Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Fraktur
Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (Doenges, 2000 ; 761).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang
utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang
ditentukan jenis dan luasnya trauma (Lukman dan Nurna, 2009; 26).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat,
2005; 840).
Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak
mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Donna L. Wongg, 2004 ;
625).
B. Klasifikasi Fraktur
1

Menurut Mansjoer (2002) ada tidaknya hubungan antara patahan tulang


dengan dunia luar di bagi menjadi 2 antara lain:
a. Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh)
tanpa komplikasi.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1

Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan


lunak sekitarnya.

Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan


jaringan subkutan.

Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak


bagian dalam dan pembengkakan.

Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang


nyata dan ancaman sindroma kompartement.

b. Fraktur terbuka (open/compound fraktur)

Dikatakan terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang
memungkinkan / potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar
dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah.
Derajat patah tulang terbuka :
1) Derajat I
Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal. 2) Derajat II
Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
3) Derajat III
Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.
2

Menurut Mansjoer (2002) derajat kerusakan tulang dibagi menjadi 2 yaitu:

Patah tulang lengkap (Complete fraktur)


Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang lainya, atau
garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen
tulang biasanya berubak tempat.

Patah tulang tidak lengkap ( Incomplete fraktur )


Bila antara oatahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu sisi patah
yang lainya biasanya hanya bengkok yang sering disebut green stick.
Menurut Price dan Wilson ( 2005) kekuatan dan sudut dari tenaga
fisik,keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan
apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap
terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap
tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang.

Menurut Mansjoer (2002) bentuk garis patah dan hubungannya dengan


mekanisme trauma ada 5 yaitu:

a Fraktur Transversal : fraktur yang arahnya malintang pada tulang dan


merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b Fraktur Oblik : fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan merupakan akibat dari trauma angulasi juga.
c Fraktur Spiral : fraktur yang arah garis patahnya sepiral yang di sebabkan oleh
trauma rotasi.
d Fraktur Kompresi : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang kea rah permukaan lain.
e Fraktur Afulsi : fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot
pada insersinya pada tulang.
4. Menurut Smeltzer dan Bare (2001) jumlah garis patahan ada 3 antara lain:

a Fraktur Komunitif : fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
b Fraktur Segmental : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
Fraktur Multiple : fraktur diman garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
C. Anatomi dan Fisiologi Tibia dan Fibula

Menurut Mutaqin (2008), secara garis besar struktur tulang dibagi


menjadi enam yaitu :
1. Tulang panjang (long bone), misalnya femur, tibia, fibula ulna, dan humerulus.
Daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifissis
disebut metafisis. Didaerah ini sangat sering ditemukan adanya kelainan atau
penyakit karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak
2.
3.
4.
5.
6.

mengandung pembuluh darah.


Tulang pendek (short bone) misalnya tulang-tulang karpal.
Tulang pipih (flet bone), misal tulang iga, skapula, dan pelvis.
Tulang tak beraturan misalnya tulang vertebra.
Tulang sesamoid, misal tulang patela.
Tulang sutura ada di atap tengkorak.
Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada daerah luar disebut korteks
dan bagian dalam (endosteum) yang bersifat sepongiosa berbentuk trabekula
dan diluarnya dilapisi oleh periosteum. Struktur tulang dan jaringan ikat
menyusun kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%.

Kesehatan baikya fungsi system musculoskeletal sangat tergantung pada sistem


tubuh yang lain. Struktur tulang-tulang memberi perlindungan terhadap organ
vital termasuk otak, jantung dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka
yang kuat untuk meyangga struktur tubuh otot yang melekat ke tulang
memungkinkan tubuh bergerak. Tulang tibia atau tulang kering merupakan
kerangka yang utama dari tungkai bawah dan terletak medial dari fibula atau
tulang betis ; tibia adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung
(Suratun, 2008). Menurut Evelyn (2002) tulang tibia terdiri :
a. Ujung atas : melihatkan adanya kondil media dan kondil lateral.
Kondilkondil ini merupakan bagian yang paling atas dan paling pinggir dari
tulang. Permukaan suporiornya meperlihatkan dua dataran permuukaan
persendian untuk femur dalam formasi sendi lutut permukaan - permukaan
tersebut halus dan diatas permukaannya yang datar terdapat tulang rawan
semilunar yang membuat permukaan persendian lebih dalam untuk
penerimaan kondil femur.
b. Batang : bagian ini membentuk krista tibia. Permukaan medial adalah
subkutanius pada hampir seluruh panjangnya dan merupakan daerah
berguna dari mana dapat diambil serpihan tulang untuk transplatasi.
Permukaan posterior ditandai oleh garis solial atau linia poplitea yaitu garis
meninggi diatas tulang yang kuat dan yang berjalan kebawah dan medial.
c. Ujung bawah : masuk dalam persendian mata kaki. Tulang sedikit melebar
dan kebawah sebelah medial menjulang menjadi mateulus medial atau
mateulus tibiae. Sebelah depan tibia halus dan tendontendon menjulur di
atasnya ke arah kaki.
d. Permukaan lateral ujung bawah bersendi dari dengan fibula pada persendian
tibiafibuler inferior. Tibia memuat sendi dengan tiga tulang, yaitu femur,
fibula, dan talus (Evelyn C, 2002).
D. Etiologi
Penyebab fraktur secara umum disebabkan karena pukulan secara langsung,
gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot eksterm
(Suddart, 2002). Sedangkan menurut Henderson, (1989) fraktur yang paling sering
adalah pergerseran condilius lateralis tibia yang disebabkan oleh pukulan yang
membengkokkan sendi lutut dan merobek ligamentum medialis sendi tersebut.
Penyebab terjadinya fraktur yang diketahui adalah sebagai berikut :

1. Trauma langsung ( direct ) Fraktur yang disebabkan oleh adanya benturan


langsung pada jaringan tulang seperti pada kecelakaan lalu lintas, jatuh dari
ketinggian, dan benturan benda keras oleh kekuatan langsung.
2. Trauma tidak langsung ( indirect ) Fraktur yang bukan disebabkan oleh
benturan langsung, tapi lebih disebabkan oleh adanya beban yang
berlebihan pada jaringan tulang atau otot , contohnya seperti pada
olahragawan atau pesenam yang menggunakan hanya satu tangannya
untuk menumpu beban badannya.
3. Trauma pathologis Fraktur yang disebabkan oleh proses penyakit seperti
osteomielitis,

osteosarkoma,

osteomalacia,

cushing

syndrome,

komplikasi kortison / ACTH, osteogenesis imperfecta (gangguan


congenital yang mempengaruhi pembentukan osteoblast). Terjadi karena
struktur tulang yang lemah dan mudah patah.
a. Osteoporosis terjadi karena kecepatan reabsobsi tulang melebihi
kecepatan pembentukan tulang, sehingga akibatnya tulang
menjadi keropos dan rapuh dan dapat mengalami patah tulang.
b. Osteomilitis merupakan infeksi tulang dan sum-sum tulang yang disebabkan
oleh bakteri piogen dimana mikroorganisme berasal dari fokus ditempat lain dan
beredar melalui sirkulasi darah.
c. Ostheoartritis itu disebabkan oleh rusak atau menipisnya bantalan sendi dan
tulang rawan (Muttaqin, 2008).