Anda di halaman 1dari 8

PERILAKU MASYARAKAT DALAM PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

DI ERA GLOBAL
A. Modernisasi
Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu perubahan ke arah yang lebih
maju atau meningkat di berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Secara sederhana, dapat
dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara
baru yang lebih maju dalam rangka untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. Sebagai suatu
bentuk perubahan sosial, modernisasi biasanya merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah
dan terencana. Perencanaan sosial (social planning) dewasa ini menjadi ciri umum bagi
masyarakat atau negara yang sedang mengalami perkembangan. Suatu perencanaan sosial
haruslah didasarkan pada pengertian yang mendalam tentang bagaimana suatu kebudayaan dapat
berkembang dari taraf yang lebih rendah ke taraf yang lebih maju atau modern. Di Indonesia,
bentuk-bentuk modernisasi banyak kita jumpai di berbagai aspek kehidupan masyarakatny. Salah
satu bentuk modernisasi di Indonesia khususnya di bidang pertanian adalah dengan adanya
teknik-teknik pengolahan lahan yang baru dengan menggunakan mesin-mesin, pupuk dan obatobatan, irigasi teknis, varietas-varietas unggulan baru, pemanenan serta penanganannya, dan
sebagainya. Penggunaan istilah modernisasi banyak disalahartikan sehingga sisi moralnya
terlupakan. Banyak orang yang menganggap modernisasi hanya sebatas pada suatu kebebasan
yang bersifat keduniawian. Untuk menghindari kesimpangsiuran pengertian dan kesalahan
pemahaman tentang modernisasi, maka secara garis besar istilah modern dapat diartikan berikut
ini.
1. Modern berarti kemajuan yang rasional dalam segala bidang dan meningkatnya taraf
penghidupan masyarakat secara menyeluruh dan merata.
2. Modern berarti berkemanusiaan dan tinggi nilai peradabannya dalam pergaulan hidup.
Proses modernisasi tidak serta merta terjadi dengan sendirinya. Modernisasi dapat terjadi apabila
ada syarat-syarat berikut ini.
1. Cara berpikir yang ilmiah yang melembaga dalam kelas penguasa maupun masyarakat.
2. Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi.
3. Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur.
4. Penciptaan iklim yang menyenangkan dari masyarakat terhadap modernisasi

5. Tingkat organisasi yang tinggi, terutama disiplin diri.


6. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial.
Hal yang harus kalian pahami adalah bahwa modernisasi berbeda dengan westernisasi. Jika
modernisasi adalah suatu bentuk proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara yang
lebih maju; westernisasi adalah proses peniruan oleh suatu masyarakat atau negara terhadap
kebudayaan dari negara-negara Barat yang dianggap lebih baik dari budaya daerahnya.
Berdasarkan hal tersebut, pengertian modernisasi lebih baik daripada westernisasi. Akan tetapi,
bersamaan dengan proses modernisasi biasanya juga terjadi proses westernisasi, karena
perkembangan masyarakat modern itu pada umumnya terjadi di dalam kebudayaan Barat yang
tersaji dalam kemasan Barat pula.
B. Globalisasi
Istilah globalisasi berasal dari kata global atau globe (globe = bola dunia; global =
mendunia). Berdasarkan akar katanya tersebut, dapat diartikan globalisasi sebagai suatu proses
masuk ke lingkungan dunia. Pada era modern ini harus diakui bahwa peradaban manusia telah
memasuki tahapan baru, yaitu dengan adanya revolusi komunikasi. Dengan cepat, teknik dan
jasa telekomunikasi yang memanfaatkan spektrum frekuensi radio dan satelit ini telah
berkembang menjadi jaringan yang sangat luas dan menjadi vital dalam berbagai aspek
kehidupan dan keselamatan bangsa-bangsa di dunia. Pemanfaatan jasa satelit tidak semata-mata
untuk usaha hiburan, namun berkembang secara meluas dan digunakan dalam teknologi
pertelevisian, komunikasi, komputer, analisis cuaca, hingga penggunaan untuk survei sumber
daya alam. Contoh paling mudah adanya pengaruh globalisasi adalah adanya siaran langsung
televisi antarnegara. Hal-hal yang sedang terjadi di negara lain, misalnya final Piala Dunia di
Jerman dapat kita ketahui pada saat yang bersamaan. Dalam hal ini definisi berita yang biasanya
diartikan sebagai suatu peristiwa yang telah terjadi berubah menjadi suatu peristiwa yang sedang
terjadi. Contoh lain adalah internet. Internet merupakan hasil penggabungan kemajuan teknologi
komputer dengan kemajuan teknologi komunikasi yang dianggap sebagai bentuk revolusi di
kedua bidang tersebut. Dengan kemampuan pembaruan data yang cepat, internet berkembang
sebagai jendela dunia yang up to date. Melalui internet, banyak kemudahan yang dapat kalian
peroleh tanpa harus berurusan dengan birokrasi antarnegara. Pengiriman surat, data, atau
dokumen-dokumen penting ke berbagai penjuru dunia dapat dilakukan dalam hitungan detik.

Bebas, terbuka, langsung, dan tanpa mengenal batas negara merupakan ciri era komunikasi
global. Semua kalangan bisa berhubungan dengan jaringan internet, termasuk di dalamnya
jaringan-jaringan yang tidak layak atau menyesatkan yang tidak sesuai dengan kepribadian
bangsa kita. Kondisi tersebut hanya sebagian kecil contoh globalisasi. Artinya, hubungan
antarmanusia tidak lagi dibatasi aturan atau wilayah negaranya saja, namun mulai mengikuti
aturan internasional yang berkembang di dunia. Adanya hubungan yang mendunia ini
dipengaruhi oleh adanya saluran-saluran pendukung proses globalisasi berikut ini.
1. Saluran pergaulan; adanya kontak kebudayaan dan saling mengunjungi antarwarga negara
akan memudahkan seseorang mempelajari dan mengerti kebudayaan asing. Bentuk pertukaran
pelajar, home stay, pertukaran misi kebudayaan, penyerapan tenaga kerja asing, dan sebagainya
membuat seseorang tidak hanya tinggal di negara lain, tetapi secara sadar atau tidak ia akan
menyerap kebiasaan dan pola kehidupan masyarakat setempat.
2. Saluran teknologi; berbagai peralatan teknologi merupakan saluran globalisasi yang membawa
pengaruh yang sangat besar. Seperti telah diungkapkan sedikit pada bagian awal, saluran
teknologi ternyata memiliki potensi perubahan yang sangat besar bagi masyarakat penggunanya.
3. Saluran ekonomi; produk-produk baru dapat dengan cepat diinformasikan pada konsumen.
Hal ini akan mempercepat pola penawaran dan permintaan di pasar. Bahkan, saat ini sistem
bisnis melalui multimedia sudah banyak dilaku-kan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia,
misalnya dengan cara telemarketing, baik melalui pesawat telepon maupun internet. Kekayaan
dan utang suatu negara dapat diketahui dan dibandingkan dengan kondisi di negara lain,
sehingga hampir tidak ada rahasia yang dapat tertutup rapat.
4. Saluran media hiburan; produk-produk hiburan seperti film , lagu, dan berbagai jenis produk
permainan/games yang beredar dapat memengaruhi mental masyarakat. Sektor ini perlu
diwaspadai dalam upaya pembinaan dan perlindungan generasi muda dari degradasi moral.
C. Dampak Modernisasi dan Globalisasi
Dampak modernisasi dan globalisasi sebagai berikut.
1. Tanggapan dan Kecenderungan Perilaku Masyarakat terhadap Modernisasi dan Globalisasi
Saat memasuki era milenium ketiga ini, tampaknya arus modernisasi dan globalisasi tidak akan
dapat dihindari oleh negara-negara di dunia dalam berbagai aspek kehidupannya. Menolak dan
menghindari modernisasi dan globalisasi sama artinya dengan mengucilkan diri dari masyarakat

internasional. Kondisi ini tentu akan menyulitkan negara tersebut dalam menjalin hubungan
dengan negara lain. Berbagai tanggapan dan kecenderungan perilaku masyarakat dalam
menghadapi arus modernisasi dan globalisasi. Secara garis besar dapat dibedakan menjadi sikap
positif dan sikap negatif berikut ini.
a. Sikap Positif
Sikap positif menunjukkan bentuk penerimaan masyarakat terhadap arus modernisasi dan
globalisasi. Sikap positif mengandung unsur-unsur sebagai berikut.
1) Penerimaan secara terbuka (open minded); sikap ini merupakan langkah pertama dalam upaya
menerima pengaruh modernisasi dan globalisasi. Sikap terbuka akan membuat kita lebih
dinamis, tidak terbelenggu hal-hal lama yang bersikap kolot, dan akan lebih mudah menerima
perubahan dan kemajuan zaman.
2) Mengembangkan sikap antisipatif dan selektif; sikap ini merupakan kelanjutan dari sikap
terbuka. Setelah kita dapat membuka diri dari hal-hal baru, langkah selanjutnya adalah kita harus
memiliki kepekaan (antisipatif) dalam menilai hal-hal yang akan atau sedang terjadi
kaitannya dengan pengaruh modernisasi dan globalisasi. Sikap antisipatif dapat menunjukkan
pengaruh yang timbul akibat adanya arus globalisasi dan modernisasi. Setelah kita mampu
menilai pengaruh yang terjadi, maka kita harus mampu memilih (selektif) pengaruh mana yang
baik bagi kita dan pengaruh mana yang tidak baik bagi kita.
3) Adaptif, sikap ini merupakan kelanjutan dari sikap antisipatif dan selektif. Sikap adaptif
merupakan sikap mampu menyesuaikan diri terhadap hasil perkembangan modernisasi dan
globalisasi. Tentu saja penyesuaian diri yang dilakukan bersifat selektif, artinya memiliki
pengaruh positif bagi si pelaku.
4) Tidak meninggalkan unsur-unsur budaya asli, seringkali kemajuan zaman mengubah perilaku
manusia, mengaburkan kebudayaan yang sudah ada, bahkan menghilangkannya sama sekali.
Kondisi ini menyebabkan seseorang/masyarakat kehilangan jati diri mereka, kondisi ini harus
dapat dihindari. Semaju apa pun dampak modernisasi yang kita lalui, kita tidak boleh
meninggalkan unsur-unsur budaya asli sebagai identitas diri. Jepang merupakan salah satu
negara yang modern dan maju, namun tetap mempertahankan identitas diri mereka sebagai
masyarakat Jepang.
b . Sikap Negatif
Berbeda dari sikap positif yang menerima terjadinya perubahan akibat dampak modernisasi dan

globalisasi, sikap negatif menunjukkan bentuk penolakan masyarakat terhadap arus modernisasi
dan globalisasi. Sikap negatif mengandung unsur-unsur berikut ini.
1) Tertutup dan was-was (apatis); sikap ini umumnya dilakukan oleh masyarakat yang telah
merasa nyaman dengan kondisi kehidupan masyarakat yang ada, sehingga mereka merasa waswas, curiga, dan menutup diri dari segala pengaruh kemajuan zaman. Sikap seperti ini pernah
ditunjukkan oleh negara Cina dengan politik Great Wall-nya. Sikap apatis dan menutup diri ini
tentu juga kurang baik, karena sikap ini akan menjauhkan diri dari kemajuan dan perkembangan
dunia, kondisi ini akan menyebabkan masyarakat negara lain yang terus tumbuh dan berkembang
seiring dengan kemajuan zaman.
2) Acuh tah acuh; sikap ini pada umumnya ditunjukkan oleh masyarakat awam yang kurang
memahami arti strategis modernisasi dan globalisasi. Masyarakat awam pada umumnya tidak
terlalu repot mengurusi dampak yang akan ditimbulkan oleh modernisasi dan globalisasi. Mereka
pada umumnya memercayakan sepenuhnya pada kebijakan pemerintah atau atasan mereka
(hanya sebagai pengikut saja). Sikap ini cenderung pasif dan tidak memiliki inisiatif.
3) Kurang selektif dalam menyikapi perubahan modernisasi; sikap ini ditunjukkan dengan
menerima setiap bentuk hal-hal baru tanpa adanya seleksi/filter. Kondisi ini akan menempatkan
segala bentuk kemajuan zaman sebagai hal yang baik dan benar, padahal tidak semua bentuk
kemajuan zaman sesuai dengan budaya masyarakat kita. Jika seseorang atau suatu masyarakat
hanya menerima suatu modernisasi tanpa adanya filter atau kurang selektif, maka unsur-unsur
budaya asli mereka sedikit demi sedikit akan semakin terkikis oleh arus modernisasi yang
mereka ikuti. Akibatnya, masyarakat tersebut akan kehilangan jati diri mereka dan ikut larut
dalam arus modernisasi yang kurang terkontrol.
2. Akibat Modernisasi dan Globalisasi terhadap Budaya Indonesia
Suatu kemajuan akan menghasilkan dampak positif dan negatif. Hal ini harus dapat kalian sadari
betul agar dapat meminimalkan dampak negatif yang merugikan serta memaksimalkan dampak
positif yang menguntungkan.
a . Akibat Positif Globalisasi
1) Semakin dipercayanya kebudayaan Indonesia; dengan adanya internet, kalian bisa mengetahui
kebudayaan-kebudayaan bangsa lain, sehingga dapat dibandingkan ragam kebudayaan
antarnegara, bahkan dapat terjadi adanya akulturasi budaya yang akan semakin memperkaya
kebudayaan bangsa. Dengan memperbandingkan itu pula kalian dapat mengetahui kekurangan

dan kelebihan budaya Indonesia bila dibandingkan dengan kebudayaan bangsa-bangsa lain.
2) Ragam kebudayaan dan kekayaan alam negara Indonesia lebih dikenal dunia; dulu mungkin
masyarakat Eropa hanya mengenal Bali sebagai objek wisata di Indonesia. Namun, seiring
dengan perkembangan teknologi komunikasi, masyarakat Eropa mulai mengenal keindahan alam
Danau Toba di Sumatra Utara, panorama Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara, keaslian alam
Perairan Raja Ampat di Papua, kelembutan tari Bedoyo Ketawang dari Solo (Jawa Tengah),
keanggunan tari Persembahan dari Sumatra Barat, atau kemeriahan tari Perang dari suku Nias di
Sumatra Utara.
b . Akibat Negatif Globalisasi
1) Munculnya guncangan kebudayaan (cultural shock); guncangan budaya umumnya dialami
oleh golongan tua yang terkejut karena melihat adanya perubahan budaya yang dilakukan oleh
para generasi muda. Cultural Shock dapat diartikan sebagai ketidaksesuaian unsur-unsur yang
saling berbeda sehingga menghasilkan suatu pola yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat
yang bersangkutan. Perubahan unsur-unsur budaya seringkali ditanggapi oleh masyarakat dengan
beragam. Bagi masyarakat yang belum siap menerima perubahan-perubahan yang terjadi maka
akan timbul goncangan (shock) dalam kehidupan sosial dan
budayanya yang mengakibatkan seorang individu menjadi tertinggal atau frustasi. Kondisi
demikian dapat menyebabkan timbulnya suatu keadaan yang tidak seimbang dan tidak serasi
dalam kehidupan. Contoh: di era globalisasi ini unsur-unsur budaya asing seperti pola pergaulan
hedonis (memuja kemewahan), pola hidup konsumtif sudah menjadi pola pergaulan dan gaya
hidup para remaja kita. Bagi individu atau remaja yang tidak siap dan tidak dapat menyesuaikan
pada pola pergaulan tersebut, mereka akan menarik diri dari pergaulan atau bahkan ada yang
frustasi sehingga menimbulkan tindakan bunuh diri atau perilaku penyimpangan yang lain.
2) Munculnya ketimpangan kebudayaan (cultural lag); kondisi ini terjadi manakala unsur-unsur
kebudayaan tidak berkembang secara bersamaan, salah satu unsur kebudayaan berkembang
sangat cepat sedangkan unsur lainnya mengalami ketertinggalan. Ketertinggalan yang terlihat
mencolok adalah ketertinggalan alam pikiran dibandingkan pesatnya perkembangan teknologi,
kondisi ini terutama terjadi pada masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia. Untuk
mengejar ketertinggalan ini diperlukan penerapan sistem dan pola pendidikan yang berdisiplin
tinggi. Contoh: Akibat kenaikan harga BBM pemerintah mengkonversi bahan bakar minyak
menjadi gas dengan cara mensosialisasikan tabung gas ke masyarakat. Namun berhubung

sebagian masyarakat belum siap, terkait dengan kenyamanan dan keamanan penggunaan tabung
gas maka masyarakat kebayakan menolak konversi tersebut. Kondisi demikian menunjukkan
adanya ketertinggalan budaya (cultural lag) oleh sebagian masyarakat terhadap perubahan
budaya dan perkembangan kemajuan teknologi.
D. Respon Masyarakat terhadap Perubahan Sosial Budaya
Penerimaan masyarakat terhadap perubahan sosial budaya yang terjadiberbeda-beda
sesuai kedalaman pengaruh perubahan tersebut. Perubahan yangtidak mempengaruhi nilai-nilai
norma yang sudah ada di masyarakat masih bisaditerima oleh masyarakat tersebut. Akan tetapi,
perubahan yang telahmengakibatkan terjadinya perubahan nilai-nilai dan norma yang
telahberlangsung dalam masyarakat mungkin akan mengakibatkan timbulnya
gejolak.Masyarakat akan menolaknya dengan berbagai cara, seperti demonstrasi,mengadu ke
lembaga non pemerintahan, bahkan mengadu ke pemerintah.Ada masyarakat yang mudah
menerima terjadinya perubahan sosialbudaya, namun ada pula yang sulit menerimanya.
Masyarakat yang sukarmenerima perubahan biasanya masih memiliki pola pikir yang
tradisional.Komunitas masyarakat sederhana menimbang segala-galanya dengan prinsip-prinsip
yang telah baku. Masyarakat sederhana (tradisional) masih bersikap untukberpikir secara massif
(pola pikir yang tidak objektif dan rasional) untukmenganalisis, menilai dan menghubungkan
suatu gejala dengan gejala yang lain.Pola pikir masyarakat yang tradisional mempunyai unsurunsur sebagai berikut:
1. Bersifat sederhana
2. Memiliki daya guna dan produktifitas yang rendah
3. Bersifat tetap atau monoton
4. Memiliki sifat irrasional, yaitu tidak berdasarkan fikiran dalam hal tertentu
Sedangkan perilaku masyarakat yang tudaj bisa menerima perubahansosial budaya, di antaranya
sebagai berikut:
1.Perilaku masyarakat yang bersifat tertutup atau kurang membuka diriuntuk berhubungan
dengan masyarakat lain;
2.Masih memegang teguh tradisi yang sudah ada;
3.Takut akan terjadi kegoyahan dalam susunan/struktur masyarakat, jikaterjadi integrasi
kebudayaan;

4.Berpegang pada ideologinya dan beranggapan sesuatu yang barubertentangan dengan ideology
masyarakat yang sudah ada.Karena pola pikir mereka yang menimbang segala-galanya dengan
prinsipyang telah baku, masyarakat tradisional cenderung mencurigai budaya asing yangmasuk
ke lingkungannya. Namun demikian, ada pula unsur budaya asing yang mereka terima. Hal itu
disebabkan unsur budaya asing tersebut membawakemudahan bagi kehidupan mereka.Pada
umumnya, unsur-unsur budaya yang membawa perubahan sosialbudaya dan mudah diterima
masyarakat jika:
1.Unsur kebudayaan tersebut memberi manfaat yang besar, seperti radiotransistor.
2.Peralatan yang mudah dipakai dan memiliki manfaat, seperti ballpointyang digunakan untuk
tulis menulis merupakan unsur budaya barat.
3.Unsur kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan keadaanmasyarakat yang menerima unsur
tersebut, misalnya mesin perontok padi, bermanfaat dan mudah dioperasikan.
Sementara itu, unsur-unsur budaya yang sulit diterima masyarakat adalahsebagai berikut:
1.Unsur kebudayaan yang menyangkut system kepercayaan, sepertiideology dan falsafah hidup.
2.Unsur kebudayaan yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi.Kebalikan dari
masyarakat tradisional adalah masyarakat modern. Masyarakat modern telah mengalami
perubahan Ilmu pengetahuan danteknologi.
Berbeda dengan masyarakat tradisional, masyarakat modernmengusahakan atau mengerjakan
segala sesuatu dengan sungguh-sungguh sertarasional. Pola pikir masyarakat modern
mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
1.Bersifat dinamis atau selalu berubah mengikuti perkembangan zaman.
2.Berdasarkan akal pikiran manusia dan senantiasa mengembangkanefisiensi dan efektifitas.
3.Tidak mengandalkan atau mengutamakan kebiasaan atau tradisi masyarakat.