Anda di halaman 1dari 5

Batu adalah benda padat yang tebuat secara alami dari mineral dan atau mineraloid.

Lapisan luar padat Bumi, litosfer, terbuat dari batu. Dalam batuan umumnya adalah tiga jenis,
yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf. Dalam bangunan batu biasanya dipakai pada
pondasi bangunan untuk bangunan dengan ketinggian kurang dari 10 meter, Batu juga
dipakai untuk memperindah fasade bangunan dengan memberikan warna dan tekstur unik
dari batu alam.
Batuan umumnya diklasifikasikan berdasarkan komposisi mineral dan kimia, dengan
tekstur partikel unsur dan oleh proses yang membentuk mereka. Ciri - ciri ini
mengklasifikasikan batuan menjadi beku, sedimen, dan metamorf. Mereka lebih
diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel yang membentuk mereka. Transformasi dari satu
jenis batuan yang lain digambarkan oleh model geologi.
Dalam konstruksi jalan maupun bangunan, batu pecah dikenal sebagai agregat kasar
atau agregat yang besar butirnya lebih dari 40 mm
Agregat kasar dibedakan atas 2 macam, yaitu krikil (dari batuan alam) dan
kricak (dari batuan alam yang dipecah). Menurut asalnya krikil dapat dibedakan
atas; krikil galian, krikil sungai dan krikil pantai. Krikil galian baisanya
mengandung zat-zat seperti tanah liat, debu, pasir dan zat-zat organik. Krikil
sungai

dan

krikil

pantai

biasanya

bebas

dari

zatzat

yang

tercampur,

permukaannya licin dan bentuknya lebih bulat. Hal ini disebabkan karena
pengaruh air. Butir-butir krikil alam yang kasar akan menjamin pengikatan
adukan lebih baik. Batu pecah (kricak) adalah agregat kasar yang diperoleh dari
batu alam yang dipecah, berukuran 5-70 mm. Panggilingan/pemecahan biasanya
dilakukan dengan mesin pemecah batu (Jaw breaker/ crusher). Menurut
ukurannya, krikil/kricak dapat dibedakan atas;
a. Ukuran butir : 5 - 1 0 mm disebut krikil/kricak halus,
b. Ukuran butir : 10-20 mm disebut krikil/kricak sedang,
c. Ukuran butir : 20-40 mm disebut krikil/kricak kasar,
d. Ukuran butir : 40-70 mm disebut krikil/kricak kasar sekali.
e. Ukuran butir >70 mm digunakan untuk konstruksi beton siklop (cyclopen
concreten).

Sifat agregat yang menentukan kualitasnya sebagai material perkerasan jalan adalah:
gradasi,
kebersihan,
kekerasan
ketahanan agregat,
bentuk butir,
tekstur permukaan,
porositas,
kemampuan untuk menyerap air,
berat jenis, dan
daya kelekatan terhadap aspal.
Sifat agregat tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis batuannya.

Klasifikasi Bentuk dan Tekstur Agregat


Karakteristik bagian luar agregat, terutama bentuk partikel dan tekstur permukaan
memegang peranan penting terhadap sifat beton segar dan yang sudah mengeras.

Menurut BS 812 : Part 1: 1975, bentuk partikel agregat dapat dibedakan atas:
- Rounded

- Irregular

- Flaky

- Angular

- Elongated

- Flaky & Elongated

Bentuk Partikel Agregat Menurut BS 812 : Part 1: 1975

Flaky
and
Elongated

Jenis Agregat berdasarkan proses pengolahannya :


1. Agregat Alam
Agregat yang dapat dipergunakan sebagaimana bentuknya di alam atau dengan sedikit
proses pengolahan. Agregat ini terbentuk melalui proses erosi dan degradasi. Bentuk
partikel dari agregat alam ditentukan proses pembentukannya.
2. Agregat melalui proses pengolahan
Digunung-gunung atau dibukit-bukit, dan sungai-sungai sering ditemui agregat yang
masih berbentuk batu gunung, dan ukuran yang besar-besar sehingga diperlukan proses
pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai agregat konstruksi jalan.
3. Agregat Buatan
Agregat yang merupakan mineral filler/pengisi (partikel dengan ukuran < 0,075 mm),
diperoleh dari hasil sampingan pabrik-pabrik semen atau mesin pemecah batu.

Pembagian Agregat Berdasarkan Ukuran Butiran Menurut The Asphalt Institut,


(1993), dalam Manual Series No. 2 (MS-2), :
Agregat Kasar, adalah agregat dengan ukuran butiran lebih besar dari saringan No. 8
(2,36 mm)
Agregat Halus, adalah agregat dengan ukuran butiran lebih halus dari saringan No.8
(2,36 mm).
Bahan Pengisi (filler), adalah bagian dari agregat halus yang minimum 75% lolos
saringan no. 30 (0,06 mm)
Jenis Gradasi
1. Gradasi Baik
Gradasi baik, adalah campuran agregat dengan ukuran butiran yang terdistribusi merata
dalam rentang ukuran butiran.
Agregat bergradasi baik disebut juga dengan agergat bergradasi rapat.
Agregat bergardasi baik dapat dikelompokkan menjadi :
a. Agregat bergradasi kasar, adalah agregat bergradasi baik yang didominasi oleh
agregat ukuran butiran kasar
b. Agregat bergradasi halus, adalah agregat bergradasi baik yang dinominasi oleh
agregat ukuran butiran halus.
2. Gradasi Buruk
Gradasi Buruk, adalah distrubusi ukuran agregat yang tidak memenuhi persyaratan
agregat bergradasi baik.
Agregat bergradasi buruk dapat dikelompokkan menjadi;
a. Gradasi Seragam, adalah campuran agregat yang tersusun dari agregat dengan
ukuran butirannya sama atau hampir sama.
b. Gradasi Terbuka, adalah campuran agregat dengan distribusi ukuran butiran
sedemikian rupa sehingga pori-pori antar agregat tidak terisi dengan baik.
c. Gradasi Senjang, adalah campuran agregat yang ukuran butirannya
terdistribusi tidak menerus, atau ada bagian yang hilang.
Kegunaan Batu Pada Agregat Beton

Penggunaan batu pada campuran beton hampir sama seperti konstruksi perkerasan jalan yaitu
pemilihan atau gradasi batu belah(krikill), uji keausan dengan mesin los angele, dll.