Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kemajuan ilmu dan teknologi di segala bidang dalam kehidupan ini
membawa dampak sangat signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup, status
kesehatan, umur harapan hidup dan bertambahnya usia lanjut yang melebihi
perkiraan statistik Kondisi tersebut akan merubah komposisi dari kasus-kasus
penyakit infeksi yang tadinya menempati urutan pertama sekarang bergeser pada
penyakit-penyakit degeneratif dan metabolik yang menempati urutan pertama.
Kasus degeneratif yang diderita oleh kaum pria yang menempati urutan tersering
adalah kasus Benigna Prostat Hipertrofi (BPH) karena kasus ini menyebabkan
tidak lancarnya saluran perkemihan (Smeltzer, 2002).
Hiperplasia prostat benigna ini dapat dialami oleh sekitar 70% pria di atas
usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di atas 80
tahun. Meskipun jarang mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan yang
menjengkelkan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Keadaan ini akibat dari
pembesaran kelenjar prostat atau benign prostate enlargement (BPE) yang
menyebabkan terjadinya obstruksi pada leher buli-buli dan uretra atau dikenal
sebagai Bladder Outlet Obstruction (BOO). Obstruksi yang khusus disebabkan
oleh pembesaran kelenjar prostat disebut sebagai benign prostate obstruction
(BPO). Obstruksi ini lama kelamaan dapat menimbulkan perubahan struk-tur
1

2
buli-buli maupun ginjal sehingga menye-babkan komplikasi pada saluran kemih
atas maupun bawah (Rahardjo, 2004).
Faktor-faktor lingkungan diduga berperan dalam proliferasi selsel kelenjar
prostat secara tidak langsung. Faktor faktor tersebut mampu mempengaruhi selsel prostat untuk mensintesis protein growth factor, yang selanjutnya protein
inilah yang berperan dalam memacu terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat.
Fakor-faktor yang mampu meningkatkan sintesis protein growth factor dikenal
sebagai faktor ekstrinsik sedangkan protein growth factor dikenal sebagai faktor
intrinsik yang menyebabkan hiperplasia kelenjar prostat (Rahardjo,2004).
Prevalensi BPH yang bergejala pada pria berusia 40-49 tahun mencapai
hampir 15%. Angka ini meningkat dengan bertambahnya usia, sehingga pada usia
50-59 tahun prevalensinya mencapai hampir 25%, dan pada usia 60 yahun
mencapai angka sekitar 43%7. Angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum
pernah diteliti, tetapi sebagai gambaran hospital prevalence di dua rumah sakit
besar di Jakarta yaitu RSCM dan Sumberwaras selama 3 tahun (1994-1997)
terdapat 1040 kasus (Sinaga et all,2006).
Menurut hasil penelitian Rizki et all (2009) di 5 rumah sakit besar di
Semarang, faktor risiko yang terbukti berpengaruh terhadap terjadinya BPH adalah
laki-laki yang memiliki umur 50 tahun memiliki risiko sebesar 6,24 kali lebih
besar dibanding dengan laki-laki yang berumur < 50 tahun. Risiko BPH pada lakilaki dengan riwayat keluarga yang pernah menderita BPH sebesar 5,28 kali lebih

3
besar dibandingkan dengan yang tidak mempunyai riwayat keluarga yang pernah
menderita BPH (www.undip.ac.id, 2009)
Penyakit BPH yang sudah tidak bisa diatasi dengan therapi medikamentosa
harus dilakukan pengangkatan kelenjar prostat (Prostatectomy). Tindakan operasi
ini memerlukan anestesi umum dan membutuhkan perawatan baik sebelum mupun
sesudah operasi. (Irawan, 2006).
Berdasarkan data dari ruang Dahlia RSUD Ciamis jumlah pasien terbanyak
yang dirawat adalah sebagai berikut :
Tabel 1.1
Daftar 10 Besar Penyakit di Ruang DAHLIA
RSUD Ciamis Bulan Agustus 2010 s/d JuLi 2011
No
1
3
2
8
9
6
8
9
5
7
10

Nama Penyakit
Hernia
BPH
apndiksitis
TJL
ilieus paralitik
Ulkus DM
vesico lithiasis
PAM
Head Injury
CKR
Abses

8
7
5
6
2
1
3
2
1
3
2
2

9
6
8
3
2
0
3
3
2
2
1
0

Bulan
10 11 12 1
2
7
0
7
8 11
7
5
11 3
2
0
0
0
2
5
2
3
1
1
2
4
4
5
0
3
2
0
2
0
3
0
1
2
2
3
2
0
2
3
0
0
3
0
0
2
0
0
2
3
1
0
2
1
2
2
Jumlah Pasien

3
10
7
3
2
4
0
1
0
0
2
1

4
13
4
7
3
4
2
0
0
0
1
2

5
7
7
3
4
0
3
2
2
0
1
1

6
8
7
0
4
0
0
1
1
0
0
0

7
0
10
7
3
0
1
1
2
4
0
0

84
76
36
29
25
19
18
15
14
13
13
342

24,56
22,22
10,53
8,48
7,31
5,56
5,26
4,39
4,09
3,80
3,80
100,00

Berdasarkan data diatas Kasus terbanyak adalah hernia. Kasus BPH


merupakan kasus nomer 2

terbanyak yang dirawat di Ruang Dahlia RSUD

Ciamis. Hal ini merupakan gambaran banyaknya kasus BPH di masyarakat


Hasil pengkajian data pada tanggal 20 Juli 2011 di Ruang Dahlia Rumah
Sakit Daerah Ciamis, terhadap klien dengan post operasi prostatectomy

4
ditemukan masalah keperawatan diantaranya gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan terputusnya kontuinitas jaringan tubuh akibat post op BPH.
Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka post operasi. Defisit
perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak untuk melakukan personal
hygiene. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan yang tidak adekuat akibat mual dan anorexia.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, penulis tertarik untuk
melaksanakan studi kasus mengenai ASUHAN KEPERAWATAN PADA PADA
TN.S DENGAN GANGGUAN SISTEM PEKEMIHAN POST OPERASI
PROSTATECTOMY AKIBAT BPH DI RUANG DAHLIA RSUD CIAMIS.
B. Tujuan Penelitian
1.

Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung dan komperhensif
terhadap klien Post Operasi Prostatectomy Akibat BPH, melalui pendekatan
proses keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian masalah keperawatan pada klien post
operasi prostatectomy akibat BPH.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien post operasi
prostatectomy akibat BPH
c. Mampu membuat rencana asuhan keperawatan pada klien post operasi
prostatectomy akibat BPH

5
d. Mampu mengimplementasikan asuhan keperawatan pada klien post
operasi prostatectomy akibat BPH
e. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan pada klien post operasi
prostatectomy akibat BPH.
f. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien post
operasi prostatectomy akibat BPH
C. Metode Telaahan
Dalam menyusun karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif
yang berbentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan meliputi
tahapan pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Sedangkan teknik
pengumpulan data melalui pendekatan proses keperawatan yang komprehensif
dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Observasi, yaitu pengumpulan data secara langsung melihat, mengamati dan
mencatat masalah yang berhubungan dengan materi pembahasan.
2. Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan mengadakan wawancara secara
langsung terhadap klien, perawat dan keluarga untuk memperoleh data yang
lengkap dari tim kesehatan yang terkait dalam memberikan asuhan
keperawatan.
3. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari
catatan-catatan medik yang ada di rumah sakit.
4. Partisipasi aktif, yaitu kerjasama baik antara penulis, perawat ruangan, klien
dan keluarga klien yang sangat menunjang dalam pengumpulan data.
5. Studi kepustakaan yaitu penulis mempelajari buku-buku yang berhubungan
dengan kasus yang diambil baik dari perpustakaan, internet, maupun materi
perkuliahan sebagai acuan dan landasan dalam berfikir atau bertindak.

6
D. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam karya tulis ini terdiri dari empat BAB
yaitu :
BAB I

BAB II

: Pendahuluan
Menjelaskan uraian kasus serta latar belakang, tujuan
penulisan, metode telaahan dan sistematika penulisan.
: Tinjauan Teoritis
Mengemukakan tentang konsep dasar penyakit meliputi
pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, tanda dan gejala,
patofisiologi, manajemen medik umum dan dampak penyakit
terhadap kebutuhan dasar manusia, serta tinjauan teoritis
tentang

asuhan

keperawatan

meliputi

pengkajian,

kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul, intervensi


BAB III

dan rasional, implementasi, evaluasi, dan dokumentasi.


: Tinjauan Kasus dan Pembahasan
Tinjauan kasus meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan,

implementasi,

perkembangan.

Dan

evaluasi

pembahasan

dari

dan

catatan

seluruh

proses

keperawatan yang meliputi kesenjangan antara tinjauan


BAB IV

teoritis dengan tinjauan kasus.


: Kesimpulan dan Rekomendasi
Bab ini berisikan kesimpulan dari pelaksanaan asuhan
keperawatan dan formulasi rekomendasi atau saran yang
operasional untuk meningkatkan mutu pelayanan pada klien
diruangan.