Anda di halaman 1dari 29

MANAJEMEN KUALITAS AIR KULTUR Tertaselmis chuii UNTUK PAKAN

BENUR UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) DI BALAI PERIKANAN


BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) SITUBONDO

USULAN PRAKTEK KERJA MAGANG


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Oleh :
BELA SURYA KURNIASARI
NIM. 13080101111100

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

MANAJEMEN KUALITAS AIR KULTUR Tertaselmis chuii UNTUK PAKAN


BENUR UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) DI BALAI PERIKANAN
BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) SITUBONDO

PRAKTEK KERJA MAGANG


PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Perikanan


di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya

Oleh:

BELA SURYA KURNIASARI


NIM. 13080101111100

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

USULAN PRAKTEK KERJA MAGANG

MANAJEMEN KUALITAS AIR KULTUR Tertaselmis chuii UNTUK PAKAN


BENUR UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) DI BALAI PERIKANAN
BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) SITUBONDO

Oleh :
BELA SURYA KURNIASARI
NIM. 13080101111100

Mengetahui,
Ketua Jurusan

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Arning Wilujeng Ekawati, MS


NIP.19620805 198603 2 001

(Dr.Ir. Muhammad Musa ,MS.)


NIP. 19570507 198602 1 002

Tanggal : 27 Mei 2016

Tanggal : 27 Mei 2016

ii

KATA PENGANTAR
Segala puji kehadiran Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan
karunia-Nya serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad
SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal Usulan Praktek Kerja
Magang berjudul Manajemen Kualitas Air Kultur Tetraselmis chuii untuk
Pakan Benur Udang Vanname (Litopenaeus vannamei) di Balai Perikanan
Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo sebagai salah satu syarat untuk
meraih gelar sarjana perikanan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Brawijaya.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu proses penyusunan proposal Usulan Praktek Kerja Magang ini.
Penulis menyadari bahwa proposal Usulan Praktek Kerja Magang ini terdapat
kekurangan dan kesalahan yang disebabkan oleh keterbatasan penulis. Maka
dari itu kritik, saran dan masukan dari semua pihak sangat penulis harapkan
untuk menyempurnakan proposal Usulan Praktek Kerja Magang ini.

Malang, 9 Mei 2016

Penulis

iii

DAFTAR ISI
USULAN PRAKTEK KERJA MAGANG ................ Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR ............................................................................................iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iv
DAFTAR TABEL.......v
DAFTAR LAMPIRAN...vi
1.

PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.2
Maksud dan Tujuan ............................................................................... 3
1.3
Manfaat ................................................................................................. 4
1.4
Waktu dan Tempat ................................................................................ 4
1.5
Jadwal Pelaksanaan .............................................................................. 5

2.

MATERI DAN METODE PRAKTEK KERJA MAGANG ................................. 6


2.1 Materi Praktek Kerja Magang ..................................................................... 6
2.2 Alat dan Bahan........................................................................................... 6
2.2.1 Alat .......................................................................................................... 6
2.2.2 Bahan .................................................................................................. 7
2.3 Metode Praktek Kerja Magang ................................................................... 8
2.3.1 Sumber Data ....................................................................................... 8
2.3.2 Teknik Pengambilan Data .................................................................... 9
2.4 Prosedur Praktek Kerja Magang............................................................... 11
2.4.2 Kultur Intermediate ............................................................................ 12
2.4.3 Kultur Massal ..................................................................................... 13
2.5 Manajemen Kualitas Air............................................................................ 13
2.5.1 Sumber Air ........................................................................................ 13
2.5.2 Sistem Pengairan .............................................................................. 13
2.5.3 Pengelolaan Kualitas Air .................................................................... 14
2.6 Pengukuran Kualitas Air ....................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... viii


LAMPIRAN .......................................................................................................... x

iv

DAFTAR TABEL
Tabel 1.Jadwal Pelaksanaaan Praktek Kerja Magang ......................................... 5
Tabel 2. Alat-alat yang digunakan........................................................................ 6
Tabel 3.Alat-alat yang digunakan pada pengukuran kualitas air dan kelimpahan
sel selama kultur mikroalga. ................................................................................ 7
Tabel 4. Bahan-bahan yang digunakan pada kultur mikroalga. ............................ 7
Tabel 5.Bahan-bahan yang digunakan pada pengukuran kualitas air dan
kelimpahan sel selama kultur mikroalga .............................................................. 8

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.Denah lokasi Praktek Kerja Magang ................................................ ix
Lampiran 2. Daftar Pertanyaan (Kuisioner) PKM ............................................... xiii

vi

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permintaan dunia perikanan terhadap mikroalga cenderung meningkat
setiap tahunnya. Hal tersebut disebabkan meningkatnya jumlah unit pembenihan
dan pembudidaya biota perairan yang membutuhkan pasokan jumlah pakan
alami (mikroalga) dalam jumlah besar untuk menunjang kelangsungan dari
organisme yang dibudidayakan.
Indonesia sebagai negara maritim yang beriklim tropis, keragaman
mikroalga di Indonesia sangat tinggi. mikroalga telah dimanfaatkan sebagai
bioaktif kosmetik, bioenergi, suplemen kesehatan, dan pakan akuakultur.
Mikroalga merupakan kelompok organisme yang sangat beragam dan memiliki
berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber pakan, pangan, dan
bahan kimia lainnya. Kandungan senyawa pada mikroalga bervariasi tergantung
dari jenisnya, faktor lingkungan dan nutrisinya Hal ini menjadikan semua bentuk
kehidupan hayati sangat bergantung kepada mikroalga (Widianingsih, et al.
2008).
Tetraselmis chuii merupakan mikroalga dari golongan alga hijau
(chlorophyceae)

yang

mempunyai

prospek

cerah

dimasa

mendatang.

Tetraselmis chuii berupa sel tunggal yang berdiri sendiri-sendiri dengan ukuran 7
12 mikron. Tetraselmis chuii ini memiliki klorofil (zat hijau daun) sehingga
warnanya hijau cerah dan dapat berfotosintesis. Tetraselmis chuii dapat
bergearak aktif seperti seekor hewan karena mempunyai 4 buah bulu cambuk
(flagela). Tetraselmis chuii banyak terdapat di air payau, air laut dan sudah
banyak dibudidayakan, khususnya ditempat pembenihan udang. Perkembang
biakannya berlangsung cepat melalui pembelahan sel. Dalam hal ini protoplasma

sel vegetatif mengadakan pembelahan berulang-ulang sehingga dari satu sel


induk dapat terbentuk 2 16 sel anak (Mujiman, 2004).
Tetraselmis chuii mengandung nilai gizi yang tinggi. Penelitian yang telah
dilakukan terhadap Tetraselmis chuii menunjukkan bahwa Tetraselmis chuii
mengandung protein sebesar 48,42%, karbohidrat 12,10% dan lemak 9,70% .
Ekstrak Tetraselmis chuii mempunyai aktivitas antioksidan berkisar antara 2,5531,29 mg/mL dan total klorofil berkisar antara 3,65 19,20 mg/g. Ekstrak juga
mempunyai aktivitas antimikroba terhadap bakteri E. coli dan S. aureus, serta
jamur C. albicans dan A. flavus. Tetraselmis chuii juga diperkirakan memiliki
kandungan senyawa fitokimia seperti mikroalga pada umumnya, namun
penelitian mengenai senyawa fitokimia yang terkandung dalam mikroalga
Tetraselmis chuii belum pernah dilakukan (Sani, et al. 2014).
Ketersediaan kultur Tetraselmis chuii sebagai pakan alami bagi biota
budidaya dapat diperbanyak menggunakan teknik kultur. Proses kultur mikroalga
sangat ditentukan oleh beberapa faktor pertumbuhan yaitu faktor internal dan
eksternal. Faktor internal adalah spesies (genetik) dan faktor eksternal adalah
faktor lingkungan yang meliputi komposisi media kultur, pH, karbondioksida,
intensitas cahaya, suhu, dan salinitas. Komposisi nutrien yang lengkap dan
konsentrasi nutrien yang tepat menentukan produksi biomassa dan kandungan
gizi dari mikroalga (Putri, et al. 2013).
Faktor-faktor kualitas air yang mempengaruhi pertumbuhan Tetraselmis
chuii adalah suhu, salinitas, intensitas cahaya dan pH. Selain itu, keberhasilan
media dan semua peralatan yang digunakan selama kultur, pemupukan serta
aerasi yang diberikan secara terus menerus. Untuk itu, perlu dilakukan
pengontrolan kualitas air untuk pertumbuhan Tetraselmis chuii Pada skala
laboratorium, intermediate dan skala massal.

Kandungan nutrisi zooplankton dapat ditingkatkan dengan pengkayaan


atau dengan pemberian fitoplankton tertentu, sehingga meningkatkan kandungan
nutrisi khususnya HUFA (Highly Unsaturated Fatty Acid) yang ada pada
zooplankton karena HUFA akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan
hidup dan pertumbuhan udang (Sorgeloos, et al. 2001) Fitoplankton yang
mengandung HUFA cukup tinggi yaitu Tetraselmis dan Nannochloropsis.
Salah satu faktor penyebab kualitas benur kurang baik adalah
ketidaksesuaian

pakan

yang

digunakan

dalam

pemeliharaan

larva.

Ketidaksesuaian tersebut seperti ukuran yang terlalu besar, kandungan nutrisi


yang kurang maupun pilihan jenis pakan yang diberikan. Ketidaksesuaian ukuran
pakan yang diberikan akan mengakibatkan kegagalan dalam pemangsaan awal
oleh larva sehingga kebutuhan nutrisi larva tidak terpenuhi. Hal ini menyebabkan
kualitas larva menjadi kurang baik (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).
Menurut Sorgeloos (1992) dalam Nallely, et al. (2006), mengatakan
bahwa mikroalga memberikan nutrisi berkualitas secara optimum untuk
organisme seperti larva udang sesuai pada stadia perkembangannya. Dikatakan
pula bahwa beberapa jenis mikroalga yakni fitoplankton juga dapat berperan
sebagai antibakterial, immunostimulan dan pemasok enzim pencernaan bagi
pemangsanya. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan
fitoplankton bagi larva udang penaeid adalah kandungan gizi yang tinggi, dapat
disediakan secara berkesinambungan, prosedur kultur yang tidak terlalu rumit
dan biaya yang tidak mahal. Sehingga ketersediaan fitoplankton sebagai pakan
larva dapat terjamin dalam kualitas, waktu dan jumlah yang tepat.

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dari pelaksanaan Praktek Kerja Magang ini adalah untuk
mengetahui secara langsung teknik kultur mikroalga Tertaselmis chuii pada skala

laboratorium, intermediate dan massal di BPBAP Situbondo, serta memadukan


teori yang didapat pada perkuliahan dengan fakta yang ada di lapang.
Tujuan yang ingin dicapai dari Praktek Kerja Magang (PKM) ini adalah
untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman kerja magang
dalam bidang perikanan serta mengetahui manajemen kualitas air untuk
pertumbuhan dan kultur Tertaselmis chuii di Balai Perikanan Budidaya Air Payau
(BPBAP) Situbondo serta faktor-faktor yang mendukung

1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan saat melaksanakan Praktek Kerja Magang
tentang manajemen kualitas air pada pertumbuhan dan kultur mikroalga laut
Tertaselmis chuii skala laboratorium, intermediate dan massal di Balai Perikanan
Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo ini antara lain:
1. Menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman secara langsung
tentang pertumbuhan dan kultur Tertaselmis chuii
2. Mengaplikasikan mata kuliah terkait yang diperoleh selama perkuliahan
tentang pertumbuhan dan kultur Tertaselmis chuii
3. Sebagai bahan informasi dan pengetahuan yang dapat menunjang
penelitian lebih lanjut tentang kultur dan kandungan klorofil Tertaselmis
chuii.

1.4 Waktu dan Tempat


Kegiatan Praktek Kerja Magang ini dilaksanakan pada tanggal 11 Juli
sampai 19 Agustus tahun 2016 yang bertempat di Balai Perikanan Budidaya Air
Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur.

1.5 Jadwal Pelaksanaan

Tabel 1.Jadwal Pelaksanaaan Praktek Kerja Magang


Waktu (Minggu ke)
No

Kegiatan

Mei

Juni

Juli

Agustus

Sept

Okt

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.

Survei Lokasi

2.

Pembuatan
proposal dan
konsultasi

3.

Pelaksanaan
PKM

4.

Penyusunan
laporan dan
konsultasi

2. MATERI DAN METODE PRAKTEK KERJA MAGANG

2.1 Materi Praktek Kerja Magang


Materi Praktek Kerja Magang tentang manajemen kualitas air untuk
pertumbuhan kultur mikroalga laut Tertaselmis chuii skala laboratorium,
intermediate dan massal untuk pakan udang vanname (Litopenaeus vannamei)
di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo diantaranya yang
dipelajari

meliputi

persiapan

media,

kultur

mikroalga,

pemupukan

dan

pemeliharaan, pemanenan, dan pengukuran kualitas air, meliputi parameter


fisika, kima dan parameter biologi sebagai faktor pendukung.

2.2 Alat dan Bahan


2.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam Praktek Kerja Magang dapat dilihat pada
Tabel 2 dan 3 :

Tabel 2. Alat-alat yang digunakan


No.
1.
2.
3.

Nama Alat
Botol 5 Liter
Toples 10 Liter
Bak 1 ton

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Filter bag
Sikat gosok
Seperangkat aerasi
Plankton net
Selang air
Ember
Pompa

9.
10.

Timbangan analitik
Kamera dan alat tulis

Fungsi
Sebagai tempat kultur mikroalga skala Lab.
Sebagai tempat kultur mikroalga Skala Lab.
Sebagai tempat kultur mikroalga skala
Intermediate
Untuk menyaring partikel
Untuk membersihkan bak beton
Untuk menyuplai oksigen pada bak kultur
Untuk menyaring plankton
Untuk membantu mengalirkan air
Untuk membantu mengambil air
Untuk membantu mengalirkan air dari
tandon menuju ke bak kultur
Untuk menimbang pupuk yang digunakan
Untuk mendokumentasaikan hasil
pengamatan

Tabel 3.Alat-alat yang digunakan pada pengukuran kualitas air dan kelimpahan
sel selama kultur mikroalga.
No.

Nama Alat

1.
2.

Parameter fisika
Termometer Hg
Kamera dan alat tulis

1.
2.
3.
4.

Parameter kimia
DO meter
pH meter
Refraktometer
Kamera dan alat tulis

1.

Parameter biologi
Pipet tetes

2.

Objek glass

3.

Cover glass

4.

Haemocytometer

5
6.

Mikroskop
Hand tally conter

7.

Kamera dan alat tulis

Fungsi
Untuk mengukur suhu air
Untuk mendokumentasaikan hasil
pengamatan
Untuk mengukur oksigen terlarut
Untuk mengukur pH air
Untuk mengukur salinitas air
Untuk mendokumentasaikan hasil
pengamatan
Untuk mengambil air sampel dalam skala
kecil
Sebagai alas sampel mikroalga saat
diamati di bawah mikroskop
Untuk menutup sampel mikroalga yang
diteteskan pada haemocytometer
Untuk menghitung kelimpahan sel
mikroalga
Untuk mengamati sampel mikroalga
Untuk membantu menghitung kelimpahan
sel mikroalga
Untuk mendokumentasaikan hasil
pengamatan

2.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam Praktek Kerja Magang dapat dilihat
pada Tabel 4 dan 5 :

Tabel 4. Bahan-bahan yang digunakan pada kultur mikroalga.


No.

Nama Bahan

Fungsi

1.
2.
3.

Air laut
Bibit mikroalga
Kaporit

4.

Air tawar

Sebagai media tumbuh mikroalga


Sebagai starter untuk kultur mikroalga
Untuk membunuh bakteri, virus dan kuman
dalam air
Untuk mencuci alat-alat yang telah
digunakan

5.

Urea 10 mg/l
TSP 30 mg/l
ZA 100 mg/l

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi


mikroalga

Tabel 5.Bahan-bahan yang digunakan pada pengukuran kualitas air dan


kelimpahan sel selama kultur mikroalga
No.

Nama Bahan

Fungsi

1.

Air sampel

2.

Akuades

3.

Tissue

4.

Air tawar

Sebagai sampel yang akan diukur dan


diamati
untuk mengkalibrasi DO meter, pH dan
Refraktometer
Untuk mengeringkan alat-alat yang telah
digunakan
Untuk membersihkan alat-alat yang telah
digunakan

2.3 Metode Praktek Kerja Magang


Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Magang ini adalah metode
deskriptif, yang bermaksud untuk membuat gambaran (deskriptif) mengenai
situasi kejadian-kejadian. Metode deskriptif yaitu metode yang digunkan untuk
mencari unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena. Metode ini dimulai
dengan mengumpulkan data, menganalisis data dan menginterprestasikannya.
Metode deskriptif dalam pelaksanaannya dilakukan melalui: teknik survey, studi
kasus (bedakan dengan suatu kasus), studi komparatif, studi tentang waktu dan
gerak, analisis tingkah laku, dan analisis dokumenter (Suryana, 2010).

2.3.1 Sumber Data


Data yang dikumpulkan dalam Praktek Kerja Magang ini ialah terdiri dari
data primer dan data sekunder. Data primer dan data sekunder merupakan
pengelompokan data berdasarkan sumber data.

a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti
secara langsung dari sumber data utama. Data primer disebut juga sebagai data
asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data
primer, peneliti harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat
digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer antara lain observasi,
wawancara, dan penyebaran kuesioner (Aedi, 2010). Data primer pada Praktek
Kerja Magang ini didapat melalui observasi, wawancara, partisipasi aktif dan
dokumentasi.

b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah lebih dulu dikumpulkan dan
dilaporkan oleh orang diluar dari penyidik sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu
sesungguhnya adalah data yang asli (Surakhmad, 2004). Data sekunder dalam
Praktek Kerja Magang ini didapatkan dari laporan, jurnal, majalah, Laporan PKL
dan PKM/Skripsi, situs internet serta kepustakaan yang menunjang dari Praktek
Kerja Magang ini.

2.3.2 Teknik Pengambilan Data


Teknik pengambilan data pada Praktek Kerja Magang ini adalah dengan
cara observasi, wawancara, partisipasi aktif dan dokumentasi. Kegiatan Praktek
Kerja Magang ini lebih ditekankan pada partisipasi aktfif, pemahaman dan
pengusaan tentang pertumbuhan dan kultur Tertaselmis chuii.

a. Observasi
Observasi

yakni

teknik

pengumpulan

data

dimana

penyelidik

mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala - gejala


subyek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam situasi sebenarnya

maupun dilakukan di dalam situasi buatan yang khusus diadakan (Surakhmad,


2004). Observasi yang dilakukan pada Praktek Kerja Magang ini meliputi
persiapan

media

kultur,

kegiatan

kultur,

pemupukan,

pemanenan

dan

pengukuran kualitas air.


b. Wawancara
Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya
jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan
penelitian. Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara
peneliti dengan subjek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat
dipertanggung jawabkan secara keseluruhan (Nazir, 1988). Pada praktek kerja
magang, wawancara dilakukan secara langsung dengan mengajukan pertanyaan
kepada teknisi lapang maupun masyarakat untuk mendapatkan informasi
mengenai kualitas air yang mempengaruhi pertumbuhan dan kultur Tertaselmis
chuii dan kegiatan operasional Laboratorium pakan alami di Balai Perikanan
Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo.

c. Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan
secara langsung di lapangan (Nazir, 1988). Pada Praktek Kerja Magang ini,
kegiatan partisipasi aktif yang diikuti secara langsung adalah pengontrolan
kualitas air untuk pertumbuhan dan kultur Tertaselmis chuii. Selain itu juga,
melakukan partisipasi aktif mulai dari persiapan media budidaya, kegiatan kultur,
pemupukan, pemeliharaan, dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang
berkaitan.

d. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara mengumpulkan data melalui mempelajari,
mencatat, menyalin dokumen atau catatan yang bersumber dari peninggalan
10

tertulis seperti arsip, termasuk juga buku tentang teori, pendapat, dalil dan hukum
(Widiastuti, 2014). Pada Praktek Kerja Magang ini, dokumentasi dilakukan
dengan cara mengambil gambar atau foto dengan menggunakan kamera dan
mencatat data dari Laboratorium pakan alami di Balai Perikanan Budidaya Air
Payau (BPBAP) Situbondo.

2.4 Prosedur Praktek Kerja Magang


2.4.1 Kultur Laboratorium
Kultur laboratorium merupakan kultur dalam skala kecil yaitu kultur pada
botol 5 liter dan toples 10 liter yang terdiri dari kultur agar, test tube, erlenmeyer
dan carboy.
a. Kultur Agar (tanpa aerasi)
Kultur agar diawali dengan sterilisasi alat dan pembuatan media agar
yang sudah diberi pupuk PA (Pro Analis) kemudian disterilisasi menggunakan
autoclave kemudian dituang ke petridish steril bagian. Setelah media agar
membeku dilakukan inokulasi menggunakan metode gores, atau metode pipet.
Fitoplankton yang ditanam biasanya akan tumbuh setelah dua minggu
(tergantung spesies yang ditanam).

b. Kultur Test Tube (tanpa aerasi)


Kulturan agar yang sudah tumbuh dapat dipindahkan kekulturan test tube,
dengan cara media steril dipupuk dengan dosis 1 ml/liter. pupuk yang digunakan
adalah pupuk PA . Untuk spesies diatom menggunakan pupuk diatom dan untuk
spesies Chlorophyceae menggunakan pupuk Walne. Sebelum melakukan kultur
terlebih dahulu diambil satu koloni dari media agar dan diberi air laut steril
kemudian dicek dibawah mikroskop, apabila steril tidak ada kontaminasi maka
dikultur di test tuber. Untuk sebuah test tube diberi media air laut steril yang

11

sudah dipupuk bagian kemudian diberi bibit satu koloni. Mikroalga akan
tumbuh minimal 7 hari (seminggu).

c. Kultur Erlenmeyer (tanpa aerasi)


Hasil kulturan test tube selanjutnya dapat dijadikan bibit (starter) pada
kulturan erlenmeyer tanpa aerasi, disiapkan media air laut yang sudah dipupuk
dengan dosis 1 ml/liter kemudian diberi bibit. Lama kulturan 6 7 hari untuk
species Tertaselmis chuii dan 3 4 hari untuk spesies diatom.

d. Kultur Erlenmeyer/ Toples 1-2 liter (aerasi)


Sterilisasi media dengan cara direbus hingga mendidih kemudian dituang
ke dalam wadah dan ditutup rapat. Setelah dingin dilengkapi peralatan aerasi,
dipupuk dengan dosis 1 ml/liter PA (Pro Analis), perbandingan bibit dan media
adalah 3:7, dipertahankan pada suhu 250C dan penyinaran menggunakan lampu
TL 40 watt 2 buah dan inkubasi 5 7 hari.

e. Kultur Carboy/ Toples 10 liter (aerasi)


Sterilisasi media menggunakan kaporit 10 ppm dan dinetralkan dengan
thiosulfat 5 ppm Setelah netral

dipupuk

dengan dosis 1ml/liter (PA),

perbandingan bibit dan media adalah 3:7, dipertahankan pada suhu 250C dan
penyinaran menggunakan lampu TL 40 watt 2 buah dan inkubasi 5 7 hari.

2.4.2 Kultur Intermediate


Kultur aquarium 100 liter dan kultur conicel 500 liter 1 ton. Air laut
disterilisi menggunakan kaporit 10 ppm dan dinetralkan dengan thiosufat 5 ppm,
lama sterilisasi minimal 24 jam. Sebelum dilakukan pemberian bibit terlebih
dahulu diberi pupuk TG (Tehnical Growth) dengan dosis 1 ml/liter. Untuk species
diatom menggunakan pupuk diataom (TG) kalau untuk spesies Chlorophyceae

12

menggunakan pupuk Walne (TG). Perbandingan penggunaan bibit dan media


adalah 3:7. Kultur dilakukan pada ruangan semi outdoor dengan atap fiber
tembus cahaya matahari dan lama inkubasi 5 7 hari.
2.4.3 Kultur Massal
Kultur pada bak semen 10 40 ton atau lebih. bak semen untuk kultur
harus dalam kondisi bersih (steril), air laut disterilisi menggunakan kaporit 10
ppm dan dinetralkan menggunakan thiosufat 5 ppm, lama sterilisasi min 24 jam.
Sebelum ditebari bibit terlebih dahulu diberi pupuk pertanian dengan dosis urea
40 ppm, ZA 30 ppm, EDTA 0,5 1 ppm, FeCL3 0,5 1 ppm, TSP 20 ppm. Untuk
spesies diatom pupuknya ditambah silikat. Perbandingan penggunaan bibit dan
media adalah 3 :7.

2.5 Manajemen Kualitas Air


2.5.1 Sumber Air
Air merupakan kebutuhan dalam usaha budidaya. Dalam hal ini yang
perlu diperhatikan adalah kualitas dan kuantitas air yang akan digunakan
selama proses budidaya. Sumber air yang digunakan ada 2 macam, yaitu
sumber air laut dan air tawar.

2.5.2 Sistem Pengairan


Sistem pengairan yang tepat menjadikan hal yang penting dalam
melakukan manajemen kualitas air . Dalam hal ini di gunakan sistem
pengairan yang bersifat parallel , sistem pengairan dimana setiap kolam
mendapa air baru atau air yang sudah dialirkan tidak dialirkan ke kolam lain.
Sistem pengairan ini yang baik, karena kualitas air kolam dapat terjaga.
Selain itu, sis-tem ini mudah dalam pengelolaannya. Bila kolam satu dipanen
tidak mengganggu kolam lain.

13

2.5.3 Pengelolaan Kualitas Air


Pengelolaan kualitas air disini dimaksudkan agar tetap menjaga kualitas
kultur yang sedang dilakukan. Namun pada kultur Tetraselmis chuii
pengelolaan kualitas air dilakukan hanya dengan pengontrolan kestabilan
parameter kualitas air. Tidak adanya pergantian air dalam satu kali siklus kultur
Tetraselmis chuii. Penambahan air dilakukan hanya dalam perpindahan kultur
tiap skala yaitu pada skala intermediate dan skala massal.

2.6 Pengukuran Kualitas Air


Pada Praktek Kerja Magang, dilakukan pengukuran kualitas air pada
kultur mikroalga yang bertujuan untuk mengontrol kualitas air dan mengetahui
parameter fisika, kimia maupun biologi yang sesuai untuk pertumbuhan
mikroalga. Parameter kualitas air yang diukur meliputi parameter fisika yaitu
suhu; parameter kimia yaitu oksigen terlarut (DO), pH, salinitas. Cara
pengukuran kualitas air adalah sebagai berikut:

2.6.1 Parameter Fisika


a. Suhu
Menurut Departemen Pekerjaan Umum (1990), parameter kualitas air
tentang suhu diukur dengan thermometer Hg. Bagian ujung thermometer
dimasukkan ke dalam perairan hingga seluruh bagiannya masuk dalam air dan
ditunggu beberapa saat sampai air raksa dalam thermometer berhenti pada skala
tertentu. Kemudian dicatat angka yang tertera diskala tersebut dalam satuan
derajat Celcius (0C). Pembacaan thermometer dilakukan pada saat thermometer
masih dalam air dan pada bagian air raksa tidak sampai tersentuh oleh tangan
secara langsung.

14

2.6.2 Parameter Kimia


a. Oksigen Terlarut (DO)
Kadar oksigen terlarut (DO) dapat diukur dengan menggunakan DO
meter. Menurut Hargreaves dan Craig (2002), keakuratan pengukuran kadar
oksigen terlarut dengan menggunakan termometer hanya bisa didapat apabila
alat pengukuran dikalibrasi dengan benar, cara pengukuran yang benar dan
sensor alat dipelihara dengan baik. Pengukuran oksigen terlarut dengan sensor
polarografi membutuhkan sedikit menggerakkan sensor didalam perairan.
Awalnya perubahan nilai pengukuran dilayar akan berubah secara cepat, tetapi
ketika 15 sampai 20 detik nilai yang ditunjukkan display akan mulai stabil.
Pengukuran kadar oksigen terlarut di tepi kolam biasanya cenderung lebih
rendah dibandingkan dengan di tengah kolam. Apabila alat tidak digunakan
selama sekitar 1 jam, maka DO meter dimatikan untuk memperpanjang umur
baterai dan sensor DO meter.

b. Derajat Keasaman (pH)


Menurut Departemen Pekerjaan Umum (1990),pH suatu perairan dapat
diukur dengan menggunakan pH paper atau pH pen. Untuk pengukuran dengan
pH paper dilakukan dengan cara memasukkan pH paper ke dalam air sekitar 0,5
menit, dikibaskan sampai setengah kering dan kemudian dicocokkan perubahan
warna pada pH paper dengan kotak standar pH. Sedangkan pengukuran pH
dengan menggunakan pH pen yaitu pH pen distandarisasi terlebih dahulu,
kemudian pH pen dimasukkan kedalam air yang diukur kadar pH nya kemudian
dilihat angka pada layar dan setelah digunakan segera distandarisasi kembali.

15

c. Salinitas
Menurut Departemen Pekerjaan Umum (1990), kadar garam perairan
dapat diukur dengan menggunakan refraktometer. Pengukuran salinitas dengan
refraktometer yaitu dibuka penutup kaca prisma, dikalibrasi dengan aquades,
dibersihkan dengan tissue secara searah, diteteskan 1-2 tetes air yang akan
diukur salinitasnya, ditutup kembali dengan hati-hati agar tidak terjadi gelembung
udara dipermukaan kaca prisma, diarahkan ke sumber cahaya, dan dilihat nilai
salinitasnya yang diukur melaui kaca pengintai.

2.6.3 Parameter Biologi


a. Perhitungan Kelimpahan Sel
Perhitungan kelimpahan sel fitoplankton digunakan sebagai salah satu
ukuran mengetahui pertumbuhan fitoplankton, mengetahui kelimpahan bibit,
kelimpahan pada awal kultur dan kelimpahan pada saat panen. Untuk
menghitung jumlah fitoplankton yang dihasilkan dalam skala waktu dapat
menggunakan alat haemocytometer.
Menurut Chalid, et al. (2006), cara Perhitungan jumlah plankton dengan
haemocytometer ini yaitu dengan cara meneteskan kultur sel mikroalga yang
akan dianalisa kepadatan selnya sebanyak satu tetes ke masing-masing dua
bagian haemocytometer. Tutup dengan menggunakan slide. Haemocytometer ini
dilengkapi dengan mikroskop. Haemocytometer yang telah diberikan kultur sel
mikroalga diletakkan di bawah lensa objektif dan difokuskan hingga terlihat kisikisi tempat perhitungan sel yang terdiri dari lima kisi perhitungan. Selanjutnya
jumlah sel plankton dihitung menggunakan rumus berikut:

Jumlah Total Sel


x 104
Jumlah Kotak yang Dihitung

16

DAFTAR PUSTAKA
Aedi, Nur. 2010. Pengolahan dan Analisis Data Hasil Penelitian. Bahan Belajar
Mandiri Metode Penelitian Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan.
Universitas Pendidikan Indonesia. Jakarta.
Chalid, S. Y., S. Amini dan S. D. Lestari. Kultivasi Chlorella sp. pada Media
Tumbuh yang diperkaya dengan Pupuk Anorganik dan Soil Ekstrak.
Laporan Penelitian. Fakultas Sains dan Teknologi. UIN Syarif
Hidayatullah. Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum. 1990. Kumpulan SNI Bidang Pekerjaan Umum
Mengenai Kualitas Air.Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan
Umum.
Hargreaves, John A. and Craig S. Tucker. 2002. Measuring Dissolved Oxygen
Concentration In Aquaculture. Southern Regional Aquaculture Center.
4601.

Isnansetyo, A. & Kurniastuty. (1995). Pakan Alami untuk Pembenihan


Organisme Laut. Kanisius. Yogyakarta.
Mudjiman Ahmad (2004), Makanan Ikan. Edisi Revisi, Penebar Swadaya.
Jakarta.

Nallely, A., Beatriz C., Bertha O.A.V. & Miguel Robles. (2006). Growth of
Lyropecten (Nodipecten) subnodosus (Sowerby, 1835) Spat with
Three Micoalgae Mixtures Diets. Jounal of Fisheries International.
Nazir, M. 1998. Metodologi Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Putri, B., Aiqal ,V. H., Henni, W. M. 2013.Pemanfaatan Air Kelapa Sebagai
Pengkaya Media Pertumbuhan Mikroalga Tetraselmis sp. Universitas
Lampung.
Sani, R.N., F.C. Nisa., R.D. Andriani., J.M. Maligan. 2014. Analisis Rendemen
dan Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Mikroalga Laut Tetraselmis chuii .
Jurnal Pangan dan Agroindustri. 2 (2): 121 126.
Surakhmad, W. 2004. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar, Metode dan Teknik
(Edisi Revisi). Penerbit Tarsito : Bandung
Suryana. 2010. Metodologi Penelitian: Model Praktis Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif. Buku Ajar Perkuliahan. Universitas Pendidikan Indonesia.
Jakarta.
Widianingsih, A., Ridho, R., Hartati, dan Harmoko. 2008. Kandungan nutrisi
Spirulina platensis yang dikultur pada media yang berbeda. Ilmu
Kelautan. 13 (3) :167

viii

Widiastuti, A. 2014. Data, Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian.


Bahan Ajar Metode Penelitian. Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta.

ix

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.denah lokasi Praktek Kerja Magang

Lampiran 2 Daftar Pertanyaan (Kuisioner) PKM


A. Sejarah BPBAP Situbondo
1.

Bagaimana sejarah berdirinya BPBAP Situbondo?

2.

Bagaimana visi dan misi dari BPBAP Situbondo?

3.

Bagaimana struktur organisasi yang ada di BPBAP Situbondo?

4.

Berapa jumlah keseluruhan karyawan yang ada di BPBAP Situbondo?

5.

Bagimana tingkatan pendidikan pada karyawan yang ada di BPBAP


Situbondo?

6.

Berapa jumlah karyawan lulusan Sekolah Dasar (SD) yang bekerja di


BPBAP Situbondo?

7.

Berapa jumlah karyawan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang


bekerja di BPBAP Situbondo?

8.

Berapa jumlah karyawan lulusan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan


(SMA/SMK) yang bekerja di BPBAP Situbondo?

9.

Berapa jumlah karyawan lulusan Perguruan Tinggi (PT) yang bekerja di


BPBAP Situbondo?

10. Apa saja sarana dan prasana yang ada di BPBAP Situbondo?
B. Persiapan kolam
1.

Kolam jenis apakah yang di gunakan dalam kultur Tetraselmis chuii?

2.

Berapa ukuran kolam kultur Tetraselmis chuii yang ada di BPBAP


Situbondo?

3.

Ada berapa jumlah kolam kultur Tetraselmis chuii

yang ada di BPBAP

Situbondo?
4.

Hal apa saja yang harus dilakukan dalam persiapan kolam kultur
Tetraselmis chuii ?

5.

Berapa lama persiapan yang dilakukan untuk memenuhi kriteria kolam untuk
kultur Tetraselmis chuii?

xi

6.

Berapa banyak karyawan untuk mempersiapkan kolam yang akan dipakai


untuk kultur Tetraselmis chuii?

C. Persiapan bibit kultur Tetraselmis chuii


1.

Berasal dari mana bibit Tetraselmis chuii yang digunakan untuk kultur?

2.

Bagaimana ciri-ciri bibit Tetraselmis chuii yang sehat?

3.

Bagaimana perlakuan yang diberikan pada bibit Tetraselmis chuii sebelum


ditebar?

4.

Manajemen kualitas air kultur Tetraselmis chuii

5.

Berasal dari manakah sumber air pada kolam kultur Tetraselmis chuii?

6.

Kapan air mulai diisi ke dalam kolam?

7.

Berapa volume air yang diisikan ke dalam kolam?

8.

Bagaimana cara mengairi kolam pada kultur Tetraselmis chuii?

9.

Bagaimana kualitas air yang baik dalam kultur Tetraselmis chuii?

10. Parameter apa saja yang harus diperhatikan dalam media kultur?
11. Penebaran bibit Tetraselmis chuii
12. Berapa ukuran bibit Tetraselmis chuii yang ditebar?
13. Berapa padat tebar bibit Tetraselmis chuii pada kultur?
14. Bagaimana cara menghitung kepadatan Tetraselmis chuii?
15. Alat apa yang digunakan dalam menghitung kepadatan Tetraselmis chuii?
16. Kapan bibit Tetraselmis chuii mulai ditebar?
17. Bagaimana cara menebar bibit Tetraselmis chuii?
18. Pemeliharaan kultur Tetraselmis chuii
19. Bagaimana pengelolaan kualitas air pada kultur Tetraselmis chuii di BPBAP
Situbondo?
20. Parameter apa saja yang diukur pada kultur Tetraselmis chuii di BPBAP
Situbondo?

xii

21. Alat-alat apa saja yang digunakan dalam pengukuran kualitas air pada kultur
Tetraselmis chuii di BPBAP Situbondo?
22. Kapan dilakukan pergantian air dalam kultur Tetraselmis chuii?
23. Berapa kali dilakukan pergantian air dalam kultur Tetraselmis chuii?
24. Pemanenan
25. Bagaimana cara pemanenan yang dilakukan pada kultur Tetraselmis chuii di
BPBAP Situbondo?
26. Kapan Tetraselmis chuii yang dikultur sudah dapat dipanen?
27. Berapa hasil yang didapatkan dalam satu kali panen kultur Tetraselmis chuii
di BPBAP Situbondo?
28. Apa

penanganan

selanjutnya

yang

dilakukan

setelah

pemanenan

Tetraselmis chuii.?
29. Apakah pernah terjadi kegagalan pada kegiatan kultur Tetraselmis chuii ?
30. Apa faktor-faktor yang biasanya menjadi penyebab kegagalan dalam
kegiatan Kultur Tetraselmis chuii?
31. Apakah ada tindakan khusus yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan
tersebut ?
32. Bagaimana pemanfaatan Tetraselmis chuii Di BPBAP Situbondo?
33. Bagaimana sistem jual beli Tetraselmis chuii yang diterapkan oleh BPBAP
Situbondo?
34. Kemana saja tujuan pemasaran Tetraselmis chuii?
35. Berapakah harga jual Tetraselmis chuii?

xiii