Anda di halaman 1dari 1

DIALOG HUJAN

Dikala senja
Mentari terseret kembali pada peraduannya
Bias-bias cahaya kemerahan mulai ditelan kegelapan malam
Suara gemercik-gemercik air mulai terdengar menghantam bumi
Takkala ketidaksanggupan awan-awan menahan beratnya beban
Segerombolan manusia mulai berlari ke bawah kangkangan gedung nan angkuh
Raut-raut wajah berbeda seketika mencuat
Ada raut begitu sumringah
Menatap hujan layaknya anugerah di tengah keputus asaan menikmati kabut asap
Menatap hujan layaknya sebuah doa yang dikabulkan, akibat kecemburuan pada pemadu
kasih
Menatap hujan layaknya perintah untuk kembali ke sawah dan ke kebun
Menatap hujan layaknya takdir bagi dua sejoli tuk menikmati kesempatan memadu kasih
Ada raut dalam kenelangsaan
Menatap hujan layaknya kempesnya ban motor yang jadi penghalang tuk pulang
Menatap hujan layaknya iblis yang mencoba menghalang-halanginya tuk menghadap pada
Tuhannya
Menatap hujan layaknya terjebak dalam kemacetan, di teras rumah sang kekasih yang
bersolek setengah jam lalu tlah menunggu
Menatap hujan layaknya uji indera penciuman yang harus membedakan bermacam-macam
aroma
Namun raut wajahku tak seperti mereka
Sesekali sumringah
Sesekali nelangsa
Sesekali terpaku kosong
Hujan layaknya sebuah layar tancap
Dengan gelak tawa nan tak berbatas ia perlihatkan siapa aku
Ia pertontonkan drama hidupku
Drama hidup yang membuatku terpana

W.A.W
Padang, 6 Oktober 2015