Anda di halaman 1dari 3

Sudah Amankah fasilitas di rumah sakit

Sejak dicanangkan rencana RSUP Dr Sardjito akan mengikuti akreditasi JCI sampai saat ini
sudah cukup banyak perubahan yang kita lakukan. Akan tetapi ternyata sosialisasi dari rencana
penilaian JCI tersebut masih harus selalu kita lakukan agar terjadi kesamaan persepsi antara pembuat
kebijakan dan program yang dibuat oleh bagian Manajemen Rumah Sakit dengan kita para pelaksana
kebijakan tersebut.
Dari beberapa standar yang ada dalam penilaian JCI akan kita bahas tentang Standar
Manajemen Keamanan Fasilitas (MKF), yang merupakan salah satu bagian dari tugas pokok Unit
K3. Standar MKF atau Facility Management and Safety (FMS) mengisyaratkan 6 hal yang harus
dipenuhi, apakah itu mari kita simak uraian dibawah ini.

1. Keselamatan dan Keamanan


a.

b.

1)
2)
3)
4)

Terdapat 2 hal dalam standar ini:


Keselamatan: fasilitas di rumah sakit harus dalam kondisi layak pakai sehingga keselamatan
dari pasien, pekerja, peserta didik, keluarga pasien serta pengunjung rumah sakit terjamin dan
terhindar dari risiko kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja. Banyak hal yang dapat
dan harus kita lakukan untuk mencapai standar ini. Kepedulian kita terhadap fasilitas yang
kurang aman sangat diperlukan agar dapat segera ditindak lanjuti oleh satuan kerja yang
berkewajiban membenahi fasilitas tersebut. Begitu juga dukungan dari manajemen dalam
merealisasikan usulan perbaikan terhadap fasilitas kurang aman merupakan kunci
penyelesaiaan risiko keselamatan di sini.
Keamanan: rumah sakit merupakan salah satu tempat usaha yang sulit melakukan
pembatasan akses masuk dari orang-orang dalam proses kerjanya. Hal ini tentunya
menambah risiko dapat diaksesnya fasilitas rumah sakit oleh orang-orang yang tidak
berwenang. Kita tahu RS kita memiliki banyak pintu masuk yang tidak bisa dikendalikan.
Kita belum bisa mengidentifikasi semua orang yang masuk ke RS untuk keperluan apa. Kita
belum tahu di dalam suatu gedung terdapat berapa orang. Bagaimana jika terjadi bencana kita
bisa meyakinkan bahwa semua sudah terevakuasi kalau kita tidak tahu berapa orang yang
berada di dalam gedung tersebut. Seharusnya setiap orang yang berada di dalam RS ini dapat
kita identifikasi dengan menggunakan tanda pengenal sbb:
Karyawan dan peserta didik dengan ID card.
Tamu dengan kartu tamu dan menulis di buku tamu,
Pasien dengan gelang identitas,
Penunggu pasien dengan kartu tunggu.
Siapkah kita mendukung suksesnya program ini ? Jawabnya tentu harus siap jika ingin
mendapatkan standar sebagai RS yang baik.
Hal lain yang harus diperhatiakan adalah akses masuk ke ruangan terbatas seperti kamar bayi,
ruang direksi, Gudang bahan berbahaya, server data dll yang harus terkendali keamanannya.

2. Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)


Sebelum bisa mengelola B3 secara aman kita semua harus mengetahui B3 itu apa
saja. Masih banyak pertanyaan yang disampaikan ke kami tentang apa saja B3 itu. Jika anda

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

sudah tahu sampaikan kepada teman anda agar kita semua tahu dan dapat mengendalian B3
tersebut.
Berikut kami sampaikan yang termasuk B3 tersebut. B3 jenisnya sangat banyak, akan
tetapi dapat kita golongkan dalam beberapa golongan saja. Suatu zat mungkin termasuk
dalam beberapa jenis bahaya. Jenis bahaya apa saja , dapat kita lihat seperti dalam uraian
berikut;
Bahan beracun
Bahan Infeksius
Bahan mudah terbakar
Bahan korosif
Bahan oksidatif
Bahan merusak lingkungan
Bahan mengandung radiasi
Bahan Mudah meledak
Bahan Karsinogenik
Jika didalam bahan atau zat yang ada ditempat kerja anda memiliki salah satu sifat
diatas, maka zat tersebut adalah termasuk B3 dan anda harus memperlakukannya dengan
hati-hati.
B3 tersebut harus dikendalikan mulai saat pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, pemanfaatan dan pembuangan limbahnya. Sifat bahaya dari bahan tersebut
dapat kita baca di (Material safety data Sheet) MSDS atau LDKB (Lembar Data
Keselamatan Bahan) yang diletakkan didekat bahan tersebut serta mudah ditemukan saat
kita butuhkan.
Dalam pemanfaatannya juga harus dikendaliakn risikonya dengan cara eliminasi jika
mungkin, substitusi, rekayasa teknis, administratif dan penggunaan APD bagi petugas yang
menangani langsung zat berbahaya tersebut. Jika perlu bantuan tentang B3 tersebut dapat
berkoordinasi dengan Unit K3 di Ext 243.

3. Keadaan Darurat
Keadaan Darurat atau bencana dapat terjadi kapan saja. Rumah sakit harus memiliki
rencana penanganan keadaan darurat ini baik untuk bencana yang terjadi di luar RS seperti
saat gempa bumi dan gunung meletus beberapa waktu yang lalu, maupun jika terjadi bencana
di dalam RS kita.
Untuk mewujudkan kesiap siagaan tersebut RSUP Dr Sardjito telah memiliki Hospital
Disaster Plan serta sistem penanggulangan bencana internal RS dengan membentuk Brigade
Siaga Kebakaran dan sistem Code Red yang beberapa saat lagi akan dipasang di satuan
kerja kita.
Selain itu secara berkala akan diadakan simulasi penanggulangan bencana di RS.

4. Penanganan Kebakaran
Kita harus selalu siapsiaga jika terjadi kebakaran dan atau bencana lain di RS
agar jumlah korban dapat dicegah atau diminimalkan. Rumah sakit telah melatih
kepada hampir seluruh pekerjanya agar mampu menggunakan APAR dengan aman.

Sistem proteksi kebakaran aktif dan pasif juga sudah tersedia di seluruh lokasi di
RSUP Dr Sardjito. Akan tetapi kita harus mampu untuk menjaganya agar sistem
tersebut selalu dalam keadaan siap pakai.
Apakah APAR, Hydrant dan jalur evakuasi beserta rambu petunjuknya dalam
keadaan baik dan siap pakai ? Sekali lagi dukungan anda semua sangat diperlukan.

5. Peralatan Medis
Peralatan medis merupakan alat produksi utama di Rumah Sakit, sehingga alat alat
tersebut harus selalu dalam keadaan layak pakai. Secara berkala IPSRS akan melakukan
kalibrasi dengan atau tanpa melibatkan vendor. Tugas kita semua adalah meyakinkan
bahwa semua alat medis yang akan kita pakai untuk pasien harus telah dikalibrasi dan
dinyatakan layak pakai. Berikan kesempatan kepada petugas yang akan melakukan
kalibrasi, karena mungkin saja alat yang tidak dikalibrasi juga berbahaya bagi petugas
seperti peralatan radiasi dll.

6. Sistem Utilitas
Terakhir yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa rumah sakit harus
tetap berproduksi apapun yang terjadi. Saat bencana terjadi mall boleh tutup,
sekolah boleh tutup akan tetapi rumah sakit tidak boleh tutup. Bahkan mungkin
menjadi tujuan utama orang-orang untuk mencari pertolongan. Hal inilah yang
mendasari sistem ini.
Kita memiliki sumber air bersih dari berbagai sumur untuk mencukupi kebutuhan
tanpa boleh berhenti. Begitu juga dengan listrik. Kita telah bekerjasama dengan PLN
dan memiliki beberapa generator listrik agar pelayanan penting di beberapa tempat
tidak berhenti dalam kondisi apapun.
Gas medis juga merupakan salah satu pelayanan yang tidak boleh berhenti.
Untuk mencapai sistem utilitas tersebut kita sudah memiliki peralatan yang
memadai, akan tetapi kita semua harus mendukung sistem ini dengan melakukan
penghematan terhadap air bersih, listrik dan gas medis terutama jika pasokan dari
sistem tersebut terganggu.
Contoh : jika listrik dari PLN mati dalam waktu yang lama kita harus menghemat
listrik dan air bersih agar tempat tempat pelayanan yang tidak boleh terhenti seperti
ICU, ICCU, Kamar Operasi dll tidak terganggu.