Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan pendukung infrastruktur semakin meningkat seiring dengan
perkembangan zaman. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya intensitas
pembangunan berbagai fasilitas infrastruktur di berbagai sektor di Indonesia,
mulai dari sektor energi, transportasi jalan raya, transportasi laut, bangunanbangunan perkantoran, sekolah, rumah sakit, hingga telekomunikasi, dan
jaringan air bersih, yang kesemuanya itu memerlukan adanya infrastruktur
yang memadai. Tetapi pembangunan infrastruktur tersebut seperti halnya
proyek-proyek konstruksi lainnya juga selalu dibayangi oleh risiko kegagalan.
Semakin besar proyek konstruksi maka semakin besar pula risikonya.
Proyek konstruksi merupakan suatu bidang yang dinamis dan
mengandung

risiko.

Risiko

dapat

memberikan

pengaruh

terhadap

produktivitas, kinerja, kualitas dan dan batasan biaya dari proyek. Risiko
dapat dikatakan merupakan akibat yang mungkin terjadi secara tak terduga.
Walaupun suatu kegiatan telah direncanakan sebaik mungkin, namun tetap
mengandung ketidakpastian bahwa nanti akan berjalan sepenuhnya sesuai
rencana. Risiko pada proyek konstruksi bagaimanapun tidak dapat dihilangkan
tetapi dapat dikurangi atau ditransfer dari satu pihak kepihak lainnya (Kangari,
1995).
Analisis risiko semakin penting saat ini untuk dikontrol atau di
manajemen, banyak kasus dimana kegagalan mengelola risiko dengan baik
1

bisa mengakibatkan kerugian yang cukup besar, baik organisasi, bahkan juga
individu-individu. Kita banyak melihat kejadian seperti kerugian yang dialami
perusahaan.
Bila risiko terjadi akan berdampak pada terganggunya kinerja proyek
secara keseluruhan sehingga dapat menimbulkan kerugian terhadap biaya,
waktu dan kualitas pekerjaan. Para pelaku dalam industri konstruksi saat ini
semakin menyadari akan pentingnya memperhatikan permasalahan risiko pada
proyek-proyek yang ditangani, karena kesalahan dalam memperkirakan dan
menangani risiko akan menimbulkan dampak negatif, baik langsung maupun
tidak langsung pada proyek konstruksi. Risiko dapat menyebabkan
pertambahan biaya dan keterlambatan jadwal penyelesaian proyek.
Mengelola risiko adalah suatu pengelolaan risiko yang dimulai dari
identifikasi risiko secara aktif, lalu menilai tingkat level risiko-risiko sehingga
didapatkan prioritas pengelolaanya, serta menentukan langkah-langkah
penanganannya agar risiko dapat ditekan semaksimal mungkin. Pengelolaan
risiko yang baik akan memberikan kepercayaan diri pada tim proyek dalam
melaksanakan proyek. Pengelolaan ini akan menghindari adanya kejadiankejadian tak terduga yang membahayakan proyek.
Oleh karena besarnya dampak dari risiko yang ditimbulkan pada
bidang konstruksi, maka tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis dan
mengetahui serta mengukur seberapa sering risiko tertentu terjadi dan
seberapa besar dampak pada proyek konstruksi, dengan melakukan studi
literatur yang mengacu pada teori-teori yang relevan serta berdasarkan

penelitian terdahulu. Proseding Seminar Nasional Teknologi XXI program


studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014 dimana dalam jurnal tersebut telah
mengidentifikasi beberapa variabel risiko, sehingga berdasarkan variabel
tersebut penulis melakukan pengembangan penelitian untuk penulisan
proposal tugas akhir

pada proyek pembangunan rumah sakit pendidikan

Universitas Halu Oleo Kendari tahap dua. Dengan judul penelitian Analisis
Faktor Risiko Pada Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Universitas
Halu Oleo Tahap II.
Rumah sakit pendidikan UHO adalah rumah sakit yang dibangun di
lingkungan kampus yang letaknya tidak jauh dari Fakultas Kedokteran. Tujuan
dibangunnya rumah sakit ini adalah sebagai marine medical science yaitu
kedokteran yang berbasis kemaritiman.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka didapat rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah:
1) Berapa nilai probability dan impak risiko?
2) Berapa nilai tingkat risiko terhadap konstruksi?
3) Bagaimana hubugan antara frekuensi dan dampak dari risiko dari jawaban
responden ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian


A. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam proposal ini adalah:
1) Untuk mengetahui nilai probability dan impack risiko
2) Untuk mengetahui tingkat risiko terhadap konstruksi
3) Untuk mengetahui hubungan antara frekuensi dan dampak risiko
terhadap konstruksi dari jawaban responden
B. Manfaat Penelitian
3

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan


kepada konsultan perencana dan kontraktor dalam mengantisipasi risikorisiko pada proyek konstruksi. Bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan
mampu memberikan masukan dalam mengendalikan suatu proyek.
1.4 Lingkup Pembahasan dan Batasan Masalah
A. Lingkup Pembahasan
Untuk memberikan arah yang lebih fokus dan mempermudah
penyelesaian masalah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai maka
ruang lingkup dan batasan masalah dari penelitian ini adalah:
Menganalisis frekuensi dan besar dampak risiko dalam proyek
B. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah hanya membahas:
1) Responden adalah para kontraktor dan konsultan PT.Delima Emas
Gasindo
2) Wilayah kerja yang diamati adalah Lokasi Proyek, yaitu di Rumah
Sakit Pendidikan UHO Tahap II
3) Penelitian ini secara spesifik terfokus pada probabilitas dan besar
dampak risiko yang terjadi pada proyek konstruksi.
1.5 keaslian Penelitian
Penelitian mengenai analisis faktor risiko sudah pernah dilakukan
dibeberapa tempat. Sedangkan untuk di proyek Pembangunan Rumah Sakit
Pendidikan UHO baru baru pertama dilakuakan. Ada beberapa studi mengenai
analisis risiko yang digunakan dalam tugas akhir ini, adalah :
Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu
Nama
Wira
W., Putu
Artama

Judul
Analisa risiko
untuk
menentukan

Pembahasan
Penelitian ini
mengkaji tentang
analisis risiko,

Persamaan
Menganalisis
risiko pada
proyek

Perbedaan
Peneliti tersebut
mengidentifikasi
risiko biaya

W.,
Supani
Hardjo
Diputro

biaya kontinjensi pelaksanaan


konstruksi
pada
konstruksi, dan biaya
pelaksanaan
kontinjensi
konstruksi
proyek jalan tol
Surabaya
Mojokerto seksi
IB

kontinjensi.
Sedangkan peneliti
hanya
menganalisis
risiko berdasarkan
identifikasi dari
jurnal tersebut.

Tabel Lanjutan 1.1 Penelitian Terdahulu


Nama
Lazuardi
Gagah
M., Widi
Hartono,
Sugiyart
o

Judul
Analisis
Pengaruh
Risiko Pada
Kontrak kerja
Kontstruksi
terhadap
Biaya
Pekerjaan
(Studi Kasus :
Proyek
Pembangunan
Jalan
Tol
Bogor
Ring
Road Seksi II
A

Pembahasan
Penelitian ini
membahas tentang
probability dan
impact terhadap
biaya konstruksi

Persamaan
Menganalisis
tingkat risiko
berdasarkan
probabilitas
dan dampak.

Perbedaan
Karakteristik
lokasi studi,
peneliti tersebut
mengidentifikasi
pada
pembangunan
jalan sedangkan
peneliti pada
pembangunan
rumah sakit

I Wayan
Sukaarta,
B.F.
Sompie,
H. Tarore

Analisis risiko
pada proyek
pembangunan
dermaga study
kasus dermaga
Pehe di
Kecamatan
Siau Barat
Kabupaten
Kepulauan
Sitaro

Mengkaji tentang
penentuan level
risiko dan respon
risiko pada tahap
konstruksi yang
berpotensi
mempunyai
risiko tinggi
karena lokasi
proyek yang
berada di dekat
gunung merapi
yang aktif

Menganalisis
risiko pada
proyek
konstruksi

Menganalisis
faktor-faktor risiko
pada dermaga yang
sudah beroperasi
tetapi walaupun
belum selesai
dengan kondisi
cuaca yang buruk.
Sedangkan penulis
meneliti pada
proyek yang
sementara
konstruksi dengan
kondisi yang
lumayan baik.

I
Nyoman
Norken,
I
Nyoman
Yudha
A., Luh
Komang
Ayu M.

Manajemen
risiko pada
proyek
konstruksi di
pemerintah
kabupaten
Jembrana

Penelitian ini
mengidentifikasi
risiko-risiko yang
komprehensif
untuk mengetahui
risiko yang paling
dominan muncul.

Menganalisis
faktor risiko
pada saat
pekerjaan
konstruksi.

Karakteristik
lokasi studi,
peneliti tersebut
memanajemen
risiko yang akan
muncul,
Sedangkan
penulis
menganalisis
berdasarkan
variabel risiko

Persamaan
Membahas
risiko pada
proyek
konstruksi

Perbedaan
Membahas
manajemen risiko
secara umum
berdasarkan teoriteori yang relevan.
Sedangkan penulis
membahas analisis
risiko dengan
melakukan studi
kasus

Tabel Lanjutan 1.1 Penelitian Terdahulu


Judul
Manajemen
risiko dalam
proyek
konstruksi

Pembahasan
Mengkaji tentang
manajemen risiko
pada proyek
konstruksi.

A Study of
Risk
Management
Techniques for
Construction
Projects in
Developing
Countries

Penelitian ini
mengkaji tentang
proses manajemen
risiko pada proyek
konstruksi

Membahas
tentang
manajemen
risiko pada
proyek
konstruksi

Penelitian tersebut
membahas proses
memanajemen
risiko, sedangkan
penulis
menghitung besar
jumlah frekuensi
risiko

1.6 Sistematika Pembahasan


Adapun sistematika penulisan tugas akhir ini yang merupakan
gambaran dari seluruh isi pembahasan yang akan diuraikan secara singkat
pada masing-masing bab sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian,
lingkup dan batasan pembahasan, serta metode dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Menguraikan tentang dasar teori yang mendukung analisa dan
permasalahan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Menguraikan tentang waktu dan tempat penelitian, metode pengumpulan


data, serta alur penelitian.
BAB IV ANALISIS DAN NPEMBAHASAN
Berisi tentang informasi dan tata cara pengumpulan data, pengolahan data,
hasil-hasil penelitian dan pengamatan untuk menjawab masalah yang ada
dari penelitian serta dapat memberikan solusi dan alternatif dari masalah
yang diteliti.
BAB V PENUTUP
Kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan bab sebelumnya dan saran
mengenai temuan-temuan penting untuk dijadikan masukan yang
diperoleh dari penelitian ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Proyek konstruksi
Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu
kali dilaksanakan dan umumnya berjangka pendek serta jelas waktu awal dan
akhir kegiatannya. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, ada suatu proses yang

mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan berupa


bangunan. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya
melibatkan pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak
langsung (Labombang, 2011). Menurut Ervianto (2002), proyek konstruksi
mempunyai tiga karakteristik yang dapat dipandang secara tiga dimensi:
1) Bersifat unik, tidak pernah terjadi rangkain kegiatan yang sama persis
(tidak ada proyek yang identik, yang ada adalah proyek sejenis), proyek
bersifat sementara dan selalu melibatkan grup pekerja yang berbeda-beda.
2) Dibutuhkan sumber daya, setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber
daya yaitu tenaga kerja, uang, peralatan, metode dan material.
3) Organisasi, setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di dalamnya
terlibat sejumlah individu dengan keahlian yang bervariasi. Langkah awal
yang harus dilakukan adalah menyatukan visi menjadi satu tujuan yang
ditetapkan organisasi.
Dalam proses mencapai tujuan proyek telah ditentukan tiga
batasan/kendala (triple constraint) yaitu besar biaya (anggaran) yang
dialokasikan, mutu dan jadwal yang harus dipenuhi.

2.2 Pengertian Risiko


Istilah risiko (risk) memiliki banyak definisi. Tetapi pengertian
secara ilmiah sampai saat ini ini masih tetap beragam. Menurut kamus bahasa
Indonesia versi online dalam buku Manajemen Risiko Bisnis Pramana (2011),
risiko

adalah

akibat

yang

kurang

menyenangkan

(merugikan,

membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Dengan kata lain, risiko
merupakan kemungkinan situasi atau keadaan yang dapat mengancam
pencapaian tujuan serta sasaran sebuah organisasi atau individu. Pramana

(2011) lebih lanjut mengatakan bahwa Secara ilmiah risiko didefinisikan


sebagai kombinasi fungsi dari frekuensi kejadian, probabilitas dan
konsekuensi dari bahaya risiko yang terjadi. Risiko-risiko yang terdapat pada
proyek konstruksi sangat banyak, namun tidak semua risiko-risiko tersebut
perlu diprediksi dan diperhatikan untuk memulai suatu proyek karena hal itu
akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pihak-pihak didalam proyek
kontruksi perlu untuk memberi prioritas pada risiko-risiko yang penting yang
akan memberikan pengaruh terhadap keuntungan proyek.
Risiko adalah variasi dalam hal-hal yang mungkin terjadi secara alami
atau kemungkinan terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan yang
merupakan ancaman terhadap properti dan keuntungan finansial akibat bahaya
yang terjadi. Manajemen risiko merupakan Pendekatan yang dilakukan
terhadap risiko yaitu dengan memahami, mengidentifikasi dan mengevaluasi
risiko suatu proyek. Secara ilmiah risiko didefinisikan sebagai kombinasi
fungsi dari frekuensi kejadian, probabilitas dan konsekuensi dari bahaya risiko
yang terjadi.

Risiko = f (frekuensi kejadian, probabilitas, konsekuensi).. (2.1)


Risiko proyek dalam manajemen risiko adalah efek kumulasi dari
peluang kejadian yang tidak pasti, yang mempengaruhi sasaran dan tujuan
proyek (Wideman 1992).

2.3 Macam-Macam Risiko

10

Risiko adalah buah dari ketidakpastian, dan tentunya ada banyak


sekali faktor-faktor ketidakpastian pada sebuah proyek yang tentunya dapat
menghasilkan berbagai macam risiko. Risiko dapat dikelompokkan menjadi
beberapa macam menurut karakteristiknya, yaitu antara lain:
1. Risiko berdasarkan sifat
a. Risiko Spekulatif (Speculative Risk), yaitu risiko yang memang
sengaja diadakan, agar dilain pihak dapat diharapkan hal hal yang
menguntungkan. Contoh: Risiko yang disebabkan dalam hutang
piutang, membangun proyek, perjudian, menjual produk, dan
sebagainya.
b. Risiko Murni (Pure Risk), yaitu risiko yang tidak disengaja, yang jika
terjadi dapat menimbulkan kerugian secara tiba tiba. Contoh: Risiko
kebakaran, perampokan, pencurian, dan sebagainya.
2. Risiko berdasarkan dapat tidaknya dialihkan
a. Risiko yang dapat dialihkan, yaitu risiko yang dapat dipertanggungkan
sebagai obyek yang terkena risiko kepada perusahaan asuransi dengan
membayar sejumlah premi. Dengan demikian kerugian tersebut
menjadi tanggungan (beban) perusahaan asuransi.

11

b.

Risiko yang tidak dapat dialihkan, yaitu semua risiko yang termasuk
dalam risiko spekulatif yang tidak dapat dipertanggungkan pada
perusahaan asuransi.
Risiko-risiko yang terdapat pada proyek konstruksi sangat
banyak, namun tidak semua risiko-risiko tersebut perlu diprediksi dan
diperhatikan untuk memulai suatu proyek karena hal itu akan
memakan waktu yang lama. oleh karena itu pihak-pihak di dalam
proyek konstruksi perlu untuk memberi prioritas pada risiko-risiko
yang penting yang akan memberikan pengaruh terhadap keuntungan
proyek.
Risiko-risiko tersebut adalah (Wideman, 1992):
a. External, tidak dapat diprediksi (tidak dapat dikontrol)
1) perubahan peraturan perundang-undangan
2) bencana alam
3) akibat kejadian pengrusakan dan sabotase
4) pengaruh lingkungan dan sosial, sebagai akibat dari proyek,
5) kegagalan dan penyelesaian proyek.
b. External dapat diprediksi (tetapi tidak dapat dikontrol):

12

1) risiko pasar,
2) operasional (setelah proyek selesai)
3) pengaruh lingkungan
4) pengaruh sosial
5) Perubahan mata uang
6) Inflasi
7) Pajak
c. Internal non teknik ( tetapi umumnya dapat dikontrol):
1) Manajemen
2) jadwal yang terlambat
3) pertambahan biaya
4) cash flow
5) potensi kehilangan atas manfaat dan keuntungan
d. Teknik (dapat dikontrol):
1) perubahan teknologi
2) risiko-risiko spesifikasi atas teknologi proyek,
13

3) Desain
4) Hukum, timbulnya kesulitan akibat dari:
a) Lisensi
b) hak paten
c) gugatan dari luar
d) gugatan dari dalam
e) hal-hal tak terduga
Menurut Flanagan & Norman (1993), risiko-risiko dalam proyek
konstruksi adalah:
a. penyelesaian

yang

gagal

sesuai

desain

yang

telah

ditentukan/penetapan waktu konstruksi


b. kegagalan untuk memperoleh gambar perencanaan, detail
perencanaan/izin dengan waktu yang tersedia.
c. Kondisi tanah yang tidak terduga
d. Cuaca yang sangat buruk
e. Pemogokan tenaga kerja
f. Kenaikan harga yang tidak terduga untuk tenaga kerja dan bahan
14

g. Kecelakaan yang tejadi dilokasi yang meyebabkan luka


h. Kerusakan yang terjadi pada struktur akibat cara kerja yang jelek
i. Kejadian tidak terduga (banjir, gempa bumi, dan lain-lain)
j. Klaim dari kontraktor akibat kehilangan dan biaya akibat
keterlambatan produksi karena detail desain oleh tim desain.
k. Kegagalan dalam penyelesaian proyek dugaan budget yang telah
ditetapkan.

Sumber-sumber risiko (Flanagan & Norman, 1993) :


a) Timbulnya inflasi,
b) Kondisi tanah yang tidak terduga,
c) Keterlamabatan material,
d) Detail desain yang salah, seperti ukuran yang salah dari
gambar yang dibuat oleh arsitek,
e) Kontraktor utama tidak mampu membayar/bangkrut,
15

f) Tidak ada koordinasi.

2.4 Konsep Analisis Risiko Dan Manajemen


Manajemen risiko adalah proses untuk mengidentifikasi, menganalisis
dan menentukan tindakan untuk menghindari ancaman pada setiap proyek.
Semua langkah-langkah dalam proses manajemen risiko harus dimasukkan
untuk menghadapi risiko, dalam rangka melaksanakan proses proyek. Karena
sifat dari proyek-proyek konstruksi, manajemen risiko adalah proses yang
sangat penting.
Risiko yang terkait dengan industri konstruksi dapat dikategorikan menjadi:
2.4.1

Jenis Risiko
1.

Risiko Teknis :
a) Desain yang tidak lengkap
b) Spesifikasi yang tidak memadai
c) Situs investigasi yang tidak memadai
d) Perubahan dalam lingkup prosedur konstruksi
e) ketersediaan sumber daya tidak mencukupi

2. Risiko Konstruksi :
a) produktivitas tenaga kerja
b) perselisihan Buruh
c) kondisi lapangan
d) kegagalan peralatan

16

e) perubahan desain
f) standar kualitas terlalu tinggi
g) Teknologi baru
3. Risiko Fisik
a) Kerusakan struktur
b) Kerusakan pada peralatan
c) luka Buruh
d) pencurian peralatan dan bahan
4. Risiko Organisasi
a) hubungan kontraktual
b) Pengalaman kontraktor
c) Sikap peserta
d) Pengalaman tenaga kerja
e) Komunikasi
5. Risiko keuangan
a) Peningkatan biaya bahan
b) permintaan pasar rendah
c) penundaan fluktuasi kurs
d) Pembayaran tidak benar
e) Pajak estimasi
6. Risiko Sosial-politik
a) Perubahan undang-undang dan peraturan
b) Polusi dan peraturan keselamatan

17

c) Suap / Bahasa Korupsi / penghalang Budaya


d) Hukum dan ketertiban Perang
e) kekacauan dan sipil
f) Kebutuhan untuk izin dan persetujuan mereka

2.4.2

Faktor Yang Mempengaruhi Risiko


1) Sejarah:
proyek konstruksi baru lebih rentan terhadap risiko karena
berbeda dengan proyek-proyek lain. proyek yang lebih awal
kemungkinan berhasil terhadap risiko karena ada proyek serupa
yang telah dilakukan sebelumnya.
2) Manajemen Stabilitas:
Stabilitas manajemen berarti seluruh saham manajemen yang
memiliki tujuan yang sama atau tujuan untuk setiap proyek.
Oleh karena itu, akan bermanfaat untuk mencapai tujuan
proyek dengan mudah. Jika manajemen tidak stabil maka dapat
mempengaruhi tujuan proyek.
3) Keahlian dan pengalaman staf :
Jika staf

pada setiap proyek cukup berpengalaman dan

memiliki keahlian yang berbeda kemungkinan kualitas, biaya


dan tujuan lainnya dapat dicapai.
4) Tim Ukuran:

18

Untuk tim yang lebih besar dari setiap proyek ada


kemungkinan

lebih

dari

terjadinya

masalah

karena

miskomunikasi.
5) Sumber daya Ketersediaan:
Jika proyek tersebut tersedia dengan jumlah sumber daya yang
baik maka respon terhadap masalah akan menjadi baik. Karena
jika proyek tersebut tersedia sumber daya lebih besar maka
dapat menangani risiko yang berbeda dengan mudah.
6) Waktu Kompresi:
Jika jadwal proyek sangat padat ada kemungkinan kelebihan
risiko dalam proyek. Ketika lebih banyak waktu yang tersedia
untuk proyek, maka dapat diatasi dengan mengurangi dampak
risiko pada proyek.
7) Kompleksitas:
Jika proyek ini sangat kompleks ada kemungkinan lebih untuk
terjadinya masalah dalam proyek.

2.5 Proses Manajemen Risiko


Manajemen risiko adalah proses pengukuran atau penilaian risiko
serta pengembangan strategi pengelolaanya. Strategi yang dapat diambil
antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari
risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua

19

konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada


risiko risiko yang yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana
alam atau kebakaran kematian serta tuntutan hukum). Manajemen risiko
merupakan tindakan dalam menghadapi risiko, dimana hal tersebut meliputi
perencanaan risiko, penilaian (identifikasi dan analisa) risiko, pengembangan
strategi penanganan risiko, dan pengawasan risiko untuk mengetahui
bagaimana risiko tersebut berubah. Analisa kualitatif risiko meliputi metode
untuk menentukan prioritas pada risiko yang teridentifikasi untuk tindakan
lebih jauh. Analisa kualitatif risiko menilai prioritas risiko yang
teridentifikasi menggunakan probabilitas terjadinya risiko, dan dampak yang
terjadi pada proyek akibat risiko.
Tujuan dari analisis dan manajemen risiko adalah membantu
menghindari kegagalan dan memberikan gambaran tentang apa yang terjadi
bila pembangunan yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan rencana.
Menurut Godfrey (1996) analisis risiko yang dilakukan secara sistematis
dapat membantu untuk:

Mengidentifikasi, menilai dan merangking risiko secara jelas.


Memusatkan perhatian pada risiko utama (major risk)
Memperjelas keputusan tentang batasan kerugian
Meminimalkan potensi kerusakan apabila timbul keadaan yang

paling jelek
Mengontrol aspek ketidakpastian
Memperjelas dan menegaskan peran setiap orang/badan yang terlibat

ktuPenilaian kembali

dalam manajemen risiko.

Identifikasi risiko

20

Apakah risiko ini dapat dipengaruhi?


Tidak perlu
pertimbangan
lebih lanjut
ya

Evaluasi dampak terhadap proyek


(evaluasi risiko) Risiko yang dianggap penting

Tentukan siapa yang bertangung jawab


terhadap risiko (Aloksi Risiko)
Jika bertanggung jawab atas risiko ini,
apakah anda akan memindahkan risiko ini
kepada pihak lain (pengurangan Risiko)
Gambar 2.1 Diagram Alir Manajemen Risiko
Sumber: Duffield dan Trigunarsyah, 1999
Proses dalam memanajemen risiko menurut Flanagan dan
Norman (1993) ditunjukan pada gambar yang memperlihatkan
urutan dalam menangani risiko secara umum, tahap-tahap dalam
proses manajemen risiko, yaitu:

1. Identifikasi Risiko
Identifikasi risiko adalah mengidentifikasi kondisi-kondisi
ketidakpastian yang menimbulkan risiko, sumber risiko serta
pengaruhnya. Pendekatan-pendekatan untuk mengidentifikasi risiko

21

antara lain: Checklist, brainstorming, analisis skenario serta


wawancara dan kuesioner.
Identifikasi risiko merupakan suatu langkah pertama dari
manajemen

risiko

yang

paling

mungkin

terjadi

dan

mendokumentasikan karakteristiknya (Jamal & Keith 1990).


Sumber-sumber utama timbulnya risiko yang umum untuk setiap
proyek konstruksi, menurut Duffield dan Trigunansyah (1999)
adalah:
a. Fisik: kerugian atau kerusakan akibat kebakaran, gempa bumi
banjir kecelakaan dan tanah longsor,
b. Lingkungan: kerusakan ekologi, polusi dan pengolahan limbah,
penyelidikan keadaan masyarakat.
c. Perancangan:
1) Teknologi baru, aplikasi baru, ketahanan uji, dan
keselamatan,
2) Rincian ketelitian dan kesesuaian spesifikasi,
3) Risiko perancangan yang timbul dari pengukuran dan
penyelidikan,
4) Kemungkinan perubahan terhadap rancangan yang telah
disetujui,
5) Interaksi rancangan dengan metode konstruksi.
d. Logistik :
1) Kehilangan atau kerusukan material dan peralatan dalam
perjalanan,
2) Ketersediaan sumber daya khusus
3) Pemisahan organisasi
e. Keuangan:
1) Ketersediaan dana dan kecukupan asuransi,
2) Penyediaan aliran kas yang cukup,
3) Kehilangan akibat kontraktor, supplier,
4) Fluktuasi nilai tukar dan inflasi,
5) Perpajakan,

22

6) Suku bunga,
7) Biaya pinjaman.
f. Perundang-undangan

perubahan

disebabkan

perundang-

undangan atau pemerintah


g. Keamanan properti intelektual
h. Hak atas tanah dan penggunaan
i. Politik :
1) Risiko politik di negara pemilik proyek, supplier dan
kontraktor, peperangan revolusi dan perubahan hukum
2) Ketidakpastian dari kebijakan pemerintah
j. Konstruksi,
1) Keselamatan,
2) Hubungan industrial,
3) Tingkat perubahan dari rancangan awal,
4) Cuaca,
5) Kualitas dan ketersediaan manajemen dan supervise,
6) Kondisi yang tersebunyi.
k. Operational :
1) Fluktuasi permintaan pasar terhadap produk dan jasa yang
2)
3)
4)
5)
6)

dihasilkan
Kebutuhan perawatan
Keandalan
Keselamatan pelaksanaan
Ketersediaan pabrik
Manajemen
Langkah yang dilakukan untuk mengidentifikasi risiko

pada penelitian ini adalah dengan merujuk pada penelitian


terdahulu, seperti yang tersaji pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2.1 Identifikasi Risiko


R

Sumber Rujukan

Risiko
Internal
Risiko personil

Kualitas tenaga teknis,( termasuk psikologis,


integritas moral, teknik operasi dan efisiensi).

23

Wira Wardana, Putu


Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D

2.

Kualitas dan personil manajemen (Termasuk


diathesis psikologis, integritas moral dan tingkat
manajemen)
Risiko
Risiko teknologi konstruksi
Pertimbangan yang tidak matang terhadap kondisi
lapangan
Risiko teknologi desain

Penyimpangan desain dari konstruksi


Risiko perelatan dan material

Jenis dan kualitas yang salah dari bahan baku


material, produk jadi dan semi manufaktur

Keterlambatan dalam penyediaan dan masukkan


peralatan konstruksi

Kapasitas produksi dari peralatan konstruksi yang


tidak cukup
Kerusakan mesin konstruksi dan kesalahan listrik

8
9
10

Kekurangan dari pemeliharaan peralatan


kelebihan muatan dari peralatan konstruksi

dan

Peralatan yang tidak digunakan dalam waktu lama

Wira Wardana, Putu


Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D

Tabel 2.1 lanjutan identifikasi risiko


11

Tidak tersedianya atau kekurangan material

12

Pencurian peralatan dan mesin di Site


Risiko keselamatan

13

Kecelakaan di Site

14

Kematian karena kecelakaan

24

Wira Wardana, Putu


Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D

15

Perlengkapan keselamatan kerja


Eksternal
Risiko Alami

16

Kondisi cuaca dan lingkungan yang buruk

17

Kondisi lapangan yang tidak diinginkan (ketidak


stabilan pasokan air, listrik dan sebagainya)

18

Menipisnya sumber daya alam


Risiko Sosial

19

Masalah yang dibuat oleh warga sekitar

Dr. Ir. La Ode


Muh.Magribi, MT
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D
Wira Wardana, Putu
Artama W, Supani
H.D

Sumber: Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI


program studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014.

2. Klasifikasi risiko
Secara umum kondisi-kondisi alam, manusia, lingkungan,
manajemen, masyarakat dan organisasi adalah sumber-sumber risiko.
Skema klasifikasi risiko yang baik akan mengambil langkah-langkah
strategis untuk mengurangi risiko.

Identifikasi

Klasifikasi
Sikap terhadap risiko

Analisis

Respons
25

Gambar 2.2 Proses manajemen risiko


(Flanagan dan Norman, 1993)

3. Analisa risiko
Hasil identifikasi kondisi-kondisi ketidakpastian yang
menimbulkan risiko harus dievaluasi dan dianalisis. Sikap terhadap
risiko, keputusan apapun tentang risiko akan dipengaruhi oleh
orang atau organisasi yang membuat kepetusan. Ada berbagai
metode

yang

dapat

digunakan

sebagai

tools,

dengan

penggunaannya yang disesuaikan dengan data maupun kondisi


yang ada saat hendak melakukan analisis. Salah satu tools standar
pengukuran

yang

dapat

digunakan adalah skala pengukuran

AS/NZS-4360:2004, dimana:
Skala pengukuran analisa kejadian menurut AS/NZS
(4360:2004)
A : hampir pasti diharapkan akan terjadi disemua situasi (Almost
B:
C:
D:
E:

Certain)
Kemungkinan akan terjadi disemua situasi (likely)
Moderat, seharusnya terjadi disuatu waktu (Moderate)
Cenderung dapat terjadi disuatu waktu (unlikely)
jarang hanya terjadi pada situasi yang sangat khusus (rare)

Sakala pengukuran analisa konsekuensi menurut AS/NZS (4360: 2004)


Tidak Signifikan
Minor
Moderat

tanpa kecelakaan manusia dan kerugian


materi
bantuan kecelakaan awal, kerugian materi
yang
medium
diharuskan penanganan secara medis,
kerugian
materi yang cukup tinggi.
26

Major

Bencana kematian

kecelakaan yang berat, kehilangan


kemampuan/produksi, kerugian materi
yang tinggi.
bahaya radiasi dengan efek penyebaran
yang luas, kerugian keuangan yang sangat
besar.

Sumber: (Jurnal ilmiah engineering vol,2 no.5 september 2015)

Salah satu model evaluasi tingkatan risiko dimaksud ditabulasikan


dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Tingkatan Risiko menurut AS/NZS 4360:2004
Potential Consequence
Likelihood
consequenc
e

Insignifican
t1

A (Almost
certain)
B (Likely
C (Possible)
D
(Unlikely)
E (Rare)

significant
Moderate
Low Low
Low

Minor
2

Moderate
3

Major
4

Catastrophi
c
5

significan High
High
Hig
t
Significan High
High
Significan t
High
High
t
Significan Significan Significant
Moderate t
t
Significant
Low
Moderate Significan
Low
Moderate t
Sumber: (Jurnal ilmiah engineering vol,2 no.5 september 2015)

27

Tabel 2.4 Matriks probability and Impact berdasarkan PMBOK

Very High (71-90%)

0,9

Very
Low
0,05
0,05

High (51-70%)

0,7

0,04

0,07

0,14

0,28

0,56

Medium (31-50%)

0,3

0,03

0,05

0,1

0,2

0,4

Low (11-30%)

0,3

0,02

0,03

0,06

0,12

0,24

Very Low (up to 10%)

0,1

0,01

0,01

0,02

0,04

0,08

Probability

Impact

Low
0,1

Medium
0,2

High
0,4

0,09

0,18

0,36

Very
High
0,8
0,72

Sumber : (Jurnal ilmiah engineering vol,2 no.5 september 2015)

4. Evaluasi Risiko
Evaluasi risiko pada suatu proyek tergantung pada (Duffield &
Trigunrsyah, 1999) :
a. Probabilitas terjadinya risiko tersebut, frekuensi kejadian
b. Dampak dari risiko tersebut bila terjadi
Dalam membandingkan pilihan proyek dari berbagai risiko yang
terkait sering digunakan indeks risiko:
Indeks risiko = frekuensi X Dampak.... (2.2)

probability

2
Acceptable risk

3
1
Project impack
Gambar 2.3 probabilitas Vs dampak terhadap proyek
Sumber: Duffield & Trigunarsyah 1999
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa:

28

1) Tingkatan risiko yang dapat diterima adalah dimana indeks berada


dalam zona 1 yaitu dampak yang rendah terhadap proyek dengan
probabilitas kejadian sedang, atau probabilitas rendah dengan
dampak yang berarti pada proyek.
2) Tingkatan risiko yang tidak dapat diterima berada pada zona 2
dimana dampak yang tinggi pada proyek dengan kemungkinan
kejadian yang besar atau dampak yang terlalu besar bagi proyek
3) Tingkat risiko yang dianggap dapat diterima akan tergantung sekali
kepada pengambil keputusan berada pada zona 3
Biasanya tidaklah praktis menganalisis setiap jenis risiko secara
rinci. Diperlukan suatu tingkatan dimana kontribusi dari risiko
terkecil berikutnya dapat diabaikan bila dibandingkan dengan total
risiko yang lebih besar secara kumulatif.
Akurasi dari setiap evaluasi atau analisis risiko hanya akan
berakurat data yang menjadi dasar bagi perkiraan probabilitas dan
ferkuensinya.

Probabiltas

terjadinya

suatu

risiko

biasanya

didasarkan kepada data historis, sedangkan dampak terhadap


proyek akan melibatkan analisis, teknis dan fungsional.
Untuk melakukan analisis risiko secara efektif, menurut
Burby (1991) dalam Duffel & Trigunarsyah (1999), harus
mempertimbangkan hal-hal berikut:
1) Analisis yang dilakukan harus difokuskan, pada kerugian finansial
langsung dari pada gangguan pelayanan atau kematian dan kerugian.
2) Tingkat ketidakpastian dalam setiap perkiraan output harus dapat
dinilai

29

3) Akurasi dari analisis harus sesuai dengan akurasi data dan tahapan
proyek
4) Biaya dan usaha dalam melakukan analisis harus serendah mungkin
yang dapat diserap oleh anggaran proyek.
5) Alokasi Risiko
Alokasi risiko seringkali merupakan permasalahan yang sulit.
Pertanggung jawaban atas suatu risiko membawa kemungkinan untuk
mendapatkan keuntungan atau kerugian.
Secara tradisional

para pemilik

proyek

telah mencoba

memindahkan sebanyak mungkin risiko kepada pihak lain, dan yang


umumnya penerima risiko dalam tahapan kontruksi suatu proyek
adalah kontraktor, dan kontraktor sering kali memindahkan risiko yang
diterimanya kepada sub-kontraktor atau perusahaan asuransi. Biaya
proyek secara keseluruhan akan meningkat apabila risiko proyek tidak
dialokasikan kepada pihak yang memiliki kendali terhadap risiko
tersebut.
Jika kontraktor harus bertanggung jawab terhadap seluruh risiko
konstruksi dari suatu proyek, ada dua pilihan yang tersedia untuk
mendapatkan kompensasi terhadap tanggung jawab ini yaitu:
a. Menaikkan nilai penawaran awal untuk mendapatkan imbalan yang
sesuai,
b. Menghindari risiko tersebut pada penawaran awal dengan
memberikan batasan atau kualitas tertentu, atau mengajukkan
perubahan lingkup kerja jika dan bila terjadi hal-hal yang tidak
memungkinkan.

30

Penanganan risiko sebaiknya dimulai pada tahapan awal


proyek, dengan tujuan alokasi risiko kepada pihak-pihak yang
memiliki kendali terhadap risiko terkait pada setiap tahapan proyek.
Potensi keuntungan bagi pemilik dana harus sepadan dengan tingkat
risiko yang dihadapi. Pemerintah berkewajiban untuk melindungi
masyarakat umum terhadap risiko finansial dan sosial dari suatu
proyek.

6) Respon Manajemen
Setelah risiko risiko yang mungkin terjadi diidentifikasi dan
dianalisa,

kontraktor

akan

mulai

memformulasikan

strategi

penanganan risiko yang tepat. Strategi ini didasarkan kepada sifat dan
dampak potensial / konsekuensi dari risiko itu sendiri. Adapun tujuan
dari strategi ini adalah untuk memindahkan dampak potensial risiko
sebanyak mungkin dan meningkatkan kontrol terhadap risiko. Ada
lima strategi alternatif untuk menangani risiko, yaitu :
a. Menghindari risiko
Menghindari risiko merupakan strategi yang sangat penting,
strategi ini merupakan strategi yang umum digunakan untuk
menangani risiko. Dengan menghindari risiko, kontraktor dapat
mengetahui bahwa perusahaannya tidak akan mengalami kerugian

31

akibat risiko yang telah ditafsir. Di sisi lain, kontraktor juga akan
kehilangan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan yang
mungkin didapatkan dari asumsi risiko tersebut.
Contohnya : seorang kontraktor yang ingin menghindari risiko
politik dan finansial berkaitan dengan proyek pada negara dengan
kondisi politik yang tidak stabil, dapat menolak melakukan tender
proyek pada negara tersebut. Namun demikian, apabila kontraktor
tersebut menolak untuk melakukan tender, maka kemungkinan
untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut juga ikut
menghilang.
b. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian
Alternatif strategi yang kedua adalah mencegah risiko dan
mengurangi kerugian. Strategi ini secara langsung mengurangi
potensi risiko kontraktor dengan 2 cara, yaitu :
1) Mengurangi kemungkinan terjadinya risiko.
2) Mengurangi dampak finansial dari risiko, apabila risiko tersebut
benar benar terjadi.
Contohnya : pemasangan alarm atau alat anti maling pada
peralatan di proyek, akan mengurangi kemungkinan terjadinya
pencurian. Sebuah gedung yang dilengkapi dengan sprinkler

32

system, akan mengurangi dampak finansial, apabila gedung tersebut


mengalami kebakaran.
c.

Meretensi risiko
Retensi risiko telah menjadi aspek penting dari manajemen
risiko ketika perusahaan menghadapi risiko proyek. Retensi risiko
adalah perkiraan secara internal, baik secara utuh maupun sebagian,
dari dampak finansial suatu risiko yang akan dialami oleh
perusahaan. Dalam mengadopsi strategi retensi risiko ini, perlu
dibedakan antara 2 jenis retensi yang berbeda.
1) Retensi risiko yang terencana (planned) adalah asumsi yang
secara sadar dan sengaja dilakukan oleh kontraktor untuk
mengenali atau mengidentifikasi risiko. Dengan strategi seperti
itu, risiko dapat ditahan dengan berbagai cara, tergantung pada
filosofi, kebutuhan khusus, dan juga kapabilitas finansial dari
kontraktor itu sendiri.
2) Retensi risiko yang tidak terencana (unplanned) terjadi ketika
kontraktor tidak mengenali atau mengidentifikasi keberadaan
dari suatu risiko dan secara tidak sadar mengasumsi kerugian
yang akan muncul.

d. Mentransfer risiko

33

Pada dasarnya, transfer risiko dapat dilakukan, melalui


negosiasi, kapanpun kontraktor menjalani perencanaan kontraktual
dengan banyak pihak seperti pemilik, subkontraktor ataupun
supplier material dan peralatan. Transfer risiko bukanlah asuransi.
Biasanya, transfer risiko ini dilakukan melalui syarat atau pasal
pasal dalam kontrak seperti: hold harmless aggrement dan
klausul jaminan atau penyesuaian kontrak. Karakeristik esensial
dari transfer risiko ini adalah dampak dari suatu risiko, apabila
risiko tersebut benar benar terjadi, ditanggung bersama atau
ditanggung secara utuh oleh pihak lain selain kontraktor.
Contohnya: penyesuaian pada harga penawaran, dimana
kompensasi ekstra akan diberikan kepada kontraktor apabila
terjadi perbedaan kondisi tanah pada suatu proyek.
e. Asuransi
Asuransi menjadi bagian penting dari program manajemen
risiko, baik untuk sebuah organisasi ataupun untuk individu.
Asuransi juga termasuk di dalam strategi transfer risiko, dimana
pihak asuransi setuju untuk menerima beban finansial yang muncul
dari adanya kerugian. Secara formal, asuransi dapat didefinisikan
sebagai kontrak persetujuan antara 2 pihak yang terkait yaitu:
pengasuransi (insured) dan pihak asuransi (insurer). Dengan adanya
persetujuan tersebut, pihak asuransi (insurer) setuju untuk

34

mengganti rugi kerugian yang terjadi (seperti yang tercantum


dalam kontrak) dengan balasan, pengasuransi (insured) harus
membayar sejumlah premi tiap periodenya.

2.6 Metode Pengumpulan Data


Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah penyebaran
kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan
penelitian. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya, atau hal-hal yang diketahui, Suharsimi Arikunto (1999:140).
Dalam kuisioner ada beberapa cara, yaitu:
1) Kuesioner baik untuk sumber data yang banyak dan tersebar
2) Responden tidak merasa terganggu, karena dapat mengisi kuesioner
dengan memilih waktunya sendiri yang paling luang.
3) Kuesioner secara relative lebih efisien untuk sumber data yang banyak.
4) Karena kuesioner biasanya menyatakan jawaban sesuai dengan perilaku
responden yang pernah dilakukan.
2.7 Program Statistik SPSS (Statistical Product and Service Solution)
SPSS adalah software khusus statistik yang beredar sekarang,
SPSS adalah yang paling populer dan paling banyak digunakan pemakai
di seluruh

dunia.

SPSS

banyak

dipakai

pasar, pengendalian dan perbaikan mutu

35

dalam

berbagai

riset

(qualitiy improvement)

serta

risetriset sains. Kepopuleran SPSS ini dijadikan sebagai alat untuk


pengolahan data.
SPSS

adalah

singkatan

dari

Statistical

Package

for

the

Social Sciences, sekarang diperluas untuk melayani berbagai jenis user,


seperti untuk proses produksi dipabrik, riset ilmu-ilmu sains dan lainnya.
Sekarang kepanjangan SPSS adalah Statistical Product and Service Solutions.
Hingga saat sekarang produk SPSS telah dipakai dalam berbagai bidang
seperti ilmu keuangan, retail, telekomunikasi, farmasi, broadcasting, militer,
database marketing, riset pemasaran, peramalan bisnis, penilaian kredit,
customer relationship, penilaian kepuasan konsumen (customer satisfaction)
dan sebagainya.
Pada awalnya SPSS dibuat untuk keperluan pengolahan data statistik
untuk ilmu-ilmu social, sehingga kepanjangan SPSS itu sendiri adalah
Statistikal Package for the Social Sciens. Sekarang kemampuan SPSS
diperluas untuk melayani berbagai jenis pengguna (user), seperti untuk proses
produksi di pabrik, riset ilmu sains dan lainnya.
Sejak tanggal 28 Juli 2009, SPSS disebut sebagai PASW (Predictive
Analytics SoftWare), karena perusahaan ini telah dibeli oleh perusahaan IBM
dengan harga US$1,2 miliar. SPSS dapat membaca berbagai jenis data atau
memasukkan data secara langsung ke dalam SPSS Data Editor. Bagaimanapun
struktur dari file data mentahnya, maka data dalam Data Editor SPSS harus
dibentuk dalam bentuk baris (cases) dan kolom (variables). Case berisi

36

informasi untuk satu unit analisis, sedangkan variable adalah informasi yang
dikumpulkan dari masing-masing kasus.
2.8 Teknik Pengambilan Sampel
2.8.1 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrument dalam
pengukuran apa yang ingin diukur. Uji validitas sering digunakan untuk
mengukur ketepatan suatu item dalam kuesioner atau skala. Apakah itemitem pada kuesioner tersebut tepat dalam mengukur apa yang ingin diukur.
Uji validitas yang digunakan adalah uji validitas item. Validitas item
ditunjukan dengan adanya korelasi atau dukungan terhadap item total (skor
total), perhitungan dilakukan dengan hasil perhitungan korelasi akan didapat
suatu koefisien korelasi yang digunakan untuk mengukur tingkat validitas
suatu item atau untuk menentukan apakah suatu item layak digunakan atau
tidak.
Dalam penentuan layak atau tidaknya suatu item yang akan
digunakan, biasanya dilakukan uji signifikansi koefisien korelasi pada taraf
signifikan 0,05. Artinya suatu item dianggap valid jika berkorelasi signifikan
terhadap skor total. Untuk pembahasan ini dilakukan uji signifikansi 0,05
(signifikansi 5% atau 0,05 adalah ukuran standar yang sering digunakan
dalam penelitian).
Pada programa SPSS teknik pengujian yang sering digunakan untuk uji
validitas adalah menggunakan korelasi Bivariate pearson (Produk Momen

37

Pearson) dan corrected item-Total correlation. Masing-masing teknik


perhitungan korelasi akan dijelaskan dibawah ini :
1. Bivariate pearson (Produk Momen Pearson)
Analisis ini dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor
item dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan dari keseluruhan
item. Item-item pertanyaan yang berkorelasi signifikan dengan skor total
menunjukan item-item tersebut mampu memberikan dukungan dalam
mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Koefisien korelasi item
total dengan Bivariate Pearson dapat dicari dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

x 2
2
y
n y2

. 2.3
n x 2

n xy( x )( y )
r xy =

Keterangan :
r xy

= koefisien korelasi item-item (Bivariate Pearson)

= skor item

= skor total

= banyak subjek

38

Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikan 0,05.


Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
1. Jika r hitung r tabel (uji dua sisi dengan sig. 0,05) maka instrument atau
item-item pertanyaan berkolerasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan
valid).
2. Jika r hitung < r tabel (uji dua sisi dengan sig. 0,05) maka instrument atau
item-item pertanyaan tidak berkolerasi signifikan terhadap skor total
(dinyatakan tidak valid).
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi alat ukur,
apakah alat ukur pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap
konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Ada beberapa metode pengujian
reliabilitas diantaranya metode tes ulang, formula belah dua dari spearman
brown, formula flanagon, cronbachs alpha, metode formula KR-20, KR-21,
dan metode anova hoyt. Dalam penelitian ini akan digunakan metode
cronbachs alpha. Metode cronbachs alpha sangat cocok digunakan pada skor
berbentuk skala (missal 1-4, 1-5,) atau skor rentangan (missal 0-20, 0-50)
Rumus realibilitas dengan metode alpha adalah:

[ ][

r11 =

Keterangan:

k
1 2 b
k1
t

r 11

2.4

= Reliabilitas instrument

= banyaknya butir pertanyaan


b

= Jumlah varian butir

39

2 t

= Varian total

Jika nilai alpha > 0.7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient


reliability) sementara jika alpha > 0.80 ini mensugestikan seluruh item
reliabel dan seluruh tes secara konsisten memiliki reliabilitas yang kuat.
Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:
Jika alpha > 0.90 maka reliabilitas sempurna. Jika alpha antara
0.70 0.90 maka reliabilitas tinggi. Jika alpha 0.50 0.70 maka
reliabilitas moderat. Jika alpha < 0.50 maka reliabilitas rendah. Jika
alpha rendah, kemungkinan satu atau beberapa item tidak reliabel.
Skala tersebut juga dapat dikelompokkan ke dalam lima kelas
dengan range yang sama, yaitu :
1) Nilai alpha Cronbach 0,00 s.d. 0,20, berarti kurang reliable
2) Nilai alpha Cronbach 0,21 s.d. 0,40, berarti agak reliable
3) Nilai alpha Cronbach 0,42 s.d. 0,60, berarti cukup reliable
4) Nilai alpha Cronbach 0,61 s.d. 0,80, berarti reliable
5) Nilai alpha Cronbach 0,81 s.d. 1,00, berarti sangat reliabel

40

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Studi Kasus
1. Nama proyek : Pembangunan Rumah Sakit
Pendidikan Universitas Halu Oleo Tahap II
2. Nomor Proyek: 149-1/PKK/UHO/VII/2015
3. Lokasi Proyek
: Jln.H.E.A Mokodompit
4.
5.
6.
7.

Biaya
Waktu Pelaksanaan
Kontraktor Pelaksana
Konsultan MK

Kampus Bumi Tridharma Anduonuhu Kendari


: Rp 44.607.000.000,: 06 Agustus 2015 s/d 31 Desember 2015
: PT.Delima Emas Gasindo
: PT. Dana Konsultan

3.2 Teknik Penarikan Sampel

41

Sampel dalam penelitian ini adalah para kontraktor dan konsultan pada
proyek konstruksi di PT.Delima Emas Gasindo yakni pembangunan Rumah
Sakit Pendidikan UHO Tahap II, yang juga sebagai subyek penelitian.
Sedangkan obyek penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
resiko. Responden diambil dari pihak-pihak yang berkompoten dalam
pelaksanaan proyek konstruksi seperti para kontraktor dan konsultan.

3.4 Pengumpulan Data


Pengumpulan data pada penelitian ini yaitu data penelitian diperoleh
dengan menggunakan kuesioner, kuesioner merupakan teknik pengumpulan
data dengan memberi daftar pertanyaan tertulis kepada responden untuk
memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian. Kuesioner
tersebut diberikan langsung kepada responden yakni kontraktor dan konsultan.
Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berupa pendapat atau
presepsi dan pengamatan.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi dalam dua
bagian yakni data primer, yaitu informasi yang diperoleh secara langsung dari
responden, dan data sekunder yaitu sumber informasi yang diperoleh dari
studi literatur dari penelitian terdahulu.
3.5 Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang digunakan sebagai
acuan untuk mengukur probabilitas dan dampak/pengaruh resiko. Metode

42

penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif kualitatif. Identifikasi


resiko yang dihasilkan dari data sekunder (literatur), jurnal dan penelitian
terdahulu lalu dikembangkan dengan melakukan wawancara dengan bantuan
kuisioner mengenai berbagai kemungkinan kejadian (likelihood to occurrence)
dan pengaruh (potential consequences) atas resiko-resiko yang ada.
Penelitian ini merupakan Analisis Resiko Kualitatif, dimana faktor-faktor
yang teridentifikasi

sebagai

aspek

sumber

resiko Untuk mendapatkan

aspek- aspek resiko yang utama digunakan metode Analisis Faktor dan
Analisis Komponen Utama terhadap data hasil kuesioner.
3.6 Rancangan Penelitian
Untuk pengukuran presepsi dan pengamatan responden tidak bisa
langsung diolah karena nilainya masih bersifat kualitatif, sehingga harus
dikuantitatifkan dengan memberikan skala paada jawaban responden, dengan
pemberian kode untuk mempermudah mengolah data secara matematis.
Menurut ridwan (2009), skala yang digunakan untuk mengatur sikap,
pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok tentang kejadian atau suatu
gejala disebut skala likert, berupa skala ordinal yang menunjukan
tingkat/rangking dari responden terhadap resiko yang teridentifikasi. Skala
penilaian terhadap terjadinya masalah pada proyek konstruksi digunakan skala
likelihood (frekuensi/peluang) seperti pada tabel berikut.
Tabel 3.1 Skala Frekuensi (likelihood)
n
o
1
2
3
4
5

Tingkat Frekuensi
Sangat jarang
Jarang
Kadang-kadang
Sering
Sangat sering

Skala
1
2
3
4
5

43

Sumber: Godfrey (1996), saputra (2005)


Sedangkan skala penilaian terhadap besarnya pengaruh suatu
peristiwa

terhadap

terjadinya

masalah

pada

proyek

konstruksi

menggunakan skala consequences (konsekuensi) seperti pada tabel


berikut:
Tabel 3.2 Skala (konsekuensi) / Dampak
n
Tingkat Frekuensi
Skala
o
1 Sangat kecil
1
2 Kecil
2
3 Sedang
3
4 Besar
4
5 Sangat besar
5
Sumber : Godfrey (1996), saputra (2005)
Dari skor yang diberikan oleh para responden pada setiap
identifikasi resiko dapat ditentukan modus data itu sebagai representasi
pendapat responden terhadap resiko yang telah teridentifikasi. Mengacu
pada skala penerimaan resiko (risk acceptability) oleh Godfrey (1996)
dan Saputra (2005), dengan mempertimbangkan skala consecuences
dan skala likehood seperti diatas, maka disusun skala penerimaan resiko
seperti pada Tabel berikut:
Tabel 3.3 Skala penerimaan resiko
Penerimaan resiko

Skala Penerimaan

Unacceptable (tidak dapat terima)

X > 12

Undesirable (tidak diharapkan)

5 X < 12

Acceptable (dapat diterima)

2<X<5

44

Negligible (dapat diabaikan)

X<2

Sumber : Godfrey (1996), saputra (2005)

3.7 Alur Tahapan Penelitian


Mulai

Studi literatur resiko


Review literatur

Penentuan Variabel resiko

resiko
frekuensi

Dampak
Uji statistik

Analisis data

Jumlah
resiko

Tidak
perlu
penangan

ya

Dapat diterima

45

Tidak
ak

Penanganan
resiko

Kesimpulan dan saran

Selesai
Gambar 3.1 tahapan penelitian

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskriptif Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini menggunakan instrument
penelitian berupa angket/kuesioner. Jenis kuesioner yang digunakan yaitu
kuesioner tertutup dimana pada angket tertutup jawabannya sudah tersedia dan
sampel penelitian yaitu para kontraktor dan konsultan pada proyek
pembangunan Rumah Sakit Pendidikan UHO Tahap II. Hasil jawaban dari
sampel penelitian melalui penyebaran kuesioner tersebut kemudian diolah dan
disajikan dalam bentuk presentase. Presentase tersebut menggambarkan
keseragaman jawaban sampel penelitian serta menunjukkan seberapa jauh
sumbangan tiap-tiap bagian (aspek) di dalam keseluruhan konteks
permasalahan dalam penelitian ini.
4.2 Uji validitas dan reliabilitas
Sebelum dilakukan perhitungan faktor analisis risiko maka dilakukan
uji validitas dan reliabilitas. Item pertanyaan pada kuesioner dinyatakan valid

46

apabila hasil perhitungan validitas lebih besar dari nilai r tabel untuk jumlah
responden tertentu dan taraf kesalahan (alpha) tertentu.
Dalam penelitian ini, uji coba kuesioner dilakukan pada 12 responden.
Nilai rtabel untuk 12 responden dan alpha sebesar 5% adalah 0,5760 uji validitas
dilakukan dengan perhitungan manual mengguanakan program SPSS versi 23
dari hasil perhitungan tersebut terdapat 4 item pertanyaan yang dinyatakan
drop karena nilai rhitung < rtabel. Maka, peneliti membuang pertanyaan soal
tertentu yang tidak valid karena dirasa sudah tidak dapat diubah. Pada uji
validitas dilakukan pada frekuensi risiko yang terjadi, dari hasil uji tersebut
terdapat 2 item pertanyaan yang tidak valid sedangkan pada uji validitas
pengaruh risiko yang terjadi tidak terdapat item pertanyaan yang tidak valid.
Selanjutnya pada uji reliabilitas 1 variabel yang tidak reliabel yang terdiri dari
3 soal jadi total yang pertanyaan yang drop berjumlah 4 soal. Sehingga item
pertanyaan yang peneliti gunakan untuk dinyatakan kepada sampel penelitian
yaitu sebanyak 15 soal yang terdiri dari 5 variabel. (contoh kuesioner yang
valid dapat dilihat pada lampiran).
4.2.1

Uji Validitas
Untuk uji validitas pada penelitian ini di laukan dua kali yaitu
uji validitas frekuensi risiko dan uji validitas pengaruh/dampak risiko.
Selanjutnya data yang valid tersebut yang dugunakan sebagai variabel
penelitian pada tugas akhir ini. Untuk uji validitas dapat dilihat pada
a.

tabel berikut:
Uji Validitas Frekuensi Risiko
Uji validitas dilakukan terhadap frekuensi (likelihood) dan
konsekuensi (concequenses) dari masing masing variabel risiko.

47

Validitas kuesioner diukur dengan menghitung korelasi antar data pada


masing-masing pernyataan dengan skor total, menggunakan program
SPSS. Uji validitas frekuensi risiko dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 validitas frekuensi risiko
Indikator
Rendahnya kualitas tenaga teknis

rhitung
0,613

rtabel
0,576

Kesimpulan
Valid

0,866

0
0,576

Valid

0,952

0
0,576

Valid

terhadap kondisi lapangan


Penyimpangan desain dari konstruksi

0,960

0
0,576

Valid

Jenis dan kualitas yang salah dari

0,926

0
0,576

Valid

0,835

0
0,576

Valid

0,723

0
0,576

Valid

konstruksi yang tidak cukup


Kerusakan mesin konstruksi dan

0,692

0
0,576

Valid

kesalahan listrik
Kekurangan dari pemeliharaan

0,885

0
0,576

Valid

Rendahnya kualitas personil manajen


Pertimbangan yang tidak matang

bahan baku material


Keterlambatan dalam penyediaan dan
masukkan peralatan konstruksi
Kapasitas produksi dari peralatan

peralatan dan kelebihan muatan dari


peralatan konstruksi
Peralatan yang tidak digunakan dalam

0
0,601

0,576

Valid

0,895

0
0,576

Valid

material
Kecelakaan di Site

0,739

0
0,576

Valid

Kematian karena kecelakaan

0,907

0
0,576

Valid

Perlengkapan keselamatan kerja

0,846

0
0,576

Valid

waktu lama
Tidak tersedianya atau kekurangan

48

Masalah yang dibuat warga sekitar

0
0,576

Valid

b. Uji Validitas Pengaruh/Dampak Risiko


Untuk uji validitas pengaruh/dampak risiko juga sama seperti
proses validitas frekuensi risiko. Adapun hasil validitas dampak risiko
terhadap konstruksi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 validitas pengaruh/dampak risiko
Indikator

rhitung

rtabel

Rendahnya kualitas tenaga teknis

0,931

Rendahnya kualitas personil


manajen
Pertimbangan yang tidak matang
terhadap kondisi lapangan
Penyimpangan desain dari
konstruksi
Jenis dan kualitas yang salah dari
bahan baku material
Keterlambatan dalam penyediaan
dan masukkan peralatan konstruksi
Kapasitas produksi dari peralatan
konstruksi yang tidak cukup
Kerusakan mesin konstruksi dan
kesalahan listrik
Kekurangan dari pemeliharaan
peralatan dan kelebihan muatan
dari peralatan konstruksi
Peralatan yang tidak digunakan
dalam waktu lama
Tidak tersedianya atau kekurangan
material
Kecelakaan di Site

0,934

0,576
0
0,576
0
0,576
0
0,576
0
0,576
0
0,576
0
0,576
0
0,576
0
0,576
0

Kematian karena kecelakaan

0,919

49

0,987
0,985
0,814
0,627
0,831
0,700
0,747

0,587
0,835
0,926

0,576
0
0,576
0
0,576
0
0,576

Kesimpula
n
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

Valid
Valid
Valid
Valid

Perlengkapan keselamatan kerja


Masalah yang dibuat warga sekitar

0,851
1

0
0,576
0
0,576
0

Valid
Valid

Berdasarkan output di atas, maka diperoleh nilai rhitung dari kelima


variabel yang terdiri dari 14 indikator lebih besar dari pada nilai r tabel. Hal
ini berarti bahwa kelima variabel tersebut dinyatakan valid sebagai alat
ukur.
4.2.2

Uji reliabilitas
Selanjutnya
perhitungan

manual

untuk

uji

dengan

reliabilitas,
rumus

Alpha

berdasarkan
(lampiran)

hasil
dan

menggunakan program SPSS versi 23 dapat dilihat pada tabel


berikut:
Tabel 4.3 Reliabilitas Variabel
Variabel
Risiko personil
Risiko teknologi konstruksi
Risiko peralatan & material
Risiko keselamatan
Risiko sosial

Nilai
0,742
0,904
0,899
0,779
0,000

Keterangan
Reliabel
Sangat reliabel
Sangat reliabel
Reliabel
-

c. Deskripsi Sampel Responden Penelitian Berdasarkan Usia


Sampel dalam penelitian ini adalah para konsultan dan
kontraktor pada proyek pekerjaan konstruksi Rumah Sakit Pendidikan
UHO Tahap II yakni PT Delima Emas Gasindo yang berjumlah 12
responden. Dari jumlah sampel penelitian tersebut terbagi atas
beberapa kelompok usia yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

50

Tabel 4.4 Presentase Sampel Penelitian Berdasarkan Usia

d. Deskripsi Sampel Responden Penelitian Berdasarkan Pengalaman


Kerja
Deskripsi Sampel Responden Penelitian Berdasarkan Pengalaman
Kerja dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.5 Presentase Sampel Penelitian Berdasarkan Pengalaman Kerja.

Pada tabel di atas tampak bahwa mayoritas sampel penelitian


berlatar belakang telah memiliki pengalaman kerja.
e.

Deskripsi Sampel Responden Penelitian Berdasarkan Pendidikan


Terakhir

51

Untuk mutu pendidikan responden, didominasi oleh pekerja


berpendidikan S-1 disusul SMA kemudian Diploma III . Hal ini dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.6 Presentase Sampel Penelitian Berdasarkan Pendidikan

Selanjutnya setelah semua data dinyatakan valid dan reliabel maka


dilakukann perhitungan jumlah frekuensi risiko dan besar dampak risiko
yang ada pada proyek konstrukasi.
4.3 Analisa Data
Berdasarkan jawaban responden yang dipresentasekan maka dilakukan
analisis perhitungan probabilitas dan dampak risiko untuk mendapatkan
tingkat risiko dan dampak terhadap biaya. Selanjutnya dilakukan perhitungan
hubungan antara jumlah frekuensi terhadap dampak dan pengaruh terhadap
konstruksi dengan analisis regresi linear tunggal menggunakan softwere
SPSS versi 23.
4.4 Hasil Rekapitulasi Data Jawaban Responden Untuk Frekuensi Risiko
Tabel 4.7 Hasil rekapitulasi data jawaban responden terhadap frekuensi

52

Dari jawaban responden selanjutnya dilakukan perhitungan


probabilitas dan dampak risiko.
Keterangan :

Sangat Besar (SB)


Besar (B)
Sedang (S)
Kecil (K)
Sangat Kecil (SK)

4.5 Konsep Severity Index (SI)


Konsep ini dipakai untuk mengetahui nilai P (Probability) dan I
(Impact). Keunggulan konsep severity index adalah dapat mempermudah
pengklasifikasian(Al-Hammad et al., 1996).
Serverity Index (SI) dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

53

12
i=0 ai. xi
x 100
1212
i=0 xi

Dimana:
ai
xi

= Konstanta penilaian
= Frekuensi Responden

i = 0, 1, 2, 3, 4, . . . , n

Dengan, x0, x1, x2, x3, x4, adalah respon frekuensi responden
a0 = 0 ; a1 = 1; a2 = 2; a3 = 3; a4 = 4
maka,
x0

= Frekuensi responden sangat rendah/kecildari survey, maka a0= 0

x1

= Frekuensi responden rendah/kecil dari survey, maka a1 = 1

x2

= Frekuensi responden cukup tinggi/besar dari survey.maka a2 =2 x3

= Frekuensi responden tinggi/besar dari survey, maka a3 = 3


x4

= Frekuensi responden sangat tinggi/besar dari survey, maka a4 = 4

4.6 Matriks Probabilitas dan Dampak


Probability and Impact Matrix digunakan untuk mengukur tingkat risiko.
Tingkat risiko merupakan perkalian dari skor probability dan skor impact
yang didapat dari responden (PMBOK Guide, 2004). Untuk mengukur
risiko menggunakan rumus seperti berikut :

54

Risiko = Probabilitas x Dampak (Impact) ....

[2]

Selanjutnya risiko tersebut dapat diplotkan dalam matriks probabilitas


dan dampak untuk mengetahui risiko mana yang kemungkinan terjadinya
besar dan berdampak besar bagi proyek.

Gambar 4.1 matriks probababilitas dan dampak


4.7 Tahapan Pengolahan Data
Tahapan - tahapan pengolahan data untuk mendapatkan tingkat
probabilitas dan dampak risiko terhadap biaya adalah:
4.7.1 Analisis Variabel Risiko
Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor
risiko yang relevan. Faktor-faktor risiko ini akan bertambah yang berasal
dari pengalaman para responden dan tidak tercantum dalam studi literatur.
Jika ada variabel risiko yang tidak tercantum

maka nantinya akan

dicantumkan dalam pengolahan data, Data yang digunakan adalah data


hasil survey pendahuluan. Analisa dilakukan dengan menggunakan skala
Guttman.
4.7.2 Analisis Probabilitas dan Dampak

55

Data yang didapat dari kuesioner utama, langkah awal adalah


melakukakan

analisis

menggunakan

severity

index

lalu

mengkatagorikannya berdasarkan besar probabilitas dan dampaknya.


Untuk klasifikasi dari skala penilaian pada frekuensi dan dampak terhadap
SI adalah sebagai berikut :
Tabel 4.8 skala penilaian SI terhadap probabilitas

Tabel 4.9 skala penilaian SI terhadap probabilitas

Very High (71-90%)

0,9

Very
Low
0,05
0,05

High (51-70%)

0,7

0,04

0,07

0,14

0,28

0,56

Medium (31-50%)

0,3

0,03

0,05

0,1

0,2

0,4

Low (11-30%)

0,3

0,02

0,03

0,06

0,12

0,24

Very Low (up to 10%)

0,1

0,01

0,01

0,02

0,04

0,08

Probability

Impact

Low
0,1

Medium
0,2

High
0,4

0,09

0,18

0,36

Very
High
0,8
0,72

Dan untuk konversi SI terhadap dampak biaya didapat dari :


Skala dampak x Nilai Kontrak = Asumsi nilai akhir dampak[3]
Tabel 4.10 asumsi nominal terhadap biaya kontrak

56

Apabila kategori sangat tinggi maka probabilitas 80-100 dan skala


dampaknya adalah 80% dari nilai kontrak, jika kategori risiko tinggi
probabilitas 60-80 maka skala dampak adalah 40% dari kontrak. Jika
kategori risiko cukup maka probabilitas adalah 40-60 dan skala dampak
adalah 20% dari nilai kontrak. Jika kategori rendah 20-40 maka kategori
risiko maka skala dampak adalah 10%. Dan jika kategori risiko sangat
rendah adalah 20 maka skala dampak maka skala dampak 5% dari
kontrak. Untuk penelitian ini adalah termasuk kategori sangat rendah.
4.7.3

Analisis Perhitungan Nilai Tingkat Risiko

Kategori risiko berdasarkan SI yang didapat kemudian dirubah dengan


kategori angka seperti berikut:
Tabel 4.11 skala penilaian SI terhadap probabilitas

4.7.4

Perhitungan analisis probabilitas dan dampak risiko


Perhitungan probabilitas dan dampak risiko di lakukan dengan
menggunakan rumus [1] yakni dari nilai frekuansi kemudian
dikategorikan berdasarkan tingkat risiko sehingga didapatkan nilai SI
% sedangkan probabilitas (P) didapatkan dari tabel SI.
Tabel 4.12 Perhitungan analisis probabilitas dan dampak risiko

57

Dari tabel tersebut terlihat bahwa dampak risiko terhadap biaya


adalah Rp 223.000,00 hal ini termasuk kategori dampak sangat rendah
(SR).
Untuk risiko yang memiliki kategori probabilitas dengan angka
lebih besar adalah R7 (Keterlambatan dalam penyediaan dan pemasukkan
peralatan konstruksi) dengan niilai 19,36,

R12 (Kecelakaan di Site)

dengan nilai 10,78. R6 (Keterlambatan dalam penyediaan dan


pemasukkan peralatan konstruksi) dengan nilai 9,25, R4 Penyimpangan
desain dari konstruksi, R8 (Kerusakan mesin konstruksi dan kesalahan
listrik), R9 (Kekurangan dari pemeliharaan peralatan dan kelebihan
muatan dari peralatan konstruksi), R13 (Perlengkapan keselamatan kerja
yang tidak memadai) R14 (Masalah yang dibuat oleh warga sekitar),
dengan nilai rata-rata 8. R3 (Pertimbangan yang tidak matang terhadap
kondisi lapangan) dengan nilai sebesar 7,82. R2 (Rendahnya kualitas
personil manajemen) dengan nilai 6,52. R5 (Jenis dan kualitas yang salah
dari bahan baku material) dengan nilai 6,70. R11 (Tidak tersedianya atau
kekurangan material) dengan nilai 6,56. R1 (Rendahnya kualitas tenaga
58

teknis) dengan nilai 2,85. R10 (Peralatan yang tidak digunakan dalam
waktu lama) dengan nilai 4,38. Namun semua angka tersebut menurut SI
adalah termasuk dalam kategori sangat rendah.

4.7.5 Perhitungan Analisis risiko


Tabel 4.12 Perhitungan analisis probabilitas dan dampak risiko

Dari ke-14 jenis risiko yang ada termasuk kategori risiko sangat rendah
atau tidak signifikan menurut SI baik probabilitas maupun dampak terhadap
konstruksi. Begitu juga dengan dampak yang ditimbulkan terhadap biaya
tidak terlalu signifikan yakni hanya 223 ribu rupiah.
4.8 Perhitungan Pengaruh Frekuensi Dan Dampak Risiko Terhadap
Konstruksi Dari Jawaban Responden
Tabel 4.14 Data hubungan antara frekuensi dan pengruh risiko terhadap
konstruksi berdasarkan jawaban responden

59

Frekuensi (X)

Pengaruh (Y)

23
22
26
30
29
34
39
41
28
32
28
27
34
22

40
34
43
44
39
43
45
48
36
32
42
33
37
31

Berdasarkan data tersebut selnjutnya dilakukan uji regresi linear


tunggal dengan rumsu

a+ Bx . Tahapan-tahapan yang dilakukan untuk m

elakukan uji regresi adalah:


4.9 Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik yang dilakukan meliputi : multikolinieritas,
heteroskedastisitas, dan normalitas.

4.9.1 Multikolinieritas
Tabel 4.15 Collinearity Statistics
60

Model
Frekuensi Risiko

Collinearity Statics
Tolerance
VIF
1,0
1,0

Output nilai variance inflation factor (VIF) dari varibel


tersebut model tidak lebih besar dari 10. Begitu pun nilai tolerancenya tidak mecapai nilai yang lebih kecil dari 0,10. Hal ini
menunjukkan bahwa model tersebut bebas dari multikolinieritas.
Berdasarkan syarat asumsi klasik regresi linier dengan OLS,
maka model regresi linier yang baik adalah yang terbebas dari adanya
multikolinieritas.
4.9.2 Heteroskedastisitas

Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas


Dari gambar di atas terlihat bahwa sebaran titik tidak
membentu suatu pola/alur tertentu, sehingga dapat dikatakan tidak

61

terjadi

heteroskedastisitas

atau

dengan

kata

lain

terjadi

homokedastisitas. Maka dapat dinyatakan bahwa syarat uji asumsi


klasik untuk terbebas dari heteroskedastisitas telah terpenuhi pada
model ini.
4.9.3 Uji Normalitas

Gambar 4.3 Normal P-P Plot


Hasil uji normalitas dapat dilihat dari Gambar 4.2 Normal PP Plot di atas. Pada gambar tersebut terlihat sebaran titik-titik relatif
mendekati garis lurus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data
terdistribusi normal.
Maka

model

ini

dapat

dinyatakan

telah

memenuhi

persyaratan asumsi klasik dari regresi linier dengan pendekatan OLS.

62

4.9.4 Normalitas
Uji normalitas pada model regresi digunakan untuk
menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi
terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah
yang memiliki nilai residual yang terdistribusi secara normal.
Beberapa metode uji normalitas yaitu dengan melihat penyebaran
data pada sumber diagonal pada grafik Normal P-P Plot of regression
standardized residual atau dengan uji One Sample Kolmogorov
Smirnov.
1) Metode grafik. Uji normalitas residual dengan metode grafik yaitu
dengan melihat penyebaran data pada sumber diagonal pada
grafik Normal P-P Plot of regression standardized residual.
Sebagai

dasar

pengambilan

keputusannya,

jika

titik-titik

menyebar sekitar garis dan mengikuti garis diagonal maka nilai


residual tersebut telah normal.
2) Metode statistik One Sample Kolmogorov Smirnov. Uji One
Sample Kolomogorov Smirnov digunakan untuk mengetahui
distribusi data, apakah mengikuti distribusi normal, poisson,
uniform, atau exponential. Dalam hal ini untuk mengetahui
apakah distribusi residual terdistribusi normal atau tidak. Residual
berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih dari 0,05.
4.9.5 Uji F
Uji keterandalan model atau uji kelayakan model atau yang
lebih populer disebut sebagai uji F (ada juga yang menyebutnya
sebagai

uji

simultan

model)

merupakan

tahapan

awal

mengidentifikasi model regresi yang diestimasi layak atau tidak.

63

Layak (andal) disini maksudnya adalah model yang diestimasi layak


digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel-variabel bebas
terhadap variabel terikat. Nama uji ini disebut sebagai uji F, karena
mengikuti mengikuti distribusi F yang kriteria pengujiannya seperti
One Way Anova.
Pengunaan

software

SPSS

memudahkan

penarikan

kesimpulan dalam uji ini. Apabila nilai prob. F hitung (ouput SPSS
ditunjukkan pada kolom sig.) lebih kecil dari tingkat kesalahan/error
(alpha) 0,05 (yang telah ditentukan) maka dapat dikatakan bahwa
model regresi yang diestimasi layak, sedangkan apabila nilai prob. F
hitung lebih besar dari tingkat kesalahan 0,05 maka dapat dikatakan
bahwa model regresi yang diestimasi tidak layak.
Untuk menguji pengaruh keterikatan kedua variabel
tersebut langkah-langkah yang dilakukan adalah:

4.9 Uji Kelayakan Model


4.9.1 Uji Keterandalan Model (Uji F)
Tabel 4.16 Hasil Uji F

64

Nilai probabilitas F hitung (Sig.) pada tabel di atas yaitu


0,135 lebih besar dari tingkat kesalahan (alpha) 0,05. Hal ini berarti
variabel X tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel Y
pada taraf keyakinan 95%.

4.9.2 Uji Koefisien Regresi (Uji t)


Tabel 4.17 Hasil Uji t

Berdasarkan tabel hasil uji t di atas, maka diperoleh pernyataan nilai


probabilitas t hitung dari variabel X frekuensi risiko dari jawaban responden
sebesar 0,1 lebih besar dari tingkat kesalahan (alpha) 0,05. Sehingga dapat
dinyatakan bahwa biaya pencegahan tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap biaya kualitas pada taraf keyakinan 95%.
4.9.3 Koefisien Determinasi
65

Tabel 4.18 Adjusted R-Square

Dilihat dari nilai Adjusted R Square yang besarnya 0,313


menunjukkan bahwa proporsi pengaruh keempat variabel bebas
terhadap variabel terikat hanya sebesar 31,3%.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengaruh frekuensi
terhadap dampak risiko menurut jawaban responden hanya sekitar
31,3%. Sedangkan 68,7% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak terdapat dalam penelitian ini.
4.7 Interpretasi Model
Setelah estimasi regresi linier tunggal dilakukan, maka diperoleh
model regresi sebagai berikut :
Y = 0,551 X
Keterangan :
Y

= pengaruh/dampak risiko berdasarkan jawaban responden

= frekuensi
Berdasarkan penentuan model di atas, maka selanjutnya dapat

dianalisa kontribusi variabel bebas.

66

Tabel 4.19 Kontribusi Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat


Variabel
X

Uraian
Frekuensi risiko

Standardized Coefficient
0,551

Variabel frekuensi (X) memiliki kontribusi yang cukup besar


terhadap pengaruh/dampak risiko namun tidak memiliki potensi risiko yang
signifikan.

67

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Bersarkan deskripisi dan analisis data yang telah diuraikan pada bab-bab
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Nilai probabilitas dan dampak risiko menurut SI adalah termasuk kategori
sangat rendah dengan nilai 20, sedangkan skala dampak adalah 0,05%
sehingga dampak terhadap biaya adalah 233 ribu rupiah.
2) Tingkat risiko pada penelitian ini adalah termasuk kategori sangat rendah
dengan angka tertinggi adalah 19,36% yakni berada pada R7
(Keterlambatan dalam penyediaan dan pemasukkan peralatan konstruksi)
3) Model regresi terhadap frekuensi dan pengaruh risiko dari jawaban
responden adalah pengaruh frekuensi terhadap dampak risiko menurut
jawaban responden hanya sekitar 31,3%. Sedangkan 68,7% sisanya
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini.
Dengan persamaan Y = 0,551 X

5.2 Saran
Adapun saran penulis untuk peneliti selanjutnya demi kesempurnaan
penelitian ini adalah:

68

1. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya dengan memberikan solusi dari


masing-masing resiko yang ada khususnya proyek-proyek di Sulawesi
Tenggara.
2. Perlu dilakukan penelitian pada lokasi yang memiliki potensi resiko
khususnya di Kedari atau di Sulawei Tenggara pada umumnya agar
menjadi pembanding dengan penelitian pada lokasi yang tidak memiliki
potensi resiko konstruksi .

69