Anda di halaman 1dari 18

PRESENTASI KASUS

1. IDENTITAS
Nama

: NY. YULIAH

Umur

: 32 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Karang jati, Wringin putih, Borobudur, Magelang.

Pekerjaan

: Tani

Agama

: Islam

Tgl masuk RS

: 10 Nopember 2009, pukul 23.50 WIB

2. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama

: Demam 3 hari.

B. Keluhan Tambahan

: Sesak nafas, Jantung berdebar debar., Badan

semakin kurus., Cepat lelah.


C. Riwayat Penyakit Sekarang :
3 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS), pasien mengeluh demam
tidak terlalu tinggi, BAB > 3x/ hari, cair, lendir dan darah tidak ada.
Pasien juga mengeluhkan bahwa jantungnya sering berdebar debar.
Apabila melakukan aktivitas yang berat pasien tidak kuat, mudah lelah dan
kemudian jantungnya akan terasa semakin berdebar debar. Tetapi apabila
dengan beristirahat keluhan tersebut berkurang. Selain itu, pasien juga
mengeluhkan bahwa sering merasakan gugup bila melakukan aktivitas, kedua
tangan sering gemetar.
Pasien mengatakan bahwa badannya terasa semakin kurus padahal
nafsu makan pasien baik. Pasien juga mengeluhkan dilehernya terdapat
benjolan, tidak tersa sakit dan apabila menelan benjolan tersebut ikut
bergerak.

D. Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat jantung

: disangjkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat sakit gondok : tahun 2007.


E. Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat DM.

: disangkal

Riwayat Penyakit asma

: disangkal

Riwayat Penyakit Hipertensi : disangkal


Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

Riwayat sakit gondok

: disangkal

3. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran

: Compos Mentis

Vital Sign

:T

: 90/60 mmHg

: 110 x/menit

: 20 x/menit

: 38,2 C

Status Generalis
1. Kepala
Mata

: Conjunctiva Anemis -/-, Sklera Ikteric -/-, exophtalmos +/+

Telinga

: Discharge (-)

Hidung

: Discharge (-)

Mulut dan gigi : Kering pada bibir (-),pucat(-),caries(-)

2. Leher
Thyroid

: mengalami pembesaran (+),

Limfe

: tidak mengalami pembesaran

3. Thorax
Dinding dada : simetris, tidak ada ketinggalan gerak, tidak ada retraksi.
Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba tak kuat angkat

Perkusi

:
Batas kanan atas SIC II LPS dextra
Batas kanan bawah SIC IV LPS dextra
Batas kiri atas SIC II LMC sinistra
Batas kiri bawah SIC V LMC sinistra

Auskultasi

: S1 > S2, reguler, takikardi, bising sulit dinilai.

Inspeks

: Simetris, ketinggalan gerak (-)

Palpasi

: Vokal fremitus kanan = kiri, ketinggalan gerak (-)

Perkusi

: Sonor seluruh lapangan paru kanan dan kiri

Auskultasi

: Suara dasar

: vesikuler

Suara tambahan

: ronkhi (-), wheezing (-)

Paru

4. Abdomen
Inspeksi

: Datar

Palpasi

: Nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

5. Ekstremitas
Superior

: Tidak ada oedema, tonus otot cukup

Inferior

: Terdapat oedema di keduatungkai bawah, tonus otot


Cukup

6. Indeks Wayne.
Gejala yang baru
timbul/ dan atau
tambah berat
Dyspneu deffort

Skor
Ada Tidak

Tanda-tanda

Skor
Ada Tidak

+1

Kelenjar

+3

-3

Palpitasi

+2

tiroid teraba
Bising

+2

-2

Kelelahan
Lebih suka udara panas

+2

kelenjar tiroid
Eksoptalmus
Kelopak mata

+2
+1
+4

-5

Lebih suka udara

+5

ketinggian
Gerakan

dingin
Keringat berlebihan

+3

hiperkinetik
Tremor halus

+1

Nervous

+2

pada jari
Tangan yang

+2

+1

panas
Tangan yang

+1
+4

Nafsu makan
bertambah
Nafsu makan

-3

basah
Atrium

berkurang
BB naik

-3

fibrilasi
Nadi yang

BB turun

+3

teratur
< 80 / menit
80 90 /

menit
> 90 / menit

+3

Skore : 26
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Darah Lengkap :
- Hb

: 10,5

(13-16 g/dl)

- Hmt

: 25 %

(40-48 %)

- AE

: 3,06

(3-5 juta)

-2

-3
0

- AT

: 95

(150-400 ribu/ml)

- MCV

: 81,0

(80-92 pg)

- MCH

: 29,1

(27-31 %)

- MCHC

: 35,9

(32-36 g/dl)

- Leukosit

: 13,83/mm

(5000-11000/mm)

- LED

:15

(p 0-10, w 0-15 mm/jam)

b. Pemeriksaan Kimia Darah :


- Protein total

: 6,80

(6,0-7,8 gr/dl)

- Albumin

: 2,48

(6,0-7,8 g/dl)

- Globulin

: 4,32

(4,0-5,2 g/dl)

- SGOT

: 54

(< 25 UI/I)

- SGPT

: 29

(< 29 UI/I)

- Kolesterol total : 67 (duplo)

(<200 mg/dl)

- Trigliserid

: 101

(<200 mg/dl)

- Ureum darah

: 16,0

(10-50 mg/dl)

- Kreatinin darah : 0,46

(0,5-1,2 mg/dl)

- glukosa sewaktu : 81

(<200 mg/dl)

c. Pemeriksaan tiroid : (usul pemeriksaan)


Pemeriksaan Tiroid
T3
T4
TSHS

Hasil

TD
(H)
(H)

Satuan
Mg/mL
Mg/mL
Mg/mL

Nilai normal
0,8-2,0
4,5-12
0,32-5,0

5. DIAGNOSIS KERJA
Hiperthiroidisme
6. TERAPI

Infus RL 12 tpm.

PTU 3 x 1

Propanolol 3 x 1.

Farsik 1 0 0

7. PROGNOSIS

Penderita yang tidak mendapat terapi mempunyai prognosis yang jelek

Infeksi yang berulang-ulang dapat menyebabkan presipitasi terjadinya krisis


yang amat berbahaya dab berakhir fatal.

Sesudah terapi dengan anti tiroid 50 % dari penderita mengalami kambuh.


Kambuh setelah tiroidektomi jarang dan tak melebihi 5 %.

tingginya insidensi hipotiroid setelah radiasi

Follow Up
Tanggal 11 Nopember 2009, Jam 06.00
S : demam, batuk (-), pusing (-), mual (+), muntah (-), berdebar-debar, badan terasa
panas, gemetar, keringat berlebihan.
O : KU : sedang, Cm

VS : TD : 110/ 70 mmHg
N : 110 x/ menit
Rr : 24 x / mnt
S : 37,5 o C
Kepala : CA - / - , SI - / - , eksophtalmos.
Leher : Lnn ttb, JVP tdk meningkat.
Dada : simetris (+), ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
Jantung : S1 > S2, reguler, takikardi, bising sulit dinilai.
Paru : sonor +/+, vesikuler +/+, ST : ronkhi -/-, wheezing -/Perut : supel. timpani, bunyi usus (+), H/L ttb
Ekstremitas : superior : akral hangat, nadi kuat, perfusi baik, tremor halus +/+
inferior : akral hangat, nadi kuat, perfusi baik, oedeem +/+
Assesmen : hiperthoroid.
Terapi : Infus RL 12 tpm.

PTU 3 x 1

Propanolol 3 x 1.

Farsik 1 0 0

Tanggal 12 Nopember 2009, jam 06.00


S : Demam, batuk (-), pusing (-), mual (-), muntah (-), berdebar-debar, badan terasa
panas, gemetar, keringat berlebihan.
O : KU : sedang, Cm
VS : TD : 110/ 70 mmHg
N : 110 x/ menit
Rr : 24 x / mnt
S : 37,5 o C
Kepala : CA - / - , SI - / - , eksophtalmos.
Leher : Lnn ttb, JVP tdk meningkat.

Dada : simetris (+), ketinggalan gerak (-), retraksi (-)


Jantung : S1 > S2, reguler, takikardi, bising sulit dinilai.
Paru : sonor +/+, vesikuler +/+, ST : ronkhi -/-, wheezing -/Perut : supel. timpani, bunyi usus (+), H/L ttb
Ekstremitas : superior : akral hangat, nadi kuat, perfusi baik, tremor halus +/+
inferior : akral hangat, nadi kuat, perfusi baik, oedeem +/+
Assesmen : hiperthoroid.
Terapi : Infus RL 12 tpm.

PTU 3 x 1

Propanolol 3 x 1.

Farsik 1 0 0

Tanggal 13 Nopember 2009, jam 06.00


S : demam, batuk (-), pusing (-), mual (+), muntah (-), berdebar-debar berkurang,
badan terasa panas berkurang, gemetar, keringat berlebihan berkurang.
O : KU : sedang, Cm
VS : TD : 110/ 70 mmHg
N : 110 x/ menit
Rr : 24 x / mnt
S : 37,5 o C
Kepala : CA - / - , SI - / - , eksophtalmos.
Leher : Lnn ttb, JVP tdk meningkat.
Dada : simetris (+), ketinggalan gerak (-), retraksi (-)
Jantung : S1 > S2, reguler, takikardi, bising sulit dinilai.
Paru : sonor +/+, vesikuler +/+, ST : ronkhi -/-, wheezing -/Perut : supel. timpani, bunyi usus (+), H/L ttb
Ekstremitas : Superior : akral hangat, nadi kuat, perfusi baik, tremor halus +/+
Inferior : akral hangat, nadi kuat, perfusi baik, oedeem +/+

Assesmen : Hiperthoroid.
Terapi : Infus RL 12 tpm.

PTU 3 x 1

Propanolol 3 x 1.

Farsik 1 0 0

Pasien di ijinkan pulang.

PEMBAHASAN
Hipertiroidisme adalah syndrome klinis atau lebih tepat dikatakan suatu
kelompok sindrom yang disebabkan oleh peninggian hormon tiroksin yang terikat
(bebas) dalam sirkulasi darah.

Perjalanan penyakit hipertiroidisme biasanya perlahan-lahan dalam beberapa


bulan sampai beberapa tahun, namun dapat juga timbul secara dramatic.
Hampir semua sistem dalam tubuh mengalami gangguan akibat kelebihan
hormone tiroid ini sehingga pasien memberikan keluhan banyak macam. Oleh karena
itu, sering kali diagnosis hipertiroidisme dibuat oleh ahli jantung, ahli saraf, ahli kulit,
atau ahli gastroenterologi tergantung pada manifestasi klinis yang menonjol.
Pengaruh peningkatan jumlah hormon tiroid harus dibedakan dengan kerja hormon
tiroid secara fisiologis. Dalam batas fisiologis, hormon tiroid merangsang
pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta meningkatkan sintesis banyak enzim.
Manifestasi

klinis yang paling sering adalah penurunan berat badan,

kelelahan, tremor, gugup, berkeringat banyak, tidak tahan panas, palpitasi,


pembesaran tiroid, hiperdefekasi. Pada perempuan cenderung terjadi oligomenore dan
amenore, sedangkan pada laki-laki dapat terjadi gynecomastia dan gangguan ereksi.
Umum

- Berat badan turun


- Kelelahan, apatis
- Berkaringat, tidak tahan panas

Kardiovaskuler:

- Palpitasi, sesak nafas, angina


- Gagal jantung
- Sinus takikardi, fibrilasi atrium
- Nadi kolaps

Neuromuskular

: - Gugup, agitasi
- Tremor, koreoatetosis
- Psikosis
- Kelemahan otot, miopati proksimal
- Paralisis periodik
- Miastenia gravis

Gastrointestinal

: - Berat badan turun meskipun nafsu makan meningkat


- Diare, steatore
- Muntah

Reproduksi

- Oligomenore
- Infertilitas

Kulit

- Pruritus
- Eritema palmaris
- Miksedema pretibial
- Rambut tipis

Struma

- Difus dengan/tanpa bising


- Nodosa

Mata

- Lid retraction, lid lag


- Periorbital puffiness
- Lakrimasi meningkat dan grittiness of eyes
- Kemosis (edema konyunktiva)
- Proptosis, ulserasi kornea
- Optalmoplegia, diplopia
- Edema papil, penglihatan kabur

Manifestasi klinis hipertiroidsme umumnya mudah ditemukan, sehingga


mudah dalam menegakkan diagnosis. Kebanyakan pasien memberikan gambaran
klinis yang jelas sehingga tidak ada kesulitan dalam menegakkan diagnosis. Namun
pada kasus-kasus yang subklinis dan orang usia lanjut perlu pemeriksaan
laboratorium yang cermat untuk membantu menetapkan diagnosis hipertiroidisme.
Diagnosis pada wanita hamil agak sulit karena perubahan fisiologis pada kehamilan
seperti pembesaran tiroid serta manifestasi hipermetabolik, sama seperti pada
tirotoksikosis.
Untuk mendiagnosis hipertiroidisme dapat menggunakan indeks Wayne. Dari
indeks tersebut dijelaskan bahwa keluhan tubuh terhadap panas, berat badan
menurun, nafsu makan bertambah atau baik, keringat yang banyak, hangat dan terusmenerus serta faktor psikologis yang dirasakan berat yang mendahuluinya harus
diperhatikan untuk mendiagnosis hipertiroid. Meskipun demikian tanda-tanda seperti

terabanya kelenjar tiroid, disertai atau tidak dengan bising (bruit sistolik), gerakan
hiperkinetik, frekuensi nadi yang tinggi, fibrilasi atrium, tremor, eksopthalmus dan
usia pasien, harus diperhatikan untuk memperkuat diagnosis yang dibuat (hipertiroid).
Tabel Indeks diagnosis klinik dari Wayne :
INDEKS WAYNE
Gejala yang baru
timbul/ dan atau
tambah berat
Dyspneu deffort

Skor
Ada

Tanda-tanda

Skor

Tidak

+1

Ada
Kelenjar tiroid

Tidak

+3

-3

+2

-2

teraba
Palpitasi

+2

Bising kelenjar
tiroid

Kelelahan

+2

Lebih suka udara

-5

panas
Lebih suka udara

+5

Kelopak mata

+1

Gerakan

+4

-2

hiperkinetik
+3

Tremor halus

berlebihan
Nervous

+2

ketinggian

dingin
Keringat

Eksoptalmus

+1

pada jari
+2

Tangan yang

+2

panas
Nafsu makan

+1

Tangan yang

bertambah

+1

basah

Nafsu makan

-3

Atrium fibrilasi

-3

Nadi yang

+4

berkurang
BB naik

teratur
BB turun

+3

< 80 / menit
80 90 / menit

-3
0

> 90 / menit

+3

Bila skor > 20, klinis ada hipertiroid.


Bila skor antara 10 19, meragukan.
Bila skor < 10, tidak ada hipertiroid (eutiroid).
TERAPI
Pada dasarnya terapi terdiri atas :
1. Terapi dengan obat-obatan
2. Terapi operasi
3. Terapi radioiodine
4. EKG
5. Radiologi
1. Terapi dengan obat-obatan
b. Propiltiourasil (PTU). Cara kerjanya itu mencegah sintesa hormon tiroid.
Terapi harus dilanjutkan sampai 2-3 tahun dengan dosis terkecil yang dapat
mempertahankan keadaan eutiroid :
a. Dosis awal : 75-300 mg/hari setiap 6-8 jam sampai semua gejala
hilang dan uji fungsi tiroid kembali normal.
b. dosis rumatan : 50-100 mg/hari dalam dosis terbagi 2 atau 3.
Toksisitas : granulositopenia, demam, ruam, atralgia, purpura, urtikaria,
leupenia, arthritis.
Bila ini terjadi hentikan pengobatan
c. Metimazol (Tapazol)
Dosis 10-15 mg, 3 x sehari. Efek samping terjadi rash dan apabila terjadi sakit
Tenggorokan, dianjurkan untuk menghentikan obat.
d. Propanolol

bermanfaat untuk mengendalikan takikardi dan ketidakstabilan emosi. Pada


dosis besar, propanolol menurunkan konversi T4 ke T3 di perifer.
Dosis : 0,5-4 mg/kg/hari, diberikan setiap 6-8 jam
e. Iodium
Sering digunakan pada persiapan operasi tiroidektomi. Dosisnya 5 tetes
larutan jenuh kalium iodida per hari selama 2 minggu sebelum operasi, untuk
menurunkan vaskularitas kelenjar.
2. Terapi operasi
Tiroidektomi sub total diindikasikan bila kerjasama pasien dalam penatalaksanaan
medis tidak memungkinkan, atau jika ujicoba penanganan madis gagal menimbul
kan remisi permanen. Hanya dilakukan setelah pasien eutiroid. Keadaan ini dapat
dicapai dengan pemberian propiltiourasil atau metimazol selama 2-3 bulan. Obat
diberikan sampai 1 minggu pasca pembedahan.
3. Terapi radioiodin
Sebagian ahli endrokinologi anak dan radioterapi menghindari pemakaian yodium
radioaktif pada anak kecuali pada kasus khusus dimana terapi medis tidak
memungkinkan dan pembedahan merupakan kontraindikasi atau ditolak. Selain
itu sukar menentukan dosis optimum yang tepat.
4. EKG
Pada gambaran EKG sering dijumpai berbagai gangguan irama, seperti :
- Takikardi (jarak R-R pendek)
- takikardi supraventrikular
- fibrilasi atrium (2 QRS biasanya tak teratur nampak F wave diantara R-R)

Literatur
1. Sumual A, Pandelaki K. Hipertiroidisme dalam Noer, S. dkk. (eds), Ilmu Penyakit
Dalam, jilid I, edisi 3, FKUI, Jakarta, 1996, hal 766-772.
2. Mansjoer, A. dkk. Hipertiroidisme dalam Kapita Selekta Kedokteran, jilid I, edisi
3, FKUI, Jakarta, 1999, hal. 594-598.
3. Guntur, H.A. Bed Side teaching. Ilmu Penyakit dalam, cetakan !, Yayasan
Kesuma Is- lam, Surakarta, 1999, hal 36.

4. Wartofsky L, Penyakit Tiroid dalam Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, cetakan


I, volume 5, EGC, Jakarta, 1995, hal 2156-2161.

PRESENTASI KASUS

HIPERTIROIDISME

Diajukan Kepada Yth.


Dr. Tri Maria, Sp. PD

Disusun Oleh :
Auliya Lutfil Adib
20030310102

SMF PENYAKIT DALAM


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
RSUD TIDAR MAGELANG
2009

HALAMAN PENGESAHAN
PRESENTASI KASUS

HIPERTIROIDISME
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Dalam
RSUD Tidar Magelang

Disusun oleh:
Auliya Lutfil Adib
20030310102

Disetujui dan disyahkan pada tanggal:

Desember 2009

Mengetahui
Dokter Pembimbing

Dr. Tri Maria, Sp. PD