Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM SATUAN OPERASI

Judul Percobaan
: Screening
Tanggal Percobaan
: 6 Oktober 2015
Dosen Pembimbing
: Mustafa
Kelas
: VA/D3
Kelompok
: 3 (tiga)
Nama Anggota Kelompok
: Ni Made Ayu Candra W.
(13
614 018)
M. Fajar Ricky Pratama
(13 614
022)
Eny Marasita
(13 614
025)
Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal . . . . . . . . . . . 2015
Mengesahkan dan
Menyetujui
Dosen Pembimbing

Mustafa, ST., MT
NIP. 19740306 200112 1 001

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
1. Cara-cara menentukan ukuran partikel
2. Analisis data ukuran partikel menggunakan screen shaker
3. Evaluasi hasil analisis ayakan
1.2 Dasar Teori
1.2.1 Pengertian Pengayakan (Screening)
Pengayakan merupakan pemisahan berbagai campuran partikel padatan
yang mempunyai berbagai ukuran bahan dengan menggunakan ayakan.
Pengayakan

dengan

berbagai

rancangan

telah

banyak

digunakan

dan

dikembangkan secara luas pada proses pemisahan bahan-bahan padatan


berdasarkan ukuran yang di inginkan.
Pengayakan merupakan satuan operasi pemisahan dari berbagai ukuran
bahan untuk dipisahkan kedalam dua atau tiga praksi dengan menggunakan
ayakan. Setiap fraksi yang keluar dari ayakan mempunyai ukuran yang seragam
(Fellow, 1988). Pemisahan bahan berdasarkan ukuran mesin kawat ayakan, bahan
yang mempunyai ukuran lebih kecil dari diameter mesin akan lolos dan bahan
yang mempunyai ukuran lebih besar akan tertahan pada permukaan kawat ayakan.
Bahan-bahan yang lolos melewati lubang ayakan mempunyai ukuran yang
seragam dan bahan yang tertahan dikembalikan untuk dilakukan pengecilan
ukuran kembali (Ign Suharto, 1998).
Produk dari proses pengayakan ada 2 (dua), yaitu :
- Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize)
- Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize)

Dalam proses industri, biasanya digunakan material yang berukuran


tertentu dan seragam. Untuk memperoleh ukuran yang seragam, maka perlu
dilakukan pengayakan. Pada proses pengayakan zat padat itu dijatuhkan atau
dilemparkan ke permukaan pengayak. Partikel yang dibawah ukuran atau yang
kecil (undersize), atau halusan (fines), lulus melewati bukaan ayak, sedang yang
di atas ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut (tails) tidak lulus.
Pengayakan lebih lazim dalam keadaan kering (McCabe, 1999, halaman 386).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, yaitu:

Jenis ayakan

Cara pengayakan

Kecepatan pengayakan

Ukuran ayakan

Waktu pengayakan

Sifat bahan yang akan diayak

1.2.2

Macam-macam alat Pengayakan


Berbagai jenis alat pengayak yang dapat digunakan dalam proses sortasi

bahan padatan, diklasifikasikan dalam dua bagian besar :


a. Ayakan dengan celah yang berubah-ubah (Screen Aperture) seperti :
roller screen (Pemutar), belt screen (kabel kawat atau ban), belt and roller
(ban dan pemutar), screw (baling-baling).
b. Ayakan dengan celah tetap, seperti : stationary (bersifat seimbang/tidak
berubah), vibratory (bergetar), rotary atau gyratory (berputar) dan recipro
cutting (timbale balik).
Untuk memisahkan bahan-bahan yang telah dihancurkan berdasarkan
keseragaman ukuran partikel-partikel bahan dilakukan dengan pengayakan dengan
menggunakan standar ayakan.
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan screen
adalah :
1. kapasitas,

2. kecepatan hasil yang diinginkan,


3. kisaran ukuran ( size range),
4. sifat bahan seperti densitas dan kemudahan mengalir (flowability),unsur
bahaya

bahan

seperti

mudah

terbakar,

berbahaya,

debu

yang

ditimbulkan,selain itu
5. jenis ayakan yang kering atau basah.
1.2.3

Kapasistas Screen
Kapasitas screen secara umum tergantung pada :

1.
2.
3.
4.
5.

Luas penampang screen


Ukuran bahan
Sifat dari umpan seperti; berat jenis, kandungan air, temperature
Tipe mechanical screen yang digunakan
Pengayak screen dengan berbagai desain telah digunakan secara luas pada
proses pemisahan bahan padatan berdasarkan ukuran yang terdapat pada
ayakan.
Istilah-istilah yang digunakan dalam pengayakan (screen), yaitu :
a) Undersize yaitu ukuran bahan yang melewati celah ayakan
b) Oversize yaitu ukuran bahan yang tertahan oleh ayakan
c) Screen aperture yaitu bukaan antara individu dari kawat mesh ayakan
d) Mesh number yaitu banyaknya lubang-lubang per 1 inci
e) Screen interval yaitu hubungan antara diameter kawat kecil pada seri
ayakan standar.
Pergerakan bahan padatan diatas pengayak dapat dihasilkan oleh gerakan

berputar atau gerakan dari rangkai yang menyangga badan pengayak. Penyaring
jenis ini dalam penggunaannya secara umum yaitu untuk sortasi bahan padatan
untuk dua grup yaitu tipe badan standar atau flat dan tipe drum.

Gambar 1. Kapasitas screens

Gambar 2. Lubang ayakan


1.2.4

Efesiensi Screen
Efektivitas ayakan dihitung berdasarkan rekoveri desired material dalam

produk dan rekoveri undesired material di arus reject. Desired matl = matl
dengan ukuran yang diinginkan.
Efisiensi screen dalam mechanical engineering didefinisikan sebagai
perbandingan dari energi keluaran dengan eneri masukan. Dengan demikian
dalam screening bukannya efisiensi melainkan ukuran keefektifan dari operasi.
1.2.5

Standar ukuran ayakan (screen)


Ukuran yang digunakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm

(metrik). Yang dimaksud mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu
inchi persegi (square inch), sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka
yang ditunjukkan merupakan besar material yang diayak.

Perbandingan antara luas lubang bukaan dengan luas permukaan screen


disebut prosentase opening. Pelolosan material dalam ayakan dipengaruhi oleh
beberapa hal, yaitu :

Ukuran material yang sesuai dengan lubang ayakan

Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ayakan

Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel

Komposisi air dalam material yang akan diayak

Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diayak


Dalam pengayakan melewatkan bahan melalui ayakan seri ( sieve
shaker) yang mempunyai ukuran lubang ayakan semakin kecil. Setiap
pemisahan

padatan

berdasarkan

ukuran

diperlukan

pengayakan.

screen

mampu mengukur partikel dari 76 mm sampai dengan 38 m. Operasi screening


dilakukan dengan jalan melewatkan. Material pada suatu permukaan yang
banyak lubang atau openings dengan ukuran yang sesuai.

Fraksi oversize = fraksi padatan yang tertahan ayakan.


Fraksi undersize = fraksi padatan yang lolos ayakan.
Jika ayakan lebih dari 2 ayakan yang berbeda ukuran lubangnya, maka
akan diperoleh fraksi-fraksi padatan dengan ukuran padatan sesuai dengan
ukuran lubang ayakan. Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering
untuk material kasar, dapat optimal sampai dengan ukuran 10 in (10 mesh).

Sedangkan pengayakan dalam keadaan basah biasanya untuk material yang halus
mulai dari ukuran 20 in sampai dengan ukuran 35 in.

Contoh :
Menentukan ukuran partikel pada ayakan antara -48 + 65 mesh :
Gi = berat partikel pada -48+65 mesh.
Gt = berat total = berat umpan total
1.2.6

Average Particle Size


Evaluasi Hasil Analisis Ayakan. Beberapa karakter padatan yang dapat

dianalisis dari data hasil ayakan:

Average diamater
Diameter yang jika dikalikan dengan jumlah partikel akan memberikan
jumlah total diameter dalam campuran itu.
Davg x (jumlah partikel) = D total campuran.

Average surface
Surface average x (jumlah partikel) = surface total

Average volume
Volume avg x (jumlah partikel) = surface total

Average mass
Mass avg x (jumlah partikel) = massa total
Beberapa dimensi atau ukuran yang digunakan untuk menyatakan

ukuran suatu campuran antara lain:

1.

True Arithmatic Average Diameter (TAAD)

TAAD =

diameter total
jumlah partike total

Misal : Hasil analisa ayakan suatu campuran adalah sebagai berikut :


Mesh

Davg.
D1
D2
..
.
.
dst.

Fraksi Massa
X1
X2
.
.
.

Jumlah Partikel
N1
N2
.
.
.

Diameter total = N1.D1 + N2.D2+ N3.D3+..+= (Ni . Di )


Jumlah partikel total = N1 + N2 + N3 +......................= (Ni)
Dalam prakteknya, menghitung jumlah partikel sangatlah sulit, lebih
menentukan massa dari masing-masing ukuran.

Oleh karena itu, dicari

hubungan antara jumlah partikel dengan massa pada masing-masing ukuran


tersebut. Pendekatan yang diambil sbb.:
[ massa total partikel berukuran Di ] = M x Xi
Persamaan pendekatan menjadi:
( M. Xi ) = Ni x ( . c. Di3 )
Ni =

M . Xi
. c . Di

Ni = N1 + N2 + N3 +.
=

M.X1
. c . D

M
Xi
. c Di

M.X2
. c . D

M.X3
. c . D

TAAD =

Di
M
Xi

. c Di

ditinjau untuk partikel berukuran Di :


[ massa total partikel ] = [ jumlah partikel ] x [ massa sebuah partikel ]
dengan,
[ massa sebuah partikel = partikel x [ volume sebuah partikel ]
Volume sebuah partikel = c x Di2
Dengan c =

/ 6 untuk partikel berbentuk bola

c = 1 untuk partikel berbentuk kubus


2.

Mean Surface Diameter (Dp)


Diameter yang dapat mewakili untuk menghitung luas permukaan total.

3.

Mean Volume Diameter (Dv)


Diameter yang dapat mewakili untuk menghitung volum total campuran.

4.

Surface area
Dalam prakteknya, luas permukaan sejumlah partikel dalam campuran

sulit diukur, maka perlu dicar cara lain, yaitu mengevaluasi luas permukaan
padatan per satuan massa padatan.

Specific surface dapat dihitung dengan mudah jika geometri partikel diketahui.
Contoh :
Untuk sebuah bola : luas permukaan =.......?
Massa bola

= ....?

Maka, specific surface =....?


Pada alat screen, yang teranalisis adalah Davg, jika D

Davg

maka persamaan di atas perlu dikoreksi. Biasanya menggunakan perbandingan


specific surface atau ratio of

specific surface = n.

Hubungan specific surface dengan Davg untuk beberapa material disajikan


di figure 16 Brown. Hubungan n dengan Davg disajikan dalam fig. 17.

1.2.7

Screen aperture (lubang ayakan)

Keterangan :
Untuk
ukuran
lubang

yang

berbeda,
digunakan
diameter
kawat

yang

berbeda pula.
Mesh

: jumlah lubang dalam 1 inchi linear.

Contoh : Ayakan 10 mesh, artinya sepanjang 1 inch terdapat 10 lubang dan


kawatnya.
Maka

: Jarak antar pusat kawat yang satu dengan kawat berikutnya = 1/10
=0,1 in.
Aperture = 0,1 (diameter kawat) in.
Dari table Tyler screen, untuk 10 mesh ternyata diameter kawat = 0,035
in, maka,Aperture = 0,1 0,035 = 0,05 in.

BAB II
METODOLOGI

2.1.
Alat dan Bahan Yang Digunakan
2.1.1
Alat Yang Digunakan
Screening shaker
Neraca Digital
Gelas Kimia 50 ml dan 500 ml
2.1.2
Bahan Yang Digunakan
Batubara
2.2.

Prosedur Kerja
1. Menimbang batubara sebanyak 500 gram.
2. Menyusun screening dari No. Mesh terkecil (8,10,12,14,16,18, dan 20
Mesh) secara berurutan dari atas ke bawah.
3. Memasukan sampel batubara ke dalam alat screening.
4. Menjalankan alat screen shaker dengan besar kecepatan 20, 40, 60, 80
dan dijalankan selama 6 menit.
5. Menimbang dan mencatat hasil screening masing-masing padatan
yang diperoleh dari pengayakan.
6. Mengulangi hal serupa diatas untuk variasi waktu 5, 10, 15 dan 20
menit.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1

Data Pengamatan

Tabel 3.1.1 Data Variasi Vibrating pada waktu 6 menit dengan massa 500
gram
Nomor Ayakan (Mesh)

Vibrating (Amplitude)

8
10
12
14
16
18
20
Wadah Dasar

400
12
12
10
10
10
8
30

177
32
42
50
31
37
14
94

76
26
37
54
41
44
6
167

37
18
21
59
44
50
13
156

Tabel 3.1.2 Data Variasi Waktu Pada Vibrating 40 rpm dengan massa 500
rpm
Nomor Ayakan
(Mesh)
8
10
12
14
16
18
20
Wadah Dasar
3.2

5
94
36
38
54
42
36
22
171

Waktu (Menit)
10
15

20

90
37
39
58
42
37
19
165

81
38
43
50
46
54
37
171

119
42
48
48
44
47
31
168

Hasil Perhitungan
Tabel 3.2.1 Data Variasi Vibrating pada waktu 6 menit
No.
1
2
3
4

Vibrating
20 rpm
40 rpm
60 rpm
80 rpm

TAAD (in)
0.0544
0.0539
0.0525
0.0512

Dsurf (in)
0.0565
0.0555
0.0537
0.0524

Dv (in)
0.0595
0.0576
0.0553
0.0541

Tabel 3.2.2 Data Variasi Waktu pada Vibrating 40 rpm


No.
1
2
3
4

Waktu
5 menit
10 menit
15 menit
20 menit

TAAD (in)
0.0534
0.0541
0.0535
0.0534

Dsurf (in)
0.0551
0.0558
0.0554
0.0553

Dv (in)
0.0575
0.0582
0.0582
0.0583

3.3

Pembahasan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat dianalisa bahwa

pengayakan adalah proses pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan


ukuran partikel. Analisa kali ini dilakukan dengan menggunakan alat Screen
Shaker yaitu ayakan bertingkat yang digetarkan. Nomor ayakan yang digunakan
(dari atas) adalah ayakan No. 8, No.10, No. 12, No.14, No.16, dan No. 18.
Partikel yang kali ini digunakan untuk ditentukan ukurannya adalah batubara.
Pada praktikum kali ini, bahan (batubara) yang digunakan sebanyak 500
gram. Proses pengayakan dilakukan dengan 2 proses variasi, yaitu variasi
kecepatan dan variasi waktu. Untuk variasi kecepatan, kecepatan yang digunakan
adalah 20 rpm, 40 rpm, 60 rpm, dan 80 rpm. Sedangkan untuk variasi waktu,
waktu yang digunakan adalah 5 menit, 10 menit, 15 menit, dan 20 menit.
Pada proses pengayakan, zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke
permukaan pengayak. Fraksi padatan yang tertahan di ayakan disebut sebagai
fraksi oversize, da fraksi padatan yang lolos dari ayakan disebut sebagai fraksi
undersize.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengayakan, adalah :
1. Jenis ayakan
2. Cara pengayakan
3. Kecepatan pengayakan
4. Ukuran ayakan
5. Waktu pengayakan
6. Sifat bahan yang akan diayak
Tujuan pengayakan itu sendiri adalah untuk memperoleh ukuran yang
seragam. Dari data hasil pengamatan pada tabel 3.1.1 dengan variasi kecepatan
vibrating dalam waktu 6 menit, dapat disimpulkan bahwa semakin besar putaran
shaker ( pengayak) maka semakin banyak partikel yang dihasilkan diwadah dasar.

Hal tersebut dikarenakan kecepatan vibrating merupakan faktor yang dapat


mempengaruhi pengayakan.
Sedangkan pada tabel 3.1.2 dengan variasi waktu pengayakan pada
kecepatan vibrating 40 rpm, membuktikan bahwa variasi waktu dapat
mempengaruhi banyaknya partikel yang dihasilkan diwadah dasar. Pada waktu 5
menit partikel yang dihasilkan sebesar 171 gram, 10 menit sebesar 165 gram, 15
menit sebesar 168 gram, dan pada waktu 20 menit sebesar 171 gram. Namun
praktikum yang dilakukan, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan teoritis,
Seharusnya semakin lama waktu yang digunakan maka semakin banyak partikel
yang dihasilkan diwadah dasar. Hal ini dikarenakan partikel partikel tersebut
mungkin hilang pada saat penimbangan.
Dari penyajian data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecepatan shaker
dan waktu pengayakan mempengaruhi banyaknya partikel yang dihasilkan
diwadah dasar. Dalam artian, semakin besar kecepatan shaker dan waktu yang
digunakan maka semakin banyak pula partikel yang dihasilkan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Semakin besar putaran shaker ( pengayak) maka semakin banyak
partikel yang dihasilkan diwadah dasar.
2. Variasi waktu dapat mempengaruhi banyaknya partikel yang dihasilkan
diwadah dasar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Pengukuran Butiran Ayakan. http://pengukuran-butiranpadatan.blogspot.co.id/2015_10_01_archive.html (Diakses pada tanggal


10 Oktober 2015)
Anonim.
2012.
Dasar
Teori
https://www.scribd.com/doc/96115682/Daster-Screening
tanggal 10 Oktober 2015)

Screening.
(Diakses pada

Anonim.
2009.
Pengolahan
Bahan
Galian.
http://kuliahd3fatek.blogspot.co.id/2009/05/bab-iii-pengolahan-bahangalian.html (Diakses pada tanggal 12 Oktober 2015)
Harinto.
2009.
Screening
(Pengayakan).
http://brownharinto.blogspot.com/2009/11/screening-pengayakan.html
(Diakses pada tanggal 12 Oktober 2015)
Mulyati,
Sri.
2014.
https://www.scribd.com/doc/205008561/Pengayakan
tanggal 14 Oktober 2015)

Pengayakan.
(Diakses
pada

LAMPIRAN

PERHITUNGAN
1. Percobaan 1 dengan t = 6 menit dan vibrating = 20 rpm
Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14

Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =

berat partikel pada8+10 mesh


berat umpantotal

12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Tabel 1. Fraksi Massa pada variasi vibrating 20 rpm


No
1
2
3
4
5
6

Nomor Ayakan (Mesh)


-8 + 10
-10 + 12
-12 + 14
-14 + 16
-16 + 18
-18 + 20

Fraksi Massa
0.024
0.024
0.02
0.02
0.02
0.016

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,024
=6,175825569 in2
2
2
=
C Di
0,523 x 0,00743i n

Xi
. C D3
i

0,024
=71,64530822i n3
2
0,523 x 0,000641i n

Xi B
. C Di

0,024 x 3,14
=1,671598i n1
2
0,523 x 0,0862i n

Davg

Di2(in2)

Di3(in3)

(in)

Xi/CDi2

Xi/CDi3

Xi

Fraksi

(in-2)

(in-2)

B/CDi(in-

massa

0.0862

0.0074

0.0006

6.1758

71.6453

)
1.6716

0.0724

0.0052

0.0004

8.7545

120.9188

1.9902

0.024

0.0608

0.0037

0.0002

10.3448

170.1444

1.9749

0.02

0.0512

0.0026

0.0001

14.5878

284.9170

2.3452

0.02

0.0432

0.0019

0.0001

20.4909

474.3261

2.7795

0.02

0.1852

0.0343

0.0064

0.8919

4.8161

0.5187

0.016

0.0552

0.0078

61.2457

1126.7678 11.2802

TAAD =

Xi
2

CD i
Xi

CD i

1126,76783
61,2457 i n2
=
= 0,0544 in

0.024

0.124

Dsurf =

Dv =

Xi B
C Di
X
B i3
C Di

Xi
C

Xi
CD

3
i

11,2802
3,14 . 1126,7678

0,124
0,523 x 1126,7678

= 0,0565 in

= 0,059479 in

2. Percobaan 1 dengan t = 6 menit dan vibrating = 40 rpm


Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14


berat partikel pada8+10 mesh
Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =
berat umpantotal
=

12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Dengan cara yang sama dapat dihitung fraksi massa pada nomor ayakan
yang lainnya.
No
1
2
3
4
5
6

Nomor Ayakan (Mesh)


-8 + 10
-10 + 12
-12 + 14
-14 + 16
-16 + 18
-18 + 20

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,064
=16,4689 i n2
2
2
=
C Di
0,523 x 0,0074 in

Fraksi Massa
0.064
0.084
0.1
0.062
0.074
0.028

Xi
. C D3
i

0,024
=191,0542 in3
2
0,523 x 0,0006 in

Xi B
. C Di

0,024 x 3,14
=4,4576 i n1
2
0,523 x 0,0862i n
Fraksi

Di2(in2)

Davg (in)

Di3(in3)

Xi/CDi2

Xi/CDi3

Xi

(in-2)

(in-2)

B/CDi(in-1)

massa

0.086

0.0074

0.0006

16.4689

191.0542

4.4576

0.064

2
0.072

0.0052

0.0004

30.6408

423.2158

6.9658

0.084

4
0.060

0.0037

0.0002

51.7239

850.7218

9.8747

0.100

8
0.051

0.0026

0.0001

45.2220

883.2428

7.2703

0.062

2
0.043

0.0019

0.0001

75.8163

1755.0067

10.2843

0.074

2
0.185

0.0343

0.0064

1.5609

8.4282

0.9077

0.028

0.0552

0.0078

221.4328

4111.6695

39.7604

0.412

TAAD =

Dsurf =

Xi
2

CD i
Xi

CD i

Xi B
C Di
X
B i3
C Di

4111,6695
2
= 221,4328 in

= 0,0539 in

39,7604
3,14 . 4111,6695

= 0,0555 in

Dv =

Xi
X
C i 3
C Di

0,064
0,523 x 4111,6695

= 0,0576 in

3. Percobaan 1 dengan t = 6 menit dan vibrating = 60 rpm


Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14


berat partikel pada8+10 mesh
Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =
berat umpantotal
=

12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Dengan cara yang sama dapat dihitung fraksi massa pada nomor ayakan
yang lainnya.
No

Nomor Ayakan (Mesh)

-8 + 10

-10 + 12

-12 + 14

-14 + 16

-16 + 18

-18 + 20

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,052
2
=13,3810 n
2
2
=
C Di
0,523 x 0,0074 in

Fraksi Massa
0.052
0.074
0.108
0.082
0.088
0.012

Xi

Davg (in)

. C D3
i

0,052
=155,2315 in3
2
0,523 x 0,0006 in

Xi B
. C Di

0,052 x 3,14
=3,6218 in1
2
0,523 x 0,0862i n

Di2(in2)

Xi/CDi2 (in-

Di3(in3)

Xi/CDi3 (in-2) Xi B/CDi(in-

0.0862
0.0724
0.0608
0.0512
0.0432
0.1852

0.0074
0.0052
0.0037
0.0026
0.0019
0.0343
0.0552

)
13.3810
26.9931
55.8618
59.8098
90.1599
0.6690
246.8745

0.0006
0.0004
0.0002
0.0001
0.0001
0.0064
0.0078

155.2315
372.8330
918.7796
1168.1599
2087.0351
3.6121
4705.651

)
3.6218
6.1365
10.6647
9.6155
12.2300
0.3890
42.6575

TAAD =

Dsurf =

Dv =

Xi
2

CD i
Xi

CD i

4705,65103
2
= 246,8745,i n
= 0,0525 in

Xi B
C Di
X
B i3
C Di

Xi
C

Xi
3

C Di

42,6575
3,14 . 4705,6510

= 0,0537 in

0,416
0,523 x 4705,6510

= 0,0553 in

4. Percobaan 1 dengan t = 6 menit dan vibrating = 80 rpm


Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14

Fraksi
massa
0.052
0.074
0.108
0.082
0.088
0.012
0.416

Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =


=

berat partikel pada8+10 mesh


berat umpantotal
12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Dengan cara yang sama dapat dihitung fraksi massa pada nomor ayakan
yang lainnya
No
2

Nomor Ayakan (Mesh)


-8 + 10

Fraksi Massa
0.036

-10 + 12

0.042

-12 + 14

0.118

-14 + 16

0.088

-16 + 18

0.1

-18 + 20

0.026

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,036
=9,2637i n2
2
2
=
CD
0,523 x 0,0074 in
i

Xi
. CD

3
i

Xi B
. C Di

Davg (in)

Di2(in2)

0,036
=107,4680 in3
2
0,523 x 0,0006 in

0,036 x 3,14
=2,5074 in1
2
0,523 x 0,0862i n

Di3(in3)

Xi/CDi2 (in-

Xi/CDi3 (in-2) Xi B/CDi(in-

0.0862

0.0074

0.0006

)
9.2637

107.4680

)
2.5074

Fraksi
massa
0.036

0.0724
0.0608
0.0512
0.0432
0.1852

0.0052
0.0037
0.0026
0.0019
0.0343
0.0552

0.0004
0.0002
0.0001
0.0001
0.0064
0.0078

15.3204
61.0342
64.1861
102.4544
1.4494
253.7083

211.6079
1003.8518
1253.6350
2371.6307
7.8262
4956.019

3.4829
11.6522
10.3191
13.8977
0.8429
42.7021

0.042
0.118
0.088
0.1
0.026
0.41

TAAD =

Dsurf =

Dv =

Xi
CD 2i
Xi
CD 3i

4956,01953
2
= 253,7083,i n
= 0,0512 in

Xi B
C Di
Xi
B
3
C Di

Xi
X
C i 3
C Di

42,7021
3,14 . 4956,0195

= 0,0524 in

0,41
0,523 x 4956,0195

= 0,0541 in

5. Percobaan 1 dengan t = 5 menit dan vibrating = 40 rpm


Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14


berat partikel pada8+10 mesh
Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =
berat umpantotal
=

12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Dengan cara yang sama dapat dihitung fraksi massa pada nomor ayakan
yang lainnya

No
2

Nomor Ayakan (Mesh)


-8 + 10

Fraksi Massa
0.072

-10 + 12

0.076

-12 + 14

0.108

-14 + 16

0.084

-16 + 18

0.084

-18 + 20

0.044

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,072
=18,5275 i n2
2
2
=
CD
0,523 x 0,0074 in
i

Xi
. CD

3
i

Xi B
. C Di

Davg (in)

Di2(in2)

0,072
=214,9359 in3
2
0,523 x 0,0006 in

0,072 x 3,14
=5,0148i n1
2
0,523 x 0,0862i n

Di3(in3)

Xi/CDi2 (in-

Xi/CDi3 (in-2) Xi B/CDi(in-

0.0862
0.0724
0.0608
0.0512
0.0432
0.1852

0.0074
0.0052
0.0037
0.0026
0.0019
0.0343
0.0552

0.0006
0.0004
0.0002
0.0001
0.0001
0.0064
0.0078

)
18.5275
27.7227
55.8618
61.2686
86.0617
2.4528
251.8951

214.9359
382.9096
918.7796
1196.6516
1992.1698
13.2443
4718.690
7

)
5.0148
6.3024
10.6647
9.8500
11.6741
1.4264
44.9324

Fraksi
massa
0.072
0.076
0.108
0.084
0.084
0.044
0.468

TAAD =

Dsurf =

Dv =

Xi
CD 2i
Xi
CD

3
i

4718,69073
2
= 251,8951,i n

Xi B
C Di
Xi
B
3
C Di

Xi
X
C i 3
C Di

= 0,0534 in

44,9324
3,14 . 4718,6907

= 0,0551 in

0,468
0,523 x 4718,6907

= 0,05745 in

6. Percobaan 1 dengan t = 10 menit dan vibrating = 40 rpm


Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14


berat partikel pada8+10 mesh
Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =
berat umpantotal
=

12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Dengan cara yang sama dapat dihitung fraksi massa pada nomor ayakan
yang lainnya
No
1

Nomor Ayakan (Mesh)


-8 + 10

Fraksi Massa
0.074

-10 + 12

0.078

-12 + 14

0.116

-14 + 16

0.084

-16 + 18

0.074

-18 + 20

0.044

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,074
=19,0421 in2
2
2
=
CD
0,523 x 0,0074 in
i

Xi
. CD

Xi B
. C Di

Davg (in)

0,074
=220,9064 i n3
2
0,523 x 0,0006 in

0,074 x 3,14
=5,1541i n1
2
0,523 x 0,0862i n

3
i

Di2(in2)

Di3(in3)

Xi/CDi2 (in-

Xi/CDi3 (in-2) Xi B/CDi(in-

0.0862
0.0724
0.0608
0.0512
0.0432
0.1852

0.0074
0.0052
0.0037
0.0026
0.0019
0.0343
0.0552

0.0006
0.0004
0.0002
0.0001
0.0001
0.0064
0.0078

)
19.0421
28.4522
59.9997
61.2686
75.8163
2.4528
247.0317

220.9064
392.9861
986.8373
1196.6516
1755.0067
13.2443
4565.632
4

TAAD =

Xi
2

CD i
Xi

CD 3i

4565,6324 3
2
= 247,0317, in
= 0,0541 in

)
5.1541
6.4682
11.4547
9.8500
10.2843
1.4264
44.6377

Fraksi
massa
0.074
0.078
0.116
0.084
0.074
0.044
0.47

Dsurf =

Dv =

Xi B
C Di
X
B i3
C Di

Xi
C

Xi
CD

3
i

44,63771
3,14 . 4565,63239

0,47
0,523 x 4565,6324

= 0,0558 in

= 0,0582 in

7. Percobaan 1 dengan t = 15 menit dan vibrating = 40 rpm


Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14


berat partikel pada8+10 mesh
Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =
berat umpantotal
=

12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Dengan cara yang sama dapat dihitung fraksi massa pada nomor ayakan
yang lainnya
No
1

Nomor Ayakan (Mesh)


-8 + 10

Fraksi Massa
0.084

-10 + 12

0.096

-12 + 14

0.096

-14 + 16

0.088

-16 + 18

0.094

-18 + 20

0.062

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,084
=21,6154 i n2
2
2
=
CD
0,523 x 0,0074 in
i

Xi

Davg (in)

. C D3
i

0,084
=250,7586 i n3
2
0,523 x 0,0006 in

Xi B
. C Di

0,084 x 3,14
=5,8506 in1
2
0,523 x 0,0862i n

Di2(in2)

Di3(in3)

Xi/CDi2 (in-

Xi/CDi3 (in-2) Xi B/CDi(in-

0.0862
0.0724
0.0608
0.0512
0.0432
0.1852

0.0074
0.0052
0.0037
0.0026
0.0019
0.0343
0.0552

0.0006
0.0004
0.0002
0.0001
0.0001
0.0064
0.0078

)
21.6154
35.0181
49.6549
64.1861
96.3072
3.4563
270.2380

250.7586
483.6752
816.6929
1253.6350
2229.3329
18.6624
5052.757
0

TAAD =

Xi
2

CD i
Xi

CD 3i

5052,75703
2
= 270,2380,i n
= 0,0535 in

)
5.8506
7.9609
9.4797
10.3191
13.0639
2.0099
48.6841

Fraksi
massa
0.084
0.096
0.096
0.088
0.094
0.062
0.52

Dsurf =

Dv =

Xi B
C Di
X
B i3
C Di

Xi
C

Xi
CD

3
i

48,6841
3,14 . 5052,7570

= 0,0544 in

0,52
0,523 x 5052,7570

= 0,0582 in

8. Percobaan 1 dengan t = 20 menit dan vibrating = 40 rpm


Diketahui :

Asumsi bola C = 0,523 dan B = 3,14


berat partikel pada8+10 mesh
Fraksi massa partikel -8 + 10 mesh =
berat umpantotal
=

12 gram
500 gram

= 0,024 gram

Dengan cara yang sama dapat dihitung fraksi massa pada nomor ayakan
yang lainnya
No
1

Nomor Ayakan (Mesh)


-8 + 10

Fraksi Massa
0.076

-10 + 12

0.086

-12 + 14

0.1

-14 + 16

0.092

-16 + 18

0.092

-18 + 20

0.074

Di2 = (0.0862 in)2 = 0.00743 in2


Di3 = (0.0862 in)3 = 0,00064 in3
Xi
0,076
=19,5568 i n2
2
2
=
CD
0,523 x 0,0074 in
i

Xi
=

0,076
=226,8768 in3
2
0,523 x 0,0006 in

0,076 x 3,14
=5,2934 in1
2
0,523 x 0,0862i n

. C D3
i
Xi B
. C Di

Davg (in)

Di2(in2)

Xi/CDi2 (in-

Di3(in3)

Xi/CDi3 (in-2) Xi B/CDi(in-

0.0862
0.0724
0.0608
0.0512
0.0432
0.1852

0.0074
0.0052
0.0037
0.0026
0.0019
0.0343
0.0552

0.0006
0.0004
0.0002
0.0001
0.0001
0.0064
0.0078

)
19.5568
31.3704
51.7239
67.1037
94.2581
4.1252
268.1380

226.8768
433.2924
850.7218
1310.6184
2181.9003
22.2745
5025.684

)
5.2934
7.1316
9.8747
10.7881
12.7859
2.3989
48.2727

TAAD =

Dsurf =

Xi
2

CD i
Xi
CD

3
i

Xi B
C Di
Xi
B
3
C Di

5025,68413
2
= 268,138,0i n

= 0,0534 in

48,2727
3,14 . 5052,6841

= 0,0553 in

Fraksi
massa
0.076
0.086
0.1
0.092
0.092
0.074
0.52

Dv =

Xi
X
C i 3
C Di

0,52
0,523 x 5052,6841

= 0,0583 in

90
80
70

f(x) = - 17571.88x + 981.31


R = 0.97

60
50

Vibrating (rpm) 40
30
20
10
0
0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.06

TAAD (in)

Gambar 1. Kurva TAAD (in) Vs Vibrating (rpm)

25

20

15

f(x) = - 13043.48x + 714.89


R = 0.94

Waktu(menit)
10

0
0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

TAAD (in)

Gambar 2. Kurva TAAD (in) Vs Waktu (menit)

0.05

0.05