
sadar bahwa Nicole dan ibunya berada di jalan
yang salah. Saya sedang bermusuhan dengan
Agatha. Dia selalu menghindari pertengkaran
secara terbuka Gara-gara tekanan darahnya. Tapi
saya takkan heran kalau dia mau membalas
dendam dengan mengambil tempat bedak saya.
Ah, kita lihat saja nanti. Setelah pulang saya akan
bicara dengan dia. Dan besok giliran kalian.
Jangan katakan apa-apa seandainya kau mengenali
Agatha. Kalau memang dia yang mengambil
tempat bedak saya, maka saya sudah punya
bayangan di mana dia menyembunyikannya. Kau
mau tambah teh lagi?"

Rumah berlantai dua itu nampak megah. Lampu di


lantai dua menyala terang. Itulah tempat tinggal
Agatha Tepler dan Emma GisenHapplich.

Petra menolak dengan sopan. Ia harus pulang,


sebab ibunya sudah menungguapalagi Bello,
anjing spanilnya yang setia.

8. Pertengkaran Dua Nenek


Emma Gisen-Happlich memang berbeda dari
wanita-wanita seusianya. Untuk berkelilingkeliling di dalam kota saja, Emma paling suka
menggunakan mobil sportnya yang buatan Inggris.
Padahal mobil itu mempunyai suspensi yang
sangat keras. Jika melewati jalan yang berlubanglubang, Emma harus berhati-hati agar lidahnya
jangan sampai menyusup di antara giginya.
Meskipun demikian, Emma suka memacu
kendaraannya dengan kencang. Enam perempatan
ia lewati dengan kecepatan tinggi, padahal lampu
lalu lintas sudah menunjuk kuning. Ketika hampir
sampai di rumah, ia harus mengerem habis karena

kemudian

berjalan

Emma menekan bel, dan Agatha membuka pintu.


"Kau boleh mengundangku makan malam," ujar
Emma. Tanpa menunggu jawaban ia menuju ke
dapur Agatha dan duduk di meja makan. "Ada
berita yang luar biasa. Umat manusia ternyata
semakin busuk saja. Ngomong-ngomong, kau
masak bubur bayam, ya?"
"Ya, tapi sudah tadi siang," jawab Agatha. "Aku
malas memanaskannya lagi. Dingin juga enak,
kok. Mudah-mudahan saja cukup untuk kita
berdua."
"Ah, kau kan tidak pernah makan banyak," Emma
berkomentar.
Waktu masih muda, Agatha Tepler pasti cantik
sekali. Tapi kini ia sudah tua, dan kulitnya telah
berkerut-kerut. Ia selalu mengenakan perhiasan.
Sikap anggun yang selalu ditampilkannya memang
merupakan bawaan sejak lahir. Keanggunan itu
tidak pernah hilang, walaupun pada saat ia
terpeleset dan jatuh.
Dengan patuh Agatha bersantap malam bersama
Emma. Ia juga mengeluarkan sebotol sherry
(sejenis minuman beralkohol yang bisa
merangsang selera makan. Emma makan dan
bicara
pada
saat
bersamaan.
Agatha
mendengarkannya sambil terheran-heran.
Itulah yang kualami tadi," Emma menutup
ceritanya. Dengan tenang ia menuangkan sherry ke
dalam gelasnya. "Dan sekarang akan kujelaskan
rencana di balik semuanya ini."

Rencana apa?" tanya Agatha sambil mengedipngedipkan mata.

jadi bingung dan tidak memperhatikan lapisan lilin


pada kunci rumah. Karena itu..."

Sewaktu aku memegang kunci-kunci di tasku, aku


merasakan lapisan lilin. Seperti lapisan pada kulit
jenis apel tertentu. Padahal kunci-kunciku tidak
pernah terkena lilin. Kau mengerti apa maksudku?"

Bagaimana aku tidak marah?!" Agatha kembali


berseru. "Tuduhanmu sama sekali tidak beralasan.
Nicole bukan pencuri. Keluargaku semua orang
baik-baik. Mana mungkin...

Tidak!"

Kita lihat kenyataannya saja," ujar Emma sambil


mereguk minumannya.

"Astaga!" Emma berseru sambil menggelenggeleng. "Kau kan selalu nonton film detektif di
TV! Masa kau tidak tahu bahwa kau bisa membuat
cetakan dengan menekankan sebuah kunci ke
dalam sepotong lilin? Dengan cara itu kau bisa
membuat kunci palsu. Tentu saja aku langsung
menghubungi polisi. Tapi mereka ternyata sama
sekali tidak membantu. Barangkali mereka
menyangka bahwa otakku sudah agak miring.
Salah satu polisi malah berkata bahwa lapisan lilin
pada kunci rumahku mungkin berasal dari keringat
di tanganku. Padahal telapak tanganku selalu
kering. Karena mereka bersikap seperti itu, aku
tidak menceritakan bahwa aku mencurigai
seseorang. Tapi aku yakin bahwa kau pasti bisa
membereskan urusan ini, Agatha. Anak-anak
muda harus diberi kesempatan untuk memperbaiki
diri. Meskipun tindakan mereka kadang-kadang
sudah kelewatan."
"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu,"
ujar Agatha. "Apa yang harus kubereskan?"
"Apa lagi kalau bukan Nicole! Kau tidak tahu dari
mana ia dan ibunya membiayai hidup mereka,
bukan? Dan aku malah mengundang Nicole ke
sini. Apa kau tidak memperhatikan bagaimana dia
mengagumi barang-barang antikku? Dia bahkan
sempat menaksir berapa banyak uang yang bisa
diperoleh jika barang-barang itu dijual ke toko
barang antik, dan.,."
"Oh, sekarang aku mengerti!" Agatha berseru
dengan suara melengking. "Kau menyangka bahwa
Nicole hendak mencuri barang-barang antikmu.?"
Kau jangan marah dulu. Nicole memang cerdik
sekali. Dia sengaja hanya mengambil tempat bedak
dan sama sekali tidak menyentuh uangku, agar aku

"Oh, begitu?" Agatha membalas. "Bukankah kau


sendiri juga punya keponakan yang selalu
kekurangan uang?"
"Jangan bawa-bawa Heinz dalam persoa1an ini.
Sekarang ini dia sedang berada di Tokyo. Lagi
pula dia bukan penjahat. Dan kecuali itu, dia tidak
bakalan masuk ke WC wanita di sebuah toko
swalayan."
"Memang, tapi bagaimana dengan pacar-pacarnya?
Apakah kau sempat melihat Nicole di WC wanita
tadi?"
"Memang tidak. Tapi kau tahu sendiri kan
bagaimana tipe orang seperti dia. Tinggal memakai
rambut palsu, menggunakan make-up yang
berbeda, lalu... Wah, sekarang aku baru ingat.
Memang ada seorang wanita. Tapi tiba-tiba saja
dia menghilang. Kalau dipikir-pikirmungkin itu
dia."
Agatha Tepler berdiri. Jari-jarinya merapikan rok
yang terlipat-lipat. Dengan nada tinggi ia berkata,
"Aku menolak untuk melanjutkan pembicaraan ini.
Kau tidak punya alasan sama sekali untuk
mencurigai Nicola. Kau harus minta maaf. Kalau
tidak, aku tidak mau melihatmu lagi!"
"Kita lihat saja siapa yang benar." Emma
tersenyum sinis, lalu meninggalkan Agatha di
dapur.
Ia turun ke lantai dasar, membuka pintu
apartemennya, lalu menuju ke ruang duduk.
Ruangan ini penuh barang antik.
Aku yakin, pasti Agatha yang mengambil tempat
bedakku, pikir Emma. Tapi percuma aku

menggeledah apartemennya. Tempat bedak itu


pasti sudah berpindah tangan, yaitu ke tangan
Nicole. Hmm, siapa yang bisa memastikannya?
Mudah-mudahan saja Petra dan teman-temannya
bisa membantu kala mereka datang besok.
***
"Hari Sabtu merupakan hari yang paling
menyenangkan dalam seminggu," ujar Oskar.
Bahkan lebih menyenangkan ketimbang hari
Minggu. Sebab pada Minggu malam kita dihantui
oleh bayangan mengenai Senin pagi. Sedangkan
hari Senin adalah hari yang paling buruk, soalnya
kita terpaksa bangun pagi dan pergi ke sekolah.
Tanpa Senin pagi, hari Minggu sebenarnya lebih
menyenangkan daripada hari Sabtu. Sebab sudah
sempat beristirahat. Lagi pula makanan pada hari
Minggu lebih lezat."

baru saja keluar dari toko, mengisi kantong plastik


dengan buah anggur, lalu hendak masuk lagi.
Sporty bersuit keras. Suaranya nyaring sekali.
Burung-burung merpati yang bertengger di atap
rumah-rumah langsung beterbangan. Seorang
wanita tua, yang sedang menyiram tanaman di
balkonnya, nyaris mengalami serangan jantung.
Beberapa pejalan kaki menatap ke langit untuk
mencari pesawat tempur yang menurut mereka
menimbulkan suara itu. Petra melihat kedua
sahabatnya dan melambaikan tangan.
"Petra sedang membantu ibunya. Rajin sekali,"
ujar Oskar sambil tersengal-sengal Baru sekarang
ia menyesal karena setelah menghabiskan dua liter
susu coklat untuk sarapan pagi.
Sporty berhenti di samping Petra, lalu mencium
pipi gadis itu.

"Kenapa?" tanya Sporty. "Apakah kau makan


coklat merk lain pada hari Minggu?"

"Selamat pagi, Petra!"

Bukan itu yang kumaksud! Kau kan tahu bahwa


juru masak di asrama selalu menyajikan puding
coklat pada hari Minggu."

Petra mencubit hidung Sporty, sementara Oskar


segera meraih ke dalam kantong plastik untuk
mengambil buah anggur.

Menurut
aku,
semua
hari
sama-sama
menyenangkan," kata Sporty. "Asal saja ada yang
bisa dikerjakan. Kalau kebetulan tidak ada, maka
kita harus mencari kegiatan. Mudah sekali, bukan?
Tapi aku merasa bahwa kau pada hari Sabtu lebih
loyo dari biasanya. Ayo, semangat dikit, dong!"

"Hei, ini untuk langganan ibuku!" kata Petra.

Ucapan Sporty agak tidak adil, Sebab Oskar sudah


menggenjot sepedanya dengan sekuat tenaga.
Perjalanan dari asrama menuju ke kota
ditempuhnya sambil bercucuran keringat.

"Dia lagi gila coklat,"


"Thomas sudah datang?"

Udara pada siang hari di awal musim gugur ini


memang cukup panas. Kabut tipis menggantung di
atas ladang-ladang. Daun-daun di pepohonan
sudah mulai berubah warna. Suasana di kota hirukpikuk oleh orang-orang yang ingin berbelanja.
Dengan mengambil jalan pintas kedua sahabat itu
tiba di rumah Petra. Di depan toko bahan makanan
milik Bu Glockner terdapat tumpukan peti-peti
berisi sayur-sayuran dan buah-buahan segar. Petra

"Oh! Tapi tidak apa-apa. Dalam keadaan seperti ini


buah anggur memang tidak begitu enak.
Kelezatannya baru terasa kalau sudah dicampur
dengan coklat."
Sporty

menjelaskan

Anggota keempat dalam kelompok STOP itu


ternyata belum menampakkan batang hidungnya.
Yang muncul di ambang pintu malah Bu Glockner.
Istri Komisaris Glockner itu mirip sekali dengan
putri tunggalnya. Ia mengantarkan seorang
langganan, dan memberikan kantong plastik berisi
buah anggur tadi sebagai hadiah. Buah anggurnya
memang sudah matang sekali. Kalau dibiarkan
sehari lagi pasti sudah mulai membusuk. Bu
Glockner sering memberikan hadiah kecil seperti
itu untuk menghadapi persaingan dengan toko-toko
besar.

"Selamat berakhir pekan, Bu Muller," ibu Petra


berkata. Kemudian ia berpaling pada Sporty. "Nah,
apakah saya juga akan memperoleh perlakuan
khusus seperti Petra?" Sambil ketawa ia
menggandeng tangan Sporty dan Oskar.
Petra pun merangkul ibunya.
Seandainya Ibu memang sibuk sekali," gadis itu
mulai merayu, "maka kami berempat bersedia
membantu. Oskar bisa menangani bagian sayurmayur dan buah-buahan, Sporty bagian makanan
kecil, dan aku bagian makanan kalengan.
Sedangkan Thomas cocok untuk menjaga kassa.
Tapi ini tidak terlalu ramai, bukan? Lagi pula
kami perlu istirahat setelah belajar selama
seminggu penuh."
Dan kecuali itu kalian juga diundang oleh Bu
Gisen-Happlich," Margot Glockner mengingatkan.
"Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Bu
Gisen-Happlich pasti sudah bangun sejak jam
setengah lima pagi."
Apakah dia menderita penyakit susah tidur?"
tanya Oskar.
Bukan," jawab Petra, "dia memang tidak tidur
lama-lama. Emma selalu mengerjakan segala
sesuatu dengan semangat. Kemarin dia melabrak
manajer toko swalayan. Orang yang malang itu
hampir bersembunyi di bawah mejanya."
"Siapa yang dilabraknya?" tanya Sporty. Ia
memang belum mendengar ceritanya secara
lengkap. Semalam Petra hanya menelepon untuk
menyampaikan undangan Emma.
Bu Glockner kembali ke tokonya. Petra bercerita.
Ia baru mulai ketika Thomas tiba. Karenanya anak
itu pun mendengar bahwa Emma kehilangan
tempat bedak yang terbuat dari emas, dan bahwa ia
mencurigai Agatha Teler-bibi ibu Nicole.
"Kadang-kadang dunia lebih sempit dari yang kita
duga," Sporty menanggapi cerita Petra sambil
geleng-geleng. "Siapa yang menyangka bahwa kita
bakal berurusan lagi dengan Nicole Tepler?"

"Kalau begitu kita berangkat saja," kata Petra


sambil menghadap ke samping agar
bisa
memperhatikan penampilannya di kaca toko.
Hari ini ia mengenakan kaus warna biru muda
warna kesayangannya. Sepatu ketsnya yang putih
nampak serasi sekali dengan celana jeans yang ia
pakai.
Sporty menatap gadis itu sambil tersenyum.
Aku tidak mungkin bosan melihat pemandangan
seperti ini, katanya dalam hati. Bahkan seratus
tahun lagi sekalipun. Tapi waktu itu aku pasti
sudah harus pakai kacamata.
Bagaimana kalau kita ajak Bello?" ia
mengusulkan. "Bello pasti senang berjalan-jalan
dalam cuaca seperti ini."
Anjing kesayangan Petra itu masih ada di atas
Sebenarnya Bello sudah dibawa berjalan-jalan tadi
pagi. Namun ia takkan menolak kalau diajak pergi
lagi.
Bello sangat menyukai ketiga sahabat Petra,
terutama Sporty. Acara penyambutan seperti biasa
berlangsung selama beberapa menit. Bello
melompat-lompat seperti bola karet, sampai
akhirnya diikat oleh Petra. Setelah itu ia menurut
dan berlari kecil di samping sepeda Petra. Beriringiringan rombongan anak-anak STOP menuju
rumah Emuna Gisen-Happlich.
Emma punya mobil sport buatan Inggris," Petra
bercerita. "Dia selalu mengendarai mobil itu
dengan kap terbuka. Tapi kalau sedang hujan, dia
terpaksa menggunakan mobil lain."
"`Kedengarannya dia masih cukup gesit," Oskar
berkomentar.
"Yang pasti, dia lebih gesit ketimbang salah satu
sahabatku," balas Petra.
Oskar hanya senyum-senyum saja.
Pintu garasi di samping rumah terbuka lebar.
Garasi itu bisa menampung dua mobil.
Di
samping sebuah mobil sport masih ada sebuah

sedan mewah. Apakah mobil kedua itu juga milik


Emma? Kalau ya, maka Agatha Tepler pasti selalu
memakai taksi kalau bepergian.

Bagus, Sporty!" ia memuji. "Saya tahu bahwa


sikap saya sering menjengkelkan. Tapi saya tidak
peduli. Dan rupanya kau juga tidak ambil pusing."

Keempat sahabat itu menaruh sepeda masingmasing di pekarangan, kemudian menuju pintu
rumah. Sebelum Petra sempat menekan bel,
pintunya sudah membuka.

Kalau begitu Anda punya pandangan hidup yang


sama dengan saya," Oskar berkomentar. "Saya
juga tidak begitu peduli bagaimana pandangan
orang-orang terhadap saya. Selama masih ada
coklat, tak ada yang bisa mengganggu ketenangan
saya."

Halo, kepala suku! pikir Sporty ketika berhadapan


dengan Emma. Petra benar, ia lalu berkata dalam
hati, tampangnya memang seperti prajurit Indian.
Dia pasti masih rajin berolahraga dan sering berada
di alam bebas.
Emma mengenakan pakaian serupa dengan Petra,
tetapi warnanya serba kuning. Selain itu ia juga
memakai ikat kepala.
"Kalian datang tepat pada waktunya, wanita itu
berkata dengan gembira. "Halo Petra! Oh, kau
membawa Bello. Dia lucu sekali. Apakah dia suka
menggigit? Dan kau pasti Oskar, bukan? Selamat
siang, Thomas! Eh, bukan, ini pasti Sporty."
Emma memperhatikan Sporty dengan saksama. Ia
memang tidak memerintahkan Sporty agar berdiri
dalam posisi siaga, tetapi sebelah tangannya
memegang lengan anak itu. Sambil nyengir Sporty
mengencangkan ototnya. Emma sampai terheranheran.
"Penampilanmu cukup memadai untuk jadi pacar
seorang gadis seperti Petra," Emma menyimpulkan
kemudian. "Tapi penilaian mengenai watakmu
saya serahkan pada Petra saja. Bagaimanapun juga
dia yang memilihmu sebagai pendampingnya,
bukan saya."
Untung saja, pikir Sporty, lalu berkata, Mudahmudahan saja segala kelemahan pada watak saya
sudah hilang sebelum saya dewasa nanti. Tapi
selain suka mendendam, mengiri, dan gemar
berbohong, saya hampir tak memiliki kekurangan.
Dan kalau Anda sudah sempat menguji otot kaki
saya, maka Anda pasti tidak akan ragu-ragu lagi."
Emma langsung tertawa berderai-derai.

"Berarti tidak sia-sia saya menyiapkan susu coklat


untuk kalian," kata Emma. "Saya membuat dua
liter untuk sarapan kedua. Ayo, masuk dulu, deh."
Oskar yang pertama tiba di meja makan. Dan ia
juga yang paling lahap. Yang lainnya hanya
menikmati susu coklat. Bello berbaring di kaki
Petra, dan langsung tertidur.
Emma bertanya pada Petra, apakah ketiga sahabat
gadis itu telah diberitahu mengenai hilangnya
tempat bedaknya. Petra mengangguk.
"Agatha yang mengambil tempat bedak saya," kata
Emma. "Saya yakin sekali bahwa dugaan saya
tidak keliru. Dia memang sahabat saya. Tapi itu
tidak berarti bahwa kami tidak pernah cekcok.
Tempat bedak itu sebenarnya merupakan hadiah
dari dia. Karena itulah saya membawanya ke
mana-mana sekadar untuk tidak melukai perasaan
Agatha.
Tapi
saya
sudah
sering
mempertimbangkan untuk menyingkirkan barang
itu."
"Kenapa?" Oskar ingin tahu.
"Tempat bedak itu memang cukup mahal karena
terbuat dari emas. Tapi saya kurang suka
bentuknya yang mirip kerang. Tutupnya juga agak
macet sehingga sukar dibuka. Belum lama ini,
waktu bermain bridge bersama beberapa teman,
saya sempat berkomentar bahwa saya sudah muak
dengan tempat bedak itu. Rupanya salah seorang
dan mereka menceritakannya pada Agatha. Ucapan
seperti itu pasti langsung tersebar ke mana-mana.
Akibatnya, Agatha tersinggung. Kami bertengkar,
dan kemudian berbaikan lagi. Tapi saya rasa
Agatha masih jengkel. Saya menduga bahwa dia
mengambil tempat bedak saya dalam rangka

membalas dendam. Agatha sering belanja di toko


swalayan itu. Karena itu mungkin saja dia yang
melakukannya."
"Tapi kalau begitu Andar pasti melihat sahabat
Anda," kata Sporty. "Ataukah Anda sempat
meninggalkan tas Anda untuk waktu yang agak
lama?"
Terus terang, ya! Pada waktu itu saya sama sekali
lupa bahwa saya bawa tas. Tapi itu bukan pertanda
bahwa saya sudah mulai pikun. Dari dulu saya
memang agak pelupa dalam hal-hal seperti ini."
Hmm, kalau begitu memang ada kemungkinan
bahwa Bu Tepler mengenali tas Anda, lalu
mengambilnya," Sporty menyimpulkan. Emma
mengangguk. "Semalam saya sempat bicara
dengan dia. Saya sengaja menuduh kerabatnya
yang bernama Nicole. Petra mengenalnya dan..."
Kami semua mengenalnya," ujar Thomas.
Malah kebetulan. Saya pura-pura yakin bahwa..."
Emma lalu menceritakan pembicaraannya dengan
Agatha semalam. Kemudian ia melanjutkan,
"Mengenai lapisan lilin pada kunci rumah saya, itu
hanya isapan jempol saja. Saya sama sekali tidak
mengkhawatirkan pencurian di rumah saya. Cerita
itu sekadar gertakan saja."
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Sporty.
"Saya perlu bantuan untuk membuktikan bahwa itu
perbuatan Agatha. Kalian bersedia?"
"Apakah Anda sudah punya rencana tertentu?"
tanya Petra.
"Saya sudah cukup lama mengenal Agatha. Dia
bukan tipe orang yang bisa menyimpan barang
curian di rumah. Tempat bedak itu pasti langsung
diserahkannya pada orang lain. Dan saya yakin
bahwa orang itu adalah Nicole. Entah kenapa
Agatha begitu sayang padanya. Saya berharap agar
kalian mau mengawasi Nicole lalu menemukan
tempat bedak saya di rumahnya. Dengan demikian
urusannya sudah beres."

"Betul, dengan demikian urusannya sudah selesai,"


kata Sporty. "Tapi kenapa Anda begitu ngotot
untuk membuktikan kesalahan sahabat Anda?
Bukankah Anda tidak menyukai tempat bedak itu?
Anda telah mengenal watak sahabat Anda. Untuk
apa Anda membesar-besarkan persoalan ini?"
Emma menatap Sporty beberapa saat, kemudian ia
tersenyum.
"Pertanyaan itu sama sekali belum terpikir oleh
saya. Dilihat sepintas lalu, kau memang benar.
Kenapa persoalan ini tidak dilupakan saja? Tunggu
sebentar, saya harus berpikir sejenak sebelum
menjawab pertanyaanmu."
Sporty mengambil
menunggu.

sepotong

roti

sosis

dan

Begini," ujar Emma kemudian, "saya tidak rela


kalau orang mencuri barang saya tanpa mendapat
ganjaran yang setimpal. Apalagi kalau orang itu
Agatha. Saya tidak suka kalau saya diperlakukan
seenaknya."
Anak-anak STOP pun manggut-manggut.
"Jadi kami harus mengawasi Nicole Tepler," kata
Thomas. "Sebenarnya jauh lebih mudah kalau
Anda menghubungi polisi dan...
Wah, jangan!" Emma segera memotong. Saya
keberatan kalau sahabat saya harus berurusan
dengan polisi. Ini adalah urusan pribadi yang tidak
perlu diketahui orang lain. Jika kecurigaan saya
ternyata terbukti, maka kalian tidak boleh
menceritakannya pada siapa pun juga. Mengingat
pengalaman kalian sebagai detektif, saya percaya
bahwa kalian takkan mengalami kesulitan untuk
mengawasi Nicole Tepler."
Jangan khawatir," kata Sporty. "Itu soal mudah.
Saya bahkan sudah punya rencana. Nona Tepler
takkan menyadari apa-apa."
Baiklah, kalau begitu saya akan mengontrak
kalian," ujar Emma sambil mengetok
meja.
"Berapa yang harus saya bayar untuk jasa kalian?"

"Uang, maksud Anda?" tanya Thomas. "Maaf saja,


kami tidak pernah minta imbalan uang. Kalau
Anda mau menunjukkan rasa terima kasihkalau
kami
berhasilmaka
Anda
sebaiknya
menggunakan cara lain."

Sporty meletakkan sebelah kaki pada sandaran


bangku taman. Kemudian ia membungkuk sampai
kepalanya menyentuh lutut.

"Boleh saja, kata Emma. "Apakah kalian punya


usul?"

"Ya bagaimana?"

"Ya," katanya dengan tenang.

"Aku sudah punya rencana untuk mangelabui dia."


"Kami akan senang sekali jika Anda memberikan
sumbangan
pada
pihak-pihak,
yang
membutuhkannya. Misalnya panti asuhan, atau
Yayasan Perlindungan Binatang."
"Oke, saya setuju!" Emma berseru. "Tapi supaya
kalian jangan pulang dengan tangan kosong, maka
saya akan mengundang kalian besok malam.
Jangan takut! Bukan di sini. Di rumah anak saya,
Direktur Gunter Gisen-Happlich. Dia akan
mengadakan pesta kebun. Di antara tamu-tamunya
selalu ada orang-orang yang menarik. Sayalah
yang paling tua di antara semuanya, dan kalian
pasti yang termuda."

"Yaitu?" ,
Sporty berganti kaki. "Aku sengaja tidak,
menjelaskan rencanaku di hadapan Emma,
Semakin misterius sikap kita, semakin besar pula
sumbangan yang akan diberikannya. Oh, ya,
usulmu tadi benar-benar bagus, Thomas." .
Thomas tersenyum.
"Kita akan mendatangi apartemen Nicole, Sporty
kembali pada pokok pembicaraan semula. "Kita
harus cari alasan yang masuk akal, supaya dia
jangan curiga. Dan untuk itu, Oskar-lah yang
paling tepat."

9. Siasat Nomor 17

"Aku?" tanya Oskar. "Kenapa justru aku?

KEEMPAT sahabat STOP berhenti di perempatan


Jalan Hornis dan Jalan Bromberg. Bello segera
menghampiri
sebatang
pohon.
Setelah
mendengus-dengus sejenak, ia mengangkat kaki
belakang dan meninggalkan tanda pada pohon itu.

"Soalnya kau punya keinginan yang masuk akal,"


Sporty menjelaskan. "Kau ingin belajar melukis di
bawah bimbingan Nicole. Jelas? Kau merasa
punya bakat terselubung, Hubi tidak perlu tahu
soal ini. Biar saja dia terheran-heran, kalau kau
tiba-tiba bisa melukis."

Oskar menggerutu panjang lebar. Sebenarnya ia


belum puas menikmati sarapan di rumah Emma.
Tapi Petra, Sporty, dan Thomas, sudah tak sabar.
Mereka ingin segera bertindak, bukannya
menikmati roti sosis serta susu coklat.
Petra menyandarkan sepedanya pada sebuah
bangku taman, lalu meniup rambut yang menutupi
keningnya.
"Tadi kau bilang bahwa kau sudah punya rencana,"
ia berkata pada Sporty. "Bagaimana kau akan
menghadapi Nicole Tepler?"

Petra telah duduk di bangku taman. Mendengar


penjelasan Sporty, ia mendadak ketawa terbahakbahak.
Thomas ketawa sampai kacamatanya nyaris jatuh.
Oskar nampak tersinggung. Dengan kesal ia
menatap kedua sahabatnya.
"Ada apa ketawa-ketawa, heh? Aku tahu, aku
memang tidak bisa menggambar. Justru karena
itulah aku butuh bimbingan. Lukisan-lukisanku
bakal jadi rebutan para kolektor. Dan para pemalsu
lukisan harus belajar lagi, agar bisa meniru lukisan
dengan gaya Oskar Sauerlich."

Petra nyaris terjatuh dari bangku taman. Tapi ia


berpegangan sambil ketawa cekikikan.
Sporty berusaha keras untuk tetap serius.
Aduh, Oskar," katanya, "kau tidak akan belajar
melukis di bawah bimbingan Nicole Tepler. Itu
kan hanya alasan agar kita bisa mendatangi dia
tanpa menimbulkan kecurigaan. Kita akan bersikap
ramah padanya. Kemudian Petra pura-pura harus
ke WC. Itu pun hanya alasan supaya Petra bisa
memeriksa isi kamar mandi. Barangkali saja
tempat bedak Emma ada di sana, dan..."
"Kamar mandi bukan tempat yang cocok untuk
menyimpan bedak," Petra memotong "Bagaimana
kalau bedaknya kecipratan air? Kelihatannya kau
benar-benar benar tidak tahu apa-apa mengenai
kebiasaan kaum wanita. Bedak serta peralatan
make-up lain ditaruh di meja rias. Dan meja rias
selalu berada di kamar tidur."
"Kalau begitu kau berlagak pingsan saja. Petra,"
Thomas
mengusulkan.
"Kita
akan
membaringkanmu di tempat tidur, lalu..."
"Tidak perlu," Petra kembali memotong. "Tempat
bedak Emma juga tidak akan ada di kamar tidur,
Tempat bedak berbentuk kerang emas hanya cocok
untuk dibawa dalam tas."
Untuk sesaat semuanya terdiam.
Mungkin ada baiknya kalau aku ikut les melukis,"
ujar Oskar kemudian. "Paling tidak bisa
memperbaiki nilai menggambar di sekolah."

Aku akan membuktikan apakah tempat bedak itu


memang ada di tangan Nicole atau tidak" kata
Petra dengan yakin. "Serahkan saja semuanya
padaku. Ayo, kita berangkat."
Mereka kembali bersepeda. Hari telah menjelang
siang. Kepadatan lalu lintas di pusat kota mulai
berkurang. Restoran-restoran diserbu oleh orangorang yang tidak sempat pulang untuk makan
siang. Sebuah mobil ambulans melewati anak-anak
STOP dengan kecepatan tinggi.
Setelah membelok ke Jalan Sperling, mereka
melihat sebuah Porsche diparkir di tepi jalan.
Berarti Hubi ada di rumah.
Pintu gedung apartemen nomor 63 terbuka lebar.
Lift-nya ternyata belum juga diperbaiki. Karena itu
anak-anak STOP terpaksa menggunakan tangga
untuk naik sampai lantai enam.
Petra menekan bel di apartemen Nicole Tepler.
Namun mereka menunggu dengan sia-sia.
"Dia sedang pergi," ujar Hubi sambil mengintip
melalui celah pintu apartemennya. Kemudian ia
tersenyum lebar. Oh, kalian! Selamat siang,
semuanya! Ayo, masuk dulu, deh! Apakah kalian
tidak salah pintu?"
"Sebenarnya tidak," ujar Sporty, sambil memenuhi
ajakan Hubi.
Keadaan guru mereka sudah jauh lebih baik
ketimbang kemarin. Ia nampak segar bugar. Yang
menunjukkan bahwa ia sedang cedera hanyalah
lengannya yang masih dibalut gips. .

Oskar!" Petra menegur sahabatnya. "Kita diutus


untuk menemukan tempat bedak Emma di
apartemen Nicole. Dengan demikian kesalahan
Agatha Tepler akan terbukti, dan Emma pun puas.
Kemudian dia akan memberikan sumbangan.
Itulah yang paling penting."

Hentakan musik disko menyambut anak-anak


STOP ketika mereka masuk ke apartemen Hubi.
Keempat lukisan palsu yang dibuat oleh Nicole
Tepler sudah tidak kelihatan.

Sejenak Thomas mempertimbangkan apakah


sekarang saat yang tepat untuk berceramah
mengenai kedua pelukis bernama Cranach-Cranach
Senior dan Cranach Junior Tapi kemudian ia
membatalkan niatnya,

Lukisan-lukisan itu disita polisi," Hubi


menerangkan dengan sedih. "Tapi saya sudah
bertekad untuk membeli semuanya. Bukan untuk
mengelabui ayah saga! Justru sebaliknya.
Seandainya saya kemarin siang tahu apa yang saga
ketahui sekarang, maka saya pasti akan berterus
terang padanya.

Anda sudah bicara dengan ayah Anda?" Petra.


Sudah, semalam," jawab Hubi. "Kami bicara
panjang lebar. Saya mengakui semua kesalahan
saya. Tapi ayah saya bukanya marah, dia malah
tertawa terpingkal-pingkal. Katanya, saga sudah
cukup menderita karena kecemasan yang
menghantui saya selama ini. Selebihnya dia lebih
banyak ketawa.
Terutama ketika mendengar
akibat dari tindakan Sporty. Siapa yang menduga
bahwa urusannya akan berbuntut seperti ini?"
Padahal urusannya belum selesai, pikir Sporty.
Tapi untuk sementara Hubi belum perlu diberitahu
mengenai Operasi Tempat Bedak.
"Kami ingin mengunjungi Nona Tepler," ujar
Oskar. "Saya ingin tanya apakah... Ehm. apakah
saya... ehm... maksudnya, saya tertarik untuk
belajar melukis dengan gaya Cranach. Saya mau
tanya apakah Nona Tapler bersedia membimbing
saya."
Hubi nampak ragu-ragu. Ia telah mengetahui bakat
Oskar.
"Ehm... Oskar, saya bukannya melarang.
barangkali les biola lebih cocok untuk
Menurut pengamatan saya di sekolah kau
begitu berbakat dalam hal melukis
menggambar. Tapi... itu terserah padamu.

Tapi
mu.
tidak
atau

Oskar langsung pasang tampang masam. Masa


bodoh dengan pendapat orang katanya dalam hati.
Aku mau belajar melukis. Kalau hasilnya kurang
memuaskan, paling tidak aku bisa mengecat
dinding SARANG RAJAWALI.
"Karena itulah kami ingin bertemu dengan Nona
Tepler," ujar Thomas. "Apakah Anda tahu di mana
dia sekarang, atau jam berapa dia pulang?"
"Nona Tepler sedang mengunjungi ibunya," kata
Hubi. "Di Jalan Olympia nomor satu. Saya tidak
tahu di mana itu. Dia hanya bilang bahwa ibunya
tinggal di sana. Dia mengunjunginya setiap hari
Sabtu."
Aha! keempat sahabat STOP berkata dalam hati.

"Maaf," kata Petra, "saya bukannya ingin ikut


campur dalam urusan Anda. Tapi satu hal yang
ingin saya tanyakan. Bagaimana sih watak Nicole
Tepler? Apakah dia memang semenarik yang Anda
bayang selama ini?"
Oh, dia benar-benar mempesona," jawab Hubi
penuh semangat. "Hanya agak pemalu. Barangkali
dia masih marah karena kita membongkar
kedoknya sebagai pemalsu lukisan.
Tak lama kemudian anak-anak STOP berpamitan.
Mereka turun, lalu membelai Bello yang menjaga
sepeda-sepeda mereka.
Jalan Olympia," ujar Thomas. "Beres, aku tahu di
mana itu."
Yang lain tidak mengetahuinya, sehingga mereka
ikut saja diajak Thomas, Ternyata mereka harus
menyeberang kota dari ujung ke ujung.
Seperti biasa, Oskar mengeluh karena perutnya
sudah mulai keroncongan. Penderitaannya
semakin menjadi-jadi, ketika mereka melewati
sejumlah restoran yang menyebarkan bau yang
merangsang selera.
''Aduh," Oskar mendesah. "Semua orang sedang
menikmati makan siang. Hanya kita yang tidak
menghormati jam makan."
Namun teman-temannya tidak terpengaruh.
Jalan Olympia nomor satu ternyata sebuah rumah
pojok. Bangunannya tak terawat. Dindingdindingnya ditumbuhi lumut. Genteng-gentengnya
sudah rapuh. Seluruh trotoar digunakan sebagai
tempat parkir mobil. Suasana hening dipecahkan
oleh sekitar 20 sampai 30 radio. Siarannya
terdengar dengan jelas, sebab jendela-jendela
terbuka lebar dan semua radio dipasang dengan
volume keras. Untung saja sebagian besar
pendengar memilih pemancar yang sama.
Kesannya bukan stereo lagi, melainkan lebih mirip
konser di lapangan terbuka.
Daerahnya menyenangkan sekali! Ujar Sporty
dalam hati. Pada malam hari para penduduk pasti

main tikam-tikaman. Aku jadi penasaran seperti


apa ibunya Nicole itu.

Tapi Ottmar tidak memperhatikannya. Tanpa


menoleh ia berjalan menuju mobilnya.

Berdasarkan mama yang tercantum pada kotak


surat, Sporty mengetahui bahwa ia bernama
Magda. Kemudian keempat sahabat itu sudah
berdiri di depan pintu. Petra baru saja hendak
mengangkat tangan untuk menekan bel.

Kalian mau ketemu Saya?" tanya Magda.

Tiba-tiba saja terdengar suara-suara dari balik


pintu. Suara langkah mendekat. Rupanya ada
seseorang yang mau pergi.
"Sampai ketemu, Ottmar!" seorang wanita berkata.
.
"Ya, sampai nanti!" seorang pria menjawab dengan
suara serak. "Nanti sore aku akan beraksi. Gnaski
sudah mengatur semuanya. Rencanaku tidak
mungkin gagal. Sebentar lagi aku bakal kaya raya.
Oke, deh! Aku berangkat dulu."

Anda pasti Bu Tepler," ujar Sporty. "Kami ingin


bertemu dengan Nicole. Pak Knoth mengatakan
bahwa dia ada di sini. Kami... Ehm.. Nicole sudah
mengenal kami."
Oh, kalian?" suara Nicole terdengar dari dalam.
"Silakan masuk."
Memang itu yang diharapkan oleh Sporty.
Sambutan Nicole ternyata tidak terlalu hangat.
Tapi itu bisa dimengerti. Ia hanya berdiri sambil
tersenyum seadanya. Kehadiran Bello baru ia
ketahui ketika anjing itu mulai mencium-cium
kakinya. Nicole tidak menyukai hal itu. Ia juga
tidak mengulurkan tangan untuk membelai-belai
Bello. Barangkali ia takut anjing itu punya kutu.

"Mudah-mudahan kau sukses!" Nicole berseru.


Sporty segera memberi isyarat agar ketiga
sahabatnya kembali ke jalan. Tepat pada waktunya,
sebab sedetik kemudian pintu membuka.
Pembicaraan tadi pasti tidak boleh terdengar oleh
orang lain.
Bahkan Oskar pun segera memahami apa sedang
terjadi. Langsung saja ia pasang wajah tak
berdosa.

Demi
menjaga
sopan
santun,
memperkenalkan diri pada Bu Tepler.

Sporty

"Maksud kedatangan kami," ia menjelaskan,


"berhubungan dengan bakat Anda sebagai pelukis.
Oskar sangat mengagumi karya-karya Anda, Nona
Nicole." Sporty tidak mengada-ada, sebab Nicole
memang memiliki bakat yang menonjol. "Oskar
ingin belajar melukis di bawah bimbingan Anda."
"Apa? Belajar melukis?"

Seorang pria berbadan tinggi melangkah keluar.


Wajahnya yang berbentuk kotak mencerminkan
kehidupan yang tidak bahagia. Namun matanya
nampak menyorot tajam
Anak-anak STOP segera mengenali wajah yang
muncul di ambang pintu. Tidak salah lagidia
pasti ibunya Nicole.
Sambil lalu saja Ottmar menatap keempat sahabat
yang berdiri di tepi jalan. Kemudian ia meraih
tangan Magda, menciumnya, lalu pergi Hampir
saja ia menginjak kaki Bello.
Hei, hati-hati, dong!" Petra segera memprotes.
Untung ia masih sempat menarik Bello.

"Ya, saya ingin belajar melukis," kata Oskar.


"Kalau bisa, dengan gaya Cranach."
"Ya Tuhan! Apakah kalian belum puas juga? Saya
telah, kehilangan sumber penghasilan gara-gara
kalian, dan sekarang kalian malah minta agar saya
membimbing si Gendut ini? Maaf saja, saya tidak
berminat. Kenapa kalian tidak minta tolong pada
tangga saya saja?"
"Oh!" kata Petra. "Kenapa sih Andal begitu ketus?
Seharusnya Anda justru bangga. Tapi Anda malah
menghina teman saya hanya karena dia tidak bisa
bersaing dengan kelangsingan Anda. Keterlaluan!
Sporty, apakah aku mulai pucat?"

Sporty menatap wajah Petra, lalu mengangguk


penuh semangat.
Wajahmu pucat sekali! Kau kelihatan seperti..
seperti mayat hidup."
Petra segera memelototi sahabatnya. Ia memang
berharap agar Sporty menanggapi permainan
sandiwaranya. Tapi itu tidak berarti bahwa Sporty
boleh berkomentar sesuka hatinya.

menyadari hubungan antara anak-anak STOP


dengan Agatha Tepler. Nicole hanya mendesah
perlahan, lalu tersenyum sinis.
"Tunggu sebentar," katanya. "Saya punya bedak
yang cocok sekali untukmu. Bedak itu khusus
untuk remaja di bawah 17 tahun."
Langsung saja tangannya merogoh-rogoh sebuah
kantong yang mirip karung terigu. Kemudian ia
menyerahkan tempat bedak pada Petra.

"Wah, mengerikan!" Petra berseru sambil


menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
kemudian ia mulai merogoh-rogoh kantong celana.
"Aduh! Di mana sih tempat makeup-ku? Aku harus
berbedak, supaya wajahku kelihatan segar lagi."

Ternyata memang mirip kerang! Pikir Sporty. Dan


terbuat dari emas. Emma benar, tempat bedak itu
memang kurang menarik. Dan tutupnya juga agak
seret.

Nicole Tepler dan ibunya nampak terheran-heran.


Mereka tidak mengerti mengapa seorang remaja
seperti Petra sudah memakai make-up.

Petra harus bersusah-payah untuk membuka


tempat bedak itu. Tapi matanya yang biru nampak
bersinar-sinar.

Namun pertunjukan Petra belum selesai.

Sambil menahan tawa, Sporty, Thomas, dan Oskar,


memperhatikan Petra mengoleskan bedak pada
pipinya.

Ini semua gara-gara Anda, Nicole," ia mengeluh.


"Sebenarnya kami mau sekolah setelah ini. OSIS
sekolah kami mengadakan pemilihan Putri Pelajar
sore ini. Tapi coba lihat bagaimana tampang saya
sekarang? Saya paling tidak tahan kalau
mendengar orang marah-marah. Brengsek!
Seharusnya saya bisa jadi juara dua atau juara
tiga."
"Menurut saya, penampilanmu tetap menarik," ujar
Magda sambil mengerutkan kening.

Menurut aku," ujar Sporty, "tanpa bedak kau


kelihatan lebih menarik. Sekarang kulitmu jadi
mirip kulit jeruk."
Petra hanya melotot.
Ah, lumayan juga," kata Oskar. "Tampangmu jadi
rada seram. Kau pantas jadi pemeran utama dalam
film horor."

"Tapi tidak semenarik yang saya harapkan. Bu


Tepler, tolonglah, apakah saya boleh memakai alat
make-up Anda? Saya hanya perlu bedak sedikit
saja. Ah, jangan. Make-up Anda pasti kurang
cocok untuk saya. Saya perlu make-up yang cocok
untuk anak muda. Nicole, apakah saya boleh minta
sedikit bedak?"

Jangan banyak komentar!" balas Petra dengan


ketus. "Lebih baik kauurus perutmu yang gendut
itu. Terserah aku dong, kalau aku mau pakai
bedak."

Petra memang cerdik sekali, Sporty mengakui


dalam hati. Namun kemudian ia jadi ragu-ragu.
Bagaimana kalau Nicole atau ibunya tiba-tiba
mulai curiga?

Sporty harus menahan diri agar tidak


mengeluarkan saputangan untuk membersihkan
wajah Petra.

Kekhawatiran Sporty ternyata tidak beralasan.


Baik Nicole maupun Magda sama sekali tidak

Ia mengembalikan tempat bedak pada Nicole,


mengucapkan terima kasih, lalu kembali berdiri.

Jadi bagaimana dengan bimbingan melukis untuk


Oskar?" Thomas bertanya sekali lagi.

Saya kan sudah mengatakan bahwa saya tidak


berminat jadi guru melukis. Kecuali itu, saya tidak
punya waktu," jawab Nicole sambil menggeleng.
"Saya lagi banyak masalah. Kalau saya mau
membimbing dia," ia menambahkan sambil
menunjuk Oskar. "nanti saya malah disangka
mengajarkan cara memalsukan lukisan."
"Saya tidak mungkin berbuat seperti itu." balas
Oskar. "Tapi saya mengerti mengapa Anda
keberatan. Kehilangan sumber nafkah memang
pukulan yang berat. Terutama karena Anda sudah
begitu hebat melukis dengan gaya Cranach. Ya,
mau tidak mau Anda harus cari pekerjaan lain.
Kenapa Anda tidak ikut kursus kerajinan tangan
saja? Menjelang hari Natal nanti pasti banyak
pesanan."
"Dasar cerewet!" Nicole marah-marah. "Sudah,
pergi sana! Saya tidak mau melihat kalian lagi!"
Dengan demikian pembicaraan telah berakhir.
Keempat sahabat STOP segera meninggalkan
rumah itu. Mereka menaiki sepeda masing-masing,
membelok, menggelinding sejauh 50 meter, lalu
berhenti.
Para pejalan kaki yang memperhatikan anak-anak
itu pasti menyangka bahwa mereka sudah gila.
Bagaimana tidak? Sporty, Thomas, Oskar, dan
Petra, ketawa terbahak-bahak sampai nyaris
terjatuh dari sepeda. Oskar turun, lalu duduk di
trotoar sambil menggoyangkan kaki. Petra
diguncang tawa, sehingga harus berpegangan pada
Sporty. Dan Thomas terpaksa mengelap
kacamatanya.
"Putri Pelajar!" Sporty berseru sambil berusaha
menarik napas. "Hahaha, idemu benar-benar
cemerlang, Petra. Aku salut padamu. Tapi Oskar
benar, tampangmu jadi mirip pemain film horor.
Sini, biar kubersihkan wajahmu."
Sporty langsung mengeluarkan saputangan dan
mulai menghapus bedak dari wajah Petra.
"Wah, malah jadi belang," Oskar berkomentar.
"Seperti orang yang terserang penyakit kusta atau
semacamnya."

Ah, kalian memang tidak bisa menghargai


kecantikan seorang wanita," Petra menanggapinya
sambil cekikikan.
Urusan itu hanya dimengerti oleh para produsen
kosmetika," kata Sporty sambil mengelap hidung
Petra. "Dan mereka kemudian mendikte kaum
wanita yang bodoh. Aduuuh!"
Tanpa disangka-sangka sikut
menghantam tulang iga Sporty.

Petra

telah

"Apa maksudmu dengan kaum wanita yang bodoh,


heh?"
"Maksudku, orang-orang seperti Nicole Tepler dan
ibunya. Orang-orang seperti merekalah yang mau
mengeluarkan uang banyak agar bisa tampil lebih
cantik."
Ia menyimpan saputangannya dalam kantong
celana.
"Apakah kalian sadar bahwa kita bakalan sibuk
sekali hari ini?" Sporty lalu bertanya. "Bukan
karena kita harus melapor pada Emma bahwa
Operasi Tempat Bedak telah berhasil dengan
gemilang. Tapi ucapan si Ottmar tadi merupakan
petunjuk yang sangat berharga."
"Aku hampir pingsan waktu mendengarnya," ujar
Petra
sambil
mengangguk.
"Apa
yang
dikatakannya tadi: Nanti sore aku akan beraksi.
Gnaski sudah mengatur semuanya. Rencanaku
tidak mungkin gagal. Sebentar lagi aku bakal kaya
raya."
"Tepat sekali," kata Sporty. "Aku yakin seratus
persen bahwa si Ottmar itu akan melakukan
kejahatan. Dan dia dibantu oleh seseorang bernama
Gnaski. Hmm, Gnaski bukan hanya nama yang
bagus, tapi juga jarang. Coba kita lihat apakah
namanya tercantum di buku telepon." _
"Emma pasti punya buku telepon," ujar Thomas.
Setelah melapor bahwa kita berhasil menemukan
tempat bedaknya, kita sekalian bisa pinjam buku
telepon."

10. Dua Setengah Ton Keju Jerman


EMMA
GISEN-HAPPLICH
berulang-ulang
menekan bel sampai Agatha Tepler akhirnya
membuka pintu.
Begitu melihat Emma, Agatha hampir saja
membanting pintu. Tapi Emma cepat-cepat
memegang kusen. Ia tahu persis bahwa sahabatnya
tidak akan tega untuk menjepit jarinya.
"Aku hanya datang untuk memberitahumu bahwa
dugaanku sudah terbukti benar," ujar Emma.
"Ternyata memang saudaramu yang bernama
Nicole itu yang mengambil tempat bedakku. Kau
tak perlu menyangkal. Aku menyewa empat
detektif untuk mendatangi dia. Dan apa yang
mereka temukan? Tempat bedakku! Nah, sekarang
giliranmu."
Kau... kau...?" Agatha terpaksa bersandar pada
daun pintu. Wajahnya menjadi pucat pasi. "De...
tektif? Empat orang, lagi?"
Habis, apa yang kauharapkan? Aku tidak mau
setengah-setengah dalam urusan seperti ini.
Saudaramu itu benar-benar keterlaluan. Dari dulu
aku sudah tahu bahwa dia bukan orang baik-baik.
Hanya selama tiga detik aku meninggalkan tasku
di tempat cuci tangan! Tapi waktu yang singkat itu
sudah cukup untuk..."
"Tiga detiiik?!" suara Agatha melengking tinggi.
Seruannya terdengar oleh anak-anak STOP, yang
menunggu di apartemen Emma di lantai dasar.
"Lima menit! Mungkin malah lebih! Kau
meninggalkan tasmu selama lima menit, dan..."

Emma tetap berdiri di tempat. "Pasti bukan Nicole


yang memberitahumu. Berarti dia tidak terlibat.
Tapi bahwa kau..." Tiba-tiba saja Emma tersenyum
lebar. Terus terang saja, Agatha, sejak semula
aku sudah agak curiga padamu. Untuk apa sih, kau
melakukan kejahatan seperti itu?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu," jawab Agatha
sambil mengutak-atik kalung berlian yang selalu
dikenakannya. "Aku sama sekali tidak bermaksud
mengikutimu ke toko swalayan. Semuanya serba
kebetulan saja. Aku masih sempat melihatmu
masuk ke WC. Dan tasmu tergeletak begitu saja.
Kau masih ingat? Sehari sebelumnya aku sempat
marah besar karena kau begitu congkak. Kau selalu
menteror orang-orang di sekitar mu. Kau sama
sekali tidak menghargai tempat bedak yang
kuhadiahkan
padamu.
Karena
itu
akua
memberikannya pada Nicole. Mungkin aku ingin
memberi pelajaran padamu.
"Dan nyatanya kau berhasil."
"Kau marah padaku?"
"Sekarang sudah tidak lagi. Dan kau?"
"Juga tidak. Aku sadar bahwa kau hanya bertindak
sesuai dengan watakmu. Tapi ada satu hal yang
perlu kukemukakan: seharusnya kau lebih rajin
memakai bedak. Nanti semua orang tahu bahwa
kau tidak berusia 20 tahun lagi."

Mendadak dia terdiam. Sambil membelalakkan


mata wanita tua itu menutup mulut dengan sebelah
tangan.

"Ah, apa artinya beberapa tahun," Emma


menanggapinya sambil tersenyum. "Sebenarnya
aku tidak memerlukan tempat bedak itu. Mudahmudahan saja bagi Nicole lebih banyak gunanya.
Mengenai kue tart yang kaubuat, sebentar lagi aku
kembali ke sini. Aku masih harus menyelesaikan
urusan dengan para detektif."

"Dari mana kautahu semuanya itu?" Emma


berlagak heran.

"Lho? Mereka ada di tempatmu? Keempatempatnya?"

Agatha menundukkan
melangkah ke samping.

"Semuanya! Mereka juga bawa anjing pelacak."

kepala.

Kemudian

ia

"Masuk dulu, deh!" katanya. "Aku baru saja bikin


kue tart. Kita bisa bicara sambil minum teh."

Agatha segera kembali ke dapur. Selama beberapa


menit berikutnya ia benar-benar sibuk. Di satu
pihak ia bermaksud menyiapkan teh, di lain pihak

ia pun ingin mengintip ke luar jendela untuk


melihat keempat detektif yang disewa oleh
sahabatnya.
Tapi justru ketika anak-anak STOP pergi, Agatha
harus bergegas ke dapur karena air yang
dimasaknya sudah matang.
Emma mengucapkan terima kasih pada Sporty,
Petra, Thomas, dan Oskar. Ia merasa agak heran
karena keempat sahabat itu kelihatan terburu-buru
sekali.

Thomas pun hanya menggeleng.


"Jalan ke rumah Pak GisenHapplich? tanya
Oskar. "Wah, kenapa kalian tadi tidak
menanyakannya pada Emma?"
"Bukan itu!" Thomas berkata dengan sengit. "Jalan
menuju rumah Gnaski. Sudelfeld 19!"
"Oh!" Oskar segera naik ke sepedanya. "Ayo,
semuanya ikut aku! Aku tahu jalannya."
****

Emma memang tidak tahu bahwa sementara ia


bicara dengan Agatha, Thomas sempat membuka
buku telepon pada halaman G-la1u mengumumkan
pada teman-temannya; "Di sini hanya ada satu
orang bernama Gnaski. Bert Gnaski. Alamatnya
Sudelfeld 19. Mudah-mudahan saja memang dia
yang kita cari."
Kini mereka bersalaman dengan Emma. Wanita itu
sekali lagi mengingatkan mereka bahwa besok
malam ada acara di rumah anaknya, Gunter
GisenHapplich, direktur PT Nosiop.
"Saya tidak mungkin lupa," ujar Oskar sambil
menepuk dahi dengan telapak tangannya. "Tolong
beritahu bagian dapur bahwa nafsu makan saya
termasuk besar. Jangan sampai tamu-tamu lain
tidak kebagian."
"Jangan khawatir," jawab Emma sambil ketawa.
"Saya sudah pesan seekor kambing guling khusus
untukmu sendiri - belum lagi makanan pencuci
mulutnya."
Oskar nampak puas, lalu membiarkan dirinya
ditarik keluar oleh ketiga sahabatnya.
"Kami lagi berusaha menemukan Gnaski tapi kau
hanya memikirkan urusan perut saja," Sporty
mengomel. "Cepat sedikit, dong? Hari sudah
menjelang sore. Sebentar lagi Ottmar akan
beraksi."

Sabtu siang di jalan bebas hambatan di sebelah


selatan kota.
Sebuah mobil Fiat berhenti di tempat istirahat di
tepi jalan bebas hambatan. Ottmar Lohmann duduk
di balik kemudi sambil makan permen. Berkalikali ia melirik ke kaca spion.
Tempat istirahat itu tidak terlalu luas. Tidak ada
pompa bensin maupun restoran. Bahkan WC pun
tidak ada. Sedangkan daerah sekitarnya tidak
memungkinkan untuk buang hajat. Hanya ada
beberapa tanaman perdu. Selebihnya pandangan
tidak terhalang sampai ke cakrawala.
Hanya Lohmann yang berhenti di sini.
Lalu lintas di jalan bebas hambatan belum begitu
padat. Baru sedikit pelancong yang menuju ke arah
selatan. Sekali-sekali ada truk yang melewati
tempat istirahat ini.
Kini sebuah VW Combi berwarna biru tua
membelok, mengurangi kecepatan, dan berhenti di
belakang mobil Lohmann.
Bert Gnaski turun. Ia mengenakan pakaian montir.
Sebuah topi pet melindungi wajahnya dari
sengatan matahari. Ia mendekat, membuka pintu,
kemudian duduk di samping Lohmann.

"Kau tahu jalannya?" tanya Petra.

"Halo, Ottmar!" katanya sambil nyengir, lalu


menyalami rekannya.

"Tidak," kata Sporty.

"Halo, Bert!"

Lohmann telah menyerahkan 2000 Mark pada


Gnaski. Sebagian merupakan bayaran atas segala
persiapan yang telah dilakukan, sisanya sebagai
uang muka. Tapi ketika Lohmann menatap teman
lamanya itu, ia mulai ragu-ragu. Apakah itu masih
Gnaski yang dulu, rekannya yang bisa dipercaya?
Usia mereka sebenarnya hanya terpaut beberapa
tahun. Tapi Gnaski kelihatan jauh lebih tua. Dulu
ia hampir tidak pernah tersenyum. Tapi sekarang ia
nyengir terus, seperti orang bingung. Sorot
matanya nampak gelisah. Gigi palsunya
berantakan. Sering kali Gnaski harus cepat-cepat
menutup mulut agar giginya jangan sampai copot
Namun tongkrongannya masih seperti dulu. Ia
berbadan besar. Bahunya lebar, tapi agak menurun.
Tangan kirinya telah kehilangan jempol. Gnaski
mempunyai berbagai cerita untuk menerangkan
cacatnya itu. Kadang-kadang ia mengaku
kehilangan jempol pada waktu memotong kayu
bakar. Lain kali ia mengatakan bahwa jempolnya
tertembak
oleh
polisi
yang
berusaha
menangkapnya. Pernah juga ia bercerita bahwa
jempolnya tersangkut pada pintu kereta api yang
baru berangkat.
"Semuanya beres?" tanya Lohmann.
"Beres, dong!"
Lohmann melirik jam tangannya. "Pukul setengah
dua lewat sedikit. Coba kita ulangi semuanya
sekali lagi."
Gnaski mengangguk. "Segala sesuatu yang
kuketahui berasal dari keterangan sopir mobi1
tangki itu. Dia minum-minum sampai mabuk
bersamaku. Karena itulah aku bisa mengorek
informasi yang kita perlukan. Semuanya sudah
kuteliti sekali lagi, dan ternyata semuanya benar.
Tak ada yang perlu diragukan, Ottmar."
"Mudah-mudahan saja. Jadi begini, jam 14.00 tepat
mobil tangki dengan nama sandi Bom Berjalan
berangkat dari halaman PT. Nosiop. Tidak lama
setelah itu, dia sudah berada di jalan bebas
hambatan dan menuju ke selatan. Nah, yang paling
penting bagi kita adalah: sopirnya yang bernama

Kurt Weinhard selalu berhenti di tempat istirahat


terakhir sebelum kota."
Betul, ujar Gnaski sambil kembali mengangguk.
"Soalnya di sana ada warung yang menjual
hamburger paling enak di daerah ini.. Aku sudah
sempat mencicipinya. Rasanya memang luar biasa.
Mungkin karena dibumbui dengan paprika hijau.
Si Weinhard merupakan langganan tetap di warung
itu. Dan selalu membeli beberapa hamburger
sekaligus untuk bekal di jalan."
Dan Weinhard selalu parkir di pojokan, di
belakang, di dekat tepi hutan. Supaya mobil
tangkinya tidak terlalu menarik perhatian.
"Ya, betul. Soalnya dia sebenarnya tidak boleh
mampir di sana. Dia tidak diperbolehkan berhenti
di tengah jalan. Dan itu berarti bahwa dia tidak
bisa makan hamburger kesukaannya."
"Oke, aku berangkat duluan," Lohmann
melanjutkan. "Aku akan berhenti di tempat
istirahat terakhir sebelum kota, dan langsung
bersembunyi di balik semak-semak. Aku sudah
mempelajari medannya. Tempatnya cocok sekali
untuk rencana kita. Takkan ada yang kencing di
sana, sebab di bagian depan ada WC umum.
Kebanyakan orang juga parkir di depan. Aku akan
menunggu di balik semak-semak. Tidak ada yang
boleh melihatku. Kalau sampai ada yang
mengenaliku, maka bubarlah rencana kita. Dan aku
juga tidak bisa mondar-mandir sambil mengenakan
topeng. Pokoknya, aku tunggu di sana. Kemudian
kau datang. Kau sengaja berada di depan mobil
tangki itu. Weinhard berhenti, dan kau berhenti di
sebelahnya.
Mobilmu
akan
menghalangi
pandangan dari restoran ke tempat parkir belakang.
Begitu Weinhard turun kautodong dia dengan
pistol. Lalu kau menggiringnya ke semak-semak.
Aku sambut dia, lalu mengikatnya. Mulutnya
kusumpal dengan sepotong kain. Setelah itu aku
akan mengambil alih mobil tangki. Kau
mengikutiku naik mobilmu. Dua puluh menit
kemudian kita sudah berada di Lembah Neraka.
Mobil tangki itu kita sembunyikan
dalam
Terowongan Lama. Setelah menutup mulut
terowongan, kita kembali ke tempat istirahat untuk
mengambil mobilku, lalu bereslah semuanya. Sip!
Rencana kita tidak mungkin gagal."

Gnaski menggunakan dua jari untuk mengatur


letak gigi palsunya. "Tapi bagaimana kalau
terowongan itu tiba-tiba runtuh?

Dari sini Gnaski bisa memperhatikan semua


kendaraan yang lewattermasuk mobil tangki
milik PT Nosiop.

"Kenapa harus runtuh? Sudah berpuluh-puluh


tahun terowongan itu tetap dalam keadaan
semula."

Tapi Lohmann tidak menunggu sampai Bom


Berjalan itu muncul. Ia langsung berangkat,
melambaikan tangan pada rekannya, lalu
memasuki jalan bebas hambatan. Dengan
kecepatan sedang ia menuju ke arah selatan.

Apakah kau punya SIM untuk mobil tangki?"


"Tidak."
"Wah, mudah-mudahan saja tidak ada razia di
tengah jalan."
Ah, mama mungkin! Lembah Neraka kan tidak
jauh dari sini. Lagi pula jalannya sepi."
Gnaski berkedip-kedip, lalu menggunakan dua jari
untuk memijat kelopak matanya.
Ada apa, Bert? Kau sedang tidak enak badan?"
tanya Lohmann sambil mengerutkan kening.
Ah, tidak! Cuma penglihatanku kadang-kadang
agak kabur. Mungkin karena aku terlalu sering
nongkrong di depan TV."

Tidak sampai sepuluh menit kemudian ia telah


sampai di tempat tujuannya. Lohmann melewati
pompa bensin dan restoran. Ia juga tidak berhenti
di tempat parkir kendaraan pribadi. Mobilnya terus
menggelinding sampai ke tempat perhentian truk
dan kendaraan berat lainnya. Bagian ini dibatasi
oleh semak-semak yang tumbuh dengan subur. Di
balik semak-semak langsung hutan.
Matahari masih terasa menyengat, tetapi sebagian
langit sudah ditutupi awan kelabu. Lapisan awan
semakin lama semakin meluas. Lohmann
memperkirakan hujan akan turun menjelang
malam.

"Aku punya kacamata hitam. Tapi ketinggalan di


rumah. Aku lupa membawanya. .

Di tempat perhentian truk Dini hanya ada sebuah


truk pengangkut mebel. Mobil itu berukuran
raksasa. Sopir truk bersama keneknya baru saja
selesai makan di restoran. Mereka masing-masing
menghabiskan setengah kilo sosis serta lima
potong roti. Kini mereka bersiap-siap untuk
berangkat lagi.

Mudah-mudahan saja dia tidak mengacaukan


rencanaku, pikir Lohmarm. Dia berubah sekali
sejak aku terakhir bertemu dengannya. Ya, mudahmudahan saja...

Sambil nyengir Lohmann memperhatikan truk


raksasa yang mulai bergerak. Ia kembali ke tempat
parkir kendaraan pribadi meninggalkan mobilnya
di sana, lalu bergegas menuju semak-semak.

"Ayo, Bert! Sudah waktunya. Sebaiknya kau


bersiap-siap."

D Tempat ini memang cocok sekali untuk


rencananya. Tidak ada saksi mata kalau mereka
menyergap Kurt Weinhard nanti lalu mengambil
alih mobil tangkinya.

Kau punya kacamata?"

Gnaski mengangguk. Senyumnya semakin lebar. Ia


turun, lalu kembali ke mobilnya.
Baru setelah distart tiga kali mesin mobilnya mau
hidup. VW Combi berwarna biru tua itu
menggelinding ke ujung tempat istirahat, kemudian
berhenti lagi.

Satu juta Mark! pikir Lohmann. Aku harus


memperoleh satu juta Mark. Gnaski sih cukup
diberi uang rokok saja, Sisanya untukku semua.
Busyet, aku belum memikirkan di mana aku akan
tinggal setelah jadi i orang kaya. Apakah lebih baik
di Amerika Selatan, atau di tepi Laut Tengah?

Ia nyengir seperti Gnaski, lalu menerobos semaksemak. Di awal musim gugur ini, daun-daun baru
berganti warna namun belum berjatuhan. Karena
itu pandangan Lohmann agak terhalang. Tapi itu
tidak penting.
Setelah menemukan tempat persembunyian yang
cocok, Lohmann mengenakan topeng berupa
stocking (kaus kaki wanita) yang telah diberi
lubang untuk mata dan mulut. Sayangnya stocking
itu terbuat dari nilon. Akibatnya dalam sekejap saja
Lohmann telah bermandikan keringat. Berulang
kali ia harus menyeka butir-butir air asin gang
masuk ke matanya.
Kemudian tibalah saat yang dinanti-nanti.
Sebuah VW Combi berwarna biru tua nampak
mendekat. Gnaski duduk di belakang kemudi. Tapi
ia bukannya berhenti, melainkan berputar-putar
seakan-akan sedang mencari jarum di tumpukan
jerami.
Lohmann menahan napas. Di belakang mobil
Gnaski ia melihat sebuah mobil tangki. Itu dia!
pikir Lobmann. Hebat! Luar biasa! Mobil tangki
itu pasti penuh dengan cairan beracun. Selamat
datang, Bom Berjalan!
Ia tidak bisa melihat dengan jelas, karena
pandangannya terhalang daun-daun dan keringat
yang membasahi matanya. Dia hanya melihat
bahwa kendaraan itu adalah mobil tangki.
Tangkinya yang terbuat dari aluminium
memantulkan sinar matahari.
Kendaraan berat itu berhenti lima langkah dari
tempat persembunyian Lohmann.
Gnaski, yang tadi sempat berputar-putar tanpa
arah, kini parkir tepat di samping mobil tangki,
seakan-akan ingin mencari perlindungan dari
sengatan matahari.
Lohmann mengintip dengan hati-hati.
Seorang pria memanjat turun dari kabin
pengemudi. Orangnya pendek sekaliapalagi
untuk ukuran pengemudi mobil tangki. Karena itu
ia tidak berani melompat.

Tapi begitu ia sampai di tanah, Gnaski telah berdiri


di belakangnyasambil menodongkan pistol.
"Angkat tangan!" Lohmann mendengar rekannya
memerintah dengan tegas. "Jangan bergerak! Ayo,
jalan ke semak-semak! Cepat. cepat! Hoi, jangan
bengong saja! Dan turunkan tanganmu! Apa kata
orang-orang nanti?!"
Tapi orang-orang yang berhenti di pompa bensin
atau mereka yang berada di dalam restoran tidak
bisa melihat apa-apa. Pandangan mereka terhalang
oleh kendaraan Gnaski dan mobil tangki.
"Ke sini!" Lohmann berseru dengan suara tertahan.
Ia mengeluarkan tali dan sepotong kain dari
kantong celana. Kecuali itu ia juga membawa
sebotol kloroform, dan segenggam kapas.
Mereka mendekat. Sopir berbadan pendek itu
nampaknya sudah pasrah pada nasib.
Gnaski menempelkan pistolnya pada kepala orang
itu.
Senjata itu sebenarnya hanya pistol mainan. Tapi
di tangan Gnaski kesannya seperti benaran.
"Selamat siang," ujar si sopir ketika berhadapan
dengan Lohmann,
"Apa? Oh, selamat siang juga." Lohmann sempat
terbengong-bengong. Namun kemudian ia
memasang tampang sangar dan berkata, "Asal tahu
saja, Weinhard, kau tidak punya alasan untuk
bergembira."
"Kurt Weinhard" berusia sekitar 50 tahun.
Wajahnya kecil. Ia kelihatan sehat sekali, mungkin
karena tidak merokok dan tidak
pernah
menyentuh minuman keras.
"Wah, ini benar-benar luar biasa," katanya dengan
riang. "Sudah lima kali aku dihalang di tengah
jalan. Bayangkan, lima kali! Tapi biar saja, keju itu
toh bukan milikku. Hahaha! Rupanya kalian sudah
berganti taktik, ya? Biasanya aku baru disergap
satelah melewati perbatasan dan sudah berada di
wilayah Italia. Apakah kalian termasuk komplotan
itu? Rasanya aku belum pernah melihat kalian, Oh,

ya, ada satu hal yang ingin kutanyakan dari dulu.


Ke mana sih kalian menjual semua keju itu? Begitu
banyak keju untuk keperluan sendiriitu kan tidak
mungkin."

Edam, Tilsit, Romadur, Limburg, dan Liptozu.


Aku tidak mengerti kenapa kalian menuduh bahwa
keju itu beracun. Pada waktu kembali dari Italia,
aku membawa keju Bel Paese, Gorgonzola, dan
Parmesom."

Lohmann membelalakkan mata.


"Apa?"
"Ya!" Gnaski ikut berkomentar. "Apa sih
maksudmu? Jangan mengkhayal yang tidak-tidak,
Weinhard!"
"Weinhard? Kenapa sih, kalian memanggilku
Weinhard? Namaku Max Braun."
"Kau sopir cadangan, ya?" tanya Lohmann.
"Bukan! Hmm, kelihatannya kalian anggota
komplotan lain. Pantas aku belum pernah melihat
kalian. Aku sudah 32 tahun bekerja untuk Koperasi
Susu Mandiri. Dua kali seminggu aku membawa
muatan ke Milan. Dan tahun lalu aku mendapat
piagam penghargaan karena sudah 30 tahun..."

Lohmann langsung memelototi rekannya. Cepat,


coba periksa isi tangkinya."
Gnaski bergegas ke mobil tangki yang
dikemudikan oleh Max Braun. Dengan hidung
nyaris menempel pada dinding tangki, ia membaca
keterangan yang tercantum di sana. Tapi ia belum
mau percaya. Karena itu ia juga memeriksa pelat
nomor.
Kemudian ia naik ke kabin pengemudi, mencabut
kunci, berlari ke belakang, dan membuka tutup
tangki.
Bau yang tercium sudah menjelaskan semuanya.
Ketika kembali, Gnaski menundukkan kepala
dengan perasaan bersalah.

"Koperasi Susu Mandiri?" Lohmann manghardik


sopir itu. "Apa maksudmu? Bukankah kau bekerja
untuk..."

"Benar, Ott..."

Pada detik terakhir Lohmann baru menyadari


bahwa ia hampir saja membuat kesalahan fatal.

"Oh, ya! Ehm... ternyata ada kesalahan teknis.


Gara-gara..."

Max Braun memandang Lohmann, menatap


Gnaski, mengangkat bahu dengan heran, lalu
mengusir seekor kumbang yang tertarik oleh bau
deodoran yang dipakainya.

"Jangan di depan dia, tolol!" Lohmann marahmarah. Ia sudah bermandikan keringat. Namun ia
tetap tidak boleh memperlihatkan wajahnya.

"Kau bawa muatan apa?" tanya Lohmann. "Apa


yang ada di dalam tangkimu?"

"Diam!"

Sambil memaksakan diri untuk tetap tenang, ia


berpaling pada Braun.

"Keju?" Gnaski mengulang seperti orang tolol.


"Keju beracun, maksudmu?"

"Kami... kami ternyata membuat kesalahan. Maaf,


Bung, tapi kami terpaksa mengikatmu di sini.
Setelah kami pergi, kau boleh berteriak untuk
minta tolong. Kami hanya memerlukan beberapa
menit untuk kabur dari sini. Mengerti?"

"Beracun? Hai, jangan sembarangan, Bung! Kau


membuat aku marah. Aku bekerja untuk Koperasi
Susu Mandiri, dan aku bertugas membawa keju
yang masih agak cair ke Itali. Dua setengah ton
keju kualitas terbaik. Terutama jenis Emmental,

Max Braun membiarkan dirinya diikat pada


sebatang pohon. Peristiwa ini patut dirayakan,
katanya dalam hati. Biarpun bukan aku sasaran
mereka yang sebenarnya, aku tetap saja telah
dihadang untuk kelima kalinya. Lima kali! Sopir

"Apa lagi kalau bukan keju?"

mana yang bisa menyaingi prestasiku ini? Tidak


ada! Akulah pemegang rekor.
Namun nasib Max Braun tidak seperti yang
dibayangkannya. Setelah berhasil mengikat sopir
itu, Lohmann membasahi kapasnya dengan
khlomform, lalu menempelkannya ke mulut dan
hidung Max Braun.
Sopir itu sempat meronta-ronta, dan berusaha
menarik napas lewat telinga, tapi akhirnya ia
terpaksa menyerah. Sambil mendesah panjang ia
jatuh pingsan. Dan kedua penjahat itu bisa menarik
napas lega.
Lohmann segera menarik lengan rekannya. "Ya
ampun, Bertl Kenapa ini bisa terjadi?"
"Habis, mobil tangkinya mirip sekali, Ottmar.
Hampir seperti kembar! Bahkan pelat nomornya
hampir sama. Hanya satu huruf yang lain. Aku
tidak sempat memperhatikannya tadi, karena si
Cebol ini terlalu ngebut. Aku kan sudah
mengatakan bahwa mataku tidak begitu awas lagi."
Dasar tolol! Lohmann mengumpat dalam hati.
Gara-gara dia rencanaku jadi berantakan! Janganjangan Bom Berjalan itu malah sudah lewat?
Ataukah Weinhard kali ini parkir lebih ke depan?
Ia melirik ke arah warung hamburger yang terletak
di samping restoran. Ternyata mobil tangki yang
dicarinya tidak ada di sana. Ia hanya melihat
berapa pelancong yang sedang makan siang,
sambil berharap agar cuaca tetap cerah.
Gnaski menundukkan kepala dengan malu.
"Padahal aku sudah mempelajari semuanya dengan
teliti," ia berkata dengan geram. "Dasar sial! Aku
bahkan mencatat semuanya. Minggu, tanggal 19
Pukul 14.00 Weinhard berangkat dari..."
"Haaah? Apaaa?" teriak Lohmann yang telah
melepaskan topengnya. "Aku pikir hari ini!"
"Ya, memang hari ini."
"Kalau begitu kenapa kau menyinggung tari
Minggu tanggal 19?"

"Hari ini kan Minggu."


"Bert, jangan gugup! Hari ini adalah hari Sabtu,
tanggal 18! Mengerti, tolol?! Dasar bego! Orang
jompo seperti kau seharusnya puas dengan
tunjangan dari pemerintah, dan bukannya
mengacaukan rencanaku!"
Gnaski menunduk seakan-akan takut ditampar.
Tapi dalam keadaan seperti ini pun ia tetap
nyengir. Mungkin ada yang tidak beres dengan
sistem sarafnya.
"Menurut kalender di rumahku, hari ini adalah hari
Minggu! Sumpah!"
"Kalau begitu kalendermu yang ngaco, kata
Lohmann, setelah tiga kali menarik napas panjang.
"Barangkali kau pakai kalender tahun lalu, atau
tahun depan. Atau bahkan dari tahun 1820.
Mungkin juga kalendermu dibuat di Jepang. Di
sana matahari memang terbit lebih cepat. Tapi
sama saja! Kau yakin bahwa mobil tangki itu
berangkat pada hari Minggu tanggal 19, jam 14.00
tepat?"
"Betul, Ottmar! Aku tidak mengada-ada, Gnaski
berusaha meyakinkan rekannya. "Mobil tangki itu
sengaja berangkat pada hari Minggu, karena lalu
lintas pada hari itu tidak terlalu padat."
"Hmm, masuk akal," Lohmann bergumam
"Untung saja! Berarti masih ada harapan. Kalau
begitu besok kita mulai dari awal lagi. Tapi kali ini
jangan ngawur lagi, Bert! Aku benar-benar benar
membutuhkan uang itu Kau jangan minum-minum
lagi hari ini. Jangan tidur terlalu malam. Dan besok
jangan lupa bawa kacamata hitam. Ayo, kita pergi
dari sini sebelum si Cebol siuman lagi."
Mereka naik ke mobil masing-masing, lalu
langsung berangkat.
Tapi Lohmann sempat berhenti di warung
hamburger, untuk membeli dua hamburger. Ia
penasaran apakah rasanya memang selezat yang
dikatakan Gnaski.

11. Petunjuk pada Peta Kota


JALAN Sudelfeld ternyata sejajar dengan rel
kereta api. Hampir setiap sepuluh menit ada kereta
lewat, dan para penghuni jalan itu hanya
mempunyai dua pilihan; menghadapi kebisingan
dengan sabar, atau sambil marah-marah.
Keempat sahabat STOP bersepeda melewati rumah
nomor 19.
Rumah itu agak menyudut. Tiga sisinya dibatasi
oleh pagar tanaman yang tumbuh tak teratur.
Rumahnya sendiri lebih mirip gubukkecil dan
kotor. Sisi keempat berdempetan dengan sebuah
gudang.
"Alamatnya benar," ujar Sporty sambil menoleh ke
belakang. "Bagus, Oskar. Sekarang tinggal
memastikan apakah Bert Gnaski ini memang orang
yang kita cari, dan apakah dia bersekongkol
dengan Ottmar yang rupanya akrab sekali dengan
keluarga Tepler."
Mereka berhenti di ujung jalan.

"Katakan saja bahwa kau sedang magang di kantor


polisi khusus kereta api," Oskar memotong, "lalu
tambahkan bahwa kau ditugaskan untuk
memeriksa apakah rumah Gnaski tidak terlalu
berdekatan dengan rel. Kalau dia kelihatan kaget
pada waktu mendengar kata polisi, maka sudah
pasti bahwa memang dia yang kita cari."
"Ngawur saja," Thomas menanggapi usul
sahabatnya. "Mana ada orang magang di kantor
Polsuska?"
Sementara itu Sporty telah mengeluarkan buku
catatan dari kantong celana.
"Aku akan berlagak cari sumbangan saja," ia
menjelaskan. "Untung aku selalu bawa kartu
pelajar. Aku akan minta sumbangan
untuk OSP, Organisasi Swadaya Pelajar.
Organisasi itu baru saja kuresmikan. Aku tahu,
Petra, kau pasti keberatan karena ini melanggar
hukum. Mencari sumbangan tanpa izin memang
dilarang. Tapi aku kan hanya berpura-pura saja.
Lagi pula Gnaski toh takkan menyumbangkan apaapa."

"Kelihatannya Gnaski tinggal sendirian di sini,"


kata Petra. "Nama yang tercantum pada papan
nama di pintu pagar hanya Bert Gnaski. Lagi pula
gorden-gordennya kotor sekali hmm, aku yakin,
dia pasti tidak punya istri."

"Tapi bagaimana kalau dugaanmu meleset?" tanya


Oskar penuh harap. "Barangkali kita bisa pakai
uang itu untuk beli makanan?"

"Aku mengenal seseorang yang punya istri dan tiga


anak perempuan berusia antara 16 sampai 2o
tahun," Thomas berkomentar sambil nyengir. "Tapi
gorden di rumahnya tetap saja tidak pernah bersih."

"Kalaupun dia memberikan sesuatu," ujar Sporty


sambil
menggeleng,
"maka
aku
akan
mengembalikan uangnya, lalu berkata bahwa ini
hanya percobaan dalam rangka menguji
kesetiakawanan sosial masyarakat kota kita. Kalian
tunggu saja di sini. Aku tidak akan lama."

"Ya, memang ada wanita yang tidak berminat


menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga," kata
Oskar sok tahu. "Tapi rumah Gnaski memang
kelewat sempit. Paling-paling dia cuma ditemani
oleh seekor burung kakaktua."
"Sebaiknya aku langsung temui dia saja," Sporty
memutuskan. "Aku akan mengetok pintunya, lalu
berkata... ehm... wah, apa yang harus kukatakan?
Ayo, Sporty, coba pakai otakmu!" Ia mengusap
rambutnya yang ikal. Aku akan berkata..."

Bello ingin ikut. Tapi Petra menahannya.


Sporty bersepeda ke rumah nomor 19,
menyandarkan sepedanya, kemudian melompati
pagar.
Sia-sia ia mencari bel. Di samping pintu rumah
Gnaski hanya ada kotak surat yang sudah dimakan
karat. Sporty sangat berhati-hati ketika mengetuk
pintu, karena takut pintunya copot dari engselnya
jika ia terlalu mengerahkan tenaga. Tapi tak ada
reaksi.

Ia melirik jam tangannya. Pukul dua lewat


seperempat.

dibiarkan, Bung! Pekarangan ini terlalu kecil untuk


kita berdua.

...nanti sore aku akan beraksi, begitu kata Ottmar


tadi. Apakah Gnaski juga ikut? Apakah bagi
mereka sore hari sudah mulai selepas jam makan
slang? Kalau memang begitu, apa yang jadi
sasaran mereka?

Pria perlente itu berjongkok. Sambil menempelkan


hidung pada kaca ia mengintip ke dalam.
Kemudian si Perlente mendorong daun jendela,
yang rupanya tidak terkunci. Tanpa membuangbuang waktu ia segera memanjat masuk.

Wah, kelihatannya anak-anak STOP terlambat,


pikir Sporty. Seharusnya kita tadi tidak mampir ke
tempat Emma dulu.

Ini baru kejutan! Dengan hati-hati Sporty


mengendap-endap sepanjang dinding sampai ke
jendela tadi. Apa yang diinginkan oleh pria
perlente itu? Apakah dia berniat mencuri? Seorang
pencuri dengan setelan jas sutera beraksi di sini?

Anak itu menuju ke pojok rumah untuk mengintip


lewat jendela. Namun secara mendadak ia berhenti.
Sayup-sayup terdengar suara langkah. Dan kini ada
bunyi gesekan halus, seakan-akan seseorang
sedang menerobos semak-semak.
Dengan hati-hati Sporty mengintip.
Di belakang rumah Gnaski ada sebuah pagar.
Jaraknya kira-kira kira 80 sentimeter dari dinding.
Pagar itu hanya berupa dua potong kawat yang
direntangkan antara dua tiang kayu. Sebagai
pembatas tambahan masih ada sederet tanaman
perdu. Daun-daunnya nampak kotor, karena
bersebelahan dengan rel kereta api.
Seorang pria telah melewati rel, menerobos semaksemak, menyusup di antara kedua potong kawat,
dan kini merapatkan badan pada dinding rumah.
Tak ada yang melihatnyakecuali Sporty.
Hmm, itu pasti bukan Gnaski, Sporty berkata
dalam hati. .
Pria itu berusia sekitar 30 tahun. Badannya tinggi
dan potongannya cukup atletis. Ia memiliki mata
berwarna hijau, dan rambut keriting berwarna
coklat yang kelihatannya dikeramas setiap hari.
Tapi jenggotnya seharusnya sudah perlu dicukur.
Ia mengenakan setelan jas mahal, yang terbuat dari
sutera berwarna kuning gading.
Tujuannya sama denganku, pikir Sporty. Mencari
keterangan mengenai Gnaski. Hah! Ini tidak bisa

Kini Sporty berdiri di samping jendela. Ia


memberanikan diri untuk mengintip.
Ruang duduk di rumah Gnaski ternyata kecil
sekali, dan penuh dengan perabot rongsokkan.
Meja tamu sempat bergoyang-goyang ketika si
Perlente menyandarkan badan dengan kedua
tangannya.
Meja itu ditutupi sebuah peta. Seseorang telah
membuat catatan dan mencorat-coretnya dengan
spidol berwarna hitam.
Si Perlente mempelajari peta itu dengan saksama.
Ia nampak agak terkejut. Sambil membaca, ia
menggerak-gerakkan bibir seperti seseorang yang
menjadi bisu akibat kebanyakan nonton video.
Apa yang dia cari? Sporty bertanya dalam hati. Si
Perlente kelihatannya tertarik sekali pada peta itu.
Apakah dia kesasar?
Dan sekarang dia baru berhasil menemukan jalan
menuju tempat tujuannya?
Pria di ruang duduk berdehem, meludah ke lantai,
kembali mempelajari peta, menunjuk beberapa
tempat dengan jari telunjuknya, lalu mengangguk
dengan puas.
"Aha!" ia bergumam pelan. "Jadi itulah permainan
yang mereka rencanakan". Ya, kalau begitu,"
katanya sambil nyengir, "setidaknya kalian
menyiapkan pakaian hangat dari sekarang." .

Si Perlente tidak mengambil apa-apa. Ia juga tidak


memeriksa apakah Gnaski rajin mengisi celengan
atau mengumpulkan perangko berharga.
Ia berbalik badan dan menuju ke jendela. Sporty
segera bersembunyi.
Dari arah rel kereta terdengar bunyi peluit panjang.
Sebuah kereta ekspres lewat dengan suara
gemuruh.
Sporty mengintip.
Si Perlente ternyata menunggu sampai kereta api
berlalu. Baru setelah itu ia memanjat ke luar. Tapi
sepatunya yang bermerek Gucci tersangkut,
sehingga ia nyaris jatuh terjerembab.

Sporty sudah pernah mendatangi lembah itu.


Catatan Gnaski mengatakan: Terowongan Lama!!!
Tanda seru ketiga tidak dilengkapi dengan titik.
Semua orang yang pernah datang ke Lembah
Neraka pasti mengenal Terowongan Lama.
Memang, orang tidak bisa masuk ke dalam.
Puluhan tahun lalu para pekerja telah menutup
mulut terowongan itu. Bukan dengan semen,
melainkan dengan papan dan balok kayu, yang
setelah sekian tahun pasti sudah lapuk.
Sporty memelototi peta di hadapannya. Apakah
peta ini merupakan bagian dari rencana Gnaski dan
rekannya yang bernama Ottmar? PT Nosiop? Aha!
Aha! Gerobak? Barangkali mobil angkutan yang
dimaksud Gnaski?

lebih baik aku jangan bertindak dulu, Sporty


memutuskan, lalu memperhatikan si Perlente
menyeberangi rel. Pria itu menarik kaki celananya,
persis, seperti seorang wanita bergaun panjang
yang sedang berjalan-jalan di tempat pembuangan
sampah.

Si Perlente kelihatannya bisa mengartikan catatan


ini, pikir Sporty dengan kesal, tapi aku tidak
mengerti apa-apa. Permainan apa yang sedang
berjalan? Dan kenapa Ottmar dan Gnaski harus
menyiapkan pakaian hangat?

Setelah si Perlente menghilang dari pandangan,


Sporty menuju ke jendela. Jendelanya ditutup lagi,
tetapi tidak dikunci.

Beberapa saat kemudian Sporty telah kembali ke


teman-temannya. Langsung saja ia melaporkan apa
yang ditemuinya di rumah Gnaski.

Sporty membukanya dan melompat masuk. Ia


disambut oleh bau pengap yang memenuhi ruang
duduk di rumah Gnaski.

"Aneh sekali," ujar Petra.

Rasa ingin tahu Sporty berkobar-kobar seperti api


unggun. Penuh semangat ia menghampiri meja
tamu.
Aha! Peta tadi ternyata mencakup wilayah seluas
100 km2 di sekitar kota. Dan Gnaskisiapa lagi
kalau bukan diatelah menulis beberapa catatan.
Tulisannya mirip cakar ayam, tapi Sporty masih
bisa membacanya.
Sebuah lingkaran. tebal mengelilingi tempat
istirahat pada jalan bebas hambatan. Di
sampingnya terdapat tulisan Gerobak PT Nosiop,
Kurt Weinhard, 19, setelah jam 14.00!
Sebuah tanda panah
LEMBAH NERAKA!

menunjuk

ke

daerah

"Sekarang sudah jelas bahwa Ottmar dan Gnaski


merencanakan sesuatu," Thomas berkomentar.
"Dan kelihatannya si Perlente pun tertarik.
Sedangkan Nicole dan Magda Tepler cukup akrab
dengan Ottmar."
"Yang membuat aku cemas adalah catatan
mengenai gerobak PT Nosiop itu," kata Sporty.
"Nosiop! Nosiop! Sebenarnya paling mudah kalau
kita tanya Emma saja. Tapi kita tidak bisa
melakukannya. Sebab Emma pasti akan langsung
menghubungi polisi, dan mereka akan segera
bertindak."
"Besok sudah tanggai 19," ujar Petra.
Oskar mendesah. "Aku sudah bisa membayangkan
apa rencana kita setelah ini. Kita akan menunggu

di tempat istirahat di tepi jalan bebas hambatan,


lalu menunggu bagaimana kelanjutannya."
"Tepat sekali," balas Sporty. "Besok siang kita
akan berada di sana. Dan seandainya memang
terjadi sesuatu, maka kita punya keuntungan besar.
Kita tahu siapa saja yang terlibat: Nicole dan
Magda Tepler, Ottmar, si Perlente, hanya Gnaski
yang belum sempat kita lihat. Begitu juga Kurt
Weinhard."
Barangkali itu Gnaski?" ujar Petra sambil
memandang ke ujung jalan.
Sporty dan Thomas, yang membelakangi arah itu,
segera berpindah posisi.
Sebuah VW Combi berwarna biru tua sedang
mendekat, lalu berhenti di depan pagar. Seorang
pria setengah baya bertubuh kekar turun. Ia
mengenakan pakaian montir dan topi pet. Dari jauh
Sporty mendapat kesan bahwa orang itu sedang
lelah.
"Tampangnya sih cocok," kata Petra. Orang
seperti itu mungkin saja membiar kan peta yang
penuh catatan tergeletak di sembarang tempat."
"Barangkali dia percaya bahwa dunia ini hanya
dihuni oleh orang jujur," Sporty berkomentar
sambil ketawa.
"Tanyakan saja apakah dia bersedia menyumbang
untuk Organisasi Swadaya Pelajar," Oskar
mengusulkan sambil nyengir "Nanti kita akan tahu
bagaimana duduk perkaranya."

Ia menghentikan mobilnya di Jalan Olympia


nomor satu, lalu bergegas menuju pintu. Sebelum
ia sempat menekan bel, pintunya membuka.
Nicole
ternyata
tunangannya.

mendengar

kedatangan

Tapi bagaimana penampilannya?!


Wanita muda itu sengaja berdiri di selasar
remang-remang, sehingga orang-orang yang
kebetulan lewat tidak bisa melihatnya.
Ia mencium pipi Fred, kemudian mengajaknya ke
ruang duduk.
"Dari tadi kami menunggu telepon darimu,
Magda menyambut calon menantunya. Ia
mengenakan pakaian serupa dengan anaknya.
"Aku memang tidak menelepon," jawab Fred, lalu
meraih botol berisi minuman keras.
lbu dan anakdari jauh penampilan mereka kini
lebih mirip laki-laki. Masing-masing mengenakan
baju montir dan sepatu lars yang terbuat dari kulit.
Baju montir yang mereka pakai serba kedodoran,
sehingga menyembunyikan ciri-ciri kewanitaan
mereka. Stocking yang telah diberi lubang
tergeletak di atas meja, dan akan dipergunakan
sebagai topeng. Di samping itu masih ada dua
pasang sarung tangan, serta dua topi laken yang
sudah usang.
Di depan sofa ada sebuah tas kantor. Isinya dua
pucuk pistol. Yang pertama rusak. Sedangkan
pembuatan amunisi untuk yang kedua telah
dihentikan 20 tahun lalu Tapi senjata-senjata itu
masih bisa dipakai untuk menggertak orang.

12. Kebakaran di Gudang Bawah


FRIEDRICH FRED PETULLJE sama sekali
tidak l menyadari bahwa ada empat remaja yang
menjulukinya si Perlente. Seandainya tahu, bisabisa ia lebih marah lagi. Sekarang saja ia sudah
menggerutu karena sepatunya yang mahal terkena
kotoran di rel kereta

Fred telah menuangkan minuman ke dalam gelas.


Ia nampak kesal sekali.
"Aku membayar 500 Mark untuk sepasang sepatu
ini! Tapi coba lihat seperti apa rupanya sekarang?
Siapa yang akan mengganti sepatuku ini, heh?"
"Kau habis menyeberang ladang tadi?" tanya
Nicole.

"Ngawur! Sepatuku jadi begini gara-gara aku


terpaksa menyeberang rel kereta api.

Tetapi setiap kali ia berhasil menemukan alasan


untuk menunda pekerjaan berat itu sampai besok.

"Ada apa, sih?"

Sambil mendesah dan mengumpat dengan suara


tertahan, Oskar membongkar isi lemarinya.
Semakin lama, tumpukan barang yang seharusnya
masuk tong sampah semakin tinggi. Tapi Oskar
masih merasa sayang untuk membuang barangbarang itu.

"Tidak ada apa-apa! Aku mengikuti Lohmann dan


temannya yang tolol itu sampai ke suatu tempat
istirahat di pinggir jalan bebas hambatan.
Kemudian aku mengawasi gerak-gerik mereka
lewat teropong. Rupanya mereka salah sasaran.
Bayangkan, mereka menghadang seorang sopir
mobil tangki yang sedang membawa keju untuk
diekspor ke Italia! Begitu sadar, mereka langsung
kabur. Karena masih penasaran, aku lalu ngebut ke
rumah Gnaski. Ternyata memang itu langkah yang
paling tepat. Sekarang aku tau kenapa si Tolol
membuat kesalahan. Tanggalnya keliru. Padahal
dia sudah mencatat tanggal 19 pada petanya!"
Ia menceritakan detil-detilnya.
Magda dan Nicole ketawa cekikikan. Mereka pun
ikut minum-minum. Di lemari es masih ada satu
botol lagi. Dan sore itu pun berlalu dalam suasana
riang gembira.

"Biar kubawa ke gudang bawah saja, katanya.


"Barang-barang ini akan kumasukkan ke dalam
koper. Nanti Georg," sopir keluarga Sauerlich,
"bisa membawa pulang semuanya."
Gudang bawah adalah gudang bawah tanah yang
digunakan untuk menyimpan koper-koper milik
anak-anak asrama.
"Hati-hati," ujar Sporty sambil membalik halaman
bukunya. "Lampu di gudang bawah putus dan
belum diganti."
"Tidak ada lampu sama sekali?"
"Tidak ada lampu sama sekali."

****
Langit pada hari Minggu nampak mendung. Tapi
menurut ramalan cuaca, para penduduk kota tidak
perlu khawatir. Itu bisa berarti bahwa cuaca akan
membaik,
atau bahwa hujan deras akan
mengguyur kota.
Sejak pagi Sporty berlatih judo di aula olahraga. Ia
baru berhenti setelah benar-benar lelah. Kemudian
ia menulis surat pada ibunya, dan setelah itu masih
sempat membaca dua bab dalam buku sejarah.
Anak itu sedang berbaring di tempat tidurnya.
Berkali-kali ia melirik jam yang terpasang di
dinding. Bersama Oskar ia menunggu waktu
makan siang. Sebab semakin cepat mereka selesai
makan, semakin cepat juga mereka bisa berangkat.
Oskar baru bangun menjelang pukul setengah
sebelas. Kemudian ia mulai membereskan
lemarinya. Tugas itu sebenarnya sudah hendak
dikerjakannya sejak akhir liburan musim panas.

"Wah, asrama macam apa ini?" Oskar menggerutu.


"Mana mungkin aku menemukan koperku di antara
ratusan koper lain? Uh, ya! Aku masih punya
korek api. Wah, mana aku menaruhnya?"
Oskar mencari seperti orang kesurupan. Akhirnya
ia menemukan kotak korek api itu di dasar
tumpukan barang bekas.
"Pekerjaan ini kelewat melelahkan!" ia mengomel.
"Padahal hari Minggu seharusnya digunakan untuk
beristirahat. Bagaimana kalau kita makan dulu?
Nanti saja kucari koperku di gudang bawah."
Sporty pun merasa lapar. Mereka meninggalkan
SARANG RAJAWALI dan menuruni tangga.
Ketika sampai di depan ruang makan, kedua
sahabat itu melihat bahwa Pak Pflumer sedang
memarahi seorang murid bernama Egon von Fels.
Egon berasal dari keluarga bangsawan, tetapi itu
tidak kelihatan dari penampilannya. Umurnya 12

tahun, dan ia baru saja menghabiskan sebatang


rokok cli WC. Dengan jendela tertutup rapat.
Pak Pflumeryang tidak merokokmencium bau
asapnya, lalu menampar Egon. Hukuman seperti
itu sebenarnya dilarang, Namun jika Pak Pflumer
mendapat giliran piket pada hari Minggu, maka ia
sering tidak bisa menahan diri. Orangnya besar dan
berperut buncit.
Sporty dan Oskar cepat-cepat masuk ke ruang
makan. Ternyata baru mereka yang datang.
Dengan lahap keduanya menghabiskan sepiring
sop, lalu menikmati daging semur dengan kentang
rebus. Sporty tidak mengambil makanan pencuci
mulut. Sedangkan Oskar hanya makan dengan
setengah hati. Soalnya yang dihidangkan bukan
puding coklat, melainkan buah-buahan segar.
Hal ini semakin menambah kekesalan Oskar.
"Makin lama mutu pelayanan di sini makin parah
saja," ia kembali menggerutu.
"Sudah waktunya untuk berangkat," kata Sporty.
"Kita kan sudah sepakat untuk berkumpul jam
setengah dua." .

Di sanalah ia berdiri sambil bersandar pada


dinding. Dalam hati ia memikirkan segala
kemungkinan menyangkut Ottmar, Gnaski, si
Perlente, serta Magda dan Nicole Tepler. Tapi... ke
mana si Oskar? Kenapa dia belum nongol juga?
Apakah dia tersesat di gudang bawah?
Beberapa menit telah berlalu. Tiba-tiba Oskar
muncul di ujung selasar. Ia berlari sekuat tenaga,
seakan-akan dikejar sekawanan tawon penyengat.
Wajahnya nampak pucat pasi.
Sporty, gudang... gudangnya kebakar! Sialanl
Aku..."
"Apaaa?!"
"Aku pun tidak tahu kenapa bisa kebakar.
Semuanya gara-gara lampu yang putus itu. Korek
api yang sedang kupegang jatuh... Ehm...
Koreknya menyala. Dan kebetulan jatuhnya persis
ke tumpukan kertas-bekas..."
Sporty tidak menunggu lebih lama lagi. Ia
langsung melesat maju, melewati lima anak tangga
sekaligus, kemudian masuk ke gudang bawah
tanah.

"Berapa jauh sih, sampai ke sana?"


"Ah, dekat," jawab Sporty. Ia sengaja
merahasiakan jaraknya, agar Oskar tidak patah
semangat duluan. Sebenarnya tempat istirahat di
pinggir jalan bebas hambatan itu berjarak 26
kilometer dari asramaitu pun potong kompas,
lewat jalan yang paling pendek.
Mereka kembali ke SARANG RAJAWALI. Sporty
berganti baju. Ia membuka kemejanya yang
berwarna putih, lalu mengenakan T-shirt dengan
huruf S pada dadanya. Untuk berjaga-jaga, ia juga
menyelipkan pisau lipat ke kantong celana.
Oskar menarik napas panjang, kemudian
memasukkan barang-barang yang akan ia kirimtitipkan pada Georg ke dalam sebuah kardus besar.
Kemudian ia mengangkat kardus itu untuk
membawanya ke gudang bawah.
"Aku tunggu di selasar bawah," kata Sporty.

Asap tampak mengepul di ruang penyimpanan


koper.
Lidah
api
menari-nari.
Untung
kebakarannya belum sempat membesar hingga
mengancam seluruh gedung asrama Hanya ada tiga
koper kosong yang tengah dimakan api.
Sporty menyambar tabung pemadam kebakaran,
kemudian mematikan api dengan menyemprotkan
busa khusus.
Oskar memperhatikannya sambil menganggukangguk.
"Wah, kau memang sigap sekali," ia memuji
sahabatnya. "Aku sama sekali tidak berpikir untuk
memakai tabung pemadam kebakaran. Hampir saja
aku lari ke kamar mandi untuk mengambil seember
air."
"Busyet,
benar..."

Oskar!

Kadang-kadang

kau

benar-

Suara langkah terdengar menuruni tangga.


Seseorang menarik napas sambil tersengal-sengal.
Yang pertama-tama kelihatan adalah sebuah perut
buncit. Baru kemudian Pak Pflumer menyusul.
Aduh, kacau-balau! pikir Sporty. Kita bakalan
diamuk-amuk.

Sporty berkata dengan sopan sekali. "Bararngkali


urusan ini bisa ditunda sampai..."
"Kalian dilarang ke luar asrama!" Pak Pflumer
menanggapinya dengan geram. "Ayo, segera naik
ke kamar kalian. Dan jangan keluar sebelum Pak
Kepala Sekolah datang. Awas kalau saya
memergoki kalian di taman atau di luar!"

Dugaannya ternyata benar.


"Kalian merokok, ya?" Pak Pflumer langsung
membentak mereka.
Dasar goblok! pikir Sporty. Cerutu pun tidak ada
yang baunya setajam ini.
Saya tidak merokok!" Oskar memprotes. "Saya
hanya membakar ruang penyimpanan koper. Itu
pun tanpa sengaja." Kemudian ia menambahkan
dengan nada tinggi, "Gara-gara lampunya putus
saya terpaksa menyalakan korek api. Tapi
koreknya jatuh ke tumpukan kertas bekas, dan..."
Siapa yang mengizinkan kalian untuk bermain
bakar-bakaran di sini?" teriak Pak Pflumer.
"Karena ulah kalian sekolah kita nyaris terbakar
habis. Keterlaluan! Urusan ini harus diselesaikan
sesuai dengan peraturan yang berlaku. Awas,
jangan coba-coba kabur!"
Dengan hati-hati Pak Pflumer mengintip ke ruang
penyimpanan koper. Tapi apinya sudah padam.
Bau asap yang menggantung di udara pun telah
semakin menipis.
"Kalian menghadap kepala sekolah!" Pak Pflumer
memerintah. "Sekarang juga!"
Wah pikir Sporty. Kalau begini rencana kita
terancam gagal. Seharusnya kita sudah berangkat.
Brengsek! Padahal waktunya tinggal sedikit. Petra
dan Thomas pasti sudah menunggu. Operasi
Lembah Neraka pun sedang berjalan. Sedangkan
kita malah harus menghadap kepala sekolah. Eh,
tunggu dulu! Pada hari Minggu dia kan tidak ada
di sini!
"Apakah saya boleh mengingatkan Bapak bahwa
Pak Kepala Sekolah sedang berada di rumahnya,"

Taman juga terletak di luar, Pak! Sporty


sebenarnya kepingin menendang tulang kering
gurunya itu. Buyarlah rencana mereka!
Bersama Oskar ia naik ke SARANG RAJAWALI.
Pak Pflumer menggiring kedua anak itu sambil
berlagak seperti sipir penjara. Namun napasnya
semakin pendek. Setelah sampai di ujung tangga,
ia langsung berbalik dan turun lagi.
"Brengsek!" Oskar mengumpat setelah mereka
sampai di kamar. "Setiap orang bisa membuat
kesalahan," ujar Sporty. "Tapi anehnya kau selalu
berhasil membuat kesalahan pada waktu yang
paling tidak menguntungkan. Sekarang kita
terpaksa mendekam di sini. Sementara itu Petra
dan Thomas menunggu dengan sia-sia. Mereka
butuh bantuan kita."
"Kalau begitu kita kabur saja," Oskar
mengusulkan. "Untuk apa aku punya tangga tali?"
Sporty langsung membelalakkan mata.
"Aduh, Oskar! Mikir dulu dong, sebelum buka
mulut. Pak Pflumer pasti akan memeriksa kamar
kita setiap setengah jam sekali. Dia memang tidak
menyukai aku. Lagi pula mana mungkin kita kabur
pada siang hari bolong seperti ini? Pasti ada
lusinan anak di taman. Apa jadinya kalau mereka
lihat kita kabur lewat jendela?"
"Hmm, benar juga!"
Oskar membuka lemarinya, lalu mengambil
sekeping coklat. Perasaan bersalah yang melanda
dirinya membuat anak itu jadi lapar sekali. Sambil
mengunyah ia berkata,

"Barangkali saja Pak Kepala Sekolah kembali agak


lebih cepat dari kotadan mengizinkan kita pergi.
Hari Minggu dia suka makan di Hotel Post.
Kalau... ah, percuma saja. Dengan naik sepeda kita
tidak bakal keburu sampai di tempat istirahat
sebelum jam 14.00. Untuk itu kita perlu mobil
sport."

apakah saya bertetangga dengan seorang penjahat


dan... Wah, brengsekl Ehm... Sporty, tentu saja
saya bersedia membebaskan kalian dari... ehm...
cengkeraman Pak Pflumer. Tapi baru kemarin
mobil saya masuk bengkel. Bengkelnya tidak jauh
dari rumah saya. Masalahnya mereka tidak buka
pada hari Minggu."

"Mobil sport? Oskar, itu jawabannya!" seru Sporty.


"Kita harus cari Hubi! Hanya dia yang bisa
membantu kita sekarang. Kalau naik mobil dia,
kita bisa menghemat waktu yang terbuang garagara kau membakar gudang bawah. Jelas?"

"Anda harapan kami yang terakhir,"ujar Sporty


dengan kecewa.

"Tidak!"
"Kau tunggu di sini saja! Aku mau menelepon
dulu."
Sporty bergegas ke lantai dasar. Ia harus berhatihati agar tidak kepergok oleh Pak Pflumer. Guru
itu masih sibuk berpatroli keliling asrama.
Mudah-mudahan Hubi ada di apartemennya,
Sporty berharap-harap.
Tanpa terlihat oleh Pak Pflumer ia menyelinap ke
GUDANG SAPU, ruang telepon di lantai dasar.
Sambil memutar nomor Hubi, Sporty memikirkan
apa yang harus ia katakan. Akhirnya ia sampai
pada kesimpulan bahwa ia sebaiknya berterus
terang sajamengenai rencana mereka, mengenai
apa yang ingin mereka cegah, dan mengenai orangorang yang mungkin terlibat: terutama Nicole
Tepler.
"Halo? Di sini Hubert Knoth," Hubi menyahut.
"Ini Sporty. Kami memerlukan bantuan Anda.
Urusannya sangat mendesak. Kami menghadapi..."
Sporty bercerita. Hubi mendengarkannya sambil
membisu. Ia benarbenar terpukul oleh kenyataan
ini.
"Ini... ini tidak masuk akal!" Hubi berkata. "Saya
belum bisa percaya bahwa Nona Tepler terlibat
dalam kejahatan yang lebih gawat dibandingkan
pemalsuan lukisan. Ya, Tuhanl Tapi saya harus
berani menghadapi kenyataan. Saya harus tahu

"Dan harapan kalian tidak akan saya sia-siakan!"


Hubi berseru. "Saya akan mengambil mobil saya.
Kalau perlu, saya akan mendobrak pintu bengkel.
Nanti saya akan menjelaskan pada Pak Pflumer
bahwa saya memerlukan tenaga kalian untuk
Operasi Lingkungan Bersih yang dipimpin oleh
ayah saya. Kalian tunggu saja."
"Terima kasih banyak!" seru Sporty. Tapi Hubi
sudah meletakkan gagang.
Menunggu merupakan pekerjaan yang paling tidak
menyenangkan. Terutama dalam keadaan seperti
ini. Sporty berdiri di depan jendela SARANG
RAJAWALI. Setiap tiga detik ia menoleh ke luar.
Dari kamarnya ia bisa melihat tempat parkir yang
dipenuhi oleh mobil-mobil para guru bujangan
yang tinggal cli asrama. Tapi mobil Hubi belum
kelihatan. Barangkali Porsche itu sudah mulai
dibongkar di bengkel. Atau seorang montir
meminjamnya
untuk
jalan-jalantanpa
sepengetahuan pemilik bengkel, apalagi pemilik
mobil.
Oskar sibuk melahap coklat, dan berkata, lni
benar-benar bencana bagi kita! Aku berjanji untuk
tidak lagi menyalakan api di gudang bawah. Tapi
yang salah sebenarnya Pak Pflumer. Kenapa dia
menghukum kita? Kebakaran tadi kan tidak terlalu
berbahaya."
Sporty melirik arlojinya. Waktu berlalu dengan
cepat.
Ketika Hubi akhirnya datang,
menunjukkan pukul 13.51.

jam dinding

Hubi segera bergegas ke bangunan utama, dan


mulai mencari Pak Pflumer.

"Saya rasa dia ada di ruang makan!" teriak Sporty


dari atas tangga. Kemudian ia dan Oskar
menunggu sambil menghitung detik-detik.

sampai ke sini. Tapi nanti saja kuceritakan. Kita


sudah terlambat. Apa ada kejadian aneh selama
kalian tunggu di sini?"

Mudah-mudahan Pak Pflumer tidak macammacam," ujar Oskar.

"Tidak ada apa-apa," jawab Thomas. "Kami juga


terlambat karena rantai sepeda Petra lepas terus.
Kami berharap kalian sudah lebih dulu tiba di sini.
Sejak tadi aku belum melihat siapa-siapa. Mobil
angkutan PT Nosiop juga belum datang."

Suara langkah terdengar menggema. Hubi muncul,


dan melambaikan tangan pada kepada sahabat itu.
Ayo, kita berangkat!"

"Barangkali kecurigaan kalian sejak awal memang


tidak beralasan," ujar Hubi sambil ketawa dengan
lega, "dan Nicole Teler
sama sekali tidak
bersalah."

13. Tertawan
MEREKA ngebut seperti orang gila. Oskar duduk
di belakang, Sporty di samping Hubi. Semuanya
mengenakan sabuk pengaman. Karena sedang
melaju dengan kecepatan tinggi, Hubi tidak bisa
melepaskan kemudi.
Kalau harus pindah gigiyang memang sering
dilakukannyamaka ia menginjak kopling dan
berseru, "Sekarang!"
Sporty segera menyambar tuas persneling dan
berusaha menemukan gigi yang tepat. Mula-mula
ia masih mengalami kesulitan, tapi sekarang
semuanya berjalan dengan lancar.
"Hebat!" Oskar berkomentar.
Tempat istirahat di mana Petra dan Thomas
menunggu sudah kelihatan.
Hubi mengurangi kecepatan, lalu menginjak
kopling. Sporty segera pindah ke gigi tiga.
Mereka melewati pompa bensin, restoran, dan juga
warung hamburger. Petra dan Thomas berdiri tidak
jauh dari sana. Keduanya nampak cemberut.
"Aku pikir kalian mau datang naik sepeda," kata
Petra.
Sporty segera mencium kening gadis itu.
"Pak Knoth sudah tahu apa yang terjadi," katanya.
"Tanpa bantuannya, Oskar dan aku tidak mungkin

Petra langsung menggeleng, lalu menunjuk ke arah


warung hamburger. "Waktu Thomas dan saya beli
Coca-Cola di sana, kami sempat mendengar
percakapan antara pemilik warung itu dengan
seorang pembeli. Kami hanya mendengar
sebagian, tapi kelihatannya kemarin telah terjadi
penyergapan di sini. Sasarannya adalah seorang
pengemudi mobil tangki bernama Max Braun."
"Ah, itu mungkin hanya kebetulan saja," Hubi
menanggapinya. "Nicole pasti tidak terlibat."
"Hanya ada satu cara untuk memastikannya," kata
Sporty. "Saya akan beli hamburger. Terserah siapa
yang mau menghabiskannya nanti."
"Demi kepentingan bersama,
berkorban," ujar Oskar.

aku

bersedia

Sporty menghampiri warung. Sebagian teras


warung dilindungi atap. Meja-meja yang ada di
sana nampak belepotan saus tomat. Seorang pria
berdiri di meja layan. Ia mengenakan jaket
bermotif kotak-kotak, dan sedang mencampur
Coca-Cola dengan wiski. Wanita berambut pirang
yang berada di belakang meja layan sedang
bercerita. Pria itu nampak melongo dan
membelalakkan mata. Di atas meja layan ada
sebuah papan kayu bertulisan: F. DELLE, RATU
HAMBURGER.
"Wah, ini baru kejutan, Fricka," si Jaket Kotakkotak berkomentar. Rupanya dia baru saja
mendengar berita mengenai penyergapan kemarin.

Fricka? pikir Sporty. Hmm, rupanya Bu Delle ini


kelahiran Swedia. Tampangnya sih, cocok. Dan
suaminya pasti Raja Sosis Panggang.

Ia mengangguk ke arah wanita yang terbengongbengong, kemudian kembali pada temantemannya.

"Sungguh, Heinz! Aku tidak mengada-ada. Max


Braun disergap oleh dua penjahat. Di belakang
sana, dekat tepi hutan. Dia diikat, terus dibius
dengan khloroform. Setelah itu dia dibiarkan
tergeletak di balik semak-semak. Rupanya kedua
penjahat itu salah sasaran. Ya, para bajingan pun
bisa membuat kesalahan." Ia ketawa dan melirik ke
arah Sporty.

"Kita terlambat! Ottmar dan Gnaski ternyata sudah


beraksi. Dan kalau tidak salah di balik semaksemak di belakang sana kita akan menemukan Kurt
Weinhard, sopir mobil tangki PT Nosiop; dalam
keadaan pingsan dan terikat. Mobilnya dibawa
kabur oleh kedua bajingan itu. Coba kita periksa."

Tapi anak itu masih nampak ragu-ragu.

Dugaan Sporty ternyata tepat sekali. Mereka


menemukan sopir itu dalam keadaan terbius.
Tangannya diikat, dan mulutnya disumpal dengan
sepotong kain.

"Salah sasaran?" tanya Heinz.


Sporty segera kembali ke warung hamburger.
"Ya, mereka keliru, Max Braun kan membawa
keju ke Milan. Tapi ternyata mereka sama sekali
tidak mengutak-atik muatannya. Polisi sempat
datang ke sini. Mereka juga minta keterangan dari
aku. Tapi aku tidak melihat apa-apa."
Heinz memandang ke tepi hutan, ke tempat
perhentian mobil-mobil angkutan. "Astaga! Dekat
sekali dari sini! Para penjahat semakin nekat saja,
Tepatnya di mana mereka menyergap Max?"
"Di depan pohon cemara yang tinggi itu Kurt
Weinhard tadi juga berhenti di sana. Wah, kali ini
aku benar-benar kecewa terhadap dia. Begitu
mobil tangkinya berhenti, aku langsung
menyiapkan hamburger yang paling besar untuk
dia, seperti biasanya. Tapi ternyata dia tidak
datang. Dia hanya berhenti sebentar, lalu langsung
berangkat lagi. Aku sempat melambaikan kantong
berisi hamburger, tapi... Hmm, aneh! Rasanya
bukan Kurt Weinhard yang duduk di belakang
kemudi. Pantas saja dia tidak mampir ke sini. Tapi
aku yakin, Kurt yang pegang kemudi waktu
datang."
Ia berpaling pada Sporty. "Mau pesan apa?"
Sporty menatap wanita itu dengan wajah berseriseri. "Bu Delle, sebenarnya saya ingin memeluk
Anda. Anda tidak bisa membayangkan betapa
penting keterangan Anda bagi kami. Nanti saya
akan kembali untuk mencicipi hidangan Anda.
Tapi sekarang kami sedang terburu-buru."

"Bu Delle, di sana ada orang yang mengalami


kejadian yang sama dengan Max Braun. Saya rasa
orang itu Kurt Weinhard langganan Anda yang
biasanya selalu mampir ke sini. Satu hal yang ingin
saya tanyakan, jam berapa mobil PT Nosiop
berangkat dari sini?"
Wanita itu semakin heran. Si Jaket Kotak-kotak
pun semakin melongo. Sporty terpaksa mengulangi
pertanyaannya.
"Saya... saya tidak tahu persis," jawab Bu Delle.
"Tapi belum terlalu lama. Jadi Kurt juga jadi
korban mereka? Wah, kalau begini saya harus
segera menelepon polisi."
"Saya memang mau minta tolong pada Anda untuk
menghubungi pihak yang berwajib," ujar Sporty.
"Dan tolong rawat orang yang pingsan itu! Nah, itu
dia."
Kurt Weinhard digotong oleh Hubi dan ketiga
sahabat Sporty. Untung saja orangnya kecil,
sehingga mereka tidak perlu memeras tenaga.
Sporty segera menggantikan tempat Petra. Setelah
sopir yang malang itu diserahkan pada Bu Delle,
Hubi beserta anak-anak STOP langsung bergegas
ke mobilnya.
Sekarang ke Lembah Neraka!" kata Sporty
"Bagian kedua dari permainan ini akan
berlangsung di sana."

Dengan kecepatan tinggi mereka melewati jalan


bebas hambatan. Seperti tadi, Sporty bertugas
mengoper gigi persnelling. Sementara itu Oskar
bercerita mengapa ia dan Sporty terlambat.
Thomas ketawa. Hubi menyetir dengan sebelah
tangan.
"Sebelum lupa," kata Petra, yang duduk di
belakang Sporty, "Emma... ehm... Bu GisenHapplich sempat menelepon tadi. Katanya kita
ditunggu jam 16.00. Kami diundang untuk
menghadiri pesta kebun anaknya, Gunter GisenHapplich, Direktur PT Nosiop, Gadis itu lalu
menjelaskan pada Hubi.
"Jam empat sore?" Oskar mendesah. Mudahmudahan saja kita jangan terlambat lagi. Aku akan
menyesal seumur-umur kalau tidak sempat
mencicipi kambing guling yang khusus disediakan
untukku."
Hei, itu dia!" Sporty tiba-tiba berseru.
Benar saja! Di depan mereka sebuah mobil tangki
bertulisan PT Nosiop menggelinding di jalur
lambat.
"Hati-hati," kata Sporty. "Kemungkinan besar ada
orang yang mengenal kita di mobil itu."
Tanpa mengurangi kecepatan, Hubi melewati
kendaraan berat itu.
Oskar melirik melalui jendela belakang. "Aku lihat
Ottmar! Hanya dia..."

"Cairan di dalamnya bisa digunakan untuk


menimbulkan bencana," kata Sporty.
"Sama halnya
berkomentar.

dengan

korek

api,"

Oskar

Sebuah papan petunjuk di pinggir jalan


mengatakan bahwa semua orang yang menuju ke
Eipenhausen, Plogdort, Taulstadt, ke Danau
Angerwieser, atau ke Lembah Neraka, harus keluar
dari jalan bebas hambatan.
Hubi mengerem dan menginjak kopling. Sporty
mengoper gigi persneling. Mereka semakin dekat
ke tempat tujuan.
Lembah Neraka memotong sebuah bukit menjadi
dua bagian yang tidak sama besar. Sebuah jalan
berlubang menyusuri lembah. Orang-orang yang
tahu bahwa jalan itu buntu pasti akan segera
kembali. Puluhan tahun lalu pernah ada rencana
untuk menembus bagian bukit yang lebih besar
dengan sebuah terowongan. Tapi rencana itu
akhirnya terbengkalai. Belakangan Lembah Neraka
dikenal sebagai tambang batu kerikil. Di ujung
lembah terdapat celah-celah di batu cadas, yang
kadang-kadang mengeluarkan uap belerang. Bau
uap itu amat menusuk hidung dan juga kurang
sehat. Karena itulah Lembah Neraka memperoleh
namanya yang tidak menarik.
"Kita bisa bersembunyi di terowongan," Sporty
mengusulkan. "Tapi mobilnya harus di taruh di
mana?"
"Pilihannya cukup banyak," kata Thomas.

Pada detik berikutnya mereka menyusul VW


Combi berwarna biru tua yang dikemudikan
Gnaski.
"Nah, itu Gnaski," ujar Oskar. "Dia masih nyengir
seperti orang gila. Selain dia tidak ada siapa-siapa
lagi."
"Nicole Tepler tidak kelihatan?" tanya Hubi
dengan gembira. "Sejak semula pertama saya
kurang percaya bahwa dia terlibat dalam urusan
ini. Semuanya memang masih teka-teki bagi saya.
Untuk apa mereka mencuri mobil tangki berisi
limbah beracun?"

Dan memang! Lembah yang sempit itu tampak


seperti hutan belantara; penuh pohon-pohon,
semak belukar, tumbuhan dan rumput liarsegala
sesuatu yang tumbuh subur di tanah yang lembab.
Hubi membawa mobilnya ke balik dinding
tumbuhan di sebelah kanan jalan. Hanya ada satu
jalan untuk mencapai tempat persembunyian itu.
Roda mobil Hubi masuk ke dalam lumpur. Tapi
Hubi yakin bahwa Porschenya takkan
terperangkap di sini.

Mereka menuju ke jalan itu. Mobil Hubi tidak


kelihatan sama sekali. Sedangkan jejak ban. yang
ditinggalkan hanya bisa dilihat oleh pencari jejak
yang paling ulung.

terowongan dilepaskan satu per satu. Semuanya


dibuang ke samping, dan setengah jam kemudian
mulut terowongan telah terbuka lebar. Ottmar dan
Gnaski bermandikan keringat.

Mereka bergegas ke terowongan.

"Awas!" bisik Sporty. "Kita tidak sendirian lagi.


Ada yang bersembunyi di balik semak-semak di
dekat pohon besar itu. Kelihatannya seperti
beberapa orang."

Di sebelah kiri, di dekat ujung lembah, ada dinding


batu cadas setinggi rumah bertingkat tiga. Sisa
lereng bukit jauh lebih landai, dan ditumbuhi
pohon-pohon serta semak-semak. Bagian tepi
tebing dibatasi oleh pagar kawat.
Mulut Terowongan Lama cukup besar untuk
dimasuki sebuah mobil tangki. Ruang di sebelah
kiri dan kanan masih cukup lebar untuk dilewati
orang. Hanya bagian atasnya agak pas-pasan. Tapi
Sporty menaksir bahwa mobil tangki PT Nosiop
tidak akan terbentur.
Mulut terowongan ditutup seadanya dengan papan
dan balok kayu. Sebuah papan memperingatkan;
DILARANG MASUK! BAHAYA RUNTUH!
Mereka memilih tumbuhan semak yang berada
agak jauh dari mulut terowongan, lalu duduk di
atas batu-batu berlumut. Sporty mengorbankan
saputangannya, agar celana jeans Petra jangan
sampai kotor.
"Hanya kita yang ada di sini," katanya. "Pintar
juga, mereka. Aku menduga, Ottmar dan Gnaski
bermaksud menyembunyikan mobil tangki itu di
sini. Lalu? Rasanya tidak masuk akal kalau mereka
menjual isinya sebagai obat serba guna. Barangkali
mereka ingin memeras PT Nosiop."

Sporty dan yang lainnya semakin menundukkan


kepala. Namun mereka tidak perlu khawatir.
Tempat persembunyian mereka benar-benar aman.
Ottmar dan Gnaski telah memecahkan leher sebuah
botol bir, dan kini minum dengan penuh semangat.
Gnaski tetap nyengir terus. Tapi sekarang Ottmar
pun ikut-ikutan, ia menepuk bahu rekannya, naik
ke mobil tangki, lalu menghidupkan mesin.
Dengan hati-hati ia memasukkan kendaraan berat
itu ke dalam terowongan.
Gnaski memberi pertunjuk. Ia melompat ke kiri,
lalu ke kanan, dan bertingkah seperti badut.
"Lebih ke kiri, Ottmar! Hati-hati! Ke kiri! Terus,
terus, sedikit lagi! Yaaa! Sekarang ke kanan!
Stop!"
Terowongan Lama telah menelan mobil tangki PT
Nosiop. Asap knalpot mengepul. Kemudian
Ottmar mematikan mesin.
Hubi dan .anak-anak STOP tidak bisa memastikan
seberapa jauh mobil tangki itu masuk ke dalam
terowongan.

"Set!" Hubi mendesis. "Mereka datang!"

Ottmar kembali.

Sebuah kendaraan berat terdengar mendekat,


kemudian berhenti di depan mulut terowongan.
Mobil yang dikemudikan Gnaski menyusul.
Ottmar dan Gnaski turun. Mereka hanya bicara
seperlunya, lalu mengeluarkan linggis dari mobil
Gnaski.

Di balik semak-semak dekat pohon besar tidak ada


yang bergerak.

"Ayo, kita mulai saja, Bert!" ujar Ottmar.


Mereka bekerja dengan sekuat tenaga. Balok-balok
dan papan-papan kayu yang menghalangi mulut

Tapi pasti ada orang di sana! pikir Sporty.


Ottmar dan Gnaski mulai menutup mulut
terowongan. Mereka bekerja sampai bercucuran
keringat, namun tetap menghabiskan waktu lebih
lama dibandingkan pada waktu membongkar.

Ketika kedua bajingan itu akhirnya hampirselesai, lutut mereka nampak gemetaran. Keduanya
memang sudah agak berumur dan kelihatannya
terlalu malas untuk berolahraga.
"Sebentar lagi beres, Bert," ujar Ottmar dengan
napas tersengal-sengal.
Mereka menggotong balok kayu terakhir ke mulut
terowongan.
Semak-semak di seberang tempat persembunyian
anak-anak STOP bergerak-gerak.

Ottmar mengerti. Tiba-tiba saja ia memahami apa


yang telah terjadi. Wajahnya jadi merah padam
karena marah.
"Kurang ajar!" ia berteriak. "Siapa yang
mengkhianati kami? Ini ada yang tidak beres!
Brengsek! Kami sudah bekerja setengah mati, eh,
tahu-tahu kami disikat oleh seorang pengkhianat
busuk. Kalian jangan terburu-buru, kawan. Aku
yakin, kita pasti bisa menyelesaikan urusan ini
secara baik-baik. Untuk apa kita ribut-ribut?"

Ketiga-tiganya bertopeng dan memegang pistol.


Mereka bergerak tanpa bersuara. Yang paling
tinggi, yang berada di tengah, berjalan dengan
ringan. Kedua rekannya melangkah seakan-akan
sedang ikut peragaan busana.

"Tidak ada yang mengkhianati kalian," balas si


Perlente. "Asal tahu saja, Lohmann, aku
mengawasi setiap langkahmu sejak kau tiba di kota
ini. Aku mengawasi kau, temanmu yang tolol itu,
dan juga kedua perempuan yang kaudatangi tadi.
Aku sudah tahu apa rencanamu. Kau ingin
memeras PT Nosiop, bukan? Kau ingin meracuni
air tanah dengan limbah mereka kalau tuntutanmu
tidak dipenuhi. Tapi kau boleh melupakan
semuanya. Waktumu sudah habis."

Gnaski dan Ottmar tidak menyadari apa-apa.


Dengus napas mereka sendiri terlalu keras.

Ia mengeluarkan dua buah borgol dan kantong, lalu


melemparkan keduanya ke hadapan mereka.

"Balik badan dan angkat tangan!" si Jangsung


memerintah dengan tegas.

"Hei, Gnaski! Coba kauikat tangan rekanmu di


balik punggungnya! Awas kalau kau berani
macam-macam! Aku tidak segan-segan menarik
picu."

Sporty sempat terheran-heran ketika ketiga sosok


itu muncul secara mendadak.

Gnaski dan Ottmar berdiri seperti patung.


Perlahan-lahan mereka membalik. Keduanya
tampak kaget sekali. Tapi Gnaski tetap nyengir.
Itu si Perlente," bisik Sporty. "Aku mengenali
suara dia. Dan cara jalannya."
Hanya itulah ciri-ciri yang menunjukkan identitas
orang-orang bertopeng itu. Ketiga-tiganya
mengenakan pakaian montir. Selain memakai
topeng, mereka juga mengenakan topi. Mereka
nampak cukup berbahaya.
"Hah? Lho! Apa... Apaapaan ini'?" tanya
Gnaski.
"Diam!" si Perlente menghardiknya. "Jangan
melawan kalau kalian masih sayang pada nyawa
kalian. Mulai sekarang kami yang mengatur segala
sesuatu di sini! Jelas?"

Gnaski menurut. Ottmar Lohmann menggertakkan


gigi. Tapi itu tidak membantu. Tangannya diborgol
oleh Gnaski. Kemudian salah satu dari kedua rekan
si Perlente melangkah maju. Selama ini dia belum
berkata apa-apa. Ia mengikat Gnaski, kemudian
memeriksa borgol di tangan Lohmann. Anggota
ketiga di komplotan mereka mengeluarkan
potongan-potongan kain dari kantong.
Gnaski tidak mengadakan perlawanan. Dalam
sekejap mulutnya sudah tersumpal. Namun
Lohmann masih memberontak.
Si Perlente segera menghantamkan pistolnya ke
kepala Lohmann. Bajingan itu memang tidak
sampai jatuh pingsan, tapi kepalanya pasti terasa
berdenyut-denyut.

Setelah mulut Lohmann pun disumpal, si Perlente


berkata,
"Kita ikat mereka ke bemper mobil tangki- Si
Tolol di depan, temannya di belakang. Biar mereka
punya waktu untuk memikirkan kebodohan
mereka."
Ia menggiring Gnaski dan Lohmann ke dalam
terowongan. Kedua rekannya menyusul.
"Astaga!" bisik Hubi. "Kita baru saja menjadi saksi
mata sebuah kejahatan. Padahal setengah jam yang
lalu saya masih beranggapan bahwa kita hanya_
buang-buang waktu saja. Tapi sekarang dugaan
kalian telah terbukti. Ada-ada saja! Gnaski dan
Lohmann menculik mobil tangki itu, tapi
kelompok kedua yang menikmati hasilnya. Wah,
ini benar-benar menegangkan. Setelah menghadapi
ujian akhir di universitas, saya tidak pernah merasa
setegang ini."
Petra mengangguk. Sebagai anggota STOP, gadis
itu sudah terbiasa dengan petualangan yang
mendebarkan.
Thomas tersenyum.
Oskar memberi isyarat dengan tangannya, yang
berarti; Ah, ini sih soal kecil! Kami sudah sering
menemui hal-hal yang jauh lebih berbahaya.
Aku jadi kasihan sama Hubi, pikir Sporty.
Sebentar lagi dia bakal jauh lebih kaget lagi.
Tunggu saja sampai kedua bajingan bisu membuka
topeng mereka.
Tidak lama kemudian si Perlente dan kedua
rekannya kembali.
Begitu keluar dari terowongan, mereka mulai
bertingkah seperti penghuni rumah sakit jiwa.
Mereka menari-nari dan melompat-lompat sambil
membuka topeng masing-masing.
Si Perlente yang pertama-tama mencopot
topengnya. Tak ada yang terkejut, sebab, kecuali
Sporty, tidak ada yang mengenalnya. Sedangnya
Sporty mengangguk dengan puas. Ya, itulah orang
yang dilihatnya di rumah Gnaski.

Tapi setelah itu!


Sporty
segera
menyikut
Hubiuntuk
memperingatkannya. Ternyata itu memang perlu.
Hubi hampir saja berteriak karena begitu kecewa.
Ia masih tenang-tenang saja ketika wajah Magda
Tepler muncul dari balik topeng. Ia memang belum
pernah bertemu dengannya. Tapi ketika melihat
Nicole, Hubi merasa kepalanya seperti dihantam
dengan palu godam. Ia nampak menyeringai, dan
matanya mulai berair. Hatinya benar-benar hancur
lebur. .
Sst! Sst!" Nicole berdesis sambil menyeka
keringat yang membasahi keningnya. Wajahnya
kelihatan agak merah. Kedua matanya berbinarbinar. "Si Lohmann tidak boleh mendengar kita.
Dia sudah curiga bahwa ada orang yang
mengkhianatinya. Tapi dia sama sekali tidak
menyangka bahwa orang ternyata bekas pacarnya
yang dulu. Hebat! Bagaimana, Fred? Semuanya
beres?"
Semuanya berjalan dengan mulus," jawab si
Perlente. Kemudian ia menepuk pantat Magda
mungkin karena sedang terbawa oleh luapan
kegembiraan. "Kalian berdua jaga di sini! Dan
siapkan pistol kalian. Jangan sampai rencana kita
berantakan pada saat terakhir, hanya karena ada
orang yang kesasar ke sini. Aku mau menutup
terowongan dulu."
Magda dan Nicole setuju saja. Dengan santai
mereka menggenggam pistol, dan menatap ke
sekeliling. Tapi keduanya sama sekali tidak
kelihatan curiga ataupun waspada. Soalnya tidak
ada yang mengusik suasana damai di Lembah
Neraka.
Hubi dan anak-anak STOP mengintip sambil
menelungkup. Mereka memang tidak bisa berbuat
apa-apa, karena baik Magda, Nicole, maupun si
Perlente, masing-masing membawa pistol. Bahkan
Sporty pun menyadari bahwa mereka lebih baik
bersabar.
Napas si Perlente sudah mulai memburu.
Kelihatannya dia tidak biasa bekerja kasar.

Meskipun demikian, dia berhasil menutup celah


terakhir dengan sebuah balok kayu.
"Nah," ia berkata sambil menatap telapak
tangannya, "mereka tidak bisa kabur atau berteriak
minta tolong. Dan mereka juga takkan mati
kelaparan kalau kita tinggal sebentar. Sudah
waktunya untuk menghubungi Direktur Gisen
Happlich. Dia harus mengeluarkan satu juta Mark
untuk cairan beracunnya ini. Ya, paling tidak
setengah juta. Kalau tidak... Tapi itu sudah kita
bahas tadi. Begitu dia bayar, dia akan kita beritahu
di mana dia bisa menemukan mobil tangkinya
lengkap dengan para penculik. Hahaha!"
Nicole Tepler dan ibunya ikut ketawa.
Si Perlente memungut peralatan yang dibawa
Gnaski, lalu melemparkan semuanya ke mobil
bajingan itu. Kemudian ia dan kedua rekannya
naik. Si Perlente menghidupkan mesin, memutar
mobil, lalu mengarahkan VW Combi itu ke luar
lembah.
Dalam sekejap saja suara mesinnya sudah tidak
kedengaran lagi.
"Aku rasa mobil mereka disembunyikan di suatu
tempat di lembah ini," kata Sporty. Mereka hanya
memakai mobil Gnaski agar tidak perlu jalan kaki
ke sana. Hmm, rupanya mereka sudah terlalu
banyak menguras tenaga.
Ya Tuhan!" bisik Hubi sambil menggeleng
"Ternyata kalian yang benar. Nicole memang
seorang penjahat! Padahal dia begitu berbakat. Dia
begitu pandai melukis..."
.... dengan gaya Cranach," Oskar menyambung.
Ya. sayang sekali! Bakat saja ternyata tidak bisa
mencegah perbuatan bodoh."
Wah untung saja Oskar menyinggung soal
Cranach! " Thomas berseru. "Sudah sejak dua hari
yang lalu aku ingin bercerita mengenai kedua
pelukis besar itu. Tapi ada saja yang membatalkan
rencanaku, sehingga...
"...dan sekarang juga," ia dipotong oleh Sporty.
"Soalnya kita harus memburu waktu."

"Ya, kita harus mengeluarkan Ottmar dan Gnaski


dari terowongan," Petra berkomentar sambil
mengangguk.
"Sebenarnya bukan itu yang kupikirkan," kata
Sporty sambil ketawa. "Kenapa kita harus
membebaskan mereka? Mereka kan tidak bisa
kabur. Biar polisi saja yang menjemput mereka.
Kita kan masih harus menghadiri pesta kebun. Pak
Knoth, apakah Anda bersedia ikut dengan kami?
Emma paling senang bertemu dengan orang muda.
Dan hampir semua orang lebih muda dari dia."
****
Mobil-mobil mewah nampak berderet-deret di
depan kediaman Direktur Gisen-Happlich. Dari
pekarangan belakang terdengar alunan musik tiup.
Seorang pegawai berseragam berdiri di pintu
gerbang. Ketika berhadapan dengan Hubi dan
anak-anak STOP, ia langsung mengerutkan kening.
"Maaf, Pak Direktur sedang sibuk," ia berkata
dengan angkuh.
"Kami tamu di sini," balas Sporty dengan ketus.
"Kami diundang oleh Bu Emma..."
"Ah!, ternyata kalian datang juga!" suara Emma
tiba-tiba terdengar. Langsung saja ia mendekat
untuk menyambut keempat sahabat mudanya.
Keempat-empatnya dirangkul dengan erat. Hubi
pun sudah mendapat giliran, ketika Emma
mendadak sadar bahwa ia belum mengenalnya.
Sporty memperkenalkan Hubi, lalu menjelaskan
bahwa tangan guru muda itu patah akibat
kecelakaan pada waktu latihan judo. Kemudian ia
menambahkan, "Kami mengajak Pak Knoth
sebagai tamu kehormatan, sebab... sebab kami
tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan beliau.
Kami terlalu banyak kehilangan waktu karena
ulah Pak Pflumer. Dan karena itu perusahaan Anda
nyaris kehilangan satu juta Mark."
Terheran-heran Emma menatap Sporty. Mungkin
ia menduga bahwa anak itu sedang menderita
demam. Ia baru hendak bertanya ketika sebuah
teriakan terdengar menggema.

Tariakan itu berasal dari atas, dari ujung gang


menuju ke lantai dua. Anak-anak STOP segera
menoleh ke arah itu, dan melihat Direktur GisenHapplich. Pimpinan PT Nosiop itu ternyata mirip
sekali dengan ibunya. Hanya saja sorot matanya
tidak begitu tajam.
"Ibu!" ia berseru dengan nada memilukan.
Emma langsung berbalik.
Sekitar 30 sampai 40 tamu mendadak terdiam.
Semuanya melihat ke arah tuan rumah.
"Ibu!" Gunter Gisen-Happlich kembali berseru.
Tergopoh-gopoh ia menuruni tangga. "Keterlaluan!
PT. Nosiop baru saja menjadi sasaran usaha
pemerasan."
Suaranya cukup keras, sehingga terdengar sampai
ke pekarangan. Para tamu yang ada di sana pun
mengalir masuk.
"Dia mau pamer," Sporty berbisik ke telinga Petra.
"Kejadian ini merupakan sensasi bagi tamutamunya. Sekarang pestanya baru mulai meriah."

berisi cairan beracun itu kini lenyap tanpa bekas,


dan..."
Gunter Gisen-Happlich segera mengangkat tangan
ketika tamu-tamunya mulai berbisik-bisik.
"...masih ada kelanjutannya; teman-teman! Saya
baru saja meletakkan gagang, ketika telepon
kembali berdering. Kali ini dari seorang laki-laki
yang mengaku bertanggung jawab atas kejadian
ini. Mobil tangki itu ada di tangan kelompoknya,
dan mereka menuntut satu juta Mark. Kalau saya
tidak membayar, maka mereka akan menggunakan
cairan beracun itu untuk menimbulkan kerusakan
lingkungan yang luar biasa. Bagaimana pendapat
kalian?"
Ia menatap ke sekeliling seakan-akan menunggu
sanjungan dari para undangan.
"Para bajingan itu akan terheran-heran," Emma
berbisik pada anak-anak STOP. "Pokoknya tak
sepeser pun akan jatuh ke tangan mereka."
Sporty dan ketiga sahabatnya ketawa.
Hubi nyengir lebar.

Petra hanya ketawa.


Sementara itu Gunter Gisen-Happlich berhenti di
tengah tangga.
Ibu! Temanteman yang saya hormati!" ia
berkaata. "Kita akan meneruskan pesta ini, dan
tidak akan mengalah terhadap ulah sekelompok
penjahat Tapi saya tidak akan merahasiakan apa
yang harus dihadapi oleh seorang pengusaha
seperti saya. Baru saja saya menerima telepon dari
rumah sakit. Sejak dua jam yang lalu para dokter
sibuk merawat seseorang bernama Kurt Weinhard.
Perlu saya jelaskan bahwa Kurt Weinhard bekerja
sebagai sopir di perusahaan saya. Dia disergap, dan
dibius di suatu tempat istirahat tepi jalan bebas
hambatan. Sampai tadi Weinhard belum bisa
memberikan
keterangan.
Tapi
sekarang
keadaannya sudah membaik dan... Berita yang
saya terima mengatakan bahwa para penjahat itu
menculik mobil tangki milik PT Nosiop yang
dikemudikan oleh Weinhard. Mobil tangki yang

"Kau saja yang mengatakannya,"


menawarkan pada Thomas.

Sporty

Tapi Thomas menggeleng. "Kau sudah mulai tadi.


Tapi sampai sekarang belum ada yang mengerti."
"Begini," Sporty lalu berkata dengan gaya yakin
"Mobil tangki Anda, Pak Direktur, berada di
Lembah Neraka. Tepatnya di Terowongan Lama.
Mobil itu disembunyikan di sana. Cairan beracun
di dalamnya masih belum dikutak-katik. Kedua
penjahat yang bertangungjawab atas kejadian ini
telah diikat pada bemper. Mereka adalah Ottmar
Lohmann dan rekannya yang bernama Bert
Gnaski. Mereka ternyata dikelabui oleh kelompok
penjahat lain. Kelompok inilah yang menelepon
Anda, Pak Direktur. Anggota-anggotanya adalah
Nicole dan Magda Tepler serta seorang laki-laki
bernama Fred. Markas mereka terletak di Jalan
Olympia nomor satu. Kami akan menjelaskan
semuanya pada waktu makan nanti."

Keheningan yang menyusul merupakan sesuatu


yang tidak biasa untuk pesta kebun di rumah
Direktur Gisen-Happlich.
Kemudian Emma berkata, "Keempat anak muda
ini, Gunter, adalah anak-anak STOP yang telah
kuceritakan padamu. Mula-mula mereka berhasil
menyelesaikan kasus tempat bedak dengan
gemilang. Dan sekarang mereka berjasa kepada
perusahaan kita. Ayp ke sini. Gunter! Kau harus
berterima kasih pada mereka."
****
Polisi segera berangkat ke Lembah Neraka untuk
mengamankan mobil tangki milik PT Nosiop, serta
Ottmar Lohmann dan Bert Gnaski. Pada saat
bersamaan polisi juga menggerebek rumah di Jalan
Olympia nomor satu.
Sementara pasta berjalan dengan meriah di
kediaman Gunter Gisen-Happlich, para penjahat
berkumpul di balik terali besi. Belakangan semua
dikenakan hukuman yang sesuai dengan perbuatan
masing-masing. Tapi pada waktu itu Nicola Taplar
sudah terhapus dari ingatan Hubi.
Hubi ternyata bertemu dengan wanita idamannya
di pesta kebun di rumah Gunter Gisan-Happlich;
seorang wanita muda yang juga bekerja sebagai
guru. Pujaan hatinya itu memang tidak bisa
melukis, tapi ia sangat menyukai mobil sport.
Tiga bulan kemudian keduanya mengumumkan
pertunangan mereka. Anak-anak STOP tentu saja
juga diundang.
Atas nama teman-temannya Oskar menyerahkan
seikat bunga.
"Bunga-bunga ini bisa dibeli dengan bebas," ujar
Oskar sambil melirik ke Pak Knoth tua. "Tak satu
pun berada di bawah perlindungan undang-undang.
Kami sudah memastikan hal ini. Soalnya kami
sekarang jadi pejuang pelestarian lingkungan yang
paling gigih."
TAMAT