Anda di halaman 1dari 23

INTISARI PERCOBAAN

Dalam ilmu geofisik kita senantiasa berhubungan dengan kegiatan lapangan seperti
pemetaan, menafsir atau mempelajari struktur geologi suatu daerah. Dalam kegiatan lapangan
tersebut dibutuhkan peralatan yang standar lapangan geologi yang umum digunakan di lapangan,
salah satunya adalah kompas geologi atau yang lebih umum dikenal dengan kompas.
Maka dari itu pada prakikum GF I-3 tetang kompas geologi praktikan dituntut untuk
dapat mengetahui pengertian dari kompas terlebih dahulu,dan juga harus dapat mempelajari
bagian-bagian dari kompas tersebut dan mempelajari cara menggunakan kompas untuk
menentukan slope, azimuth, beda ketinggian, jarak datar dan ketinggian sebenarnya.
Kompas adalah alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk
magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.. Dimana
berdasarkan pembagian lingkaran derajat, dikenal dua macam kompas geologi, yaitu kompas
azimut dan kuadran.

I.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Memahami cara menentukan azimuth untuk menentukan arah lintasan / arah lapisan
batuan (strike).
2. Memahami cara penggunaan klinometer untuk menentukan slope / kemiringan lapisan
batuan.
3. Memahami cara pengolahan data kompas geologi untuk menentukan jarak datar, beda
tinggi, koreksi beda tinggi , dan ketinggian suatu titik.
4. Dapat membuat sket lokasi dengan menggunakan data jarak datar azimuth dengan skala
tertentu.
5. Dapat membuat kontur ketinggian dari data titik tinggi hasil pengukuran kompas geologi.

II.

III.

ALAT PERCOBAAN
1. Kompas geologi (sistem azimuth / kwadrat)
2. Alat tulis dan hitung
3. Meteran
4. Busur derajat
5. Penggaris

TEORI DASAR
Kompas adalah alat penunjuk arah. Kompas sendiri sudah dikenal sejak 900
tahun yang lalu terbukti dengan diketemukannya kompas kuno yang dipakai pejuang China
sekitar tahun 1100 M.

Karena sifat kemagnetannya maka jarum kompas selalu menunjukkan arah utara dan
selatan (jika tidak dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya magnet lainnya selain magnet bumi).
Arah yang ditunjuk oleh jarum kompas adalah kutub utara magnetis bumi yang letaknya
tidak bertepatan dengan kutub utara bumi, kira-kira disebelah utara Kanada, di jazirah
Boothia sekitar 1400 mil atau sekitar 2250 km. Tapi untuk keperluan praktis, utara peta, utara
sebenarnya dan utara kompas/magnetis dianggap sama.
Menurut kegunaan dan fungsinya kompas dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu :
Kompas Orientasi, yaitu jenis kompas yang digunakan untuk orientasi dalam suatu
perjalanan (orientering). Contohnya kompas silva.
Kompas Bidik, yaitu kompas yang digunakan untuk membidik objek serta arah yang akan
kita lalui. Contohnya Kompas Prisma.
Kompas Geologi, yaitu kompas yang digunakan untuk menentukan arah serta kemiringan
dalam pekerjaan geologi. Contoh .Kompas Geologi.
Kompas Geologi
Kompas, klinometer, dan hand level merupakan alat-alat yang dipakai dalam
berbagai kegiatan survei, dan dapat digunakan untuk mengukur kedudukan unsur-unsur
struktur geologi. Kompas geologi merupakan kombinasi dari ketiga fungsi alat tersebut.
Kompas geologi merupakan kompas yang dapat digunakan untuk mengukur komponen arah
(azimuth,jurus dll) dan komponen besar sudut (did,slope,dll). Berdasarkan pembagian lingkaran
derajat, dikenal 2 macam kompas geologi yaitu :
a. Kompas azimuth
Kompas ini mempunyai dua angka lingkaran tertinggi yaitu 360 o. Angka 0o dan
360o berhimpit pada utara kompas

b. Kompas Kuadran
Kompas ini mempunyai angka lingkaran derajat yang diganti menjadi empat bagian, sedangkan
angka tertinggi 90o terletak di timur dan barat kompas dan angka 0o di utara selatan kompas.

Bagian-Bagian utama kompas geologi


Bagian-bagian utama kompas geologi tipe Brunton diperlihatkan dalam. Yang terpenting
diantaranya adalah :
1. Jarum magnet
Ujung jarum bagian utara selalu mengarah ke kutub utara magnet bumi (bukan kutub utara
geografi). Oleh karena itu terjadi penyimpangan dari posisi utara geografi yang kita kenal
sebagai deklinasi. Besarnya deklinasi berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Agar kompas
dapat menunjuk posisi geografi yang benar maka graduated circle harus diputar.

Penting sekali untuk memperhatikan dan kemudian mengingat tanda yang digunakan untuk
mengenal ujung utara jarum kompas itu. Biasanya diberi warna (merah, biru atau putih).
2. Lingkaran pembagian derajat (graduated circle)
Dikenal 2 macam jenis pembagian derajat pada kompas geologi, yaitu kompas Azimuth
dengan pembagian derajat dimulai 0o pada arah utara (N) sampai 360o, tertulis berlawanan
dengan arah perputaran jarum jam dan kompas kwadran dengan pembagian derajat dimulai
0o pada arah utara (N) dengan selatan (S), sampai 90o pada arah timur (E) dan barat (W).

3. Klinometer
Yaitu bagian kompas untuk mengukur besarnya kecondongan atau kemiringan suatu bidang
atau lereng. Letaknya di bagian dasar kompas dan dilengkapi dengan gelembung pengatur
horizontal dan pembagian skala. Pembagian skala tersebut dinyatakan dalam derajat dan
persen.
Cara Penggunaan kompas
Penggunaan kompas pada prinsipnya yang paling penting diperhatikan
adalah kompas harus horozontal, maka pembacaan skala peta melalui garis fisir,
sedangkan pada kompas orienteering (misal kompas silva) yang paling penting
diperhatikan adalah Utara Kompas harus sejajar dengan Utara peta.
Faktor kesalahan pada sudut bacaan kompas
Penyebab dari kesalahan ini antara lain :
1. Karena benturan dengan benda keras.
2. Cairan yang terdapat dalam tabung kompas membeku (pengaruh waktau atau
cuaca), sehingga jarum atau piringan kompas tidak bergerak bebas.
3. Ada kesalahan indeks yaitu penunjuk indeks skala bacaan kompas tidak segaris
lurus dengan garis penunjuk arah bacaan.
4. Garis penunjuk arah bacaan tidak segaris lurus dengan pisir/garis rambut
pembidik objek.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemakaian kompas yaitu :
1.

Jauhkanlah dari benda-benda yang mengandung


golo/parang, pisau, gunting, victorinoks, dll

unsur

logam

seperti

2. Jauhkan dari benda-benda elektronik seperti : TV, jam tangan, walkman, dll.
3. Sesama kompas dilarang saling berdekatan

Inklinasi dan Deklinasi

Sebelum kompas digunakan di lapangan, hendaknya diperiksa dahulu apakah


inklinasi dan deklinasinya telah disesuaikan dengan keadaan tempat pekerjaan.
1. Inklinasi
Inklinasi adalah kecondongan jarum kompas yang disebabkan oleh perbedaan
letak geografi suatu daerah terhadap kutub bumi. Sudut kecondongan akan hampir 0
(horizontal) apabila kita berada di dekat/di sekitar equator, dan semakin bertambah besar
apabila mendekati kutub-kutub bumi. Dengan demikian, maka tiap tempat di atas bumi ini
akan mempunyai sudut inklinasi yang berbeda-beda. Pada dasarnya, sebelum kompas
geologi itu dapat digunakan dengan baik, kedudukan jarum harus horizontal. Untuk itu bisa
digunakan beban (biasanya ada) yang dapat digeser sepanjang jarum kompas.
2. Deklinasi
Deklinasi adalah sudut yang dibentuk oleh arah utara jarum kompas dan arah utara
sebenarnya (Utara geografi), sebagai akibat dari tidak berimpitnya titik utara magnit dan titik
utara geografi. Besarnya deklinasi di suatu daerah umumnya ditunjukkan pada peta topografi
daerah tersebut. Untuk menyesuaikan agar kompas yang akan dipakai menunjukkan arah
utara yang sebenarnya, lingkaran derajat pada kompas harus digeser dengan cara memutar
adjusting screw yang terdapat pada sisi kompas sebesar deklinasi yang disebutkan.
Mengukur kedudukan unsur struktur
Dalam geologi kita hanya mengenal adanya 2 (dua) jenis unsur struktur, yaitu struktur
bidang dan struktur garis.

Mengukur kedudukan bidang


Yang dimaksud dengan struktur bidang adalah bidang perlapisan, kekar, sesar, foliasi,
dan sebagainya. Ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mengukur kedudukan
struktur demikian di lapangan, dan cara mana yang paling baik tergantung dari selera
masing-masing atau telah ditetapkan dan merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh instansi
tempat kita bekerja. Di sini hanya akan dikemukakan 3 (tiga) cara saja yang paling lazim
dilakukan dan dapat dimengerti oleh setiap pemeta atau geologiawan.
Dengan kompas azimuth
Mengukur jurus dan kemiringan dengan kompas azimuth
1. Bukalah cermin kompas > 90o

2. Letakkan salah satu sisi kompas yang bertanda E atau W (bukan N atau S) pada bidang yang
akan diukur.
3. Aturlah posisi kompas sedemikian rupa sampai horizontal dengan bantuan mata lembu.
Tetapi harus dijaga agar sisi kompas tetap menempel pada bidang yang diukur (bila
bidangnya renjul, lakukanlah itu dengan bantuan clipboard atau yang semacamnya).
4. Bacalah jarum utara dan segera catat agar tidak lupa (bila kompas diangkat, jarum akan
bergerak). Angka yang anda baca adalah jurus bidang yang diukur.
5. Tandailah garis potong antara : bidang yang diukur dengan bidang dasar kompas (= bidang
horizontal). Biasanya dengan menekan angka keras atau menggeser agak keras.
6. Ubahlan posisi kompas sehingga bidang dasar komp;as tegak lurus terhadap garis potong (=
jurus) pada nomor 5.
7. Aturlah klinometer sehingga gelembung pengatur horizontal terletak di tengah. Kemudian
bacalah angka yang ditunjukkan (dalam hal ini kompas dapat diangkat). Hasil yang diperoleh
adalah besarnya kemiringan.
8. Putarlah kompas sedemikian rupa sehingga posisinya seperti dalam gambar II. 9C. Buatlah
horizontal dan bacalah arah yang ditunjukkan jarum utara : misalnya N, NE, E, SE, S, SW,
W, NW. Angkanya tidak perlu dicatat. Hasil pembacaan adalah arah kemiringan. Kedudukan
struktur bidang yang diukur dapat dicatat sebagai berikut : (misalnya) N 45 oE/20oSE,
artinya : jurus bidang adalah timur laut dan miring atau condong 20 o ke arah tenggara.
Bidang N 45oE/20o SE bisa juga dibaca dan dicatat sebagai N 225 oE/20oSE. Angka yang
pertama diperoleh karena yang ditempel adalah sisi yang bertanda E sedang angka yang
kedua karena yang ditempel adalah sisi yang bertanda W.
Dengan kompas kwadran
Untuk mengukur jurus, lekatkan sisi kompas yang bertanda E atau W, letakkan
horizontal dan baca salah satu ujung jarum. Dianjurkan agar selalu membaca angka pada
belahan utara kompas (atau bagian dengan tanda N). Dengan demikian kita akan mempunyai
bacaan-bacaan sebagai berikut N E atau N.W (tidak akan terjadi SE atau S..W).
Untuk mendapatkan kemiringan prosedurnya sama seperti pada kompas azimuth, dan harus
dinyatakan kemana arah kemiringannya. Untuk arah kemiringan hanya jarum utara yang
dibaca.
Contoh : N 30o E/15o NW

N 40o W/20o NW
N 40o W/25o SW dan sebagainya
Kompas Geologi dan penggunaannya.

Ada dua tipe kompas geologi yang dikenal, yaitu kompas empat kuadran dimana
lempengan skala dibagi menjadi empat kuadran, kuadaran NE (North-East), NW (NorthWest), SW (South-West) dan SE (South-East), masing-masing besamya 0 0 s/d 90 diukur
dari North (Utara) dan South (Selatan) balk ke arah East (Timur) maupun West (Barat).
Sedangkan tipe yang kedua adalah kompas tipe azimuth atau tipe 360 , dimana lempengan
skala dibagi menjadi 360 diukur dari North ke East.
Cara Membaca Arah.

Arah dari suatu titik ke titik lain dapat dinyatakan dengan dua cara, tergantung jenis/tipe
kompas geologi yang digunakan. Kedua cara tersebut adalah :
1. Dengan hanya menggunakan satu mata angin yaitu North (N) memutar melewati East (E).
Setelah arah diukur dengan cara tersebut, ditulis dengan notasi N E (misalnya N 45 E, N
100 E, N 286 E). Arah yang diukur dengan metode ini disebut sebagai dinamakan Azimuth,
besarnya 0 s/d 360. Penulisan arah Azimuth dinyatakan dengan NE, maksudnya pengukuran
mulai dari arah North ke East, misainya N 160 E, N 340" E, N 150" E dan sebagainya.
Perhatikan, NE disini tidak menunjukkan kuadran North-East. Kompas geologi yang
digunakan juga disebut sebagai kompas tipe azimuth (360). Kompas geologi dari Eropa dan
Jepang pada umumnya dibuat mengikuti tipe ini.

2. Dengan menggunakan empat mata angin, yaitu North, East, South dan West. Arah-arah
diukur dari : North ke arah East untuk yang berada pada kuadran NE, misalnya N 60 E, N
35 E dsb. , North ke arah West untuk yang berada pada kuadran NW, misainya N 45 W, N
25 W dsb. , South ke arah East untuk yang berada pada kuadran SE, misalnya S 12 E, S 6
E, dsb., South ke arah West untuk yang berada pada kuadran SW, misainya S 20 W, S 48 W.
Dengan cara ini maka besamya arah hanya akan berkisar dari 0 0 - 90 0 saja. Kompas geologi
yang digunakan dalam cara ini adalah kompas jenis empat kuadran, atau sering disebut
sebagai kompas tipe Brunton. Kompas geologi buatan Amerika kebanyakan menggunakan
sistem kuadran. Setiap ahli geologi harus dapat menggunakan kedua cara tersebut di atas

sama baiknya, tergantung dari jenis kompas geologi yang digunakannya. Kedua cara tersebut
tidak boleh dicampur aduk.

Cara Menentukan Arah dengan Menembak (Shooting)

Kalau kita berada di suatu tempat yang posisinya di peta tidak diketahui, tetapi dari
tempat kita berada kita dapat melihat 1 atau lebih titik yang lokasinya di peta diketahui
dengan tepat, misainya puncak bukit, perpotongan dua sungai dan sebagainya, maka lokasi
tempat kita berada dapat ditentukan dengan jalan menembak (shooting) titik-titik yang sudah
diketahui posisinya tersebut (dalam hal ini disebut sebagai target). Cara menembak dilakukan
dengan jalan mengarahkan kompas ke target, kemudian bacalah jarum selatan. Arah ini
merupakan arah dari target ke penembak.
Cara Mengukur Jurus dan Kemiringan.

Ada beberapa cara dalam pengukuran jurus dan kemiringan lapisan batuan. Disini akan
dijelaskan cara yang paling aman supaya tidak terbalik dalam membaca kemiringan.
Terbaliknya penggambaran kemiringan dapat menimbulkan kesalahan yang serius. Cara
pertama yang dibaca adalah arah dari jurusnya, sedangkan cara kedua yang dibaca adalah
arah dari kemiringannya.
a. Pengukuran dilakukan dari bagian atas lapisan, kalau yang tersingkap bagian bawah
maka sambunglah bidang perlapisan tersebut dengan clipboard saudara dan
pengukuran dilakukan di atas clipboard.
b. Tempelkan sisi E dari kompas pada lapisan batuan sambil kompas dihorisontalkan
dengan cara gelembung horisontal (horizontal bubble) diusahakan berada di tengah.
Kalau kompas sudah horisontal bacalah ujung utara, maka arah ini adalah arah jurus
dari lapisan. Arah kemiringannya adalah 90 dari arah ini searah jarum jam.

c. Ukurlah besar kemiringan dengan klinometer. Caranya : kompas diletakkan miring


pada sisinya yang ada skala klinorneter dalam arah tegak lurus, kemudian bacalah
besarnya sudut kemiringannya.

Jika arah kemiringannya yang dibaca maka:


a. Pengukuran tetap dilakukan pada bagian atas lapisan batuan.
b. Tempelkan sisi S dari kompas sambil kompas dihorisontalkan seperti pada cara
pertama.
c. Setelah kompas horisontal, bacalah ujung jarum utara, maka arah ini adalah arah
kemiringan dari lapisan.
d. Ukurlah besamya kemiringan dengan klinometer.
e. Arah jurusnya tentu saja tegak lurus arah kemiringan tersebut.
Kedua cara pengukuran jurus dan kemiringan yang telah diuraikan di atas berlaku untuk
kompas empat kuadran maupun kompas azimut.

IV.

TUGAS AKHIR
1. Menghitung Rata-rata Sudut Miring

Pada titik 1 ke 2
n i 6 +6 +10 +6
=
=7
i
4

Pada titik 2 ke 3

n i 1 5 + 16 +1 6 +1 6
=
=15.75
i
4
Pada titik 3 ke 4
n i 4 +5 + 7 + 4
=
=5
i
4
Pada titik 4 ke 5
n i 14 +16 +14 +1 6
=
=15
i
4
Pada titik 5 ke 6
n i 14 +16 +18 +18
=
=16.5
i
4

Pada titik 6 ke 1
n i 5 +8 +9 +6
=
=7
i
4

2. Menghitung Rata-rata Azimut

Pada titik 1 ke 2
n i 309 +310 + 315+313
=
=31 1, 75
i
4
Pada titik 2 ke 3
n i 225 +229 +229+224
=
=226.75
i
4
Pada titik 3 ke 4
n i 151 +154 +1 54 +154
=
=153.25
i
4
Pada titik 4 ke 5
n i 295 +295 +299 + 296
=
=296.5
i
4
Pada titik 5 ke 6
n i 244 +244 + 247 +247
=
=245.5
i
4
Pada titik 6 ke 1
n i 323 +321 +3 21 +320
=
=321.25
i
4

3. Menghitung Jarak Datar dan Beda Tinggi

a. Titik 1 ke titik 2
jarak datar X

= 25 cos 7 o

beda tinggi

= 25 sin 7 o

b. Titik 2 ke titik 3
jarak datar X

= 25 cos 15.75 o\

beda tinggi

= 25 sin 15.75 o\

c. Titik 3 ke titik 4
jarak datar X

= 25 cos 5 o

beda tinggi

= 25 sin 5 o

d. Titik 4 ke titik 5
jarak datar X

= 25 cos 15o

beda tinggi

= 25 sin 15o

e. Titik 5 ke titik 6
jarak datar X

= 25 cos 16.5o

beda tinggi

= 25 sin 16.5o

f. Titik 6 ke titik 1

jarak datar X

= 20 cos 7o

beda tinggi

= 20 sin 7o

4. Mengukur ketinggian
a. Titik 1 ke titik 2
765 2,3

= 762,7 m

b. Titik 2 ke titik 3
762,7 6,175

= 756,525 m

c. Titik 3 ke titik 4
756,525 2,025 = 754,5 m
d. Titik 4 ke titik 5
754,5 + 3,175

= 757,675 m

e. Titik 5 ke titik 6
757,675 + 2,625 = 760,3 m
f. Titik 6 ke titik 1
760,3 + 1,62

= 761,92 m

5. Koreksi selisih ketinggian

selisihtinggi positif =49.106


selisihtinggi negatif =42.818
- 38,712
selisihtinggi positif =49.106

selisihtinggi negatif =42.818


91.924
Koreksi selisih tinggi tiap 1m

38,712
=0.42
91.924

a. Titik 1 ke titik 2
0.42 x 16.4

b. Titik 2 ke titik 3
0.42 x -1.05

c. Titik 3 ke titik 4
0.42 x -23.9

d. Titik 4 ke titik 5
0.42 x 16.25

e. Titik 5 ke titik 6
0.42 x -17.8

f. Titik 6 ke titik 1
0.42 x 16,42

6. Ketinggian setelah di koreksi

a. Titik 1 ke titik 2
= 765+ 16.4-68.9
b. Titik 2 ke titik 3
= 712.441 1,05 +4,41
c. Titik 3 ke titik 4
768,36 23,9+100.68
d. Titik 4 ke titik 5
841.71 + 16.25 68.28
e. Titik 5 ke titik 6
712,9 17,79 + 74.73
f. Titik 6 ke titik 1

821.94 + 16,42-68.98

I.

Analisa
Pada percobaan kompas geologi ini, kita membuat 6 titik lintasan yang
diusahakan berbentuk seperti poligon (segienam). Jarak yang dibuat antar titik ialah 25 meter.
Pertama-tama, kita menentukan dahulu titik awalnya dimana, itulah titik pertama, kemudian
kita cari sudut miringnya. Kompas dibuka 90

lalu dimiringkan tegak lurus dengan bidang

datar tanah arah WEST. Bidik objek, setelah objek terbidik, kunci kompas dan lihat jarum
kompasnya. Kemudian, kita mengukur azimuuthnya. Sejajarkan kompas dengan bidang datar
tanah, lalu arahkan jarum kompas ke arah utara. Jika sudah, bidik objek dan lihat perubahan
jarum utara kompas, berapa sudutnya, kunci kompas,dan catat. Pengamatan-pengamatan
tersebut dilakukan 3 kali, agar dapat kita cari rata-ratanya.
Setelah itu, praktikum selesai, dan tinggal melakukan pengolahan data. Data yang
diolah bertujuan untuk mencari beda tinggi tanahnya. Logikanya, bila kita mengetahui titik 1
adalah 765 mdpl, maka setelah pengamatan dari titik 1 ke titik 2, titik 2 ke titik 3, titik 3 ke
titik 4, titik 4 ke titik 5, titik 5 ke titik 6 dan terakhir titik 6 ke titik 1, maka harusnya setelah
datanya diolah, hasilnya harus kembali sama pada titik awal, yaitu 765 mdpl.

tinggi

pada

praktikum

ini

apabila

digambarkan

akan

seperti

Ketinggian

Ja
ra
k

Beda

Pe
n
ga
m

at
an

= sudut miring

Hasilnya kami memulai dari titik awal setelah dikoreksi 712,44 dan kembali lagi
titik awal 712.44. hal ini dikarenakan pengukuran kami berbentuk loop atau lintasan yang
tertutup. Mengapa kami perlu mengkoreksinya? Karena mungkin saja ada beberapa kesalahan
dari penhitungan kami. Kami memperkirakan beberapa faktor yang mendukung adanya
kesalahan yaitu kesalahan dalam pemegangan kompas yang tidak stabil, dan juga pergerakan
tangan ketika mengunci kompas untuk membaca kompas. Alasan kedua disebabkan karena
belum terbiasanya praktikan dalam menengok sudut melalui cermin, sehingga mau tidak
mau harus dikunci dahulu baru dibaca. Praktikan sebenarnya menyadari kadang kuncinya
tidak selalu tertekan. Alasan pertama, karena tangan manusia tidak bisa diam, jadi pasti ada
saja gerakan-gerakan yang membuat kompas tidak stabil. Gelembung dalam kompasnya pun
lumayan sulit untuk diketengahkan. Dalam pembacaan azimuth juga sering kali praktikan
tidak teliti dalam melihatnya, akibatnya sudut yang terbaca bisa salah dan mengakibatkan
tinggi awal tidak sama dengan tinggi akhir.
Dapat kita lihat beda tinggi antara satu titik dan titik yang lain berbeda-beda
tergantung berapa besar sudut kemiringannya. Semakin besar sudut kemiringannya semakin
besar pula beda tingginya. Sementara untuk jarak datar, semakin besar sudut kemiringannya

semakin kecil jarak datarnya. Dan dalam pengambilan sudut azimuth semakin ke bawah nilai
sudutnya semakin besar, karena seharusnya membentuk suatu poligon tertutup yang
mengelilingi, tetapi ada satu yang nilainya kecil. Dan dapat kita lihat bahwa jarak miring dan
jarak datar itu nilainya berbeda.

II. KESIMPULAN
Untuk menentukan azimuth, kita dapat menggunakan kompas geologi dengan
membaca jarum penunjuk pada lingkaran besarnya yang berisi sudut dari nol sampai 360
derajat.
Klinometer dapat digunakan untuk menentukan sudut kemiringan, dengan cara
membidik target dan mengatur agar gelembung pada klinometer tepat di tengah kemudian
membaca skala yang kecil yang sudutnya berkisar antara 0 sampai 90 derajat.
Untuk menentukan jarak datar dan beda tinggi digunakan rumus trigonometri
dengan menggunakan sudut kemiringan yang didapatkan. Sementara untuk ketinggian cukup
menambahkan beda tinggi dengan ketinggian titik nol yang telah diketahui.
Sketsa lokasi dapat dibuat dengan acuan sudut azimuth dan jarak datarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ir. Wartono raharjo, Metode Geologi Lapangan 2007 Universitas Gajah Mada

http:// korpcitaka. Word press.com/ 27-03-2012/ Navigasi Darat

http:// Geo-tek.blogspot.com/27-03-2012/ Kompas Geologi dan Cara Penggunaannya

http://www.scribd.com/ 27-03-2012/ Macam-macam Kompas

http://meta-tarunaminerzcomunity.blogspot.com/2012/05/cara-menggunakan-kompasbrunton-kompas.html

http://geologiminyak.blogspot.com/2012/03/fungsi-kompas-geologi.html