Anda di halaman 1dari 11

A.

TEKNOLOGI LINGKUNGAN TEPAT GUNA


Teknologi Lingkungan Tepat Guna merupakan Teknologi Tepat Guna yang
digunakan untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan. Teknologi Tepat Guna
merupakan teknologi yang harus memenuhi persyaratan teknis, ekonomi, dan sosial
budaya.
1. Teknis, yaitu memperhatikan dan menjaga tata kelestarian lngkungan hidup,
penggunaan secara maksimal bahan baku lokal, menjamin mutu (kualitas) dan
jumlah (kuantitas) produksi, secara teknis efektif dan efisien, mudah perawatan dan
operasi, serta relatif aman dan mudah menyesuaikan terhadap perubahan.
2. Ekonomis, yaitu efektif menggunakan modal, keuntungan kembali kepada produsen,
jenis usaha kooperatif yang mendorong timbul industri lokal.
3. Sosial budaya, memanfaatkan keterampilan yang sudah ada, menjamin perluasan
lapangan kerja, menekan pergeseran tenaga kerja, menghidari konflik sosial budaya
dan meningkatkan pendapatan yang merata.
Dalam penerapan TLTG, peran serta masyarakat sangat dibutuhkan. Hal ini
berkaitan dengan keberlangsungan teknologi tersebut dan penerimaan di masyarakat.
Masyarakat harus dilibatkan mulai dari perencanaan, operasional dan perawatan
teknologi supaya dapat menanamkan rasa kepemilikan teknologi dalam diri masyarakat
tersebut. Selain itu, sangat penting untuk dapat membuat masyarakat sadar bahwa
teknologi yang akan diterapkan bermanfaat untuk kepentingan pribadi mereka dan
pengelolaan lingkungan hidup di daerah mereka. Perubahan sosial dalam pemberdayaan
komunitas pada hakekatnya merupakan suatu proses perubahan evolusioner yang
disengaja (intended change) dan terarah (directional change).
Teknologi lingkungan tepat guna adalah suatu alat yang sesuai dengan kebutuhan
dan dapat berguna serta sesuai dengan fungsinya serta teknologi yang sederhana, murah
dan dapat berfungsi dengan baik dan juga merupakan teknologi yang ramah lingkungan,
dalam artian tidak mencemari lingkungan. TLTG dapat diartikan sebagai penerapan
suatu teknologi yang merupakan solusi dari permasalahan lingkungan yang ada serta
dapat diterapkan dalam masyarakat dan memenuhi faktor-faktor yang mempengaruhi
penerapan TLTG. Mulai dari aspek teknis teknologi, finansial ekonomi, partisipasi
masyarakat dan efektivitas teknologi. TLTG merupakan alih bahasa secara cukup
longgar dari appropriate technology, suatu pengertian yang mempunyai makna
tertentu.

Perwujudan TLTG banyak ditemukan dalam bentuk teknologi tradisional yang


dipraktekkan oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Masyarakat tersebut, kecil sekali
peluang memiliki kesempatan memakai teknologi maju dan efisien, yang merupakan
pola teknologi dari masyarakat maju/industri. Secara teknis TLTG merupakan jembatan
antara teknologi tradisional dan teknologi maju. Oleh karena itu, aspek-aspek sosiokultural dan ekonomi juga merupakan dimensi yang harus diperhitungkan dalam
mengelola TLTG.
Menurut Ahmadi (2000), dalam penerapan teknologi tepat guna perlu diperhatikan
beberapa pertimbangan, antara lain :
a) Pemilihan jenis dan tingkat teknologi yang akan diterapkan harus dilakukan oleh
masyarakat pengguna dengan bantuan, bimbingan dan arahan dari ahli yang
berkompeten.
b) Perlunya diperhatikan budaya masyarakat yang mencakup agama, adat, kebiasaan
dan aspek sosial lainnya.
c) Perlunya pembagian tugas dalam penerapan teknologi di antara warga, baik
berdasarkan tingkat pendidikan, kelompok umur ataupun antara pria dan wanita
sesuai dengan kemampuan masing-masing kelompok.
d) Perlunya diperhatikan kondisi lingkungan masyarakat, baik dalam sumbedaya alam
dan sumberdaya manusia, maupun dalam aspek fisik-teknis dan sosial ekonomi.
e) Perlunya diperhatikan ketersediaan sarana yang diperlukan dalam pengoperasian,
perawatan dan perbaikan peralatan yang digunakan.
f) Perlunya diperhatikan aspek keselamatan kerja bagi pelaksana, peralatan dan
kelestarian lingkungan
B. CONTOH PENERAPAN TEKNOLOGI LINGKUNGAN TEPAT GUNA
1. Saringan Pasir Cepat (skala rumah tangga)
Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan
pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air
terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas
(up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan
kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir. Saringan Pasir Cepat
(SPC) merupakan saringan air yang dapat menghasilkan debit air hasil penyaringan
yang lebih banyak daripada Saringan Pasir Lambat (SPL). Walaupun demikian
saringan ini kurang efektif untuk mengatasi bau dan rasa yang ada pada air yang
disaring.
Selain itu karena debit air yang cepat, lapisan bakteri yang berguna untuk
menghilangkan patogen tidak akan terbentuk sebaik apa yang terjadi di Saringan
Pasir Lambat, sehingga akan membutuhkan proses disinfeksi kuman yang lebih

intensif. Secara umum bahan lapisan saringan yang digunakan pada Saringan Pasir
Cepat sama dengan Saringan Pasir Lambat, yakni pasir, kerikil dan batu. Perbedaan
yang terlihat jelas adalah pada arah aliran air ketika penyaringan. Pada saringan
pasir lambat arah aliran airnya dari atas ke bawah, sedangkan pada Saringan Pasir
Cepat dari bawah ke atas (up flow). Selain itu pada saringan pasir cepat umumnya
dapat melakukan backwash atau pencucian saringan tanpa membongkar
keseluruhan saringan (Kumalasari, 2007).

Proses filter pasir cepat adalah sebagai berikut :

a. Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di media
filter. Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyannga, masuk
lubang/oriface, ke pipa lateral terkumpul didi pipa manifold dan akhirnya air keluar
menuju bak penampung.

Gambar 2.9 Aliran Air Pada Saat Operasi Filter


b. Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori pori media
sehingga terjadi clogging (penyumbatan) yang akan meningkatkan headloss aliran air
di media
c. Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik kepada media (backwash)
dengan tujuan untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat poripori media filter. Aliran air dari mainfold, ke lateral keluar oriface, naik ke media
hingga media terangkat, dan air di buang melewati gutter yang terletak di atas media.

Gambar 2.10 Aliran Air Pada Saat Pencucian Filter

2. IPAL Komunal
a. Anaerobic Baffle Reactor
Anaerobic Baffled Reactor (ABR) merupakan sistem pengolahan
tersuspensi anaerob, dalam biorektor berpenyekat. Pertumbuhan tersuspensi
(suspended growth) lebih menguntungkan dibanding pertumbuhan melekat
(attached growth) karena tidak membutuhkan media pendukung serta tidak
mudah tersumbat.
Anaerobic Baffled Reactor (ABR) dikembangkan oleh McCarty dan
rekan-rekannya di Universitas Stanford (McCarty, 1981 dalam Wang, 2004).
ABR merupakan UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket) yang pasang
secara seri, namun tidak membutuhkan butiran (granule) dalam operasinya
(Barber and Stucky 1999 dalam Wang, 2004), sehingga memerlukan periode
start-up lebih pendek (Movahedyan, 2007). Serangkaian sekat vertikal
dipasang dalam ABR membuat limbah cair mengalir secara under and over
dari inlet menuju outlet, sehingga terjadi kontak antara limbah cair dengan
biomassa aktif (Nachaiyasit and Stucky, 1997 dalam Movahedyan, 2007).
Profil kosentrasi senyawa organik bervariasi sepanjang ABR sehingga
menghasilkan pertumbuhan populasi mikroorganisme berbeda pada masingmasing kompartemen (Foxon et.al.) tergantung pada kondisi lingkungan
spesifik yang dihasilkan oleh senyawa hasil penguraian (Nachaiyasit and
Stucky, 1997 dalam Bell, 2002). Bakteri dalam bioreaktor mengapung dan
mengendap sesuai karakteristik aliran dan gas yang dihasilkan, tetapi bergerak
secara horisontal ke ujung reaktor secara perlahan sehingga meningkatkan cell

retentation time. Limbah cair berkontak dengan biomassa aktif selama


mengalir dalam reaktor, sehingga efluen terbebas dari padatan biologis
(biological solids). Konfigurasi tersebut mampu menunjukkan tingkat
penyisihan COD yang tinggi (Grobicki and Stucky, 1991 dalam Wang, 2004).
Meskipun pengolahan ABR merupakan proses pengendapan sederhana
tanpa penambahan bahan kimia, proses yang terjadi dalam ABR sangat
komplek dan saling terkait. Proses-proses yang terjadi adalah (Qasim dalam
Mubarok, 2008) :
Penyisihan zat padat
Proses penyisihan zat padat terjadi secara alami dan membentuk tiga
lapisan dalam tangki yaitu lapisan lumpur pada dasar tangki, lapisan
busa (scum) pada permukaan air dan lapisan cairan yang relatif agak
jernih di tengah. Partikel-partikel padat membentuk partikel yang lebih
besar dan mengendap di dasar tangki. Pembentukan partikel ini dibantu

dengan adanya gas dan partikel lumpur pada cairan limbah.


Pembentukan lumpur dan busa (scum)
Zat organik pada lumpur dan scum didegradasi oleh bakteri anaerob
menghasilkan asam, karbondioksida dan methan. Pembentukan gas pada
lapisan lumpur menyebabkan partikel flok mengapung dan akan
mengendap setelah gas dilepaskan ke permukaan. Lumpur pada tangki
menjadi padat tergantung dari berat cairan dan lapisan permukaan
lumpur.

Stabilisasi larutan
Selama waktu tinggal dalam tangki, zat-zat organik dalam larutan limbah
distabilisasi oleh bakteri anaerob, dimana organik komplek akan dipecah

menjadi materi yang lebih sederhana.


Pertumbuhan mikroorganisme
Bermacam-macam mikroorganisme tumbuh, bereproduksi dan mati
dalam tangki septik. Mereka melekat pada zat organik dan terpisah dari
padatan. Secara keseluruhan terjadi reduksi jumlah mikroorganisme.

Anaerobic Baffle Reactor (ABR)

b. Pengolahan Dengan Sistem Biofil Anaerob-Aerob


Air limbah rumah tangga yang akan diolah dikumpulkan dari beberapa
rumah dengan cara mengalirkannya melalui pipa PVC. Jenis air limbah yang
diolah yakni seluruh air limbah rumah tangga yang berasal dari air bekas
cucian, buangan dapur, buangan kamar mandi dan buangan (Iimbah) tinja. Air
limbah dialirkan ke alat pengolahan melalui lubang pemasukan (inlet) masuk
ke ruang (bak) pengendapan awal. Selanjutnya air limpasan dari bak
pengendapan awal air dialirkan ke zona anaerob. Zona anaerob tersebut terdiri
dari dua ruangan yang diisi dengan media dari bahan plastik sarang tawon
untuk pembiakan mikroba. Pada zona anaerob pertama air limbah mengalir
dengan arah aliran dari atas ke bawah, sedangkan pad a zona anaerob ke dua
air limbah mengalir dengan arah aliran dari bawah ke atas. Selanjutnya air
limpasan dari zona anaerob ke dua mengalir ke zona aerob melalui lubang
(weir). Oi dalam zona aerob tersebut air limbah dialirkan ke unggun media
plastik sarang tawon dengan arah aliran dari bawah ke atas, sambil dihembus
dengan udara. Air limbah dari. zona aerob masuk ke bak pengendapan akhir
melalui saluran yang ada di bagian bawah. Air limbah yang ada di dalam bak
pengendapan akhir tersebut disirkulasikan ke zona anaerob pertama,
sedangkan air limpasan dari bak pengendapan akhir tersebut merupakan air
hasil olahan dan keluar melalui lubang pengeluaran, selanjutnya masuk ke bak
kontaktor khlor. Selanjutnya air limpasan dari bak kontaktor dibuang ke
saluran umum. Setelah proses berjalan selama dua sampai empat minggu pad a
permukaan media sarang tawon akan tumbuh lapisan mikro-organisme, yang
akan menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air limbah.
Proses pengolahan air limbah rumah tangga dengan biofilter anaerobaerob ini merupakan pengembangan dari proses proses biofilter anaerob
dengan proses aerasi kontak Pengolahan air limbah dengan proses biofilter
anaerob-aerob terdiri dari beberapa bagian yakni bak pengendap awal, biofilter
anaerob (anoxic), biofilter aerob, bak pengendap akhir, dan jika perlu
dilengkapi dengan bak kontaktor khlor. Air limbah yang berasal dari rumah
tangga dialirkan melalui saringan kasar (bar screen) untuk menyaring sampah
yang berukuran besar seperti sampah daun, kertas, plastik dll. Setelah melalui
screen air limbah dialirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan
partikel lumpur, pasir dan kotoran lainnya. Selain sebagai bak pengendapan,

juga berfungasi sebagai bak pengontrol aliran, serta bak pengurai senyawa
organik yang berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur) dan
penampung lumpur. Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya
dialirkan ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari atas ke dan bawah
ke atas. Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari
bahan plastik atau kerikil/batu split. Jumlah bak kontaktor anaerob ini bisa
dibuat lebih dari satu sesuai dengan kualitas dan jumlah air baku yang akan
diolah.
Penguraian zat-zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh
bakteri anaerobik atau fakultatif aerobik Setelah beberapa hari operasi, pada
permukaan media filter akan tumbuh lapisan film mikro-organisme. Mikroorganisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat
terurai pada bak pengendap. Air limpasan dari bak kontaktor (biofilter)
anaerob dialirkan ke bak kontaktor (biofilter) aerob. Di dalam bak kontaktor
aerob ini diisi dengan media kerikil, atau dapat juga dari bahan pasltik
(polyethylene), batu apung atau bahan serat, sambil diaerasi atau dihembus
dengan udara sehingga mikro organisme yang ada akan menguraikan zat
organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada
permukaan media.
Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikro-orgainisme
yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media
yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik,
deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan
ammonia menjadi lebih besar. Proses ini sering di namakan Aerasi Kontak
(Contact Aeration). Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di
dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa mikro-organisme
diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa
sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke bak
khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan
senyawa khlor untuk membunuh micro-organisme patogen. Air olahan, yakni
air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai
atau saluran umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob tersebut
selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD), juga dapat menurunkan
konsentrasi ammonia, deterjen, padatan tersuspensi (SS), phospat dan lainnya.
Peoses Biofilter "Anaerob-Aerob" ini mempunyai beberapa keuntungan yakni:

Adanya air buangan yang melalui media kerikil yang terdapat pada
biofilter mengakibatkan timbulnya lapisan lendir yang menyelimuti kerikil
atau yang disebut juga biological film. Air limbah yang masih
mengandung zat organik yang belum teruraikan pada bak pengendap bila
melalui lapisan lendir ini akan mengalami proses penguraian secara

biologis.
Efisiensi biofilter tergantung dari luas kontak antara air limbah dengan
mikro-organisme yang menempel pada permukaan media filter tersebut.
Makin luas bidang kontaknya maka efisiensi penurunan konsentrasi zat
organiknya (BOD) makin besar. Selain menghilangkan atau mengurangi
konsentrasi BOD dan COD, cara ini dapat juga mengurangi konsentrasi
padatan tersuspensi atau suspended solids (SS), deterjen (MBAS),
ammonium dan posphor.

Diagram proses pengolahan air limbah rumah tangga (domistik) dengan proses
biofilter anaerob-aerob.
Biofilter juga berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang
melalui media ini. Sebagai akibatnya, air limbah yang mengandung suspended
solids dan bakteri E.coli setelah melalui filter ini akan berkurang
konsentrasinya. Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena dengan
adanya biofilter up flow yakni penyaringan dengan sistem aliran dari bawah
ke atas akan mengurangi kecepatan partikel yang terdapat pada air buangan

dan partikel yang tidak terbawa aliran ke atas akan mengendapkan di dasar
bak filter. Sistem biofilter anaerob-aerob ini sangat sederhana, operasinya
mudah dan tanpa memakai bahan kimia serta sedikit membutuhkan energi.
Poses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah rumah tangga dengan
kapasitas yang tidak terlalu besar.
Dengan kombinasi proses "Anaerob-Aerob", efisiensi penghilangan
senyawa phospor menjadi lebih besar bila dibandingankan dengan proses
anaerob atau proses aerob saja. Selama berada pada kondisi anaerob, senyawa
phospor anorganik yang ada dalam sel-sel mikrooragnisme akan keluar sebagi
akibat hidrolosa senyawa phospor, sedangkan energi yang dihasilkan
digunakan untuk menyerap BOD (senyawa organik) yang ada di dalam air
limbah. Efisiensi penghilangan BOD akan berjalan baik apabila perbandingan
antara BOD dan phospor (P) lebih besar 10. (Metcalf and Eddy, 1991).
Selama berada pada kondisi aerob, senyawa phospor terlarut akan
diserap oleh bakteria atau mikroorganisme dan akan disintesa menjadi
polyphospat dengan menggunakan energi yang dihasilkan oleh proses oksidasi
senywa organik (BOD). Dengan demikian dengan kombinasi proses anaerobaerob dapat menghilangkan BOD maupun phospor dengan baik. Proses ini
dapat digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban organik yang
cukup besar.
Keunggulan Proses Biofilter "Anaerob-Aerob"
Beberapa keunggulan proses pengolahan air limbah dengan biofilter
anaerb-aerob antara lain yakni :

Pengelolaannya sangat mudah.


Biaya operasinya rendah.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif, Lumpur yang dihasilkan relatif

sedikit.
Dapat menurunkan konsentrasi senyawa nitrogen atau phospor yang dapat

menyebabkan euthropikasi.
Suplai udara untuk aerasi relatif kecil.
Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar.
Dapat menghilangan padatan tersuspensi (SS) dengan baik.
Tahan terhadap perubahan beban pengolahan atau beban hidrolik secara
mendadak

Perkembangan jaman dan perubahan pola hidup telah memberi


konsekuensi bagi kehidupan manusia pula. Teknologi terus berkembang
membawa manusia pada gaya hidup yang kian praktis. Kelanggengan alam
dan lingkungan hidup sekitar juga tak luput dari perhatian manusia. IPAL Bio
Filter adalah septictank dengan sistem anaerob yang didalamnya terdapat Bio
kontak yang dirancang khusus sebagai media pengurai Mikroorganisme. Dan
didalam penggunaannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan sehingga hasil
pengolahannya tidak mencemari lingkungan.
3. Biopori
Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai
akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, , perakaran tanaman, rayap dan
fauna tanah laiinya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan
menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Menunjukkan Foto melalui
mikroskop elektron yang menggambarkan dua buah lubang yang terbentuk oleh
cacing (pada lingkaran kuning bagian atas) dan lubang yang terbentuk oleh
aktifitas akar tanaman (pada lingkaran kuning bagian bawah). Bila lubang-lubang
seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang
tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya
kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya
aliran air di permukaan tanah.

Atau dengan perkataan lain akan dapat mengurangi bahaya banjir yang
mungkin terjadi. Secara alami kondisi seperti itu dapat dijumpai pada lantai hutan
dimana serasah atau bahan organik terumpuk di bagian permukaan tanah. Bahan
organik ini selanjutnya menjadi bahan pakan (sumber energi) bagi berbagai fauna
tanah untuk melakukan aktifitasnya termasuk membentuk biopori. Pada ekosistem
lantai hutan yang baik, sebagian besar air hujan yang jatuh dipermukaannya akan
diresapkan kedalam tanah. Ekosistem demikian dapat ditiru di lokasi lain dengan
membuat lubang vertikal kedalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi

bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput


atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan
sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehinga aktifitas mereka akan
meningkat. Dengan meningkatnya aktifitas mereka maka akan semakin banyak
biopori yang terbentuk. Kesinergisan antara lubang vertikal yang dibuat dengan
biopori yang terbentuk akan memungkinkan lubang-lubang ini dimanfaatlkan
sebagai lubang peresapan air artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan.
Lubang resapan ini selanjutnya di beri julukan LUBANG RESAPAN BIOPORI
atau disingkat sebagai LRB.
Manfaat yang bisa didapat dari lubang resapan biopori antara lain :
a. Mencegah banjir
Banjir sendiri telah menjadi bencana yang merugikan bagi warga Jakarta.
Keberadaan lubang biopori dapat menjadi jawaban dari masalah tersebut.
Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan di Jakarta memiliki
biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan
dapat mencegah terjadinya banjir.
b. Tempat pembuangan sampah organic
Banyaknya sampah yang bertumpuk juga telah menjadi masalah tersendiri di
kota Jakarta. Kita dapat pula membantu mengurangi masalah ini dengan
memisahkan sampah rumah tangga kita menjadi sampah organik dan non
organik. Untuk sampah organik dapat kita buang dlaam lubang biopori yang
kita buat.
c. Menyuburkan tanaman
Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk
organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah
menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya.
d. Meningkatkan kualitas air tanah
Organisme dalam tanah mampu membuat samapah menjadi mineral-mineral
yang kemudian dapat larut dalam air. Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas
karena mengandung mineral.