Anda di halaman 1dari 2

Novel berjudul Istri Untuk Putraku menceritakan tentang kehidupan seorang

gadis bernama Fatiha. Dia dipaksa kawin oleh orang tuanya dengan lelaki yang tak
dikenalnya. Pada suatu hari Fatiha tengah berada didalam taksi melintasi kota. Ia merasa
seperti dikendalikan oleh kekuatan yang tak dikenal. Seperti orang berjalan sambil tidur yang
tak menghiraukan keinginan dan harapannya sendiri. Pada saat itu Fatiha masih berusia
sangat muda. Ia dapaksa kawin dengan lelaki yang belum ia kenal sebelumnya. Lelaki itu
bernama Husein. Dia adalah anak sulung dari keluarga Amor. Husein adalah seorang pekerja
bangunan di Paris yang usianya jauh lebih tua dari Fatiha. Semenjak upacara pernikahannya,
Fatiha hanya diam. Dia sebenarnya tidak ingin menikah karena ia masih ingin meneruskan
sekolahnya hingga menjadi seorang guru. Pada saat itu banyak yang mencoba menghibur
Fatiha. Namun, ia tetap saja larut dalam kesedihannya. Fatiha adalah gadis yang lugu dan
sederhana. Ia tidak ingin muncul dihadapan suaminya untuk pertama kali dangan didandani
ala pengantin. Hourie, ibi Fatiha merasa heran melihat anak gadisnya yang biasanya lincah
dan ceria tetapi disaat pernikahannya justru menjadi seorang pendiam. Sebenarnya Fatiha
belum siap untuk menjadi seorang istri. Namun, ia tak ingin mengecewakan kedua orang
tuanya. Kesedihan Fatiha saat itu disebabkan karena ia tidak suka kawin dengan cara seperti
itu. Ia tidak mau hidup seprti ibu-ibu yang hanya terkurung di rumah. Ia ingin bekerja.
Menurutnya keputusan orang tuanya untuk menikahkannya adalah sebuah keputusan yang
seperti zaman kuno. Pada saat pesta perkawinannya, Nyonya Suissi guru Fatiha datang ke
acara itu. Mereka saling memandang dan mengenang. Sebetulya Nyonya Suissi tau isi hati
Fatiha. Ia tau bahwa sebenarnya Fatiha masih ingin sekolah dan menjadi guru seperti dirinya.
Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa untuk Fatiha. Sesuai dengan tradisi, Husein
sebagai calon suami Fatiha memaki jubah putih melapisi pakaiannya. Sementara Fatiha
tengah menantinya di kamar. Kemudian Husein memasuki kamar Fatiha dan sejenak berdiri
di depan pintu dan memandang Fatiha. Namun, Fatiha hanya menunduk hampir-hampir tidak
melihat suaminya. Di malam itu Husein membuat Fatiha menjadi seorang wanita dengan cara
merenggut keperawanan Fatiha. Fatiha berusaha melepaskan diri namun tak bisa. Gadis itu
tak mempunya hasrat terhadap Husein dan begitu pula sebaliknya. Semenjak ditinggalkan
oleh kedua orangtuanya di keluarga Husein. Fatiha tetap saja terdiam. Pada saat malam
pertamanya ia tinggal di keluarga Husein. Ia justru sendiri di kamarnya. Husein sebagai
suaminya justru pergi bersama teman-temannya untuk bersenang-senang sambil minum bir.
Dan Fatiha tidak suka dengan alkohol. Di keluarganya alkohol nerarti ketidakbahagiaan dan
kehancuran. Selama tinggal di rumah suaminya Fatiha tak sedikitpun merasakan
kebahagiaan. Setiap hari ia hanya berada di lingkungan sekitar rumah. Kegiatan yang
dilakukannya sehari-hari hanyalah memasak, membereskan rumah, menyiram tanaman, dan
istirahat. Ia bahkan tak pernah keluar rumah. Sebab, ia harus mengenakan cadar yang amat
dibencinya bila ia ingin keluar rumah. Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Fatiha
mulai mengenal keluarga Husein. Namun, ia tetap bersifat dingin terhadap Husein. Pada
suatu hari Husein mengajak Fatiha untuk membeli sepatu. Sebelumnya Husein menginginkan
agar Fatiha mengenakan cadar pemberian ibunya. Tetapi Fatiha menolak mengenakan cadar
itu. Huseinpun marah dan memaksa Fatiha untuk tetap mengenakan cadar. Lalu akhirnya
Fatiha mau mengenakan cadar itu, dan mereka pergi ke toko untuk membeli sepatu. Suatu
hari ketika Fatiha sedang membuat kue di dapur datanglah Aisyah mertuanya dan bertanya

apakah Fatiha sudah datang bulan ataukah belum. Mendengar pertanyaan itu Fatiha marah
dan berkata pada mertuanya dengan nada keras bahwa hal itu adalah urusan pribadinya.
Disaat itu pula Husein mendengar perkataan Fatiha terhadap ibunya dan ia menampar
Fatiha hingga Fatiha menangis. Padahal Husein tidak tau apa permasalahan di antara Fatiha
dan ibunya. Setelah mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung, Husein berubah sifat. Ia
tidak sekasar sewaktu ia belum mengetahui kehamilan istrinya. Pada suatu ketika Husein
berkeliling kota Aljazair untuk mencari pekerjaan. Namun, tak satupun pekerjaan yang ia
dapat. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Paris melanjutkan pekerjaannya sebagai
pekerja bangunan. Mendengar bahwa suaminya akan kembali ke Paris, Fatihapun meminta
kepada Huseia agar ia dapat ikut ke Paris. Namun Husein melarangnya untuk ikut
bersamanya. Sebab saat itu Fatiha sedang hamil dan kehidupan di Paris sungguh tidak
menjanjikan bagi Fatiha. Pada suatu pagi ahirnya Husein berangkat ke Paris. Fatiha sebagai
seorang istri menangis melihat sang suami pergi meninggalkan dirinya bersama keluarga
yang masih asing baginya. Semenjak kepergian suaminya ke Paris Fatiha hanya sering
menyendiri di kamar. Akan tetapi, semakin lama ia semakin akrab dengan Alloua dan Nerine.
Mereka berdua adalah adik kandung Husein. Pada suatu malam ketika sedang tidur tiba-tiba
perut Fatiha terasa sakit. Sehingga pada pagi harinya ia harus dibawa ke bidan untuk
pemeriksaan. Menurut bidan yang memeriksa kandungan Fatiha, kondisi Fatiha dan bayi
dalam kandungannya baik-baik saja. Namun, Aisyah menginginkan agar Fatiha benar-benar
sembuh. Sehingga pada ahirnya Fatiha harus opname selama beberapa hari di rumah sakit.
Selam di rumah sakit ada 4 orang yang sering datang mengunjungi Fatiha dan berbincanabincang bersama Fatiha. Mereka adalah Leila, Zahra, Fatouma, dan Noura. Yang dimana
mereka sama-sama pasien di rumah sakit tempat Fatiha dirawat. Dengan adanya keempat
pasien tersebut Fatiha tidak merasakan kebosanan di rumah sakit dan ia dapat melupaka
semua permasalahan yang menimpanya. Selama masa kehamilannya Fatiha begitu tak
memperhatikan kondisi kandungannya. Ia masih sering melakukan aktivitas sehingga pada
suatu hari ia kembali jatuh sakit. Dan pada saat ia di rawat di rumah sakit ternyata ia
melahirka seorang bayi perempuan. Dan di beri nama Noura. Fatiha sangat menyayangi buah
hatinya tersebut. Namun, tidak untuk Husein dan ayahnya. Mereka justru menginginkan
Fatiha dan anaknya untuk pergi dari rumah mereka. Sebab, mereka hanya menginginkan
seorang bayi laki-laki dari Fatiha. Pada akhirnya Fatiha bersama anaknya pergi meninggalkan
rumah Husein dan mertuanya. Dan tinggallah ia bersama orang tua kandungnya dengan di
temani sang anak yang amat disayanginya.