Anda di halaman 1dari 24

DK1P1

Kata sulit

1. Pingsan
2. Rangsang meningeal
3. Isokor
4. Reflek cahaya langsung & tidak langsung
5. Reflek fisiologis
6. Reflek patologis

Kata kunci
Ny. S 56 tahun
Pingsan saat tidur malam
Hari ke - 1 : ~ Tidak memberi kontak adekuat.
Hari ke - 2 : ~ Mulai sadar dan mengenali keluarga
~ Tidak dapat berbicara karena lidah terasa kaku dan tertarik ke
belakan
~ Pemeriksaan fisik/pemeriksaan neurologi
Pupil bulat diameter 3 mm, Isokor
Rangsangan meningeal (-)
Reflek cahaya langsung dan tidak langsung (+/+)
Tidak ada kelumpuhan saraf kranial
Fungsi motorik dengan kekuatan S pada 4 ekstremitas

~ Refleks fisiologis (-)


~ Refleks patologis (-)
~ Sistem sensorik normal
~ Fungsi otonom normal

Hari ke 3 : ~ Dapat berbicara kembali dengan lancar


~ Kelelahan 4 bulan terakhir

Identitas masalah
Ny. S 56 tahun pingsan saat tidur
4 bulan terakhir kelelahan
Hari ke - 1 : Tidak memberi kontak adekuat
Hari ke - 2 : Sadar dan mengenali keluarga namun tidak dapat berbicara
Hari ke 3 : Lancar berbicara

Analisis Masalah

Wanita
56 tahun
Anamnesis
- Kelelahan 4 bulan > Gangguan kesadaran
Pemeriksaan fisik
1. H - 1
2. H - 2
3. H - 3

Gangguan

Sistem Saraf Pusat

Anatomi

Hemorragik

Fisiologi

Stroke

Biokim

RIND

- Definisi
- Tanda dan gejala
- Tatalaksana (F & NF)
- Etiologi
- Pem. Penunjang
- Pem. Fisik
- Patofisiologi
- Pencegahan
- Faktor resiko
- Edukasi

Pertanyaan Terjaring
1. Anatomi SSP
2. Fisiologi kesadaran
3. Jelaskan komponen kesadaran
4. Jelaskan biologi moekoler yang menentukan kesadara
5. Jelaskan RIND (a K)
6. Menapa lidah kaku dan tertarik kebelakang
7. Jelaskan gangguan-gangguan kesadaran neorologik (a K)
8. Jelaskan gangguan-gangguan non-neorollogik (a K)
9. Jelaskan bagaimana kelelahan dapat menyebabkan gangguan kesadaran
10. Jlaskan pemeriksaan generalis
11. Jelaskan pemeriksaan refleks fisiologis
12. Jelaskan pemeriksaan tanda reflek meningeal
13. Jelaskan pemeriksaan refleks patologis
14. Jelaskan pemeriksaan langsung dan tidal langsung pada pupil
15. Mengapa pasien pingsan saat tidur
16. Jelaskan Iuterprestasi data pada pemicu?
Jawaban :
1. .
2. .
3.
4.
5. RIND
Definisi

defisit neurologik (gangguan saraf) secara tiba-tiba dan berlangsung lebih


dari 24 jam dan kurang dari 1 minggu
Tanda dan gejala

Hemiparesis, lengan dan tungkai sesisi lumpuh sama beratnya

Afasia,gangguan pemahaman bicara dan bahasa

Disfasia, gangguan bahasa yang tidak sesuai dengan umur

Diplegia, kelemahan pada keempat ekstremitas tetapi ekstremitas


bawah lebih berat

Hemihipestesi, kerusakan sensorik pada satu sisi tubuh

Gangguan kesadaran

Etiologi
Penyempitan lumen pembuluh darah arteri serebri anterior

Patofisiologi

Arteri
tersumb
at

Tidak
ada jatah
darah

Infark

Terjadiny
a
ganggua
n

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan ketangkasan gerakan

Penilaian tenaga otot-otot

Penilaian tonus otot

Penilaian refleks tendon

Refleks patologik

Pemeriksaan penunjang

Elektrokardiografi

Laboratorium

Foto toraks

Ct scan/MRI

TCD

Tata laksana umum

Stabilisasi jalan napas dan pernapasan

Stabilisasi hemodinamik

Pemeriksaan fisik

Pengendalian tekanan intrakranial

Pengendalian kejang

Pengendalian suhu tubuh

Tata laksana khusus iskemik

Tata laksana hipertensi

Tata laksana gula darah

Antitrombosit

Prognosis

Apabila bila dirawat sedini kemungkinan besar dapat mencegah


cacat berat
Edukasi

6.

Memperbaiki pola makan, perbanayk makan-makan berserat


kurangi makanan mengandung lemak, goreng-gorengan
menghindari kelelahan berlebih
Definisi Isokor :

Gambaran nuklei nervi kranialis tampak

Gambaran nuklei kranialis motorik dan


parasimpatis tampak lateral

Gambaran distribusi dan hubungan


sentral nervus hipoglosus

7.
8. Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu. Penurunan
kesadaran adalah keadaan dimanapenderita tidak sadar dalam arti tidak terjaga /
tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang
normal terhadap stimulus. Kesadaran secara sederhana dapat dikatakan sebagai
keadaan dimana seseorang mengenal /mengetahui tentang dirinya maupun
lingkungannya.
Dalam menilai penurunan kesadaran dikenal beberapa istilah yaitu :
1.

Kompos mentis

Kompos mentis adalah kesadaran normal, menyadari seluruh asupan dari panca indra
dan bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan baik dari luar maupun dalam.
2.

GCS Skor 14-15


Somnelen / drowsiness / clouding of consciousness
Mata cenderung menutup, mengantuk, masih dapat dibangunkan dengan perintah,
masih dapat menjawab pertanyaan walau sedikit bingung, tampak gelisah dan orientasi

3.

terhadap sekitarnya menurun. Skor 11-12 : somnolent


Stupor / Sopor
Mata tertutup dengan rangsang nyeri atau suara keras baru membuka mata atau
bersuara satu dua kata . Motorik hanya berupa gerakan mengelak terhadap rangsang

4.

nyeri. Skor 8-10 : stupor


Soporokoma / Semikoma
Mata tetap tertutup walaupun dirangsang nyeri secara kuat, hanya dapat mengerang

5.

tanpa arti, motorik hanya gerakan primitif.


Koma
Dengan rangsang apapun tidak ada reaksi sama sekali, baik dalam hal membuka mata,

bicara maupun reaksi motorik. . Skor < 5 : koma


ETIOLOGI
Untuk memudahkan mengingat dan menelusuri kemungkinan kemungkinan penyebab
penurunan kesadaran dengan istilah SEMENITE yaitu :
1. S : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung, Syok (shock) adalah kondisi medis tubuh yang
mengancam jiwa yang diakibatkan oleh kegagalan sistem sirkulasi darah dalam
mempertahankan

suplai

darah

yang

memadai.

Berkurangnya

suplai

darah

mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen ke jaringan tubuh. Jika tidak teratasi maka
dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ penting yang dapat mengakibatkan
kematian. Kegagalan

sistem sirkulasi dapat disebabkan oleh Kegagalan jantung

memompa darah, terjadi pada serangan jantung. Berkurangnya cairan tubuh yang
diedarkan. Tipe ini terjadi pada perdarahan besar maupun perdarahan dalam, hilangnya
cairan tubuh akibat diare berat, muntah maupun luka bakar yang luas. Shock bisa
disebabkan oleh bermacam-macam masalah medis dan luka-luka traumatic, tetapi
dengan perkecualian cardiac tamponade dan pneumothorax, akibat dari shock yang
paling umum yang terjadi pada jam pertama setelah luka-luka tersebut adalah
haemorrhage (pendarahan). Shock didefinasikan sebagai cellular hypoperfusion dan
menunjukan adanya ketidakmampuan untuk memelihara keseimbangan antara
pengadaan cellular oxygen dan tuntutan oxygen. Progress Shock mulai dari tahap
luka hingga kematian cell, kegagalan organ, dan pada akhirnya jika tidak diperbaiki,
akan mengakibatkan kematian organ tubuh. Adanya peredaran yang tidak cukup bisa

cepat diketahui dengan memasang alat penerima chemosensitive dan pressure-sensitive


pada carotid artery. Hal ini, pada gilirannya dapat mengaktivasi mekanisme yang
membantu mengimbangi akibat dari efek negative, termasuk pelepasan catecholamines
(norepinephrine dan epinephrine) dikarenakan oleh hilangnya syaraf sympathetic
ganglionic; tachycardia, tekanan nadi yang menyempit dan hasil batasan disekeliling
pembuluh darah (peripheral vascular) dengan mendistribusi ulang aliran darah pada
daerah sekitar cutaneous, splanchnic dan muscular beds. Dengan demikian, tanda-tanda
awal dari shock tidak kentara dan mungkin yang tertunda hanyalah pemasukkan dari
2.

pengisian kapiler, tachycardia yang relatip dan kegelisahan.


E : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik / sepsis yang mungkin

3.

melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan.


M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma hepatikum. Etiologi
hipoglikemia pada DM yaitu hipoglikemia pada DM stadium dini, hipoglikemia dalm
rangka pengobatan DM yang berupa penggunaan insulin, penggunaan sulfonil urea,
bayi yang lahir dari ibu pasien DM, dan penyebab lainnya adalah hipoglikemia yang
tidak berkaitan dengan DM berupa hiperinsulinisme alimenter pos gastrektomi,
insulinoma, penyakit hati yang berat, tumor ekstrapankreatik, hipopitiutarism. Gejalagejala yang timbul akibat hipoglikemia terdiri atas 2 fase. Fase 1 yaitu gejala-gejala
yang timbul akibat aktivasi pusat autonom di hipotalamus sehingga dilepaskannya
hormon efinefrin. Gejalanya berupa palpitasi, keluar banyak keringat, tremor,
ketakutan, rasa lapar dan mual. gejala ini timbul bila kadar glukosa darah turun sampai
50% mg. Sedangkan Fase 2 yaitu gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terjadinya
gangguan fungsi otak , karena itu dinamakan juga gejala neurologi. Gejalanya berupa
pusing, pandang kabur, ketajam mental menurun, hilangnya keterampilan motorik
halus, penurunan kesadaran, kejang-kejang dan koma.gejala neurologi biasanya muncul
jika kadar glukosa darah turun mendekati 20% mg. Pada pasien ini menurut gejalanya
telah memasuki fase 2 karena telah terjadi gangguan neurologik berupa penurunan
kesadaran, pusing, dan penurunan kadar glukosa plasma mendekati 20 mg%.dan
menurut stadiumnya pasien telah mengalami stadium gangguan otak karena terdapat
gangguan kesadaran. Pada pasien DM yang mendapat insulin atau sulfonilurea
diagnosis hipoglikemia dapat ditegakan bila didapatkan gejala-gejala tersebut diatas.
Keadaan tersebut dapat dikonfirmasikan dengan pemeriksaan glukosa darah. Bila
gejalanya meragukan sebaiknya ambil dulu darahnya untuk pemeriksaan glukosa darah.

Bila dengan pemberian suntik bolus dekstrosa pasien yang semula tidak sadar
kemudian menjadi sadar maka dapat dipastiakan koma hipogikemia.sebagai dasar
diagnosis dapat digunakan trias whipple, yaitu gejala yang konsisten dengan
hipoglikemia, kadar glukosa plasma rendah, gejala mereda setelah kadar glukosa
plasma meningkat. Prognosis dari hipoglikemia jarang hingga menyebabkan kematian.
Kematian dapat terjadi karena keterlambatan mendapatkan pengobatan, terlalu lama
4.

dalam keadaan koma sehingga terjadi kerusakan jaringan otak.


E : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang berlebihan. Diare akut karena infeksi dapat disertai
muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut.
Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat
adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau
gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang
kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering,
tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak.
Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik. Karena kehilangan
bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang
mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga
frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul). Gangguan
kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tandatanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur.
Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena
kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. Penurunan
tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria.
Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut

5.

yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.


N : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis, Muntah : gejala muntah terdapat pada 30%
kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa
posterior, umumnya muntah bersifat proyektil dan tak disertai dengan mual. Kejang :
bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan
lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang
adalah tumor otak. Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak di korteks, 50%
pasien dengan astrositoma, 40% pada pasien meningioma, dan 25% pada glioblastoma.
Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial (TTIK) : berupa keluhan nyeri kepala di daerah

frontal dan oksipital yang timbul pada pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan
6.

penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem.


I : Intoksikasi
Penurunan kesadaran disebabkan oleh gangguan pada

korteks

secara

menyeluruhmisalnya pada gangguan metabolik, dan dapat pula disebabkan oleh


gangguan ARAS di batangotak, terhadap formasio retikularis di thalamus, hipotalamus
maupun mesensefalon Pada penurunan kesadaran, gangguan terbagi menjadi dua, yakni
gangguan derajat(kuantitas, arousal wake f ulness) kesadaran dan gangguan isi
(kualitas, awareness alertness kesadaran). Adanya lesi yang dapat mengganggu
interaksi ARAS dengan korteks serebri, apakahlesi supratentorial, subtentorial dan
metabolik akan mengakibatkan menurunnya kesadaran. Intoksikasi berbagai macam
obat maupun bahan kimia dapat menyebabkan penurunan kesadaran, Menentukan
kelainan neurologi perlu untuk evaluasi dan manajemen penderita. Pada penderita
dengan penurunan kesadaran, dapat ditentukan apakah akibatkelainan struktur, toksik
atau metabolik. Pada koma akibat gangguan struktur mempengaruhi fungsi ARAS
langsung atau tidak langsung. ARAS merupakan kumpulanneuron polisinaptik yang
terletak pada pusat medulla, pons dan mesensefalon, sedangkan penurunan kesadaran
karena kelainan metabolik terjadi karena memengaruhi energi neuronal atau
terputusnya aktivitas membran neuronal atau multifaktor. Diagnosis banding dapat
ditentukan melalui pemeriksaan pernafasan, pergerakan spontan, evaluasisaraf kranial
7.

dan respons motorik terhadap stimuli.


T : Trauma
Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural,
dapat pula trauma abdomen dan dada. Cedera pada dada dapat mengurangi oksigenasi
dan ventilasi walaupun terdapat airway yang paten. Dada pasien harus dalam keadaan
terbuka sama sekali untuk memastikan ada ventilasi cukup dan simetrik. Batang
tenggorok (trachea) harus diperiksa dengan melakukan rabaan untuk mengetahui
adanya perbedaan dan jika terdapat emphysema dibawah kulit. Lima kondisi yang
mengancam jiwa secara sistematik harus diidentifikasi atau ditiadakan (masing-masing
akan didiskusikan secara rinci di Unit 6 - Trauma) adalah tensi pneumothorax,
pneumothorax terbuka, massive haemothorax, flail segment dan cardiac tamponade.
Tensi pneumothorax diturunkan dengan memasukkan suatu kateter dengan ukuran 14
untuk mengetahui cairan atau obat yang dimasukkan kedalam urat darah halus melalui
jarum melalui ruang kedua yang berada diantara tulang iga pada baris mid-clavicular
dibagian yang terkena pengaruh. Jarum pengurang tekanan udara dan/atau menutupi

luka yang terhisap dapat memberi stabilisasi terhadap pasien untuk sementara waktu
hingga memungkinkan untuk melakukan intervensi yang lebih pasti. Jumlah resusitasi
diperlukan untuk suatu jumlah haemothorax yang lebih besar, tetapi kemungkinannya
lebih tepat jika intervensi bedah dilakukan lebih awal, jika hal tersebut sekunder
terhadap penetrating trauma (lihat dibawah). Jika personalia dibatasi melakukan chest
tube thoracostomy dapat ditunda, tetapi jika pemasukkan tidak menyebabkan
penundaan transportasi ke perawatan yang definitif, lebih disarankan agar hal tersebut
diselesaikan sebelum metransportasi pasien.
E : Epilepsi Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat
menyebabkan penurunan kesadaran.
9. Pengertian Kelelahan
Kelelahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi menurunnya efisiensi,
performa kerja, dan berkurangnya kekuatan atau ketahanan fisik tubuh untuk terus
melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Kelelahan dalam penelitian ini diartikan
sebagai kecepatan reaksi tenaga kerja terhadap rangsang cahaya yang diberikan
diukur dengan reaction timer. Pada keadaan yang sehat, tenaga kerja akan lebih cepat
merespon rangsang yang diberi daripada seseorang yang telah mengalami kelelahan
akan lama merespon rangsang yang diberi. Kelelahan merupakan suatu perasaan yang
bersifat subjektif.
Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan agar tubuh terhindar dari
kerusakan lebih lanjut, sehingga akan terjadi pemulihan. Adapun kelelahan secara
umum adalah ke adan tenaga kerja yang ditandai oleh adanya perasaan kelelahan dan
penurunan kesigapan kerja, bersifat kronis serta merupakan suatu fenomena
psikososial. Kelelahan kerja menyebabkan penurunan kinerja yang dapat berakibat
pada peningkatan kesalahan kerja, ke tidak hadiran, keluar kerja, kecelakaan kerja dan
berpengaruh perilaku kerja.
Istilah kelelahan mengarah pada kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan
suatu kegiatan, walaupun itu bukan satu-satunya gejala. Secara umum gejala
kelelahan yang lebih dekat adalah pada pengertian kelelahan fisik atau physical
fatigue dan kelelahan mental atau mental fatigue. Dengan kelelahan fisik otot kita
tidak dapat melakukan kegiatan apapun semudah seperti sebelumnya. Dengan
kelelahan mental kita tidak dapat memusatkan pikiran seperti dulu.

Jantung berdenyut kira-kira 70 kali dalam satu menit pada keadaan istirahat.
Frekuensi melambat selama tidur dan dipercepat oleh emosi, olahraga, demam dan
rangsang lain. Berbagai macam kondisi kerja dapat menaikkan denyut jantung seperti
bekerja dengan temperatur yang tinggi, tingginya pembebanan otot statis, dan
semakin sedikit otot yang terlibat dalam suatu kondisi kerja.
Kelelahan harus dibedakan dengan kejemuan, sekalipun kejemuan merupakan
salah satu faktor penyebab kelelahan, 5 (lima) faktor penyebab kelelahan antara lain:
a) Keadaan monoton
b) Beban kerja dan lama pekerjaan baik fisik maupun mental.
c) Keadan lingkungan kerja seperti cuaca kerja, penerangan dan bising.
d) Keadan kejiwaan seperti tanggung jawab, kekhawatiran / konflik.
e) Penyakit, perasaan sakit dan ke adan gizi.
Kelelahan kerja dalam suatu industri berkaitan pada gejala-gejala yang saling
berhubungan yaitu perasan lelah dan perubahan fisiologis dalam tubuh (syaraf dan
otot tidak berfungsi dengan baik atau tidak secepat seperti keadaan normal) yang
disebabkan oleh keadan kimiawi setelah bekerja dan dapat menurunkan kapasitas
kerja. Kelelahan kerja merupakan kriteria yang komplek yang tidak hanya
menyangkut kelelahan fisiologis dan psikologis tetapi dominan hubungannya dengan
penurunan kinerja fisik. Adanya perasaan lelah, penurunan motivasi dan penurunan
produktivitas kerja.
Jenis Kelelahan
a. Berdasarkan waktu terjadinya:

Kelelahan akut
Kelelahan yang disebabkan oleh kerja suatu organ atau seluruh tubuh secara
berlebihan.

Kelelahan kronis
Kelelahan yang terjadi sepanjang hari, berkepanjangan dan kadang-kadang telah
terjadi memulai pekerjaan.

b. Berdasarkan penyebab kelelahan

Lelah visual
Lelah yang disebabkan oleh ketegangan pada organ visual akibat pencahayaan
yang kurang memadai.

Lelah fisik umum

Kelelahan yang disebabkan ketegangan di semua organ.

Lelah mental
Kelelahan psikologis yang disebabkan oleh faktor psikologis, yang monoton,
atau lingkungan kerja yang menjemukan dan pekerjaan yang bertumpuktumpuk.

c. Berdasarkan proses dalam tubuh

Kelelahan otot
Kelelahan otot dapat ditandai dengan perasaan nyeri dan tremor yang terdapat
pada otot.

Kelelahan umum
Suatu perasaan yang ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja atau
bergerak yang sebabnya adalah persyarafan atau psikis.

Mekanisme Kelelahan
Sampai saat ini masih berlaku dua teori tentang kelelahan yaitu teori kimia dan teori
syaraf pusat yang terjadi kelelahan. Pada teori kimia secara umum menjelaskan bahwa
terjadi kelelahan adalah akibat berkurangnya cadangan energi dan meningkatnya
metabolisme sebagai penyebab hilangnya efisiensi otot, sedang perubahan arus listrik
pada otot dan syaraf adalah penyebab sekunder. Sedangkan pada teori syaraf pusat
menjelaskan bahwa perubahan kimia hanya merupakan penunjang proses. Perubahan
kimia yang terjadi mengakibatkan dihantarnya rangsangan syaraf melalui syaraf
sensoris ke otak yang disadari sebagai kelelahan. Menghambat pusat-pusat otak dalam
mengendalikan gerakan sehingga frekuensi potensial kegiatan pada sel syaraf menjadi
berkurang. Berkurangnya frekuensi tersebut akan menurunkan kekuatan dan
kecepatan kontraksi otot dan gerakan atas perintah kemauan menjadi lambat. Dengan
demikian semakin lambat gerakan seseorang akan menunjukkan semakin lemah
kondisi otot seseorang. Kelelahan setempat terjadi pada waktu ketahanan (endurance
time) otot terlampaui. Waktu ketahanan otot tergantung pada jumlah tenaga yang
dikembangkan oleh otot sebagai suatu presentase tenaga maksimum yang dapat
dicapai oleh otot. Bedasarkan proses yang terjadi di dalam otot, kelelahan disebabkan
menjadi kelelahan otot secara umum, kelelahan otot secara umum ditandai dengan :
1. Kemampuan otot kurang (kurang otot menjadi pendek).

2. Waktu kontraksi dan relaksasi semakin bertambah (waktu meregang dan


mengendur semakin lama).
3. Memanjangkan tegangan waktu antara datangnya rangsangan dengan diawalinya
peregangan.
Kelelahan umum adalah salah satu tahap yang ditandai oleh rasa berkurangnya
kesiapan untuk menggunakan energi, sedangkan perasaan lelah sebenarnya bersifat
melindungi sama seperti perasaan haus dan lapar. Hadirnya perasaan lelah berarti
menyuruh kita untuk menghindari ketegangan lebih lanjut dan memberi kesempatan
lebih lanjut untuk segera kembali.
11 Refleks Fisiologis
Refleks adalah jawaban terhadap suatu perangsangan.
Dalam sehari-hari kita biasanya memeriksa 2 macam refleks fisiologis yaitu :
I.
II.

Refleks Dalam (Refleks Renggang otot)


Refleks Superficialis

Pembahasan :
I.

Refleks Dalam (Refleks Renggang otot)

Posisi : pasien duduk, lengan rileks dan sedikit di tekuk/Fleksi siku, siku pasien
diletakan diatas tangan pemeriksa.
Cara : ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m.biceps
brachii, posisi lengan setengah diketuk pada sendi siku
Respon : Kontrasi pada otot biceps dan fleksi pada siku.

2. Refleks Triceps

Posisi :dilakukan dengan pasien duduk. dengan Perlahan tarik lengan


keluar dari tubuh pasien, sehingga membentuk sudut kanan di bahu. atau
Lengan bawah harus menjuntai ke bawah langsung di siku.

Cara : ketukan pada tendon otot triceps, posisi lengan fleksi pada sendi
siku dan sedikit pronasi

Respon : ekstensi lengan bawah pada sendi siku

3. REFLEKS BRAKHIORADIALIS

Ket : dibawah ...


Posisi: dapat dilakukan dengan duduk. Lengan bawah harus beristirahat
longgar di pangkuan pasien.
Cara : ketukan pada tendon otot brakioradialis (Tendon melintasi (sisi ibu
jari pada lengan bawah) jari-jari sekitar 10 cm proksimal pergelangan
tangan. posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi.
Respons: - flexi pada lengan bawah
- supinasi pada siku dan tangan.
4. Refleks Patella / Quadriceps

posisi klien: dapat dilakukan dengan duduk atau berbaring terlentang.


Cara : ketukan pada tendon patella
Respon : plantar fleksi kaki karena kontraksi m.quadrisep femoris.

5. Refleks Achiles

Posisi : pasien duduk, kaki menggantung di tepi meja ujian.


Atau dengan berbaring terlentang dengan posisi kaki
melintasi diatas kaki di atas yang lain atau mengatur kaki
dalam posisi tipe katak.
Identifikasi tendon : mintalah pasien untuk plantar flexi.
Cara

: ketukan hammer pada tendon achilles

Respon
:
plantar
m.gastroenemius

fleksi

kaki

krena

kontraksi

II . REFLEKS SUPERFICIALIS

Cara : Menggoreskan dinding perut dari lateral ke umbilicus.


Positif (+) Jika terdapat kontraksi otot perut
Negatif (-) pada wanita Multi para, Obesitas dan orang usia
lanjut, juga pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun.
Pada org muda yang otot-otot dinding perutnya berkembang
baik,
bila refleks ini negatif (-) , hal ini mempunyai nilai
patologis.
Daftar Pustaka
Samuels, 2004. Manual of Neurologic Therapeutic. Lippincott Williams &
Wilkins. USA.
http://fk.uns.ac.id/static/file/GABUNGAN_MANUAL_SEMESTER_3-2012ED.pdf
http://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2015/08/ManualCSl-IV-Sistem-Motorik-Refleks-Fisiologis-Patologis-Dan-Primitif.pdf

13. Refleks Patologis

Refleks patologis merupakan respon yang tidak umum dijumpai pada


individu normal. Refleks patologis dapat dijumpai pada kelumpuhan
ekstremitas pada kasus-kasus tertentu. Refleks Patologis di bagi menjadi 2 ,
yaitu :

I. Jenis Refleks Patologis Untuk Ekstremitas Superior


II. Jenis Refleks Patologis Untuk Ekstremitas Inferior
Pembahasan :
I . Jenis Refleks Patologis Untuk Ekstremitas Superior
1. REFLEKS HOFFMANN

Pasien duduk rileks, Tangan pasien kita pegang pada Pergelangan dan jarijarinya disuruh fleksi - entengkan Jari tengah pasien kita jepit di antara
telunjuk dan jari tengah kita.
Dengan ibu jari kita lakukan Petikan kuku pada pasien.
Respon : ibu jari, telunjuk dan jari lainnya fleksi.
Refleks positif (+), bila goresan kuat tadi mengakibatkan fleksi jari telunjuk,
serta fleksi dan aduksi ibu jari. Kadang disertai fleksi jari lainnya.
2. REFLEKS TROMNER

Cara: pada jari tengah gores pada bagian dalam


Refleks positif (+), bila goresan kuat tadi mengakibatkan fleksi jari
telunjuk, serta fleksi dan aduksi ibu jari.

Kadang disertai fleksi jari lainnya.


II.

Jenis Refleks Patologis Untuk Ekstremitas Inferior


1. Babinski

Posisi : berbaring dan istirahat dengan tungkai diluruskan.


Cara :Telapak kaki pasien digores dengan menggunakan ujung gagang
palu refleks secara perlahan Goresan dilakukan pada telapak kaki bagian
lateral, mulai dari tumit menuju pangkal ibu jari dan tidak menimbulkan
rasa nyeri untuk menghindari refleks menarik kaki.
Positif (+) jika didapatkan gerakan dorso fleksi ibu jari yang dapat disertai
mekarnya jari-jari lainnya.
2. Refleks Chaddok

Posisi : berbaring dan istirahat dengan tungkai diluruskan.


Penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis
dari posterior ke anterior
Amati ada tidaknya gerakan dorsofleksi ibu jari, disertai mekarnya
(fanning) jari-jari kaki lainnya. Klo ada hasil (+).

Cara : Menggunakan jempol dan jari telunjuk pemeriksa, tulang tibia


pasien diurut dari atas ke bawah.
(+) jika ada respon dorsifleksi ibu jari kaki yang disertai pemekaran jarijari yang lain.

Cara : menekan pada musculus gastrocnemius (otot betis)


Amati ada tidaknya gerakan dorsofleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya
(fanning) jari-jari kaki lainnya. Klo ada hasil (+).

Menekan tendon achilles.


Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya
(fanning) jari-jari kaki lainnya. Klo ada Hasil (+) .

Menekan (memfleksikan) jari kaki ke-4, lalu melepaskannya dengan cepat.


Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya
(fanning) jari-jari kaki lainnya.
Daftar Pustaka:
http://fk.uns.ac.id/static/file/GABUNGAN_MANUAL_SEMESTER_3-2012ED.pdf
http://faqudin.staff.umm.ac.id/files/2011/09/PEMERIKSAANNEUROLOGIS.pd
http://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2015/08/ManualCSl-IV-Sistem-Motorik-Refleks-Fisiologis-Patologis-Dan-Primitif.pdf