Anda di halaman 1dari 6

Pendahuluan

Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki penampakan fisik (fenotip) yang
dikendalikan oleh rangkaian perintah kimia. Di dalam setiap sel makhluk hidup, terdapat
sebuah inti yang memuat serangkaian kimia Deoxyribose Nuclead Acid (DNA). Setiap sel
pada satu makhluk hidup, memiliki salinan DNA yang sama. Deoxyribose Nuclead Acid
DNA pada setiap makhluk hidup disimpan dalam kromosom. Jumlah kromosom pada tiap
spesies berbeda. Oleh sebab itu, tidak semua makhluk hidup bisa melakukan perkawinan
antar spesies. Walaupun jumlah kromosom sama, belum tentu perkawinan berhasil karena
komposisinya berbeda. Kalaupun berhasil, biasanya akan menghasilkan mutasi yang
menyebabkan cacat pada keturunan atau kematian pada induk.
Isolasi dan manipulasi DNA, termasuk penyambungan sekuens ujung-ujung dari
sumber yang sangat berbeda untuk menghasilkan molekul gabungan (kimer), misalnya
molekul yang mengandung sekuens DNA manusia dan bakteri tanpa bergantung pada
sekuensnya, yang adalah intisari dari riset DNA rekombinan. Untuk melakukan hal ini
diperlukan beberapa teknik dan reagen khusus.1

Isi
Pengertian Gen
Gen adalah unit molekul DNA atau RNA ( Ribose Nuclead Acid ) dengan panjang
minimum tertentu yang membawa informasi mengenai urutan sama amino yang lengkap
suatu protein, atau yang menentukan struktur lengkap suatu molekul rRna (RNA ribosom)
atau tRna (transfer RNA).2Gen terletak dalam molekul molekul panjang asam
deoksiribonukleat yang ada dalam semua sel. Sebuah gen mengandung kode informasi bagi
produksi protein. Melalui sebuah proses mutasi, sebuah gen dapat berubah menjadi dua atau
lebih bentuk alternatif yang disebut alel.3 Sedangkan genom adalah satu kesatuan gen yang
secara alami dimiliki oleh satu sel atau virus, atau satu kesatuan kromosom, jasad eukariot
dalam fase haploid.2

DNA ( Deoxyribose Nuclead Acid )


Ada tiga jenis protein yang berfungsi dalam sintesis DNA, yaitu DNA polimerase,
DNA ligase dan DNA primase. Namun terdapat pula jenis jenis protein lain yang juga ikut
berperan, dua diantaranya helikase dan protein pengikat untai tunggal (single strand binding
protein). Helikase adalah jenis enzim yang berfungsi membuka heliks ganda di cabang
replikasi, memisahkan kedua untai lama. Molekul molekul dari protein pengikat untai
tunggal kemudian berjajar di sepanjang untai untai lama yang tidak berpasangan, menjaga
agar untai untai ini tetap terpisah selama mereka bertindak sebagai cetakan untuk sintesis
untai untai komplementer yang baru.4
Untai-untai DNA dijaga keutuhannya oleh pembentukkan pasangan-pasangan basa
dan interaksi tumpukan basa yang bersifat hidrofobik. Interaksi-interaksi ini dapat dikurangi
dengan memanaskan DNA untuk mendenaturasikannya. Hukum-hukum pembentukkan
pasangan basa memperkirakan bahwa dua untai DNA komplementer akan kembali menyatu
(reanneal) secara tepat jika renaturasi dilakukan, seperti yang terjadi ketika suhu larutan
secara perlahan dditurunkan menjadi normal. Segmen-segmen DNA dengan derajat
kecocokan pasangan basa yang tainggi memerlukan lebih banyak asupan energy (panas) agar
me
ngalami denaturasi atau dengan kata lain , suatu segmen yang berpasangan dengan
tepat akan lebih mampu menahan panas sebelum untai-untaiannya terurai.1
Kesalahan kesalahan di dalam molekul DNA yang sudah sempurna hanya satu
dalam 1 miliar nukleotida, kesalahan pemasangan awal antara nukleotida yang baru masuk
dan sudah ada diuntai cetakan 100.000 kali lebih umum terjadi suatu tingkat kesalahan
sebesar satu dalam 10.000 pasangan basa (base pairing). Salah satu mekanisme perbaikan
DNA, perbaikan salah pasang (mismatch repair), memperbaiki kesalahan kesalahan yang
terjadi ketika DNA disalin. Selama replikasi DNA, DNA polimerase yang melakukan
perbaikan salah pasang.4
Selain perbaikan kesalahan replikasi, pemeliharaan informasi genetik yang dikode
dalam DNA juga menutut perbaikan kerusakan pada DNA yang ada. Molekul molekul
DNA selalu terancam oleh agen fisis dan kimiawi yang bisa melukai, seperti zat zat kimia
2

reaktif, emisi radioaktif, sinar X, dan cahaya ultraviolet yang dapat mengubah nukleotida
dengan cara cara yang dapat berpengaruh pada informasi genetik yang terkode, umumnya
berpengaruh buruk. Perbaikan kerusakan DNA sangatlah penting agar organisme dapat
bertahan hidup, tidak mengherankan jika banyak jenis enzim perbaikan DNA perlahan
lahan berkembang; hampir 100 jenis ditemukan pada sel E.coli.4
Seperti halnya, perbaikan salah pasang kebanyakkan mekanisme perbaikan DNA
rusak memanfaatkan struktur pasangan basa yang dimiliki oleh DNA. Biasanya satu sekmen
dari untai yang mengandung kerusakan dipotong dan dibuang (dieksisi, excited) oleh enzim
pemotong DNA, nuklease dan celah yang terbentuk diisi dengan nukleotida nukleotida
yang pasangannya sesuai dengan yang terdapat di dalam untai yang rusak. Enzim yang
terlibat dalam pengisian celah ini adalah DNA polimerase dan DNA ligase. Perbaikan DNA
tipe ini disebut perbaikan eksisi (excision repair).4
Salah satu fungsi enzim enzim perbaikan DNA pada sel kulit kita adalah
memperbaiki kerusakan genetik yang disebabkan oleh sinar ultraviolet yang berasal dari
cahaya matahari. Pentingnya fungsi ini dipertegas oleh kelainan xeroderma pigmentosum,
yang disebabkan oleh adanya cacat bawaan pada salah satu enzim perbaikan-eksisi (excision
repair enzim). Individu individu hipersensitif terhadap cahaya matahari; mutasi pada sel
kulit mereka yang disebabkan oleh sinar ultraviolet tidak dapat diperbaiki dan menyebabkan
kanker kulit.4
Rekayasa Genetika
Teknik rekayasa genetika adalah suatu cara mengganti atau menambah DNA dari
organisme lain ke susunan DNA asli dalam suatu sel dari suatu organisme. Teknik ini juga
disebut sebagai rekombinasi genetika.5-7
Bahan genetik DNA mengandung informasi keturunan yang dimiliki oleh makhluk hidup
yang berupa pita ganda yang berbentuk spiral (double helix). Beberapa peristiwa penting
yang sudah berhasil dan masih giat dilakukan adaalah sebagai berikut.
1. Rekayasa genetika dalam bidang kedokteran
Rekayasa genetika dibidang kedokteran telah mencapai kemajuan yang cukup pesat.
Peristiwa yang masih dilakukan adalah pembuatan insulin manusia oleh bakteri
2. Rekayasa Genetika dalam bidang farmasi
Keuntungan rekayasa genetika dalam bidang ini adalah dalam usaha pembuatan
protein yang sangat diperlukan untuk kesehatan, misalnya pencangkokan gen. Hasil
3

hasil farmasi yang diperoleh melalui pencangkokan gen itu berupa senyawa
senyawa yang dengan dosis kecil saja sudah dapat memperlihatkan pengaruhnya.
Misalnya, senyawa tersebut berpengaruh pada faktor tumbuh, protein pengatur,
penyembuhan luka.6
DNA Rekombinan
DNA rekombinan (rDNA) adalah bentuk DNA buatan yang dibuat dengan
menggabungkan dua atau lebih sekuens yang biasanya tidak akan terjadi bersama-sama.
Dalam hal modifikasi genetik, DNA rekombinan diciptakan melalui pengenalan DNA yang
relevan ke dalam DNA organisme yang ada, seperti plasmid bakteri, untuk kode atau
mengubah sifat berbeda untuk tujuan tertentu, seperti resistensi antibiotik. Ini berbeda dari
rekombinasi genetika, karena DNA rekombinan tidak terjadi melalui proses alam dalam sel,
tetapi direkayasa.9
Endonuklease tertentu (enzim yang memotong DNA di sekuens-sekuens tertentu
didalam molekul DNA adalah alat kunci dalam riset DNA rekombinan. Enzim-enzim ini
disebut enzim restriksi karena keberadaan enzim-enzim ini dalam bakteri tertentu
menghambat pertumbuhan virus bakteri tertentu yang disebut bakteriofaga. Enzim restriksi
memotong DNA, dari manapun asalnya, menjadi potongan-potongan pendek dengan cara
spesifik untuk setiap sekuens, berbeda dengan metode enzimatik, kimiawi, atau fisik lain
yang memutus DNA secara acak. Enzim restriksi diberi nama sesuai bakteri asalnya.
Contohnya EcoRI berasal dari Escherichia coli. Suatu klon adalah populasi besar molekul,
bakteri, atau sel identic yang berasal dari satu nenek moyang. Pengklonan molecular
memungkinkan kita memproduksi molekul DNA yang identic dalam jumlah besar, yang
kemudian dapat diteliti karakteristiknya.1
Teknologi Genomik
Pengklonaan sekmen sekmen DNA untuk berbagai tujuan penggunaan , salah
satunya ialah sequencing DNA pada awalnya merupakan proses in vivo yang relatif
merepotkan.3,8 Dalam proses replikasi DNA secara in vivo, primer berupa molekul RNA yang
berukuran sekitar 10 12 nukleotida.Organisme eukariotik mempunyai kromosom berupa
untaian DNA linear.2 Akan tetapi, tahun 1985 dikembangkan sebuah teknik in vitro yang
disebut Polymerase Chain Reaction (PCR).3,8Misalnya amplifikasi DNA dengan teknik PCR,
biasanya digunakan molekul DNA sebagai primer. Fungsi primernya adalah menyediakan 34

OH yang akan digunakan untuk menempelkan molekul DNA pertama dalam proses
polimerasi.2Untuk membuat sekuens DNA apapun dalam jumlah banyak tanpa perlu
pengklonaan menggunakan perpustakaan atau banpk gen. Teknik PCR memerlukan
serangkaian

primer

yang

biasanya

merupakan

potongan

pendek

dari

DNA

(oligonukleotida) yang disentesis secara dari suatu sumber tertentu. Ada tiga metode umum
untuk melaksanakan hal itu dengan menggunakan teknologi DNA rekombinan yaitu
mengklona semua gen dari suatu organisme menjadi perpustakaan DNA genomik, mengklona
gen gen atau sekuens sekuens DNA individual yang diinginkan menjadi perpustakaan
cDNA, atau mengklona fragmen fragmen gen menjadi perpustakaan ekspresi.3,8
a. Perpustakaan DNA Genomik
Dalam percobaan percobaan shotgun, DNA Genomik dari suatu organisme donor
dipotong potong menjadi banyak bagian oleh restriksi endonuklease. Restriksi
endonuklease itu sama dengan yang digunakan untuk memotong vektor plasmid pada
situs restriksi endonuklease tunggalnya. Kedua jenis fragmen berbagai potongan DNA
genomik dan plasmid dicampur in vitro dan dibiarkan bergabung lagi secara acak
melalui ujung ujung komplementernya (kohesif atau lengket) untuk membentuk
cincin. Sel sel yang tertransformasi bisa tumbuh pada medium yang mengandung
antibiotik karena mengandung sebuah gen yang memberikan resistensi terhadap obat
tersebut. Set klona besar yang secara kolektif mengandung semua DNA donor
(genomnya) dikenal sebagai perpustakaan DNA genomik.
b. Perpustakaan Gen atau cDNA
Metode untuk mengisolasi gen ini jauh lebih spesifik daripada perpustakaan gen
genomik. Bukannya mengklona semua DNA donor, hanya gen gen ( bingkai
bingkai pembacaan terbuka) atau fragmen fragmen gen spesifik yang diklona. Jika
protein yang diinginkan sangat kecil ( 15 20 asam amino) atau diketahui adanya
sebuah segmen pendek sekuens protein, adalah mungkin menyintesis secara kimiawi
sebuah molekul DNA yang sesuai. Sebuah tipe khusus perpustakaan cDNA yang
disebut Perpustakaan EST (Expressed Sequence Tag) digunakan untuk melakukan
pemeriksaan secara cepat atas berbagai gen gen yang terkspresikan dalam suatu
organisme atau jaringan. Hal itu dilakukan dengan melakukan sequencing atas ratusan
klona perpustakaan cDNA dan kemudian membandingkan informasi sekuens tersebut
dengan database sekuens gen yang sudah diketahui.
c. Perpustakaan Ekspresi
Perpustakaan ekspresi dibangun menggunakan vektor yang mengandung sekuens
sekuens regulatoris yang amat efisien dan memungkinkan gen sangat terekspresikan
5

dalam sel inang. Sel sel regulatoris tersebut adalah promotor dari gen sel inang yang
diketahui terekspresi secara efisien. Gen gen yang diklona bisa difusikan ke
promotor yang kuat bagi ekspresi produk gen yang berguna, misalnya insulin.3
Kesimpulan
Genetika adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat keturunan (hereditas) serta segala
seluk beluknya secara ilmiah. Dengan cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut
mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat diantara individu organisme, maka dengan
singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat.Rekayasa
genetika adalah upaya pencangkokan gen dengan teknik rekombinan DNA pada
mikroorganisme tertentu. Dengan rekayasa genetika, manusia dapat memuat organisme yang
tidak dapat menghasilkan bahan tertentu menjadi mampu menghasilkan bahan tertentu yang
dibutuhkan manusia. Mikroorganisme yang berperan ini disebut makhluk transgenik.

Daftar Pustaka
1. Robert KM, Darryl KG, Victor WR. Biokimia Harper. Penerbit: EGC. Jakarta; 2009.
414-30
2. Yuwono T. Biologi Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2008. h. 75, 100.
3. Elrod LS, Stansfield DW. Genetika. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2006. h. 1, 279 283.
4. Reece BJ, Mitchell GL. Biologi Campbell. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2002. h. 310
1.
5. Abdullah ME, Saktiyono, Lutfi. IPA Terpadu. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2006. h.
163.
6. Karmana O. Cerdas Belajar Biologi. Jakarta: Penerbit Grafindo; 2006. h. 246 9.
7. Chang W. Bioetika. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2009. h. 119.
8. Isselbacher JK, Braunwald E, Wilson DJ, Martin BJ, Fauci SA, Kasper LD. Harrison
Prinsip Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Yogyakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
1995. h. 396 7.
9. Diunduh dari : http://www.news-medical.net/health/Recombinant-DNA-What-isRecombinant-DNA-%28Indonesian%29.aspx. 19 Desember 2012