Anda di halaman 1dari 19

FENOMENOLOGI DAN HERMENEUTIKA DALAM PENELITIAN

KUALITATIF: SEBUAH PERBANDINGAN


Tugas Individu
Mata Kuliah: Metodologi Penelitian Kualitatif Lanjutan
Dosen : Prof. Burhanudin Tola, Ph.D

Oleh:
MISWANTO
No.Reg: 7817150324

S3 PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN


PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016

FENOMENOLOGI DAN HERMENEUTIKA DALAM PENELITIAN


KUALITATIF: SEBUAH PERBANDINGAN
Abstrak
Tulisan ini mencoba menguraikan metode fenomenologi dan hermeneuitka dalam
metodologi penelitian kualittatif beserta perbandingan kedua metode tersebut. Sebagai
salah satu alat baca dalam penelitian kualitatif dalam meneliti teks, makna dan
interprestasi sosial. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Fenomenologi
berusaha mendekati objek kajiannya secara kritis serta pengamatan yang cermat, dengan
tidak berprasangka oleh konsepsi-konsepsi manapun sebelumnya.
Hermeneutika setidaknya disusun dalam tiga kesatuan yang sangat penting, yaitu (1)
adanya tanda, pesan berita yang kerap berbentuk teks, (2) harus ada sekelompok
penerima yang bertanya-tanya atau merasa asing terhadap pesan itu. (3) adanya
perantara atau kurir antara kedua belah pihak.
Ada dua dimensi besar dalam hermeneutika yaitu hermeneutika intensionalisme dan
hermeneutika gadamerian. Kedua saling berbeda dalam meletakan posisi makna: di
produksi atau di pemirsa.
Fenomenologi dan hermeneutika akhirnya dikawinkan oleh Ricoeur. Fenemenologi
dianggap tidak bisa berdiri sendiri, harus didampingi oleh hermeneutika. Fenomenologi
merupakan asumsi dasar yang tak tergantikan bagi hermeneutika, dan sebaliknya
fenomenologi tidak bisa menjalankan programnya dengan baik jika tidak didukung oleh
hermeneutika. Fenomenologi dan Hermeneutis seperti sepasang suami istri yang ideal
untuk disandingkan, mereka saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan juga
saling meninggikan dengan kelebihan yang dimiliki

Kata kunci: fenomenologi, hermenutika, penelitian kualitatif

Pendahuluan
Fenomenologi dan hermenutika telah menjadi semakin populer dewasa ini.Keduanya
memiliki karakteristik tersendiri dan penggunaannya disesuaikan dengan fenomena dan
permasalahan

yang

hendak

diteliti.

Jika

fenomenologi

memberikan

atensi

lebih besar pada sifat pengalaman yang dihidupkan, sedang hermeneutika berkonsentrasi
pada masalah-masalah yang muncul dari interpretasi tekstual. Keduanya membicarakan
manusia sebagai realita yang eksistensinya ditentukan oleh kondisi-kondisi fisik dan
budaya yang mempengaruhi. Fenomenologi dan hermenutika saling bersentuhan, namun
juga mempunyai perbedaan, kekuatan dan kelemahan masing-masing.
Dalam tulisan ini, akan dipaparkan perbandingan fenomenoloogi dan hermeneutik
sebagai

bagian

dari

epistemologi.

Perbandingan

ini

difokuskan

kepada

persamaan/perbedaan dan juga kelemahan dan kekuatan masing-masing. Cuff dan Payne
menyebutkan suatu cabang ilmu pada dasarnya dibedakan mengenai objek yang diteliti,

masalah-masalah yang ingin dipecahkan, konsep-konsep, metode-metode serta teori


yang dihasilkan.1 Perbandingan yang baik tentu harus memperhatikan hal-hal tersebut.2
Sebelum melakukan perbandingan, saya mencoba memaparkan secara singkat asal
muasal

pemikiran

dan

tokoh-tokoh

yang

berpengaruh

dibelakang

kesuksesan

epistemologi tersebut serta pokok-pokok pikirannya, ini dimaksudkan supaya lebih mudah
untuk membandingkannya keduanya.

Fenomenologi
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert (1728-1777),
seorang filsuf Jerman dalam bukunya Neues Organon (1764). Sebelum Lambert, istilah
fenomenologi juga pernah dikemukan oleh filsup-filsup lainnya;Immanuel Kant (17241804) dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Immanuel Kant memakai istilah
fenomenologi

dalam

karyanya Prinsip-Prinsip

Pertama

Metafisika (1786).

Kant

menyebutkan untuk menjelaskan kaitan antara konsep fisik gerakan dan kategori
modalitas, dengan mempelajari ciri-ciri dalam relasi umum dan representasi, yakni
fenomena indera-indera lahiriah. Selain Kant,Hegel (1807) memperluas pengertian
fenomenologi dengan merumuskannya sebagai ilmu mengenai pengalaman kesadaran,
yakitu suatu pemaparan dialektis perjalanan kesadaran kodrati menuju kepada
pengetahuan yang sebenarnya. Fenomena menurut Hegel tidak lain merupakan
penampakkan

atau

kegejalaan

dari

pengetahuan

inderawi:

fenomena-fenomena

merupakan manifestasi konkret dan historis dari perkembangan pikiran manusia.3


Kemudian Edmund Husserl (18591838) membawa fenomenologi berubah menjadi
sebuah disiplin ilmu filsafat dan metodologi berfikir yang mengusung temaEpoche-Eiditic
Vision dan Lebenswelt sebagai sarana untuk mengungkap fenomena dan menangkap
hakikat yang berada dibaliknya. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam
mengembangkan fenomenologi.4
Dalam pemahaman Edmund Husserl, fenomenologi adalah suatu analisis deskriptif
serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalamanpengalaman yang didapat secara langsung seperti religius, moral, estetis, konseptual,
serta indrawi. Ia juga menyarakan fokus utama filsafat hendaknya tertuju kepada
penyelidikan tentang Labenswelt (dunia kehidupan) atauErlebnisse (kehidupan subjektif

Ahimsa-Putra. Etnosains dan Etnometodologi, Sebuah Perbandingan. Hal: 104.


ibid
3 Lihat, Sutrisno, Para Filusuf Penentu Gerak Zaman.
4 ibid
2

dan batiniah). Fenomenologi sebaiknya menekankan watak intensional kesadaran, dan


tanpa mengandaikan praduga-praduga konseptual dari ilmu-ilmu empiris.
Fenomenologi menekankan upaya menggapai fenomena lepas dari segala
presuposisi.

Semua

penjelasan

tidak

boleh

dipaksakan

sebelum

pengalaman

menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri. Dengan begitu,
fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman
konkret manusia. Selain itu, filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian
yang sebenarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri
menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Usaha inilah yang dinamakan untuk
mencapai hakikat segala sesuatu.
Secara etomologis, asal kata fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari
Bahasa

Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti

phainen berarti

memperlihatkan.

Sedangkan logos berarti

kata,

tampak
ucapan,

Dan
rasio,

pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai


kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak5, atau ilmu tentang gejala-gejala
yang menampakkan diri pada kesadaran. Hegel (1807) menyebutkan pengertian
fenomenologi dengan merumuskannya sebagai ilmu mengenai pengalaman kesadaran,
yakni suatu pemaparan dialektis perjalanan kesadaran kodrati menuju kepada
pengetahuan yang sebenarnya, fenomena tidak lain merupakan penampakkan atau
kegejalaan dari pengetahuan inderawi: fenomena-fenomena merupakan manifestasi
konkret dan historis dari perkembangan pikiran manusia.6
Husserl menyebut tugas utama fenomenologi adalah menjalin keterkaitan antara
manusia dengan realitas. Keterkaitan ini mendorong manusia untuk mempelajari
fenomena-fenomena yang ada dengan pengalaman langsung dengan realitas tersebut.
Sehingga pengalaman tersebut akan memberikan sebuah penafsiran, yaitu esesnsi dari
realitas tersebut. Husserl menggunakan istilah fenomenologi untuk menunjukkan apa yang
nampak dalam kesadaran dengan membiarkannya termanifestasi apa adanya tanpa
memasukkan kategori-kategi yang sudah ada dalam pikiran. Husserl menyebutnya
dengan istllah kembalilah pada realitas itu sendiri7
Pandangan fenomenologi bisa dilihat pada dua posisi yaitu (1) merupakan reaksi
terhadap dominasi positivisme, dan (2) fenomenologi sebenarnya sebagai kritik terhadap
pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomenanoumena.
Kant menggunakan kata fenomena untuk menunjukkan penampakkan sesuatu dalam
5

Hasan Hadiwijono. Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Cet. Ke 9.


ibid
7 ibid
6

kesadaran, sedangkan noumena adalah realitas (das Ding an Sich) yang berada di luar
kesadaran pengamat. Menurut Kant, manusia hanya dapat mengenal fenomenafenomena yang nampak dalam kesadaran, bukan noumena (realitas di luar yang kita
kenal).
Dari uraian di atas bisa dipahami bahwa fenomenologi berarti ilmu tentang
fenomenon-fenomenon atau apa saja yang nampak, tanpa harus dipengaruhi tanpa harus
dipengaruhi oleh apapun. Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis
terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.

Tokoh di belakang Fenemenologi


Edmund Husserl (1859-1938)
Husserl mengajukan dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi
fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision. Kata epoche berasal dari bahasa
Yunani, yang berarti menunda keputusan atau mengosongkan diri dari keyakinan
tertentu. Epoche bisa juga berarti tanda kurung (bracketing) terhadap setiap keterangan
yang diperoleh dari suatu fenomena yang nampak, tanpa memberikan putusan benar
salahnya terlebih dahulu.

Max Scheler (1874-1928)


Ia menyebut metode fenomenologi sama dengan satu cara tertentu untuk
memandang realitas. Fenomenologi lebih merupakan sikap suatu prosedur khusus yang
diikuti oleh pemikiran (diskusi, Induksi, Observasi dll). Dalam hubungan ini diperlukan
hubungan langsung dengan realitas berdasarkan instuisi (pengalaman fenomenologi).
Maurice Merlean-Ponty (1908-1961)
Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai
kegiatannya dengan meneliti pengalaman, dengan begitu nantinya akan menjauhkan diri
dari dua ekstrim yaitu hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah
dikatakan orang tentang realita, hanya memperhatikan segi-segi luar dari penglaman
tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali.

Hermeneutik
Akar permulaan hermenuein dan hermnia bisa ditemukan dalam Organon, Peri
hermneias karya Aristoteles, yang diterjemahkan dengan On Interpretation . Kata ini
juga ditemukan dalam Oedipus at Colunus karya Plato, juga beberapa karya lainnya dari

penulis awal yang terkenal seperti Xenophon, Plutarch, Euripides, Epicurus, Lucretius, dan
Longinus.8
Ada dua dimensi besar dalam hermeneutik yaitu hermeneutika intensionalisme dan
hermeneutika gadamerian. Intensioanalisme diawali sejak hermeneutika romantisis
dengan tokohnya Schleiermacher. Pokok pikiran Hermeneutika intensional ini adalah
bahwa makna adalah maksud atau instensi produsernya. Dengan kata lain, makna kata
sesungguhnya telah ada di balik kata itu sendiri. Makna telah menanti, dan tinggal
ditemukan oleh penafsirnya, dan itu adalah tugas pembaca untuk mencarinya.
Menurut hermeneutika intensionalisme, makna adalah niat atau kemauan yang
diwujudkan dalam suatu tindak atau produknya seperti teks misalnya, sehingga makna
sudah ada dan hanya akan keluar jika diinterpretasikan. Pengertian ini didasarkan pada
arti makna (meinen), yang menunjukkan arti bahwa makna suatu teks, tindak, hubungan,
dan seterusnya adalah sesuatu yang ada dalam pikiran produsen, yang kemudian
dikeluarkan melalui suatu tindak seperti memproduk teks. Dengan kata lain makna telah
ada dan menanti untuk dipahami. Makna hanya berasal dari aktifitas produsen teks, bukan
dari aktifitas orang lain, termasuk aktifitas interpretasi penafsir. Dengan kata lain, pembaca
atau penafsir harus memahami teks yang ia baca, dan pembaca atau penafsir dapat
menangkap konsepsi pengarang mengenai fakta situasinya, keyakinan, dan keinginannya,
namun dengan catatan penafsir harus menemukan alasan pelaku bersikap seperti yang
diperlihatkan.
Sedangkan hermeneutika gadamerian dengan tokohnya Hans-Georg Gadamer
memberikan defenisi berbeda tentang makna. Makna dalam hermeneutika gadamerian
bukan terletak pada instensi produsernya, melainkan pembacanya itu sendiri. Makna itu
belum ada ketika sebuah kata diucapkan atau ditulis, dan segera muncul ketika kata itu
didengarkan atau dibaca.
Konsep ini menemukan titik kulminasinya pada Gadamer yang menyatakan bahwa
sekali teks hadir di ruang publik, ia telah hidup dengan nafasnya sendiri. Hermeneutika
tidak lagi bertugas menyingkap makna objektif yang dikehendaki pengarangnya, tetapi
adalah untuk memproduksi makna yang seluruhnya memusat pada kondisi historisitas dan
sosialitas pembaca. Gagasan ini dengan sendirinya menyangkal origin. Dengan kata lain
ia menolak suatu realitas di balik fenomena, realitas sumber, realitas terakhir. Dengan
demikian, untuk memperoleh makna sebuah kata, kalimat atau teks tidak diperlukan lagi
maksud original-nya.

Richard E. Palmer, Hermeneutika, Teori Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005) 14-16.
Lihat juga: Jazim Hamidi, Hermeneutika Hukum, (Yogyakarta: UII Press: 2005) 20.

Hermeneutika

secara

kerjahermenuein yang

etimologis,

berarti

berasal

menafsirkan

dari
atau

istilah

Yunani

dari

menginterpretasi,

kata
kata

benda hermniaditerjemahkan penafsiran atau interpretasi. Kedua kata ini, diasosiasikan


pada Dewa Hermes9 seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan
Jupiter10kepada manusia. Hermes adalah simbol seorang duta yang dibebani misi
menyampaikan pesan sang dewa.
Dalam mediasi dan proses penyampaian pesan yang ditugaskan pada Hermes, dari
kata kerja hermenuein ditarik tiga bentuk makna dasar dalam pengertian aslinya, yaitu to
express (mengungkapkan), to assert (menjelaskan), danto say (menyatakan). Maknamakna tersebut bisa diwakilkan dengan bentuk kata kerja Inggirs to interpret, yang
membentuk makna independen dan signifikan bagi interpretasi. Oleh karenanya,
interpertasi mengacu ke 3 (tiga) persoalan berbeda yaitu pengucapan lisan, penjelasan
yang masuk akal, dan penerjemahan dari bahasa lain.11
Kehadiran hermeneutika dipengaruhi oleh beberapa faktor, dalam analisis Werner,
ada tiga sebab yang paling mendominasi pengaruh terhadap pembentukan hermeneutika,
dari masa interpretasi bibel hingga saat ini. Ketiga yang dimaksud Werner terbut yaitu (1)
Masyarakat yang terpengaruh mitologi Yunani, (2) Masyarakat Yahudi dan Kristen yang
mengalami masalah dengan teks kitab suci agama mereka, dan (3) Masyarakat Eropa
zaman pencerahan (Enlightenment) yang berusaha lepas dari otoritas keagamaan dan
membawa hermeneutika keluar konteks keagamaan.12
Richard E. Palmer (2005) menyimpulkan enam defenisi hermeneutika, keenam
definisi tersebut merupakan urutan fase sejarah yang menunjuk suatu peristiwa atau
pendekatan penting dalam persoalan interpretasi yang berkenaan dengan hermeneutika.

Hermes adalah anak dari Zeus dan Maia dan merupakan salah satu dewa Olimpus, ia dilahirkan di
Gunung Kellina di Arkadia. Hermes adalah pelindung daerah perbatasan, para pengelana, gembala,
pencuri, penipu, pidato, sastra dan puisi, olahraga, pengukuran, penemuan, dan perdagangan. Dalam
tradisi Yunani nama ini dikenal juga dengan sebutan Mercurius. Di kalangan Hermeneutika ada juga yang
menghungkan Hermes dengan Nabi Idris. Lihat, Adian Husaini, Hermeneutika dan Tafsir Al-Quran, 7.
10
Dalam mitologi Romawi, Jupiter atau Jove adalah rajapara dewa, dan dewa langit dan petir.
Dalam mitologi Yunani dia dikenal sebagai Zeus. Ia dipanggil Iuppiter (atau Diespiter) Optimus Maximus (
"Dewa Terbaik dan Terbesar"). Sebagai dewa pelindung Romawi kuno, ia memerintah hukum dan tatanan
sosial. Dia adalah dewa pemimpin dalam Triad Kapitoline bersama istrinya Juno. Jupiter juga adalah ayah
dari dewa Mars dari hubungannya dengan Juno. Oleh karena itu, Jupiter adalah kakek
dari Romulus and Remus, pendiri kota Roma. Jupiter dihormati di agama Romawi kuno, dan masih
dihormati
di
Neopaganisme
Romawi.
Ia
adalah
putra
dari Saturnus,
saudaranya
adalah Neptunus dan Pluto. Dia juga merupakan suami dari Ceres, saudara dariVeritas, dan ayah
dari Merkurius.
11 Richard E. Palmer, Hermeneutika, Teori Mengenai Interpretasi, 15-16.
12 Berdasarkan analisis Werner, Hamid Fahmi Zarkasyi membagi sejarah hermeneutika menjadi tiga fase,
yaitu (1) mitologi Yunani ke teologi Yahudi dan Kristen, (2) teologi Kristen yang problematik ke gerakan
rasionalisasi dan filsafat, dan (3) hermeneutika filosofis menjadi filsafat hermeneutika

Definisi yang disebut Palmer tersebut mewakili berbagai dimensi yang sering disoroti
dalam hermeneutika. Setiap definisi membawa nuansa yang berbeda, namun dapat
dipertanggungjawabkan dari setiap penafsiran terutama penafsiran teks, defenisi tersebut
dapat disebut pendekatan Bibel, filologis, saintifik, geisteswissenschaften, eksistensial,
dan kultural. Setiap defenisi merepresentasikan sudut pandang dari mana hermeneutika
dilihat, melahirkan pandangan-pandangan yang berbeda-beda namun memberi ruang bagi
tindakan interpretasi, khususnya teks.

Hermeneutika sebagai Teori Penafsiran Kitab Suci


Pemahaman ini merupakan pertama kali digunakan untuk hermeneutik, di sini
hermeneutika difungsikan untuk memahami kitab suci, terutama oleh kalangan gereja.
Hermeneutika bukanlah hasil atau isi penafsiran, melainkan metode. Tokoh utamanya
adalah J.C.Dannhauer. Pada masa ini, bentuk hermeneutika memunculkan banyak aliran
serta corak yang terkadang saling bertolak belakang. Tokoh selanjutnya adalah
Schleiermacher, dengan mencetuskan hermeneutika modern. Schleiermacher juga
berjasa

membakukan

hermeneutika

sebagai

acuan

dalam

interpretasi

secara

metodologis.
Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834), tokoh hermeneutika romantisis, ia
yang memperluas pemahaman hermeneutika dari sekedar kajian teologi (teks bible)
menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Menurut perspektif tokoh ini, dalam
upaya memahami wacana ada unsur penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis,
dan konteks kultural.13

Hermeneutika sebagai Metode Filologi


Dalam defenisi ini, hermeneutika difungsikan sebagai metode pengkajian teks dan
menempatkan semua teks sama, termasuk kitab suci. Pemahaman awal bahwa
hermeneutik hanya untuk menafsirkan kitab suci mulai mengalami pergeseran.
Kajian terpenting dari fungsi metodologi filologi, hermeneutika menuntut sang
penafsir untuk mengerti latar belakang sejarah dari teks yang ditafsirkannya. Penafsir
haruslah mampu berbicara tentang teks yang ditafsirkannya dengan cara yang sesuai
dengan jaman yang berbeda, serta situasi yang berbeda. Dengan demikian, seorang
penafsir juga adalah seorang ahli sejarah, yang mampu mengerti dan memahami makna
historis dari teks yang dianalisanya, sehingga makna yang tersembunyi dapat terungkap.

13

Richard E. Palmer, Hermeneutika, Teori Mengenai Interpretasi, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005) 3942.

Hermeneutika sebagai Ilmu Pemahaman Linguistik


Dari metode filologi, hermeneutika berkembang kearah sebuah ilmu yang memahami
linguistik. Hermeneutika difungsikan sebagai ilmu untuk memahami berdasarkan teori
linguistik dan menjadi landasan interpretasi teks. Filsuf yang banyak memberikan
kontribusi pemahaman

linguistik kepada

hermeneutika

adalah

Schleiermacher.

Menurutnya hermeneutika bisa dikatakan semacam sintesa antara ilmu sekaligus seni
untuk memahami bahasa. Schleiermacher kurang setuju kalau hermeneutika hanya
terfokus kepada metode filologi, tetapi juga melihat hermeneutika sebagai hermeneutika
umum. Hermeneutika semacam ini merupakan semacam sintesa antara tafsir Kitab Suci
dan Filologi.

Hermeneutika sebagai Fenomena Dassein dan Pemahaman Eksistensial


Dalam defenisi ini, hermeneutika berfungsi sebagai penafsiran melihat fenomena
tentang keberadaan manusia dengan menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Martin
Heidegger,

dalam

merefleksikan

berbagai

problem

metafisika,

ia menggunakan

fenomenologi seperti yang dikemukakan Edmund Husserl. Dalam bukunya Being and
Time (1927), ia melakukan refleksi atas (manusia) Dasein, yang disebutnya sebagai
hermeneutika atas Dasein.

Hermeneutika sebagai Sistem Interpretasi


Tokoh dibalik ini adalah Paul Ricoeur, ia mendefinisikan hermeneutika kembali pada
analisis tekstual yang memiliki konsep-konsep distingtif serta sistematis. Yang saya
maksudkan dengan hemeneutika, demikian tulis Ricoeur, adalah peraturan-peraturan
yang menuntun sebuah proses penafsiran, yakni penafsiran atas teks partikular atapun
kumpulan tanda-tanda yang juga dapat disebut sebagai teks
Ricoeur membedakan dua macam simbol, yakni simbol univokal dan simbol
ekuivokal. Simbol univokal adalah simbol dengan satu makna, seperti pada simbol-simbol
logika. Sementara itu, simbol ekuivokal, yang merupakan perhatian utama dari
hermeneutika, yang simbol yang memiliki bermacam-macam makna. Heremeneutika
haruslah berhadapan dengan teks-teks simbolik, yang memiliki berbagai macam makna.
Hermeneutika juga haruslah membentuk semacam kesatuan arti yang koheren dari teks
yang ditafsirkan, dan sekaligus memiliki relevansi lebih dalam serta lebih jauh untuk masa
kini maupun masa depan. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan sebuah sistem
penafsiran, di mana relevansi dan makna lebih dalam dapat ditampilkan melampaui
sekaligus sesuai dengan teks yang kelihatan.

Hermeneutika sebagai Fondasi Metodologi bagi Geisteswissenchften


Wilhelm Dithey, ia menyebut hermeneutika adalah inti disiplin yang dapat melayani
sebagai fondasi bagi melihat Geisteswissenchften (semua disiplin yang memfokuskan
pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia) Dalam menafsirkan ekspresi hidup
manusia, dibutuhkan tindakkan pemahaman sejarah. Dalam pandangan Dilthey, apapun
yang dibutuhkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, merupakan kritik nalar yang akan
mengurusi pemahaman sejarah.

Hermeneutika sebagai Sistem Penafsiran


Hermeneutika difungsikan sebagai seperangkat aturan penafsiran dengan cara
menghilangkan segala misteri yang menyelimuti simbol dengan cara membuka selubung
yang menutupinya. Tokohnya utama dibalik ini adalah Paul Richouer. Ia membedakan
interpretasi teks tertulis dan percakapan. Makna tidak hanya diambil menurut pandangan
hidup pengarang, tetapi juga menurut pengertian pandangan hidup dari pembacanya.
Di samping itu masih ada tokoh lain yang turut berperan pada perkembang
hermeneutika pada masa ini, seperti Jurgen Habermas (1929-), tokoh hermeneutika kritis,
menyebutkan bahwa pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horizon
pemahaman adalah kepentingan sosial yang melibatkan kepentingan kekuasaan
interpreter. Setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias dan unsur kepentingan politik,
ekonomi, sosial, suku, dan gender. Selain itu juga ada Jacques Derrida (1930), tokoh
hermenutika dekonstruksionis, dan Edmund Husserl (1889-1938), tokoh hermeneutika
fenomenologis.

Tokoh dibelakang Hermeneutika


Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768 -1834)
F.D.E Schleiermacher ditempatkan sebagai tokoh Hermeneutik . Ia membedakan
hermeneutik dalam pengertian sebagai ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik
yang mendefinisikan sebagai studi tentang memahami itu sendiri.

Wilhelm Dilthey (1833 -1911)


Hermeneutika metodis, ia beragumentasi bahwa proses pemahaman hermeneutika
bermula dari pengalaman, kemudian mengekspresikan nya. Pengalaman hidup manusia
merupakan sebuah neksus struktural yang mempertahankan masa lalu sebagai sebuah
kehadiran masa kini.

Edmund Husserl (1889 -1938)


Hermeneutika fenomenologis, ia beranggapan bahwa pemahaman teks harus
dibiarkan berdiri sendiri tanpa adanya prasangka dan perspektif dari dari penafsir. Oleh
sebab itu, menafsirkan sebuah teks berarti secara metodologis mengisolasikan teks dari
semua hal yang tidak ada hubungannya, termasuk bias-bias subjek penafsir dan
membiarkannya mengomunikasikan maknanya sendiri pada subjek.

Martin Heidegger (1889 -1976)


Pemikiran Heidegger sangat kental dengan nuansa fenomenologis, meskipun
akhirnya Heidegger mengambil jalan menikung dari prinsip fenomenologi yang dibangun
Husserl. Fenomenologi Husserl lebih bersifat epistemologis karena menyangkut
pengetahuan tentang dunia, sementara fenomenologi Heidegger lebih sebagai ontologi
karena menyangkut kenyataan itu sendiri. Heidegger menekankan, bahwa fakta
keberadaan merupakan persoalan yang lebih fundamental ketimbang kesadaran dan
pengetahuan manusia, sementara Husserl cenderung memandang fakta keberadaan
sebagai sebuah datum keberadaan.

Hans-Georg Gadamer (900-2002)


Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci
heremeneutis (1) kesadaran terhadap situasi hermeneutik, (2) situasi hermeneutika ini
kemudian membentuk pra-pemahaman pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi
pembaca dalam mendialogkan teks dengan konteks. Pembaca harus selalu merevisinya
agar pembacaannya terhindar dari kesalahan, (3) setelah itu pembaca harus
menggabungkan antara dua horizon, horizon pembaca dan horizon teks. Keduanya harus
dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi.
Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon
pembaca. Sebab, teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan
pada pembaca. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut lingkaran
hermeneutik. (4) menerapkan makna yang berarti dari teks, bukan makna objektif teks.

Jurgen Habermas (1929)


Menurut Habermas, teks bukanlah media netral, melainkan media dominasi. Karena
itu, ia harus selalu dicurigai. Bagi Habermas pemahaman didahului oleh kepentingan.
Yang menentukan horizon pemahaman adalah kepentingan sosial (social interest) yang
melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest) sang interpereter.

Jean Paul Gustave Ricoeur (1913-2005)


Paul Richour mendefinisikan hermeneutika yang mengacu balik pada fokus
eksegesis

tekstual

sebagai

elemen

distingtif

dan

sentral

dalam

hermeneutika.

Hermeneutika adalah proses penguraian yang beranjak dari isi dan makna yang nampak
ke arah makna terpendam dan tersembunyi. Objek interpretasi, yaitu teks dalam
pengertian yang luas, bisa berupa simbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari
simbol dalam masyarakat atau sastra. Hermeneutika harus terkait dengan teks simbolik
yang memiliki multi makna (multiple meaning); ia dapat membentuk kesatuan semantik
yang memiliki makna permukaan yang betul-betul koheren dan sekaligus mempunyai
signifikansi lebih dalam. Hermeneutika adalah sistem di mana signifikansi mendalam
diketahui di bawah kandungan yang nampak. Konsep yang utama dalam pandangan
Ricoeur adalah bahwa begitu makna obyektif diekspresikan dari niat subyektif sang
pengarang, maka berbagai interpretasi yang dapat diterima menjadi mungkin. Makna tidak
diambil hanya menurut pandangan hidup (worldview) pengarang, tapi juga menurut
pengertian pandangan hidup pembacanya. Sederhananya, hermeneutika adalah ilmu
penafsiran teks atau teori tafsir.

Perbandingan
Dari penjelasan di atas, dapat kita lihat beberapa persamaan dan perbedaan dari
fenomenologi dan hermeneutika. Beberapa persamaan dan perbedaan bisa dilihat berikut
ini.
Teks ketika dipahami seseorang, secara tidak langsung akan memunculkan
interpretasi terhadap teks tersebut. Membicarakan teks tidak pernah terlepas dari unsur
bahasa, Heidegger menyebutkan bahasa adalah dimensi kehidupan yang bergerak yang
memungkinkan terciptanya dunia sejak awal, bahasa mempunyai eksistensi sendiri yang
di dalamnya manusia turut berpartisipasi.14
Sebagai metode tafsir, hermeneutika menjadikan bahasa sebagai tema sentral,
kendati di kalangan para filsuf hermenutika sendiri terdapat perbedaan dalam memandang
hakikat

dan

fungsi

bahasa:

Intensionalisme

dan

Hermeneutika

Gadamerian.

Intensionalisme memandang makna sudah ada karena dibawa pengarang/penyusun teks


sehingga tinggal menunggu interpretasi penafsir. Sementara Hermeneutika Gadamerian
sebaliknya memandang makna dicari, dikonstruksi, dan direkonstruksi oleh penafsir
sesuai konteks penafsir dibuat sehingga makna teks tidak pernah baku, ia senantiasa
berubah tergantung dengan bagaimana, kapan, dan siapa pembacanya. Hermeneutika
14

Terry Eagleton. 2006. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif, hal 88.

Gadamerian dianggap sebagai sejarah penting bagi studi hermeneutika. Sebab, aliran
hermeneutika ini memberikan dimensi yang sangat luas kepada setiap pembaca teks
untuk lebih kreatif dan menjelajah dunia makna dengan sangat luas. Bagi hermeneutika
makna tidak saja ada di belakang teks (meaning behind the texts), melainkan juga di
depan teks (meaning before the texts). Makna di balik teks , berarti dibuat (created),
sedangkan yang di depan teks berarti ditemukan (invented).15
Pada dasarnya, fenomenologi mengkaji struktur berbagai jenis pengalaman yang
bergerak dari persepsi, pemikiran, memori, imajinasi, keinginan, kehendak yang
diwujudkan dalam tindak nyata, aktivitas sosial termasuk aktivitas berbahasa.
Fenomenolgi yang selalu bersandar kepada kesadaran manusia, jika dilihat lebih
jauh dalam kehidupan sehari-hari atau ditipifikasikan, maka bahasa menjadi medium
sentral untuk tranformasi tipifikatif, oleh karena ada makna yang dapat ditemukan dalam
tipifikasi (pergaulan sehar-hari). Keadaan ini memberikan orientasi metodologi bagi
fenomenologi tentang kehidupan sosial dengan memberikan perhatian lebih kepada relasi
antara bahasa yang digunakan dengan obyek pengalaman. Dengan demikian maka
fenomenologi sosial dilandaskan atas ajaran bahwa interaksi sosial adalah rancang
bangun sepanjang di dalamnya memuat makna yang dapat diungkap.
Sedang makna diperoleh dari kajian fenomenologi didapat tidak dengan menunggu
secara pasif melainkan dengan melakukan konstruksi secara aktif terhadap tumpukan
multi

struktur

fenomenlogis

yang
harus

diupayakan
berusaha

ditemukan

menemukan

maknanya
makna

melalui

tersebut.

bahasa,

Dalam

peneliti

keseharian,

penggunaan bahasa dan tipifikasi selalu menciptakan makna (create a sense) bahwa
dunia kehidupan (life-world) adalah substansial, sehingga mengungkap makna tidak bisa
dilepaskan dari bahasa.
Bahasa jelas merupakan sangat esensial bagi fenomenologi dan hermeneutika.
Kedua disiplin ini tidak mungkin bisa menjalankan perannya tanpa menggunakan bahasa
dalam program-programnya.
Fenomenologi dan hermeneutik juga menganggap bahwa pemaknaan linguistik
merupakan watak turunan dari pengalaman yang dihayati. Dalam upaya memahami
fenomena, kesadaran yang selalu tertuju kepada objek menggunakan perangkatperangkat perseptualnya (noesis) untuk memperoleh gambaran perseptual yang lengkap
tentang fenomena (noema). Pembentukan gambaran perseptual yang lengkap itu
mensyaratkan perlengkapan linguistik yang memadai untuk melakukan pengertian,
predikasi, hubungan sintaktik dan sebagainya agar gambaran itu dapat diartikulasikan.
15

Donny Gahral Adian. 2002. Pilar-pilar Filsafat Kontemporer

Dari sisi hermeneutik, penempatan linguistik sebagai kendaraan yang digunakan untuk
memahami analisis terhadap gambaran perseptual pra-lingusitik merupakan prinsip yang
mendasari proses penafsiran.
Ricoeur (1986) menggunakan analogi sebuah permainan dari pengalaman seni yang
pada dasarnya bukan sesuatu yang bersifat linguistik. Pengalaman seni yang dimaksud
adalah yang mengandung unsur permainan. Ketika seseorang mendapatkan pengalaman
seni, dan suatu waktu ia memamerkan atau menampilkan pengalaman tersebut. Maka
secara tidak langsung, kegiatan memamerkan pengalaman itu tak bisa dilepaskan dari
medium linguistik. Pengalaman yang ditampilkan dan dipahami oleh penontonnya juga
melalui medium linguistik. Jadi, linguistik merupakan turunan dari pengalaman yang
dihayati subjek, baik sebagai pameran maupun penonton.
Selain bahasa, fenomenologi dan hermeneutika diasumsikan sebagai teori
pengalaman atau teori tentang bagaimana kata-kata berhubungan dengan pengalaman.
Fenomenologi memberikan atensi lebih besar pada sifat pengalaman yang dihidupkan,
sedangkan hermeneutik berkonsentrasi pada masalah-masalah yang muncul dari
interpretasi tekstual tersebut. Keduanya membicarakan objek sebagai realita yang
eksistensinya dimungkinkan dan ditentukan oleh kondisi-kondisi fisik dan budaya yang
melingkupi.
Persamaan
penggunaan

lainnya

adalah

hermeneutik

dan

konsep Labenswelt (dunia-kehidupan)

fenomenologi
dalam

terlihat

dalam

fenomenologi,

oleh

hermeneutik dipahami sebagai perbendaharaan makna, surplus kesadaran dalam


pengalaman hidup yang memungkinkan objetivikasi dan pemaknaan yang kaya terhadap
fenomena dalam kehidupan manusia. Dengan konsep Labenswelt, dimungkinkan
pengembangan

fenomenologi

persepsi

yang

membawa

fenomenologi

kepada

hermeneutik untuk memahami pengalaman historis.


Hermeneutik dan fenomenologi juga memiliki persamaan yang memungkinkan subjek
untuk memaknai pengalaman yang dihayatinya dan kepemilikannya akan tradisi historis.
Fenomenologi harus dibiarkan termanifestasi apa adanya tanpa memasukkan
kategori pikiran kita padanya. Seperti kata Husserl dengan menyebutnya dengan
kembalilah pada realitas itu sendiri. Dengan kata lain fenomenologi tidak membiarkan
kita untuk mencampur fenomena yang ada dengan pikiran kita, dan membiarkan
fenomena tersebut berbicara apa adanya. Hal ini disebabkan karena pikiran hanya bersifat
teoritis yang terikat oleh pengalaman indrawi yang bersifat relatif subyektif sedangkan
fenomena adalah realitas yang bersifat obyektif. Berbeda dengan hermeneutika, dalam
dalam menjalankan tugasnya hermeneutika harus memperhatikan sejarah, konteks,

prinsip, religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Dengan memperhatikan


beberapa kaidah tersebut hasil kajian hermeneutika akan jauh lebih sempurna.
Jika dilihat dari akar ilmu, fenomenologi dan hermeneutika jelas sangat berbeda.
Fenomenologi merupakan akar dari Philosophy, dengan pertanyaan utama apa struktur
dan esensi pengalaman atas gejala-gejala ini bagi masyarakat tersebut? Sedangkan
hermeneutika berakar dari teologi, filsafat, dan kritik sastra, dengan pertanyaan utama,
apa kondisi-kondisi yang melahirkan prilaku atau produk yang dihasilkan yang
memungkinkan penafsiran makna?
Disamping persamaan dan perbedaan, fenomenologi dan hermeneutika juga
mempunyai kekuatan dan kelemahan. Beberapa kekuatan dan kelemahan tersebut bisa
dilihat di bawah ini.
Salah satu kekuatan filsafat fenomenologi adalah fenemenologi sebagai suatu
metode keilmuan dapat mendiskripsikan penomena dengan apa adanya dengan tidak
memanipulasi data, aneka macam teori dan pandangan.
Fenomenologi menekankan upaya menggapai hal itu sendiri lepas dari segala
presuposisi. Langkah pertamanya adalah menghindari semu konstruksi, asumsi yang
dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah
konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebisa
mungkin.

Semua

penjelasan

tidak

boleh

dipaksakan

sebelum

pengalaman

menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri.


Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis
apapunapakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama
fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek
pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh
penghayatan.
Kekuatan

fenomenologi

lainnya

adalah

dapat

mendeskripsikan

fenomena

sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan
pandangan yang didapat sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama,
ataupun ilmu pengetahuan harus buang dulu,

ini dimaksudkan agar hasil dalam

mengungkap pengetahuan atau kebenaran benar-benar objektif.


Kekuatan lainnya, fenomenologi memandang objek kajian sebagai satu kesatuan
yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya, dengan demikian fenomenologi menuntut
pendekatan holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh
mengenai objek yang diamati.

Di samping kekuatan, fenomenologi juga tidak lepas dari kelemahan. Salah satu
kelemahannya adalah tujuan dari fenomenologi itu sendiri. Fenomenologi bertujuan untuk
mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan
sebelumnya, baik dari adat, agama ataupun ilmu pengetahuan, merupakan suatu yang
absurd. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh
tidak bebas nilai (value-free), tetapi bermuatan nilai (value-bound). Hal ini dipertegas oleh
Derrida yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan
implikasi filosofis status pengetahuan.16 Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau
penelitian bebas nilai, tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan
secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan
relatif. Sebagai akibatnya, tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud.
Kelemahan lainnya, fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut
terlibat dalam objek yang diamati, sehingga jarak antara subjek dan objek yang diamati
kabur atau tidak jelas. Dengan demikian, pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan
cenderung subjektif, yang hanya berlaku pada kasus tertentu, situasi dan kondisi tertentu,
serta dalam waktu tertentu. Dengan ungkapan lain, pengetahuan atau kebenaran yang
dihasilkan tidak dapat digenaralisasi.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, bisa ditarik kesimpulan. Fenomenologi merupakan suatu metode
analisa juga sebagai aliran filsafat, yang berusaha memahami realitas sebagaimana
adanya dalam kemurniannya tanpa perlu intervensi oleh apapun dan siapapun. Terlepas
dari kelebihan dan kekurangannya, fenomenologi telah memberikan kontribusi yang
berharga bagi dunia ilmu pengetahuan, mengatasi krisis metodologi, dan mampu menjadi
sebuah disiplin ilmu yang berpengaruh dan banyak mempengaruhi filsup-fulsup lain di
abad 20.
Fenomenologi berusaha mendekati objek kajiannya secara kritis serta pengamatan
yang cermat, dengan tidak berprasangka oleh konsepsi-konsepsi manapun sebelumnya.
Oleh karena itu, oleh kaum fenomenolog, fenomenologi dipandang sebagai rigorous
science (ilmu yang ketat). Hal ini tampaknya sejalan dengan 'prinsip' ilmu pengetahuan,
sebagaimana dinyatakan J.B Connant, yang dikutip oleh Moh. Muslih, bahwa: "The
scientific way of thinking requires the habit of facing reality quite unprejudiced by and any
earlier conceptions. Accurate observation and dependence upon experiments are guiding
principles."
16

Mudjia Raharjo, Dasar-dasar Hermeneutika antara Intersionalisme dan Gadamerian, hal55.

Fenomenologi berusaha memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya atau


pelakunya.

Ilmu

dianggap

bukanlah values

free,

bebas

nilai

dari

apa

pun,

melainkan values bound, memiliki hubungan dengan nilai. Beberapa prinsip fenomenologi
adalah: 1. kenyataan ada dalam diri manusia baik sebagai indiividu maupun kelompok
selalu bersifat majemuk atau ganda yang tersusun secara kompleks, dengan demikian
hanya bisa diteliti secara holistik dan tidak terlepas-lepas; 2. hubungan antara peneliti dan
subjek saling mempengaruhi, keduanya sulit dipisahkan; 3. lebih ke arah pada kasuskasus, bukan untuk menggeneralisasi hasil penelitian; 4. sulit membedakan sebab dan
akibat, karena situasi berlangsung secara simultan; 5. inkuiri terikat nilai, bukan values
free.
Hermeneutika yang awalnya hanya interpretasi terhadap teks-teks kitab suci, dalam
perkembangannya semakin melebarkan sayapnya hingga ke bidang-bidang lainnya dalam
ilmu

sosial:

filologi, dassein dan

pemahaman

eksistensial,Interpretasi,

dan sistem

penafsiran.
Hermeneutika setidaknya disusun dalam tiga kesatuan yang sangat penting, yaitu (1)
adanya tanda, pesan berita yang kerap berbentuk teks, (2) harus ada sekelompok
penerima yang bertanya-tanya atau merasa asing terhadap pesan itu. (3) adanya
perantara atau kurir antara kedua belah pihak.
Ada dua dimensi besar dalam hermeneutika yaitu hermeneutika intensionalisme dan
hermeneutika gadamerian. Kedua saling berbeda dalam meletakan posisi makna: di
produksi atau di pemirsa.
Fenomenologi dan hermeneutika akhirnya dikawinkan oleh Ricoeur. Fenemenologi
dianggap tidak bisa berdiri sendiri, harus didampingi oleh hermeneutika. Fenomenologi
merupakan asumsi dasar yang tak tergantikan bagi hermeneutika, dan sebaliknya
fenomenologi tidak bisa menjalankan programnya dengan baik jika tidak didukung oleh
hermeneutika.
Bahasa

merupakan

peran

yang

sangat

esensial

bagi

fenomenologi

dan

hermeneutika, melalui bahasa makna sebuah fenomena bisa diinterpretasi dengan baik.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan, kedua disiplin ilmu ini jika digabungkan
tentu akan akan untuk mendapatkan efek luar biasa. Fenomenologi dan Hermeneutis
seperti sepasang suami istri yang ideal untuk disandingkan, mereka saling melengkapi
kekurangan masing-masing, dan juga saling meninggikan dengan kelebihan yang dimiliki

DAFATAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahral. 2002. Pilar-pilar Filsafat Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.


Adian,

Donny

Gahral. 2005. Percik

Pemikiran

Kontemporer:

Sebuah

Pengantar

Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.


Afandi,

Abdullah

Khozin. Fenomenologi.

Int.

(http://akhozinaffandi.blogspot.com

/2010/02/fenomenologi.html/diakses 20 Januari 2011)


Ahimsa-Putra. 1985. Etnosains dan Etnometodologi, Sebuah Perbandingan.Majalah Ilmuilmu Sosial Indonesia, Jilid XII Nomor 2, hlm.103-133. Jakarta: LIPI.
Bleicher, Josef. 2003. Hermeneutika Kontemporer. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Bagus, Lorens. 1996. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Delgaauw, Bernard. 2001. Filsafat Abad 20, terj. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif, terj. Harfiah.
Yogyakarta: Jalasutra.
Hadiwijono, Hasan. 1993. Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Cet. Ke 9. Yogyakarta: Kanisius
Jazim Hamidi. 2005. Hermeneutika Hukum. Yogyakarta: UII Press.
Kuswarno,

Engkus. Fenomenologi:

Metode

Penelitian

Kualitati.

Int.

(http://id.shvoong.com/books/dictionary/1967914-fenomenologi-metode-penelitiankualitatif/ diakses tanggal 19 Januari 2010)


Muhadjir, Noeng. 1998. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Reka Sarasin.
Muslih, Moh.. 2005. Filsafat Ilmu: Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka
Teori Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Belukar.
Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi, Terj. Masnur
Heri Damanhuri Muhammad, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Poespoprodjo, W. 2004. Hermeneutika, Bandung: Pustaka Setia.
Raharjo,

Mudjia.

2008. Dasar-dasar

Hermeneutika

antara

Intersionalisme

dan

Gadamerian, Jogjakarta: Ar-Ruzmedia.


Raharjo, Mudjia. Hermeneutika. Apa Manfaatnya? (http://mudjiarahardjo.com/ artikel/103hermeneutika-apa-manfaatnya.html diakses pada 22 Januari 2011)
Suryaman,

Oni.

2005. Hermeneutika,

Selayang

Pandang.

(http://id.wordpress.com/tag/hermeneutika/, diakses tanggal 20 Januari 2010)


Sutrisno, et.al.. 2005. Para Filusuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta: Kanisius.

Int.,

Sutrisno,

Mudji.

2004. Rumitnya

Pencarian

Diri

Kultural

dalam

Hermeneutika

Pascakolonial: Soal Identitas. Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (editor),


Yogyakarta: Yayasan Kanisius.
Supriyono, J. 2004. Mencari Identitas Kultur Keindonesiaan, dalam Hermeneutika
Pascakolonial: Soal Identitas. Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (ed.),
Yogyakarta: Yayasan Kanisius.
Titus, 1984. Persoalan-Persoalan Filsafat. Terj. M. Rasyidi, Jakarta: Bulan Bintang.
Wuisman, J.J.J.M. 1996. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Jilid I: Asas-Asas. Jakarta: Lembaga
Penerbit FE-UI.