Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN

Miliaria merupakan salah satu penyakit kulit yang masih banyak di


Indonesia. Hal ini dikarenakan iklim Indonesia yang tropis. Di Indonesia miliaria
lebih banyak diderita oleh balita, hal ini harus mendapatkan perhatian yang
khusus.
Miliaria berkaitan dengan tersumbatnya saluran kelenjar keringat, yang
akan menyebabkan terjadi proses inflamasi. Pada beberapa jenis miliaria, apabila
tidak ditangani maka akan berakibat lebih serius.
Walaupun demikian, sebenarnya sangat mudah untuk mencegah terjadinya
miliaria, yaitu salah satunya dengan menggunakan pakaian yang mudah menyerap
keringat.
Miliaria dapat diartikan sebagai kelainan kulit akibat tertutupnya saluran
kelenjar keringat yang menyebabkan retensi keringat. Tidak ada hubungan dengan
jenis kelamin dan ras, banyak didapatkan pada bayi.
Miliaria dapat juga disebut sebagai biang keringat, keringat buntet, liken
tropikus, prickle heat.

II. ANATOMI DAN FISIOLOGI

2.1 Anatomi Kelenjar Kulit


2.1.1 Kelenjar Keringat (Glandula Sudorifera).
Ada dua macam kelenjar keringat, yaitu kelenjar ekrin yang kecil-kecil,
terletak dangkal di dermis dengan sekret yang encer, dan kelenjar apokrin yang
lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental.
1

Kelenjar ekrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu kehamilan dan


baru berfungsi 40 minggu setelah kelahiran. Saluran kelenjar ini berbentuk spiral
dan bermuara langsung di permukaan kulit. Terdapat di seluruh permukaan kulit
dan terbanyak di telapak tangan dan kaki, dahi, dan aksila. Sekresi bergantung
pada beberapa faktor dan dipengaruhi oleh saraf kolinergik, faktor panas, dan
stress emosional. Pada manusia jumlah kelenjar ekrin sekitar 2 - 4 juta, berat tiap
kelenjar ekrin sekitar 30 40 g dengan berat total kelenjar ekrin 100 g, dan
jumlah keringat yang di keluarkan yaitu 10 L/hari.
Kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di aksila,
areola mame, pubis, labia minora, dan saluran telinga luar. Fungsi apokrin pada
manusia belum jelas, pada waktu lahir kecil, tetapi pada pubertas mulai membesar
dan mengeluarkan sekret. Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan
glukosa, biasanya pH sekitar 4 6,8.

2.1.2 Kelenjar Palit (Glandula Sebasea).


Terletak di seluruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak tangan dan
kaki. Kelenjar palit disebut juga kelenjar holokrin karena tidak berlumen dan
sekret kelenjar ini berasal dari dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar palit
biasanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar
rambut (folikel rambut). Sebum mengandung trigliserida, asam lemak bebas,
skualen, wax ester, dan kolestrol. Sekresi dipengaruhi oleh hormone androgen,
pada anak-anak jumlah kelenjar palit sedikit, pada pubertas menjadi lebih besar
dan banyak serta mulai berfungsi secara aktif.

Gambar. Anatomi Kulit.

2.2 Fisiologi Kulit


Fungsi utama kulit ialah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan
suhu tubuh (termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D, dan
keratinisasi.
Fungsi ekskresi, kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak
berguna lagi atau sisa metabolism dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan
ammonia. Kelenjar lemak pada fetus atas pengaruh hormone androgen dari ibunya
memproduksi sebum untuk melindungi kulitnya terhadap cairan amnion, pada
waktu lahir dijumpai sebagai vernix caseosa. Sebum yang diproduksi melindungi
kulit karena lapisan sebum ini selain meminyaki kulit juga menahan evaporasi air
yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering. Produk kelenjar lemak dan
keringat di kulit menyebabkan keasaman kulit pada pH 5 6,5.

Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), kulit melakukan peranan


ini dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan otot (otot berkontraksi)
pembuluh darah kulit. Kulit kaya akan pembuluh darah sehingga memungkinkan
kulit mendapat nutrisi yang cukup baik. Tonus vascular dipengaruhi oleh saraf
simpatis (asetilkolin). Pada bayi biasanya dinding pembuluh darah belum
terbentuk sempurna, karena itu kulit bayi tampak lebih edematosa karena lebih
banyak mengandung air dan Na.

III. PATOGENESIS

Disebabkan

karena

trauma

mekanik/kimia,

keringat

berlebihan

(kelembapan, temperatur). Dimana hidrasi yang berlebihan pada stratum korneum


akan menyebabkan :

Korneosit membengkak/perubahan struktur kimia keratin.

Kolonisasi bakteri (Staphylococcus) meningkat sehingga mengeluarkan


toksin yang merusak sel epidermis yang membatasi duktus ekrin dan
mengeluarkan material kental.
Kelainan di atas akan menyebabkan terbentuknya keratotik plug di dalam

duktus ekrin yang menyebabkan sumbatan, sehingga duktus ekrin pecah dan
terjadilah proses inflamasi.

IV. KLASIFIKASI

Berdasarkan kedalaman letak sumbatan :

Miliaria kristalina (sudamina), sumbatan terjadi di dalam stratum


korneum.

Miliaria rubra (Prickly heat), sumbatan terjadi di lapisan dalam epidermis.

Miliaria profunda (mamillaria), sumbatan di dalam dermoepidermal


junction.

V. MANIFESTASI KLINIS

5.1 Miliaria kristalina


Pada penyakit ini ditandai dengan adanya vesikel berdiameter 1 mm
(seperti percikan air) terutama pada badan setelah banyak berkeringat, misalnya
karena hawa panas. Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian badan
yang tertutup pakaian. Umumnya tidak memberi keluhan dan sembuh dengan
sisik yang halus. Sering terdapat di daerah intertriginosa (misalnya aksila). Pada
gambaran histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal. Tidak perlu
pengobatan karena mudah pecah dengan mandi atau pergerakan anggota tubuh,
atau cukup dengan menghindari panas yang berlebihan, mengusahakan ventilasi
yang baik, pakaian tipis, dan menyerap keringat.

Gambar. Miliaria Kristalina


5.2 Miliaria rubra
Penyakit ini lebih berat dari pada miliaria kristalina, terdapat pada badan
dan tempat-tempat tekanan atau gesekan pakaian. Ditandai adanya makula/ papul
eritematosa dengan vesikel punktata di atasnya, ekstrafolikuler, kadang-kadang
menjadi pustul bila luas dan kronis. Bila berat dan luas dapat menyebabkan
demam. Disertai rasa gatal dan kadang-kadang rasa panas bila ada keringat.
Terutama di daerah badan dan leher. Miliaria jenis ini terdapat pada orang yang
tidak biasa pada daerah tropik. Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi
pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer
kulit di epidermis.

Gambar. Miliaria Rubra

5.3 Miliaria profunda


Bentuk ini agak jarang kecuali di daerah tropis. Papul putih, keras,
berukuran 1-3 mm. Tidak gatal dan tidak merah. Lokasi pada badan dan
ekstremitas. Dapat berasal dari miliaria rubra yang berulang. Karena letak retensi
keringat lebih dalam maka secara klinis lebih banyak berupa papul dari pada
vesikel.
Pada gambaran histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang
pecah pada dermis bagian atas dengan atau tanpa infiltrasi sel radang.

Gambar. Miliaria Profunda

VI. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING

Miliaria mudah didiagnosis secara klinis dan tidak diperlukan adanya


pemeriksaan penunjang.

Diagnosis banding

Miliaria kristalina: tidak ada diagnosis banding.

Miliaria rubra: diagnosis banding dengan reaksi iritasi primer, eritema


neonatorum, folikulitis.

Miliaria profunda: diagnosis banding dengan musinosis papular,


amiloidosis

Gambar. Reaksi Iritasi Primer

Gambar. Eritema Neonatorum

Gambar. Folikulitis.
Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut (folikel).
Penyebabnya adalah infeksi oleh bakteri stafilokokus. Pada kulit yang terkena
akan timbul ruam, kemerahan dan rasa gatal. Di sekitar folikel rambut tampak
beruntus-beruntus kecil berisi cairan yang bisa pecah lalu mengering dan
membentuk keropeng.

Gambar. Mucinosis Papular

10

Musinosis Papular (MP) atau liken miksedematosa merupakan penyakit


yang jarang ditemukan, ditandai oleh erupsi papular likenoid, deposit musin, dan
paraproteinemia. Musinosis Papular merupakan salah satu musinosis kutan
idiopatik. Etiologi dan patogenesisnya sampai sekarang belum diketahui. Penyakit
ini sering dihubungkan dengan paraproteinemia. Terdapat beberapa klasifikasi
MP, yaitu berdasarkan klinis menurut Montgomery dan Underwood (1953),
berdasarkan pola distribusi menurut Rongioletti (1993), dan berdasarkan
klinikopatologis menurut Rongioletti dan Rebora (2001).Sesuai gambaran
klinikopatologis, MP terbagi menjadi popular dan sklerodermoid generalisasta
(skelromiksedema), MP lokalisata dan MP atipik/intermediate. MP mempunyai
perjalanan penyakit yang kronis progresif dan bisanya tidak memiliki
kecenderungan untuk resolusi spontan.

Gambar. Amiloidosis.
Amiloidosis adalah suatu penyakit dimana amiloid (suatu protein yang
tidak biasa, yang dalam keadaan normal tidak ditemukan dalam tubuh), terkumpul
dalam berbagai jaringan.

11

VII. TERAPI

Mengurangi keringat, dengan cara :


Lingkungan yang dingin.
Hindari panas dan kelembaban berlebihan.
Pakaian tipis.

Bedak salisil 2% dibubuhi mentol 0.25 - 2%

Losio faberi dengan komposisi:


R/ Acid. Salicylic

Talc. Venet 10
Oxyd. Zinc

10

Amyl. Oryzae

10

Spiritus ad

200 cc

Untuk memberikan efek antipruritus dapat ditambahkan mentol atau


camphora.

Losio calamine dengan atau tanpa mentol 0,25%, dapat pula resorsin 3%
dalam alkohol.

12

VIII. PROGNOSIS

Quo ad vitam

: ad bonam.

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam.

Quo ad fungtionam

: dubia ad bonam.

IX. RINGKASAN

Miliaria dapat diartikan sebagai kelainan kulit akibat tertutupnya saluran


kelenjar keringat yang menyebabkan retensi keringat. Tidak ada hubungan dengan
jenis kelamin dan ras, banyak diderita oleh bayi.
Disebabkan karena trauma mekanik/kimia, keringat berlebihan (humidity,
temperature). Dimana hidrasi yang berlebihan pada stratum korneum.
Miliaria diklasifikasi sebagai berikut:

Miliaria kristalina (sudamina), sumbatan terjadi di dalam stratum


korneum, vesikel 1-2 mm, tanpa radang, tidak ada keluhan, sembuh
sendiri.

Miliaria rubra (Prickly heat), sumbatan terjadi di lapisan dalam epidermis,


papul merah, sangat gatal dan pedih, pengobatan diberikan bedak salisil
2% dibubuhi mentol -2% atau dapat diberikan losio faberi.

Miliaria profunda (mamillaria), sumbatan di dalam dermoepidermal


junction, papul putih dan keras 1-3 mm, tidak gatal, pengobatan diberikan
losio calamine dengan atau tanpa mentol 0,25%.

13

DAFTAR PUSTAKA

Natahusada. Miliaria. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat, hal 276
277. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2005.
Paller, Amy. Miliaria. Hurwitz Clinical Pediatric Dermatology, hal 201. China :
Elsevier. 2006.
Pusponegoro. Miliaria.

Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

FKUI/RSCM Jakarta.
Siregar. Miliaria. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta : EGC. 2007.
Swartz. Kulit. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta : EGC. 1995.
Tjay, Tan Hoan. Antihistaminika. Obat-Obat Penting. Jakarta : Elex Media
Komputindo. 2003.
Wolff, Klaus. Miliaria. Fitzpatrick Dermatology in General Medicine, hal 730.
Jakarta : Medical. 2003.

14