Anda di halaman 1dari 2

Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)

Pendahuluan
ECT menggambarkan bahwa aplikasi dari energi listrik terhadap bagian otak tertentu
dapat memiliki efek yang bermanfaat pada terapi untuk kelainan psikiatrik tertentu. Namun,
ada beberapa kesulitan dalam memfokusan aliran listrik pada bagian otak tertentu melalui
elektroda kulit. Tengkorak (seperti kayu) merupakan konduktor listrik yang buruk. Oleh
sebab itu, energi listrik yang tinggi dibutuhkan pada elektroda dan saat aliran menyebar.
Sebagai contoh, selama ECT beberapa energi listrik memasuki tengkorak melalui rongga
mata, rongga hidung, dan kanalis auditorius. Dalam mengantarkan energi listrik pada bagian
otak tertentu untuk efek antidepresan (bagian yang pasti masih cukup teridentifikasi), energi
disebarkan secara meluas ke seluruh otak, membuat kejang dan kesulitan dalam memori
sementara/temporal menjadi cenderung sulit dihindari. Kejang berarti anestesi umum
dibutuhkan, menghantarkan pada komplikasi lebih lanjut.
Pada pertengahan 1980-an, hal tersebut menjadi mungkin untuk menstimulasi bagian
kortikal dengan denyut tunggal dari Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Segera, TMS
menjadi alat yang penting dalam neurofisiologis klinis.
Upaya telah dilakukan, dengan beberapa keberhasilan, untuk menggunakan denyut
tunggal TMS dalam terapi kelainan psikiatrik. Namun, lonjakan besar dalam penelitian TMS
dalam terapi kelainan psikiatrik dimulai pada pertengahan 1990-an saat mesin tersebut telah
tersedia yang dapat mengaktifkan stimulasi kortikal berulang pada frekuensi hingga 20 Hz.
Saat stimulasi di ulang pada satu lokasi, istilah rTMS terkadang digunakan. Ini tidak
berarti cepat.
Selain digunakan sebagai alat diagnostik dalam neurofisiologi, TMS memiliki potensi dalam
terapi beberapa kelainan neurologis: Parkinsons disease (Pascual-Leonie et al, 1994a; Kherd
et al, 2006; Hamda et al, 2009), writers cramp (Siebner et al, 1999), stroke (Mansur et al,
2005), neuropathic pain (Pridmore et al, 2005; Passard et al, 2007; Leung et al, 2009) dan
tinitus (Pridmore et al, 2006; Smith et al, 2007; Marcondes et al, 2009). TMS mungkin dapat
menjadi berguna dalam diagnosis psikiatrik (Fitzgerald et al, 2002), namun, bab ini fokus
pada TMS dalam terapi pada kelainan psikiatrik.
Terapi TMS telah diterima sebagai terapi standar dalam terapi depresi di Amerika,
Kanada dan Israel. Terapi ini banyak digunakan pada rumah sakit swasta di Australia.
Prinsip Dasar
Elektromagnetisme
Saat aliran listrik melalui sepanjang kawat, sebuah medan magnet timbul di ruang
sekitarnya. Pada 1831, Michael Faraday menemukan bahwa ketika dua kumparan didekatkan
(tanpa bersentuhan) dan arus dilewatkan melalui satu sisi, saat aliran pada kumparan pertama
dinyalakan dan dimatikan, sebuah denyut listrik yang singkat melewati kumparan kedua.

Mekanisme ini melibatkan medan magnet yang dihasilkan oleh aliran listrik pada kumparan
pertama yang meluas ke kumparan kedua, dan ketika medan magnet dimulai dan dihentikan,
hal ini menciptakan aliran pada kumparan. Hal ini yang disebut aliran primer dan sekunder.
Prinsip tersebut digunakan dalam transformers. Kumparan kedua tidak begitu dibutuhkan;
sebuah aliran sekunder dapat diinduksi dari konduktor apapun (otak) yang dekat terhadap
kumparan yang mana dilalui aliran primer yang didenyutkan.
Kita semua pernah memindahkan jarum yang berada di atas meja kayu dengan
magnet yang berada dibawahnya. Hal ini menggambarkan bahwa medan magnet, tidak sama
dengan listrik, dapat melewati secara relatif tanpa hambatan, melalui listrik non-konduktor.
Hal ini memungkinkan operator TMS (tidak seperti operator ECT) untuk menempatkan
sebuah aliran (sekunder) di lokasi yang tepat pada korteks serebral.
Fisiologi
Saat TMS diaplikasikan, medan magnet yang diciptakan menyebabkan aliran arus dan
muatan listrik terakumulasi pada membran saraf, menyebabkan depolarisasi. Dengan
peralatan saat ini, menunjukkan depolarisasi biasanya terjadi pada sekitar pertemuan antara
grey dan white matter. Pada titik ini, akson dengan badan sel di dalam grey matter berkelok
(mengubah sifat fisik) saat mereka turun ke bagian yang lebih dalam dari otak. Sekitar 2 cm
di bawah permukaan dari kumparan, dan medan magnet yang diinduksi pada titik ini adalah
sekitar 7- V/m (Ruohonen & Ilmoniemi, 2002). [Menariknya, stimulasi ini adalah listrik, dan
bukan efek magnetik langsung. Dengan demikian, untuk puritan, hal ini bukan merupakan
stimulasi magnetik. Aspek magnetik penting dalam mendapatkan listrik untuk sisi lain dari
tengkorak].
Perubahan neuroplastik merupakan hasil dari ekspresi gen (Hyman dan Nestler,
1993). Hal ini dapat dipicu oleh berbagai masukan, dari proses belajar dan psikoterapi hingga
obat psikotropik, dan dengan gangguan listrik. Hal ini kemungkinan efek terapi dari TMS
merupakan hasil dari perubahan neuroplastik yang diinduksi. Rincian dari mekanisme masih
belum pasti, tetapi mungkin termasuk efek pada katekolamin dan faktor neurotropik otak
yang diturunkan/ brain-derived neurotrophic factor (Yukimasa et al, 2006).