Anda di halaman 1dari 2

Meningkatkan semangat dakwah

Semakin majunya peradaban memang semakin banyak pula hal-hal yang membuat
seseorang lalai atau pun semangatnya memudar untuk berjuang dalam dakwah. Tak dapat
dipungkiri pengaruh dari media terutama media televisi sangat besar sekali dampaknya bagi
remaja zaman ini. Mudahnya mengakses informasi dari media televisi membuat anak-anak,
remaja, ataupun para orang dewasa terlupa untuk memberikan filter dalam menerima informasi
yang disodorkan oleh media televisi. Kurangnya kontrol dan pengawasan dari orang tua terhadap
anak-anaknya juga menjadi penyebab lemahnya filter terhadap konten yang disajikan oleh media
televisi. Malahan yang lebih parah lagi terkadang malah para orang dewasa yang memberi
contoh mengakses informasi itu dari media televisi tanpa memperhatikan dampaknya kelak bagi
generasi penerusnya( anak yang ikut menonton TV).
Nah, untuk menghadapi fenomena yang berkembang sedemikian pesat di masyarakat
perlu adanya filter yang kuat dalam ranah keluarga. Filter yang kuat itu wujudnya adalah
pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang ISLAM. Untuk memperoleh pengetahuan dan
pemahaman yang benar tentang Islam tentulah harus dilakukan dengan cara belajar. Belajar yang
dimaksudkan di sini berada dalam konteks belajar secara luas, boleh belajar dengan mendatangi
Kyai atau pun orang yang dianggap memiliki ilmu agama dan pengetahuan yang luas, dapat juga
dengan mempelajari buku-buku yang telah ditulis oleh para penulis Islam yang berpengetahuan
luas dan diakui oleh ulama-ulama Islam di dunia, dan misalkan masih sekolah dapat belajar dari
para Ustadz maupun Ustadzah yang dapat membimbing dan memberi contoh dalam tindakan
sehari-hari. Poin penting yang utama dalam belajar di sini harus ada dasarnya dan sesuai dengan
apa yang ada dalam Al-Quran dan Hadits.
Bagi para remaja adanya seorang pembimbing yang dapat menjadi panutan dan tempat
untuk meminta nasihat dalam menyikapi persoalan hidup sehari-hari sangat penting sekali.
Adanya pembimbing akan lebih memudahkan bagi para remaja dalam menjaga semangat seharihari. Adanya pembimbing menjadi motivasi yang terus menerus dapat menyulut api semangat
dalam berdakwah sehari-hari.
Di saat akan mengadakan pertemuan dalam kegiatan IRMAS sering kali hal yang
menjadi kendala adalah susahnya mengumpulkan para remaja untuk ikut berperan serta dalam
dakwah Islam di Desa Wilalung. Susahnya para remaja untuk diajak ikut aktif dan berperan serta
dalam dakwah Islam tentulah berawal dari kurangnya motivasi diri dan semangat serta belum
ada rasa terpanggil dalam hati untuk meneruskan perjuangan para ulama dalam berdakwah dan
terus meningkatkan kadar keimanan saudara sesama muslim. Padahal dalam pelajaran di sekolah
madrasah ataupun pondok pesantren sudah pernah diajarkan kalau orang Islam itu diperintahkan
untuk Amar Maruf dan Nahi Munkar, mungkin saat ini mereka sedang lupa untuk mengamalkan
perintah itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam rangka mengatasi permasalahan rendahnya motivasi dan semangat ini sebaiknya
digunakan metode Liqa(pertemuan kecil), proses yang dilakukan saat kegiatan Liqa adalah
setiap 3 sampai 5 remaja baik putra atau putri dibimbing oleh seorang Kyai( bagi putra) dan
seorang Ustadzah( bagi putri), proses pembimbingan dilaksanakan seminggu sekali dengan
tempat dan waktu yang telah disepakati bersama. Saat kegiatan pembimbingan dilakukan maka
diawali dengan tilawah al-quran bersama, kemudian pembimbing( Kyai dan Ustadzah)
memberikan motivasi dan ceramah mengenai topik ISLAM dan IMAN( bisa tentang Aqidah,
Fiqih, maupun Amaliyah dalam kehidupan sehari-hari), seusai pemberian ceramah maka sesi
berikutnya pembimbing memberikan kesempatan pada remaja untuk bertanya ataupun curhat
masalah kehidupan sehari-hari, kemudian pembimbing memberi arahan dan nasihat dalam
menghadapi permasalahan tersebut, dalam Liqa ini pembimbing juga memberi arahan mengenai
proses pelaksanaan dakwah yang perlu dilakukan. Supaya memberi rasa kebersamaan dan
kekeluargaan pada saat melaksanakan kegiatan Liqa, maka tempat melaksanakan kegiatan Liqa
bisa di masjid, di rumah pembimbing, di rumah santri, di tempat wisata ataupun juga bisa di
warung makan supaya lebih santai dan juga tetap bermakna tentunya .
Setidaknya inilah metode yang pernah penulis alami dan juga merasakan efeknya dalam
menjaga semangat dakwah sewaktu menempuh ilmu di perguruan tinggi. Metode Liqa ini
berdasarkan pengalaman yang dialami penulis benar-benar efektif dan selalu bisa memompa
semangat yang selalu membara untuk berjuang dalam dakwah baik dengan harta, jiwa, raga,
maupun pikiran.
Kalaupun saat ini kita belum mampu berjuang dalam dakwah dengan harta karena belum
dapat mencari nafkah sendiri, setidaknya sebagai umat Islam kita ikut berperan serta dalam
dakwah lewat tenaga( partisipasi aktif) dan pikiran.

Penulis
Arif Mahrus Shoffa