Anda di halaman 1dari 8

TERAPI MODALITAS TUBERCULOSIS PARU (TBC)

FISIOTERAPI DADA DAN NEBULIZER


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Keluarga

Disusun Oleh:
Dhesty Andhianisa
Dian Khoirun Nisa
Dinda Puji Alprameswari
Ersa Rizki Septyarini
Sihmulyaningtyas Paramita
Tingkat: 3B

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PRODI KEPERAWATAN BOGOR
2016

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


TERAPI MODALITAS TUBERCULOSIS PARU:
FISIOTERAPI DADA

A. Definisi
Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita
penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis.
B. Tujuan
1. Meningkatkan efisiensi pernapasan dan ekspansi paru.
2. Mengeluarkan sekret dari saluran pernapasan.
3. Klien dapat bernapas dengan bebas dan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup.
4. Mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan
5. Mencegah penumpukan sekret serta memperbaiki pergerakan dan aliran sekret.
C. Kontra Indikasi
1. Mutlak
a. Kegagalan jantung
b. Status asmatikus
c. Renjatan dan perdarahan masif
2. Relatif
a. Infeksi paru berat
b. Patah tulang iga
c. Luka baru bekas operasi
d. Tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan
e. Kejang rangsang.
No
.
1.

Fisioterapi Dada
Pelaksanaan
Alat dan Bahan

a. Tempat tidur di rumah sakit dapat di


tempatkan pada posisi Trendelenburg
(perawatan akut, restoratif, atau
lingkungan perawatan di rumah)/
Papan pemiring atau pendororng
(bila drainase dilakukan dirumah)/
Kursi (untuk mendrainase bagian
atas)
b. Bantal (2 4 buah)
c. Perlak dan pengalas
d. Tisu wajah

e. Sputum
pot,
berisi
cairan
desinfektan.
f. Segelas air hangat dan sedotan
g. Masker
h. Handscoon sekali pakai
i. Handuk
j. Bengkok
2.

Cara Kerja

a. Jaga privacy klien dan ciptakan


lingkungan yang aman dan nyaman
b. Atur pencahayaan ruangan
c. Cuci tangan
d. Anjurkan klien untuk minum air
hangat. Tunggu 10-15 menit.
e. Anjurkan klien untuk napas dalam
beberapa kali
f. Bantu klien untuk mengatur posisi
(sesuai hasil pengkajian terdapatnya
sekret)
1) Bronkus Apikal Lobus Anterior
Kanan dan Kiri Atas: Minta klien
duduk di kursi, bersandar pada
bantal.
2) Bronkus Apikal Lobus Posterior
Kanan dan Kiri Atas: Minta klien
duduk di kursi, menyandar ke
depan pada bantal atau meja.
3) Bronkus Lobus Anterior Kanan
dan Kiri Atas: Minta klien
berbaring datar dengan bantal
kecil di bawah lutut.
4) Bronkus Lobus Lingual Kiri
Atas: Minta klien berbaring
miring ke kanan dengan lengan di
atas
kepala
pada
posisi
Trendelenburg, dengan kaki
tempat tidur di tinggikan 30 cm
(12 inci). Letakan bantal di
belakang
punggung,
dan
gulingkan
klien
seperempat
putaran ke atas bantal.
5) Bronkus Kanan Tengah: Minta
klien berbaring miring ke kiri dan
tinggikan kaki tempat tidur 30 cm
(12 inci). Letakan bantal di
belakang
punggung
dan
gulingkan
klien
seperempat
putaran ke atas banta.
6) Bronkus Lobus Anterior Kanan

g.
h.

i.

j.

k.

dan Kiri Bawah: Minta klien


berbaring terlentang dengan
posisi trendelenburg, kaki tempat
tidur di tinggikan 45 sampai 50
cm (18 sampai 20 inci). Biarkan
lutut menekuk di atas bantal.
7) Bronkus Lobus Lateral Kanan
Bawah: Minta klien berbaring
miring ke kiri pada posisi
trendelenburg
dengan
kaki
tempat tidur di tinggikan 45
sampai 50 cm (18 samapi 20
inci).
8) Bronkus Lobus Lateral Kiri
Bawah: Minta klien berbaring ke
kanan pada posisi trendelenburg
denan kaki di tinggikan 25
sampai 50 cm (18 sampai 20
inci).
9) Bronkus Lobus Superior Kanan
dan Kiri Bawah: Minta klien
berbaring tengkurap dengan
bantal di bawah lambung.
10) Bronkus Basalis Posterior Kanan
dan Kiri: Minta klien berbaring
terungkup
dalam
posisi
trendelenburg
dengan
kaki
tempat tidur di tinggikan 45
sampai 50 cm (18 sampai 20
inci).
Minta klien mempertahankan posisi
10-15 menit.
Setelah pasien di posisikan maka
perawat melakukan perkusi pada area
segmen paru klien yang terdapat
sekret, dengan cara menepuk-nepuk
dengan tangan yang dibentuk seperti
mangkuk selama 3-5 menit.
Selanjutnya lakukan Vibrasi pada
segmen paru tersebut dengan cara
menggetarkan dengan kedua tangan
perawat ketika pasien melakukan
ekshalasi.
Tempatkan perlak dibawah dagu
klien untuk menghindari paparan
dahak klien sesuai dengan posisi
postural drainase
Anjurkan klien untuk batuk efektif
dengan mengarahkan batuk klien ke
arah pot sputum.

l. Kembalikan posisi pasien ke posisi


semula
m. Cuci tangan.
n. Evaluasi
a. Kaji tanda-tanda vital
b. Kaji jalan napas pasien
o. Dokumentasikan

POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES BANDUNG


PROSEDUR

Nama : .....................................................
Tanggal : ......................

PROSEDUR PEMBERIAN NEBULIZER


A. Definisi
Suatu tindakan atau terapi untuk pembersihan atau pemeliharaan sistem pernafasan
(pemberian inhalasi uap) dengan obat/tanpa obat menggunakan Nebulator.
B. Tujuan
1. Mengencerkan sekret agar mudah dikeluarkan
2. Melonggarkan jalan nafas
3. Menurunkan edema mukosa
4. Pemberian obat secara langsung pada saluran pernafasan untuk pengobatan penyakit,
seperti : bronkospasme akut, produksi sekret uyang berlebihan, dan batuk yang disertai
dengan sesak nafas.
C. Kontraindikasi
1. Tekanan darah tinggi (autonomic hiperrefleksia)
2. Nadi yang meningkat/ takikardia
3. Riwayat reaksi yang tidak baik dari pengobatan.

No.
1.

Persiapan

Nebulizer
Alat dan bahan:
a.
b.
c.
d.

Set Nebulizer
Handscoon
Obat yang akan diberikan
Spuit 2 cc (sesuai dengan jumlah obat
yang diberikan
e. tissue
2.

Tahap Prainteraksi
3.2.

3.

Tahap Orientasi

a. Melakukan verifikasi program pengobatan


klien
b. Mencuci tangan
c. Menyiapkan alat dengan lengkap dan
benar
d. Menempatkan alat di dekat pasien dengan
benar
a. Memberikan salam sebagai pendekatan
terapeutik
b. Pasien dan keluarga diberikan penjelasan
tentang tujuan dan prosedur tindakan yang

4.

Tahap Kerja

akan dilakukan
c. Menanyakan persetujuan dan kesiapan
klien sebelum kegiatan dilakukan
a. Memasang sampiran
b. Mencuci tangan dan memakai handscoon
bersih
c. Mengatur pasien dalam posisi duduk atau
semifowler
d. Mendekatkan peralatan yang berisi set
nebulizer ke bed pasien
e. Mengisi nebulizer dengan aquades sesuai
takaran
f. Memasukkan
obat
sesuai
dosis
kewadahnya (bagian dari alat nebulizer).
g. Menghubungkan nebulizer dengan listrik
h. Menghidupkan nebulizer (tekan power
on) dan mengecek out flow apakah timbul
uap atau embun.
i. Menghubungkan alat ke mulut atau
menutupi hidung dan mulut (posisi) yang
tepat.
j. Menganjurkan
agar
klien
untuk
melakukan nafas dalam, tahan sebentar,
lalu ekspirasi.
k. Setelah selesai, mengecek keadaan umum
klien, tanda-tanda vital, dan melakukan
auskultasi paru secara berkala selama
prosedur.
l. Menganjurkan klien untuk melakukan
nafas dalam dan batuk efektif untuk
mengeluarkan sekret.
Perhatian :
1) Tetap mendampingi klien selama
prosedur (tidak meninggalkan klien).
2) Observasi adanya reaksi klien
apabila terjadi efek samping obat.
3) Tempatkan alat nebulizer pada posisi
yang aman (jangan sampai jatuh).
m. Matikan nebulizer
n. Bersihkan mulut dan hidung dengan
tissue
o. Bereskan alat
p. Buka handscoon dan mencuci tangan

5.
Tahap Terminasi

a. Evaluasi

perasaan

pasien

dan

hasil

tindakan
b. Kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
c. Berpamitan dengan pasien
d. Membereskan dan mengembalikan alat ke
tempat semula
e. Mencuci tangan
f. Menulis prosedur yang telah dilakukan
pada catatan perawatan.
6.

Evaluasi Pelaksanaan
Nebulizer

Pemberian

a. Mengobservasi respon klien selama dan


sesudah prosedur terhadap; keadaan
umum, tanda-tanda vital, dan efek
samping obat.
b. Mengauskultasi suara nafas.
c. Mengobservasi sputum / sekret yang
dikeluarkan klien.