Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPSUS
JANUARI 2016

FURUNKEL & FURUNKULOSIS

OLEH
AAN SUCITRA
10542 0256 11

DIBAWAKAN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS KEPANITRAAN


KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan, bahwa:


Nama

: Aan Sucitra

NIM

: 10542 0256 11

Judul Laporan Kasus : Furunkel dan Furunkulosis

Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka Kepanitraan Klinik di


Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 02 Februari 2016

Pembimbing,

(dr. H. A. Amal Alamsyah Makmur, Sp.KK)

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum WR.WB


Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga laporan kasus dengan
judul FURUNKEL dan FURUNKULOSIS ini dapat diselesaikan. Salam dan
shalawat senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang pembelajar
sejati yang memberikan pedoman hidup yang sesungguhnya.
Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr. H. A. Amal
Alamsyah Makmur, Sp.KK yang telah memberikan petunjuk, pengarahan dan
nasehat yang sangat berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya
laporan kasus ini.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan dalam penyusunan laporan kasus ini, baik dari isi maupun
penulisannya. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis
harapkan demi penyempurnaan laporan kasus ini.
Demikian, Semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi pembaca secara
umum dan penulis secara khususnya.
Billahi Fi Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat
Wassalamu Alaikum WR.WB.
Makassar, Januari 2016
Penulis

DAFTAR ISI

Lembar Judul

................................................................................... i

Lembar Pengesahan

....................................................................... ii

KATA PENGANTAR

....................................................................... iii

DAFTAR ISI

.................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN
BAB II LAPORAN KASUS

.................................................................... 1
........................................................... 5

BAB III PEMBAHASAN

....................................................................... 12

BAB IV PENUTUP

....................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA
Lampiran

BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi kulit bakterial merupakan masalah kesehatan masyarakat,
dimana infeksi bakterial pada kulit yang paling sering ditemui adalah pioderma.
Angka kesakitan pioderma masih cukup tinggi jumlahnya. Data menunjukkan
jumlah kunjungan pasien ke poliklinik Divisi Dermatologi Anak Departemen
Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin (IKKK) Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia / RS Dr Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) selama tahun 2001
menunjukkan pasien pioderma anak sebesar 362 kasus (18,53%) dari 2190
kunjungan baru. Penyakit ini menempati urutan ke-2 setelah dermatitis atopik.
Pada tahun 2002 terdapat 328 kasus (16,72%) dari 1962 kunjungan baru.1
Furunkel merupakan salah satu bentuk dari pioderma yang sering
dijumpai, dan penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosialekonomi. Furunkel ialah suatu infeksi nekrotik akut folikel rambut yang dalam
dan jaringan sekitarnya yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Furunkel
yang lebih dari satu disebut furunkulosis. Karbunkel adalah gabungan dari
beberapa furunkel.2,3,4,5,8
Furunkel dapat mengenai semua umur, frekuensi wanita sama dengan pria.
Furunkel sering pada bagian tubuh yang berambut dan mudah terkena iritasi,
gesekan atau tekanan, atau pada daerah yang lembab seperti ketiak, bokong,
punggung, leher dan wajah. Efloresensinya mula-mula berupa makula eritematosa
lentikular-numular setempat, kemudian menjadi nodula lentikular-numular
berbentuk kerucut.6,7

Gejala pada permulaan penderita merasa gatal, lesi menjadi nyeri bila
ditekan atau diusap. Selama proses supurasi, lesi terasa sakit sekali. Lesi yang
terdapat di saluran telinga luar dan hidung terasa sakit sekali. Gejala sistemik
biasanya jarang dan kalau ada ringan.7
Tanda-tandanya timbul peradangan folikuler kecil dan merah yang cepat
bertambah besar dan membentuk suatu benjolan berbentuk kerucut dan teraba
keras dan dikelilingi oleh halo merah (nodul eritematosa). Kemudian pada tempat
rambut keluar tampak bintik-bintik putih sebagai mata bisul. Nodus tadi akan
melunak (supurasi) menjadi abses yang akan memecah melalui lokus minoris
resistensie yaitu muara folikel, rambut menjadi rontok/terlepas. Jaringan nekrotik
keluar sebagai pus dan terbentuk fistel.2,6,7
Patogenesis terjadinya furunkel: Kulit memiliki flora normal, salah
satunya S.aureus yang merupakan flora residen pada permukaan kulit dan kadangkadang pada tenggorokan dan saluran hidung. Bakteri tersebut masuk melalui
luka, goresan, robekan dan iritasi pada kulit. Selanjutnya, bakteri tersebut
berkolonisasi di jaringan kulit. Respon primer host terhadap infeksi S.aureus
adalah pengerahan sel PMN ke tempat masuk kuman tersebut untuk melawan
infeksi yang terjadi. Sel PMN ini ditarik ke tempat infeksi oleh komponen bakteri
seperti formylated peptides atau peptidoglikan dan sitokin TNF (tumor necrosis
factor) dan interleukin (IL) 1 dan 6 yang dikeluarkan oleh sel endotel dan
makrofag yang teraktivasi. Hal tersebut menimbulkan inflamasi dan pada
akhirnya membentuk pus yang terdiri dari sel darah putih, bakteri dan sel kulit
yang mati.8

Diagnosis bandingnya adalah pada furunkel dan furunkulosis kelainan


berupa nodus eritematosa berbentuk kerucut, di tengah terdapat pustul. Kemudian
melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik, lalu memecah
membentuk fistel. Pada folikulitis, kelainan berupa papul atau pustul folikuler
kecil, eritematosa dan berbentuk kubah, sering ditembus oleh rambut halus.
Krusta tipis dapat menutupi muara folikel yang menyembul. Hidraadenitis
supurativa, ruam berupa nodul dengan kelima tanda radang akut seperti benjolan
merah menyerupai jerawat, kemudian dapat melunak menjadi abses dan memecah
membentuk fistel dan mengenai kelnjar apokrin. Sedangkan pada Ektima, gejala
klinis yang tampak adalah terdapat krusta tebal berwarna kuning. krusta diangkat
ternyata lekat dan tampak ulkus yang dangkal.2,9

Hidraadenitis supurativa

folikulitis

Ektima

Penatalaksanaan: pengobatan furunkel tergantung kepada lokasi dan


kematangan lesi. Lesi permulaan yang belum berfluaktuasi dan belum bermata
dikompres panas dan diberi antibiotik oral. Kompres panas akan memperkecil
ukuran lesi dan mempercepat peyerapan. Antibiotik yang tepat adalah penisilin
yang resisten terhadap penisilinase seperti kloksasilin, dikloksasilin atau
floksasilin dan sefalosporin generasi pertama, dalam dosis terbagi tiga sampai
empat. Erotromisin dapt dipakai pada pendderita yang alergik terhadap antibiotik
yang disukai, tapi bukan merupakan obat pilihan karena terjadinya resistensi
bakteri yang lebih banyak ditemukan pada galur mikroorganisme yang
menyebabkan furunkel.7
Jika sedikit cukup dengan antibiotik topikal. Jika banyak digabung dengan
antibiotik sistemik. Kalau berulang-ulang mendapat furunkulosis atau karbunkel,
cari faktor predisposisi, misalnya diabetes melitus.2

LAPORAN KASUS
KASUS 1
A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. RT

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 46 tahun

Pekerjaan

:-

Tanggal Periksa

: 14 Januari 2016

Alamat

: Makassar

B. Identitas Pasien
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada pasien pada tanggal 14
Januari 2016 di Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov. Sul-Sel.
1. Keluhan Utama
Benjolan berisi nanah di kaki kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang laki-laki 46 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD
Prov. Sul-Sel dengan keluhan benjolan di kaki sejak 2 minggu yang
lalu. Awalnya benjolan tersebut hanya berupa bercak berwarna
kemerahan kemudian menonjol dan dalam beberapa hari berubah
warna agak putih berisi nanah. Menurut pasien benjolan tersebut tidak
gatal tapi terasa nyut-nyut dan nyeri. Selama munculnya keluhan,
pasien tidak pernah menggaruk maupun memencet benjolan. Riwayat
panas badan (demam) disangkal.

3. Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah menggunakan obat apapun untuk mengatasi
keluhannya ini.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien dikatakan baru pertama kali mengalami keluhan semacam ini.
Riwayat penyakit asthma, gizi buruk, kencing manis atau penyakit
kronis lain disangkal. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu
seperti telur atau daging disangkal. Riwayat penyakit Skizofrenia
Paranoid.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami
keluhan serupa, yaitu istri.
6. Riwayat Sosio-Ekonomi
Pasien mengaku keadaan hygiene pasien kurang baik
C. Pemeriksaan Fisik
Status Dermatologis:
Lokasi

: extremitas inferior dextra

Effloresensi

: Nodul eritematous, berbatas tegas, berbentuk kerucut,

soliter, dengan ukuran 0,5 cm dan tersusun secara unilateral. Di bagian


puncaknya terdapat pustul berwarna keputihan, dengan isi purulen. Kulit
disekitar lesi tampak eritema.

Gambar yang diambil saat pasien pertama kali datang periksa ke poli kulit
dan kelamin RSKD Prov. Sul-Sel

D. Diagnosis
Furunkel
E. Diagnosis banding
1. Folikulitis
2. Hidraadenitis
F. Penatalaksanaan
R/ Cefadroxil kaps 500 mg No. X
S 2 dd I
Fuson cr 5 g tube No. I
S u.e

G. Resume
Seorang laki-laki 46 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD
Prov. Sul-Sel dengan keluhan benjolan di kaki sejak 2 minggu yang
lalu. Awalnya benjolan tersebut berwarna kemerahan kemudian dalam
beberapa hari berubah warna agak putih berisi nanah. Menurut pasien
benjolan tersebut tidak gatal tapi terasa nyut-nyut dan nyeri. Selama
munculnya keluhan, pasien tidak pernah menggaruk maupun
memencet benjolan. Riwayat demam disangkal. Riwayat penyakit
asthma, gizi buruk, kencing manis atau penyakit kronis lain disangkal.
Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging
disangkal. Riwayat penyakit Skizofrenia Paranoid.

H. Prognosis
Dubius ad Bonam

KASUS 2:
A. Identitas Pasien
Nama

: Ny. VH

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 45 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Tanggal Periksa

: 14 Januari 2016

Alamat

: Makassar

B. Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada pasien pada tanggal 14
Januari 2016 di Poli Kuit dan Kelamin RSKD Prov. Sul-Sel.
1. Keluhan Utama
Luka-luka di kedua kaki
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang perempuan 45 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD
Prov. Sul-Sel dengan keluhan luka di kaki dan tangan sejak 1 minggu
yang lalu. Menurut pasien awalnya luka tersebut seperti benjolan kecil
berwarna kemerahan kemudian dalam beberapa hari berubah warna
menjadi agak keputihan berisi nanah lalu pecah. Jika pecah yang
keluar seperti nanah dan darah. Pasien mengaku luka tersebut tidak
gatal namun terasa nyut-nyut dan akan terasa nyeri bila diraba.
Pertama muncul di daerah tangan, kemudian muncul di beberapa
tempat di kaki kiri dan juga kaki kanan. Pasien tidak mengeluhkan
adanya demam.
3. Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah menggunakan obat apapun untuk mengatasi
keluhannya ini
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien dikatakan baru pertama kali mengalami keluhan semacam ini.
Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging
disangkal. Riwayat penyakit kencing manis (+)
5. Riwayat Penyakit Keluarga

Ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami


keluhan serupa, yaitu suami.
6. Riwayat Sosio Ekonomi
Pasien mengaku keadaan hygiene pasien kurang baik
C. Pemeriksaan Fisik
Status Dermatologis:
Lokasi

: extremitas superior dextra, extremitas inferior dextra dan


sistra

Effloresensi

: krusta, regional, dengan ukuran bervariasi

14/1/2016

11:15

Gambar yang diambil saat pasien pertama kali datang periksa ke poli kulit
dan kelamin RSKD Prov. Sul-Sel

D. Diagnosis
Furunkulosis

E. Diagnosis banding
1. Folikulitis
2. Hidraadenitis
3. Ektima
F. Penatalaksanaan
R/ Cefadroxil kaps 500 mg No. X
S 2 dd I
Fuson cr 5 g tube No. I
S u.e

G. Resume
Seorang perempuan 45 tahun datang ke Poli Kuit dan Kelamin RSKD
Prov. Sul-Sel dengan keluhan luka di kaki dan tangan sejak 1 minggu yang
lalu. Awalnya luka tersebut seperti benjolan kecil berwarna kemerahan
kemudian dalam beberapa hari berubah warna menjadi agak keputihan
berisi nanah lalu pecah. Jika pecah yang keluar seperti nanah dan darah.
Pasien mengatakan luka tersebut tidak gatal namun terasa nyut-nyut dan
akan terasa nyeri bila diraba. Pertama muncul di daerah tangan, kemudian
muncul di beberapa tempat di kaki. Pasien mengatakan belum melakukan
pengobatan sebelumnya, dan ada keluarga yang menderita hal yang sama
yaitu suami. Pasien menderita penyakit kencing manis (Diabetes Melitus).
Pasien mengaku keadaan hygiene pasien kurang baik.
H. Prognosis
Dubius ad Malam

BAB III
PEMBAHASAN
Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan temuan klinis dari hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien pada umumnya datang dengan keluhan
munculnya nodul pada kulit yang keras dan terasa nyeri bila disentuh. Awalnya
timbul peradangan folikuler kecil dan merah yang cepat bertambah besar dan
membentuk suatu benjolan berbentuk kerucut dan teraba keras dan dikelilingi oleh
halo merah (nodul eritematosa). Kemudian pada tempat rambut keluar tampak
bintik-bintik putih sebagai mata bisul. Nodus tadi akan melunak (supurasi)
menjadi abses yang akan memecah melalui lokus minoris resistensie yaitu muara
folikel, rambut menjadi rontok/terlepas. Jaringan nekrotik keluar sebagai pus dan
terbentuk fistel.2,6,7
Pada beberapa kasus sering dijumpai adanya kondisi-kondisi yang
memudahkan terjadinya penyakit ini atau memperberat manifestasi klinisnya.
Sejumlah faktor yang mempengaruhi timbulnya panyakit tersebut yaitu
1. Musim/iklim

: lebih sering pada musim panas, karena banyak berkeringat

2. Kebersihan/higine: kebersihan dan higine yang kurang


3. Lingkungan

: lingkungan yang kurang baik/bersih

4. Lain-lain

: Diabetes, obesitas, hiperhidrosis, emosional

Pada anamnesis juga perlu digali tentang higienitas pasien, status nutrisi,
riwayat penyakit kronis. Pertanyaan seputar faktor predisiposisi ini semakin
penting untuk ditanyakan pada kasus-kasus yang kronis dan berulang. Meskipun

demikian, harus diingat bahwa sebagian besar kasus furunkel timbul secara
spontan tanpa adanya faktor predisposisi lokal sebelumnya.
Pada KASUS 1:
Pada pasien laki-laki, berusia 46 tahun, didiagnosis dengan furunkel, setelah
mengeluh timbulnya nodul berisi pus yang terasa nyeri di kaki kanan. Diagnosis

ditegakkan berdasarkan temuan klinis yang didapat dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Pada anamnesis diketahui bahwa pasien laki-laki 46 tahun datang dengan
keluhan benjolan di kaki sejak 2 minggu yang lalu. Awalnya benjolan tersebut
berwarna kemerahan kemudian dalam beberapa hari berubah warna agak putih
berisi nanah. Menurut pasien benjolan tersebut tidak gatal tapi terasa nyut-nyut
dan nyeri. Selama munculnya keluhan, pasien tidak pernah menggaruk maupun
memencet benjolan.
Riwayat panas badan (-).Pasien mengatakan baru pertama kali mengalami
keluhan semacam ini. Riwayat penyakit asthma, gizi buruk, kencing manis atau
penyakit kronis lain disangkal. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti
telur atau daging disangkal. Ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang
mengalami keluhan serupa, yaitu istri. Tapi pasien lebih dulu terkena kemudian
istrinya.
Berdasarkan anamnesis tersebut, terdapat kesesuaian antara gejala klinis
yang dikeluhkan pasien dengan manifestasi klinis suatu furunkel. Pasien
mengeluhkan munculnya lesi kulit yang sesuai diskripsi furunkel, yang muncul
pada daerah kaki. Kemunculan lesi ini tidak disertai dengan adanya panas badan.

Hal ini sesuai dengan perjalanan klinis furunkel/furunkulosis yang pada umumnya
tidak disertai gejala konstitusi. Pada anamnesis juga tidak didapatkan faktor
predisposisi pada pasien ini. Pada sebagian besar kasus baru, lesi dapat timbul
secara spontan tanpa adanya faktor predisposisi lokal.
Pada pemeriksaan fisik dilakukan evaluasi terhadap lesi kulit, kemudian
ditentukan lokasi dan effloresensi lesi. Pada status dermatologi, ditemukan pada
daerah kaki adanya lesi kulit berupa nodul eritematous, berbatas tegas, berbentuk
kerucut, soliter, dengan ukuran 0,5 cm. Pada bagian puncaknya terdapat pustul
berwarna keputihan dengan isi purulen. Kulit disekitar lesi tampak eritema.
Effloresensi lesi pada kulit pasien sesuai dengan effloresensi suatu
furunkel, yang berupa nodul eritematous berbentuk kerucut, dimana pada bagian
tengahnya akan dijumpai adanya puncak (core) yang biasanya berupa pustul
(central necrotic). Karena jumlah lesi satu maka sesuai dengan furunkel. Jika lebih
dari satu maka, gambarannya sesuai dengan furunkulosis.
Pemeriksaan penunjang tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan pada
kasus-kasus dengan manifestasi klinis yang berat atau kasus-kasus rekuren.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dikerjakan, meliputi: pemeriksaan
gram, darah lengkap, pemeriksaan kultur dan tes sensitivitas. Pada pasien, tidak
dikerjakan pemeriksaan penunjang.
Pada pasien ini diberikan kombinasi antibiotik topikal dan sistemik berupa
Cefadroxil kaps 2 x 500 mg serta Fuson cr 5 g (asam fusidat 2%) dioleskan 2x
sehari pada lesi.

Pemberian terapi ini sudah sesuai dengan teori, dimana jika lesi kulit
sudah terbentuk pus perlu diberikan juga antibiotik sistemik, disamping antibiotik
topikal. Terapi diberikan untuk jangka waktu 5 hari, sesudah itu pasien dianjurkan
untuk kontrol kembali agar dapat dievaluasi respon pengobatannya.
Pada KASUS 2:
Pada pasien perempuan, berusia 45 tahun, didiagnosis dengan furunkulosis,
setelah mengeluh timbulnya luka-luka yang terasa nyeri di kaki dan tangan. Diagnosis

ditegakkan berdasarkan temuan klinis yang didapat dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
Pada anamnesis diketahui bahwa pasien perempuan 45 tahun datang
dengan keluhan luka di kaki dan tangan sejak 1 minggu yang lalu. Menurut pasien
awalnya luka tersebut seperti benjolan kecil berwarna kemerahan kemudian dalam
beberapa hari berubah warna menjadi agak keputihan berisi nanah lalu pecah. Jika
pecah yang keluar seperti nanah dan darah. Pasien mengaku luka tersebut tidak
gatal namun terasa nyut-nyut dan akan terasa nyeri bila diraba. Pertama muncul di
daerah tangan, kemudian muncul di beberapa tempat di kaki kiri dan juga kaki
kanan.
Riwayat panas badan (-). Pasien mengatakan baru pertama kali mengalami
keluhan semacam ini. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau
daging disangkal. Riwayat Kencing manis (+). Ada anggota keluarga pasien
dalam satu rumah yang mengalami keluhan serupa, yaitu suaminya. Sehingga
pasien merasa ditulari oleh suaminya.

Berdasarkan anamnesis tersebut, terdapat kesesuaian antara gejala klinis


yang dikeluhkan pasien dengan manifestasi klinis suatu furunkulosis. Pasien
mengeluhkan munculnya beberapa lesi kulit yang sesuai diskripsi furunkulosis,
yang muncul pada daerah kaki dan tangan. Kemunculan lesi ini tidak disertai
dengan adanya panas badan. Hal ini sesuai dengan perjalanan klinis
furunkel/furunkulosis yang pada umumnya tidak disertai gejala konstitusi. Pada
anamnesis juga didapatkan faktor predisposisi yaitu pasien menderita kencing
manis (DM). Pada pasien-pasien DM, infeksi kulit sering terjadi dengan keadaan
yang lebih berat dan risiko komplikasi yang lebih besar daripada orang tanpa DM.
Ada penelitian yang mengatakan bahwa pada pasien DM, terutama ketika dalam
keadaan hiperglikemia dan diabetik asidosis, kemotaksis, fagositosis dan
perlekatan dari leukosit terganggu. Penelitian lain menunjukkan bahwa
fungsi dari sel T kulit dan respon terhadap antigen menurun. Inilah yang
menyebabkan pada penderita DM, furunkel dapat muncul lebih dari satu atau
disebut dengan furunkulosis.10
Pada pasien ini diberikan kombinasi antibiotik topikal dan sistemik berupa
Cefadroxil kaps 2 x 500 mg serta Fuson cr 5 g (asam fusidat 2%) dioleskan 2x
sehari pada lesi.
Pemberian terapi ini sudah sesuai dengan teori, dimana jika lesi kulit
sudah terbentuk pus perlu diberikan juga antibiotik sistemik, disamping antibiotik
topikal. Terapi diberikan untuk jangka waktu 5 hari, sesudah itu pasien dianjurkan
untuk kontrol kembali agar dapat dievaluasi respon pengobatannya.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan:
1. Telah dilaporkan kasus 1: furunkel pada pasien laki-laki, berusia 46 tahun.
Diagnosis furunkel ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang digali dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Keluhan utama pasien berupa munculnya
nodul berisi nanah yang terasa nyeri pada daerah kaki kanan. Effloresensi
yang dijumpai sesuai dengan gambaran klinis furunkel. Pemeriksaan
penunjang tidak dikerjakan. Pasien diterapi dengan kombinasi antibiotik
topikal (krim fuson) serta antibiotik sistemik (cefadroxil kaps 2 x 500 mg)
selama 5 hari. Prognosis penyakit pasien baik. Terapi yang diberikan sudah
adekuat sehingga risiko berkembangnya infeksi bisa dikurangi. Pasien juga
tidak memiliki faktor predisposisi yang meningkatkan risiko rekurensi.

2. kasus 2: furunkulosis pada pasien perempuan, berusia 45 tahun. Diagnosis


furunkulosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang digali dari anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Keluhan utama pasien berupa adanya luka-luka di kaki
yang awalnya berupa nodul berisi nanah yang terasa nyeri lalu pecah dan
keluar nanah bercampur darah. Effloresensi yang dijumpai sesuai dengan
gambaran klinis furunkulosis. Pasien diterapi dengan kombinasi antibiotik
topikal (krim fuson) serta antibiotik sistemik (cefadroxil kaps 2 x 500 mg)
selama 5 hari. Terapi yang diberikan sudah adekuat sehingga risiko
berkembangnya infeksi bisa dikurangi. Pasien memiliki faktor predisposisi
(penyakit kencing manis) yang dapat meningkatkan risiko rekurensi.

3. Yang membedakan antara Kasus 1 dan Kasus 2 adalah pada kasus 2


ditemukan

adanya

faktor

predisposisi

meningkatkan rekurensi penyakit.

(Riwayat

DM)

yang

dapat

DAFTAR PUSTAKA
1. Sutisna I, Harlisa P, Zulaikhah S. Hubungan antara Hygiene Perorangan dan
Lingkungan

dengan

Kejadian

Pioderma.

Semarang,

2011.

p24

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=81416&val=4928.
Diakses 20 Januari 2016
2. Djuanda, A. Pioderma. Dalam: Menaldi S, Bramono K, Indriatma W, editors.
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi ketujuh. Jakarta: FK UI, 2015. Hal.
71-6
3. Graham-Brown, Robin. Lecture Notes Dermatologi, edisi kedelapan. Jakarta:
Erlangga, 2005. Hal. 20
4. Ibler K, Kromann C. Recurrent Furunculosis Challenges and Management:
a review. Denmark: Department of Dermatology, Roskilde Hospital,
Copenhagen University, 2014. p 59. http://www.dovepress.com. Diakses 21
Januari 2016
5. El-Gilany A, Fathy, H. Risk Factors of Reccurent Furunculosis. California,
2009. p 1 http://escholarship.org/uc/item/9ng6m0bn. Diakses 21 Januari 2016
6. Siregar, R. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Ed. 2. Jakarta: EGC, 2005.
Hal. 52-4
7. Harahap, Marwali. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates,2000. Hal. 52-3
8. Timothy G. Bacterial Infection. In: Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. 7th Edition. United States of America: The McGraw-Hill
Companies. 2008. p 1695-99
9. Kerdel F, Menter A, Micheletti R. Hidradenitis Suppurativa: Update on
Diagnosis and Treatment. 2014. p17

10. Soebroto C. Manifestasi Dermatologis pada Pasien Diabetes Melitus. Jakrta:


Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FK Unika Atma Jaya. 2011. p
175

http://ojs.atmajaya.ac.id/index.php/damianus/article/view/274/226.

Diakses 23 Januari 2016