Anda di halaman 1dari 94

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY.

P DENGAN
FRAKTUR VERTEBRA SERVIKALIS DAN PLATEAU
TIBIA SINESTRA DI INSTALASI RAWAT INAP I
RUANG CENDANA II RS. DR. SARDJITO
YOGYAKARTA

Y K Y

A K A D E
M

R A W AT
PE
A

YO
A
G YA A R T
K

OLEH :
PRIYANTA NUGRAHA
NIM : K . 600 . 118

YAYASAN KEPERAWATAN YOGYAKARTA


AKADEMI PERAWATAN YKY
YOGYAKARTA
2003

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. P DENGAN


FRAKTUR VERTEBRA SERVIKALIS DAN PLATEAU
TIBIA SINESTRA DI INSTALASI RAWAT INAP I
RUANG CENDANA II RS. DR. SARDJITO
YOGYAKARTA

Karya Tulis Ilmiah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Guna Menyelesaikan Pendidikan Program D III Keperawatan
Akademi Perawatan YKY
Yogyakarta

OLEH :
PRIYANTA NUGRAHA
NIM : K . 600 . 118

YAYASAN KEPERAWATAN YOGYAKARTA


AKADEMI PERAWATAN YKY
YOGYAKARTA
2003

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. P DENGAN


FRAKTUR VERTEBRA SERVIKALIS DAN PLATEAU
TIBIA SINESTRA DI INSTALASI RAWAT INAP I
RUANG CENDANA II RS. DR. SARDJITO
YOGYAKARTA

OLEH :
PRIYANTA NUGRAHA
NIM : K . 600 . 118

Telah memenuhi persyaratan dan


Disetujui pada tanggal
__________________

Pembimbing

Eko Rudianto, APP


NIK : 1141 96 016

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. P DENGAN


FRAKTUR VERTEBRA SERVIKALIS DAN PLATEAU
TIBIA SINESTRA DI INSTALASI RAWAT INAP I
RUANG CENDANA II RS. DR. SARDJITO
YOGYAKARTA

OLEH :
PRIYANTA NUGRAHA
NIM : K . 600 . 118
Telah dipresentasikan di depan Panitia Penguji
Karya Tulis Ilmiah Akademi Perawatan YKY
Pada tanggal : 13 Agustus 2003
Dewan Penguji
Penguji I

: Eko Rudianto, APP

_________________

Penguji II

: Sabar Santoso, S.Pd, APP

_________________

Penguji III

: Purwo Atmanto, S.Kep. NS

_________________

Mengesahkan
Direktur AKPER YKY
Yogyakarta

Aan Suwoto, SKM. M.Kes


NIK : 1141 02 040

KATA PENGANTAR

Puji sukur penulis panjatkan kehadirat Allah

karena atas rahmat dan

hidayahnya, penulis dapat menyelesaikan laporan tugas akhir ini dengan judul:
Asuhan Keperawatan pada Pasien Ny. P dengan Fraktur Vertebra Servikalis dan
Plateau Tibia Sinistra di Ruang Cendana II RS. Dr. Sardjito guna menyelesaikan
pendidikan Diploma III keperawatan di Akademi Perawat YKY Yogyakarta.
Dalam penyusunan laporan ini penulis menyadari masih jauh dari
sempurna, sehingga Penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun guna penulisan yang lebih baik.
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah memberikan bimbingan dan dorongan dalam rangka penyusunan
lapoan ini, terutama kepada:
1. Bapak Aan Suwoto, SKM..M.Kes selaku Direktur Akademi Perawatan
YKY yogyakarta..
2. Bapak Eko Rudianto, APP selaku Penguji Pendidikan, sekaligus Dosen
Pembimbing.
3. Bapak Sabar Santoso, S.Pd, APP selaku Penguji Pendidikan.
4. Bapak Purwo Atmanto, S.Kep. NS selaku Penguji dari Lahan Praktek.
5. Semua Dosen dan Staf Karyawan Akademi Perawatan YKY Yogyakarta.
6. Bapak, Ibu, Mas, Mbak dan Adikku atas doa, bimbingan, dan supportnya
selama ini.

7. Teman-teman seperjuangan di Akademi Perawatan YKY Yogyakarta,


khususnya kelas III C Jalur Khusus Akademi Perawatan YKY
Yogyakarta.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua, Amin.

Yogyakarta, Juli 2003

Penulis

MOTTO

Hari kemarin adalah kenangan


Hari ini adalah perjuangan
Hari esok adalah tantangan

I am only a human, but still an individual


I cant do everything, but I can do something
I wont refuse todo, something I able to do

Kupersembahkan Karya Tulis Ini


untuk orang-orang yang terkasih
dan tersayang :

Ibu bapak atas doa restu,


cintanya yang begitu besar,
yang

telah

membesarkan,

menyayangi dengan sabar,


penuh

kasih,

dukungannya

serta

setiap

saat..

(for leading his son in to


intellectual pursuits)

Kakak-kakakku yang selalu


ada untukku

My jasmine atas kesediannya


menemani

dan

hari-hari

dalam

mewarnai
setiap

langkahku

Keluarga
Minggiran,
memberi

besar

kost

yang

telah

hari-hari

penuh

tawa.
Almamater AKPER YKY
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .........................................................................................i


HALAMAN PERSETUJUAN .........................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................iii
KATA PENGANTAR ......................................................................................iv
HALAMAN MOTO .........................................................................................v
HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................vi
DAFTAR ISI ................................................................................................viii
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................xi
DAFTAR TABEL ...........................................................................................xii
ABSTRAK

................................................................................................xiii

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah...................................................1

B.

Rumusan Masalah ............................................................3

C.

Ruang Lingkup.................................................................4

D.

Tujuan Pelaksanaan .........................................................5

BAB II

E.

Manfaat ............................................................................5

F.

Metode .............................................................................6

G.

Sistematika Penulisan ......................................................8

:
A.

TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Fraktur ......................................................10
1. Anatomi ...........................................................................10
2. Definisi Fraktur ................................................................11
3. Patofisiologi......................................................................11
4. Klasifikasi Fraktur............................................................11
5. Etiologi ............................................................................14
6. Manifestasi Klinis ............................................................14
7. Fase Penyembuhan Fraktur .............................................16
8. Komplikasi ......................................................................17
9. Penatalaksanaan Umum Fraktur ......................................18

B.

Tinjauan Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Fraktur . 18


1. Asuhan Keperawatan Secara Umum ...............................19
2. Proses Keperawatan ........................................................19
3. Rencana Asuhan Keperawatan ........................................24
4. Pelaksanaan Keperawatan ...............................................45
5. Evaluasi Keperawatan .....................................................45
6. Dokumentasi Keperawatan...............................................46

10

BAB III

TINJAUAN KASUS ....................................................47

BAB IV

PEMBAHASAN ..........................................................100

BAB V

PENUTUP .....................................................................112

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................116


LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
1. Format Pengkajian..........................................................................................117

11

DAFTAR GAMBAR
1. Gambar 1 : Jenis-Jenis Fractur........................................................................10
2. Gambar 2 : Proses Penyembuhan Fractur .......................................................10

12

DAFTAR TABEL
1. Pemeriksaan Laboratorium dan Nilai Normal ...........................................57
2. Analisa Data ..............................................................................................58
3. Perencanaan Tindakan Keperawatan ........................................................62
4. Catatan Perkembangan ..............................................................................77

13

ABSTRAK
Nama
NIM
Judul

: Priyanta Nugraha
: K.600.118
: Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ny. P Dengan Fraktur
Vertebra Servikalis dan Plateau Tibia Sinistra di Ruang
Cendana II RS. Dr. Sardjito
Pembimbing
: Eko Rudianto, APP
Hari/Tanggal Ujian : 28 Juli 2003 - 30 Juli 2003
Daftar Pustaka
: 11 buku ( 1994-1999)
Jumlah halaman
: xiii + 116
Karya Tulis Ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Pasien Ny. P
Dengan Fraktur Vertebra Servikalis dan Plateau Tibia Sinistra di Ruang Cendana
II RS. Dr. Sardjito dilatar belakangi oleh tingginya mobilitas pada usia muda dan
kurangnya kehati-hatian yang akan meningkatkan kasus kejadian trauma termasuk
fraktur vertebra servikal dan plateau tibia.
Asuhan keperawatan ini dilaksanakan mulai tanggal 28 Juli 2003-30 Juli
2003 dengan tujuan untuk memperoleh gambaran nyata dalam melaksanakan
asuhan keperawatan komprehensif pada pasien dengan Fraktur Vertebra Servikalis
dan Plateau Tibia Sinistra.
Metode penulisan Karya Tulis Ilmiah ini menggunakan metode
deskriptif dengan menguraikan permasalahan dan pemecahan masalah. Dalam
kasus ini Penulis menemukan enam diagnosa keperawatan dengan lima diagnosa
yang sesuai dengan teori yaitu nyeri berhubungan dengan gerakan fragmen tulang,
kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan therapi
restriktif, resiko tinggi terhadap trauma (tambahan) berhubungan dengan
kehilangan integritas tulang (fraktur), resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
tindakan invasif, resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
immobilisasi dan yang tidak sesuai dengan teori defisit perawatan diri
berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder terhadap fraktur
Hasil dari evaluasi, diagnosa yang tercapai sebagian yaitu nyeri, defisit
perawatan diri, kerusakan mobilitas fisik, dan yang tercapai yaitu resiko tinggi
terhadap trauma (tambahan), resiko tinggi infeksi, resiko tinggi kerusakan
integritas kulit. Semua tindakan keperawatan didokumentasikan secara lengkap,
sehingga bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan asuhan keperawatan.

14

BAB I
PENDAHULUAN

a.

Latar Belakang Masalah


Dewasa ini angka kejadian kecelakaan atau trauma sangat tinggi
karena dalam kehidupan moderen aktivitas berkendaraan, dan tindak
kejahatan yang semakin tinggi. Sayangnya, penyakit akibat trauma sering
diterlantarkan padahal ini merupakan penyebab kematian utama pada
kelompok usia muda, dan produktif, karena tingginya mobilitas pada
kelompok usia ini.
Angka kematian ini dapat diturunkan melalui upaya pencegahan
trauma dan penanggulangan optimal yang diberikan sedini mungkin pada
korbannya perlu diingat bahwa masalah penanggulangan trauma bukan
hanya masalah di rumah sakit, tetapi menyangkut penanggulangan
menyeluruh, yang dimulai dari tempat kejadian, dalam perjalanan ke rumah
sakit, dan di rumah sakitnya sendiri.

15

Salah satu akibat dari trauma adalah terjadinya fraktur atau patah
tulang.

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau

tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa, (jong, 1997).


Fraktur yang berbahaya adalah terjadinya fraktur tulang belakang dimana
tidak jarang terjadi sebagai akibat kecelakaan kerja seperti jatuh dari
ketinggian atau kecelakaan lalu lintas.

Cedera ini jika tidak ditangani

dengan baik dapat menimbulkan kematian atau kelainan menetap berupa


kelumpuhan yang permanen.
Berdasarkan data yang diperoleh dari sub bagian rekam medis RS
Dr. Sarjito. Yogyakarta. Jumlah pasien yang dirawat inap di Instalasi rawat
inap ruang Cendana B2, RS. Dr Sardjito selama bulan Januari sampai Juli
2003 sebanyak 464 orang, dimana kasus bedah Tumor sebanyak 132 kasus
(28,44%), bedah Digesti 125 kasus (26,93%), bedah Urologi sebanyak 86
kasus (18,53%), Orthopedi sebanyak 50 kasus (10,77%)., bedah Umum 42
kasus (9,03%), dan bedah Thorak 29 kasus (6,25%). Dari data diatas dapat
dilihat bahwa kejadian kasus ortopedi memiliki jumlah yang tidak sedikit
yaitu 10,77% dari jumlah keseluruhan pasien yang dirawat di instalasi rawat
inap ruang cendana B2 RS. Dr.Sardjito, Yogyakarta
Pada kasus cedera tulang belakang ada dua tujuan utama
penanganan, yaitu pertama tercapainya tulang belakang yang stabil dan tidak
nyeri, dan kedua mencegah terjadinya jejas lintang sumsum tulang belakang
sekunder, (Jong, 1997).

Oleh karena itu penanganan yang baik sangat

diperlukan untuk mencegah terjadinya kematian dan kelumpuhan menetap.

16

Yang dalam pengelolaannya tidak hanya dari dokter dan perawat, tapi juga
keikutsertaan pasien sendiri dan keluarganya. Karena dalam pengelolaan
cedera tulang belakang diperlukan terapi imobilisasi yang sangat
memerlukan keikutsertaan pasien.
Keperawatan juga mempunyai peran yang penting dalam
menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan di rumah sakit secara
keseluruhan termasuk dalam pengelolaan pasien cedera tulang belakang. Hal
ini disebabkan karena perawat selalu kontak langsung dan senantiasa berada
di samping klien selama 24 jam pelayanan ( Depkes RI, 1993 )
Bertitik tolak dari latar belakang permasalahan diatas maka Penulis
tertarik mengambil kasus Fraktur Vertebra servikal dan Fraktur Plateau
Tibia sebagai karya tulis ini dengan menetapkan judul:

Asuhan

Keperawatan pada Ny. S Dengan Fraktur Vertebra Servikal Tertutup dan


Fraktur Plateau Tibia Sinistra Tertutup diinstalasi Rawat Inap Ruang
Cendana B2 Rs Dr Sardjito Yogyakarta
b.

Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah tersebut diatas maka
penulis merumuskan masalah, sebagai berikut;

Bagaimana asuhan

keperawatan pada pasien Ny. S dengan Fraktur Vertebra Servikal dan


Fraktur Plateau Tibia Sinistra diruang Cendana B 2 RS Dr.Sarjito
Yogyakarta. Rumusan sub masalah:

17

1. Bagaimana pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan tindakan,


pelaksanaan, dan evaluasi tindakan keperawatan pada pasien Fraktur
Vertebra Servikal tertutup dan Fraktur Plateau Tibia Sinistra tertutup.
2. Bagaimana pendokumentasian pelaksanaan asuhan keperawatan Pada
pasien Fraktur Vertebra Servikal Tertutup Dan Fraktur Plateau Tibia
Sinistra Tertutup.
3. bagaimana mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat
asuhan keperawatan Pada pasien Fraktur Vertebra Servikal Tertutup Dan
Fraktur Plateau Tibia Sinistra Tertutup.
C.

Ruang Lingkup.
1. Lingkup Mata Ajaran
Pasien Fraktur Vertebra Servikal Tertutup dan Fraktur Plateau Tibia
Sinistra Tertutup termasuk kasus dalam mata ajaran Tindakan
Keperawatan yang Berhubungan dengan Masalah Kesehatan yang Lazim
Terjadi pada Semua Tingkat Usia II ( M.A 320 ).
2. Lingkup tempat
Penulis melaksanakan studi kasus Asuhan Keperawatan Fraktur
Vertebra Servikal Tertutup Dan Fraktur Plateau Tibia Sinistra Tertutup
diruang Cendana B2, RS Dr.Sarjito Yogyakarta.
3. Lingkup Waktu
Asuhan keperawatan ini dilaksanakan selama 3 hari, sebagai
pelaksanaan ujian akhir program di Ruang Cendana B2, RS Dr.Sarjito
Yogyakarta pada tanggal 28 Juli 2003 31 Juli 2003.

18

4. Lingkup Asuhan Keperawatan


Asuhan

keperawatan

ini

menggunakan

pendekatan

proses

keperawatan yang dimulai dari pengkajian, perumusan diagnosa


keperawatan, perencanaan tindakan keperawatan, pelaksanaan asuhan
keperawatan, dan evaluasi asuhan keperawatan serta pendokumentasian
keperawatan.
D.

Tujuan Pelaksanaan Asuhan Keperawatan


1. Tujuan Umum
Mendapatkan

pengalaman

nyata

dalam

melaksanakan

asuhan

keperawatan pada pasien Fraktur Vertebra Servikal tertutup dan Fraktur


Plateau Tibia Sinistra tertutup diruang Cendana B2, RS Dr.Sarjito
Yogyakarta.
2. Tujuan Khusus
Mendapatkan pengalaman nyata dalam :
a.

Melaksanakan pengkajian, merumuskan diagnosa, merencanakan


tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi tindakan,
keperawatan pada pasien Fraktur Vertebra Servikal tertutup dan
Fraktur Plateau Tibia Sinistra tertutup.

b.

Mendokumentasikan tindakan asuhan keperawatan pada pasien


Fraktur Vertebra Servikal tertutup dan Fraktur Plateau Tibia
Sinistra tertutup.

19

c.

Mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung tindakan


keperawatan pada pasien Fraktur Vertebra Servikal tertutup dan
Fraktur Plateau Tibia Sinistra tertutup.

E.

Manfaat
Manfaat atau kegunaan penulisan laporan tugas akhir ini adalah :
1.

Penulis
Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat menjadi pengalaman nyata
dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien Fraktur Vertebra
Servikal tertutup dan Fraktur Plateau Tibia Sinistra tertutup

2.

Bagi Profesi Keperawatan.


Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan
pertimbangan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien Fraktur Vertebra Servikal tertutup dan Fraktur Plateau Tibia
Sinistra tertutup

3.

Bagi RS Dr. Sarjito


Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan
pertimbangan dalam upaya mengembangkan dan meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan pada pasien Fraktur Vertebra Servikal tertutup

20

dan Fraktur Plateau Tibia Sinistra tertutup di RS Dr. Sarjito di masa


yang akan datang.
4.

Bagi Institusi Pendidikan Akademi Perawatan


YKY
Laporan tugas akhir ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan
tambahan dan menambah wawasan khususnya bagi mahasiswa Akademi
Perawatan YKY.

F.

Metode
Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan tugas akhir ini
adalah dengan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan
pendekatan proses keperawatan. Adapun metode pengumpulan data dalam
penulisan laporan tugas akhir yang digunakan Penulis, meliputi :
1. Wawancara
Wawancara atau tanya jawab digunakan untuk mendapatkan informasi
yang ditujukan pada pasien dan keluarga pasien untuk memperoleh data
sunyektif tentang identitas pasien, riwayat kesehatan pasien, pola
kebiasaan pasien. Sedangkan waawancara dengan tim kesehatan lain
seperti perawat dan dokter yang merawat bertujuan untuk mendapatkan
informasi tentang keadaan pasien selama perawatan.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mendapatkan data
obyektif tentang keadaan pasien yang dilakukan secara sistematis
(cephalocaudal) yang meliputi inspeksi, perkusi, palpasi dan auskultasi.

21

3. Observasi
Observasi merupakan salah satu cara pemeriksaan dengan mengamati
perilaku dan keadaan umum pasien untuk memperoleh data tentang
masalah kesehatan dan keperawatan pasien.
4. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan cara untuk mendapatkan data pasien
dengan menggunakan status pasien untuk mengetahui catatan asuhan
keperawatan yang dibuat oleh perawat maupun hasil-hasil pemeriksaan,
program therapi medis atau catatan dokter yang berhubungan dengan
masalah pasien.
5.

Studi Kepustakaan
Dengan memanfaatkan referensi atau membaca buku, surat kabar yang
bersifat teoritis dan ilmiah yang berhubungan dengan pasien Fraktur
Vertebra Servikal tertutup dan Fraktur Plato Tibia Sinistra tertutup.

G.

Sistematika penulisan
Dalam penulisan laporan tugas akhir ini, Penulis membagi 4 bab yang terdiri
dari :
BAB I : Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, ruang lingkup,
tujuan, manfaat, metode dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan pustaka.

22

Berisi tentang teori-teori, prinsip dasar mengenai gambaran umum


tentang Fraktur Vertebra Servikal tertutup dan Fraktur Plateau
Tibia Sinistra tertutup, dan pendokumentasian.
BABIII: Tinjauan kasus
Yaitu tentang asuhan keperawatan pada pasien Fraktur Vertebra
Servikal tertutup dan Fraktur Plateau Tibia Sinistra tertutup.
BABIV: Pembahasan
Berisi

tentang

pembahasan

dari

pengkajian

diagnosa

keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan, dan evaluasi.


BAB V: Kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA.
LAMPIRAN

23

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Fraktur
1. Anatomi

Gambar .1 Anatomi Tulang

24

Gambar. 2 Sistem Skeletal


2. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinyuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Jong,1997).
Fraktur adalah diskontinyuitas struktural pada tulang (Price, 1993).
Fraktur adalah suatu patahan pada kontinyuitas struktur tulang
(Mansjoer,1999)
3. Patofisiologi
Ketika tulang patah atau fraktur periostum, pembuluh darah pada
kortek sumsum tulang dan jaringan lunak sekitar tulang rusak. Perdarahan
terjadi pada patahan tulang dan jaringan lunak terdekat (jaringan otot).
Hematom terjadi pada kanal medula antara patahan tulang (ujung
fragmen) dan di bawah dasar periostium. Jaringan lunak tulang akan
segera mati pada daerah fraktur. Jaringan yang nekrosis akan merangsang
inflamasi yang hebat. Repon tersebut yaitu

vasodilatasi, eksudasi,

25

leukositosis dan infiltrasi sel darah putih yang lain. Langkah-langkah ini
membangun pondasi penyembuhan tulang yang disebut callus. Callus
kemudian secara bertahap dibentuk menjadi profil tulang melalui
pengeluaran kelebihannya oleh osteoclast.
4. Klasifikasi Fraktur
Fraktur dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk garis patah
jumlah garis patah, dan etiologi terjadinya patah. Dan diskripsi-dikripsi
sebagai berikut :

a.

Komplit dan tidak


1)

Komplit
Garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua korteks tulang.

2)

Tidak komplit
Garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang.

b.

Bentuk garis patah dan hubungan dengan mekanisme trauma


1)

Garis patah melintang


Disebabkan karena trauma angulasi atau langsung.

2)

Garis patah oblique


Disebabkan karena fraktur angulasi.

3)

Garis patah spiral


Disebabkan karena trauma rotasi.

4)

Garis fraktur kompresi

26

Disebabkan karena trauma axial-flexi pada tulang spongiosa.


5)

Garis fraktur avulasi


Disebabkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada tulang,
misal: fraktur patela.

c.

Jumlah garis patah


1)

Fraktur komunitif
Garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.

2)

Fraktur segmental
Garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua
garis patah disebut pula fraktur bifokal.

3)

Fraktur multiple
Garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan
tempatnya, misal : fraktur femur, fraktur cruris, dan fraktur
tulang belakang.

d.

Bergeser atau tidak bergeser


1)

Fraktur undisplaced
Garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser,
periosteumnya masih utuh.

2)

Fraktur displaced
Terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang disebut juga
dislokasi fragmen.

27

e.

Terbuka atau tertutup


1)

Fraktur terbuka
Bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur
dengan udara luar atau permukaan kulit.

2)

Fraktur tertutup
Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan
udara luar atau permukaan kulit.

5. Etiologi
Fraktur dapat terjadi karena :
a.

Peristiwa trauma tunggal

b.

Tekanan yang berulang-ulang

c.

Kelemahan abnormal pada tulang (patologik)

6. Manifestasi Klinis
Tidak semua gejala ini terdapat secara bersamaan.
a.

Nyeri
Nyeri kontinyu atau terus-menerus dan meningkat semakin berat
sampai fragmen tulang tidak dapat digerakkan.

b.

Kehilangan fungsi
Setelah terjadinya fraktur ada bagian yang tidak dapat digunakan dan
cenderung menunjukkan pergerakan abnormal, ekstremitas tidak

28

berfungsi secara teratur karena fungsi normal otot tergantung pada


integritas tulang, yang mana tulang tersebut saling berdekatan.
c.

Deformitas atau kelainan bentuk


Perubahan tempat fragmen tulang disebabkan oleh deformitas
ekstremitas. Diketahui ketika dibandingkan dengan ekstremitas yang
tidak luka. Dapat berupa :
1. Angulasi, tidak hanya disebabkan oleh kekerasan yang
menyebabkannya, tetapi juga otot-otot ekstremitas yang
menarik patahan tulang.
2. Pemendekan. Tonus otot-otot ekstremitas menarik patahan
tulang sehingga ujung-ujung patahan saling menumpuk,
misalnya otot-otot paha yang menarik patahan tulang pada
fraktur os. Femur. Pada fraktur tulang panjang terdapat
pemendekan yang nyata pada ekstremitas. Hal ini disebabkan
karena kontraksi otot yang saling berdempet diatas atau di
bawah lokasi fraktur.

d.

Motilitas abnormal
Tempat patah menjadi sendi palsu, bagian ini harus sesedikit
mungkin digerakkan karena dikhawatirkan kalau terjadi kerusakan
lebih lanjut pada jaringan lunak, misalnya pembuluh darah dan saraf.

e.

Gangguan atau kehilangan fungsi


Setelah terjadinya fraktur ada bagian yang tidak dapat digunakan dan
cenderung menunjukkan pergerakan abnormal, ekstremitas tidak

29

berfungsi secara teratur karena fungsi normal otot tergantung pada


integritas tulang, yang mana tulang tersebut saling berdekatan.
f.

Krepitasi
Ketika ekstremitas diuji dengan kedua tangan terus berbunyi dan ini
dinamakan krepitasi. Krepitasi dapat dirasakan karena fragmen
bertentangan satu sama lain.

g.

Bengkak dan perubahan warna


Bengkak dan perubahan warna disebabkan oleh trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur.

7. Fase Penyembuhan Fraktur


a.

Fase Hematoma
Karena terputusnya pembuluh darah pada tulang dan periosteum
maka terjadi perdarahan pada sekitar fraktur. Darah menumpuk dan
menggerakkan ujung-ujung tulang yang patah, terjadi 24-28 jam.

b.

Pembentukan fibrin
Hematom menjadi terorganisir karena fibroblast masuk lokasi
cedera, membentuk gumpalan fibrin berdinding sel darah putih pada
lokasi melokalisir radang.

c.

Inflamasi osteoblast
Osteoblast masuk ke daerah fibrosis

untuk mempertahankan

penyambungan tulang. Pembuluh darah mengalirkan nutrisi untuk


membentuk kolagen terus disatukan dengan kalsium.
d.

Pembentukan kallus dan ossifikasi

30

Osteoblast terus membangun jala untuk membangun tulang.


Osteoblast merupakan tulang yang mati dan menyatu mensintesis
tulang baru. Kolagen menjadi kuat dan terus menyatu dengan deposit
kalsium terjadi pada hari 8-10.
e.

Konsolidasi dan remodelling


Sel tulang menyatu dan seperti tulang normal, kekuatan sama dengan
kekuatan tulang biasa.

8. Komplikasi
a.

Shock
Perdarahan selalu terjadi pada tempat fraktur dan perdarahan ini
dapat hebat sekali sehingga terjadi shock, misalnya pada fraktur
pelvis atau femur.

b.

Infeksi
Paling sering menyertai fraktur terbuka, tetapi kini sudah jarang
dijumpai.

c.

Nekrosis avaskuler
Fraktur dapat mengganggu aliran darah ke salah satu fragmen
sehingga ragmen tersebut kemudian mati. Komplikasi ini sering
terjadi pada fraktur caput femoris.

d.

Cedera vaskuler dan saraf

31

Kedua organ ini dapat cedera akibat ujung patahan tulang yang
tajam. Kerusakan yang diakibatkan dapat menimbulkan iskemia
ekstremitas dan gangguan saraf.
e.

Malunion
Sesuai dengan namanya, malunion adalah suatu keadaan dimana
fraktur ternyata sembuh dengan posisi yang kurang sesuai. Gerakan
ujung patahan akibat imobilisasi yang jelek dapat menyebabkan
malunion. Sebab-sebab lainnya adalah infeksi dan jaringan lunak
yang terjepit diantara fragmen tulang. Akhirnya ujung patahan dapat
saling teradaptasi dan membentuk sendi palsu dengan sedikit
gerakan.

f.

Delayed union
Merupakan istilah yang menyatakan proses penyembuhan yang terus
berlangsung tetapi kecepatannya lebih rendah dari biasanya.

g.

Non union
Menyatakan keadaan fraktur yang dapat menjadi komplikasi yang
mencelakakan pasien. Banyak faktor yang merupakan predisposisi
terjadinya non union, antara lain: reduksi yang kurang memadai
dimana fragmen-fragmen fraktur terus terpisah: mobilisasi yang
kurang memadai baik dengan reduksi terbuka maupun tertutup,
interposisi jaringan lunak (biasanya otot) diantara fragmen-fragmen,
cedera jaringan lunak yang parah, tulang banyak yang hilang, infeksi

32

dan anatomi sirkulasi tertentu dimana fraktur merusak aliran darah


kesalah satu atau beberapa fragmen.
9. Penatalaksanaan Umum Pada Fraktur
Ada empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu
menangani fraktur.
a.

Rekognisi
Saat menghadapi fraktur perlu dikenali dulu, antara lain : riwayat
kecelakaan, parah atau tidak, jenis kekuatan yang berperanan,
kejadian saat terkena benturan, menentukan kemungkinan tulang
yang patah, kebutuhan pemeriksaan spesifik fraktur.

b.

Reduksi
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmenfragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali seperti letak
asalnya. Bisa dilakukan secara terbuka atau tertutup (pembedahan
atau non pembedahan)

c.

Retensi
Tindakan ini bisa dilakukan secara interna maupun eksterna, interna
dengan menggunakan plat atau pen, eksterna dengan menggunakan
traksi, gips, elastis verban.

d.

Rehabilitasi
Usaha untuk mengembalikan fungsi seperti keadaan semula.

Tinjauan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Fraktur


Asuhan Keperawatan Secara Umum

33

Asuhan keperawatan adalah pelayanan esensial yang dilakukan


perawat profesional bagi penderita yang mempunyai masalah kesehatan
dengan tujuan menolong mereka meningkatkan kesehatan, meningkatkan
kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan potensinya. Pelayanan
tersebut dimaksudkan pula untuk menolong pasien dalam memenuhi
kebutuhannya secara holistik meliputi biologis, psikologis, sosial, kultural,
spiritual.( Depkes. RI, 1993 ).
Proses Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan menggunakan proses
keperawatan yaitu suatu proses pemecahan masalah yang dinamis dalam
usaha memperbaiki atau memelihara pasien sampai ke taraf optimum
melalui suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal dan membantu
memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus pasien. Langkah-langkah proses
keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan serta evaluasi ( Effendy, 1995 ).
Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan
yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang
pasien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah,
kebutuhan kesehatan dan keperawatan paien baik fisik, mental, sosial
dan lingkungan ( Effendi, 1995).

34

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses


keperawatan. Diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenal
masalah pasien agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan.
( Lismidar, 1990 ).
Menurut Doenges at all (1999) kemungkinan data yang ditemukan
pada pasien dengan fraktur ini adalah :
Aktivitas / Istirahat
Tanda:

keterbatasan atau kehilangan fungsi pada bagian


yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri,
atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan
jaringan, nyeri).

Sirkulasi
Tanda:

hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon


terhadap

nyeri

atau

ansietas)

atau

hipotensi

(kekurangan darah), takikardia (respon stress,


hipovolemia), penurunan atau tak ada nadi pada
bagian distal yang cedera; pengisian kapiler lambat,
pucat pada bagian yang terkena, pembentukan
jaringan atau masa haematom pada sisi cedera.
Neurosensori
Gejala:

hilang gerakan/sensasi,spasme otot, kebas/kesemutan


(parestesis).

35

Tanda:

deformitas lokal; angulasi abnormal, pemendekan,


rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot,
terlihat kelemahan/hilang fungsi, agitasi (mungkin
berhubungan dengan nyeri atau ansietas atau trauma
lain)

4. Nyeri / Kenyamanan
Gejala:

nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin


terlokalisasi pada area jaringan atau kerusakan
tulang; dapat berkurang pada imobilisasi); tak ada
nyeri akibat kerusakan syaraf, spame atau kram otot
(setelah imobilasi).

Keamanan
Tanda:

lacerasi

kulit,

avulasi

jaringan,

perdarahan,

perubahaan warna, pembengkakan lokal (dapat


meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respons individu pada masalah
kesehatan yang aktual dan potensial. Yang dimakud masalah aktual adalah
masalah yang ditemukan pada saat dilakukan pengkajian, sedangkan
masalah potensial adalah yang kemungkinan akan timbul kemudian.
(American Nursing Association)

36

Rumusan diagnosa keperawatan mengandung tiga komponen utama,


diantaranya adalah:
a. Problem (masalah); adalah gambaran keadaan pasien dimana tindakan
keperawatan dapat diberikan.

Masalah adalah kesenjangan atau

penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi.


b. Etiologi (penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau
masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan,
penyebab meliputi; perilaku lingkungan, interaksi antara perilaku dan
lingkungan
c. Sign atau symtom (tanda atau gejala), adalah ciri, tanda atau gejala,
yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan
diagnosa keperawatan.
Rumusan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Fraktur menurut
Doenges (1999) terdiri dari:
1. Resiko tinggi

terhadap

trauma

(tambahan)

berhubungan dengan

kehilangan integritas tulang (fraktur).


2. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau imobilisasi, stress
atau ansietas.
3. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan
penurunan atau interupsi aliran darah; cedera vaskuler langsung, edema
berlebihan, pembentukan trombus, hipovolemia.

37

4. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan


perubahan aliran darah atau emboli lemak, perubahan membran alveolar;
interstitial, edema paru kongesti.
5. Kerusakan mobilitas fisik berubungan dengan kerusakan rangka
neurovaskuler; nyeri atau ketidaknyamanan, terapi restriktif, imobilisasi.
6. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit atau jaringan
berhubungan dengan cedera tusuk; fraktur terbuka; bedah perbaikan;
pemasangan traksi, pen, kawat, sekrup, perubahan sensasi, sirkulasi;
akumulasi ekskresi atau sekret, imobilisasi fisik.
7. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya
pertahanan primer; kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada
lingkungan, prosedur invasif, traksi tulang.
8. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan
kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan atau
mengingat, salah interpretasi informasi atau tidak mengenal sumber
informasi.
c. Rencana keperawatan
Rencana keperawatan merupakan mata rantai antara penetapan
kebutuhan pasien dan pelaksanaan tindakan keperawatan. Dengan demikian
rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan
secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap pasien sesuai
dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan.

38

Rencana asuhan keperawatan disusun dengan melibatkan pasien


secara optimal agar dalam pelaksanaan asuhan keperawatan terjalin suatu
kerja sama yang saling membantu dalam proses pencapaian tujuan
keperawatan dalam memenuhi kebutuhan.
3. Rencana Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Fraktur
a. Resiko tinggi terhadap trauma (tambahan) berhubungan dengan
kehilangan integritas tulang (fraktur).
TINDAKAN/INTERVENSI

RASIONALISASI

Mandiri
Pertahankan

tirah

baring

atau Meningkatkan stabilitas, menurunkan

ekstremitas sesuai indikasi. Beri kemungkinan gangguan posisi atau


sokongan sendi diatas dan dibawah penyembuhan.
fraktur bila bergerak atau membalik.

Letakkan papan dibawah tempat Tempat tidur lembut atau lentur dapat
tidur atau tempatkan pasien pada membuat deformasi pada fiksasi
tempat tidur orthopedik.
Gibs atau bebat
Sokong fraktur dengan bantal atau Mencegah pergerakan yang tak perlu
gulungan selimut. Pertahankan

dan perubahan posisi.

posisi netral pada bagian yang sakit


dengan

bantal

pasir, pembebat,

papan kaki.
Evaluasi

pembebat

terhadap resolusi edem.

ekstrimitas Pembebatan
digunakan

atau
untuk

fiksasi

mungkin

memberikan

39

imobilisasi

fraktur

dimana

pembengkakan

jaringan

berlebihan.

Seiring dengan berkurangnya edema,


penilaian kembali pembebatan mungkin
diperlukan

untuk

mempertahankan

kesejajaran fraktur.
Kolaborasi
Kaji ulang foto atau evaluasi.

Memberikan bukti visual mulainya


pembentukan
penyembuhan
tingkat

kalus

atau

untuk

aktivitas

dan

proses

menentukan
kebutuhan

perubahan atau tambahan terapi.

40

b. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,


edema, dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi atau imobilisasi, stress
atau ansietas
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri
Pertahankan

imobilisasi

RASIONALISASI

bagian Menghilangkan nyeri dan mencegah

yang sakit dengan tirah baring, kesalahan posisi tulang atau tegangan
gibs, pembebatan, traksi.

jaringan yang cidera.

Tinggikan dan dukung ekstrimitas Meningkatkan


yang terkena.

aliran

balik

vena,

menurunkan edema, dan menurunkan


nyeri.

Hindari penggunaan seprei atau Dapat meningkatkan ketidaknyamanan


bantal plastik dibawah ekstrimitas karena peningkatan produksi panas
dalam gibs.

dalam gibs yang kering.

Tinggikan penutup tempat tidur; Mempertahankan

kehangatan

tubuh

pertahankan linen terbuka pada ibu tanpa ketidaknyamanan karena tekanan


jari kaki
Evaluasi

selimut pada bagian yang sakit.


keluhan

ketidaknyamanan,

nyeri

atau Mempengaruhi

perhatikan pengawasan

pilihan
keefektifan

atau
intervensi.

lokasi dan karakteristik, termasuk Tingkat ansietas dapat mempengaruhi


intensitas (skala 010). Perhatikan persepsi atau reaksi terhadap nyeri.

petunjuk

nyeri

nonverbal

(perubahan pada tanda vital dan


emosi atau perilaku)
Dorong

pasien

untuk Membantu

mendiskusikan

masalah ansietas.

sehubungan dengan cidera.

kebutuhan

untuk

menghilangkn

Pasien dapat merasakan


untuk

menghilangkan

pengalaman kecelakaan.
Jelaskan

prosedur

sebelum Memungkinkan

memulai tindakan.

pasien

untuk

siap

secara mental untuk aktivitas juga


berpartisipasi dalam mengontrol tingkat
ketidaknyamanan.

Beri

obat

sebelum

perawatan Meningkatkan

aktivitas.

relaksasi

otot

dan

meningkatkan partisipasi.

Lakukan dan awasi latihan rentang Mempertahankan


gerak pasif/aktif.

mobilitas

otot

kekuatan
yang

atau

sakit

dan

memudahkan resolusi inflamasi

pada

jaringan yang cidera.


Berikan

alternatif

kenyamanan,

contoh;

tindakan Meningkatkan

menggunakan

umum;

pijatan menurunkan area tekanan lokal dan

punggung dan perubahan posisi.


Dorong

sirkulasi

kelelahan otot.

tehnik Memfokuskan

kembali

perhatian,

manajemen stres, contoh relaksasi meningkatkan rasa kontrol dan dapat


progresif, latihan nafas dalam, meningkatkan
imajinasi
teapeutik.

visualisasi,

kemampuan

koping

sentuhan dalam menejemen nyeri, yang mungkin


menetap untuk periode lama.

Identifikasi

aktivitas

terapeutik Mencegah

yang tepat untuk usia pasien, tegangan,

kebosanan,

menurunkan

dan

dapat meningkatkan

kemampuan fisik dan penampilan kekuatan otot;

dapat meningkatkan

pribadi.

harga diri dan kemampuan koping.

Selidiki adanya keluhan nyeri yang Dapat

menandakan

terjadinya

tak biasa, tiba-tiba atau dalam, komplikasi, contoh infeksi, iskemik


lokasi progresif atau buruk tidak jaringan, sindrom kompartemen
hilang dengan analgesik.
Kolaborasi;
Lakukan kompres dingin atau es Menurunkan edema atau pembentukan
24-48 jam pertama dan sesuai hematoma, menurunkan sensasi nyeri.
keperluan.
Berikan atau awasi analgesik yang Mempertahankan kadar analgesik darah
dikontrol pasien

adekuat, mencegah fluktuasi dalam


penghilangan nyeri sehubungan dengan
tegangan otot atau sespasme

c. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan


penurunan atau interupsi aliran darah; cedera vaskuler langsung, edema
berlebihan, pembentukan trombus, hipovolemia.
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri
Lepaskan

perhiasan

ekstrimitas yang sakit.


Evaluasi

adanya/kualitas

RASIONALISASI

dari Dapat

membendung

sirkulasi

bila

terjadi oedem
nadi Penurunan atau tak adanya nadi dapat

perifer distal terhadap cidera menggambarkan cedera vaskuler dan


melalui palpasi.

Bandingkan perlunya

dengan ekstrimitas yang sakit.

evaluasi

medik

segera

terhadap status sirkulasi. Waspadai


bahwa

kadang-kadang

nadi

dapat

terhambat oleh bekuan halus dimana


pulsasi mungkin teraba.
Kaji aliran kapiler, warna kulit, Kembalinya warna harus cepat (3-5
dan

kehangatan

distal

pada detik). Warna kulit putih menunjukkan

fraktur.

gangguan arterial, sianosis diduga ada


gangguan vena

Lakukan

pengkajian Gangguan perasaan kebas, kesemuatan,

neuromuskuler.

Perhatikan peningkatan atau penyebaran nyeri

perubahan

fungsi terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak

motorik/sensorik.

Minta pasien adekuat atau saraf rusak.

untuk melokalisasi nyeri atau


ketidaknyamanan.
Tes sensasi syaraf perifer dengan Panjang dan

posisi

menusuk

resiko

pada kedua selaput meningkatkan

antara ibu jari pertama dan kedua, adanya


kaji

kemampuan

dorsofleksi

ibu

fraktur

kaki,

saraf perineal
cedera
edema

pada
atau

untuk sindrom kompartemen, atau malposisi


jari

bila alat traksi.

diindikasikan
Kaji jaringan sekitar akhir gips Faktor

ini

disebabkan

atau

untuk titik yang kasar/tekanan. mengindikasikan tekanan jaringan atau


Selidiki keluhan rasa terbakar iskemia, menimbulkan kerusakan atau
dibawah gips.

nekrosis.

Awasi posisi atau lokasi cincin Alat traksi dapat menyebabkan tekanan
penyokong bebat.

pada

pembuluh

darah

atau

saraf,

terutama pada aksila dan lipat paha,


mengakibatkan iskemia dan kerusakan
saraf permanen.
Pertahankan

peninggian Meningkatkan

drainage

ekstremitas yang cedera kecuali vena/menurunkan edema.


dikontraindikasikan
meyakinkan

dengan

adanya

sindrom

kompartemen.
Kaji

keseluruhan

panjang Peningkatan lingkar ekstremitas yang

ekstremitas yang cedera untuk cedera dapat diduga ada pembengkakan


pembengkakan atau pembentukan jaringan atau edema umum tetapi dapat
edema. Ukur ekstremitas yang menunjukkan perdarahan.
cedera dan bandingkan dengan
yang tidak cedera. Perhatikan
penampilan

atau

luasnya

hematom
Perhatikan keluhan nyeri eksterm Perdarahan atau pembentukan edema
untuk

tipe

cedera

atau berlanjut dalam otot tertutup dengan

peningkatan nyeri pada gerakan fasia


pasif

ekstremitas,

ketat

dapat

menyebabkan

terjadinya gangguan aliran darah dan iskemia

parestesia, tegangan otot atau miositis atau sindrom kompartemen,


nyeri tekan dengan eritema, dan perlu

intervensi

perubahan nadi distal. Jangan menghilangkan


tinggikan ekstremitas. Laporkan memperbaiki situasi.
gejala pada dokter saat itu.

darurat
tekanan

untuk
atau

Selidiki

tanda

ekstremitas

tiba-tiba,

penuunan

suhu

iskemia Dislokasi

fraktur

contoh lutut) dapat menyebabkan kerusakan

kulit,

dan arteri yang berdekatan, dengan akibat

peningkatan nyeri.

hilangnya aliran darah kedistal.

Dorong pasien untuk secara rutin Meningkatkan


latihan jari atau sendi distal menurunkan
cedera.

sendi (khususnya

Ambulasi

sirkulasi

dan

penggumpalan

darah

sesegera khususnya pada ekstremitas bawah.

mungkin.
Selidiki

nyeri

tekan, Terdapat peningkatan potensial untuk

pembengkakan pada dosofleksi tromboflebitis dan emboli paru pada


kaki (tanda Homan positif).

pasien imobilisasi selama 5 hari/lebih.

Awasi tanda vital. Perhatikan Ketidakadekuatan

volume

sirkulasi

tanda-tanda pucat atau sianosis akan mempengaruhi sistem perfusi


umum, kulit dingin, perubahan jaringan.
mental.
Tes faeses atau aspirasi gaster Peningkatan insiden perdarahan gaster
terhadap darah nyata. Perhatikan menyertai fraktur atau trauma dan dapat
perdarahan

lanjut

trauma/injeksi

dan

terus-menerus

dari

pada

sisi berhubungan dengan stress dan kadang-

perdarahan kadang

menunjukkan

membran pembekuan

mukosa.

yang

gangguan
memerlukan

intervensi lanjut.

Kolaborasi
Berikan

kompres

es

fraktur sesuai indikasi.

sekitar Menurunkan edema atau pembentukan


hematoma yang dapat mengganggu
sirkulasi.

Bebat/buat

spalk

sesuai Mungkin

kebutuhan

dilakukan

pada

keadaan

darurat untuk menghilangkan restriksi


sirkulasi

yang

diakibatkan

oleh

pembentukab edema pada ekstremitas


yang cedera.
Kaji atau awasi tekanan intra Peninggian tekanan (biasanya sampai
kompartemen.

30 mmHg atau lebih) menunjukkan


kebutuhan

evaluasi

segera

dan

intervensi.
Siapkan untuk intervensi bedah Kegagalan
(contoh;

untuk

menghilangkan

fibulektomi/fasiotomi) tekanan atau memperbaiki sindrom

sesuai indikasi

kompartemen dalam 4 sampai 6 jam


dari timbulnya dapat mengakibatkan
kontraktur berat atau kehilangan fungsi
dan kecacatan ekstrimitas distal cedera
atau perlu amputasi

Awasi

Hb/Hmt,

kkoagulasi,

pemeriksaan Membantu dalam kalkulasi kehilangan

contoh

protrombin.

kadar darah dan membutuhkan keefektifan


terapi pengganti.

d. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan


perubahan aliran; darah/emboli lemak, perubahan membran alveolar;
interstitial, edema paru kongesti.
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri

RASIONALISASI

Awasi frekwensi pernafasan dan Takipenu, dipspenu, dan perubahan


upayanya.

Perhatikan

stridor, dalam

mental,

dan

tanda

dini

pengguanaan otot bantu, retraksi, insufisiensi pernafasan dan mungkin


terjadinya sianosis sentral.

hanya indikator terjadinya emboli paru


pada tahap awal

Auskultai bunyi nafas, perhatikan Perubahan dalam atau adanya bunyi


terjadinya ketidaksamaan, bunyi akventisius
hipersonan,

juga

menunjukkan

terjadinya

adanya komplikasi pernafasan.

gemericik atau ronchi atau mengi


dan

inspirasi

mengorok

atau

bunyi sesak nafas.


Atasi jaringan cedera atau tulang Ini dapat mencegah terjadinya emboli
dengan lembut khususnya selama lemak (biasanya terlihat pada 12 72
beberapa hari pertama.

jam pertama) yang erat hubungannya


dengan

fraktur

khususnya

tulang

panjang dan pelvis.


Insruksikan dan bantu dalam Meningkatkan fentilasi alfeolar dan
latihan nafas dalam dan batuk. perfusi.
Reposisisi dengan sering.

drainase

Reposisi
sekret

meningkatkan

dan

menurunkan

kongesti pada area paru dependen


Perhatikan
kegelisahan,
stupor.

peningkatan Gangguan pertukaran gas atau adanya


kacau,

lethargi, emboli

paru

dapat

menyebabkan

penyimpangan pada tingkat kesadaran


pasien seperti terjadinya buksimia atau
asidosis.

Obsevasi sputum untuk tanda Hemodialisa

dapat

terjadi

dengan

adanya darah.

emboli paru.

Kolaborasi
Berikan

tambahan

bila Meningkatkan

sediaan

untuk

diindikasikan. Awasi pemeriksaan oksigenasi optimal jaringan.


laboratorium, contoh;
AGD
Menurunnya PA O dan peningkatan Pa
CO

menunjukkan

pertukaran

gas

gangguann

atau

terjadinya

kegagalan.
Hb, kalsim, LED, lipase serum,
lemak, emboli.

Anemia,

hipokalsemia,

peningkatan

LED dan kadar lipase, gelembung


lemak dalam darah/urin/sputum, dan
penurunan jumlah trombosit sering
berhubungan dengan emboli lemak.
e. Kerusakan mobilitas fisik berubungan dengan kerusakan rangka
neurovaskuler; nyeri/ketidaknyamanan, terapi restriktif, imobilisasi.
TINDAKAN/INTERVEMSI
Mandiri

RASIONALISASI

Kaji

mungkin

derajat

dihasilkan
pengobatan
persepsi
imobilisasi

imobilitas

oleh
dan
pasien

cidera

yang Pasiem
atau pandangan

perhatikan tentang

diri

dibatasi

atau

keterbatasan

oleh

persepsi
fisik

diri

aktual,

terhadap memerlukan informasi atau intervensi


untuk

meningkatkan

kemajuan

kesehatan.
Instruksikan pasien untuk/bantu Meningkatkan aliran darah keotot dan

dalam rentang gerak pasien/aktif tulang untuk meningkatkan tonus otot,


pada ekstrimitas yang sakit dan mempertahankan
tidak sakit.

gerak

sendi,

mencegah kontraktur atau atrofi, dan


reasobsi

kalsium

karena

tidak

digunakan.
Dorong

penggunaan

latihan Kontraksi otot isometrik tanpa menekuk

isometrik mulai dengan tungkai sendi atau menggerakkan tungkai dan


yang tidak sakit.

membantu mempertahankan kekuatan


dan masa otot.

Berikan

papan

kaki,

pergelangan,

bebat Berguna dalam mempertahankan posisi

gulungan fungsional, ekstrimitas, tangan atau

trokanter/tangan yang sesuai.


Tempatkan

dalam

kaki, dan mencegah komplikasi.

posisi Menurunkan resiko kontraktur fleksi

terlentang secara periodik bila panggul.


mungkin, bila traksi digunakan
untuk

menstabilkan

fraktur

tungkai bawah.
Bantu dan dorong perawatan diri Meningkatkan
atau kebersihan.

kekuatan

otot

dan

sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien


dalam

situasi,

dan

meningkatkan

kesehatan diri langsung.


Berikan

atau

bantu

dalam Mobilisasi dini menurunkan komplikasi

mobilisasi dengan kursi roda, tirah

baring

dan

meningkatkan

kruk, tongkat, sesegera mungkin. penyembuhan dan normalisasi fungsi


Instruksikan

keamanan

dalam organ.

menggunakan alat mobilitas.

Awasi

tekanan

darah

dengan Hipotensi

postural

adalah

masalah

melakukan aktivitas. Perhatikan umum menyertai tirah baring lama dan


keluhan pusing.

dapat memerlukan intervensi khusus.

Ubah posisi secara periodik dan Mencegah atau menurunkan insiden


dorong untuk latihan batuk atau komlikasi kulit atau pernafasan.
nafas dalam.
Auskultasi bising usus.

Awasi Tirah baring, penggunaan analgesik dan

kebiasaan eliminasi dan berikan perubahan dalam kebiasaan diit dapat


keteraturan defekasi rutin.

memperlambat

peristaltik

dan

menghasilkan konstipasi.
Dorong peningkatan pemasukan Mempertahankan

hidrasi

tubuh,

cairan sampai 2000 3000 menurunkan resiko infeksi urinarius,


ml/hari, termasuk air asam atau pembentukan batu, dan konstipasi.
jus.
Berikaan

diit

tinggi

protein, Pada adanya cedera muskulo sekeletal

karbohidrat, vitamin, dan mineral. nutrisi


Pertahankan

yang

diperlukan

untuk

penurunan penyembuhan berkurang dengan cepat,

kandungan protein sampai setelah sering mengakibatkan penurunan berat


defikasi pertama.

badan sebanyak 20 30 pon selama


traksi tulang. Ini dapat mempengaruhi
masa otot, tonus, dan kekuatan.

Batasi makanan pembentuk gas.

Makanan

pembentuk

menyebabkan
khususnya

distensi

pada

adanya

gas

dapat

abdominal,
penurunan

motilitas usus.
Kolaborasi
Konsul dengan ahli terapi fisik Berguna

dalam

membuat

aktivitas

atau okupasi dan atau rehabilitasi individual atau program latihan. Pasien
sepesialis.

dapat

memerlukan

bantuan

jangka

panjang dengan gerakan, kekuatan, dan


aktivitas

yang

mengandalkan

berat

badan, juga penggunaan alat.


Lakukan

program

defikasi Dilakukan

untuk

meningkatkan

(pelunak feses, enema, laksatif) evakuasi usus


sesuai indikasi.
Rujuk

keperawat

sepesialis Pasien atau orang terdekat memerlukan

psikiatrik klinikal atau ahli terapi tindakan intensif lebih untuk menerima
sesuai indikasi.

kenyataan , kondisi atau prognosis,


imobilisasi lama, mengalami kehilangan
kontrol.

f.

Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubunga


dengan cedera tusuk;fraktur terbuka; vedah perbaikan;pemasangan
traksi,pen,kawat,sekrup,

perubahan

sensasi,

sirkulasi;

alumulasi

ekskresi/sekret, imobilisasi fisik.


TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri

RASIONALISASI

Kaji kulit untuk luka terbuka, Memberikan informasi tentang sirkulasi


benda

asing,

perdarahan,

kemerahan, kulit

perubahan

kelabu, memutih.

dan

warna, disebabkan

masalah
oleh

yang
alat

mungkin
dan

atau

pemasangan gibs atau bebat atau traksi


atau

pembentukan

edema

yang

membutuhkan intervensi medik lanjut


Masase kulit dan penonjolan Menurunkan tekanan pada area yang
tulang, pertahankan tempat tidur peka dan resiko abrasi atau kerusakan
kering dan bebas kerutan.

kulit.

Ubah posisi dengan sering.

Mengurangi tekanan konstan pada area


yang sama dan meminimalkan resiko
kerusakan kulit.

Penggunaan gibs dan perawatan


kulit:
Bersihkan kulit dengan sabun dan Memberikan gips tetap kering, dan area
air.

Gosok

perlahan

dengan bersih.

alkohol dan atau bedak

Potong

pakaian

mnutup

area

dalam
dan

yang Berguna untuk bantalan tonjolan tulang,

perlebar mengakhiri akhir gips, dan melindungi

beberapa inci diatas gips.

kulit.

Gunakan telapak tangan untuk Mencegah pelekukan atau pendataran


memasang,

pertahankan

atau diatas

tonjolan

lepaskan gips dan dukung bantal penyokong


setelah pemasanga

punggung,

tulang

berat

badan

tumit)

menyebabkan

dan

abrasi

area

(contoh;

yang

akan

atau

trauma

jaringan. Bentuk yang tepat atau gips


kering

mengiritasi

pada

kulit

dibawahnya dan dapat menimbulkan

gangguan sirkulasi.
Instruksikan pasien atau orang sakit gesekan dapat meyebabkan
terdekat

untuk

menghindari cedera jaringan.

memasukkan objek kedalam gips.


Balik pasien dengan sering untuk Meminimalkan tekanan pada kaki dan
melibatkan sisi yang tak sakit.

sekitar tepi gips.

Traksi kulit dan perawatan kulit:


Gunakan

plester

traksi

kulit Plester traksi melingkari tungkai dapat

memanjang pada sisi tungkai mempengaruhi sirkulasi.


yang sakit.
Letakkan

bantalan

pelindung Meminimalkan tekanan pada aera ini.

dibawah kaki dan diatas tonjolan


tulang.
Balut lingkar tungkai, termasuk Memberikan tarikan traksi yang tepat
plester

dan

bantalan,

dengan tanpa mempeengaruhi sirkulasi.

verban elastik, hati- hati untuk


membalut

rapat

tetapi

tidak

terlalu ketat.
Palpasi jaringan yang diplester Bila area dibawah plester nyeri tekan,
tiap hari dan catat adanya nyeri diduga ada iritasi kulit, dan siapkan
tekan atau nyeri.

untuk membuka sistem balutan.

Lepaskan traksi kulit tiap 24 jam, Mempertahankan integritas kulit.


seuai

protokol,

inspeksi

berikan perawatan kulit.

dan

Traksi tulang dan perawatan kulit:


Tekuk ujung kawat atau tutup
ujung kawat pen dengan karet Mencegah cedera pada bagian tubuh
atau gabus pelindung atau tutup lain.
jarum;
Beri bantalan pelindung.
Mencegah tekanan berlebihan pada
kulit,

meningkatkan

evaporasi

kelembapan yang menurunkan rsiko


Kolaborasi

ekscoriasi.

Buat gips dengan katup tunggal,


katup ganda atau jendela sesuai Memungkinkan pengurangan tekanan
protokol.

dan memberikan akses untuk perawatan


luka atau kulit.

g. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya


pertahan primer; kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada
lingkungan, prosedur invasif, traksi tulang.
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri

RASIONALISASI

Inspeksi kulit untuk adanya iritasi Pen atau kawat harus dimasukkan
atau robekan kontinuitas.

melalui

kulit

kemerahan

atau

yang

terinfeksi,

abrasi

(dapat

menimbulkan infeksi tulang)

Kaji sisi pen atau kulit perhatikan Dapat

mengindikasikan

timbulnya

keluhan peningkatan nyeri atau infeksi lokal atau nekrosis jaringan,

rasa terbakar atau adanya edema, yang dapat menimbulkan osteomilitis.


eritema, drainase, atau bau tidak
enak.
Berikan

perawatan

pen

atau Dapat mencegah kontaminasi silang dan

kawat seteril sesuai protokol dan kemungkinan infeksi.


latihan mencuci tangan.
Tutupi pada akhir gibs peritoneal Gibs yang lembab, padat meningkatkan
dengan plastik.

pertumbuhan bakteri.

Observasi

luka

pembentukan

bula,

untuk Tanda perkiraan infeksi gas gangren.


krepitasi,

perubahan warna kulit kecoklatan


bau drainage yang tak enak atau
asam.
Kaji tonus otot, reflek tendon Kekuatan otot, spasme tonik otot rahang
dalam dan kemampuan untuk dan disfagia menunjukkan terjadinya
berbicara.

tetanus.

Selidiki

nyeri

tiba- Dapat

mengindikasikan

terjadinya

tiba/keterbatasan gerak dengan osteomilitis.


edema

lokal

atau

eritema

ekstremitas cedera.
Lakukan prosedur isolasi.

Adanya

drainase

purulen

akan

memerlukan kewaspadaan luka atau


linen untuk mencegah kontaminasi
silang.

Kolaborasi
Awasi

pemeriksaan Anemia dapat terjadi pada osteomilitis;

;laboratorium;

leukositosis biasanya ada dengan proses

hitung darah lengkap.

infeksi

LED.

Peningkatan pada osteomilitis.

Kultur dan sensitifitas luka atau Mengidentifikasi organisme infeksi.


serum atau tulang.
Scan radio isotop.

Titik panas menunjukkan peningkatan


area

faskularitas,

menunjukkan

osteomilitis.
Berikan obat sesuai indikasi: Antibiotik
antibiotik IV topikal.

sepektrum

luas

dapat

digunakan secara profilaktik atau dapat


ditujukan pada mikroorganisme khusus.

Tetanus toksoid.

Diberikan secara profilaktik karena


kemungkinan adanya tetanus pada luka
terbuka.

Berikan irigasi luka atau tulang Debridemen lokal atau pembersihan


dan berikan sabun basah atau luka menurunkan mikroorganisme dan
hangat sesuai indikasi.

insiden infeksi sistemik.

Bantu prosedur contoh; insisi atau Banyak


drainase,
terapi O.

pemasangan

prosedur

dilakukan

pada

drain, pengobatan infeksi lokal, osteomilitis,


gangren gas.

Siapkan

pembedahan

sesuai Sequestrektomy (pengangkatan tulang

indikasi.

nekrotik)

perlu

untuk

membantu

penyembuhan dan mencegah perluasan


proses infeeksi.
h. kurang pengetahuan kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan
kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat,
salah interpretasi informasi atau tidak mengenal sumber informasi.
TINDAKAN/INTERVENSI
Mandiri

RASIONALISASI

Kaji ulang patologi, prognosis, Memberikan dasar pengetahuan dimana


dan harapan yang akan datang.

pasien

dapat

membuat

pilihan

informasi.
Beri penguatan metode mobilitas Banyak fraktur memerlukan gips, bebat,
dan ambulasi sesuai instruksi atau
engan

terapis

fisik

penjepit

selama

proses

bila penyembuhan. Kerusakan lanjut dan

diindikasikan.

pelambatan penyembuhan dapt terjadi


sekunder

terhadap

ketidak

tepatan

penggunaan alat ambulasi.

Buat

daftar

aktivitas

pasien

dapat

secara

mandiri

dimana Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan

melakukannya dan yang memerlukan bantuan.


dan

yang

memerlukan bantuan.
Identifikasi tersedianya sumber Memberikan
pelayanan di masyarakat, contoh; memudahkan
tim

rehabilitasi,

pelayanan mendukung

bantuan
perawatan

untuk
diri

dan

kemandirian.

perawatan di rumah.

Meningkatkan perawatan diri optimal


dan pemulihan.

Dorong pasien untuk melanjutkan Mencegah kekakuan sendi, kontraktur,


latihan aktif untuk sendi diatas dan
dan dibawah fraktur.

kelelahan

otot,

meningkatkan

kembalinya aktifitas sehari-hari secara


dini.

Identifikasi

tanda-tanda

dan Intervensi cepat dapat menurunkan

gejala-gejala yang memerlukan beratnya komplikasi seperti infeksi atau


evaluasi medik, contoh; nyeri gangguan sirkulasi.
berat, demam, atau menggigil,
bau tak enak, perubahan sensasi,
pembengkakan, paralisis, ibu jari
atau ujung jari putih atau dingin,
titik hangat, area lunak, gips
retak.
Demonstrasikan

penggunaan Melindungi dari kelembapan, yang

kantong plastik untuik menutup melunakkan

plester

gips

dan

plester gips selama cuaca lembab melemahkan gips.


atau saat mandi.
Anjurkan penggunaan pakaian Membantu aktifitas berpakaian atau
yang adaptif.
Diskusikan

kerapihan.
instruksi

pasca

pengangkatan gips;
Instruksikan

pasien

untuk Menurunkan

melanjutkan latihan sesuai ijin.

memperbaiki

kekakuan
kekuatan

ekstremitas yang sakit.

dan

dan
fungsi

Informasikan pasien bahwa kulit Ini akan memerlukan waktu berminggudibawah

gips

secara

umum minggu

sebelum

kembali

ke

lembab dan tertutup dengan kalus penampilan normal.


atau serpihan kulit yang mati.
Informasikan pasien, bahwa otot Kekuatan otot akan menurun dan rasa
dapat tampak lembek dan atrofi sakit yang baru dan nyeri sementara
(massa otot kurang). Anjurkan sekunder

terhadap

kehilangan

untuk memberi sokongan pada dukungan.


sendi diatas dan dibawah bagian
yang sakit dan gunakan alat bantu
mobilitas.
Tinggikan

ekstremitas

kebutuhan

sesuai Pembengkakan dan edema cenderung


terjadi setelah pengangkatan gips.

4. Pelaksanaan Keperawatan
Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari peencanaan keperawatan
yang telah ditentukan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien
secra optimal. Pelaksanaan adalah pengelolaan dan pewujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.
5. Evaluasi Keperawatan
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis
dan terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah
ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan
pasien dan tenaga kesehatan lainnya.

Penilaian

dalam

keperawatan

meupakan

kegiatan

dalam

melaksanakan rencana tindakan kegiatan yang telah ditentukan untuk


mengetahui pemenuhan kebutuhan pasien secara optimal dan megukur
hasil dari proses keperawatan.
6. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi

keperawatan

adalah

kumpulan

informasi

keperawatan dan kesehatan pasien yang dilakukan oleh perawat sebagai


pertanggungjawaban

dan

pertanggunggugatan

terhadap

aasuhan

keperawatan yang dilakukan perawat pada pasien dalam melakukan


asuhan keperawatan.
Kegunaan :
1. Sebagai alat komunikasi antar anggota keperawatan dan antar anggota
tim kesehatan lainnya.
2. Sebagai dokumen resmi dalam sisitem pelayanan kesehatan.
3. Dapat digunakan sebagai alat bahan penelitian dalam bidang
keperawatan.
4. Sebagai alat yang dapat digunakan dalam bidang pendidikan
keperawatan.
5. sebagai alat pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan asuhan
keperawatan yang diberikan terhadap pasien.

BAB III
TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN
Hari/tanggal : Senin, 28 Juli 2003
Jam

: 08.00 WIB

Tempat

: IRNA I Cendana 2/B2 RS Dr. Sardjito

Oleh

: Priyanta Nugraha/ K.600.11

c.

I. IDENTITAS.
a. Pasien
Nama

: Ny. P

Tempt/tanggal lahir

: Bantul, 1 Januari 1965 (38 tahun)

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Status perkawinan

: Janda

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Pedagang

Suku/kebangsaan

: Jawa/Indonesia

Alamat

: Wojo, Banguntapan, Sewon, Bantul,


Yogyakarta

Diagnosa medis

Fraktur corpus Vertebra Servikalis II


III dan Fraktur Plateau Tibia Sinistra
Tertutup

No CM

08 18 38

Tanggal masuk

26 Juli 2003

b. Keluarga/penanggung jawab

: Yang bersangkutan sendiri

Nama

Ny. P

Tempt/tanggal lahir

Bantul, 1 Januari 1965 (38 tahun)

Jenis kelamin

Perempuan

Agama

Islam

Status perkawinan

Janda

Pendidikan

SD

Pekerjaan

Pedagang

Suku/kebangsaan

Jawa/Indonesia

Alamat

Wojo, Banguntapan, Sewon, Bantul,


Yogyakarta

d.

II.

RIWAYAT KESEHATAN

A. Kesehatan pasien
Riwayat kesehatan sekarang :
Keluhan utama: Pasien mengeluh nyeri pada leher bagian kanan
(servikalis) dan kaki kiri sulit untuk digerakkan.
Kurang lebih tujuh hari sebelum masuk rumah sakit, pasien jatuh
terduduk dengan tumpuan lutut setelah didorong oleh orang dari
belakang. Pasien tidak pingsan, tidak mual/pusing, kaki kiri terasa sulit
untuk digerakkan karena nyeri, nyeri juga terasa di leher dan tulang
belakang.
Riwayat penyakit/kesehatan dahulu:
Pasien mempunyai riwayat menderita asma sejak kecil, dan mengatakan
pernah mengalami fraktur pada kaki kirinya.
B. Kesehatan keluarga.
1. Riwayat penyakit/kesehatan keluarga
Pasien seorang yatim piatu tidak mempunyai keluarga

2.

Genogram

1.

Keterangan :
= laki-laki

= pasien

= perempuan

III.

= meninggal

POLA KEBIASAAN PASIEN


A. ASPEK FISIK - BIOLOGIS
Pola nutrisi
Sebelum sakit.
Makan pasien 3 kali sehari dengan porsi cukup, menu makanan nasi
sayur lauk dan kadang buah-buahan. Tak ada makanan pantangan.,
minum 8-10 gelas/hari, pasien lebih menyukai air putih dan air teh .
Selama sakit.

Makan pasien 3 kali/hari dengan diit bubur TKTP, nafsu makan pasien
menurun, porsi makan habis 1 porsi. Pasien mengatakan tidak bisa
makan sendiri karena harus bedrest yang disebabkab adanya fraktur
servikalis. Minum kurang lebih 6-8 gelas./hari, tidak ada pantangan,
tidak ada gangguan menelan.
Eliminasi.
Sebelum sakit.
BAB pasien 1 kali/hari

dengan konsistensi lunak, warna kuning

kecoklatan, bau khas faeces, tidak ada riwayat penggunaan obat


pencahar
BAK pasien 5-6 kali/hari, warna kuning jernih, konsistensi cair, bau
khas urine, tidak ada keluhan selama berkemih.
Selama sakit.
Selama di rumah sakit pasien mengatakan BAB baru 1 kali dengan
konsistensi padat, warna kecoklatan, bau khas feses.
BAK, terpasang douwer catheter sejak tanggal 26 Juli 23003, urine
2200 cc/hr, pasien BAB/BAK diatas tempat tidur dengan dibantu, urine
encer,warna kuning.
Pola Aktifitas, Istirahat,Tidur.
Sebelum sakit.
Kegiatan sehari-hari sebagai seorang pedagang, aktivitas sehari-hari
berjualan dan mengurus rumah. Istirahat dan tidur dalam sehari kurang

lebih 6-7 jam/hari. Pasien tidak mnempunyai kebiasaan tidur siang,


tidak ada riwayat penggunaan obat tidur.
Selama sakit.
Kegiatan sehari-hari pasien hanya terbatas di tempat tidur. Kebutuhan
sehari-hari

(nutrisi,

eliminasi,

personal

higiene)

dibantu

oleh

perawat/tim kesehatan. Pola tidur pasien selama di rumah sakit 8-10


jam/hari. Pasien nampak berperilaku hati-hati atau melindungi dalam
setiap pergerakan.
Pola kebersihan diri.
1. Kebersihan kulit
Keadaan kulit bersih, mandi dengan dilap diatas tempat tidur,
dengan dibantu Perawat. Kebersihan kulit cukup.
2. Rambut
Rambut bersih, biasa mencuci rambut 2 hari sekali, selama di
rumah sakit pasien belum pernah mencuci rambut,kulit kepala
bersih tidak berketombe, rambut tidak mudah rontok

3. Telinga
Keadaan telinga bersih, tidak ada sekret atau cairan yang keluar
dari telinga. Kebersihan telinga cukup, pasien tidak mengalami
gangguan pendengaran.
4. Mata

Kebersihan mata cukup, mata tidak merah, pasien tidak


menggunakan alat bantu penglihatan, (kaca mata).
5. Mulut.
Keadaan mulut bersih , keadaan gigi bersih, pasien biasa
menggosok gigi 2 kali sehari menggunakan pasta gigi dengan
dibantu perawat.
B. ASPEK MENTAL - INTELEKTUAL SOSIAL SPIRITUAL
1. Konsep Diri
a.

Gambaran diri
Pasien dapat menerima keadaan yang ada pada dirinya dan mau
menerima perawatan dan pengobatan yang diberikan.

b.

Ideal diri
Pasien ingin segera sembuh dan pulang ke rumah .

c.

Harga diri
Pasien mengatakan menyadari dengan keadaannya sekarang ini
sehingga membutuhkan dan memerlukan bantuan dari orang lain.

d.

Identitas diri
Tidak ada perubahan pada identitas diri pasien, pasien berperilaku
sebagaimana layaknya seorang perempuan.

e.

Peran diri

Selama sakit pasien lebih banyak tiduran di tempat tidur. Pasien


menyadari kalau saat ini tidak bisa menjalankan perannya karena
sedang sakit.
2. Intelektual
Pasien mengerti tentang kedaan sakitnya, pasien pernah mendapat
informasi tentang penyakitnya.
3. Hubungan Interpersonal
Hubungan antara pasien dengan tim kesehatan baik, hubungan pasien
dengan pasien lain baik, hubungan dengan lingkungan dirumah baik,
pasien ada yang menjenguk. Pasien mempercayakan perawatan dan
pengobatannya kepada perawat/tim kesehatan.
4. Spiritual
Pasien beragama Islam, pasien mengatakan selalu taat menjalankan ibadah
walaupun sedang sakit.
IV. PEMERIKSAAN FISIK.
A. Keadaan umum.
a. Kesadaran

: komposmentis

b. Tinggi badan

: tidak terkaji

c. Berat badan

: tidak terkaji

d. Tanda-tanda vital

Tekanan darah

: 110/60 mmHg

Suhu

: 37 C

Nadi

: 84 kali/menit

Respirasi

: 20 kali/menit

B. Pemeriksaan Fisik Secara Sistematik Chepalo Kaudal


1.

Kepala
Bentuk mesochepal, kulit kepala tidak berketombe, distribusi rambut
merata, tidak ada luka dikepala.
a.

Mata

bentuk simetris, sklera tak ikterik, konjungtiva tak


anemis, reflek
Fungsi

terhadap cahaya +/+, pupil isokor.

penglihatan

baik.

Pasien

masih

dapat

membaca tulisan pada jarak kurang lebih 30 cm.


b.

Telinga : simetris tak ada sekret/cairan dari telinga, fungsi


pendengaran baik.

c.

Hidung: simetris, fungsi penciuman baik, tidak ada sekret yang


keluar, tak ada polip, pendarahan hidung tidak ada.

d.

Mulut dan tenggorokan : kemampuan bicara baik, mukosa bibir


agak

kering,

keadaan

gigi

bersih,

tak

ada

stomatitis,kebersihan mulut cukup, banyak gigi yang


tanggal terutama gigi geraham. Tak ada pengeluaran
dari mulut (sputum).

2.

Leher: Simetris, terpasang collar neck, tidak terdapat pembesaran


kelenjar tyroid, terdapat nyeri tekan pada leher
sebelah kanan dan saat digerakkan.

3. Dada
Inspeksi

: bentuk simetris, tak ada ketinggalan gerak, jenis


pernafasan dada dan perut,

Palpasi

: simetris tak ada nyeri tekan.

Perkusi

: suara paru sonor, jantung redup.

Auskultasi

: suara paru vesikuler, tak ada suara tambahan,


tak ada weezing.

5.

Punggung: Simetris tak ada kelainan bentuk tulang pumggumg.

6.

Abdomen
Inspeksi

: bentuk simetris tak ada bekas luka.

Auskultasi

: terdengar peristaltik usus 15kali/menit.

Perkusi

: tympani.

Palpasi

: tak ada pembesaaran hepar dan lien, tak ada


massa.

7. Ektremitas
Pergerakan

bebas terbatas

bebas

Bebas

bebas terbatas

Atas : anggota gerak lengkap, simetris saat digerakkan, tonus otot


baik. Tangan kiri terpasang infus aminosteril 5% 10 tetes/menit
sejak tanggal 26 Juli 2003.
Bawah: Anggota gerak lengkap, terdapat fraktur plateau tibia sinistra
tertutup, terpasang spalk di daerah kaki kiri mulai 1/3 atas

femur sampai tibia, kaki kiri tampak bengkak pada bagian lutut,
tak terdapat nyeri tekan, pergerakan terbatas (kaki kiri)
C. Pemeriksaan sistemik.
1.

Sistem Syaraf
Tak ada kelainan sistem persyarafan (yang berhubungan dengan
fraktur).

2.

Jantung Dan Pembuluh Darah


Palpitasi tak ada, tak ada kelainan.

3.

Kelenjar Getah Bening


Tak ada pembesaran atau kelainan.

4.

Sistem Integumen
Tak ada luka, turgor kulit baik, tidak terdapat tanda-tanda dekubitus.

5.

Muskuloskeletal
Kekuatan otot

Tonus otot baik, gerakan sendi dan tangan baik.


6.

Endokrin
Tidak ada kelainan atau gangguan.

7.

Sistem Urogenital
Terpasang douwer catheter sejak tanggal 26 Juli 2003. Tidak ada
keluhan.

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium tanggal 26 Juli 2003

JENIS PEMERIKSAAN

HASIL

NILAI NORMAL

AL

20.840 mm

4000-11000 mm

Neutropil
Monosit
Lymphosit
Eosinophil
Basophil
AE
Hb
Hct
MCV
MCH
MCHC
PLT
Golongan Darah

17,34 %
0.89 %
2,46 %
0,12 %
0,03 %
5 juta
11,1 gr %
35,5 %
71 fl
22,2 pg
31,3 g/dl
567 mm
B

2,0-7,5 %
0,2-0,6 %
0,0-0,6 %
0,0-0,4%
0,0-0,1 %
3,8-5,8 juta
11,5-16,5 g/dl
37,0-47,0 %
76-96 fl
27,0-32,0 pg
30,0-35,0 g/dl
150-450 mm

b. Pemeriksaan Ro Dari RS Panti Nugroho


Fraktur corpus Vertebra servikalis II - III
Fraktur plateu tibia sinistra
c. Therapi :
Diit Bubur TKTP
Infus Aminosteril 10 tetes/menit
Pronalges 2 x 50 mg /hari
Cefriaxon 1 x 1 gram/hari

ANALISA DATA
DATA

PENYEBAB

MASALAH

S : Pasien mengeluh nyeri pada

Gerakan

fragmen Gangguan rasa

leher kanan (servikalis)

tulang dan cedera nyaman: nyeri

terutama jika digerakkan.

pada

O : Nyeri tekan daerah kanan

jaringan

lunak

leher sebelah kanan


terutama saat digerakkan.
Wajah pasien menunjukkan
ekspresi nyeri.
Skala nyeri (1-10)= 3
Pasien nampak berperilaku
hati-hati atau melindungi
dalam setiap pergerakan.
S

: 37 C

N : 84 kali/menit
RR : 20 kali/menit
T : 110/60 mmHg
S: Pasien mengatakan leher

Nyeri/ketidaknyam

bagian kanan terasa nyeri

anan

untuk bergerak.

restriktif

O: Terpasang Collar neck di


leher
Pergerakan BT
B

B
BT

Tonus otot 5

Terpasang spalk di daerah


kaki kiri mulai 1/3 atas
femur sampai tibia.

Kerusakan

therapi mobilitas fisik

S : Pasien mengatakan

keterbatasan gerak Defisit

menyadari dengan

sekunder terhadap perawatan diri

keadaannya sekarang ini

fraktur

sehingga membutuhkan dan


memerlukan bantuan dari
orang lain
O: Pemenuhan kebutuhan
sehari-hari pasien dibantu
perawat/tim kesehatan
(makan, BAB, gosok gigi)
S:-

Kehilangan

O: -

integritas

S:-

(fraktur)
Tindakan invasif

O: terpasang infus Aminosteril

Resiko tinggi
tulang terhadap trauma
(tambahan)
Resiko tinggi
infeksi

5 % ditangan kanan 10
tetes/menit sejak tanggal 26
Juli 2003.
Terpasang douwer catheter
sejak tanggal 26 juli 2003
S:O: pasien bedrest dengan
immobilisasi

Immobilisasi

Resiko tinggi
kerusakan
integritas kulit

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan gerakan fragmen tulang
dan cedera pada jaringan lunak ditandai dengan Pasien mengeluh nyeri pada
leher kanan (servikalis) terutama jika digerakkan.Nyeri tekan daerah kanan
leher sebelah kanan terutama saat digerakkan.Wajah pasien menunjukkan

ekspresi nyeri.Skala nyeri (1-10)= 3. Pasien nampak berperilaku hati-hati atau


melindungi dalam setiap pergerakan, S: 37 C, N: 84 kali/menit, RR: 20
kali/menit, T: 110/60 mmHg.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan therapi
restriktif ditandai dengan Terpasang collar neck di

daerah leher.Pasien

mengatakan leher bagian kanan terasa nyeri untuk bergerak. Pergerakan


ektremitas kanan atas bebas terbatas (kekuatan otot 5), kiri atas bebas
(kekuatan otot 5), kanan bawah bebas (kekuatan otot 5), kiri bawah terbatas
(kekuatan otot 4).Terpasang spalk di daerah kaki kiri mulai 1/3 atas femur
sampai tibia.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder
terhadap fraktur ditandai dengan Pasien mengatakan menyadari dengan
keadaannya sekarang ini sehingga membutuhkan dan memerlukan bantuan
dari orang lain. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien dibantu perawat/tim
kesehatan (makan, BAB, gosok gigi).
4. Resiko tinggi terhadap trauma (tambahan) berhubungan dengan Kehilangan
integritas tulang (fraktur).
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Tindakan invasif ditandai dengan
terpasang infus Aminosteril 5 % ditangan kanan 10 tetes/menit sejak tanggal
26 Juli 2003. Terpasang douwer catheter sejak tanggal 26 juli 2003.
6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Immobilisasi
ditandai dengan pasien bedrest dengan immobilisasi.

BAB IV
PEMBAHASAN.

Dalam pembahasan ini penulis berusaha mengupas masalah yang


ada hubungannya dengan kesenjangan antara teori dengan BAB III, dengan
kenyataan pada kasus yang sebenarnya. Pada kasus fraktur yang terjadi pada
Ny. P ini, fraktur yang terjadi adalah fraktur tertutup, karena tidak ada luka
yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit. Dan

merupakan fraktur kompresi karena disebabkan karena trauma axial-flexi


pada tulang spongiosa.
A.

Pembahasan Pengkajian.
Pengkajian merupakan pendekatan secara sistematis untuk
mengumpulkan data dan menganalisa sehingga dapat diketahui masalah
pasien. Pada pengkajian tentang biodata yang meliputi; nama, umur, jenis
kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, status
perkawinan, tanggal masuk Rumah Sakit, Penulis peroleh dari wawancara
langsung dengan pasien. Sedang untuk Nomer register dan diagnosa medis
Penulis bisa peroleh dari buku status pasien. Untuk riwayat kesehatan
pasien Ny. P Pasien mengeluh nyeri pada leher bagian kanan (servikalis) dan
kaki kiri sulit untuk digerakkan.Untuk pola kebiasaan pasien yang
menyangkut aspek mental-intelektual-spiritual, pasien tidak mengalami
gangguan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik,
kesadaran komposmentis, khusus pemeriksaan fsik pada leher terpasang collar
neck, terdapat fraktur plateau tibia sinistra tertutup, terpasang spalk di daerah
kaki kiri mulai 1/3 atas femur sampai tibia, kaki kiri tampak bengkak pada
bagian lutut, tak terdapat nyeri tekan, pergerakan terbatas (kaki kiri).
Pada pemeriksaan penunjang ditemukan adanya leukositosis
(AL:20.840mm).

B.

Pembahasan Diagnosa Keperawatan


Pada kasus Ny. P ditemukan enam diagnosa keperawatan, sedang
dari teori yang dipakai ada delapan diagnosa keperawatan pada kasus dengan
fraktur. Dalam kasus ini Penulis menemukan 5 diagnosa keperawatan yang
sesuai dengan teori (menurut Doenges at All, 1999) dan 1 yang tidak sesuai
dengan teori.
Lima diagnosa keperawatan pada kasus Ny. P yang sesuai dengan
teori adalah

Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan gerakan

fragmen tulang dan cedera pada jaringan lunak ditandai dengan Pasien
mengeluh nyeri pada leher kanan (servikalis) terutama jika digerakkan.Nyeri
tekan daerah kanan leher sebelah kanan terutama saat digerakkan.Wajah
pasien menunjukkan ekspresi nyeri.Skala nyeri (1-10)= 3. Pasien nampak
berperilaku hati-hati atau melindungi dalam setiap pergerakan, S: 37 C, N: 84
kali/menit, RR: 20 kali/menit, T: 110/60 mmHg; Kerusakan mobilitas fisik
berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan therapi restriktif ditandai dengan
Terpasang collar neck di daerah leher.Pasien mengatakan leher bagian kanan
terasa nyeri untuk bergerak. Pergerakan ektremitas kanan atas bebas terbatas
(kekuatan otot 5), kiri atas bebas (kekuatan otot 5), kanan bawah bebas
(kekuatan otot 5), kiri bawah terbatas (kekuatan otot 4).Terpasang spalk di
daerah kaki kiri mulai 1/3 atas femur sampai tibia; Resiko tinggi terhadap
trauma (tambahan) berhubungan dengan Kehilangan integritas tulang
(fraktur); Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Tindakan invasif ditandai
dengan terpasang infus Aminosteril 5 % ditangan kanan 10 tetes/menit sejak

tanggal 26 Juli 2003. Terpasang douwer catheter sejak tanggal 26 juli 2003;
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Immobilisasi
ditandai dengan pasien bedrest dengan immobilisasi.
Adapun satu diagnosa keperawaatan yang tidak ada dalam teori tetapi
penulis temukan dalam pengkajian adalah;

Defisit perawatan diri

berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder terhadap fraktur ditandai


dengan Pasien mengatakan menyadari dengan keadaannya sekarang ini
sehingga membutuhkan dan memerlukan bantuan dari orang lain. Pemenuhan
kebutuhan sehari-hari pasien dibantu perawat/tim kesehatan (makan, BAB,
gosok gigi).
Diagnosa keperawatan yang ada dalam teori tetapi tidak ditemukan
dalam pengkajian adalah; Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler
berhubungan dengan penurunan atau interupsi aliran darah; cedera vaskuler
langsung, edema berlebihan, pembentukan trombus, hipovolemia, Penulis
tidak mengangkat masalah tersebut karena dalam pengkajian tidak ditemukan
tanda-tanda yang mengarah pada masalah.
Pada diagnosa Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang
kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang
terpajan atau mengingat, salah interpretasi informasi atau tidak mengenal
sumber informasi, penulis tidak mengangkat masalah ini karena karena pasien
sudah mengerti tentang keadaan penyakitnya, pasien sudah pernah
mendapatkan informasi tentang keadaan penyakitnya.
A. Pembahasan Perencanaan.

Setelah menentukan masalah dan diagnosa keperawatan ,


Penulis menentukan tujuan keperawatan yang hendak dicapai dan rencana
tindakan yang hendak dilakukan untuk mengurangi masalah dan peningkatan
kesehatan pasien.
1. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan gerakan fragmen
tulang dan cedera pada jaringan lunak
Tujuan diarahkan agar:

nyeri berkurang atau hilang

Pasien tidak mengeluh nyeri

Wajah tidak menunjukkan ekspresi nyeri

Skala nyeri berkurang

Intervensi
-

Kaji tingkat nyeri, lokasi, tipe dan intensitas nyeri yang dirasakan.

mempertahankan imobilisasi bagian yang nyeri dengan tirah baring,


pembebatan dan traksi

Evaluasi keluhan nyeri atau ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan


karakteristik

Perhatikan petunjuk nyeri nonverbal (perubahan pada tanda vital dan


emosi atau perilaku)

Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan


cidera.

Jelaskan prosedur sebelum memulai tindakan.

Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif/aktif.

Berikan alternatif tindakan kenyamanan, contoh; pijatan punggung


dan perubahan posisi.

Dorong menggunakan tehnik manajemen stres, contoh relaksasi


progresif, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
teapeutik.

Identifikasi aktivitas terapeutik yang tepat untuk usia pasien,


kemampuan fisik dan penampilanpribadi.

Selidiki adanya keluhan nyeri yang tak biasa, tiba-tiba atau dalam,
lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik.

Kolaborasi pemberian analgetik.

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan


therapi restriktif
Tujuan:

pasien bisa mempertahankan atau meningkatkan mobilitas pada


tingkat paling tinggi yang mungkin

Pasien bisa mempertahankan posisi fungsional.

Meningkatkan kemampuan atau fungsi yang sakit


Intervensi:

Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cidera atau pengobatan


dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.

Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada


ekstrimitas yang sakit dan tidak sakit sesuai indikasi.

Awasi tekanan darah dan perhatikan keluhan pusing.

Auskultasi bising usus.

Awasi kebiasaan eliminasi dan berikan

keteraturan defekasi rutin.


-

Berikaan diit tinggi protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.


Pertahankan penurunan kandungan protein sampai setelah defikasi
pertama.

Kolaborasi:
Konsul dengan ahli terapi fisik atau okupasi dan atau rehabilitasi
sepesialis

3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder


terhadap fraktur
Tujuan:

pasien dapat berpartisipasi dalam perawatan diri pada tingkat yang


lebih tinggi dengan mempertimbangkan status dan keadaan pasien.

Pasien dapat ikut serta dalam perawatan diri sampai tingkat optimal.

Intervensi:
-

kaji tingkat ketergantungan.

Bantu dan dorong perawatan diri atau kebersihan.

Bekerjasama dengan klien untuk memprioritakan tugas-tugas merawat


diri.

Dorong klien untuk berpartisipasi dalam melakukan tugas-tugas


perawatan diri dengan prioritas tertinggi untuk kemungkinan luas
yang paling penuh

Beri jarak antar aktifitas untuk memastikan periode istirahat yang


adekuat.

Evaluasi kemampuan dalam perawatan diri.

Pertahankan cairan parenteral dengan elektrolit sampai masukan oral


mencukupi bagi pasien.

7. Resiko tinggi terhadap trauma (tambahan) berhubungan dengan Kehilangan


integritas tulang (fraktur).
Tujuan:

Stabilisasi dan posisi fraktur dapat dipertahankan

Menunjukkan pembentukan kallus atau mulai menyatunya fraktur


dengan tepat.

Intervensi:
-

Pertahankan tirah baring atau ekstremitas sesuai indikasi.

Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir,
pembebat, papan kaki.

Evaluasi pembebat ekstrimitas terhadap resolusi oedem.

Kolaborasi:

Kaji ulang foto atau evaluasi.

8. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Tindakan invasif


Tujuan:

Tidak

terdapat

tanda-tanda

infeksi:

rubor,functiolaesa.

Angka laboratorium dalam batas normal :

kalor,

dolor,

tumor,

AL : 4000-11000 mm
Intervensi:
-

Kaji tanda-tanda terjadinya infeksi

Monitoring tetesan infus dan daerah pemasangan infus.

Monitoring pemasangan douwer cateter (aliran, volume, warna).

Lakukan perawatan infus (ganti setelah 3x24 jam)

Lakukan perawatan pemasangan douwer cateter.

Pantau hasil pemeriksaan laboratorium : AL

Kolaborasi pemberian antibiotik.

9. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Immobilisasi


Tujuan;

Tidak terjadi perlukaan pada daerah kulit

Menunjukkan perilaku atau tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit.

Intervensi:
-

Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan,


perubahan warna, kelabu, memutih.

Masase kulit dan penonjolan tulang, pertahankan tempat tidur kering


dan bebas kerutan.

Ubah posisi tiap 2 jam.

Instruksikan pasien untuk menghindari memasukkan objek kedalam


spalk/pembebat.

Letakkan bantalan pelindung dibawah kaki dan diatas tonjolan tulang.

Palpasi jaringan yang diplester tiap hari dan catat adanya nyeri tekan
atau nyeri.

Kolaborasi

Buat gips dengan katup tunggal, katup ganda atau jendela sesuai
protokol.

B. Pembahasan Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan penerapan dari rencana tindakan keperawatan
yang telah ditetapkan sebelumnya agar kebutuhan pasien terpenuhi secara
optimal. Dalam pelaksanaan, Penulis sudah melaksanakan sesuai dengan
perencanaan.
Faktor yang mendukung terlaksananya tindakan keperawatan selama
Penulis melakukan asuhan keperawatan adalah adanya kerjasama antara
Penulis, perawat bangsal, dan pasien. Selain itu juga kebebasan yang
diberikan oleh pihak pasien serta banyaknya masukan dan bimbingan yang
telah

diberikan

oleh

berbagai

pihak

selama

melaksanakan

asuhan

keperawatan.

C. Pembahasan Evaluasi
Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan dari rencana keperawatan
dalam melaksanakan tindakan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan
pasien. Evaluasi yang dibuat oleh Penulis adalah evaluasi proses dan evaluasi
hasil. Evaluasi proses dibuat untuk mengetahui keberhasilan tindakan yang
dilaksanakan oleh perawat terhadap pasien, sedang evaluasi hasil merupakan

evaluasi keadaan pasien sebagai respon terhadap tindakan yang telah


dilaksanakan selama asuhan keperawatan.
Pada diagnosa keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri, masalah
dapat teratasi sebagian dengan pasien masih mengeluh nyeri pada leher kanan
(servikalis) terutama jika digerakkan. Pada diagnosa keperawatan Kerusakan
mobilitas fisikmasalah dapat teratasi sebagian karena pasien Pasien
mengatakan leher bagian kanan terasa nyeri, dan masih dalam terapi
imobilisasi, tetapi pasien mengatakan nyeri hanya saat ada pergerakan;
Diagnosa Defisit perawatan diri, masalah teratasi sebagian karena masih dalam
terapi imobilisasi, Pasien mengatakan menyadari dengan keadaannya sekarang
ini sehingga membutuhkan dan memerlukan bantuan dari orang lain.
Pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien dibantu perawat/tim kesehatan
(makan, BAB, gosok gigi). Tetapi pasien mau berperan aktif dalam perawatan
diri sesuai kemampuan; Diagnosa Resiko tinggi terhadap trauma (tambahan),
masalah teratasi sebagian karena pasien masih mengalami Kehilangan
integritas tulang (fraktur) tetapi tidak ditemukan adanya trauma tambahan pada
pasien; Untuk diagnosa keperawatan Resiko tinggi infeksi infeksi tidak terjadi
karena pada pasien tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi; dan untuk
diagnosa Resiko tinggi kerusakan integritas kulit masalah teratasi sebagian
karena pasien tidak menunjukkan adanya gangguan intregritas kulit tetapi
pasien masih dalam terapi imobilisasi (bedrest)

D.

Pembahasan Pendokumentasian

Selama melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny.P mulai dari proses


pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi,
Penulis mendokumentasikan dalam lembar asuhan keperawatan yang ada
dalam status pasien Ny.P terutama yang dilaksanakan oleh Penulis sendiri.
Penulis mendokumentasikan asuhan keperawatan dimaksudkan untuk
meneruskan perencanaan dan pelaksanaan dari masalah pasien yang belum
teratasi, juga sebagai alat komunikasi tertulis dari Penulis dan anggota
perawatan

atau

tim

kesehatan

yang

lain,

serta

sebagai

alat

pertanggungjawaban dan pertanggungugatan asuhan keperawatan yang


diberikan terhadap pasien.
Penulis

mendokumentasikan

asuhan

keperawatan

ini

tanpa

mengesampingkan dari prinsip-prinsip pendokumentasian sesuai dengan teori


yang ada.
Pembahasan Faktor Pendukung Dan Faktor Penghambat
Dalam proses pelaksanaan asuhan kepaerawatan pada pasien Ny.P, dari
mulai pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan sampai
evaluasi, Penulis mendokumentasikan dalam lembar asuhan keperawatan.
Penulis menemukan adanya faktor- faktor yang menjadi pendukung dan
penghambat dalam proses keperawatan. Baik yang berasal dari pasien
maupun dari pihak tim kesehatan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah;
Faktor pendukung:
Adanya kerjasama yang baik antara Penulis dan pasien (pasien kooperatif)

Adanya kerjasama yang baik antara Penulis dan Dari pihak team kesehatan
Adanya kerja sama yang baik antara pasien dan team kesehatan,
Faktor penghambat;
Kurangnya sisitem suport dari keluarga pasien karena tidak adanya keluarga.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Setelah memberikan asuhan keperawatan selama 3 hari dari tanggal 28


Juli 30 Juli 2003, Penulis mendapatkan gambaran nyata dalam
melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Fraktur Vertebra
Servikalis dan Fraktur Plateau Tibia Sinistra yang meliputi pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan, evaluasi dan
dokumentasi asuhan keperawatan.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulkan informasi/ data tentang pasien, agar dapat
mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan
keperawatan pasien baik fisik, mental, sosial dan lingkungan. Pada studi
kasus ini data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik,
studi kepustakaan, studi dokumentasi. Dari data pengkajian secara garis
besar didapatkan data yang muncul sudah sesuai dengan landasan teori
tetapi tidak semua muncul pada pasien. Data diatas penulis dapatkan atas
kerjasama yang baik antara penulis, perawat bangsal, dokter, pasien,
keluarga pasien, dan tim kesehatan lain.

2. Diagnosa Keperawatan
Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan
aplikasi data yang diproses melalui pengkajian data. Pada kasus ini
diagnosa yang sesuai dengan teori adalah Lima diagnosa keperawatan

pada kasus Ny. P yang sesuai dengan teori adalah Gangguan rasa nyaman:
nyeri berhubungan dengan gerakan fragmen tulang dan cedera pada
jaringan

lunak,

kerusakan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan

nyeri/ketidaknyamanan therapi restriktif , resiko tinggi terhadap trauma


(tambahan) berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur),
resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tindakan invasif dan resiko
tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan mmobilisasi.
Dan yang tidak sesuai dengan teori yang penulis temukan adalah
defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak sekunder
terhadap fraktur. Hal ini disebabkn karena reaksi individu terhadap
penyakit yang sama akan berbeda tergantung dari daya tahan tubuh dan
psikologis seseorang dalam menghadapi rangsangan dari setiap individu
terhadap penyakit yang sama.
3. Perencanaan
Rencana asuhan keperawatan adalah adalah pengkajian yang
sistematis dan identifikasi masalah, penentuan tujuan dan pelaksanaan serta
cara atau strategi. Pada studi kasus ini rencana perawatan yang dibuat
disesuaikan dengan acuan teori dan modifikasi rencana tindakan karena
keterbatasan sarana dan prasarana, akan tetapi tetap berdasarkan pada suatu
pencapaian tujuan. Untuk merumuskan tujuan, tindakan, dan rasionalisasi
selain disesuaikan dengan acuan teori juga diambilkan dari literatur yang
tidak tercantum dalam tinjauan pustaka tetapi tetap mendukung pencapaian
hasil.

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Dalam
pelaksanaan secara umum sudah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan
tindakan yang telah direncanakan. Sedang apabila ada yang belum
dilaksanakan, disebabkan karena keterbatasan waktu.
5. Evaluasi / Penilaian
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis
dan terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah
ditetapkan, dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan pasien
dan tenaga kesehatan lainnya. Evaluasi keperawatan yang dilakukan
meliputi evaluasi hasil dan evaluasi proses. Asuhan keperawatan yang
dilakukan pada padsien ini dikatakan cukup berhasil, karena dari enam
diagnosa yang muncul empat diagnosa keperawatan yang tercapai dan dua
diagnosa keperawatan yang tercapai sebagian.
B. SARAN
Berdasarkan pengalaman nyata penulis dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien dengan fraktur vertebra servikal dan fraktur plateau
tibia sinistra maka penulis memandang perlu untuk menyampaikan saran:
1. perlu mempertahankan jalinan kerja sama antara perawat, team kesehatan
lain, dan pasien yang terbukti sangat efektif dalam proses pengelolaan
pasien

2. Hendaknya lebih melibatkan keluarga pasien dalam proses keperawatan,


dengan memberikan pendidikan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L.J, (1997), Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Perawatan, EGC,


Jakarta.
Doenges (1999), Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan
Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ,EGC, Jakarta.
Effendi Nasrul, (1995), Pengantar Profesi Keperawatan, EGC, Jakarta
Engram .B, Rencana Asuhan Kperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Gibson, (1995), Anatomi Dan Fisiologi Modern Untuk Perawat, Edisi Kedua,
EGC, Jakarta.
Handerson M.A, (1993), Ilmu Bedah Untuk Perawat, Yayasan Essentia Medika,
Yogyakarta.
Jong, (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.
Mansjoer. A, dkk, (2001) Kapita Selekta Kedokteran Jilid II, Edisi Ketiga,
Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
Priharjo Robert, (1996), Pengkajian Fisik Keperawatan, EGC, Jakarta.
Price (1995), Patofisiologi Konsep-Konsep Klinis Proses Penyakit, Edisi Kelima,
EGC, Jakarta.
Tucker (1998), Standar Perawatan Pasien, Proses Keperawatan,Diagnosis Dan
Evaluasi, Edisi Kelima, EGC, Jakarta.