Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK

PEMBUATAN KURVA KALIBRASI VITAMIN B1


Kelompok :
5/E
Disusun oleh :
1. Euis Emilia
(0661 13 138)
2. Resti Maharani Editya (0661 13 152)
3. Shelby Febriyani Rahayu (0661 13 164)
Dosen Pembimbing :
1. Erni Rustiani M.Farm,. Apt
2. Nisa Najwa R M.Farm., Apt
3. Oktaviani M.Farm

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BOGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam bidang kimia, khususnya dalam farmasi, pengukuran analitik
memiliki peranan yang sangat penting. Tujuan dari pengukuran analitik ini adalah
untuk menentukan nilai sebenarnya dari suatu parameter kuantitas kimia,
contohnya seperti: konsentrasi, pH, temperatur, titik didih, kecepatan reaksi dan
lain-lain. Pengukuran analitik ini dapat menggunakan metode konvensional
maupun modern, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Dalam percobaan secara umum, hasil yang diperoleh pasti tidak dapat
terlepas dari faktor kesalahan. Nilai parameter sebenarnya yang akan ditentukan
dari suatu perhitungan analitik tersebut adalah ukuran ideal. Nilai tersebut hanya
dapat diperoleh jika semua penyebab kesalahan pengukuran dihilangkan dan
jumlah populasi tidak terbatas. Faktor penyebab kesalahan ini dapat disebabkan
oleh berbagai hal, antara lain adalah faktor bahan kimia, peralatan, analis, kondisi
pengukuran, dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk
mengurangi kesalahan dalam pengukuran analitik ini adalah dengan proses
kalibrasi.
Kalibrasi yaitu kurva antara absorbansi dengan panjang gelombang. Kurva
ini dapat menentukan panjang gelombang maksimum, terlihat dari bentuk
kurvanya pada bagian atas. Akan tetapi, pengukuran kurva kalibrasi ini didasarkan
pada konsentrasi yang dihasilkan dari metode iodimetri dan panjang gelombang
maksimumnya, sehingga diperoleh kurva kalibrasi yang linier.Tujuan kalibrasi
adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan atau ditelusur sampai ke standar yang lebih teliti atau tinggi (standar
primer nasional atau internasional) melalui rangkaian perbandingan yang tidak
terputus, dalam artian standar ukur itu akan lebih baik apabila berupa standar yang
rantainya mendekati SI sehingga tingkat ketidakpastian (error) makin kecil.

1.2 Tujuan Percobaan


a. Dapat mengetahui tahapan dalam pembuata kurva kalibrasi
b. Dapat menggunakan kurva kalibrasi dalam analisis obat

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Vitamin B1 atau bisa disebut juga tiamina merupakan salah satu senyawa
pertama yang dikenali sebagai sebuah vitamin dan berguna dalam metabolisme
tubuh.

Tiamina adalah senyawa organosulfur tidak berwarna dengan rumus


kimia C12H17N4OS. Strukturnya terdiri dari aminopyrimidine dan sebuah cincin
tiazol (thiazole) yang dihubungkan oleh satu jembatan metilen. Tiazol ini
tersubstitusi dengan rantai samping metil dan hidroksietil. Tiamina adalah
senyawa yang larut dalam air, metanol, dan gliserol, sehingga tidak larut dalam
pelarut organik yang bersifat kurang polar. Tiamina stabil pada pH asam, tetapi
tidak stabil dalam larutan alkali. Tiamina, yang merupakan karbena Nheterosiklik, dapat digunakan pada sianida sebagai katalis untuk kondensasi
benzoin. Tiamina tidak stabil terhadap panas, tetapi stabil selama disimpan dalam
kondisi beku. Selain itu tiamina juga tidak stabil bila terkena sinar ultraviolet dan
iradiasi sinar gamma. Tiamina bereaksi kuat pada reaksi Maillard.
Tiamina dilepaskan melalui oleh aksi dari fosfatase dan pyrofosfatase di
bagian atas usus halus. Pada konsentrasi rendah, proses ini dimediasi oleh
senyawa pembawa (intermediate compound), dan pada konsentrasi tinggi,
penyerapan terjadi melalui difusi pasif . Transfer aktif paling besar terjadi di
dalam jejunum (bagian tengah dari usus kecil) dan ileum (bagian akhir dari usus
kecil), proses ini dapat dapat dihambat oleh konsumsi alkohol dan kekurangan
folat. Penurunan penyerapan tiamina terjadi pada asupan di atas 5 mg / hari. Selsel mukosa pada usus memiliki aktivitas enzim thiamine pyrophosphokinase,

tetapi tidak jelas apakah enzim ini terkait dengan penyerapan aktif. Mayoritas
tiamina ada di dalam usus dalam bentuk ThDP yang terfosforilasi, tapi ketika
tiamina berada pada bagian serosal usus, tiamina cenderung dalam bentuk bebas.
Penyerapan tiamina oleh sel mukosa kemungkinan memiliki cara tambahan untuk
proses fosforilasi / defosforilasinya. Di sisi serosal usus, bukti menunjukkan
bahwa pelepasan dari vitamin oleh sel tergantung pada enzim Na+-dependent
ATPase.
Penyerapan tiamina oleh sel-sel darah dan jaringan lain terjadi melalui
transfer aktif dan difusi pasif. Otak membutuhkan tiamina pada jumlah yang jauh
lebih besar dibandingkan dengan sel tubuh lainnya. Banyak tiamina yang tertelan
tidak pernah mencapai otak karena adanya difusi pasif dan penghalang darah di
otak (blood brain barrier). Sekitar 80% dari tiamina intraseluler terfosforilasi dan
sebagian terikat dengan protein. Pada beberapa jaringan, penyerapan tiamina dan
sekresi tampaknya dimediasi oleh transporter yang larut dalam tiamina, dimana
transporter ini tergantung pada Na+ dan gradien proton transeluler.
Penyimpanan tiamina pada manusia berjumlah sekitar 25 sampai 30 mg,
dengan konsentrasi terbesar berada pada otot rangka, jantung, otak, hati, dan
ginjal. ThMP dan tiamina bebas (unbelum terfosforilasi) hadir di dalam plasma,
susu, cairan serebrospinal, dan diduga, pada semua cairan ekstraseluler. Berbeda
dengan bentuk-bentuk tiamina yang terfosforilasi, ThMP dan tiamina bebas
mampu melintasi membran sel. Kandungan tiamina pada jaringan manusia lebih
sedikit bila dibandingkan dengan organisme lainnya.
Sifat Tiamin larut dalam alkohol 70 % dan air, dapat rusak oleh panas,
terutama dengan adanya alkali. Pada kondisi kering, tiamin stabil pada suhu100 o C
selama beberapa jam. Kelembaban akan mempercepat kerusakannya. Hal ini
menunjukkan bahwa pada makanan segar, tiamin kurang stabil terhadap panas
jika dibandingkan dengan makanan kering.
Fungsi Tiamin diperlukan dalam metabolisme semua spesies hewan dan tumbuhtumbuhan. Pada tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi, tiamin dapat dibuat sendiri,
begitu pula halnya pada beberapa tumbuhan tingkat rendah. Pada semua hewan,

tiamin diperoleh dari makanannya, kecuali bila zat tersebut disintesis oleh
mikroorganisme

di

dalam traktus

digestivus (saluran

pencernaan)

hewan

ruminansia.
Fungsi metabolik tiamin antara lain pada reaksi oksidasi piruvat - AsetilKoA, rekasi oksidasi - keto glutarat dan reaksi transketolasi HMP (Heksosa
Monofosfat). Di dalam otak dan hati, segera diubah menjadi TPP (thiamin
pyrohosphat) oleh

enzim

thiamin

difosfotransferase,

dimana

reaksinya

membutuhkan ATP. Berperan penting sebagai koensim dekarboksilasi senyawa


asam-keto.

Beberapa

enzim

yang

menggunakan

TPP

sbg

koensim

adalah pyruvate decarboxylase, pyruvate dehydrogenase, dan transketolase.


Tiamin
dehydrogenase,

penting

sebagai

koensim

pyruvate

dan -ketoglutarate

sehingga jika terjadi defisiensi, maka kapasitas sel dalam

menghasilkan energi menjadi sangat berkurang Juga diperlukan untuk reaksi


fermentasi glukosa menjadi etanol, di dalam yeast.

BAB III

METODELOGI KERJA
3.1 Alat dan Bahan
A.

B. Bahan

Alat
Botol Semprot
Bulp
Kertas Grafik
Kuvet
Labu Ukur
Laptop Dan Flashdisk
Pipet Gondok
Pipet Tetes
Spektrofotometri
Tissue
Aquadest / Air Suling
Vitamin B1 (Thiamin)

3.2 Cara Kerja


A. Operating Time
Buat larutan stok dengan 50 mg vitamin B1 dan di ad dengan aquadest
dengan kadar 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm dan 50 ppm yang

diambil dari larutan stok.


Baca intensitas warna yang terjadi pada spektrofotometer pada panjang

gelombang 545 nm dengan blanko air.


Pembacaan serapan tiap interval waktu 5 menit paling tidak selama 60

menit.
Plotkan serapan yangterbaca vs waktu pada kertas grafik numeric, dan
tetapkan berapa lama larutan mempunya serapan tetap

B. Menentukkan Panjang Gelombang Maksimum


Buat lima macam kadar larutan vitamin B1 dengan kadar 10 ppm, 20

ppm, 30 ppm, 40 ppm dan 50 ppm


Baca intensitas warna yang terjadi pada spektrofotometer pada panjang

gelombang 530-580 nm
Plotkan serapan yang terbaca vs panjang gelombang pada kerta grafik
numeric dan tetapkan beberapa panjang gelombang maksimumnya

C. Membuat Kurva Kalibrasi

Buat satu seri larutan obat dalam air dengan kadar 10 ppm, 20 ppm, 30

ppm, 40 ppm dan 50 ppm


Baca intensitas warna yang terjadi dari masing-masing kadar pada

gelombang yang telah ditentukan pada butir B


Buat persamaan dari kurva baku dengan menggunakan persamaan
kuadrat terkecil, hitung koefisien korelasinya

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


Tabel 1.Absorbansi
xx
NO
1

KADAR
Larutan Blanko

ABSOBANSI
0,000 A

0,000 A

2
3
4
5
6

1. 0,224 A
2. 0,223 A

10 ppm

1. 0,438 A
2. 0,439 A

20 ppm

1. 0,653 A
2. 0,659 A

30 ppm

1. 0,833 A
2. 0,818 A

40 ppm
50 ppm

2. 22

1. 1,021 A
2. 1,023 A

0,2235 A
0,43865 A
0,656 A
0,8255 A
1,022 A

4.2. Perhitungan
Larutan stok 100 ppm
500 mg
500 ml

= 0,1 mg / ml

= 100 mg / ml
= 100 ppm

Deret vitamin B1
10 ppm
V1 . N1 = V2 . N2
100 = 100 . 10
V1 = 10 ml

20 ppm

V1 . N1 = V2 . N2
100 = 100 . 20
V1 = 20 ml

30 ppm

40 ppm

V1 . N1 = V2 . N2

V1 . N1 = V2 . N2

100. .N2
30
V1 . 100
N1 = V2

100 = 100 . 40

= 30
100 =V1
100
. 50ml

V1 = 40 ml

50 ppm

V1 = 50 ml

4.3.Grafik

kurva kalibrasi larutan baku


1.2
1
0.8
absorbansi

0.6

f(x) = 0.02x + 0.04


0.83
R = 1
0.66
0.44

0.4
0.2

1.02

Linear ()

0.22

0
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55
konsentrasi (ppm)

4.4. Pembahasan
Pada percobaan kali ini dilakukan pembuatan kalibrasi dari larutan uji
vitamin B1, yang bertujuan agar dapat mengetahui tahapan dalam pembuata kurva
kalibrasi serta dapat menggunakan kurva kalibrasi dalam analisis obat. Adapun

tujuan kalibrasi adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil


pengukuran dapat dikaitkan atau ditelusur sampai ke standar yang lebih teliti atau
tinggi

(standar

primer

nasional

atau

internasional)

melalui

rangkaian

perbandingan yang tidak terputus, dalam artian standar ukur itu akan lebih baik
apabila berupa standar yang rantainya mendekati SI sehingga tingkat
ketidakpastian (error) makin kecil.
Manfaat kalibrasi adalah sebagai berikut :
a. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan diberbagai industri
pada peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
b. Mengetahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan) antara harga
yang benar dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Prinsip-prinsip dasar kalibrasi adalah sebagai berikut :
a. Obyek ukur (Unit Under Test).
b. Standar ukur, alat standar kalibrasi, prosedur atau metode standar yang
mengacu

pada

standar

kalibrasi

internasional

atau

prosedur

yang

dikembangkan sendiri oleh laboratorium yang sudah terujui (diversifikasi).


c. Operator atau teknisi, dipersyaratkan mempunyai kemampuan teknik
kalibrasi (bersertifikat).
d. Lingkungan yang dikondisikan, suhu dan kelembaban selalu dikontrol,
gangguan dari faktor lingkungan luar selau diminimalkan (sumber
ketidakpastian pengukuran).

Mulanya dibuat larutan induk vitamin B1 1000 ppm yang kemudian larutan
ini di encerkan hingga 10 ppm dengan menggunakan pelarut aquadest. Tujuan dari
pengenceran ini adalah untuk mengetahui absorbansi dari larutan vitamin B1 yang
akan di uji dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 245
nm. Setelah dilakukan uji spekrofotometer didapat rata-rata absorbansi dari
larutan Vitamin B1 yaitu 0,2235 A untuk kadar 10 ppm; 0,4385 A untuk kadar 20
ppm; 0,656 A untuk kadar 30 ppm; 0,8255 A untuk kadar 40 ppm dan 1,022 A
untuk kadar 50 ppm .
Dari nilai konsentrasi yang diperoleh maka dapat dilakukan pembuatan
kurva kalibrasi. Larutan Vitamin B1 yang diuji dan dibuat dalam konsentrasi 10
ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, 50 ppm. Nilai regresi yang diperoleh adalah

0,998. Sedangkan nilai regresi yang baik adalah mendekati 1, namun hasil ini
tidak terlalu jauh dari literatur yang ada, sehingga masih dapat digunakan sebagai
acuan.
Hal ini menunjukan bahwa korelasi dari kurva adalah bernilai positif yang
artinya setiap penambahan nilai konsentrasi diikuti penambahan nilai absorban
secara proposional, dengan kata lain berbanding lurus dengan konsentrasi. Kurva
kalibrasi yang terbentuk digunakan untuk mengukur sampel yang dapat diketahui
dan langsung tertera pada plot.
Penyimpangan-penyimpangan yang mungkin bisa saja terjadi disebabkan
oleh:
a. Masih adanya zat pengotor dari larutan tersebut.
Pengotor seperti pencucian alat yang tidak bersih dimungkinkan
membawa dampak terhadap hasil yang diperoleh dari percobaan
ini.
b. Kekurangtelitian dari praktikan.
Kurangnya Ketelitian praktikan dapat memungkinkan perbedaan
panjang gelombang yang diperoleh seperti kurang telitinya dalam
penimbangan bahan, pengambilan pelarut, maupun ketidak
homogenan dalam pengocokan.

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik suatu kesimpulan :
a. Nilai panjang gelombang dari larutan uji Vitamin B1 adalah 245 nm.

b. Nilai regresi yang diperoleh adalah 0,998. Sedangkan nilai regresi yang baik
adalah mendekati 1, namun hasil ini tidak terlalu jauh dari literatur yang ada,
sehingga masih dapat digunakan sebagai acuan.
c. Adanya perbedaan yang diperoleh dengan literatur yang ada kemungkinan
disebabkan adanya zat pengotor dari larutan uji.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan republic Indonesia. 1979.Farmakope Indonesia,


edisi III . Jakarta : Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Underwood, Dkk. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga : Jakarta


Leon Shargel, Andrew B. C. YU, 1998, Biofarmasetika Dan
Farmakokinetika Terapan Edisi Kedua; Alih Bahasa; Fasich &
Siti Sjamsiah. Airlangga University Press : Surabaya

Mansoor m. Amiji, beverly j. Sandmann. 1993.Applied Physical


Pharmacy. Bosto: mc Graw Hill.
Martin, Alfred dkk. 1990. Farmasi Fisik. Jakarta: UI Press.