Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biologi Udang Vaname


2.1.1. Taksonomi Udang Vaname
Spesies udang vaname, yang juga diketahui sebagai udang putih Pasifik
atau udang kaki putih, adalah spesies utama yang dibudidayakan di USA, Amerika
Latin dan wilayah Caribean. Udang ini baik dibudidayakan karena berkembang
baik pada wadah budidaya, dapat tersedia pada size kecil, tumbuh cepat dengan
nilai yang seragam, memiliki perbandingan kebutuhan protein yang rendah, dan
beradaptasi baik pada berbagai kondisi lingkungan ( Jory dan Cabrera, 2003).
Menurut Wayban dan Sweeney (1991) dalam Farchan (2006), klasifikasi
udang vaname adalah sebagai berikut:
Phylum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub-kelas : Malacostraca
Series : Eumalacostraca
Super order : Eucarida
Order : Decapoda
Sub order : Dendrobranchiata
Infra order : Penaeidea
Famili

: Penaeidae

Genus : Penaeus
Sub genus : Litopenaeus
Spesies: Litopenaeus vannamei
2.1.2. Morfologi Udang Vaname
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), warna tubuh udang vaname secara
keseluruhan putih agak mengkilap dengan titik-titik warna hitam yang menyebar di
sepanjang tubuhnya. Bagian tubuh udang vaname dibagi dua bagian terdiri dari
bagian kepala, bagian dada (cephalothorax) dan bagian perut (abdomen).
Penjelasan bagian-bagian tubuh udang mulai dari bagian kepala, bagian dada
(cephalothorax), dan bagian perut (abdomen) dapat dijelaskan berikut ini.
3

1. Kepala (thorax)
Chepalothorax disusun oleh kulit yang keras dan tebal dengan kandungan
utamanya chitin yang disebut carapace. Bagian ujungnya terdapat antena sebanyak
dua buah dan rostrum yang bergerigi. Belakang rostrum terdapat sepasang mata
yang bertangkai berada di kanan dan kiri rostrum. Pada bagian badan kepala bawah
terdapat kaki jalan (pereopoda) sebanyak 5 pasang, 2 pasang maxillae yang sudah
mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan (Farchan, 2006).
2. Perut (abdomen)
Abdomen terdiri dari 6 ruas serta terdapat 5 pasang kaki renang dan
sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama telson (Haliman
dan Adijaya, 2005).
Menurut Farchan (2006) alat kelamin jantan (petasma) terbentuk seperti
huruf V terdapat pada pangkal kaki jalan ke lima. Sedang alat kelamin udang
betina (thellycum) berbentuk seperti huruf I.

Gambar 1. Morfologi Udang Vaname (Farchan, 2006)


2.1.3. Habitat dan Siklus Hidup Udang Vaname
Daerah pasang surut dan hutan bakau (mangrove) merupakan habitat udang
vaname. Pada saat dewasa, udang ini berada di laut agak terbuka (Farchan, 2006).
Induk betina siap pijah umumnya berukuran 35-40 gr/ ekor. Untuk pemeliharaan di
tambak, salinitas (kadar garam) air tambak pemeliharaan berkisar 5-35 permil
(Amri dan Kanna, 2008). Litopenaeus vannamei dan udang biru (Litopenaeus
stylirostris) berkembang di wilayah Pasifik Amerika Selatan, Amerika Tengah
4

sampai Mexico. Daerah tersebut setiap tahun mempunyai suhu rata-rata 20o C dan
salinitas 35 permil. Induk udang vaname ditemukan di dasar laut berpasir, lepas
pantai dan kedalaman 70-72 m (Wyban dan Sweeney, 1991 dalam Farchan,
2006).
Menurut Farchan (2006), telur udang vaname terbawa arus pasang surut
menuju pantai dan menetas menjadi naupli dalam perjalanan. Setelah menjadi
naupli, udang vaname berkembang menjadi stadia zoea, mysis, dan post larva.
Setelah pemeliharaan 6 minggu, udang menjadi ukuran gelondongan dengan berat
sekitar 4 gram per ekor. Pada ukuran ini, udang bergerak ke laut dan dewasa berada
di laut kembali. Berdasarkan siklus hidupnya, udang vaname termasuk katadromus
yaitu pada saat benih dan fingerling di muara dan dewasa memijah di laut.

2.1.4. Kebiasaan dan Tingkah Laku Udang


Udang vaname cenderung bersifat omnivora atau pemakan segala. Udang
vaname menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor
yang terdiri dari bulu bulu halus (setae). Organ sensor ini terletak pada ujung
anterior antenula, bagian mulu, capit, antena, dan maxilliped. Selain itu, juga
termasuk hewan nokturnal, yaitu aktif mencari makan pada waktu malam hari, dan
mempunyai sifat kanibalisme yang cukup tinggi. Tingkah laku udang vaname
berbeda dengan udang windu, karena spesies ini cenderung suka berenang di badan
air dari pada di dasar, menentang arus, dan ,makan di pinggir dasar kolam dekat
pematang (Farchan, 2006).
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), fase dan tingkah laku makan udang
vaname adalah sebagai berikut :
1. Pendeteksian pakan dangan sinyal kimiawi
2. Orientasi (pengenalan medan), saat udang akan bergerak menuju sumber pakan
3. Bergerak mendekati sumber pakan
4. Menjepit pakan dengan capit kaki jalan dan dimasukkan ke dalam mulut
5. Udang akan berhenti makan bila sudah kenyang.
2.2. Persiapan Wadah Pemeliharaan
Menurut Rahayu (2010), Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik atau
yang dikenal dengan sebutan BUSMETIK merupakan teknologi terapan dalam
5

kegiatan budidaya udang windu (Penaeus monodon) atau udang vanname


(Litopenaeus vannamei) dengan ukuran tambak (empang) mini yang dilapisi
plastik. Nomenklatur BUSMETIK dibuat karena tambak yang digunakan untuk
budidaya udang berukuran kecil (mini), luasanya tidak seluas tambak budidaya
udang padaumumnya. Adapun spesifikasi tambak yang disarankan untuk kegiatan
BUSMETIK sebagai berikut:
- Jenis plastik : HDPE 0.5 mm (terpal sebagai alternatif)
: 500 1000 m2

- Luas

- Kedalaman : 80 100 cm
- Sistem

: Semi Close System

2.2.1. Konstruksi tambak


Konstruksi dan tata letak budidaya udang vaname adalah rangkaian
kegiatan sebelum dimulainya operasional budidaya sebagai kegiatan menyediakan
prasarana yang memadai untuk budidaya udang (Farchan, 2006). Konstruksi
tambak

yang

menerapkan

sistem

BUSMETIK

mengikuti

prinsip

dapat

mempermudah operasional selama proses kegiatan budidaya berjalan hingga panen


(Rahayu, 2010).
Petakan tambak terdiri dari pematang, saluran air, pintu air, prasarana
operasional, dan petak suplai air (Farchan, 2006). Sedangkan Haliman dan Adijaya
(2005) menyatakan bahwa dalam pembuatan tambak dilihat dari segi konstruksi,
antara lain petakan, kedalaman air, saluran air masuk, dan saluran pembuangan.
2.2.2. Persiapan sarana dan prasarana tambak
Menurut Farchan (2006), prasarana operasional pada pemeliharaan yang
intensif dan semi intensif sangat memerlukan keberadaan kincir air, pompa air.
Ukuran kapasitas pompa disesuaikan dengan jumlah dan luas petakan. Sedangkan
untuk memudahkan operasional dan penyimpanan sarana produksi diperlukan
gudang pakan, alat dan bangunan keperluan administrasi. Sementara menurut
Haliman dan Adijaya (2005), mengatakan bahwa sarana pendukung pada tambak
yang baru, dipanen banyak yang mengalami kerusakan. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pengecekan dan persiapan sarana tambak, diantaranya sebagai berikut.
1. Mengganti tutup filter yang rusak.
2. Memperbaiki saringan pada saluran masuk dan keluar yang jahitannya robek
6

3. Mengganti paku atau pengunci yang telah berkarat pada elbow penyambung
4. Memeriksa instalasi kincir air dan pompa.
5. Menambal atau mengganti strimin yang sobek pada anco dan mengganti kawat
stainless yang sudah patah.
6. Memeriksa secchi disk dan water stick level. Kerusakan yang sering terjadi pada
secchi disk yaitu piringan pecah atau gagang patah. Sementara kerusakan yang
sering terjadi pada water stick level yaitu terjadi kelunturan petunjuk ketinggian
sehingga angkanya tidak terlihat jelas.
2.2.3. Pengeringan dan pembersihan tambak
Menurut Rahayu (2010), untuk tambak baru pengeringan berguna untuk
pengukuran petakan sebagai acuan pembuatan plastik (welding), untuk perbaikan
konstruksi tambak, membersihkan tambak dari benda-benda yang dapat merusak
plastik dan juga penjemuran tanah dasar tambak agar lebih kering sehingga nanti
dapat mempermudah pemasangan plastik.
Haliman dan Adijaya (2005) menyatakan bahwa salah satu tahap
pembersihan tambak dilakuan dengan membuang semua jenis kotoran yang
membahayakan kelangsungan hidup udang, diantaranya lumpur hitam yang
tersbentuk dari sisa pakan dan bahan lain yang tidak terdekomposisi atau terurai
secara sempurna.
2.2.4. Biosecuriti
Biosekuriti adalah pengelolaan kawasan budidaya udang yang dilakukan
sebagai usaha memberikan proteksi pada tiap tahapan budidaya untuk
mencegah/mengurangi penyakit masuk ke dalam kawasan budidaya dan menyebar
ke tempat lain dengan cara pemasangan pagar keliling (fencing) diatas petakan
tambak (Farchan, 2006). Menurut Rahayu (2010), sarana biosecurity yang perlu
dibuat di tambak antara lain adalah alat pengusir burung (Bird Screaning Device),
pagar penghambat kepiting masuk ke tambak (Crab Screaning Device), tempat
cuci kaki dan tangan di pintu masuk.
Biosecuriti sangat menentukan keberhasilan budidaya udang karena akan
mencegah patogen yang masuk ke area budidaya,karen udang sangat terserang oleh
penyakit terutama virus yang cepat menyebar.
7

2.3.Persiapan Media
2.3.1. Pengisian air
Pengisian air dapat dilakukan menggunakan pompa atau secara gravitasi
(beda tinggi air di tandon dengan petakan tambak), air yang digunakan adalah air
yang sudah diendapkan kurang lebih 3-7 hari di petakan tandon dan tidak ikut
masuk ke petakan yang akan diisi air (Rahayu, 2010).
Proses pengisian air dilanjutkan dengan pemasangan kincir. Kincir dalam
budidaya intensif sangat diperlukan sebagai pemasok oksigen terlarut di tambak,
menghilangkan stratifikasi suhu permukaan, badan dan dasar tambak, serta
mempercepat proses pengumpulan kotoran yang ada di tambak sehingga posisi
pemasangan kincir harus memperhatikan pola arus (Rahayu, 2010).
2.3.2. Sterilisasi media
Menurut Farchan (2006) setelah dilakukan pengisian air, dilakukan
langkah-langkah berikut:
1. Untuk memberantas carrier SEMBV diantaranya udang liar dan kepiting,
disterilkan dengan divon 1 ppm (10 kg/ha) yang dilarutkan kedalaman 200 liter
air kemudian disebar merata di seluruh bagain petak tambak.
2. Aplikasi KMnO4 (Kalium Permanganat) dosis 2 ppm (20 kg/ha) bertujuan untuk
memberantas virus dan bakteri. Beberapa petambak menggunakan kaporit
(Kalsium Hypo Chloride) dengan dosis 30 ppm.
Sedangkan menurut Rahayu (2010), sterilisai air dapat dilakukan dengan
menggunakan kaporit 60% dengan dosis 20-50 ppm. Selama proses sterilisasi
kincir tetap dinyalakan untuk mempercepat pemerataan bahan dan membantu
proses netralisasi kandungan klor. Klorin didalam tambak dapat steril dengan
waktu normal yaitu 3 hari.
2.3.3. Pembentukan air
Pemberian kapur dilakukan setelah kandungan klorin di air tambak netral
atau 2-3 setelah proses sterilisasi. Dosis kapur diberikan sebanyak 60-80 ppm
diawal pemeliharaan untuk memberikan cadangan kebutuhan kapur selama 1 bulan
pemeliharaan dan untuk menumbuhkan plankton. Pemupukan juga dapat dilakukan
apabila saat akan dilakukan penebaran, plankton belum tumbuh. Jenis pupuk yang
digunakan adalah NPK dengan dosis 5 ppm (Rahayu, 2010). Hal ini serupa dengan
8

pernyataan Rachmatun dan Enny (2009) bahwa pemupukan

dilakukan

menggunakan pupuk NPK dengan dosis 4-5 ppm dan penambahan pupuk organik
(kotoran ayam dosis 0.1 ppm).
2.4. Pemeliharaan
2.4.1. Seleksi Benur
Menurut Farchan (2006), dalam pemilihan benur yang baik, terdapat tiga
tahapan yaitu: pengamatan morfologi, pengujian daya tahan, dan pengujian bebas
virus.
1. Pengamatan morfologi
Kriteria benur yang baik untuk budidaya di tambak dilihat morfologi dan
tingkah laku adalah:
a. Gerakannya lincah dan bila terjadi perubahan lingkungan mendadak akan
mudah melompat.
b. Ukurannya seragam. Pada PL (Post larva) 12 panjang tubuh 1,0 cm.
c. Di badan air, benur menyebar, tidak menggerombol atau menggumpal, selama
proses pengangkutan benur menyebar.
d. Pada air yang mengalir, benur menentang arus, berenang aktif dan beraturan.
e. Responsive terhadap cahaya (fototaksis positif).
f. Ekornya terbuka dan lebar, minimal 3 uropoda terbuka
g. Warna kaki dan kulit bersih
h. Tubuh normal, tidak ada organ yang cacat. Benur yang pucat dan pendek tidak
baik
i. Kotoran atau parasit menempel di badan sangat kecil
j. Hepatopancreas penuh dengan pakan dan gelap, kuning kecoklatan. Kondisi ini
menandakan nafsu makan tinggi
k. Ruas abdomen panjang sehingga dipilih benur yang mempunyai badan panjang.
2. Pengujian Daya Tahan
Pengujian daya tahan benur udang vaname dapat dilakukan dengan menguji
dengan formalin dan salinitas. Pengujian formalin dilakukan dengan merendam
dalam larutan formalin teknis dengan konsentrasi 200 ppm selama 30 menit. Benur
dikatakan baik apabila < 96% hidup. Sedangkan untuk uji salinitas, benur direndam

air tawar selama 30 menit. Benur dikatakan baik apabila < 96% hidup (Farchan,
2006).
3. Pengujian Bebas Virus
Pengujian benur untuk mendeteksi infeksi virus dilakukan dengan
menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). PCR terutama diarahkan
untuk mendeteksi jenis virus yang berbahaya misalnya SEMBV, IHHNV, WSSV,
TSV, dan YHV. Apabila dinyatakan bebas virus, maka benur dapat dipilih
(Farchan, 2006).
2.4.2. Penebaran Benur
Menurut Rahayu (2010), waktu penebaran sebaiknya dilakukan saat suhu
lingkungan rendah, yaitu pagi, sore atau malam hari sehingga dapat mengurangi
tingkat stess dan mempercepat proses aklimitasi. Salah satu yang diperhatikan saat
penebaran adalah padat tebar. Menurut

Budiarti (2005), hasil penelitian

menunjukan bahwa petak dengan kepadatan rendah memiliki nilai produktifitas,


bobot rata-rata, kelangsungan hidup dan konversi pakan (FCR) yang lebih baik
dibanding dengan yang berkepadatan tinggi.
Adapun langkah-langkah dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Pengecekan suhu dan salinitas kantong serta suhu dan salinitas kantong serta
tambak
b. Kantong benur diapung-apungkan di salah satu sudut tambak kurang lebih 30-45
menit.
c. Bagian sudut diberi bambu sebagai alat penahan agar kantong benur tidak
menyebar keseluruh petakan tambak
d. Kantong benur dibuka dan secara perlahan ditambahkan air dari tambak
sebanyak 1/3 dari volume kantong.
Haliman dan Adijaya (2005) menambahkan perkiraan aklimatisasi benur
berdasarkan perbedaan salinitas dan suhu air tambak dan air hatchery pada tabel 1.
Aklimatisasi yang baik akan menghasilkan tingkat kelangsungan hidup udang yang
tinggi dan tidak membuat udang stress yang dapat mengakibatkan udang mudah
terserang penyakit.
Aklimatisasi yang sesuai dengan prosedur akan meningkatkan jumlah
produksi udang dan tingkat kelangsungan hidup udang yang tinggi.
10

Tabel 1. Perkiraan Aklimatisasi Benur Berdasarkan Perbedaan Salinitas Dan Suhu


Air Tambak dan Air Hatchery.
Beda Salinitas (ppt)

Waktu Aklimatisasi Suhu (menit)

<5

>3 C

<3oC

5-10
10-15
>15

15-30
30-45
30-45

30-45
30-45
30-45

2.4.3. Pengelolaan Pakan


Pakan merupakan komponen penting karena mempengaruhi pertumbuhan
udang dan lingkungan budidaya serta memiliki dampak fisiologis dan ekonomis.
Pada tambak intensif, biaya pakan lebih dari 50% biaya operasional. Kelebihan
penggunaan pakan akan mengakibatkan bahan organik yang mengendap terlalu
banyak sehingga menurunkan kualitas air, demikian juga kekurangan pakan
menyebabkan udang kanibal, pertumbuhan turun dan tubuhnya lemah sehingga
daya tahan terhadap penyakit menurun (Farchan, 2006).
Pakan perlakuan dapat diberikan juga untuk menanggulangi penyakit
seperti Vibrio harveyi. hasil penambahan dengan sinbiotik melalui pakan
menghasilkan pertumbuhan, konversi pakan, dan kelangsungan hidup yang lebih
tinggi dibandingkan perlakuan prebiotik atau probiotik saja (Widanarni, dkk.,
2012).
Beberapa faktor yang diperhatikan dalam pengelolaan pakan, antara lain:
a. Waktu pemberian pakan
Menurut Rahayu (2010), waktu dan frekuensi pemberian pakan sangat
menentukan efektifitas pakan yang dimakan oleh udang. Dalam satu hari frekuensi
pemberian pakan adalah lima kali dengan pembagian waktu seperti pada tabel 2.
Tabel 2. Waktu Pemberian Pakan Dan Dosis Pakan
Waktu
07.00
12.00
16.00
21.00
02.00
Total
Sumber : Rahayu (2010)

Dosis (%)
20
22.5
22.5
20.
15
100

11

b. Frekuensi Pemberian Pakan


Frekuensi pemberian pakan dapat dilakukan sebanyak 4-8 kali/hari, di mana
jumlah pakan pada malam hari sebaiknya lebih banyak mengingat udang adalah
binatang malam (nocturnal atau aktif pada malam hari) (Amri dan Kanna, 2008).
Frekuensi pemberian pakan dapat diperkirakan dengan memperhitungkan
sifat tersebut untuk mendapatkan nilai Feed Convertion Ratio (FCR) atau nilai
konversi yang ideal. FCR merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang
diberikan dengan berat rata-rata udang yang dihasilkan semakin kecil nilai FCR
maka semakin besar keuntungan yang akan diperoleh. Pakan yang diperoleh secara
normal akan diproses oleh udang selama 3-4 jam setelah pakan tersebut
dikonsumsi, kemudian sisanya dikeluarkan sebagai kotoran. Dengan pertimbangan
waktu biologis tersebut, pemberian pakan yang dapat dilakukan pada interval
tertentu (Haliman dan Adijaya, 2005).
c. Jenis dan Ukuran Pakan
Menurut Rahayu (2010), mengatakan bahwa setiap stadia atau umur
pemeliharaan udang, pakan yang diberikan mempunyai ukuran yang berbeda.
Tujuannya adalah agar pakan yang dapat dimakan oleh udang dengan efektif.
Sedangkan menurut Amri dan Kanna (2008), mengatakan bahwa jenis dan
ukuran pakan disesuaikan dengan ukuran udang yang diberi pakan itu sendiri.
Ukuran udang yang umum digunakan untuk menentukan jenis dan ukuran pakan
adalah berat rata-rata atau sering disebut Average Body Weight (ABW).
Berdasarkan penggunaannya, jenis pakan dibagi menjadi 4 (empat) macam
yaitu PL Feed, Starter, Grower, dan Finisher. Sedangkan berdasarkan ukuran
diameternya, pakan buatan dibagi menjadi 4 (empat) bentuk yaitu fine crumble,
coarse, crumble, dan pellet (Amri dan Kanna, 2008).
Tabel 3. Jenis Pakan Berdasarkan ABW Udang
Nomor

Jenis

Bentuk

Ukuran

Pakan

Pakan

Pakan

(mm)

PL Feed

Fine Crumble 0.6-1.0

1+2

Starter

Coarse

1.0-2.0

1.1-2.5

Grower

Crumble

2.0-2.2

2.6-5.0

12

Pakan ABW
(gram/ekor)
PL10-1.0

Lanjutan tabel 3
2+3

Grower

Crumble

2.0-2.2

Finisher

Pellet

P 1.2-3.0

5.1-8.0

1.2-3.0
3

Finisher

P 1.2-3.0

Pellet

8.1-14.0

2.0-2.2
3+4

Finisher

P 2.2-5.0

Pellet

14.1-18.0

2.2 2.4
4

Finisher

P 4.0-8.0

Pellet

>18.1

Sumber : Amri dan Kanna, 2008


d. Dosis Pakan
Menurut Rahayu (2010), acuan pemberian pakan udang adalah memberikan
pakan sesuai kebutuhan nutrisi udang dan jumlah yang dibutuhkan. Secara garis
besar, teknik penentuan dosis pakan yang diberikan dibagi menjadi dua metode
antara lain sebagai berikut:
1. Blind Feeding
Metode blind feeding maksudnya menentukan dosis pakan udang dengan
memperkirakan dosis tanpa melakukan sampling berat udang. Penentuan pakan
yang dibutuhkan selama 1 bulan diperoleh dengan menghitung 5-9 % dari total
pakan selama proses pemeliharaan, kemudian hasilnya menjadi acuan total pakan
selama 1 bulan (Rahayu, 2010). Untuk contoh Blind Feeding dapat dilihat pada
lampiran .
2. Sampling
Sampling untuk mengetahui biomassa udang dapat dilakukan ketika udang
telah berumur 30 hari dengan frekuensi 7 hari sekali (Rahayu, 2010). Sedangkan
menurut Haliman dan Adijaya (2005) sampling dilakukan setelah udang mencapai
umur 2 bulan.
Menurut Rahayu (2010), Alat yang disarankan untuk sampling adalah jala
tebar dengan ukuran mess size disesuaikan dengan besar udang. Langkah-langkah
sampling jala:
1. Sampling dilakukan pada pagi atau sore hari.
2. Sampling dilakukan sebelum jam pemberian pakan, agar sebaran udang merata.
3. Peralatan sampling yang digunakan harus disterilkan terlebih dahulu.
13

4. Selama sampling kincir dimatikan agar sebaran udang ditambak lebih merata.
5. Udang yang telah disampling tidak dikembalikan ke tambak.
6. Jika akan melakukan sampling di tambak lain, peralatan sampling terlebih dahulu
disterilkan, untuk mengantisipasi masuknya pathogen.
Biomassa adalah jumlah berat dan populasi udang pada petakan
pemeliharaan. Prosentase pemberian pakan harian (Feeding Rate = FR) ditentukan
berdasarkan nafsu makan dan biomassa udang. Semakin berat udang bertambah
atau biomass bertambah maka nilai FR akan semakin berkurang (Farchan, 2006)
Menurut Farchan (2006), perhitungan hasil sampling diuraikan sebagai
berikut:
Berat rata-rata per individu = Total berat(gr)

satuan : gram

Jumlah individu
Biomassa = populasi x berat individu (gram)

SR =

populasi

satuan : gram

x 100% satuan : %

Jumlah tebar
ADG =

ABW2 ABW1
7 (hari)

ABW =

Jumlah udang yang terjala


berat udang

Keterangan:
ADG (Average Daily Growth)

= Pertumbuhan harian rata-rata

ABW2 (Average Body Weight 2)

= berat sampling ke-2 atau berikutnya


(kg)

ABW1 (Average Body Weight 1)

= berat sampling ke-1 atau sebelumnya


(kg)

= Periode sampling ke 1 dan ke 2 (hari)


14

e. Penyimpanan Pakan
Pakan buatan (artificial food) udang mengandung bahan yang mempunyai
protein tinggi, lemak, karbohidrat dan berasal dari bahan yang mudah mengalami
penguraian (dekomposisi), sehingga memerlukan perawatan dan penyimpanan
yang memadai (Farchan, 2006).
Prinsip dasar penyimpanan pakan adalah mampu mempertahankan kualitas
pakan selama proses budidaya berlangsung. Tumpukan maksimal 6 tumpukan dan
dasar di beri alas. Pengambilan pakan menggunakan istilah FIFO first in first out
(Rahayu, 2010).
Amri dan Kanna (2008), juga menambahkan bahwa ventilasi udara harus
cukup agar suhu di dalam kantong pembungkus pakan tetap terjaga dan gudang
pakan dalam keadaan bersih.
2.4.4. Pengelolaan Air
A. Kuantitas Air
Kuantitas air ini adalah jumlah air yang digunakan untuk pemeliharaan
udang didalam tambak. Jumlah air yang didalam tambak harus diperhatikan agar
udang dapat hidup sesuai dengan kondisi yang mendukung,
1. Tinggi air
Salah satu ciri khas udang vaname adalah cenderung hidup berada di badan
air, sehingga badan air harus dipelihara dengan baik. Kedalaman tambak budidaya
intensif 100 -130 cm, namun beberapa tempat menggunakan petakan tambak
dengan kedalaman sekitar 60 cm, seperti teknologi yang diterapkan dipertambakan
BAPPL STP Karangantu, Serang. Aliran air dibuat berputar terus tanpa adanya
titik mati (dead point), bagian pojok pematang dibuat sedikit melengkung yang
membuat aliran bebas, sehingga seolah olah udang berada di laut yang bebas.
Sehingga penempatan kincir air diatur agar terjadi aliran yang berputar (Farchan,
2006). Hal ini menjadi perhatian penting dalam penempatan kincir yang benar agar
tidak adanya titik mati perputaran air ditambak.
2. Pergantian air
Pergantian air dilakukan sesuai dengan teknologi yang diterapkan. Sumber
air untuk pergantian air harus berasal dari air tandon yang telah siap pakai dan
steril atau dari sumur bor, setiap air yang masuk kedalam petakan selalu
15

menggunakan saringan air dengan ukuran sekitar 200 mikron. Air dalam tandon
distelisasi dengan divon 1 ppm atau kaporit 20 -30 ppm. Pada pemeliharaan sistem
tertutup (closed system), pergantian hanya mengganti air yang hilang karena
penguapan dan bocoran. Namun ada juga tambak yang melakukan pergantian air
sekitar 10 20 %. Tujuan penambahan volume air akibat rembesan dan evaporasi
(penguapan) sedangkan pada umur lebih kelimpahan plankton yang berlebihan
(terlalu pekat), kelimpahan populasi bakteri yang merugikan, memperbaiki kondisi
parameter khususnya bahan organik yang terlalu pekat dan memperkecil gas - gas
beracun (Farchan, 2006).
B. Kualitas Air
Bagi biota perairan, misalnya ikan, udang, kerang dan lain lain, berfungsi
sebagai media, baik sebagai media internal maupun eksternal. Sebagai media
internal, air berfungsi sebagai bahan baku reaksi didalam tubuh, pengangkut bahan
makanan ke seluruh tubuh, pengangkut sisa metabolisme untuk dikeluarkan dari
dalam tubuh, dan sebagai pengatur atau penyangga suhu tubuh. Sementara sebagai
media eksternal air berfungsi sebagai habitatnya. Oleh karena peran air bagi
kehidupan biota perairan sangat penting atau esensial maka dalam budidaya
perairan / perikanan, kuantitas (jumlah) dan kualitasnya (mutunya) harus dijaga
sesuai dengan kebutuhan organisme yang dibudidayakan. Untuk tumbuh optimal,
biota budidaya membutuhkan lingkungan hidup yang optimal pula. Kualitas air dan
pengaruhnya terhadap biota budidaya sangat penting diketahui oleh pembudidaya.
Kualitas air dapat diketahui dari beberapa parameternya (Kordi dan Tancung,
2007).
1. Suhu
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian
dari permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan
aliran serta kedalaman badan badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap
proses fisika, kimia, dan biologi badan air. Suhu juga sangat berperan
mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran
suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya. Misalnya,
algae dari filum Chlorophyta dan diatome akan tumbuh dengan baik pada kisaran
16

suhu berturutturut 30 C 35 C dan 20 C - 30 C. Filum Cyanopyta lebih dapat


bertoleransi terhadap kisaran suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan
Chlorophyta dan diatom (Haslam, 1995). Peningkatan suhu juga menyebabkan
penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya
(Haslam, 1995 dalam Effendi, 2003).
Suhu berpengaruh terhadap proses metabolisme dalam tubuh udang.
Semakin tinggi suhu maka semakin cepat proses metabolisme terjadi. Namun
kisaran yang baik untuk pertumbuhan adalah 28 30 C. Pada suhu dibawah 15 C
nafsu makan sudah sangat menurun dan diatas 32 C udang terlihat gelisah. Salah
satu alat pengukurannya adalah dengan menggantung thermometer. Teknik
pengukurannya adalah dengan menggantung termometer menggunakan benang
atau tali di dalam air dan dibiarkan 3 menit kemudian dibaca garis batas (Farchan,
2006).
Pergantian atau pencampuran air merupakan cara yang dapat dilakukan
untuk mengurangi pengaruh tinggi. Suhu air tambak cenderung lebih tinggi dari
suhu air laut akibat perbedaan volume. Pergantian air yang diupayakan untuk
pengenceran metabolit sekaligus dapat mengatasi pengaruh suhu tinggi. Suhu yang
tinggi dapat mengakibatkan metabolisme udang meningkat, udang menjadi stress.
2. Salinitas
Salinitas adalah kosentrasi total ion yang terdapat di perairan (Boyd, 1988).
Salinitas menggambarkan padatan total dalam air, setelah semua karbonat
dikonversi menjadi oksida, semua oksida, semua bromida dan iodida digantikan
oleh klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Salinitas dinyatakan dalam
satuan g/kg atau promil.
Pengertian kadar garam diantaranya adalah jumlah garam yang terlarut
dalam 1 kg air laut. Beberapa tempat di pertambakan Teluk Banten pada saat
musim kemarau bulan September dapat mencapai 58 ppt. Budidaya udang vaname
di tambak yang hanya mengandalkan air laut mempunyai fluktasi salinitas cepat.
Untuk itu, perlu adanya tandon air tawar atau sumur tawar yang dapat
digunakan untuk menurunkan salinitas. Pertumbuhan udang vaname ideal pada
salinitas 15 30 ppt. Walaupun pernah dicoba dipelihara pada tambak yang
mempunyai salinitas 50 ppt udang ini, masih hidup, namun dapat menyebabkan
17

udang lemah, sulit ganti kulit (moulting) dan mudah terserang penyakit (Farchan,
2006). Salinitas air tambak pemeliharaan udang dilakukan penurunan secara
bertahap setiap minggu sesuai kisaran pertumbuhan dan kelangsungan hidup
udang.
3. Kecerahan
Kecerahan air dalam tambak dapat disebabkan oleh bahan organik, lumpur,
dan plankton. Tambak udang intensif atau semi intensif umur pemeliharaan lebih
dari 70 hari akan berwarna lebih keruh dan biasanya banyak disebabkan oleh
plankton. Kepadatan plankton ini berpengaruh langsung terhadap kualitas seperti
DO, pH, CO2,. Plankton yang padat menyebabkan proses respirasi pada malam hari
yang memerlukan O2 yang besar, sehingga merupakan pesaing bagi komoditas
yang dipelihara (Farchan, 2006). Plankton yang terlalu padat ditambak tidak baik
untuk budidaya udang dan jika plankton sedikit maka tidak layak juga untuk
budidaya udang.
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan
banyak cahaya yang di terserap dan dipancarkan oleh bahan bahan yang terdapat
di dalam air . Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan anorganik maupun organik
yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus). Maupun bahan
anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain
(APHA,1976; Davis dan Coernwell, 1991 dalam Effendi 2003).
4. Warna
Warna air di setiap petakan tambak bermacam macam, sekalipun
teknologi yang diterapkan dan sumber air yang digunakan sama. Warna disebabkan
oleh partikel fisik tanah yang berupa lumpur atau oleh pertumbuhan plankton,
sehingga jenis warna memberi indikasi komponen, yang terlarut dalam air.
Umumnya warna yang disukai oleh para pembudidaya adalah hijau kecoklatan atau
jenis Chlorophyta dan Diatomae tumbuh seimbang. Namun demikian, warna air
dalam tambak dapat cepat berubah, yang penting jangan sampai plankton yang
tumbuh mati masal (drop). Setelah plankton mencapai puncak pertumbuhannya
atau blooming, kalau tidak segera ditangani dapat terjadi kematian masal, untuk itu
manajemen air dan pemupukan memegang peranan penting.
18

Warna air diamati karena ada hubungannya dengan kualitas air (kesuburan
lahan tambak, meningkatkan jumlah oksigen terlarut, keseimbangan suhu) dan
menghindari kanibalisme biota budidaya, misalnya udang. Adanya warna air
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain hadirnya beberapa faktor, antara lain
hadirnya beberapa jenis plankton baik fitoplankton maupun zooplankton, larutan
tersuspensi, dekomposisi, bahan organik, mineral maupun bahan bahan lain yang
telarut dalam air. Ada beberapa warna yang air yang sering ditemukan pada tambak
dan kolam, yaitu hijau kecoklatan, coklat kemerahan dan keruh. Warna air tambak
yang diinginkan adalah hijau muda samapai coklat muda. Biar coklat kehitaman
biasanya sudah tercemar oleh pakan yang membusukan pastikan kandungan
amonianya tinggi.
5. Derajat keasaman (pH) air
Derajat keasaman singkatan dari Puissure Hidrogen (pH). Nilai pH air
dipengaruhi oleh pH tanah dan kandungan berbagai bahan yang terkandung dalam
air seperti kadar sulfat, nitrat, nilai pH air yang baik untuk udang adalah 7,5 8,5,
namun tidak boleh berfluktuasi cukup tajam. Fluktuasi harian biasanya terjadi pada
pagi hari dan pada sore hari. Fluktiasi harian harus tetap dijaga agar tidak melebihi
0,5 karena fluktasi derajat keasaman yang melebihi 0,5 menyebabkan udang stress
dan bahkan tidak nafsu makan (Farchan, 2006).
Mackereth et al. (1989) berpendapat bahwa pH juga berkaitan erat dengan
karbondioksida dan akalinitas.pada pH < 5, alkalinitas dapat mencapai nol.
Semakin tinggi nilai pH, semaki tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah
kadar karbondioksida bebas. Larutan yang bersifat asam (pH rendah) bersifat
korosif. pH juga mempengerahui toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa
amonium yang dapat terionisasi banyak dapat ditemukan pada perairan yang
memiliki pH rendah. Amonium bersifat tidak toksik (inocuous) , namum , pada
suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak ditemukan amonia yang tak terionisasi dan
bersifat toksik. Amonia tak terionisasi ini lebih mudah terserap kedalam tubuh
organisme akuatik dibandingkan dengan amonium (Tebbut, 1992 dalam Effendi,
2003). pH rendah yang bersifat asam akan membuat udang stress dan rentan
terkena penyakit dan pH yang tinggi juga dapat membuat udang tidak tumbuh
dengan optimal.
19

6. Oksigen terlarut (DO)


Jumlah kandungan oksigen (O2) yang terkandung dalam air disebut oksigen
terlarut. Satuan kadar oksigen terlarut adalah ppm. DO yang baik untuk
pertumbuhan udang adalah 4 -8 ppm. Kekurangan DO menjadikan udang
mengambang diatas permukaan air dan dapat menyebabkan kematian. Kosentrasi
oksigen dalam air ditentukan oleh: difusi udara, fotosintesa dan proses penguraian
dalam tambak (Farchan, 2006).
Kadar oksigen yang terlarut diperairan alami bervariasi, tergantung pada
suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan
ketinggian serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen, kadar oksigen
terlarut semakin kecil (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi, 2003).
Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan
musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence)
massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah (effuent) yang masuk ke
badan air.
Peningkatan suhu terbesar 1 C akan meningkatkan konsumsi oksigen
sekitar 10% (Brown,1987 dalam Effendi, 2003). Dekomposisi bahan organik dan
oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga
mencapai nol (anaerob).
7. Karbondioksida
Karbondioksida (CO2) merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuh
tumbuhan air renik maupun tingkat tinggi untuk melakukan fotosintesis. Meskipun
peranan karbondioksida ditentukan sangat besar bagi kehidupan organisme air,
namun kandungannya yang berlebihan sangat mengganggu, bahkan menjadi racun
secara langsung bagi biota budidaya ditambak dan kolam.
Tumbuhan akuatik, misalnya algae, lebih menyukai karbondioksida sebagai
sumber karbon dibandingkan dengan bikarbonat dan karbonat. Bikarbonat
sebenarnya dapat berperan sebagai sumber karbon. Namun, didalam kloropas
bikarbonat harus dikonversi terlebih dahulu menjadi karbondioksida dengan
bantuan enzim karbonik anhidrase (Boney,1989 dalam Effendi, 2003).
Kadar karbondioksida di perairan dapat mengalami pengurangan, bahkan
hilang, akibat proses fotosintesis,evaporasi, dan agitasi air. Perairan yang
20

diperuntukan

bagi

kepentingan

perikanan

sebaiknya

mengandung

kadar

karbondioksida bebas < 5 mg/liter kadar karbondioksida bebas sebesar 10 mg /liter


masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik, asal disertai dengan keadaan oksigen
yang cukup. Sebagian besar organisme akuatik masih dapat bertahan hidup hingga
kadar karbondioksida bebas mencapai sebesar 60 mg/liter (Boyd, 1989 dalam
Effendi, 2003).
8. Ammonia
Salah satu hasil dekomposisi bahan organik adalah amonia. Di air, amonia
nitrogen mempunyai dua bentuk yaitu ammonia (NH3) bukan ion amunium (NH4)
yang merupakan ion. NH3 racun bagi ikan dan udang dan NH4 tidak berbahaya
kecuali dalam kosentrasi tinggi. Kadar ammonium yang dianggap berbahaya bagi
pertumbuhan udang adalah lebih besar 2 ppm. Daya racun NH3 meningkat pada
kosentrasi oksigen yang rendah untuk dapat mengurangi kadar H2S dan NH3 ini
adalah dengan menggunakan bakteri pengurai yang merupakan komponen proses
nitrifikasi. Pengurai yang merupakan komponen proses nitrifikasi (Farchan, 2006).
Di dalam air ammonia terdapat dalam 2 bentuk yaitu NH3 atau biasa disebut
ionized ammonia (UAI) yang beracun. Semakin tinggi pH air tambak, daya racun
ammonia semakin meningkat, sebab sebagian besar berada dalam bentuk NH3,
sedangkan dalam bentuk molekul NH3, sedangkan bentuk molekul NH3 lebih
beracun dari pada yang berbentuk ion NH3. ammonia dalam bentuk molekul dapat
menembus bagian membrane sel lebih cepat dari pada ion NH3 (Colt dan
Amstrong, 1981 dalam Kordi dan Tancung, 2007). Tingkat ammonia dapat
diturunkan dengan mempercepat bakteri nitrifikasi dengan menambahkan bakteri
nitrifikasi (Komarawigdjaja, 2010).
9. Alkalinitas
Alkalinitas merupakan penyangga (buffer) perubahan pH air dan indikasi
kesuburan yang diukur dengan kandungan karbonat, menetralkan tambahan asam
tanpa penurunan nilai pH larutan. Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk
menetralkan asam dikenal dengan sebuta acid-neutralizing capacity (ANC) atau
kuantitas anion didalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas
juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan
21

pH perairan. Kation pertama yang mendominasi perairan tawar adalah kalsium dan
magnesium, sedangkan pada perairan laut adalah sodium dan magnesium Anion
utama pada perairan tawar adalah bikarbonat dan karbonat sedangkan perairan laut
adalah klorida (Barnes,1989 dalam Effendi, 2003).
Alkalinitas dihasilkan dari karbondioksida dan air yang dapat melarutkan
sedimen batuan karbonat menjadi bikarbonat. Kalsium karbonat merupakan
senyawa yang memberi konstribusi terbesar terhadap nilai alkalinitas dan
kesadahan air tawar. Tingginya kadar bikarbonat diperairan disebabkan oleh
ionisasi asam karbonat, terutama pada perairan yang banyak mengandung
karbondioksida (kadar CO2) mengalami saturasi/jenuh.
10. Nitrit
Di perairan alami, nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang
sangat sedikit dari pada nitrat, karena bersifat tidak stabil dengan keberadaan
oksigen. Nitrit merupakan bentuk peralihan (intermediate) antara amonia dan nitrat
(nitrifikasi), dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Denitrifikasi
berlangsung pada kondisi anaerob (Novontny dan Olem, 1994). Kadar nitrit yang
lebih dari 0,05 mg/liter dapat bersifat toksin bagi organisme perairan yang sangat
sensitif (Moore,1991 dalam Effendi, 2003).
11. Nitrat
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan
merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat dan nitrogen
sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses
oksidasi sempurna senyawa nitrogen diperairan. Nitrifikasi yang merupakan proses
oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat adalah proses yang penting dalam siklus
nitrogen dan berlangsung pada kondisi aerob. Nitrat dan amonium adalah sumber
utama nitrogen di perairan. Namun, amonium lebih disukai oleh tumbuhan. Kadar
nitrat diperairan yang tidak tercemar biasanya lebih tinggi dari pada kadar
amonium. Kadar nitrat nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih
dari 0,1 mg/liter. Kadar nitrat lebih dari 5 mg/liter menggambarkan terjadinya
pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia. Kadar nitrat
nitrogen yang lebih dari 0,2 mg/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi
22

(pengayaan) perairan, yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan


tumbuhan air secara pesat (blooming). Kadar nitrat dalam air tanah dapat mencapai
100 mg/liter. Air hujan memiliki kadar nitrat sekitar 0,2 mg/liter. Pada perairan
yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung
pupuk, kadar nitrat dapat mencapai 1.000 mg/liter.
Tabel 4. Parameter kualitas air tambak (Haliman dan Adijaya, 2005).
Parameter

Metode atau Alat Uji Waktu Uji

Angka Referensi

1.Suhu

Termometer

26-30C

2.pH

pH meter,kertas lakmus Pagi dan sore hari

7,5-8,5

3.Salinitas

Refraktometer

Pagi dan sore hari

15-30 ppt

4.Oksigen
terlarut

DO meter

02.00-05.00

> 3 ppm

5.Kecerahan

Seicchi disk

Siang atau sore

<30 ppm

Kimia
1.Nitrit

Test kit

2.Fosfat

Test kit

Siang atau sore, 2-3 <0,1 ppm


hari sekali
Siang atau sore, 2 1-3 ppm
seminggu sekali

3.Alkalinitas

Titrasi asam basa

Siang atau sore

>150 ppm

4.Besi (Fe)

Test kit

2-3 hari sekali

< 1 ppm

5.H2S

Spektrofotometer

Berkala
sekali

Fisik
Pagi dan sore hari

seminggu <7 ppm

Biologi
Jumlah vibrio Hitungan cawan
pathogen

2-3 hari sekali

<1.000 cfu/ml

Monitoring kelimpahan bakteri Vibrio sp. pada air pembesaran udang


vaname perlu dilakukan secara berkala untuk mendeteksi secara dini serangan
penyakit Vibriosis (Kharisma dan Manan, 2012). Sedangkan menurut Rahayu
23

(2010), pengelolaan air media meliputi aplikasi probiotik, pergantian air,


pemberian kapur, dan pembuangan plankton mati.
a. Aplikasi probiotik
Probiotik adalah mikroorganisme yang dikembangbiakkan dan diaplikasikan
melalui pakan maupun lingkungan yang bertujuan memperkuat daya tahan tubuh
udang dan atau perbaikan kualitas lingkungan. Probiotik bersifat non patogenik dan
dikembangkan secara masal pada media kultur sesuai dengan tujuanya (Farchan,
2006). Dengan adanya aplikasi probiotik, dapat menurunkan nilai parameter kunci
seperti nitrat (NO3), nitrit (NO2), sulfat (SO4), sulfida (H2S), ammonia (NH3),
dan phospat (PO4) secara signifikan (Purwanta dan Firdayati, 2002).
Menurut Amri dan Kanna (2008), jenis probiotik yang sangat dibutuhkan
dalam budidaya udang vaname yaitu;
1. Jenis bakteri yang dapat merangsang dan menstabilkan plankton serta menekan
populasi bakteri yang merugikan, merombak bahan organik menjadi bahan
anorganik yang hidup di seluruh kolam air (misalnya kombinasi bakteri B.
substilis, B.polymyxa, B.megaterium, dan B.laterosporus).
2. Jenis bakteri yang dapat mengendalikan plankton, hidup di daerah lumpur
(misalnya B. lichenifomis dan bakteri fotosintetik).
3. Jenis bakteri yang dapat menyerap racun (misalnya bakteri fotosintetik,
Nitrosomonas, Nitrobacter).
4. Jenis bakteri yang dapat meningkatkan kekebalan pada udang (misalnya B.
substils)
Probiotik hasil fermentasi juga dapat diaplikasikan.Probiotik dapat
meningkatkan kelangsungan hidup udang dan dapat menambah jumlah produksi
udang ditambak, hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Suwoyo dan
Mangampa (2010) bahwa probiotik hasil fermentasi pada media pemeliharaan
berpengaruh nyata pada sintasan dan produksi udang, namun berpengaruh tidak
nyata pada pertumbuhan udang vaname. Sedangkan probiotik dengan pengkayaan
sumber karbohidrat dengan dedak, sagu, ataupun tapioca tidak memberikan
pengaruh nyata terhadap kelimpahan dan jumlah jenis plankton (Amin dan
Mansyur, 2010). Probiotik dapat menyeimbangkan kualitas air di tambak udang

24

karena kinerja probiotik dalam proses nitrifikasi berjalan dengan baik tidak terjadi
masalah yang membuat parameter kualitas air cepat berubah-ubah.
b. Pergantian air
Saat udang mencapai umur pemeliharaan 20 hari, biasanya mulai ada
plankton mati dan mengumpul didalam satu pojok tambak. Pada umur 40 hari,
kondisi air tambak telah jenuh akibat banyaknya plankton mati. Jumlah air yang
diganti berkisar antar 5%-20% tergantung tingkat kejenuhan air tambak. Waktu
pergantian dilakukan pada pagi atau sore hati, jika pada saat tersebut ada jadwal
pakan makan pergantian air dilakukan satu jam setelah pemberian pakan, kegiatan
ini untuk menghindari tingkat stress yang tinggi (Rahayu, 2010).
c. Pemberian kapur
Kapur digunakan untuk meningkatkan kapasitas penyangga air dan
menaikkan pH. Beberapa jenis kapur yang biasa digunakan yaitu kapur
pertanian/kaptan (crushed shell, CaCO3), kapur mati (skaled lime, Ca(OH)2), dan
dolomite (dolomite lime, CaMg(CO)3) (Amri dan Kanna, 2008).
Pemberian kapur bisa secara bertahap, yaitu bila pH tanah kurang dari 7,5
atau terjadi fluktuasi lebih dari 0,5 selama 24 jam yang cenderung disebabkan oleh
pengurangan alkalinitas. Secara umum, kapur dolomite bisa diberikan secara rutin
hingga 2 kali seminggu pada masa awal pemeliharaan (umur tebar sekitar PL 10PL 15) untuk menstabilkan pH air dan memacu pertumbuhan plankton (Haliman
dan Adijaya, 2005).
d. Pembuangan plankton mati
Pada saat umur udang 30 hari merupakan puncak ditemukan adanya
plankton mati, disebabkan pertumbuhan plankton yang terus membaik karena
ketersediaan unsur hara dari pakan sekaligus menjadi pupuk bagi plankton.
Plankton yang mati dalam jumlah banyak harus dibuang keluar dari tambak karena
menyebabkan kualitas

air tambak menurun.

Solusinya dapat

dilakukan

pengenceran air tambak dengan menembahkan air tawar setiap tiga hari sekali,
jumlahnya disesuaikan dengan kondisi air tambak, hingga 40 hari. Kemudian,
setelah 40 hari dapat dilakukan pergantian air setiap 7 hari sekali (Rahayu, 2010).
Pengelolaan air juga dapat dilakukan dengan penambahan sumber C-karbohidrat
25

(molase) sebagai upaya penumbuhan bioflok pada budidaya udang vaname di


tambak, terutama efeknya pada pertumbuhan, sintasan, dan produksi udang.
Pemberian molase untuk meningkatkan C/N ratio menjadi >10:1 tersebut mampu
meningkatkan sintasan dan produksi udang serta menurunkan nilai konversi pakan
(Gunarto, dkk., 2012). Hal ini serupa dengan pendapat Pantjara dan Rachmansyah
(2010), penambahan molase dapat berpengaruh pada peningkatan sintasan, ratarata bobot dan menurunkan jumlah pakan. karena molase dapat membentuk flok
yang dapat memperbaiki kualitas air tambak.
2.4.5. Monitoring Pertumbuhan
Menurut Farchan (2006), monitoring pertumbuhan adalah pengamatan
terhadap udang untuk mengetahui pertumbuhannya dalam petakan tambak secara
individu, populasi dan biomass yang dilakukan secara periodik. Pengamatan
perumbuhan dilakukan dengan pengambilan contoh (sample) dan pemeriksaan
udang di ancho (feeding try) atau dilakukan penjalaan (jala tebar).
Kontrol ancho dilakukan setiap hari pada waktu akan memberikan pakan
dan setelah pemberian pakan,tujuan dilakukannya kontrol di ancho untuk
mengetahui kondisi kesehatan udang, nafsu makan udang yang dipelihara, sehingga
jika ditemukan kondisi yang tidak normal dapat sedini mungkin dilakukan
pencegahan (Rahayu, 2010).
Tanda-tanda nafsu makan turun diamati dengan cara mengangkat tubuh
udang sejajar dengan mata pengamat dan dilihat adanya makanan dalam usus
udang atau tidak. Apabila setelah 1 jam diberi pakan tidak ada pakan dalam usus,
maka nafsu makan dikatakan turun (Farchan, 2006)
2.4.6. Monitoring Kesehatan
Menurut Farchan (2006), pemantauan pertumbuhan udang bertujuan untuk
mengetahui perkembangan dan kesehatan udang dengan melakukan pengamatan
morfologi secara visual. Sekecil apapun adanya perubahan organ tubuh seperti kaki
ada yang patah, ekor gripis, antena patah, penyimpangan warna atau adanya warna
yang tak lazim, adanya titik-titik warna lain, harus segera dilakukan antisipasi.
Pengamatan visual udang di ancho dan udang sehat dicirikan sebagai berikut:
1. Gerakan aktif mengelilingi tambak, dan meloncat bila anco diangkat
26

2. Respon positif terhadap arus, cahaya, bayangnan dan sentuhan.


3. Tubuh berwarna putih cerah atau mengkilap dan titik-titik hitam yang jelas.
4. Tubuh bersih dan tidak ada kotoran atau lumut menempel.
5. Tubuh tidak lembek dan keropos.
6. Anggota tubuh tidak ada yang cacat.
7. Ujung ekor, kaki renang, kai jalan tidak gripis,tidak bengkok,ekor membuka dan
lebar seperti kapas.
8. Insang jernih serta bersih dan terdapat seperti gerakan aliran air.
9. Kondisi isi usus penuh dibawah sinar, tidak terputus-putus.
2.5. Pengendalian Hama dan Penyakit
2.5.1. Hama
Hama secara harfiah adalah biota yang mengganggu biota lain sehingga
mengurangi produktivitasnya dan dapat dilihat dengan mata tanpa menggunakan
alat bantu (Farchan, 2006). Hama dapat mengganggu pemeliharaan udang karena
akan terjadi persaingan oksigen dan ruang gerak didalam tambak sehingga dapat
mengurangi jumlah produksi udang.
Menurut Amri dan Kanna (2008), berdasarkan sifatnya, hama dapat
dikategorikan menjadi 3 golongan, yaitu : 1) Hama pemangsa atau predator; 2)
Hama penyaing atau kompetitor; 3) Hama penggangu atau perusak.
1. Pemangsa (predator)
Menurut Amri dan Kanna (2008) yang termasuk predator antara lain ikan
(kakap, payus, kuro, kerong-kerong, dan keting), ketam (kepiting bakau, ketam
bulu), ular dan belut (ular kadut, belut), burung ( blekok, cangak, pecuk gagakan,
dan pecuk ulo), serta manusia (pencuri).
2. Penyaing (competitor)
Menurut Farchan (2006), hama penyaing adalah hama yang menyaingi
dalam kehidupan dan pertumbuhan udang sehingga menyebabkan udang
terganggu. Jenis biota penyaing yang sering ditemukan di tambak antara lain:
a. Udang-udangan : Mesopodopsis (jambret), Metapenaus monoceros (udang apiapi), Penaeus merguiensis (udang putih), Penaeus indicus (udang jaring).
b. Moluska : trisipan
27

c. Ikan : Tilapia mossambica (Mujair), Tilapia nilotica (Nila), dan ikan liar.
3. Perusak
Hama perusak antara lain kepiting (Scylla serrata), ikan sidat, ikan sero,
biawak. Hama-hama tersebut bersifat merusak pematang atau pintu air petakan
(Farchan, 2006).
Menurut Rahayu (2010), salah satu pengendalian hama adalah penerapan
biosecurity dengan pemasangan skrin/ pagar waring/ pagar plastik di tepi pematang
untuk menghalangi masuknya hama serta memasang BSD (Bird Screaning Device)
untuk mengusir burung.
2.5.2. Penyakit
Menurut Farchan (20060) penyakit pada udang dapat disebabkan oleh
berbagai microorganisme seperti virus, bakteri dan parasit.
a. Parasit
Apabila kualitas air yang kurang baik, terutama pada kondisi kandungan
bahan organik yang tinggi, parasit mudah menyerang udang vaname. Parasit bisa
menempel pada permukaan tubuh udangdan dapat terlepas dari tubuh udang
vaname bila udang tersebut mengalami ganti kulit (moulting) (Farchan, 2006).
Parasit dapat menyerang udang yang kita pelihara apabila kondisi lingkungan
perairan yang tidak mendukung.
Pencegahan keberadaan parasit pada udang vaname bisa dilakukan denga
pergantian air tambak, pemakaian probiotik, dan pengelolaan pemberian pakan.
Beberapa jenis parasit yang sering menyerang udang vaname yaitu zoothamnium,
vorticela, dan epistyles (Haliman dan Adijaya, 2005).
b. Bakteri dan Jamur
Bakteri dan jamur tumbuh optimal di perairan yang mengandung bahan
organik tinggi (sekitar 50 ppm). Bakteri yang sering menyebabkan infeksi pada
udang vaname yaitu vibrio. Jamur sering dijumpai pada udang sakit. Infeksi jamur
lebih sering menyerang tubuh udang bagian luar, seperti karapas dan insang bagian
dalam, terutama stomatch (Farchan, 2006). Gejala klinis yang bisa dilihat pada
penyakit vibriosis yaitu nafsu makan udang turun dan timbul warna merah pada
tubuh udang. Infeksi bakterial dapat diobati dengan antibiotika. Namun demikian,
28

perlu diperhatikan jenis antibiotika yang akan digunakan karena beberapa jenis
antibiotika, seperti golongan chloromphenicol dan nitrofuran, telah dilarang
penggunaaanya karena bisa meninggalkan residu di dalam tubuhnya (Haliman dan
Adijaya, 2005).
c. Virus
Serangan virus dapat menyebabkan kematian massal udang dalam waktu
singkat pada satu petakan dan bahkan dengan mudah menyebar ke seluruh
hamparan pertambakan. Faktor pemicu munculnya virus adalah perubahan
lingkungan, menurunnya daya tahan tubuh udang dan pembawa (carrier) virus ini
(Farchan, 2006). Menurut Amri dan Kanna (2008), beberapa virus yang perlu
diwaspadai pada budidaya vaname antara lain penyakit TSV (Taura Syndrome
Virus), WSSV (White Spot Syndron Virus), IHHNV (Infectious Hypodermal
HematopoeticVirus), dan IMHV (Infectious Myonecrosis Virus).
2.6. Panen dan Pasca Panen
2.6.1. Panen
Panen merupakan akhir suatu periode budidaya (Haliman dan Adijaya,
2005). Menurut Farchan (2006), teknik panen dapat dilakukan secara selektif
maupun secara total, tergantung dari permintaan pasar. Panen selektif dilakukan
apabila hanya sebagian saja yang dipanen. Sedangkan panen total adalah panen
secara keseluruhan biomass di dalam tambak.
Pemanenan total dilakukan setelah udang mencapai umur lebih kurang 100
hari pemeliharaan di tambak, atau tergantung laju pertumbuhan udang. Apabila
berat rata-rata (ABW) telah mencapai standar permintaan pasar (ukuran 60-80 atau
60-80 eor/kg) maka

panen dapat dilaksanakan walaupun pemeliharaan belum

mencapai 100 hari (Amri dan Kanna, 2008). Menurut Haliman dan Adijaya (2005),
berikut alasan dilakukan pemanenan udang vaname:
1. Udang sudah saatnya dipanen sehingga bila tetap dipertahankan, pertumbuhan
udang tidak optimal lagi, bahkan tidak tumbuh lagi.
2. Udang terserang penyakit dan telah menunjukkan gejala kematian terpaksa
dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
3. Kondisi darurat yang mengharuskan udang dipanen.
29

Beberapa kasus tersebut misalnya disebabkan kincir air tidak mampu menyuplai
oksigen ke tambak karena beban biomassa udang yang besar karena padamnya arus
listrik.
Menurut Rahayu (2010), sebelum melakukan pemanenan perlu dilakukan
perencanaan sebagai berikut :
1. Antisipasi banyaknya udang yang mengalami ganti kulit dengan meminimalkan
perubahan-perubahan yang ekstrem di air tambak.
2. Satu minggu sebelum jadwal panen, dilakukan pengapuran setiap 2 hari sekali,
dengan dosis 5-10 ppm.
3. Panen dimulai pada malam hari, sehingga di pagi hari bisa dilakukan
penimbangan hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas udang.
4. Menyiapkan air bersih, untuk mencuci udang sebelum dimasukkan ke air dingin.
5. Menyiapkan air dingin, untuk menjaga rantai dingi agar kualitas udang tidak
menurun.
Teknik panen yang dilakukan di tambak BUSMETIK dilakukan dengan
cara pemasangan pompa di caren pusat, badan pompa dimasukkan ke dalam drum
yang telah dilubangi, yang berfungsi sebagai saringan agar udang tidak tersedot
pompa, jika memakai pompa 6 inch, kurang lebih membutuhkan waktu 3-4 jam
untuk luasan lahan 1000 m2. Ketika air telah susut, masih tersisa 30 cm, maka bisa
dimulai pemanenan udang menggunakan jaring trawl. Panen menggunakan jaring
trawl lebih efektif dibanding menggunakan jaring tebar. Untuk luasan lahan 1000
m2 dengan padat tebar awal 100.000 ekor lamanya waktu panen kurang lebih 1-1.5
jam. (Rahayu, 2010).
Udang yang sudah tertangkap/dipanen ditampung dalm wadah yang telah
disiapkansebelumnya. Sejalan dengan proses pemanenan, pengurasan air tambak
terus dilakukan sampaitambak menjadi kering. Setelah itu, sisa udang yang masih
ada dalam tambak segera dikumpulkan menggunakan tangan kosong (digogo)
(Amri dan Kanna, 2008).
2.6.2. Pasca Panen
Pasca panen bertujuan utnuk menjamin mutu udang tetap tinggi dengan
mempertimbangkan beberapa faktor, seperti udang tidak membahayakan kesehatan
konsumen karena udang termasuk produk makanan yang mudah sekali rusak
30

(busuk). Oleh karena itu, sejak dari panen hingga pascapanen harus dalam keadaan
dingin (Haliman dan Adijaya, 2005). Hal ini serupa dengan Rahayu (2010) yang
menyatakan bahwa udang hasil panen yang telah dicuci, direndam ke dalam air es
agar kualitas udang tetap terjaga. Suhu air untuk merendam udang antara 5-10 0C.
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), tindakan pasca panen yang perlu
dilakukan adalah :
1. Cuci udang di tempat penampungan udang untuk menghilangkan kotoran atau
lumpur yang menempel pada tubuh udang.
2. Sortir dan kelompokan udang berdasarkan ukuran dan kualitasnya. Kegiatan ini
biasanya juga dilakukan oleh pembeli.
3. Timbang udang yang dilakukan oleh petambak dan pembeli.
4. Masukkan udang yang telah ditimabang secepat mungkin ke dalm wadah
(countainer). Penataan udang dan es batu dilakukan berselang-seling sehingga
kualitas udang tetap terjaga. Cara pengemasan udang dapat dilakukan dengan
cara berlapis atau cara teraduk.
2.7. Analisa Usaha
Analisa dilakukan untuk mengetahui suatu usaha layak atau tidak untuk
dijalankan hal ini sesuai dengan pernyataan Farchan (2006), analisa usaha
merupakan suatu cara untuk mengetahui tingkat kelayakan dari suatu jenis usaha,
yaitu mengetahui tingkat keuntungan, pengembalian investasi, dan titik impas
usaha.
2.7.1. Biaya tetap
Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah dengan penambahan atau
pengurangan volume produksi. Biaya ini habis dipakai dalam siklus produksi
tertentu.
2.7.2. Biaya tidak tetap
Biaya tidak tetap adalah biaya yang berubah sejalan dengan perubahan
volume produksi. Biaya ini habis dipakai dalam siklus produksi tertentu.
2.7.3. Analisa rugi laba
Bertujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan atau kerugian dari usaha
yang dikelola. Suatu usaha yang menguntungkan akan memiliki nilai penerimaan
lebih besar daripada total pengeluaran.
31

Rumus perhitungan rugi/laba sebagai berikut:


Rugi/laba

= penerimaan - (total biaya tetap + biaya variabel)

Keuntungan bersih = keuntungan kotor - (gaji karyawan 10% + pajak 12%)

2.7.4. Revenue cost ratio (R/C ratio)


Menurut Rahardi dkk, (2001) analisa R/C ratio merupakan alat analisis
untuk melihat keuntungan relatif suatu usaha dalam satu tahun terhadap biaya yang
dipakai dalam kegiatan tersebut. Suatu usaha dikatakan layak apabila R/C ratio
lebih dari 1 (R/C >1). Hal ini menggambarkan semakin tinggi nilai R/C maka
tingkat keuntungan suatu usaha semakin tinggi.
Rumus perhitungan R/C ratio adalah sebagai berikut:
???????? ?

??????????????
? ????????????

2.7.5. Payback Periode

Menurut Mahyuddin (2007) payback periode bertujuan untuk mengetahui


waktu tingkat pengembalian investasi yang telah ditanam pada suatu jenis usaha.
Rumus perhitungan payback periode adalah sebagai berikut:
?? ?

?????????
? ? ????
???? ????? ??????? ? ??????????

2.7.6. Break Even Point (BEP)

Menurut Soedarsono dkk, (2004) BEP merupakan alat analisis untuk


mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik
impas (tidak untung dan tidak rugi). Usaha dinyatakan layak apabila BEP produksi
lebih besar dari jumlah unit yang sedang diproduksi saat ini. Sedangkan BEP harga
harus lebih rendah daripada harga yang berlaku saat ini.
Rumus perhitungan BEP unit dan BEP harga:
??? ???????
??? ???????

????? ?????

????? ????????

???? ?????? ????????

????? ?????

????? ????????? ????


32

????? ????????????????

??? ??? ????? ???? ?????????? ????

2.7.7. Return Of Invesment (ROI)


Menurut Widodo dan Akmal (2005) ROI atau disebut juga dengan
pengembalian investasi yaitu membandingkan hasil usaha yang diperoleh dari
operasi perusahaan atau nilai keuntungan yang diperoleh dari sejumlah modal.
nilai dapat digunakan untuk mengetahui efesiensi penggunaan modal.
Rumus perhitungan ROI adalah sebagai berikut:
????

???? ????
? ????
? ???????? ???????????

33