Anda di halaman 1dari 14

PROSES PENGOLAHAN AIR MINUM

Sistem penyedian air bersih memerlukan air baku yang jumlahnya sebanding dengan
kebutuhan air. Instalasi pengolahan air yang memanfaatkan air permukaan sebagai air baku
harus memperhatikan kualitas dari air baku yang digunakan karena semakin buruk kualitas
air baku yang digunakan, semakin sulit pengolahan yang harus dilakukan untuk mendapatkan
air yang sesuai baku mutu air bersih atau air minum. Pada umumnya, sumber air baku dari air
permukaan harus diperhatikan segi kekeruhan dan segi mikrobiologisnya. Kondisi air baku
yang buruk menyebabkan biaya pengolahan yang dibutuhkan semakin tinggi karena bahan
kimia yang diperlukan akan semakin banyak atau bahkan diperlukan unit pengolahan yang
baru untuk menjaga agar kualitas air sesuai dengan baku mutu.
Baku mutu yang digunakan untuk kualitas air minum di Indonesia adalah Peratuan
Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002. Jika air minum yang diproduksi tidak
memenuhi baku mutu, harus dilakukan pengolahan lanjutan untuk memastikan air tersebut
aman untuk dikonsumsi. Pengolahan air baku secara umum dilakukan melalui proses fisika
dan proses kimia atau kombinasi antara kedua proses tersebut. Proses pengolahan dan unitunit pengolahan yang digunakan harus disesuaikan dengan kualitas air baku, polutan yang
harus disisihkan, dan tujuan dari penggunaan air hasil pengolahan.
1. PENGOLAHAN FISIK
Prinsip pengolahan air secara fisika adalah menggunakan proses penyaringan
dan gravitasi. Pengolahan fisika pada umumnya digunakan untuk menghilangkan
kekeruhan yang disebabkan oleh partikel-partikel terlarut dalam air baku.
1.1 Sedimentasi
Sedimentasi merupakan unit yang berfungsi memisahkan padatan dan cairan
dengan menggunakan pengendapan secara gravitasi untuk memisahkan partikel
tersusupensi yang terdapat dalam cairan tersebut (Reynols, 1982). Untuk kondisi air
baku dengan kekeruhan yang tinggi (>1000 mg/l), sebelum unit sedimentasi terdapat
unit lain yaitu unit pra-sedimentasi yang berfungsi untuk mengendapkan partikel
tersuspensi dalam air, sehingga unit sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan
partikel-partikel yang tidak terendapkan dalam unit prasedimentasi serta flok-flok
yang terbentuk setelah melalui proses koagulasi dan flokulasi.
Aplikasi utama dari sedimentasi pada instalasi pengolahan air minum adalah :

1) Pengendapan awal dari air permukaan sebelum pengolahan menggunakan


saringan pasir cepat.
2) Pengendapan air yang telah melalui proses koagulasi dan flokulasi sebelum
memasuki unit saringan pasir cepat.
3) Pengendapan air yang telah melalui proses koagulasi dan flokulasi pada instalasi
yang menggunakan sistem pelunakan air oleh kapur-soda.
4) Pengendapan air pada instalasi pemisahan besi dan mangan.
Bak Sedimentasi
Bak sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan flok-flok yang dibentuk pada
proses koagulasi dan flokulasi. Agar pengendapan yang terjadi pada bak sedimentasi
berjalan dengan baik, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi menyangkut
karakteristik aliran dalam bak sedimentasi yang akan dibangun. Untuk mencapai
pengendapan yang baik, bentuk bak sedimentasi harus dibuat sedemikian rupa
sehingga karakteristik aliran di dalam bak tersebut memiliki aliran yang laminar dan
tidak mengalami aliran mati (short-circuiting).
Bak sedimentasi pada umumnya terbuat dari konstruksi beton bertulang
dengan bentuk bulat maupun persegi panjang. Terdapat tiga konfigurasi utama untuk
bak sedimentasi, yaitu :

Bak persegi panjang dengan aliran horizontal


Bak sedimentasi dengan aliran vertical
Clarifier dengan aliran vertical

1.2. Filter Karbon


Karbon aktif dengan media granular (Granular Activated Carbon) merupakan
proses filtrasi yang berfungsi untuk menghilangkan bahan-bahan organik, desinfeksi,
serta menghilangkan bau dan rasa yang disebabkan oleh senyawa-senyawa organik.
Selain untuk menyisihkan senyawa-senyawa organik, karbon aktif juga dapat
digunakan untuk menyisihkan partikel-partikel terlarut.
Prinsip pengolahan karbon aktif adalah mengadsorbsi bahan-bahan pencemar
menggunakan media karbon. Proses adsorbsi yang berlangsung dalam karbon aktif
tergantung pada luas permukaan media yang digunakan dan berhubungan dengan luas
total pori-pori yang terdapat dalam media. Untuk mengefektifkan proses adsorbsi,
diperlukan waktu kontak yang cukup antara permukaan media dengan air yang diolah
sehingga zat-zat pencemar dapat dihilangkan secara efisien. Jika waktu kontak tidak

mencukupi, alternatif lain yang bisa dilakukan adalah menaikan luas permukaan media
menggunakan media dengan ukuran yang lebih kecil. Zat-zat dalam air yang
teradsorbsi biasanya berupa senyawa organik (menyebabkan bau dan rasa yang tidak
diinginkan),trihalometane, serta Volatile Organic coumpunds (VOCs).
Dalam instalasi pengolahan air minum, pengolahan menggunakan karbon aktif
dilakukan sebelum proses ozonisasi karena secara umum unit pengolahan karbon aktif
tidak dapat menyisihkan mikroorganisme patogen seperti virus dan bakteri. Selain itu,
karbon aktif juga tidak efektif dalam menyisihkan kalsium (Ca) dan magnesium (Mn)
yang menimbulkan kesadahan pada air, flour dan nitrat.
Media yang digunakan dalam unit pengolahan karbon aktif dapat berupa arang
kayu, batok kelapa dan batubara. Media yang sering digunakan dalam unit karbon aktif
adalah batubara yang telah diproses melalui proses pembakaran dengan temperatur
sedang dalam kondisi anaerob sehingga diharapkan batubara tidak terbakar tetapi
mengalami perubahan menjadi material karbon yang berpori-pori (porous). Batubara
yang dihasilkan dari proses ini diaktifkan melalui proses pemanasan dengan uap air dan
udara pada temperatur 1500 oF. Proses aktifasi ini akan mengoksidasi permukaan dan
pori-pori media.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam desain unit pengolahan karbon
aktif ini adalah debit pengolahan dan headloss yang tersedia, senyawa-senyawa organik
yang terdapat dalam air baku, media yang digunakan, ukuran media karbon aktif,
kecepatan filtrasi, waktu kontak, dan waktu pembersihan media karbon aktif. Media
karbon aktif harus dibersihkan atau di regenerasi kembali dalam waktu tertentu karena
media ini akan mengalami keadaan jenuh dimana kemampuan media untuk
mengabsorbsi senyawa-senyawa organik dan polutan akan berkurang. Proses regenerasi
karbon aktif ini dilakukan dengan tiga cara yaitu penguapan, pemanasan dan
penggunaan bahan kimia.
1.3 Membran
Filtrasi adalah proses pemisahan padatan dan larutan, dimana larutan dilewatkan
melalui suatu media berpori atau materi berpori lainnya untuk menyisihkan partikel
tersuspensi yang sangat halus sebanyak mungkin. Proses ini digunakan pada instalasi
pengolahan air minum untuk menyaring air yang telah dikoagulasi dan diendapkan
untuk menghasilkan air minum dengan kualitas yang baik. Filtrasi dapat dilakukan
menggunakan beberapa jenis filter, antara lain : saringan pasir lambat, saringan pasir

cepat, atau dengan menggunakan teknologi membran. Pada awalnya filtrasi


menggunakan membran merupakan unit pengolahan air alternatif untuk menggantikan
filtrasi pasir lambat (slow sand filtration). Dengan kemajuan yang sangat pesat dari
teknologi ini, terutama dari penurunan biaya operasional dan instalasinya, membran
semakin banyak digunakan dalam instalasi pengolahan air terutama untuk insatalasi
pengolahan air yang bertujuan menghasilkan air layak minum. Keunggulan utama
membran dibandingkan filtrasi pasir lambat adalah unit pengolahan yang dibutuhkan
mempunyai ukuran yang lebih kecil, kapasitas pengolahan lebih besar, serta mampu
menghasilkan air layak minum. Secara umum sistem membran dapat dibedakan
menjadi

empat

jenis

yaitu Reverse

osmosis (RO),

Elektrodialisis (ED),

Ultrafiltrasi(UF), dan MikrofiltrasiMedia yang digunakan untuk pembuatan filter


membran tersedia dalam berbagai jenis material dan metoda pembuatannya. Media
yang digunakan dapat digolongkan menjadi media absolut dan media nominal,
tergantung dari kemampuannya untuk menahan partikel yang mempunyai ukuran sama
atau lebih besar dari ukuran lubang pada media. Filter Membran biasanya digolongkan
sebagai media absolut yang dapat dibuat menggunakan berbagai macam bahan polimer,
logam, dan keramik. Media nominalbiasanya dibuat menggunakan bahan dari serat
kaca (fiber glass), serat polimer, dan keramik. Berdasarkan struktur lubang medianya,
filter membran dibedakan menjadi dua, yaitu membran tipis (screen membrane) dan
membran tebal (depth membrane). Membran tipis mempunyai lubang (pore) dengan
bentuk lingkaran yang sempurna atau hampir sempurna. Lubang-lubang tersebut
tersebar secara acak pada permukaan membran. Membran ini dibuat melalui proses
pelubangan media menggunakan penembakan electron (nuclear track) dan proses
penggoresan (etch process). Membran tipis pada umumnya digunakan pada proses
analisis gravimetri, sitologi, analisis partikulat, analisis aerosol, dan penyaringan darah.
Filter membran tebal mempunyai struktur permukaan yang tidak beraturan,
tampak kasar jika dilihat dengan perbesaran dan lubangnya (pore) terlihat lebih besar
daripada karakteristik lubang yang seharusnya. Filter membran tipe ini dibuat dari
berbagai jenis polimer melalui proses pencetakan. Bahan utama yang sering digunakan
dalam pembuatan filter membran adalah ester selulosa. Selulola membran dibuat
dengan cara melarutkan ester selulosa dalam pelarut organik, ditambah beberapa bahan
kimia untuk memperbaiki karakteristik. Setelah itu, larutan ini dicetak dengan
ketebalan 150 mm. Selama proses pencetakan, pelarut akan mengalami penguapan dan
filter membran akan mengering serta membentuk stuktur lubang yang tidak beraturan.

Membran tebal biasa digunakan untuk proses sterilisasi larutan, kultur mikroorganisme,
dan lain sebagainya.
1.3.1 Mikrofiltrasi (MF)
Tujuan utama dari pengolahan mikrofiltrasi adalah menyisihkan partikelpartikel pencemar dengan diameter lebih besar dari 0,5 mikron. Salah satu
kegunaan mikrofiltrasidalam teknik lingkungan adalah mengisolasi coliform dari
contoh air yang diteliti.Mikrofiltrasi juga dapat digunakan untuk menyisihkan partikulat
di udara yang akan digunakan sebagai bahan baku generator ozon. Membran MF dapat
dibuat dari berbagai macam material termasuk selulosa asetat. Besarnya pori-pori filter
membran berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 0,45 mikron.
1.3.2 Ultrafiltrasi (UF)
Ultrafiltrasi menggunakan membran dengan ukuran pori lebih kecil dari 0,1
mikron dan gaya tekan berkisar antara 30 sampai 90 Psi. Ultrafiltrasi dapat digunakan
untuk menyisihkan bakteri, virus, koloid, dan senyawa-senyawa organik yang
mempunyai molekul berukuran besar. Beberapa jenis membran ultrafiltrasi dapat
dibersihkan dengan melakukan backwash. Kecepatan proses filtrasi dapat berkurang
karena adanya bahan-bahan tersuspensi yang disisihkan akibat proses filtrasi dan
polarisasi konsentrasi. Akibat adanya akumulasi kontaminan pada permukaan
membran, menyebabkan penurunan kualitas larutan yang diolah serta memperbesar
gaya tekan yang dibutuhkan. Dalam bidang kesehatan, proses UF dapat digunakan
untuk memisahkan plasma darah dan sel darah merah. Dalam industri, proses UF sering
digunakan untuk menyisihkan substansi tertentu dalam air buangan, meningkatkan
konsentrasi

emulsi,

dan

meningkatkan

konsentrasi

suspensi makromolekular seperti polyvinyl alkohol.


1.3.3 Elektrodialisis (ED)
Dalam elektrodialisis, filter membran yang digunakan tidak permeable untuk air
tetapipermeable bagi kation dan anion. Filter membran yang sering digunakan dalam
proses elektrodialisis adalah filter yang dibuat dari hydrated cellophan dan media lain
yang dapat digunakan untuk menentukan ukuran pori-pori membran.
Walaupun dialisis jarang digunakan dalam bidang pengolahan air dan
pemurnian air, terdapat beberapa industri yang memanfaatkan teknologi ini untuk
mengolah air buangan. Membran mampu berfungsi sebagai penukar kation dan anion,

dimana larutan yang akan diolah dilewatkan diantara anoda dan katoda. Ruang antara
katoda dan anoda dibuat sekecil mungkin untuk meminimalisasi pemakaian energi
listrik. Ketika arus listrik searah dilewatkan pada anoda dan katoda, terjadi perpindahan
anion ke anoda dan kation ke katoda. Karena pada satu membran hanya berfungsi untuk
anion atau kation saja, maka diperlukan dua membran untuk memisahkan kation dan
anion.
Efisiensi dari elektrodialisis akan berkurang jika terjadi polarisasi konsentrasi
serta timbulnya endapan yang menempel pada permukaan membran. Hal ini
mengakibatkan kenaikan tegangan listrik yang diberikan untuk mempertahankan
kualitas air yang diinginkan. Untuk mengolah air baku, diperlukan pengolahan
pendahuluan untuk menghilangkan senyawa organik, besi, dan kekeruhan. Hal ini
disebabkan air baku mengandung molekul yang tidak memiliki ion, seperti senyawa
organik dan koloid, dimana molekul-molekul tersebut akan tetap berada dalam air hasil
pengolahan.
1.3.4 Reverse Osmosis (RO)
Osmosis merupakan perpindahan air dari larutan berkonsentrasi rendah menuju
larutan dengan konsentrasi yang lebih tinggi melalui lapisan semipermeable hingga
terjadi kesetimbangan tekanan osmosis. Reverse osmosis diartikan sebagai perpindahan
pelarut dari larutan, melalui membran semipermeable di bawah tekanan, ke pelarut
murni atau larutan yang lebih encer pada tekanan yang lebih rendah. Tekanan yang
diberikan pada larutan yang lebih pekat memungkinkan pelarut untuk berpindah ke
larutan yang lebih rendah konsentrasinya. Dalam reverse osmosis, filter membran
berfungsi sebagai lapisansemipermeable yang melewatkan pelarut dan menahan
molekul-molekul

terlarut.

Tekanan

yang

diperlukan

untuk

proses reverse

osmosis tergantung pada konsentrasi senyawasenyawa dalam pelarut, biasanya lebih


besar dari 500 psi. Reverse osmosisdisebut juga hiperfiltrasi yang merupakan filtrasi
paling bagus yang ada sampai saat ini.Reverse osmosis mampu menyisihkan partikel
sampai ukuran ion dalam larutan.
1.3.5 Arus Silang (Cross Flow)
Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan membran adalah akumulasi
substansi pada permukaan membran dan/atau lubang-lubang pada membran (pores)
yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan membran. Keadan ini disebut

sebagai membrane

fouling (tertutupnya

pori-pori

membran).

Substansisubstansi

tersebut dapat berupa koloid dan partikel tersuspensi, zat-zat organik, garam terlarut,
dan organisme biologi. Untuk mengurangi dampak dari terjadinya membrane fouling,
membran dibuat dengan sistem arus silang (crossflow). Dengan sistem ini, cairan yang
akan dimurnikan dialirkan sejajar dengan permukaan membran dan tekanan diberikan
tegak lurus dengan arah aliran cairan. Gambar 2.2 memperlihatkan proses terjadinya
arus silang.

Gambar 2.2 Arus Silang

1.4 Ultra Violet (UV)


Proses desinfeksi pada pengolahan air minum dapat menggunakan
sinar ultra violet (UV). Gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 200
nm 300 nm (disebut UV-C) dapat membunuh bakteri, spora, dan virus. Panjang
gelombang UV yang paling efektif dalam membunuh bakteri adalah 265 nm.
Mekanisme kerja UV adalah melepaskan poton yang akan diserap oleh DNA
mikroorganisme yang menyebabkan kerusakan DNA sehingga proses replikasi DNA
akan terhambat. Pada keadaan ini, mikroorganisme akan mati secara perlahan karena
tidak dapat mengatur metabolisme sel dan tidak dapat berkembang biak. DNA yang
tersusun dari rantai dasar nitrogen berupa purine dan pyrimidine dimana purine terdiri
dari adeninedan guanine, sedangkan pyrimidine terdiri dari thymine dan cytosine.
Dalam proses penyerapan poton oleh DNA, energi yang dimiliki oleh poton akan
mengakibatkan terputusnya rantai hidrogen yang menghubungkan
antara thymine dan cytosine yang mengakibatkan kerusakan DNA.

Dosis UV yang diberikan dapat dihitung dengan perkalian antara intensitas


poton yang diberikan dengan lamanya waktu pemaparan yang diberikan. Satuan yang
digunakan adalah mJ/cm2. Dalam pengolahan menggunakan UV dikenal D10 yang
didefinisikan sebagai dosis yang dibutuhkan untuk mengurangi mikroorganisme hingga
90% dari total mikroorganisme dalam air yang diolah.1.4.1. Lampu UV bertekanan
rendah (Low Pressure UV) Lampu UV bertekanan rendah (Low Pressure UV)
merupakan lampu UV yang sering digunakan dalam sistem UV dan merupakan sumber
UV yang paling lama digunakan. Lampu ini mempunyai tegangan kerja sebesar 120
volt sampai 240 volt. Tekanan udara dalam lampu kurang dari 10 Torr (1 Torr = 1,316 x
10-3 atm). Spektrum elektromagnetik yang dihasilkan dari lampu jenis ini sebesar 253
nm. Temperatur optimal operasi dari lampu UV bertekanan rendah adalah 15 oC.
Temperatur ini makin berkurang dengan pertambahan suhu lampu. Lampu ini tidak
dianjurkan untuk digunakan dalam pengolahan air yang tidak mengalir secara kontinyu
karena akan mengurangi efektifitas pengolahan seiring dengan kenaikan suhu lampu
dan pengurangan poton yang dikeluarkan oleh lampu. Unit pengolahan UV dengan
lampu bertekanan rendah dianjurkan untuk mengolah air dengan debit yang kecil.
Lampu UV dengan daya 65 watt mampu mengolah air dengan debit 2.5 liter per detik.
Ketika diperlukan penambahan debit, dibutuhkan penambahan lampu UV untuk
menjaga kualitas air hasil pengolahan.
1.5 Lampu UV bertekanan sedang(Medium Pressure UV)
Lampu UV bertekanan sedang (Medium Pressure UV) mempunyai tekanan
udara dalam tabung sekitar 102 sampai dengan 104 Torr. Lampu ini mempunyai
berbagai macam bentuk dengan bentuk umum yang sering digunakan adalah lampu
tabung dengan bentuk melingkar (arc tube). Rentang spektrum gelombang
elektromagnetik yang dihasilkan dari lampu UV bertekanan sedang cukup besar, yaitu
antara 200 nm sampai dengan 280 nm. Daya listrik yang diperlukan untuk
mengoperasikan unit UV ini sangat besar, yaitu antara 0,4 kW sampai dengan 7 kW.
Lampu UV bertekanan sedang mampu beroperasi sampai temperatur antara 600 oC
900 0C. Unit pengolahan UV menggunakan lampu bertekanan sedang dianjurkan untuk
instalasi pengolahan air yang mempunyai debit pengolahan yang besar, hingga
mencapai 170 lt/dtk, hanya dengan menggunakan satu lampu UV. Karena
kemampuannya untuk menghasilkan spektrum gelombang elektromagnetik yang cukup

besar, unit pengolahan UV menggunakan lampu UV bertekanan sedang dapat


digunakan untuk proses fotokimia, misalnya untuk proses deklorinasi dan deozonisasi.
2. PENGOLAHAN KIMIA DAN BIOLOGI
Pengolahan kimia dilakukan dengan menambahkan bahan kimia tertentu yang
bertujuan untuk menyisihkan senyawa organik maupun senyawa anorganik dalam air.
Penambahan bahan kimia ini bersifat spesifik, tergantung jenis dan konsentrasi
polutan dalam air baku. Proses pengolahan air yang menggunakan prinsip pengolahan
secara kimia antara lain koagulasi, proses penghilangan kesadahan dalam air, serta
proses desinfeksi menggunakan klor. Penambahan bahan kimia dapat menyebabkan
perubahan komposisi kimia dalam air seperti perubahan pH sehingga mengharuskan
adanya penambahan zat kimia lain untuk menyesuaikan dengan pengolahan
selanjutnya.
2.1 Flokulasi
Air baku yang keruh setelah diendapkan dalam jangka waktu tertentu masih
tetap keruh karena adanya koloid yang melayang-layang di dalam air. Koloid ini
memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat diendapkan, dengan demikian efek
gravitasi sedikit atau hampir tidak ada pengaruhnya terhadap proses pemisahan
kontaminan. Proses pemisahan diefektifkan dengan penambahan bahan kimia tertentu
dalam air baku. Setelah pencampuran tersebut, terjadi proses koagulasi (proses
pembekuan/

penggumpalan).

Secara

kimia,

hal

ini

merupakan

proses destabilisasi muatan pada zat padat yang terlarut oleh zat kimia koagulan
sehingga

zat

padat

tersebut

menggumpal

dan

dapat

diendapkan

dengan

mudah. Destabilisasi partikel dapat dilakukan melalui mekanisme sebagai berikut :

Pemanfaatan lapisan ganda elektrik.


Adsorpsi dan netralisasi muatan.
Penjaringan partikel koloid dalam presipitat.
Adsorpsi dan pengikatan antar partikel.
Pada prinsipnya, zat kimia atau koagulan yang dapat dipakai adalah semua

unsur dengan kation bervalensi dua keatas yang mempunyai daya elektrolit yang kuat,
misalnya Fe, Al, Ba. Bahan kimia yang sering digunakan dalam proses koagulasi adalah
alum (Al) dalam bentuk Aluminium Sulfat atau tawas (Al3(SO4)2.18H2O) dan Poli
Aluminium Chloride (PAC). Setelah proses koagulasi dilakukan flokulasi untuk

mempercepat terbentuknya gumpalan-gumpalan koloid yang dapat diendapkan secara


lebih mudah.
Flokulasi adalah tahap pengadukan lambat yang mengikuti unit pengaduk cepat.
Proses ini bertujuan untuk mempercepat laju tumbukan partikel, sehingga
menyebabkanaglomerasi dari partikel koloid terdestabilisasi secara elektrolitik kepada
ukuran yang terendapkan dan tersaring.
Flokulasi dicapai dengan mengaplikasikan pengadukan yang tepat untuk
memperbesar flok-flok hasil koagulasi. Pengadukan pada bak flokulasi harus diatur
sehingga kecepatan pengadukan semakin ke hilir semakin lambat. Pada umumnya
waktu detensi pada bak ini adalah 20 40 menit. Hal tersebut dilakukan karena flok
yang telah mencapai ukuran tertentu tidak bisa menahan gaya tarik dari aliran air dan
menyebabkan flok pecah kembali, oleh sebab itu kecepatan pengadukan dan waktu
detensi dibatasi. Konstruksi dari unit flokulasi harus bisa menghindari aliran mati pada
bak. Terdapat beberapa kategori sistem pengadukan untuk melakukan flokulasi ini,
yaitu pengaduk mekanis dan pengadukan menggunakan baffle channel basins
2.2 Ozonisasi
Desinfeksi adalah proses yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme
patogen yang terdapat di dalam air baku yang masuk ke dalam instalasi pengolahan air
minum. Proses ini tidak berlaku bagi mikroorganisme yang berada dalam bentuk spora.
Terdapat berbagai metode untuk melakukan desinfeksi, antara lain dengan penggunaan
zat pengoksidasi (ozon, halogen, senyawa halogen), kation dari logam berat (perak,
emas, merkuri), senyawa organik, senyawa berbentuk gas, dan pengolahan fisik (panas,
UV, pH) (Chang, 1971 dikutip dalam Reynolds, 1982).
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan desinfektan yang akan
digunakan adalah kemampuan desinfektan untuk memerangi kontaminasi yang terjadi
setelah pengolahan pada sistem ditribusi air sehingga desinfektan yang terpilih harus
memiliki kekuatan desinfeksi yang tersisa di dalam air selama proses distribusi terjadi.
Ozon merupakan senyawa oksigen yang terbentuk dari tiga atom oksigen (O3)
dan mempunyai sifat sebagai oksidator kuat. Secara alamiah ozon terbentuk melalui
dua cara yaitu melalui bantuan radiasi sinar ultraviolet matahari pada atmosfer bumi
dan kilat yang terjadi di udara. Proses ozonisasi dalam pengolahan air minum dilakukan
berdasarkan prinsip pembentukan ozon secara alamiah. Melalui dua cara diatas, ikatan
atom dari 3 molekul oksigen (O2) akan terpecah dan membentuk 2 molekul ozon (O3).

Ikatan atom yang membentuk ozon sangat lemah sehingga ozon yang terbentuk dapat
cepat kembali menjadi oksigen (O2). Hal ini menyebabkan ozon mempunyai sifat
oksidator yang kuat.
Secara kimiawi, ozon tersusun atas tiga atom oksigen yang mempunyai ikatan
tunggal dan ikatan ganda. Ikatan tunggal yang terjadi merupakan ikatan tunggal yang
sama dengan ikatan tunggal yang terjadi pada peroksida, dimana ikatan ini sangat
lemah dan jika terlepas menyebabkan terbentuknya radikal bebas. Ikatan ganda yang
terjadi merupakan ikatan kimia yang biasa terjadi pada oksigen (O2) dimana ikatan ini
sangat stabil dan tidak reaktif.
Ozon mempunyai waktu paruh sekitar 25 menit dalam air destilasi yang
mempunyai temperatur 20 oC. Waktu paruh ini akan berkurang jika berada dalam air
biasa. Radiasi sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 254 Nm dapat mengubah
ozon dalam air menjadi oksigen dan radikal bebas hidroksil. Ozon efektif mengoksidasi
berbagai jenis zat pencemar dalam air tanpa meninggalkan zat sisa yang tidak
diinginkan atau mengubah pH air secara signifikan. Ozonisasi dalam instalasi
pengolahan air minum mempunyai beberapa manfaat, antara lain untuk desinfeksi
mikroorganisme organik patogen, menghilangkan bau dan rasa yang tidak diinginkan
(biasanya berasal dari ion S-2), serta menjernihkan air akibat adanya senyawa organik
terlarut. Dalam sistem pengolahan air minum, penggunaan sistem ozonisasi disertai
dengan penggunaan saringan karbon aktif yang bertujuan untuk mengefektifkan
pengolahan terutama untuk menghilangkan zat-zat pencemar organik. Gambar 2.3 2.6
memperlihatkan mekanisme kerja ozon dalam menghilangkan zat-zat pencemar
organik.

Gambar 2.3 Ozon (O3) Dalam Larutan Dekat Bakteri

Gambar 2.4 Ozon (O3) Berikatan dengan Material Organik pada Dinding Sel

Gambar 2.6 Ozon Mengoksidasi Bakteri dan Melepaskan Material Organik


2.2.1 Pembentukan Ozon dengan Sinar Ultraviolet
Ozon dibuat dengan cara melewatkan udara pada sinar ultraviolet yang
dihasilkan dari lampu UV. Sinar UV yang dihasilkan oleh lampu akan mengubah
sejumlah kecil senyawa oksigen dalam udara menjadi ozon. Cahaya lampu yang
digunakan tergantung pada panjang gelombang cahaya yang digunakan dan spektrum
elektromagnetiknya. Panjang gelombang cahaya yang umum digunakan dalam
generator ozon dengan sistem UV adalah 185 nm yang merupakan panjang
gelombang cahaya yang paling efektif dalam pembentukan ozon. Konsentrasi ozon
yang dihasilkan dari metode ini sekitar 0,01 % sampai 0,1 % dari konsentrasi udara
yang diolah. Konsentrasi ini bersifat fluktuatif karena sangat dipengaruhi oleh
kelembaban dan intensitas sinar UV yang dihasilkan dari lampu, yang akan berkurang
seiring dengan lamanya pemakaian.
2.2.2 Pembentukan Ozon dengan Arus Listrik

Ozon dibuat dengan cara melewatkan udara atau oksigen murni melalui listrik
bertegangan tinggi yang akan memecah molekul oksigen dan membentuknya kembali
menjadi ozon. Konsentrasi ozon yang dihasilkan berkisar antara 1% hingga 20% dari
konsentrasi udara yang diolah, tergantung dari konsentrasi oksigen dari udara awal.
Dalam sistem ini digunakan oksigen konsentrator yang akan memisahkan oksigen dari
senyawa-senyawa lain, terutama nitrogen, yang terdapat di udara. Hal ini berguna
untuk menambah jumlah ozon yang dihasilkan serta mencegah terjadinya korosi
dalam sistem pengolahan yang disebabkan oleh adanya asam nitrit (HNO3) yang
terbentuk dari reaksi antara uap air (kelembaban) dengan nitrogen oksida (NO2).
2.2.3 Ozon untuk menghilangkan bau, rasa, dan warna
Ozon mampu menghilangkan warna dalam air yang disebabkan oleh senyawasenyawa organik dengan cara memecahkan ikatan atom-atom karbon yang terdapat
dalam senyawa organik. Dalam proses ini akan dihasilkan aldehid, keton, dan asam
yang dipengaruhi oleh senyawa-senyawa organik yang diuraikan, dosis ozon yang
diberikan, serta waktu kontak. Proses oksidasi menggunakan ozon dapat mengurangi
atau menghilangkan warna yang disebabkan oleh senyawasenyawa organik. Koloid
dan partikel-partikel terlarut yang menyebabkan warna dalam air dapat dihilangkan
dengan filtrasi. Efek mikrofiltrasi ozon dapat dimanfaatkan dalam proses koagulasi
koloid organik dan partikel-partikel terlarut yang akan membantu proses filtrasi.
Oksidasi senyawa-senyawa organik dapat meningkatkan biodegradasi karbon organik.
Jika biodegradasi karbon organik tidak dihilangkan atau proses klorinasi yang
dilakukan tidak mampu menghilangkan senyawa-senyawa organik yang ada dalam
air, dapat menyebabkan pertumbuhan kembali mikroorganisme dalam sistem
distribusi.
Bau dan rasa yang tidak diinginkankan dapat disebabkan oleh adanya bahanbahan organik dan bahan anorganik. Ion sulfit (S -2) merupakan senyawa kimia utama
yang menyebabkan timbulnya bau dan rasa. Ion-ion lain yang dapat menimbulkan bau
dan rasa dalam sistem distribusi air adalah besi, tembaga, dan seng. Dalam distribusi
air bersih dengan kandungan oksigen terlarut yang kurang mencukupi, proses
dekomposisi

secara

anaerobik

akan

menghasilkan

senyawasenyawa

yang

teridentifikasi sebagai penyebab terjadinya masalah-masalah estetika dalam distribusi


air bersih. Berbagai jenis senyawa yang berada dalam air baku dapat menimbulkan
bau dan rasa yang tidak diinginkan. Selain itu, pertumbuhan kembali mikroorganisme

dalam sistem distribusi juga dapat menimbulkan bau dan rasa yang tidak diinginkan
pada air yang digunakan oleh pelanggan. Sisa oksidan yang tinggi dalam proses
ozonisasi dapat memperlambat proses reaksi senyawa organik dalam sistem distribusi
air bersih sehingga mengurangi timbulnya bau dan rasa yang disebabkan terbentuknya
ion sulfit.
2.2.4 Perbandingan Ozon dan Klorin sebagai Disinfektan
Selain sebagai oksidator kuat, ozon juga merupakan desinfektan kuat yang
dapat digunakan tanpa penambahan bahan kimia tertentu. Dalam penggunaannya,
ozon dapat berubah menjadi oksigen, senyawa yang tidak beracun, dan aman bagi
lingkungan. Di berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Jerman,
ozon dimanfaatkan untuk menghilangkan warna, menghilangkan bau dan rasa,
menghilangkan senyawa-senyawa organik, mikroflokulasi, oksidasi mangan dan besi,
sebagai desinfektan, serta mematikan virus.