Anda di halaman 1dari 45

KONSTRUKSI BANGUNAN

10 ARTIKEL TENTANG KONSTRUKSI BANGUNAN

DISUSUN OLEH

TEKNIK SIPIL

FAK U LTAS T E K N I K

U N I V E R S I TAS N E G E R I M E D AN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana.
Dalam sebuah bidang arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi juga dikenal sebagai
bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area atau pada beberapa area. Secara
ringkas konstruksi didefinisikan sebagai objek keseluruhan bangunan yang terdiri dari
bagian-bagian struktur. Misal, Konstruksi Struktur Bangunan adalah bentuk/bangun
secara keseluruhan dari struktur bangunan.
Konstruksi dapat juga didefinisikan sebagai susunan (model, tata letak) suatu
bangunan (jembatan, rumah, dan lain sebagainya). Walaupun kegiatan konstruksi dikenal
sebagai satu pekerjaan, tetapi dalam kenyataannya konstruksi merupakan satuan kegiatan
yang terdiri dari beberapa pekerjaan lain yang berbeda.
Pada umumnya kegiatan konstruksi diawasi oleh manajer proyek, insinyur disain,
atau arsitek proyek. Orang-orang ini bekerja di dalam kantor, sedangkan pengawasan
lapangan biasanya diserahkan kepada mandor proyek yang mengawasi buruh bangunan,
tukang kayu, dan ahli bangunan lainnya untuk menyelesaikan fisik sebuah konstruksi.
Untuk keberhasilan pelaksanaan proyek konstruksi, perencanaan yang efektif
sangatlah penting. Hal ini terkait dengan rancang-bangun (desain dan pelaksanaan)
infrastruktur yang mempertimbangkan mengenai dampak pada lingkungan / AMDAL,
metode penentukan besarnya biaya yang diperlukan / anggaran, disertai dengan jadwal
perencanaan yang baik,keselamatan lingkungan kerja, ketersediaan material bangunan,
logistik, ketidaknyamanan publik terkait dengan yang disebabkan oleh keterlambatan
persiapan tender dan penawaran, dll.
Yang dimaksud dengan ilmu bangunan gedung dan juga ilmu bangunan teknik
sipil ialah ilmu pengetahuan yang digunakan untuk perencanaan dan pelaksanaan
pembuatan bangunan dan juga perbaikan bangunan. Bangunan teknik sipil juga disebut
bangunan "HIKMAT"; disamping bangunan ini diusahakan murah, syarat-syarat untuk
pendirianya juga harus diikut sertakan, baik syarat bahan yang digunakan, syarat
konstruksi maupun syarat pelaksanaan pembuatan bangunannya. Ilmu bangunan gedung

termasuk ilmu bangunan teknik sipil, yang khusus mempelajari gedung-gedung.


Bangunan sebagai yang dimaksud di atas meliputi :
a) Bangunan sebagai suatu benda hasil karya orang dengan tujuan untuk
kepentingan tertentu dari seseorang atau sekumpulan orang. Karena bentuknya
besar, benda tersebut tidak dapat dipindahkan atau digerakan, kecuali dengan
cara dibongkar.
b) Bangunan yang bersifat penambahan atau perubahan dari sesuatu yang telah ada,
dengan sesuatu tujuan tertentu atau untuk kepentingan seseorang atau
sekumpulan orang.
Rumah dibuat oleh orang untuk kepentingan tempat tinggal, kantor dibuat untuk
kepentingan pelayanan masyarakat, pabrik untuk kepentingan industri. oleh karenanya
benda-benda itu disebut bangunan. Jembatan, bendungan dibuat oleh orang dengan
tujuan prasarana kemakmuran masyarakat, karenanya benda-benda itu disebut juga
bangunan. Lemari dibuat oleh orang untuk menyimpan barang-barang, bangku untuk
tempat duduk, tetapi benda-benda itu dapat dipindahkan ke lain tempat, oleh karenanya
benda-benda itu tidak boleh dinamakan bangunan. Untuk membuat bangunan tersebut di
atas biasanya dikerjakan tidak hanya satu orang, tetapi kadang-kadang puluhan, ratusan,
bahkan ribuan orang, tergantung besar-kecilnya suatu bangunan yang akan dibuat.

BAB II

KONSTRUKSI BANGUNAN

1. PONDASI BANGUNAN
Pondasi merupakan komponen/ struktur paling bawah dari sebuah bangunan,
meski tidak terlihat secara langsung saat bangunan sudah selesai, namun secara fungsi
struktur, keberadaan pondasi tidak boleh terabaikan. Perlu perencanaan yang matang,
karena salah satu faktor yang mempengaruhi keawetan atau keamanan bangunan adalah
pondasi.
Dalam menentukan jenis, ukuran, dan konstruksi pondasi harus memperhatikan
jenis bangunan, beban bangunan, kondisi tanah, dan faktor-faktor lain yang berpengaruh
secara langsung maupun tidak langsung. Karena fungsi pondasi adalah sebagai
perantara untuk meneruskan beban struktur yang ada di atas muka tanah dan gayagaya lain yang bekerja ke tanah pendukung bangunan tersebut. Dengan demikian,
sebaiknya perlu perhitungan matang dan tidak hanya berdasar kebiasaan setempat.
Karena sering ditemui, banyak yang membuat rumah hanya didasari dari kebiasaan
masyarakat.
Sebagai contoh: Sebuah rumah sudah mengalami retak pada dindingnya, padahal
konstruksinya sudah sangat kuat, mulai dari sloof, kolom, dinding, semua menggunakan
konstruksi yang kuat. Tapi ada yang terlupakan, tanah yang dipergunakan untuk
membangun rumah saat ini adalah bekas sawah, sehingga kondisi tanah belum stabil,
sedangkan pondasi yang digunakan adalah pondasi yang biasa digunakan diwilayah
tersebut.
Pondasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu pondasi dangkal dan pondasi
dalam. Seperti sebagai berikut:
Pondasi dangkal
Jenis pondasi dangkal kedalaman masuknya ke tanah relatif dangkal, hanya
beberapa meter masuknya ke dalam tanah. Salah satu tipe yang sering digunakan ialah
pondasi menerus yang biasa pada rumah-rumah,dibuat dari beton atau pasangan batu,

meneruskan beban dari dinding dan kolom bangunan ke tanah keras. Berikut yang
termasuk pondasi dangkal diantaranya:
Pondasi Umpak. Biasanya jenis pondasi ini digunakan pada rumah adat, rumah
kayu, atau rumah tradisional jaman dulu.
Pondasi Batu Bata / rollag bata. Jenis pondasi yang dibuat dengan bahan dasar
batu bata. Dalam pemasangannya disusun sedemikian rupa sehingga dapat
menahan berat bangunan yang ada di atasnya dan meneruskanya ke tanah.
Pada awalnya pondasi rollag bata merupakan pondasi yang diaplikasikan
untuk menopang berat beban pada bangunan. Namun, pada saat ini pondasi
rollag bata telah lama ditinggalkan.Selain mahal, pemasangannya pun
membutuhkan waktu yang lama serta tidak memiliki kekuatan yang bisa
diandalkan. Akan tetapi, pondasi ini tetap digunakan untuk menahan beban
ringan, misalnya pada teras.
Pondasi Batu Kali. Jenis pondasi yang bahan dasarnya batu kali. Pondasi batu
kali sering kita temuin pada bangunan bangunan rumah tinggal.Pondasi ini
masih digunakan, karena selain kuat, pondasi ini pun masih termasuk
murah.Bentuknya yang trapesium dengan ukuran tinggi 60 80 Cm, lebar
pondasi bawah 60 80 Cm dan lebar pondasi atas 25 30 Cm. Bahan lain
yang murah sebagai alternatif pengganti pondasi batu kali adalah
memanfaatkan bongkaran bekas pondasi tiang pancang ( Bore Pile ) atau
beton bongkaran jalan. Bekas bongkaran tersebut cukup kuat digunakan untuk
pondasi, sebab mutu beton yang digunakan ialah K-250 s/d K300.Permukaannya yang tajam dan kasar mampu mengikat adukukan semen
dan pasir.Bila dibandingkan dengan pondasi rollag bata, tentu bongkaran
bekas beton jauh lebih kuat. Ukurannya rata rata 30 x 30 cm.
Pondasi bor mini (Strauss Pile). Pondasi bor mini atau strauss pile ini digunakan
pada kondisi tanah yang jelek, seperti bekas empang atau rawa yang lapisan
tanah kerasnya berada jauh dari permukaan tanah.Pondasi ini bisa digunakan
untuk rumah tinggal sederhna atau bangunan dua lantai. Kedalamannya 2 5
meter. Ukuran diameter pondasi mulai dari 20, 30 dan 40 Cm. Pengerjaannya

dengan mesin bor atau secara manual.Di atas pondasi bor mini ada blok beton
( pile cap ).Pile cap ini merupakan media untuk mengikat kolom dengan sloof.
Pondasi Telapak/ Footplat
Dll
2. PONDASI TIANG PANCANG
Jenis pondasi dalam digunakan untuk menyalurkan beban bangunan melewati
lapisan tanah yang lemah di bagian atas ke lapisan bawah yang lebih keras. Contohnya
antara lain tiang pancang, tiang bor, kaison, dan semacamnya. Penyebutannya dapat
berbeda-beda tergantung disiplin ilmu atau pasarannya. Sebagai bagian dari pondasi
dalam diantaranya:

Pondasi tiang pancang (driven pile). Tiang pancang pada dasarnya sama dengan
bore pile, hanya sja yang membedakan bahan dasarnya.Tiang pancang
menggunakan beton jadi yang langsung ditancapkan langsung ketanah dengan
menggunakan mesin pemancang.Karena ujung tiang pancang lancip menyerupai
paku, oleh karena itu tiang pancang tidak memerlukan proses pengeboran.

Pondasi tiang bor (bored pile) adalah pondasi yang kedalamannya lebih dari 2
meter.Digunakan untuk pondasi bangunan bangunan tinggi.Sebelum memasang
bore pile, permukaan tanah dibor terlebih dahulu dengan menggunakan mesin bor.
Hingga menemukan daya dukung tanah yang sangat kuat untuk menopang
pondasi.Setelah itu tulang besi dimasukan kedalam permukaaan tanah yang telah
dibor, kemudian dicor dengan beton.Pondasi ini berdiameter 20 Cm keatas.Dan
biasanya pondasi ini terdiri dari 2 atau lebih yang diatasnya terdapat pile cap.
Pondasi didesain agar memiliki kapasitas dukung dengan penurunan / settlement

tertentu oleh para Insinyur geoteknik dan struktur. Desain utamanya mempertimbangkan
penurunan dan daya dukung tanah, dalam beberapa kasus semisal turap, defleksi /
lendutan pondasi juga diikutkan dalam perteimbangan. Ketika berbicara penurunan,
yang diperhitungkan biasanya penurunan total (keseluruhan bagian pondasi turun
bersama-sama) dan penurunan diferensial (sebagian pondasi saja yang turun / miring).
Ini dapat menimbulkan masalah bagi struktur yang didukungnya.

Daya dukung pondasi merupakan kombinasi dari kekuatan gesekan tanah


terhadap pondasi( tergantung pada jenis tanah, massa jenisnya, nilai kohesi adhesinya,
kedalamannya, dsb), kekuatan tanah dimana ujung pondasi itu berdiri, dan juga pada
bahan pondasi itu sendiri. Dalamnya tanah serta perubahan-perubahan yang terjadi di
dalamnya amatlah sulit dipastikan, oleh karena itu para ahli geoteknik membatasi beban
yang bekerja hanya boleh, biasanya, sepertiga dari kekuatan desainnya.
Beban yang bekerja pada suatu pondasi dapat diproyeksikan menjadi:

Beban horizontal/beban geser, contohnya beban akibat gaya tekan tanah, transfer

beban akibat gaya angin pada dinding.


Beban vertikal/beban tekan dan beban tarik, contohnya:
Beban mati, contoh berat sendiri bangunan
Beban hidup, contoh beban penghuni, air hujan dan salju
Gaya gempa
Gaya angkat air
Momen
Torsi

3. SLOOF
Sloof adalah struktur bangunan yang terletak di atas pondasi bangunan. Sloof
berfungsi mendistribusikan beban dari bangunan atas ke pondasi, sehingga beban yang
tersalurkan setiap titik di pondasi tersebar merata. Selain itu sloof juga berfungsi sebagai
pengunci dinding dan kolom agar tidak roboh apabila terjadi pergerakan tanah. Sebagai
tambahan pada sloof, untuk bangunan tahan terhadap gempa maka disempurnakan pada

ikatan antara sloof dengan pondasi yaitu dengan memberikan angker dengan beri
diameter 12 mm dengan jarak 1,5 meter. namun angka ini dapat berubah untuk bangunan
yang lebih besar atau bangunan bertingkat banyak.
Secara singkat, Sloof adalah beton bertulang yang diletakkan secara horisontal di
atas pondasi. Sehingga setiap beban yang diterima suatu kolom, akan tersebar merata
pada seluruh pondasi. Selain itu, sloof berfungsi sebagai pengikat antara dinding pondasi
dengan kolom.
Dimensi sloof yang sering digunakan pada bangunan rumah tinggal lantai satu ,
lebar 15 cm, tinggi 20 cm, besi beton tulangan utama menggunakan 4 buah diameter 10
mm (4 d 10 ) sedangkan untuk begel menggunakan diameter 8 mm berjarak
15 cm ( d 8 15).Dibawah ini gamabar sloof untuk bangunan rumah tinggal lantai satu.
Secara garis besar sloof merupakan bagian dari beton bertulang yang diletakkan
secara horizontal di atas pondasi. Sloof biasanya terbuat dari konstruksi beton bertulang.
Namun berdasarkan konstruksinya ada beberapa macam sloof, antara lain :
1. Konstruksi Sloof dari Kayu. Pada konstruksi rumah panggung dengan pondasi
tiang kayu (misalnya di atas pondasi setempat), sloof dapat dibentuk sebagai
balok pengapit. Jika sloof dari kayu terletak di atas pondasi lajur dari batu atau
beton, maka dipilih balok tunggal.
2. Konstruksi Sloof dari Batu Bata. Rolag dibuat dari susunan batu bata yang
dipasang secara melintang dan yang diikat dengan adukan pasangan ((1 bagian
portland semen : 4 bagian pasir). Konstruksi rolag tidak memenuhi syarat untuk
membagi beban.
3. Konstruksi Sloof dari Beton Bertulang. Konstruksi sloof ini dapat digunakan di
atas pondasi batu kali apabila pondasi tersebut dimaksudkan untuk bangunan
tidak bertingkat dengan perlengkapan kolom praktis pada jarak dinding kurang
lebih 3 m. Ukuran lebar / tinggi sloof beton bertulang adalah >15 / 20 cm.
Konstruksi sloof dari beton bertulang juga dapat dimanfaatkan sebagai balok
pengikat pada pondasi tiang.

Adapun fungsi sloof adalah sebagai berikut :

1. Sebagai pengikat kolom.


2. Meratakan gaya beban dinding ke pondasi.
3. Menahan gaya beban dinding.
4. Sebagai balok penahan gaya reaksi tanah yang disalurkan dari pondasi lajur.

4. KOLOM
Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban
dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan
penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi
kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga
runtuh

total

(total

collapse)

seluruh

struktur

(Sudarmoko,

1996).
SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur
bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian
tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.
Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila
diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah

bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan
dan beban lain seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan
angin.
Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh. Beban
sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban atap akan meneruskan beban yang
diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang diterima kolom didistribusikan ke permukaan
tanah di bawahnya. Kesimpulannya, sebuah bangunan akan aman dari kerusakan bila
besar dan jenis pondasinya sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus
benar-benar sudah mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan
meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat, terutama untuk
konstruksi rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman tanah kerasnya agar bila tanah
ambles atau terjadi gempa tidak mudah roboh.
Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan
gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang
tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan. Gabungan kedua
material ini dalam struktur beton memungkinkan kolom atau bagian struktural lain
seperti sloof dan balok bisa menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan.
Jenis-Jenis kolom Menurut Wang (1986) dan Ferguson (1986) jenis-jenis kolom ada tiga:
1.Kolom ikat (tie column)
2.Kolom spiral (spiral column)
3.Kolom komposit (composite column)
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan dipohusodo, 1994) ada tiga jenis kolom
beton bertulang yaitu :
1. Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan kolom
beton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada
jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan
ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh
pada tempatnya.
2. Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan yang pertama
hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral
yang dililitkan keliling membentuk heliks menerus di sepanjang kolom.
Fungsi dari tulangan spiral adalah memberi kemampuan kolom untuk
menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu mencegah
terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan
tegangan terwujud.

3. Struktur kolom komposit, merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat


pada arah memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa
diberi batang tulangan pokok memanjang.
Kolom Utama adalah kolom yang fungsi utamanya menyanggah beban utama yang
berada diatasnya. Untuk rumah tinggal disarankan jarak kolom utama adalah 3.5 m, agar
dimensi balok untuk menompang lantai tidak tidak begitu besar, dan apabila jarak antara
kolom dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur bangunan harus dihitung. Sedangkan
dimensi kolom utama untuk bangunan rumah tinggal lantai 2 biasanya dipakai ukuran
20/20, dengan tulangan pokok 8d12mm, dan begel d 8-10cm ( 8 d 12 maksudnya jumlah
besi beton diameter 12mm 8 buah, 8 10 cm maksudnya begel diameter 8 dengan jarak
10 cm).
Kolom Praktis Adalah kolom yang berfungsi membantu kolom utama dan juga
sebagai pengikat dinding agar dinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5 meter, atau
pada pertemuan pasangan bata, (sudut-sudut). Dimensi kolom praktis 15/15 dengan
tulangan beton 4 d 10 begel d 8-20.
Kolom portal harus dibuat terus menerus dari lantai bawah sampai lantai atas,
artinya letak kolom-kolom portal tidak boleh digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan
menghilangkan sifat kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus dihindarkan
denah kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai. Ukuran kolom makin ke
atas boleh makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang didukungnya makin ke atas
juga makin kecil. Perubahan dimensi kolom harus dilakukan pada lapis lantai, agar pada
suatu lajur kolom mempunyai kekakuan yang sama.
Prinsip penerusan gaya pada kolom pondasi adalah balok portal merangkai kolomkolom menjadi satu kesatuan. Balok menerima seluruh beban dari plat lantai dan
meneruskan ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan kolom adalah jepit-jepit,
yaitu suatu sistem dukungan yang dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya
horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, di bagian pangkal pada pertemuan dengan
kolom, boleh ditambah tebalnya.

5. KONSTRUKSI DINDING BANGUNAN


Pengertian Dinding

Dinding adalah suatu struktur padat yang membatasi dan kadang melindungi
suatu area. Umumnya, dinding membatasi suatu bangunan dan menyokong struktur
lainnya, membatasi ruang dalam bangunan menjadi ruangan-ruangan, atau melindungi
atau membatasi suatu ruang di alam terbuka. Tiga jenis utama dinding struktural adalah
dinding bangunan, dinding pembatas (boundary), serta dinding penahan (retaining).
Dinding bangunan memiliki dua fungsi utama, yaitu menyokong atap dan langitlangit, membagi ruangan, serta melindungi terhadap intrusi dan cuaca. Dinding pembatas
mencakup dinding privasi, dinding penanda batas, serta dinding kota. Dinding jenis ini
kadang sulit dibedakan dengan pagar. Dinding penahan berfungsi sebagai penghadang
gerakan tanah, batuan, atau air dan dapat berupa bagian eksternal ataupun internal suatu
bangunan.
Dinding merupakan salah satu elemen bangunan yang berfungsi memisahkan/
membentuk ruang. Ditinjau dari segi struktur dan konstruksi, dinding ada yang berupa dinding
partisi/ pengisi (tidak menahan beban) dan ada yang berupa dinding struktural (bearing wall).
Dinding pengisi/ partisi yang sifatnya non struktural harus diperkuat dengan rangka (untuk kayu)
dan kolom praktis-sloof-ringbalk (untuk bata). Dinding dapat dibuat dari bermacam-macam
material sesuai kebutuhannya, antara lain :
a. Dinding batu buatan : bata dan batako
b. Dinding batu alam/ batu kali
c. Dinding kayu: kayu log/ batang, papan dan sirap

d. Dinding beton (struktural dinding geser, pengisi clayding wall/ beton pra cetak)

Jenis jenis dinding dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu, sebagai
berikut:
a) Dinding Batu Bata
Dinding bata merah terbuat dari tanah liat/ lempung yang dibakar. Untuk dapat
digunakan sebagai bahan bangunan yang aman maka pengolahannya harus memenuhi standar
peraturan bahan bangunan Indonesia NI-3 dan NI-10 (peraturan bata merah). Dinding dari
pasangan bata dapat dibuat dengan ketebalan 1/2 batu (non struktural) dan min. 1 batu
(struktural). Dinding pengisi dari pasangan bata 1/ 2 batu harus diperkuat dengan kolom praktis,
sloof/ rollag, dan ringbalk yang berfungsi untuk mengikat pasangan bata dan menahan/
menyalurkan beban struktural pada bangunan agar tidak mengenai pasangan dinding bata tsb.
Pengerjaan dinding pasangan bata dan plesterannya harus sesuai dengan syarat-syarat yang ada,
baik dari campuran plesterannya maupun teknik pengerjaannya.

b) Dinding Batako
Batako merupakan material untuk dinding yang terbuat dari batu buatan/ cetak yang
tidak dibakar. Terdiri dari campuran tras, kapur (5 : 1), kadang kadang ditambah PC. Karena
dimensinya lebih besar dari bata merah, penggunaan batako pada bangunan bisa menghemat
plesteran 75%, berat tembok 50% - beban pondasi berkurang. Selain itu apabila dicetak dan
diolah dengan kualitas yang baik, dinding batako tidak memerlukan plesteran+acian lagi untuk
finishing.

Prinsip pengerjaan dinding batako hampir sama dengan dinding dari pasangan bata,antara lain:
a. Batako harus disimpan dalam keadaan kering dan terlindung dari hujan.
b. Pada saat pemasangan dinding, tidak perlu dibasahi terlebih dahulu dan tidak boleh
direndam dengan air.
c. Pemotongan batako menggunakan palu dan tatah, setelah itu dipatahkan pada kayu/
batu yang lancip.
d. Pemasangan batako dimulai dari ujung-ujung, sudut pertemuan dan berakhir di tengah
tengah.
e. Dinding batako juga memerlukan penguat/ rangka pengkaku terdiri dari kolom dan
balok beton bertulang yang dicor dalam lubang-lubang batako. Perkuatan dipasang
pada sudut-sudut, pertemuan dan persilangan.

c) Dinding kayu

Kontruksi dinding seperti ini umumnya ditemui pada rumah-rumah tradisional di eropa
timur. Terdiri dari susunan batang kayu bulat atau balok. Sistem konstruksi seperti ini tidak
memerlukan rangka penguat/ pengikat lagi karena sudah merupakan dinding struktural.

d) Dinding kayu
Dinding papan biasanya digunakan pada bangunan konstruksi rangka kayu. Papan
digunakan untuk dinding eksterior maupun interior, dengan sistem pemasangan horizontal dan
vertikal. Konstruksi papan dipaku/ diskrup pada rangka kayu horizontal dan vertikal dengan
jarak sekitar 1 meter (panjang papan di pasaran 2 m, tebal/ lebar beraneka ragam : 2/ 16, 2/20,
3/ 25, dll). Pemasangan dinding papan harus memperhatikan sambungan/ hubungan antar papan
(tanpa celah) agar air hujan tidak masuk. Selain itu juga harus memperhatikan sifat kayu yang
bisa mengalami pemuaian dan susut.

e) DINDING SIRAP
Dinding sirap untuk bangunan kayu merupakan material yang paling baik dalam
penyesuaian terhadap susut dan muai. Selain itu juga memberikan perlindungan yang baik
terhadap iklim, tahan lama dan tidak membutuhkan perawatan. Konstruksi dinding sirap dapat
dipaku (paku kepala datar ukuran 1) pada papan atau reng, dengan 2 4 lapis tergantung
kualitas sirap. (panjang sirap 55 60 cm).

f)

Dinding batu alam


Dinding batu alam biasanya terbuat dari batu kali utuh atau pecahan batu cadas. Prinsip

pemasangannya hampir sama dengan batu bata, dimana siar vertikal harus dipasang selangseling. Untuk menyatukan batu diberi adukan (campuran 1 kapur : 1 tras untuk bagian dinding
dibawah permukaan tanah, dan PC : 1 kapur : 6 pasir untuk bagian dinding di atas permukaan
tanah). Dinding dari batu alam umumnya memiliki ketebalan min. 30 cm, sehingga sudah cukup
kuat tanpa kolom praktis, hanya diperlukan.

6. Beam Structural
Beam is a structural part of a building that is rigid and designed to bear and
transfer the load to the cantilever column elements . In addition it also serves as a scree
ring binder beam columns so that when there is movement of the columns remain united
retain its original shape and position . Ring beams are made of the same material as the
column so that the relationship with the ring beam column
Yes is not easily changed face. Rigid style can lead to non-uniform curved beams
or deflection should be retained by the internal strength of the material.

Several types of beams , among others :


Simple beam resting on the tip - end column , with one end rotates freely and
does not have a lasting moment . As with other static structures , the value of all the
reactions , shifts and moments for a simple beam is not dependent cross-sectional shape
and material .
Cantilever beam that is projected or other rigid structure supported only at one
end fixed
Eaves beam is a simple beam that extends past one column pedestal .
Beam with fixed ends ( associated strongly ) resist translational and rotational
Stretch of simple beams suspended is supported by teristisan construction of
two spans with a pin connection at the moment of zero .
Continuous beams extending continuously passed over two columns pedestal to
produce greater rigidity and smaller moments of a series of beams are not continuous
with the same length and load .
Beam split of some sort , namely :

Wooden Beams
Wooden beams prop up the board or the structural deck . Beams can be sustained

by the beam , pole , or load-bearing walls .


Steel Beams
Steel beams or steel deck shoring precast concrete planks . Beams can be

supported by the beam ( girder ) , columns , or load-bearing walls .


Concrete Beams
Concrete slab cast-in- place are categorized according to stretch and shape of the

mold .
WOOD BEAM
In the selection of wooden beams , the following factors must be considered : the
type of wood , structural quality , modulud elasticity , the value of buckling stress
, shear stress values are allowed and minimum deflection which allowed for a
particular use . In addition , note the accurate loading conditions and the type of

connection used .
Glue laminated timber beams

Glue laminated timber made with quality wood laminate tense with adhesive
material under controlled conditions , usually parallel to the wood grain all sheets
. Excess glue laminated wood than solid wood in general is the voltage limits of
larger, more attractive appearance and availability of cross-sectional shape of the
fallow gam . Wood laminate glue to put together the edges with a scarf and finger
corresponding connection desired length , or edges glued to the width or depth

greater .
Fibrous wood beams parallel
Wood fiber parallel or called Parallel Strand Lumber ( PSL ) is a structural timber
made with long fibers bind together wood under heat and pressure using a waterresistant adhesive . PSL is a proprietary product under the trademark Parallam ,
used as beams and columns in the construction of beams and beam - columns ,

headers , and the lintel on light frame construction .


Laminated veneer lumber beams
Laminated wood veneer or laminated veneer lumber ( LVL ) is a wood product
that is made with a layer of plywood bind together under heat and pressure using
water-resistant adhesive material . Having vein longitudinal direction of the wood
fibers produce a strong uniform when it ends as beams or surface burdened

burdened as papan.LVL used as headers and beams .


STEEL BEAM
Beam , beams , structural steel columns are used to build the framework of a
variety of structures to include a one-story building skyscrapers . Because
structural steel is usually difficult to do location then cut , shaped , and perforated
in a factory fit design specifications . The result is a structural frame construction
that is relatively fast and accurate . Structural steel can be left exposed to the fireresistant construction that are not protected , but because it can lose strength steel
drastically because of the fire , the fire -proof coating takes to qualify as a fireresistant construction .
Shaped steel beam wide - flange ( W ) which is more efficient structurally has
replaced the classical form of the I - beam ( S ) . Beam can also be shaped
channel ( C ) , structural tube ,

STEEL BEAM
Beam , beams , structural steel columns are used to build the framework of a
variety of structures to include a one-story building skyscrapers . Because
structural steel is usually difficult to do location then cut , shaped , and perforated
in a factory fit design specifications . The result is a structural frame construction

that is relatively fast and accurate . Structural steel can be left exposed to the fireresistant construction that are not protected , but because it can lose strength steel
drastically because of the fire , the fire -proof coating takes to qualify as a fireresistant construction .
Simply put , as the beam bending element is used as an important element in the
construction . Beam has a more complicated internal characteristics in burden compared
with other types of structural elements . Continuous beam with more than two points
over a pedestal and pedestal -flops are statically indeterminate structure . Statically
indeterminate structure is a structure that reaction , shear force , and bending moment
can not be determined directly by using the basic balance equation Fx = 0 , Fy = 0 and
Fz = 0 . Statically indeterminate beams are also often used in practice , because it is
more rigid structure to a landscape and load conditions rather than particular static
structure . So it can be smaller in size . Statically indeterminate structure loss is a
decrease in sensitivity to the pedestal and thermal effects .

1) Beam Design Principles


In the existing structural system in the building , the beam element is the most
widely used elements with repeating patterns . This pattern generally use hierarchical
arrangement of beams , where the load on the surface initially borne by the surface
element passed to the secondary structural elements , and then forwarded to the collector
or pedestal . The bigger the load , which is accompanied by an increase in length ,
generally increases the size or height of an element structure . Hierarchical arrangement
can vary widely , but commonly used arrangement is one and two levels . While the
arrangement is the arrangement of the three levels of maximum use. For a particular
landscape , in general, the system can be used with a variety of levels . The size of the
structural elements for each system can be determined based on landscape analysis ,
loads and materials . There are some basic criteria that must be met , among others : the
ability of serviceability , efficiency , ease .
Actual voltage arising in the beam depends on the magnitude and distribution of
material in the cross-section structural elements . The greater the voltage , the smaller
beam . Cross-sectional area and load distribution is important . The higher an element ,

the stronger its ability to carry bending . Basic variables are important in the design is
that there is a large load , the distance between the loads and the behavior of the beam
pedestal conditions . The condition is more rigid than the pedestal pinch the edges can
rotate freely . Beams with pedestal clamp can carry the load concentrated at midspan two
times greater than the same beam is not clamped edges . Type and general behavior of
the beam.
Bending loads on the beam caused the internal forces , stress and deformation .
Style as well as the moments in a row is called shear force and bending moment . In
order for the balance on the part of the structure is obtained for the structure shown in
part , a set of internal force that inevitably arise in the structure of net effect is to produce
a rotational moment equal but opposite to the external bending moment and vertical
force equal and opposite to the external shear forces .
2) Beam analysis
a. voltage Flexible
In general the behavior of the beam , the bending stress varies linearly on a cross
section of a response to the action of external bending moment is on the beam at that
point . The relationship between bending stress ( fy ) , loaksi parameter ( y ) and the
magnitude of the cross-section ( I) can be expressed in the following relationship :
For the price of a certain moment , when the high beams to two times ( while the fixed
width ) , will cause the bending stress decreases by a factor of . Bending stress is not
very sensitive to changes in the width of the cross section . For high torque and constant
cross section , widening the cross section twice to reduce bending stress in half . For
asymmetrical cross-section , the determination of the location of the centers of gravity
are not right in the middle -section . The process of determining the cross-sectional
dimensions of the beam that bears the simple symmetrical bending moment is not
difficult . At first the materials chosen so that the allowable stress is known .
Furthermore, the required size of the cross section is determined by the level of actual
bending stress in the beam to be equal to or smaller than the bending stress level
permission . If the actual voltage at that point exceeded the allowable stress , then the
beam is seen experiencing excess stress and it is not allowed .
b . Lateral buckling on the beam
In the loaded beam lateral buckling can occur and collapse occurred before the
entire cross-section strength is reached . The phenomenon of lateral buckling in beams
similar to those that occur in trusses. Instability occurs in the lateral direction due to

compressive force arising in the area above the beam , accompanied by insufficient beam
stiffness in the lateral direction . It is assumed that the lateral buckling type of failure
may occur , and depending on the cross section of the beam , at a relatively low voltage
levels

Lateral buckling prevention can be done by:


by making the beam is quite stiff in the lateral direction
by using stiffener / lateral bracing .
If the beam is used to rivet the roof cap or other secondary systems , restraint by
itself given by the secondary element . If the beam is used in situations where the
type of restraint may not be used , then the beam can be made to be stiff in the
lateral direction by increasing the transverse dimension in the area above the
beam . The use of some lateral bracing on the wooden beam structure . Types and
use of lateral bracing is also determined by the ratio between the height and

width of the beam.


Shear
The resultant force of the shear stress , ie internal shear force ( VR ) at large , but
opposite in direction to the external shear forces ( VE ) . The maximum shear
stress in the beam cross section is 1.5 times the average shear stress quadrilateral

cross-section beam .
voltage Porcelain Fulcrum voltage is the voltage arising at the contact area
between the two structural elements . An example is the voltage that occurs at the
ends of a simple beam located above the pedestal end with specific dimensions .
Many materials , such as wood , which is very prone to failure due to stress
fulcrum . If the distributed compressive load , the compressive stress failure
usually occurs , and this is demonstrated by the destruction of the material . This

failure is usually localized , and are best avoided .


Torque
Torque is the twisting , resulting in structural elements when given torque MT
directly or indirectly . Torsional shear stress on structural elements that arise as a

result of torsional moments acting on it.


Center Slide
illustration of the shear center (shear center ) on the beam . In the cross-section is
not symmetric , the provision could lead to torsional loads . By applying the load
through the ' sliding hub ' beam , it will only happen supple , without any twist .
Asymmetrical cross-section shear center is often located outside the cross-section

Deflection
Span beam deflection due to the deflection of the beam due to the load .
Deflection at a point depends on the load P or w , beam span length L , and

inversely proportional to the stiffness of the beam .


Primary voltage
On the beam , the interaction between bending stress and shear stress is a normal
stress can press or pull , which is referred to as the primary voltage . Axial stress
direction is generally different from the direction of the bending stress and shear
stress . The main voltage line can be described below , which is an implication in

the mechanism of the existing load - bearers on the beam


3) Beam design
Principle - the principle of General Design The main variables in the
design of beams include : span , beam spacing , and type of the load , the type of
material , size and shape of the cross section , as well as how the merger or
fabrication . The more restrictions the design , the easier the design is done . Each
design must meet the criteria of strength and rigidity for security issues and the
ability of fishermen . Design approach to meet this criteria is very dependent on
the selected material , whether using a block of wood , steel or reinforced
concrete .
Some of the factors are common design principles in the planning of the

beam , namely :
Control the strength and stiffness
Variation of the amount of material
Variations in the entire length of the beam shape
Variation of the foundation conditions and boundary conditions Practical design
principles wooden beams are influenced by various factors . One is the nature of
the timber that has the ability to carry a large voltage in a short time . In the
permanent load conditions , the voltage needs to be reduced by a factor permits
0.90 . Load factor for wind is 1.33 . While the normal load factor of 1.0 has .
Design of steel beams are generally designed based on allowable stress and
workload . Beams are used to form the cross-section roller , canal , or composed
of elements ( plate or elbow ) . For landscape or a very large load , plate girder
cross-section composed of elbow and plate elements are often used . In the steel
beam , if the beam material began to melt when loaded , the stress distribution
that is beginning to change . Beams can still receive additional cross-sectional
moment until all parts have melted . Design of concrete beams can not be used

alone in the beam due to very little tensile strength , and because of the nature
brittle . Cracks cracks that arise can result in failure of the structure , where this
can happen when a concrete beam experiencing bending . The addition in the
area of tensile steel reinforced concrete beam shaping can improve the strength
and ductility . Reinforced concrete structural elements combine properties owned

concrete and steel .


Static Beam Design Not Sure
Continuous beam design process is tantamount to a simple beam design
process . If the maximum moment that can occur in the structure is known
, the next cross-section of the structure is determined enough to carry the
moment . The principle of the optimal material distribution in a crosssection can also be applied to continuous beams . Some of the specific
things that need to be considered in the design of statically indeterminate
beam is described as follows Design Moment , practically
Determination of the Continuous Beam Sectional Determination of the
size of a continuous beam cross section depends on the existing big
moment on the cross section . Height adjustable structure formed by the
bending moment there .
Use of Connecting Point Construction For reasons of implementation ,
difficulties often occur in making a long continuous structural element ,
because of frequent use point implementation . To facilitate the creation
of point construction , the dots placed near , or at the point of inflection .
Thus , the point of implementation does not need to be designed to carry
the moment . So just a point of contact joints . By using the zero moment
condition at the inflection point , the behavior of the continuous beam can
be modeled as a static strutur particular .
Distribution Control Moment
Moments that arise in continuous beam can be designed carefully by
planners . This can be done in various ways . One way is to set the span
and the load on the structure . Reinforced concrete is one example of a
material that is suitable for use on a continuous beam . Continuity can be
obtained by adjusting the reinforcement of reinforced concrete beams .
Steel reinforcement is placed in the area where there is tension . The
amount of reinforcement at each location depending on the moment arises

7. STAIR
Stairs is a construction that is designed to contact the two vertical levels which
have a distance from each other. The stairs are part of a multi-storey building which
serves to link the circulation between floors of multi-storey buildings with a walk up or
down using the trap ( the stairs ).
Stairs consist of two types:
1 . The main staircase
The main staircase is a staircase which serves for the circulation of people
walking along the path to the main building between floor levels in daily life due to
being the main circulation on the main staircase must meet the requirements for
comfortable wear up or down is not tiring and dangerous to the wearer .
Terms of the main staircase :
a)
Location of the ladder is at the main circulation of the building , easily
visible and accessible from the entrance of the building and have adequate
b)
c)

lighting both natural and artificial .


Have adequate lighting , especially artificial
Meets the requirements of comfort usage , for example ;
tilt angle 28 -35 stairs
Number of steps up to a maximum of 12 trap landing heigt of trap 19
cm maximum rung
Wide bordses width of the staircase
Comparison antrede : optrede satisfy the formula ( a + 2.O = 62 cm s / d
65 cm )
Calculation of the number of steps ; [ 2 ( n + 1 ) = t / O ]
wide calculations landing ; [ P = (a x n ) + b ]
Must dicheg ; ( b l )
2 . Ladder emergency
Emergency ladder is the ladder that is used to evacuate or rescue building
occupants from the effects of hazards .
Terms emergency stairs :
a)
It is associated with the outer wall of the building and having access
b)
c)

door out of the building


Equipped with doors of fire -resistant materials for at least 3 hours
On the landing fitted glass windows that can be opened from the

d)
e)

outside to rescue occupants


Equipped with suction chimney smoke next to the entrance
In an emergency ladder must be equipped with lights peneragnan
with emergency battery supply

Various Types And Forms Design Stairs


Not all types of ladders suitable for the design of the house , so you should be
careful in your selection. So I will share some kind of ladder that we encountered
Some Shape or Type Appliances For Home Design
1 . Stairs Straight MODEL I
This ladder is often called or known by the name of One Wall Stair . This ladder
constantly from the ground up without any bends . But sometimes there is also
containing the landing or resting place sementara.Tangga very much need this
kind of land is suitable for home and broad . In addition section under the stairs
can be utilized as a particular room .

Various Types And Forms Design Stairs , Straight Stairs content of the landing
2 . Stairs Turn Directions - Model L
Referred to as ladder Ladder Model L is shaped like the letter L in certain parts
joint. Stairs turn this type are widely used in modern residential minmalis as
efficient place and fitting .

Various Types And Forms Design Appliances , Appliances Turn Directions Model L
3 . Stairs Turned Direction - Model U
The most commonly used ladder by our society . Similar to the ladder L models ,
only the model ladder at a height of not only turn a certain direction but reverse
direction from the direction it comes . Do not need a space of staircase models I
or U. It is commonly used in residential units on average are not too broad .
Basement stairs wider than models I and L , can even be used for bathroom or
warehouse .

Various Types And Forms Design Appliances , Appliances rebound - Model U


4 . Stairs Branching - Model Y
Is a branched ladder . It looked like the letter ' Y ' with a central staircase
landing . Usually in large houses . This type of staircase takes up a space large
enough to display even very broad majestic and luxurious impression . Plot ,

rising from the bottom and then the transition area or landing , the direction of
the next steps will be branched to the left and to the right . Usually from the 1st
floor to the 2nd floor . Rarely use the stairs to the next step because this form
ladder aesthetic function more highlighted . In addition to luxury dirumahrumah
usually built important buildings .

Various Types And Forms Design Appliances , Appliances Branching - Model Y


5 . Ladder Play - Spiral Model
Do not have a large area to place the ladder ? Use a spiral staircase . Sometimes
there is a spiral staircase that call stairs stairs spiral.Tangga is the most efficient
place. It usually only takes an area of not more than 1.5 MX1 , 5m . Often used
as a ladder to the attic or clothesline . Placement sometimes outdoors . The maker
of household materials are usually of iron because it is relatively easy to create
curved or spiral . The average width of the horizontal rungs is 60 cm . was higher
stamping usually higher rungs of another ladder that is on average 25 cm . Only
one person to pass . This ladder is more emphasis on the function of beauty
although some are made to look nice .

Various Types And Forms Design Ladder , Ladder Play - Spiral Model
6 . Ladder Or
It would be the most luxurious staircase , because of its very artistic as curved
space in which the curve creates beauty . Usually used in the home is spacious
and has a high roof . If you choose to have a circular staircase , you should not
use the space under the stairs for any function because it can reduce the
appearance of stairs . Better suited for classic type house model , although it is
possible to applied in a minimalist home .

Various Types And Forms Design Ladder , Ladder Play - Spiral Model
8. LANTAI
Pengertian lantai adalah bagian dasar sebuah ruang, yang memiliki peran penting
untuk memperkuat eksistensi obyek yang berada di dalam ruang. Fungsi lantai secara
umum adalah: menunjang aktivitas dalam ruang dan membentuk karakter ruang. Ketika

orang berjalan di atas lantai, maka karakter yang muncul adalah: tahan lama, tidak licin
dan berwarna netral (tidak dominan). Lantai rumah digunakan untuk meletakkan barangbarang seperti kursi, meja, almari, dan sebagainya serta mendukung berbagai aktivitas
seperti berjalan, anak-anak berlari, duduk di lantai, dan lain-lain.
Dilihat dari sisi struktur, beban yang diterima oleh lantai kadang cukup besar,
misalnya ketika kita memindahkan benda berat seperti almari dengan cara menyeretnya.
Dengan demikian lantai memiliki peran penting mendukung beban-beban langsung dari
barang-barang dan aktivitas di atasnya.
Dari sisi estetika, lantai berfungsi untuk memperindah ruang dan membentuk
karakter ruang. Tema warna dan image yang ditampilkan dapat mengambil konsep apa
pun sesuai karakter yang dimunculkan. Beberapa tema yang dapat diterapkan seperti
etnik tradisional, modern minimalis, retro dan sebagainya.

Syarat material lantai


Karena fungsi setiap ruang dalam hunian beragam, maka beragam pula desain
lantainya. Syarat bahan lantai di antaranya adalah: aman, awet, kuat, tahan lembab,
mudah dibersihkan dan menyerap panas. Material penutup lantai yang bersifat hangat
adalah: karpet, parket, gabus, karet, sedangkan material bersifat dingin adalah: marmer,
keramik, granit .
Pada beberapa ruang harus dipasang lantai yang bahannya bertekstur kasar,
seperti: kamar mandi, teras dan garasi. Kamar mandi adalah ruang yang paling sering
terkena air, sehingga licin dan beresiko menyebabkan pengguna terpeleset. Begitu pula
dengan teras ketika terkena tempias hujan, harus dipasang bahan lantai yang lebih kasar
untuk mengindari resiko pengguna terpeleset. Pada garasi, tekstur kasar berfungsi
menghindari selip akibat gesekan antara ban dan muka lantai, terutama ketika kendaraan
sehabis kehujanan. Untuk ruang dapur memakai bahan lantai yang mudah dibersihkan
serta tidak meninggalkan noda di pori-pori lantai dan nat sambungan yang dapat
mengganggu keindahan lantai. Ruang tamu, ruang keluarga dan kamar tidur dapat
memakai bahan lantai dengan permukaan licin dan mengkilap.

Ukuran material lantai


Ukuran material lantai, khususnya marmer, granit, keramik, dan teraso (tegel),
akan berpengaruh pada kesan ruang. Jika ruang berukuran kecil atau sempit (ruang tidur,
kamar mandi), ukuran bahan pilih yang kecil-kecil pula untuk memberi kesan luas pada
ruangan. Sementara untuk ruangan berukuran luas (ruang tamu, ruang keluarga), bahan
berukuran besar akan membantu menyeimbangkan kesan luas ruang.

Jenis material lantai


Berikut ini adalah beberapa jenis material lantai dengan beragam karakteristiknya
sebagai pertimbangan aplikasi pada ruang.

Plester (concrete)
Jenis material ini tergolong paling sederhana dan paling murah, karena
diperlakukan seperti saat memplester dinding dan diaci hingga halus. Namun perbedaan
dengan perlakuan pada dinding adalah dilakukan langkah penggosokan lantai hingga
halus dan mengkilap. Warna yang ditimbulkan sama dengan warna semen-pasir dan
cenderung lebih gelap.
Pada beberapa penerapan yang dilakukan dengan merata (covering) pada luas
ruang, memiliki kelemahan ketika terjadi retak tidak dapat diganti dengan material dan
harus ditambal. Tambalan yang muncul secara estetika terlihat tidak bagus. Namun
penerapan dengan modul, akan mengurangi resiko tambalan yang berdampak pada tidak
sedapnya pandangan estetika.

Keramik
Jenis material ini sangat lazim digunakan. Keramik punya fleksibilitas pakai
tinggi dan dapat diaplikasikan pada hampir seluruh bagian rumah. Selain kuat, lantai
rumah dari bahan keramik juga tidak membutuhkan pemolesan dan mudah dalam
perawatannya. Kesan material keramik adalah hangat. Saat ini beragam tekstur keramik
yang dijual di pasaran, yang secara visual mirip dengan jenis material lain. Misalnya:
keramik bertekstur marmer, granit, kayu, batu, bata dan sebagainya.

Marmer
Marmer banyak disukai karena lebih memiliki karakter dan berkelas mewah.
Tekstur dan pola yang tidak teratur serta persediaan alam yang terbatas menjadikan
material ini. Material marmer memiliki kesan dingin dan kuat. Kelemahan marmer
adalah memiliki pori-pori relatif besar. Marmer yang berpori-pori relatif besar
membutuhkan perawatan ekstra. Hal ini karena marmer mudah menyerap cairan dan
layaknya karpet, meninggalkan noda jika tidak cepat dibersihkan.
Selain mahal harganya, marmer juga mahal dalam perawatannya dan diperlukan
cara khusus untuk membersihkannya. Pantaslah jika marmer merupakan material lantai
yang berkelas dan mewah, sehingga hanya pengguna yang memiliki dana berlebih yang
sanggup mengaplikasikannya dalam hunian.

Granit

Granit memiliki pori-pori yang lebih rapat, sehingga memiliki kemungkinan yang
lebih kecil untuk dimasuki air dan kotoran. Granit memiliki kesan dingin dan berkesan
kokoh. Batuan granit diperoleh dari bukit atau gunung granit. Namun sejalan dengan
perkembangan teknologi, saat ini juga telah disediakan granit buatan dengan motif yang
lebih beraneka dan harga yang lebih murah.

Kayu
Yang paling umum adalah lantai parket (parquette), yang berasal dari kata
parquetry. Material kayu memiliki kesan hangat dan alami. Selain berasal dari kayu
solid, bahan parket saat ini juga berasal dari bahan non kayu seperti bambu. Jenis lainnya
yaitu laminate yang merupakan kayu olahan yang permukaannya adalah hasil printing.

Batu
Material batu alam juga sering dipakai sebagai bahan lantai antara lain batu kali
lempeng dan batu salagedang. Biasanya selain di lantai, banyak juga dipakai di taman
atau ditempel di tembok pagar, dan dinding pada interior rumah. Kedua jenis batu ini
cukup tahan terhadap cuaca, meskipun mencari tekstur batu yang kurang lebih seragam
tidak mudah, ditambah lagi lebar nat antar batunya tidak seragam. Tapi hal itu justru
menambah ruang menjadi semakin natural. Material batu ini memiliki kesan dingin.

9. PELAT LANTAI (FLOOR PLATE)


Pengertian Plat Lantai
Plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, merupakan
lantai tingkat pembatas antara tingkat yang satu dengan tingkat yang lain. Plat lantai
didukung oleh balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan. Ketebalan
plat lantai ditentukan oleh :
Besar lendutan yang diinginkan
Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung
Bahan konstruksi dan plat lantai
Plat lantai harus direncanakan: kaku, rata, lurus dan waterpas (mempunyai
ketinggian yang sama dan tidak miring), agar terasa mantap dan enak untuk berpijak
kaki. Ketebalan plat lantai ditentukan oleh : beban yang harus didukung, besar
lendutan yang diijinkan, lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung,
bahan konstruksi dari plat lantai.

Pada plat lantai hanya diperhitungkan adanya beban tetap saja (penghuni,
perabotan, berat lapis tegel, berat sendiri plat) yang bekerja secara tetap dalam waktu
lama. Sedang beban tak terduga seperti gempa, angin, getaran, tidak diperhitungkan.
Fungsi Plat Lantai
Fungsi plat lantai adalah sebagai berikut
1. Sebagai pemisah ruang bawah dan ruang atas
2. Sebagai tempat berpijak penghuni di lantai atas
3. Untuk menempatkan kabel listrik dan lampu pada ruang bawah
4. Meredam suara dari ruang atas maupun dari ruang bawah
5. Menambah kekakuan bangunan pada arah horizontal
Konstruksi Plat Lantai Berdasarkan Materialnya
Konstruksi untuk plat lantai dapat dibuat dari kayu, beton, baja dan yumen (kayu
semen).
1. Plat Lantai Kayu
Plat lantai kayu umumnya dibuat dari rangkaian papan kayu yang disatukan

menjadi kesatuan yang kuat, sehingga membentuk bidang injak yang luas.
Ukuran umum
a. Lebar papan
: 20-30cm
b. Tebal papan
: 2-3cm
c. Jarak balok-balok pendukung : 60-80cm
d. Ukuran balok
: 8/12, 8/14, 10/14
e. Bentangan
: 3-3,5 m
Balok-balok kayu ini dapat diletakkan diatas pasangan bata 1 batu atau ditopang

Keuntungan plat lantai kayu:


Harganya relatif murah, berarti biaya bangunan rendah
Mudah dikerjakan, berarti pekerjaan lebih cepat selesai
Beratnya ringan, berarti menghemat ukuran pondasi
Kerugian plat lantai kayu:
Hanya boleh untuk konstruksi bangunan sederhana dengan beban ringan
Bukan peredam suara yang baik, suara gaduh atau hentakan kaki dari penghuni

atas dapat mengganggu penghuni di lantai bawahnya


Sifat bahan rembes air, jadi tidak dapat dibuat km/wc di lantai atas
Mudah terbakar, jadi tidak boleh membuat dapur diatasnya
Dapat dimakan bubuk/serangga, berarti keawetan bahan terbatas
Mudah rusak oleh pengaruh cuaca yang berubah-rubah (panas dan hujan), jadi
hanya cocok untuk bangunan yang terlindung
Plat Lantai Beton
Plat lantai beton bertulang umumnya dicor ditempat, bersama-sama balok

penumpu dan kolom pendukungnya. Dengan demikian akan diperoleh hubungan yang

kuat yang menjadi satu kesatuan, hubungan ini disebut jepit-jepit. Pada plat lantai
beton dipasang tulangan baja pada kedua arah, tulangan silang, untuk menahan momen
tarik dan lenturan. Untuk mendapatkan hubungan jepit-jepit, tulangan plat lantai harus
dikaitkan kuat pada tulangan balok penumpu.
Perencanaan dan hitungan plat lantai dari beton bertulang harus mengikuti
persyaratan yang tercantum dalam buku SNI Beton 1991.
Beberapa persyaratan tersebut antara lain :
Plat lantai harus mempunyai tebal sekurang-kurangnya 12cm, sedang untuk plat

atap sekurang-kurangnya 7cm;


Harus diberi tulangan silang dengan diameter minimum 8mm dari baja lunak

atau baja sedang;


Pada plat lantai yang tebalnya lebih dari 25cm harus dipasang tulangan rangkap

atas bawah;
Jarak tulangan pokok yang sejajar tidak kurang dari 2,5cm dan tidak lebih dari

20cm atau dua kali tebal plat, dipilih yang terkecil;


Semua tulangan plat harus terbungkus lapisan beton setebal minimum 1cm,

untuk melindungi baja dari karat, korosi, atau kebakaran;


Bahan beton untuk plat harus dibuat dari campuran 1pc:2psr:3kr + air, bila untuk
lapis kedap air dibuat dari campuran 1pc:1,5psr:2,5kr + air secukupnya.

Plat lantai dari beton mempunyai keuntungan antara lain :


Mampu mendukung beban besar
Merupakan isolasi suara yang baik
Tidak dapat terbakar dan dapat lapis kedap air, jadi diatasnya boleh dibuat
dapur dan km/wc
Dapat dipasang tegel untuk keindahan lantai
Merupakan bahan yang kuat dan awet, tidak perlu perawatan dan dapat
berumum panjang. Untuk menghindari lenturan yang besar, maka bentangan plat
lantai jangan dibuat terlalu lebar, untuk ini dapat diberi balok-balok sebagai
tumpuan yang juga berfungsi menambah kekakuan plat. Bentangan plat yang
besar juga akan menyebabkan plat menjadi terlalu tebal dan jumlah tulangan
yang dibutuhkan akan menjadi lebih banyak, berarti berat bangunan akan
menjadi besar dan harga persatuan luas akan menjadi mahal.
Elemen-elemen pembebanan untuk plat lantai :
Beban hidup (untuk rumah tinggal)
= 0,200 t/m2
Beban hidup (untuk bangunan umum)
= 0,250 t/m2
Pasir urug dibawah tegel tiap cm tebal
= 0,018 t/m2
Berat tegel+perekat
= 0,120 t/m2
Berat plafon+penggantung
= 0,020 t/m2
Berat dinding pasangan bata tebal batu
= 0,250 t/m2 pas

Berat jenis beton

= 2,4

t/m3

Konstruksi plat lantai baja


Konstruksi ini biasanya digunakan pada bangunan yang sebagian besar
komponen-komponen strukturnya terdiri dari material baja. Tangga ini digunakan
pada bangunan semi permanen seperti bangunan peruntukan bengkel, bangunan
gudang, dan lain-lain.
Konstruksi plat lantai yumen (Kayu Semen)
Plat lantai kayu semen ini dibuat dari potongan kayu apa saja dan kecil-kecil
yang kemudian dicampur semen dengan ukuran 90 cm x 80 cm. Plat lantai yumen ini
masih jarang digunakan karena termasuk bahan bangunan baru. Dan yumen ini buatan
dari pabrik semen gresik.
Cara pemasangan yumen :
Sebelum dipasang yumen, dack yang akan digunakan harus dipasangin kayu
bangkirai 5/7dengan panjang yang sudah diatur dengan jarak 40 cm. Kayu yang

berjejer itu ditumpangi ringbalk dan dicor.


Setelah itu lembaran yumen dipasang berjejer rapat diatas kayu tersebut lalu
dibaut.

10. RANGKA ATAP BANGUNAN


Atap adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi sebagai penutup seluruh
ruangan yang ada di bawahnya terhadap pengaruh panas, debu, hujan, angin atau untuk
keperluan perlindungan. Bentuk atap berpengaruh terhadap keindahan suatu bangunan
dan pemilihan tipe atap hendaknya disesuaikan dengan iklim setempat, tampak yang
dikehendaki oleh arsitek, biaya yang tersedia, dan material yang mudah didapat.

Konstruksi rangka atap yang digunakan adalah rangka atap kuda-kuda. Rangka
atap atau kudakuda adalah suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk
mendukung beban atap termasuk juga berat sendiri dan sekaligus memberikan bentuk
pada atap. Pada dasarnya konstruksi kudakuda terdiri dari rangkaian batang yang
membentuk segitiga. Dengan mempertimbangkan berat atap serta bahan penutup atap,
maka konstruksi kudakuda akan berbeda satu sama lain. Setiap susunan rangka batang
haruslah merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh yang nantinya mampu memikul
beban yang bekerja padanya tanpa mengalami perubahan.
Pada bagian konstruksi atap terdapat berbagai bagian penting sebagai pendukung
utama berdirinya konstruksi atap tersebut, seperti berikut :
a. Gording
Gording membagi bentangan atap dalam jarak-jarak yang lebih kecil
pada proyeksi horisontal. Gording meneruskan beban dari penutup atap, reng, usuk,
orang, beban angin, beban air hujan pada titik-titik buhul kuda-kuda.
Gording berada di atas kuda-kuda, biasanya tegak lurus dengan arah kuda-kuda.
Gording menjadi tempat ikatan bagi usuk, dan posisi gording harus disesuaikan dengan
panjang usuk yang tersedia. Gording harus berada di atas titik buhul kuda-kuda,
sehingga bentuk kuda-kuda sebaiknya disesuaikan dengan panjang usuk yang tersedia.
Bahan- bahan untuk Gording, terbuat dari kayu, baja profil canal atau profil WF. Pada
gording dari baja, gording satu dengan lainnya akan dihubungkan dengan sagrod untuk
memperkuat dan

mencegah dari terjadinya pergerakan. Posisi sagrod diletakkan

sedemikian rupa sehingga mengurangi momen maksimal yang terjadi pada gording.
Gording kayu biasanya memiliki dimensi : panjang maksimal 4 m, tinggi 12 cm
dan lebar 8 cm s.d. 10 cm. Jarak antar gording kayu sekitar 1,5 s.d. 2,5 m. Gording
dari baja profil canal (Iight lip channel) umumnya akan mempunyi dimensi;
panjang satu batang sekitar 6 atau 12 meter, tinggi antara 10 s.d. 12 cm dan tebal sekitar
2,5 mm. Profil WF akan memiliki panjang 6 s.d. 12 meter, dengan tinggi sekitar 10 s.d.
12 cm dan tebal sekitar 0,5 cm.
b. Jurai
Pada pertemuan sudut atap terdapat batang baja atau kayu atau framework
yang disebut jurai. Jurai dibedakan menjadi jurai dalam dan jurai luar.
c. Sagrod
Sagrod adalah batang besi bulat terbuat dari tulangan polos dengan kedua
ujungnya

memiliki

ulir

(diperpanjang/diperpendek).
d. Usuk / kaso

dan

baut

sehingga

posisi

bisa

digeser

Usuk berfungsi menerima beban dari penutup atap dan reng dan meneruskannya
ke gording. Usuk terbuat dari kayu dengan ukuran 5/7 cm dan panjang maksimal 4 m.
Usuk dipasang dengan jarak 40 s.d. 50 cm antara satu dengan lainnya pada arah tegak
lurus gording. Usuk akan terhubung dengan gording dengan menggunakan paku.
Pada kondisi tertentu usuk harus dibor dahulu sebelum dipaku untuk menghindari pecah
pada ujung-ujung usuk.
e. Reng
Reng berupa batang kayu berukuran 2/3 cm atau 3/5 cm dengan panjang sekitar 3
m. Reng menjadi tumpuan langsung penutup atap dan meneruskannya ke usuk/kaso.
Pada atap dengan penutup dari asbes, seng atau sirap reng tidak digunakan. Reng akan
digunakan pada atap dengan penutup dari genteng. Reng akan dipasang pada arah tegak
lurus usuk dengan jarak menyesuaikan dengan panjang dari penutup atapnya
(genteng).
f. Penutup Atap
Penutup atap

adalah

elemen

paling

luar

dari

struktur

atap.

Penutup atap harus mempunyai sifat kedap air, bisa mencegah terjadinya rembesan air
selama kejadian hujan. Sifat tidak rembes ini diuji dengan pengujian serapan air dan
rembesan. Struktur penutup atap merupakan struktur yang langsung berhubungan dengan
beban-beban kerja (cuaca) sehingga harus dipilih dari bahan-bahan yang kedap air,
tahan terhadap

perubahan cuaca. Struktur penutup yang sering digunakan antara lain;

genteng, asbes, kayu (sirap), seng, polycarbonat, plat beton, dan lain-lain.

Kuda-kuda dari type bahan yang dipakai ada sebagian jenis diantaranya :
1. Kuda-kuda berbahan kayu
2. Kuda-kuda berbahan beton
3. Kuda-kuda berbahan pasangan bata
4. Kuda-kuda baja
A. Baja konvensional iwf, canal, siku
B. Baja ringan
Untuk mengetahui secara detail bentuk ataupun gambaran dari rencana tersebut
yaitu berikut detailnya:
1. Kuda-kuda berbahan kayu

Untuk bentang 15 meter, bentuk seperti bentang 9 meter akan tetapi di mensi kayu 8/12
di ganti dengan 8/15, sedangkan 5/10 diganti dengan 6/12.
Gambar di bawah adalah kuda-kuda dari kayu dengan bentang 15 m

SAAT EREXTION KUDA-KUDA DG MENGGUNAKAN 1 BOX

SELESAI EREXTION

SAMBUNGAN KUDA-KUDA DAN GORDING

REGEL,RANGKA DINDING,PERTEMUAN KUDA-KUDA DAN KOLOM

2. Kuda-kuda berbahan beton

yaitu kuda-kuda yang terbuat dari beton bertulang, pada catatan ini yang kami tampilkan
yaitu kuda-kuda yang biasa dipakai untuk tempat tinggal, dengan jarak tumpuan bebas 4
mtr., namun jika jarak tumpuan kian lebih 4 mtr., maka dibutuhkan perhitungan susunan.
3. Kuda-kuda berbahan pasangan bata

kuda-kuda yang terbuat dari pasangan bata umumnya disebut gunungan, serta kerap
dipakai pada atap jenis pelana, atau pada atap jenis lain namun posisi kuda-kuda
diletakan di bagian sedang.
4. Kuda-kuda baja dibagi mejadi 2 , yakni :
A. Baja konvensional iwf, canal, siku
Kuda-kuda baja kerap dipakai untuk bangunan pabrik atau gudang, karna
bentang pada tumpuan bias lebi dari 15 mtr., bahan yang dipakai iwf, c ( canal ), l
( siku ). Dimensi iwf untuk kuda kuda umumnya ( baiknya susunan dihitung )
bentang 15 mtr. menggunakan iwf 200, bentang 20 mtr. menggunakan uwf 250,
bentang 25 mtr. menggunakan iwf 275, bentang 30 mtr. iwf 350, dari pengalaman
kami bentang yang sangat besar yaitu 30 mtr..

kuda-kuda iwf 350 bentang 30 meter

kuda-kuda menggunakan siku

kuda-kuda menggunakan canal

B. Baja ringan

kuda-kuda baja mudah, terbuat dari baja anti karat, pertarama kali dikembangkan olen
pryda australia, dahulu kerap dimaksud dengan atap pryda, perhitungan cost yakni m2
luas atap. untuk menentukan atap baja mudah baiknya pakai perusahaan yang telah
populer dibidang atap baja mudah. janganlah asal tentukan, karna atap baja mudah
sistemnya yaitu cremona hingga jika kesalahan saat menyambung componen dapat
menyebabkan fatal.

BAB III

PENUTUP
1. KESIMPULAN
Bangunan adalah struktur buatan manusia yang terdiri atas dinding dan atap yang
didirikan secara permanen di suatu tempat. Bangunan juga biasa disebut dengan rumah
dan gedung, yaitu segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam kebudayaan atau
kehidupan manusia dalam membangun peradabannya. Bangunan memiliki beragam
bentuk, ukuran, dan fungsi, serta telah mengalami penyesuaian sepanjang sejarah yang
disebabkan oleh beberapa faktor, seperti bahan bangunan, kondisi cuaca, harga, kondisi
tanah, dan alasan estetika.
Bangunan mempunyai beberapa fungsi bagi kehidupan manusia, terutama
sebagai tempat berlindung dari cuaca, keamanan, tempat tinggal, privasi, tempat
menyimpan barang, dan tempat bekerja. Suatu bangunan tidak bisa lepas dari kehidupan
manusia khususnya sebagai sarana pemberi rasa aman dan nyaman.
Contoh bangunan yang paling sering kita lihat yaitu jembatan beserta konstruksi
dan rancangannya, jalan, serta sarana telekomunikasi. Secara umum, peradaban suatu
bangsa dapat dilihat dari teknik-teknik bangunan maupun sarana dan prasarana yang
dibuat maupun ditinggalkan oleh warisan manusia dalam perjalanan sejarahnya.
Pada awalnya, manusia hanya memanfaatkan apa yang ada di alam sebagai
sarana dan prasarana serta infrastruktur dalam kehidupannya. Sebagai contoh yaitu
pemanfaatan gua sebagai tempat tinggal. Kemudian peradaban manusia berkembang
dengan memanfaatkan apa yang ada di alam, seperti batu, tanah dan kayu, sebagai bahan
baju untuk membuat suatu infrastruktur. Pada masa berikutnya, peradaban berkembang
lagi dengan ditemukannya bahan-bahan tambang yang bisa digunakan untuk membuat
alat maupun benda yang mampu menopang sebuah bangunan, seperti halnya barang
logam, serta mengolah bahan-bahan alam seperti mengolah batuan kapur, pasir dan
tanah. Dalam perkembangannya, manusia membuat bahan-bahan bangunan dari hasil
industri atau buatan manusia yang bahan-bahan bakunya diambil dari alam.

2. Saran

Bangunan rumah tinggal dibuat orang untuk kepentingan tempat tinggal dalam
arti yang luas. Untuk masa sekarang tidak hanya sekedar tempat berlindung atau
berteduh tetapi sebagai tempat pembinaan keluarga. Kantor dibuat untuk pelayanan
masyarakat, sedangkan jembatan dan bendungan dibuat orang untuk tujuan prasarana
kemakmuran rakyat. Kesemua hal di atas disebut dengan bangunan karena tidak dapat
dengan mudah dipindahkan mengingat berat kecuali bila dibongkar. Lemari dibuat orang
juga mempunyai tujuan anatara lain untuk menyimpan barang, bangku untuk tempat
duduk, tetapi benda- benda ini mudah dipindahkan ke tempat lain, untuk itu benda-benda
disini tidak dapat dikatakan bangunan. Dalam pembuatannya bagunan tidak cukup hanya
satu orang pekerja saja, tetapi kadang-kadang memerlukan ratusan sampai ribuan pekerja
tergantung besar kecilnya bangunan yang dibuat.
Dengan demikian setelah mengetahui bagitu banyaknya struktur yang terkandung
dalam konstruksi bangunan, maka kita sebaiknya dapat mempelajari dan memahami
pengetahuan tersebut serta dapat pula mengaplikasikannya kedunia lapangan ataupun
memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat luas.