Anda di halaman 1dari 17

KONTRIBUSI BATALYON MLIWIS DALAM PERJUANGAN

MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DI TULUNGAGUNG


(1945-1949)

PROPOSAL
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Seminar
yang dibimbing oleh Bapak Drs. Mashuri, M.Hum.

oleh
Wiga Rafita
NIM 120731435968

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
April 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dimulai setelah
masuknya kembali tentara Sekutu dengan diboncengi NICA yang kemudian
menyebar keseluruh pelosok di Indonesia, hal ini didasari oleh kekalahan
tentara Jepang dan penyerahan kedaulatan kepada Sekutu. Tentara Sekutu tiba
di Indonesia pada bulan september 1945. Dua divisi Australia memasuki
Kalimantan dan Indonesia timur, sedangkan tiga divisi Inggris menduduki
Jawa dan Sumatera untuk mengurus 350.000 tentara Jepang dan beberapa
ratus ribu interniran sekutu (Nasution. 1977:3).
Kedatangan sekutu yang diboncengi oleh NICA akhirnya menimbul
sikap curiga masyarakat, selain itu juga adanya aksi polisionil Belanda akibat
Perundingan Linggarjati yang sebenarnya sangat merugikan pihak Indonesia.
Pihak Belanda atau sekutu merasa sebagai pemenang dari perang dunia II,
serta Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia karena dianggap tidak
sah. Sehingga menyebabkan perlawanan di mana- mana.
Agresi Militer Belanda I memiliki tujuan untuk merebut daerah- daerah
perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam terutama
minyak. Hingga kemudian Belanda melancarkan aksi serangan ke berbagai
daerah di Jawa timur bahkan hingga menerobos ke daerah- daerah. Fokus
utama mereka yaitu wilayah dimana terdapat perkebunan tebu dan pabrik
gula. Keadaan Tulungagung yang memiliki banyak lahan perkebunana tebu
dan adanya pabrik- pabrik gula seperti P.G. Mojdopanggung serta P.G.

Kunir, merupakan aset yang dibangun Belanda pada saat masih menjajah
dulunya sehingga menjadi incaran sekutu menguasainya kembali untuk
menutup keadaan ekonomi khas Belanda yang juga saat itu semakin menipis
akibat perang dengan Indonesia. Inilah yang kemudian menjadi awal
perlawanan terhadap sekutu di wilayah Tulungagung.
Peristiwa 10 November di Surabaya juga melatarbelakangi insideninsiden di berbagai wilayah di Jawa Timur. Pada masa- masa perjuangan
kemerdekaan di Indonesia pada tahun 1945-1949 telah menggerakan rakyat
hingga militer untuk usaha memperjuangkan kemerdekaan. Sesungguhnya
dalam tiap usaha untuk mempertahankan negara, masyarakat seluruhnya yang
berjuang dengan tentaranya, tenaga produksinya, tenaga pengangkutanya dan
kerelaannya untuk berkorban (Husein, 2005: 63).
Peristiwa berdirinya monumen Batalyon Mliwis di Tulungagung,
merupakan sebuah apresiasi dari perjuangan tentara- tentara perjuangan
menjadi tentara profesional yang saat itu berjuang mempertahankan
kemerdekaan. Wujud perang yang dilakukan oleh rakyat menjadi bergejolak
di berbagai wilayah di Tulungagung tidak lain adalah untuk menggagalkan
pemulihan kembali penjajahan.
Batalyon Mliwis sendiri merupakan sebuah Batalyon yang para
prajuritnya merupakan masyarakat Tulungagung . Sebelumnya bernama,
Batalyon Sobirin (Yon 21) yang kemudian disebut Yon Mliwis berkedudukan
di Tulungagung (Sudarno, 1993: 100). Keadaan gerilya di berbagai tempat
serta berpindah- pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya
menyebabkan seluruh militer serta masyarakat ikut berjuang mempertahankan
kemerdekaan di Tulungagung . Berawal dari peristiwa yang ada di daerah-

daerah lainnya. Jendral Sudirman yang saat itu merupakan panglima besar
TKR kemudian menugaskan seluruh Batalyon untuk melakukan pegamanan
di wilayah masing- masing mengingat Belanda sudah memasui wilayah
pelosok- pelosok Indonesia.
Adanya militer- militer yang terbentuk di Indonesia tidak terbentuk
dengan cara instan, namun salah satu faktor adalah pada masa 1945- 1949.
Fase Gerilya untuk memukul mundur (Belanda) yang ingin kembali
menjajah Indonesia. Militer Indonesia terwujud karena keinginan rakyat
terutama para pemuda, yang merasa terpanggil untuk berjuang
mempertahankan kemerdekaan negaranya melalui perjuangan kemerdekaan
melawan penjajah belanda maupun jepang (Tyastiti, 2013:11).
Selain politik gerilya, TNI dan masyarakat melakukan politik bumi
hangus terhadap asset- asset belanda yang ada di Indonesia seperti PG.
Mojdopangung dan PG. Kunir. Hal ini diharapkan agar belanda tidak
memiliki ruang gerak di Tulungagung
Penelitian terdahulu yang dapat dijadikan perbandingan terdapat pada
skripsi Afifah Sholihana tentang Perjuangan polri di Tlogowaru-Malang
195-1947. Penulisannya menerapkan tentang perjuangan seluruh lapisan
masyarakat juga militer di daerah Tlogowaru- Malang. Pada masa- masa
perjuangan Indonesia pada tahun 1945-1949 di kota Malang telah banyak
menggerakkan angkatan bersenjata seperti dari kepolisian republik Indonesia
yang dikendalikan oleh mobile brigade besar atau sekarang dikenal dengan
nama Brimob (Brigade Mobile). Ditunjukan dengan perjuangan mereka
mempertahankan dan merebut kembali kota malang dari sekutu. Dari skripsi
ini bisa dijadikan pembanding bagaimana usaha mempertahankan
kemerdekaan di daerah Tlogowaru- Malang oleh militer namun lebih kepada

instansi Brimob nya. Kemudian skripsi dari Helmi Wicaksono tentang


Revolusi Fisik di Malang Tahun 1945-1949, Penulisan ini menggambarkan
keadaan ekonomi serta gerilya di kota malang pasca agresi militer belanda 1
sampai tahun 1949 yang dilakukan militer bahkan masyarakat kota malang
selama bulan Januari 1949 hingga bulan Maret 1949 serta kondisi masyarakat
kota malang pasca Agresi Militer belanda I sampai tahun 1949. Dari skripsi
ini bisa digunakan sumber pembanding bagaimana keadaan gerilya di Kota
Malang hingga keadaan ekonominya. Kemudian skripsi dari Yuan Tyastiti
tentang Agresi Militer Belanda Tahun 1945- 1949 (studi kasus di
Tulungagung Jawa Timur) membahas mengenai keadaan Tulungagung saat
agresi Militer belanda hingga peran serta masyarakat dan militer dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dari sekian penelitian diatas,
sama- sama membahas mengenai keadaan Indonesia saat tahun 1945- 1949,
yang dalam keadaan Revolusi Fisik serta peran serta masyarakat hingga
militer. Untuk itu akan dilakukan penelitian lebih lanjut guna mendapatkan
pemahaman yang lebih baik.
Penelitian ini mengenai Kontribusi Batalyon Mliwis dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hal ini karena belum adanya
penelitian sebelumnya yang membahas mengenahi peran tentara Tulungagung
secara lebih mendalam, bagaimana latar belakang munculnya, kemudian
struktur organisasinya hingga peran dalam mempertahankan kemerdekaan di
Tulungagung.
B. Rumusan Masalah

Melihat latar belakang masalah seperti yang telah dikemukakan diatas,


maka dapat diajukan rumusan masalah yang nantinya diharapkan bisa
membawa pemahaman pada topik yang dibahas, diantaranya yaitu:
1. Bagaimana latar belakang terbentuknya Batalyon Mliwis dalam usaha
mempertahankan kemerdekaan di Tulungagung ?
2. Bagaimana struktur organisasi Batalyon Mliwis ?.
3. Bagaimana kontribusi Batalyon Mliwis di

dalam

perjuangan

mempertahankan kemerdekaan di Tulungagung ?

C. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah tersebut kiranya penulisan ini dapat
bermanfaat bagi pemahaman terhadap kontribusi monumen Batalyon Mliwis
terhadap upaya memperjuangkan kemerdekaan di Tulungagung (1945-1949).
Tujuan tersebut antara lain:
1.

Mengetahui keadaan Kota Tulungagung pada masa sebelum dan sesudah

kemerdekaan 1945- 1949.


2. Mengetahui perjuangan Batalyon Mliwis dalam mempertahankan
kemerdekaan dimasa Revolusi Fisik di Tulungagung.
3. Kontribusi Batalyon Mliwis di dalam perjuangan mempertahankan
kemerdekaan di Tulungagung.
D. Manfaat Penelitian
Mengacu pada tujuan penulisan diatas, maka hasil penulisan diharapkan
dapat bermanfaat, diantaranya yaitu :
1. Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan baru
mengenahi usaha perjuangan yang dilakukan oleh Batalyon Mliwis yang
berjuang di wilayah Tulungagung.

2. Praktis
a. Bagi Penulis
Dapat memberikan pengetahuan, pengalaman, serta pemahaman
terutama tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan terutama pada
tahun 1945-1949 (Revolusi Fisik).
b. Bagi Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang
Penelitian ini nantinya dapat dapat digunakan sebagai tambahan
wawasan sejarah khusunya tentang sejarah perjuangan mempertahankan
kemerdekaan di wilayah-wilayah plosok pada masa Revolusi Fisik dan
menambah referensi bagi generasi selanjutnya.
c.

Bagi guru sejarah

Penelitian ini juga dapat memberikan wawasan luas dalam


pembelajaran masyarakat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Khususnya di daerah- daerah pelosok seperti di Tulungagung.

E. Ruang Lingkup Penelitian


Setiap penelitian dan penulisan sejarah diharuskan di dalam
menentukan batasan- batasan penulisan topik di dalam pokok pembahasan,
dimana ini dimaksudkan agar penelitian lebih praktis dan mempunyai
kemungkinan untuk dikaji secara empiris, dan dapat dipertanggungjawabkan
secara metodologis (Abdullah, 1985: 10). Batasan tersebut meliputi ruang
lingkup spasial, temporal, serta keilmuan. Ruang lingkup sendiri juga

membantu para peneliti agar tidak terjerumus ke dalam pembahasan yang


terlalu luas (Koentjoroningrat, 1977: 28).
Ruang lingkup spasial yang diambil peneliti adalah Monumen batalyon
505 mliwis yang berada di depan SMAN 1 Boyolangu Tulungagung. Peneliti
mengkaji tentang kontribusi dari adanya Batalyon Mliwis tersebut dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Tulungagung. Pemilihan tema ini
karena peneliti ingin mengetahui kontribusi Batalyon Mliwis terhadap usaha
untuk mempertahankan kemerdekaan di Tulungagung, selain itu juga tidak
banyak masyarakat yang tidak tahu ataupun peka terhadap kontribusi
Batalyon Mliwis tersebut.
Lingkup temporal dalam penelitian ini antara tahun 1945- 1949.
Memilih temporal ini karena memang pada tahun itu merupakan masa
Revolusi Fisik dan gerilya diseluruh wilayah Indonesia, tahun 1947 Belanda
juga telah masuk ke Tulungagung, dan pada tahun 1949 Belanda semakin
terdesak oleh adanya perjanjian KMB serta adanya tentara pelajar Indonesia,
sehingga Belanda tidak menemukan tempat yang aman.
F. Kerangka Pemikiran

Kemerdekaan Indonesia
17 agustus 1945
Kekalahan jepang
melawan sekutu

Belanda masuk ke
Indonesia diboncengi
NICA
Tujuan awal :
Melucuti senjata
dari jepang.
Membebaskan
Ingin kembali
menguasai indonesia
tentara interniran

Usaha diplomasi

Konfrontasi dan revolusi


fisik di berbagai wilayah

Batalyon 505/ mliwis

Pada penelitian ini berfokus pada tahun 1945- 1949. Masa tersebut
merupakan
masa revolusi di IndonesiaStruktur
untuk organisasi
mengusir penjajahan yang
Latar
belakang terbentuknya
Kontribusi batalyon
batalyon mliwis
batalyon dalam
mliwis dalam usaha
kembali
ke Indonesia. Kerangka Teori diatas menjelaskan ketika Indonesia
mempertahankan
mempertahankan
kemerdekaaan
kemerdekaan
telah merdeka yaitu pada tahun 1945, selain itu Jepang juga mengalami
kekalahan melawan sekutu pada Perang Dunia II.
Keadaan tersebut membuat Belanda kembali ke Indonesia untuk
melucuti tentara sekutu serta membebaskan tentara interniran, namun ternyata
kedatangan kembali Belanda diboncengi oleh NICA ingin menguasai
Indonesia. Belanda menganggap bahwa saat itu kemerdekaan Indonesia tidak
sah. Tentara pendudukan sekutu di Indonesia tiba dan mendarat di Indonesia
pada bulan september 1945. Dua devisi Australia memasuki Kalimantan dan
Indonesia timur, sedangkan tiga devisi Inggris menduduki Jawa dan Sumatra
untuk mengurus 350.000 tentara Jepang dan beberapa ratus ribu interniran
sekutu (Nasution. 1977:3).
Hal inilah yang kemudian memuncukan perang diplomasi hingga
konfrontasi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Keadaan
revolusi dimana- mana membuat seluruh lapisan masyarakat berbondongbondong melawan Penjajahan yang ingin kembali menguasai Indonesia yang
telah merdeka. Keadaan gerilya yang dimpin oleh Jendral Sudirman untuk
memaksanya membuat intruksi keseluruh Batalyon untuk mengamankan
situasi di daerah masing- masing. Batalyon Mliwis sendiri merupakan
batalyon yang membela Tulungagung untuk mempertahankan kemerdekaan.
Penelitian ini akan membahas mengenai latar belakang Batalyon Mliwis

dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kemudian struktur


organisasinya dan yang terakhir mengenai kontribusi Batalyon Mliwis
mempertahankan kemrdekaan di Indonesia.
G. Metode Penelitian
Metode merupakan suatu prosedur, proses atau teknis yang sistematis
dalam penyelidikan suatu disiplin ilmu tertentu untuk mendapatkan objek
(bahan - bahan) yang diteliti. Dalam ilmu sejarah, metode berarti Bagaimana
mengetahui sejarah (Sjamsudin. 1996:32).
Dalam persiapan menyusun penelitian yang akan penulis lakukan maka
penulis menggunakan metode sejarah (history reseach). Metode tersebut
meliputi pemilian topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, historiografi.
Dengan menggunakan metode sejarah peneliti dapat merekontruksi kembali
peristiwa masa lampau yang dikaji berdasarkan data serta sumber lainnya
yang mendukung dalam penelitian.
Selain itu penelitian ini juga akan menggunakan metode sejarah lisan
untuk mengumpulkan sumber- sumber sejarah lisan sebagai pelengkap dan
bahan dokumenter. Metode sejarah lisan sangat diperlukan untuk
mengumpulkan kesaksian mata mengenai peristiwa sejarah yang berupa data
lisan yang banyak sekali peristiwa sejarah yang tidak terungkap ke dalam
dokumen - dokumen.
1. Pemilihan topik
Pemilihan topik sangat membantu dalam sebuah penelitian
khususnya dalam pengumpulan data sehingga peneliti dapat lebih selektif
dan terarah dalam pengumpulan data. Pemilihan topik dapat juga diawali
dengan penemuan sebuah fakta atau bukti dari sebuah peristiwa.
a. Kedekatan Emosional
Peneliti mengambil penelitian mengenai kontribusi Batalyon
Mliwis di Tulungagung karena ingin mengetahui bagaimana keadaan di

10

Tulungagung saat terjadi Revolusi Fisik hingga terbentuknya Batalyon


Mliwis di Tulungagung. Peneliti juga ingin mengetahui bagaimana usaha
Batalyon Mliwis mempertahankan kemerdekaan dari tangan Belanda.
Peneliti juga ingin mengetahui peran Militer dalam gerilya serta politik
bumi hangus yang dilakukan pihak militer di Tulungagung.
b. Kedekatan Intelektual
Adapun kedekatan intelektual penulis ini dilatarbelakangi oleh
buku dari sudarno mengenai sejarah pemerintahan militer dan perang
pamng praja di jawa timur selama perjuangan fisik 1945- 1950. Kedua
buku tersebut menjelaskan mengenai perjuangan Revolusi Fisik di Jawa
Timur serta menyebutkan mengenahi peran Batalyon Mliwis yang ada di
Tulungagung yang kemudian membuat Penulis ingin mengetahui secara
lebih mendalam mengenai peran Batalyon Mliwis dalam mempertahankan
kemerdekaan di Tulungagung.
2. Heuristik (Pengumpulan Sumber)
Heuristik merupakan proses mencari bahan atau menyelidiki
sejarah untuk mendapatkan sumber (Syamsudin, 1996: 66). Peneliti
mencari data seperti buku-buku yang relevan mengenai usaha perjuangan
memperjuangankan kemerdekaan Indonesia di Kabupaten Tulungagung.
Buku-buku tersebut dicari pada perpustakaan laboratorium sejarah
Universitas Negeri Malang, perpustakaan pusat Universitas Negeri
Malang, perpustakaan Kota Malang, perpustakaan Kota Tulungagung,
serta pencarian data melalui browsing di internet.
Selanjutnya penulis melakukan klasifikasi sumber kedalam
kategori data primer dan sekunder. Sumber yang digunakan oleh penulis
dibagi menjadi dua yaitu:
1. Sumber Primer

11

Data primer merupakan sumber data utama yang asli dan


sejaman dengan peristiwa. Penelitian ini menggunakan sumber
sejarah lisan dalam mengungkapkan kejadian di masa lampau.
Sumber yang digali mengenahi usaha perjuangan
memperjuangankan kemerdekaan di Indonesia khususnya di
kabupaten Tulungagung.
Penulis mengumpulkan sumber- sumber primer berupa
wawancara lisan serta mengumpulkan sumber- sumber arsip dari
kabupaten Tulungagung. Penulis melakukan wawancara dengan
seorang pensiunan TNI yang ikut andil di dalam mempertahankan
kemerdekaan yang bernama Bapak H.S panadji yang lahir tahun
1928 pangkat terakhir beliau adalah Letkol dan pernah menjabat
sebagai Kepala Veteran dan anggota DPR. Selain itu juga
wawancara dengan Bapak Supardi yang masih aktif di Kantor
Veteran.
2. Sumber skunder
Selain menggunakan sumber primer penulis dalam
penyusunan ini juga menggunakan sumber skunder. Sumber
sekunder dapat berupa hasil penelitian dan penulisan dari peneliti
lain yang berdasarkan sumber pertama (Sjamsudin, 1996: 101).
Sumber sekunder adalah sumber yang didapat dari informasi
seseorang yang tidak secara langsung terlibat di dalam peristiwa
atau objek tertentu. Sumber sekunder atau sumber kedua yang
digunakan dalam penulisan ini adalah berupa Koran, buku, atau
majalah yang berisi tentang kontribusi Batalyon Mliwis

12

Beberapa sumber skunder yang penulis gunakan


diantaranya yaitu buku karya A.H Nasution yang berjudul Sekitar
perang kemerdekaan indonesia jilid 2 mengenai diplomasi atau
bertempur, kemudian jilid 5 mengenai agresi militer belanda ,
kemudian jilid 6 perang gerilya semesta 1, kemudian jilid 10
perang gerilya semesta 2, buku dari Nyoman Dekker yang berjudul
Sejarah perjuangan nasional indonesia, buku dari Helius
Sjamsudin tentang Metodologi Sejarah, buku dari Coen Husain
Pontoh yang berjudul menentang mitos tentara rakyat, buku dari
soebijono, dkk yang berjdul Dwi Fungsi Abri: perkembangan dan
peranananya dala kehidupan politik di indonesia.
3. Kritik Sumber (verifikasi)
Setelah melakukan heuristik tahap penelitian selanjutnya adalah
kritik yaitu pengujian mengenai kebenaran dari sumber data. Kritik
dalam metode sejarah dibagi menjadi dua yaitu kritik eksternal dan
internal. Penentuan keaslian suatu smber berkaitan dengan bahan yang
digunakan dari sumber tersebut, atau biasa disebut kritik eksternal.
Sedangkan penyeleksian informasi yang terkandung dalam sumber
sejarah dapat dipercaya atau tidak, dikenal dengan kritik internal Untuk
kepentingan penulsan peneliti mencoba melakukan langkah- langkah
pengkritikan sumber- sumber sejarah yang telah dikumpulkan baik
sumber tertulis, maupun lisan.
1. Kritik Eksternal
Kritik eksternal digunakan untuk melihat keaslian sumber data
yang diperoleh. Apakah sumber tersebut asli atau tidak, yang dikritik

13

adalah tampilan luar dari sumber data tersebut Keadaan luar itu dapat
dilihat dari jenis font, kertas yang digunakan (jika berupa dokumen),
bagaimana kondisi sekitarnya, tekstur, tinta, gaya tulisan, bahasa,
kalimat, frasa dan lembaga penyimpan sumber.
Kritik ekstern yang dilakukan peneliti terhadap sumber primer
berupa arsip ataupun sumber sejarah lisan yang ada di kantor veteran
Kabupaten Tulungagung serta informan yang berkaitan.
2. Kritik Internal
Setelah melakukan kritik eksternal penulis melakukan kritik
internal yaitu evaluasi terhadap sumber untuk mendapatkan data yang
akurat. Informasi yang disampaikan merupakan suatu kebenaran, baik
dari hasil wawancara ataupun dari pengamatan arsip yang terkait.
Penulis melakukan perbandingan serta pengujian terhadap isi dari
sumber, perbandingan datau atau referensi yang sudah ada. Baik itu dari
data arsip, dokumen ataupun sejarah lisan.

4. Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran sejarah adalah suatu kegiatan untuk
melakukan analisa penafsiran terhadap sumber - sumber sejarah. Setelah
itu, dibandingkan dengan kajian pustaka dari penulisan sejarah dan yang
lainnya. Maka tersusunlah sebuah serangkaian fakta ke dalam sebuah
interpretasi yang menyeluruh. Pada tahap interpretasi penulis tetap
merujuk pada fakta yang ada di lapangan yang telah teruji pada tahap
kritik.

14

Inti dari penulisan ini ialah melakukan penelitian mengenai usaha


mempertahankan kemerdekaan di Kabupaten Tulungagung pada tahun
1945-1949. Penulisan ini dapat menginterpretasikan data- data yang
diperoleh penulis melalui wawancara dari Kantor Veteran Kabupaten
Tulungagung dan wawancara dengan seorang mantan pejuang Batalyon
Merak yang bernama Bapak H.S Panadji.
Penafsiran penulis yang akan dijelaskan nantinya tidak lepas dari
tahapan- tahapan interpretasi. Tahapan interpretasi dibagi menjadi dua,
yaitu analisis yang berarti menguraikan dan sintesis yang berarti
menyatukan.

5. Historiografi
Penulisan sejarah atau historigrafi merupakan tahap akhir dari
keseluruhan proses penelitian peristiwa sejarah. Pada proses penulisan, fakta
satu dihubungkan dengan fakta yang lainnya berdasarkan konsep pemikiran
yang sistematis, logis, dan kronologis dengan memperhatikan pula segi
kausalitas (sebab - akibat). Pada penelitian ini peneliti melakukan kegiatan
akhir sebagai hasil tahapan sebelumnya yang telah dilakukan. Peneliti
dituntut untuk mendapatkan sintesis dari hasil penelitiannya yang diwujudkan
dalam suatu penulisan sejarah yang utuh yang berjudul Kontribusi Batalyon
Mliwis dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan di Tulungagung
1945- 1949.
6. Sistematika

15

Dalam penelitian ini , sistematikanya terdiri atas lima bab. Bab I yaitu
pendahuluan yang pertama berisi latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penulisan, manfaat penulisan, kajian pustaka, landasan teori, metode
penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II menjelaskan latar belakang terbentuknya Batalyon Mliwis. Apa
yag telah melatar belakangi berdirinya terkait perjuangan mempertahankan
kemerdekaan Indonesia tahun 1945- 1949.
BAB III menjelaskan mengenahi struktur organisasi yang ada di dalam
Batalyon Mliwis.
BAB IV menjelaskan tentang kontribusi batalyon mliwis dalam
perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Tulungagung tahun 1945- 1949.
BAB V penutup, berisi tentang kesimpulan dari penelitian yang telah
dilakukan serta saran- saran kepada peneliti selanjutnya.

Daftar Rujukan
Abdullah, Taufik (Ed) 1985. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Dekker, Nyoman. 1980. Sejarah Perjuangan Nasional Indonesia. Malang . IKIP
Malang.
Ensiklopedia bebas, Wikipedia bahasa Indonesia.Gerilya
(online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Gerilya), diakses 10 oktober 2014
jam 10.00 wib
Koentjaraningrat. 1977. Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia
Nasution. AH.1997. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Diplo. Bandungasi
Atau Bertempur (Jilid 2): Disjarah AD dan Angkasa.
Nasution. AH.1997. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Agresi Militer
Belanda 1(Jilid 5). Bandung: Disjarah AD dan Angkasa.
Nasution. AH.1997. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Perang Gerilya
Semesta 1 (Jilid 6). Bandung: Disjarah AD dan Angkasa.
Nasution. AH.1997. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Perang Gerilya
Semesta 2 (Jilid 10). Bandung: Disjarah AD dan Angkasa.
Pontoh, Coen Husain. 2005. Menentang Mitos Tentara Rakyat. Yogyakarta: Resist
book
Sholihana, Afifah. 2012. Perjuangan Polri di Tlogowaru- Malang 1945-1947.
Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang
Sjamsudin, Helius. 1996. Metodologi Sejarah. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga
Akademik
Soebijono, dkk. 1992. Dwi Fungsi Abri: Perkembanganya dan Perananya dalam
Kehidupan Politik di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Sudarno, dkk. 1993. Sejarah Pemerintahan Militer dan Perang Pamong Praja di
Jawa Timur selama Perjuangan Fisik 1945- 1950. Jakarta: Balai Pustaka
Tyastiti, Yuan. 2013. Agresi Militer Belanda Tahun 1945- 1949 (Studi Kasus di
Tulungagung Jawa Timur). Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Wicaksono, Hilmi. 2012. Revolusi Fisik di Kota Malang Tahun 1945-1949.
Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

20