Anda di halaman 1dari 27

DEFINISI KANKER TIROID

Kanker Tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 4 tipe yaitu: papiler,
folikuler, anaplastik dan meduler. Kanker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar,
lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil (nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar nodul
tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan.
Kanker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi
kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon
tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme.

B. ETIOLOGI KANKER TIROID


Etiologi dari penyakit ini belum pasti, yang berperan khususnya untuk terjadi well
differentiated (papiler dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis, dan untuk jenis
meduler adalah factor genetic. Belum diketahui suatu karsinoma yang berperan untuk kanker
anaplastik dan meduler. Diperkirakan kanker jenis anaplastik berasal dari perubahan kanker
tiroid berdiferensia baik (papiler dan folikuler), dengan kemungkinan jenis folikuler dua kali
lebih besar.
Radiasi merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Banyak kasus kanker pada anakanak sebelumnya mendapat radiasi pada kepala dan leher karena penyakit lain. Biasanya efek
radiasi timbul setelah 5-25 tahun, tetapi rata-rata 9-10 tahun. Stimulasi TSH yang lama juga
merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Faktor resiko lainnya adalah adanya
riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun.
C. PATOFISIOLOGI KANKER TIROID

Neoplasma tiroid sering timbul sebagai pembesaran tiroid yang diskret. Kadang-kadang mirip
goiter noduler jinak. Nodule-nodule tiroid dapat diraba, kebanyakan nodule tersebut jinak,
namun beberapa nodule goiter bersifat karsinoma.
Untuk menentukan apakah nodule tiroid ganas atau tidak, harus dinilai factor-faktor resiko
dan gambaran klinis massa tersebut, dan harus dilakukan beberapa pemeriksaan laboratorium.
Karsinoma tiroid biasanya kurang menangkap yodium radioaktif dibandingkan kelenjar tiroid
normal yang terdapat disekelilingnya. Dengan cara scintiscan. nodule akan tampak sebagai
suatu daerah dengan pengambilan yodium radioaktif yang berkurang, Tehnik yang lain adalah
dengan echografi tiroid untuk membedakan dengan cermat massa padat dan massa kistik.
Karsinoma tiroid biasanya padat, sedangkan massa kistik biasanya merupakan kista jinak.
Karsinoma tiroid harus dicurigai berdasarkan tanda klinis jika hanya ada satu nodul yang
teraba, keras, tidak dapat digerakkan pada dasarnya dan berhubungan dengan limfadenopati
satelit.
Kanker Tiroid secara klinis dapat dibedakan menjadi suatu kelompok besar neoplasma
berdiferensiasi baik dengan kecepatan pertumbuhan yang lambat dan kemungkinan
penyembuhan yang tinggi, dan suatu kelompok kecil tumor anaplastik dengan kemungkinan
fatal.
1. Karsinoma papilaris
Jenis yang paling banyak ditemukan, Neoplasma tumbuh lambat dan menyebar
melalui saluran getah bening ke kelenjar getah bening regional.
2. Karsinoma folikuler
Tumor sangat mirip tiroid normal, meskipun pada suatu saat dapat berkembang secara
progresif, cepat menyebar ketempat-tempat yang jauh letaknya. Tumor ini tidak hanya
secara histologis menyerupai folikel tiroid, tetapi juga mampu menangkap yodium
radioaktif. Cara metastasis melalui aliran darah ketempat jauh letaknya seperti paruparu dan tulang.
3. Karsinoma meduler
Sel asal neoplasma ini adalah sel C atau sel parafolikuler. Seperti sel prekursornya,
maka tumor ini sanggup mensekresi kalsitonin. Meskipun tampaknya tumor ini
tumbuh lambat, tumor cenderung mengalami metastasis ke kelenjar getah bening
local pada stadium dini. Kemudian tumor ini akan menyebar melalui aliran darah ke
paru-paru, hati, tulang dan organ-organ tubuh lainnya dan ada kecenderungan
bermetastasis pada stadium dini. Perkembangan dan perjalanan klinisnya dapat diikuti
dengan mengukur kadar kalsitonin serum
4. Karsinoma anaplastik
Jenis tumor ini sangat ganas dan penyebarannya sangat cepat serta berdiferensiasi
buruk. Karsinoma ini memperlihatkan bukti invasi lokal pada stadium dini ke

struktur-struktur disekitar tiroid, serta metastasis melalui saluran getah bening dan
aliran darah.
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG KANKER TIROID
1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid belum ada
yang khusus, kecuali kanker meduler, yaitu pemeriksaan kalsitonon dalam serum.
Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid
dapat terjadi tiroktositosis walaupun jarang. Human Tiroglobulin (HTG) Tera dapat
dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi baik. Walaupun
pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid, namun peninggian HTG ini setelah
tiroidektomi total merupakan indikator tumor residif atau tumbuh kembali (barsano).
Kadar kalsitonin dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.
2. RADIOLOGIS
1. Foto X-Ray
Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk
melihat obstruksi trakhea karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi
pada massa tumor. Pada karsinoma papiler dengan badan-badan psamoma
dapat terlihat kalsifikasi halus yang disertai stippledcalcification, sedangkan
pada karsinoma meduler kalsifikasi lebih jelas di massa tumor. Kadangkadang kalsifikasi juga terlihat pada metastasis karsinoma pada kelenjar getah
bening. Pemeriksaan X-Ray juga dipergunnakan untuk survey metastasis pada
pary dan tulang. Apabila ada keluhan disfagia, maka foto barium meal perlu
untuk melihat adanya infiltrasi tumor pada esophagus.
2. Ultrasound
Ultrasound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. Cara ini aman dan tepat,
namun cara ini cenderung terdesak oleh adanya tehnik biopsy aspirasi yaitu
tehnik yang lebih sederhna dan murah.
3. Computerized Tomografi
CT-Scan dipergunakan untuk melihat prluasan tumor, namun tidak dapat
membedakan secara pasti antara tumor ganas atau jinak untuk kasus tumor
tiroid.
4. Scintisgrafi
Dengan menggunakan radio isotropic dapat dibedakan hot nodule dan cold
nodule. Daerah cold nodule dicurigai tumor ganas. Teknik ini dipergunakan
juga sebagai penuntun bagi biopsy aspirasi untuk memperoleh specimen yang
adekuat.
3. BIOPSI ASPIRASI

Pada dekade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak dipergunakan sebagai prosedur
diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Teknik dan
peralatan sangat sederhana , biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi. Dengan
mempergunakan jarum tabung 10 ml, dan jarum no.22 23 serta alat pemegang,
sediaan aspirator tumor diambil untuk pemeriksaan sitologi. Berdasarkan arsitektur
sitologi dapat diidentifikasi karsinoma papiler, karsinoma folikuler, karsinoma
anaplastik dan karsinoma meduler.
E. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN PERAWATAN KANKER TIROID:
1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut
dan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti
1. Pola makan
2. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
3. Pola aktivitas.
3. Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita
4. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;
1. Sistem pulmonari
2. Sistem pencernaan
3. Sistem kardiovaskuler
4. Sistem muskuloskeletal
5. Sistem neurologik dan Emosi/psikologis
6. Sistem reproduksi
7. Metabolik
5. Pemeriksaan fisik mencakup
1. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema disekitar
leher, adanya nodule yang membesar disekitar leher
2. Perbesaran jantung, disritmia dan hipotensi, nadi turun, kelemahan fisik
3. Parastesia dan reflek tendon menurun

4. Suara parau dan kadang sampai tak dapat mengeluarkan suara


5. Bila nodule besar dapat menyebabkan sesak nafas
6. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan
lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas
beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien
mencakup kelima komponen konsep diri
7. Pengkajian yang lain menyangkut terjadinya Hipotiroidime atau Hipertiroidisme
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN pada
KANKER TIROID
1. Nyeri
1. Dapat Dihubungkan dengan :
1. Adanya desakan / pembengkakan oleh nodule tumor
2. Kemungkinan dibuktikan dengan :
1. Adanya keluhan nyeri daerah leher, bisa menyebar ke daerah orbital.
2. Skala nyeri 0 10
3. Tampak menahan nyeri
4. Adanya nyeri telan dan kesulitan menelan
3. Hasil yang diharapkan :
1. Melaporkan nyeri hilang / berkurang
2. Skala nyeri 0-2
3. Tampak relax
4. Tak ada keluhan menelan
4. Intervensi Keperawatan :
1. Observasi adanya tanda-tanda nyeri baik verbal maupun nonverbal
2. Ajarkan dan anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi
3. Kolaborasi pemberian analgetik
2. Bersihan jalan nafas tak efektif

1. Dapat Dihubungkan dengan :


1. Obstruksi trachea akibat desakan massa tumor
2. Spasme Laringeal
3. Penumpukan sekret
2. Kemungkinan dibuktikan dengan :
1. Kesulitan bernafas
2. Kesulitan mengeluarkan secret
3. Mengeluh sesak nafas
4. Respirasi diatas normal
3. Hasil yang diharapkan :
1. Tidak ada kesulitan pernafasan
2. Secret mudah keluar
3. Tidak mengeluh sesak nafas
4. Respirasi dalam batas normal (16-20)
4. Intervensi Keperawatan :
1. Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan
2. Auskultasi suara nafas, catat adanya ronchi
3. Kaji adanya dyspneu, stridor dan cianosis
4. Perhatikan kualitas pernafasan
5. Latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi
6. Selidiki adanya penumpukan secret dan lakukan penghisapan dengan
hati-hati sesuai indikasi
7. Kolaborasi pemberian therapi Ogsigen bila perlu
3. Kerusakan Komunikasi Verbal
1. Dapat Dihubungkan dengan :
1. Cedera Pita suara

2. Kerusakan saraf laryngeal


3. Edema jaringan
2. Kemungkinan dibuktikan dengan :
1. Bicara parau / tidak dapat berbicara
2. Kerusakan artikulasi
3. Hasil yang diharapkan :
1. Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat
dipahami
4. Intervensi Keperawatan :
1. Kaji fungsi bicara secara periodic
2. Pertahankan komunikasi sederhana
3. Memberikan metode komunikasi alternative yang sesuai
4. Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin
Untuk Diagnosa yang lain seperti pada kasus Hipotiroidisme atau Hipertiroidisme
3. PENATALAKSANAAN MEDIS KANKER TIROID:
Penatalaksanaan medis dengan cara :
1. Therapi Radiasi (Chemotherapi)
2. Operasi: Pengangkatan Kelenjar tiroid baik sebagian (Tiroidectomi Partial), maupun
seluruhnya (Tiroidectomi Total)
Peran perawat adalah dalam penatalaksanaan Pre-Operatif, Intra Operatif dan Post Operasi
1. Penatalaksanaan Pre Operasi yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut:
1. Inform Concern (Surat persetujuan operasi) yang telah ditandatangani oleh
penderita atau penanggung jawab penderita
2. Keadaan umum meliputi semua system tubuh terutama system respiratori dan
cardiovasculer
3. Hasil pemeriksaan / data penunjang serta hasil biopsy jaringan jika ada
4. Persiapan mental dengan suport mental dan pendidikan kesehatan tentang
jalannya operasi oleh perawat dan support mental oleh rohaniawan

5. Konsul Anestesi untuk kesiapan pembiusan


6. Sampaikan hal-hal yang mungkin terjadi nanti setelah dilakukan tindakan
pembedahan terutama jika dilakukan tiroidectomi total berhubungan dengan
minum suplemen hormone tiroid seumur hidup.
2. Penatalaksanaan Intra Operasi
Peran perawat hanya membantu kelancaran jalannya operasi karena tanggung jawab
sepenuhnya dipegang oleh Dokter Operator dan Dokter Anesthesi.
3. Penatalaksanaan Post Operasi (di ruang sadar)
1. Observasi tanda-tanda vital pasien (GCS) dan jaga tetap stabil
2. Observasi adanya perdarahan serta komplikasi post operasi
3. Dekatkan peralatan Emergency Kit atau paling tidak mudah dijangkau apabila
sewaktu-waktu dibutuhkan atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
4. Sesegera mungkin beritahu penderita jika operasi telah selesai dilakukan
setelah penderita sadar dari pembiusan untuk lebih menenangkan penderita
5. Lakukan perawatan lanjutan setelah pasien pindah ke ruang perawatan umum
KESIMPULAN
Kanker tiroid merupakan salah satu gangguan endokrin. Gangguan ini lebih banyak terjadi
pada wanita dengan distribusi berkisar antara 2:1 sampai 3:1. Insidensinya berkisar antara 5,4
30 %.
Berdasarkan usia, kanker tiroid jenis papiler biasanya terjadi pada pasien berusia kurang dari
40 tahun. Yang berperan dalam well differentiated carcinoma (papiler dan folikuler) adalah
radiasi dan goiter endemis , dan untuk jenis meduler adalah faktor genetik.
Kanker tiroid jenis meduler dapat diketahui dengan tes laboratorium, yaitu pemeriksaan
kalsitonin dalam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada
karsinoma tiroid dapat terjadi tirotoksitosis walaupun jarang.
Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat
obstruksi trakhea karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor.
Ultrasonografi diperlukan untuk membedakan tumor solid dan kistik, dan cara ini aman serta
tepat.
CT-Scan dipergunakan untuk melihat perluasan tumor, namun tidak dapat membedakan
secara pasti antara tumor ganas dan jinak. Dengan menggunakan radioisotropik dapat
dibedakan hot nodule dan cold nodule.
Pada dekade terakhir ini biopsi aspirasi banyak dipergunakan sebagi prosedur diaknostik
pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid.

PENUTUP
Penderita kanker tiroid tidak mempunyai keluhan khusus terutama pada keadaan tumor
berdiferensia baik. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap struma yang kemudian dalam
waktu singkat membesar, boleh dicurigai adanya malignasi. Pada kasus demikian, palpasi
tiroid merupakan hal yang penting untuk melihat adanya nodul kecil.
Asuhan yang baik dapat diberikan, dimulai dengan pengkajian fisik, menentukan diaknosa
yang cepat dan tepat. Langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan dan intervensi yang
mestinya diberikan. Terakhir adalah mengevaluasi apakah kondisi klien baik dan apakah
tindakan telah berhasil.
DAFTAR PUSTAKA:
1. Doenges Marlyn E, Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C, 1999, "Pedoman
Asuhan Keperawatan", Edisi ke-3. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
2. Long Barbara C, 1996, "Medical Bedah 2" Yayasan IAPK, Pajajaran, Bandung
3. Price Sylvia A, Wilson Lorraine M, 1995 "Patifosiologi", Edisi ke-4 Buku ke II, Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.

KARSINOMA TIROID (KANKER TIROID)


A. Definisi
Karsinoma tiroid adalah suatu keganasan (pertumbuhan tidak terkontrol dari sel) yang terjadi
pada kelenjar tiroid.
Kanker tiroid memiliki 4 tipe yaitu: papiler, folikuler, anaplastik dan meduller. Kanker tiroid
jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil
(nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa
disembuhkan
Kanker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi
kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon
tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme.
B. Klasifikasi karsinoma tiroid.
a. Karsinoma papiler, karsinoma ini berasal dari sel-sel tiroid dan merupakan jenis paling

umum dari karsinoma tiroid. Lebih sering terdapat pada anak dan dewasa muda dan lebih
banyak pada wanita. Terkena radiasi semasa kanak ikut menjadi sebab keganasan ini.
Pertama kali muncul berupa benjolan teraba pada kelenjar tiroid atau sebagai pembesaran
kelenjar limfe didaerah leher. Metastasis dapat terjadi melalui limfe ke daerah lain pada tiroid
atau, pada beberapa kasus, ke paru.
b. Karsinoma folikuler, karsinoma ini berasal dari sel-sel folikel dan merupakan 20-25 %
dari karsinoma tiroid. Karsinoma folikuler terutama menyerang pada usia di atas 40 tahun.
Karsinoma folikuler juga menyerang wanita 2 sampai 3 kali lebih sering daripada pria.
Pemaparan terhadap sinar X semasa kanak-kanak meningkatkan resiko jenis keganasan ini.
Jenis ini lebih infasif daripada jenis papiler.
c. Karsinoma anaplastik, karsinoma ini sangat ganas dan merupakan 10% dari kanker
tiroid. Sedikit lebih sering pada wanita daripada pria. Metastasis terjadi secara cepat, mulamula disekitarnya dan kemudian keseluruh bagian tubuh. Pada mulanya orang yang hanya
mengeluh tentang adanya tumor didaerah tiroid. Dengan menyusupnya kanker ini disekitar,
timbul suara serak, stridor, dan sukar menelan. Harapan hidup setelah ditegakkan diagnosis,
biasanya hanya beberapa bulan.
d. Karsinoma parafolikular, karsinoma parafolikular atau meduller adalah unik diantara
kanker tiroid. Karsinoma ini umumnya lebih banyak pada wanita daripada pria dan paling
sering di atas 50 tahun. Karsinoma ini dengan cepat bermetastasis, sering ketempat jauh
seperti paru, tulang, dan hati. Ciri khasnya adalah kemampuannya mensekresi kalsitonin
karena asalnya. Karsinoma ini sering dikatakan herediter.
C. Etiologi
Etiologi dari penyakit ini belum pasti, yang berperan khususnya untuk terjadi well
differentiated (papiler dan folikuler) adalah radiasi dan goiter endemis, dan untuk jenis
meduler adalah faktor genetik. Belum diketahui suatu karsinoma yang berperan untuk kanker
anaplastik dan meduler. Diperkirakan kanker jenis anaplastik berasal dari perubahan kanker
tiroid berdiferensia baik (papiler dan folikuler), dengan kemungkinan jenis folikuler dua kali
lebih besar.
Radiasi merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Banyak kasus kanker pada anakanak sebelumnya mendapat radiasi pada kepala dan leher karena penyakit lain. Biasanya efek
radiasi timbul setelah 5-25 tahun, tetapi rata-rata 9-10 tahun. Stimulasi TSH yang lama juga
merupakan salah satu faktor etiologi kanker tiroid. Faktor resiko lainnya adalah adanya
riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun.
D. Patofisiologi
Adenokarsinoma papiler biasanya bersifat multisentrik dan 50% penderita dengan ada sarang
ganas dilobus homolateral dan lobus kontralateral. Metastasis mula-mula ke kelenjar limfe
regional, dan akhirnya terjadi metastasis hematogen. Umumnya adenokarsinoma follikuler
bersifat unifokal, dengan metastasis juga ke kelenjar limfe leher, tetapi kurang sering dan
kurang banyak, namun lebih sering metastasisnya secara hematogen. Adenokarsinoma
meduller berasal dari sel C sehingga kadang mengeluarkan kalsitonin (sel APUD). Pada tahap
dini terjadi metastasis ke kelenjar limfe regional. Adenokarsinoma anaplastik yang jarang
ditemukan, merupakan tumor yang tumbuh agresif, bertumbuh cepat dan mengakibatkan
penyusupan kejaringan sekitarnya terutama trakea sehingga terjadi stenosis yang
menyebabkan kesulitan bernafas. Tahap dini terjadi penyebaran hematogen. Dan
penyembuhan jarang tercapai. Penyusupan karsinoma tiroid dapat ditemukan di trakea,
faring, esophagus, N.rekurens, pembuluh darah karotis, struktur lain dalam darah dan kulit.
Sedangkan metastasis hematogen ditemukan terutama di paru, tulang, otak dan hati.
E. TANDA DAN GEJALA

1. Sebuah benjolan, atau bintil di leher depan (mungkin cepat tumbuh atau keras) di
dekat jakun. Nodul tunggal adalah tanda-tanda yang paling umum kanker tiroid.
2. Sakit di tenggorokan atau leher yang dapat memperpanjang ke telinga.
3. Serak atau kesulitan berbicara dengan suara normal.
4. Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher. Mereka dapat ditemukan
selama pemeriksaan fisik.
5. Kesulitan dalam menelan atau bernapas atau sakit di tenggorokan atau leher saat
menelan. Ini terjadi ketika mendorong tumor kerongkongan Anda.
6. Batuk terus-menerus, tanpa dingin atau penyakit lain.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Pemeriksaan Laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid belum ada yang
khusus, kecuali kanker meduler, yaitu pemeriksaan kalsitonon dalam serum. Pemeriksaan T3
dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid dapat terjadi tiroktositosis
walaupun jarang. Human Tiroglobulin (HTG) Tera dapat dipergunakan sebagai tumor marker
dan kanker tiroid diferensiasi baik. Walaupun pemeriksaan ini tidak khas untuk kanker tiroid,
namun peninggian HTG ini setelah tiroidektomi total merupakan indikator tumor residif atau
tumbuh kembali (barsano). Kadar kalsitonin dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis
karsinoma meduler.
2) Radiologis
a. Foto X-Ray
Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat
obstruksi trakhea karena penekanan tumor dan melihat kalsifikasi pada massa tumor. Pada
karsinoma papiler dengan badan-badan psamoma dapat terlihat kalsifikasi halus yang disertai
kalsifikasi stipled, sedangkan pada karsinoma meduler kalsifikasi lebih jelas di massa tumor.
Kadang-kadang kalsifikasi juga terlihat pada metastasis karsinoma pada kelenjar getah
bening. Pemeriksaan X-Ray juga dipergunnakan untuk survey metastasis pada pary dan
tulang. Apabila ada keluhan disfagia, maka foto barium meal perlu untuk melihat adanya
infiltrasi tumor pada esophagus
b. Ultrasound
Ultrasound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. Cara ini aman dan tepat, namun cara ini
cenderung terdesak oleh adanya tehnik biopsy aspirasi yaitu tehnik yang lebih sederhna dan
murah
c. Computerized Tomografi
CT-Scan dipergunakan untuk melihat perluasan tumor, namun tidak dapat membedakan
secara pasti antara tumor ganas atau jinak untuk kasus tumor tiroid.
d. Scintisgrafi
Dengan menggunakan radio isotropic dapat dibedakan hot nodule dan cold nodule. Daerah
cold nodule dicurigai tumor ganas. Teknik ini dipergunakan juga sebagai penuntun bagi
biopsy aspirasi untuk memperoleh specimen yang adekuat.
3) Biopsi Aspirasi
Pada dekade ini biopsy aspirasi jarum halus banyak dipergunakan sebagai prosedur
diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Teknik dan peralatan
sangat sederhana , biaya murah dan akurasi diagnostiknya tinggi. Dengan mempergunakan

jarum tabung 10 ml, dan jarum no.22 23 serta alat pemegang, sediaan aspirator tumor
diambil untuk pemeriksaan sitologi. Berdasarkan arsitektur sitologi dapat diidentifikasi
karsinoma papiler, karsinoma folikuler, karsinoma anaplastik dan karsinoma medule.
G. PENATALAKSANAAN MEDIS :
1. Therapi Radiasi
Pada adenokarsinoma papiler tanpa penyebaran ke kelenjar leher sebaiknya dilakukan
istmolobektomi. Bila terdapat pembesaran kelenjar limfa leher, kemungkinan besar telah
terjadi penyebaran melalui saluran limfa di dalam kelenjar sehingga perlu dilakukan
tiroidektomi total disertai diseksi kelenjar leher pada sisi yang sama.
2. Tiroidectomi
Tiroidektomi adalah prosedur pembedahan di mana semua atau sebagian dari kelenjar tiroid
akan dihapus. Kelenjar tiroid terletak di anterior bagian dari leher tepat di bawah kulit dan di
depan jakun. Tiroid adalah salah satu kelenjar endokrin tubuh, yang berarti bahwa
mengeluarkan produk-produknya di dalam tubuh, ke dalam darah atau getah bening. tiroid
menghasilkan beberapa hormon yang memiliki dua fungsi utama: mereka meningkatkan
sintesis protein di sebagian besar jaringan tubuh, dan mereka meningkatkan tingkat konsumsi
oksigen tubuh.
Peran perawat adalah dalam penatalaksanaan Pre-Operatif, Intra Operatif dan Post Operasi:
1. Penatalaksanaan Pre Operasi yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut:
1. Inform Concern (Surat persetujuan operasi) yang telah ditandatangani oleh penderita
atau penanggung jawab penderita
2. Keadaan umum meliputi semua system tubuh terutama system respiratori dan
cardiovasculer
3. Hasil pemeriksaan / data penunjang serta hasil biopsy jaringan jika ada
4. Persiapan mental dengan suport mental dan pendidikan kesehatan tentang jalannya
operasi oleh perawat dan support mental oleh rohaniawan
5. Konsul Anestesi untuk kesiapan pembiusan
6. Sampaikan hal-hal yang mungkin terjadi nanti setelah dilakukan tindakan
pembedahan terutama jika dilakukan tiroidectomi total berhubungan dengan minum
suplemen hormone tiroid seumur hidup.
2. Penatalaksanaan Intra Operasi
Peran perawat hanya membantu kelancaran jalannya operasi karena tanggung jawab
sepenuhnya dipegang oleh Dokter Operator dan Dokter Anesthesi.
3. Penatalaksanaan Post Operasi (di ruang sadar)
1. Observasi tanda-tanda vital pasien (GCS) dan jaga tetap stabil
2. Observasi adanya perdarahan serta komplikasi post operasi
3. Dekatkan peralatan Emergency Kit atau paling tidak mudah dijangkau apabila
sewaktu-waktu dibutuhkan atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

4. Sesegera mungkin beritahu penderita jika operasi telah selesai dilakukan setelah
penderita sadar dari pembiusan untuk lebih menenangkan penderita
5. Lakukan perawatan lanjutan setelah pasien pindah ke ruang perawatan umum.
H. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian keperawatan pra operasi
a. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan
apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
b. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti

Pola makan

Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).

Pola aktivitas.

c. Tempat tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.


d. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;

Sistem pulmonari (Terjadinya dispnea, kecepatan pernafasan meningkat, takipnea,


suara nafas : krakel, ronki)

Sistem pencernaan (Anoreksia berat, mual / muntah, kekurangan zat garam, berat
badan menurun dengan cepat

Sistem kardiovaskuler (Hipotensi termasuk hipotensi postural, nadi perifer melemah,


pengisian kapiler memanjang

Sistem muskuloskeletal (Kelemahan pada otot, tidak mampu melakukan aktifitas /


bekerja

Sistem neurologik dan Emosi/psikologis (Sakit kepala yang berlangsung lama yang di
ikuti oleh diaforesis. kelemahan otot)

Sistem reproduksi (Hilangnya tanda tanda seks sekunder, adanya riwayat


monopouse dini)

e. Pemeriksaan fisik mencakup.

Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema disekitar leher,
adanya nodule yang membesar disekitar leher.

Perbesaran jantung, disritmia dan hipotensi, nadi turun, kelemahan fisik

Parastesia dan reflek tendon menurun

Suara parau dan kadang sampai tak dapat mengeluarkan suara

Bila nodule besar dapat menyebabkan sesak nafas.

f. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sosial dengan lingkungannya,
mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas beraktivitas, dan ingin
tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup kelima komponen
konsep diri.
g. Pengkajian yang lain menyangkut terjadinya Hipotiroidime atau Hipertiroidisme.
2. Pengkajian keperawatan post operasi
a. Dasar data pengkajian

Pertimbangan KDB menunjukkan merata dirawat : 3 hari

Pola aktifitas/istirahat : insomnia, kelemahan berat, gangguan koordinasi

Pola neurosensori : gangguan status mental dan perilaku, seperti : bingung,


disorientasi, gelisah, peka rangsang, hiperaktif refleks tendon dalam

b. Prioritas keperawatan

Mengembalikan status hipertiroid melalui praoperatif

Mencegah komplikasi

Menghilangkan nyeri

Memberikan informasi tentang prosedur

c. Tujuan pemulangan

Komplikasi dapat di cegah atau dikurangi

Nyeri hilang

Prosedur pembedahan/prognosis dan pengobatannya dapat dipahami

Mungkin membutuhkan bantuan pada teknik pengobatan sebagian atau seluruhnya, aktivitas
sehari-hari, menjalankan tugas-tugas rumah
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
Diagnosa Pre Operasi:
a. Ansietas berhubungan dengan faktor kurang pengetahuan tentang kejadian pra
operasi dan pasca operasi, takut tentang beberapa aspek pembedahan.
Tujuan : ansietas berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ....x24 jam
Kriteria hasil: Klien melaporkan kecemasan berkurang, mengungkapkan pemahaman tentang
kejadian pra operasi dan pasca operasi, postur tubuh riileks.
Rencana Tindakan:
NO

INTERVENSI

RASIONAL

1.
2.
3.
4.
5.

Jelaskan apa yang terjadi selama periode Pengetahuan tentang apa yang diperlukan
pra operasi dan pasca operasi, termasuk membantu mengurangi ansietas &
test laboratorium pra op, persiapan
meningkatkan kerjasama klien selama
kulit, alasan status puasa, obat-obatan pemulihan, mempertahankan kadar
pre op, aktifitas area tunggu, tinggal
analgesik darah konstan, memberikan
diruang pemulihan dan program pasca kontrol nyeri terbaik.
operasi.
Pengetahuan tentang apa yang diper-kirakan
Informasikan klien bahwa obatnya
membantu mengurangi an-sietas.
tersedia bila diperlukan untuk
Praktek aktifitas-aktifitas pasca ope-rasi
mengontrol nyeri, anjurkan untuk
membantu menjamin penurunan program
memberitahu nyeri dan meminta obat
pasca operasi terkomplikasi.
nyeri sebelum nyerinya bertambah
Dengan mengungkapkan perasaan
hebat.
membantu pemecahan masalah dan
Informasikan klien bahwa ada suara
memungkinkan pemberi perawatan untuk
serak & ketidak nyamanan menelan
mengidentifikasi kekeliruan yang dapat
dapat dialami setelah pembedahan,
menjadi sumber kekuatan. Keluarga adalah
tetapi akan hilang secara bertahap
sistem pendukung bagi klien. Agar efektif,
dengan berkurangnya bengkak 3-5
sistem pendukung harus mempunyai
hari.
mekanisme yang kuat.
Ajarkan & biarkan klien
Daftar cek memastikan semua aktifitas yang
mempraktekkan bagaimana menyokong diperlukan telah lengkap. Aktifitas ini
leher untuk menghindari tegangan pada dirancang untuk memas-tikan klien telah
insisi bila turun dari tempat tidur atau siap secara fisiologis untuk operasi dan
batuk. Biarkan klien dan keluarga
mengurangi resiko lamanya penyembuhan.
mengungkapkan perasaan tentang
pengalaman pembedahan, perbaiki jika
ada kekeliruan konsep. Rujuk
pertanyaan khusus tentang pembedahan
kepada ahli bedah.
Lengkapi daftar aktifitas pada daftar cek
pre op, beritahu dokter jika ada kelainan
dari test Lab. pre op.
b. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan ketakutan berkaitan dengan
diagnosis kanker yang baru saja diterima, masalah potensial ketidak pastian masa
depan.
Tujuan : Klien dan keluarga dapat beradaptasi secara konstruktif setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ....x 24 jam.
Kriteria hasil :

Sering mengungkapkan perasaan terhadap perawat/dokter.


Berpartisipasi dalam perawatan anggota keluarga yang sakit.
Mempertahankan sistem fungsional saling mendukung antar tiap anggota keluarga.
Rencana Tindakan
NO
1.
2.
3.
4.
5.

INTERVENSI
Bantu klien dan keluarga dalam
menghadapi kekhawatiran terhadap
situasi: resikonya, pilihan yang ada serta
bantuan yang didapat.
Ciptakan lingkungan rumah sakit yang
bersifat pribadi dan mendukung untuk
klien dan keluarga.
Libatkan anggota keluarga dalam

RASIONAL
Klien & keluarga mengetahui segala
sesuatu yang mungkin dapat
menyebabkan kekhawatiran serta
dapat mengatasinya.
Klien merasa terlindungi rasa
amannya.
Klien mendapat perhatian & kasih
sayang dari keluarganya & keluarga

dapat berperan lebih aktif dalam


merawat klien.
Harapan yang tidak realistis membuat
Bantu anggota keluarga untuk mengubah kelurga berpikir tidak objektif.
harapan-harapan klien yang sakit dalam Dengan mengetahui bantuan
profesional diharapkan klien dan
suatu sikap yang realistis.
keluarga dapat mencari alternatif dan
Buatlah daftar bantuan profesional lain
usaha lain dalam mengobati dan
bila masalah-masalah meluas diluar batas- merawat klien.
batas keperawatan
perawatan anggota keluarga yang sakit
bila memungkinkan.

Diagnosa Pasca Operasi


c. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi akibat adanya
perdarahan atau edema pada tempat pembedahan, kerusakan saraf laringeal atau luka
pada kelenjar paratiroid.
Tujuan : mempertahankan kepatenan jalan nafas setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama ... x 24 jam.
Kriteria hasil :
1. Mengeluarkan/membersihkan sekret dan bebas aspirasi.
2. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/memtertahankan jalan nafas bersih dalam
tingkat kemampuan/situasi
Rencana Tindakan
NO.

INTERVENSI

1. Monitor tanda-tanda respiratori distres,


2. sianosis, takipnea dan nafas yang
3. berbunyi.

RASIONAL
Memonitor dan mengkaji terus menerus
dapat membantu untuk mendeteksi dan
mencegah masalah pernafasan.

4.
5.
6.
7.

Periksa balutan leher setiap jam pada


Pembedahan didaerah leher dapat
periode awal post op, kemudian tiap 4
menyebabkan obstruksi jalan nafas karena
jam.
adanya edem post op.
Monitor frekuensi dan jumlah drainase
Dengan mempertahankan posisi dan
serta kekuatan balutan.
pemberian es dapat mengurangi
Periksa sensasi klien karena keketatan
pembengkakan.
disekeliling tempat insisi.
Pertahankan klien dalam posisi semi
Kerusakan pada saraf laringeal selama
fowler dengan diberi kantung es (ice bag) pembedahan tiroid dapat menyebabkan
untuk mengurangi bengkak.
penutupan glottis.
Anjurkan klien untuk berbicara setiap 2 Hipokalsemia, akibat dari kerusakan atau
jam tanpa merubah nada atau keparauan pemotongan kelenjar paratiroid dapat
suara.
menyebabkan tetani dan laringospasm.
Siapkan peralatan emergency untuk
Persiapan untuk gawat darurat memastikan
tracheostomy, suction, oksigen,
pemberian perawatan yang cepat dan tepat.
perlengkapan benang jahit bedah dan
kalsium IV, dalam keadaan siap pakai.
d. Nyeri berhubungan dengan edema pascaoperasi.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... x 24 jam
Kriteria: Tidak ada rintihan, ekspresi wajah rileks, melaporkan nyeri dapat berkurang/hilang.
Dari skala 7 berkurang menjadi 2.
Rencana Tindakan:
NO

INTERVENSI

1. Berikan analgesik narkotik yang diresepkan &


2 evaluasi keefektifannya.
3. Ingatkan klien untuk mengikuti tindakantindakan untuk mencegah peregangan pada insisi
seperti:
menyokong leher bila bergerak di tempat tidur &
bila turun dari tempat tidur.
menghindari hiper ekstensi & fleksi akut leher.
Anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik
relaksasi, seperti imajinasi, musik yang lembut,
dan relaksasi progresif.

RASIONAL
Analgesik narkotik perlu pada
nyeri hebat untuk memblok rasa
nyeri.
Peregangan pada garis jahitan
adalah sumber ketidak
nyamanan.
Membantu untuk memfokuskan
kembali perhatian dan
membantu pasien untuk
mengatasi nyeri/rasa tidak
nyaman.

e. Resiko tinggi terhadap komplikasi perdarahan berhubungan dengan tiroidektomi,


edema pada dan sekitar insisi, pengangkatan tidak sengaja dari para tiroid, perdarahan
dan kerusakan saraf laringeal.

Tujuan: mencegah terjadinya komplikasi perdarahan setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama ... x 24 jam.
Kriteria : Tidak ada manifestasi dari perdarahan yang hebat, hiperkalemia, kerusakan saraf
laringeal, obstruksi jalan nafas, ketidak seimbangan hormon tiroid dan infeksi.
Rencana Tindakan:
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.

INTERVENSI

RASIONAL

Perdarahan:
Untuk mendeteksi tanda-tanda awal
Pantau:
perdarahan. Temuan ini menandakan
TD, nadi, RR setiap 224 jam. Bila stabil perdarahan berlebihan dan perlu perhatian
setiap 4 jam.
medis segera.
Status balutan: inspeksi dirasakan
Untuk mendeteksi tanda-tanda awal
dibelakang leher setiap 2x 24 jam,
obstruksi pernafasan.
kemudian setiap 8 jam setelahnya.
Temuan-temuan ini menandakan kompresi
Beritahu dokter bila drainase merah
trakeal yang dapat disebabkan oleh
terang pada balutan/penurunan TD
perdarahan, perhatian medis untuk
disertai peningkatan frekuensi nadi &
mencegah henti nafas.
nafas.
Posisi tegak memungkinkan ekspansi paru
Tempatkan bel pada sisi tempat tidur & lebih penuh & membantu menu-runkan
instruksikan klien untuk memberi tanda bengkak.
bila tersedak atau sensasi tekanan pada
Pernafasan dalam mempertahankan alveoli
daerah insisi terasa. Bila gejala itu terjadi, terbuka untuk mencegah ate-lektasis.
kendur-kan balutan, cek TTV, inspeksi
Untuk digunakan bila terjadi kompresi
insisi, pertahankan klien pada posisi semi trakea.
fowler, beritahu dokter.
Untuk melawan/mencegah masuknya
Obstruksi jalan nafas:
bakteri.
Pantau pernafasan setiap 224 jam.
Temuan ini menandakan infeksi luka dan
b)
Beritahu dokter bila keluhan-keluhan perlu terapi antibiotik.
kesulitan pernafasan, pernafasan tidak
Untuk menurunkan tegangan pada pita
tertur atau tersedak.
suara.
Pertahankan posisi semi fowler dengan Perubahan-perubahan ini menunjukkan
bantal dibelakang kepala untuk sokongan kerusakan saraf laringeal, dimana hal ini
d) Anjurkan penggunaan spirometri insentif tidak dapat disembuhkan.
setiap 2 jam untuk merangsang pernafasan Perubahan kadar kalsium serum terjadi
dalam.
sebelum manifestasi ketidak seimbangan
Jamin bahwa O2 dan suction siap
kalsium.
tersedia di tempat.
Temuan ini menandakan hipokalsemia dan
perlunya penggantian garam kalsium.
Untuk mendeteksi indikasi awal

Infeksi luka:
a.

Ganti balutan sesuai program dengan


menggunakan teknik steril.
Beritahu dokter bila ada tanda-tanda
infeksi.

ketidakseimbangan hormon tiroid.


Hormon tiroid penting untuk fungsi
metabolik normal

Kerusakan saraf laringeal:


a. Instruksikan klien untuk tidak banyak
bicara.
Laporkan peningkatan suara serak dan
kelelahan suara.
Hipokalsemia:
Pantau laporan-laporan kalsium serum.
Beritahu dokter bila keluhan-keluhan
kebal, kesemutan pada bibir, jari-jari/jari
kaki, kedutam otot atau kadar kalsium di
bawah rentang normal.
Ketidakseimbangan hormon tiroid:
Pantau kadar T3 dan T4 serum.
Berikan penggantian hormon tiroid
sesuai pesanan.
f. Resiko tinggi terhadap penatalaksanaan pemeliharaan di rumah berhubungan
dengan kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.
Tujuan : mampu memenuhi rencana pemeliharaan dirumah setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ... x 24 jam.
Kriteria: Klien mengungkapkan pemahaman tentang instruksi pulang, melakukan latihan
dengan benar, mengungkapkan kepuasan dengan rencana perawatan dirumah, menghindari
terjadinya komplikasi.
Rencana Tindakan:
NO INTERVENSI
1
Berikan instruksi untuk latihan leher fleksi,
ekstensi dan latihan rotasi setelah jahitan di
angkat hari ke-7.
2
Hubungi dokter bila ada tanda-tanda infeksi.
3

Bila tiroidektomi total dilakukan, berikan

RASIONAL
Latihan-latihan ini untuk memban-tu
mencegah kontraktur otot leher.
Terapi antibiotik untuk mengatasi
infeksi.
Pemahaman hubungan antara kondisi

informasi tentang obat pengganti dan harus


digunakan untuk sepanjang hidup.
Berikan instrumen tertulis untuk aktifitas
perawatan diri, perjanjian, evaluasi dan obatobatan, klien kemudian evaluasi pemahaman
instruksi.

dan terapi membantu


mengembangkan kepatuhan klien.
Instruksi verbal mungkin mudah
dilupakan.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges Marlyn E, Moorhouse Mary Frances, Geissler Alice C, 1999, Pedoman Asuhan
Keperawatan, Edisi ke-3. Jakarta:Buku Kedokteran EGC
Tambayong, Jan. 2000. Patologi untuk Keperawatan. EGC : Jakarta
Sutjahjo, Ari. 2006. Endokrin Metabolik. Surabaya : Airlangga University Press
http://www.exomedindonesia.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiahkedokteran/endokrinologi-metabolik-penyakit-dalam/2010/11/08/neoplasme-tiroid/

PENGERTIAN

Kanker tiroid adalah suatu keganasan pada tiroid yang memiliki empat (4) tipe, yaitu
papiler, folikuler, anaplastik, dan meduler.

Kanker tiroid adalah pembesaran tiroid yang diskret.


( Price, Sylvia A., 1995 )

B. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI

Kanker tiroid lebih sering ditemukan pada orang-orang yang pernah menjalani terapi
penyinaran di kepala, leher maupun dada. Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat
keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun serta tetangga atau penduduk
sekampung ada yang menderita kelainan kelenjar gondok (endemis). Hal ini lebih kepada
pola hidup dan letak geografis yang tidak mendukung pada pemenuhan intake yodium. Selain
itu, terdapat penyebab spesifik berdasarkan klasifikasi atau pembagian tipe kanker tiroid,
yaitu sebagai berikut:
1. Kanker Papiler
60-70% dari kanker tiroid adalah kanker papiler. 2-3 kali lebih sering terjadi pada wanita.
Kanker papiler lebih sering ditemukan pada orang muda, tetapi pada usia lanjut kanker ini
lebih cepat tumbuh dan menyebar. Resiko tinggi terjadinya kanker papiler ditemukan pada
orang yang pernah menjalani terapi penyinaran di leher.

2. Kanker Folikuler
15-20% dari kanker tiroid adalah kanker folikuler. Ini merupakan jenis kanker yang paling
tidak ganas dan paling mudah diobati. Kanker folikuler juga lebih sering ditemukan pada
wanita, usia 20-50 tahun. Mirip tiroid normal namun dapat berkembang lambat dan
bermetastase cepat. Pada penderita yang tidak diobati, kematian disebabkan karena perluasan
lokal atau karena metastasis jauh mengikuti aliran darah dengan keterlibatan yang luas dari
tulang dan paru-paru.
3. Kanker Anaplastik
Kurang dari 10% kanker tiroid merupakan kanker anaplastik. Ini merupakan jenis kanker
tiroid yang sangat ganas. Kanker ini paling sering ditemukan pada wanita usia lanjut. Kanker

anaplastik tumbuh sangat cepat dan biasanya menyebabkan benjolan yang besar di leher.
Kanker ini mengakibatkan kematian dalam beberapa minggu (bulan). Biasanya terjadi pada
pasien-pasien tua dengan riwayat goiter yang lama dimana kelenjar tiba-tiba (dalam waktu
beberapa minggu atau bulan) mulai membesar dan menghasilkan gejala-gejala penekanan,
disfagia atau kelumpuhan pita suara, kematian akibat perluasan lokal yang masif biasanya
terjadi dalam 6-36 bulan. Kanker ini sangat resisten terhadap pengobatan.

4. Kanker Meduler
Pada kanker meduler, kelenjar tiroid menghasilkan sejumlah besar kalsitonin (dari sel C).
Kanker meduler ini sangat jarang terjadi dan merupakan penyakit keturunan. 5-10% dari
semua kasus. Karakteristiknya adalah bentuk tumor bulat, keras yang terletak di lobus tengah
dan atas kelenjar tiroid. Kanker cenderung menyebar melalu sistem getah bening ke kelenjar
getah bening dan melalui darah ke hati, paru-paru dan tulang. Pada metastase stadium dini
dapat merupakan komplikasi dari masalah kelenjar lain (sindroma neoplasia endokrin
multipel), yakni Pheochromocytomo (kelainan pada kelenjar adrenal) dan pertumbuhan pesat
kelenjar paratiroid. Kanker ini lebih agresif dari pada kanker papiler atau folikuler tetapi tidak
seagresif kanker tiroid anaplastik.
5.

Jenis-Jenis Lain

a.

Limfoma

Satu-satunya jenis kanker tiroid yang tumbuh cepat yang berespon baik terhadap pengobatan.
Limfoma tiroid kadang-kadang timbul pada pasien dengan tiroiditis Hashimoto yang lama
dan sulit dibedakan dari tiroiditis kronik. Invasi limfosit pada folikel tiroid dan dinding
pembuluh darah dapat membantu dalam membedakan limfoma tiroid dari tiroiditis kronik.

b.

Kanker Metastatik ke Tiroid

Kanker sistemik metastasis ke kelenjar tiroid, termasuk kanker payudara dan ginjal, kanker
bronkogenik dan melanoma maligna.
C. MANIFESTASI KLINIK
Tanda dan gejala kanker tiroid adalah:
1.

Terdapat pembesaran kelenjar tiroid atau pembengkakan kelenjar getah bening di daerah
leher (karena metastasis).

2.

Nodul ganas membesar cepat, dan nodul anaplastik cepat sekali (dihitung dalam minggu),
tanpa nyeri.

3.

Merasakan adanya gangguan mekanik di daerah leher, seperti gangguan menelan yang
menunjukkan adanya desakan esofagus, atau perasaan sesak yang menunjukkan adanya
desakan / infiltrasi ke trakea.

4.

Suara penderita berubah atau menjadi serak.

5.

Bisa terjadi batuk atau batuk berdarah, serta diare atau sembelit.

D. PENATALAKSANAAN
Secara umum, penatalaksanaan kanker tiroid adalah:

Operasi
Pada kanker tiroid yang masih berdeferensiasi baik, tindakan tiroidektomi (operasi
pengambilan tiroid) total merupakan pilihan untuk mengangkat sebanyak mungkin jaringan
tumor. Pertimbangan dari tindakan ini antara lain 60-85% pasien dengan kanker jenis papilare
ditemukan di kedua lobus. 5-10% kekambuhan terjadi pada lobus kontralateral, sesudah
operasi unilateral.

Terapi Ablasi Iodium Radioaktif

Terapi ini diberikan pada pasien yang sudah menjalani tiroidektomi total dengan maksud
mematikan sisa sel kanker post operasi dan meningkatkan spesifisitas sidik tiroid untuk
deteksi kekambuhan atau penyebaran kanker. Terapi ablasi tidak dianjurkan pada pasien
dengan tumor soliter berdiameter kurang 1mm, kecuali ditemukan adanya penyebaran.

Terapi Supresi L-Tiroksin


Supresi terhadap TSH pada kanker tiroid pascaoperasi dipertimbangkan karena adanya
reseptor TSH di sel kanker tiroid bila tidak ditekan akan merangsang pertumbuhan sel-sel
ganas yang tertinggal. Harus juga dipertimbangkan segi untung ruginya dengan terapi ini.
Karena pada jangka panjang (7-15 tahun) bisa menyebabkan gangguan metabolisme tulang
dan bisa meningkatkan risiko patah tulang.
Secara khusus (berdasarkan klasifikasi kanker tiroid), penatalaksanaan kanker tiroid adalah:

1.

Penatalaksanaan Kanker Papiler


Kanker ini diatasi dengan tindakan pembedahan, yang kadang melibatkan pengangkatan
kelenjar getah bening di sekitarnya. Nodul dengan diameter lebih kecil dari 1,9 cm diangkat
bersamaan dengan kelenjar tiroid di sekitarnya, meskipun beberapa ahli menganjurkan untuk
mengangkat seluruh kelenjar tiroid. Pembedahan hampir selalu bisa menyembuhkan kanker
ini. Diberikan hormon tiroid dalam dosis yang cukup untuk menekan pelepasan TSH dan
membantu mencegah kekambuhan. Jika nodulnya lebih besar, maka biasanya dilakukan
pengangkatan sebagian besar atau seluruh kelenjar tiroid dan seringkali diberikan yodium
radioaktif, dengan harapan bahwa jaringan tiroid yang tersisa atau kanker yang telah
menyebar akan menyerapnya dan hancur. Dosis yodium radioaktif lainnya mungkin
diperlukan untuk memastikan bahwa keseluruhan kanker telah dihancurkan. Kanker papiler
hampir selalu dapat disembuhkan.
2.

Penatalaksanaan Kanker Folikuler

Pengobatan untuk kanker ini adalah pengangkatan sebanyak mungkin kelenjar tiroid dan
pemberian yodium radioaktif untuk menghancurkan jaringan maupun sel kanker yang tersisa.
3.

Penatalaksanaan Kanker Anaplastik

Pemberian yodium radioaktif tidak berguna karena kanker tidak menyerap yodium radioaktif.
Pemberian obat anti kanker dan terapi penyinaran sebelum dan setelah pembedahan
memberikan hasil yang cukup memuaskan. Operasi reseksi diikuti radiasi dan kemoterapi.
4.

Penatalaksanaan Kanker Meduler

Pengobatannya

meliputi

pengangkatan

seluruh

kelenjar

tiroid.

Lebih dari 2/3 penderita kanker meduler yang merupakan bagian dari sindroma neoplasia
endokrin multipel, bertahan hidup 10 tahun; jika kanker meduler berdiri sendiri, maka angka
harapan hidup penderitanya tidak sebaik itu. Kadang kanker ini diturunkan, karena itu
seseorang yang memiliki hubungan darah dengan penderita kanker meduler, sebaiknya
menjalani penyaringan untuk kelainan genetik. Jika hasilnya negatif, maka hampir dapat
dipastikan orang tersebut tidak akan menderita kanker meduler. Jika hasilnya positif, maka
dia akan menderita kanker meduler; sehingga harus dipertimbangkan untuk menjalani
pengangkatan tiroid meskipun gejalanya belum timbul dan kadar kalsitonin darah belum
meningkat. Kadar kalsitonin yang tinggi atau peningkatan kadar kalsitonin yang berlebihan
setelah dilakukan tes perangsangan, juga membantu dalam meramalkan apakah seseorang
akan menderita kanker meduler.

E. PATOFISIOLOGI
Terapi penyinaran di kepala, leher dan dada, riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid
dan gondok menahun serta tetangga atau penduduk sekampung ada yang menderita kelainan
kelenjar gondok (endemis) dapat mencetuskan timbulnya neoplasma yang menyebabkan
timbulnya pertumbuhan kecil (nodul) di dalam kelenjar tiroid seseorang. Hal ini dipengaruhi

oleh pelepasan TRH oleh Hipotalamus. Dimana karena pengaruh TRH, Hipofisis anterior
akan merangsang peningkatan sekresi TSH sebagai reaksi adanya neoplasma. Peningkatan
TSH ini akan meningkatkan massa tiroid yang akan berdiferesiasi sehingga memunculkan
kanker tiroid. Kanker ini umumnya akan meluas dengan metastasis dan invasi kelenjar dan
organ tubuh. Berikut perluasan kanker pada organ tubuh yang lain :
a. Pada kanker papiler, kanker ini biasanya meluas dengan metastasis dalam kelenjar dan
dengan invasi kelenjar getah bening lokal. Selama bertahun-tahun tumbuh sangat lambat dan
tetap berada dalam kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening lokal. Pada pasien tua kanker ini
bisa jadi lebih agresif dan menginvasi secara lokal ke dalam otot dan trakea. Selain itu, dapat
tumbuh cepat dan berubah menjadi karsinoma anaplastik. Pada stadium lanjut, dapat
menyebar ke paru-paru.
b. Pada kanker folikuler cenderung menyebar melalui aliran darah, menyebarkan sel-sel kanker
ke berbagai organ tubuh. Kanker ini sedikit lebih agresif dari pada kanker papiler dan
menyebar dengan invasi lokal kelenjar getah bening atau dengan invasi pembuluh darah
disertai metastasis jauh ke tulang atau paru. Kanker-kanker ini sering tetap mempunyai
kemampuan untuk mengkonsentrasi iodin radioaktif untuk membentuk tiroglobulin dan
jarang untuk mensintesis T3 dan T4.
c. Pada kanker anaplastik, terjadi invasi lokal pada stadium dini ke struktur di sekitar tiroid lalu
bermetastasis melalui saluran getah bening dan aliran darah.
d. Kanker cenderung menyebar melalui sistem getah bening ke kelenjar getah bening dan
melalui darah ke hati, paru-paru dan tulang. Pada metastase stadium dini dapat merupakan
komplikasi dari masalah kelenjar lain (sindroma neoplasia endokrin multipel).

DAFTAR PUSTAKA

Closkey, J.C, Bulecheck, G.M, 1996. Iowa Intervention Project: Nursing Intervention Classification
(NIC) 2nd, Mosby, St.Louis.
Greenspan & Baxter, 2000, Endokrinologi Dasar dan Klinik, EGC, Jakarta.
Isselbacher, Kurt J, 2000, Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, EGC, Jakarta.
Johnson, M, dkk, 2000, Iowa Intervention Project: Nursing Outomes Classification (NOC) 2nd.
Mosby, St.Louis.
Mansjoer, Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta.
NANDA, 2005, NANDA:Nursing Diagnosis Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia.
Price, Sylvia Anderson & Lorraine M.W., 1995, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, EGC, Jakarta.
Ragg, M. , 1999, Memahami Masalah Tiroid, ARCAN, Jakarta.
Suastika, K., 1995, Penyakit Kelenjar Tiroid, EGC, Jakarta.