Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIK

ANALIS KAFEIN DALAM CUPLIKAN URIN


Kelompok :
5/E
Disusun oleh :
1. Euis Emilia
(0661 13 138)
2. Resti Maharani Editya (0661 13 152)
3. Shelby Febriyani Rahayu (0661 13 164)
Dosen Pembimbing :
1. Erni Rustiani M.Farm,. Apt
2. Nisa Najwa R M.Farm., Apt
3. Oktaviani M.Farm

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BOGOR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kopi (Coffea sp) merupakan tanaman yang menghasilkan sejenis
minuman. Minuman tersebut diperoleh dari seduhan kopi dalam bentuk
bubuk. Kopi bubuk adalah biji kopi yang telah disangrai, digiling atau
ditumbuk hingga menyerupai serbuk halus (Hayati, 2012). Kafein adalah salah
satu jenis alkaloid yang banyak terdapat dalam biji kopi, daun teh, dan biji
coklat. Kafein memiliki efek farmakologis yang bermanfaat secara klinis,
seperti menstimulasi susunan syaraf pusat, relaksasi otot polos terutama otot
polos bronkus dan stimulasi otot jantung. Berdasarkan efek farmakologis
tersebut, kafein ditambahkan dalam jumlah tertentu ke minuman. Efek
berlebihan (over dosis) mengkonsumsi kafein dapat menyebabkan gugup,
gelisah, tremor, insomnia, hipertensi, mual dan kejang.
Berdasarkan FDA (Food Drug Administration) yang diacu dalam Liska
(2004), dosis kafein yang diizinkan 100- 200mg/hari, sedangkan menurut SNI
01- 7152-2006 batas maksimum kafein dalam makanan dan minuman adalah
150 mg/hari dan 50 mg/sajian. Kafein sebagai stimulan tingkat sedang (mild
stimulant) memang seringkali diduga sebagai penyebab kecanduan. Kafein
hanya dapat menimbulkan kecanduan jika dikonsumsi dalam jumlah yang
banyak dan rutin. Namun kecanduan kafein berbeda dengan kecanduan obat
psikotropika, karena gejalanya akan hilang hanya dalam satu dua hari setelah
konsumsi.
Kafein diperoleh dengan menyaring larutan kopi menggunakan kertas
saring. Kemudian dipisahkan dengan corong pisah dengan penambahan
kalsium karbonat dan kloroform. Kalsium karbonat berfungsi untuk
memutuskan ikatan kafein dengan senyawa lain, sehingga kafein akan ada
dalam basa bebas. Kafein dalam basa bebas tadi akan diikat oleh kloroform,
karena kloroform merupakan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur
dengan pelarut semula. Kemudian dilakukan pengocokkan sehingga terjadi
kesetimbangan konsentrasi zat yang diekstraksi pada dua lapisan yang
terbentuk. Lapisan bawahnya diambil (fase kloroform) dan diuapkan dengan
rotarievaporator. Kloroform tadi akan menguap, sehingga hanya ekstrak kafein
yang tertinggal, kemudian diencerkan dalam labu takar 100 ml (Maramis,
2013).
Kafein adalah senyawa yang termasuk dalam golongan alkaloid. Alkaloid
adalah senyawa yang mengandung atom nitrogen dalam strukturnya dan
banyak ditemukan dalam tanaman. Senyawa alkaloid umumnya memiliki rasa
pahit dan seringkali memiliki sifat fisilogis aktif bagi manusia. nikotin,
morfin, striknin dan kokainnama mereka biasanya berakhir di "ine":. banyak
cukup akrab dengan nama jika tidak struktur kimia nikotin, morfin, striknin
(larut dalam dicloromethane) untuk memastikan bahwa zat asam tetap larut

dalam air dan bahwa kafein akan hadir sebagai basa bebas, natrium karbonat
ditambahkan ke media ekstraksi (Irwandi, 2014: 17).
Kafein dengan rumus kimianya C6 H10 O2, dan struktur kimianya 1,3,7trimetilxantin. Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat
dalam biji kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat dan beberapa
minuman penyegar. Kafein memiliki berat molekul 194,19 gram/mol. Dengan
rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6,9 (larutan kafein 1 % dalam air ). Secara
ilmiah, efek kafein terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada
adalah efek tak langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan jantung,
serta memberikan efek samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat
tidur (insomnia) dan denyut jantung tak beraturan (tachycardia). Kopi dan teh
banyak mengandung kafein dibandingkan jenis tanaman lain, karena tanaman
kopi dan teh menghasilkan biji kopi dan daun teh yang sangat cepat,
sementara penghancurannya sangat lambat (Ultriamalia. 2012).
1.2 Tujuan
a) Memperkenalkan langkah-langkah analisis obat dan atau metabolitnya
dalam cuplikan urin
b) Melakukan analisis kafein dalam urin
c) Memahami proses ADME kafein
d) Mengetahui nilai parameter farmakokinetik kafein

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
A. Kafein

Kafeina atau lebih populernya kafein, ialah senyawa alkaloid


xantina berbentuk kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat
perangsang psikoaktif dan diuretik ringan. Kafein ditemukan oleh
seorang kimiawan Jerman, Friedrich Ferdinand Runge, pada tahun 1819.
Ia menciptakan istilah "kaffein" untuk merujuk pada senyawa kimia pada
kopi.
Kafeina juga disebut guaranina ketika ditemukan pada guarana,
mateina ketika ditemukan pada mate, dan teina ketika ditemukan pada
teh. Semua istilah tersebut sama-sama merujuk pada senyawa kimia yang
sama. Kafeina dijumpai secara alami pada bahan pangan seperti biji
kopi, daun teh, buah kola,guarana, dan mat. Pada tumbuhan, ia
berperan sebagai pestisida alami yang melumpuhkan dan mematikan
serangga-serangga tertentu yang memakan tanaman tersebut. Ia umumnya
dikonsumsi oleh manusia dengan mengekstraksinya dari biji kopi dan
daun teh. Kafeina merupakan obat perangsang sistem pusat saraf pada
manusia dan dapat mengusir rasa kantuk secara sementara. Minuman yang
mengandung kafeina, seperti kopi, teh, dan minuman ringan, sangat
digemari. Kafeina merupakan zat psikoaktif yang paling banyak
dikonsumsi di dunia. Tidak seperti zat psikoaktif lainnya, kafeina legal dan
tidak diatur oleh hukum di hampir seluruh yuridiksi dunia. Di Amerika
Utara, 90% orang dewasa mengonsumsi kafeina setiap hari. Kafein tidak
menumpuk dalam darah atau tubuh dan diekskresikan normal beberapa
jam setelah konsumsi.
B. FARMAKOLOGI KAFEIN
Kafein adalah stimulan dari sistem
digunakan secara baik untuk pengobatan
fisik dan juga dapat meningkatkan
rasa ngantuk dapat ditekan. Kafein juga

saraf pusat dan metabolisme,


dalam mengurangi keletihan
tingkat kewaspadaan sehingga
merangsang sistem saraf pusat

dengan cara menaikkan tingkat kewaspadaan, sehingga fikiran lebih jelas


dan terfokus dan koordinasi badan menjadi lebih baik (Ware, 1995).
C. FARMAKOKINETIK KAFEIN
Diserap sepenuhnya oleh tubuh melalui usus kecil dalam waktu 45
menit setelah penyerapan dan disebarkan ke seluruh jaringan tubuh.
Pada orang dewasa yang sehat jangka waktu penyerapannya adalah 3-4
jam, sedangkan pada wanita yang memakai kontrasepsi oral waktu
penyerapan adalah 5-10 jam. Pada bayi dan anak memiliki jangka waktu
penyerapan lebih panjang (30 jam).
Kafein diuraikan dalam hati oleh sistem enzym sitokhrom
P 450 oksidasi kepada 3 dimethilxanthin metabolik, yaitu : ronguaran,
gliserol dan asam lemak bebas didalam plasma darah.
C. meningkatkan
2. Theobrominevolume
(12%)
urin. melebarkan

pembuluh

darah

dan

BAB III
METODOLOGI KERJA
3.1. Alat dan Bahan
Alat
- Bulf
- Botol coklat
- Pipet gondok
- spektrofotometer
- sentrifuse
- vial
Bahan
- Aquadest
- kafein
3.2 Prosedur Kerja
A. Pemberian Kafein Dengan Pengumpulan Urin
Cuplikan urin dikumpulkan selama waktu 6 jam. Probandus dapat meminum
obat dan mengumpulkan cuplikan urin sehari sebelum dianalisis. Cuplikan
urin dapat disimpan selama satu malam pada suhu 4 oC tanpa penguraian yang
berarti.
1. Untuk menjaga aliran urin, subyek harus meminum 200 ml air setelah 30
menit. Cuplikan ini digunakan sebagai blanko. Catat volumenya.
2. Kafein diminum dengan 200 ml air dan waktu mulai dicatat. Ini adalah
waktu jam ke nol.
3. Setelah 1 jam , kandung kemih dikosongkan , banyaknya volume urin
diukur dan dicatat serta ditandai . Diambil kurang lebih 15 ml. Probandus
minum 200 ml air.
4. Prosedur yang sama ( seperti angka 3 ) diulang dengan interval waktu
2,3,4,5 dan 6 jam.
B. Analisis Cuplikan Kafein Total Dalam Urin
Tentukan kadar kafein total dalam cuplikan urin pada masing-masing interval
waktu yang telah ditentukan ( jam ke-1,2,3,4,5,6 ).
- Ambil 1 ml cuplikan urin , tambahkan dengan aquadest sampai 10 ml
- Campur homogen
- Periksa pada spektrofotometri dengan panjang gelombang 273 nm.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan

Tabel Volume Urin


No

Cuplikan Urin

Waktu

Volume Urin

1.

Blanko

22.45 WIB

240 ml

2.

23.15 WIB

193 ml

3.

23.45 WIB

142 ml

4.

24.15 WIB

102 ml

5.

24.45 WIB

42 ml

6.

01.15 WIB

49 ml

7.

01.45 WIB

170 ml

Tabel Absorbansi
No

Cuplikan Urin

Interval Waktu

Absorbansi (A)

1.

Blanko

0-1

0,000

2.

1-1,5

0,803

3.

1,5-2

0,788

4.

2-2,5

0,734

5.

2,5-3

0,692

6.

3-3,5

0,667

7.

3,5-4

0,573

4.2 Analisis Data

Perhitungan CU
Y= 0,0504 X + 0,0175

Waktu Paruh Metode ARE

Waktu Paruh Metode Kecepatan Ekskresi Renal

4.3

Data Tabel ARE dan Renal

Tabel 3. Data tabel metode renal


No.
Sam
pel

interval
waktu
(jam)

0-1

1-1,5

1,5-2

2-2,5

2,5-3,0

3- 3,5

3,5-4
0,474
jam

t1/2

dt

t
mid
(jam
)

1
0.
5
0.
5
0.
5
0.
5
0.
5
0.
5

Vu
(ml
)

2.25

24
0
19
3
14
2
10
2

2.75

42

3.25

49
17
0

0.5
1.25
1.75

3.75

Cu
(ug/
ml)
0.34
7
15.5
85
15.2
87
14.2
16
13.3
83
12.8
86
12.2
32

Du/dt
(mg/ja
m)
0.167
6.016
4.342
2.900
1.124
1.263
4.159

Du
0.083
28
3.007
905
2.170
754
1.450
032
0.562
086
0.631
414
2.079
44

t
mid
(jam
)
0.25
0.75
1
1.25
1.5
1.75
2

Ln
Du/
dt
1.7
9
1.7
9
1.4
7
1.0
6
0.1
2
0.2
3
0.7
3

Tabel 4. Data tabel metode ARE


kode
sampe
l

Tmid

interv
al
waktu
(jam)

0.25

0-0,5

0.75

0,5-1

1-1,5

1.25

1,5-2

1.5

2-2,5

1.75

2,5-3

2
2.24
65
0,80
9

3-3,5

Kel =
-b
T 1/2
elimin

dt

1
0.
5
0.
5
0.
5
0.
5
0.
5
0.
5

Vu
(ml)
240
193
142
102
42
49
170

Cu
(g/m
l)
0.347
15.58
5
15.28
7
14.21
6
13.38
3
12.88
6
12.23
2

Du
(mg)

Du
kum

Du-Du
kum

Tmi
d

0.083
28
3.007
91
2.170
75
1.450
03
0.562
09
0.631
41
2.079
44

0.083
28
3.091
19
5.261
94
6.711
97
7.190
78
7.822
19
9.901
63

9.818
35
6.810
45
4.639
69
3.189
66
2.710
85
2.079
44
0.000
00

0.2
5
0.7
5
1
1.2
5
1.5
1.7
5
2

Ln (Du
- Du
kum)
2.2842
53
1.9184
58
1.5346
48
1.1599
14
0.9972
64
0.7320
99
-

asi

4.4

jam

Data Grafik ARE dan Renal

4.5 Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu mengenai analisis kafein total dalam
cuplikan urin. Tujuan dilakukan percobaan ini adalah untuk menegetahui nilai
paramaeter farmakokinetik , dimana kafein pada probandus nilai parameter
farmakokinetik berkaitan dengan nilai waktu paruh.
Perlu diketahui bahwa kafein itu sendiri merupakan suatu obat perangsang
sistem saraf pusat pada manusia dan dapat mengusir rasa ngantuk secara
sementara. Kafein merupakan obat psikoatif yang paling banyak dikonsumsi.
Untuk menentukan suatu nilai parameter farmakokinetik kafein diperlukan
absorbansi urin probandus yang didapatkan dengan menggunakan alat
spektrofotometer. Pada praktikum kali menggunakan sentrifugasi (substansi)
dimana bertujuan untuk memisahkan supernata dan pelet. Dimana supernata ini,
yang memiliki bobot tinggi sehingga berada dilapisan bawah.
Berdasarkan hasil praktikum menyatakan bahwa t1/2 pada Metode ARE
adalah 0,809 jam / 48,59 menit. Sedangkan pada Metode Kecepatan Ekskresi
Renal adalah 0,474 jam / 28,49 menit. Dimana literatur t1/2 dari kafein yaitu 3-6
jam.
Persamaan regresi linear pada percobaan kali ini untuk Metode ARE
diperoleh hasil Y= -0,8556 x + 2,2465, dengan nilai R2 = 0, 9012. Sementara
untuk Metode Kecepatan Ekskresi Renal persamaan regresi linearnya adalah Y=
-1, 4593 x + 2,9018, dengan nilai R2 = 0, 9963.

BAB V
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :

Analisis kafein dalam cuplikan urin pada Metode Kecepatan Ekskresi Renal
diperoleh t1/2 0,809 jam / 48,59 menit.

Persamaan Regresi Linier yang diperoleh untuk Metode ARE : Y= -0,8556 x


+ 2,2465, dengan nilai R2 = 0, 9012.

Sementara untuk Metode Kecepatan Ekskresi Renal persamaan regresi


linearnya adalah Y= -1, 4593 x + 2,9018, dengan nilai R2 = 0, 9963.

T1/2 dari kafein yaitu 3-6 jam.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Kenali Delapan Dampak Negatif Kafein Bagi Kesehatan Anda.
Erlangga :

Jakarta.

Erni, R. Najwa. N. Penuntun Praktikum Farmakokinetk. Laboratorium Pakuan.


Bogor.
1979. Farmakope Indonesia , Edisi III. Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.
Jakarta.