Anda di halaman 1dari 30

"Sanitasi Permukiman"

(Pemukiman Yang Sehat dan Pemukiman Yang Tidak Sehat)

Dosen Pengampu
"Ani Hermilestari, S.Pd., M.Pd."
"Bambang Supraptono, S.K.M, M.Kes (Epid), M.P.H"

Di susun oleh
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Naufal joniarta
Norma yana
Ririn febrianti
Rizki yuning
Sriwulan de
Tri priyo utomo

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PONTIANAK


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D-III (B)
2015/2016

A. Sanitasi pemukiman yang sehat


Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan
terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia.
Menurut WHO rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung,
dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik
untuk kesehatan keluarga dan individu.
Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai faktor yang dapat
meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep tersebut melibatkan pendekatan
sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan berorientasi pada lokasi, bangunan,
kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah di lingkungan
sekitarnya.
Syarat-Syarat Rumah Sehat
Persyaratan kesehatan perumahan adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi
dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan dan
masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan. Persyaratan kesehatan perumahan
yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman serta persyaratan rumah
itu sendiri, sangat diperlukan karena pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar
terhadap peningkatan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyrakat.
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut keputusan
Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter sebagai
berikut:
1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran lahar,
tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa dan sebagainya.
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau bekas
tambang
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur
pendaratan penerbangan.
2. Kualitas Udara
Kualitas udara di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beradun dan
memenuhi syarat baik mutu lingkungan sebagai berikut:
a. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi
b. Debu dengan diameter kurang dari 10 g maksimum 150 g/m3
c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm
d. Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari
3. Kebisingan dan Getaran

a.
b.
4.
a.
b.
c.
d.

Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A


Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik
Kualitas Tanah di Daerah Perumahan dan Pemukiman
Kandungan timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1mg/kg

4. Prasarana dan Sarana Lingkungan


a.
b.
c.

d.
e.
f.
g.
h.

Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi
yang aman dari kecelakaan.
Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit
Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak
mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki dan
penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan
jalan tidak menyilaukan mata.
Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas yang memenuhi
persyaratan kesehatan
Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi syarat
kesehatan
Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja,
tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian dan lain sebagainya.
Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya
Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi
makanan yang dapat menimbulkan keracunan.

5. Vektor Penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%
6. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan
juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.
Parameter Penilaian Rumah Sehat
Lingkup penilaian rumah sehat dilakukan terhadap kelompok komponen rumah,
sarana sanitasi dan perilaku penghuni, sebagai berikut :
1.

Kelompok komponen rumah, meliputi :


Langit-langit
Dinding
Lantai

a.
b.
c.

d.
e.
f.
g.
h.
2.

Jendela kamar tidur


Jendela ruang keluarga dan ruang tamu
Ventilasi
Sarana pembuangan asap dapur
Pencahayaan
Kelompok sarana sanitasi, meliputi :
Sarana Air Bersih
Sarana Pembuangan Kotoran
Sarana Pembuangan Air Limbah
Sarana Pembuangan Sampah

a.
b.
c.
d.
3.

Kelompok Perilaku Penghuni


Membuka jendela kamar tidur
Membuka jendela ruang keluarga
Membersihkan rumah dan halaman
Membuang tinja bayi dan balita ke jamban
Membuang sampah pada tempat sampah

a.
b.
c.
d.
e.

B. Sanitasi pemukiman yang tidak sehat


Pengertian Penyakit merupakan suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi dan
atau morfologi suatu organ dan/atau jar tubu. Sedangkan pengertian Lingkungan adalah
segala sesuatu yg ada disekitarnya (benda hidup, mati, nyata, abstrak) serta suasana yg
terbentuk karena terjadi interaksi antara elemen-elemen di alam tersebu. Penyakit Berbasis
Lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi atau morfologi suatu
organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang
memiliki potensi penyakit.
penyakit akibat pemukiman yang tidak sehat :
1. Diare
diare adalah suatu penyakit yang biasanya ditandai dengan perut mulas,
meningkatnya frekuensi buang air besar, dan konsentrasi tinja yang encer. faktor penyebab
diare :
a. penyediaan air yang tidak memenuhi syarat
b. pembuangan kotoran tidak saniter
c. perilaku tidak higienis
2. ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Aku/ISPA dapat meliputi saluran pernapasan bagian
atas dan saluran pernapasan bagian bawah, merupakan infeksi saluran pernapasan yang

berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ
mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti :
sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru .
Secara sederhana penyakit ISPA mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Penyebab Penyakit :
a.

Bakteri streptococcus pneumonia (pneumococci)

b.

Hemophilus influenzae

c.

Asap dapur

d.

Sirkulasi udara yang tidak sehat


Sedangkan tempat berkembang biak saluran pernafasan, dengan cara penularan
melalui udara (aerogen) berupa kontak langsung melalui mulut penderita serta cara tidak
langsung melalui udara yang terkontaminasi dengan bakteri karena penderita batuk.
Cara Pencegahan : Cara efektif mencegah penyakit ISPA (berdasarkan faktor penyebab
penyakit), sebagai berikut :
a. Tingkat hunian rumah padat
b. Ventilasi rumah/dapur tidak memenuhi syarat
c. Perilaku
3. TUBERCULOSIS
Tuberculosis (TBC) adalah batuk berdahak lebih dari 3 minggu, dengan penyebab
penyakit adalah kuman / bakteri mikrobakterium tuberkulosis. Tempat berkembang biak
penyakit adalah di paru-paru.
Cara penularan penyakit melalui udara, dengan proses sebagai berikut :
a. Penderita TBC berbicara, meludah, batuk, dan bersin, maka kuman-kuman TBC yang
berada di paru-paru menyebar ke udara terhirup oleh orang lain.
b. Kuman TBC terhirup oleh orang lain yang berada di dekat penderita.
Cara Pencegahan :Cara efektif mencegah penyakit TBC (berdasarkan faktor penyebab
penyakit), sebagai berikut :
a. Tingkat hunian rumah padat
b. Ventilasi rumah/dapur tidak memenuhi syarat
c. Perilaku
4. DEMAM BERDARAH DENGUE
Penyebab Demam Berdarah Dengue adalah virus dengue yang ditularkan oleh
nyamuk aedes aegypti. Sedangkan tempat berkembang biak dapat didalam maupun diluar
rumah, terutama pada tempat-tempat yang dapat menampung air bersih seperti :

1. Di dalam rumah / diluar rumah untuk keperluan sehari-hari seperti ember, drum,
tempayan, tempat penampungan air bersih, bak mandi/WC/ dan lain-lain
2. Bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum burung, vas bunga,
perangkap semen, kaleng bekas yang berisi air bersih, dll
3. Alamiah seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa,
potongan bambu yang dapat menampung air hujan, dll
5. KECACINGAN
Penyakit kecacingan biasanya menyerang anak-anak dan disebabkan oleh Cacing
Gelang, Cacing Tambang dan Cacing Kremi.
Faktor penyebab kecacingan :
a. Penyediaan air yang tidak memenuhi syarat
b. Pembuangan kotoran tidak saniter
c. Perilaku tidak higienis
6. PENYAKIT KULIT
Penyakit kulit biasa dikenal dengan nama kudis, skabies, gudik, budugen.
Penyebab penyakit kulit ini adalah tungau atau sejenis kutu yang yang sangat kecil yang
bernama sorcoptes scabies. Tungau ini berkembang biak dengan cara menembus lapisan
tanduk kulit kita dan membuat terowongan di bawah kulit sambil bertelur.
Cara penularan penyakit ini dengan cara kontak langsung atau melalui peralatan seperti
baju, handuk, sprei, tikar, bantal, dan lain-lain. Sedangkan cara pencegahan penyakit ini
dengan cara antara lain :

Menjaga kebersihan diri, mandi dengan air bersih minimal 2 kali sehari dengan sabun,
serta hindari kebiasaan tukar menukar baju dan handuk

Menjaga kebersihan lingkungan, serta biasakan selalu membuka jendela agar sinar
matahari masuk.

7. KERACUNANA MAKANAN
Cara efektif mencegah Keracunan Makanan, berdasarkan faktor penyebab penyakit, sebagai
berikut :
Makanan rusak atau kadaluwarsa
1. Pilih bahan makanan yang baik dan utuh
2. Makanan yang sudah rusak/kadaluwarsa tidak dimakan

Pengolahan Makanan tidak Akurat


1. Memasak dengan matang dan panas yang cukup
2. Makan makanan dalam akeadaan panas/hangat
3. Panaskan makanan bila akan dimakan
Lingkungan tidak bersih / higienis
1. Tempat penyimpanan makanan matang dan mentah terpisah
2. Simpan makanan pada tempat yang tertutup
3. Kandang ternak jauh dari rumah
4. Tempat sampah tertutup
Perilaku tidak higienis
1. Cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makan
2. Cuci tangan pakai sabun sesudah BAB
3.

Bila sedang sakit jangan menjamah makanan atau pakailah tutup mulut.
8. PENYAKIT MALARIA
Cara efektif mencegah Penyakit Malaria, berdasarkan faktor penyebab penyakit, sebagai
berikut: Lingkungan rumah /ventilasi kurang baik
1. Memasang kawat kasa pada ventilasi /lubang penghawaan
2. Jauhkan kandang ternak dari rumah ayau membuat kandang kolektif
3. Buka jendela atau buka genting kaca agar terang dan tidak lembab
Lingkungan sekitar rumah tidak terawat
1. Sering membersihkan rumput / semak disekitar rumah dan tepi kolam
2. Genangan air dialirkan atau ditimbun

3. Memelihara tambak ikan dan membersihkan rumput

Daftar Pustaka

1. Anonym, 2009.penyakit berbasis lingkungan di unduh dari :


http://inspeksisanitasi.blogspot.com/2009/10/penyakit-berbasis-lingkungan.html
2. anonym, 2012.rumah sehat di unduh dari :
http://sherlidankesling.blogspot.com/2012/04/rumah-sehat.html
3. anonym, 5 pilar stbm di unduh dari :
https://gendhonzz.wordpress.com/5-pilar-stbm/
4. anonym, 2012. penyakit berbasis lingkungan
http://anjaswulan.blogspot.com/2012/02/penyakit-berbasis-lingkungan.html
5. anonym, 2014. kesling di unduh dari :
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-04.pdf
6. UU-No-1-Thn-2011-Perumahan-dan-Permukiman
http://dtkp.semarangkota.go.id/wp-content/uploads/2014/11/UU-No-1-Thn-2011-Perumahandan-Permukiman.pdf

Lampiran
A. Pemukiman sehat dan tidak sehat
HL Blum, seorang pakar yang selama ini selalu menjadi rujukan dan suhu kesehatan
masyarakat, melalui teorinya, berpendapat bahwa kesehatan lingkungan dan perilaku
manusia merupakan dua faktor dominan yang paling berpengaruh terhadap status kesehatan
masyarakat. Komponen perilaku dan komponen kesehatan lingkungan ini merupakan dua
faktor yang paling memungkinkan untuk diintervensi, sehingga telah menjadi kiblat berbagai
tindakan promotif dan preventif pada mayoritas masalah penyakit dan masalah kesehatan.
Berdasarkan berbagai data dan laporan, saat ini penyakit berbasis lingkungan masih
menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. ISPA dan diare yang merupakan
penyakit berbasis lingkungan selalu masuk dalam 10 besar penyakt di hampir seluruh
Puskesmas di Indonesia, selain Malaria, Demam Berdarah Dengue ( DBD ), Filariasis, TB
Paru, Cacingan, Penyakit Kulit, Keracunan dan Keluhan akibat Lingkungan Kerja yang
buruk.
Masih tingginya penyakit berbasis lingkungan antra lain Penyakit disebabkan oleh faktor
lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat yang masih rendah. Berdasarkan aspek
sanitasi tingginya angka penyakit berbasis lingkungan banyak disebabkan tidak terpenuhinya
kebutuhan air bersih masyarakat, pemanfaatan jamban yang masih rendah, tercemarnya
tanah, air, dan udara karena limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, sarana
transportaasi, serta kondisi lingkungan fisik yang memungkinkan
Pengertian Penyakit merupakan suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi dan /atau
morfologi suatu organ dan/atau jar tubu. Sedangkan pengertian Lingkungan adalah segala
sesuatu yg ada disekitarnya (benda hidup, mati, nyata, abstrak) serta suasana yg terbentuk
karena terjadi interaksi antara elemen-elemen di alam tersebu. Penyakit Berbasis Lingkungan
adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi atau morfologi suatu organ tubuh yang
disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi
penyakit.

Untuk dapat melakukan upaya pengendalian penyakit berbasis lingkungan, sangat


penting kita ketahui karakteristik penyakit dan patogenesis suatu penyakit. Berdasarkan alur
patogenesis tersebut, penyakit berbasis lingkungan dapat dijelaskan sebagai berikut
1. Diare
Diare adalah suatu penyakit yang biasanya ditandai dengan perut mulas,
meningkatnya frekuensi buang air besar, dan konsentrasi tinja yang encer. Tanda-tanda
Diare dapat bervariasi sesuai tingkat keparahannya serta tergantung pada jenis penyebab
diare. Ada beberapa penyebab diare. Beberapa di antaranya adalah Cyclospora
cayetanensis, total koliform (E. coli, E. aurescens, E. freundii, E. intermedia, Aerobacter
aerogenes), kolera, shigellosis, salmonellosis, yersiniosis, giardiasis, Enteritis
campylobacter, golongan virus dan patogen perut lainnya.
Penularannya bisa dengan jalan tinja mengontaminasi makanan secara langsung
ataupun tidak langsung (lewat lalat). Untuk beberapa jenis bakteri, utamanya EHEC
(Enterohaemorragic E. coli), ternak merupakan reservoir terpenting. Akan tetapi, secara
umum manusia dapat juga menjadi sumber penularan dari orang ke orang. Selain itu,
makanan juga dapat terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen akibat lingkungan yang
tidak sehat, di mana-mana ada mikroorganisme patogen, sehingga menjaga makanan kita
tetap berseih harus diutamakan.
Cara Penularan melalui :
a. Makanan yang terkontaminasi dengan bakteri E.Coli yang dibawa oleh lalat yang
hinggap pada tinja, karena buang air besar (BAB) tidak di jamban.
b. Air minum yang mengandung E. Coli yang tidak direbus sampai mendidih.
c. Air sungai yang tercemar bakteri E.coli karena orang diare buang air besar di sungai
digunakan untuk mencuci bahan makanan, peralatan dapur, sikat gigi, dan lain-lain.
d. Tangan yang terkontaminasi dengan bakteri E.coli (sesudah BAB tidak mencuci
tangan dengan sabun)
e. Makanan yang dihinggapi lalat pembawa bakteri E.Coli kemudian dimakan oleh
manusia.
Cara pencegahan penyakit diare yang disesuaikan dengan faktor penyebabnya adalah
sebagai berikut : Penyediaan air tidak memenuhi syarat
a. Gunakan air dari sumber terlindung
b.

Pelihara dan tutup sarana agar terhindar dari pencemaran

Pembuangan kotoran tidak saniter


1. Buang air besar di jamban
2. Buang tinja bayi di jamban
3. Apabila belum punya jamban harus membuatnya baik sendiri maupun berkelompok
dengan tetangga.
Perilaku tidak higienis
a.

Cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan

b.

Cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar

c.

Minum air putih yang sudah dimasak

d.

Menutup makanan dengan tudung saji

e.

Cuci alat makan dengan air bersih

f.

Jangan makan jajanan yang kurang bersih

g.

Bila yang diare bayi, cuci botol dan alat makan bayi dengan air panas/mendidih
Sedangkan intervensi pada faktor lingkungan dapat dilakukan antra lain melalui :

1.

Perbaikan sanitasi lingkungan dan pemberantasan vektor secara langsung.

2.

Perbaikan sanitasi dapat diharapkan mampu mengurangi tempat perindukan lalat.


Keberadaan lalat sangat berperan dalam penyebaran penyakit diare, karena lalat dapat
berperan sebagai reservoir. Lalat biasanya berkembang biak di tempat yang basah seperti
sampah basah, kotoran hewan, tumbuh-tumbuhan yang membusuk, dan permukaan air kotor
yang terbuka. Pada waktu hinggap, lalat mengeluarkan ludah dan tinja yang membentuk titik
hitam. tanda-tanda ini merupakan hal yang penting untuk mengenal tempat lalat istirahat.
Pada siang hari lalat tidak makan tetapi beristirahat di lantai dinding, langit-langit, rumputrumput, dan tempat yang sejuk. Juga menyukai tempat yang berdekatan dengan makanan dan
tempat berbiaknya, serta terlindung dari angin dan matahari yang terik. Di dalam rumah, lalat
istirahat pada pinggiran tempat makanan, kawat listik dan tidak aktif pada malam hari.
Tempat hinggap lalat biasanya pada ketinggian tidak lebih dari 5 (lima) meter.

Pemberantasan lalat dapat dilakukan dengan 3 cara, fisik (misalnya penggunaan air
curtain), kimia (dengan pestisida), dan biologi (sejenis semut kecil berwana hitam
Phiedoloqelon affinis untuk mengurangi populasi lalat rumah di tempat-tempat sampah).
Lingkungan yang tidak higienis akan mengundang lalat. Padahal lalat dapat memindahkan
mikroorganisme patogen dari tinja penderita ke makanan atau minuman.
2. ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Aku/ISPA dapat meliputi saluran pernapasan bagian
atas dan saluran pernapasan bagian bawah, merupakan infeksi saluran pernapasan yang
berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ
mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti :
sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru .
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk
pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Akan tetapi, anak yang
menderita pneumoni bila tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian. Di
Dinkes/Puskesmas, Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA
dalam 2 golongan, yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas
derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penumonia
disebabkan oleh bahaya biologis, yaitu Streptococcus pneumoniae.
Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis, dan penyakit jalan napas
bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar
penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik.
Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus
diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik.
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.
Sumber penyakit ini adalah manusia. Pneumococci umum ditemukan pada saluran
pernafasan bagian atas dari orang yang sehat di seluruh dunia. Sedangkan Agen
ditularkan ke manusia lewat udara melalui percikan ludah, kontak langsung lewat mulut
atau kontak tidak langsung melalui peralatan yang terkontaminasi discharge saluran
pernafasan. Biasanya penularan organisme terjadi dari orang ke orang, tetapi penularan
melalui kontak sesaat jarang terjadi.
Manusia yang berada dalam lingkungan yang kumuh dan lembab memiliki risiko
tinggi untuk tertular penyakit ini (intervensi dengan pemberian genting kaca dan ventilasi
padan rumah sering sangat efektif untuk mengatasi penyakit ini). Setelah terpajan agen,
penderita dapat sembuh atau sakit. Seperti yang diterangkan sebelumnya, untuk agen
virus penderita (misalnya flu) sebenarnya tidak perlu mendapatkan perlakuan khusus.
Cukup dijaga kondisi fisiknya. Penderita yang positif ISPA adalah mereka yang ditandai
dengan serangan mendadak dengan demam menggigil, nyeri pleural, dyspnea, tachypnea,
batuk produktif dengan dahak kemerahan serta lekositosis. Serangan ini biasanya tidak
begitu mendadak, khususnya pada orang tua dan hasil foto toraks mungkin memberi

gambaran awal adanya pneumonia. Pada bayi dan anak kecil, demam, muntah dan kejang
dapat merupakan gejala awal penyakit. Diagnosa etiologis secara dini sangat penting
untuk mengarahkan pemberian terapi spesifik. Diagnosa pneumoni pneumokokus dapat
diduga apabila ditemukannya diplococci gram positif pada sputum bersamaan dengan
ditemukannya lekosit polymorphonuclear. Diagnosa dapat dipastikan dengan isolasi
pneumococci dari spesimen darah atau sekret yang diambil dari saluran pernafasan
bagian bawah orang dewasa yang diperoleh dengan aspirasi percutaneous transtracheal.
Secara sederhana penyakit ISPA mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Penyebab Penyakit :
a.

Bakteri streptococcus pneumonia (pneumococci)

b.

Hemophilus influenzae

c.

Asap dapur

d.

Sirkulasi udara yang tidak sehat


Sedangkan tempat berkembang biak saluran pernafasan, dengan cara penularan
melalui udara (aerogen) berupa kontak langsung melalui mulut penderita serta cara tidak
langsung melalui udara yang terkontaminasi dengan bakteri karena penderita batuk.
Cara Pencegahan : Cara efektif mencegah penyakit ISPA (berdasarkan faktor penyebab
penyakit), sebagai berikut :
Tingkat hunian rumah padat
1. Satu kamar dihuni tidak lebih dari 2 orang atau sebaiknya luas kamar lebih atau sma
dengan 8m2/jiwa
2. Plesterisasi lantai rumah
Ventilasi rumah/dapur tidak memenuhi syarat
1. Memperbaiki lubang penghawaan / ventilasi
2. Selalu membuka pintu/jendela terutama pagi hari
3. Menambah ventilasi buatan
Perilaku
1. Tidak membawa anak/bayi saat memasak di dapur

2. Menutup mulut bila batuk


3. Membuang ludah pada tempatnya
4. Tidak menggunakan obat anti nyamuk bakar
5. Tidur sementara terpisah dari penderita
3. TUBERCULOSIS
Tuberculosis (TBC) adalah batuk berdahak lebih dari 3 minggu, dengan penyebab
penyakit adalah kuman / bakteri mikrobakterium tuberkulosis. Tempat berkembang biak
penyakit adalah di paru-paru.
Cara penularan penyakit melalui udara, dengan proses sebagai berikut :
c. Penderita TBC berbicara, meludah, batuk, dan bersin, maka kuman-kuman TBC yang
berada di paru-paru menyebar ke udara terhirup oleh orang lain.
d. Kuman TBC terhirup oleh orang lain yang berada di dekat penderita.
Cara Pencegahan :Cara efektif mencegah penyakit TBC (berdasarkan faktor penyebab
penyakit), sebagai berikut :
Tingkat hunian rumah padat
1. Satu kamar dihuni tidak lebih dari 2 orang atau sebaiknya luas kamar lebih atau sma
dengan 8m2/jiwa
2. Lantai rumah disemen
Ventilasi rumah/dapur tidak memenuhi syarat
1. Memperbaiki lubang penghawaan / ventilasi
2. Selalu membuka pintu/jendela terutama pagi hari
3. Menambah ventilasi buatan

Perilaku :
1. Menutup mulut bila batuk
2. Membuang ludah pada tempatnya

3. Jemur peralatan dapur


4. Jaga kebersihan diri
5. Istirahat yang cukup
6. Makan makan bergizi
7. Tidur terpisah dari penderita
4. DEMAM BERDARAH DENGUE
Penyebab Demam Berdarah Dengue adalah virus dengue yang ditularkan oleh
nyamuk aedes aegypti. Sedangkan tempat berkembang biak dapat didalam maupun diluar
rumah, terutama pada tempat-tempat yang dapat menampung air bersih seperti :
1. Di dalam rumah / diluar rumah untuk keperluan sehari-hari seperti ember, drum,
tempayan, tempat penampungan air bersih, bak mandi/WC/ dan lain-lain
2. Bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum burung, vas bunga,
perangkap semen, kaleng bekas yang berisi air bersih, dll
3. Alamiah seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa,
potongan bambu yang dapat menampung air hujan, dll
Cara penularan
1. Seseaorang yang dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan merupakan
sumber penyakit.
2. Bila digigit nyamuk virus terhisap masuk kedalam lambung nyamuk, berkembang
biak, masuk ke dalam kelenjar air liur nyamuk setelah satu minggu didalam tubuh
nyamuk, bila nyamuk menggigit orang sehat akan menularkan virus dengue.
3. Virus dengue tetap berada dalam tubuh nyamuk sehingga dapat menularkan kepada
orang lain, dan seterusnya.
Cara Pencegahan Cara efektif mencegah penyakit Demam Berdarah (berdasarkan faktor
penyebab penyakit), sebagai berikut : Lingkungan rumah / ventilasi kurang baik :
1. Menutup tempat penampungan air
2. Menguras bak mandi 1 minggu sekali

3. Memasang kawat kasa pada ventilasi dan lubang penghawaan


4. Membuka jendela dan pasang genting kaca agar terang dan tidak lembab
Lingkungan sekitar rumah tidak terawat
1. Seminggu sekali mengganti air tempat minum burung dan vas bunga
2. Menimbun ban, kaleng, dan botol/gelas bekas
3. Menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air yang jarang dikuras atau
memelihara ikan pemakan jentik
Perilaku tidak sehat : Melipat dan menurunkan kain/baju yang bergantungan

5. KECACINGAN
Penyakit kecacingan biasanya menyerang anak-anak dan disebabkan oleh Cacing
Gelang, Cacing Tambang dan Cacing Kremi.
1. Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides) berkembang biak di dalam perut manusia dan di
tinja. Telur cacing dapat masuk kedalam mulut melalui makanan yang tercemar atau
tangan yang tercemar dengan telur cacing. Telur Cacing menetas menjadi cacing didalam
perut, selanjutnya keluar bersama-sama tinja.
2. Kecacingan yang disebabkan karena Cacing Kremi (Enterobius vermicularis). Tempat
berkembang biak jenis cacing ini di perut manusia dan tinja, dengan cara penularan
menelan telur cacing yang telah dibuahi, dapat melalui debu, makanan atau jari tangan
(kuku).
3. Penyakit kecacingan lain, disebabkan oleh Cacing tambang (Ankylostomiasis
Duodenale). Jenis cacing ini mempunyai tempat berkembang biak Perut manusia dan
tinja. Cara Penularan dimulai ketika telur dalam tinja di tanah yang lembab atau lumpur
menetas menjadi larva. Kemudian larva tersebut masuk melalui kulit, biasanya pada
telapak kaki. Pada saat kita menggaruk anus, telur masuk kedalam kuku, jatuh ke sprei
atau alas tidur dan terhirup mulut. Telur dapat juga terhirup melaui debu yang ada di
udara. atau dengan reinfeksi (telur larva masuk anus lagi)
Cara efektif mencegah penyakit Kecacingan (berdasarkan faktor penyebab penyakit),
sebagai berikut :
Pembuangan Kotoran Tidak Saniter

1. Buang air besar hanya di jamban


2. Lubang WC/jamban ditutup
3. Bila belum punya, anjurkan untuk membangun sendiri atau berkelompok dengan
tetangga
4. Plesterisasi lantai rumah
Pengelolaan makanan tidak saniter
1. Cuci sayuran dan buanh-buahan yang akan dimakan dengan air bersih
2. Masak makanan sampai benar-benar matang
3. Menutup makanan pakai tudung saji
Perilaku Tidak Hygienis
1. Cuci tangan pakai sabun sebelum makan
2. Cuci tangan pakai sabun setelah buang air besar
3. Gunakan selalu alas kaki
4. Potong pendek kuku
5. Tidak gunakan tinja segar untuk pupuk tanaman

6. PENYAKIT KULIT
Penyakit kulit biasa dikenal dengan nama kudis, skabies, gudik, budugen. Penyebab
penyakit kulit ini adalah tungau atau sejenis kutu yang yang sangat kecil yang bernama
sorcoptes scabies. Tungau ini berkembang biak dengan cara menembus lapisan tanduk kulit
kita
dan
membuat
terowongan
di
bawah
kulit
sambil
bertelur.
Cara penularan penyakit ini dengan cara kontak langsung atau melalui peralatan seperti baju,
handuk, sprei, tikar, bantal, dan lain-lain. Sedangkan cara pencegahan penyakit ini dengan cara
antara lain :

Menjaga kebersihan diri, mandi dengan air bersih minimal 2 kali sehari dengan sabun,
serta hindari kebiasaan tukar menukar baju dan handuk

Menjaga kebersihan lingkungan, serta biasakan selalu membuka jendela agar sinar
matahari masuk.

Cara efektif mencegah penyakit kulit (berdasarkan faktor penyebab penyakit), sebagao berikut :
Penyediaan air tidak memenuhi syarat
1. Gunakan air dari sumber yang terlindung
2. Pelihara dan jaga agar sarana air terhindar dari pencemaran
Kesehatan perorangan jelek
1. Cuci tangan pakai sabun
2. Mandi 2 kali sehari pakai sabun
3. Potong pendek kuku jari tangan
Perilaku tidak hygienis
1. Peralatan tidur dijemur
2. Tidak menggunakan handuk dan sisir secara bersamaan
3. Sering mengganti pakaian
4. Pakaian sering dicuci
5. Buang air besar di jamban
6. Istirahat yang cukup
7. Makan makanan bergizi

7. KERACUNANA MAKANAN
Cara efektif mencegah Keracunan Makanan, berdasarkan faktor penyebab penyakit, sebagai
berikut :
Makanan rusak atau kadaluwarsa
3. Pilih bahan makanan yang baik dan utuh

4. Makanan yang sudah rusak/kadaluwarsa tidak dimakan


Pengolahan Makanan tidak Akurat
4. Memasak dengan matang dan panas yang cukup
5. Makan makanan dalam akeadaan panas/hangat
6. Panaskan makanan bila akan dimakan
Lingkungan tidak bersih / higienis
5. Tempat penyimpanan makanan matang dan mentah terpisah
6. Simpan makanan pada tempat yang tertutup
7. Kandang ternak jauh dari rumah
8. Tempat sampah tertutup
Perilaku tidak higienis
4. Cuci tangan sebelum makan atau menyiapkan makan
5. Cuci tangan pakai sabun sesudah BAB
6. Bila sedang sakit jangan menjamah makanan atau pakailah tutup mulut.

8. PENYAKIT MALARIA
Cara efektif mencegah Penyakit Malaria, berdasarkan faktor penyebab penyakit, sebagai
berikut: Lingkungan rumah /ventilasi kurang baik
4. Memasang kawat kasa pada ventilasi /lubang penghawaan
5. Jauhkan kandang ternak dari rumah ayau membuat kandang kolektif
6. Buka jendela atau buka genting kaca agar terang dan tidak lembab
Lingkungan sekitar rumah tidak terawat
4. Sering membersihkan rumput / semak disekitar rumah dan tepi kolam

5. Genangan air dialirkan atau ditimbun


6. Memelihara tambak ikan dan membersihkan rumput
7. Menebar ikan pemakan jentik
Perilaku tidak sehat
1. Melipat dan menurunkan kain/baju yang bergantungan
2. Tidur dalam kelambu
3. Pada malam hari berada dalam rumah
B. Penyakit Berbasis Lingkungan
Lingkungan yang sehat dapat membantu kita untuk menghindari berbagai macam penyakit
yang mengganggu kesehatan. Tidak hanya lingkungan dalam rumah yang perlu dijaga, tentu
saja lingkungan luar rumah pun perlu dijaga. Lingkungan yang ditempati dapat mendukung
dan mempengaruhi kehidupan diri manusia. Jika lingkungan yang ditempati, masyarakatnya
membiasakan hidup sehat, tentunya ini akan menimbulkan kesan yang baik bagi diri sendiri
dan masyarakat. Sebaliknya jika lingkungan yang kita tempati kotor akan menimbulkan
kesan yang kurang baik.
Lingkungan yang kotor ternyata dapat menimbukan berbagai macam penyakit. Beberapa
penyakit akibat lingkungan yang kotor adalah sebagai berikut:
1. Cacingan
Cacingan bisa saja terjadi pada orang dewasa, namun kecenderungannya
lebih banyak terjadi pada anak-anak karena anak-anak lebih sulit untuk menjaga
kebersihan terutama pada saat mereka bermain. Kurangnya pemahaman dan kesadaran
akan manfaat kebersihan membuat anak tidak perduli dengan kebersihan mereka di
tambah sikap orang tua yang juga menganggapnya sepele bisa membuat tingkat kejadian
cacingan pada anak menjadi lebih besar.
Penyebab :
Fasilitas jamban di rumah yang kurang layak dapat mendukung penularan cacingan. Telur
cacing yang menkontaminasi tanah dapat terbawa oleh kaki atau alas kaki yang kotor
ketika masuk rumah. Cacingan dapat menular apabila suatu keluarga tidak menjaga
kebersihan rumah dan tempat tinggalnya dengan baik, terutama ketika mencuci tangan
sebelum makan.
Pengobatan :
Karena terkadang sulit mendeteksi orang yang cacingan, maka anda harus rutin untuk
minum obat cacing setiap enam bulan satu dosis yang sesuai dan dianjurkan. Jika anda

sudah mengetahui jika terkena cacingan, segera bawa ke Dokter agar dapat diperiksa
lebih lanjut kejadian cacingan yang menyerang anggota keluarga kita. Sehingga anda bisa
mendapatkan obat cacingan yang diresepkan dan sesuai.
2. Penyakit Tifus Abdominalis
Tifus adalah penyakit peradangan usus yang disebabkan oleh bakteri salmonella
tyrhi/paratyphi, bagian yang diserang dinding-dinding usus halus. Penyakit tifus termasuk
penyakit menular.
Penyebab :
Demam tifoid atau disebut juga typhus abdominalis merupakan penyakit infeksi akut
yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan
pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Penyebab typhus abdominalis adalah
bakteri salmonella typhi.
Cara Pengobatan :
Jika terkena penyakit tifus, usahakan cepat ditangani dengan membawanya berobat ke
dokter ahli penyakit. Jika sudah ditangan dokter pastinya akan cepat ditangani.
Pengobatan secara tradisional dapat menggunakan kunyit. Caranya : Ambil dua ruas jari
kunyit, kemudian iris-iris tipis tambahkan 20 lembar daun pegagan lalu 11 lembar daun
sambiloto, kemudian semua bahan di rebus dengan 4 gelas air hingga menjadi 3 gelas ,
kemudian minum airnya 3 kali sehari.
3. Penyakit Disentri.
Disentri adalah penyakit yang biasanya menyerang usus besar, disentri
merupakan diare yang akut. Mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah
terkontaminasi oleh tinja maupun terdapat bakteri dan amoeba dapat menyebabkan
seseorang terkena penyakit disentri. Penyakit ini berawal dari kebiasaan makan yang
tidak bersih, anda akan mengalami diare akut dan biasanya diare tersebut akan
mengeluarkan darah ketika sedang bab.
Penyebab :
Penyebab Disentri yang paling umum adalah tidak mencuci tangan setelah menggunakan
toilet umum atau tidak mencuci tangan sebelum makan. Secara garis besar penyebab
penyakit disentri sangat erat kaitannya dengan kebersihan lingkungan dan kebiasaan
hidup bersih.
Penyembuhan :
Apabila seseorang mengalami gejala gejala penyakit disentri, maka segera saja dibawa
ke dokter atau rumah sakit terdekat agar dapat mendapatkan perawatan secepatnya.
Secara tradisional dapat dilakukan dengan bahan-bahan akar bayam merah sepuluh
batang dan sedikit garam. Cara membuatnya yaitu akar bayam merah terlebih dahulu
dicuci hingga bersih. Lalu akar bayam merah ditumbuk sampai halus, kemudian
masukkan sedikit garam kedalamnya. Aduk merata. Setelah itu, diperas dan diambil
airnya. Air perasan dapat langsung dikonsumsi.
4. Penyakit Cholera

Kolera adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan karena mengonsumsi


makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi dengan bakteri vibrio cholerae (v.
cholerae). Sebagian orang yang terkena kolera akan mengalami diare dalam jumlah
berlebih dan mengalami dehidrasi hebat hingga menyebabkan kematian. Umumnya orang
akan terkena kolera setelah menelan bakteri vibrio cholerae yang sudah mengontaminasi
sumber makanan atau air.
Penyebab :
Bakteri vibrio cholerae biasanya ditemukan pada air kotor atau pasokan air minum yang
terkontaminasi dengan pembuangan kotoran. Kolera jarang sekali ditularkan dari orang
ke orang. Bakteri ini ini akan masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang
sudah terkontaminasi olehnya. Bakteri vibrio cholerae sering mengontaminasi:
Penyembuhan :
Untuk keadaan diare yang lebih buruk dari biasanya, lebih baik segera minta pertolongan
medis daripada mencoba menanganinya sendiri. Segeralah minta pertolongan medis
apabila terjadi diare yang terus menerus atau jika terjadi muntah. Pengobatan untuk
kolera biasanya melibatkan proses rehidrasi, yaitu dengan: Solusi rehidrasi melalui oral
(oralit). Solusi rehidrasi dengan intravena (infus) untuk kasus kolera berat.
5. penyakit Tuberkulosis (TB)
Penyakit Tuberkulosis macamnya adalah TB paru, TB kulit dan Tb tulang, Tb
paru merupakan penyakit kronis (berlangsung lama), Penyebab penyakit ini adalah basil
TB dan yang menemukannya adaah Robet koen dari jerman. Tuberculosis merupakan
penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Hingga saat ini, belum ada satu
negara pun yang bebas TBC.
Penyebab :
Penyakit TBC diakibatkan infeksi kuman mikobakterium tuberkulosis yang dapat
menyerang paru, ataupun organ-organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, usus,
ginjal, kandungan, tulang, sampai otak. TBC dapat mengakibatkan kematian dan
merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian tertinggi di
Indonesia.
Cara Penyembuhan :
Pengobatan TBC adalah pengobatan jangka panjang, biasanya selama 6-9 bulan dengan
paling sedikit 3 macam obat. Kondisi ini diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dari
pasien untuk meminum obat dan kontrol ke dokter agar dapat sembuh total. Apalagi
biasanya setelah 2-3 pekan meminum obat, gejala-gejala TBC akan hilang sehingga
pasien menjadi malas meminum obat dan kontrol ke dokter. Jika pengobatan TBC tidak
tuntas, maka ini dapat menjadi berbahaya karena sering kali obat-obatan yang biasa
digunakan untuk TBC tidak mempan pada kuman TBC (resisten). Akibatnya, harus
diobati dengan obat-obat lain yang lebih mahal dan "keras". Hal ini harus dihindari
dengan pengobatan TBC sampai tuntas.
6. Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah atau demam dengue (disingkat DBD) adalah infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue. Nyamuk atau beberapa jenis nyamuk menularkan (atau

menyebarkan) virus dengue. Nyamuk demam berdarah memilih tempat yang lembab
dengan kubangan air untuk bertelur. Apabila di sekitar rumah anda terdapat kubangan air
yang tidak pernah diganti airnya, dapat berpotensi menjadi sarang nyamuk demam
berdarah.
Penyebab :
Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh adanya virus dengue, yang masuk melalui
peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk dari jenis aedes, yaitu : aedes aegypti
atau aedes albopictus. Terdapat emat jenis virus dengue yang berbeda, namun berelasi
dekat, yang dapat menyebabkan demam berdarah. Virus dengue merupakan viru dari
jenis flavivirus.
Pengobatan :
Jika anda sudah mengetahui jika terkena DBD, segera bawa ke Dokter agar dapat
diperiksa lebih lanjut. Sehingga anda bisa mendapatkan obat DBD yang diresepkan dan
sesuai.
7. Penyakit malaria
Malaria merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian.
Penyakit malaria disebabkan bibit penyakit yang disebut plasmodium, plasmodium
adalah bibit penyakit yang merusak sel darah merah manusia. hewan pembawa penyakit
malaria adalah nyamuk anopheles.
Penyebab :
Perantara utama yang menjadi penyebar penyakit ini yaitu nyamuk Anopheles betina.
Nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi oleh parasit plasmodium dari orang yang
sudah terinfeksi parasit tersebut. Nyamuk tersebut akan terinfeksi selama satu mingguan
hingga waktu makan selajutnya. Pada saat makan, maka nyamuk ini menggigit orang lain
sekaligus menyuntikkan parasit plasmodium ke dalam darah orang tersebut sehingga
orang tersebut akan terinsfeksi malaria. Ada 4 jenis plasmodium yang dapat menginfeksi
manusia, diantaranya yaitu: Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, Plasmodium
falciparum, Plasmodium vivax.
Cara Penyembuhan :
Jika terkena penyakit malaria, usahakan cepat ditangani dengan membawanya berobat ke
dokter ahli penyakit malaria. Jika sudah ditangan dokter pastinya akan cepat ditangani.
Untuk pengobatan secara tradisonal sangat mudah yaitu menggunakan daun pepaya.
Daun pepaya juga sangat manjur untuk mengobati penyakit malaria. Caranya yaitu
siapkan beberapa daun papaya kemudian rebus dan minum airnya 3 kali sehari. Lakukan
ini secara teratur setiap hari dan yakinlah bahwa anda akan sembuh
C. 5 Pilar STBM
1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS).
2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).
3. Pengelolaan Air Minum di Rumah Tangga (PAM RT).

4. Pengelolaan sampah rumah tangga.


5. Pengelolaan limbah cair rumah tangga
D. PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN
Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan
ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang dipengaruhinya. Penyakit
merupakan respon tubuh akibat menurunnya energi dalam tubuh karena berkurangnya
kemampuan tubuh untuk mengeliminasi dan membuang racun. Lingkungan adalah
kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air,
energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam
lautan yang terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang
tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan
komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia
dan mikro-organisme (virus dan bakteri). Penyakit berbasis lingkungan adalah suatu kondisi
patologis berupa kelainan fungsi atau morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh
interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi penyakit
Jenis penyakit berbasis lingkungan yang pertama disebabkan oleh virus seperti ISPA,
TBC paru, Diare, Polio, Campak, dan Kecacingan; yang kedua disebabkan oleh binatang
seperti Flu burung, Pes, Anthrax ; dan yang ketiga disebabkan oleh vektor nyamuk diantanya
DBD, Chikungunya dan Malaria. Penyakit berbasis lingkungan masih menjadi permasalahan
untuk Indonesia, menurut hasil survei mortalitas Subdit ISPA pada tahu 2005 di 10 provinsi
diketahui bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar pada bayi (22,3%) dan
pada balita (23,6%). Diare, juga menjadi persoalan tersendiri dimana di tahun 2009 terjadi
KLB diare di 38 lokasi yang tersebar pada 22 Kabupaten/kota dan 14 provinsi dengan angka
kematian akibat diare (CFR) saat KLB 1,74%. Pada tahun 2007 angka kematian akibat TBC
paru adalah 250 orang per hari. Prevalensi kecacingan pada anak SD di kabupaten terpilih
pada tahun 2009 sebesar 22,6%. Angka kesakitan DBD pada tahun 2009 sebesar 67/100.000
penduduk dengan angka kematian 0,9%. Kejadian chikungunya pada tahun 2009 dilaporkan
sebanyak 83.533 kasus tanpa kematian. Jumlah kasus flu burung di tahun 2009 di indonesia
sejumlah 21, menurun dibanding tahun 2008 sebanyak 24 kasus namun angka kematiannya
meningkat menjadi 90,48%.
Para ahli kesehatan masyarakat pada umumnya sepakat bahwa kualitas kesehatan
lingkungan adalah salah satu dari empat faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia
menurut H.L Blum yang merupakan faktor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap
pencapaian derajat kesehatan. Memang tidak selalu lingkungan menjadi faktor penyebab,
melainkan juga sebagai penunjang, media transmisi maupun memperberat penyakit yang
telah ada. Faktor yang menunjang munculnya penyakit berbasis lingkungan antara lain :

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya air dimana ketersediaan
air mencapai 15.500 meter kubik per kapita per tahun, jauh di atas ketersediaan air rata-rata
di dunia yang hanya 8.000 meter kubik per tahun. Namun demikian, Indonesia masih saja
mengalami persoalan air bersih. Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses
terhadap air bersih, sebagian besar yang memiliki akses mendapatkan air bersih dari
penyalur air, usaha air secara komunitas serta sumur air dalam. Dari data Bappenas
disebutkan bahwa pada tahun 2009 proporsi penduduk dengan akses air minum yang aman
adalah 47,63%. Sumber air minum yang disebut layak meliputi air ledeng, kran umum,
sumur bor atau pompa, sumur terlindung , mata air terlindung dan air hujan. Dampak
kesehatan dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terhadap air bersih dan sanitasi
diantaranya nampak pada anak-anak sebagai kelompok usia rentan. WHO memperkirakan
pada tahun 2005, sebanyak 1,6 juta balita (rata-rata 4500 setiap tahun) meninggal akibat air
yang tidak aman dan kurangnya higienitas
1. Akses sanitasi dasar yang layak
Kepemilikan dan penggunaan fasilitas tempat buang air besar merupakan salah
satu isu penting dalam menentukan kualitas sanitasi. Namun pada kenyataannya dari data
Susenas 2009, menunjukkan hampir 49% rakyat Indonesia belum memiliki akses jamban.
Ini berarti ada lebih dari 100 juta rakyat Indonesia yang BAB sembarangan dan
menggunakan jamban yang tak berkualitas. Angka ini jelas menjadi faktor besar yang
mengakibatkan masih tingginya kejadian diare utamanya pada bayi dan balita di
Indonesia.
2. Penanganan sampah dan limbah
Tahun 2010 diperkirakan sampah di Indonesia mencapai 200.000 ton per hari
yang berarti 73 juta ton per tahun. Pengelolaan sampah yang belum tertata akan
menimbulkan banyak gangguan baik dari segi estetika berupa onggokan dan serakan
sampah, pencemaran lingkungan udara, tanah dan air, potensi pelepasan gas metan (CH4)
yang memberikan kontribusi terhadap pemanasan global, pendangkalan sungai yang
berujung pada terjadinya banjir serta gangguan kesehatan seperti diare, kolera, tifus
penyakit kulit, kecacingan, atau keracunan akibat mengkonsumsi makanan
(daging/ikan/tumbuhan) yang tercemar zat beracun dari sampah.
3. Vektor penyakit
Vektor penyakit semakin sulit diberantas, hal ini dikarenakan vektor penyakit
telah beradaptasi sedemikian rupa terhadap kondisi lingkungan, sehingga kemampuan
bertahan hidup mereka pun semakin tinggi. Hal ini didukung faktor lain yang membuat
perkembangbiakan vektor semakin pesat antara lain : perubahan lingkungan fisik seperti

pertambangan, industri dan pembangunan perumahan; sistem penyediaan air bersih


dengan perpipaan yang belum menjangkau seluruh penduduk sehingga masih diperlukan
container untuk penyediaan air; sistem drainase permukiman dan perkotaan yang tidak
memenuhi syarat; sistem pengelolaan sampah yang belum memenuhi syarat, penggunaan
pestisida yang tidak bijaksana dalam pengendalian vektor; pemanasan global yang
meningkatkan kelembaban udara lebih dari 60% dan merupakan keadaan dan tempat
hidup yang ideal untuk perkembang-biakan vektor penyakit.
4. Perilaku masyarakat
Perilaku Hidup Bersih san Sehat belum banyak diterapkan masyarakat, menurut
studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat dalam
mencuci tangan adalah (1) setelah buang air besar 12%, (2) setelah membersihkan tinja
bayi dan balita 9%, (3) sebelum makan 14%, (4) sebelum memberi makan bayi 7%, dan
(5) sebelum menyiapkan makanan 6 %. Studi BHS lainnya terhadap perilaku
pengelolaan air minum rumah tangga menunjukan 99,20 % merebus air untuk
mendapatkan air minum, namun 47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia
coli. Menurut studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun
2006 terdapat 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah,
kolam, kebun dan tempat terbuka.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya
penyakit berbasis lingkungan, diantaranya : (1) Penyehatan Sumber Air Bersih (SAB),
yang dapat dilakukan melalui Surveilans kualitas air, Inspeksi Sanitasi Sarana Air
Bersih, Pemeriksaan kualitas air, dan Pembinaan kelompok pemakai air. (2) Penyehatan
Lingkungan Pemukiman dengan melakukan pemantauan jamban keluarga (Jaga), saluran
pembuangan air limbah (SPAL), dan tempat pengelolaan sampah (TPS), penyehatan
Tempat-tempat Umum (TTU) meliputi hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam
renang dan pemandian umum lain, sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon
kecantikan, bar dan tempat hiburan lainnya. (3) Dilakukan upaya pembinaan institusi
Rumah Sakit dan sarana kesehatan lain, sarana pendidikan, dan perkantoran. (4)
Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM) yang bertujuan untuk melakukan
pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan dan minuman,
kesiap-siagaan dan penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit
bawaan makanan. (5) Pemantauan Jentik Nyamuk dapat dilakukan seluruh pemilik rumah
bersama kader juru pengamatan jentik (jumantik), petugas sanitasi puskesmas, melakukan
pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang mungkin menjadi perindukan nyamuk dan
tumbuhnya jentik. (anjas).
E.

RUMAH SEHAT

Pengertian Rumah Sehat


Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan
terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia.
Menurut WHO rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk tempat berlindung,
dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya
baik untuk kesehatan keluarga dan individu.
Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai faktor yang dapat
meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep tersebut melibatkan pendekatan
sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan berorientasi pada lokasi, bangunan,
kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah di lingkungan
sekitarnya.
Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan
dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya. Prasarana lingkungan adalah
kelengkapan dasar fisik lingkungna yang memungkinkan lingkungan pemukiman dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat
berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan
kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat
bekerja secara produktif. Oleh karena itu keberadaan perumahan yang sehat, aman,
serasi, teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan
baik.
Jadi sanitasi perumahan adalah menciptakan keadaan lingkungan perumahan yang
baik atau bersih untuk kesehatan.
Syarat-Syarat Rumah Sehat
Persyaratan kesehatan perumahan adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib
dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di
perumahan dan masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan. Persyaratan
kesehatan perumahan yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman
serta persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan karena pembangunan perumahan
berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan derajat kesehatan individu, keluarga dan
masyrakat.
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut keputusan
Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter
sebagai berikut:

1.

Lokasi

a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran
lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa dan sebagainya.
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau
bekas tambang
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur
pendaratan penerbangan.
2.
Kualitas Udara
Kualitas udara di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beradun dan
memenuhi syarat baik mutu lingkungan sebagai berikut:
a. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi
b. Debu dengan diameter kurang dari 10 g maksimum 150 g/m3
c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm
d. Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari
3.
Kebisingan dan Getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik
4.
Kualitas Tanah di Daerah Perumahan dan Pemukiman
a. Kandungan timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
d. Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1mg/kg
5.
Prasarana dan Sarana Lingkungan
a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi
yang aman dari kecelakaan.
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak
mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki dan
penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan jalan
tidak menyilaukan mata.
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas yang memenuhi
persyaratan kesehatan
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi syarat
kesehatan
f. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja,
tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian dan lain sebagainya.
g. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya
h. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi
makanan yang dapat menimbulkan keracunan.
6.
Vektor Penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%
7.
Penghijauan

Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan juga


berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.
Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut (PPM
& PL, 2002) :
1.
2.
3.

4.

Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan


ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi
yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.
Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah
dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga,
bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan,
cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari
pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul
karena keadaan luar maupun dalam rumah, antara lain persyaratan garis
sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar,
dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Rumah yang sehat harus dapat mencegah dan mengurangi resiko kecelakaan seperti
terjatuh, keracunan dan kebakaran (APHA). Beberapa aspek yang harus diperhatikan
dalam kaitan dengan hal tersebut antara lain :
1.
2.
3.

Membuat konstruksi rumah yang kokoh dan kuat


Bahan rumah terbuat dari bahan tahan api
Pertukaran udara dalam rumah baik sehingga terhindar dari bahaya racun dan

gas
4.
Lantai terbuat dari bahan yang tidak licin sehingga bahaya jatuh dan
kecelakaan mekanis dapat terhindari.
1. Parameter Penilaian Rumah Sehat
Lingkup penilaian rumah sehat dilakukan terhadap kelompok komponen rumah,
sarana sanitasi dan perilaku penghuni, sebagai berikut :
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Kelompok komponen rumah, meliputi :


Langit-langit
Dinding
Lantai
Jendela kamar tidur
Jendela ruang keluarga dan ruang tamu
Ventilasi
Sarana pembuangan asap dapur
Pencahayaan

2.
a.
b.
c.
d.
3.
a.
b.
c.
d.
e.

Kelompok sarana sanitasi, meliputi :


Sarana Air Bersih
Sarana Pembuangan Kotoran
Sarana Pembuangan Air Limbah
Sarana Pembuangan Sampah
Kelompok Perilaku Penghuni
Membuka jendela kamar tidur
Membuka jendela ruang keluarga
Membersihkan rumah dan halaman
Membuang tinja bayi dan balita ke jamban
Membuang sampah pada tempat sampah

Daftar Pustaka
1. karya tulis ilmiah.2014.sanitasi perumahan
http://karyatulisilmiah.com/sanitasi-perumahan/
2. odexyundo.2009."pengertian pemukiman"
http://odexyundo.blogspot.com/2009/08/pengertian-permukiman.html
anonim."tinjauan pustakas sanitasi permukiman"
http://pdftype.com/sa/sanitasi-pemukiman-pdf.html
permukiman sanitasi.2010."percepatan pembangunan sanitasi"
http://sanitasipermukiman.blogspot.com/2010/06/percepatan-pembangunan-sanitasi.html
5. anonym, 1992, peraturan perumahan dan pemukiman
www.bkprn.org/peraturan/the.../UU_no4_1992.pdf